• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERTAS KERJA : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : AKUNTASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KERTAS KERJA : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : AKUNTASI"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)PENERAPAN ATURAN PERPAJAKAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 6 SALATIGA SEBELUM DAN SESUDAH ADANYA AKUNTAN Oleh: HARIS YODHA PRAWIRA NIM : 232011171. KERTAS KERJA. Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari Persyaratan-Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi. FAKULTAS. : EKONOMIKA DAN BISNIS. PROGRAM STUDI : AKUNTASI. FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2015. i.

(2) ii.

(3) iii.

(4) iv.

(5) v.

(6) 1.

(7) HALAMAN MOTTO. “Success is not measured by wealth, success is an achievement that we want”. iv.

(8) ABSTRACT. The study aims to describe the practical application of tax rules in SMP N 6 Salatiga both before and after the period of an accountant in charge. The method used is descriptive comparative. In this study, the writer uses documents study, observations, and interviews as the techniques of data colletion. The documents study and observations are conducted to collect data related to aspects of taxation while interviewing the treasurer and the principal are carried out to gather information in line with the policies and regulations of taxation. The sample of the study are tax period of April-May 2012 and April-May 2013 as well as the time of their SPT delivery. The finding of the study shows the Total Withholding except Income Tax of 22 which has decreased but the number of Payment and reporting errors is still the same within the periods before and after the accountant in charge. This number is even larger in quality when an accountant is in charge of the treasury due to the school’s policy regarding the tax payment delay to be used as a reserve fund to finance unstructured activities. Meanwhile, reporting errors are caused by the employment feel they have excessive workloads that is not enough time to make the monthly tax return (SPT Masa) of BOS funds transactions. Keywords : withholding, payment tax and reporting tax. v.

(9) SARIPATI. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan praktek penerapan aturan perpajakan di SMP N 6 Salatiga sebelum dan sesudah adanya tenaga akuntan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi dokumen, observasi. dan wawancara. Studi dokumen dan observasi. dilakukan untuk data transaksi dana BOS yang terkait aspek perpajakan sedangkan wawancara kepada bendaharawan dan kepala sekolah untuk mendapatkan informasi mengenai kebijakan dan praktek perpajakan di SMP N 6 Salatiga. Sampel penelitian adalah transaksi periode April-Mei 2012 dan periode April-Mei 2013. Hasil dari penelitian ini menunjukan frekuensi kesalahan pemotongan/pemungutan kecuali PPh 22 mengalami penurunan namun jumlah kesalahan penyetoran dan pelaporan masih sama antara periode sebelum dan sesudah adanya akuntan. Kesalahan penyetoran. dan. pelaporan tetap sama bahkan secara kualitas lebih besar saat bendahara dijabat oleh tenaga akuntan dikarenakan adanya kebijakan sekolah mengenai penundaan penyetoran pajak untuk dijadikan dana talangan bagi pendanaan kegiatan yang tidak terstruktur. Untuk kesalahan pelaporan disebabkan pihak kepegawaian merasa memiliki beban kerja yang berlebihan sehingga tidak cukup waktu untuk membuat SPT atas transaksi dana BOS. Kata Kunci : Pemotongan/ Pemungutan, Penyetoran Pajak dan Pelaporan Pajak. vi.

(10) KATA PENGANTAR. Sektor pajak adalah penyumbang nomor satu terbesar untuk komposisi pendapatan nasional.Oleh karena itu, dalam mensukseskan penerimaan Negara diperlukan kesadaran dari berbagai pihak dan pengawasan dalam penerapan aturan perpajakan sehingga pendapatan dari sektor pajak dapat dimaksimalkan dan APBN dapat terpenuhi dengan baik. Dalam skripsi ini penulis mengangkat judul ”Penerapan Aturan Perpajakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Salatiga” . Dengan periode amatan April- Mei tahun 2012 (bendaharawan dijabat oleh guru) , April-Mei 2013 ( bendaharawan dijabat oleh akuntan ) dan membandingkan periode tersebut untuk melihat perbedaan penerapan aturan perpajakan yang berlaku. Akhir kata penulis menyadari bahwa ada banyak kekurangan dan kelemahan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran, kritik, dan koreksi yang konstruktif guna perbaikan penulisan di masa yang akan datang. Selain itu, penulis mengharapkan karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan.. Salatiga, Februari 2015. vii.

(11) UCAPAN TERIMA KASIH. Dalam mengerjakan skripsi ini penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan. yang baik ini perkenankan penulis untuk. mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada yang terhormat: 1. Kepada Ibu Gustin Tanggulungan.,SE., M.Ak selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, memberikan arahan dan dorongan yang berharga bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Kepada Ibu Endang Dwi Wahyuni.,M.Pd selaku Kepala sekolah SMP N 6 Salatiga, Staff Tata Usaha SMP N 6 Salatiga dan Bendaharawan Sekolah SMP N 6 Salatiga yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian dan membantu perolehan data untuk penelitian ini. 3. Kepada Papah Daryatno Ismanto dan Mamah Harmini, kakakku tercinta Astrid Dyah apsari Natalia dan K.M Rizka Ardhi, serta seluruh keluarga yang telah memberikan dorongan baik berupa moril ataupun materiil selama penulis menimba ilmu di UKSW. 4. Seluruh dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis atas pengetahuan dan inspirasi yang diberikan selama masa kuliah. 5. Seluruh staff TU Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang telah banyak memberikan bantuan dan kemudahan akademis kepada penulis. 6. Keluarga kedua penulis Kevin, Rio,Diaz, Yossy, Rian, Kris, Raja, Arda, Adit Satya, Andri, Peter, Reza, Reinhart, Dwi Nur, Ratri dan teman teman lainya yang telah memberikan semangat dan dorongan agar penulis menyelesaikan Penelitian ini dengan baik.. viii.

(12) DAFTAR ISI. Halaman Judul ............................................................................................................ i Surat Pernyataan Keaslian Kertas Kerja .................................................................... ii Halaman Persetujuan/Pengesahaan ........................................................................... iii Halaman Motto ......................................................................................................... iv Abstract ....................................................................................................................... v Saripati ....................................................................................................................... vi Kata Pengantar .......................................................................................................... vii Ucapan Terima Kasih .............................................................................................. viii Daftar Isi .................................................................................................................... ix Daftar Tabel ............................................................................................................... xi Daftar Lampiran ......................................................................................................... xii Latar Belakang ..............................................................................................................1 Kajian Literatur .............................................................................................................3 Peran Bendaharawan Sekolah .................................................................................3 Kewajiban Perpajakan Disekolah .........................................................................4. ix.

(13) Metodologi Penelitian .................................................................................................8. Hasil dan Pembahasan Penelitian ..............................................................................10 Gamabaran Umum Administrasi di SMP N 6 Salatiga ...................................10 Saat Pemotongan dan Pemungutan Objek Oleh Bendaharawan......................11 Penentuan Tarif Pemotongan/Pemungutan Pajak ............................................13 Perhitungan Jumlah Pemotongan/Pemungutan Pajak ......................................14 Menyetor dan Melapor PPh/PPN .....................................................................15 Pengukuran Kualitas Kesalahan .....................................................................17 Kesimpulan .................................................................................................................18 Keterbatasan Penelitian...............................................................................................18 Implikasi Saran ...........................................................................................................18 Daftar Pustaka ............................................................................................................19 Lampiran-Lampiran. x.

(14) DAFTAR TABEL. Tabel 1. Kesalahan Penentuan Objek Tahun 2012 dan 2013 (April-Mei). ................12 Tabel 2. Kesalahan Penentuan Tarif Pemotongan/Pemungutan tahun 2012 dan 2013 (April –Mei) .................................................................................13 Tabel 3. Kesalahan jumlah Pemotongan/Pemungutan Tahun 2012 dan 2013 (April-Mei)....................................................................................................15 Tabel 4. Kesalahan Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan/Pemungutan Tahun 2012 dan 2013 (April-Mei)................................................................16 Tabel 5 Pengukuran kesalahan Secara Kualitas Tahun 2012 dan 2013 (April-Mei). ..........................................................................17. xi.

(15) DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1. Struktur Organsiasi Tatau Usaha SMP N 6 Salatiga ..............................21 Lampiran 2. Tabel Kesalahan Perpajakan Bulan April 2012 .....................................22 Lampiran 3. Tabel Kesalahan Perpajakan Bulan Mei 2012. ......................................24 Lampiran 4. Tabel Kesalahan Perpajakan Bulan April 2013 .....................................26 Lampiran 5. Tabel Kesalahan Perpajakan Bulan Mei 2013. ......................................29 Lampiran 6. Kesalahan Perpajakan Dihitung Secara Kuantitas dan Kualitas Tahun 2012 ( April-Mei) .......................................................................30 Lampiran 7. Kesalahan Perpajakan Dihitung Secara Kuantitas dan Kualitas Tahun 2013 ( April-Mei) .......................................................................30. xii.

(16) Latar Belakang Masalah Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bidang perpajakan, pihak yang melakukan pemotongan dan pemungutan pajak atas pengeluaran yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara maupun Daerah (APBN/APBD) adalah bendahara pemerintah. Termasuk dalam pengertian bendahara pemerintah antara lain bendahara pengeluaran, pemegang kas, dan pejabat lain yang menjalankan fungsi yang sama termasuk diantaranya adalah bendaharawan sekolah.(Direktorat Jendral Pajak:2013:1) Tugas bendaharawan sekolah diantaranya adalah melaksanakan administrasi perpajakan dalam kaitannya dengan tugas pokoknya menatausahakan dana APBN dan APBD. Sebagai pihak yang diberikan amanat oleh Undang Undang Perpajakan untuk memotong atau memungut dan menyetor PPh dan/atau PPN yang terutang, bendaharawan sekolah harus memahami dengan benar ketentuan perpajakan yang berlaku. Secara umum, kewajiban perpajakan bagi bendahrawan yaitu mendaftarkan diri menjadi wajib pajak, melakukan pemotongan dan/atau pemungutan PPh, PPN, Bea Materai, kewajiban penyetoran dan pelaporan perpajakan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Setianingsih dan Tanggulungan (2012) menyatakan tingkat pemahaman bendaharawan pemerintah terhadap aturan Withholding System lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahaman bendaharawan non pemerintah. Dari pernyatan penelitian tersebut dapat diartikan semua bendahara pemerintah yang didalamnya termasuk bendahara sekolah seharusnya memiliki pemahaman yang tinggi tentang kewajibannya dalam pengelolaan perpajakan sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Namun masih banyak ditemukan kesalahan dalam pengelolaan perpajakan oleh bendaharawan pemerintah. Penelitian yang dilakukan Dalubi (2014) menyatakan catatan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang dilakukan terhadap sebelas kementerian/lembaga, sembilan pemerintah provinsi dan sepuluh pemerintah kota/kabupaten mengindikasikan adanya sejumlah ketidak patuhan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan. Menurut penelitian tersebut kekeliruan perpajakan yang terjadi. meliputi. kesalahan penerapan jenis pajak, pengenaan tarif pajak, dasar pengenaan pajak, dan ada objek pajak yang sama sekali tidak dipungut atau hanya dipungut sebagian, pajak yang dipungut dan dilaporkan, namun tidak disetor ke bank persepsi dan sebagian besar entitas yang diperiksa tidak atau terlambat menyampaikan SPT.. 4.

(17) Bendaharawan sekolah yang dijabat oleh seorang guru seharusnya juga dapat miliki pemahaman yang tinggi terkait pengelolaan perpajakan, namun kenyataannya masih banyak ditemukan kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan perpajakan. Hasil wawancara awal peneliti dengan beberapa Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri di Salatiga dan sekitarnya, menyatakan permasalahan yang paling sering dikeluhkan oleh bendaharawan sekolah adalah masalah kewajiban perpajakan. Bahkan masalah perpajakan selalu menjadi salah satu temuan pemeriksaan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id12/11/2012) juga menyatakan bahwa pelaksanaan penatausahaan administrasi perpajakan, di kalangan bendahara sekolah dan bendahara BOS masih ada kesulitan. Masalah yang dimaksud adalah terkait teknis dan tata cara pemotongan, penghitungan, penyetoran dan pelaporan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21, PPh pasal 22, PPh pasal 23 dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Dari sumber – sumber tersebut diatas, dapat dikatakan guru sebagai bendaharawan sekolah umumnya kurang berkompeten dalam mengelola perpajakan sekolah. Untuk itu dibutuhkan orang yang berkompeten yang memiliki pengetahuan dalam bidang perpajakan sehingga diharapkan kesalahan dalam pengelolaan pajak sekolah dapat diminimalisir. Kerap ditemukannya beberapa kesalahan pemungutan pajak pada saat pemeriksan yang dilakukan oleh BPKP Provinsi Jawa Tengah, membuat kepala sekolah SMP N 6 Salatiga ingin memperbaiki pengelolaan keuangan dan perpajakan menjadi lebih baik. Untuk itu, Kepala Sekolah SMP N 6 Salatiga sejak tahun 2013 memilih merekruit seseorang yang memiliki gelar D3 Akuntansi yang selanjutnya disebut sebagai akuntan di SMP Negeri 6 Salatiga untuk menggantikan guru yang menjabat sebagai Bendaharawan Sekolah. Penulis memilih meneliti SMP N 6 Salatiga dikarenakan SMP N 6 Salatiga salah satu dari tiga SMP Negeri di Salatiga yang telah menggunakan tenaga akuntan. Namun pihak manajemen SMP N 6 Salatiga belum pernah secara formal melakukan evaluasi kinerja akuntan terkait aktivitas perpajakan yang ditangani sejak tahun 2013. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan apakah ada perbedaan penerapan aturan perpajakan di SMP N 6 Salatiga sebelum dan sesudah adanya akuntan. Penelitian ini diharapkan memberi masukan bagi pihak manajemen SMP N 6 Salatiga maupun instansi pendidikan lain terkait penggunaan jasa akuntan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan sekolah. Sebagai referensi bagi penelitian terkait 5.

(18) Kajian Literatur Definisi Akuntan dan Profesi Akuntan Menurut SIswanto (2007) definisi akuntan adalah Orang yang mempunyai keahlian dalam bidang akuntansi meliputi akuntansi manajemen, akuntansi biaya, akuntansi keuangan, audit, sistem informasi akuntansi dan perpajakan. Menrut Siswanto (2007) bidang profesi akuntan dapat digolongkan menjadi empat bagian yaitu 1. Akuntan Publik adalah akuntan independen yang memberikan jasanya atas dasar pembayaran tertentu. 2. Akuntan Manajemen adalah orang yang bekerja ada suatu perusahaan/organisasi. Bidang akuntansi yang bertujuan memberikan informasi kepada jajaran manajemen perusahaan/organisasi. Akuntansi manajemen bermanfaat untuk mengendalikan kegiatan perusahaan, memonitori arus kas. 3. Akuntan Pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada badan badan pemerintah. 4. Akuntan Pendidik adalah akuntan yang bertugas mengajar, menyusun kurikulum, Melakukan penelitian di bidang akuntansi. Dari Definisi akuntan dan bidang profesi akuntan diatas, Bendaharawan Sekolah SMPN 6 Salatiga yang dijabat oleh orang yang berlatar belakang D3 akuntasi dapat dikatakan sebagai akuntan. Disebut akuntan karena memiliki keahlian akuntansi dalam bidang akuntansi dan mengerjakan pekerjaan seorang akuntan pemerintah yaitu mengelola pendanaan yang berasal dari APBN/ APBD. Peran Bendaharawan Sekolah Bendaharawan pemerintah adalah bendaharawan atau pejabat yang melakukan pembayaran yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang terdiri dari Bendaharawan Pemerintah Pusat dan Daerah baik Provinsi, Kabupaten, atau Kota (PMK Nomor 563/KMK03/2003). Termasuk dalam pengertian bendahara pemerintah antara lain bendahara pengeluaran, pemegang kas, dan pejabat lain yang menjalankan fungsi yang sama termasuk diantaranya adalah bendaharawan sekolah.. 6.

(19) Menurut Wiwid (2013) Tugas bendaharawan sekolah yaitu melaksanakan seluruh administrasi keuangan sekolah, meliputi keuangan rutin, Dana BOS, Dana Komite Sekolah dan Dana dari sumber lainnya, bendaharawan sekolah bertanggung jawab langsung kepada kepala tata usaha dengan rincian tugas sebagai berikut: 1. Membuat Laporan Penggunaan Keuangan BOPS, BOS, Komite Sekolah dan sumber lainnya. 2. Melaksanakan pengambilan dan pengembalian serta pembayaran Keuangan Negara sesuai petunjuk, menyimpan arsip/dokumen dan SPJ Keuangan, pembuat Laporan Posisi Anggaran. 3. Membuat Lembar Hasil Waskat menjadi/ melaksanakan tugas kebendaharan dari setiap kepanitiaan yang dibentuk sekolah, dan membentuk keuangan berdasarkan sumber keuangannya pada buku kas umum, pembantu dan tabelaris. Sehubungan dengan kewajiban sekolah dibidang perpajakan, bendaharawan sekolah bertanggung jawab untuk memungut pajak dalam kaitannya dengan penggunaan dana yang berasal dari APBN maupun APBD (Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE02/PJ/2006). Bendahara pemerintah yang mengelola dana yang bersumber dari APBN dan APBD wajib mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang merupakan identitas bendahara sebagai Wajib Pajak dalam melaksanakan pemotongan, pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPh dan/atau PPN. NPWP ini melekat pada jabatan bendaharawan sekolah dan jika petugasnya berganti tidak perlu melapor kepada KPP setempat. Tempat Pendaftaran Bendahara pemerintah adalah di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di wilayah kerja yang sesuai dengan tempat kedudukan unit kerja. Tata cara pendaftaran, pertama adalah mengisi formulir pendaftaran Wajib Pajak untuk Wajib Pajak bendahara yang tersedia di KPP dengan melampirkan fotokopi surat penunjukan sebagai bendahara dan Kartu Tanda Penduduk bendahara tersebut. Kedua, KPP menerbitkan NPWP yang terdiri dari 15 digit dan Surat Keterangan Terdaftar paling lama 1 (satu) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap. Ketiga, NPWP akan diterbitkan oleh KPP dengan nama bendahara unit/satuan kerja.. 7.

(20) Kewajiban Perpajakan di Sekolah Menurut. Undang-Undang. Perpajakan. yang. mengatur. tentang. kewajiban. bendaharawan pemerintah dan buku panduan BOS menyebut jelas bahwa bendaharawan sekolah wajib untuk memotong dan atau memungut, menyetor, dan melapor. Perincian kewajiban perpajakan di Sekolah sebagai berikut : Kewajiban Memotong atau Memungut Pajak Kewajiban memotong dan memungut oleh bendaharawan sekolah. mencakup. pemotongan/pemungutan PPh 21, PPh 22, PPh 23, PPh Pasal 4 ayat 2, dan PPN. Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah cara pelunasan pajak dalam tahun berjalan melalui pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan. Bendahara pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lainnya sehubungan dengan pekerjaan/jasa/ kegiatan wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21. Pembayaran Penghasilan yang wajib dipotong PPh Pasal 21 oleh bendahara pemerintah antara lain adalah pembayaran atas gaji, tunjangan, honorarium, upah, dan pembayaran lainnya, baik kepada pegawai maupun bukan pegawai. (Direktorat Jendral Pajak :2013) Menurut Halim (2013) Kewajiban perpajakan yang terkait dengan pemberian honor pada kegiatan penerimaan siswa baru, kesiswaan, pengembangan profesi guru, penyusunan laporan BOS, dan kegiatan pembelajaran. Semua bendaharawan pada sekolah negeri maupun sekolah bukan negeri: a. Atas honor kepada guru non PNS sebagai peserta kegiatan, harus dipotong PPh 21 dengan menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh sebesar 5 persen dari jumlah bruto honor. b. Atas pembayaran honor kepada guru PNS Golongan IIIA ke atas harus dipotong PPh 21 yang bersifat final sebesar 15 persen dari jumlah honor. c. Atas pembayaran honor kepada guru PNS Golongan IID ke bawah tidak dilakukan pemotongan PPH 21. Namun atas honor tersebut wajib dilaporkan dan dihitung PPhnya dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi dari guru tersebut. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS, untuk membayar honor kepada tenaga kerja lepas orang pribadi yang melaksanakan kegiatan perawatan atau pemeliharaan sekolah harus memotong PPh Pasal 21 dengan ketentuan sebagai berikut: a. Tidak melakukan pemotongan PPh 21, dalam hal penghasilan sehari atau rata-rata penghasilan sehari belum melebihi Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah). 8.

(21) b. Dilakukan pemotongan PPh pasal 21, dalam hal penghasilan sehari atau rata-rata penghasilan sehari melebihi Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) dan jumlah sebesar Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) tersebut merupakan jumlah yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Pemungutan PPh pasal 22 dilakukan sehubungan dengan pembayaran atas pembelian barang seperti komputer, meubeler, kendaraan dinas, pengadaan buku teks pelajaran, ATK dan barang lainnya oleh bendahara kepada wajib pajak penyedia barang. Memungut PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen dari nilai pembelian tidak termasuk PPN untuk nilai pembelian lebih dari Rp 1.000.000,00 dan bukan merupakan pembayaran yang dpecah-pecah.. Pemotongan PPh Pasal 23 adalah cara pelunasan pajak dalam tahun berjalan melalui pemotongan pajak atas penghasilan yang dibayarkan oleh bendahara kepada pihak lain. Saat terutang PPh pasal 23 adalah saat pembayaran atas jasa tertentu yang digunakan. Pemotongan PPh 23 atas belanja jasa dikenakan tarif 2 persen dari obyek PPh Pasal 23, apabila rekanan tidak mempunyai NPWP tarif pajak menjadi 4 persen dari obyek PPh Pasal 23. Adapun Penghasilan-penghasilan yang dipotong dapat dilihat pada Pasal 23 Undang-Undang PPh dan Peraturan menteri Keuangan Nomor 244/PMK/03/2008. Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai atau PPN merupakan pelunasan pajak yang dikenakan atas setiap transaksi pembelian barang atau perolehan jasa dari pihak ketiga, misal pembelian alat tulis kantor, pembelian seragam untuk keperluan dinas, pembelian komputer, pembelian mesin absensi pegawai, perolehan jasa konstruksi, perolehan jasa pemasangan mesin absensi, perolehan jasa perawatan AC kantor, dan perolehan jasa atas tenaga keamanan. Pungutan PPN sebesar 10 persen untuk nilai pembelian lebih dari Rp 1.000.000,00 dan bukan merupakan pembayaran yang dipecah-pecah. PPN yang terutang dipungut dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum. Bendaharawan Sekolah tidak perlu memungut PPN atas pembelian barang dan jasa yang dilakukan oleh bukan Pengusaha Kena Pajak. Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atau PPh adalah cara pelunasan pajak dalam tahun berjalan antara lain melalui pemotongan atau pemungutan pajak yang bersifat final atas penghasilan tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Obyek pajak PPh Pasal 4 ayat (2) ini antara lain persewaan tanah dan/atau bangunan, pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan jasa konstruksi, hadiah undian dan honorarium atas beban APBN/APBD . Tarif sesuai dengan Tarif dasar pengenanaan PPh Final.. 9.

(22) Kewajiban Menyetor dan Melapor Pajak Untuk kewajiban penyetoran dan pelaporan Pajak Penghasilan serta Pajak Pertambahan Nilai, Menteri Keuangan telah menetapkan batas waktu penyetoran dan pelaporan PPh dan/atau PPN. Penyetoran dilakukan oleh bendahara atau perwakilan dari bendahara ke bank persepsi atau kantor pos penerima pembayaran pajak. Batas waktu pelaporan SPT Masa PPh dan/atau PPN ke KPP tempat Wajib Pajak bendahara terdaftar yaitu sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaaan Pembayaran Pajak. Batas waktu pembayaran/penyetoran pajak yang sudah dipotong dan/atau dipungut oleh bendahara pemerintah serta tanggal pelaporan Surat Pemberitahuan Masa adalah sebagai berikut: Keterangan. Tanggal Penyetoran. Tanggal Pelaporan. PPh 21, PPh Paling lama tanggal 10 bulan Paling lama 20 hari setelah Masa 23, PPh Pasal berikutnya setelah Masa Pajak Pajak berakhir 4 ayat (2). berakhir. PPh 22. Disetor pada hari yang sama Paling lama 14 hari setelah Masa dengan pelaksanaan pembayaran. PPN. Pajak berakhir. a. Untuk bendahara pengeluaran a. Paling sebagai. Pemungut. PPN,. paling lama tanggal 7(tujuh). lama. akhir. bulan. beruikutnya setelah Masa Pajak berakhir.. bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. b. Untuk Pejabat Penandatangan b. Paling. lama. akhir. bulan. Surat Pemerintah Membayar. berikutnya setelah Masa Pajak. sebagai Pemungut PPN, harus. berakhir.. disetor pada hari yang sama dengan. pelaksanaan. pembayaran Pengusaha. kepada Kenapa. RekananPemerintah. Pajak Melalui. KPPN. 10.

(23) Beberapa. hal. yang. pemotongan/pemungutan,. harus. penyetoran. diperhatikan dan. pelaporan. terkait. dengan. pajak-pajak. kewajiban yang. telah. dipotong/dipungut antara lain : 1. Apabila tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. 2. Pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan di Kantor Pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran Pajak 3. Dalam hal pencairan anggaran dengan mekanisme LS maka pemindahbukuan pajak yang dilakukan oleh KPPN merupakan pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang, namun Surat Setoran Pajak tetap dipersiapkan oleh bendahara yang bersangkutan. 4. Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain dianggap sah apabila telah divalidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Pajak (NTPN) dan melampirkan bukti pemotongan. 5. Bendahara sebagai Pemotong atau Pemungut PPh memberikan tanda bukti pemotongan atau tanda bukti pemungutan kepada orang pribadi atau badan yang dipotong atau dipungut PPh setiap melakukan pemotongan atau pemungutan 6. Bendahara sebagai Pemotong PPh Pasal 21 atas penghasilan PNS di satuan kerjanya, memberikan tanda bukti pemotongan paling lama 1 (satu) bulan setelah tahun kalender berakhir 7. Bendahara sebagai Pemungut PPN melakukan validasi Faktur Pajak yang diterbitkan oleh rekanan. 8. Bendahara sebagai Pemungut PPN melakukan validasi Faktur Pajak yang diterbitkan oleh rekanan. 9. Pelaporan SPT Masa PPh 21 wajib menggunakan e-SPT apabila jumlah bukti pemotongan dan/atau SSP dan/atau bukti Pbk lebih dari 20 dokumen dalam satu masa pajak. Sanksi Sanksi administrasi bagi bendaharawan yang tidak melaksanakan kewajiban penyetoran dan pelaporan pajak adalah akan diterbitkan Surat Tagihan Pajak (STP).. 11.

(24) Ketentuan sanksi tidak menyetor PPN dan PPh adalah 2 persen dari PPh / PPN yang seharusnya disetor dikalikan bulan keterlambatan. Sanksi tidak lapor SPT Masa PPh Pasal 21, PPh Pasal 23, dan PPh Pasal 4 (2) adalah sebesar Rp.100.000,00 dan sanksi tidak lapor SPT masa PPN adalah sebesar Rp.500.000,00.. Metodologi Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif yaitu membandingkan penerapan aturan perpajakan di SMP pada. periode sebelum dan. sesudah adanya akuntan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi dokumen, observasi dan wawancara. Studi dokumen dan observasi dilakukan untuk data yang terkait aspek perpajakan sedangkan wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi dari bendaharawan sekolah dan kepala sekolah. Populasi dari penelitian ini yaitu seluruh transaksi periode 2012 (sebelum adanya akuntan) dan periode 2013 ( sesudah adanya akuntan). Sampel yang digunakan yaitu masa pajak periode April-Mei 2012 dan periode April-Mei 2013 serta waktu. penyampaian SPT. Peneliti memilih periode. tersebut karena berdasarkan hasil. wawancara dengan Kepala Sekolah SMP N 6 Salatiga, periode tersebut merupakan periode yang paling banyak terjadi transaksi disebabkan adanya Ujian Nasional dan Ujian Kenaikan Kelas. Langkah analisis dalam penelitian ini sebagai berikut : 1. Identifikasi transaksi yang memiliki aspek perpajakan. 2. Identifikasi praktek, perhitungan, penyetoran, dan pelaporan perpajakan sebelum dan sesudah adanya akuntan. 3. Identifikasi kesesuaian praktek perpajakan di SMP N 6 Salatiga dengan ketentuan perpajakan. 4. Perbandingan kuantitas dan kualitas ketidaktaatan penerapan aturan perpajakan pada periode sebelum dan sesudah adanya akuntan.Pengukuran kuantitas kesalahan didasarkan pada frekuensi terjadinya kesalahan yang dilakukan oleh bendaharawan. Pengukuran kualitas kesalahan dihitung didasarkan pada nilai sanksi secara moneter yang akan diterima apabila kesalahan perhitungan, kesalahan setor, dan kesalahan lapor yang dilakukan bendaharawan dikenakan sanksi menurut aturan berlaku.. Pengukuran Konsep Untuk mengukur perbedaan ketaatan penerapan aturan perpajakan di SMP N 6 Salatiga,digunakan konsep dan indikator konsep sebagai berikut : 12.

(25) . . Konsep Pemotongan PPh. .  Pemungutan PPh 22 dan PPN. Definisi Konsep Praktek pemotongan PPh oleh bendahara SMP N 6 Salatiga. Indikator yang Diamati  Saat pemotongan atas obyek PPh 21, PPh 23, dan PPh 4(2).  Pengenaan tarif PPh 21, PPh 23, dan PPh 4(2).  Perhitungan jumlah PPh 21, PPh 23 dan PPh 4(2). Praktek pemungut PPh 22 dan PPN oleh bendahara SMP N 6 Salatiga. . Saat pemungutan atas obyek PPh 22 dan PPN. . Pengenaan tarif PPh 22 dan PPN Perhitungan jumlah PPh 22 dan PPN. . . . .  Penyetoran PPh dan PPN.  Pelaporan dan PPN. Transaksi. PPh. . Praktek penyetoran PPh dan PPN oleh bendahara SMP N 6 Salatiga. . Praktek pelaporan PPh dan PPN oleh bendahara SMP N 6 Salatiga. . Kejadian ekonomi yang merubah posisi keuangan yang didalamnya ada aspek perpajakan.   .  . Dokumen yang digunakan dalam pelaporan pajak Waktu penyetoran Jumlah yang dilapor. . Pembelian ATK atau bahan pengadaan lain pada kegiatan penerimaan siswa baru,kesiswaan dan ulangan harian maupun ulangan umum. . Pembelian bahan-bahan untuk perwatan atau perbaikan ringan gedung sekolah Pembelian jasa Pembelian buku teks pelajaran dan buku referensi untuk dikoleksi di perpustakaan.  . 13. Dokumen yang digunakan dalam penyetoran pajak Waktu penyetoran Tempat penyetoran Jumlah yang disetor.

(26) Asumsi yang digunakan dalam analisis data 1. Lamanya waktu keterlambatan penyetoran dan kurang bayar pajak dihitung sejak batas waktu melakukan kewajiban menurut ketentuan perpajakan hingga bulan penelitian ini dimulai yaitu bulan Oktober 2014 dan batas maksimal penghitungan bulan keterlambatan adalah sesuai ketentuan perpajakan yaitu 24 bulan. 2.. Apabila bendaharawan sekolah melakukan lebih potong pajak, maka rekanan diasumsikan sudah tidak memiliki hutang pajak yang lain dan meminta restitusi pajak. Pemerintah diasumsikan mengabulkan permohonan restitusi namun terjadi keterlambatan dan diberikan imbalan 2 persen hingga 24 bulan.. 3. Informasi kepemilikan NPWP yang diperoleh dari Bendaharawan untuk rekanan sekolah yang tidak dapat dikonfirmasi oleh peneliti diasumsikan benar.. Hasil dan Pembahasan Penelitian Gambaran Umum Administrasi di SMP N 6 Salatiga SMP N 6 Salatiga berdiri pada bulan Agustus 1982, beralamat di jalan Tegalrejo Raya, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Salatiga, Jawa Tengah. Pengolahan dana dari pemerintah baik itu APBN dan APBD dikelola oleh bendaharawan sekolah. Dana dari pemerintah dibagi menjadi beberapa bagian yang utama yaitu dana BOS dan. dana. pengeluaran rutin. Di SMP N 6 Salatiga bendahara sekolah dibagi menjadi dua yaitu bendaharawan BOS dan bendaharawan pengeluaran rutin. Bendahara BOS mengelola seluruh administrasi dana BOS dan bendahara pengeluaran rutin mengelola pengeluaran rutin sekolah tersebut. Pengelolaan Dana BOS pada awalnya dilakukan oleh seorang guru yang merangkap menjadi bendaharawan BOS dimulai dari tahun 2006 hingga awal tahun 2013. Pada awal tahun 2013 dilakukan pergantian bendaharawan yang awalnya seorang guru digantikan oleh staf tetap yang berlatar belakang pendidikan D3 Akuntansi yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih baik dan meminimalisir kesalahan dalam pengelolaan dana BOS. Dari aspek perpajakan, walaupun bendahara BOS mengelola seluruh dana BOS namun bendahara ini hanya melakukan perhitungan pajak dari pengeluaran dana BOS saja sedangkan untuk penyetoran dan pelaporan pajak dilakukan oleh bagian kepegawaian / 14.

(27) bendahara pengeluaran rutin. Berdasarkan hasil wawancara terhadap akuntan SMP tersebut, dapat diungkapkan bahwa pembagian tugas dalam pengelolaan dana BOS sudah menjadi tradisi sejak lama dimana bendaharawan hanya melakukan perhitungan pajak sedangkan penyetoran dan pelaporan di kerjakan oleh bagian kepegawaian. Namun bendaharawan BOS yang baru berinisiatif mengerjakan perhitungan dan penyetoran sendiri. Pelaporan tetap menjadi tugas bagian kepegawaian karena pelaporan BOS nantinya akan di serahkan ke Kantor Pelayanan Pajak ( KPP ) bersamaan dengan SPT masa atas gaji guru. Saat Pemotongan dan Pemungutan Objek Oleh Bendaharawan Pemotongan objek pajak PPh 21 dan PPh 23 di SMP dilakukan langsung oleh bendaharawan sekolah baik sebelum maupun sesudah adanya akuntan.Hasil wawancara kepada kepala sekolah juga mengungkapkan bahwa bendaharawan yang memotong langsung transaksi yang mengandung objek pajak.Saat dilakukan inspeksi dokumen atas transaksi, telah tercantum tanda tangan bendaharawan pada hari pembayaran karena saat terutangnya PPh 21 dan PPh 23 adalah saat pembayaran. Hal ini memberikan keyakinan bahwa pemotongan objek pajak benar benar dilakukan langsung oleh bendahrawan. Berdasarkan hasil wawancara kepada bendahara BOS tentang pemotongan PPh 21, dan PPh 23 baik sebelum dan sesudah adanya akuntan, mereka meyakini bahwa mereka sudah melakukan pemotongan pajak sesuai dengan ketentuan perpajakan. Namun setelah dilakukan studi dokumen ditemukan beberapa kesalahan pemotongan objek pajak seperti pada tabel 1 berikut ini Tabel 1 Kesalahan Penentuan Objek Tahun 2012 dan 2013 ( April - Mei) Jumlah transaksi keterangan. PPh 21 PPh 22 PPh 23 PPN. 2012 Sebelum adanya akuntan 16 2 20 2. 2013 Sesudah adanya akuntan 18 4 20 4. kesalahan Presentase penentuan objek 2012 2013 2012 2013 Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah adanya adanya adanya adanya akuntan akuntan akuntan akuntan 1 5,60% 1 6,25% 4 100% 2 100% 3 15% 10 50% 2 50% 2 100%. 15.

(28) Pada Tabel 1 kesalahan dalam pemotongan terkait penentuan objek pajak untuk PPh 21 mengalami trend penurunan, dari 6,25 persen pada tahun 2012 (periode sebelum adanya akuntan) menjadi 5,6 persen pada tahun 2013 (periode saat adanya akuntan). Begitu juga untuk kesalahan penentuan objek pajak PPh 23 mengalami penurunan kesalahan yakni pada tahun 2013 turun menjadi 15 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa akuntan lebih baik dalam memahami objek pajak pemotongan PPh 21 dan PPh 23 daripada bendaharwan sebelumnya yang dijabat oleh seorang guru. Kesalahan objek pajak terjadi karena transaksi yang seharusnya dipotong ternyata tidak dianggap sebagai objek pajak. Untuk bendahara pengeluaran rutin hanya berkaitan dengan PPh 21 atas gaji guru. Namun Pemotongan pajak atas gaji dilakukan oleh pemerintah pusat sehingga tidak dapat dianalisis. Tugas bendahara pengeluaran rutin adalah mengumpulkan data perihal perpajakan masing masing guru untuk dikirim ke pusat dan membuatkan SPT masa untuk guru. Contoh kesalahan dalam penentuan objek dapat dilihat pada tanggal 02/04/2012 yang seharusnya transaksi tersebut termasuk objek pajak namun oleh bendaharawan tidak diangggap sebagai objek pajak. ( lampiran 2). Untuk kesalahan penentuan objek PPh 21 dan PPh 23 disebabkan karena kelalaian/ atau ketidak telitian. Pemungutan terkait penentuan objek atas PPh 22 dan PPN dilakukan bendaharawan secara langsung. Namun berdasarkan Tabel 1 untuk kesalahan pemungutan PPh 22 dari kedua periode tersebut kesalahannya mencapai 100 persen. Hal ini menunjukan bahwa bendaharawan baik sebelum dan sesudah adanya akuntan sama sekali tidak memungut PPh 22 pada periode tersebut.Sedangkan untuk kesalahan pemungutan PPN mengalami penurunan kesalahan dari 100 persen turun menjadi 50 persen. Kesalahan dalam penentuan objek PPh 22 dan PPN termasuk kesalahan yang tidak disengaja karena berdasarkan hasil wawancara kepada bendaharawan sebelum akuntan yang dijabat oleh seorang guru dapat disimpulkan bahwa pemahaman yang dimiliki tentang PPh 22 dan PPN. kurang sehingga sering. mengabaikan objek pemungutan. Sedangkan akuntan, Kesalahan disebabkan karena eror/ ketidak telitian karena menurut hasil wawancara dapat disimpulkan sudah mengerti tentang objek pemungutan PPh 22 dan PPN namun setelah dilakukan pemerikasaan studi dokumen akuntan tetap membuat kesalahan.Saat Peneliti menjelaskan kesalahan. kepada yang. bersangkutan kemudian bendaharawan baru menyadari kesalahannya.Contoh kesalahan penentuan objek PPh 22 untuk periode sebelum dan sesudah adanya akuntan dapat dilihat pada tanggal 02/04/2012 dan 05/04/2013 ( lampiran 2 dan lampiran 4).. 16.

(29) PenentuanTarif Pemotongan/Pemungutan Pajak Berdasarkan wawancara kepada bendaharawan, baik sebelum dan sesudah adanya akuntan pengenentuan tarif untuk pemotongan pemungutan pajak sudah dilakukan sesuai peraturan perpajakan. Namun saat dilakukan studi dokumen didapat kesalahan sebagai berikut Tabel 2 Kesalahan Penentuan Tarif Pemotongan/Pemungutan Tahun 2012 dan 2013 ( April-Mei) Jumlah transaksi keterangan. PPh 21 44PPh 22 PPh 23 PPN. 2012 Sebelum adanya akuntan 16 2 20 2. 2013 Sesudah adanya akuntan 18 4 20 4. kesalahan presentase penentuan tarif 2012 2013 2012 2013 Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah adanya adanya adanya adanya akuntan akuntan akuntan akuntan 1 5,60% 1 6,25% 4 100% 2 100% 5 25% 13 65% 2 50% 2 100%. Dapat dilihat melalui Tabel 2 Kesalahan penentuan tarif PPh 21 mengalami penurunan dari 6,25 persen pada tahun 2012 ( sebelum adanya akuntan) menjadi 5,6 persen pada tahun 2013 ( setelah adanya akuntan). Sedangkan kesalahan penentuan tarif untuk PPh 22 masih sama antara kedua tahun yaitu 100 persen. Untuk kesalahan penentuan tarif PPN mengalami penurunan dari 100 persen menjadi 50 persen. Kesalahan penentuan tarif PPh 21, PPh 22 dan PPN terjadi dikarenakan tidak menganggap transaksi tersebut sebagai objek pajak sehingga tidak dikenakan tarif. Oleh sebab itu besarnya persentase kesalahan penentuan tarif sama dengan besarnya kesalahan persentase penentuan objek atas PPh 21, PPh 22 dan PPN. Contoh kesalahan penentuan tarif dapat dilihat pada tanggal 02/04/2012 ( lampiran 2 ). Hasil wawancara kepada bendaharawan baik sebelum dan sesudah adanya akuntan mengungkapkan pemahaman mereka bahwa pengenaan tarif PPh 23 yang. nominal. transaksinya kurang dari satu juta rupiah langsung di kenakan tarif 4 persen tanpa bertanya apakah rekanan memiliki NPWP atau tidak dan untuk transaksi lebih dari satu juta rupiah baru akan ditanya apakah sudah memiliki NPWP atau tidak. Pemahaman bendaharawan seperti ini sudah turun temurun dari bendahara yang dulu hingga akuntan. Menurut aturan perpajakan terkait PPh 23 pengenaan tarif 4 persen berdasarkan kepemilikan NPWP bukan berdasarkan batasan jumlah moneter yang seperti bendaharawan pahami. Menurut aturan 17.

(30) perpajakan bila rekanan memiliki NPWP maka dikenakan tarif 2 persen apabila tidak memiliki NPWP dikenankan tarif 4 persen. Jadi pemahaman yang diterapkan bendaharawan baik sebelum dan sesudah adanya akuntan adalah salah. Walaupun selama ini dengan menerapkan tarif 4 persen untuk nominal kurang dari satu juta rupiah bendaharawan belum pernah menerima protes dari rekanan. Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa ada penurunan kesalahan untuk PPh 23 dari 65 persen pada tahun 2012( sebelum adanya akuntan) menjadi 25 persen pada tahun 2013( setelah adanya akuntan). Untuk tahun 2012 yang dikelola oleh guru kesalahan sebesar 13 transaksi, 77 persennya (10 dari 13 kesalahan) disebabkan karena kesalahan penentuan objek PPh 23 yang seharusnya dipotong ternyata tidak dianggap objek PPh 23 sehingga transaksi tersebut tidak dikenakan tarif PPh 23 dan sisanya sebesar 23 persen (3 dari 13 kesalahan) merupakan kesalahan dalam menetapkan tarif. Untuk tahun 2013 ditemukan 5 kesalahan, 60 persennya (3 dari 5 kesalahan) disebabkan karena tidak dianggap objek pajak, 40 persen sisanya diakibatkan karena kesalahan penentuan tarif.Namun demikian walaupun masih terjadi kesalahan dalam penentuan tarif PPh/ PPN kesalahan akuntan lebih sedikit daripada kesalahan yang dilakukan guru yang menangani pajak sebelum ada akuntan. Contoh kesalahan dalam PPh 23 dapat dilihat pada tanggal 21/05/2012 ( lampiran 3) yang disebabkan karena kesalahan pengenaan tarif yang seharusnya bertarif 2 persen atas transaksi tersebut namun oleh bendaharawan diberikan tarif 4 persen. Mengenai rekanan dari SMP N 6 Salatiga mayoritas adalah Usaha Kecil Menengah. Mengenai UKM ini tidak luput dari pengenaan Peraturan Pemerintah No 46 tahun 2013 yaitu pemungutan pajak bagi pengusaha tertentu yaitu usaha non-BUT yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto tidak melebihi 4,8 milyar dalam satu tahun fiskal. Bila Pengusaha tertentu (UMKM) sudah dikenakan PP No 46, akan mendapat Surat Keterangan Bebas (SKB) sehinga bila melakukan transaksi dengan bendahrawan pemerintah, tidak akan dipungut pajak (Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-32/PJ/2013). Namun dalam faktanya ketika bendaharawan melakukan transaksi dengan UMKM tidak pernah pengusaha tersebut mengajukan SKB kepada bendaharawan sehingga bendaharawan tetap memungut atau memotong PPh dari UMKM. Dari Kesalahan penentuan tarif diatas dapat disimpulkan bahwa kesalahannya bersifat tidak disengaja atau lalai. Sebagian besar kesalahan diakibatkan dampak dari kesalahan penentuan objek jika suatu objek dianggap tidak sebagai objek pajak maka tidak dikenakan 18.

(31) tarif pajak. Disamping itu kesalahan juga disebabkan karena kesalaham pemahaman bendaharawan atas konsep PPh 23 Perhitungan Jumlah Pemotongan/Pemungutan Pajak Perhitungan jumlah PPh dan PPN menurut hasil studi dokumen sebagian besar kesalahan perhitungan disebabkan karena kesalahan dalam penentuan objek pajak dan kesalahan tarif sehingga menyebabkan perhitungan PPh dan PPN ikut terjadi kesalahan. Tabel 3 Kesalahan Jumlah Pemotongan/Pemungutan Tahun 2012 dan 2013 (April-Mei). Jumlah transaksi keterangan. PPh 21 PPh 22 PPh 23 PPN. 2012 Sebelum adanya akuntan 16 2 20 2. 2013 Sesudah adanya akuntan 18 4 20 4. kesalahan jumlah pemotongan/pemun gutan 2012 2013 Sebelum Sesudah adanya adanya akuntan akuntan 1 3 4 2 5 13 2 2. presentase 2012 Sebelum adanya akuntan 19% 100% 65% 100%. 2013 Sesudah adanya akuntan 5,60% 100% 25% 50%. Pada Tabel 3 untuk kesalahan jumlah pemotongan PPh 21 mengalami penurunan dari 6,25 persen pada tahun 2012 ( sebelum adanya akuntan) menjadi sebesar 5,6 persen pada tahun 2013 ( setelah adanya akuntan). Kesalahan jumlah pemotongan PPh 21 tahun 2012, 2 diantara 3 kesalahan adalah kesalahan aritmatika seperti penjumlahan dan perkalian. Sisanya kesalahan dari penentuan objek dan tarif PPh 21. Untuk tahun 2013 yang di jabat akuntan kesalahan terjadi hanya dari kesalahan penetuan objek dan pengenaan tarif. Untuk PPh 22 kesalahan masih tetap sama dikedua tahun yakni 100 persen. PPh 23 mengalami penurunan kesalahan dari 65 persen turun menjadi 25 persen dan PPN kesalahannya turun dari 100 persen menjadi 50 persen. Contoh kesalahan jumlah dapat dilihat pada tanggal 12/05/2012 ( lampiran 3) pada tanggal tersebut kesalahan penjumlahan disebabkan karena kesalahan aritmatika. Dari Kesalahan penjumlahan diatas dapat disimpulkan merupakan kesalahan yang tidak disengaja. Kesalahan sebagian besar disebabkan karena dampak kesalahan objek. Objek yang seharusnya merupakan objek pajak namun faktanya dianggap sebagai bukan pajak 19.

(32) sehingga tidak dikenakan tarif dan tidak ada penjumlahan. Kesalahan yang lain disebabkan karena kesalahan dalam aritmatika seperti perkalian dan penjumlahan. Penyetoran dan Pelaporan PPh/PPN Dari setiap transaksi yang sudah di hitung jumlah pajaknya prosedur selanjutnya adalah melakukan penyetoran. Dokumen penyetoran menggunakan dokumen yang sudah ditentukan oleh Direktorat Jendral Pajak yaitu berupa Surat Setoran Pajak. Menurut Peraturan Perpajakan penyetoran harus dilakukan pada bank persepsi (Peratuan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2007). Selaras dengan peraturan tersebut, hasil wawancara kepada bendaharawan baik sebelum dan sesudah adanya akuntan menyatakan penyetoran di lakukan langsung oleh bendaharawan di bank persepsi. Waktu penyetoran adalah waktu yang ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaaan Pembayaran Pajak. Namun fakta yang terjadi bendaharawan BOS baik sebelum dan sesudah adanya akuntan melakukan pembayaran pada akhir tahun. Hal ini telah bertentangan dengan peraturan perpajakan yang sudah ditetapkan. Berdasarkan hasil wawancara kepada bendahara, mengenai penyetoran pajak dapat diungkapkan bahwa di sekolah tersebut memiliki kebijakan untuk menunda penyetoran karena dana tersebut digunakan sebagai dana talangan bila pendanaan dari suatu kegiatan kurang. Wawancara juga dilakukan kepada kepala sekolah dan hasilnya menyatakan memang ada kebijakan seperti tersebut karena dana BOS kadang tidak mencukupi jika terdapat acara atau kegiatan yang sifatnya tidak terstruktur.. Menurut bendaharawan BOS mengatakan. bahwa selama ini belum pernah. mendapat sanksi / teguran atas keterlambaatan penyetoran dari pihak KPP.. 20.

(33) Tabel 4 Kesalahan Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan/Pemungutan Tahun 2012 dan 2013 (April-Mei) Jumlah transaksi keterangan. PPh 21 PPh 22 PPh 23 PPN. 2012 Sebelum adanya akuntan 16 2 20 2. 2013 Sesudah adanya akuntan 18 4 20 4. kesalahan Penyetoran dan presentase Pelaporan 2012 2013 2012 2013 Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah adanya adanya adanya adanya akuntan akuntan akuntan akuntan 16 18 100% 100% 2 4 100% 100% 20 20 100% 100% 2 4 100% 100%. Berdasarkan Tabel 4 diatas kesalahan untuk masing masing tahun baik sebelum dan sesudah adanya akuntan adalah 100 persen karena penyetoran dilakukan akhir tahun dan tidak mematuhi aturan perpajakan maka kesalahan untuk masing masing tahun adalah 100 persen. Dalam pengisian formulir SPP untuk tahun 2012 tidak ada kesalahan. Pada tahun 2013 ditemukan dua kesalahan dalam pengisian SSP penyetoran PPN. Pada lembar pertama SSP untuk arsip wajib pajak pengisian kolom NPWP, Nama WP dan alamat WP seharusnya di tulis identitas rekanan namun oleh bendahrawan diisikan dengan indentitas bendaharwan SMP N 6 Salatiga. Untuk pelaporan pajak adalah tugas bagian kepegawaian. Tugas perpajakan yang menjadi kewajiban kepegawaian yaitu membuat SPT Massa PPh 21 atas gaji guru dan membuat SPT Masa dari transaksi BOS. Namun faktanya, SPT Masa dari transaksi BOS selama dua tahun ini tidak dibuat oleh bagian kepegawaian, bagian kepegawaian hanya membuat SPT Masa PPh 21 atas gaji guru saja. Berdasarkan hasil wawancara mengenai pelaporan perpajakan kepada pihak kepegawaian dapat diungkapkan alasan mengapa tidak membuat SPT dari transaksi BOS karena padatnya pekerjaan yang dimiliki oleh bagian kepegawaian. Kepegawaian dituntut untuk membuat penyusunan administrasi guru dan karyawan, menyusun rencana kerja yang berhubungan dengan administrasi sekolah, mengerjakan data kepegawaian, mengerjakan kenaikan pangkat guru dan karyawan, membuat SPT massa PPh 21 atas gaji guru dan membuat SPJ rutin. Padatnya pekerjaan tersebut membuat bagian kepegawaian tidak sempat membuat SPT Masa untuk transaksi BOS. Jadi kesalahan pelaporan untuk masing masing tahun adalah seratus persen. Menurut 21.

(34) hasil wawancara terhadap bagian kepegawaian dapat diungkapkan bahwa pihak KPP juga tidak melakukan peneguran atau pengenaan sanski secara nyata bagi kesalahan penyetoran ini. Kesalahan penyetoran dan pelaporan adalah kesalahan yang disengaja. Penyetoran kesalahan disebabkan bahwa. SMP N 6 Salatiga mempunyai kebijakan khusus untuk. menunda pembayaran pajak yang digunakan terlebih dahulu sebagai dana talangan untuk kegiatan yang tidak tersetruktur. Sedangkan pelaporan disebabkan karena pihak kepegawaian merasa kelebihan tugas sehingga tidak mempunyai cukup waktu dalam membuat laporan dana BOS Pengukuran Kualitas Kesalahan Pengukuran kesalahan secara kualitas diukur berdasarkan sanksi kesalahan perhitungan, kesalahan setor, dan kesalahan lapor yang dilakukan bendaharawan sebelum dan sesudah adanya tenaga akuntan. Tabel 5 Pengukuran Kesalahan Secara Kualitas Tahun 2012 dan 2013 ( April- Mei). keterangan. PPh 21 PPh 22 PPh 23 PPN Jumlah. Sanksi penyetoran (Rp). Sanksi pelaporan (Rp). 2012 Sebelum adanya akuntan 294.191 27.033 178.127 180.218 679.569. 2012 Sebelum adanya akuntan 1.600.000 200.000 2.000.000 1.000.000 4.800.000. 2013 Sesudah adanya akuntan 384.954 47.566 59.345 201.655 693.520. 2013 Sesudah adanya akuntan 1.800.000 400.000 2.100.000 2.000.000 6.300.000. presentase thd realisasi anggaran 2012 2013 Sebelum Sesudah adanya adanya akuntan akuntan 0,64% 0,74% 0,08% 0,15% 0,74% 0,73% 0,40% 0,75% 1,9% 2,2%. Dana BOS diberikan dari pemerintah pusat kepada sekolah negeri sebanyak empat kali dalam setahun (dicairkan per triwulan). Berdasarkan data realisasi anggaran dana BOS periode April, Mei, Juni tahun 2012 digunakan dana sebesar Rp. 452.270.000 sedangkan pada periode yang sama pada tahun 2013 digunakan dana sebesar Rp.470.020.000. Bulan April dan Mei tahun 2012 menyerap dana sebesar 65 persen ( Rp. 293.975.500) dan untuk tahun 2013 70 persen ( Rp 329.014.000). Sehingga sanksi moneter yang diakibatkan 22.

(35) kesalahan setor dan lapor adalah meningkat yakni pada periode 2 bulan di tahun 2012 sebesar sebesar 1,9 dari realisasi anggaran. Sedangkan untuk periode yang sama di tahun 2013 sebesar 2,2 persen dari realisasi anggaran. Kesimpulan Berdasarkan analisis hasil penelitan dan pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Setelah adanya akuntan, frekuensi kesalahan pemotongan/pemungutan kecuali PPh 22 mengalami penurunan dari periode sebelum adanya akuntan namun jumlah frekuensi kesalahan penyetoran dan pelaporan masih sama. 2.. Penyebab kesalahan penyetoran dan pelaporan tetap sama bahkan secara kualitas lebih besar tahun 2013 dikarenakan adanya kebijakan sekolah mengenai penundaan penyetoran pajak untuk digunakan terlebih dahulu sebagai dana talangan dalam pendanaan kegiatan yang tidak terstruktur . Untuk pelaporan disebabkan selama tahun 2012 dan 2013 pihak kepegawaian merasa kelebihan tugas sehingga tidak mempunyai cukup waktu untuk membuat SPT Masa atas transaksi dana BOS.. Keterbatasan Penelitian Dalam pengolahan data, beberapa analisis data didasarkan pada asumsi karena ketiadaan data riil.. Implikasi Saran Dana BOS terkadang tidak mencukupi untuk mendanai kegatan yang tidak terstruktur sehingga memaksa managemen SMP N 6 Salatiga membuat kebijakan penundaan peyetoran perpajakan. Oleh karena itu pemerintah perlu mempertimbangkan peraturan khusus terkait penyetoran perpajakan atas transaksi dana BOS. Selain itu pihak manajemen sekolah sebaiknya melakukan analisis beban kerja sehingga kepada petugas yang mampu dan masih memiliki kapasitas kerja yang tidak terpakai dapat ditugaskan melakukan pembuatan SPT atas transaksi dana BOS. Berdasarkan kesimpulan penelitian ini yang menyatakan masih terdapat kesalahan pemotongan/ pemungutan akuntan harus meningkatkan ketelitian saat penentuan objek, penentuan tarif dan penjumlahan. Agar penelitian ini lebih bermakna dapat dilakukan perbandingan dengan. kondisi disekolah lain, apakah akuntan memberikan. perbedaan dalam penerapan aturan perpajakan. 23.

(36) Daftar Pustaka Dalubi. 2014. Meningkatkan Pemahaman Bendahara Terhadap Kewajiban Perpajakan Melalui Pendidikan dan Pelatihan. Kemenag Ambon Direktorat Jendral Pajak. 2013.Bendahara Mahir Pajak. Jakarta. Tim Penyusun Direktorat Peraturan Perpajakan II. Halim, G. 2013.Buku Panduan Bantuan Operasional Sekolah.Kementerian Pendidikan Nasional. Harton, R. 2012. Bimbingan Teknis Perpajakan Untuk Bendaharawan Sekolah dan Kabupaten Sijunjung.http://www.pajak.go.id/content/flash-foto/bimbingan-teknisperpajakan-untuk-bendahara-sekolah-dan-bos-kabupaten-sijunjung diakses 30 Juni 2014. Muharram. 2010.Persepsi Para Guru Tentang Perpajakan dan Pemotongan Pajak Penghasilan Orang Pribadi Atas Dana Bantuan Operasional Sekolah (Studi Kasus SD dan SMPN se Jakarta Barat).Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta. Nelson, S. 2013.Pengelolaan Program Operasional Sekolah SMK.Kompasmania. http://m.kompasiana.com/post/read/633262/1/pengelolaan-program-bantuan-operasionalsekolah-bos-smk.html diakses 20 Juni 2014. Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-32/PJ/2013 tentang Tata Cara Pembebasan Dari Pemotongan Dan Atau Pemungutan Pajak Penghasikan Bagi Wajib Pajak Yang Dikenai Pajak Penghasilan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaaan Pembayaran Pajak Putusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 563/KMK03/2003 tentang Petunjukan Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara untuk Memungut, Menyetor dan Melapor. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Respationo, C. 2012.Menggali Potensi Pajak Dana Bos.Direktorat Jendral Pajak. http://www.pajak.go.id/blog-entry/kp2kpmojosari/menggali-potensi-pajak-dana-bos diakses 21 Juni 2014.. 24.

(37) Setianingsih dan Tanggulungan.2012.Komparasi Tingkat Pemahaman Withholding System Oleh Pemotong/Pemungut Pajak Instansi Pemerintah dengan Swasta.Universitas Kristen Satya Wacana Siswanto.2007. Persamaan Dasar Akuntansi. Yogyakarta. Intan Pariwara Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-02/PJ/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan Sehubungan dengan Penggunaan Dana Bnatuan Operasional Sekolah Oleh Bendaharawan. Witono, B. 2008. Peran Pengetahuan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 7, No. 2. Hlm. 196-208. Wiwid.2013. Tugas Pengelolaan Keuangan dan Tata Usaha.sman1kendari.http://sman1kendari.sch.id/index/php?option=com_content&view=artic el&id=22.tugas-pengelola-keuangan-dan-tata-usaha&acid=27.tuposi-pengelolaan-sekolah diakses 30 Desember 2014 Zain, Muhammad. 2008. Manajemen Perpajakan.Jakarta. Salemba Empat.. 25.

(38) Lampiran Lampiran 1. Struktur Organsiasi Tatau Usaha SMP N 6 Salatiga. 23.

(39) Lampiran 2. Tabel Kesalahan Perpajakan Bulan April 2012. Aturan Perpajakan tgl. 02/04/ 12. transaksi. mesin ketik elektrik pada Amanah Elektronik. Nominal transaksi (Rp). Objek PPh/ PPN tarif. Per hitung an (Rp). Saat Pe nyeto ran. Saat Pe lapor an. 10 %. 195.455. 07/05/ 12. 31/05/ 12 14/05/ 12 20/05/ 12. 2.150.000. PPN. 1,5 %. 29.318. 690.000. PPh 22 PPh 21. 15%. 103.500. 02/05/ 12 10/05/ 12. 139.000. PPh 23. 4%. 5.560. 10/05/ 12. 20/05/ 12. 270.000. PPh 23. 4% 5% &15 % 5% &15 % 5% &15 %. 10.800. 10/05/ 12. 20/05/ 12. 169.000. 10/05/ 12. 20/05/ 12. 169.000. 10/05/ 12. 20/05/ 12. 15.000. 10/05/ 12 10/05/ 12. 20/05/ 12 20/05/ 12. 448.000. 10/05/ 12. 322.550. 10/05/ 12. 02/04/ 12. uang harian pelatihan kurikulum. 04/04/ 12 07/04/ 12. service kendaraan inventaris pada gelya motor konsumsi koordinasi panitia pelaksanaan UAN Nasional 2012. 10/04/ 12. honor panitia LUN. 1.864.500. PPh 21. 13/04/ 12. honor panitia LUN tingkat kota. 1.864.500. PPh 21. 14/04/ 12 16/04/ 12. honor pendataan calon peserta ujian nasional konsumsi kegiatan guru mapel UN. 16/04/ 12. 18/04/ 12. Fakta Lapangan. 375.000. PPh 21 pph 23. honor panitia UN 2011-2012. 4.280.000. PPh 21. 4% 5% &15 %. Honor panitia ujian sekolah. p 3.048.000. PPh 21. 5% &15 %. 380.000. 35.000. 24. tarif tida k ada tida k ada. Jumlah pembayaran. Per hitung an (Rp). Saat Pe nyeto ran. Saat pe lapor an. Pokok (Rp). sanksi setor (Rp). sanksi lapor (Rp). tidak ada. tidak ada. tidak ada. 195.455. 93.818. 500.000. tidak ada. tidak ada tidak ada. 29.318. 14.073. 100.000. 16.560. 100.000. 15% tida k ada tida k ada 5% &15 % 5% &15 % 5% &15 %. 103.500. tidak ada 31/12/ 12. tidak ada. tidak ada. tidak ada. 5.560. 2.669. 100.000. tidak ada. tidak ada. tidak ada. 10.800. 5.184. 100.000. 169.000. 31/12/ 12. tidak ada. 27.040. 100.000. 169.000. 31/12/ 12. tidak ada. 27.040. 100.000 100.000. 15.000. tidak ada tidak ada. 4.800 2.400. 100.000. 20/05/ 12. 4% 5% &15 %. 31/12/ 12 31/12/ 12. 448.000. 31/12/ 12. tidak ada. 71.680. 100.000. 20/05/ 12. 5% &15 %. 322.550. 31/12/ 12. tidak ada. 51.608. 100.000. 25.000.

(40) 18/04/ 12. honor panitia try out 1&2. 19/04/ 12 21/04/ 12. konsumsi tim penilai sekolah sehat Transport Pembina ekstrakulilkuler. 2.458.000. PPh 23 PPh 21. 23/04/ 12. honor panitia try out 3&4. 2.964.000. PPh 21. 23/04/ 12 24/04/ 12. konsumsi pada tokoAneka Rasa konsumsi panitia koordinasi pelaksanaan UN. 24/04/ 12 25/04/ 12 25/04/ 12. konsumsi penutupan LUN 2012/2013 konsumsi ujian sekolah Th 2012/2013 Service printer T11 dan TX111 di Aston Printer Center biaya kontrak service mesin RISO digital hingga januari 2013 konsumsi keg. Iinput data siswa. 26/04/ 12 27/04/ 12. 2.964.000. 575.000. 138.000 275.000. 947.000 1.899.500 380.000. 1.100.000 770.000. PPh 21. pph 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23. 5% &15 %. 204.200. 4%. 23.000. 5% 5% &15 %. 4%. 5.520. 4%. 11.000. 4%. 37.880. 2%. 37.990. 2%. 7.600. 2%. 22.000. 5%. 38.500. 10/05/ 12. 20/05/ 12. 122.900. 10/05/ 12 10/05/ 12. 20/05/ 12 20/05/ 12. 204.200. 10/05/ 12. 20/05. 12. 10/05/ 12 10/05/ 12. 20/05/ 12 20/05/ 12. 10/05/ 12 10/05/ 12 10/05/ 12. 20/05/ 12 20/05/ 12 20/05/ 12. 10/05/ 12 10/05/ 12. 20/05/ 12 20/05/ 12. 25. 5% &15 % tida k ada. 204.200 tidak ada. 31/12/ 12. tidak ada tidak ada tidak ada. 5% 5% &15 % tida k ada. 122.900. tidak ada 31/12/ 12. 204.200. 31/12/ 12. tidak ada. 4% tida k ada. 11.000. tidak ada 31/12/ 12. tidak ada tidak ada. 4%. 75.980. 4%. 15.200. tidak ada 31/12 12 31/12/ 12. tidak ada tidak ada tidak ada. 4%. 44.000. 5%. 38.500. 31/12 12 31/12/ 12. tidak ada tidak ada. tidak ada. tidak ada. 32.672. 100.000. 11.040. 100.000. 19.664. 100.000. 32.672. 100.000. 2.650. 100.000. 1.760. 100.000. 37.880. 18.182. 100.000. 37.990. 18.235. 100.000. 7.600. 3.648. 100.000. 10.560. 100.000. 6.160. 100.000. 23.000. 5.520.

(41) Lampiran 3 Tabel Kesalahan Perpajakan Bulan Mei 2012 Peraturan Perpajakan tgl. 04/05/ 12 05/05/ 12 07/05/ 12 09/05/ 12 09/05/ 12 12/05/ 12. transaksi. maintenance internet microtik mei 2012 pada iConnection Computer. jamuan tamu bulan Mei 2012 perjalanan dinas mengikuti bintek calon tim penilai memesan pembuatan pelindung pencacah rumput pada bengkel las restu transport pembina keg ektraklikuler. 15/05/ 12. honor panitia ujian praktek 2012-2013 Pagar serambi baca perpustakaan pada bengkel las Restu. 15/05/ 12 16/05/ 12. insensif penguj ujian praktek 2011-2012 honor pengajar tambahan pelajaran. 18/05/ 12. transport dinas ke SMG sosialisasi prog. Adiwiyata. 19/05/ 12. tinta dan master RISO. Nominal transaksi (Rp). 300.000. 92.000 750.000. Objek PPh/ PPN. PPh 23 PPh 23 PPh 21. 2.875.000. PPh 23 PPh 21. 1.630.000. PPh21. 1.250.000. PPh 23. 1.750.000. 2.860.000. PPh 21 PPh 21. 100.000. PPh 21. 800.000. tarif. Perhitu ngan (Rp). Saat Penye toran. Saat Pelap oran. 2%. 6.000. 10/06/ 12. 20/06/ 12. 4%. 3.680. 15%. 112.500. 10/06/ 12 10/06/ 12. 20/06/ 12 20/06/ 12. 4%. 70.000. 5% 5% &15 %. 143.750. 10/06/ 12 10/06/ 12. 20/06/ 12 20/06/ 12. 147.000. 10/06/ 12. 20/06/ 12. 4% 5% &15 %. 50.000. 10/06/ 12. 20/06/ 12. 104.000. 5%. 143.000. 10/06/ 12 10/06/ 12. 20/06/ 12 20/06/ 12. 5%. 5.000. 10/06/ 12. 20/06/ 12. 31/06/ 12 14/06/ 12. 1.980.000. PPN. 10%. 180.000. 07/06/ 12. 1.800.000. PPh 22. 1,50 %. 27.000. 19/05/ 12. 26. Fakta Lapangan. Tari f tida k ada tida k ada. pembayaran. Perhitu ngan (Rp). Saat Penye toran. Saat pelapor an. Pokok (Rp). sanksi setor (Rp). sanksi lapor (Rp). tidak ada. tidak ada. tidak ada. 6.000. 2.880. 100.000. tidak ada. tidak ada 31/12/ 12. tidak ada tidak ada. 3.680. 1.766. 100.000. 15.750. 100.000. tidak ada tidak ada. 33.600. 100.000. 20.125. 100.000. 5.760. 100.000. 24.000. 100.000. 14.560. 100.000. 20.020. 100.000. 15% tida k ada. 112.500. 5% 5% &15 % tida k ada 5% &15 %. 143.750. tidak ada 31/12/ 12. 135.000. 31/12/ 12. tidak ada. tidak ada. tidak ada. tidak ada. 5% tida k ada. 143.000. 31/12/ 12 31/12/ 12. tidak ada tidak ada. tidak ada. tidak ada. tidak ada. 5.000. 2.400. 100.000. tidak ada. tidak ada. tidak ada. 180.000. 86.400. 500.000. tidak ada. tidak ada. tidak ada. 27.000. 12.960. 100.000. tida k ada tida k ada. tidak ada. 104.000. 70.000. 50.000.

(42) 21/05/ 12 21/05/ 12 22/05/ 12 23/05/ 12 25/05/ 12 26/05/ 12. Service CPU pada Expriva Service kendaraan dinas pad Gelya Motor Konsumsi Sosialiasasi Adiwiyata konsumsi penegasan kelulusan 2012-2013 konsumsi anak lomba MTQ tartil Qur'an transport workshop peningkatan kopetensi guru SMP SSN di SMG. 29/05/ 12 30/05/ 12. Service printer T11 pada Aston Printer Center transport bedah SKL mapel UN tahun 2011-2012. 225.000. PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23. 75.000. PPh 21. 1.890.000 103.000 975.000 923.000. 350.000 160.000. PPh 23 PPh 21. 9.000. 10/06/ 12 10/06/ 12 10/06/ 12 10/06/ 12 10/06/ 12. 20/06/ 12 20/06/ 12 20/06/ 12 20/06/ 12 20/06/ 12. 5%. 3.750. 10/06/ 12. 20/06/ 12. 2%. 7.000. 5%. 8.000. 10/06/ 12 10/06/ 12. 20/06/ 12 20/06/ 12. 2%. 37.800. 4% 4%. 4.120 p 39.000. 4%. 36.920. 4%. 27. 4% tida kada. 75.600 tidak ada. 4%. 39.000. 4%. 36.920. 4%. 9.000. 5%. 3.750. 4%. 14.000. 5%. 8.000. 31/12/ 12 tidak ada 31/12/ 12 31/12/ 12 3/12/ 12. tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada. 31/12/ 12 31Des12 31/12/ 12. tidak ada tidak ada tidak ada. 37.800. 18.144. 100.000. 4.120. 1.978. 100.000. 5.460. 100.000. 5.169. 100.000. 1.260. 100.000. 525. 100.000. 3.360. 100.000. 1.120. 100.000. 7.000.

(43) Lampiran 4. Tabel Kesalahan Perpajakan bulan April 2013 Peraturan perpajakan tgl. Transaksi. Nominal transaksi (Rp). tarif 02/04/ 13 03/04/ 13 05/04/ 13. Sewa kursi untuk keg rapat org tua murid kls IX penyampaian hasil try out. konsumsi koordinasi panitia pelaksanaan UAN Nasional membeli papan pengumuman. 10/05/ 13 10/05/ 13 07/05/ 13. 20/05/ 13 20/05/ 13 31/05/ 13 14/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13. PPN. 10%. 122.727. 1,50 %. 18.409. 2%. 1.820 5.200. 05/04/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13. 35.000. 10/05/ 13. 20/05/ 13. 550.500. 10/05/ 13. 20/05/ 13. 52.500. 10/05/ 13. 20/05/ 13. 333.800. 10/05/ 13. 10/05/ 13 10/05/ 13. 4%. 13.200. 91.000. serive printer di expriva. 260.000. 09/04/ 13. honor pendataan calon peserta ujian nasional. 380.000. PPh 21. 09/04/ 13. honor panitia UN 2012-2013. 4.360.000. PPh 21. 11/04/ 13. honor input nilai online. 1.050.000. PPh 21. 11/04/ 13. Honor panitia ujian sekolah. 3.078.000. PPh 21. 2% 5% &15 % 5% &15 % 5% &15 % 5% &15 %. PPh 21 PPh 21. 5% & 15% 5% 15%. honor panitia LUN honor panitia LUN tingkat kota. Saat Pelap oran. 1.350.000. 3.800. service mesin RISO di PT Setiawan Sedjati. 12/04/ 13 13/04/ 13. Saat Penye toran. 330.000. 4%. PPh 22 PPh 23 PPh 23. 06/04/ 13 08/04/ 13. Perhitu ngan (Rp). PPh 23 PPh 23. 95.000. 1.875.000 1.875.000. Fakta Lapangan Jumlah Pembayaran. Objek PPh/ PPN. 171.500 171.500. 28. tarif tida k ada. Perhitu ngan (Rp). Saat Penye toran. Saat pelapor an. tidak ada. tidak ada 31/12/ 13 31/12/ 13. tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada. 4%. 13.200. 10% tida k ada. 122.727 tidak ada. Pokok (Rp). 3.800. sanksi setor (Rp). sanksi lapor (Rp). 1.368. 100.000. 2.112. 100.000. 19.636. 500.000. 18.409. 6.627. 100.000. 1.820. 655. 100.000. 5.200. 1.872. 100.000. 4%. 3.640 10.400. 35.000. 31/12/ 13. tidak ada. 5.600. 100.000. 550.500. 31/12/ 13. tidak ada. 88.080. 100.000. 52.500. 31/12/ 13. tidak ada. 8.400. 100.000. 20/05/ 13. 4% 5% &15 % 5% &15 % 5% &15 % 5% &15 %. tidak ada 31/12/ 13 31/12/ 13. 333.800. 31/12/ 13. tidak ada. 53.408. 100.000. 20/05/ 13 20/05/ 13. 5% &15 % 5% 15%. 171.500. 31/12/ 13 31/12/ 13. tidak ada tidak ada. 27.440. 100.000. 27.440. 100.000. 171.500.

(44) 15/04/ 13. hnor panitia try out 1&2. 3.004.000. PPh 21. 17/04/ 13. honor panitia try out 3&4. 3.004.000. PPh 21. 5% &15 % 5% &15 %. 17/04/ 13. service kendaraan inventaris. 20.000. PPh 23. service alat ptong rumput. 20.000. service ampli dan horn. 220.000. service laptop di expriva konsumsi koordinasi pelaksanaan UN. 100.000. konsumsi sosialisasi. 915.000. konsumsi untuk jamuan tamu konsumsi jamuan tamu pengawas konsumsi penutupan LUN 2012/2013. 55.000. 17/04/ 13 17/04/ 13 17/04/ 13 18/04/ 13 20/04/ 13 22/04/ 13 22/04/ 13 24/04/ 13 24/04/ 13 26/04/ 13 26/04/ 13 29/04/ 13 29/04/ 13 30/04/ 13. konsumsi UTS genap transport pembina ekstrakulikuler konsumsi penyampaian adiwiyata ke komite konsumsi keg. Sosialisasi pelaksanaan UN konsumsi keg. Entry data siswa konsumsi ujian sekolah Th 2012/2013. 330.000. 197.900 854.000 2.112.500 2.900.000 158.000 915.000 841.000 2.112.500. PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 21 PPh 23 PPh 23 PPh 23 PPh 23. 223.200. 10/05/ 13. 20/05/ 13. 223.200. 10/05/ 13. 20/05/ 13. 4%. 800. 10/05/ 13. 20/05/ 13. 4%. Rp 800. 4%. 8.800. 2%. 2.000. 4%. 13.200. 4%. 36.600. 4%. 2.200. 4%. 7.916. 4%. 34.160. 2%. 42.250. 5%. 145.000. 4%. 6.320. 4%. 36.600. 4%. 33.640. 2%. 42.250. 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13 10/05/ 13. 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13 20/05/ 13. 29. 5% &15 % 5% &15 % tida k ada tida k ada. 223.200. 31/12/ 13. tidak ada. 35.712. 100.000. 223.200. 31/12/ 13. tidak ada. 35.712. 100.000. tidak ada. tidak ada. tidak ada. 800. 288. 100.000. tidak ada. tidak ada 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13 31/12/ 13. tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada. 800. 288. 100.000. 1.408. 100.000. 4.032. 100.000. 2.112. 100.000. 5.856. 100.000. 352. 100.000. 1.267. 100.000. 5.466. 100.000. -. 6.760. 100.000. -. 23.200. 100.000. -. 1.011. 100.000. -. 5.856. 100.000. -. 5.382. 100.000. -. 6.760. 100.000. 4%. 8.800. 4%. 4.000. 4%. 13.200. 4%. 36.600. 4%. 2.200. 4%. 7.916. 4%. 34.160. 2%. 42.250. 5%. 145.000. 4%. 6.320. 4%. 36.600. 4%. 33.640. 2%. 42.250. 2.000.

(45) Lampiran 5. Tabel Kesalahan perpajakan bulan Mei 2013. tgl. 01/05/ 13 02/05/ 13 02//05/ 13 02/05/ 13 03/05/ 13 04/05/ 13 04/05/ 13. 06/05/ 13 20/05/ 13. 20/05/ 13. transaksi. transport bimbingan dan try out tes CPNS tenaga honorer th 2013 honor panitia ujian praktek 2012-2013 insensif penguj ujian praktek 2012-2013 transport keg. Bintek pengmb. dan implementasi kurikulum service CPU di oriza transport pebina keg ektrakli kuler kertas CD untuk ujian kenaikan kelas th 2012-2013. Nominal transaksi (Rp). 220.000. 1.650.000. Objek PPh/ PPN. PPh 21 PPh 21. Peraturan Perpajakan Saat Pe Per Nyeto Saat Hitung r Pelap tarif an (Rp) an oran. 5% 5% &15 % 5% &15 %. 10.000. 156.000. 250.000. PPh 21 PPh 21 PPh 23. 3.895.000. PPh 21. 5%. 194.750. 10% 1,50 %. 168.182. 800.000 75.000. 5%. 3.750. 2%. 5.000. 20/06/ 13. 10/06/ 13 10/06/ 13 10/06/ 13. 20/06/ 13 20/06/ 13 20/06/ 13. 10/06/ 13 07/06/ 13 04/06/ 13. 20/06/ 13 30/06/ 13 14/06/ 13. 20/06/ 13 30/06/ 13 14/06/ 13. 20/06/ 13. 1.681.818 honorarium pengajar tambahan pelajaran kls 9 penunjang peningkatan mutu kelulusan. 2.400.000. PPh 21. 5% &15 %. tinta dan master RISO. 1.980.000. 10% 1,50 %. 180.000. 1.800.000. PPN PPh 22. 27.000. 10/06/ 13 07/06/ 13 20/05/ 13. 75.000. PPh 21. 15%. 11.250. 10/06/ 13. 25.227. 225.000. 30. tarif. 20/06/ 13. 10/06/ 13. PPN PPh 22. transport diklat peningkatan kompetensi guru SD dan SMP 2013. 1.850.000. 104.000. 10/06/ 13. Fakta Lapangan. 5% &15 % 5% &15 %. Jumlah Pembayaran. Perhitu ngan (Rp). Saat Penye toran. Saat pelapor an. Pokok (Rp). sanksi setor (Rp). tidak ada. tidak ada. tidak ada. 10.000. 3.400. 100.000. 156.000. 31/06/ 13. tidak ada. 21.840. 100.000. tidak ada tidak ada tidak ada. 14.560. 100.000. 525. 100.000. 1.700. 100.000. 27.265. 100.000. 168.182. 57.182. 500.000. 25.227. 8.577. 100.000. 31.500. 100.000. 180.000. 61.200. 500.000. 27.000. 9.180. 100.000. 1.575. 100.000. 5%. 3.750. 4% 5% &15 %. 10.000. 31/06/ 13 31/06/ 13 31/06/ 13. 194.750 tidak ada tidak ada. 31/06/ 13 tidak ada tidak ada. tidak ada tidak ada tidak ada. 225.000 tidak ada tidak ada. 31/06/ 13 tidak ada tidak ada. tidak ada tidak ada tidak ada. 11.250. 31/06/ 13. tidak ada. 5% &15 %. 15%. 104.000. 5.000. sanksi lapor (Rp).

(46) 22/05/ 13 24/05/ 13 25/05/ 13. konsumsi penegasan kelulusan 2012-2013 transport pendidik bintek wawasan kebangsaan dan nasionalisme almari perpustakaan. 915.000. PPh 23. 4%. 36.600. 75.000. PPh 21. 5%. 3.750. 5.000.000. PPN. 10%. 454.545. 1,50 %. 68.182. 105.500. PPh 22 PPh 23. 1.100.000. PPh21. 4.545.455 27/05/ 13 29/05/ 13. konsumsi pada toko paris untuk jamuan tamu honorarium pnitia re organisasi OSIS th 2012/ 2013. 4% 5% &15 %. 10/06/ 13. 20/06/ 13. 10/06/ 13 07/06/ 13. 20/06/ 13 30/06/ 13. 4.220. 25/06/ 13 10/06/ 13. 14/06/ 13 20/06/ 13. 38.000. 10/06/ 13. 20/06/ 13. 31. 31/06/ 13. tidak ada. 31/06/ 13 31/06/ 13. tidak ada tidak ada. 4.220. tidak ada 31/06/ 13. tidak ada tidak ada. 3.800. 31/06/ 13. tidak ada. 4%. 36.600. 5%. 3.750. 10%. 454.545 tidak ada. 4% 5% &15 %. 68.182. 5.124. 100.000. 525. 100.000. 63.636. 500.000. 23.182. 100.000. 591. 100.000. 532. 100.000.

(47) Lampiran 6. Kesalahan Perpajakan Dihitung Secara Kuantitas dan Kualitas Tahun 2012 ( April-Mei). Kesalahan. Kuantitas. Jumlah transak si. Ta rif. Per hitung an. Pe nyetor an. Pe lapor an. PPh 21. 16. 1. 3. 16. 16. PPh 22. 2. 2. 2. 2. 2. PPh 23. 20. 13. 13. 20. 20. 2. 2. 2. 2. 2. Keterang an. PPN. Kualitas. Per Hitung an. Pe Nyetor an. Pe Lapor an. Pe Nyetor an (Rp). Pe Lapor an (Rp). 19%. 100%. 100%. 294.191. 1.600.000. 100%. 100%. 100%. 27.033. 200.000. 65%. 65%. 100%. 100%. 178.127. 2.000.000. 100 %. 100%. 100%. 100%. 180.218. 1.000.000. jumlah. 679.569. 4.800.000. Tar if 6,25 % 100 %. Lampirian 7. Kesalahan Perpajakan Dihitung Secara Kuantitas dan Kualitas Tahun 2013 ( April-Mei). Kesalahan. Kuantitas. Jumlah transak si. Ta rif. Per hitung an. Penyeto ran. PeLapor an. PPh 21. 18. 1. 1. 18. 18. PPh 22. 4. 4. 4. 4. 4. PPh 23. 20. 5. 5. 20. 20. 4. 2. 2. 4. 4. Keterangan. PPN. Tar If. 5,60 % 100 % 25 % 50 %. 32. Kualitas PeNyetor an (Rp). Pe lapor nn (Rp). 100%. 384.954. 1.800.000. 100%. 100%. 47.566. 400.000. 25%. 100%. 100%. 59.345. 2.100.000. 50%. 100%. 100%. 201.655. 2.000.000. Jumlah. 693.520. 6.300.000. Per Hitung an. Pe Nyetor an. 6%. 100%. 100%. PeLapor an.

(48)

Referensi

Dokumen terkait

Honorarium panitia pelaksana kegiatan,belanja atk,belanja perangko,materai,sesajen, belanja jasa transportasi,belanja dokumentasi,belanja publikasi,belanja jasa

15, Lebak Bulus, Cilandak , Jakarta Selatan..

Kesimpulan : Usia dan tingkat pendidikan ibu merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pleret dan Pajangan

Pada triwulan II tahun 2018 realisasi belanja pegawai berkontribusi sebesar 50 persen terhadap penyerapan belanja lebih tinggi dibanding tahun 2017 yang

Berisi referensi yang digunakan dalam menyusun bahan ajar, menyesuaikan dengan yang sudah ditulis di Rencana Pembelajaran

Begitu juga dengan perkembangan dunia komputer, di mana kehadiran pertama kalinya adalah untuk menggantikan mesin tik, namun kini kebutuhan pertama kalinya adalah

Pokok pikiran utama dari pemikiran Ayer adalah sebuah prinsip yang digunakan untuk menentukan kebermaknaan suatu proposisi melalui observasi empiris atau pengalaman inderawi

Dalam penelitian ini sumber data diperoleh dari situs Bursa Efek Indonesia yang terdiri dari data per enam bulan untuk saham-saham yang masuk ke dalam LQ45, situs Yahoo! Finance