• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT KECEMASAN DAN PERUBAHAN DENYUT NADI PADA PASIEN EKSTRAKSI GIGI DI RSGM FKG USU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINGKAT KECEMASAN DAN PERUBAHAN DENYUT NADI PADA PASIEN EKSTRAKSI GIGI DI RSGM FKG USU"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

DI RSGM FKG USU

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

MASTIKA WIDYA NINGRUM NIM : 140600081

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)

Pencegahan/Kesehatan Gigi Masyarakat Tahun 2019

Mastika Widya Ningrum

Tingkat Kecemasan dan Perubahan Denyut Nadi pada Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU

xi+39 halaman

Kecemasan dental adalah emosi yang menimbulkan stres sehingga sebagian besar pasien menunda kunjungan ke dokter gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kecemasan dan perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG USU berdasarkan usia, jenis kelamin dan jenis perawatan. Penelitian ini merupakan survei deskriptif dengan jumlah sampel 105 pasien yang melakukan pencabutan gigi. Data diambil menggunakan kuesioner Hamilton Dental Anxiety Scale dan pengukuran denyut nadi dilakukan dengan cara meraba arteri radialis pada saat di ruang tunggu, saat berada di kursi dental, dan sesudah dilakukan tindakan pencabutan gigi. Berdasarkan kelompok usia, yang paling banyak mengalami kecemasan yaitu kelompok usia remaja 17-25 tahun 33,3%. Berdasarkan jenis kelamin, persentase cemas paling banyak dijumpai pada perempuan yaitu sebesar 58% daripada laki-laki 28,6%. Berdasarkan jenis perawatan, seluruh pasien odontektomi mengalami kecemasan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kenaikan denyut nadi sebesar 50,5%, penurunan denyut nadi sebesar 36,2%, sedangkan 13,3% denyut nadi pasien tidak berubah. Sebagai kesimpulan, ekstraksi gigi mengakibatkan kecemasan dan perubahan denyut nadi.

Daftar rujukan : 39 (1985-2017)

Keyword : kecemasan, denyut nadi, ekstraksi gigi

(3)

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi

Medan, 17 Januari 2019

Pembimbing : Tanda Tangan

Prof. Sondang Pintauli, drg., Ph. D ………

NIP 196407121989032001

(4)

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 17 Januari 2019

TIM PENGUJI

KETUA : Rika Mayasari Alamsyah, drg., M. Kes ANGGOTA : 1. Darmayanti Siregar, drg., M. KM

2. Prof. Sondang Pintauli, drg., Ph. D

(5)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan segala kemudahan, petunjuk serta kemampuan untuk menyelesaikan penelitian dan skripsi ini dengan judul “Tingkat Kecemasan dan Perubahan Denyut Nadi pada Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU”.

Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Trelia Boel, drg., M.Kes, Sp.RKG (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang memberikan izin dan mempermudah peneliti dalam menjalankan penelitian ini.

2. Rika Mayasari Alamsyah, drg., M.Kes selaku Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/Kesehatan Gigi Masyarakat dan dosen penguji yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan kritik dan saran yang membangun terhadap skripsi ini.

3. Prof. Sondang Pintauli, drg., Ph.D selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan motivasi serta senantiasa memberikan bimbingan dan masukan yang sangat berarti kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Darmayanti Siregar, drg., M.KM selaku dosen penguji yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan kritik dan saran yang membangun terhadap skripsi ini.

5. Syafrinani, drg., Sp.Pros (K) selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa memberikan motivasi kepada penulis selama menjalani pendidikan akademis.

6. Olivia Avriyanti Hanafiah, drg., Sp.BM selaku ketua Departemen Bedah Mulut yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian.

7. Seluruh pasien bedah mulut yang telah bersedia menjadi subjek peneltian.

(6)

diberikan kepada penulis.

9. Teristimewa untuk kedua orangtua tercinta, ayahanda Suwandi dan ibunda Rahmawati Nasution atas segala kasih sayang, doa, motivasi serta dukungan moril dan materil yang senantiasa diberikan kepada penulis selama ini.

10. Kakak, abang dan adik penulis: Marisa Ayu Rahmadhani, Agung Handi Sejahtera, Abdullah Hamid Harahap, Aisyah Anggraeni, Elsa Bhima Fitrah yang senantiasa memberikan doa, motivasi yang senantiasa diberikan kepada penulis selama ini.

11. Teman dekat penulis, Diky Dirawinata yang senantiasa memberi dukungan dan motivasi kepada penulis selama ini.

12. Kepada para sahabat, Nurfadhilah Hsb, Yulenda, Sri, Sastri, Risna, Asri, Almida, Mahrizka, Gadih, Anggi, Rara, Intan, Aulya, Naldi, Ilman, Nawir, Yusuf, Yadie dan teman-teman skripsi di Departemen IKGP/KGM serta teman-teman FKG USU 2014 lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu atas bantuan, doa dan pertemanan selama ini.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu kedokteran gigi, terutama dalam bidang pencegahan dan kesehatan gigi masyarakat.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak keterbatasan.

Oleh karena itu, kritik dan saran membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan skripsi ini.

Medan, 17 Januari 2019 Penulis

Mastika Widya Ningrum NIM: 140600081

(7)

Halaman HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ...

HALAMAN TIM PENGUJI ...

KATA PENGANTAR ... ....

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian... 5

1.4 Manfaat Penelitian... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecemasan ... 6

2.1.1 Definisi Kecemasan ... 6

2.1.2 Mekanisme tingkat kecemasan mempengaruhi denyut nadi ... 6

2.1.3 Klasifikasi Kecemasan Perawatan Gigi ... 7

2.1.4 Penyebab Kecemasan Perawatan Gigi ... 8

2.2 Psikologi Perkembangan Berdasarkan Umur ... 10

2.3 Psikologi Perbedaan Emosioanal Antara Laki-laki dan Perempuan ... 12

2.4 Penanggulangan Kecemasan ... 14

2.5 Denyut Nadi ... 15

2.6 Ekstraksi Gigi ... 17

2.6.1 Indikasi Ekstraksi Gigi ... 17

2.7 Kerangka Konsep ... 20

(8)

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian ... 21

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21

3.2.1 Lokasi Penelitian ... 21

3.2.2 Waktu Penelitian ... 21

3.3 Populasi dan Sampel ... 21

3.3.1 Populasi ... 21

3.3.2 Sampel ... 21

3.3.3 Kriteria Inklusi ... 22

3.4 Variabel dan Definisi Operasional ... 23

3.5 Metode Pengumpulan Data/ Pelaksanaan Penelitian ... 23

3.6 Pengolahan dan Analisis Data ... 23

3.7 Etika Penelitian ... 24

BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Karakteristik Pasien Ekstraksi Gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU... 25

4.2 Prevalensi kecemasan pada pasien ekstraksi gigi di Klinik RSGM FKG USU... 26

4.3 Tingkat Kecemasan Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU Berdasarkan Usia... 26

4.4 Tingkat Kecemasan Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU Berdasarkan Jenis Kelamin ... 27

4.5 Tingkat Kecemasan Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU Berdasarkan Jenis Perawatan ... 28

4.6 Perubahan Denyut Nadi pada Pasien Ekstraksi Gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU... 29

4.7 Perubahan Denyut Nadi pada Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU Berdasarkan Jenis Kelamin ... 30

BAB 5 PEMBAHASAN ... 32

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan... 35

6.2 Saran ... 35

DAFTAR PUSTAKA ... 36 LAMPIRAN

(9)

Tabel Halaman 1. Identifikasi perbedaan emosional dan intelektual antara laki-laki dan

perempuan ... 13 2. Distribusi karakteristik pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut

RSGM FKG USU (n=105) ... 25 3. Persentase kecemasan pasien ekstraksi gigi di Klinik RSGM FKG

USU (n=105) ... 26 4. Persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG

USU berdasarkan kelompok usia (n=105) ... 27 5. Persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG

USU berdasarkan kelompok jenis kelamin (n=105) ... 28 6. Persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG

USU berdasarkan kelompok jenis perawatan (n=105) ... 28 7. Persentase perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di Klinik

Bedah Mulut RSGM FKG USU (n=105) ... 30 8. Persentase tingkat kecemasan dan denyut nadi di ruang tunggu pada

responden laki-laki di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU (n=39) .. 30 9. Persentase tingkat kecemasan dan denyut nadi di ruang tunggu pada

responden perempuan di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU

(n=66) ... 31

(10)

Gambar Halaman 1. Interaksi kecemasan dan modifikasi ... 10 2. Pemeriksaan denyut nadi selama 1 menit ... 16 3. Grafik perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di RSGM

FKG USU (n=105) ... 29

(11)

1. Persetujuan Komisi Etik Pelaksanaan Penelitian 2. Lembar Penjelasan Kepada Calon Subjek Penelitian 3. Lembar Persetujuan Subyek Penelitian (informed consent)

4. Kuesioner Tingkat Kecemasan Terhadap Perubahan Denyut Nadi pada Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU

5. Hasil Analisis Statistik

(12)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kecemasan adalah perasaan yang dialami oleh individu ketika berpikir bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.1 Menurut Freud kecemasan adalah situasi yang menimbulkan rasa tidak menyenangkan yang kemudian disertai dengan perasaan yang mengancam bahaya secara fisik. Perasaan tidak menyenangkan tersebut tidak dapat dipastikan, tetapi dapat dirasakan. Kecemasan bukanlah suatu penyakit melainkan suatu gejala. Kebanyakan orang mengalami kecemasan pada waktu-waktu tertentu dalam kehidupannya. Biasanya, kecemasan muncul sebagai reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan dan berlangsung sebentar saja.2

Kecemasan adalah suatu bentuk emosional yang normal dialami manusia dari waktu ke waktu. Manusia merasa cemas ketika sedang gugup, menghadapi suatu persoalan baik pekerjaan, ujian maupun ketika dihadapkan untuk membuat suatu keputusan dan perasaan tertekan.3 Menurut Encyclopedia Britannica, kecemasan tidak sama dengan ketakutan dimana ketakutan terjadi ketika seseorang berada dalam keadaan berbahaya, misalnya pada saat keamanan seseorang terancam. Berbeda dari ketakutan, kecemasan adalah respon subjektif atau masalah emosional dimana penyebabnya adalah dirinya sendiri.4

Kecemasan dapat terjadi dalam berbagai situasi dan kondisi, salah satunya adalah kecemasan terhadap perawatan gigi.5 Kecemasan perawatan gigi menurut Klinberg dan Broberg adalah suatu keadaan tentang keprihatinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi yang dihubungkan dengan perawatan gigi atau aspek tertentu dari perawatan gigi.6 Penelitian yang dilakukan Kumar et al. menunjukkan bahwa tingkat kecemasan dental yang paling tinggi berada pada usia 25-34 tahun.7 Kecemasan dapat meningkat oleh persepsi pasien tentang ruang praktik sebagai lingkungan yang mengancam, tentang perawat, alat kedokteran gigi, cahaya, bunyi, pengalaman yang buruk dari orang lain, dan bahasa teknis yang asing bagi pasien.8

(13)

National Institute of Mental Health (NIMH) memperkirakan bahwa lebih dari 19 juta orang dewasa Amerika Serikat yang terpengaruh oleh gangguan kecemasan setiap tahun. Sayangnya, sebagian besar pasien dengan gangguan kecemasan tidak menerima perawatan secara profesional.9 Penelitian yang dilakukan Brown dan Meechan menunjukkan bahwa 90% orang mengalami tingkat kecemasan sebelum mengunjungi dokter gigi, sementara 40% di antaranya menunda kunjungan perawatan gigi karena mengalami kecemasan.10 Hanya sebagian kecil pasien yang mengaku tidak cemas melakukan perawatan gigi.11

Secara umum pasien yang mengalami rasa sakit selama perawatan gigi merupakan pemicu utama kecemasan pasien. Tingginya prevalensi pasien dengan gangguan kecemasan perawatan gigi akan menghindari kunjungan ke dokter gigi.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Santhos et al. di India pada tahun 2009 menunjukkan 93,5% pasien mengunjungi dokter gigi 12 bulan terakhir dengan tingkat kecemasan yang rendah, sedangkan tingkat kecemasan tinggi hanya 6,5%.

Pada pasien yang tidak pernah mengunjungi dokter gigi, 86,5% mempunyai tingkat kecemasan yang rendah dan tingkat kecemasan yang tinggi 13,5%.7

Penelitian Naidu dan Lalwah pada tahun 2010 yang dilakukan di India Barat pada sampel orang dewasa penduduk Trinidad dan Tobago menganalisis hubungan jenis kelamin dan tingkat kecemasan. Dari 100 sampel dengan kisaran usia 18-65 tahun yang mayoritas di kelompok usia 26-45 tahun, sebanyak 30% sampel melaporkan alasan mereka menghindari perawatan gigi karena pengalaman masa lalu sehingga mengalami gangguan kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan mengalami kecemasan selama dilakukan perawatan gigi, pada saat menunggu giliran di ruang tunggu dokter gigi dan ketika dokter gigi memasukkan alat bur ke dalam mulut. Sebanyak 45,6% mengalami kecemasan pada saat pencabutan gigi, 33,8% pada saat disuntik, 14,7% pada saat perawatan penambalan dan 5,9% pada saat skeling. Responden juga mengalami gangguan kecemasan karena pengalaman mereka selama perawatan gigi. Dari jumlah tersebut 55,8% karena merasa sakit, 18,4% takut ke dokter gigi dan 15,4% perawatan yang sangat lama.12

(14)

Rasa takut dan kecemasan seseorang bisa mempengaruhi hubungan antara pasien dengan dokter gigi dan rencana perawatan.13

Hasil penelitian Devapriya Appukuttan et al. di India menunjukkan bahwa wanita lebih cemas dari pada pria serta adanya hubungan responden menunda kunjungan ke dokter gigi karena cemas.14 Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmayani di RSGMP USU pada tahun 2014 juga menunjukkan hasil yang sama dimana pria lebih banyak mengalami cemas ringan dan wanita lebih banyak mengalami cemas sedang. Berdasarkan kelompok usia, pada kelompok dewasa muda (18-33 tahun) paling banyak dijumpai cemas sedang 49,2%, sedangkan pada kelompok usia dewasa (34-49 tahun) dan lansia (>50 tahun) paling banyak mengalami cemas ringan, yaitu 50% dan 57,5%.4

Salah satu tindakan perawatan gigi dan mulut adalah ekstraksi gigi. Ekstraksi gigi adalah suatu tindakan pembedahan yang melibatkan jaringan tulang dan jaringan lunak dari rongga mulut. Ekstraksi gigi paling banyak dilakukan akibat karies, selain itu oleh karena penyakit periodontal, fraktur gigi, gigi impaksi dan gigi yang sudah tidak dapat lagi dilakukan perawatan endodonti. Tindakan ekstraksi juga dilakukan pada gigi sehat untuk tujuan memperbaiki maloklusi, estetis, dan juga kepentingan perawatan ortodonti atau prostodonti.15 Penelitian yang dilakukan Wardle menunjukkan bahwa tindakan ekstraksi gigi merupakan pencetus pertama kecemasan seseorang.16 Kecemasan pada prosedur ekstraksi gigi sering disebabkan oleh penggunaan benda-benda tajam seperti jarum, elevator (bein) dan tang yang dimasukkan secara bergantian ke dalam mulut.17 Kecemasan adalah salah satu faktor yang memiliki peran besar dalam diri manusia untuk enggan mendapatkan pelayanan kesehatan gigi. Hal yang dicemaskan masyarakat akan tindakan ekstraksi gigi adalah akan terjadinya rasa sakit, perdarahan, pembengkakan, tidak dapat berfungsinya stomatognatik, dan komplikasi akibat tindakan pelayanan kesehatan gigi.7 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Australia Research Centre for Population Oral Health menunjukkan bahwa orang yang menghindari kunjungan ke dokter gigi memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dapat disebabkan oleh rasa

(15)

sakit, alat-alat kedokteran gigi, tidak tahu apa yang akan dilakukan dokter gigi terhadap dirinya, disuntik, dan biaya perawatan gigi.8

Bagi sebagian pasien, prosedur ekstraksi sering menyebabkan stres atau kecemasan tersendiri. Kecemasan pre-operatif memiliki sifat subjektif, perubahan fisiologis secara sadar tentang kecemasan serta ketegangan yang disertai perubahan saraf otonom menyebabkan peningkatan tekanan darah dan denyut nadi. Hal ini sangat berbahaya karena tingginya denyut nadi dan tekanan darah memperberat sistem kardiovaskuler dan meningkatkan kebutuhan akan oksigen dan kerja jantung.

Selain itu, pasien yang memiliki denyut nadi tinggi, jika dilakukan tindakan ekstraksi maka dapat menyebabkan pembekuan darah yang sudah terbentuk akan terdorong sehingga terjadi perdarahan. Perdarahan yang keluar (mengandung banyak oksigen) dan semburan darahnya bersamaan dengan detak jantung. Tekanan yang menyebabkan darah menyembur dan menyebabkan perdarahan ini sulit dikontrol.21 Kecemasan yang dialami oleh pasien akan semakin meningkat apabila persepsi dari pasien, yaitu keterampilan atau keahlian dokter gigi yang akan melakukan prosedur ekstraksi gigi tersebut masih kurang.8 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Permatasari di RSGMP Hj. Halimah Makassar yang diukur dengan menggunakan Corah’s Dental Anxiety Scale (DAS) menunjukkan bahwa sebanyak 46% responden tidak cemas, 30% responden mengalami tingkat kecemasan sedang, 16% responden mengalami tingkat kecemasan yang tinggi, dan sebanyak 8% responden sangat cemas. Tingkat kecemasan sedang, tinggi dan sangat cemas termasuk kedalam kategori cemas meskipun tingkat kecemasannya berbeda-beda. Dapat disimpulkan bahwa responden yang merasa cemas pada kategori ini sebanyak 54% responden.18

Kecemasan akan direspons dengan beberapa perubahan pada tubuh, terutama pada tanda-tanda vital. Perubahan yang terjadi dapat berupa peningkatan tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan. Biasanya, jika peningkatan yang terjadi terlalu besar, kerja jantung dan kebutuhan oksigen juga akan meningkat.19 Normalnya denyut nadi berkisar antara 60 sampai 100 kali per menit.20 Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmayani di RSGMP USU pada tahun 2014 menunjukkan bahwa rata-rata denyut nadi sebelum pencabutan gigi adalah 82,35±8,5 dan setelah

(16)

pencabutan gigi menjadi 79,27±8,5.4 Hasil penelitian Pontoh menunjukkan perubahan denyut nadi yang naik pada pasien saat menunggu dan pada saat di kursi dental yaitu sebanyak 80,6%.21 Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik melakukan penelitian tentang tingkat kecemasan dan perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi di RSGM FKG Universitas Sumatera Utara.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana tingkat kecemasan dan perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi RSGM FKG Universitas Sumatera Utara?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui tingkat kecemasan pada pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG Universitas Sumatera Utara.

2. Untuk mengetahui tingkat kecemasan berdasarkan usia, jenis kelamin dan jenis perawatan di RSGM FKG Universitas Sumatera Utara.

3. Untuk mengetahui perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG Universitas Sumatera Utara.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Menjadi bahan masukan bagi tenaga kesehatan agar dapat melakukan upaya mengatasi kecemasan seperti menjalin komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien serta membuat tempat yang nyaman di dalam praktek dokter gigi.

2. Bagi peneliti merupakan pengetahuan yang berharga dalam rangka menambah wawasan keilmuwan melalui penelitian lapangan.

3. Sebagai tambahan referensi bagi peneliti selanjutnya.

(17)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kecemasan

2.1.1 Definisi Kecemasan

Kecemasan adalah perasaan yang dialami oleh individu ketika berpikir bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.1 Kecemasan berasal dari kata cemas yang artinya khawatir, gelisah, dan takut. Kecemasan juga dapat didifinisikan sebagai suatu kekhawatiran atau ketegangan yang berasal dari sumber yang tidak diketahui.22 Menurut Freud kecemasan adalah situasi yang menimbulkan rasa tidak menyenangkan yang kemudian disertai dengan perasaan yang mengancam bahaya secara fisik. Perasaan tidak menyenangkan tersebut tidak dapat dipastikan, tetapi dapat dirasakan.2 Kecemasan adalah pengalaman normal dalam menghadapi ancaman atau bahaya yang dirasakan. Tingkat kecemasan bersifat adaptif dan dapat berguna karena berfungsi untuk memobilisasi cadangan energi untuk tindakan dan meningkatkan kinerja dengan meningkatkan gairah. Ketika kecemasan menjadi sering dan terus-menerus akibatnya akan mengganggu kemampuan individu untuk berfungsi, hal tersebut menjadi masalah sehingga dapat dikatakan patologis dan bagian dari gangguan kecemasan.10 Kecemasan akan direspons dengan beberapa perubahan pada tubuh, terutama pada tanda-tanda vital. Perubahan yang terjadi dapat berupa peningkatan tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan. Apabila peningkatan yang terjadi terlalu besar, kerja jantung dan kebutuhan oksigen juga akan meningkat.19 Normalnya denyut nadi berkisar antara 60 sampai 100 kali per menit.20

2.1.2 Mekanisme tingkat kecemasan mempengaruhi denyut nadi

Seseorang yang merasakan cemas mengalami peningkatan kerja jantung sehingga adrenalin disekresi dan meningkatkan aliran darah untuk tubuh. Hal ini berefek dengan meningkatknya getaran pada pembuluh darah berupa denyut nadi.

Denyut nadi adalah frekuensi irama denyut/detak jantung yang dapat dipalpasi

(18)

(diraba) pada permukaan kulit di tempat tertentu. Denyut nadi merupakan denyut atau getaran di dalam pembuluh darah akibat kontraksi ventrikel kiri. Seseorang yang mengalami kecemasan merespon suatu ancaman yang dihadapi kemudian dipresepsi oleh indera kemudian ke sistem limbic dan RAS (Reticular Activating Sistem), dilanjutkan ke hipotalamus dan hipofisis. Kelenjar adrenal mensekresikan katekolamin dan saraf otonom terstimulasi. Pada saat cemas, medula kelenjar adrenal akan mensekresikan norepinefrin dan epinefrin yang mengakibatkan vasokonstriksi sehingga meningkatkan denyut nadi.23

2.1.3 Klasifikasi Kecemasan Perawatan Gigi

Menurut Moore et al. klasifikasi kecemasan perawatan gigi dapat dibagi menjadi 4 subtipe, yaitu:13

a. Tipe I

Tipe ini merupakan ketakutan akibat rangsangan yang menyakitkan atau tidak menyenangkan seperti jarum, suara, dan bau. Ketakutan akan alat, bau ruangan dan bunyi instrumen juga bisa menstimulasi rasa cemas pasien. Pasien yang kurang memahami tentang fungsi dan tujuan dari alat kedokteran gigi akan meningkatkan kecemasan karena mereka tidak tau tentang tindakan yang akan dilakukan dengan alat kedokteran gigi tersebut. Kecemasan pasien bisa hilang atau berkurang apabila dokter gigi bisa menjelaskan fungsi alat dental tersebut.

b.Tipe II

Tipe ini merupakan kecemasan akibat reaksi somatik selama pengobatan atau perawatan gigi (reaksi serangan panik). Pasien yang mengalami kecemasan dental karena mengantisipasi akan terjadinya kesakitan ketika dilakukan perawatan.

Walaupun penggunaan bur berkecepatan tinggi dan analgesik bisa membantu mengurangi rasa sakit, pasien masih akan merasa sakit dan kecemasan akan timbul.

c.Tipe III

Pasien dengan kecemasan yang rumit atau multiphobia. Untuk beberapa orang, ketakutan akan darah bisa membuat pingsan ketika dihadapkan pada konsidi yang menimbulkan fobia. Menurut penelitian, 70% pasien yang fobia darah akan pingsan

(19)

pada kondisi tersebut. Pingsan terjadi karena darah dan detak jantung pasien menurun ketika melihat darah tersebut.

d.Tipe IV

Tipe ini tergolong kepada ketidakpercayaan pasien terhadap dokter gigi. Aspek dari interaksi dokter gigi dan pasien merupakan hal yang sangat penting dalam perawatan gigi. Adapun pemicu kecemasan pasien terhadap dokter gigi mencakup pernyataan yang dibuat oleh operator, khususnya ketika operator bersifat tidak simpatik atau pemarah dalam berkomunikasi akan memicu kecemasan pasien.

2.1.4 Penyebab Kecemasan Perawatan Gigi

Beberapa penyebab kecemasan pasien terhadap perawatan gigi yang sering ditemukan dalam praktek dokter gigi meliputi:11,24,25

1. Rasa sakit

Secara umum pasien yang mengalami rasa sakit merupakan pemicu utama kecemasan pasien. Penelitian Kent et al. menunjukkan bahwa memori rasa sakit pasien direkonstruksi dari waktu ke waktu. Kent menemukan pasien sangat cemas cenderung melebih-lebihkan rasa sakit mereka sebelum prosedur perawatan gigi.

Penelitian yang dilakukan Arntz et al. terhadap 40 pasien yang menjalani perawatan bedah mulut, pasien mengalami lebih cemas karena pengalaman rasa sakit yang sebenarnya terhadap perawatan tersebut.11

2. Usia pasien

Gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Sebagian besar kecemasan terjadi pada umur 21-45 tahun.25

3. Pengalaman pasien menjalani pengobatan

Pengalaman pertama pasien dalam pengobatan merupakan pengalaman yang sangat berharga yang terjadi pada individu terutama untuk masa-masa yang akan datang. Pengalaman pertama ini sangat menentukan tingkat kecemasan pasien untuk perawatan selanjutnya.25

(20)

4. Tenaga kesehatan gigi yang pemarah dan agresif

Aspek interaksi dokter gigi dengan pasien merupakan hal yang sangat penting dalam perawatan gigi. Adapun pemicu kecemasan pasien terhadap perawatan gigi mencakup pernyataan yang dibuat oleh operator, khususnya ketika operator bersifat tidak simpatik atau pemarah dalam berkomunikasi dapat memicu kecemasan pasien.

Dalam salah satu studi Moore et al. menemukan bahwa jenis kontak komunikasi dokter gigi yang berprilaku negatif diperoleh 5 hingga 10 kali pasien mengalami kecemasan. Selain itu, pasien sering mengeluh karena dokter gigi membuat mereka lebih cemas terhadap perawatan gigi.11

5. Sensasi getaran bur dan suntikan

Beberapa studi melaporkan bahwa prosedur tindakan restorasi gigi membawa pemicu kecemasan selama perawatan gigi yang umum, seperti melihat, mendengar dan merasakan sensasi suntikan.

6. Pengalaman buruk dari orang lain

Akibat pengaruh cerita buruk dari orang lain seperti pengalaman seseorang terhadap traumatis gigi di masa lalu membuat seseorang tersebut menghindari kunjungan ke dokter gigi, sehingga orang tersebut cenderung untuk tidak ingin mencari perawatan ke dokter gigi. Banyak juga pasien yang sudah berjanji dengan dokter gigi untuk melakukan perawatan tetapi akhirnya sering menunda sampai menggagalkan untuk melakukan perawatan gigi. Akibat menghindari perawatan gigi prevalensi karies dari orang tersebut akan lebih tinggi apabila tidak dirawat. Dalam penelitian Liddel ditemukan bahwa kecemasan pasien terhadap perawatan gigi cenderung menyebabkan keadaan rongga mulutnya buruk dan signifikan jumlah gigi yang hilang bila dibandingkan pasien yang tidak cemas.9,24 Interaksi kecemasan dengan modifikasi perawat gigi terlihat pada Gambar 1.

(21)

Pasien Takut injuri/

Perdarahan

Takut rasa nyeri/ sakit

Pengaruh hal lain (rasa takut dari keluarga, cerita buruk dari teman, film)

Trauma masa lalu pada perawatan gigi

Karakteristik kepribadian seperti emosi, cemas

Gambar 1. Interaksi kecemasan dan modifikasi perawatan gigi.11

2.2 Psikologi perkembangan berdasarkan umur

Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik fase- fase perkembangan. Psikologi perkembangan fisik yang terjadi pada anak-anak, remaja, dewasa muda dan dewasa tua sebagai berikut:26

1. Masa anak-anak

Menurut Piaget, perkembangan anak-anak dibagi atas perkembangan fisik, kognitif, emosi dan psikososial. Perkembangan emosi merupakan suatu perasaan

Dokter Gigi/staf Teknik komunikasi/

keahlian (keterampilan komunikasi yang

buruk) Tingkah laku buruk

Dokter/ staff gigi yang pemarah Tidak simpatik/

tidak ada dukungan dari staff Perilaku tim di praktek dokter gigi yang negatif (tidak ramah atau tidak

meyakinkan)

Tempat Suara getaran

Bau ruangan Desain gambar

ruangan Menunggu giliran

di ruang tunggu Suara merintih

dari pasien

Prosedur Sensasi dari getaran

Ekstraksi Perawatan saluran

akar Melihat jarum Penambalan dan preparasi mahkota

Prosedur merangsang muntah

(22)

yang kompleks disertai karakteristik kegiatan belajar dan motoris. Berikut beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu di antaranya:

a. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas dengan hasil yang dicapai.

b. Melemahkan semangat apabila timbul rasa kecewa atau kegagalan.

c. Apabila sedang mengalami ketegangan emosi dapat menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam berbicara.

d. Terganggunya penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu.

e. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya maupun orang lain.

2. Remaja

Masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa. Masa remaja menurut Olds dimulai pada usia 12 sampai awal dua puluhan tahun. Masa ini hampir selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja. Perkembangan secara emosionalnya antara lain:

a. Remaja mulai menyampaikan kebebasan dan haknya untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Ini dapat menciptakan ketegangan dan perselisihan serta dapat menjauhkan diri.

b. Remaja lebih mudah dipengaruhi teman-temannya daripada ketika masih lebih muda.

c. Remaja mengalami perubahan fisik yang luar biasa seperti penakut, membingungkan dan menjadi sumber perasaan salah dan frustasi.

d. Emosi biasanya meningkat ia sukar menerima nasihat.

3. Dewasa muda

Masa dewasa muda adalah masa awal seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa muda menurut Hurlock kisara 21 sampai awal empat puluhan tahun. Ciri-ciri psikologis masa dewasa muda:

a. Ketika seseorang berumur duapuluhan kondisi emosionalnya tidak terkendali.

(23)

b. Cenderung labil, emosinya bergelora dan mudah tegang.

c. Dapat berfikir secara logis.

d. Dapat mempertimbangkan segala sesuatu dengan adil, terbuka dan dapat menilai semua pengalaman hidup.

4. Dewasa tua

Masa tua ditandai oleh adanya perubahan jasmani dan mental. Pada usia 40 sampai 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik diikuti oleh penurunan daya ingat. Masalah-masalah yang timbul pada usia ini antara lain:

a. Kemauan untuk mau melakukan penerimaan dan penyesuaian dengan berbagai perubahan fisik yang normal.

b. Penyesuaian terhadap perubahan fisik biasanya terjadi secara bertahap dan lambat laun.

c. Rasa terkejut dan rasa takut terhadap hilangnya kemudaan, hilangnya tenaga fisik dan berkembang kearah sikap melawan dan menolak.

d. Masa ini merupakan masa jenuh dimana umumnya umur 60 tahun merekan menemukan masa yang hampir tidak menyenangkan.

e. Perubahan dalam penampilan sangat penting terutama dalam penilaian sosial.

f. Bagi pria terdapat kesulitan tambahan dalam berlomba dengan orang yang lebih muda, lebih kuat dan lebih berenergik yang cenderung untuk menilai kemampuannya dan mempertahankan pekerjaannya dengan penampilan.

2.3 Psikologi perbedaan emosional antara laki-laki dan perempuan

Secara alamiah orang sudah mengetahui kodrat laki-laki dan perempuan tidak saja dibedakan oleh identitas jenis kelamin, bentuk anatomi dan biologis lainnya melainkan juga hormon-hormon dalam tubuh. Sejumlah ilmuwan mengatakan adanya pengaruh hormon perkembangan emosional dan intelektual antara laki-laki dan perempuan. Studi Umar mengidentifikasi perbedaan emosional antara laki-laki dan perempuan yang dapat dicirikan seperti pada Tabel 1.27

(24)

Tabel 1. Identifikasi perbedaan emosional dan intelektual antara pria dan wanita.

Pria (masculine) Wanita (feminim)

Sangat agresif Independen Tidak emosional

Dapat menyembunyikan emosi Lebih objektif

Tidak mudah terpengaruh Lebih aktif

Lebih kompetitif Lebih logis Lebih mendunia Lebih terus terang

Memahami seluk beluk perkembangan dunia

Berperasaan tidak mudah tersinggung Lebih suka berpetualang

Mudah mengatasi persoalan Jarang menangis

Umumnya selalu tampil sebagai pemimpin

Penuh rasa percaya diri

Lebih banyak mendukung sikap agresif Tidak canggung dalam penampilan Pemikiran lebih unggul

Tidak terlalu agresif Tidak terlalu independen Lebih emosional

Sulit menyembunyikan emosi Lebih subjektif

Mudah terpengaruh Lebih pasif

Kurang kompetitif Kurang logis

Berorientasi ke rumah Kurang berterus terang

Kurang memahami seluk beluk perkembangan dunia

Berperasaan mudah tersinggung Tidak suka berpetualang

Sulit mengatasi persoalan Lebih suka menangis

Tidak umum tampil sebagai pemimpin Kurang rasa percaya diri

Kurang senang terhadap sikap agresif Lebih canggung dalam penampilan Pemikiran kurang unggul

Berdasarkan ciri-ciri tersebut akan menjadi faktor utama dalam penentuan peran sosial antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Pemisahan fungsi ini dipengaruhi oleh faktor budaya dalam jangka waktu yang lama. Kenyataan lain bahwa laki-laki umumnya lebih besar dan kuat fisiknya secara spontan dibanding perempuan.27

Dalam menghadapi masalah, perempuan memiliki cara yang berbeda daripada laki-laki. Saat mempunyai masalah, perempuan lebih muda menderita depresi dan kecemasan daripada laki-laki.23 Secara umum perempuan lebih teratur mengunjungi dokter gigi dan memiliki tingkat pengetahuan tentang kesehatan rongga mulut yang lebih baik daripada laki-laki akan tetapi dalam literatur mengatakan perempuan lebih cemas daripada laki-laki.11,13,24 Dapat dilihat emosi secara psikologis seperti stres,

(25)

depresi, ketakutan, fobia sosial, panik dan kecemasan lebih sering terjadi pada perempuan sehingga kecemasan pada perempuan dapat berhubungan dengan emosi- emosi tersebut.24

2.4 Penanggulangan Kecemasan

Seperti dengan kondisi yang banyak saat ini, mencegah lebih baik daripada mengobati. Penanggulangannya kemudian harus ditujukan untuk mencegah kondisi yang berkembang saat ini. Secara umum, pengalaman traumatis pertama mengunjungi dokter gigi kemungkinan akan menghasilkan tingkat yang lebih besar dari kecemasan antisipasif sebelum kunjungan berikutnya, sehingga mengurangi kemungkinan kehadiran pada kunjungan berulang. Saat ini telah ada penanggulangan kecemasan gigi yang dapat dikelola dengan menggunakan berbagai langkah, mulai dari modifikasi sederhana dari lingkungan dan pendekatan klinis untuk teknis psikologis lebih kompleks. Kadang- kadang obat-obatan mungkin diperlukan untuk mengurangi gejala kecemasan.7 Secara umum ada beberapa penanggulangan masalah kecemasan pasien selama perawatan di praktek dokter gigi yaitu :9,28,29

1. Komunikasi

Komunikasi dengan pasien sangat berperan penting mengurangi kecemasan pasien, sehingga dapat memberikan dukungan verbal dan kepastian dengan strategi yang digunakan. Komunikasi maksimal yang efektif dengan pendekatan harus dilakukan oleh staf maupun tenaga kesehatan yang berinteraksi siapa saja dengan pasien.28 Menurut teori komunikasi, komunikasi yang terjadi selama transaksi terapeutik adalah komuniksasi interpersonal. Naude cit Santosa menyatakan bahwa pada proses pelayanan medik gigi terjalin suatu hubungan kerja sama antara dokter gigi dengan penderitanya yang dikenal dengan komunikasi interpersonal. Menurut Rakhmat, karakteristik komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi terjadi tanpa melalui media komunikasi, sehingga dalam proses komunikasi interpersonal mempunyai ciri pesan dari komunikator tidak terbatas pada pesan verbal tetapi juga pesan non verbal seperti ekspresi wajah, gerakan anggota tubuh, sehingga pesan tersebut mempunyai makna yang beragam.29

(26)

2. Terapi relaksasi

Teknik relaksasi yang tidak memerlukan pelatihan lanjutan, seperti biofeedback atau hypnosis, paling sering menggunakan relaksasi otot progresif, latihan pernapasan kombinasi dari teknik ini. Relaksasi otot progresif melibatkan sistematis tegang dan otot santai dari kepala sampai kaki dan menggunakan pernapasan tubuh dalam bentuk lebih rileks.28

3. Modelling

Pemodelan adalah tindakan mengamati orang lain menjalani perawatan, baik secara langsung atau dilihat pada rekaman video tersebut bahwa aspek prosedur dan sensasi yang bisa diharapkan jelas terlihat kepada pasien. Manfaat pemodelan ada 2 yaitu :28

a. Menyediakan informasi tentang prosedur.

b. Memungkinkan pasien untuk mengamati model menerima dukungan positif untuk perilaku yang tepat.

4. Selingan

Mengurangi gangguan kecemasan pasien dengan cara keasyikan. Bentuk gangguan yang paling dasar adalah pasien terlibat dalam percakapan positif dan menarik. Teknik lainnya termasuk kacamata visi virtual, televisi, video games dan rekaman audio. Dalam sebuah studi pasien yang menggunakan perangkat audiovisual (AV) dilaporkan kecemasan berkurang. Kondisi pasien yang diliputi kecemasan akan memperkuat rangsang nyeri yang diterimanya karena kecemasan menyebabkan zat penghambat rasa nyeri tidak disekresikan. Dengan adanya musik sebagai fasilitas dalam praktek dokter gigi maka tingkat kecemasan pasien dapat dikurangi sehingga timbul perasaan tenang dan rileks, dan dapat mengurangi rasa nyeri.28

2.5 Denyut Nadi

Denyut nadi atau denyut jantung adalah jumlah denyutan jantung per menit.

Dinding arteri yang elastis akan menggembung ketika semprotan darah masuk ke dalam arteri, tetapi kemudian segera akan kembali mengerut. Menggembung dan mengerutnya arteri ini dapat dirasakan sebagai denyut arteri yang terdapat dekat

(27)

permukaan tubuh. Untuk memeriksa denyut arteri (nadi) ini biasanya dengan meletakkan beberapa jari tangan pada arteri radialis, yang terletak pada pergelangan dekat pangkal ibu jari. Denyut nadi dapat diperiksa ditempat lain, misalnya pada leher sisi kiri atau kanan. Denyut nadi menunjukkan irama dan kekuatan denyut jantung.30 Dalam keadaan istirahat denyut nadi normalnya berkisar antara 60 hingga 100 kali per menit. Kurang dari 60 per menit disebut bradikardi, lebih dari 100 kali per menit disebut takikardi.20 Perhitungan denyut nadi dimulai ketika demyut nadi sudah mulai teraba.30 Cara pengukuran denyut nadi terlihat terlihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2. Pemeriksaan denyut nadi selama 1 menit.20

Faktor-faktor yang mempengaruhi denyut nadi yaitu:20 1. Suhu udara

Ketika suhu dan kelembapan udara tinggi, jantung memompa lebih banyak darah. Akibatnya, denyut nadi juga akan meningkat sekitar 5 hingga 10 kali per menit.

2. Posisi tubuh

Denyut nadi ketika sedang berbaring, duduk, atau berdiri, sama saja. Terkadang ketika sedang duduk atau berbaring kemudian berdiri, denyut nadi dapat naik sedikit selama 15 hingga 20 detik. Namun, setelah beberapa menit, denyut nadi akan normal.

3. Emosi

Emosi dapat meningkatkan denyut nadi, terutama jika sedang stress, cemas, luar biasa senang, atau sedih.

(28)

4. Ukuran tubuh

Penderita obesitas kemungkinan memiliki denyut nadi yang lebih tinggi, tetapi biasanya tidak lebih dari 100.

5. Menggunakan obat

Obat-obatan yang menghambat hormon adrenalin cenderung memperlambat denyut nadi. Sedangkan terlalu banyak mengonsumsi obat tiroid akan menaikkan denyut nadi.

2.6 Ekstraksi Gigi

Ekstraksi gigi adalah suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Ekstraksi gigi juga merupakan tindakan bedah minor pada bidang kedokteran gigi yang melibatkan jaringan keras dan jaringan lunak pada rongga mulut. Difinisi ektraksi gigi yang ideal adalah pencabutan gigi secara utuh atau akar gigi dengan trauma seminimal mungkin terhadap jaringan pendukung gigi sehingga bekas ekstraksi dapat sembuh dengan sempurna dan tidak menimbulkan komplikasi.31

2.6.1 Indikasi Ekstraksi Gigi

Banyak alasan yang menyebabkan gigi perlu diekstraksi dari soketnya, misalnya karena sakit, gigi tersebut dapat mempengaruhi jaringan sekitarnya.

Dibawah ini akan dijelaskan beberapa indikasi pencabutan gigi.31,32 1. Karies yang meluas

Pada kasus karies yang meluas sehingga menyebabkan kesulitan dalam merestorasi maka ekstraksi merupakan pilihan terapi untuk mengurangi kemungkinan meluasnya infeksi ke jaringan lain.

2. Nekrosis pulpa

Untuk mempertahankan gigi pada soketnya, gigi yang nekrosis memerlukan terapi perawatan saluran akar yang relatif memakan waktu lama sehingga beberapa pasien menolak dilakukannya perawatan endodontik. Pada kasus demikian ekstraksi

(29)

merupakan terapi pilihan. Demikian pula untuk kasus kegagalan terapi endodontik di mana terapi endodontik telah dilakukan namun gagal mengurangi rasa sakit.

3. Penyakit Periodontal yang parah

Penyakit periodontitis yang parah akan berdampak pada kehilangan tulang dan mobilitas gigi yang irreversible maka ekstraksi merupakan indikasi.

4. Keperluan Ortodonti

Pasien yang mendapatkan perawatan ortodonti sering kali disarankan untuk dilakukan ekstraksi pada gigi premolar satu atau dua dengan tujuan menyediakan ruangan yang cukup untuk gigi.

5. Malposisi gigi

Malposisi gigi yang sering menyebabkan trauma jaringan lunak di sekitarnya merupakan indikasi ekstraksi. Sebagai contoh gigi molar tiga maksila yang tumbuh bukoversi menyebabkan trauma pada mukosa bukal. Malposisi gigi lain yang diindikasikan adalah gigi yang mengalami ekstrusi yang menyebabkan ruangan untuk gigi tiruan yang akan dibuat menjadi terlalu kecil.

6. Fraktur gigi

Tidak semua kasus fraktur gigi diindikasikan untuk pencabutan. Pencabutan dilakukan untuk kasus fraktur akar terutama kasus fraktur pada 1/3 apikal. Fraktur gigi merupakan salah satu komplikasi yang sering ditemui pasca ekstraksi gigi.

7. Ekstraksi Preprostetik

Ektraksi preprostetik dilakukan apabila mempengaruhi desain dan penempatan protesa, baik gigi tiruan lengkap, sebagian maupun cekat.

8. Gigi impaksi

Gigi impaksi adalah gigi yang tidak dapat erupsi seluruhnya atau sebagian karena tertutup oleh tulang atau jaringan lunak atau keduanya. Upaya mengeluarkan gigi impaksi terutama pada molar ketiga dilakukan dengan tindakan pembedahan yang disebut odontektomi.

9. Gigi Supernumerary

Gigi supernumerary adalah satu atau lebih elemen gigi melebihi jumlah gigi yang normal. Gigi supernumerary yang seringkali impaksi umumnya diekstraksi

(30)

karena mungkin mengganggu erupsi benih gigi lain di sekitarnya dan memiliki potensi untuk menyebabkan perpindahan dari gigi atau resorpsi gigi disekitarnya tersebut.

10. Terapi Preradiasi

Pasien yang akan mendapatkan terapi radiasi untuk tumor di sekitar leher kepala dan memiliki geligi yang mengalami kerusakan perlu mendapatkan terapi preradiasi berupa ekstraksi gigi karena dikhawatirkan gigi pasien akan mengalami osteoradionekrosis pada saat terapi radiasi.

11. Geligi yang terlibat pada fraktur rahang

Ekstraksi geligi pada fraktur rahang dengan keadaan trauma dan luksasi pada sekitar jaringan tulang perlu dilakukan untuk mencegah infeksi.

12. Estetik

Terkadang pasien menginginkan ekstraksi gigi untuk alasan estetis.

13. Ekonomi

Faktor ekonomi merupakan faktor terakhir yang cukup mempengaruhi indikasi untuk pencabutan. Apabila pasien tidak mau atau tidak mampu untuk melakukan terapi yang dapat mempertahankan keadaan gigi maka ekstraksi diindikasikan untuk dilakukan pada pasien tersebut.

(31)

2.7 Kerangka Konsep

Pasien Ekstraksi Gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU

1. Tingkat Kecemasan - Tidak ada kecemasan - Ringan

- Sedang - Berat

2. Perubahan Denyut Nadi (denyut/menit)

(32)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah survei deskriptif yaitu untuk mengetahui tingkat kecemasan dan perubahan denyut nadi pada pasien yang akan melakukan ekstraksi gigi. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Departemen Bedah Mulut RSGM FKG USU yang bertempat di Jalan Alumni No.2 USU, Medan.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan bulan Agustus 2018 sampai Januari 2019.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang datang berobat ke Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU mulai dari tanggal 6 Agustus sampai 23 Agustus 2018.

3.3.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah pasien yang melakukan perawatan gigi di Departemen Bedah mulut. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan mengambil sampel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan sampel penelitian.

Perhitungan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan rumus besar sampel sebagai berikut:

(33)

Dengan ketentuan n : besar sampel

Zα : deviasi baku alfa = 1,96

P : Proporsi pada populasi penelitian sebelumnya (hasil penelitian Bushra et al.

menunjukkan rasa cemas terhadap perawatan gigi sebesar (20%).

Q : 1-P = 1 – 0,20 = 0,8

d : absolute presicion = 8% = 0,8 sehingga :

n = (1,96)2 . 0,20 . 0,8 (0,8)2

n = 0,614656 0,64 n = 0,96 = 96

Maka besar sampel pada penelitian ini adalah 96 orang. Untuk mencegah kemungkinan error maka peneliti menambahkan sampel sehingga sampel yang diambil adalah 105.

3.3.3 Kriteria Inklusi

1. Pasien yang melakukan bedah minor.

2. Pasien yang tidak memiliki penyakit sistemik.

(34)

3.4 Variabel dan Definisi Operasional Variabel Definisi

Operasional

Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur 1. Tingkat

Kecemasan

Perasaan yang dialami oleh individu ketika berpikir bahwa sesuatu yang tidak

menyenangkan akan terjadi

Kuesioner Hamilton dental anxiety scale

a. < 14 = tidak ada kecemasan b. 14–20 =

kecemasan ringan c. 21–27 =

kecemasan sedang d. 28–56 =

kecemasan berat

Ordinal

2. Denyut Nadi

Jumlah denyutan jantung per menit

Yang di ukur pada saat:

1. Di ruang tunggu 2. Di kursi dental 3. Setelah ekstraksi gigi

Stopwatch Denyut/menit Rasio

3.5 Metode Pengumpulan Data/ Pelaksanaan Penelitian

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Pengukuran denyut nadi dilakukan dengan cara meraba arteri radialis pada pergelangan tangan selama satu menit dengan bantuan stopwatch pada saat diruang tunggu, di kursi dental, dan setelah ekstraksi gigi.

3.6 Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi.

(35)

3.7 Etika Penelitian

Peneliti mengajukan surat permohonan atas kelayakan etik disertai dengan proposal penelitian yang ditujukan kepada Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) di Fakultas Kedokteran USU.

(36)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Karakteristik Pasien Ekstraksi Gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU

Hasil penelitian pada 105 pasien yang melakukan ekstraksi gigi di klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU menunjukkan bahwa usia yang paling banyak melakukan ekstraksi gigi adalah kelompok usia remaja 17-25 tahunadalah sebesar 37,1%. Berdasarkan jenis kelamin, pasien perempuan lebih banyak 62,9% daripada laki-laki yaitu sebesar 37,1%. Berdasarkan jumlah kunjungan, pasien yang melakukan ekstraksi gigi di klinik Bedah Mulut RSGM USU lebih banyak pada pengalaman pencabutan gigi pertama sebesar 61,9%, pengalaman pencabutan gigi kedua 21%, sedangkan persentase pengalaman pencabutan gigi lebih dari dua kali yaitu sebesar 17,1%.

Tabel 2. Distribusi karakteristik pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU (n=105)

Karakteristik pasien n %

Usia (Tahun) Remaja (17-25) Dewasa muda (26-45) Dewasa tua (46-59) Lansia (>59)

39 34 24 8

37,1 32,4 22,9 7,6 Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

39 66

37,1 62,9 Pengalaman Pencabutan

Pertama Kedua

Lebih dari dua kali

65 22 18

61,9 21 17,1

(37)

4.2 Prevalensi Kecemasan pada Pasien Ekstraksi Gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU

Tabel 3 menunjukkan prevalensi kecemasan pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin dan jenis perawatan. Persentase tertinggi kategori cemas yaitu pada kelompok usia remaja (17- 25 tahun) sebesar 89,7%,pada jenis kelamin,persentase kecemasan tertinggi dijumpai pada wanita sebesar 92,4%, sedangkan pada jenis perawatan, seluruh pasien odontektomi mengalami kecemasan.

Tabel 3. Persentase kecemasan pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU (n=105)

Karakteristik Responden n

Tidak

Cemas Cemas

n % n %

Usia (Tahun) Remaja (17-25) Dewasa muda (26-45) Dewasa tua (46-59) Lansia (>59)

39 34 24 8

4 3 4 3

10,3 8,8 16,7 37,5

35 31 20 5

89,7 91,2 83,3 62,5 Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

39 66

9 5

23,1 7,6

30 61

76,9 92,4 Jenis Perawatan

Pencabutan gigi Odontektomi

94 11

14 0

14,9 0

80 11

85,1 100 4.3 Tingkat Kecemasan Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU Berdasarkan Usia

Tabel 4 menunjukkan persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU berdasarkan kelompok usia, responden yang tidak cemas pada kelompok usia lansia (>59 tahun) 37,5%, dewasa tua (46-59 tahun) 16,7%, remaja (17-25 tahun) 10,3%, dan dewasa muda (26-45 tahun) 8,8%.

Umumnya kelompok usia lansia (>59 tahun) tidak mengalami kecemasan, sedangkan pada kelompok usia dewasa tua dan remaja paling banyak dijumpai cemas sedang, yaitu 50% dan 41%, dan kelompok usia dewasa muda paling banyak dijumpai cemas

(38)

ringan sebesar 32, 4%. Pada kategori kecemasan berat, persentase kecemasan responden cukup tinggi, yaitu pada kelompok usia dewasa muda 29,4%, kelompok usia dewasa tua 25%, kelompok usia remaja 23,1%, dan kelompok usia lansia 12,5%.

Tabel 5. Persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU berdasarkan kelompok usia (n=105)

Usia

(Tahun) n

Tingkat Kecemasan Tidak ada

kecemasan

Kecemasan Ringan

Kecemasan Sedang

Kecemasan Berat

n % n % n % n %

Remaja

(17-25) 39 4 10,3 10 25,6 16 41 9 23,1

Dewasa muda

(26-45) 34 3 8,8 11 32,4 10 29,4 10 29,4

Dewasa tua

(46-59) 24 4 16,7 2 8,3 12 50 6 25

Lansia

(>59) 8 3 37,5 2 25 2 25 1 12,5

Total 105 14 13,3 25 23,8 40 38,1 26 24,8

4.4 Tingkat Kecemasan Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5 menunjukkan persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG USU berdasarkan jenis kelamin, responden laki-laki yang tidak mengalami kecemasan sebesar 23,1%, sedangkan perempuan 7,6%. Responden berada pada kategori cemas sedang, pada laki-laki sebesar 33,3% dan perempuan 40,9%. Kecemasan berat dialami baik responden laki-laki maupun perempuan, yaitu sebesar 17,9% dan 28,8%.

(39)

Tabel 5. Persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU berdasarkan jenis kelamin (n=105)

Jenis Kelamin n

Tingkat Kecemasan Tidak ada

kecemasan

Kecemasan Ringan

Kecemasan Sedang

Kecemasan Berat

n % n % n % n %

Laki-laki 39 9 23,1 10 25,6 13 33,3 7 17,9

Perempuan 66 5 7,6 15 22,7 27 40,9 19 28,8

4.5 Tingkat Kecemasan Pasien Ekstraksi Gigi di RSGM FKG USU Berdasarkan Jenis Perawatan

Tabel 6 menunjukkan persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG USU berdasarkan jenis perawatan, yaitu seluruh pasien odontektomi mengalami kecemasan. Pada tindakan pencabutan gigi responden yang tidak mengalami kecemasan sebesar 14,9%. Tingkat kecemasan dental pada saat pencabutan gigi paling banyak dijumpai cemas sedang, yaitu 39,4%, sedangkan pada odontektomi dijumpai persentase yang sama antara kecemasan ringan dan berat yaitu 36,4%. Pada kategori kecemasan berat, responden yang mengalami kecemasan paling tinggi pada saat odontektomi, yaitu 36,4%, sedangkan pada pencabutan gigi sebesar 23,4%.

Tabel 6. Persentase tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU berdasarkan jenis perawatan (n=105)

Jenis Perawatan n

Tingkat Kecemasan Tidak ada

kecemasan

Kecemasan Ringan

Kecemasan Sedang

Kecemasan Berat

n % n % n % n %

Pencabutan Gigi 94 14 14,9 21 22,3 37 39,4 22 23,4

Odontektomi 11 0 0 4 36,4 3 27,3 4 36,4

(40)

4.6 Perubahan Denyut Nadi pada Pasien Ekstraksi Gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU

Gambar 3 menunjukkan bahwa rata-rata perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU yaitu pada saat diruang tunggu rata-rata denyut nadi responden sebesar 73,66 pada saat dikursi dental 77,15 dan setelah pencabutan sebesar 75,60.

Gambar 3. Perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG USU (n=105)

Tabel 7 menunjukkan bahwa persentase perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU, pada responden yang denyut nadinya tetap, kategori kecemasan paling banyak dijumpai yaitu tidak ada kecemasan sebesar 35,7%, pada responden yang denyut nadinya naik, kategori kecemasan paling banyak dijumpai yaitu kecemasan sedang 41,5%, sedangkan pada responden yang denyut nadinya turun, kategori kecemasan yang paling banyak dijumpai yaitu kecemasan sedang 39,5%.

73,66

77,15

75,60

71 72 73 74 75 76 77 78

Ruang Tunggu Kursi Dental Setelah Pencabutan Perubahan Denyut Nadi

Perubahan Denyut Nadi

(41)

Tabel 7. Persentase perubahan denyut nadi pada pasien ekstraksi gigi di RSGM FKG USU (n=105)

Perubahan Denyut

Nadi n

Tingkat Kecemasan Tidak ada

kecemasan

Kecemasan Ringan

Kecemasan Sedang

Kecemasan Berat

n % n % n % n %

Tetap 14 5 35,7 4 28,6 3 21,4 2 14,3

Naik 53 8 15,1 11 20,8 22 41,5 12 22,6

Turun 38 1 2,6 10 26,3 15 39,5 12 31,6

4.7 Tingkat Kecemasan dan Denyut Nadi Pasien Ekstraksi Gigi di Ruang Tunggu Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 8 menunjukkan bahwa responden laki-laki yang tidak cemas saat di ruang tunggu dengan denyut nadi 60-69 (77,1%), walaupun demikian ada juga yang denyut nadinya 70-79 (11,1%). Pada cemas ringan dengan denyut nadi 60-69 (40%), diikuti dengan denyut nadi 70-79 (50%), tetapi ada juga yang denyut nadinya 90-99 (11,1). Pada kategori cemas berat, denyut nadi 70-79 (71,4%), diikuti dengan denyut nadi 80-89 dan 90-99, yaitu (14,3%).

Tabel 8. Persentase tingkat kecemasan dan denyut nadi di ruang tunggu pada responden laki-laki di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU (n=39) Tingkat Kecemasan n

Denyut Nadi/menit (Ruang Tunggu)

60-69 70-79 80-89 90-99

n % n % n % n %

Tidak Cemas 9 7 77,8 1 11,1 0 0 1 11,1

Cemas Ringan 10 4 40 5 50 1 10 0 0

Cemas Sedang 13 3 23,1 10 76,9 0 0 0 0

Cemas Berat 7 0 0 5 71,4 1 14,3 1 14,3

Tabel 9 menunjukkan bahwa responden perempuan yang tidak cemas saat di ruang tunggu dengan denyut nadi 60-69 (60%), walaupun demikian ada juga yang denyut nadi nya 80-89 dan 90-99 (20%). Pada cemas ringan dengan denyut nadi 60- 69 (53,3%), diikuti dengan 70-79 (46,7%), sedangkan pada cemas berat, denyut nadi

(42)

60-69 (21,1%), tetapi ada juga yang denyut nadinya 80-89 (26,3%) dan 90-99 (21,1%).

Tabel 9. Persentase tingkat kecemasan dan denyut nadi di ruang tunggu pada responden perempuan di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU (n=66) Tingkat Kecemasan n

Denyut Nadi/menit (Ruang Tunggu)

60-69 70-79 80-89 90-99

n % n % n % n %

Tidak Cemas 5 3 60 1 20 0 0 1 20

Cemas Ringan 15 8 53,3 7 46,7 0 0 0 0

Cemas Sedang 27 4 14,8 16 59,3 6 22,2 1 3,7

Cemas Berat 19 4 21,1 6 31,6 5 26,3 4 21,1

(43)

BAB 5 PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukkan persentase pada pasien ekstraksi gigi yang mengalami kecemasan sebanyak 86,6%, sedangkan yang tidak cemas sebanyak 13,4% (Tabel 4). Hasil penelitian ini menunjukkan klasifikasi kecemasan perawatan gigi termasuk kepada tipe empat, yaitu merupakan ketidak percayaan pasien terhadap dokter gigi. Hal ini mungkin saja disebabkan karena pasien kurang yakin dengan para dokter gigi muda, mereka merasa bahwa dokter gigi muda masih kurang berpengalaman. Secara umum responden berada pada kategori cemas sedang. Cemas sedang yang dialami pasien biasanya ditandai hanya dengan perasaan yang tidak menyenangkan saja pada pasien dan belum sampai ke tahap adanya gejala fisiologis.

Pada penelitian ini dijumpai tingkat kecemasan dental paling banyak berada pada kategori tidak cemas yaitu pada kelompok usia lansia (>59 tahun) 37,5%, dewasa tua (46-59 tahun) 16,7%, usia remaja 10,3%, dan dewasa muda (26-45 tahun) 8,8%. Dengan kata lain pada kelompok usia muda paling banyak dijumpai kecemasan dental (Tabel 4). Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Humphris et al. Kumar et al. dan Busra et al. yang menunjukkan bahwa tingkat kecemasan dental paling banyak dialami oleh kelompok usia dewasa muda (18-39 tahun) di bandingkan kelompok usia di atas 60 tahun. Kecemasan dental dan ketakutan dental merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang tidak mau untuk memeriksakan kesehatan giginya. Hal ini mungkin saja disebabkan karena kelompok usia muda masih cenderung labil, mudah tegang dan emosionalnya tidak terkendali. Tingkat kecemasan pada usia lansia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah meningkatnya tingkat kedewasaan seseorang dalam menghadapi suatu masalah atau ancaman yang ada dan meningkatnya kemampuan atau cara pandang seseorang dalam menghadapi pengalaman hidup seiring bertambahnya usia.33-35

(44)

Berdasarkan jenis kelamin terlihat bahwa responden laki-laki berada pada kategori tidak ada kecemasan 23,1%, sedangkan responden wanita 7,6%. Dengan kata lain persentase responden perempuan yang mengalami kecemasan dental lebih banyak dibandingkan responden laki-laki (Tabel 5). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kumar et al. dan Wael et al. berdasarkan hasil data yang didapatkannya menggunakan Dental Anxiety Scale (DAS) menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak mengalami kecemasan dental daripada laki-laki dengan persentase yang cemas pada perempuan (13,17%), sedangkan laki-laki (12,29%).7 Pada penelitian Bushra et al. di Pakistan juga menunjukkan bahwa kecemasan lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria dengan perbandingan 1:5.34 Pada umumnya kecemasan sering terjadi pada perempuan karena dari sudut pandang psikologis, perempuan lebih berpikir dengan perasaan dibandingkan laki-laki. Selain itu mungkin disebabkan karena wanita lebih terbuka dalam mengekspresikan apa yang ada pada perasaannya daripada pria yang cenderung lebih memendam apa yang sebenarnya ia rasakan dan memiliki emosi yang lebih stabil.36

Berdasarkan jenis perawatan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh pasien odontektomi mengalami kecemasan, pada saat pencabutan gigi, kategori tidak ada kecemasan sebesar14,9% (Tabel 6). Hal ini sesuai dengan penelitian Pontoh yang menunjukkan bahwa tingkat kecemasan pasien menjadi tinggi disebabkan adanya ketakutan dalam diri pasien dengan jarum suntik dan peralatan dokter gigi lainnya serta resiko yang kana terjadi saat ekstraksi gigi berlangsung.21

Pada pemeriksaan tanda vital juga terlihat adanya perubahan, dimana perubahan tanda vital yang terjadi pada responden adalah perubahan denyut nadi (Tabel 7). Pada saat di ruang tunggu rata-rata denyut nadi responden sebesar 73,66, pada saat di kursi dental rata-rata denyut nadi responden naik sebesar 77,15 sedangkan setelah pencabutan gigi rata-rata denyut nadi responden sebesar 75,60, dimana denyut nadi saat dikursi dental lebih cepat dibandingkan saat istirahat.

Responden yang denyut nadinya tetap, kategori kecemasan paling banyak dijumpai yaitu tidak ada kecemasan sebesar 35,7%, pada responden yang denyut nadinya naik, kategori kecemasan paling banyak dijumpai yaitu kecemasan sedang 41,5%,

(45)

sedangkan pada responden yang denyut nadinya turun, kategori kecemasan yang paling banyak dijumpai yaitu kecemasan sedang 39,5%. Hasil penelitian Pontoh menunjukkan bahwa 80,6% responden mengalami perubahan denyut nadi disebabkan adanya ketakutan dalam diri pasien dengan jarum suntik dan peralatan dokter lainnya serta resiko yang akan terjadi saat ekstraksi gigi berlangsung.21 Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yoshito et al. di Jepang yang menunjukkan adanya perubahan tanda vital yang signifikan pada pasien yang cemas.37 Hal ini disebabkan karena jika pasien yang memiliki denyut nadi tinggi masih dilakukan tindakan pencabutan gigi maka dapat menyebabkan pembekuan darah yang sudah terbentuk akan terdorong sehingga terjadi perdarahan. Perdarahan yang keluar (mengandung banyak oksigen) dan semburan darahnya bersamaan dengan detak jantung. Tekanan yang menyebabkan darah menyembur dan menyebabkan perdarahan ini sulit dikontrol.21

(46)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Persentase pada pasien ekstraksi gigi yang mengalami kecemasan sebanyak 86,7%, sedangkan yang tidak cemas sebanyak 13,3%.

2. Tingkat kecemasan pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM FKG USU yaitu:

a. Tingkat kecemasan dental berdasarkan usia paling tinggi dijumpai pada kelompok usia dewasa muda (25-45 tahun) yaitu cemas ringan sebesar 32,4%.

b. Tingkat kecemasan dental berdasarkan jenis kelamin dijumpai bahwa responden laki-laki berada pada kategori tidak ada kecemasan 23,1%, sedangkan responden wanita hanya 7,6%, jadi dapat disimpulkan bahwa responden wanita lebih cemas dibandingkan laki-laki.

c. Tingkat kecemasan dental berdasarkan jenis perawatan menunjukkan bahwa seluruh pasien odontektomi mengalami kecemasan, dan pada saat pencabutan gigi pasien yang tidak cemas sebesar 14,9%.

3. Rata-rata perubahan denyut nadi responden pada saat di ruang tunggu sebesar 73,66, pada saat dikursi dental 77,15, setelah pencabutan gigi 75,60.

6.2 Saran

Perlu perhatian khusus dari pihak Departemen Bedah Mulut RSGM FKG USU untuk mengurangi kecemasan dental pasien, meliputi:

1. Membangun komunikasi serta kepercayaan pasien kembali dalam perawatan gigi agar membuat pasien nyaman dan mampu menjalankan perawatan dan instruksi pasca perawatan dengan benar.

2. Menyediakan ruang tunggu khusus lengkap dengan fasilitas yang dapat membuat pasien nyaman dan tidak membuat strategi penatalaksanaan pasien terlalu lama menunggu antrian.

(47)

DAFTAR PUSTAKA

1. Bolla IN. Gambaran tingkat kecemasan pada klien pra bedah mayor di Ruang Rawat Inap Medikal Bedah Gedung D Lantai 3 Rumah Sakit Umum Cibabat Cimahi. [online] 2009. Available from:http://www.stikesayani.ac.id/ejournal/pdf.

2. Kent GG. The psychology of dental care. Bristol: John Wright & Sons Ltd., 1985: 55-63.

3. Kaplan HI, Saddock BJ, Sinopsis psikiatri. Alih Bahasa. Kusuma W. Tangerang:

Binarupa Aksara, 2010:18-19.

4. Rusdy H, Beverly. Tingkat kecemasan masyarakat saat pencabutan gigi berdasarkan usia, jenis kelamin dan asal daerah dengan survei online. dentika Dental J 2015; 18 (3): 205-10.

5. Yahya NB, Leman MA, Hutagalung BSP. Gambaran kecemasan pasien ekstraksi gigi di Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) UNSRAT. PHARMACON J Ilmiah Farmasi 2016: 5(1) 39-45.

6. Natamiharja L, Manurung YRL. Rasa takut terhadap perawatan gigi. dentika Dental J 2007; 12(2) : 200-2.

7. Kumar S, Bhargav P, Patel A, Bhati M, Balasubramanyam G, Duraiswamy P. et.

al. Does dental anxiety influence oral health-related quality of life? Observation from a cross-sectional study among adults in Udaipur district, India. Oral Science 2009; 2: 245-54.

8. Prasetyo EP. Peran musik sebagai fasilitas dalam praktek dokter gigi untuk mengurangi kecemasan pasien. Maj Ked Gigi (Dent J) 2005;38 (1):41-4.

9. Stefanace J. Stephen, Nesbit SP. Treatment planning in dentistry. 2nd ed. Mosby Elsevier’s Health Sciences Rights Department in Philadelphia, PA, USA. 2008:

371-73.

10. Greenwood M, Seymour RA, Meechan JG. Textbook of human disease in dentistry. 1st ed,USA; British Library, 2009: 275.

11. Hmud R, Walsh LJ. Dental anxiety causes, complication and management approaches. J Minim Interv Dent 2009; 2(1): 175-78.

Gambar

Gambar 1. Interaksi kecemasan dan modifikasi perawatan gigi. 11
Tabel 1. Identifikasi perbedaan emosional dan intelektual antara pria dan wanita.
Gambar 2. Pemeriksaan denyut nadi selama 1 menit. 20
Tabel 2. Distribusi karakteristik pasien ekstraksi gigi di Klinik Bedah Mulut RSGM  FKG USU (n=105)  Karakteristik pasien  n  %  Usia (Tahun)  Remaja (17-25)  Dewasa muda (26-45)  Dewasa tua (46-59)  Lansia (&gt;59)  39 34 24 8  37,1 32,4 22,9 7,6  Jenis K
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian tingkat pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik Departemen Bedah Mulut RSGM-P FKG USU tentang cara penanganan dental pada pasien Penyakit Jantung Koroner

Untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik Departemen Bedah Mulut RSGM-P FKG USU tentang tindakan pada saat perawatan dental pada pasien

Johaidy yang berjudul “Morfologi Kondilus Mandibularis Ditinjau dari Radiograf TMJ pada Individu dengan Kehilangan Gigi Posterior di RSGM FKG USU” dan menyatakan tidak

Perbedaan Skor Bau Mulut Sebelum dan Setelah Skeling Pada Pasien.. Gingivitis Diinduksi Plak Di Instalasi Periodonsia RSGM

Ada perbedaan skor bau mulut sebelum dan setelah perawatan skeling pada. pasien gingivitisdiinduksi plak di RSGM

Pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik Departemen Bedah Mulut FKG USU periode April 2016 – Mei 2016 tentang defenisi penyembuhan luka tersier, lama fase reaktif/fase

mahasiswa kepaniteraan klinik tentang bahaya radiasi yang diterima oleh wanita hamil pada. trimester satu yang sedang melakukan perawatan gigi di RSGM

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kategori tingkat pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik bedah mulut FKG USU terhadap antibiotik dan penatalaksanaan alergi