• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN Analisis Pelaksanaan Wajib Daftar Perusahaan di Era Otonomi Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN Analisis Pelaksanaan Wajib Daftar Perusahaan di Era Otonomi Daerah"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

Analisis Pelaksanaan Wajib Daftar Perusahaan

di Era Otonomi Daerah

(2)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Latar Belakang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (WDP) mewajibkan kepada seluruh perusahaan di wilayah Republik Indonesia untuk mendaftarkan perusahaannya. Dengan adanya kebijakan tersebut setiap perusahaan yang ada di Indonesia diwajibkan untuk mendaftarkan perusahaannya ke instansi pemerintah, dalam hal ini melalui Kantor Pendaftaran Perusahaan yang ada di Kabupaten/Kota/Kotamadya dan seluruh Kantor Dinas/Suku Dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang Perdagangan atau Pejabat yang bertugas dan bertanggungjawab dalam pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di daerah.

Bagi pemerintah, WDP dapat dijadikan sumber informasi dalam membina dunia usaha di dalam negeri. Kemudian bagi swasta, informasi tersebut dapat digunakan dalam menemukan mitra bisnis di seluruh Indonesia sehingga diharapkan dapat pendorong peningkatan investasi di dalam negeri.

Setelah berjalannya UU RI No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, perkembangan WDP dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Pada tahun 2006, perusahaan yang melakukan wajib daftar perusahaan berjumlah 104.380 perusahaan, kemudian pada tahun 2012 menurun menjadi 898 perusahaan.

Kondisi ini menjadi permasalahan dalam program pemerintah yang ingin mengembangkan dan meningkatkan investasi di dalam negeri dan transparansi publik. Beberapa dugaan yang menyebabkan penurunan tingkat pelaksanaan WDP adalah karena kurang tegasnya sanksi yang dikenakan kepada perusahaan yang tidak melakukan WDP, mahalnya biaya pengurusan dan lamanya waktu pengurusan WDP.

Berpijak pada konteks di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yang akan diangkat dalam analisis ini, yaitu:

a. Bagaimana hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

b. Bagaimana efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah.

(3)

Tujuan Penelitian

a. Mengetahui hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

b. Mengetahui efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah.

c. Merekomendasikan kebijakan yang dapat mendukung terciptanya tertib wajib daftar perusahaan

Metodologi Penelitian

Analisis yang digunakan dalam melihat hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya bersifat descriptive evaluative dengan menggunakan dasar analisis ketentuan hukum normatif. Dalam melakukan analisis efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah digunakan metode analisis Regulatory Impact Assessment (RIA). RIA ini merupakan suatu alat evaluasi kebijakan dan sebuah metode yang bertujuan menilai secara sistematis pengaruh negatif dan positif regulasi yang sedang diusulkan ataupun yang sedang berjalan. RIA juga berfungsi sebagai alat pengambilan keputusan, karena didalam RIA itu sendiri terdapat suatu metode: a) yang secara sistematis dan konsisten mengkaji pengaruh yang ditimbulkan oleh tindakan pemerintah, dan b) mengkomunikasikan informasi kepada para pengambil keputusan.

Hubungan WDP Dengan Perundangan Lainnya serta Permasalahannya

Antara undang-undang WDP dengan UU PT ternyata salah satu pasalnya memiliki kontradiktif normatif sehingga menimbulkan masalah. Salah satu contohnya kedua undang-undang tersebut memiliki pengaturan yang tidak sama dimana dalam UU WDP diatur mengenai sanksi dengan ancaman melakukan suatu tindak pidana kejahatan atau pelanggaran apabila tidak mengikuti ketentuan UU WDP, sedangkan dalam UU PT baru tidak diatur tentang adanya sanksi.

Selain itu, dalam UU PT baru disebutkan pengajuan permohonan pendirian PT dan penyampaian perubahan anggaran dasar telah dilakukan secara online melalui sistem yang dikenal Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH). SABH berada di bawah kewenangan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum. Berkaitan dengan hal tersebut,

(4)

maka apakah perusahaan perlu mendaftarkan perusahaannya dalam rangka WDP apabila telah didaftaran di Kementerian Hukum dan HAM, hal ini perlu persamaan persepti semua pihak.

Disisi lain, implementasi WDP juga masih memiliki berbagai permasalahan, dan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) pokok permasalahan yaitu :

1) Implementasi sistem jaringan komputerisasi dan Program aplikasi WDP yang disediakan oleh Kementerian Perdagangan saat ini belum optimal karena :

a. Tidak mampu mengelola nomor penerbitan TDP secara otomatis, b. Tidak terintegrasi antar level organisasi pengelola data WDP,

c. Tidak memiliki kemampuan untuk memvalidasi keakuratan data secara otomatis dan

d. Tidak memiliki kemampuan untuk mengintegrasi dengan sistem yang dibangun oleh PTSP.

2) UU WDP secara hukum telah mengalami distorsi dari peraturan perundang-undangan lainnya sehingga mengubah pemahaman hukum terutama tentang kewajiban untuk melakukan WDP khususnya PT. Dasar hukum mengenai Lembaga/institusi tempat mendaftar dan tanggung jawab dari lembaga pengelola data WDP (pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah Kota/kabupaten dan Kantor Pendaftaran Perusahaan) juga telah mengalami distorsi sehingga tidak tegas menunjukkan tanggung jawabnya.

3) Kurangnya kemampuan dan jumlah Sumber Daya Manusia pengelola WDP terutama di bidang pendaftaran, pengelola data base, pengolah data, penganalisa data dan PPNS-WDP.

Pada tahap berikutnya tim memutuskan untuk menyelesaikan permasalahan difokuskan pada implementasi sistem jaringan komputerisasi dan program aplikasi WDP yang disediakan oleh Kementerian Perdagangan saat ini belum optimal karena permasalahan tersebut dianggap paling dominan dibandingkan masalah lainnya. Oleh karena itu kebijakan untuk pembenahan data perusahaan terkait WDP dilakukan melalui membangun jaringan komputerisasi dan program aplikasi WDP yang mampu menghasilkan data valid, akurat dan mudah pengoperasiannya di semua tingkat organisasi pengelola WDP (pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kota/kabupaten, KPP/Dinas/PTSP).

Langkah selanjutnya dilakukan identifikasi beberapa opsi untuk menyelesaikan masalah tersebut dan screening untuk mendapatkan opsi-opsi yang paling super. Melalui analisis biaya manfaat terhadap opsi-opsi yang dianggap

(5)

paling super, diperoleh opsi yang dianggap paling tepat dalam menyelesaikan permasalahan terkait implementasi jaringan adalah dengan menggunakan opsi memaksimalkan penggunaan jaringan komputerisasi dan program aplikasi WDP yang ada (perbaikan dari yang ada). Pemilihan menggunakan opsi tersebut karena memiliki keunggulannya dibandingkan opsi lainnya antara lain biayanya relatif tidak terlalu besar dibandingkan dengan opsi-opsi lainnya namun manfaatnya relatif sama dengan opsi unggulan lainnya.

Manfaat dari memaksimalkan penggunaan jaringan komputerisasi dan program aplikasi WDP yang ada antara lain : a) data TDP dari daerah disampaikan secara rinci, b) Pemerintah memiliki peta lembaga usaha sehingga pengambilan kebijakan menjadi lebih tepat, c) Pelaku usaha mendapatkan gambaran pesaing maupun peluang untuk berinvestasi, d) SDM di daerah menjdi lebih trampil karena adanya pelatihan. Biaya-biayanya antara lain : a) Pembelian sofware, b) Pelatihan SDM pengelolan Sofware di daerah dan Pusat, c) Biaya input di pusat dan daerah per tahun serta tim evaluasi.

Rekomendasi

Guna menyatukan pemahaman terhadap kewajiban pendaftaran perusahaan terkait dengan adanya materi yang kontradiktif antara UU WDP dengan UU PT, maka perlu dilakukan antara lain :

1. Sosialisasi terhadap pelaku usaha tentang pentingnya pendaftaran perusahaan perlu terus dilakukan. Hal ini perlu dilakukan untuk menyadarkan pelaku usaha yang belum patuh terhadap UU WDP.

2. Koordinasi antar kementerian yang terkait dengan pendaftaran perusahaan (Kementerian Perdagangan, Kementerian Hukum dan HAM, Pemda) perlu diintensifkan.

3. Implementasi sistem jaringan komputerisasi dan program aplikasi WDP dapat dilakukan pemerintah dengan cara antara lain :

a) Pemerintah pusat mendata kembali daerah-daerah yang mengirimkan maupun yang tidak mengirimkan data TDP terbaru baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy. Pendataan tersebut untuk mengatur strategi solusi bagi daerah yang mengirim maupun tidak, setelah itu diidentifikasi penyebabnya.

b) Mengadakan pelatihan serta pendampingan petugas pengelola WDP di daerah. Dengan memodifikasi aplikasi WDP yang ada sehingga

(6)

mempermudah petugas daerah dalam menginput data, maka diperlukan pelatihan bagi petugas di daerah.

c) Melakukan pendekatan kepada para pimpinan daerah dalam mengefektifan pengelolaan WDP di daerah. Pendekatan kepada pemimpin di daerah sangat diperlukan karena komitmen pimpinan daerah terhadap pendataan akan berdampak pada kelancaran program WDP.

d) Melakukan koordinasi dan sosialisasi secara kontinyu dengan pengguna dan pengelola WDP di daerah. Kegiatan ini perlu dilakukan karena sering terjadi perpindahan petugas di daerah.

e) Mengadakan evaluasi secara berkala kepada lembaga yang bertanggungjawab dalam mengelola WDP. Evaluasi sangat diperlukan untuk melakukan perbaikan terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat serta hidayahNya, laporan “ANALISIS PELAKSANAAN WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DI ERA OTONOMI DAERAH” dapat diselesaikan. Kegiatan ini dilatarbelakangi perkembangan WDP dari tahun ketahun mengalami penurunan. Perusahaan yang melakukan wajib daftar perusahaan dari tahun 2006 sampai dengan 2010 masing-masing sebesar 104.380, 91.753, 16.342, 7.651 dan 6.679. Akumulasi perusahaan yang mendaftar dari tahun 1985 sampai dengan bulan Desember 2012 yang tercatat di database Kementerian Perdagangan sebanyak 1.693.292 perusahaan.

Diberlakukannya Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar Perusahaan yang bertujuan mencatat informasi perusahaan secara benar sebagai informasi resmi sehingga dapat digunakan semua pihak yang berkepentingan baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Informasi tersebut bagi pemerintah dapat dijadikan bahan masukan dalam rangka merumuskan kebijakan yang mengarah kepada iklim usaha yang kondusif. Bagi swasta informasi tersebut dapat digunakan untuk melihat prospek bisnis, investasi maupun potensi pesaing.

Dalam kenyataannya informasi tentang perusahaan khususnya diera otonomi daerah semakin merosot, hal ini teridentifikasi antara lain dari jumlah perusahaan yang melakukan pendaftaran semakin menurun. Kegiatan ini diselenggarakan secara swakelola oleh Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, dengan tim peneliti terdiri dari Riffa Utama sebagai koordinator dan anggotanya terdiri dari Achmad Sigit Santoso, Nasrun, Citra Indah Yuliana serta dibantu oleh tenaga ahli Ari Wahyudi.

Disadari bahwa laporan ini masih terdapat berbagai kekurangan, maka kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Dalam kesempatan ini tim mengucapkan terima kasih terhadap berbagai pihak yang telah membantu terselesainya laporan ini. Sebagai akhir kata semoga hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pemimpin dalam merumuskan kebijakan di bidang perdagangan khususnya dalam pendataan pelaku usaha di Indonesia.

Jakarta, April 2013 Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri

(8)

DAFTAR ISI

RINGKASAN EKSEKUTIF ... i

KATA PENGANTAR ...vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ...ix

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Tujuan Penelitian ... 3 1.3. Output Penelitian ... 4 1.4. Outcome Penelitian ... 4 1.5. Pengelolaan Penelitian ... 4 1.6. Organisasi Peneliti ... 4 1.7. Sistematika Laporan ... 5 1.8. Jadwal Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1. Dasar Hukum Wajib Daftar Perusahaan ... 7

2.1.1. Ketentuan Wajib Daftar Perusahaan ... 7

2.1.2. Tujuan dan Sifat Wajib Daftar Perusahaan ... 8

2.1.3. Cara, Tempat dan Waktu Pendaftaran ... 8

2.1.4. Penyelenggaraan Daftar Perusahaan. ... 9

2.1.5. Bukti Daftar Perusahaan. ... 9

2.2. Regulatory Impact Assessment (RIA) ... 9

2.2.1. Definisi Regulatory Impact Assessment (RIA) ... 9

2.2.2. Metode RIA sebagai Panduan Proses Evaluasi Kebijakan ... 10

2.2.3. Metode RIA Sebagai Alat Untuk Menghasilkan Kebijakan Tata Kelola Dan Pembangunan Yang Lebih Baik ... 12

2.2.4. Metode RIA sebagai Logika Berfikir Pengambil Kebijakan ... 12

2.3. Hasil Penelitian Sebelumnya ... 13

2.3.1. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Pendaftaran Perusahaan. ... 13

2.3.2. Regulatory Impact Analysis Terhadap Rancangan Undang-Undang Konvergensi Teknologi Informasi dan Komunikasi ... 14

(9)

BAB III Metodologi Penelitian ... 16

3.1. Kerangka Pemikiran ... 17

3.2. Metoda Analisis Data ... 18

3.2.1. Analisis Ketentuan Hukum Normatif Dengan Realitas Implementasi ... 18

3.2.2. Regulatory Impact Assessment ... 20

3.3. Jenis data, sumber data dan metoda pengumpulan data... 22

3.3.1. Jenis data, sumber data... 22

3.3.2. Metode pengumpulan data ... 22

3.3.3. Metode pengolahan data ... 24

3.4. Teknik Penarikan Sampel ... 26

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL ANALISIS ... 27

4.1. Hubungan UU WDP dengan Peraturan Perundang-undang terkait lainnya ... 27

4.1.1. Dasar Hukum Wajib Daftar Perusahaan ... 27

4.1.2. Otonomi Daerah dalam Perspektif Sendi-Sendi Pemerintahan di Indonesia ... 48

4.1.3. Indonesia Adalah Negara Berdasarkan Asaz Hukum ... 56

4.1.4. Keberadaan UU WDP Pasca Berlakunya UU PT ... 63

4.1.5. Keberlakukan UU WDP setelah otonomi daerah ... 72

4.2. Efektifitas Implementasi UU WDP di Era Otonomi Daerah ... 79

4.2.1. Identifikasi Masalah ... 79

4.2.2. Identifikasi Tujuan kebijakan ... 84

4.2.3. Identifikasi alternatif penyelesaian masalah ... 84

4.2.4. Analisis Manfaat dan Biaya (soft cost-benefit analysis) ... 87

4.2.5. Penentuan Opsi Terbaik ... 91

4.2.6. Konsultasi. ... 92

4.2.7. Perumusan Strategi Implementasi Kebijakan ... 92

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 94

5.1. Kesimpulan ... 94

5.2. REKOMENDASI ... 96

(10)

DAFTAR TABEL

hal

Tabel 3.1. Tujuan dan Alat Analisis ……….. 20

Tabel 3.2. Inventarisasi masalah UU WDP menggunakan ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi (era otonomi daerah) ………. 22

Tabel 3.3. Jenis data dan Sumber data……… 24

Tabel 3.4. Jumlah Responden……….. 27

Tabel 4.1. Berbagai Alternatif Solusi Tindakan………... 85

Tabel 4.2. Screening Terhadap Alternatif Tindakan……….. 87

Tabel 4.3. Biaya manfaat menggunakan jaringan komputerisasi dan program aplikasi WDP yang ada (do nothing)……….. 89

Tabel 4.4. Biaya manfaat memaksimalkan jaringan komputerisasi dan program aplikasi WDP yang ada -perbaikan yang ada (Alternatif 2)……….. 91

Tabel 4.5. Membangun jaringan komputerisasi dan program aplikasi WDP yang baru -membangun baru (alternatif 3)………. 92

(11)

DAFTAR GAMBAR

hal Gambar 3.1. Tahapan-tahapan dalam Proses Penelitian……….. 18 Gambar 3.2. Kerangka Pemikiran………. 19 Gambar 3.3. Metoda pengolahan DataTeknik Penarikan Sampel……… 25 Gambar 4.1. Hirarkhi Persamaan Undang-undang………. 65 Gambar 4.2 Pengetahuan Pelaku Usaha Terkait Wajib Daftar

Perusahaan……… 89

Gambar 4.3 Pelaku usaha yang telah melakukan tanda daftar perusahaan (kelompok persekutuan perdata, firma, CV, PT, Koperasi dan Yayasan)……….. 90 Gambar 4.4 Pelaku usaha yang telah melakukan tanda daftar

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan tolok ukur bagi pemerintah dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Salah satu cara dalam mendatangkan devisa negara guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah melalui pengembangan dan peningkatan investasi dalam negeri, yaitu dengan mendatangkan investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan begitu akan tercipta lowongan-lowongan pekerjaan baru bagi masyarakat. Oleh karena itu penciptaan iklim investasi yang kondusif sangat diperlukan, yang bukan hanya untuk menarik minat investor baru, tetapi juga dalam rangka membangun industri yang berdaya saing tinggi untuk meningkatkan produksi barang dalam pemenuhan konsumsi, bukan hanya terbatas untuk konsumsi domestik melainkan juga diperuntukan dalam rangka meningkatkan nilai tambah produk dalam perdagangan dunia.

Pembinaan dan pengawasan terhadap seluruh lembaga usaha perdagangan menjadi sebuah keharusan bagi pemerintah, yaitu dalam rangka menciptakan tertib dan optimalisasi iklim usaha di Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah melalui pemberlakuan kebijakan Wajib Daftar Perusahaan (WDP) kepada setiap perusahaan yang berdiri dan beroperasi di Indonesia. Pemerintah berharap dengan diberlakukannya kebijakan WDP ini akan memberikan dampak yang positif, karena Daftar Perusahaan mencatat bahan-bahan keterangan yang dibuat secara benar dari setiap kegiatan usaha sehingga dapat lebih menjamin perkembangan dan kepastian berusaha bagi dunia usaha. Selain itu, pemberlakuan WDP juga akan memudahkan pemerintah dapat mengikuti secara seksama keadaan dan perkembangan sebenarnya dari dunia usaha di wilayah Negara Republik Indonesia secara menyeluruh, termasuk tentang perusahaan asing. Informasi yang menyeluruh tersebut berguna untuk menyusun dan menetapkan kebijakan di bidang ekonomi.

Bagi dunia usaha Daftar Perusahaan penting untuk melindungi perusahaan yang dijalankan secara jujur (te goeder trouw) dari praktek-praktek usaha yang tidak jujur (persaingan curang, penyelundupan dan lain sebagainya). Tidak hanya itu, melalui penerapan WDP maka akan diperoleh informasi tentang perusahaan-perusahaan yang secara resmi telah mendaftarkan dan terdaftar dalam register

(13)

Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Mengingat perusahaan adalah alat bagi para pelaku usaha dalam bidang ekonomi untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, sehingga melalui proses evaluasi register dapat diketahui perusahaan-perusahaan yang masih aktif dalam melakukan kegiatan usahanya dan juga yang sudah tidak aktif.

Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (WDP) yang salah satu tujuannya adalah untuk lebih menertibkan administrasi pendaftaran perusahaan. Adapun isi UU WDP mewajibkan kepada seluruh perusahaan yang beroperasi di wilayah Republik Indonesia untuk mendaftarkan perusahaannya. Proses pendaftaran dilakukan dengan cara mengisi formulir pendaftaran yang telah ditetapkan oleh Menteri pada kantor tempat pendaftaran perusahaan dan diserahkan di tempat kedudukan kantor perusahaan, setiap kantor cabang, kantor pembantu perusahaan/kantor anak perusahaan, kantor agen dan perwakilan perusahaan yang mempunyai wewenang untuk mengadakan perjanjian. Tempat yang dimaksud dalam UU WDP tersebut diatas adalah sebelum adanya Undang-Undang RI No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 32/2004) dikenal dengan nama Kantor Wilayah Departemen Perdagangan Propinsi.

Dalam melakukan penyesuaian UU WDP terhadap UU No. 32/2004, pemerintah melengkapinya dengan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 37/M-DAG/PER/9/2007 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan, dan beberapa kebijakan kebijakan yang berkaitan dengan WDP lainnya, diantaranya Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT). Dengan adanya kebijakan tersebut setiap perusahaan yang ada di Indonesia diwajibkan untuk mendaftarkan perusahaannya ke instansi pemerintah, yaitu dalam hal ini melalui Kantor Pendaftaran Perusahaan yang ada di Kabupaten/Kota/Kotamadya dan seluruh Kantor Dinas/Suku Dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang Perdagangan atau Pejabat yang bertugas dan bertanggungjawab dalam pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Daerah (PTPSD). WDP dapat dijadikan sumber informasi bagi pemerintah dalam membina dunia usaha di dalam negeri, bahkan informasi ini diharapkan juga dapat mempermudah dunia usaha dalam menemukan mitra bisnis di seluruh Indonesia. selain itu pelaksanaan pendaftaraan perusahaan juga berguna sebagai pendorong peningkatan investasi di dalam negeri.

(14)

Setelah berjalannya UU RI No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Bina Usaha Perdagangan merasakan perkembangan WDP dari tahun ketahun mengalami penurunan sebesar 97.701 perusahaan dari tahun 2006 ke tahun 2010. Perusahaan yang melakukan wajib daftar perusahaan dari tahun 2006 sampai dengan 2010 masing-masing sebesar 104.380, 91.753, 16.342, 7.651 dan 6.679. Akumulasi perusahaan yang mendaftar dari tahun 1985 sampai dengan bulan Desember 2012 yang tercatat di database Kementerian Perdagangan sebanyak 1.693.292 perusahaan.

Kondisi ini menjadi permasalahan dalam program pemerintah yang ingin mengembangkan dan meningkatkan investasi di dalam negeri dan transparansi publik. Beberapa dugaan yang menyebabkan penurunan tingkat pelaksanaan WDP adalah karena kurang tegasnya sanksi yang dikenakan kepada perusahaan yang tidak melakukan WDP, mahalnya biaya pengurusan dan lamanya waktu pengurusan WDP.

Berpijak pada konteks di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yang akan diangkat dalam analisis ini, yaitu:

a. Bagaimana hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

b. Bagaimana efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah.

c. Kebijakan yang dapat mendukung terciptanya tertib wajib daftar perusahaan.

1.2. Tujuan Penelitian

a. Mengetahui hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

b. Mengetahui efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah. c. Merekomendasikan kebijakan yang dapat mendukung terciptanya tertib

(15)

1.3. Output Penelitian

a. Peta hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

b. Efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah

c. Rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung terciptanya tertib wajib daftar perusahaan

1.4. Outcome Penelitian

Melalui Analisis ini diharapkan akan terciptanya tertib wajib daftar perusahaan mulai dari pemerintah kota/kabupaten ke pemerintah propinsi hingga ke pemerintah pusat.

1.5. Pengelolaan Penelitian

Penelitian dilakukan secara swakelola oleh pegawai pada Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan dan akan diselesaikan dalam waktu 3 (tiga) bulan.

1.6. Organisasi Peneliti

Adapun nama-nama anggota tim yang terlibat :

1. Koordinator : Riffa Utama

2. Peneliti Madya : Citra Indah Yuliana 3. Peneliti Pertama : Achmad Sigit Santoso 4. Pembantu Peneliti : Firman Mutakin 5 Pembantu Peneliti : Nasrun

(16)

1.7. Sistematika Laporan

Laporan analisis ini terbagi menjadi 6 (enam) bab yaitu :

Bab I : Mendeskripsikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan analisis, ruang lingkup penelitian, output laporan serta metoda analisis yang digunakan

Bab II : Menelaah dasar hukum tentang Wajib Daftar Perusahaan (WDP) dan konsep alat analisisnya Regulatory Impact Assesment (RIA) serta hasil penelitian sebelumnya terkait Wajib Daftar Perusahaan dan RIA

Bab III : Mendeskripsikan kerangka pemikiran, metoda pengumpulan data, alat analisis dan jadwal analisis.

Bab IV : Menganalisis hubungan UU WDP dengan Peraturan perundang-undangan terkait lainya, menganalisis efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah

Bab V : Merumuskan Kesimpulan dan rekomendasi kebijakan

(17)

1.8. Jadwal Penelitian

Tahapan pelaksanaan kegiatan disusun sebagai berikut:

Uraian

Bulan Pebruari Bulan Maret Bulan April M 1 M 2 M 3 M 4 M 1 M 2 M 3 M 4 M 1 M 2 M 3 M 4 Penyusunan Rencana Operasional Penelitian (ROP) Penyempurnaan Rencana Operasional Penelitian (ROP)

Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan Data Primer

Diskusi Terbatas I

Diskusi Terbatas II

Penulisan Laporan Akhir

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Hukum Wajib Daftar Perusahaan

2.1.1. Ketentuan Wajib Daftar Perusahaan

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, setiap perusahaan wajib didaftarkan dalam daftar perusahaan. Daftar perusahaan yang dimaksud adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan ketentuan UU WDP dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh pejabat yang berwenang dari kantor pendaftaran perusahaan. Perusahaan yang dimaksud dalam wajb daftar perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan.dalam wilayah Negara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.

Daftar Perusahaan penting untuk pemerintah guna melakukan pembinaan, pengarahan, pengawasan dan menciptakan iklim dunia usaha yang sehat, karena daftar perusahaan mencatat bahan-bahan keterangan yang dibuat secara benar dari setiap kegiatan usaha sehingga dapat lebih menjamin perkembangan dan kepastian berusaha bagi dunia usaha. Adapun daftar perusahaan yang dimaksud adalah informasi resmi untuk semua pihak yang berkepentingan yang memuat identitas dan hal-hal yang menyangkut dunia usaha dan perusahaan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan di wilayah Negara Republik Indonesia.

Perusahaan yang wajib didaftar dalam daftar perusahaan adalah setiap perusahaan yang berkedudukan dan menjalankan usahanya di wilayah Negara Republik Indonesia menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk di dalamnya kantor cabang, kantor pembantu, anak perusahaan serta agen dan perwakilan dari perusahaan itu yang mempunyai wewenang untuk mengadakan perjanjian. Bentuk perusahaan yang dimaksud adalah badan hukum (PT, CV, koperasi),

(19)

persekutuan, perorangan dan bentuk perusahaan lainya. Dikecualikan dari wajib daftar ialah :

1) Setiap Perusahaan Negara yang berbentuk Perusahaan Jawatan (PERJAN) seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 40) jo. Indische Bedrijvenwet (Staatsblad Tahun 1927 Nomor 419) sebagaimana telah diubah dan ditambah;

2) Setiap Perusahaan Kecil Perorangan yang dijalankan oleh pribadi pengusahanya sendiri atau dengan mempekerjakan hanya anggota keluarganya sendiri yang terdekat serta tidak memerlukan izin usaha dan tidak merupakan suatu badan hukum atau suatu persekutuan.

2.1.2. Tujuan dan Sifat Wajib Daftar Perusahaan

Daftar Perusahaan bertujuan mencatat data keterangan yang dibuat secara benar dari suatu perusahaan dan merupakan sumber informasi resmi untuk semua pihak yang berkepentingan mengenai identitas, data, serta keterangan lainnya tentang perusahaan yang tercantum dalam Daftar Perusahaan dalam rangka menjamin kepastian berusaha.

Sifat Daftar Perusahaan adalah terbuka untuk semua pihak dimana setiap pihak yang berkepentingan berhak memperoleh keterangan yang diperlukan dengan cara mendapatkan salinan atau petikan resmi dari keterangan yang tercantum dalam Daftar Perusahaan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang untuk itu dari kantor pendaftaran perusahaan setelah memenuhi biaya administrasi yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab terhadap Wajib Daftar Perusahaan dalam hal ini menteri dalam bidang perdagangan

2.1.3. Cara, Tempat dan Waktu Pendaftaran

Pendaftaran dilakukan dengan cara mengisi formulir pendaftaran yang ditetapkan oleh menteri dalam bidang perdagangan pada kantor tempat pendaftaran perusahaan. Pendaftaran dilakukan di tempat kedudukan kantor perusahaan, kantor cabang, kantor pembantu perusahaan, kantor anak perusahaan, kantor agen dan perwakilan perusahaan yang mempunyai wewenang untuk mengadakan perjanjian. Pendaftaran wajib dilakukan

(20)

dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah perusahaan mulai menjalankan usahanya.

2.1.4. Penyelenggaraan Daftar Perusahaan.

Penanggungjawab penyelenggaraan daftar perusahaan adalah menteri di bidang perdagangan. Tempat kedudukan dan susunan kantor pendaftaran perusahaan serta tatacara penyelenggaraan daftar perusahaan ditetapkan oleh menteri perdagangan.

2.1.5. Bukti Daftar Perusahaan.

Kepada Perusahaan yang telah disahkan pendaftarannya dalam Daftar Perusahaan diberikan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun sejak tanggal dikeluarkannya dan yang wajib diperbaharui sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sebelum tanggal berlakunya berakhir

2.2. Regulatory Impact Assessment (RIA)

2.2.1. Definisi Regulatory Impact Assessment (RIA)

Regulatory Impact Analysis (RIA)1 sering juga di sebut sebagai Regulatory Impact Assesment adalah sebuah alat analisa kebijakan untuk membantu pemerintah dalam mengevaluasi suatu kebijakan dan menilai dampak dari kebijakan. RIA merupakan proses analisis dan pengkomunikasian secara sistematik terhadap kebijakan, baik kebijakan baru maupun kebijakan yang sudah ada.

Berdasarkan Rekomendasi Council of the OEDC on Improving The Quality of Government Regulasi tahun 1995, Peranan RIA memastikan secara sistematis terpilihnya kebijakan yang paling efisien dan efektif. RIA merupakan alat evaluasi kebijakan yang bertujuan menilai secara sistematis pengaruh negatif dan positif regulasi yang sedangan diusulkan ataupun yang sedang berjalan.

1 Berdasarkan kajian ringkas Biro Hukum Kementerian PPN/BAPPENAS dalam Pengembangan dan Implementasi Metode Regulatory Impact Analysis untuk menilai kebijakan (peraturan dan Non Peraturan) di Kementerian PPN/BAPPENAS, Juli 2011

(21)

Kebutuhan RIA muncul dari fakta regulasi yang sulit untuk diramalkan dampaknya. RIA juga membutuhkan studi yang rinci dan konsultasi dengan pihak-pihak yang terkait. RIA melalui pendekatan ekonomi dapat menyelesaikan masalah peraturan dengan menekan risiko biaya tinggi terhadap peraturan yang dihasilkan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Dari perspektif ini, tujuan utama dari RIA adalah untuk memastikan bahwa peraturan dihasilkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat , dimana keuntungan akan melebihi biaya.

2.2.2. Metode RIA sebagai Panduan Proses Evaluasi Kebijakan

Sebagai sebuah proses, Metode RIA terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

a. Identifikasi dan analisis masalah. Langkah ini dilakukan agar semua pihak, khususnya pengambil kebijakan, dapat melihat dengan jelas masalah apa sebenarnya yang dihadapi dan hendak dipecahkan dengan kebijakan tersebut. Pada tahap ini, sangat penting untuk membedakan antara masalah (problem) dengan gejala (symptom), karena yang hendak dipecahkan adalah masalah, bukan gejalanya. b. Penetapan tujuan. Setelah masalah teridentifikasi, selanjutnya perlu

ditetapkan apa sebenarnya tujuan kebijakan yang hendak diambil. Tujuan ini menjadi satu komponen yang sangat penting, karena ketika suatu saat dilakukan penilaian terhadap efektivitas sebuah kebijakan, maka yang dimaksud dengan “efektivitas” adalah apakah tujuan kebijakan tersebut tercapai ataukah tidak.

c. Pengembangan berbagai pilihan/alternatif kebijakan untuk mencapai tujuan. Setelah masalah yang hendak dipecahkan dan tujuan kebijakan sudah jelas, langkah berikutnya adalah melihat pilihan apa saja yang ada atau bisa diambil untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam metode RIA, pilihan atau alternatif pertama adalah “do nothing” atau tidak melakukan apa-apa, yang pada tahap berikutnya akan dianggap sebagai kondisi awal (baseline) untuk dibandingkan dengan berbagai opsi/pilihan yang ada. Pada tahap ini, penting untuk melibatkan stakeholders dari berbagai latar belakang dan kepentingan guna mendapatkan gambaran seluas-luasnya tentang opsi/pilihan apa saja yang tersedia.

(22)

d. Penilaian terhadap pilihan alternatif kebijakan, baik dari sisi legalitas maupun biaya (cost) dan manfaat (benefit)-nya. Setelah berbagai opsi/pilihan untuk memecahkan masalah teridentifikasi, langkah berikutnya adalah melakukan seleksi terhadap berbagai pilihan tersebut. Proses seleksi diawali dengan penilaian dari aspek legalitas, karena setiap opsi/pilihan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk pilihan-pilihan yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dilakukan analisis terhadap biaya (cost) dan manfaat (benefit) pada masing-masing pilihan. Secara sederhana, “biaya” adalah hal-hal negatif atau merugikan suatu pihak jika pilihan tersebut diambil, sedangkan “manfaat” adalah hal-hal positif atau menguntungkan suatu pihak. Biaya atau manfaat dalam hal ini tidak selalu diartikan “uang”. Oleh karena itu, dalam konteks identifikasi biaya dan manfaat sebuah kebijakan, perlu dilakukan identifikasi tentang siapa saja yang terkena dampak dan siapa saja yang mendapatkan manfaat akibat adanya suatu pilihan kebijakan (termasuk kalau kebijakan yang diambil adalah tidak melakukan apa-apa atau do nothing).

e. Pemilihan kebijakan terbaik. Analisis Biaya-Manfaat kemudian dijadikan dasar untuk mengambil keputusan tentang opsi/pilihan apa yang akan diambil. Opsi/pilihan yang diambil adalah yang mempunyai manfaat bersih (net benefit), yaitu jumlah semua manfaat dikurangi dengan jumlah semua biaya, terbesar.

f. Penyusunan strategi implementasi. Langkah ini diambil berdasarkan kesadaran bahwa sebuah kebijakan tidak bisa berjalan secara otomatis setelah kebijakan tersebut ditetapkan atau diambil. Dengan demikian, pemerintah dan pihak lain yang terkait tidak hanya tahu mengenai apa yang akan dilakukan, tetapi juga bagaimana akan melakukannya.

g. Partisipasi masyarakat di semua proses. Semua tahapan tersebut di atas harus dilakukan dengan melibatkan berbagai komponen yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan kebijakan yang disusun. Komponen masyarakat yang mutlak harus didengar suaranya adalah mereka yang akan menerima dampak adanya kebijakan tersebut (key stakeholder).

(23)

2.2.3. Metode RIA Sebagai Alat Untuk Menghasilkan Kebijakan Tata Kelola Dan Pembangunan Yang Lebih Baik

Metode RIA dapat diposisikan sebagai alat untuk menghasilkan kebijakan, tata kelola dan pembangunan yang lebih baik. Dalam penerapan metoda RIA ada 2 faktor utama yang dianggap mampu memenuhi harapan tersebut, yaitu: (1) adanya partisipasi masyarakat dapat meningkatkan transparansi, kepercayaan masyarakat dan mengurangi risiko sebuah kebijakan, serta (2) menemukan opsi/pilihan yang paling efektif dan efesien sehingga dapat mengurangi biaya implementasi bagi pemerintah dan biaya transaksi bagi masyarakat. Secara lebih spesifik, metode RIA merupakan alat untuk mencapai standar internasional untuk kebijakan berkualitas sebagaimana tercantum dalam OECD checklist2 sebagai berikut:

a. Apakah masalah didefinisikan dengan baik?

b. Apakah keterlibatan pemerintah memang diperlukan?

c. Apakah regulasi merupakan bentuk terbaik dari keterlibatan pemerintah?

d. Apakah regulasi memiliki dasar hukum?

e. Seberapa jauh keterlibatan pemerintah diperlukan? f. Apakah manfaat lebih besar daripada biayanya? g. Apakah ada transparansi distribusi dampak?

h. Apakah regulasi jelas, konsisten, komprehensif dan mudah diakses? i. Apakah semua pihak terkait punya kesempatan untuk mengemukakan

pandangannya?

j. Bagaimana pelaksanaan regulasi tersebut?

2.2.4. Metode RIA sebagai Logika Berfikir Pengambil Kebijakan

Metode RIA dapat digunakan oleh pengambil kebijakan untuk berfikir logis, mulai dari identifikasi masalah, identifikasi pilihan untuk memecahkan masalah, serta memilih satu kebijakan berdasarkan analisis terhadap semua pilihan. Metode RIA mendorong pengambil kebijakan untuk berfikir terbuka dengan menerima masukan dari berbagai komponen yang terkait dengan kebijakan yang hendak diambil.

(24)

2.3. Hasil Penelitian Sebelumnya

2.3.1. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Pendaftaran Perusahaan.

Kesimpulan dari naskah akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Pendaftaran Perusahaan yang disusun oleh Direktorat Bina Usaha Perdagangan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia pada tahun 2012 adalah Daftar Perusahaan sebagai sumber informasi resmi perusahaan dibutuhkan bagi semua pihak yang berkepentingan, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi pelaku usaha. Daftar Perusahaan menjadi instrumen penting bagi pelaku usaha dalam merencanakan dan melakukan kegiatan usaha sebagai bentuk perlindungan pelaku usaha yang jujur dan terbuka. Daftar Perusahaan menjadi instrumen penting bagi pemerintah dalam rangka pembimbingan, pembinaan, pengarahan, dan pengawasan dunia usaha, serta penciptaan iklim usaha yang sehat dan tertib. Seiring perkembangan zaman, pengaturan dan pelaksanaan pendaftaran perusahaan sebagaimana diatur dalam UU WDP perlu dikaji ulang untuk disesuaikan dengan perkembangan terutama sejak diterbitkannya peraturan perundang-undangan di bidang lainnya seperti Undang-Undang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Pasar Modal, Undang-Undang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Undang-Undang di bidang Hak atas Kekayaan Intelektual (seperti Merek, Paten, Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang) Undang-Undang Penanaman Modal, Undang-Undang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah serta Undang-Undang Pemerintahan Daerah sehubungan dengan otonomi daerah. Hal yang perlu dikaji ulang adalah :

a. Pengaturan UU WDP sehubungan dengan pihak yang wajib melakukan pendaftaran perusahaan,

b. Substansi informasi perusahaan yang perlu disampaikan oleh suatu perusahaan dalam Daftar Perusahaan,

c. Pengecualian pendaftaran perusahaan serta pelaksanaan pendaftaran perusahaan,

(25)

Untuk mengatasi permasalahan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat, UU WDP perlu disesuaikan. Beberapa hal yang harus disesuaikan, yaitu pengecualian daftar perusahaan, klasifikasi perusahaan, jangka waktu pendaftaran perusahaan, hal-hal yang wajib didaftrakan, pendaftaran perusahaan bentuk lain, penyelenggaraan daftar perusahaan, perubahan dan penghapusan data dalam daftar perusahaan, perselisihan dan penyelesaian, biaya pendaftaran perusahaan, dan sanksi dan ketentuan pidana.

2.3.2. Regulatory Impact Analysis Terhadap Rancangan Undang-Undang Konvergensi Teknologi Informasi dan Komunikasi

Berdasarkan hasil kajian dan analisa regulasi pengaturan terhadap penyelenggaraan TIK dalam era konvergensi sesuai RUU konvergensi TIK menggunakan Regulatory Impact Analysis (RIA) yang dilakukan oleh Wawan Ridwan dan Iwan Krisnadi dari Magister Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana, dapat ditarik kesimpulan sebagai hasil dari keseluruhan studi penelitian, yaitu:

a. Proses analisa yang dilakukan terhadap Regulasi RUU Konvergensi TIK ini, dengan fokus pada fungsi pengaturan terhadap penyelenggaran TIK sesuai yang termaktub dalam RUU Konvergensi TIK Indonesia, yang meliputi:

1) perizinan penyelenggaraan teknologi informasi dan komunikasi 2) pengaturan spektrum frekuensi radio

3) penomoran

4) standar kinerja operasi 5) standar kualitas layanan 6) biaya interkoneksi

7) kewajiban pelayanan umum

8) standar alat dan perangkat teknologi informasi dan komunikasi. b. Hasil analisa tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya Regulasi

RUU Konvergensi TIK ini, akan menjadi harmonisasi dan menyatunya beberapa Undang-undang sebelumnya yang masih terpisah seperti : telekomunikasi, penyiaran, ITE dan keterbukaan informasi publik.

(26)

c. Selain itu, dengan perkembangan Konvergensi TIK dan Regulasi nya, tentu akan merubah tatanan kehidupan masyarakat indonesia terutama model bisnis atau struktur industri TIK yang tadinya terpisah-pisah(vertikal) akan menyatu/konvergen dan dibedakan secara layer(horizontal), sesuai kategori layer konvergensi TIK, yaitu:

2) Penyelenggara Fasilitas Jaringan 3) Penyelenggara Layanan Jaringan 4) Penyedia Layanan Aplikasi 5) Penyedia Konten

d. Berdasarkan hasil analisa dengan RIA, dengan metode Risk Assessment and Uncertainty Analysis, regulasi pengaturan terhadap penyelenggaraan TIK ini dapat di implementasikan di indonesia karena telah memiliki kepastian hukum(satu regulasi untuk TIK), penilaian cost dan benefit dengan rasio 1:1, namun peraturan/regulasi ini belum sepenuhnya diuji sensitivitas peraturannya karena masih berupa Rancangan Undang. Kedepannya jika sudah menjadi Undang-undang bisa diuji kembali.

e. Implementasi RIA sebaiknya dilakukan secara bertahap, berkelanjutan dan merata yang sesuai dengan karakteristik masyarakat dan industri TIK di indonesia.

(27)

BAB III

Metodologi Penelitian

Metode Analisis Pelaksanaan Wajib Daftar Perusahaan di Era Otonomi Daerah bersifat deskriptif evaluatif dengan menggunakan analisis ketentuan hukum normatif dalam mengidentifikasi hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya dan menggunakan metode analisis Regulatory Impact Assessment (RIA) dalam menganalisa efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah.

Adapun tahapan dalam proses penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1.

Tahapan dalam Proses Penelitian

Data Sekunder

LAPORAN

Tujuan Penelitian

Interpretasi Hasil Analisis Hubungan UU WDP dengan

Peraturan perudangan lainnya Evaluasi Implementasi UU WDP di era otonomi Daerah Eksplorasi penelitian

Survey Terdahulu Studi Kasus Naskah Akademik

Kuisioner Wawancara mendalam

Analisis Data

Regulatory Impact Assesment FGD ke 1 di DKI FGD ke 2 di DKI

(28)

3.1. Kerangka Pemikiran

Dalam kerangka pemikiran analisis yang ditunjukkan gambar 3.2. dimana UU WDP di analisis secara hukum normatif keberadaannya dibandingkan dengan peraturan perundangan-undangan lainnya seperti UU PT dan UU Otonomi daerah. Dalam implementasinya UU WDP pelaku usaha melakukan pendaftaran di KPP yang dapat berbentuk PTSP atau Dinas Perindag Kab/Kota, kemudian data pendaftaran perusahaan tersebut disampaikan ke dinas perindag provinsi dan kemudian ke kementerian perdagangan untuk menjadi data nasional. Maka dengan analisis ini dapat diketahuli efektifitas pelaksanaan wajib daftar perusahaan di era otonomi di daerah dengan menggunakan Regulatory Impact Assessment (RIA),

Gambar 3.2. Kerangka Pemikiran

KPP

UU WDP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN LAINNYA HUBUNGAN

PTSP atau Dinas Perindag Kab/Kota

Dinas Perindag Provinsi

Kementerian Perdagangan

Aplikasi WDP dan Jarinagan komputer SDM Pengelola Data WDP DATA PERUSAHAAN NASIONAL DATA DATA DATA

(29)

3.2. Metoda Analisis Data

Analisis data merupakan bagian terpenting dalam analisis ini agar dapat diperoleh informasi yang diinginkan. Analisa menggunakan dua alat analisis yang sesuai dengan tujuan kajian seperti disampaikan pada tabel 3.1.

Tabel 3.1.

Tujuan dan Alat Analisis

3.2.1. Analisis Ketentuan Hukum Normatif Dengan Realitas Implementasi Dalam mengkaji hubungan UU WDP dengan Peraturan Perundang-undangan terkait lainnya menggunakan analisis ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi dimana penelitian hukum dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada. (Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2009). Tahapan pertama analisis hukum normatif adalah analisis yang ditujukan untuk mendapatkan hukum obyektif (norma hukum), yaitu dengan mengadakan analisis terhadap masalah hukum. Tahapan kedua analisis hukum normatif adalah analisis yang ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif (hak dan kewajiban). Analisis yang dilakukan bersifat deskriptif yaitu menggambarkan gejala-gejala di lingkungan masyarakat terhadap pelaksanaan UU WDP dengan dilakukan pendekatan kualitatif yang merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif.

Di dalam metode analisi hukum normatif, terdapat 3 (tiga) macam bahan pustaka yang dipergunakan yaitu :

1) Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang mengikat atau yang membuat orang taat pada hukum seperti peraturan perundang–

No. Tujuan Alat Analisis

1. Mengetahui hubungan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya

analisis ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi

2. Mengetahui efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah

(30)

undangan, dan putusan hakim. Bahan hukum primer yang digunakan di dalam analisis: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 37/M-DAG/PER/9/2007 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 jo. Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah.

2) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder diartikan sebagai bahan hukum yang tidak mengikat tetapi menjelaskan mengenai bahan hukum primer yang merupakan hasil olahan pendapat atau pikiran para pakar atau ahli yang mempelajari suatu bidang tertentu secara khusus yang akan memberikan petunjuk ke mana peneliti akan mengarah. Yang dimaksud dengan bahan sekunder disini oleh penulis adalah hasil indepth interview yang dilakukan di daerah sampel.

3) Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier itu diartikan sebagai bahan hukum lainnya yang dianggap penting dan terkait dengan analisis

Analisis hukum normatif yang dilakukan lebih ditujukan kepada pendekatan undang-undang (statute approach) dan pendekatan implementasi. Pendekatan undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan wajib daftar perusahaan. Pendekatan implementasi dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap cara implementasi dari UU WDP di wilayah sampel.

(31)

Tabel 3.2.

Inventarisasi masalah UU WDP menggunakan ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi (era otonomi daerah)

Isi Pasal-Pasal Dalam UU WDP

Selaras/Tidak Dengan Peraturan

Perundang-Undangan Yang Lain

Relevan/Tidak Dengan Berlakunya Otomoni

Daerah

Pasal 1 Selaras/tidak ? Peraturan perundang-udangan apa? Relevan/tidak Pasal 2 Pasal 3 . . . dan seterusnya . . . . dan seterusnya . . . . dan seterusnya

Pasal 39 Selaras/tidak ? Peraturan perundang-udangan apa?

Relevan/Tidak

Dari tabel inventarisasi masalah UU WDP menggunakan ketentuan hukum normatif dengan realitas implementasi (setelah berlakunya otonomi daerah) dihasilkan daftar masalah yang kemudian akan di verifikasi di daerah melalui indepth interview. Hasil verifikasi akan dijadikan salah satu dasar dalam melakukan perumusan masalah dalam analisis berikutnya menggunakan Regulatory Impact Assessment (RIA)

3.2.2. Regulatory Impact Assessment

Untuk menjawab tujuan kedua yaitu mengetahui Efektifitas implementasi UU WDP di era otonomi daerah di gunakan Regulatory Impact Assessment (RIA) dengan penyederhanaan langkah. Berdasarkan Kajian Ringkas Pengembangan dan Implementasi Metode Regulatory Impact Assessment (RIA) untuk Menilai Kebijakan (Peraturan Dan Non Peraturan) di Kementerian Ppn/Bappenas Tahun 2011, Regulatory Impact Assessment sebagai sebuah logika berfikir tidak dapat diringkas, dalam arti alur berfikir

(32)

mulai identifikasi masalah, identifikasi opsi/pilihan, analisis terhadap semua opsi/pilihan hingga penetapan pilihan kebijakan tidak dapat dipotong atau dihilangkan beberapa komponennya. Namun Untuk mempersingkat waktu, dapat dilakukan penyederhanakan event-event yang diselenggarakan dalam proses implementasi metode RIA. Dalam pelaksanaan, beberapa tahapan dalam penerapan metode RIA dapat dilalui dalam satu event, sehingga jumlah komunikasi dengan stakeholder yang diselenggarakan tidak harus sebanyak jumlah tahapan dalam proses implementasi.

Sesuai dengan literatur diatas dalam Analisis Pelaksanaan Wajib Daftar Perusahaan di Era Otonomi Daerah langkah 1) perumusan masalah, 2) Identifikasi tujuan kebijakan dan 3) identifikasi alternative penyelesaian masalah Langkah 4) analisis manfaat dan biaya langkah 6) penentuan opsi terbaik dan langkah 7) perumusan strategi implementasi kebijakan dilakukan dengan secara lengkap namun khusus untuk komunikasi dengan stakeholder untuknya langkah 1,2 dan 3 dilakukan penggabungan dalam satu event komunikasi dengan stakeholder dengan media FGD (FDG ke-1 yang dilakukan di DKI Jakarta). Langkah 4, 6 dan 7 dilakukan penggabungan dalam satu event komunikasi dengan stakeholder dengan media FGD (FDG ke-2 yang dilakukan di DKI Jakarta)

Langkah 1 perumusan masalah, langkah 2 identifikasi tujuan kebijakan dan langkah 3 identifikasi alternative penyelesaian masalah dilakukan dengan melakukan survey ke daerah menggunakan media kuesioner dan panduan depth interview. Hasil dari survey ke daerah kemudian di verifikasi dalam komunikasi dengan stakeholder pada FGD ke-1. Langkah 4 analisis manfaat dan biaya yang menggunakan soft cost-benefit analysis dimana unsur yang terpenting adalah semua biaya (dampak negatif) dan manfaat (dampak positif) yang dirasakan oleh berbagai pihak dapat teridentifikasi tanpa ada keharusan untuk menilainya dalam bentuk uang. Kemudian hasil dari langkah 4 (analisis manfaat dan biaya), langkah 6 (penentuan opsi terbaik) dan langkah 7 (perumusan strategi implementasi kebijakan) digabungkan dalam satu event komunikasi dengan stakeholder dengan media FGD ke 2. Hasil dari perumusan strategi implementasi kebijakan yang telah dikomunikasikan dengan stakeholder dengan media FGD akan dijadikan rekomendasi kebijakan

(33)

3.3. Jenis data, sumber data dan metoda pengumpulan data

3.3.1. Jenis data, sumber data Data dalam analisis ini meliputi:

a. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber antara lain kepustakaan dan dari instansi terkait (Kementerian Perdagangan, Kementerian Hukum dan HAM, Pelaku Usaha, BPS dan lain-lain).

b. Data primer diperoleh melalui pengumpulan data secara langsung kepada beberapa sumber melalui Diskusi Terbatas (focus group discussion) di DKI Jakarta dan depth interview sebagai satu tahapan konsultasi dan komunikasi dengan stakeholders seperti tercantum pada langkah metode RIA

Tabel 3.3.

Jenis data dan Sumber data

No. Jenis Data Sumber Data

1. Peraturan perundang-undangan terkait terkait lainnya

(data sekunder)

Kementerian Perdagangan, Kementerian Hukum dan HAM

2. Data pendaftaran perusahaan (data sekunder)

Kementerian Perdagangan, Kementerian Hukum dan HAM 3. Permasalahan hukum normatif UU

WDP dengan peraturan perundang-undanga terkait lainnya dan

Permasalahan implementasi UU WDP di era otonomi daerah (data primer)

Indept Interview dan diskusi terbatas (FGD) dengan Pelaku usaha, Dinas perdagangan, notaris, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Kementerian Hukum dan HAM 4 Persepsi tentang pengetahuan pelaku

usaha terhadap UU WDP (data primer)

Kuesioner dengan responden perusahaan yang berbentuk PT, Koperasi, CV, Firma, Perusahaan Perseorangan dan Bentuk Usaha Lainnya

(60 responden)

3.3.2. Metode pengumpulan data 1) Data Sekunder

Data sekunder dalam kajian ini adalah peraturan perundang-undangan terkait UU WDP dan data daftar perusahaan yang diperoleh dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Hukum dan HAM.

2) Data Primer

Data Primer berupa permasalahan hukum normatif UU WDP dengan peraturan perundang-undangan terkait lainnya dan Permasalahan

(34)

implementasi UU WDP di era otonomi daerah juga data persepsi tentang pengetahuan pelaku usaha terhadap UU WDP dikumpulkan dengan cara Indepth interview dan kuesioner di daerah sample yang kemudian diverifikasi melakui diskusi terbatas (focus group discussion) di DKI Jakarta

Daerah sample dalam kajian ini di 2 (dua) daerah, yaitu: Jawa Timur dan Jawa Tengah.Pemilihan daerah didasarkan penganugerahan penghargaan penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu di bidang penanaman modal provinsi, kabupaten/kota, terbaik tahun 2012 digelar di Jakarta, Senin (12/11/2012). Berdasar hasil penilaian, ada tiga penyelenggara pelayanan terpadu satu pintu bidang penanaman modal (PTSP-PM) tingkat provinsi, kabupaten, dan kota terbaik 2012. Dimana Jawa Timur merupakan penyelenggara PTSP-PM Provinsi Terbaik I dan Kota Semarang merupakan penyelenggara PTSP Kota terbaik II tahun 2012 (Kompas, 2012)

(35)

3.3.3. Metode pengolahan data

Gambar 3.3

Metoda pengolahan Data

Regulatory Impact Assesment

FGD Ke - 1 Data Sekunder :

Berupa Peraturan perundang-undangan terkait WDP

Identifikasi tujuan kebijakan Hubungan UU WDP dengan

Peraturan perudangan lainnya Evaluasi Implementasi UU WDP di era otonomi Daerah

Survey daerah Kuisioner dan wawancara mendalam Verifikasi melalui

Wawancara mendalam

Identifikasi masalah implementasi UU WDP di era otonomi Daerh Analisa Hukum

Normatif

perumusan masalah

Identifikasi alternatif penyelesaian

FGD Ke - 2

Penentuan Opsi Terbaik Analisis Manfaat dan Biaya

Perumusan strategi implementasi kebijakan

(36)

- Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber antara lain kepustakaan dan dari instansi terkait berupa peraturan-peraturan terkait wajib daftar perusahaan di inventarisasi. Peraturan yang telah terinvetarisasi kemudian dianalisis menggunakan metoda analisis hukum normatif dan hukum empiris untuk mendapatkan gambaran hubungan antara UU WDP dengan peraturan perundang-undangan terkait. Dari kerangka hubungan tersebut diatas dapat diidentifikasi hubungan antara peraturan perundang-undangan terkait dengan UU WDP, yang menjadikan fungsi dan kedudukan UU WDP menjadi signifikan.

- Data Primer diperoleh dalam bentuk kuesioner dan indepth interview dengan menggunakan indentifikasi hubungan antara peraturan perundang-undangan terkait dengan UU WDP yang telah disiapkan sebelumnya. Hasil dari survey lapangan akan dijadikan dasar perumusan masalah dalam metode analisis RIA. yang kemudian diuji dengan prinsip review minimum effective regulation dan dilanjunkan dengan competitive neutrality yang menghasilkan Identifikasi Tujuan Kebijakan (Penilaian Resiko) dan Identifikasi Alternatif Penyelesaian Masalah.

- Dari identifikasi Alternatif (opsi) penyelesaian masalah kemudian disampaikan dalam diskusi terbatas untuk mendapatkan verifikasi bahwa identifikasi alternative penyelesaian masalah yang telah disusun adalah sesuai dengan pandangan stakeholder

- Setelah ada verifikasi dari stakeholder melalui diskusi terbatas opsi penyelesaian masalah akan dianalisis dengan prinsip cost and benefit (soft cost-benefit analysis) untuk kemudian ditentukan mana opsi yang terbaik yang kemudian disusun sebagai dasar perumusan strategi implementasi kebijakan. metode soft cost-benefit analysis dapat digunakan, atau tetap menggunakan Analisis B-M tetapi dengan cara yang tidak seketat monetary benefit analysis. dalam soft cost-benefit analysis yang terpenting adalah semua biaya (dampak negatif) dan manfaat (dampak positif) yang dirasakan oleh berbagai pihak dapat teridentifikasi tanpa ada keharusan untuk menilainya dalam bentuk uang.

(37)

- Dasar perumusan strategi implementasi kebijakan yang telah di susun kemudian disampaikan dalam diskusi terbatas yang kedua untuk mendapatkan verifikasi dari stakeholder.

- Hasil verifikasi stakeholder kemudian akan disampaikan sebagai rumusan rekomendasi kebijakan.

3.4. Teknik Penarikan Sampel

Dalam menentukan responden untuk indepth interview dan kuesioner digunakan teknik Purposive Sampling dimana peneliti menentukan sendiri sample yang diambil karena ada pertimbangan responden yang mengerti tentang UU WDP hanya terbatas yaitu Pelaku usaha, Dinas perdagangan, notaris, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Kementerian Hukum dan HAM

Dalam analisis Pelaksanaan Wajib Daftar Perusahaan di Era Otonomi Daerah seperti telah disampaikan dalam metode pengumpulan data, pengumpulan data primer dilakukan di 2 (dua) daerah, yaitu: Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Tabel 3.4. Jumlah Responden

No Sumber Data Jumlah

1. Indept Interview 6 Responden

(38)

BAB IV

PEMBAHASAN DAN HASIL ANALISIS

4.1. Hubungan UU WDP dengan Peraturan Perundang-undang terkait lainnya

4.1.1. Dasar Hukum Wajib Daftar Perusahaan

UU WDP merupakan dasar hukum bagi setiap perusahaan untuk melakukan pendaftaran perusahaan yang secara garis besar mengatur tentang wajib daftar perusahaan yang fungsi pentingnya tidak semata-mata hanya sekedar proses administratif belaka. Dengan melihat dasar pertimbangan dalam UU WDP, maka daftar perusahaan merupakan daftar catatan resmi yang dapat dipergunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan. Pada dasarnya ada 3 (tiga) pihak yang memperoleh manfaat dari daftar perusahaan tersebut, yaitu:

a. Pemerintah, dalam rangka memberikan bimbingan, pembinaan dan pengawasan termasuk untuk kepentingan pengamanan pendapatan Negara yang memerlukan informasi yang akurat. Adanya Daftar Perusahaan sangat penting karena akan memudahkan untuk sewaktu-waktu dapat mengetahui keadaan dan perkembangan dunia usaha yang berada di wilayah negara Republik Indonesia secara menyeluruh, termasuk perusahaan asing. Dengan demikian dapat dilakukan upaya pembinaan dan memberikan perlindungan hukum kepada dunia usaha yang menjalankan usaha secara jujur;

b. Dunia usaha, mempergunakan daftar perusahaan sebagai sumber informasi untuk kepentingan usahanya. Selain itu juga dalam upaya mencegah praktek usaha yang tidak jujur (persaingan curang, penyelundupan dll). Daftar Perusahaan juga dapat digunakan sebagai sumber informasi untuk kepentingan usahanya dan bagi pihak ketiga yang berkepentingan dengan usaha atau perusahaan yang bersangkutan.

c. Pihak lain yang berkepentingan atau masyarakat yang memerlukan informasi yang benar.3

Mengingat manfaat tersebut di atas maka tujuan daftar perusahaan seperti terdapat pada pasal 2 UU WDP adalah untuk mencatat bahan-bahan keterangan

3 Wahyuni Safitri, S.H., M.Hum, Wajib Daftar Perusahaan Sebelum dan Sesudah Berlakunya

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

(39)

yang dibuat secara benar dari suatu perusahaan dan merupakan sumber informasi resmi untuk semua pihak yang berkepentingan mengenai identitas, data serta keterangan lainnya tentang perusahaan yang tercantum dalam daftar perusahaan dalam rangka menjamin kepastian berusaha, seperti yang terdapat dalam pasal 3 UU WDP, yaitu daftar perusahaan bersifat terbuka untuk semua pihak dan pasal 4-nya setiap pihak yang berkepentingan setelah memenuhi biaya administrasi yang ditetapkan oleh menteri, berhak memperoleh keterangan yang diperlukan dengan cara mendapatkan salinan atau petikan resmi dari keterangan yang tercantum dalam daftar perusahaan.Setiap salinan atau petikan yang diberikan berdasarkan ketentuan ayat (1) pasal ini merupakan alat pembuktian yang sempurna.4

Dalam ketentuan Umum UU WDP disebutkan bahwa daftar perusahaan adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan ketentuan undang–undang Wajib Daftar Perusahaan atau UU WDP dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan atau memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh pejabat yang berwenang di Kantor Pendaftaran Perusahaan.5

4 Ibid

5 Lihat http://hati-sitinurlola.blogspot.com/2010/06/wajib-daftar-perusahaan.html yang menjabarkan pengelompokan terhadap analisis UU WDP menjadi sebagai berikut:

1. Tujuan, Bertujuan mencatat bahan-bahan keterangan yang dibuat secara benar dari suatu perusahaan dan merupakan sumber Informasi resmi untuk semua pihak yang berkepentingan mengenai identitas perusahaan yang tercantum di dalam daftar perusahaan dalam rangka menjamin kepastian berusaha.

2. Sifat, bersifat terbuka untuk semua pihak,setiap pihak yang berkepentingan setelah memenuhi biaya administrasi yang ditetapkan oleh menteri, berhak memperoleh keterangan yang diperlukan dengan cara mendapatkan salinan atau petikan resmi dari keterangan yang tercantum dalam Daftar Perusahaan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang untuk itu dikantor pendaftaran Perusahaan.

3. Kewajiban, setiap Perusahaan wajib didaftarkan dalam Daftar Perusahaan. Pendaftaran Wajib dilakukan oleh pemilik atau pengurus perusahaan yang bersangkutan atau dapat diwakilkan kepada orang lain dengan memberikan surat kuasa yang sah.

4. Pengecualian, ada yang dikecualikan dari Wajib Daftar itu adalah:

a. Setiap perusahaan negara yang berbentuk perusahaan jawatan (PERJAN) seperti diatur dalam UU No.9 tahun 1969 lembaran negara 1969 No.40 jo. Indonesische Bedrijvenwet

(Staatsblad tahun 1927 No.419) sebagaimana setelah diubah dan ditambah.

b. Setiap Perusahaan kecil perorangan yang dijalankan oleh pribadi pengusahanya sendiri atau hanya memperkerjakan anggota keluarga sendiri yang terdekat serta tidak memerlukan ijin usaha dan tidak merupakan suatu badan hukum atau suatu persekutuan.

(40)

Masalah yang cukup penting berkaitan dengan kegiatan bisnis adalah mengenai dokumen perusahaan. Suatu keputusan manajemen yang hendak diambil tidak jarang memanfaatkan informasi yang diperoleh dari suatu dokumen. Dokumen perusahaan bisa dijadikan sumber atau semacam “bank data.” Terhadap terminologi bank data ini akan diulas lebih lanjut pada bagian analisis. Dasar hukum yang dijadikan acuan dalam menyelenggarakan catatan atau dokumen perusahaan adalah apa yang termuat dalam Pasal 6 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) yang berdasarkan atas Staatsblad 1938 nomor 276 yang berlaku mulai 17 juli 1938. Ketentuan umum buku kesatuan Bab II Kitab Undang-Undang Hukum dagang (KUHD) pasal 6 berbunyi sebagai berikut:6

1) Setiap orang yang menjalankan perusahaan diwajibkan untuk menyelenggarakan catatan-catatan menurut syarat-syarat perusahaannya tentang keadaan hartanya dan apa saja yang berhubungan dengan perusahaannya, sehingga catatan itu sewaktu-waktu dapat diketahui semua hak dan kewajibannya.

2) Ia diwajibkan dalam enam bulan pertama dari tiap-tiap tahun untuk membuat neraca yang diatur menurut syarat-syarat perusahaannya dan menanda-tanganinya sendiri.

3) Ia diwajibkan menyimpan selama tiga puluh tahun buku-buku dan surat-surat dimana ia menyelenggarakan catatan-catatan dimaksud dalam alinea pertama berserta neracanya, dan selama sepuluh tahun.

Selanjutnya ketentuan yang mengatur tentang wajib daftar perusahaan pertama kali diatur dalam KUHD dalam ketentuan pasal 237, yang menentukan agar para persero firma diwajibkan mendaftarkan akta itu dalam register yang disediakan untuk itu pada kepaniteraan raad van justitie (pengadilan Negeri) daerah hukum tempat kedudukan perseroan itu.

Dasar Penyelenggaraan UU WDP itu sendiri adalah Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No.12/MPP.Kep/1/1998 tentang penyelenggaraan WDP ditetapkan pada tanggal 16 Januari 1998, yang merupakan pelaksanaan UU WDP. Keputusan ini dikeluarkan berdasarkan pertimbangan bahwa perlu diadakan penyempurnaan guna kelancaran dan peningkatkan kualitas pelayanan pendaftaran perusahaan, pemberian informasi, promosi, kegunaan pendaftaran perusahaan bagi dunia usaha dan masyarakat, meningkatkan peran daftar perusahaan, serta menunjuk penyelenggara dan pelaksana WDP.

6 Wahyuni Safitri, S.H., M.Hum. Op.cit.

7 Perseroan-perseroan firma harus didirikan dengan akta otentik, tanpa adanya kemungkinan untuk disangkalkan terhadap pihak ketiga, bila akta itu tidak ada (KUHPerdata 1868, 1874, 1895, 1898, KUHD 1, 26, 29, 31).

Gambar

Gambar 4.3 Pelaku  usaha  yang  telah  melakukan  tanda  daftar  perusahaan  (kelompok  persekutuan  perdata,  firma,  CV,  PT, Koperasi dan Yayasan)………………………………….
Gambar 4.1. Hirarkhi Persamaan Undang-undang

Referensi

Dokumen terkait