Ilmu dan Teknologi Produksi Ternak Perah
“Sejarah dan Perkembangan Kerbau Perah di Indonesia”
Pararel / Kode : 08 / PTK 244
Disusun Oleh : Kelompok 02
o
Indah Permata (1310611030)
o
Rahmi Seno Ayani (1210612087)
o
Ryan Ilham (1310611011)
o
Zilfa Yoga (1210613040)
FAKULTAS PETERNAKAN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’allamin, segala puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah yang mahakuasa, karenaberkat rahmat dan karuniaNYA kita bisa melakukan berbagai macam aktifitas,terutama kepada Penulis sendiri sehingga dapat menyelesaikan makalah Sejarah dan Perkembangan Kerbau Perah di Indonesia ini sesuai dengan waktu yang telah diberikan,dan tidak lupa Penulis menyampaikan salam serta salawat kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah berjuang untuk memanusiakan manusia, hal ini sangat penting untuk kita semua sebagai umatnya, dan penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Dosen yang memberikan tugas makalah ini sehingga pengetahuan kami semakin bertambah,dan pihak pihak yang lain, baik secara langsung maupun tidak ,Penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan dimata pembaca, oleh karena itu saran dan kritik sangat berpengaruh dalam penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan kepada pembaca. Amin.
Padang, 24 Februari 2015
Daftar Isi
Kata Pengantar... i
Daftar Isi... ii
Bab I Pendahuluan... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah………2
1.3 Tujuan…………... 2
Bab II Tinjauan Pustaka... 3
2.1 Peternakan Kerbau di Indonesia..…... 3
2.2 Sejarah Ternak Kerbau... 4
2.3 Populasi dan Penyebaran Kerbau di Indonesia... 7
2.4 Kerbau Perah... 9
2.4.1 Kerbau Jaffarabadi... 10
2.4.2 Kerbau Murrrah...10
2.4.3 Kerbau Nili Ravi…... 12
2.4.4 Kerbau Kundi………... 13
2.4.4 Kerbau Surti ..………... 12
2.5. Produksi Susu……….. 15
2.6. Komposisi Susu Kerbau………...17
Bab III Penutup……...20
3.1 Kesimpulan………..20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kerbau (Bubalus bubalis) adalah ternak ruminansia besar yang mempunyai potensi tinggi dalam penyediaan daging. Kerbau merupakan ternak asli daerah panas dan lembab khususnya daerah belahan utara tropika. Tujuan pemeliharaan ternak kerbau adalah sebagai tenaga kerja, penghasil daging, dan susu . Selama 8 tahun terakhir ini perkembangan ternak kerbau di Indonesia kurang menggembirakan. Populasi ternak kerbau yang ada di Indonesia saat ini 40% berada di Pulau Jawa dengan kepemilikan 1-2 ekor per orang peternak .
Salah satu factor yang menyebabkan rendahnya populasi ternak kerbau adalah keterbatasan bibit unggul, rendahnya mutu pakan ternak, perkawinan silang dan kurangnya pengetahuan peternak dalam menangani produksi ternak tersebut. Kerbau dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu kerbau rawa dan kerbau sungai, dan yang berkembang di Indonesia kebanyakan adalah kerbau rawa/lumpur.
Suhubudy (2005) mendeskripsikan beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya populasi kerbau di Indonesia. Adanya program sapinisasi, rendahnya tingkat reproduksi kerbau, dan teknik serta metode praktek peternakan di Indonesia yang tidak mendukung pengembangan ternak kerbau merupakan faktor-faktor yang menyebabkan populasi ternak kerbau tidak berkembaang dengan baik.
masyarakat (Litbangnak, 2006). Oleh karena Ternak kerbau yang ada di Indonesia perlu dilestarikan dan dikembangkan sesuai denga kondisi wilayah masing-masing
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini yaitu :
1. Bagaimana Sejarah dan perkembangan kerbau di Indonesia?
2. Apa saja jenis kerbau perah di Indonesia?
1.3. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah
1. Mengetahui sejarah dan perkembangan kerbau perah di Indonesia 2. Jenis kerbau perah di Indonesia
PEMBAHASAN
2.1. Peternakan Kerbau di Indonesia
Di Indonesia kerbau telah berkembang sejak dahulu. Dimana telah tersebar di seluruh Indonesia. Kerbau yang berasal di Indonesia didominasi oleh kerbau lumpur dengan jumlah populasi sekitar 2 juta ekor dan kerbau perah terdapat 5 ribu ekor. Kerbau-kerbau tersebut dipelihara oleh peternak kecil. Untuk kerbau lumpur dengan pemeliharaan secara tradisional dengan jumlah kepemilikan 2-3 ekor induk peternak, sedangkan kerbau perah dipelihara atau digembalakan secara berkelompok pada areal sekitar para peternak berdiam.
Walaupun demikian pada beberapa tempat tertentu terdapat kepemilikan dalam jumlah besar sepeti di pulau Moa (Maluku), Sumba (NTT), dan Sumbawa (NTB) dimana jumlah kepemilikan kerbau per peternak sapat mencapai 100 ekor per induk. Dengan majunya otonomi daerah dan adanya permentan tentang penetapan SDG (sumber daya genetik) ternak lokal maka beberapa daerah mengklaim kerbau-kerbau lumpur yang ada di daerahnya untuk ditetapkan sebagai bangsa atau sub bangsa kebau di Indonesia kerana kemampuan adaptasinya pada lingkungan tertentu yang cukup berbeda dengan kawasan kerbau lainnya di Indonesia seperti kerbau Sumbawa (NTB), dan kerbau Moa (Maluku) yang diusulkan oleh daerah masing-masing untuk ditetapkan sebagai rumpun kerbau yang adaptif pada kondisi daerah spesifik pada iklim mikro masing-masing. (Rusastra, 2011)
Kerbau memiliki beberapa peranan utama secara nasional yaitu sebagai penghasil daging yang mendukung program pemerintah dalam hal swasembada daging selain daging sapi, sebagai ternak kerja, penghasil susu dan pupuk.
transportasi. Ternak dipelihara dengan cara ekstensif dengan pemberian pakan hijauan dari rumput dengan cara penggembalaan maupun dengan mencari rumput dan memberikannya pada ternak.
Data tahun 2001 menunjukkan bahwa populasi ternak sapi di Indonesia diperkirakan berjumlah 10,5 juta, dimana jumlahnya tidak pernah meningkat sejak tahun 1985. Sedangkan populasi ternak kerbau malahan menurun drastis dari 3,3 juta ekor pada tahun 1985 dan menjadi hanya 2,4 juta ekor di tahun 2001. Pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi telah mendorong terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat dimana konsumsi peternakan baik berupa daging, telor dan susu meningkat dengan laju yang cukup tinggi, yakni di atas 5% per tahun untuk masa 20 tahun mendatang.
Namun fakta menunjukkan bahwa kemampuan peternakan dalam negeri belum bisa diandalkan untuk memenuhi permintaan konsumen dalam negeri. Indonesia yang semula dikenal sebagai pengekspor daging pada era tahun 1970-an, telah menjadi net impor pada tahun 1980-an.
2.2. Sejarah Ternak Kerbau
Menurut sejarah perkembangan domestikasi, moyang dari kerbau
(Bubalus bubalus) adalah kerbau liar di Asia. Ditemukandua tipe utama kerbau, yaitu kerbau lumpur dan kerbau sungai atas dasar perbedaan fenotipe, karyotipe dan mitokondria DNA (Tanaka et al, 1996 dalam FAO, 2007). Kerbau sungai penghasil utama susu hidup subkontinen India, Timur Tengah dansekitamya, dan Eropa Timur; sedangkan kerbau lumpur yang berperan penting sebagaitenaga kerja pada budidaya padi berdiam diChina dan negara-negara di Asia tenggara.
Lembah Tigris pada 5000 tahun yang lalu; sedangkan kerbau lumpur didomestikasi di China sekitar 4000 tahun yang lalu bersamaan dengan munculnya budidaya padi.
Asal kerbau di Indonesia diduga telah lama dibawa ke Jawa, yaitu pada saat perpindahan nenek moyang kita dari India Belakang ke Jawa pada tahun 1.000 SM (Hardjosubroto dan Astuti, 1993).
Melihat kemampuan adaptasi kerbau tersebut pengembangan dan penyebaran kerbau dapat dilakukan di banyak daerah di Indonesia dengan memperhatikan kerbau dan daya adaptasinya. Sebagian besar kerbau di Indonesia adalah tipe kerbau lumpur, namun telah muncul berbagai spesifikasi mengikuti agroekosistem yang membentuknya (SIREGAR et al, 1997)
Di Indonesia lebih banyak terdapat kerbau Lumpur dan hanya sedikit terdapat kerbau sungai di Sumatera Utara yaitu kerbau Murrah yang dipelihara oleh masyarakat keturuan India dan digunakan sebagai penghasil susu. Populasi ternak kerbau di dunia diperkirakan sebanyak 130−150 juta ekor, sekitar 95% berada di belahan Asia selatan, khususnya di India, Pakistan, China bagian selatan dan Thailand (SONI, 1986).
Populasi ternak kerbau di Indonesia hanya sekitar 2% dari populasi dunia. Hanya sedikit sekali kerbau lumpur yang dimanfaatkan air susunya, karena produksi susunya sangat rendah yaitu hanya 1−1,5 l/hari, dibandingkan dengan tipe sungai yang mampu menghasilkan susu sebanyak 6−7 l/hari. Namun demikian, di beberapa daerah, susu kerbau lumpur telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat.
masih termasuk dalam bangsa kerbau lumpur. Potensi pakan yang cukup banyak tersedia menjadikan ternak kerbau sebagai komoditas unggulan di sebagian besar daerah di Pulau Sumatera.
Usaha ternak kerbau merupakan usaha peternakan rakyat yang dipelihara sebagai usaha sampingan, menggunakan tenaga kerja keluarga dengan skala usaha yang kecil karena kekurangan modal. Disamping itu sebagian peternaknya adalah penggaduh dengan sistem bagi hasil dari anak yang lahir setiap tahunnya. Pemeliharaan ternak umumnya bergantung pada ketersediaan rumput alam.
Siang hari peternak menggiring ternak ke tempat penggembalaan dan malam hari dibawa ke dekat pemukiman dan biasanya tanpa kandang, ternak hanya diikat di belakang rumah petani, dan belum biasa memberikan pakan tambahan.
Selain produksi dagingnya, kerbau juga sebagai penghasil susu yang diolah dan dijual petani dalam bentuk dadih di Sumatera Barat serta gula puan, sagon puan dan minyak samin di Sumatera Selatan. Secara umum produktivitas susu masih rendah yaitu sekitar 1−2 liter/ekor/hari. Dibandingkan dengan ternak sapi, ternak kerbau agak kurang mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Konsekuensinya, produktivitas ternak relatif rendah, bahkan populasi ternak kerbau di Sumatera hanya sedikit meningkat, walaupun masih jauh lebih tinggi dari rataan nasional.
2.3. Populasi dan Penyebaran Ternak Kerbau di Indonesia
kerbau perah (river buffalo) sangat sedikit, hanya sekitar 5% dari populasi yang ada, sedangkan poulasi kerbau potong dan kerja (berupa kerbau lumpur/swamp buffalo) mencapai hingga 95%. Populasi ternak kerbau di Indonesia sekitar 2,5 juta ekor.
Namun populasi ternak kerbau di Indonesia mengalami penurunan. Selanjutnya dikatakan data selama tahun 1985 - 2001 menunjukkan bahwa populasinya menurun drastis dari 3,3 juta ekor pada tahun 1985 dan menjadi hanya 2,4 juta ekor di tahun 2001 atau mengalami penurunan populasi sebesar 26 %. Namun demikian, populasi ternak kerbau di Pulau Sumatera agak meningkat dari 1,1 juta ekor menjadi 1,2 juta ekor di tahun yang sama atau mengalami pertumbuhan populasi sebesar 9 %.
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya populasi ternak kerbau disebabkan oleh keterbatasan bibit unggul, mutu pakan ternak rendah, perkawinan silang dan kurangnya pengetahuan peternak dalam menangani produksi dan reproduksi ternak tersebut.
Tabel 1 Populasi Kerbau di Sepuluh Provinsi Indonesia (ekor)
Provinsi Tahun
2004 2005 2006 2007 2008
NAD 409,071 338,272 371,143 390,334 410,518 Sumbar 322,692 201,421 211,531 192,148 197,335 Sumut 263,435 59,672 261.794 189,167 189,167 Jabar 149,960 148,003 149,444 149,030 170,568 NTH 156,792 154,919 155,166 153,822 169,204 NTT 136,966 139,592 142,257 144,981 159,479 Banten 139,707 135,040 146,453 144.944 144,944 Sulsel 161,504 124,760 129,565 120.003 120,003 Jateng 122,482 123,815 112,963 109,004 116,014 Sumsel 86,528 90,300 86,777 90,160 93,675 Sumber: DITJENNAK (2008)
Tabel 1. Populasi Ternak Kerbau di Sumatera Barat.
2005 2006 2007
Kabupaten
1 Pesisir Selatan 31.031 26.725 25.775 2 Solok 9.521 10.876 11.368 3 Sijunjung 33.898 37.521 37.738 4 Tanah Datar 17.096 18.844 18.483 5 Padang Pariaman 36.053 37.842 38.349 6 Agam 17.472 25.772 26.408 7 50 Kota 24.049 23.759 27.651 8 Pasaman 2.952 2.647 2.251 9 Mentawai 131 129 129 10 Solok Selatan 8.735 8.287 8.320 11 Pasaman Barat 3.574 2.850 3.837 12 Dharmasraya 7.382 7.323 7.414 13 Padang 5.010 3.103 5.361
14 Solok 277 175 246
15 Sawahlunto 2.420 2.392 4.011 16 Padang Panjang 121 144 335 17 Bukittinggi 328 337 647 18 Payakumbuh 855 1.144 1.256 19 Pariaman 516 661 663
Sumber : Endang, Rusfidra, Indri Juliyarsi, Hendri (2009)
2.4. Kerbau Perah
Negara India merupakan salah satu negara di dunia yang banyak melakukan penjinakkan kerbau (buffaloes). Negara lain yang memiliki ternak kerbau dalam jumlah besar adalah China, Thailand, Pakistan dan Philipina.
Uraian kerbau (Bubalus species) telah banyak dijelaskan pada Kerbau sebagai ternak potong. Sedangkan yang diuraikan pada pokok bahasan ini hanya menyangkut beberapa kerbau sebagai ternak perah.
2.4.1. Jaffarabadi.
Terdapat di hutan Gir-Kathiawar khususnya mengarah ke Jaffarabad India. Individu kerbau sebagai penghasil air susu sampai 15 – 18 Kg per hari dengan lemak susu (butter fat) tinggi.
Ciri Kerbau Jaffarabadi.:
1. Kepala : Besar, lebar, bertanduk tipis menggantung ke leher dengan ujung melengkung ke atas, dahinya menonjol.
2. Leher : kuat dan berkembang dengan baik.
3. Tubuh : massif, relatif panjang dan tidak begitu kompak, panjang kerbau jantan mencapai 176,6 cm dan betina 160 cm, BB jantan mencapai 589,6 Kg dan betina berkisar 450 Kg
4. Kaki : lurus dan kuat
6. Ambing : bentuk dan ukuran baik, vena jelas, puting susu panjang dan produksi susu 15-18 Kg ( 30-40 lbs) per hari
2.4.2. Kerbau Murrah
Kerbau Murrah merupakan kerbau yang habitat aslinya berada di Negara bagian Haryana dan Union territory Delhi di India dan di Propinsi Punjab di Pakistan. Namun kerbau Murrah merupakan salah satu kerbau perah yang banyak diternakkan di Indonesia, khususnya daerah sekitar Medan.
Kerbau Murrah selain sebagai kerbau perah yang menghasilkan susu, juga paling efisien dalam menghasilkan lemak susu. Kerbau Murrah merupakan kerbau yang paling utama di dunia, karena mampu memproduksi susu rata-rata 3500-4000 lbs ( 1 lbs=0,453 ) setiap laktasi. Ternak dari Kerbau Murrah merupakan hasil seleksi yang baik hingga menghasilkan susu sebanyak 5000 – 7000 lbs setiap laktasinya.
Kerbau Murrah mampu memproduksi susu 1814 dalam masa laktasi 9-10 bulan. Di Indonesia, seekor kerbau Murrah mampu menghasilkan susu 1,5 – 3 liter/hari. Walaupun kerbau Murrah ini termasuk jenis kerbau yang mampu menghasilkan banyak susu, namun petani lebih sering menggunakannya sebagai kerbau pekerja.
• Bentuk tubuh padat massive, bangun tubuh kuat dengan pungung pendek dan luas. Leher ringan dengan kepala seimbang ter-hadap bangun tubuh yang padat.
• Pinggul luas serta berhubungan dengan kuartet kelenjar susu. Anggota badan pendek dan kuat, padat.
• Ekor mempunyai bulu kipas berwarna putih.
• Tanduk melingkar dalam bentuk spiral Warna tubuh pada umumnya • Tanduk melingkar dalam bentuk spiral Warna tubuh pada umumnya hitam. • Ambing berkembang baik dengan vena susu tampak menonjol serta 4 puting susu terpisah satu dengan yang lain cukup jauh.
Kerbau jantan mempunyai berat badan 566,9 kg dengan lingkar dada 220,7 cm, sedangkan yang betina berat badannya 430,9 kg dengan lingkar dada 218,4cm.Kerbau Murrah merupakan kerbau perah yangutama di dunia. Produksi susunya rata-rata 3 500 - 4.000 Ibs (libs- 0,453 kg) setiap laktasi, bahkan kerbauMurrah yang terseleksi dapat menghasilkan susu dapat menghasilkan susu 5.000 - 7.000 Ibs per laktasi.Keturunan kerbau Murrah yang terbentuk kerena perbedaan daerah dan lokasi hidup antara lain Nili, Ravidan Kundi.
2.4.3. Kerbau Nili dan Ravi
yang mencerminkan warna sungai Sutley, sementara Ravi sering disebutsebagai bangsa Sundal bar. Daerah Ravi sering disebut sebagai bangsa Sundal bar. Daerah sebarankerbau Nili dan Ravi ada di antara 29,5 -32,5 °LU dan 71 - 75 °BT.
Tidak terdapat perbedaan pokokdiantara kedua bangsa kerbau ini sehingga mulai tahun 1960 digabungkan sebagai satu bangsa tersendirikhususnya di Pakistan, tetapi tidak di India.tanda-tanda :
• Tinggi gumba, panjang badan, dan berat badan yang jantan 132,1 cm; 154,9 cm; dan 680,4 kg, sedang yang betina 127 cm; 149,8 cm; dan 635 kg. Kerbau ini mempunyai dahi yang datar, wall eyes yaitu iris mataberwarna putih, tanda putih pada bagian kepala, paha, ambing, dan bulu kipas ekor.
• Produksi susu dapat mencapai 4.000 Ibs dalam masa laktasi 250 hari.
Ukuran umum kerbau Nili : tinggigumba, panjang badan dan berat badan yangjantan adalah 137,2 cm; 157,4 cm; dan 589,7 kg sedangyang betina 127 cm; 147,3 cm, dan 453,6 kg. Kerbau ini mempunyai tanduk kecil, white eyes yakni irismata berwarna putih sebagai tanda khas bangsa kerbau perah ini.
tebal luas serta tanda putih di atas leher dan bagian tubuh lainnya. Produksi susu dapatmencapai 20 - 24 Ibs per hari
2.4.4. Kerbau Kundi
pada mulanya ditemukan didaerah Sind, sehingga dikenal sebagai Sindhi Murrah. Nama Kundi bermula dari adanya bentuk tanduk yang mirip dengan bentuk pancing.
Ciri-cirinya:
1. Warna kulit hitam, ada juga coklat terang
2. Dasar tanduk tebal, mengarah kebelakang dan atas, yang melengkung
3. Dahi cukup menonjol, muka cekung, mata kecil bercahaya
4. Bentuk badan lebih kecil dari pada kerbau Nili/Ravi
5. Tubuh bagian belakang berbentuk massive dan mempunyai ambing besar dgn
vena susu menonjol , puting besar 6. Bobot hidup rata-rata 320-450 kg
7. Produksi susu mencapai 2000 lbs setiap laktasi
Kerbau Surti atau Surati adalah bangsa kerbau perah yang sangat dikenal di daerah Gujarat, negarabagian Bombay di antara sungai Mahi dan Sabarmati. Kerbau Surti dikenal sebagai penghasil susudikenal sebagai penghasil susu yang baik, produksi susu rala-rata 1655,5 kg per laktasi dengan kadarlemak 7,5 %.
Bentuk tubuh kerbau Surti besar dan baik, kaki agak pendek, tanduk termasuk menengahdan berbentuk bulan sabit, dan kulit berwarna antara hitam atau coklat, Terdapat warna putih berbentukhuruf V pada tubuhnya, Bulu kipas ekor berwarna putih.
Warna putih pada dahi, kaki dan bulu kipas ekorpaling disukai. Muka dan moncongnya bersih dengan lubang hidung yang relatif besar, telinga berukuransedang dengan warna kemerahan diba-gian sebelah dalamnya. Leher cukup panjang dan pipih pada yangbetina, tetapi tampak tebal dan masssive pada yang jantan.
2.5. Produksi Susu
Produksi susu yang tinggi pada induk sedang laktasi selama bulan pertama berpengaruh terhadap bobot tubuh induk dan dapat mengakibatkan penurunan bobot tubuh selama bulan pertama setelah melahirkan. Penurunan bobot tubuh ini disebabkan oleh beberapa faktor misalnya nutrisi induk selama sebelum dan sesudah beranak, musim beranak dan cara pemeliharaan.
Akan tetapi faktor cekaman laktasi belum jelas. Kehilangan bobot tubuh selama laktasi sepenuhnya normal sehingga diperlukan energi tersedia yang tinggi untuk produksi susu tanpa menyebabkan beban berlebihan pada sistem pencernaan. Perlunya tata laksana pemberian pakan yang baik pada saat bunting dan laktasi agar tersedia cadangan yang cukup pada waktu beranak dan mencegah kehilangan bobot tubuh yang berlebihan selama laktasi.
Besarnya produksi susu yang dihasilkan selama masa laktasi dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya pertumbuhan dan perkembangan sel-sel sekretoris kelenjar ambing selama kebuntingan, ketersediaan zat-zat makanan sebagai bahan untuk sintesa susu dan laju penyusutan sel-sel sekretoris selama laktasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa sintesa susu melalui dua jalur yaitu filtrasi dan sintesis. Kecepatan sintesis dan filtrasi susu tergantung dari konsentrasi precursor di dalam darah yang merupakan ekspresi dari kuantitas dan kualitas suplai pakan.
Bangsa kerbau perah yang didatangkan dari daerah beriklim sejuk rentan sekali terhadap cekaman panas. Untuk itu tata laksana pemeliharaan dan pemberian pakan harus diperhatikan guna menekan sekecil mungkin pengaruh cekaman panas tersebut. Rendahnya bobot tubuh ternak perah di Indonesia mungkin merupakan hasil akhir adaptasi terhadap lingkungan yang lembab dan tropis.
Bangsa kerbau dan jumlah laktasi berpengaruh terhadap produksi susu. Produksi susu maksimum tercapai pada umur 4-5 tahun atau pada laktasi ketiga dan tidak menurun drastis selama tiga tahun berikutnya dimana dianggap hampir semua bangsa kambing berbiak sekali dalam setahun. Susu yang dihasilkan setiap hari akan meningkat sejak induk beranak kemudian produksi akan menurun secara berangsur-angsur hingga berakhirnya masa laktasi. Puncak produksi susu akan dicapai pada hari 21-49 setelah beranak. Produksi susu kambing berkisar 1-3 kg per ekor per hari tergantung bangsa kambing, masa laktasi, suhu lingkungan, pakan, jumlah anak perkelahiran dan tata laksana pemeliharaan.
Kandungan lemak pada susu kerbau adalah 50%, jadi lebih banyak dibandingka susu sapi. Begitu juga halnya dengan kandungan protein. Di Indonesia, umumnya susu kerbau tidak dikonsumsi langsung dalam keadaan segar, tetapi diolah untuk berbagai keperluan. Di Aceh, susu kerbau dibuat mentega dan minyak samin, sedangkan d Sumatera Utara dibuat dadih (Murtidjo, 1992).
2.6. Komposisi dalam Susu Kerbau
Susu kerbau memiliki kandungan gizi tidak kalah dibandingkan susu sapi. Susu kerbau mengandung 4,5 g protein, 8 g lemak, 463 Kkal dan 195 iu kalsium. Susu kerbau lebih kental dibandingkan susu sapi. Hal ini karena susu kerbau mengandung 16% bahan padat, sedang susu sapi bahan padatnya 12%. Kandungan lemak susu kerbau juga lebih banyak, sehingga kandungan energinya lebih tinggi dari susu sapi.
Ada baiknya bila mengetahui beberapa susunan/komposisi dari jenis masing -masing susu. Di bawah ini adalah tabel yang menjelaskan berbagai jenis susu :
Susu kerbau memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi karena itu, potensi dan kandungan gizinya yang sangat besar,susu kerbau dijuluki sebagai Emas Putih. Jika dilihat dari komposisi nilai gizi yang terdapat di dalamnya,susu kerbau tidak kalah dengan susu asal ternak ruminansia lainnya. Bahkan kandungan protein dan lemaknya sangat tinggi yaitu 5,5-10,5% dua kali lipat dari susu lain.
Dalam susu terdapat beberapa komponen, salah satunya lemak. Wikantadi mengatakan lemak susu adalah komponen yang paling beragam. Sebagian besar lema k susu terdiri dari trigliserida. Bahan utama pembentuk lemak susu adalah glukosa, asam asetat, asam beta hidroksobutirat, trigliserida dasri kilomikra dan LDL serta darah. 75 – 90 % dari asam lemak berantai pendek (C4 – C14) dan 30 % dari asam
palmitat yang disusun dalam kelenjar susu berasal dari asam asetat. Dan sisanya berasal dari asam lemak. Asetil Co-A yang digunakan oleh kelenjar susu dibentuk dari asetat yang terdapat dalam sitoplasma.
Pakan ternak pun sangat berperan dalam kualitas susu, sehingga di dalam pakan ternak harus memenuhi criteria gizi yang baik, yakni terdapat jumlah protein yang tinggi, energi (yang diperlukan untuk membentuk lemak susu) tinggi, mineral yang kaya akan Ca dan P (tak lupa Na dan Cl karena cukup penting bagi ternak), vitamin yang cukup.
Komposisi Susu Kerbau dan Sapi Zebu, %
Ternak Air Lemak Protein Laktosa Abu BPBL1 BP
Sapi Zebu 86,6 4,2 3,6 4,9 0,7 9,2 13,4
Kerbau Italia 81,7 7,8 4,2 ND 0,7 10,2 18,0
Kerbau China 76,8 12,6 6,0 3,8 0,8 10,6 23,2
Carabos Phi 78,6 10,4 5,9 4,3 0,8 11,1 21,5
Kaukasus Murrah Bulgaria
81,9 8,0 4,5 4,7 0,9 10,2 18,2
Murrah India 82,7 7,4 3,6 5,5 0,8 9,8 17,2
Sumber : Gangguli (1981) BP:Bahan Padat ; BPBL1:Bahan Padat Bukan Lemak
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa susu kerbau memiliki keistimewaan yakni susu yang dihasilkan mengandung air lebih sedikit dibanding susu dari ternak lainnya. Yang terkandung cukup banyak didalamnya adalah bahan padat, lemak, laktosa, dan protein.
Laktosa pada susu kerbau memiliki kandungan yang lebih tinggi daripada susu sapi dan mendekati nilai laktosa pada ASI. Laktosa adalah karbohidrat yang hanya terdapat di dalam susu. Laktosa memiliki nilai gizi utama, yakni untuk pertumbuhan bayi, dan mampu berubah secara metabolik menjadi asam laktat di dalam usus halus yang mana hal tersebut penting untuk pertumbuhan jasad renik yang sangat berguna bagi tubuh manusia5.
Apabila seekor kerbau tidak tercukupi kebutuhan proteinnya maka akan mengakibatkan kualitas susu yang dihasilkan akan menurun, dan jika hal ini berlangsung terus – menerus jumlah susu yang diproduksi pun akan berkurang5. Ini
berarti kerbau tersebut sudah tidak mampu memproduksi sejumlah susu sesuai dengan harapan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Daftar Pustaka
Rusdiana.Agus.2011.Proposal.http://agusrusdiana.blogspot.com/2011/04/pro
posal.html. (Diakses Tanggal 21 Februari 2015)
Izza.2011.IBM-2 Susu Kerbau.
http://izzulhawa.blogspot.com/2011/12/ibm-2-susu-kerbau.html (Diakses Tanggal 21 Februari 2015)
Masnur..2012. PROBLEMATIKA PENGEMBANGAN KERBAU DI
INDONESIA.http://masnurternak.blogspot.com/2012/05/problematikapengembanga
n-kerbau-di.html. (Diakses Tanggal 21 Februari 2015)
Anonymous.2011.Sejarah peternakan kerbau di Indonesia