• Tidak ada hasil yang ditemukan

BULAN ESTER FEMY N /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BULAN ESTER FEMY N /IKM"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DOKTER DENGAN PASIEN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN PADA PASIEN

DIABETES MELLITUS DI POLI INTERNIS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) TANJUNG PURA

KABUPATEN LANGKAT

TESIS

Oleh

BULAN ESTER FEMY N 087033018/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(2)

THE INFLUENCE OF COMMUNICATION BETWEEN THE PERSONAL PHYSICIAN PATIENT BEHAVIOR OF PREVENTION IN PATIENTS

DIABETES MELLITUS IN POLY INTERNIST HOSPITAL TANJUNG PURA LANGKAT DISTRICT

THESIS

BY

BULAN ESTER FEMY N 087033018/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(3)

PENGARUH KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DOKTER DENGAN PASIEN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN PADA PASIEN

DIABETES MELLITUS DI POLI INTERNIS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) TANJUNG PURA

KABUPATEN LANGKAT

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

BULAN ESTER FEMY N 087033018/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(4)

Judul Tesis : PENGARUH KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DOKTER DENGAN PASIEN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI POLI INTERNIS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) TANJUNG PURA KABUPATEN LANGKAT Nama Mahasiswa : Bulan Ester Femy N

Nomor Induk Mahasiswa : 087033018

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi : Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku

Menyetujui Komisi Pembimbing :

Ketua

(Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M)

Anggota

(Masnely Lubis, S.Kep, M.A.R.S)

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

Tanggal Lulus : 20 Desember 2012

(5)

Telah diuji

Pada Tanggal : 20 Desember 2012

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M Anggota : 1. Masnely Lubis, S.Kep, M.A.R.S

2. Dr. dr. Wirsal Hasan, M.P.H

3. Drs. Tukiman, M.K.M

(6)

PERNYATAAN

PENGARUH KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DOKTER DENGAN PASIEN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN PADA PASIEN

DIABETES MELLITUS DI POLI INTERNIS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) TANJUNG PURA

KABUPATEN LANGKAT

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Medan, Januari 2013

Bulan Ester Femy N

087033018/IKM

(7)

ABSTRAK

Diabetes mellitus (DM) apabila tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan timbulnya komplikasi dengan penyakit serius lainnya. Jumlah pasien DM yang berkunjung di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura mengalami peningkatan setiap tahunnya, pada tahun 2010 sebanyak 82 orang, tahun 2011 sebanyak 112 orang. Berdasarkan wawancara terhadap beberapa penderita DM yang berkunjung ke Poli Internis RSUD Tanjung Pura mengatakan bahwa penjelasan dokter tentang penyakit yang mereka alami sangat kurang.

Jenis penelitian adalah survei explanatory yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh komunikasi antar pribadi (keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, kesetaraan dan kenyamanan) terhadap perilaku pencegahan pada pasien diabetes mellitus (DM). Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat. Populasi adalah seluruh pasien Diabetes Mellitus yang berobat ke Poli Internis sebanyak 45 orang dan sebagai sampel. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antar pribadi yang berpengaruh terdapat perilaku pencegahan pada pasien DM adalah empati dan dukungan. Variabel yang paling dominan adalah empati.

Disarankan kepada dokter dan pihak Rumah Sakit Umum Daerah Tanjung Pura Kabupaten Langkat dapat membuat alur komunikasi antar pribadi yang baik dan efektif serta pasien diharapkan lebih berpartisipasi terhadap keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, kesetaraan dan kenyamanan yang diberikan dokter demi perubahan perilaku pencegahan pada pasien diabetes mellitus.

Kata kunci: Komunikasi Antar Pribadi, Perilaku Pencegahan

(8)

ABSTRACT

Diabetes mellitus (DM) if not handled properly will result in other serious complications of the disease. Internists in Poly Regional General Hospital Tanjung Pura. The number of diabetic patients who visited in Poly Internists Regional General Hospital (Hospital) Tanjung Pura has increased every year, by 2010 as many as 82 people, in 2011 as many as 112 people. Based on interviews with several people with DM who visited the Tanjung Pura Hospital Internists Poli said doctors explanation about the disease they experienced very less

The purpose of this explanatory research survey was to analyze the influence of

.

interpersonal communication (openness, empathy, support, positive sense, equality and comfort) the preventive behavior in patients with diabetes mellitus (

The result of this study showed that the of interpersonal communication which had influence on the preventive behavior in patient diabetes mellitus (DM) was empathy and support. The most influential variable was empathy.

DM). The population were all them were selected to be the samples for this study through systematic random sampling technique. The data obtained were analyzed logistic regression tests.

It is recommended that the doctor and the District General Hospital Tanjung Pura Langkat district can make the flow of good interpersonal communication and effective and patients are expected to participate more openness, empathy, support, positive sense, equality and comfort provided by a doctor for preventive behavior change in patients diabetes mellitus .

Keywords: Interpersonal Communication, Preventive Behavior

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul ”Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Dokter dengan Pasien terhadap Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat”. Tesis ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan Program Magister di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.

Penulis menyadari begitu banyak yang memberikan dukungan, bimbingan, bantuan moril maupun materil dan kemudahan dari berbagai pihak, sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc(CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu

Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara.

(10)

4. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M dan Masnely Lubis, S.Kep, M.A.R.S pembimbing yang telah memberi perhatian, dukungan dan pengarahan hingga tesis ini selesai.

5. Dr. dr. Wirsal Hasan, M.P.H dan Drs. Tukiman, M.K.M selaku tim penguji yang telah memberikan masukan sehingga dapat menyempurnakan tesis ini.

6. Seluruh staf dosen dan staf pegawai di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu dan bantuan kepada penulis.

7. Seluruh rekan-rekan dan sahabat Angkatan 2008 Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.

8. Teristimewa suami tercinta dr. Lintong Darianto S. Damanik buat semua doa, harapan dan pengorbanan juga dukungan yang tiada pernah berhenti, ananda tersayang Michelle Khaela B. Damanik, sumber inspirasi dan hiburan yang telah banyak berkorban selama pendidikan.

9. Ayahanda Almarhum Demitrus B. Napitupulu, ibunda Mariani Rospita Aruan dan

keluarga besar Damanik serta seluruh sanak saudara yang telah memberikan

dukungan dan bantuan selama penulis mengikuti pendidikan.

(11)

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak mempunyai kekurangan, untuk itu diharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan tesis ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Januari 2013 Penulis

Bulan Ester Femy N

087033018/IKM

(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Bulan Ester Femy N yang dilahirkan di Medan tanggal 8 April 1984 dari pasangan Alm. Demitrus B. Napitupulu dan Mariani Rospita Aruan.

Menikah dengan dr. Lintong Darianto S. Damanik dan telah dikaruniai 1 orang puteri, yaitu: Michelle Khaela B Damanik, beragama Kristen Katoloik dan bertempat tinggal di Jl. Setia Luhur No. 153 Medan.

Penulis menamatkan pendidikan sekolah dasar di SD St. Thomas 1 Medan

tahun 1989-1994, menamatkan pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama di SMP

Budi Murni 3 Medan tahun 1994-1997, menamatkan pendidikan sekolah menengah

atas di SMU Budi Murni 1 Medan tahun 1997-2000, selanjutnnya meneruskan

pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia tahun 2001-

2008.

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB 1. PENDAHULUAN ...

1.1. Latar Belakang ...

1.2. Permasalahan ...

1.3. Tujuan Penelitian ...

1.4. Hipotesis ...

1.5. Manfaat Penelitian ...

1 1 7 8 8 8 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ...

2.1. Komunikasi Antar Pribadi ...

2.1.1. Pengertian ...

2.1.2. Elemen-Elemen Komunikasi Antar Pribadi ...

2.1.3. Karakteristik (Ciri-Ciri) Komunikasi Antar Pribadi ...

2.2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Individu dalam Komunikasi Antar Pribadi ...

2.3. Komunikasi Interpersonal Dokter dengan Pasien ...

2.4. Diabetes Mellitus ...

2.4.1. Pengertian ...

2.4.2. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus yang Berhubungan Dengan Komunikasi Antar Pribadi ...

2.5. Perilaku Pencegahan ...

2.5.1. Pengertian ...

2.5.2. Tujuan Perilaku Pencegahan ...

2.5.3. Bentuk Perilaku Pencegahan ...

2.5.4. Bentuk Pencegahan Sekunder dan Tersier pada Penderita Diabetes ………...

2.6. Landasan Teori ...

2.7. Kerangka Konsep ...

10 10 10 11 17

29

36

38

38

38

40

40

40

45

45

51

53

(14)

BAB 3. METODE PENELITIAN ...

3.1. Jenis Penelitian ...

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ...

3.3. Populasi dan Sampel ...

3.4. Metode Pengumpulan Data ...

3.4.1. Pengumpulan Data ...

3.4.2. Uji Validitas dan Reliabilitas ...

3.5. Variabel dan Definisi Operasional ...

3.5.1. Variabel ...

3.5.2. Definisi Operasional ...

3.6. Metode Pengukuran ...

3.6.1. Aspek Pengukuran Variabel Independen ...

3.6.2. Aspek Pengukuran Variabel Dependen ...

3.7. Metode Analisis Data ...

54 54 54 54 55 55 55 58 58 58 59 59 60 61 BAB 4. HASIL PENELITIAN ...

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ………..

4.2. Karakteristik Responden ...

4.3. Analisis Univariat ...

4.4. Analisis Bivariat ...

4.5. Analisis Multivariat ...

63 63 66 68 86 92 BAB 5. PEMBAHASAN ...

5.1. Pengaruh Keterbukaan terhadap Perilaku Pencegahan……….

5.2. Pengaruh Empati terhadap Perilaku Pencegahan ……….

5.3. Pengaruh Dukungan terhadap Perilaku Pencegahan ………

5.4. Pengaruh Rasa Positif terhadap Perilaku Pencegahan...

5.5. Pengaruh Kesetaraan terhadap Perilaku Pencegahan………

5.6. Pengaruh Kenyamanan terhadap Perilaku Pencegahan………

5.7. Keterbatasan Penelitian ………

97 97 99 101 102 104 105 107 BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ...

6.1. Kesimpulan ………..

6.2. Saran ………

108

108

108

DAFTAR PUSTAKA ... 110

LAMPIRAN... 114

(15)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

4.1 Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan di Kabupaten Langkat Tahun 2011… 65 4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Rumah Sakit Umum

Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………… 66 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterbukaan terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 68 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Keterbukaan terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 70 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Empati terhadap Perilaku

Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 71 4.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Empati terhadap Perilaku

Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 72 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan terhadap Perilaku

Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 73 4.8 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 75 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Rasa Positif terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis

(16)

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 76 4.10 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Rasa Positif terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 77 4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Kesetaraan terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 79 4.12 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesetaraan terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 80 4.13 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Kenyamanan terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 81 4.14 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kenyamanan terhadap

Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ... 82 4.15 Distribusi Responden berdasarkan Indikator Perilaku Pencegahan pada

Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………… 84 4.16 Distribusi Responden berdasarkan Perilaku Pencegahan pada Pasien

Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………. 85 4.17 Hubungan Keterbukaan dengan Perilaku Pencegahan pada Pasien

Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………. 86 4.18 Hubungan Empati dengan Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes

Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………... 87

(17)

4.19 Hubungan Dukungan dengan Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………... 88 4.20 Hubungan Rasa Positif dengan Perilaku Pencegahan pada Pasien

Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………. 89 4.21 Hubungan Kesetaraan dengan Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes

Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………... 90 4.22 Hubungan Kenyamanan dengan Perilaku Pencegahan pada Pasien

Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………. 91 4.23 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik antara Keterbukaan, Empati,

Dukungan, Rasa Positif, Kesetaraan dan Kenyamanan terhadap Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun

2012 ………. 92

4.24 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik antara Keterbukaan, Empati, Dukungan, Rasa Positif dan Kesetaraan terhadap Perilaku Pencegahan pada Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………… 93 4.25 Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik antara Keterbukaan, Empati,

Dukungan dan Rasa Positif terhadap Perilaku Pencegahan pada Pasien

Diabetes Mellitus (DM) di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah

(RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat Tahun 2012 ………. 94

4.26 Hasil Akhir Analisis Multivariat Regresi Logistik ……….. 94

(18)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 36

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian... 114

2. Uji Validitas dan Reliabilitas Data... 120

3. Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi)... 128

4. Analisis Bivariat... 141

5. Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik)……….. 147

6. Surat Izin Penelitian... 157

7. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian... 158

(20)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjalankan kehidupannya manusia selalu berkomunikasi dengan sesamanya. Komunikasi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia, salah satu unsur komunikasi yaitu menyampaikan informasi. Oleh karena itu manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Berdasarkan kebutuhan komunikasi maka komunikasi sangatlah penting sebagai sarana yang sangat efektif dalam memudahkan tenaga kesehatan melaksanakan peran dan fungsinya dengan baik. Komunikasi yang terjadi antara dokter dengan pasien biasa disebut dengan komunikasi antar pribadi yaitu komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Purwanto, 2008).

Kegiatan berkomunikasi juga dilakukan antara dokter dan pasien. Dalam melaksanakan tugasnya tentulah dokter tidak terlepas dari proses komunikasi. Dari sekian banyak komunikasi, maka komunikasi antar pribadi (komunikasi interpersonal) yang dianggap paling efektif untuk menunjang kesehatan pasien.

Adanya hubungan komunikasi interpersonal antara dokter dengan pasien merupakan

hubungan kerjasama yang ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran

dan pengalaman dalam membina hubungan yang harmonis/baik dengan pasien.

(21)

Salah satu penyakit degenarif seperti Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling sering diderita dan penyakit kronik yang serius di Indonesia saat ini. Setengah dari jumlah kasus Diabetes Mellitus (DM) tidak terdiagnosa karena pada umumnya diabetes tidak disertai gejala sampai terjadinya komplikasi. Prevalensi penyakit diabetes meningkat karena terjadi perubahan gaya hidup, kenaikan jumlah kalori yang dimakan, kurangnya aktifitas fisik dan meningkatnya jumlah populasi manusia usia lanjut. Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang banyak diderita oleh penduduk dunia dan hingga saat ini belum ditemukan pengobatan yang efektif untuk menyembuhkannya (Depkes RI, 2006).

Penyakit diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius karena dapat menimbulkan komplikasi seperti: penyakit jantung, gagal ginjal, dan kerusakan sistem saraf.

Beberapa jenis DM terjadi karena interaksi yang kompleks dari lingkungan, genetik, dan pola hidup sehari-hari. Diabetes mellitus (DM) dibagikan kepada beberapa kelas yaitu diabetes mellitus (DM) tipe 1, diabetes mellitus (DM) tipe 2, diabetes mellitus (DM) tipe lain, dan diabetes mellitus (DM) kehamilan (American Diabetes Association, 2005).

Data organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) (2009),

Indonesia menempati urutan ke enam di dunia sebagai negara dengan jumlah

penderita diabetes mellitus (DM) terbanyak setelah India, Cina, Unisoviet, Jepang

dan Brasil. Pada tahun 2006 jumlah penderita diabetes mellitus (DM) di Indonesia

menjadi 14 juta orang, jika peningkatan penderita diabetes mellitus (DM)

(22)

pertahunnya 230.000 orang, maka bisa kita bayangkan berapa banyak jumlah penderita diabetes mellitus (DM) pada tahun 2009. Menurut estimasi International Diabetes Federation (IDF) tahun 2007, bahwa jumlah penduduk Indonesia usia 20 tahun keatas menderita diabetes mellitus (DM) sebanyak 5,6 juta orang pada tahun 2001 dan angka tersebut akan meningkat menjadi 8,2 juta pada tahun 2020.

Penerapan komunikasi dalam pelayanan kesehatan mempunyai peran yang sangat besar terhadap kemajuan kesehatan pasien. Komunikasi meningkatkan hubungan interpersonal dengan pasien sehingga akan tercipta suasana yang kondusif dimana pasien dapat mengungkapkan perasaan dan harapan-harapannya (Sundberg, 1989). Kondisi saling percaya yang telah dibangun antara petugas kesehatan dan pasien tersebut akan mempermudah pelaksanaan dan keberhasilan program pengobatan (Stuart G.W.,et al, 1998).

Hasil penelitian yang dilakukan Yuni (2005) di RSU Kebumen menunjukkan bahwa kendala yang kerap timbul dalam komunikasi antara pasien dan dokter antara lain adalah keterbatasan waktu untuk bertemu atau pertemuan yang tidak efektif karena yang terjadi adalah komunikasi satu arah. Hal ini menurutnya menyebabkan pasien atau keluarga menjadi kurang paham akan keterangan yang diberikan dan mereka sebenarnya tidak mengerti apa yang disampaikan.

Pemberi informasi tentang DM oleh dokter harus benar-benar dapat

memahami dan menyadari pentingnya pendidikan kesehatan DM serta mampu

menyusun serta menjelaskan materi atau informasi yang hendak di sampaikan kepada

pasien. Dalam penyampaian materi tersebut, dokter dapat memakai bermacam-

(23)

macam sarana seperti ceramah, seminar, diskusi kelompok dan sebagainya.

Semuanya itu tujuannya untuk mengubah perilaku (knowledge), sikap (attitude) dan perilaku (behaviour) (Notoamodjo, 2010). Upaya pencegahan sekunder dan tersier yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan pada penderita DM adalah dengan menciptakan komunikasi yang terbuka dengan penderita DM dan memberikan suatu perhatian dalam komunikasi tersebut. Tenaga kesehatan sangat diperlukan dalam memonitor perkembangan penderita DM dan juga harus terfokus pada perkembangan motivasi penderita DM dan berupaya mengintegrasikan penyakit kedalam konsep diri penderita DM untuk meningkatkan upaya pencegahan sekunder dan tersier, serta membantu penderita DM melakukan perubahan gaya hidup yang sesuai dengan anjuran kesehatan

Pemberian informasi yang baik oleh dokter terhadap pasien Diabetes Mellitus

bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien dalam upaya pencegahan

sekunder dan tersier penyakit. Adapun pencegahan sekunder adalah mengelola

pasien DM sejak awal dengan mewaspadai komplikasi-komplikasi kronik yang

mungkin timbul. Komunikasi yang baik oleh dokter mengenai DM dan

pengelolaannya pada pasien untuk pencegahan sekunder sangat penting untuk

mendapatkan ketaatan berobat pasien yang baik dan teratur. Pencegahan tersier

diupayakan karena dapat terjadi kecacatan. Pencegahan tersier dilakukan dengan

pengelolaan komplikasi sebaik-baiknya dan usaha merehabilitasi pasien sedini

mungkin sebelum kecacatan menjadi menetap dan tidak dapat lagi diperbaiki lagi.

(24)

Untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang tepat guna dan berhasil guna serta untuk menekan angka kejadian penyulit DM, maka selain diperlukan suatu standar pelayanan minimal bagi penyandang diabetes, prinsip komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien dalam proses terapi akan memberi manfaat yang sebesar- besarnya bagi pencegahan peningkatan penyakit diabetes kepada tipe 2 dan kondisi yang lebih berat lagi. Prinsip yang perlu diperhatikan oleh dokter dalam melakukan upaya pencegahan penyakit Diabetes Mellitus pada tingkat keparahan lebih lanjut adalah komunikasi antar pribadi yang berkelanjutan.

Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang. Menurut Kumar (2006), 5 (lima) ciri efektifitas komunikasi antar pribadi sebagai berikut: (1) keterbukaan (openess);

(2) empati (empathy); (3) dukungan (supportiveness); (4) rasa positif (positiveness);

(5) kesetaraan (equality). Feedback yang diperoleh dalam komunikasi antar pribadi berupa feedback positif, negatif dan netral. Prinsip mandasar dalam komunikasi manusia berupa penerusan gagasan. Agar komunikasi antar pribadi menjadi efektif, maka sikap saling terbuka sangat diperlukan untuk mendorong timbulnya saling pengertian, menghargai, memberikan manfaat bagi motivasi kesembuhan pasien dan sikap pasien untuk mengikuti anjuran dan nasehat dokter

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat

merupakan salah satu tempat pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan

kesehatan pada penderita diabetes mellitus. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Tanjung Pura merupakan rumah sakit yang memiliki poli internis yang melayani

(25)

semua penderita diabetes mellitus (DM) di Kabupaten Langkat. Berdasarkan survei awal yang dilakukan pada bulan Januari 2012 ditemukan peningkatan jumlah pasien dari tahun ke tahun. Jumlah pasien diabetes yang berkunjung di poliklinik penyakit tahun 2009 sebanyak 79 orang, pada tahun 2010 sebanyak 82 orang, tahun 2011 sebanyak 112 orang dan terhitung bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2012 jumlah pasien sebanyak 45 orang. Dari jumlah tersebut dinyatakan 58 % sudah pada penyakit diabetes tipe 2 dan 3.

Berdasarkan hasil pengamatan dan pra survei yang dilakukan peneliti di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura, menunjukkan bahwa hubungan komunikasi interpersonal yang terjadi antara dokter dan pasien belum cukup baik dikarenakan keterbatasan waktu untuk berkonsultasi sangat singkat sekali sehingga komunikasi antara dokter dan pasien tidak efektif karena yang terjadi adalah komunikasi satu arah. Berdasarkan hasil riset kualitatit dengan wawancara terhadap beberapa penderita DM yang berkunjung ke Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura mengatakan bahwa penjelasan dokter tentang penyakit yang mereka alami sangat kurang.

Hasil penelitian Wahyuni (2004), menyimpulkan bahwa variabel komunikasi

interpersonal dengan indikator keterbukaan, empati, dukungan dan kesamaan

merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi komitmen kerja dibanding

variabel gaya kepemimpinan, indikator keterbukaan paling besar sumbangannya

terhadap komitmen kerja perawat di Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang Sidoarjo

Jawa Tengah. Penelitian tentang determinasi lama konsultasi dokter dengan pasien

(26)

yang dilakukan Panjaitan (2008) menyebutkan bahwa 74,6 % dokter melakukan konsultasi dengan pasien hanya 2-4 menit. Hal ini membuat pasien kurang memahami dengan baik beberapa hal yang disampaikan oleh dokter.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti merasa tertarik untuk melihat keefektifan komunikasi di dalam proses pelayanan pada pasien sehingga hasil yang diharapkan terhadap proses kesembuhan bisa lebih efektif dan efisien dan out come yang diharapkan adalah peningkatan upaya perilaku pencegahan sekunder dan tersier pada penderita diabetes mellitus (DM).

1.2. Permasalahan

Dari uraian di atas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian adalah bagaimana pengaruh komunikasi antar pribadi (keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, kesetaraan, kenyamanan) dokter dengan pasien terhadap perilaku pencegahan pada pasien Diabetes Mellitus di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh komunikasi antar

pribadi (keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, kesetaraan, kenyamanan) dokter

dengan pasien terhadap perilaku pencegahan pada pasien Diabetes Mellitus di Poli

Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat.

(27)

1.4. Hipotesa

Ada pengaruh komunikasi antar pribadi (keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, kesetaraan, kenyamanan) dokter dengan pasien terhadap perilaku pencegahan pada pasien Diabetes Mellitus di Poli Internis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura Kabupaten Langkat.

1.5. Manfaat Penelitian 1. Bagi Pihak Manajemen.

Sebagai masukan bagi pihak manajemen untuk melakukan koordinasi dengan dokter menyangkut pelayanan prima pada pasien melalui komunkasi terapeutik yang baik dengan pasien.

2. Bagi Dokter Spesialis

Sebagai masukan dalam upaya peningkatan kinerja melalui komunikasi yang baik antara sesama bagian.

3. Bagi Rumah Sakit lainnya

Sebagai masukan bahwa banyak rumah sakit yang kurang memperhatikan

komunikasi terapeutik yang baik akan ditinggalkan oleh pelanggannya.

(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Komunikasi Antar Pribadi (KAP) 2.1.1. Pengertian

Komunikasi antar pribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara individu-individu berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Wiryanto, 2007).

Definisi lain yang diungkapkan Liliweri (2008) komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang (dyadic primacy), dua orang dalam suatu kelompok (dyadic coalitions) maupun hubungan antara dua orang dimana anda mempunyai kesadaran sebagai bagian dari sebuah hubungan (dyadic consciousness).

Sebagai contoh : hubungan antara ibu dan anak, dua orang sahabat, sepasang kekasih, pegawai dengan atasannya.

Komunikasi antar pribadi juga dapat berlangsung antara orang asing atau orang yang tidak dikenal ketika ingin menanyakan situasi sekitarnya. Jadi tidak selalu terjadi antara dua orang yang kenal akrab. Komunikasi antar pribadi (KAP) dapat diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi (tatap muka). Dalam pengertian tersebut mengandung 3 (tiga) aspek (Wiryanto, 2007):

1. Definisi berdasarkan komponen (Componential): Definisi ini menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan menggunakan komponen-komponen, yang

10

(29)

dalam hal ini berarti penyampaian pesan oleh seseorang yang diterima oleh orang lain atau sekelompok orang, dengan berbagai dampak dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera.

2. Definisi berdasarkan hubungan diadik: definisi yang menjelaskan hubungan yang terjadi antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas. Jadi definisi ini mengatakan hampir tidak mungkin ada komunikasi diadik (dua orang) yang bukan komunikasi antar pribadi. Bukan hal yang aneh jika pada akhirnya definisi ini disebut definisi diadik (dyadic).

3. Definisi berdasarkan pengembangan (Developmential): dalam rancangan pengembangan, komunikasi antar pribadi dilihat sebagai akhir dari perkembangan dari komunikasi yang bersifat tak-pribadi (impersonal).

Sementara menurut Rakhmat (2007) KAP mengandung makna, yaitu sesuatu yang dipertukarkan dalam proses tersebut atau kesamaan pemahaman diantara orang- orang yang berkomunikasi terhadap pesan-pesan yang digunakan dalam proses komunikasi.

2.1.2. Elemen-Elemen Komunikasi Antar Pribadi

Miller (2006) menyebutkan bahwa komunikasi antar pribadi memiliki elemen sebagai berikut :

1. Source-Receiver

Dalam prosesnya komunikasi antarpribadi melibatkan dua orang. Masing-

masing orang memformulasi dan mengirimkan pesan (fungsi source) serta merasa

dan memahami pesan (fungsi receiver). Hubungan source-receiver tersebut

(30)

menegaskan bahwa kedua fungsi tersebut diperankan oleh masing-masing individu dalam komunikasi antar pribadi. Latar belakang seseorang akan memengaruhi pesan yang disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Pendidikan yang dimiliki oleh lawan bicara kita juga turut memengaruhi cara kita berkomunikasi.

2. Encoding-Decoding

Encoding merupakan proses yang dilakukan untuk memproduksi pesan.Sumber harus merubah perasaan atau pikiran Untuk menyampaikan apa yang ada di dalam hati (perasaan) atau apa yang ada di dalam kepala (pikiran), sumber harus merubah perasaan atau pikiran tersebut ke dalam seperangkat simbol verbal maupun non verbal yang dapat dimengerti oleh penerima pesan. Proses inilah yang disebut penyandian (encoding).

Decoding adalah kebalikan dari encoding, yang merupakan perbuatan untuk memahami pesan. Pengalaman masa lalu (field of experience), rujukan nilai (frame of reference), pengetahuan, persepsi, pola pikir, perasaan, penerima pesan ini menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat simbol verbal maupun non verbal menjadi gagasan yang dapat dipahami. Proses inilah yang disebut penyandian balik (decoding).

Istilah encoding-decoding digunakan untuk menegaskan bahwa kedua aktivitas tersebut dilakukan oleh kedua belah pihak secara bergantian. Supaya komunikasi antar pribadi dapat terjadi, pesan harus di encoding dan decoding.

3. Competence

(31)

Kemampuan untuk dapat melakukan komunikasi secara efektif merupakan kemampuan yang harus dimiliki dalam komunikasi antar pribadi. Kemampuan tersebut antara lain adalah kemampuan untuk mengetahui pembicaraan yang sesuai dengan orang yang diajak bicara, pengetahuan tentang aturan dalam tingkah laku non verbal (misalnya: ketepatan dalam sentuhan, volume suara, kedekatan fisik) merupakan salah satu kemampuan dalam komunikasi antarpribadi. Singkatnya, kemampuan antarpribadi meliputi bagaimana mengatur komunikasi berdasarkan suasana dalam interaksi, siapa yang diajak berinteraksi dan seterusnya

Kemampuan berkomunikasi dapat diperoleh melalui observasi dan pengalaman. Ada seseorang yang mampu belajar dengan baik sehingga tahu apa yang akan dikatakan, bagaimana serta kapan waktu untuk berbicara. Memiliki kemampuan berkomunikasi memudahkan kita untuk membina hubungan dengan orang lain baik itu di kampus maupun ditempat kerja. Serta memudahkan kita untuk membina hubungan persahabatan, cinta maupun pertemanan. Kemampuan berkomunikasi juga menghindarkan diri kita dari rasa rendah diri, depresi dan kesendirian.

4. Messages

Pesan merupakan sinyal yang berperan sebagai stimuli untuk penerima pesan,

dapat didengar, dilihat, disentuh, dicium, dirasakan atau dipadukan. Kita

berkomunikasi secara personal melalui bahasa tubuh dan melalui kata-kata. Pakaian

yang kita kenakan, cara berjalan, duduk, tersenyum mengkomunikasikan siapa diri

kita baik kepada orang lain maupun diri kita sendiri.

(32)

5. Feedback Messages

Keseluruhan dari proses komunikasi antarpribadi adalah kita saling memberi umpan balik, pesan dikirimkan kembali kepada pembicara atas reaksi yang telah dikatakan. Umpan balik memberitahukan kepada penanya apa pengaruh dari pesan bagi pendengarnya. Umpan balik ini digunakan sebagai dasar oleh pembicara untuk mengatur,memodifikasi,memperkuat,menegaskan atau mengubah konteks pesan.

Umpan balik dapat berasal dari diri sendiri atau dari orang lain. Saat mengirimkan pesan kita juga mendengarkan diri sendiri, kita mendengarkan apa yang kita katakan, merasakan apa yang kita lakukan dan melihat apa yang kita tulis.

Sebagai tambahan dari umpan balik diri sendiri, kita mendapat umpan balik dari orang lain.

6. Channel

Channel adalah media dimana pesan melintas. Bisa dianalogikan sebagai jembatan yang menghubungkan antara sumber dan penerima.Komunikasi biasanya menggunakan lebih dari satu saluran. Misalnya pada saat komunikasi empat mata, kita tidak hanya berbicara dan mendengar tetapi juga menggunakan gesture dan menerima signal virtual. Selain itu channel juga dapat rusak. Misalnya, apabila komunikator atau receiver buta atau tuli. Hal ini tentu akan menghambat penyampaian pesan.

7. Noise

Noise adalah gangguan yang terjadi pada saat proses penyampaian pesan dan

dapat menghambat proses komunikasi. Noise dapat berupa fisik (suara gaduh, orang

(33)

yang batuk dan sebagainya), prasangka maupun kesalahpahaman. Salah satu konsep dalam memahami noise dan kepentingannya dalam komunikasi adalah signal-to- noise ratio. Signal yang diberi makna adalah informasi yang dianggap penting dan noise adalah informasi yang tidak berguna.

8. Ethics

Dikarenakan adanya konsekuensi atau dampak, komunikasi juga melibatkan etika. Setiap kegiatan komunikasi memiliki dimensi moral dan norma-norma kebenaran. Proses komunikasi harus dibarengi oleh etika dan juga keefektifan serta kepuasan.

Menurut beberapa pakar komunikasi, ada 3 (tiga) elemen tentang pemikiran Komunikasi Antar Pribadi (KAP) yaitu:

1. Komponen-komponen utama

Brittner (2005) menerangkan KAP berlangsung, bila pengirim menyampaikan informasi berupa kata-kata kepada penerima dengan menggunakan medium suara manusia (human voice).

Menurut Barnlund (dikutip dalam Liliweri (2008), ciri-ciri mengenali KAP sebagai berikut: (a) bersifat spontan; (b) tidak berstruktur; (c) kebetulan; (d) tidak mengejar tujuan yang direncanakan; (e) identitas kenggotaan tidak jelas; (f) terjadi sambil lalu.

2. Hubungan diadik

Hubungan diadik mengartikan komunikasi antar pribadi sebagi komunikasi

yang berlangsung antara dua orang yang mempunyai hubungan mantap dan jelas.

(34)

Untuk memahami perilaku seseorang, harus mengikutsertakan paling tidak dua orang peserta dalam situasi bersama (Laing, Phillipson, dan Lee (2007).

Trenholm dan Jensen (2006) mendefinisikan komunikasi antar pribadi sebagai komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara tatap muka (komunikasi diadik). Sifat komunikasi ini adalah : (a) spontan dan informal; (b) saling menerima feedback secara maksimal; (c) partisipan berperan fleksibel. Ia juga mengatakan tipikal pola interaksi dalam keluarga menunjukkan jaringan komunikasi.

3. Pengembangan

Komunikasi antar pribadi dapat dilihat dari dua sisi sebagai perkembangan dari komunikasi impersonal dan komunikasi pribadi atau intim. Oleh karena itu, derajat komunikasi antar pribadi berpengaruh terhadap keluasan dan kedalaman informasi sehingga merubah sikap.

2.1.3. Karakteristik (Ciri-Ciri) Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara

komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga

komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan

secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau

tidak. Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada

komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan

dalam penegasan istilah, penelitian ini lebih ditekankan pada dimensi psikologis

perilaku komunikasi antarpribadi siswa. Sehingga secara psikologis perilaku

(35)

komunikasi antarpribadi siswa meliputi keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan kesetaraan.

Berikut ini merupakan ciri-ciri efektifitas komunikasi antarpribadi menurut Kumar (Wiryanto, 2007) bahwa ciri-ciri komunikasi antar pribadi tersebut yaitu:

(1) Keterbukaan (Openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan antar pribadi; (2) Empati (Empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain; (3) Dukungan (Supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif; (4) Rasa positif (positivenes), seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif; dan (5) Kesetaraan atau kesamaan (Equality), yaitu pengakuan secara diam-diam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.

Senada dengan yang dikemukakan oleh De vito (Sugiyo, 2009) bahwa ciri-ciri komunikasi antarpribadi tersebut demikian. Dari kelima ciri-ciri efektifitas kamunikasi antar pribadi tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Keterbukaan (Openess)

Keterbukaan atau sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan

komunikasi antarpribadi yang efektif. Keterbukaan adalah pengungkapan reaksi atau

tanggapan kita terhadap situasi yang sedang dihadapi serta memberikan informasi

tentang masa lalu yang relevan untuk memberikan tanggapan kita di masa kini

tersebut.

(36)

Supratiknya, (2005) mengartikan keterbukaan diri yaitu membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan, atau perasaan kita terhadap kejadian-kejadian yang baru saja kita saksikan.

Secara psikologis, apabila individu mau membuka diri kepada orang lain, maka orang lain yang diajak bicara akan merasa aman dalam melakukan komunikasi antarpribadi yang akhirnya orang lain tersebut akan turut membuka diri.

Brooks dan Emmert (Rakhmat, 2007) mengemukakan bahwa karakteristik orang yang terbuka adalah sebagai berikut:

a. Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan keajegan logika.

b. Membedakan dengan mudah, melihat nuansa, dan sebagainya.

c. Mencari informasi dari berbagai sumber

d. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.

2. Empati (Empathy)

Komunikasi antar pribadi dapat berlangsung kondusif apabila komunikator (pengirim pesan) menunjukkan rasa empati pada komunikan (penerima pesan).

Menurut Sugiyo (2007) empati dapat diartikan sebagai menghayati perasaan orang

lain atau turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Empati adalah sebagai suatu

kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang nampak maupun

yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran dan keinginan. Individu

dapat menempatkan diri dalam suasana perasaan, pikiran dan keinginan orang lain

sedekat mungkin apabila individu tersebut dapat berempati. Apabila empati tersebut

(37)

tumbuh dalam proses komunikasi antarpribadi, maka suasana hubungan komunikasi akan dapat berkembang dan tumbuh sikap saling pengertian dan penerimaan.

Menurut Winkel (2006) bahwa empati yaitu, konselor mampu mendalami pikiran dan menghayati perasaan siswa, seolah-olah konselor pada saat ini menjadi siswa, tanpa terbawa-bawa sendiri oleh semua itu dan kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan pada diri sendiri.

Sedangkan Jumarin (2007) menyatakan bahwa empati tidak saja berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga mengandung aspek afektif, dan ditunjukkan dalam gerakan, cara berkomunikasi (mengandung dimensi kognitif, afektif, perseptual, somatic/kinesthetic, apperceptual dan communicative).

3. Dukungan (Supportiveness)

Dalam komunikasi antarpribadi diperlukan sikap memberi dukungan dari pihak komunikator agar komunikan mau berpartisipasi dalam komunikasi. Hal ini senada dikemukakan Sugiyo (2007) dalam komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana yang mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari komunikator. Rakhmat (2007) mengemukakan bahwa “sikap supportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif . Orang yang defensif cenderung lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya di dalam situasi komunikan dari pada memahami pesan orang lain.

Dukungan merupakan pemberian dorongan atau pengobaran semangat kepada

orang lain dalam suasana hubungan komunikasi. Sehingga dengan adanya dukungan

dalam situasi tersebut, komunikasi antarpribadi akan bertahan lama karena tercipta

(38)

suasana yang mendukung. Jack R.Gibb (Rakhmat, 2007) menyebutkan beberapa perilaku yang menimbulkan perilaku suportif, yaitu:

1) Deskripsi, yaitu menyampaikan perasaaan dan persepsi kepada orang lain tanpa menilai; tidak memuji atau mengecam, mengevaluasi pada gagasan, bukan pada pribadi orang lain, orang tersebut “merasa” bahwa kita menghargai diri mereka.

2) Orientasi masalah, yaitu mengajak untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah, tidak mendikte orang lain, tetapi secara bersama-sama menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana mencapainya.

3) Spontanitas, yaitu sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam.

4) Profesionalisme, yaitu kesediaan untuk meninjau kembali pendapat diri sendiri, mengakui bahwa manusia tidak luput dari kesalahan sehingga wajar kalau pendapat dan keyakinan diri sendiri dapat berubah.

4. Rasa positif (positivenes)

Rasa positif merupakan kecenderungan seseorang untuk mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan, menerima diri sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, memiliki keyakinan atas kemampuannya untuk mengatasi persoalan, peka terhadap kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima. Dapat memberi dan menerima pujian tanpa pura-pura memberi dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.

Sugiyo (2007) mengartikan bahwa rasa positif adalah adanya kecenderungan

bertindak pada diri komunikator untuk memberikan penilaian yang positif pada diri

(39)

komunikan. Dalam komunikasi antar pribadi hedaknya antara komunikator dengan komunikan saling menunjukkan sikap positif, karena dalam hubungan komunikasi tersebut akan muncul suasana menyenangkan, sehingga pemutusan hubungan komunikasi tidak dapat terjadi.

Rakhmat (2007) menyatakan bahwa sukses komunikasi antarpribadi banyak tergantung pada kualitas pandangan dan perasaan diri; positif atau negatif. Pandangan dan perasaan tentang diri yang positif, akan lahir pola perilaku komunikasi antar pribadi yang positif pula.

5. Kesetaraan (Equality)

Kesetaraan merupakan perasaan sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga atau sikap orang lain terhadapnya. Rakhmat (2007) mengemukakan bahwa persamaan atau kesetaraan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis, tidak menunjukkan diri sendiri lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual kekayaan atau kecantikan. Dalam persamaan tidak mempertegas perbedaan, artinya tidak mengggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama, yaitu mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pendapat merasa nyaman, yang akhirnya proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar.

Komunikasi antar pribadi (KAP) merupakan komunikasi paling efektif untuk

mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang. Menurut Kumar (2009), lima ciri

efektifitas KAP sebagai berikut: (1) keterbukaan (openess); (2) empati (empathy);

(40)

(3) dukungan (supportiveness); (4) rasa positif (positiveness); (5) kesetaraan (equality). Feedback yang diperoleh dalam komunikasi antar pribadi berupa feedback positif, negatif dan netral. Prinsip mandasar dalam komunikasi manusia berupa penerusan gagasan.

Berlo (2007) mengembangkan konsep empati menjadi teori komunikasi.

Empat tingkat ketergantungan komunikasi adalah : (i) peserta komunikasi memilih pasangan sesuai dirinya; (ii) tanggapan yang diharapkan berupa umpan balik; (iii) individu mempunyai kemampuan untuk menanggapi, mengantisipasi bagaimana merespon informasi, serta mengembangkan harapan-harapan tingkah laku partisipan komunikasi; (iv) terjadi pergantian peran untuk mencapai kesamaan pengalaman dalam perilaku komunikasi.

Berlo (2007) membagi teori empati menjadi dua: (i) Teori Penyimpulan (inference theory), orang dapat mengamati atau mengidentifikasi perilakunya sendiri;

(ii) Teori Pengambilan Peran (role taking theory), seseorang harus lebih dulu mengenal dan mengerti perilaku orang lain. Tahapan proses empati :

1. Kelayakan (decentering) ; bagaimana individu memusatkan perhatian kepada orang lain dan mempertimbangkan apa yang dipikirkan & dikatakan orla tersebut.

2. Pengambilan peran (role taking) ; mengidentifikasikan orla ke dalam dirinya,

menyentuh kesadaran diri melalui orla. Tingkatan dalam pengambilan peran : (a)

tingkatan budaya (cultural level), mendasarkan keseluruhan karakteristik dari

norma dan nilai masyarakat. (b) tingkatan sosiologis (sociological level),

(41)

mendasarkan pada asumsi sebagian kelompok budaya. (c) tingkatan psikologis (psycological level), mendasarkan pada apa yang dialami oleh individu.

3. Empati komunikasi (empathic communication), meliputi penyampaian perasaan, kejadian, persepsi atau proses yang menyatakan tidak langsung perubahan sikap/

perilaku penerima.

Blumer mengembangkan pemikiran Mead melalui pokok pikiran interaksionisme simbolik yaitu “Manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai objek tersebut bagi dirinya.

Kepedulian dokter terhadap pasien ternyata mengurangi kecemasan, rasa sakit, dan tekanan darah serta meningkatkan kesehatan mereka secara umum.

Salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan dokter kepada masyarakat adalah dengan meningkatkan keterampilan komunikasi mereka. Salah satu kebiasaan dokter yang merusak adalah keengganan mereka untuk mendengarkan pasien.

Suatu penelitian di Barat ditemukan bahwa hanya dalam 23% kasus pasien punya kesempatan menuntaskan penjelasannya. Dalam 69% kunjungan pasien, dokter melakukan interupsi, mengarahkan pasien kepada penyakit tertentu. Lebih dari itu, secara rata-rata dokter memotong pembicaraan, setelah pasien mereka berbicara hanya 18 detik (Taylor, 2005). Di Indonesia, kemungkinan besar dokter lebih mendominasi lagi pembicaraan dengan pasien, karena masyarakat Indonesia paternalistik.

Komunikasi kesehatan dipengaruhi oleh kepercayaan, nilai, dan bahasa

(verbal dan nonverbal). Dalam masyarakat Timur yang kolektivis komunikasi lebih

(42)

rumit daripada dalam masyarakat Barat yang individualis. Untuk menjaga hubungan serasi dengan orang lain, orang kolektivis cenderung berbasa-basi, kalau perlu berbohong, untuk menyenangkan orang lain. Suatu kasus klasik adalah seorang perawat Filipina di AS yang diminta dokter Amerika untuk memberi obat kepada pasien. Meski perawat sadar bahwa dokter telah memberi resep yang salah dan akan merugikan pasien, ia terpaksa mengikuti pesan dokter tanpa membantahnya (Brislin dan Yoshida, 2006).

Korelasi positif antara komunikasi yang efektif dengan kesehatan dan usia panjang menurut Babyak (2006) aspek komunikasi nonverbal yang penting dalam dunia medis adalah sentuhan. Riset dalam komunikasi kesehatan yang dilakukannya menunjukkan bahwa kebutuhan pasien akan sentuhan tidak dipenuhi oleh profesional medis.

Boelen, (2005) terkenal dengan konsepnya yaitu "The Five Star Doctor", salah satu peran dokter adalah sebagai komunikator. Artinya bahwa komunikasi adalah sangat penting bagi dokter, mulai dari wawancara, saat pemeriksaan fisik, sampai dengan saat penyuluhan terhadap pasien maupun masyarakat. Hal ini, meski banyak dokter tahu pentingnya komunikasi, akan tetapi acap kali terlupakan. Dengan komunikasi yang efektif, maka dapat menjaga hubungan antara dokter dan pasiennya.

Pasien merasa dimanusiakan jika seorang dokter menerapkan prinsip komunikasi

efektif tersebut.

(43)

Prinsip komunikasi efektif yang dikenal dengan istilah CARE meliputi:

1. Comfort (nyaman), dokter harus nyaman atau tidak enggan untuk membicarakan hal-hal yang melibatkan emosi seperti kematian, seksualitas dengan pasiennya.

2. Acceptance (penerimaan), dokter menerima setiap keadaan pasiennya meski mungkin sakitnya akibat perilaku pasien sendiri yang tidak bertanggungjawab terhadap kesehatannya.

3. Responsiveness (tanggap), tanggap dengan pasien yang sulit untuk menyampaikan masalah kesehatannya.

4. Empathy (empati), mau mengerti perasaan, pikiran dan keinginan serta ketakutan pasiennya.

Dengan tetap menjaga kontak atau hubungan dengan pasien dan keluarganya, tentunya komunikasi akan sangat menunjang layanan berkesinambungan (continuing care) terutama untuk masalah kesehatan kronik, seperti kencing manis (diabetes melitus), hipertensi, dan penyakit kronik lainnya.

Selain itu, dokter juga harus melihat pasien sebagai manusia secara utuh

(whole person), tidak hanya keluhan dari pasien saja, namun juga memperhatikan

aspek psiko-sosial kulturnya. Karena dokter memahami bahwa setiap pasien yang

datang sebagai manusia adalah unik, memiliki pikiran, harapan, juga ketakutan. Hal

ini yang sering dilupakan oleh spesialis lain (sering disebut hospital specialist), yang

terspesialisasi oleh organ tertentu, fungsi tertentu atau sistem dari bagian-bagian

tubuh manusia. Padahal manusia adalah bukan kumpulan organ atau sistem, akan

tetapi setiap manusia selain memiliki badan/fisik, juga memiliki jiwa. Oleh karena

(44)

itu, seorang dokter tetap fokus sebagai seorang dokter yang melayani siapa pun (generalist), tidak terbatasi oleh organ, sistem, fungsi tertentu, juga tidak terbatasi oleh usia, ras, agama maupun jenis kelamin.

Menurut Liliweri (2008) kesalah pahaman nonverbal orang-orang yang berbeda budaya berpotensi terjadi dalam komunikasi kesehatan. Dia berpendapat, tidak banyak dokter yang menyadari bahwa penataan ruang pun bersifat simbolik dan memengaruhi hubungan dokter dengan pasien untuk membantu mempercepat proses penyembuhan. Komunikasi dokter pasien diharapkan dapat mendukung upaya pemberian informasi, edukasi dan motivasi pasien dalam rangka menuntaskan masalah kesehatannya.

Menilai dari cara berkomunikasi seorang dokter, baik secara verbal atau pun diiringi dengan bahasa tubuh, menurut Babyak (2006) dapat digolongkan dalam 4 (empat) tipe:

1. Dokter yang tidak memiliki waktu dan tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik. Menghadapi dokter semacam ini yang paling sulit.

Jangankan menjelaskan keadaan penyakit kepada seorang pasien, untuk bertutur sapa dengan sesama dokter pun mereka terasa mempunyai hambatan. Biasanya dokter tipe ini tidak memiliki banyak pasien, kecuali ia berkemampuan lebih dan masih langka kehadirannya di suatu komunitas tertentu.

2. Dokter yang bisa berkomunikasi tapi tidak cukup memiliki waktu. Kelompok

dokter ini biasanya sangat sibuk, baik oleh karena pasiennya yang banyak

ataupun tugas pekerjaan di luar keprofesiannya menuntut mereka untuk

(45)

menggunakan waktu seefektif mungkin. Tidak semua pasien puas dengan gaya dokter jenis ini. Boleh jadi kemampuannya dalam menyembuhkan pasien terkenal hebat, tapi mungkin saja sebagian pasien merasa kecewa karena tidak ada kesempatan untuk menanyakan sesuatu atau merasa tidak mendapat sentuhan optimal di saat sang dokter menjalankan pemeriksaan fisik. Kebanyakan dokter di Indonesia menjalankan prakteknya tidak membatasi jumlah pasien. Sedangkan di luar negeri, seorang dokter dalam menjalankan tugasnya di praktek atau poliklinik rawat jalan, waktu menjadi patokan utama. Sehingga jika waktu untuk seorang pasien (biasanya 20–30 menit) belum selesai, si dokter meminta pertanyaan lagi dari si pasien menyangkut hal-hal yang belum jelas. Dengan demikian kualitas layanan terhadap seorang pasien memang terjaga betul.

3. Dokter dengan gaya berkomunikasi formal. Dimana pasien semata-mata menjadi obyek dari interaksi yang dibangun. Penuh dengan bahasa serta istilah medis, cenderung arus komunikasi satu arah, mendominasi pembicaraan dan terkadang bahkan ada kesan memarahi dalam memberikan nasehat ke pasien. Biasanya untuk golongan pasien yang tidak kritis, jenis dokter ini masih bisa diterima dengan baik. Cukup sudah dengan diberitahu sakitnya, diberi obat dan syukur- syukur sembuh, pasien sudah puas. Sekali pun mungkin saja ada rasa tertekan atau takut menghadapi dokternya.

4. Dokter yang memiliki waktu dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Dokter

jenis ini berusaha membina hubungan dengan pasiennya secara lebih terbuka,

tidak selamanya formal, berempati, menjelaskan dengan bahasa yang mudah

(46)

dimengerti pasien serta lebih memberikan waktu kepada pasien untuk mengungkapkan sesuatu. Dokter tipe ini biasanya memiliki kemampuan bersosialisasi lebih tebal dibanding yang lain. Memang dokter yang sejenis ini yang ideal dan banyak disenangi pasien. Tapi golongan ini masih bisa dibedakan lagi antara yang bergaya terlampau bersahabat hingga cenderung membuat mereka kurang teliti serta dalam memberikan penjelasan kurang mengedepankan sisi ilmiahnya, namun ada yang mampu mengkombinasikan kemampuan berkomunikasi serta penguasaan ilmu dan ketrampilannya dengan baik sehingga memiliki kharisma dan talenta yang baik pula. Yang mana menjadi pilihan pasien tentu berpulang pada kecocokan serta kebutuhan masing-masing pasien tersebut.

Ada yang bilang, dengan dilihat dan disentuh saja oleh dokter A, seorang pasien sudah merasa dirinya sembuh.

2.2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Individu dalam Komunikasi Antar Pribadi

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa komunikasi antar pribadi dimulai dari diri individu. Tampilan komunikasi yang muncul dalam setiap kita berkomunikasi mencerminkan kepribadian dari setiap individu yang berkomunikasi.

Pemahaman terhadap proses pembentukan keperibadian setiap pihak yang terlibat dalam komunikasi menjadi penting dan memengaruhi keberhasilan komunikasi.

Dalam modul ini realita komunikasi antar pribadi dianalogikan seperti fenomena

gunung es (the communication iceberg) (Rogers dalam Niven, 2009).

(47)

Analogi ini menjelaskan bahwa ada berbagai hal yang memengaruhi atau yang memberi kontribusi pada bagaimana bentuk setiap tampilan komunikasi.

Gunung es yang tampak, dianalogikan sebagai bentuk komunikasi yang teramati atau terlihat (visible/observable aspect) yaitu:

1. Interactant, yaitu orang yang terlibat dalam interaksi komunikasi seperti pembicara, penulis, pendengar, pembaca dengan berbagai situasi yang berbeda.

2. Symbol, terdiri dari simbol (huruf, angka, kata-kata, tindakan) dan symbolic language (bahasa Indonesia, bahasa Inggris).

3. Media, saluran yang digunakan dalam setiap situasi komunikasi.

Sedangkan bagian bawah gunung es yang menjadi penyangga gunung es itu tidak tampak atau tidak teramati. Inilah yang disebut sebagai invisible/unobservable aspect. Justru bagian inilah yang penting, walaupun tak tampak karena tertutup air, dia menyangga tampilan gunung es yang muncul menyembul kepermukaan air.

Tanpa itu gunung es tidak akan ada. Demikian halnya dengan komunikasi, di mana tampilan komunikasi yang teramati/tampak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak terlihat, tapi terasa pengaruhnya, yaitu:

1. Meaning (makna), etika simbol ada, maka makna itu ada dan bagaimana cara menanggapinya. Intonasi suara, mimik muka, kata-kata, dan gambar. Merupakan simbol yang mewakili suatu makna. Misalnya intonasi yang tinggi dimaknai dengan kemarahan, kata pohon mewakili tumbuhan

2. Learning, interpretasi makna terhadap simbol muncul berdasarkan pola-pola

komunikasi yang diasosiasikan pengalaman, interpretasi muncul dari belajar yang

(48)

diperoleh dari pengalaman. Interpretasi muncul disegala tindakan mengikuti aturan yang diperoleh melalui pengalaman. Pengalaman merupakan rangkaian proses memahami pesan berdasarkan yang kita pelajari. Jadi makna yang kita berikan merupakan hasil belajar. Pola-pola atau perilaku komunikasi kita tidak tergantung pada turunan/genetik, tapi makna dan informasi merupakan hasil belajar terhadap simbol-simbol yang ada di lingkungannya. Membaca, menulis, menghitung adalah proses belajar dari lingkungan format. Jadi, kemampuan kita berkomunikasi merupakan hasil learning (belajar) dari lingkungan.

3. Subjectivity, pengalaman setiap individu tidak akan pernah benar-benar sama, sehingga individu dalam mengencode (menyusun atau merancang) dan mendekode (menerima dan mengartikan) pesan tidak ada yang benar-benar sama.

Interpretasi dari dua orang yang berbeda akan berbeda terhadap objek yang sama.

4. Negotiation, komunikasi merupakan pertukaran symbol. Pihak-pihak yang berkomunikasi masing-masing mempunyai tujuan untuk memengaruhi orang lain.

Dalam upaya itu terjadi negosiasi dalam pemilihan simbol dan makna sehingga tercapai saling pengertian.Pertukaran simbol sama dengan proses pertukaran makna. Masing-masing pihak harus menyesuaikan makna satu sama lain.

5. Culture, setiap individu adalah hasil belajar dari dan dengan orang lain. Individu

adalah partisipan dari kelompok, organisasi dan anggota masyarakat. Melalui

partisipasi berbagi simbol dengan orang lain, kelompok, organisasi dan

masyarakat. Simbol dan makna adalah bagian dari lingkungan budaya yang kita

(49)

terima dan kita adaptasi. Melalui komunikasi budaya diciptakan, dipertahankan dan dirubah. Budaya menciptakan cara pandang (point of view).

6. Interacting levels and context, komunikasi antar manusia berlangsung dalam bermacam konteks dan tingkatan. Lingkup komunikasi setiap individu sangat beragam mulai dari komunikasi antar pribadi, kelompok, organisasi, dan massa.

7. Self reference, perilaku dan simbol-simbol yang digunakan individu mencerminkan pengalaman yang dimilikinya, artinya sesuatu yang kita katakan dan lakukan dan cara kita menginterpretasikan kata dan tindakan orang adalah refleksi makna, pengalaman, kebutuhan dan harapan-harapan kita.

8. Self reflexivity, kesadaran diri (self-cosciousnes)merupakan keadaan dimana seseorang memandang dirinya sendiri (cermin diri) sebagai bagian dari lingkungan. Inti dari proses komunikasi adalah bagaimana pihak-pihak memandang dirinya sebagai bagian dari lingkungannya dan itu berpengaruh pada komunikasi.

9. Inevitability, kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Walaupun kita tidak melakukan apapun tetapi diam kita akan tercermin dari nonverbal yang terlihat, dan itu mengungkap suatu makna komunikasi.

Berbagai aspek yang dibahas di atas menegaskan bahwa suatu proses

komunikasi secara fisik terlihat sederhana, padahal jika kita melihat pola komunikasi

yang terjadi itu menjelaskan kepada kita sesuatu yang sangat kompleks. Jadi dapat

disimpulkan di sini bahwa komunikasi antarpribadi bukanlah sesuatu yang sederhana.

(50)

Rakhmat (2007) meyakini bahwa komunikasi antar pribadi dipengaruhi oleh persepsi interpersonal; konsep diri; atraksi interpersonal; dan hubungan interpersonal.

1. Persepsi interpersonal

Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi inderawi. Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang (komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi, seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibat kegagalan komunikasi.

2. Konsep diri

Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang positif, ditandai dengan lima hal, yaitu: a. yakin akan kemampuan mengatasi masalah; b. merasa setara dengan orang lain; c. menerima pujian tanpa rasa malu; d.

menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat; e. mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antarpribadi, yaitu:

1) Nubuat yang dipenuhi sendiri. Karena setiap orang bertingkah laku sedapat

mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seseorang mahasiswa menganggap

dirinya sebagai orang yang rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini Kerja Praktek dilakukan dengan membuat Media Pembelajaran Installasi dan cara penggunaan linux di dishubkominfo pemalang, dimana media pembelajaran

Serta perawat lebih meningkatkan pengetahuan tentang respon time dalam memberikan pelayanan yang baik kepada pasien, dan perawat lebih meningkatkan salam, senyum

Bahwa antara aktivitas dalam organisasi dengan tingkat partisipasi dalam pelestarian hutan mangrove memiliki koefisien korelasi (r’) sebesar 0,60 dengan t- hitung = 11,32 ** lebih

Pada neraca yang dibuat oleh Koperasi Serba Usaha “Mitra Maju” Kampung Sumber Sari diketahui adanya anggota yang belum membayar simpanan pokok dan simpanan wajib tetapi

Untuk dapat mengkongkritkan peran guru sebagai pembimbing, perlu kiranya dipahami terlebih dahulu perilaku membimbing guru-guru dalam berinteraksi dengan murid-murid baik

Prinsip non refoulement sebagaimana tercantum dalam pasal 33 Konvensi mengenai Status Pengungsi 1951 merupakan aspek dasar hukum pengungsi yang melarang negara untuk mengusir

Analisis Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Total Asset Turnover dan Net Profit Margin Terhadap ROE..

Cara melakukannya adalah sebagai berikut. 1) Melakukan tolakan peluru selengkapnya, gerakan terkontrol dengan gerak luncur pendek dan rendah. 2) Gerakan akhir dalam posisi tegak