Peranan ekaristi dalam meningkatkan hidup beriman umat kristiani usia 30 tahun ke atas Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas - USD Repository

158 

Teks penuh

(1)

i

PERANAN EKARISTI DALAM MENINGKATKAN HIDUP BERIMAN UMAT KRISTIANI USIA 30 TAHUN KE ATAS PAROKI

ADMINISTRATIF SANTA MARIA ASSUMPTA CAWAS

S K R I P S I

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Korbinianus Fritz Cahya Nugraha

(141124015)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberkatiku, kedua orang tuaku Bartholomeus Watman dan Maria Septiti Dwi

Turingsih, mbakku Dolores Fany Wibrihandiyan, adikku Anna Maria Silvina Pramestimaningtyas yang selalu mendoakan dan menyemangatiku, nongku Fransiska Siki dan sahabat-sahabatku G.A Bayu Panji Narendra, Sirniko, Fx. Adswi Fransibena, Andrianus Heriskurniawan dan seluruh teman-teman angkatan

2014, Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas serta Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah mengisi dinamika perkuliahan lewat ilmu dan pengalaman rohani bagi

(5)

v MOTTO

“Jika yang terbaik tidak mungkin, maka yang ada sekarang adalah yang terbaik.”

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

Skripsi ini berjudul PERANAN EKARISTI DALAM MENINGKATKAN HIDUP BERIMAN UMAT KRISTIANI USIA 30 TAHUN KE ATAS PAROKI ADMINISTRATIF SANTA MARIA ASSUMPTA CAWAS. Judul ini dipilih berdasarkan situasi yang ada di Paroki Administrasi Santa Maria Assumpta Cawas yang melaksanakan perayaan Ekaristi secara intensif yaitu Ekaristi mingguan, harian, per lingkungan, per wilayah maupun Ekaristi ujub atau permohonan khusus. Dengan kenyataan seperti itu, penulis tertarik untuk mengetahui seberapa besar peran Ekaristi bagi pekembangan hidup beriman mereka. Ekaristi merupakan pusat hidup umat Kristiani. Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan umat kristiani. Artinya, Tuhan benar-benar hadir di tengah-tengah umat sehingga mereka dapat mengalami cinta-Nya yang amat besar. Dengan mengikuti Ekaristi secara terus menerus dan menghayatinya secara mendalam, umat diharapkan bisa terlibat aktif dalam Ekaristi dan menemukan karunia Roh Kudus yang mengembangkan hidup beriman mereka dengan cara melakukan kesaksian dalam keluarga dan masyarakat.

Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah menemukan seberapa besar peran Ekaristi bagi perkembangan hidup beriman umat Kristiani dan usaha apa yang dibutuhkan untuk membantu meningkatkan penghayatan umat pada Ekaristi. Untuk menjawab persoalan tersebut penulis menggunakan studi pustaka dan penelitian. Studi pustaka yang digunakan adalah mempelajari dan menemukan pokok-pokok Ekaristi dan hidup beriman umat Kristiani. Sedangkan penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian kualitatif. Untuk memperoleh data, penulis melakukan wawancara pada 13 responden yang telah dipilih berdasarkan kebutuhan dan kemampuan mereka.

(9)

ix ABSTRACT

The tittle of this thesis is “THE ROLE OF EUCHARIST IN IMPROVING

THE FAITHFUL LIFE OF CHRISTIAN AGE 30 YEARS AND OLDER PARISH ADMINISTRATIVE OF SANTA MARIA ASSUMPTA CAWAS”. This title is chosen based on the situation in the Parish Administrative of Santa Maria Assumpta Cawas which carries out an intensive Eucharist celebration is the Eucharist weekly, daily, per environment, per region and the Eucharist of ujub or special request. With this fact, the writer are interested in knowing how much the role of Eucharist for development of their faith life. The Eucharist is the center of Christian life. The Eucharist is the source and culmination of the life of Christians. That is, God is truly present in the midst of the people so that they can experience His immense love. By following the Eucharist continuously and living it deeply, people are expected to be actively involved in the Eucharist and find the gift of Holy Spirit that develop their faithful lives by witnessing in their families and communities.

The main problems of this thesis is found how much the role of Eucharist in the development of the faithful life of Christian people and what efforts are needed to help increase the appreciation of the people at the Eucharist. To answer this problem the writer uses literature and research. The literature study used is learn and discover the points of the Eucharist and the life of Christianity. While the research used by the writer is qualitative research. To obtain data, the writer interviewed 13 respondents who were selected based on the needs and their abilities.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Yesus Yang Maha Kasih atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PERANAN EKARISTI DALAM MENINGKATKAN HIDUP BERIMAN UMAT

KRISTIANI USIA 30 TAHUN KE ATAS PAROKI ADMINISTRATIF

SANTA MARIA ASSUMPTA CAWAS.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma. Skripsi ini disusun atas dasar ketertarikan penulis akan seberapa penting peran Ekaristi bagi perkembangan hidup beriman umat di Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas.

Proses penyusunan skripsi ini berjalan dengan baik karena bantuan dan dukungan dari beberapa pihak. Pada kesempatan ini penulis dengan hati penuh syukur mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Drs. F. X. Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed sebagai dosen pembimbing utama yang selalu memotivasi dan memberikan semangat yang luar biasa. 2. Dr. B. A Rukiyanto, SJ selaku Kaprodi Program Studi Pendidikan Agama

Katolik yang memberikan dukungan dan motivasi demi kelancaran penyusunan skripsi ini.

(11)
(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

(13)

xiii

e. St. Augustinus ... 17

4. Dimensi Kristologis Ekaristi ... 18

a. Kurban Kristus ... 18

b. Pengenangan (anamnese) akan Kristus ... 19

c. Sakramen Tanda Keselamatan Kristus... 19

d. Perjamuan Kristus ... 20

B. Hidup Beriman Umat Kristiani ... 20

1. Hakikat Iman ... 20

2. Ciri dan Isi Iman ... 24

a. Iman adalah Rahmat ... 24

b. Iman adalah Kegiatan Manusiawi ... 25

c. Iman itu Pasti dan Berusaha untuk Mengerti ... 25

3. Segi-segi Iman (Groome) ... 26

a. Head (Kognitif) ... 26

b. Heart (Afektif) ... 27

c. Hand (Praktis) ... 27

C. Kenyataan Ekaristi dalam Hidup Beriman Umat Kristiani ... 28

1. Keprihatinan dalam Ekaristi ... 28

a. Datang Terlambat tetapi Pulang Cepat ... 28

b. Persoalan Mengenai Pakaian ... 29

c. Berisik dan Mengobrol ... 29

d. Hand Phone yang Berbunyi ... 30

e. Anak-anak Ribut ... 30

2. Buah Ekaristi yang Sesungguhnya ... 33

a. Sebagai Pengingat akan Karya Penyelamatan Allah ... 36

b. Bersatu dengan Kristus ... 36

c. Kesatuan Jemaat dalam Tubuh Kristus ... 37

3. Substansi Ekaristi dalam Hidup Beriman ... 37

(14)

xiv

A. Gambaran Pelaksanaan Ekaristi di Paroki Administratif Santa Maria

Assumpta Cawas ... 42

1. Profil Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas... 42

a. Letak Geografis Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas ... 42

b. Visi dan Misi Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas ... 43

1) Visi Paroki ... 43

2) Misi Paroki ... 44

c. Sejarah Singkat Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas ... 44

2. Perkembangan Kenyataan Pelaksanaan Ekaristi di Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas Hingga Sekarang . 45 B. Metodologi Penelitian Peranan Ekaristi dalam Mengembangkan Hidup Beriman Umat Kristiani Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas ... 47

1. Latar Belakang Penelitian ... 47

2. Tujuan Penelitian ... 48

3. Jenis Penelitian ... 49

4. Desain Penelitian ... 50

5. Instrumen Penelitian... 50

6. Responden ... 51

C. Laporan Hasil Penelitian Peranan Ekaristi dalam Mengembangkan Hidup Beriman Umat Kristiani Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas ... 54

1. Pemahaman Umat tentang Ekaristi ... 54

a. Pemahaman Ekaristi ... 55

(15)

xv

2. Dampak Positif Ekaristi bagi Hidup Beriman ... 57

a. Mengalami Pengalaman Iman melalui Ekaristi ... 57

b. Ekaristi yang Memperkembangkan Hidup Beriman ... 58

3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Ekaristi... 59

a. Faktor Pendukung ... 59

b. Keterlibatan Aktif dalam Ekaristi ... 60

c. Faktor Penghambat... 62

4. Keprihatinan dan Harapan Ekaristi dalam Hidup Beriman... 63

a. Keprihatinan dalam Ekaristi ... 64

b. Harapan akan perkembangan hidup beriman melalui Ekaristi ... 65

c. Harapan untuk Ekaristi ... 66

D. Pembahasan Hasil Penelitian Peranan Ekaristi dalam Mengembangkan Hidup Beriman Umat Kristiani Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas ... 68

1. Pemahaman Umat tentang Ekaristi ... 69

a. Pemahaman Ekaristi ... 69

b. Makna Ekaristi ... 70

2. Dampak Positif Ekaristi bagi Hidup Beriman ... 70

a. Mengalami Pengalaman Iman melalui Ekaristi ... 70

b. Ekaristi yang Memperkembangkan Hidup Beriman ... 71

3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Ekaristi... 72

a. Faktor Pendukung ... 72

b. Keterlibatan Aktif dalam Ekaristi ... 73

c. Faktor Penghambat... 74

4. Keprihatinan dan Harapan Ekaristi dalam Hidup Beriman... 75

a. Keprihatinan dalam Ekaristi ... 75

b. Harapan akan perkembangan hidup beriman melalui Ekaristi ... 76

c. Harapan untuk Ekaristi ... 77

E. Kesimpulan Penelitian ... 78

(16)

xvi

1. Faktor pendukung saat Melaksanakan Penelitian ... 80

a. Tanggapan baik Pastor Paroki ... 81

b. Umat sebagai Responden ... 81

c. Cuaca yang mendukung ... 81

2. Faktor penghambat saat Melaksanakan Penelitian... 82

a. Waktu Pelaksanaan Wawancara dengan Responden ... 82

b. Jarak ke Lokasi Penelitian ... 82

c. Responden yang Pasif ... 82

BAB IV. UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN EKARISTI DEMI TERWUJUDNYA PENGHAYATAN UMAT KRISTIANI PAROKI ADMINISTRATIF SANTA MARIA ASSUMPTA CAWAS ... 83

A. Latar Belakang Pemilihan Usulan Kegiatan ... 83

B. Tujuan Kegiatan ... 85

D. Matriks Usulan Kegiatan Sarasehan Ekaristi ... 89

(17)

xvii

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

(19)

xix

DAFTAR SINGKATAN

A.Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikut Alkitab Deuterokanonika © LAI 1976. (Alkitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, ditambah dengan Kitab-kitab Deuterokanonika yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia. Terjemahan diterima dan diakui oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia). Jakarta: LAI, 2009.

Luk : Lukas

Mrk : Markus

Mat : Matius

Yoh : Yohanes

1 Kor : 1 Korintus

2 Kor : 2 Korintus

Rm : Roma

Ibr : Ibrani

Yak : Yakobus

Mzm : Mazmur

Ef : Efesus

(20)

xx B.Singkatan Dokumen Resmi Gereja

EE : Ecclesia de Eucharistia

Surat Ensiklik Paus Yohanes Pulus II kepada para uskup, imam dan diakon, penyandang hidup bakti, pria dan perempuan dan segenap para beriman tentang Ekaristi dan hubungannya dengan Gereja tanggal 17 April 2003

SC : Sacrosanctum Concilium

Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci tanggal 4 Desember 1963.

LG : Lumen Gentium

Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja tanggal 21 November 1964.

KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iurs Canonici), diundangkan oleh

Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983.

KGK : Katekismus Gereja Katolik edisi Indonesia, diterjemahkan oleh

Herman Embuiru berdasarkan edisi Jerman tahun 1995

C.Singkatan lain

OMK : Orang Muda Katolik

Kan : Kanon

(21)

xxi

HP : Hand Phone

SMS : Short Message Service

KomLit KAS : Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang Komsos KAS : Komisi Sosial Keuskupan Agung Semarang

RU : Responden Umat

RP : Responden Pastor

(22)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Iman merupakan tanggapan manusia akan wahyu Allah. Iman juga menjadi sebuah bukti bahwa Allah benar-benar menyapa dan memanggil manusia dan akhirnya manusia menanggapinya. Hidup beriman umat Kristiani menjadi sebuah gambaran kedekatan manusia dengan Allah. Dalam Markus 8:34 tertulis, Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,

memikul salibnya dan mengikut Aku”. Kutipan ayat itu menggambarkan begitu

(23)

Ekaristi merupakan salah satu sakramen dalam Gereja Katolik. Ekaristi merupakan puncak hidup umat Kristiani. Ekaristi merupakan dasar semangat atau spiritualitas hidup rohani umat Kristiani. Ekaristi merupakan makanan rohani, maka jelas spiritualitas hidup rohani umat semakin berkembang dan mengakar lebih dalam. Kenyataan ini menjadi sebuah bukti bahwa Ekaristi amat diperlukan demi perkembangan iman umat. Di sanalah Kristus mengambil roti, memecahnya dan memberikannya kepada para murid-Nya, sambil berkata : “Ambilah ini, kalian semua, dan makanlah : ini adalah tubuhKu yang akan diberikan kepadamu” (Luk 22:19). Melalui Ekaristi, umat diajak untuk ikut dalam misteri iman akan Yesus Kristus yang rela mati demi manusia. Seluruh Perayaan Ekaristi adalah penghadiran kurban persembahan Kristus yang menyelamatkan. Setelah umat disapa oleh sabda Tuhan dalam Liturgi Sabda, umat mengawali Liturgi Ekaristi dengan persiapan persembahan. Ekaristi seharusnya membantu perkembangan hidup beriman umat jika pelaksanaannya benar-benar dihayati dengan baik. Pada intinya, perayaan Ekaristi merupakan perayaan kasih Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Ekaristi menjadi perayaan pengurbanan dan persembahan hidup diri Yesus Kristus Kpada Bapa.

(24)

meggantikan Romo Saptana Hadi berpindah tugas ke Sorong, Papua. Sejak tahun 2015 hingga sekarang pembangunan fisik Paroki ini mengalami peningkatan yang signifikan. Mulai dari menara lonceng, pavingisasi halaman Gereja, kanopi belakang Gereja, kanopi depan ruang OMK, Patung Keluarga Kudus di halaman depan Gereja dan terakhir lahirnya taman doa yang indah. Semenjak ada pastor yang tinggal di pastoran Cawas, dinamika pelayanan liturgi, administrasi dan dinamika keparokian berjalan seperti paroki mandiri. Permohonan menjadi paroki mandiri sudah diajukan per tanggal 1 Oktober 2015, namun masih ada sedikit kendala teknis yang mengharuskan Paroki Cawas untuk menunggu keputusan Uskup Agung Semarang. Melihat perkembangan yanng amat signifikan mulai dari bangunan fisik Paroki yang luar biasa, Romo Yuyun mengintensifkan berbagai macam program melalui kegiatan-kegiatan Gerejani yang menuntut umat untuk ikut terlibat aktif dalam hidup menggereja. Romo Yuyun sadar bahwa sarana untuk mendekatkan diri pada Allah demi meningkatkan hidup beriman umat sudah ada. Dalam satu minggu telah dijadwalkan perayaan Ekaristi yang teroganisir. Perayaan Ekaristi mingguan, harian, per lingkungan, per wilayah maupun perayaan Ekaristi ujub. Diharapkan dengan adanya perayaan Ekaristi yang rutin, umat semakin berkembang imannya dan menghidupi imannya itu.

(25)

30 TAHUN KE ATAS PAROKI ADMINISTRATIF SANTA MARIA

ASSUMPTA CAWAS ”.

B.Rumusan Masalah

1. Apa saja hal-hal pokok dalam Ekaristi?

2. Sejauh mana dampak positif Ekaristi di Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas dalam memperkembangkan hidup beriman mereka?

3. Melalui Ekaristi, usulan kegiatan macam apa yang dibutuhkan umat Katolik Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas untuk mendukung perkembangan hidup beriman mereka?

C.Tujuan Penulisan

1. Mengemukakan hal-hal pokok dalam Ekaristi.

2. Mengemukakan dampak positif Ekaristi yang dilaksanakan di Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas dalam perkembangan hidup beriman mereka.

3. Memberikan usulan kegiatan mengenai Ekaristi demi perkembangan hidup beriman umat Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas

D.Manfaat Penulisan

(26)

Membantu umat untuk mengetahui dan semakin menyadari pokok-pokok Ekaristi yang memiliki peran penting dalam meningkatkan hidup beriman mereka.

2. Bagi Program Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Membantu mengenalkan lebih dalam keunggulan Ekaristi demi meningkatkan hidup beriman bagi umat Katolik.

3. Bagi Penulis

Penulis semakin memahami dan mendalami peran penting Ekaristi yang memberi suatu kekuatan dalam meningkatkan hidup beriman, khususnya menjadi Katekis.

E.Metode Penulisan

Metode penulisan yang akan digunakan oleh penulis dalam skripsi adalah deskripsi analisis. Deskripsi analisis adalah metode yang menggambarkan dan menganalisis data yang diperoleh melalui studi pustaka dan diperkuat dengan adanya penelitian. Dalam rangka mendapatkan data yang valid, penulis akan terjun langsung ke Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas. Penulis akan melakukan wawancara kepada beberapa narasumber yaitu Romo Paroki dan tokoh umat serta diperkuat dengan studi pustaka.

F. Sistematika Penulisan

(27)

KE ATAS PAROKI ADMINISTRATIF SANTA MARIA ASSUMPTA CAWAS

” dan dikembangkan menjadi lima bab :

Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode dan sistematika penulisan.

Bab II akan memaparkan kajian pustaka mengenai Ekaristi dan hidup beriman. Kajian pustaka mengenai Ekaristi terdiri dari hakikat Ekaristi, sejarah singkat Ekaristi, Ekaristi dalam ajaran para Bapa Gereja dan dimensi kristologis Ekaristi. Kajian pustaka mengenai hidup beriman terdiri dari hakikat iman, ciri iman dan isi iman serta segi-segi iman. Kemudian dilanjutkan kajian pustaka mengenai makna Ekaristi dalam hidup beriman umat Kristiani meliputi keprihatinan dalam Ekaristi, buah Ekaristi yang sesungguhnya dan substansi Ekaristi dalam hidup beriman.

Bab III akan memaparkan gambaran umum pelaksanakan Ekaristi dan profil Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas serta penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

(28)
(29)

BAB II

POKOK-POKOK EKARISTI DAN HIDUP BERIMAN UMAT KRISTIANI PADA UMUMNYA

Bab II ini merupakan lanjutan dari bab I yang membahas kajian pustaka mengenai dua variabel yaitu Ekaristi dan hidup beriman. Bab II ini juga sebagai tindak lanjut dari bab I yang berisi tentang pendahuluan mengenai skripsi dengan judul Peranan Ekaristi Dalam Meningkatkan Hidup Beriman Umat Kristiani Usia 30 Tahun Ke Atas Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas”. Bab II ini menjadi titik tolak isi skripsi terutama sebagai landasan pelaksanaan penelitian pada bab III.

Perayaan Ekaristi diimani sebagai sumber dan puncak kehidupan umat

Kristiani. Sebagai sumber kehidupan karena Yesus telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan hidup umat Kristiani dan sebagai puncak kehidupan karena kemenangan-Nya mengalahkan maut menjadi kejayaan hidup umat Kristiani. Kehadiran dan pengorbanan Yesus Kristus tergambar dalam rupa Tubuh dan Darah-Nya atau Sakramen Ekaristi. Salah satu hal yang terjadi dalam Ekaristi adalah kehadiran Yesus dalam Ekaristi tersebut. Dasar sejarah yang pertama akan kehadiran Kristus di dalam Ekaristi adalah perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kepada para Rasul di Perjamuan Terakhir (Luk 22:19-20).

(30)

dalam hidup beriman umat Kristiani meliputi keprihatinan dalam Ekaristi, buah Ekaristi yang sesungguhnya, dan substansi Ekaristi dalam hidup beriman.

A. Pokok-Pokok Ekaristi

1. Hakikat Ekaristi

Ekaristi yang diadakan Kristus dalam perjamuan terakhir adalah yang paling agung di antara sakramen-sakramen lain dan merupakan pusat hidup Gereja. Agung berarti Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup umat Kristiani. Sumber dan puncak hidup dapat diartikan sebagai dasar semangat atau spiritualitas hidup rohani umat kristiani. Arti sumber kehidupan yaitu pengorbanan-Nya demi keselamatan hidup umat Kristiani yang menjadi sumber kehidupan dan sekaligus puncak kehidupan karena kemenangan-Nya dalam mengalahkan maut maka jayalah hidup umat Kristiani. Melalui Ekaristi, umat diajak untuk ikut dalam misteri iman akan Yesus Kristus yang rela mati demi manusia. Ekaristi merupakan salah satu dari tujuh sakramen yang dimiliki oleh Gereja Katolik.

Dalam KHK Kan.897 tertulis:

Sakramen yang terluhur adalah Ekaristi Mahakudus, dimana Kristus Tuhan sendiri yang dihadirkan, dikurbankan dan disantap, dan dengan nama Gereja selalu hidup berkembang. Kurban Ekaristi, ..., adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani serta sumber yang menandakan dan menghasilkan kesatuan umat Allah serta menyempurnakan pembangunan tubuh Kristus.

(31)

Semuanya itu menjadi sumber agar Gereja semakin menjadi pusat hidup umat Allah karena kegiatan pengembalaannya di dunia ini. Kehadiran-Nya menjadi sebuah jawaban dan kepastian bahwa pengorbanan Putra-Nya yang tunggal tidaklah sia-sia. Kan 897 juga menjelaskan bahwa Ekaristi adalah puncak dan sumber kehidupan Kristiani. Arti puncak yaitu mengarah pada tujuan kehiduan Kristiani serta sumber yaitu mengarah pada dasar kehidupan Kristiani dan mampu mengasilkan suatu kesatuan seluruh umat Kristiani.

Dalam Ecclesia de Eucharistia art 1 tertulis:

Konsili Vatikan Kedua dengan tepat memproklamasikan bahwa

kurban Ekaristik adalah “sumber dan puncak kehidupan Kristen” [1]. “Karena Ekaristi Maha kudus ini berisi kekayaan spiritual

seluruh Gereja yakni Kristus sendiri, paskah dan roti kehidupan kita. Melalui dagingNya sendiri, yang telah dibuat menjadi hidup dan diberi kehidupan oleh Roh Kudus, maka Dia memberikan hidup-Nya kepada manusia” [2]. Konsekuensinya pandangan Gereja secara konstant menoleh kepada Tuhan-Nya, yang hadir dalam Sakramen Altar, yang mana Gereja menemukan manifestasi penuh dari CintaNya yang tak terbatas.

EE art 1 tersebut membahas pokok Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Pertama yaitu Kristus yang memberi kehidupan bagi manusia lewat Roh Kudus dalam rupa roti. Kedua yaitu Ekaristi sebagai suatu bentuk cinta-Nya yang tiada batas. Hal ini menandakan bahwa Sakramen Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan umat Kristiani. Artinya, Tuhan benar-benar hadir di tengah-tengah umat sehingga umat merasakan kebahagiaan dan cinta-Nya yang begitu besar. Dalam Sacrosanctum Concilium art. 47 dirumuskan:

(32)

datang kembali. Dengan demikian Ia mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang tercinta pengenangan (memoriale) akan wafat dan kebangkitan-Nya:sakramen kasih-sayang, tanda kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paska, dimana Kristus disantap, jiwa dipenuhi rahmat, dan diberikan jaminan kemuliaan. Rumusan tersebut mengartikan bahwa Ekaristi merupakan suatu pusat hidup umat Kristiani. Pusat berarti benar-benar berasal dari Yesus Kristus sendiri. Pengorbanan-Nya bukanlah suatu kebetulan, namun benar-benar suatu hal yang harus dilakukan karena Ia sangat mencintai umat manusia. Karena cinta-Nya yang begitu besar, Ia mempercayakan kepada Gereja untuk mengenangkan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya agar umat Kristiani selalu ingat dan semakin sadar bahwa memperoleh kehidupan tidaklah mudah, harus ada pengorbanan yang begitu besar dan mulia, yaitu pengorbanan Yesus Kristus.

Dalam Ekaristi tersebut, Roh Kudus tidak hanya mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Ia juga mengubah keringat, air mata, jerih lelah perjuangan kita menjadi roti kehidupan dan minuman keselamatan. Dengan demikian, Ekaristi membuka mata kita sehingga kita dapat melihat bahwa hidup kita dan alam raya ini adalah anugerah. Kita diajak untuk berpegang pada keyakinan ini (Suharyo, 2011: 63).

(33)

terakhir dan berharap supaya pengikut-Nya dapat melanjutkan perayaan Ekaristi tersebut dalam kehidupan mereka sehri-hari.

Ekaristi sebagai kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam persekutuan umat beriman dan menjadi santapan rohani umat tersebut, Ekaristi adalah milik Gereja yang paling berharga dalam peziarahan sepanjang sejarah ini (Ecclesia de Eucharistia art. 9). Artinya, Ekaristi merupakan wujud nyata kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam bentuk makanan rohani bagi seluruh persekutuan umat beriman dan Ekaristi merupakan milik Gereja yang didapatkan selama peziarahan Gereja di dunia ini. Maka jelas hidup beriman umat semakin berkembang dan mengakar lebih mendalam jika memiliki penghayatan seperti itu.

(34)

Itulah sebabnya, Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Artinya, seluruh peristiwa hidup dengan segala suka dan dukanya, dengan segala beban derita dan kesulitan yang kita hadapi memperoleh sumber kekuatan dan puncak pengungkapannya dalam Ekaristi kudus. Inti rahasianya bukan terletak pada hal-hal lahiriah, seperti lagu-lagunya, gedung gerejanya, dekorasi altarnya, tata gerak liturginya meskipun ini juga hal-hal penting yang harus diperhatikan secara liturgis melainkan pada diri Tuhan Yesus Kristus yang wafat dan bangkit, yang kini hadir dalam seluruh Perayaan Ekaristi. Maka, Ekaristi menjadi cara istimewa dari kehadiran Tuhan yang wafat dan bangkit untuk menyertai perjuangan hidup konkret umat-Nya dalam mengarungi perjalanan waktu.

Pada intinya, perayaan Ekaristi merupakan perayaan kasih Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Ekaristi menjadi perayaan pengurbanan dan persembahan hidup diri Yesus Kristus kepada Bapa (Martasudjita, 2000: 24-25). Dengan Ekaristi, kita merasakan perutusan Putra demi keselamatan kita, yang berpangkal pada kasih Bapa. Keselamatan itu sifatnya ditawarkan lebih dahulu kepada kita, sebab “Allah menunjukkan kasih -Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih

berdosa” (Rm 5:8). Dengan demikian, perayaan Ekaristi tidak hanya sebatas

(35)

2. Sejarah Singkat Ekaristi

Istilah “Ekaristi” berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti doa

syukur (Musakabe, 2011: 7). Kata Yunani eucharistia ini bersama kata eucharistein dan eulogin mengingatkan pada pujian atau terimakasih bangsa Yahudi pada Allah dalam perjamuan waktu makan, memuliakan karya Allah, penciptaan, penebusan dan pengudusan (KGK art 1328). Ekaristi adalah Perjamuan Tuhan, yang memperingati perjamuan malam yang diadakan oleh Kristus bersama

dengan murid-murid-Nya. Perjamuan ini juga merupakan antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba di surga (KGK art 1329). Kata Ekaristi itu sudah digunakan untuk menunjuk seluruh perayaan Ekaristi pada tiga abad pertama sejarah Gereja, seperti terdapat dalam tulisan Didache, tulisan Santo Ignatius dari Antiokhia, Yustinus martir, dan Origenes. Namun, sejak abad IV baik di Gereja Timur maupun Gereja Barat, istilah Ekaristi mulai menghilang. Khususnya di Barat, istilah Ekaristi semakin disempitkan untuk menyebut santapan ekaristis

atau komuni. Sejak abad IV tersebut istilah “kurban” (sacrificium) dan

“persembahan” (oblation) semakin popular digunakan untuk menunjuk seluruh

perayaan dan menggantikan istilah Ekaristi (Martasudjita, 2005: 28).

(36)

Konsili Vatikan II, terutama melalui konstitusi liturgi Sacrosanctum Concilium. Sejak itu istilah Perayaan Ekaristi menjadi istilah yang sangat popular dan lazim digunakan di seluruh Gereja. Bahkan Gereja-Gereja Protestan juga menggunakan istilah Ekaristi (Martasudjita, 20015: 29).

Sekarang, istilah Ekaristi menunjuk dengan jelas isi dari seluruh Perayaan Ekaristi. Kata Ekaristi mau mengungkapkan pujian syukur atas karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus, sebagaimana berpuncak dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Dengan pujian syukur itu, Gereja mengenangkan (yang artinya: menghadirkan) misteri penebusan Kristus itu sekarang ini dan di sini.

Jika sekarang ada orang berkata bahwa doktrin tentang kehadiran Yesus dalam rupa roti dan anggur itu sepertinya tidak mungkin, maka sesungguhnya sejak zaman jemaat awalpun, banyak orang yang juga berpendapat demikian. Hal ini dituliskan di Alkitab, yaitu bahwa sejak saat Yesus mengajarkan hal Roti Hidup ini, banyak orang tidak percaya dan meninggalkan Dia (Yoh 6:60). Tentu, jika maksud Yesus hanya mengajarkan bahwa roti itu hanya melambangkan Tubuh-Nya dan anggur itu hanya melambangkan Darah-Nya, Ia tentu dapat

mengatakan demikian, “Di dalam roti ini adalah Tubuh-Ku”, atau “Roti ini adalah

Tubuh-Ku.” Namun Yesus tidak berkata demikian, sebab Ia dengan jelas berkata,

“Inilah Tubuh-Ku” (Mat 26:26; Mrk 14:22; Luk 22:19). Maka, Tradisi Gereja

Katolik mengartikan ayat ini secara literal bahwa maksud Yesus adalah: “Ini,

(37)

Banyak dari para pengikut Kristus sejak awal menganggap perkataan-Nya ini sulit dimengerti. Namun faktanya, walaupun demikian, Gereja Katolik tetap memegang teguh ajaran ini selama banyak generasi. Ini adalah suatu bukti yang kuat bahwa ajaran ini berasal dari Allah sendiri, sebab jika tidak, ajaran ini tidak mungkin langgeng dan tidak mungkin dipercayai oleh umat yang tersebar di seluruh dunia (Katolisitas.org)

3. Ekaristi dalam Ajaran para Bapa Gereja

Para Bapa Gereja juga mempunyai pemikiran atau gagasan mengenai Ekaristi. Para Bapa Gereja tidak mengalami kesulitan dalam pemikiran sakramental-simbolis (Martasudjita, 2003: 283). Beberapa gagasan atau pemikiran dari para Bapa Gereja:

a. St. Ignatius dari Antiokia (110)

St. Ignatius melanjutkan gagasan Santo Paulus yaitu roti Ekaristi sebagai tubuh Tuhan sendiri (Surat untuk umat di Smyrna 7:1 dan umat di Roma 7:32). Artinya bahwa Yesus sendiri yang hadir dalam Ekaristi dan benar-benar tubuh-Nya yang disantap oleh umat Kristiani yaitu berupa roti.

b. St. Yustinus Martir (150-160)

(38)

telah menjelma menjadi manusia yang terdiri atas daging dan darah demi keselamatan manusia, maka roti dan anggur itu yang telah diubah menjadi Ekaristi oleh doa Ekaristi yang ditentukan atau dilakukan oleh-Nya sendiri.

c. St. Irenaeus (140-202)

St Irenaeus adalah uskup Lyons dan dalam karyanya yang terkenal, Against Heresies tentang Ekaristi ia menulis, “Dia [Yesus] menyatakan bahwa piala itu,

… adalah Darah-Nya yang darinya Ia menyebabkan darah kita mengalir; dan roti

itu…, Ia tentukan sebagai Tubuh-Nya sendiri, yang darinya Ia menguatkan tubuh

kita”. Artinya anggur adalah simbol darah-Nya dan roti adalah simbol tubuh-Nya.

d. St. Cyril dari Yerusalem (315-386)

St. Cyril adalah Uskup Yerusalem, pada tahun 350 ia mengajarkan, dalam karyanya Catechetical Lectures: 22, “Karena itu, jangan menganggap roti dan anggur hanya dari penampilan luarnya saja, sebab roti dan anggur itu, sesuai

dengan yang dikatakan oleh Tuhan kita, adalah Tubuh dan Darah Kristus”.

Artinya jangan sekali-kali hanya melihat dari fisiknya saja namun lihatlah menggunakan iman bahwa roti dan anggur itu adalah tubuh dan darah-Nya sendiri.

e. St. Augustinus (354-430)

(39)

adalah Darah Kristus….Roti itu satu; kita walaupun banyak, tetapi satu Tubuh.

Maka dari itu, engkau diajarkan untuk menghargai kesatuan. Bukankah roti dibuat tidak dari saru butir gandum, melainkan banyak butir? Namun demikian, sebelum menjadi roti butir-butir ini saling terpisah, tetapi setelah kemudian menjadi satu dalam air setelah digiling…[dan menjadi roti]” (Martasudjita, 2003: 285).

4. Dimensi Kristologis Ekaristi

Perayaan Ekaristi bukan ciptaan dan rekayasa Gereja (Martasudjita, 2003:293). Ekaristi ditetapkan dan diperintahkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, yakni pada perjamuan malam terakhir, saat Tuhan bersabda, “Lakukanlah

ini sebagai kenangan akan Daku.” (Konsili Trente-DS 1637). Ada 4 unsur dalam

dimensi Kristologis Ekaristi:

a. Kurban Kristus

SC art 47 tertulis, “Kurban Ekaristi ini ditetapkan untuk mengabadikan

kurban salib untuk selamanya”. Maka tampak kesatuan antara kurban Ekaristi dan

(40)

b. Pengenangan (anamnese) akan Kristus

Disebut sebagai perayaan kenangan sebab menunjuk pada penyelamatan Allah pada masa lampau yang kini dihadirkan kembali. Dalam SC 6 tertulis,

Sejak itu Gereja tidak pernah lalai mengadakan pertemuan untuk

merayakan misteri Paska; disitu mereka membaca “apa yang tercantum

tentang Dia dalam seluruh Kitab suci (Luk 24:27); mereka merayakan Ekaristi, yang menghadirkan kejayaan-Nya atas maut”[19] , dan sekaligus

mengucap syukur kepada “Allah atas karunia-Nya yang tidak terkatakan”

(2Kor 9:15) dalam Kristus Yesus, “untuk memuji keagungan-Nya” (Ef 1:12) dengan kekuatan Roh Kudus.

Dalam pengenangan ini, tekanan ada pada kebangkitan (dan tidak pada wafat). Dan oleh karenanya juga disebut “merayakan misteri Paska”, yang mencakup wafat dan kebangkitan (bahkan kemuliaan di surga) (Banawiratma, 1989:131). Maka bisa disimpulkan bahwa Ekaristi merupakan suatu keseluruhan dari pengenangan akan Yesus.

c. Sakramen Tanda Keselamatan Kristus

Ekaristi menghadirkan kurban salib yang berarti juga sakramen. Maksudnya ialah Ekarisi merupakan perayaan sakramental yang mengenangkan kurban salib Yesus. Sakramen Ekaristi berarti menampilkan karya keselamatan Kristus. Ad Gentes art 9 tertulis bahwa: “Melalui sabda yang diwartakan dan perayaan sakramen-sakramen, yang pusat dan puncaknya ialah Ekaristi

Mahakudus, (Gereja) membuat Kristus, sumber keselamatan, menjadi hadir”

(Banawiratma, 1989: 134). Kehadiran Kristus menjadi sebuah tanda atau sakramen yang dirasakan oleh umat beriman Kristiani. Dalam SC 47 juga tertulis

(41)

Kutipan ini menjelaskan bahwa Ekaristi merupakan tanda keselamatan berupa cinta kasih yang menyatukan seluruh umat beriman Kristiani.

d. Perjamuan Kristus

Unsur terakhir dalam dimensi Kristologis yaitu perjamuan. Dalam hal ini Martasudjita (2003:295) mengatakan bahwa :

Vatikan II mengajarkan Ekaristi sebagai perjamuan Paskah. Ungkapan Ekaristi sebagai perjamuan Paskah ini harus dimengerti secara holistik dalam rangka seluruh Perayaan Ekaristi. Ekaristi merupakan perayaan kenangan dan sakramen karya keselamatan Allah yang memuncak dalam misteri Paskah Kristus dalam bentuk perayaan : Perjamuan.

Penjelasan tersebut mempunyai maksud bahwa Ekaristi seharusnya dimengerti oleh seluruh umat beriman Kristiani suatu kesatuan yang penuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Ekaristi harus dimengerti sebagai suatu perjamuan yang luhur dan mulia yang didalamnya terdapat kenangan dan keselamatan Allah. Dan keseluruhannya itu menjadi sumber dan puncak kehidupan umat Kristiani seperti yang telah dijelaskan pada sub bab hakikat Ekaristi.

B. Hidup Beriman Umat Kristiani

1. Hakikat Iman

Iman berasal dari suatu akar kata “aman” (bahasa Ibrani) yang berarti

sesuatu yang kuat, tetap dan teguh sehingga dapat menjadi pegangan hidup yang dapat dipercaya (Darmowigoto, 1972:5). Lebih tepatnya, iman merupakan

(42)

menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan

akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan” (Dei

Verbum art 5). Kutipan ini menjelaskan bahwa iman yang sesungguhnya ialah yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran itu sendiri. Menggerakkan hati agar mau dan selalu mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah. Misalnya dengan membantu sesama dan akhirnya bantuan itu mewujudkan kebenaran akan Allah itu sendiri. Maka penyerahkan diri seutuhnya kepada Allah merupakan hal yang harus dimiliki oleh umat beriman Kristiani.

(43)

Kitab Suci menyatakan tentang “iman yang benar” yaitu dalam Ibr 11:1.

Dalam Surat Ibrani tersebut tertulis, “Iman adalah suatu dasar dari segala sesuatu

yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Kata dasar dan bukti menjadi kata kunci dalam kutipan Kitab Suci tersebut. Iman menjadi dasar segala sesuatu yang diharapkan oleh manusia, artinya iman menjadi patokan atau landasan umat manusia dalam segala pengharapan mereka, terutama harapan akan hal-hal yang positif, salah satunya harapan menjadi umat Kristiani yang melakukan kehendak-Nya. Iman juga menjadi bukti dari segala sesuatu yang tidak bisa manusia lihat. Hal ini juga diperkuat dengan kejadian saat Yesus menampakkan diri kepada para rasul, namun Thomas belum percaya. Sesaat

Thomas sudah melihat dengan matanya sendiri, Yesus berkata, “Berbahagialah

yang tidak melihat namun percaya”. Dari situ dapat disimpulkan bahwa iman

menjadi bukti bagi sesuatu yang tak terlihat, terutama dalam hal wujud Yesus sendiri.

(44)

Iman dapat didefinisikan sebagai suatu persetujuan akal budi yang kokoh kepada kebenaran, bukan berdasarkan perasaan, namun berdasarkan kesaksian. (Katolisitas.org). Dapat dikatakan bahwa iman merupakan dasar yang perlu dimiliki oleh setiap orang karena dengan beriman, orang akan lebih mudah menjadi pribadi yang melakukan kebaikan di dunia ini. Iman adalah jiwa suatu pengalaman. Iman adalah pengakuan batin akan hubugan antara Allah dan manusia (Powell, 1991: 55). Iman dapat diartikan sebagai seseuatu yang sakral karena menghubungkan Allah sang pencipta dan manusia ciptaan-Nya. Di seluruh Kitab Suci terungkap bahwa kerinduan manusia untuk melihat Allah, misalnya dalam Mazmur tercetuslah kerinduan manusia melihat Allah. Hidup beriman juga sebagai kerinduan akan Allah yang hadir ditengah-tengah umat manusia (Hadisumarta, 2018: 43).

Iman, seperti cinta, adalah kenyataan yang sukar ditangkap. Iman atau kepercayaan, apakah kepercayaan kepada orang lain ataukah kepada Allah, berarti menerima atau menyambut sesuatu menurut perkataan orang lain (Powell, 1991: 79). Artinya iman merupakan suatu upaya bersandar atau berpegang akan perkataan orang lain atau orang yang dipercaya. Dalam hal iman kepercayaan akan Allah, sama saja. Allah memberi sabda-Nya atau wahyu-Nya (Powell, 1991: 79). Jika sabda-Nya diterima dan dipegang teguh oleh manusia berarti manusia itu mengimani Allah. Anggapan seperti ini harusnya menjadi suatu hal logis biasa yang harus dimiliki oleh awam. Banyak yang mengaku beriman namun hanya

mengerti bahwa iman adalah suatu “kepercayaan” saja, namun tidak bisa

(45)

Menurut tradisi Kristen, iman dilukiskan sebagai serah diri, yaitu manusia menyerahkan seluruh dirinya dan hidupnya secara bebas, dengan budi dan hati tunduk pada kehendak Allah yang mewahyukan, dan yang tidak dapat menipu ataupun ditipu (Powell, 1991: 81). Serah diri secara bebas ini berarti bahwa manusia yang mengimani Allah, yaitu manusia yang benar-benar menyerahkan dirinya secara utuh kepada Allah sendiri. Bukan manusia yang setengah-setengah, hanya perkataan saja beriman, namun kenyataannya tidak demikian. Dapat disimpulkan bahwa iman tidak bisa dilihat dari segi intelektual saja karena pasti hasilnya akan dangkal. Iman harus ditanamkan pada diri setiap pribadi suatu penyerahan diri total tanpa terkecuali dan meninggalkan kenikmatan duniawi demi Kerajaan Allah.

2. Ciri dan Isi Iman

Seperti yang telah dijelaskan tentang hakikat iman, iman merupakan suatu hal pokok bagi umat Kristiani bahkan menjadi penghubung umat manusia dengan Allah sendiri. Iman juga mempunyai ciri-ciri dan isi, yaitu sebagai berikut:

a. Iman adalah Rahmat

(46)

b. Iman adalah Kegiatan Manusiawi

Ciri yang selanjutnya ialah iman merupakan suatu kegiatan manusiawi.

KGK art 154 tertulis, “Iman adalah satu kegiatan manusiawi yang sebenar

-benarnya. Percaya kepada Allah dan menerima kebenaran-kebenaran yang diwahyukan oleh-Nya, tidak bertentangan baik dengan kebebasan maupun dengan

pikiran manusia”. Maka dapat diartikan bahwa iman tidak bertentangan dengan

kebebasan dan pikiran manusia. Iman tidak memaksa kehendak manusia untuk melakukan sesuatu. Iman yang benar merujuk pada penyerahan diri dan juga didasari oleh kesadaran manusia itu sendiri.

c. Iman itu Pasti dan Berusaha untuk Mengerti

Iman itu pasti, lebih pasti dari setiap pengertian manusiawi, karena ia berdasarkan Sabda Allah yang tidak dapat menipu (KGK art 157). Berdasarkan kutipan KGK art 157, dapat dikatakan bahwa iman memiliki kepastian yang sesungguhnya dibandingkan dengan hal-hal lain, dalam hal ini hal manusiawi, misalnya janji manusia yang belum tentu pasti dan ditepati.

Orang yang benar-benar percaya, berusaha untuk mengenal lebih baik dia, kepada siapa ia telah memberikan kepercayaannya, dan untuk mengerti lebih baik apa yang telah dinyatakannya (KGK art 158). Artinya, iman berciri semakin ingin lebih mengerti segala sesuatu atau ingin lebih mengerti segala keadaan dan dalam hal ini lebih ingin mengerti rahmat Tuhan. Seperti yang telah dikatakan Santo

Agustinus, “Aku percaya supaya mengerti, dan aku mengerti supaya percaya lebih

(47)

3. Segi-segi Iman (Groome)

Setelah mengetahui ciri dan isi iman, Thomas H. Groome mempunyai pemikiran mengenai segi-segi iman yaitu sebagai berikut :

a. Head (Kognitif)

Iman Kristiani memiliki aspek kognitif, yaitu suatu tindakan meyakini atau believing. Iman bukan ilusi; Iman juga bukan merupakan tindakan yang semena-mena dan tidak masuk akal (Heryatno, 2008: 23). Dari pernyataan tersebut terbukti bahwa iman bukanlah mitos atau ilusi yang belum diketahui kebenarannya. Iman seharusnya benar-benar diyakini oleh setiap pribadi manusia. Seiring perkembangan jaman, tidak sedikit yang menganggap iman hanyalah suatu tindakan yang ikut-ikutan saja.

(48)

b. Heart (Afektif)

Selain segi kognitif, ada juga segi afektif atau trusting. Iman berarti menaruh hati (mempercayakan diri, fidere) pada Tuhan yang dipercayai (Heryatno, 2008: 23). Relasi antara manusia dan Tuhan seharusnya tercipta jika manusia menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Penyerahan diri seutuhnya juga berarti menaruh kepercayaan yang tinggi pada Tuhan. Penyerahan diri yang setengah-setengah malah menjadi suatu batu sandungan bagi manusia itu sendiri karena akan mengalami keragu-raguan dalam hidupnya karena tidak ada relasi yang utuh dengan Tuhan. Heryatno (2008: 23) menuliskan bahwa berserah diri artinya dengan penuh kesetiaan dan kepecayaan dalam menanggapi tindakan Allah yang dalam Putra-Nya melalui Roh-Nya yang senantiasa hadir berkarya menyelamatkan umat manusia. Maka benar bahwa setiap anggota Gereja harus membangun relasi antar umat Kristiani, masyarakat dan pastinya dengan Tuhan sendiri.

c. Hand (Praktis)

(49)

unsur penting di dalam proses pendewasaan iman (Heryatno, 2008: 24). Tindakan konkret yang diharapkan ialah membawa kabar gembira bagi semua orang. Mencoba membagikan hal-hal positif yang membantu orang lain mengembangkan iman mereka.

C. Kenyataan Ekaristi dalam Hidup Beriman Umat Kristiani

1. Keprihatinan dalam Ekaristi

Melihat begitu kompleksnya makna Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari, banyak yang masih bingung apakah semua itu tertata rapi dan teralisasikan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Banyak kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan Gereja dan Yesus sendiri.

Situs komunitasbeatopiocampidelli.wordpress.com mengutip dari buku

berjudul “Beriman dari altar sampai pasar” karya F.X. Didik Bagiyowinadi yang

menguraikan beberapa hal-hal yang seringkali menjadi hambatan atau keprihatinan dalam Ekaristi yaitu sebagai berikut :

a. Datang Terlambat tetapi Pulang Cepat

Dalam perayaan Ekaristi, selalu saja masih ada yang suka datang terlambat dan pulang cepat. Ekaristi, dimana kita bisa mengalami kehadiran Tuhan, pun mereka perhitungkan secara praktis dan ekonomis. Mereka yang datang lambat dan pulang cepat ini agaknya kurang menyadari nilai kebersamaan dengan yang

lain. Sekedar memikirkan “keselamatan individual”. Begitu sudah dapat “jatah

komuni”, segera pulang duluan. Padahal, perilaku demikian bisa mengganggu

(50)

Tentu, bukan dimaksudkan di sini, bahwa mereka yang datang terlambat tak boleh masuk. Tetapi, sedapat mungkin kita upayakan agar kita bisa mengikuti perayaan Ekaristi secara utuh dari awal sampai akhir.

b. Persoalan Mengenai Pakaian

Pakaian disebut pantas, manakala cocok dengan “situasi-kondisinya”. Pakaian tidur tak selayaknya dipakai untuk menerima tamu. Baju pesta tidak cocok kita kenakan di kolam renang. Demikian juga dengan pakaian untuk ke gereja, kita mesti ingat, kita mau bertemu dengan siapa. Dengan Tuhan dan umat

yang lain. Maka tak bisa kita berdalih, “Peduli amat dengan pakaian, yang

terpenting kan hati saya”. Sebab di gereja kita berdoa bersama yang lain. Pakaian

kita yang terlalu nyleneh, super ketat, “you can see”; kerap malah menjadi batu

sandungan bagi yang lain.

Artinya, mereka yang duduk di sekitar kita sebenarnya sungguh mau berdoa, tetapi lantaran menyaksikan dandanan kita yang kurang pantas, jadinya terganggu juga: entah mencela dalam hati ataupun berpikiran lain. Memang semua tergantung pada orangnya. Tetapi, alangkah bijak bila kita tidak membawa orang

lain jatuh dalam pencobaan. Tulis St. Paulus, “Karena itu, janganlah kita saling

menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung” (Rm 14:13).

c. Berisik dan Mengobrol

(51)

menanggapinya dengan doa-doa kita. Kalaupun mau ngobrol, kita masih punya waktu dan kesempatan di luar gereja setelah Misa Kudus.

d. Hand Phone yang Berbunyi

Di pintu masuk gereja biasanya ada peringatan agar HP dinonaktifkan agar membantu kekhidmatan suasana perayaan Ekaristi. Namun kenyataannya, tidak jarang terjadi selama perayaan Ekaristi berlangsung terdengar suara HP berdendang di gereja. Apa ini artinya? HP yang selalu on – aktif, sebenarnya menandakan kita bersiap sedia menerima panggilan dan pesan. Sayangnya, bukan panggilan dan pesan dari Tuhan, melainkan dari kolega dan mereka yang berada di luar gereja. Agar bisa siap sedia mendengarkan firman Tuhan, untuk sementara kesiapsediaan kita pada dunia luar, mesti kita non aktifkan. Tanpa itu, niscaya pikiran kita akan terus bercabang.

e. Anak-Anak Ribut

Berkaitan dengan kekhidmatan suasana perayaan Ekaristi, kerap anak-anak kecil juga dituding sebagai penyebabnya. Memang tidak semua anak bisa duduk tenang bersama orang tuanya. Harus ada banyak trik untuk mensiasatinya, mulai dari memberi pengertian dari rumah, membawakan mainan, mengajaknya keluar gereja bila menangis dan rewel, ataupun menitipkannya di Minggu Gembira selama perayaan Ekaristi berlangsung dan dibawa masuk kembali untuk menerima berkat di dahi pada saat komuni. Persoalan ini juga saya singgung dalam

“Membangun Religiositas Katolik dalam Keluarga” pada buku SKP-4: Mendidik

(52)

Harus diakui, tidaklah mudah mengatasi persoalan anak-anak. Butuh seni

tersendiri. Namun, kita harus ingat akan peringatan Tuhan Yesus, “Biarkan anak

-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Mrk 10:14). Maka kalaupun pada saat ada anak yang rewel dan menangis dalam Gereja, hendaklah kita memaklumi, toh orangtuanya akan segera berusaha menenangkannya. Kita

tidak melihatnya sebagai “gangguan” yang mengusik kekhususk-asyikan kita,

layaknya saat menonton konser.

Mungkin kita bisa mengingat komentar Tuhan Yesus, saat para imam kepala dan ahli Taurat merasa bising dan jengkel karena anak-anak dalam Bait Allah

berseru “Hosana bagi Anak Daud.” Tanya mereka, “Engkau dengar apa yang

dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka, “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian” (Mat 21:14-16; bdk. Mzm 8:3). Dan mungkin kita juga bisa memaknai kehadiran (dan risikonya kerewelan) anak-anak dalam Gereja sebagai hal yang patut disyukuri sebab mereka inilah masa depan Gereja kekal dan syukur bahwa sejak dini mereka telah dibiasakan oleh orangtuanya untuk bergaul dengan Kristus dan Gerejanya. Sebaliknya, saya yakin Anda akan merasa

“ngenes” bila menyaksikan gereja-gereja di Eropa, hanya dihadiri oleh para

lansia! Jarang sekali orang muda dan keluarga muda (plus anak-anaknya) yang memenuhi gereja.

(53)

Maka kuncinya dalam hal ini adalah katekese iman dalam keluarga akan makna perayaan Ekaristi itu sendiri bagi kita. Demikianlah beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita bisa merayakan Ekaristi bersama dengan khidmat.

Situs Katolisitas.org menguraikan bahwa di Amerika, menurut polling pendapat yang diadakan oleh Gallup poll pada tahun 1992, Ekaristi belum dipahami sebagian besar umat Katolik. Hal yang serupa mungkin pula terjadi di Indonesia.

Hasil yang diperoleh cukup menggambarkan bahwa banyak orang Katolik yang tidak tahu dengan persis bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dalam Ekaristi:

 30% percaya bahwa mereka sungguh-sungguh dan benar-benar menerima

Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur.

 29% percaya bahwa mereka menerima roti dan anggur

yang melambangkan Tubuh dan Darah Kristus.

 10% percaya mereka menerima roti dan anggur di mana di dalamnya

Yesus juga hadir.

 24% percaya mereka menerima Tubuh dan Darah Yesus karena iman

mereka sendiri mengatakan demikian.

(54)

sepertinya ‘bingung’ atau memegang kepercayaan gereja lain yang bukan Katolik.

Kehadiran pada misa hari Minggu sesungguhnya mengalir dari iman umat beriman dalam misteri agung Ekaristi (Lowery, 2001:28). Jadi kekuatan iman seseorang sesunggungnya telah ada dalam perjamuan Ekaristi yang selalu dirayakan.

2. Buah Ekaristi yang Sesungguhnya

Seluruh Perayaan Ekaristi adalah penghadiran kurban persembahan Kristus yang menyelamatkan. Setelah kita disapa oleh sabda Tuhan dalam Liturgi Sabda, kita mengawali Liturgi Ekaristi dengan persiapan persembahan. Roti, anggur, kolekte, dan bahan-bahan persembahan lainnya melambangkan persembahan hidup seluruh umat, termasuk suka duka, beban, dan penderitaan hidup kita. Bahan-bahan persembahan ini diterima oleh imam sebagai wakil Kristus dan sekaligus Gereja. Selanjutnya, bahan-bahan persembahan, khususnya roti dan anggur, dihunjukkan oleh imam kepada Allah agar dikuduskan dan dipersatukan dengan kurban Kristus yang menyelamatkan. Hanya dalam Kristus, ada kepastian bahwa persembahan hidup kita diterima oleh Allah Bapa kita

(55)

Sebagai kurban dan perjamuan, Ekaristi secara berdaya guna melambangkan kurban persembahan diri bagi orang lain, yang merupakan panggilan semua orang Kristiani (Musakabe, 2011: 7-8).

Ekaristi sungguh menjadi sebuah rahmat yang berguna bagi manusia. Disamping Ekaristi sebuah persembahan hidup, buah Ekaristi yang dapat dipetik ialah sebuah syukur atas keterlibatan umat. Perayaan Ekaristi adalah perayaan seluruh Gereja yang menuntut keterlibatan seluruh umat (KomLit KAS, 2010: 11). Bisa dikatakan bahwa Ekaristi wajib dilakukan seluruh umat beriman, kecuali ada larangan berdasarkan hukum kanonik. Jika sudah bersama-sama maka akan terjalinlah ikatan suci dan mulia demi mengucapkan syukur kepada Allah.

Buah Ekaristi selanjutnya ialah cinta. Karunia paling besar yang Allah berikan kepada manusia adalah cinta dengan wujud pengorbanan diri-Nya bagi keselamatan manusia (Yoh 15:13-14). Dengan kata lain, hubungan Yesus dengan manusia bukan seperti tuan dan hamba namun bagaikan seorang sahabat. Persahabatan merupakan satu jiwa yang hidup dalam dua badan. Manusia dijadikan sahabat oleh-Nya dan terbukti Ia amat setia dengan sahabat-Nya yaitu umat manusia.

(56)

yang kurang menguntungkan, tercampak atau dikucilkan (Musakabe, 2011: 13). Itulah yang dilakukan Yesus kepada manusia, dengan mengorbankan diri bagi umat manusia.

Santo Bernardus mengatakan, “Ekaristi adalah Cinta yang melampaui segala

cinta di surga dan di dunia.” Cinta-Nya yang luar biasa menjadi suatu dorongan

bagi umat manusia untuk tetap percaya dan beriman kepada-Nya. Santo Thomas

Aquinas menulis, “ Ekaristi adalah Sakramen Cinta, ia menyatakan cinta, ia

menghasilkan cinta.” Pengalaman-pengalaman Santo-Santo tersebut menyadarkan

manusia bahwa Ekaristi merupakan cinta Yesus kepada manusia. Memaknai Ekaristi sebagai sebuah cinta Yesus yang amat luar biasa akan menumbuhkan keteguhan hati dan akhirnya iman berkembang serta dalam kehidupan sehari-hari akan mengungkapkannya dengan berbuat baik kepada sesama.

Buah Ekaristi juga ditandai dengan kehadiran Allah yang menyertai manusia. Ia adalah Tuhan Yesus yang hadir dalam tabernakel gereja kita dalam Tubuh, Darah, Jiwa dan Keilahian-Nya (Musakabe, 2011: 14). Dalam Mat 1:23 tertulis juga saat malaikat Gabriel datang membawa berita sukacita kepada Maria bahwa mereka akan menamai Dia Imanuel yang berarti Allah menyertai kita. Tubuh dan Darah-Nya yang disantap akan selalu menyertai umat manusia dalam segala situasi dan kondisi. Tubuh dan Darah-Nya akan menebus umat manusia dan mengantarkan umat manusia ke dalam kerajaan surga.

(57)

a. Sebagai Pengingat akan Karya Penyelamatan Allah

Pengingat karya penyelamatan Allah, dalam Luk 22:19-20 yaitu saat Yesus

berkata “Inilah tubuh-Ku dan inilah darah-Ku,” maka roti dan anggur berubah

menjadi tubuh dan darah-Nya. Mengapa bisa demikian? Karena Yesus memiliki kuasa untuk mengubahnya. Hanya saja, bukan secara fisik yang berubah. Namun, anggur dan roti tersebut berubah menjadi diri-Nya sendiri yang diberikan pada manusia dalam bentuk makanan dan minuman. Karena itulah saat perayaan Ekaristi imam akan mengulangi perkataan Yesus, dan dengan iman mereka mempercayai bahwa anggur dan roti merupakan tubuh dan darah-Nya. Oleh karena Yesus disalib satu kali untuk selamanya. Maka Ekaristi bertujuan supaya kita mendapat buah-buah arti penebusan dosa yaitu keselamatan.

b. Bersatu dengan Kristus

(58)

c. Kesatuan Jemaat dalam Tubuh Kristus

Ekaristi merupakan perayaan dimana Yesus sebagai Tuan Rumah, dan perayaan tersebut dihadiri jemaat yang bersama-sama berkumpul dan memiliki tujuan untuk mengingat karya penyelamatan-Nya. Jadi, apabila dirayakan sendiri, maka akan berbeda lagi maknanya dan bukan lagi Ekaristi. Maka dari itu, walaupun Ekaristi lebih merupakan hubungan antara manusia, Roh Kudus, dan Kristus, namun tetap saja, pada mulanya Yesus mengajarkan Ekaristi dalam bentuk perkumpulan orang-orang yang percaya kepada-Nya.

3. Substansi Ekaristi dalam Hidup Beriman

Ekaristi adalah sakramen kasih, tanda kesatuan, dan ikatan kasih serta sebuah Perjamuan Paska Kristus dikurbankan, untuk mengisi kita dengan rahmat yang menghantar umat kepada kehidupan kekal. (Sacrosanctum Concilium art 57). Sebagai sakramen kasih, Ekaristi menjadi sumber kekuatan bagi umat untuk mencapai kesempurnaan kasih yaitu kekudusan. Sebagai tanda kesatuan, Ekaristi menandai persatuan antara Tuhan dengan semua orang beriman (Gereja), dan melalui Gereja, dengan seluruh dunia. Sebagai ikatan kasih, Ekaristi mengarah pada persekutuan dengan Tuhan dan sesama. Sebagai Perjamuan Paska, Ekaristi

menggambarkan tujuan akhir ke surga. Sungguh, Ekaristi menjadi ‘Surga di

Dunia’. Oleh karena itu, Ekaristi menjadi sumber dan puncak Spiritualitas

(59)

Umat Kristiani harus bersatu dengan Kritus di dalam Ekaristi, jika ingin bertumbuh di dalam kekudusan untuk menjadi semakin serupa dengan Dia; sebab

Ia adalah sumber kekudusan dan guru kesempurnaan. “Akulah pokok anggur dan

kamulah ranting-rantingnya,” kata Yesus, “dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15:5,8). Kita harus tinggal di dalam Kristus dan Gereja-Nya, yaitu Tubuh-Nya, supaya kita dapat berbuah, yaitu kekudusan di dalam kesempurnaan kasih, untuk memuliakan Tuhan. Dalam Ecclesia de Eucharistia art.2 tertulis ungkapan Paus Fransiskus, “Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus justru karena memperkenankan saya mengulangi di tempat itu, kata-kata suruhan-Nya : “Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku” (Luk 22:19). Disini terlihat bahwa perjamuan itu menjadi suatu pengenangan akan Yesus sendiri.

(60)

setiap kali kita menyambut Ekaristi kudus itu. Sebab yang kita terima dan yang masuk ke dalam tubuh kita dan bersatu dengan jiwa kita adalah Tuhan Yesus sendiri, yaitu: Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya (Katolisitas.org)

Dengan hati penuh syukur, umat Kristiani merenungkan kembali perkataan Yesus yang penuh kuasa. Bahwa sebelum menderita sengsara, Ia telah menetapkan perjamuan bersama para murid-Nya yang kini kita lakukan demi peringatan akan Dia. Konsekrasi merupakan bagian yang utama dalam Misa

Kudus, yaitu pada saat imam mengatakan, “Terimalah dan makanlah. Inilah

Tubuhku yang dikurbankan bagimu.” Dan kemudian imam mengangkat roti hosti.

Pandanglah hosti kudus itu dengan penuh syukur dan kasih sebab Kristus telah rela mati untuk menebus dosa kita. Kini, oleh kuasa Roh Kudus-Nya Ia menghadirkan kembali Misteri Paska di tengah kita. Oleh Sabda Allah yang dikatakan oleh imam, hosti itu bukan hosti lagi, melainkan Tubuh Kristus sendiri. Maka kita dapat memandang hosti itu sambil berkata seperti yang dikatakan oleh

Rasul Thomas, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Demikian pada saat imam berkata,

“Terimalah dan minumlah. Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal,

yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa.

Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku;” kita memandang piala yang diangkat

itu, sambil mengatakan hal yang sama, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita dapat

menundukkan kepala, tanda hormat dan syukur atas Misteri Kristus ini. Katakan

dengan iman, “Terima kasih Yesus, Engkau telah mengasihi aku dan

(61)

Dalam Ekaristi juga tercipta sikap mencintai Ekaristi itu sendiri. Orang yang mencintai Ekaristi tentu juga amat merindukan dan selalu mengupayakan kesatuan atau persaudaraan penuh kasih dalam keluarganya, komunitasnya atau masyarakatnya (Martasudjita, 2012:102). Oleh sebab itu, mencintai Ekaristi berdampak baik bagi kehidupan sehari-hari para umat beriman Kristiani. Mencintai Ekaristi dapat menjadikan umat beriman semakin mencintai keluarganya, komunitasnya dan yang terpenting mencintai Allah sendiri. Juga dalam perayaan Ekaristi, setiap orang Katolik dipanggil dan diutus untuk meneruskan gerakan berbagi lima roti dan dua ikan agar menjadi berkat bagi yang lain (Pujasumarta, 2008: 25). Hal tersebut mengingatkan bagi umat beriman Kristiani untuk selalu menjadi orang yang penuh belas kasih dan mampu membagikan apa yang dipunyainya demi menolong orang yang kesusahan. Berbagi tentang apapun saja, bukan hanya berbagi makanan. Karena berbagi merupakan tindakan yang mencerminkan kerendahatian dan ketulusan sebagai umat beriman Kristiani.

(62)

tenang dan leluasa (Komsos KAS, 2010: 55). Hal ini lumrah dilakukan oleh umat beriman Kristiani karena menerima komuni adalah hal yang luar biasa, sepatutnya umat Kristiani mengucap syukur atas kebaikan Allah.

Menerima komuni menjadi suatu hal yang perlu dilakukan dengan kerendahan hati karena benar-benar pemberikan Allah. Arti dan tujuan komuni adalah agar umat beriman meniru hidup Kristus, mengikuti jalan salib-Nya dan karena jasa-jasa wafat-Nya, umat beriman dapat ambil bagian dalam kebangkitan-Nya (Lukasik, 1991: 114). Disini terlihat bahwa menerima komuni menuntut umat beriman Kristiani untuk mengikuti segala kehendak Kristus, entah itu suka atau duka, semua itu adalah jalan salib-Nya. Umat beriman Kristiani patut bersyukur karena boleh ikut dalam karya penyelamatan-Nya. Dengan mengikuti-Nya, kelak, umat beriman Kristiani telah masuk dalam Kerajaan-Nya.

(63)

BAB III

GAMBARAN UMUM PERAYAAN EKARISTI DI PAROKI ADMINISTRATIF MARIA ASSUMPTA CAWAS DALAM MENGEMBANGKAN HIDUP BERIMAN UMAT KRISTIANI

A. Gambaran Pelaksanaan Ekaristi di Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas

Pada Bab ini penulis akan membahas gambaran umum tentang Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas. Terdiri dari profil paroki, letak geografis paroki, visi, misi dan sejarah paroki serta perkembangan Ekaristi di Paroki hingga sekarang. Lalu bab tiga ini juga berisi sejauh mana peranan Ekaristi bagi hidup beriman umat di Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas ini. Untuk mengetahui sejauh mana peranan Ekaristi bagi hidup beriman umat, penulis melakukan penelitian dengan wawancara terstruktur. Penelitian ditujukan pada umat Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas. Kemudian dilanjutkan tentang pembahasan hasil penelitian.

1. Profil Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas

a. Letak Geografis Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas

(64)

Kabupaten Sukoharjo, 6 km ke sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Trucuk dan 5,1 km ke sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Ngawen.

Wilayah Paroki Administratif Maria Assumpta Cawas meliputi Kecamatan Cawas, Kecamatan Bayat dan Kabupaten Sukoharjo. Sedangkan dalam batas wilayah gerejani, Paroki Administratif Maria Assumpta Cawas sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan Paroki Jombor, sebelah barat dengan Paroki Bayat, sebelah timur dengan Paroki Sukoharjo dan sebelah selatan dengan Paroki Ngawen.

b. Visi dan Misi Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas

1)Visi Paroki

“Menjadi paroki mandiri dengan fasilitas yang nyaman dan lengkap untuk

membangun keterlibatan dan kehidupan umat beriman yang makin mendalam sehingga mampu menghadirkan daya ubah dalam relasi yang inklusif dengan sesama di tengah masyarakat”.

(65)

2) Misi Paroki

Misi Paroki yang dirumuskan berdasarkan pada visi Paroki yaitu berusaha menambah kenyamanan bagi kegiatan umat. Paroki juga berusaha melengkapi kelengkapan fasilitasnya. Semua itu demi tewujudnya keterlibatan umat dalam hidup menggereja. Keterlibatan menghasilkan sifat kepemimpinan yang kuat dan memiliki rasa positif pada diri sendiri. Maka diri mempunyai keberanian dalam bertindak dan dalam membuat rencana kegiatan. Serta semakin memiliki relasi dan saling mendukung antar umat Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas.

c. Sejarah Singkat Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas

Tahun 1935 muncul orang Katolik pertama di Cawas yaitu Bapak Jaidi Darmosewoyo. Tahun 1936, Paroki Wedi berdiri dan mengasuh sebagian wilayah Jombor yaitu Trucuk dan Cawas. Wilayah Jombor yang lain diasuh oleh Paroki Klaten. Sekitar tahun 1947-1948, ada 4 keluarga Katolik di Cawas. Keluarga itu adalah: keluarga Y. Darrnasewaya (Barepan, Cawas), keluarga A. Darsawiharja (Cawas), keluarga L. Harjawiyana (Kedungampel), keluarga Siswaharja (Cawas). Empat keluarga tersebut menjadi embrio keberadaan Gereja Paroki Administratif Cawas. Pada tahun 1959, lingkungan Cawas dimasukkan ke dalam wilayah Paroki Klaten. Waktu itu, pastor paroki Klaten adalah Rm. J. Darmayuwana, Pr.

(66)

September 2011. Semenjak bulan Januari 2012 Stasi Cawas mulai membuat pembukuan induk sendiri (Baptis, Perkawinan, Penguatan, Sakramen Pengurapan Orang Sakit, Kematian), terpisah dari Paroki Jombor. Pada Januari 2012, Rm. Yohanes Sunaryadi. Pr datang menggantikan Rm. Robertus Budi Haryono, Pr sebagai Pastor Paroki Jombor.

Lingkungan di Gereja Administratif Cawas adalah basis kegiatan. Kehidupan lingkungan-lingkungan ditingkatkan dengan membentuk Paguyuban Ketua lingkungan dan Wilayah. Mereka mendampingi secara berkala. Pembangunan Fisik yang terjadi juga signifikan. Sesudah berbagai macam hal ditata dan dikembangkan dalam dinamika hidup umat, pelayanan pastoral dan pengelolaan organisasi, akhirnya pada tanggal 15 Agustus 2012, Stasi Cawas diresmikan sebagai PAROKI ADMINISTRATIF oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. J. Pujasumarta, Pr.

2. Perkembangan Kenyataan Pelaksanaan Ekaristi di Paroki Administratif Santa Maria Assumpta Cawas Hingga Sekarang

(67)

pelayanan Iiturgi, administrasi, dan dimanika keparokian berjalan seperti paroki mandiri. Pada dasarnya, dengan segala potensi dan kekurangan, umat merasa mampu menjadi paroki mandiri. Dalam visi paroki administratif 2017-2020, Gereja Maria Assumpta Cawas tetap mencantumkan cita-cita menjadi paroki mandiri di dalam rumusannya.

Per tanggal 29 juni 2016, Romo Saptana Hadi, Pr berpindah tugas ke Sorong Papua dan digantikan oleh Romo Yustinus Joko Wahyu Yuniarto, Pr (Romo Yuyun) dam bertempat tinggal di paroki Cawas. Dalam pendampingan Romo Yuyun, tata penggembalaan paroki mengalami beberapa perubahan yang menyesuaikan dengan kebutuhan umat. Khusus perayaan Ekaristi, Romo Paroki menyusun jadwal perayaan Ekaristi secara rutin. Perayaan Ekaristi Jumat Pertama, Ekaristi Mingguan, Ekaristi per Wilayah serta Ekaristi di taman doa. Dan yang terbaru, mulai awal tahun 2018, Romo Paroki beserta dewan Paroki menyusun program yaitu dalam seminggu ada perayaan Ekaristi per lingkungan dan perayaan Ekaristi Ujub. Hal ini diharapkan membantu umat untuk lebih menghayati imannya serta lebih bisa hidup dalam iman akan Yesus Kristus.

Figur

Tabel 1 Kisi-kisi Penelitian
Tabel 1 Kisi kisi Penelitian . View in document p.14
Tabel 2 Matriks Usulan Kegiatan Sarasehan Ekaristi
Tabel 2 Matriks Usulan Kegiatan Sarasehan Ekaristi . View in document p.16
Tabel 2: Matriks Usulan Kegiatan Sarasehan Ekaristi ....................................
Tabel 2 Matriks Usulan Kegiatan Sarasehan Ekaristi . View in document p.18
Tabel 1 Kisi-kisi Penelitian
Tabel 1 Kisi kisi Penelitian . View in document p.73
Tabel 2 Matriks Usulan Kegiatan Sarasehan Ekaristi
Tabel 2 Matriks Usulan Kegiatan Sarasehan Ekaristi . View in document p.110

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (158 Halaman)
Related subjects : Santa Maria Assumpta