PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAYU
PADA PT. ANDATU LESTARI PLYWOOD
BANDAR LAMPUNG
Oleh:
NOVALINA PURBA
A14105694
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN
NOVALINA PURBA. Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu pada PT Andatu Lestari Plywood (PT ALP) Bandar Lampung. (Dibawah Bimbingan NETTI TINAPRILLA)
Industri kehutanan pada saat ini memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi. Hal ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang melakukan perubahan struktur ekspor dari basis migas ke non migas akibat penurunan devisa dari sektor migas. Menurut Depperindag (2003) industri pengolahan kayu memberikan kontribusi terbesar ketiga pada devisa negara yaitu sebesar 9,24 persen, setelah tekstil 14,87 persen dan elektronika 12,88 persen pada urutan pertama dan kedua.
PT Andatu Lestari Plywood (PT. ALP) merupakan salah satu perusahaan kayu olahan yang menghasilkan produk berupa plywood. Agar dapat bertahan dalam industri kayu olahan, maka perusahaan harus berproduksi seefisien mungkin. Oleh karena itu perusahaan harus melakukan pengendalian di segala bidang untuk menghindari pemborosan biaya yang besar. Salah satu pengendalian yang penting adalah pengendalian persediaan bahan baku kayu sebagai bahan baku utama perusahaan.
Perusahaan selama ini telah melakukan perencanaan persediaan bahan baku kayu. Perencanaan persediaan bahan baku kayu tersebut dilakukan oleh bagian Production Planning Inventory Control (PPIC), namun perencanaan kebutuhan bahan baku kayu yang dilakukan belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari sejarah perusahaan dimana pada tahun 2006, perusahaan pernah kesulitan memperoleh bahan baku kayu akibat ketidakmampuan suplier memenuhi kebutuhan kayu perusahaan sehingga terganggunya proses produksi perusahaan. Untuk mengatasi agar tidak terjadi kekurangan bahan baku kayu maka perusahaan menetapkan kebijakan baru yaitu mencari beberapa suplier baru dan membuka lahan sendiri dengan ijin dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu perusahaan dan menetapkan pembelian kayu dalam jumlah besar. Ternyata kebijakan tersebut berdampak pada tingginya persediaan kayu dilog pond sampai saat ini. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengendalian persediaan bahan baku kayu di PT. ALP, sedangkan secara khusus adalah (1) mendiskripsikan sistem pengadaan bahan baku yang terdapat dalam perusahaan, (2) menganalisis pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan di perusahaan melalui perbandingan pengendalian persediaan bahan baku dengan metode EOQ. Dalam penelitian ini pembahasan hanya terbatas pada bahan baku utama yaitu kayu, dan jenis kayu yang digunakan di perusahaan meliputi : kayu Meranti dan kayu Rimba Campuran. PT. ALP memperoleh kayu dari daerah Lampung, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Maluku dan Irian. Umumnya kayu diperoleh dari Hutan alam yang memiliki ijin Hak Pengusahan Hutan (HPH) dan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK).
Penelitian ini dimulai dengan menganalisis kondisi dan kebijakan-kebijakan yang diterapkan perusahaan yang berhubungan dengan pengendalian persediaan bahan baku kayu perusahaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Material Requirement Planning (MRP) dengan
Teknik Economic Order Quantity (EOQ). Teknik tersebut akan dibandingkan dengan perusahaan, kemudian dipilih model alternatif pengendalian persediaan perusahaan yang dapat meminimumkan biaya persediaan dan sesuai dengan kondisi perusahaan.
Waktu tunggu pengadaan persediaan kayu tersebut berbeda-beda menurut jenis kayu dan lokasi pemasok, namun perusahaan belum mempunyai catatan detail mengenai tenggang waktu tersebut. Biaya persediaan yang terdapat pada perusahaan meliputi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Biaya pemesanan terdiri dari biaya telepon, fax, administrasi, dan transportasi, sedangkan biaya penyimpanan adalah biaya listrik dan keamanan.
Metode MRP teknik EOQ merupakan teknik dengan cara mencari tingkat biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang sebanding sehingga diperoleh biaya persediaan yang minimum. Teknik EOQ memiliki keunggulan yaitu mempermudah manajemen dalam menentukan jumlah pemesanan yang optimal untuk setiap kali pemesanan. Teknik ini memenuhi kebijakan perusahaan yang menginginkan tersedianya bahan baku di log pond dalam jumlah yang optimal. Kelemahan teknik ini adalah kurang peka terhadap fluktuasi pemakaian bahan baku kayu dan waktu tunggu yang umumnya terjadi dalam perusahaan, namun metode MRP teknik EOQ akan memberikan hasil yang terbaik karena adanya minimisasi biaya persediaan. Teknik EOQ sangat cocok diterapkan dalam perusahaan yang memiliki perbandingan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang sangat besar. Disamping hal tersebut, teknik ini bisa diterapkan karena perusahaan memproduksi kayu lapis berdasarkan kapasitas mesin sebesar 216.000 m3 dalam setahun. Kuantitas yang diperoleh dalam memakai teknik EOQ ini sebesar 216.680,66 m3, sehingga sesuai dengan jumlah kuantitas kayu yang ditentukan oleh perusahaan.
Berdasarkan penghematan biaya persediaan yang telah dianalisis, metode MRP teknik EOQ dapat memberikan penghematan sebesar 4,12 persen. Berdasarkan uraian tersebut maka alternatif metode MRP yang dapat digunakan perusahaan adalah metode MRP teknik EOQ. Metode ini mampu mengurangi frekuensi pemesanan dan biaya pemesanan. Biaya pemesanan tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan biaya penyimpanannya, bahkan untuk kayu Meranti, biaya pemesanan per pesanannya cukup tinggi karena adanya biaya transportasi yang cukup tinggi. Metode MRP teknik EOQ juga memiliki kelemahan, yaitu adanya kemungkinan kerusakan persediaan kayu akibat adanya penyimpanan, namun hal ini tidak terlalu bermasalah karena penyimpanan kayu Meranti dan Rimba Campuran dengan menggunakan teknik ini masing-masing satu minggu dan dua minggu, tidak akan menjadikan kayu tersebut rusak parah.
PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAYU PADA PT ANDATU LESTARI PLYWOOD
BANDAR LAMPUNG
OLEH: NOVALINA PURBA
NRP A14105694
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis-Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
Judul : Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu pada PT Andatu Lestari Plywood Bandar Lampung Nama : Novalina Purba
NRP : A14105694
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Ir. Netti Tinaprilla, MM NIP. 132 133 965
Mengetahui: Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA KARYA TULIS TENTANG PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAYU PADA PT ANDATU LESTARI PLYWOOD BANDAR LAMPUNG BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI, DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA TULIS ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Bogor, September 2008
Novalina Purba A14105694
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Padangsidimpuan pada tanggal 2 Juni 1984 sebagai anak pertama dari lima bersaudara pasangan Bapak Ahman Purba dan Ibu Berliana Harahap.
Penulis sekolah di SD NEGERI 2 Padangsidimpuan, lulus pada tahun 1996, SMP NEGERI 5 Padangsidimpuan lulus pada tahun 1999, dan SMU NEGERI 3 Padangsidimpuan lulus pada tahun 2002. Kemudian pada tahun yang sama penulis juga diterima menjadi mahasisiwi Intstitut Pertanian Bogor (IPB) di Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian dengan Program Studi DIPLOMA III Manajemen Agribisnis angkatan 39, melalui jalur USMI dan selesai pada tahun 2005. Pada tahun 2006, penulis melanjutkan studi kembali pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa, atas segala kasih, berkat dan karuniaNya yang teramat besar mampu memberikan hikmat dan kekuatan sehingga skripsi dengan judul PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KAYU PADA PT ANDATU LESTARI PLYWOOD BANDAR LAMPUNG dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Skripsi ini bertujuan untuk mempelajari pengendalian persediaan bahan baku kayu di perusahaan. Mendiskripsikan sistem pengadaan bahan baku yang terdapat dalam perusahaan, menganalisis pengendalian persediaan bahan baku perusahaan melalui perbandingan pengandalian persediaan bahan baku dengan metode EOQ. Sehingga pada akhirnya memberikan model alternatif sistem pengendalian yang sesuai dengan kondisi perusahaan dalam rangka mencapai efisiensi.
Penelitian ini merupakan hasil maksimal yang dapat dikerjakan oleh penulis, meskipun penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi salah satu bahan referensi atau menambah ilmu pengetahuan untuk penelitian-penelitian selanjutnya serta bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukan.
Bogor, September 2008
Novalina Purba A14105694
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa, atas segala berkat yang selalu diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyelesaian skripsi ini tidaklah terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada bagian ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orangtua penulis yang tiada hentinya mendoakan, memberikan perhatian dan semangat dalam bentuk apapun untuk keberhasilan penulis.
2. Ir. Netti Tinaprilla, MM selaku dosen pembimbing yang telah memberikan waktu, ilmu, dan arahan selama penulisan skripsi ini.
3. M. Firdaus, Ph.D selaku dosen evaluator pada kolokium yang telah memberikan arahan dan masukan yang berarti untuk kemajuan skripsi ini. 4. Ir. Dwi Rachmina, MS sebagai dosen penguji utama yang telah memberikan
masukan, saran dan kritiknya kepada penulis untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini.
5. Eva Yolinda, MM sebagai dosen perwakilan komisi pendidikan atas masukan, saran dan kritiknya untuk penulisan yang lebih baik.
6. Seluruh staf manajemen PT Andatu Lestari Plywood yang memberikan data dan informasi untuk penulisan skripsi ini.
7. Seluruh dosen, staf pengajar dan staf sekretariat Ekstensi MAB yang telah membantu kelancaran penulis mulai kuliah sampai pada penulisan skripsi ini. 8. Adek-adekku tersayang Ayu, Henni, Irma, Rian atas semua dukungan doa dan
semangat yang diberikan selama ini.
10. Septina Erianofa yang bersedia menjadi pembahas seminar.
11. Sahabat-sahabatku K anggra, K yanti, Cici , Junita, Marudut, Duna, Maria Irene, David, yang selalu memberikan dukungan dalam suka dan duka.
12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Bogor, September 2008
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL... v
DAFTAR GAMBAR...vii
DAFTAR LAMPIRAN... viii
I PENDAHULUAN...1 1.1 Latar Belakang ...1 1.2 Perumusan Masalah...6 1.3 Tujuan Penelitian...7 1.4 Kegunaan Penelitian ...8 II TINJAUAN PUSTAKA ...9
2.1 Pengertian Kayu Lapis...9
2.2 Macam-Macam Kayu Lapis...9
2.3 Bahan Baku ... 11
2.4 Pemasaran Produk... 12
2.5 Penelitian Terdahulu ... 13
III KERANGKA PEMIKIRAN... 20
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 20
3.1.1 Konsep Bahan Baku... 20
3.2 Persediaan ... 21
3.2.1 Arti dan Peranan Persediaan... 21
3.2.2 Fungsi Persediaan ... 23
3.2.3 Tipe dan Jenis Persediaan ... 24
3.2.4 Biaya Persediaan... 27
3.3 Sistem Pengadaan Bahan Baku ... 29
3.3.1 Prosedur Pembelian ... 31
3.4 Pengendalian Persediaan... 34
3.4.1 Tujuan Pengendalian Persediaan ... 35
3.4.2 Kebijaksanaan Dalam Pengendalian Persediaan ... 35
3.5.1 TeknikLot For Lot (LFL) ... 38
3.5.2 Teknik Economic Order Quantity (EOQ) ... 39
3.5.3 TeknikPart Period Balancing (PPB) ... 46
3.6 Kerangka Pemikiran Operasional... 50
IV METODE PENELITIAN... 51
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 51
4.2 Jenis dan Sumber Data... 51
4.3 Pembatasan Variabel Analisis... 52
4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 52
4.4.1 Pendugaan dan Penentuan Biaya Persediaan ... 52
4.4.2 Analisis Model Pengendalian Persediaan Bahan Baku... 54
4.4.2.1 Penentuan Ukuran Lot ... 55
V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ...58
5.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan... 58
5.2 Struktur Organisasi dan Personalia ... 59
5.3 Ketenagakerjaan ... 63
5.4 Proses Produksi ... 65
5.4.1 Persiapan Bahan Baku ... 66
5.4.1.1Log Cutting (Pembagian Kayu) ... 66
5.4.1.2 Pembersihan Kayu (Log)... 67
5.4.1.3Centering Short Log... 67
5.4.2 Produksi Venir ... 68
5.4.2.1 Pengupasan Short Log... 68
5.4.2.2 Penggulungan Venir (Reeling) ... 68
5.4.2.3 Pemotongan Venir Basah ... 69
5.4.2.3.1 Penyusunan Venir Basah... 70
5.4.2.4 Pengeringan ... 70
5.4.3 Produksi Kayu Lapis (Plywood)... 70
5.4.3.1 Penyambungan venir ... 71
5.4.3.3 Perbaikan Venir Muka dan Venir Belakang ... 72 5.4.3.4 Pengaturan Venir... 72 5.4.3.5 Pencampuran Perekat ... 72 5.4.3.6 Pelaburan Perekat... 73 5.4.3.7 Pengempaan dingin ... 73 5.4.3.8 Proses Ganda... 74 5.4.3.9 Pengempaan Panas ... 74
5.4.3.10 Pengkondisian Kayu Lapis (Plywood) ... 74
5.4.4 Pengerjaan Akhir ... 75
5.4.4.1 Pemotongan sisi (Sizing) ... 75
5.4.4.2 Pendempulan (Putti Filling) ... 75
5.4.4.3 Pengampelasan... 75
5.4.4.4 Pengklasifikasian (Grading) ... 76
5.4.4.5 Pengepakan dan Penandaan Produk (Packing)... 76
5.5 Bidang Usaha dan Pemasaran... 76
VI SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU...78
6.1 Jenis, Asal dan Kualitas Bahan Baku ... 78
6.2 Perencanaan Pengadaan Bahan Baku ... 79
6.3 Prosedur Pembelian Bahan Baku ... 80
6.3.1 Pembelian Kayu dengan Ijin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) .. 81
6.3.2 Pembelian Kayu dengan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK)... 82
6.4 Sistem Pengadaan Bahan Baku ... 83
VII ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN KAYU PERUSAHAAN87 7.1 Klasifikasi Bahan Baku ... 87
7.2 Biaya Persediaan ... 88
7.3 Pemakaian Bahan Baku ... 90
7.4 Lead Time dan Persediaan Pengaman ... 93
7.5 Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT ALP ... 94
7.5.1 Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT ALP .... 94
7.5.2.1 Metode MRP TeknikLot for Lot ...98
7.5.2.2 Metode MRP TeknikEconomic Order Quantity ... 100
7.5.2.3 Metode MRP Teknik Part Period Balancing (PPB)... 103
7.5.3 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan ... 106
7.5.3.1 Analisis Perbandingan pada Tiap Jenis kayu... 106
7.5.3.2 Analisis Perbandingan pada Keseluruhan Persediaan Kayu... 111
7.5.4 Analisis Penghematan terhadap Metode Perusahaan... 113
7.5.5 Alternatif Model Pengendalian Persediaan Kayu... 118
VIII KESIMPULAN ...121
8.1 Kesimpulan ... 121
8.2 Saran ... 123
DAFTAR PUSTAKA ...124
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman 1. Produksi Kayu Hutan Menurut Jenis Produksi (m3) Tahun
2001-2005 ... 2
2. Perkembangan Ekspor Hasil Hutan 2001-2006 ... 2
3. Volume Ekspor Produk Kayu Olahan Indonesia Tahun 2006... 3
4. Volume Pembelian dan Target Produksi Bahan Baku Kayu pada PT ALP Tahun 2005-2006... 7
5. Penelitian Terdahulu yang Relevan Mengenai Pengendalian Persediaan Bahan Baku ... 14
6. Cara PerhitunganPart Period Balancing ... 47
7. Format Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku (MRP)... 54
8. Jumlah Karyawan pada PT ALP 2002-2007 ... 64
9. Klasifikasi Jenis dan Diameter dalam ProduksiPlywood ... 79
10. Perkembangan Pembelian Bahan Baku Kayu (m3) Tahun 2007 ... 85
11. Komponen Biaya Pemesanan per Pesanan Bahan Baku Periode Januari-Desember 2007 ... 89
12. Komponen Biaya Penyimpanan Bahan Baku per m3 Tahun 2007... 90
13. Perkembangan Pemakaian Bahan Baku Kayu (m3) Tahun 2007... 91
14. Perkembangan Persediaan Kayu Meranti (m3) Tahun 2007... 92
15. Perkembangan Persediaan Kayu Rimba Campuran (m3) Tahun 2007 93 16. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode yang Diterapkan Perusahaan Periode 2007... 96
17. Biaya Pembelian Kayu dengan Metode Perusahaan Tahun 2007... 96
18. Biaya Persediaan Kayu dengan Metode Perusahaan Tahun 2007 ... 97
19. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode LFL ... 99
21. Biaya pembelian Kayu dengan Metode MRP TeknikLot for Lot.... 100
22. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode EOQ 102 23. Biaya Persediaan Kayu dengan Metode MRP Teknik EOQ ... 103
24. Biaya Pembelian Kayu dengan Metode MRP Teknik EOQ... 103
25. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode PPB . 104 26. Biaya Persediaan Kayu dengan Metode MRP Teknik PPB ... 105
27. Biaya Pembelian Kayu dengan Metode MRP Teknik PPB... 106
28. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan Keempat Metode ... 107
29. Perbandingan Biaya Pembelian Kayu Keempat Metode... 108
30. Perbandingan Biaya Pemesanan Kayu Keempat Metode... 109
31. Perbandingan Biaya Penyimpanan Kayu Keempat Metode ... 110
32. Perbandingan Biaya Persediaan Kayu Keempat Metode ... 111
33. Perbandingan antar Metode Pengendalian Persediaan pada Keseluruhan Persediaan Kayu ... 112
34. Persentase Penghematan Frekuansi Pemesanan, Kuantitas Pemesanan, dan Biaya Pembelian Metode MRP Terhadap Metode Perusahaan... 114
35. Persentase Penghematan Biaya Pengendalian Persediaan Metode MRP Terhadap Metode Perusahaan ... 115
36. Perbandingan Penghematan antara Metode MRP Terhadap Metode Perusahaan ... 117
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Hubungan Biaya Pemesanan dan Biaya Persediaan ... 41 2. Perubahan Tingkat Pemesanan Kembali (EOQ Back Order Inventory) . 44 3. Perubahan Persediaan Sepanjang Waktu dengan Pemesanan Kembali .. 45 4. Kerangka Pemikiran Operasional ... 50 5. Proses Perencanaan Pengadaan Persediaan Kayu... 81 6. Skema Alur Pengadaan Bahan Baku ... 83
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Struktur Organisasi Perusahaan PT Andatu Lestari Plywood ... 112 2. Perhitungan EOQ Bahan Baku Kayu Meranti dan Kayu
Rimba Campuran ... 113 3. Perhitungan Persediaan Bahan Baku Kayu Rimba Campuran
dengan Metode MRP Teknik EOQ ... 114 4. Perhitungan Persediaan Bahan Baku Kayu Meranti dengan
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki wilayah hutan yang cukup luas yaitu 143 juta hektar menurut mantan Menhutbun Muslimin Nasution. Hasil dari produksi hutan Indonesia merupakan suatu produk unggulan dibandingkan negara lain. Sebagian dari hasil produksi produk hutan diekspor ke negara lain, hal ini dikarenakan produk kayu merupakan penghasil devisa dari sektor non migas. Produk hutan ini ditangani oleh industri pengolahan kayu, dimana industri ini merupakan barometer peningkatan perekonomian nasional dan faktor kunci dalam upaya penerimaan negara dari sektor kehutanan.
Sektor kehutanan pada dasarnya merupakan salah satu sektor yang memainkan peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini menjadi penyedia bahan baku utama bagi industri hilir yang terkait serta sebagai pembangkit sektor lain. Lebih dari 70 persen sektor lain tergantung kepada manfaat, fungsi dan keberadaan hutan. Dimulai pada tahun 1960-an melalui pemberian izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH), sektor ini terus berkembang melalui terobosan industri penggergajian dan kayu olahan. Pada tahun 1980-an menjadi pemasok 79 persen kebutuhan global. Pembangunan pada sektor kehutanan diantaranya melalui pengusahaan hutan dan hasil yang ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pertambahan nilai investasi, peningkatan kinerja ekspor, pendapatan devisa negara serta penciptaan peluang usaha dan penyerapan tenaga kerja. Perdagangan produk industri kayu olahan diorientasikan untuk keperluan ekspor. Industri kayu olahan untuk pasar ekspor mulai dikembangkan oleh perusahaan di Indonesia sesuai dengan kebijakan
pemerintah yang melarang ekspor kayu bulat dan mengizinkan ekspor kayu gergajian maupun kayu olahan lainnya melalui Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri tanggal 8 Mei 1980. Hal ini dilakukan secara bertahap dan pada tahun 1985 ekspor kayu bulat tidak diperkenankan lagi (Departemen Kehutanan, 2006).
Tabel 1. Produksi Kayu Hutan Menurut Jenis Produksi (m3), Tahun 2001-2005
Tahun Kayu Bulat Kayu Olahan Kayu Gergajian
2001 8.659.968 623.495 6439278
2002 10.051.481 674.868 3720545
2003 11.423.501 762.604 6439278
2004 13.548.938 432.967 6900552
2005 24.222.638 1.471.614 7193903
Sumber: Departemen Kehutanan, 2005
Pada Tabel 1 terlihat bahwa produksi kayu olahan terus mengalami peningkatan dari tahun 2001 hingga 2005, namun hal tersebut tidak mengakibatkan nilai ekspor kayu olahan juga meningkat. Pada tahun 2005 produksi kayu olahan naik 240 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya tetapi nilai ekspor kayu olahan di tahun tersebut malah menurun sebesar 87,31 persen, seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perkembangan Ekspor Hasil Hutan Tahun 2001-2006
Kayu Bulat Kayu Olahan Kayu Gergajian Tahun Volume (m3) Nilai
(juta US$) Volume (m3) Nilai (juta US$) Volume (m3) Nilai (juta US$) 2001 36.945.473 5,62 192.038.327 89,48 6.043.604.615 2.486,26 2002 6.094.227 2,59 357.563.156 124,75 6.257.316.876 2.540,86 2003 599.814 0,24 202.497.760 85,84 6.094.972.174 2.515,63 2004 371.001 0,33 65.268.004 26,88 4.708.166.946 2.277,15 2005 314.111 0,19 9.999.918 3,41 5.207.332.273 2.401,66
Sumber : Departemen Kehutanan, 2006
Ekspor kayu olahan yang turun di tahun 2005, disebabkan karena tahun 2004 pemerintah mengeluarkan Surat keputusan Bersama (SKB) Menteri Kehutanan dan Menteri Perindustrian yang mengatur pelarangan ekspor kayu
olahan dengan ukuran dan ketebalan melebihi 6 mm. Kebijakan tersebut bertujuan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi. Nilai tambah tersebut diantaranya untuk memacu peningkatan ekspor dari pengolahan kayu industri hilir yang akan mengoptimalkan pemanfaatan hutan tanpa mengganggu kelestariannya.
Untuk meningkatkan ekspor kayu olahan di pasar internasional dengan kondisi peraturan yang sangat ketat, maka peluang untuk tetap mempertahankan ekspor kayu olahan Indonesia adalah dengan memproduksi beragam jenis produk. Produk hasil hutan yang berhasil di ekspor terutama berupa kayu olahan seperti plywood, kayu gergajian, woodworking, blockboard, pulp, kertas, dan veneer. Volume dan pemasukan devisa dari produk kayu olahan yang berhasil di ekspor ke berbagai negara disajikan pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Volume Ekspor Produk Kayu Olahan Indonesia Tahun 2006
Produk Kayu Volume (m3) Nilai (juta US $) Negara Tujuan Utama
Plywood 930.354 315,21 Jepang (38%) Pulp 660.945 105,67 Singapura (53%) Blockboard 407.945 34,05 Afrika (61%) Kertas 208.774 162,51 Asia (60%) Woodworking 153.500 66,52 Jepang (42%) Chipwood 42.348 1,65 Taiwan (100%)
Kayu Gergajian 12.314 5,19 Asia (88%)
Veneer 9.860 2,23 Korea (48%)
Sumber: Departemen Kehutanan, 2006
Produk ekspor kayu olahan dari Indonesia di ekspor ke berbagai negara terutama negara Asia seperti Jepang, Singapura, Taiwan, Hongkong, China dan Korea. Sebagian lagi ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Kayu olahan terbesar diekspor ke negara Singapura dengan volume 10.929 m3 atau 88 persen dari total volume ekspor kayu olahan. Produk plywood terbesar di ekspor ke negara Jepang sebesar 354.455 m3 setara dengan 38 persen dari total volume eksporplywood.
Produksi hasil utama ekspor Indonesia pada tahun 1980 adalah plywood yang produksinya menunjukkan peningkatan secara drastis. Ini berkaitan dengan kebijakan larangan ekspor kayu bulat oleh Menteri Kehutanan. Kebijakan larangan ekspor kayu bulat berhasil mengembangkan industri plywood di Indonesia serta mengubah Indonesia dari eksportir kayu bulat terbesar menjadi eksportir utama kayu olahan. Pada tahun 1992, ekspor plywood mendapat hambatan keras dari pasar dunia. Untuk menghindari klaim Internasional yang menganggap kebijakan larangan ekspor kayu bulat sebagai non-tariff barrier, pemerintah mencabut kebijakan tersebut dan menggantinya dengan pajak ekspor yang tinggi (prohibitive export tax) sebesar USD 500-4800 per m3 kayu bulat dan mulai berlaku Juni 1992.
Menurut bea cukai Indonesia yang dikeluarkan Departemen keuangan RI, plywood dibedakan empat jenis yaitu : HS No. 4412.13.000, HS No. 4412.14.000, HS No. 4412.19.100, dan HS No. 4412.19.900, yang masing-masing dikenakan Tarif Bea Masuk sebesar 10 persen dan pajak Penambahan Nilai (PPn) sebesar 10 persen. Semenjak pemberlakuan pajak ekspor yang tinggi, ekspor plywood Indonesia juga terganggu oleh berbagai kendala, sehingga cenderung mengalami penurunan yang disebabkan adanya ekspor illegal logging. Selain itu, kondisi ini juga diperburuk dengan tidak stabilnya harga komoditas plywood di dunia, sehingga tidak mudah bagi Indonesia untuk meningkatkan perolehan devisa tanpa menambah volume ekspornya serta fluktuasi nilai tukar yang mempengaruhi kondisi pertumbuhan ekspor kayu lapis di Indonesia pada saat krisis moneter.
Industri kayu olahan merupakan salah satu sektor yang menghasilkan devisa bagi negara, sehingga upaya peningkatan industri ini perlu dilakukan.
Namun kebutuhan bahan baku alam dirasakan semakin sulit karena ketersediaanya yang semakin menipis. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan kayu Indonesia perlu menghidupkan atau mengaktifkan kembali lahan krisis. Perusahaan juga harus melakukan efisiensi atas penggunaan sumberdaya yang dimiliki perusahaan. Selain itu juga industri pengolahan kayu dapat menggunakan jenis kayu lain sebagai bahan baku alternatif. Banyaknya jenis tanaman alternatif yang tersedia di hutan tanam, harus benar-benar dimanfaatkan sehingga ekspor kayu olahan Indonesia dapat meningkat kembali.
Pentingnya suatu perusahaan mengetahui jumlah pembelian dan persediaan bahan baku yang tepat adalah karena jumlah persediaan yang terlalu besar maka dapat mengakibatkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Jika persediaan bahan baku yang diterapkan perusahaan terlalu kecil maka dapat menyebabkan terjadinya kekurangan persediaan bahan baku sehingga dapat menghambat kelancaran kegiatan produksi di perusahaan dan dalam hal ini PT. Andatu Lestari Plywood (ALP) juga sering mengalami hambatan dalam persediaan bahan baku kayu di perusahaan.
PT. ALP merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang hasil hutan, produk yang dihasilkan antara lain plywood. PT ALP mendatangkan dan membeli kayu dari daerah Lampung, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan Irian. Umumnya berasal dari Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK), dan darisuplier yang telah menjalin kerja sama dengan PT ALP.
Perencanaan pengadaan bahan baku perlu dilakukan dari berbagai sumber agar kapasitas pabrik tetap terpenuhi sekaligus dapat mencapai tujuannya yaitu memaksimalkan keuntungan. Jika dilihat dari struktur biaya produksinya,
komponen biaya terbesar adalah biaya bahan baku yang hampir mencapai 80 persen dari total biaya produksinya, sehingga sangat penting untuk membuat perencanaan pengadaan bahan baku untuk menekan biaya produksi totalnya.
1.2 Perumusan Masalah
Perusahaan selama ini telah melakukan perencanaan persediaan bahan baku kayu. Perencanaan bahan baku kayu tersebut dilakukan oleh bagian Divisi Manajemen Bahan Baku (DMBB), namun perencanaan kebutuhan bahan baku kayu yang dilakukan belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari sejarah perusahaan dimana pada tahun 2005 sampai 2006, perusahaan pernah kesulitan memperoleh bahan baku kayu akibat ketidakmampuan suplier memenuhi kebutuhan kayu perusahaan. Penjelasan tentang kekurangan bahan baku tersebut dapat anda lihat pada Tabel 4. Untuk mengatasi agar tidak terjadi kekurangan bahan baku kayu maka perusahaan menetapkan kebijakan baru yaitu mencari beberapasuplier baru untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu perusahaan dan menetapkan pembelian kayu dalam jumlah besar yaitu 25.000 m3 yang melebihi jumlah kapasitas mesin sebesar 18.000 m3, ternyata kebijakan tersebut berdampak pada tingginya persediaan kayu digudang.
Tabel 4. Volume Pembelian dan Target Produksi Bahan Baku Kayu pada PT. ALP Tahun 2005-2006
Tahun Volume (m2) Target produksi (m2) Kekurangan Bahan Baku (m2)
2005 210.573 216.000 5.427
2006 213.000 216.000 3.000
Sumber: Bagian Pembelian, 2008
Permasalahan yang dialami oleh PT ALP saat ini adalah sulitnya untuk mendapatkan sumber bahan baku, sehingga harga bahan baku menjadi mahal dan
mengakibatkan biaya produksi menjadi tinggi. Faktor cuaca atau iklim yang buruk akan sangat berpengaruh dengan keterlambatan bahan baku yang didatangkan dari Kalimantan, Sulawesi, Irian dan Sumatera yang biasanya menggunakan angkutan kapal atau ponton. Sekarang ini banyak kayu yang sudah siap untuk diangkut tetapi karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk melakukan pengangkutan sehingga kayu tidak bisa sampai ke pabrik tepat pada waktunya. Kebijakan pemerintah yang membatasi jatah tebang tahun secara nasional juga menjadi salah satu penyebab tidak tercapainya target PT ALP, oleh karena itu perlu efisiensi dalam penggunaan bahan baku dan juga berusaha mencari alternatif lain dalam pemanfaatan kayu yang kurang dikenal.
Berdasarkan uraian di atas maka dirumuskan suatu permasalahan yang akan diteliti yaitu:
1. Bagaimana sistem pengadaan bahan baku yang terdapat dalam perusahaan? 2. Adakah metode pengendalian persediaan bahan baku yang menjadi alternatif
bagi perusahan untuk dapat mencapai efisiensi?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah:
1. Mendiskripsikan sistem pengadaan bahan baku yang terdapat dalam perusahaan.
2. Menganalisis pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan di perusahaan melalui perbandingan pengendalian persediaan bahan baku dengan metode EOQ.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang diharapkan diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai masukan terhadap manajemen perusahaan terutama dalam sistem pengadaan bahan baku. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan masukan dan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Plywood (kayu lapis)
Kayu lapis adalah panel yang dihasilkan dengan merekat satu atau lebih venir pada kedua permukaan atau kayu utuh sebagai inti, dimana arah susunan seratnya saling tegak lurus antara lapisan inti dan lapisan muka (Haygree-Bowyer dalam Nurdiana, 2003).
Menurut Kamil dalam Nurdiana (2003) kayu lapis merupakan beberapa venir yang direkat menjadi satu arah serat yang bersilangan. Kayu lapis yang terdiri dari tiga lapis disebut dengan tripleks sedangkan kayu lapis yang lebih dari tiga lapis disebut dengan multitripleks yang jumlah venirnya ganjil seperti lima, tujuh dan sembilan.
Kayu lapis adalah salah satu panel kayu yang terbuat dari sejumlah lembaran venir yang dirakit satu sama lain sedemikian rupa dengan arah serat saling tegak lurus, kemudian dikempa dingin maupun kempa panas dengan tekanan kempa pada suhu tertentu sehingga dihasilkan lembaran kayu lapis yang kuat tahan lentur dan tahan pecah. Penyusunan venir dengan arah serat saling bersilangan tegak lurus tersebut adalah untuk menghilangkan sifat kembang susut, sehingga kekuatan dan kelemahan kayu akan didistribusikan ke dalam dua arah.
2.2 Macam-Macam Kayu Lapis
Menurut Sutigno (1989), kayu lapis dapat digolongkan menjadi lima macam atas dasar:
1. Jumlah Lapisan
Kayu lapis yang terdiri dari tiga lapisan disebut tripleks, sedangkan kayu lapis yang disusun lebih dari tiga lapisan disebut multitripleks.
2. Lapisan (core)
Secara umum yang disebut kayu lapis apabila semua lapisannya terbuat dari venir sedangkan papanblock adalah kayu lapis yang intinya terbuat dari kayu gergajian, papan partikel atau papan serat.
3. Penggunaannya
Kayu lapis yang penggunaannya umum disebut kayu lapis biasa atau kayu lapis mentah. Kayu lapis truktural adalah kayu lapis yang dipakai untuk komponen bangunan untuk memikul beban, yang termasuk dalam kayu lapis jenis ini adalah plyformdan marine plywood. Plyform adalah kayu lapis yang digunakan untuk cetakan beton, sedangkanmarine plywooddigunakan untuk konstruksi kapal laut. 4. Bahan Pelapis Salah Satu Sisi Permukaan
Kayu lapis indah adalah kayu lapis yang salah satu permukaannya diberi bahan lain agar penampilan lebih indah. Bahan ini dapat berupa venir yang berasal dari kayu yang becorak indah, cat, kertas atau polivinil.
5. Berdasarkan Bentuk
Secara umum bentuk kayu lapis adalah datar, tetapi adapula kayu lapis yang berbentuk lengkung seperti tempat duduk, sandaran kursi, kaki asbak, mangkok, sendok dan garpu. Kayu lapis demikian disebutmoulded plywood.
Menurut Asosiasi Kayu Panel Indonesia (1984) berdasarkan kelompok kayu bahan bakunya dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu:
1. Kayu lapis kayu lunak (softwood plywood) dimana bahan bakunya terdiri dari jenis kayu lunak, seperti kayu Pinus, Birch, dan lain-lain. Kayu lapis ini disebut juga kayu lapis daun jarum.
2. Kayu lapis kayu keras (hardwood plywood) atau kayu lapis berdaun lebar yang bahan bakunya terdiri dari kayu keras dan berdaun lebar seperti kayu Meranti dan Keruing.
Menurut Haygreen dan Bowyer dalam Nurdiana, (2003) berdasarkan perekat yang digunakan kayu lapis dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu:
1. Kayu Lapis Eksterior
Kayu lapis jenis ini mempunyai ketahanan terhadap perubahan cuaca diluar ruangan dan tahan terhadap perebusan, yang dipergunakan di tempat-tempat terbuka atau berhubungan langsung dengan pengaruh luar, seperti untuk pintu. Perekat yang digunakan untuk kayu lapis ini antara lain Phenol Formaldehyde,Resolsinol Formaldehyde dan campuran kedua perekat tersebut. 2. Kayu Lapis Interior
Kayu lapis ini memiliki sifat tahan lembab yang dipergunakan hanya untuk dalam ruangan atau di bawah atap yang tidak berhubungan langsung dengan pengaruh luar atau panas. Perekat yang digunakan adalah Urea Formaldehyde, Melamine Formaldehydedan kombinasi keduanya.
2.3 Bahan Baku
Bahan baku merupakan salah satu komponen pokok dalam kegiatan produksi untuk pembuatan kayu lapis. Bahan baku secara terus menerus harus
didatangkan agar perusahaan bisa berproduksi secara berkesinambungan sehingga pembelian bahan baku harus dilakukan secara rutin. Konsumsi kayu sebagai bahan baku utama untuk industri tersebut menyerap sekitar 46,4 persen dari produksi total kayu setiap tahunnya (Departemen Kehutanan, 2006). Sedangkan jenis kayu yang paling banyak digunakan dalam industri ini adalah jenis Meranti dan Rimba Campuran yang merupakan tanaman industri yang berasal dari hutan alam. Jenis tersebut selain memiliki tekstur dan warna kayu yang bagus, juga dapat digunakan untuk membuat bermacam-macam produk, sehingga sangat disukai pasar luar negeri.
Ukuran dan jenis kayu yang akan diproduksi beraneka ragam, sehingga perlu dikelompokkan berdasarkan kelas diameternya. Tujuan dari pengelompokan ini untuk mempermudah dalam penetapan mesin yang akan digunakan untuk mengupas kayu tersebut sesuai dengan diameternya. Ukuran kayu yang dikelompokkan adalah:
1. Log besar (diameter log diatas 30 cm) 2. Log kecil (diameter log diatas 25 cm)
3.Sawn timber dengan ketebalan 5 cm, lebar 8 cm, panjang diatas 1 meter
2.4 Pemasaran Produk
Pemasaran produk kayu olahan lebih ditujukan untuk pasar luar negeri, banyak dari perusahaan kayu olahan yang menjual produksinya, yaitu 60 persen ditujukan untuk memenuhi permintaan konsumen luar negeri. Penjualan produk olahan ke luar negeri tersebut hanya dapat dilaksanakan oleh perusahaan yang termasuk Eksportir Terdaftar Kayu Gergajian dan Kayu Olahan (ETKGO) dan telah mendapat pengakuan dari Dirjen Luar Negeri.
Pemasaran produk kayu olahan termasuk ke dalam kelompok barang yang diatur tataniaga ekspornya. Menurut surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 331/Kp/XII/1987, produk yang diatur tataniaga ekspornya adalah produk tekstil, kayu gergajian dan olahannya, kayu cendana, laka dan gaharu, migas dan timah. Perusahaan kayu olahan dalam mengekspor produknya dituntut untuk memiliki jaringan atau channel pasar yang kuat, pasaran yang kontinu, dan kemampuan bersaing. Selama ini pasar ekspor terbesar untuk produk kayu olahan Indonesia adalah Jepang. Pada tahun 2005 total ekspor produk tersebut ke Jepang mencapai nilai 66,52 juta US$ dengan volume 153.900 m3 (Departemen Kehutanan, 2006). Selain negara Jepang, negara Taiwan, Singapura, USA dan Italia juga merupakan beberapa pasar potensial lainnya untuk produk kayu olahan Indonesia.
Berkaitan dengan pemasaran produk, maka ada beberapa kendala pemasaran yang harus dihadapi oleh produsen kayu olahan Indonesia. Pada saat ini, kendala pemasaran yang dihadapi diantaranya adalah masih banyak terdapat perusahaan yang belum memiliki jaringan pasar yang kuat, adanya persaingan pasar ekspor yang cukup ketat sehingga banyak produsen Indonesia yang menghadapi kesulitan dalam memasarkan produknya. Selain itu standar kualitas produk yang dihasilkan masih belum jelas, maka hal ini sangat menyulitkan pihak produsen Indonesia untuk dapat mengikuti selera pasar. Sebagai salah satu produsen kayu olahan untuk pasar dunia, negara Indonesia mempunyai peluang yang cukup cerah. Hal ini karena pada saat ini industri kayu olahan merupakan industri yang sedang berkembang dan permintaan pasar dunia akan produk ini sangat tinggi (Departemen Kehutanan, 2006).
2.5 Penelitian Terdahulu
Tabel 5 menunjukkan beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian terdahulu mengenai pengendalian persediaan bahan baku kayu. Posisi penelitian yang dilakukan adalah memperkaya penelitian terdahulu yang relevan.
Tabel 5. Penelitian Terdahulu Yang Relevan Mengenai Pengendalian Persediaan Bahan Baku
No Nama Judul Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 1. Suprehatin (2002) Kajian Pengendalian Persediaan Rotan Sebagai Bahan Baku Furniture pada PT. Kudus Istana Furniture, Kudus Metode MRP dengan teknik LFL, EOQ dan PPB
Metode yang dipilih adalah PPB. Metode ini menghasilkan banyak penghematan pada beberapa kriteria dengan penghematan tinggi dan mendukung manajemen yang diterapkan oleh perusahaan.
2. Nurdiani (2003) Upaya Pengendalian Persediaan Kayu Bulat dengan Biaya Persediaan
Minimum untuk Bahan Baku Olahan
MRP dengan Teknik EOQ, LFL dan PPB
Metode yang direkomendasikan adalah PPB, karena metode menghasilkan pengehematan biaya persediaan lebih besar.
3. Sirait (2004) Analisis Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu (Studi Kasus Di PT Daisen Wood Frame) Metode MRP, LFL EOQ dan PPB
Metode MRP teknik EOQ menghasilkan penghematan biaya persediaan dalam jumlah besar, meskipun penghematan lebih kecil jika dibandingkan dengan LFL dan PPB.
4. Syahru (2004) Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu pada PT Jaya Cemerlang Industri di Kec. Panongan, Tangerang, Banten MRP dengan Teknik EOQ, LFL, dan PPB
Metode LFL merupakan metode alternatif untuk penyediaan kayu Pinus dibanding dengan yang lainnya.
5. Lestari (2007) Analisis Pengendalian Pesediaan Bahan Baku Kayu Sengon di PT Binautama Kayone Lestari, Tasikmalaya Metode JIT Yang disimulasi kan dengan model ARIMA
Berdasarkan hasil perhitungan, sebaiknya perusahaan menggunakan metode JIT dengan persediaan penyangga karena metode ini mengeluarkan biaya yang rendah.
2.5.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan Mengenai Kayu Lapis
Suprehatin (2002) meneliti tentang Kajian Pengendalian Persediaan Rotan Sebagai Bahan Baku Furniture pada PT. Kudus Istana Furniture, Kudus. Tujuan dari penelitian ini 1). Mempelajari sistem pengadaan bahan baku dan kebijakan yang dilakukan perusahaan dalam pengendalian persediaan bahan baku, 2). Menganalisis pengendalian persediaan bahan baku oleh perusahaan yang optimum.
Hasil perbandingan antara metode perusahaan dengan metode MRP pada setiap jenis rotan diperoleh penghematan rata-rata terbesar berturut-turut adalah metode PPB, EOQ, dan LFL. Penghematan biaya persediaan tertinggi pada tiap jenis rotan terdapat pada metode PPB, masing-masing pada rotan poles manau (56,75 %), asalan manau (54,66 %), core (74,64%) dan asalan slimit (74,32%). Penghematan biaya pemesanan tertinggi pada tiap jenis rotan terdapat pada metode PPB. Pada metode LFL ada yang tidak terjadi penghematan biaya pemesanan yaitu pada rotan asalan buaya (-27,77%). Metode yang dipilih adalah PPB. Hal yang mendasari rekomendasi tersebut adalah 1). Metode PPB menghasilkan banyak penghematan pada beberapa kriteria dengan penghematan tinggi kecuali untuk biaya penyimpanan. 2) metode dapat mendukung manajemen yang diterapkan oleh perusahaan dalam persediaan rotan digudang sebagai antisipasi adanya kerusakan rotan dan adanya kebutuhan mendadak.
Nurdiani (2003), meneliti tentang Upaya Pengendalian Persediaan Kayu Bulat dengan Biaya Persediaan Minimum untuk Bahan Baku Olahan. Penghematan rata-rata terbesar berturut-turut adalah teknik PPB, LFL, dan EOQ. Penghematan biaya persediaan tertinggi pada kayu Sengon terdapat pada teknik
LFL (48,99%), sedangkan pada kayu Pinus terjadi pada teknik PPB (44,50%). Penghematan biaya pemesanan tertinggi pada kayu Sengon terdapat pada teknik PPB (44,23%), begitu pula pada kayu Pinus, penghematan terbesar biaya pemesanan terjadi pada teknik PPB (64,00%). Sementara itu, penghematan biaya penyimpanan tertinggi pada kayu Sengon terdapat pada LFL (97,00%), dan kayu Pinus juga terjadi pada teknik LFL (100.00%).
Setiap metode terdapat biaya-biaya tertentu pada kayu Pinus yang tidak terjadi penghematan. Pada teknik LFL tidak terjadi penghematan biaya pemesanan (-84,00%) dan biaya persediaan (31,46%). Pada teknik EOQ tidak terjadi penghematan biaya penyimpanan (-16,71%), dan pada teknik PPB tidak terjadi penghematan biaya penyimpanan (-4,29%). Secara keseluruhan pada tiap metode MRP terjadi penghematan biaya persediaan. Untuk penghematan biaya persediaan tertinggi yaitu pada teknik PPB (41,64%), LFL (22,38%), dan EOQ (21,33%). Jadi berdasarkan analisis yang dilakukan, teknik PPB bisa direkomendasikan sebagai alternatif pengendalian persediaan kayu bagi perusahaan.
Sirait (2004), meneliti tentang Analisis Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu (Studi Kasus di PT Wood Frame). Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengendalian persediaan bahan baku kayu pada PT. Daisen Wood Frame, sedangkan secara khusus adalah :1) mempelajari sistem Pengadaan bahan baku dan kebijakan yang dilkaukan perusahaan dalam pengendalian persediaan, 2) menganalisis pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan. Metode yang digunakan adalah MRP dengan teknik Lot For Lot (LFL), EOQ danPart Period Balancing (PPB). Perhitungan dengan
menggunakan LFL dan PPB menghasilkan penghematan biaya paling besar, tetapi teknik ini tidak dapat diterapkan karena tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang menginginkan adanya persediaan bahan baku kayu. Berdasarkan seluruh hasil penelitian yang telah dilakukan tersebut, menunjukkan bahwa metode MRP sangat cocok digunakan untuk tipe permintaan terikat. Metode ini secara tidak langsung konsisten dengan stabilitas produksi, karena metode ini persediaan bahan baku sesuai dengan rencana kabutuhan sehingga terhindar dari pemborosan pembelian dan kekurangan persediaan yang pada akhirnya dapat memperlancar kegiatan produksi perusahaan.
Metode MRP teknik EOQ menghasilkan penghematan biaya persediaan dalam jumlah besar, meskipun penghematan lebih kecil jika dibandingkan dengan LFL dan PPB. Tetapi teknik EOQ sangat cocok diterapkan perusahaan karena memberikan ukuran lot yang ekonomis serta mempertimbangkan minimisasi biaya persediaan, teknik EOQ juga menyediakan persediaan yang cukup untuk mengantisipasi jika suatu saat terjadi kekurangan bahan baku.
Syahru (2004) menganalisis tentang Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu pada PT Jaya Cemerlang Industri. Penghematan biaya persediaan tertinggi berturut-turut adalah pada kayu Pinus terdapat pada teknik LFL (44,30%) sedangkan kayu Prupuk terjadi pada metode perusahaan. Penghematan biaya pemesanan tertinggi pada kayu Pinus terdapat pada teknik EOQ dan PPB (28,00%). Sedangkan pada kayu Prupuk, penghematan terbesar biaya pemesanan terjadi pada metode perusahaan. Sementara itu, penghematan biaya penyimpanan tertinggi pada kayu Pinus terdapat pada teknik LFL (91,93%), dan pada kayu Prupuk juga terjadi pada teknik LFL (11,72%). Pada kayu Pinus
terjadi penghematan biaya persediaan. Urutan penghematan biaya persediaan tertinggi yaitu pada teknik LFL (44,30%), dan PPB (43,16%). Hal ini berarti kedua metode MRP tersebut dapat dijadikan alternatif model dalam pengendalian persediaan bahan baku pada PT Jaya Cemerlang Industri. Berdasarkan berbagai pertimbangan yang telah diuraikan diatas, maka teknik LFL merupakan metode alternatif terbaik untuk persediaan kayu Pinus dibanding dengan yang lainnya.
Lestari (2007), menganalisis tentang Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Sengon di PT Binautama Kayone Lestari, Tasikmalaya. Berdasarkan hasil perhitungan biaya persediaan bahan baku metode perusahaan dan simulasi metode JIT, dapat diketahui bahwa kebijaksanaan perusahaan dalam pengendalian persediaan bahan baku selama ini ternyata belum optimal dan biaya yang terjadi belum minimum. Dari hasil perhitungan pengendalian persediaan bahan baku dengan menggunakan metode JIT yang disimulasikan diperoleh bahwa biaya persediaan sebesar Rp 147.343,523 per hari, sedangkan biaya persediaan dengan metode perusahaan sebesar Rp 533.980,074 per hari. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa metode JIT dapat memberikan biaya persediaan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan metode yang dijalankan perusahaan selama ini.
Dalam metode JIT tersebut dilakukan perhitungan metode JIT dengan persediaan penyangga dan metode JIT dengan kekurangan maksimum. Kekurangan maksimum yang terjadi adalah sebesar 273,542 m3, sehingga besarnya persediaan penyangga yang harus disediakan perusahaan setiap harinya adalah sebesar kekurangan maksimum tersebut. Metode JIT dengan persediaan penyangga menghasilkan biaya persediaan bahan baku sebesar Rp185.362,244 per hari. Sedangkan metode JIT dengan persediaan kekurangan persediaan
menghasilkan biaya persediaan bahan baku sebesar Rp 27.686.996,557 per hari. Dari kedua metode tersebut yang dapat memberikan biaya persediaan paling minimum adalah metode JIT dengan persediaan penyangga.
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, maka sebaiknya dalam pengendalian persediaan bahan bakunya, PT Binautama Kayone Lestari menggunakan metode Just-in-Time dengan persediaan penyangga. Dengan metode ini, perusahaan mengeluarkan biaya persediaan bahan baku yang lebih rendah dibandingkan dengan metode pengendalian persediaan yang selama ini dijalankan oleh perusahaan.
Perbedaan penelitian ini dengan sebelumnya adalah dari alat analisis, produk dan lokasi. Kebijakan yang dilakukan tergantung dari kondisi perusahaan, selain dipengaruhi oleh kapasitas produksinya juga kebijaksanaan manajemen dalam menjalankan perusahaannya, sehingga metode MRP dengan teknik LFL, EOQ dan PPB hasilnya tidak mutlak sama.
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Bahan Baku
Bahan baku merupakan salah satu komponen pokok dalam kegiatan produksi. Bahan baku merupakan bahan utama untuk membuat suatu produk dan merupakan faktor penunjang dalam kelancaran suatu proses produksi (Reksoadipadjo dan Sudarmo, 1984). Menurut Assauri (1999), bahan baku membentuk bagian menyeluruh dari produk jadi. Penggunaan bahan baku yang berkualitas akan menghasilkan produk yang berkualitas pula, akan tetapi ketersediaan bahan baku kayu yang berkualitas menjadi sulit. Bahan baku yang digunakan untuk kebutuhan produksi menggunakan bahan baku utama yaitu kayu bulat dan bahan baku pembantu (perekat). Masalah yang sering dihadapi industri pemanfaatan hasil hutan adalah masalah ketersediaan bahan baku kayu, baik jumlah maupun kualitasnya, masalah lain yang dihadapi perusahaan adalah ketidakpastian waktu datang bahan baku darisuplier.
Berdasarkan atas cara perolehannya, bahan baku dapat dibedakan menjadi kelompok bahan baku yang dibeli dan bahan baku yang dihasilkan sendiri oleh perusahaan. Pertimbangan untuk memilih sumber bahan baku adalah ketersediaan bahan baku dipasar dan harga yang diterima (Cakraningrum, 2000). Bahan baku yang digunakan dalam suatu industri kayu lapis yang utama adalah kayu bulat. PT. ALP mendatangkan dan membeli kayu dari berbagai sumber yaitu dari Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK), suplier yang telah menjalin kerja sama dengan PT ALP, dan Hutan Rakyat. Bahan baku yang
bersumber dari hutan rakyat sebanyak 200 m3/hari setiap pembelian, sehingga kebutuhan dalam sebulan ± 5400 m3, sedangkan pembelian yang berasal dari HPH sendiri yaitu sebesar ± 5000 m3, dengan frekuensi pembelian adalah dua kali pembelian dalam sebulan.
3.2 Persediaan
Menurut Assauri (1999) sistem persediaan merupakan serangkaian kebijaksanaan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan. Pada dasarnya persediaan akan memperlancar jalannya operasi perusahaan yang harus dilasanakan secara kontinu. Tanpa adanya persediaan para pengusaha akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya suatu waktu tidak dapat memenuhi permintaan para pelanggan. Oleh karena itu persediaan mempunyai arti dan peranan yang sangat penting dalam perusahaan.
3.2.1 Arti dan Peranan Persediaan
Pengertian persediaan menurut Subayang (2003) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya yang disimpan dalam antisipasinya sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang.
Pengertian persediaan menurut Assauri (1999) adalah suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam periode usaha yang normal, atau persediaan barang-barang yang masih dalam proses produksi, atau persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Menurut Render dan Stair (1994) persediaan merupakan semua sumber daya yang disimpan, yang digunakan untuk memberi
kepuasan baik pada kebutuhan sekarang maupun yang akan datang. Manfaat persediaan menurut Render Dan Stair (1994) adalah:
1. Fungsi pemutus (the decoupling function) dalam proses produksi. Jika perusahaan tidak menyimpan persediaan akan terjadi banyak penundaan dan inefisiensi. Sebagai contoh ketika suatu aktivitas produksi harus diselesaikan sebelum aktivitas produksi kedua bisa dimulai, sedangkan perusahaan tidak menyimpan persediaan diantara proses (work in process) maka kegiatan produksi bisa berhenti.
2. Proteksi terhadap inflasi. Terkadang lebih baik menyimpan investasi dalam bentuk persediaan tetapi tentu saja harus diperhitungkan biaya pemeliharaan dan penyimpanan persediaan.
3. Ketika supply dan permintaan yang tidak seperti biasa terjadi, maka persediaan sangat penting khususnya untuk produk yang penjualannya tergantung pada musim dan keadaan tertentu.
4. Memanfaatkan diskon kuantitas. Pembelian dalam jumlah yang besar dapat mengurangi biaya produk, tetapi hal ini tidak selalu menguntungkan.
5. Menghindari kehabisan stok. Bila hal ini seting terjadi maka pelanggan akan senang membeli produk lain untuk memuaskan kebutuhannya.
Menurut Assauri (1999), persediaan yang diadakan mulai dari bentuk bahan mentah sampai barang jadi, antara lain berguna untuk:
1. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan.
2. Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasar.
3. Mempertahankan stabilitas dalam operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi.
4. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut.
5. Membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaan atau penjualannya.
3.2.2 Fungsi Persediaan
Fungsi persediaan menurut Kusuma (2001) untuk masing-masing persediaan berbeda-beda. Persediaan bahan baku bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian produksi sebagai akibat fluktuasi pasokan bahan baku. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan musiman (seasonal inventoris) jika perusahaan menghadapi ketidakpastian dan diramalkan berdasarkan pengalaman atau data-data masa lalu. Disamping itu perusahaan juga sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang-barang selama periode pesanan kembali sehingga memerlukan persediaan pengaman (safety inventoris).
Menurut Subayang (2003) efisiensi operasional suatu organisasi dapat meningkat karena berbagai fungsi penting persediaan. Adapun fungsi persediaan yang dimaksud adalah:
1. Fungsi Decouping. Persediaan ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa tergantung pada suplier. Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman.
2. Fungsi Economic Lot Sizing. Melalui penyimpanan perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumber daya dalam kuantitas yang lebih besar sehingga mengurangi biaya per unit.
3. Fungsi antisipati. Persediaan antisipasi penting sekali agar kelancaran proses produksi tidak terganggu.
3.2.3 Tipe dan Jenis Persediaan
Secara teoritis menurut Viale (2000), komponen persediaan ada dua yaitu: (1) Persediaan berputar, (2) Persediaan pengaman. Persediaan berputar terdiri dari komponen-komponen paling aktif yang terdapat dalam persediaan (bergerak paling cepat). Sedangkan persediaan pengaman atau persediaan penyangga digunakan untuk melindungi dari fluktuasi permintaan atau pasokan. Persediaan ini terdiri dari persediaan yang disimpan untuk menyangga fluktuasi permintaan, perubahan dalam pesanan pelanggan, atau pengiriman yang terlambat dari pemasok.
Persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan menurut beberapa cara. Menurut Subayang (1999) persediaan dapat dibedakan berdasarkan jenis dan posisi barang tersebut dalam urutan mengerjakan produk yaitu:
1. Persediaan bahan baku (raw material stock) yaitu persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, barang-barang yang diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli suplier atau perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan pabrik yang menggunakannya.
2. Persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchase parts components stock) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari parts yang diterima
dari perusahaan lain, yang dapat secara langsung di-assembling dengan parts lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya.
3. Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan (suplies stock) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya proses produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.
4. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in process/progress stock) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam suatu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi.
5. Persediaan barang jadi (finished good stock) yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau perusahaan lain.
Menurut Assauri (1999), jika dilihat dari segi fungsinya persediaan dapat dibedakan atas:
1. Bath Stock atauLot Size Inventory yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang dibutuhkan pada saat itu.
2. Fluctuation Stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.
3. Anticipation Stock yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang
terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang meningkat.
Menurut Viale (2000), ada lima tipe dasar persediaan yaitu:
1. Bahan baku, mencakup semua komponen bahan langsung yang dibeli untuk menghasilkan produk akhir. Persediaan tipe ini dapat menambah nilai produk saat diproses lebih lanjut.
2. Barang setengah jadi, merupakan persediaan dalam proses untuk dirakit menjadi produk akhir.
3. Barang jadi, merupakan persediaan yang siap dikirim ke pusat distribusi, pengecer atau langsung ke pelanggan.
4. Persediaan distribusi, merupakan persediaan yang disimpan pada titik atau lokasi sedekat mungkin dengan pelanggan. Biasanya menunggu untuk dikirim ke pelanggan akhir.
5. Barang pemeliharaan, perbaikan dan operasi (MRO Suplies). Umumnya barang persediaan ini mempunyai biaya yang rendah, seperti: alat tulis kantor dan barang untuk operasional dan pelayanan.
Menurut Rangkuty (1996) pembagian tipe persediaan yang utama dalam perencanaan persediaan dan pengendalian persediaan adalah berdasarkan sifat permintaan atas persediaan tersebut, sehingga dapat dibagi menjadi:
1. Permintaan bebas (independent) atas persediaan, yaitu jenis-jenis persediaan untuk barang akhir.
2. Permintaan terikat (dependent) atas persediaan, yautu jenis-jenis persediaan, komponen, bahan baku dan barang dalam proses yang digunakan dalam
produksi untuk produk akhir. Permintaan untuk jenis barang terikat ini tergantung atas permintaan dari jenis barang dengan permintaan bebas.
3.2.4 Biaya Persediaan
Biaya persediaan secara umum terdiri dari biaya penyimpanan, biaya pemesanan, biaya penyiapan dan biaya kekurangan bahan (Subayang, 2003). 1. Biaya Penyimpanan (Holding Cost)
Biaya penyimpanan merupakan biaya yang harus ditanggung sehubungan dengan adanya bahan baku yang disimpan. Biaya penyimpanan yaitu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menangani dan menyimpan kayu lapis sebagai produk jadi. Besarnya biaya penyimpanan berhubungan secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas persediaan semakin besar atau rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya penyimpanan antara lain:
a. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan. b. Biaya pengemasan
c. Biaya listrik
d. Biaya modal, yaitu alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan.
e. Biaya keusangan.
f. Biaya asuransi persediaan. g. Biaya pajak persediaan.
h. Biaya penanganan persediaan dan sebagainya.
2. Biaya Pemesanan (Ordering Cost)
Biaya pemesanan merupakan biaya yang terkait langsung dengan kegiatan pemesanan. Biaya pemesanan yaitu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam mengadakan log. Biaya pemesanan semakin besar jika frekuensi
pemesanan semakin sering, namun tidak dipengaruhi oleh kuantitas yang dipesan. Biaya pemesanan terdiri dari:
a. Pemrosesan pesanan b. Upah
c. Biaya telepon/fax
d. Pengeluaran surat-menyurat e. Biaya transportasi
f. Biaya bongkar muat
g. Biaya pengiriman kegudang
3. Biaya Penyiapan(Set Up Cost)
Bila bahan baku tidak dibeli tetapi diproduksi sendiri dalam pabrik perusahaan, perusahaan menghadapi biaya-biaya penyiapan untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya itu meliputi:
a. Biaya-biaya mesin menganggur. b. Biaya persiapan tenaga kerja langsung. c. Biayascheduling.
d. Biaya ekspedisi.
4. Biaya Kehabisan atau Kekurangan Bahan
Biaya kekurangan bahan baku paling sulit diperkirakan. Biaya ini timbul bilamana persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan meliputi:
a. Kehilangan penjualan. b. Kehilangan pelanggan. c. Biaya pemesanan khusus. d. Biaya ekspedisi.
e. Selisih harga.
Menurut Assauri (1999), ada dua sistem yang umum dikenal dalam menentukan besarnya persediaan pada akhir periode:
1. Sistem periodik, yaitu perhitungan fisik jumlah persediaan akhir dilakukan setiap akhir periode.
2. Sistem perpetual, yaitu setiap mutasi dari persediaan sebagai akibat pembelian atau penjualan dicatat dalam kartu administrasi persediaannya, sehingga perhitungan secara fisik hanya dilakukan paling tidak setahun sekali.
Untuk memberikan nilai pada suatu persediaan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. First in First Out (FIFO), didasarkan atas asumsi bahwa barang yang sudah terjual dinilai menurut harga pembelian barang yang terdahulu masuk. Sedangkan persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terkahir masuk.
2. Last in First Out (LIFO), didasarkan atas asumsi bahwa barang yang terjual dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk, sehingga persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terdahulu. 3. Weight Average Method (Rata-rata Tertimbang), didasarkan atas asumsi
bahwa barang yang terjual maupun persediaan akhir dinilai menurut harga rata-rata.
3.3 Sistem Pengadaan Bahan Baku
Pengadaan bahan baku yang dilaksanakan suatu perusahaan merupakan kegiatan pembelian bahan baku secara aktual. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan sistem pengadaan bahan baku tersebut. Menurut Ahyari dalam
Suprehatin (2002), ada beberapa yang perlu diperhatikan dalam pengadaan bahan baku yaitu:
a. Berapa jumlah unit persediaan bahan baku yang akan disediakan dalam perusahaan.
b. Berapa jumlah bahan baku yang akan dibeli perusahaan.
c. Kapan perusahaan akan mengadakan pembelian kembali, apabila persediaan bahan baku perusahaan sudah menipis.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan bahan baku adalah jenis dan asal bahan baku, identifikasi kebutuhan bahan baku dan prosedur pembelian. Menurut austin dalam Suprehatin (2002), ada lima faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengadaan bahan baku yaitu:
1. Kuantitas bahan baku
Jumlah dan ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan merupakan hal yang penting untuk dapat mengahasilkan produk yang dibutuhkan segera ileh konsumen, sedangkan ketersediaan bahan baku pada suatu perusahaan dapat diadakan melalui pembelian atau pemesanan dan sistem persediaan. Tingkat pesanan yang ekonomis merupakan masalah dalam kuantitas. Pada umumnya penentuan kuantiatas bahan baku yang dibeli perusahaan berhubungan dengan usaha agar persediaan tidak melewati persediaan maksimum atau persediaan minimum.
2. Kualitas bahan baku
Merupakan salah satu faktor penentu kualitas suatu produk akhir, selain faktor proses pengolahan dan penyimpanan. Pengawasan kualitas bahan baku sangat
penting dalam pengendalian sehingga perlu ditetapkan suatu standar akan kualitas bahan baku.
3. Waktu
Faktor ini merupakan hal penting dalam pengadaan bahan baku di suatu perusahaan, khususnya bahan baku yang mudah rusak.
4. Biaya
Biaya yang minimum yang diharapkan dapat memaksimalkan keuntungan, begitu juga dengan biaya persediaan.
5. Organisasi
Organisasi pembelian bahan baku suatu perusahaan berbeda-beda tergantung dengan jenis bahan baku, volume kegiatan dan tanggung jawab bagian pembelian dengan pengawasan manajer lain.
3.3.1 Prosedur Pembelian
Kegiatan utama dalam pengadaan bahan baku adalah pembelian bahan baku, yang dilakukan sesuai dengan prosedur pembelian. Prosedur pembelian bahan baku yang dilakukan tiap-tiap perusahaan berbeda satu sama lain, tergantung dari jenis bahan baku, volume kegiatan dan pembebanan tanggung jawab persediaan pada masing-masing perusahaan (Assauri,1999).
Pembelian bahan baku dilakukan jika perusahaan tidak mampu memproduksi sendiri bahan baku tersebut. Prosedur pembelian adalah cara-cara pembelian bahan baku yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Menurut Assauri (1999) prosedur pembelian bahan baku di suatu perusahaan berbeda dengan perusahaan lainnya. Hal ini tergantung dari jenis bahan baku dan perlengkapan yang akan dibeli, volume kegiatan, serta pembebanan tanggung jawab persediaan.
Prosedur pembelian bahan baku yang dibeli dari pasar domestik lebih sederhana dibandingkan dengan bahan baku yang dibeli dari luar negeri. Jika persediaan bahan baku tidak dapat memenuhi kebuthan produksi, maka perlu pemesanan bahan baku kepada pemasok lain, dan ini menambah prosedur pemesanan. Pembelian juga dipengaruhi oleh bagian perusahaan yang terkait dengan persediaan. Semakin banyak bagian perusahaan yang terlibat dengan persediaan, maka semakin panjang pula prosedur pembeliannya. Prosedur pembelian adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh bagian-bagian di perusahaan dalam melakukan pembelian. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam prosedur pembelian (Manullang, 1994) yaitu: (1) Saat pemesanan, (2) Jumlah yang dipesan dan (3) Rekanan.
Pelaksanaan pemesanan amat tergantungpada kuantitas barang yang masih ada, rata-rata tingkat pemakaiannya dan jangka waktu pemesanan. Faktor-faktor lain yang harus diperhatikan adalah biya pemilikan dan penyimpanan, serta faktor resiko dan kerugian akibat kerusakan barang. Faktor-faktor ini kemudian dikombinasikan dalam perhitungan titik pemesanan kembali untuk setiap komponen persediaan. Keharusan untuk memesan kembali ditandai dengan menurunnya tingkat persediaan sampai titik pemesanan kembali.
Jumlah yang dipesan dapat ditetapkan secara matematis dan juga secara judgement (kebijaksanaan) untuk mendapatkan kuantitas pesanan ekonomis. Faktor yang dipertimbangkan disini meliputi tingkat pemakaian yang diperkirakan, biaya tetap dalam pemsanan, penerimaan dan pembayaran atas apa yang telah dibeli, biaya penyimpanan, bunga investasi, resiko kerusakan dan keausan, dan biaya pengangkutan. Dalam menentukan pilihan rekanan sebaiknya
dikaitkan dengan harga, syarat pembayaran, kualitas, keandalan, lokasi dan saat penyerahan pesanan yang dijanjikan. Menurut Assauri (1999), prosedur pembelian bahan baku meliputi:
1. Prosedur permintaan kebutuhan barang
Bagian dalam perusahaan yang memerlukan suatu jenis barang dapat meminta ke gudang dengan mengisi formulir Surat Permintaan Kebutuhan Barang (SPKB). SPKB ini dibuat dan diparaf oleh seksi yang bersangkutan dan ditandatangani oleh kepala bagiannya, ditujukan kepada kepala seksi gudang. SPKB ini dibuat dalam tiga rangkap (untuk kepala seksi gudang sebagai dasar pengeluaran barang, untuk perencanaan dan pengawasan sebagai bagian kontrol dan untuk arsip bagian yang meminta barang).
2. Prosedur permintaan pembelian barang
Apabila barang tidak tersedia di gudang, kepala seksi gudang mengisi dan menandatangani Surat Permintaan Beli (SPB) yang ditujukan kepada kepala bagian keuangan. SPB dibuat rangkap empat (untuk kepala bagian keuangan, perencanaan dan pengawasan sebagai kontrol, untuk arsip gudang dan untuk bagian urusan pembelian).
3. Prosedur pelaksanaan pembelian barang
Berdasarkan SPB yang diterima, kepala bagian keuangan mengadakan konsultasi dengan Manajer Administrsi Pembelian. Setelah penawaran harga dan penentuan supplier maka pemesanan barang siap dilakukan.
4. Prosedur penerimaan barang
Apabila barng-barang yang dibeli sudah sampai, maka barng-barang tersebut harus masuk gudang. Barang-barang yang diterima gudang terlebih
dahulu harus diperiksa dengan teliti mengenai jumlah sebenarnya yang diterima dan dibandingkan dengan surat pengantar danpacking list-nya serta kualitas dan ukuran barang yang diterima harus sesuai dengan kontrak.
Dari uraian diatas sangat jelas bahwa prosedur pembelian bahan baku sangat penting untuk diperhatikan agar bahan baku yang diterima sesuai dengan harapan, baik dari segi kuantitas, harga, maupun kualitasnya. Sehingga dengan adanya bahan baku dalam jumlah yang tepat dan kualitas yang baik, akan mengahsilkan produk yang sesuai dengan harapan.
3.4 Pengendalian Persediaan
Menurut Subayang (2003) pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting karena persediaan fisik perusahaan banyak melibatkan investasi rupiah terbesar dalam pos aktiva lancar. Bila perusahaan terlalu banyak menginvestasikan dananya dalam persediaan, maka mengakibatkan besarnya biaya penyimpanan. Sebaliknya jika perusahaan tidak mempunyai persediaan yang mencukupi dapat mengakibatkan terganggunya proses produksi.
Pengendalian persediaan merupakan suatu teori untuk mentukan prosedur optimal dalam penentuan jumlah bahan baku yang harus disimpan untuk memenuhi permintaan di masa yang akan datang. Menurut Assauri (1999) pengendalian persediaan dapat dikatakan sebagai kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi persediaan bahan baku. Pengendalian yang efektif dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan serta membantu tercapainya suatu tingkat efisiensi penggunaan uang dalam perusahaan. Fungsi utama pengendalian persediaan adalah menyimpan persediaan untuk melayani kebutuhan perusahaan akan bahan baku dari waktu kewaktu. Hal ini menunjukkan bahwa