• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

13

Universitas Kristen Petra

4. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Permasalahan utama yang diangkat dalam Tugas Akhir ini berkaitan dengan sistem pergudangan, yang mana penyelesaian masalahnya menggunakan analisa warehouse management system. Usulan perbaikan dibuat untuk memenuhi kriteria perusahaan yang menginginkan sistem FIFO demi terjaganya kualitas ban yang dipengaruhi oleh segi umur ban. Pembahasan akan dimulai dari pemaparan kondisi awal di gudang.

4.1 Kondisi Awal

Kondisi awal gudang dengan luas 11.803,5 m 2 terdiri dari dua lantai, dimana lantai satu seluas 7.987m 2 dan lantai dua seluas 3816,5m 2 . Area yang digunakan untuk meletakkan rak penyimpanan seluas 7840,42m 2 dengan daya tampung sekitar 405.120 unit ban. Data pada Lampiran 1 menunjukkan terjadi kekurangan lahan pada gudang plant B sebesar 183,71 m 2 , seperti tertera pada Tabel 4.1.

Table 4.1 Ringkasan kapasitas simpan gudang plant B Total Kapasitas Inventory (unit) 453.120

Total Kekurangan Area (m 2 ) 183.71

Total Rak (unit) 3.573

Total Balance (unit) 68.861

Kekurangan lahan tersebut berpengaruh pada tidak teraturnya peletakan

rak. Banyak rak yang diletakkan di area yang seharusnya untuk jalan. Kondisi

lainnya adalah peletakan rak diluar gudang yang dapat berpengaruh pada kualitas

ban. Ketidak teraturan peletakan rak dapat memicu terjadinya kesalahan dalam

pengambilan rak pada saat diperlukan. Permasalahan yang lain adalah kondisi

layout sekarang belum menjamin berjalannya FIFO.

(2)

14

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.1 Flowchart alur gudang saat ini

Gambar 4.1 menunjukkan alur dari ban masuk sampai keluar dari gudang.

Pertama adalah gudang menerima ban yang telah diperiksa oleh departemen QC dari final inspection (FI). Selanjutnya pihak penerimaan gudang mencocokkan kesesuaian antara dokumen dengan tipe ban yang akan masuk tersebut. Ban yang cocok segera menuju proses setting, jika tidak cocok maka akan dikembalikan ke FI. Ban yang sudah melalui proses setting diantar menuju tempat penyimpanan.

4.1.1 Material handling

Material handling yang digunakan pada gudang plant B adalah rak biru,

rak hijau, lorry tire, lorry tube, handpallet, dan forklift. Total rak lorry yang

digunakan di gudang plant B sebanyak 2.834 buah. Handpallet hanya terdapat

(3)

15

Universitas Kristen Petra

dilantai 2, sejumlah 2 buah. Sedangkan untuk forklift dalam 1 shift digunakan 3 forklift.

Gambar 4.2 Rak biru

Gambar 4.2 adalah sketsa rak biru yang digunakan digudang plant B. Rak ini memiliki daya tampung 100 unit sampai 120 unit ban tergantung ukuran dari ban tersebut. Rak dua tingkat ini luasnya 1,97m 2 dan dapat ditumpuk sebanyak tiga tingkat. Penataan rak biru tidak boleh dicampur dengan rak lainnya.

Gambar 4.3 Rak hijau

(4)

16

Universitas Kristen Petra

Sedangkan rak hijau (Gambar 4.3) memiliki daya tampung 150 unit ban.

Rak tiga tingkat ini memiliki luas sebesar 1,97m 2 dan boleh ditumpuk sebanyak dua tingkat. Penataan rak hijau tidak dapat dicampur dengan rak lainnya.

Gambar 4.4 Lorry tire

Rak rolly tire (Gambar 4.4) memiliki daya tampung 120 unit ban tergantung ukuran dari ban tersebut. Rak tiga tingkat ini memiliki luas sebesar 1,97m 2 , namun tidak dapat ditumpuk. Penataan lorry tire tidak boleh dicampur dengan rak lainnya.

Gambar 4.5 Lorry tube

(5)

17

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.5 merupakan rak lorry yang digunakan digudang plant B. Rak ini memiliki daya tampung 1200 unit ban tergantung ukuran dari ban dalam tersebut. Rak tiga tingkat ini memiliki luas sebesar 1,97m 2 dan tidak dapat ditumpuk. Penataan lorry tube tidak boleh dicampur dengan rak lainnya.

Material handling lain yang dimiliki oleh gudang plant B adalah forklift dan handpallet. Forklift dengan daya angkut sebesar 2,5 ton digunakan untuk proses angkut dari final inspection (FI) ke dalam gudang dan proses angkut ketika loading.

4.1.2 Layout awal

Gambar 4.6 Layout kondisi awal lantai 1

Gambar 4.6 adalah layout awal gudang yang mana penataan rak relatif baik

jika dijalankan dengan benar. Gudang lantai 1 menggunakan empat macam tipe rak,

yaitu rak biru, rak hijau, lorry, dan lorry untuk ban dalam. Area depan dekat pintu

dan area sebelah kantor menggunakan rak warna biru dan hijau, yang mana rak

tersebut dapat ditumpuk. Rak tipe lorry yang tingginya mencapai 2m 2 digunakan

pada area tengah dan belakang gudang, karena tinggi lantai 1 dan lantai 2 hanya

berjarak 3m 2 sehingga tidak mungkin untuk ditumpuk.

(6)

18

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.7 Layout kondisi awal lantai 2

Gambar 4.7 merupakan layout awal gudang lantai 2 yang areanya lebih kecil daripada lantai 1. Lantai 2 ini hanya menggunakan rak biru dan pallet saja, karena terbatas dengan atap gudang. Keterbatasan ini membuat cara penyimpanan rak tidak dapat ditumpuk.

Tabel 4.2 Ringkasan kapasitas penyimpanan dengan layout kondisi awal Layout kondisi awal

Pemakaian area Lantai 1 Lantai 2

Luas total (m²) 7.987 3.816,51

Area Rak (m²) 5.351,5 2.488,92

Area lain-lain (musholla,

kantor, jalan, dan toilet) (m²) 2.635,5 1.327,59 Total kapasitas (unit) 453.120

Tabel 4.2 menampilkan ringkasan kapasitas penyimpanan dengan layout

awal, seperti luas total, area rak, area lain-lain, dan total kapasitas. Luas lantai 1

sebesar 7.987m 2 dengan penggunaan area rak sebesar 5.351,5m 2 serta sisa luas area

untuk keperluan seperti musholla, jalan, kantor, dan toilet sebesar 2.635m 2 . Luas

lantai 2 sebesar 3.816,51m 2 dengan penggunaan area rak sebesar 2.488,92 m 2 serta

(7)

19

Universitas Kristen Petra

sisa luas area untuk keperluan seperti jalan dan area setting sebesar 1.327,59m 2 . Perhitungan total kapasitas untuk layout awal ini sebesar 453.120 unit ban.

Perhitungan utilitas ruang dilakukan untuk mengukur seberapa besar wilayah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan. Perhitungan menggunakan luas gudang dan luas area simpan. Utilitas luas dari layout awal dari PT. XYZ adalah sebagai berikut.

Utilitas ruang = luas area simpan luas total gudang Utilitas ruang = 7.840,42 m²

11.803,51 m² x 100%

Utilitas ruang = 66,43%

Berdasarkan hasil perhitungan utilitas ruang, area yang terpakai oleh gudang plant B untuk ruang penyimpanan sebesar 66,43% lebih dari setengah luas gudang.

Penggunaan untuk tempat simpan di gudang plant B juga harus diperhitungkan. Pertama dengan membagi sesuai dengan jenisnya, yaitu Tire OE T/L(tubeless), Tire OE TT(tubetype), dan Tube OE. Pembagian ini dilakukan untuk mengetahui detail keperluan tempat penyimpanan tiap jenisnya. Perhitungan jumlah tempat penyimpanan sebagai berikut.

 Tire OE T/L

Rata-rata kuantitas/bulan = 242.370 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 120 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 2.020 rak

 Tire OE TT

Rata-rata kuantitas/bulan = 125.070 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 120 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 1.043 rak

 Tube OE

Rata-rata kuantitas/bulan = 85.680 unit

Kapasitas tempat penyimpanan = 720 unit

(8)

20

Universitas Kristen Petra

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 119 rak

Total rak yang digunakan di gudang plant B berdasarkan perhitungan sebanyak 3.182 rak. Jumlah rak tersebut mampu menampung ban sebanyak 453.120 unit ban.

Keunggulan dari layout awal ini adalah dapat menampung kapasitas dalam jumlah yang besar. Hal ini dikarenakan penempatan rak yang dapat ditumpuk hingga tiga tingkat. Daya tampung tiap rak dapat mencapai 90 sampai 120 ban.

Namun layout awal ini tidak mengakomodasi aliran FIFO, terkadang posisi ban yang baru berada dibaris paling belakang. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam proses pengambilan, karena rak harus dikeluarkan satu per satu. Rak biasanya diletakkan dalam satu baris dengan jenis ban yang sama, sehingga memudahkan operator forklift untuk mengambilnya.

Gudang menyimpan berbagai macam varian produk ban dalam jumlah yang besar pula. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya ketidak sengajaan percampuran satu tipe ban dengan tipe lainnya pada satu ikatan ban atau dalam satu rak. Ketelitian dari operator sangat dibutuhkan agar tidak terjadi percampuran tersebut.

4.2 Analisa permasalahan

Permasalahan dapat dilihat dari ketidak cocokan antara perhitungan

gudang dan perhitungan aktual. Terdapat selisih antara jumlah kapasitas yang ada

digudang. Akar permasalahan dari masalah tersebut kemudian dicari dengan

menggunakan fishbone diagram seperti pada gambar 4.7.

(9)

21

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.8 Fishbone diagram untuk FIFO

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan permasalahan seperti pada gambar 4.8 adalah manusia, material, dan metode. Manusia cenderung melakukan kesalahan ketika sedang melakukan banyak pekerjaan. Penempatan rak yang kadang tidak seharusnya, seperti mencampur rak biru dan rak hijau dalam satu tumpukan. Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah lupa untuk memperbarui control board karena operator terlalu sibuk. Peran control board sangat penting karena menunjukkan lokasi rak, jika tidak diperbarui tentu bisa berakibat fatal.

Masalah lainya adalah terkadang operator loading tidak menjaga kebersihan

container dan ban yang akan di kirim. Hal tersebut dapat berakibat ban sampai ke

customer dalam kondisi kotor. Material yang dimaksudkan adalah ban yang

disimpan dalam gudang. Ban memiliki ketentuan jangka waktu simpan dalam

gudang selama 8 minggu. Nyatanya dalam gudang masih terdapat ban berumur

lebih dari 8 minggu yang belum dikeluarkan. Metode perhitungan gudang yang ada

sekarang tidak diperbarui, jadi terdapat perbedaan dengan perhitungan aktual yang

ada. Selisih yang ada cukup besar, hal ini bisa berakibat gudang tidak bisa

mengantisipasi apabila terjadi lonjakan kapasitas yang besar. Lonjakan tersebut

(10)

22

Universitas Kristen Petra

karena demand dari customer selalu meningkat. Perhitungan penggunaan rak di gudang juga tidak di update. Jumlah pemakain perlu diketahui agar dapat memperkirakan tempat penyimpanan yang tersedia.

Gambar 4.9 Fishbone diagram untuk bebas cacat visual

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan permasalahan bebas cacat visual seperti pada gambar 4.9 adalah manusia, material, dan lingkungan. Manusia cenderung melakukan kesalahan ketika sedang melakukan banyak pekerjaan.

Permasalahan yang timbul ketika proses loading ketika operator memasukan ban kedalam container dengan cara menggelindingkan ban, tetapi tidak memperhatikan kondisi container yang kotor. Ban yang digelindingkan tentu akan ikut kotor pada saat proses loading yang akan berpengaruh pada kualitas ban tersebut. Material yang dimaksudkan adalah ban yang disimpan dalam gudang. Ban memiliki ketentuan jangka waktu simpan dalam gudang selama 8 minggu. Nyatanya dalam gudang masih terdapat ban berumur lebih dari 8 minggu yang belum dikeluarkan.

Ban yang terlalu lama disimpan tentu berpengaruh kualitasnya. Lingkungan sangat berpengaruh untuk pekerja merasa nyaman dalam melakukan pekerjaannya.

Gudang terasa cukup gelap ketika siang karena tidak semua lampu dinyalakan,

pandangan yang gelap tentu membuat mata mudah lelah. Hal ini memicu operator

bekerja dengan tidak teliti. Kondisi suhu yang tinggi juga mengganggu seperti di

gudang lantai 2 terasa sangat panas karena hembusan panas dari lantai produksi.

(11)

23

Universitas Kristen Petra

Hal ini tentu membuat operator kurang merasa nyaman ketika bekerja dan mengganggu performa operator. Lingkungan kerja juga harus steril dari benda asing, dikarenakan keberadaannya dapat merugikan. Contohnya seperti ditemukan kucing dan tikus dalam gudang yang dapat merusak ban yang sedang disimpan.

Gambar 4.10 Fishbone diagram untuk pengiriman tepat waktu

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan permasalahan pengiriman

tepat waktu seperti pada gambar 4.10 adalah manusia, mesin, lingkungan, dan

material. Manusia cenderung melakukan kesalahan ketika sedang melakukan

banyak pekerjaan. Penempatan rak yang kadang tidak seharusnya, seperti

mencampur rak biru dan rak hijau dalam satu tumpukan, hal ini memperlama waktu

loading. Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah lupa untuk memperbarui

control board karena operator terlalu sibuk. Peran control board sangat penting

karena menunjukkan lokasi rak, jika tidak diperbarui tentu bisa berakibat kesulitan

untuk mencari ban yang akan dikirimkan. Mesin yang dimaksudkan disini adalah

forklift yang digunakan untuk mengangkut rak. Forklift hanya sebuah mesin yang

memiliki daya tahan tertentu dan bisa sewaktu-waktu rusak. Forklift digunakan

hampir 24 jam sehari, tentu hal ini berpangaruh pada waktu loading yang lebih

(12)

24

Universitas Kristen Petra

lama. Material yang dimaksudkan adalah ban yang disimpan dalam gudang. Ban memiliki ketentuan jangka waktu simpan dalam gudang selama 8 minggu.

Nyatanya dalam gudang masih terdapat ban berumur lebih dari 8 minggu yang belum dikeluarkan. Lingkungan yang kurang terang tentu berpengaruh pada daya lihat operator akan menjadi terbatas didalam gudang. Hal ini memicu operator bekerja dengan tidak teliti.

4.3 Usulan alur gudang

Usulan-usulan perbaikan yang baru tentu berpengaruh pada alur gudang

saat ini. Perubahan pada check sheet dan pembaruan pada control board merupakan

proses baru. Hal ini berpengaruh pada proses alur gudang sehingga perlu untuk

diperbarui juga. Proses alur gudang yang baru dapat dilihat pada gambar 4.9.

(13)

25

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.11 flowchart alur gudang usulan

Gambar 4.11 merupakan alur gudang usula setelah dilakukan perbaikan.

Perbedaan dengan yang lama adalah setelah proses setting, karena harus mengisi

checksheet penyimpanan. Hal digunakan untuk menentukan tempat ban tersebut

disimpan dimana. Checksheet ini membantu operator ketika memperbarui control

board digital. Proses loading juga harus mencocokan RMB (Rencana Muat Barang)

dengan control board sebagai panduan dalam mengambil barang. Ban yang telah

disiapkan untuk masuk kedalam container dicatat pada checksheet ISPL (Identitas

Staging dan Perhitungan Loading). Hasil perhitungan dan pengecekan kualitas jika

(14)

26

Universitas Kristen Petra

sudah cocok ban dapat dikirim, jika belum cocok ban harus ditukar atau ditambakan.

4.4 Usulan perbaikan layout

Kondisi layout awal yang masih memiliki banyak kekurangan, maka diusulkan tiga pilihan alternatif untuk perbaikan layout awal. Perbaikan dilakukan berdasarkan permasalahan-permasalahan yang ada sekarang. Perbaikan ini diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan seperti FIFO, kualitas ban, dan lain-lainnnya. Perbaikan ini tetapi tidak sampai tahap implementasi, karena membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang cukup lama untuk penerapannya.

4.4.1 Usulan penerapan metode arus aliran barang dan klasifikasi ABC Usulan ini berdasarkan jumlah permintaan customer dan nilai dari ban tersebut. Penerapan ini bertujuan untuk mengklasifikasikan barang kedalam kategori fast moving (A), medium moving (B), dan slow moving (C). Perhitungan yang biasa digunakan yaitu untuk fast moving persentasenya 20%, medium moving persentasenya 35%, dan slow moving persentasenya 45% berdasarkan jumlah stok yang ada. Perhitungan persentase tersebut juga dapat berbeda sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Penentuan area simpan yang akan digunakan juga berpengaruh. Posisi paling depan atau dekat dengan pintu akan digunakan sebagai area fast moving ditandai dengan warna merah. Area medium moving diposisikan ditengah gudang ditandai dengan warna kuning. Area slow moving diposisikan area belakang gudang ditandai dengan warna hijau.

Tabel 4.3 Perhitungan untuk klasifikasi ABC

IR TIRE 2,574,632 IDR 225.000 IDR 579,292,200.000 21.27 30.06 B IR TIRE T/L 3,541,570 IDR 450.000 IDR 1,593,706,500.000 58.51 41.35 A IR TUNA 2,448,876 IDR 225.000 IDR 550,997,100.000 20.23 28.59 C Total 8,565,078 IDR 2,723,995,800.000 100.00 100.00

%

Persediaaan Kategori Tipe Demand

(unit) Harga Volume Harga %

Keuangan

(15)

27

Universitas Kristen Petra

Perhitungan untuk menentukan klasifikasi ABC (tabel 4.3) didasari oleh harga jual dari ban dan jumlah arus ban yang masuk ke gudang. Hasil perhitungan kategori A mendapat bagian 41,35% untuk persediaan. Hasil perhitungan kategori B mendapat bagian 30,06% untuk persediaan. Hasil perhitungan kategori C mendapat bagian 28,59% untuk persediaan. Penitian ini dibatasi untuk pengambilan data sehingga sulit untuk menentukan pengelompokan secara mendetail. Penelitian memerlukan data detail pemesanan customer dan lama waktu penyimpanan ban untuk hasil yang lebih maksimal. Pengelompokan ini hanya bersifat sementara, karena dapat berubah bergantung dengan permintaan customer.

4.4.2 Layout usulan pertama

Layout usulan ini memiliki kesamaan dengan layout kondisi awal, tetapi pada layout ini terdapat penambahan pembagian berdasarkan kecepatan arus aliran barang. Metode ini penting untuk diterapakan karena dapat membantu proses pengiriman ketika loading. Penting karena mengingat jumlah produksi yang sangat besar tentu untuk mempersingkat waktu pengiriman.

Gambar 4.12 Layout usulan pertama lantai 1

(16)

28

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.13 Layout usulan pertama lantai 2

Gambar 4.12 dan gambar 4.13 menunjukan pada layout ini dilakukan pembagian berdasarkan tiga warna, yaitu merah, kuning, dan hijau. Warna merah menunjukan area fast moving, diletakan di dekat pintu agar barang lebih cepat dikeluarkan karena permintaannya yang banyak. Warna kuning untuk medium moving, letaknya berada ditengah gudang agar masih mudah untuk di jangkau.

Warna hijau untuk slow moving, untuk barang yang permintaanya tidak terlalu banyak. Peletakan area slow moving agak jauh dari pintu loading karena arus keluar barang juga jarang.

Tabel 4.4 Perhitungan layout usulan pertama Layout usulan pertama

Pemakaian area Lantai 1 Lantai 2 Luas total (m²) 7.987 3.816,51

Area Rak (m²) 5.351,5 2.488.92 Area lain-lain (musholla,

kantor, jalan, dan toilet) (m²) 2.635,5 1.327,59 Total kapasitas (unit) 453.120

Tabel 4.4 menunjukan perhitungan layout awal, sepert luas total, area rak,

area lain-lain, dan total kapasitas. Luas lantai 1 sebesar 7.987m 2 dengan

(17)

29

Universitas Kristen Petra

penggunaan area rak sebesar 5.351,5 m 2 serta sisa luas area untuk keperluan seperti musholla, jalan, kantor, dan toilet sebesar 2.635m 2 . Luas lantai 2 sebesar 3.816,51m 2 dengan penggunaan area rak sebesar 2.488,92 m 2 serta sisa luas area untuk keperluan seperti jalan dan area setting sebesar 1.327,59m 2 . Perhitungan total kapasitas untuk layout perbaikan 1 ini sebesar 453.120 unit ban, kapasitas yang ada sama dengan kondisi saat ini.

Perhitungan utilitas ruang dilakukan untuk mengukur seberapa besar wilayah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan. Perhitungan menggunakan luas gudang dan luas area simpan. Utilitas luas dari layout awal dari PT XYZ adalah sebagai berikut.

Utilitas ruang = luas area simpan luas total gudang Utilitas ruang = 7.840,42 m²

11.803,51 m² x 100%

Utilitas ruang = 66,43%

Berdasarkan hasil perhitungan utilitas ruang, area yang terpakai oleh gudang plant B untuk ruang penyimpanan sebesar 66,43% lebih dari setengah luas gudang.

Penggunaan untuk tempat simpan di gudang plant B juga harus diperhitungkan. Pertama dengan membagi sesuai dengan jenisnya, yaitu Tire OE T/L(tubeless), Tire OE TT(tubetype), dan Tube OE. Pembagian ini dilakukan untuk mengetahui detail keperluan tempat penyimpanan tiap jenisnya. Perhitungan jumlah tempat penyimpanan sebagai berikut.

 Tire OE T/L

Rata-rata kuantitas/bulan = 242.370 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 120 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 2.020 rak

 Tire OE TT

Rata-rata kuantitas/bulan = 125.070 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 120 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan

kapasitas tempat simpan

(18)

30

Universitas Kristen Petra

Banyak tempat simpan = 1.043 rak

 Tube OE

Rata-rata kuantitas/bulan = 85.680 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 720 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 119 rak

Total rak yang digunakan di gudang plant B berdasarkan perhitungan sebanyak 3.182 rak. Jumlah rak tersebut mampu menampung ban sebanyak 453.120 unit ban.

Keunggulan layout ini memudahkan untuk membagi alur kecepatan barang ketika hendak dikirim. Warna merah dengan alur yang paling sering keluar maka dari itu areanya berdekatan dengan pintu keluar. Kelemahan dari layout ini hampir sama dengan layout kondisi awal karena penataannya masih sama.

Permasalahannya pada akomodasi FIFO-nya karena peletakan rak yang masih sama. Masalah lainnya adalah dengan adanya pembagian area merah, kuning, dan hijau tidak bisa dengan sembarang diisi dengan tipe ban yang berbeda.

Kerugian dari layout ini adalah ketika item di wilayah merah, kuning, atau hijau tersebut habis, maka tempat yang kosong tersebut tidak bisa diisi oleh item lainnya. Area merah, kuning, dan hijau sudah ditentukan sebelumnya diisi oleh item yang mana. Hal ini menyebabkan ketika area itu kosong tidak bisa di isi dengan tipe berbeda.

4.4.3 Layout usulan kedua

Layout usulan kedua masih hampir sama dengan layout awal, terdapat beberapa perbedaan seperti area setting yang dipindah dan area jalan yang ditambah. Alasan pemindahan area setting dikarenakan area setting yang lama digunakan sebagai area rak penyimpanan karena dapat menampung lebih banyak.

Perubahan kedua adalah pada area lorry dimana ada penambahan area untuk jalan.

Hal ini bertujuan agar baris simpan lorry tidak terlalu panjang sehingga untuk

mengeluarkannya tidak terlalu lama. Layout ini juga menggunakan metode fast

(19)

31

Universitas Kristen Petra

moving, medium moving, dan slow moving dengan mengelompokan kedalam warna merah, kuning, dan hijau.

Gambar 4.12 menunjukan layout usulan kedua lantai 1

Layout usulan kedua lantai 1 (Gambar 4.12) masih menggunakan metode arus aliran barang dengan tujuan membantu proses loading. Perubahan pada layout ini dengan memberi ruang untuk memasukan rak dengan cara membuat posisi rak bagian belakang yang menempel tembok kosong. Area yang dikosongkan hanya berlaku untuk rak dapat ditumpuk saja, untuk lorry tidak diberlakukan hal serupa.

Perubahan untuk area lorry sendiri dengan membagi dua barisan lorry agar tidak

terlalu panjang barisannya. Hal ini bertujuan untuk membantu operator ketika

mendoro lorry agar lebih ringan dan lebih cepat proses pengeluarannya.

(20)

32

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.13 Layout usulan kedua lantai 2

Gambar 4.13 merupakan layout usulan kedua lantai 2 yang mana terdapat beberapa perubahan. Perubahan yang dilakukan adalah menambah area untuk jalan dikarenakan pada layout awal area untuk jalan dilantai 2 tertutup oleh banyak pallet dan rak. Perubahan ini bertujuan untuk membuat kondisi lantai lebih rapi dan tertata.

Tabel 4.5 Perhitungan layout usulan kedua Layout usulan kedua

Pemakaian Area Lantai 1 Lantai 2 Luas total (m²) 7.987 3.816,51 Area Rak (m²) 4.949,12 2.233,57 Area lain-lain (musholla,

kantor, jalan, dan toilet) (m²)

3.037,88 1.582,94 Total kapasitas (unit) 344.100

Tabel 4.5 menunjukan perhitungan layout awal, sepert luas total, area rak,

area lain-lain, dan total kapasitas. Luas lantai 1 sebesar 7.987m 2 dengan

penggunaan area rak sebesar 4.949,12m 2 serta sisa luas area untuk keperluan seperti

musholla, jalan, kantor, dan toilet sebesar 3.037,88m 2 . Luas lantai 2 sebesar

3816.51m 2 dengan penggunaan area rak sebesar 2.233,57 m 2 serta sisa luas area

(21)

33

Universitas Kristen Petra

untuk keperluan seperti jalan dan area setting sebesar 1.582,94m 2 . Perhitungan total kapasitas untuk layout awal ini sebesar 344.100 unit ban. Terjadi penurunan 24,1%

atau 109.020 unit jumlah kapasitas dari kondisi awal.

Perhitungan utilitas ruang dilakukan untuk mengukur seberapa besar wilayah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan. Perhitungan menggunakan luas gudang dan luas area simpan. Utilitas luas dari layout awal dari PT. XYZ adalah sebagai berikut.

Utilitas ruang = luas area simpan luas total gudang Utilitas ruang = 7.782,69 m²

11.803,51 m² x 100%

Utilitas ruang = 60,85%

Berdasarkan hasil perhitungan utilitas ruang, area yang terpakai oleh gudang plant B untuk ruang penyimpanan sebesar 60,85% lebih dari setengah luas gudang. Hasil ini tetapi lebih kecil daripada utilitas luas gudang saat ini.

Penggunaan untuk tempat simpan di gudang plant B juga harus diperhitungkan. Pertama dengan membagi sesuai dengan jenisnya, fast moving, medium moving, dan slow moving. Pembagian ini dilakukan untuk mengetahui detail keperluan tempat penyimpanan tiap jenisnya. Perhitungan jumlah tempat penyimpanan sebagai berikut.

 Red area

Kuantitas/bulan = 113.100 unit

Kapasitas tempat penyimpanan = 120 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 942 rak

 Yellow area

Rata-rata kuantitas/bulan = 117.200 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 120 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 977 rak

 Green area

(22)

34

Universitas Kristen Petra

Rata-rata kuantitas/bulan = 113.800 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 120 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 949 rak

Asumsi yang digunakan pada perhitungan ini adalah daya tampung rak 120 unit. Total rak yang digunakan di gudang plant B berdasarkan perhitungan sebanyak 2.868 rak. Jumlah rak tersebut mampu menampung ban sebanyak 344.100 unit ban.

Keunggulan layout ini adalah penataan lebih dirapikan sehingga tidak berantakan seperti pada layout awal dan meningkatkan FIFO. Penambahan area untuk jalan didaerah kuning atau lorry ditujukan agar baris tiap lorry tidak terlalu panjang. Pembagian ini bertujuan agar baris lorry paling belakang tidak menunggu waktu terlalu lama untuk bisa dikeluarkan. Lantai dua juga demikian dengan ditambahnya area untuk jalan, dapat memudahkan mengambil rak dari segala arah sehingga rak lebih cepat dikeluarkan. Kelemahan dari layout kedua ini adalah berkurangnya area simpan karena penambahan area untuk jalan. Kelemahan lainnya masih mungkinnya terjadi percampuran antar item. Penurunan kapasitas terjadi sekitar 50.000 unit ban untuk lantai 1 dan lantai 2. Penurunan kapasitas menjadi ancaman karena proses produksi memiliki intensitas yang tinggi. Hal ini bisa menyebabkan gudang overload.

Masalah kedua yang timbul pada layout ini terjadi penempatan rak yang asal. Area jalan yang semakin luas tentu membuat kapasitas menurun sehingga memaksa operator mencari cara untuk menyimpan rak di area lainnya. Hal ini dapat menyebabkan ketidak rapihan karena menutupi area yang tidak semestinya digunakan untuk tempat penyimpanan.

4.4.4 Layout usulan ketiga

Layout ketiga ini memiliki perubahan yang signifikan dari segi area,

panataan rak dan model rak. Area rak dibuat menyesuaikan kebutuhan rak. Rak

berganti model karena dapat menjamin FIFO, karea menggunakan metode pallet

flow racking. Rak dibuat menjadi dua model karena keterbatasan lahan. Estimasi

(23)

35

Universitas Kristen Petra

biaya untuk rak ini sebesar Rp 5.900.000,00 per raknya. Rak pertama dapat dilihat seperti pada gambar 4.14 dan rak kedua dapat dilihat pada gambar 4.15.

Gambar 4.14 Rak model pallet flow racking tampak samping

Gambar 4.15 Rak model pallet flow racking tampak depan

Layout ketiga ini berubah total untuk lantai 1 dan lanti 2 hal ini guna

memenuhi kebutuhan rak yang baru. Layout ini dibuat untuk memudahkan operator

untuk melakukan loading in dan loading out pada rak. Berbeda dengan rak yang

lama yang bersifat flexible, rak baru ini bersifat paten. Operator hanya mengambil

pallet berisi ban saja, maka dari itu dibutuhkan jarak yang cukup agar memudahkan

operator dalam bekerja. Layout ini juga masih menggunakan metode pembagian

area fast moving, medium moving, dan slow moving. Warna yang sama juga

digunakan di layout ini, yaitu merah, kuning, dan hijau. Gambar layout ketiga dapat

dilihat untuk lantai 1 pada gambar 4.16 dan lantai 2 pada gambar 4.17.

(24)

36

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.16 Layout usulan ketiga lantai 1

Gambar 4.17 Layout usulan ketiga lantai 2

Gambar 4.17 merupakan layout usulan ketiga untuk lantai 2. Perubahan

yang dilakukan adalah mengganti semua yang dengan model rak pallet flow

racking. Pembagian wilayah berdasarkan kecepatan arus juga diberlakukan di lantai

2 ini, seperti warna merah (fast moving), kuning (medium moving) dan hijau (slow

moving).

(25)

37

Universitas Kristen Petra

Tabel 4.6 Perhitungan layout usulan ketiga Layout usulan ketiga

Lantai 1 Lantai 2

Luas total (m²) 7.987 3.816,51

Area Rak (m²) 3.287,48 2.110,92

Area lain-lain (musholla,

kantor, jalan, dan toilet) (m²) 4.699,52 1.705,59 Total kapasitas (unit) 128.960

Tabel 4.6 menunjukan perhitungan layout awal, sepert luas total, area rak, area lain-lain, dan total kapasitas. Luas lantai 1 sebesar 7.987m 2 dengan penggunaan area rak sebesar 3.287,48m 2 serta sisa luas area untuk keperluan seperti musholla, jalan, kantor, dan toilet sebesar 4.699,52m 2 . Luas lantai 2 sebesar 3816.51m 2 dengan penggunaan area rak sebesar 2.110,92m 2 serta sisa luas area untuk keperluan seperti jalan dan area setting sebesar 1.705,59m 2 . Perhitungan total kapasitas untuk layout awal ini sebesar 128.960 unit ban. Terjadi penurunan kapasitas sebesasar 71,54% atau 324.160 unit ban dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Perhitungan utilitas ruang dilakukan untuk mengukur seberapa besar wilayah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan. Perhitungan menggunakan luas gudang dan luas area simpan. Utilitas luas dari layout awal dari PT. XYZ adalah sebagai berikut.

Utilitas ruang = luas area simpan luas total gudang Utilitas ruang = 5.398,4 m²

11.803,51 m² x 100%

Utilitas ruang = 45,74%

Berdasarkan hasil perhitungan utilitas ruang, area yang terpakai oleh

gudang plant B untuk ruang penyimpanan sebesar 45,74% kurang dari setengah

luas gudang. Hal ini dikarenakan layout ini membutuhkan ruang gerak yang cukup

lega agar mudah di aplikasikan. Hasil ini lebih kecil daripada utilitas luas gudang

saat ini.

(26)

38

Universitas Kristen Petra

Penggunaan untuk tempat simpan di gudang plant B juga harus diperhitungkan. Pertama dengan membagi sesuai dengan jenisnya, fast moving, medium moving, dan slow moving. Pembagian ini dilakukan untuk mengetahui detail keperluan tempat penyimpanan tiap jenisnya. Perhitungan jumlah tempat penyimpanan sebagai berikut.

 Red area

Kuantitas/bulan = 25.920 unit

Kapasitas tempat penyimpanan = 1.140 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 23 rak

 Yellow area

Rata-rata kuantitas/bulan = 44.760 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 1.000 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 45 rak

 Green area

Rata-rata kuantitas/bulan = 58.280 unit Kapasitas tempat penyimpanan = 600 unit

Banyak tempat simpan = rata − rata kuantitas/bulan kapasitas tempat simpan Banyak tempat simpan = 98 rak

Asumsi yang digunakan pada perhitungan ini adalah daya tampung rak area merah 1.140 unit, area kuning 1.000 unit, dan area hijau 600 unit. Total rak yang digunakan di gudang plant B berdasarkan perhitungan sebanyak 166 rak. Jumlah rak tersebut mampu menampung ban sebanyak 128.960 unit ban.

Keunggulan dari layout ini adalah jaminan FIFO untuk setiap item ban

yang ada. Rak sebagai pendukung utama agar FIFO terjamin, karena model yang

yang miring sehingga tidak mungkin ban yang masuk pertama tidak FIFO. Hal ini

menjaga kualitas ban sampai ke tangan customer. Kelebihan lainnya adalah rak ini

penempatannya sudah paten tidak bisa berpindah tempat, sehingga tidak perlu area

(27)

39

Universitas Kristen Petra

rak kosong. Kecepatan alur juga diterapkan pada layout ini sehingga mempercepat proses pengiriman juga. Rak ini juga tidak perlu menggunakan forklift 2,5ton seperti yang ada sekarang, hal ini menghemat penggunaan bahan bakar dan perawatan forklift. Kelemahan yang paling terlihat adalah penurunan kapasitas secara drastis. Layout ini hanya dapat menampung sekitar 120.000 unit ban saja.

Perbandingan dengan layout awal yang dapat menampung ben sekitar 400.000 unit ban. Perbedaan secara signifikan ini tentu berpengaruh pada biaya produksi dan biaya inventory.

Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah masih mungkinnya terjadi percampuran tipe dan ukuran ban. Hal ini sulit dihindarkan karena bergantung pada ketelitian operator setting. Metode pallet flow racking ini tidak memungkinkan untuk mengangkat langsung raknya, seperti rak yang lama. Beban rak yang lebih berat membuat untuk proses pengambilan harus per ikat, beda dengan rak lama yang bisa diangkat langsung satu rak.

4.5 Usulan perbaikan checksheet

Checksheet merupakan salah satu data yang penting yang harus dicatat untuk menjaga tiap proses berjalan dengan benar. Terdapat tiga checksheet usulan agar dapat membantu proses dalam gudang. Checksheet pertama adalah untuk penerimaan setelah setting, yaitu bertujuan untuk mencatat jumlah ban yang masuk, dan penempatan lokasi ban tersebut. Checksheet kedua merupakan kartu pemeriksaan, kartu ini sebelumnya sudah ada dan hanya perubahan kecil yang dilakukan. Checksheet ketiga adalah untuk proses loading, dimana penambahan yang dilakukan untuk menjaga kualitas ban sampai proses yang paling akhir.

4.5.1 Check sheet kartu pemeriksaan

Check sheet ini sebelum sudah ada dan masih digunakan. Guna dari kartu ini adalah menunjukan kapan ban tersebut diproduksi, ukuran, dan jumlah ban tersebut. Kartu ini juga dibagi menjadi beberapa warna seperti merah muda, hijau, biru, kuning, dan putih. Warna-warna tersebut menunjukan identitas tiap customer.

Kartu ini dapat dilihat pada gambar 4.18.

(28)

40

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.18 Check sheet kartu pemeriksaan

Gambar 4.18 merupakan pembaruan dari yang lama, hanya perubahan kecil yang ditambahkan. Perubahan tersebut adalah penambahan kategori lokasi agar dapat memastikan jika ban disimpan ditempat yang dituju. Fungsi dari penambahan tersebut juga menghindarkan ban yang tertukar posisi dengan ban lainnya.

4.5.2 Check sheet loading

Check sheet loading digunakan ketika ban akan dikirim kepada customer.

Check sheet ini bertujuan untuk mencatat jumlah ban yang akan dikirim. Check

sheet ini juga berisikan mengenai marking line yang terdapat pada ban sebagai

identitas dari ban tersebut. Perbaikan dilakukan pada check sheet ini guna menjaga

kualitas ban, perbaikan yang dilakukan seperti pada gambar 4.19.

(29)

41

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.19 Check sheet loading

Gambar 4.19 merupakan check sheet loading yang sudah diberikan perbaikan. Perbaikan yang dilakukan adalah dengan menambahkan serial ban, warna tali, pre-loading check, dan subtitution. Serial ban bertujuan untuk memastikan ban yang dikirim FIFO karena dapat dilihat dari umur ban. Warna tali untuk menjaga ban yang kirimkan tidak salah, karena warna tali berbeda tiap customer. Pre-loading check digunakan untuk memastikan kualitas ban ketika akan dikirimkan. Point tersebut bertujuan untuk mencatat ban yang tidak sesuai dan penukaran ban yang baru dan benar.

4.5.3 Usulan checksheet serah terima setting

Check sheet ini sebelumnya tidak ada, penambahan ini berguna untuk catatan operator agar memiliki data dimana ban tersebut diletakan. Check sheet ini terdiri dari kode, size, serial number, date, quantity in n out, dan location. Kode untuk mencatat kode ban yang tertera pada badan ban. Size untuk mencatat ukuran

: ___/___/___ : ___________________________________ ¹PA

: ___________ ____________________________________ ¹NO KEND

: ___________ ¹SOPIR

SIZE SERIAL BAN Fr Rr M K H B C P O 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TOTAL SIZE MARKING APPEARANCE

* Kode marking line : M = Merah, K = Kuning, H = Hijau, B = Biru, C = Cokelat, P = Putih, & O = Orange

* 1 diisi oleh Bag. Loading dan 2 diisi oleh Bag. Administrasi

* Ket digunakan untuk mencatat jika ditemukan kecacatan pada ban yang disertai dengan mencatat serial ban yang lama ketika diganti dengan yang baru

: _______________ ¹LOADING

MULAI : ____-____

: __________ [Y/T]

SELESAI : ____-____

: _______________

¹KULI : ____[Orang]

Subtotal

²NO. SJ

²NO T'SHIMNT

²NO. TRIP Subtotal

NO ¹NO. SO ¹ITEM ¹JUMLAH

(PCS)

¹MARKING LINE ¹PERHITUNGAN LOADING ¹Pre-Loading Check ¹SUBTITUTION KET

SERIAL BAN

¹WARNA TALI

GUDANG BAN B

IDENTITAS STAGING dan PERHITUNGAN LOADING

¹TGL ¹CUSTOMER : ________________________

¹LOKASI : ________________________

¹NO.RMB : ________________________

____/____/____

(...)

Bag. Staging

____/____/____

(...)

Bag. Administrasi

____/____/____

(...)

Bag. Loading

(30)

42

Universitas Kristen Petra

ban agar tidak tercampur dengan ukuran lainnya. Serial number adalah kapan ban tersebut dibuat, agar dapat menjaga FIFO. Quantity in n out agar dapat mencatat jumlah ketika ban itu masuk dan keluar agar tidak terjadi selisih. Location untuk menentukan dimana ban itu akan diletakan. Check sheet ini digunakan untuk membantu operator dalam menggunakan control board baru dengan terkoneksi oracle, agar semua data barang masuk dan keluar dapat tersimpan.

Gambar 4.20 Check sheet serah terima setting

4.6 Usulan control board baru

Control board sekarang yang berada di gudang plant B hanya terbuat dari whiteboard yang ditulis dengan spidol. Melakukan update pada control board sekarang masih konvensional karena harus dirubah satu per satu. Perubahan yang dilakukan cukup sering mengingat kapasitas gudang yang besar. Jumlah control board yang sekarang aja berjumlah lima papan, tiga papan dilantai 1 dan dua papan dilantai 2. Control board sekarang dapat dilihat pada gambar 4.21.

¹KODE

²SIZE

⁵IN ⁶OUT

QTY ⁷LOCATION ᵌSERIAL

NUMBER ⁴DATE

(31)

43

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.21 Control board saat ini

Masalah yang sering muncul dari control board sekarang adalah lupa untuk di perbarui. Pembaruan yang harus dilakukan satu per satu jika tidak dilakukan dengan teliti juga dapat menjadi masalah. Penempatan control board ini memang diletakan ditempat yang strategis, tetapi untuk melihatnya tidak praktis karena jarak cukup jauh antar control board.

Gambar 4.22 Usulan control board baru

(32)

44

Universitas Kristen Petra

Control board baru ini menggunakan sistem komputer untuk pengisiannya bisa secara otomatis. Data untuk pengisian berasal dari check sheet penerimaan setting Control board ini menunjukan aliran barang masuk dan barang keluar secara sekaligus. Control board ini menunjukan kode, size, serial number, date, quantity, floor, location, dan zone. Kode dan size untuk menunjukan tipe ban yang masuk atau keluar. Serial number menunjukan umur ban dan untuk menjaga FIFO. Date menunjukan kapan ban tersebut masuk atau keluar. Floor menunjukan lokasi ban berada dilantai berapa. Location menjelaskan keberadaan ban yang akan ditempatkan ketika masuk atau yang akan diambil ketika keluar. Zone menjelaskan daerah ban tersebut disimpan dan apakah ban tersebut masuk kategori fast moving, medium moving, dan slow moving. Customer memberi tahu kepada siapa ban ini akan dikirimkan sehingga tidak terjadi salah kirim.

Control board ini nantinya akan dihubungkan dengan sistem oracle.

Oracle sendiri merupakan sistem internal di PT. XYZ. Harapannya dengan tersambung dengan oracle maka setiap data ban yang masuk dan keluar dapat tersimpan dan terdata secara jelas. Sistem interlock akan diterapkan untuk memastikan operator mengisi data-data dengan lengkap. Apabila operator belum mengisi dengan lengkap data tidak akan bisa di upload ke oracle. Interlock akan memberitahu apabila data tidak lengkap, sehingga operator tidak melewatkan satu datapun.

4.7 Pengukuran performa check sheet

Pengukuran performa ini dilakukan dengan membagikan kuisoner kepada operator dan manajemen gudang. Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mengetahui seberapa penting penggunaan check sheet dalam setiap proses di gudang. Hasil yang ingin didapatkan dari pengukuran ini adalah tingkat kepuasan operator terhadap penggunaan check sheet saat ini dan check sheet usulan.

4.7.1 Kuisoner check sheet loading awal

Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuisoner kepada

operator loading dan manajemen gudang. Jumlah data yang dapat dikumpulkan

sebanyak 6 responden, yang terdiri dari 3 orang manajemen gudang dan 3 orang

(33)

45

Universitas Kristen Petra

operator loading. Pembagian kuisoner dilakukan setelah operator mencoba mengisi check sheet. Hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel 4.7.

Tabel 4.7 Hasil pengolahan data check sheet awal

No Atribut Penilaian Mean

Harapan

Mean

Kenyataan SI (%) 1

Memudahkan operator dalam

mencatat data 4,00 3,67 91,67

2

Mengurangi kesalahan pencatatan

data 3,33 3,50 105,00

3 Membantu ketika merekap data 3,17 3,50 110,53 4

Memastikan kualitas ban sampai

akhir 3,17 3,67 115,79

5 Membantu untuk tracebility (item,

quantity, customer,location, etc) 3,50 3,50 100,00

Rata-rata 3,43 3,57 104,60

Hasil rata-rata untuk check sheet awal menunjukan nilai harapan yang lebih rendah dari pada nilai kenyataan yaitu sebesar 3,43. Hal ini menunjukan bahwa kriteria tersebut kurang penting untuk operator, tetapi kenyataan yang di dapat tersebut memenuhi harapan dari operator sepenuhnya. Berdasarkan nilai mean SI yang diperoleh untuk check sheet awal sebesar 104,6% jadi kenyataan memenuhi harapan yang ada.

4.7.2 Kuisoner check sheet loading usulan

Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuisoner kepada

operator loading dan manajemen gudang. Jumlah data yang dapat dikumpulkan

sebanyak 6 responden, yang terdiri dari 3 orang manajemen gudang dan 3 orang

operator loading. Kuisoner ini digunakan untuk membandingkan dengan check

sheet loading saat ini. Penambahan beberapa variable bertujuan untuk menaikan

nilai satisfying index operator terhadap check sheet usulan ini. Hasil pengolahan

data dapat dilihat pada tabel 4.8.

(34)

46

Universitas Kristen Petra

Tabel 4.8 Hasil pengolahan data check sheet usulan

No Atribut Penilaian Mean

Harapan

Mean

Kenyataan SI (%) 1

Memudahkan operator dalam

mencatat data 4,00 3,50 87.50

2

Mengurangi kesalahan pencatatan

data 3,33 3.67 110.00

3 Membantu ketika merekap data 3,17 3.67 115.79 4

Memastikan kualitas ban sampai

akhir 3,17 3,83 121,05

5 Membantu untuk tracebility (item,

quantity, customer,location, etc) 3,50 3,50 100,00

Rata-rata 3,43 3,63 106,87

Hasil rata-rata untuk check sheet usulan menunjukan nilai harapan yang lebih rendah dari pada nilai kenyataan yaitu sebesar 3,43. Hal ini menunjukan bahwa kriteria tersebut kurang penting untuk operator, tetapi kenyataan yang di dapat tersebut memenuhi harapan dari operator sepenuhnya. Berdasarkan nilai mean SI yang diperoleh untuk check sheet loading usulan sebesar 106,87% jadi kenyataan memenuhi harapan yang ada. Nilai mean SI check sheet loading usulan ini lebih baik dari pada nilai mean check sheet awal, menunjukan adanya peningkatan kepuasan dari responden.

4.7.3 Kuisoner check sheet penerimaan setting

Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuisoner kepada operator loading dan manajemen gudang. Jumlah data yang dapat dikumpulkan sebanyak 5 responden, yang terdiri dari 3 orang manajemen gudang dan 2 orang operator penempatan rak. Hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel 4.9.

Tabel 4.9 Hasil pengolahan data check sheet penerimaan setting

No Atribut Penilaian Mean

Harapan

Mean

Kenyataan SI (%) 1

Memudahkan operator dalam

mencatat data 3,2 3,6 112,50

2

Mengurangi kesalahan penempatan

rak 3 3 100,00

(35)

47

Universitas Kristen Petra

Tabel 4.9 Hasil pengolahan data check sheet penerimaan setting No Atribut Penilaian

Mean Harapan

Mean

Kenyataan SI (%) 3

Membantu ketika update control

board 3,2 3,2 100,00

4

Membantu menemukan lokasi rak

simpan 2,2 2,2 100,00

5 Mencatat total jumlah ban yang

masuk 2,8 2,8 100,00

Rata-rata 2,88 2,96 102,5

Hasil rata-rata untuk checksheet penerimaan setting menunjukan nilai harapan yang lebih rendah dari pada nilai kenyataan yaitu sebesar 2,88. Hal ini menunjukan bahwa kriteria tersebut kurang penting untuk operator, tetapi kenyataan yang di dapat tersebut malah memenuhi harapan dari operator sepenuhnya. Berdasarkan nilai mean SI yang diperoleh untuk checksheet penerimaan setting sebesar 102,5% jadi kenyataan memenuhi harapan yang ada.

4.7.4 Kuisoner kartu pemeriksaan

Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuisoner kepada operator loading dan manajemen gudang. Jumlah data yang dapat dikumpulkan sebanyak 5 responden, yang terdiri dari 3 orang manajemen gudang dan 2 orang operator penempatan rak. Hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel 4.10.

Tabel 4.10 Hasil pengolahan data kartu penerimaan

No Atribut Penilaian Mean

Harapan

Mean

Kenyataan SI (%) 1

Memudahkan operator dalam

mencatat data 3,6 3,6 100,00

2 Membedakan ukuran ban 3,6 3,6 100,00

3 Membantu untuk tracebility (item,

quantity, customer,location, etc) 3,8 3,6 94,74

Rata-rata 3,67 3,60 98,25

Hasil rata-rata untuk kartu penerimaan menunjukan nilai harapan yang

lebih tinggi dari pada nilai kenyataan yaitu sebesar 3,67. Hal ini menunjukan bahwa

(36)

48

Universitas Kristen Petra

kriteria tersebut penting untuk operator, tetapi kenyataan yang di dapat tersebut belum memenuhi harapan dari operator sepenuhnya. Berdasarkan nilai mean SI yang diperoleh untuk kartu penerimaan sebesar 98,25% jadi kenyataan memenuhi harapan yang ada. Hal ini terjadi karena manajemen gudang tidak menginginkan perubahan pada kartu ini, sehingga hanya menambahkan informasi ‘lokasi’ pada kartu ini. Faktor ini yang menyebabkan tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan dari operator, karena tampilan dan cara pengisiannya masih sama dengan yang lama.

4.8 Usulan addressing area warehouse dan identitas rak

Penamaan tempat penyimpanan pada suatu gudang sangat penting, agar dapat melacak dimana barang yang telah disimpan. Gudang plant B saat ini juga telah membuat penamaan untuk tiap area penyimpanan raknya. Penamaan area yang dimiliki oleh gudang plant B, seperti BA1R-n.

 B = BPW (B Product Warehouse)

 A = lantai 1 ; B= lantai 2

 1 = lokasi pintu keluar ke-1

 R = arah tangan yang menghadap ke pintu keluar

 n= nomer kolom

Kelebihan dari penamaan saat ini adalah patokan yang ditetapkan pada pintu gudang dan arah tangan. Patokan tersebut memudahkan mencari rak meskipun tidak memiliki layout gudang. Kekurangan dari penamaan saat ini ketika posisi operator berada di daerah belakang dan lantai 2 gudang, sebab pintu tidak terlihat karena terhalang rak.

Usulan yang diberikan untuk mengatasi masalah penamaan gudang saat ini dengan membuat penamaan yang baru. Penamaan yang baru dibuat lebih singkat karena tidak berpatokan lagi dengan pintu dan arah tangan. Penamaan dibuat dengan mengelompokan area simpan ke dalam alphabet, contoh A1-01.

 Single alphabet = lantai 1 ; double alphabet = lantai 2

 (A:fast moving ; B:medium moving ; C:slow moving) = kode area

 1 = Baris ke-n

(37)

49

Universitas Kristen Petra

 01 = kolom ke-n

Usulan penamaan area juga digunakan pada rak penyimpanan, agar dapat saling mencocokan antara rak dan area simpan. Tujuannya untuk mengurangi kesalahan penempatan dan pengambilan rak oleh operator.

Gambar 4.23 Usulan signboard pada rak

Usulan sign board pada gambar 4.23 memiliki 3 poin yang harus diisi yaitu

tipe ban, serial number, dan nomer rak. Ketiga poin tersebut digunakan sebagai

identitias rak. Poin tipe ban dan serial number berasal dari ban yang disimpan pada

rak tersebut untuk menghindari percampuran ban. Pengisian poin nomer rak

berdasarkan usulan penamaan area yang bertujuan untuk menyamakan nama lokasi

dan rak simpan. Sign board ini akan diletakan pada bagian depan rak agar operator

dapat mudah membaca papan tersebut.

(38)

50

Universitas Kristen Petra

4.9 Usulan penanggulangan benda asing dalam gudang

Penemuan benda asing atau hewan liar semacam tikus dan kucing didalam

gudang memang mengkhawatirkan, karena dapat berpengaruh pada kualitas ban

yang disimpan. Tindakan yang dapat dilakukan untuk meminimalisir masalah ini

dengan melakukan beberapa treatment yang perlu dilakukan. Pertama tentu harus

selalu menjaga kebersihan gudang dengan tidak membawa makanan dan minuman

ke dalam gudang. Kedua, dengan tidak membiarkan kondisi gudang gelap karena

membuat hewan merasa nyaman untuk tinggal. Memberi pengawasan lebih pada

pintu masuk gudang agar benda asing tidak mudah masuk.

Referensi

Dokumen terkait

Bentuk deiksis ruang dan waktu dalam bahasa Melayu Jambi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dapat berupa kata atau frasa yang tidak memiliki referensi yang tetap dan

Dalam modul matematika ini siswa diharapkan bisa memahami materi konsep persamaan kuadrat, cara mencari penyelesaian persamaan kuadrat, mengidentifikasi jenis persamaan

Perhitungan waktu baku pada proses ini nantinya juga akan memperhitungkan performance rating serta allowance yang berkaitan dengan nilai kebutuhan operator dan

Hasil perhitungan pada tabel di atas menunjukkan bahwa output baku perancangan sistem kerja baru melebihi target perusahaan bila dibandingkan dengan output baku lainnya kecuali

Untuk mengetahui berapa item yang dibuat dalam jumlah ton maka tahap selanjutnya dalam perencanaan ini adalah mengkonversikan produksi unit item dari jumlah jam ke dalam jumlah

masih terdapat rute yang tidak berhubungan, maka rute tersebut akan disisipkan pada kendaraan yang sudah ada sesuai dengan kapasitas kendaraan yang masih ada dan

Usulan perbaikan yang akan diberikan untuk menurukan jumlah kecacatan kesalahan pemotongan plat adalah pembuatan instruksi kerja untuk proses pemotongan, instruksi

Kondisi sistem kanban internal yang digunakan sebelumnya ini bermasalah, karena tidak adanya standarisasi mengenai tindakan apa yang seharusnya dilakukan oleh water spider apabila