ii Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
PROSIDING
SEMINAR
NASIONAL
PG PAUD
UNTIRTA
2019
Penasihat: Dr. H. Aceng Hasani, M.Pd. Ketua: Atin Fatimah, M.Pd. Sekretaris:dr. Tricahyani E.Y., M.PH., Sp.EM. Bendara:
Laily Rosidah, M.Pd. Narasumber Seminar: Dr. Cepi Riyana, M.Pd.
(Universitas Pendidikan Indonesia) Dr. Hapidin, M.Pd.
(Universitas Negeri Jakarta) Tim Prosiding: Ratih Kusumawardani, M.Pd. Kristiana Maryani, M.Pd. Reviewer: Ila Rosmilawati, Ph.D Yuli Kurniawati, Ph.D Kesekretariatan: 1. Dr. Luluk Asmawati, M.Pd. 2. Rr. Dina Kusuma Wardani, M.Pd. Cover dan Tata Letak:
Desma Yuliadi Saputra, S.Pd.
JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
PERMAINAN
TRADISIONAL
VS
iii
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
Kata
Pengantar
S
alah satu misi pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi anak bangsa sejak usia dini. Misi ini memberikan pandangan bahwa pendidikan harus mampu membentuk manusia seutuhnya sebagai manusia yang berkarakteristik personal dan mampu memahami dinamika psikososial dan lingkungan kulturalnya. Maka proses pendidikan harus mencakup (1) Penumbuhkembangan keimanan dan ketakwaan, (2) Pengembangan wawasan kebangsaan, kenegaraan, demokrasi, dan kepribadian, (3)Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, (4) Pengem-bangan penghayatan, apresiasi, dan ekspresi seni, serta (5) Pembentukan manusia yang sehat jasmani dan rohani.Tujuan paling utama program PAUD adalah untuk meningkatkan kapasitas anak dalam berkembang dan belajar. Kegiatan PAUD, baik dalam program pengajaran, penelitian, maupun pengabdian diarahkan untuk mendukung dan memberikan layanan pada praktisi, akademisi, maupun anak-anak agar dapat mengembangkan kapasitasnya dan menggunakan komunikasi massa untuk meningkatkan penge-tahuan dan kemampuan praktikal.
Berdasarkan hasil curah pendapat dalam seminar nasional PGPAUD yang diselenggarakan kedua kalinya oleh Jurusan PGPAUD di Serang pada bulan Agustus 2019 dengan bertajuk “Permainan Tradisional Vs Digital” disepakati bahwa stimulasi untuk peningkatan kapasitas anak dalam berkembang dan belajar dapat ditempuh melalui multi metode dengan tidak menanggalkan identitas budaya setempat sebagai bagian dari upaya filtrasi budaya. Demi tujuan dan komitmen tersebut, maka Jurusan S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa memandang perlu meng-adakan kegiatan seminar nasional di mana dalam momentum ini berkumpul semua pihak terkait pendidikan anak usia dini, mulai dari akademisi, praktisi (para penge-lola lembaga PAUD dan pendidik anak usia dini, baik guru, pengasuh, maupun orang tua) untuk mendapatkan hasil dari desiminasi penelitian guna menuju profesionalitas dalam pendidikan anak usia dini.
iv Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
Seminar ini telah diikuti oleh berbagai unsur yang semuanya memiliki komitmen yang sama yakni profesionalisme dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini yang kelak akan tampil di masa yang akan datang sebagai generasi penerus pemimpin-pemimpin bangsa yang akan mengukir prestasi bagi Bangsa Indonesia.
Seminar nasional ini dapat berlangsung berkat dukungan dari berbagai pihak. Kami ucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan seluruh panitia yang telah mendukung acara ini. Terkhusus kepada seluruh penulis yang telah berkontribusi pada prosiding ini, kami ucapkan terima kasih. Semoga prosiding seminar nasional 2 PGPAUD 2019 dengan tajuk “Permainan Tradisional Vs Digital” ini dapat bermanfaat bagi penelitian dan pengembangan pendidikan anak usia dini di masa yang akan datang.
Ketua Jurusan PG PAUD FKIP Untirta
v
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
63
73
21
31
41
51
PELAKSANAAN PENDIDIKAN INKLUSI DI PAUD BINA BANGSA ISLAMIC SCHOOL KOTA SERANG
Aas Asmawati
PENGARUH MANAJEMEN SARANA PRASARANA PENDIDIKAN TERHADAP KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN
Amalia Sahara, Cucu Atikah, dan Reza Mauldy Raharja
MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA ANAK USIA 4-5 TAHUN MELALUI MEDIA CERITA BERGAMBAR
Aninda Kusuma Wardhany
MENINGKATKAN KECERDASAN KINESTETIK MELALUI KEGIATAN SENAM IRAMA
Anisa Qurotul Aeni, Alis Triena Permanasari, dan Siti Khosiah
PERAN GURU DALAM MENGOPTIMALKAN KEDISIPLINAN ANAK USIA 4-5 TAHUN
Anna Karina
PENINGKATAN KREATIVITAS MELALUI KEGIATAN BERMAIN SAINS
Annisa Nabila
MENINGKATKAN KONSENTRASI ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI METODE BERCERITA DENGAN BERBAGAI MEDIA
Asry Pratiwi
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN OLAH TUBUH
Dea Elma Pavitta
MENGEMBANGKAN ALAT PERMAINAN TRADISIONAL ENGKLEK UNTUK MENINGKATKAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 4-5 TAHUN DI PAUD MUTIARA HATI TAHUN AJARAN 2017/2018
Dwi Istati Rahayu, Nurhasanah, dan Baiq Nunike Resti Aulia
DAFTAR
ISI
1
9
vi Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
PENERAPAN PEMBELAJARAN TERPADU MODEL WEBBED PADA ANAK USIA TAMAN KANAK-KANAK
Eem Khujaemah
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS MELALUI MEDIA CLAY PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Elma Tresia
KREATIVITAS SENI RUPA ANAK DALAM KEGIATAN MOZAIK DI TK AL HUSNA BURING KOTA MALANG
Emmalia Marta Hapsari dan Wuri Astuti
MODEL BIMBINGAN MELALUI PERMAINAN SOSIODRAMA UNTUK MENGEMBANGKAN PERILAKU PROSOSIAL ANAK
Evi Afiati
EFEKTIVITAS PARENTING DALAM PENINGKATAN PROSES STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK DI PAUD/TK KOTA MATARAM TAHUN 2017
Fahruddin, Muazar Habibi, Nurhasanah, dan Ika Rahmayani
PENGARUH GIZI SEIMBANG TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA 4-5 TAHUN
Fida Fitria Ahadiyani
MENINGKATKAN KEMAMPUAN EMOSIONAL
ANAK USIA 4-5 TAHUN ME-LALUI BERMAIN KONTUKTIF
Fitri Haryati
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN TERHADAP KEDISIPLINAN ANAK USIA 5-6 TAHUN
Gita Kurniawati
PENERAPAN PERMAINAN TRADISIONAL PADA ANAK USIA DINI
Kristiana Maryani
MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI KARAKTER MELALUI UPACARA BENDERA
Kristina Uli
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS
MELALUI KEGIATAN ME-WARNAI DENGAN TEKNIK GRADASI
Misshita Dwita
95
103
113
119
133
147
161
173
181
189
199
vii
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
MENINGKATKAN KREATIVITAS MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK KELOMPOK B
Nani Yulia
PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN EMOSI ANAK USIA 4-6 TAHUN
Nia Prasetyaningsih
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERCERITA MELALUI MEDIA CERITA BERGAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Nina Rakhmawati, Luluk Asmawati, dan Laily Rosidah
PENINGKATAN KEMANDIRIAN MELALUI METODE BERCERITA
Nopiana
PENERAPAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN DI TAMAN PENITIPAN ANAK
Noviyana Furyanti
PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI MEDIA KARTU GAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI PAUD SMART KECAMATAN SERANG, KOTA SERANG-BANTEN
Nunu Astuti
MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI METODE PROYEK DI PAUD AL-HUDA KOTA SERANG
Nurul Ashila Tri Utami
PEMBELAJARAN ENTREPRENEURSHIP ANAK USIA DINI DI TK KHALIFAH 2 SERANG
Nurul Fathia
KREATIVITAS GURU DALAM MENCIPTAKAN PERMAINAN KREATIF UNTUK ANAK USIA DINI
Nuryati
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN ANAK KELOMPOK B MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL
Ridha Indah Fajarwati
MENINGKATKAN KOSAKATA MELALUI MEDIA GAMBAR
Rifkiyanti Azizah
219
229
239
251
263
275
283
293
305
315
207
viii Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
SMARTPHONE: ANAK ATAU ORANGTUA YANG SESUNGGUHNYA TIDAK DAPAT
TERLEPAS DARINYA?
Rina Windiarti
PENGARUH METODE BERNYANYI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA ANAK USIA 4 – 5 TAHUN
Riska Novianti
MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN PENGOLAHAN BAHAN BEKAS
Siska Fahrunisa Aulia
PENGARUH PERMAINAN PUZZLE
TERHADAP KECERDASAN LOGIKA MATEMATIKA
Siti Maprudoh
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA PERMULAAN ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN BERMAIN BALOK
Siti Marifah
PENGARUH PENDEKATAN BCCT (BEYOND CENTRE AND CIRCLE TIME) TERHADAP KREATIVITAS GURU DI KECAMATAN CIBEBER
KOTA CILEGON BANTEN
Siti Nur Asiyah
MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN FUN COOKING
Siti Nuraeni dan Tricahyani Endah Yuniarti
PENGUASAAN BAHASA LISAN ANAK USIA 4 TAHUN
Siti Nurhayati
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KECERDASAN LOGIKA MATEMATIKA ANAK
Siti Nurlaeli
MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL INDONESIA
Siti Restu Utami Fatmawati
PENGARUH MODEL ACTIVE LEARNING TERHADAP PENGEMBANGAN ENTREPRENEURSHIP ANAK USIA DINI
Siti Rokimah dan Fadlullah
345
355
363
377
385
393
401
409
417
325
335
ix
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK DI SENTRA BALOK
Sri Purwatih dan Fahmi
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN KLASIFIKASI
Sri Wahyuningsih dan Isti Rusdiyani
MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN SAINS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN BERMAIN KREATIF
Sulastina dan Ratih Kusumawardani
MENINGKATKAN KREATIVITAS MELALUI BERMAIN LEGO PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK TUNAS MERAK PANDEGLANG
Upiah dan Atin Fatimah
PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 0-24 BULAN
Wiwin Supriatin
PENTINGNYA KETERAMPILAN GURU DALAM MENGELOLA KELAS
Yonia Ilma Insyira
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN SOSIAL ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI PEMBIASAAN DI TK ISLAM TIRTAYASA
Yoyoh Khumaeroh
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI MEDIA LEGO HURUF
Zahrotul Uyun dan Tri Sayekti
453
459
467
477
485
427
435
443
63
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
MENINGKATKAN KONSENTRASI ANAK USIA 5-6 TAHUN
MELALUI METODE BERCERITA DENGAN BERBAGAI MEDIA
Asry Pratiwi
PG-PAUD FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa [email protected]
ABSTRACT
The concentration of attention must be focused on one object and the mind must think of the lesson learned, direct the mind of a child to a subject and should not think of other things that have nothing to do with the lesson. The purpose of this research are: 1) To know the process of the implementation of methods of telling stories with various media in increasing the concentration of children aged 5-6 years in PAUD BHAKTI IBU Anyar Serang-Banten. 2) To improve the concentration of children aged 5-6 years in PAUD Bhakti Ibu Anyar Serang-Banten can be improved through the method of telling stories with various media. The method in this research is action research method, in this research is children aged 5-6 years in PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten with the number of 15 children. This classroom action research procedure uses Kemmis and Mc Teggart model consisting of 3 stages: planning, action, observation and reflection. The process of collecting data is done through observation, field notes, interview notes and documentation notes. Data analysis uses data reduction, data presentation and conclusion. The results of this study note that: 1) in pre-action concentration of children 27%, 2) after the child is given action in cycle I, the concentration of children increased to 50%, 3) in the second cycle obtained 84% results. Thus, the child’s concentration has increased and is at a very good developing stage. It can be concluded that through the method of storytelling with various media can increase the concentration of children aged 5-6 years in PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten.
64 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
ABSTRAK
Konsentrasi yaitu perhatiannya harus dipusatkan kepada satu objek dan pikirannya harus memikirkan pelajaran yang dipelajari, mengarahkan pikiran seorang anak terhadap suatu mata pelajaran dan tidak boleh memikirkan hal-hal lainnya yang tidak ada hubungan dengan pelajaran itu. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui proses pelaksanaan metode bercerita dengan berbagai media dalam meningkatkan konsentrasi anak usia 5-6 tahun di PAUD BHAKTI IBU Anyar Serang-Banten. 2) Untuk meningkatkan konsentrasi anak usia 5-6 tahun di PAUD Bhakti Ibu Anyar Serang-Banten dapat di tingkatkan melalui metode bercerita dengan berbagai media. Metode dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan, dalam penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten dengan jumlah 15 orang anak. Prosedur penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Mc Teggart yang terdiri dari 3 tahap yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi, catatan lapangan, catatan wawancara dan catatan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian ini diketahui bahwa: 1) pada pra tindakan konsentrasi anak 27%, 2) setelah anak diberikan tindakan pada siklus I, konsentrasi anak meningkat menjadi 50%, 3) pada siklus II diperoleh hasil 84%. Dengan demikian, konsentrasi anak sudah meningkat dan berada pada taraf berkembang sangat baik. Dapat disimpulkan bahwa melalui metode bercerita dengan berbagai media dapat meningkatkan konsentrasi anak usia 5-6 tahun di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten.
Kata Kunci: konsentrasi anak, metode bercerita dengan berbagai media.
PENDAHULUAN
Anak adalah manusia kecil yang unik karena setiap anak mempunyai ciri khas masing-masing yang tidak sama dengan or-ang dewasa dan anak-anak lain walaupun mereka seusia. Anak juga sangat mem-butuhkan perhatian baik dari lingkungan rumah terutama kedua orang tuanya mau-pun lingkungan sekolah.
Anak usia dini berada dalam masa ke-emasan di sepanjang rentang usia perkem-bangan manusia karena pada masa usia dini merupakan masa peletak dasar atau fon-dasi awal bagi pertumbuhan dan perkem-bangan selanjutnya.
Proses belajar membutuhkan konsen-trasi belajar. Tanpa konsenkonsen-trasi belajar, maka peristiwa belajar itu sesungguhnya tidak ada atau tidak berlangsung. Manfaat yang dapat diperoleh jika anak mampu ber-konsentrasi dengan baik pada saat meng-ikuti proses belajar di kelas adalah anak akan mudah dan cepat menguasai materi yang disajikan. Anak yang konsentrasi
memiliki ciri memperhatikan guru, tidak berbicara sendiri ketika guru menjelaskan, kemudian anak mampu melakukan kegiat-an dengkegiat-an baik. Konsentrasi dapat dijadi-kan sebagai tanda ketertaridijadi-kan anak menge-nai pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga anak yang sedang konsentrasi akan lebih mudah memahami kegiatan pembel-ajaran. Selain itu, konsentrasi juga mampu menambah semangat maupun motivasi anak untuk lebih terlibat dalam proses belajar mengajar. Suasana belajar yang kondusif, memudahkan anak dalam memperoleh pengalaman baru, hingga memunculkan hal-hal yang positif pada diri anak.
Berdasarkan hasil observasi pada ke-lompok B di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten. Terlihat ada masalah belajar anak yang berhubungan dengan konsentrasi. Hal ini tampak ketika guru memberikan pen-jelasan: (1) banyak anak bercakap-cakap dengan teman lainnya sehingga penjelasan dari guru tidak diperhatikan oleh anak, (2) Guru mengeluh bahwa rata-rata di kelasnya
65
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
terdapat gangguan konsentrasi yang meng-ganggu proses belajar mengajar di kelas, (3) Dalam kegiatan pembelajaran, guru masih menggunakan metode ceramah serta menggunakan LKA sebagai pemberian tugas, sehingga konsentrasi belajar anak ketika pembelajaran belum baik. Sebagai sosok pengganti orang tua di sekolah guru harus mampu mengendalikan situasi se-macam ini. Melihat berbagai faktor yang dapat mengganggu konsentrasi belajar, baik secara internal maupun faktor eksternal, maka sebagai seorang guru upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian stimulasi atau rangsangan yang baik bagi lingkungan pembelajaran anak. Salah satu stimulasi bagi lingkungan anak adalah dengan menggunakan metode yang tepat dan menarik bagi anak.
Berdasarkan permasalahan yang telah disampaikan di atas maka peneliti meng-adakan penelitian tentang “Meningkatkan Konsentrasi Anak Usia 5-6 tahun Melalui Metode Bercerita Dengan Berbagai Media (Penelitian Tindakan di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten)”.
KAJIAN TEORI
1. Pengertian Konsentrasi Belajar
Sejalan dengan itu, Menurut Mudjiono dan Dimyati (2006: 239), “Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusat-kan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya.”
Pemusatan perhatian dalam belajar adalah mengarahkan pikiran seorang anak terhadap suatu mata pelajaran dan tidak boleh memikirkan hal-hal lainnya yang tidak ada hubungan dengan pelajarannya itu.
Selain itu Supriyo (2008: 103) berpenda-pat bahwa konsentrasi adalah pemusatan perhatian, pikiran terhadap suatu hal dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Siswa yang tidak
kon-sentrasi dalam belajar berarti tidak dapat memusatkan pikirannya terhadap bahan pelajaran yang dipelajarinya. Konsentrasi dalam belajar akan menentukan keber-hasilan belajar oleh sebab itu maka setiap pelajar perlu melatih konsentrasi dalam kegiatan sehari-hari.
Selain itu Slameto (2013: 86) bahwa dalam belajar, berkonsentrasi berarti pemu-satan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan mengesampingkan semua hal lain-nya yang tidak berhubungan dengan pel-ajaran. Dari beberapa definisi tentang kon-sentrasi yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi itu perhati-annya harus dipusatkan kepada satu objek dan pikirannya harus memikirkan pelajaran yang dipelajari, mengarahkan pikiran se-orang anak terhadap suatu mata pelajaran dan tidak boleh memikirkan hal-hal lainnya yang tidak ada hubungan dengan pelajaran-nya itu. Berkonsentrasi di dalam kelas adalah menjauhi segala gangguan yang membuat anak tidak fokus terhadap suatu mata pel-ajaran seperti mengobrol dengan temannya, bercanda, sibuk sendiri dan lain-lain.
2. Ciri-ciri Anak Didik yang Dapat Ber-konsentrasi Belajar
Indikator atau alat mengukur konsen-trasi dalam belajar yang dikemukakan oleh Super dan Crities yang dikutip oleh Kuntoro (Rachman, 2010: 7) antara lain sebagai berikut:
a. Memperhatikan setiap materi pelajar-an ypelajar-ang disampaikpelajar-an guru
b. Dapat merespons dan memahami se-tiap materi pelajaran yang diberikan c. Selalu bersikap aktif dengan bertanya
dan memberikan argumentasi menge-nai materi pelajaran yang disampaikan guru
d. Menjawab dengan baik dan benar setiap pertanyaan yang diberikan guru e. Kondisi kelas tenang dan tidak gaduh saat menerima materi pelajaran. Untuk
66 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
mengukur tingkat konsentrasi belajar siswa, yang terpenting adalah menge-tahui seberapa jauh individu tersebut menerima, menolak atau menghindari setiap pelaksanaan pembelajaran yang menjadi kecenderungannya.
Ciri-ciri siswa yang berkonsentrasi dalam belajar yaitu kondisi kelas harus tenang, bersih, nyaman dan tidak gaduh saat menerima materi pelajaran.
3. Ciri-ciri Anak Didik yang Tidak Dapat Berkonsentrasi Belajar
Menurut Supriyo (2008: 104) gejala-gejala yang nampak pada anak yang meng-alami kesulitan dalam berkonsentrasi bel-ajar yaitu sebagai berikut:
a. Pada umumnya anak merasa betah ber-jam-jam untuk duduk-duduk untuk menonton TV dan sebagainya. (di luar kegiatan belajar) tetapi kalau belajar sebentar sudah merasa tidak tahan. b. Mudah kena rangsangan lingkungannya
(seperti: suara radio, TV, gangguan adik atau kakak).
c. Kadangkala selalu mondar-mandir ke sana kemari untuk mencari perlengkap-an belajar.
d. Selesai belajar tidak tahu apa yang baru saja dipelajari.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri siswa yang tidak dapat berkonsentrasi belajar yaitu siswa sering mondar-mandir pada saat pembel-ajaran berlangsung, bercanda, mengobrol dengan temannya dan setelah selesai bel-ajar tidak tahu apa yang sudah dipelbel-ajarinya.
4. Faktor-faktor yang Mempengauhi
Konsentrasi Belajar
Olivia (2010: 107) juga menyebutkan mengenai faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar anak, antara lain:
a. Faktor Internal
Dari dalam diri, misalnya minat belajar yang rendah (mata pelajaran dianggap tidak menarik), perencanaan jadwal belajar yang buruk dan kesehatan yang sedang menurun.
b. Faktor Eksternal
Berupa suasana, perlengkapan, pene-rangan ruangan suara dan adanya gambar-gambar yang mengganggu perhatian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kon-sentrasi belajar yaitu mata pelajaran di-anggap tidak menarik membuat siswa men-jadi malas untuk mengikuti pelajaran dan mengakibatkan malas untuk memperhati-kan, begitu juga dengan suasana kelas yang tidak nyaman sangat mempengaruhi anak tidak berkonsentrasi.
5. Pengertian Metode Bercerita
Menurut Risaldy (2014: 64-65) metode bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Metode bercerita me-rupakan salah satu cara dalam memberikan pengalaman belajar bagi anak usia dini, dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan dapat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Moeslichatoen (2004: 157) menyatakan metode bercerita adalah salah satu pem-berian pengalaman belajar bagi anak Taman Kanak-kanak dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang di-bawakan guru harus menarik, dan meng-undang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan bagi anak Taman Kanak-kanak.
Dari pendapat di atas dapat ditarik ke-simpulan bahwa metode bercerita adalah metode yang menggunakan lisan dan ceritanya adalah pengalaman yang sudah terjadi dan ada yang berasal dari kejadian nyata (fiksi) ataupun tidak nyata (non fiksi),
67
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
bisa juga dari pengalaman lucu, pengalam-an menyedihkpengalam-an dll.
5. Manfaat Metode Bercerita
Moeslichatoen (2004: 168) menyebut-kan manfaat penggunaan metode bercerita dalam pembelajaran anak Taman Kanak-kanak adalah sebagai berikut:
a. Bagi anak usia Taman Kanak-kanak mendengarkan cerita yang menarik yang dekat dengan lingkungannya me-rupakan kegiatan yang mengasyikkan. b. Guru dapat memanfaatkan kegiatan bercerita untuk menanamkan kejujur-an, keberanikejujur-an, kesetiakejujur-an, keramahkejujur-an, ketulusan, dan sikap-sikap positif yang lain dalam kehidupan lingkungan ke-luarga, sekolah, dan luar sekolah. c. Kegiatan bercerita juga memberikan
sejumlah pengetahuan sosial, nilai-nilai moral, dan keagamaan.
d. Kegiatan bercerita memberikan pe-ngalaman belajar untuk berlatih men-dengarkan.
e. Melalui metode bercerita memungkin-kan anak mengembangmemungkin-kan kemampu-an kognitif, afektif, maupun psikomotor masing-masing anak.
f. Memungkinkan pengembangan dimensi perasaan anak.
g. Metode bercerita digunakan guru untuk memberikan informasi tentang kehi-dupan sosial anak dengan orang-orang yang ada di sekitarnya dengan berbagai macam pekerjaan.
h. Membantu anak membangun ber-macam peran yang mungkin dipilih anak, dan bermacam layanan jasa yang ingin disambungkan anak kepada masyarakat.
i. Menuturkan bermacam pekerjaan yang ada dalam masyarakat yang beraneka ragam yang dapat menimbulkan sikap pada diri anak menghargai bermacam-macam pekerjaan tersebut.
Dari pendapat di atas dapat ditarik ke-simpulan bahwa cerita atau mendongeng merupakan proses mengenalkan perasaan anak atau bentuk-bentuk emosi dan eks-presi kepada anak, misalnya marah, sedih, gembira, kesal dan lucu. Hal ini akan mem-perkaya kosakata dan pengalaman emo-sionalnya.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan atau action research. dengan menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart, yang didasarkan atas: peren-canaan, tindakan, pengamatan dan refleksi (Wijaya & Dedi, 2011: 21). Penelitian terdiri dari 2 siklus. Siklus pertama terdiri dari 8 kali pertemuan dan siklus kedua terdiri dari 4 kali pertemuan dengan kriteria keber-hasilan tindakan 65%. Subjek penelitian berjumlah 15 orang anak. Tempat dan waktu penelitian adalah di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten. Penelitian ini dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu di semester ganjil pada bulan Oktober sampai dengan selesai. Teknik pengumpulan data menggunakan pedoman observasi, wawan-cara, catatan lapangan dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan data kuali-tatif dan data kuantikuali-tatif yang terdiri dari re-duksi data, penyajian data dan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
a. Hasil pra tindakan
Penelitian Tindakan (PT) ini dilaksana-kan di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten dengan fokus penelitian “Mening-katkan Konsentrasi Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Metode Bercerita Dengan Berbagai Media”. Telah dilaksanakan sebanyak dua siklus, dan pada siklus I terdiri dari delapan kali pertemuan, dan siklus II terdiri dari em-pat kali pertemuan. Data hasil observasi pra tindakan mengenai konsentrasi anak usia
68 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
5-6 tahun melalui metode bercerita dengan berbagai media dapat disajikan dalam bentuk diagram berikut:
Diagram 1.1. Hasil Observasi Pra Tindakan
Berdasarkan diagram di atas kemampu-an membaca kemampu-anak dengkemampu-an persentase se-besar 27% sehingga peneliti dapat meng-ambil kesimpulan bahwa kemampuan membaca permulaan kelompok B di TK Kemala Bhayangkari 01 Serang masih rendah. Hal ini juga didukung oleh catatan lapangan kode CL 01.
b. Hasil Penelitian Siklus I
Berdasarkan hasil observasi di siklus I perkembangan konsentrasi anak usia 5-6 tahun melalui metode bercerita dengan berbagai media di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:
Diagram 1.2. Skor Hasil Tindakan
Meningkatkan Konsentrasi Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Metode Bercerita Dengan
Berbagai Media Siklus I
c. Hasil Penelitian Siklus II
Data hasil observasi di siklus II Ber-dasarkan hasil observasi di siklus II perkem-bangan konsentrasi anak usia 5-6 tahun melalui metode bercerita dengan berbagai media di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten dapat disajikan dalam bentuk dia-gram sebagai berikut:
Diagram 1.3
Skor Hasil Tindakan Meningkatkan Konsentrasi Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Metode Bercerita Dengan Berbagai Media
Siklus II
Diagram 1.4. Skor Hasil Perbandingan
Antara Pra Penelitian, Siklus I dan Siklus II
Pembahasan
1. Proses Pelaksanaan Metode Bercerita dengan Berbagai Media dalam Mening-katkan Konsentrasi Anak Usia 4-5 tahun di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten.
Proses pelaksanaan metode bercerita dengan berbagai media dalam meningkat-kan konsentrasi bercerita dalam
pembel-19 18 16 16 19 16 18 18 17 16 16 18 16 18 17 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
AA AP ADY AI FH HM MD MF QEH QHI SM SIY SS RYP YRP
Ju m la h S ko r M aks im a l Subjek 34 35 30 29 32 30 30 33 31 32 29 31 33 32 33 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
AA AP ADY AI FH HM MD MF QEH QIH SM SIY SS RYP YRP
Ju m lah S kor M ak si m al Subjek 56 56 55 54 54 54 54 56 55 53 52 52 53 53 54 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
AA AP ADY AI FH HM MD MF QEH QIH SM SIY SS RYP YRP
Ju m la h S ko r M a ks im al Subjek 27 50 84 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Pra Tindakan Siklus I Siklus II
P re se n ta se %
69
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
ajaran pada anak usia 5-6 tahun di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten ada tahap-an-tahapan yang harus dilakukan, tahapan-tahapannya yaitu: Pada tahapan pertama yaitu tahap pembukaan di mana pada tahap-an ini tahap-anak bernytahap-anyi terlebih dahulu dengtahap-an berbagai yel-yel yang diberikan oleh guru, selanjutnya kegiatan diawali dengan mem-baca surat pendek, memmem-baca doa sehari-hari seperti doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum tidur dan bangun tidur dan berdoa sebelum belajar. Tahap kedua, pe-laksanaan dalam kegiatan inti yaitu anak-anak mulai melakukan pembelajaran sesuai kegiatan tema yang sudah diberikan pene-liti. Peneliti menyiapkan media yang akan digunakan pada saat cerita berlangsung, setelah kegiatan berlangsung peneliti men-ceritakan di depan anak-anak sambil mem-bawa media dan memperhatikan anak yang sedang melakukan pembelajaran tersebut. kemudian tahap ketiga yaitu penutup tepuk-tepuk, bernyanyi, dan berdoa.
Tahap pelaksanaan di mana tahap ini merupakan proses kegiatan untuk mening-katkan konsentrasi anak melalui metode bercerita dengan berbagai media. Kegiatan inti yang dilaksanakan dalam pelaksanaan kegiatan dimulai dengan penjelasan ten-tang seperti cara pembelajaran bermain yang akan dilakukan menggunakan metode ber-cerita dengan berbagai media, kemudian anak mendengarkan guru yang sedang ber-cerita. Tahapan terakhir yaitu tahap evaluasi di mana tahap evaluasi dilakukan kepada anak untuk melihat seberapa besar pening-katan yang dialami anak dan juga evaluasi peneliti dengan kolaborator untuk menen-tukan kegiatan apa yang akan digunakan dalam tindakan selanjutnya untuk menun-jang perkembangan konsentrasi anak. Ke-giatan melalui metode bercerita dengan berbagai media yang akan dilakukan harus dikemas dengan semenarik mungkin dan membuat anak tertarik serta semangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran
agar meningkatnya konsentrasi anak. Seperti yang telah disampaikan oleh Moeslichatoen (2004: 157) menyatakan metode bercerita adalah salah satu pem-berian pengalaman belajar bagi anak Taman Kanak-kanak dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang di-bawakan guru harus menarik, dan meng-undang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan bagi anak Taman Kanak-kanak.
Melalui metode bercerita membantu proses pembelajaran yang memiliki gairah untuk meningkatkan konsentrasi anak, me-nimbulkan semangat untuk memperhati-kan pembelajaran yang disampaimemperhati-kan, bahan yang digunakan pun termasuk mudah untuk dibuat dan dibuat semenarik mungkin, sehingga membuat anak senang dalam pem-belajaran.
2. Peningkatan Konsentrasi Anak Usia
5-6 Tahun Melalui Metode Bercerita dengan Berbagai Media di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten
Pada akhirnya berdasarkan analisis data yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa tin-dakan yang dilakukan oleh guru dan peneliti dengan baik sehingga menghasilkan me-ningkatnya konsentrasi anak khususnya pada anak usia 5-6 tahun. Dimulai dari kon-disi anak pra penelitian dengan hasil per-sentase sebesar 27% pada siklus I, konsen-trasi anak semakin meningkat sebesar 50%, hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik. Kemudian hasil dari siklus II, perkembangan anak mengalami pening-katan yang signifikan mencapai 84%, pene-liti merasa bahwa peningkatan pada siklus II ini meningkat secara signifikan karena persentase kenaikan sudah mencapai kri-teria keberhasilan tindakan yang telah ditentukan yaitu sebesar 65%. Keberhasilan peningkatan perkembangan konsentrasi anak melalui metode bercerita dengan ber-bagai media yang ditandai dengan lembar
70 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
observasi yaitu anak mengikuti kegiatan sangat antusias, aktif dan semangat sehingga kegiatan menyenangkan. Anak tidak lagi merasa jenuh saat pembelajaran, anak men-dapatkan informasi baru dalam pikirannya, anak bisa diam dan fokus saat pembelajaran, anak mampu mengungkapkan perasaannya, anak mulai percaya diri saat menceritakan cerita yang telah disampaikan, dan anak mulai bisa berkonsentrasi saat pembelajaran berlangsung.
PENUTUP
a. Kesimpulan
Setelah peneliti menjelaskan dan menganalisis peningkatan konsentrasi anak usia 5-6 tahun melalui metode bercerita dengan berbagai media di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten, peneliti menyimpul-kan beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Proses pelaksanaan metode bercerita dengan berbagai media memiliki bebe-rapa tahapan yaitu: (1) pembukaan, di mana pada tahapan ini anak bernyanyi terlebih dahulu yang dipandu oleh guru, selanjutnya kegiatan diawali dengan membaca surat pendek, membaca doa sehari-hari dan berdoa sebelum belajar; (2) kegiatan inti, di mana guru menjelas-kan kegiatan bercerita dengan berbagai media agar anak dapat berkonsentrasi, setelah selesai menjelaskan anak di-minta untuk mendengarkan guru ber-cerita dan setelah selesai guru berber-cerita anak-anak diberi pertanyaan tentang apa yang sudah diceritakan oleh guru-nya dan anak diminta untuk mengulang cerita tersebut dan; (3) penutup yaitu di akhir pembelajaran anak melakukan tepuk-tepuk, bernyanyi, dan berdoa.
Metode yang digunakan dalam me-ningkatkan konsentrasi anak yaitu metode bercerita, tanya jawab. Media cerita dibuat semenarik mungkin untuk meningkatkan konsentrasi anak agar anak lebih tertarik
dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa ke-giatan melalui metode bercerita dengan berbagai media sendiri merupakan sebuah kegiatan pembelajaran yang dapat diguna-kan oleh guru untuk membantu proses pem-belajaran. Di mana setiap dilakukan tindak-an, kegiatan metode bercerita dengan ber-bagai media seperti cerita yang berjudul me-nangkap burung merpati dengan mengguna-kan media wayang kayu, cerita yang ber-judul asal usul panjang leher jerapah dengan media kertas bergambar, cerita dengan judul gajah yang baik hati dengan media boneka tangan, cerita yang berjudul persahabatan ikan hiu dan ikan remora dengan media kan-tong ajaib, disesuaikan dengan tema di PAUD tersebut.
Tahap yang terakhir yaitu evaluasi, tahap ini dilakukan agar anak mampu mengingat kembali segala kegiatan yang telah mereka lakukan dan anak mampu menyimpulkan sebuah informasi belajar, selama evaluasi guru melakukan tanya jawab seputar kegiat-an ykegiat-ang telah dilakukkegiat-an.
2. Berdasarkan analisis data yang diper-oleh, dapat dikatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh guru dan peneliti berjalan dengan baik, sehingga meng-hasilkan peningkatan konsentrasi anak khususnya pada anak usia 5-6 tahun di PAUD Bhakti Ibu Anyar, Serang-Banten. Dimulai dari kondisi anak saat pra pene-litian dengan hasil persentase sebesar 27% di mana keterampilan berbicara anak masih kurang, anak belum mampu mengungkapkan pendapatnya, pada siklus I, keterampilan berbicara anak semakin meningkat sebesar 50% di mana pada siklus I ini peneliti telah menggunakan media cerita setiap hari-nya dan berbagai macam kegiatan dan terlihat ada peningkatan yang baik, anak mulai dapat berkonsentrasi dengan baik, anak mampu memperhatikan
71
Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019
tiap materi pembelajaran yang disam-paikan guru, anak mampu menjawab pertanyaan guru,anak mampu diam saat pembelajaran berlangsung, hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik pada siklus I.
Kemudian hasil dari siklus II, perkem-bangan anak mengalami peningkatan yang signifikan mencapai 84% di mana pada siklus II ini peneliti lebih memperbaiki media pembelajaran agar lebih terlihat menarik untuk anak, terbukti semakin meningkat ke-mampuan anak dalam kognitifnya. Pada siklus II anak lebih mudah untuk dikondisi-kan, anak mampu menanggapi setiap kegiat-an pembelajarkegiat-an, presentasi tersebut me-lebihi dari nilai tingkatan pencapaian keber-hasilan konsentrasi anak yang ingin dicapai yang telah ditentukan peneliti dan kolabora-tor yaitu sebesar 65% pencapaian keber-hasilan konsentrasi anak. Keberkeber-hasilan pe-ningkatan konsentrasi anak melalui me-tode bercerita dengan berbagai media yang ditandai dalam lembar observasi.
Adapun berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, metode ber-cerita dengan berbagai media dapat me-ningkatkan konsentrasi anak. Kondisi anak yang sebelumnya yang tidak kondusif di kelas, sering bercanda dan bertengkar saat kegiatan berlangsung sekarang sudah lebih membaik. Anak sudah mampu menjawab pertanyaan guru, anak mampu mencerita-kan di depan teman-temannya, anak mampu duduk rapi, dan bersemangat ketika meng-ikuti kegiatan di dalam kelas bahkan ada be-berapa anak yang awalnya malu-malu dan kurang percaya diri saat menceritakan kem-bali, kini anak sudah mampu dan berani untuk bercerita.
b. Rekomendasi
Dalam melakukan penelitian ini, pe-neliti mencoba memberikan beberapa sa-ran yang dapat diharapkan dapat ber-manfaat bagi:
•
Kegiatan pembelajaran melalui ber-cerita diharapkan dapat memberikan dorongan semangat untuk anak se-hingga dapat mengembangkan konsen-trasi anak.•
Sebaiknya guru lebih aktif, kreatif dan inovatif dalam memberikan pembel-ajaran di dalam kelas.•
Guru hendaknya mampu menguasai sebagai macam teknik dan metode pembelajaran agar anak lebih antusias dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.•
Guru sebaiknya bisa menerapkan ilmu yang didapat dalam kegiatan seminar atau pelatihan.DAFTAR PUSTAKA
Moeslichatoen. 2004. Metode Pengajaran Di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Rineka Cipta
Risaldy, Sabil. 2014. Bermain, Bercerita, dan Menyanyi Bagi Anak Usia Dini. Jakarta: Luxima Metro Media
Slameto. 2013. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Supriyo. 2008. Studi Kasus Bimbingan dan Konseling. Semarang: Nieuw Setapak Olivia, Femi. 2010. Mendampingi Anak
Belajar. Jakarta: Elex Media Komputindo
Rachman. 2010. Teori konsentrasi belajar. Diakses dari http://repository.upi/ s_tb_055186_bab_ii.pdf/. Pada tanggal 02 Maret 2017 pukul 19.00 WIB
Mudjiono & Dimyati. 2006. Belajar dan