• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUMPULAN BAHAN SERAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KUMPULAN BAHAN SERAHAN"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI MANDIRI P E R K O T A A N

KUMPULAN BAHAN

SERAHAN

(2)

KURIKULUM PELATIHAN UPL LOKASI SIKLUS TAHUN 4

Kapasitas yang harus dimiliki :

• Memahami Peran sebagai UPL

• Memahami perencanaan teknis infrastruktur • Memahami pelaksanaan kontruksi

• Memahami langkah – langkah pengendalian • Mengetahui O & P

• Mampu memetakan jenis-jenis pelayanan dasar infrastruktur dalam PJM Pronangkis • Mengetahui pengamanan dampak sosial dan lingkungan

• Mempunyai motivasi untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasi dalam kegiatan infrastruktur

Tujuan Umum Pelatihan :

• Mereview peran dan kegiatan yang telah dilakukan

• Merumuskan bersama strategi perbaikan terhadap kekurangan pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan

• Memperkuat pemahaman mengenai manajemen kontruksi

• Memperkuat pemahaman mengenai langkah-langkah pengendalian kegiatan infrastruktur • Mengenalkan jenis-jenis pelayanan dasar infrastruktur

• Penguatan pemahaman O & P

• Mengenalkan pengamanan dampak sosial dan lingkungan • Mengenal kegiatan-kegiatan infrastruktur yang inovatif

A. PELATIHAN UPL

Tujuan Tema Topik Waktu

• Peserta Saling mengenal, saling memahami dan menghargai perbedaan • Peserta mampu menciptakan keakraban • Peserta memahami tujuan, Apa yang akan

diperoleh dan bagaimana pelatihan akan dilakukan

• Membangun kesepatakan untuk melakukan pembelajaran bersama

Orientasi Belajar Orientasi Belajar Perkenalan 1 JPL

• Peserta mampu mereview Tupoksi dan kinerja UPL, KSM

• Peserta mampu mengidentifikasi kekurang dan kelebihan selama menjalankan tupoksinya

• Peserta mampu merumuskan strategy

(3)

perbaikan kinerja • perbaikan kinerja

• Peserta mampu mereview pelaksanaan kegiatan Infrastruktur (persiapan & Pelaksanaan kegiatan), Kualitas, efisiensi dan ketepatan sasaran.

• Peserta mampu mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan pelaksanaan kegiatan infrastruktur

• Peserta memahami pelaksanaan infrastruktur yang baik

Pelaksanaan kegiatan

Infrastruktur 6 JPL

• mereview sistem pengendalian pelaksanakan kegiatan infrastruktur

mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan pengendalian kegiatan infrastruktur

• Memahami upaya-upaya pengendalian kegiatan infrastruktur (kualitas, administrasi, waktu, biaya,dll).

Pengendalian Kegiatan Lingkungan • Pembelajaran Mandiri Tentang Pengendalian • Pemeriksaan/Super visi kegiatan Lingkungan 4 JPL

• Peserta mampu mereview pelaksanaan O & P

• Peserta mampu mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan O & P

• Peserta mampu merumuskan langkah-langkah perbaikan pengelolaan O & P (agenda kerja, sumber dana, pembagian tugas)Peserta mampu mengenali dan merumuskan bersama aturan pengelolaan O & P Operasional & Pemeliharaan • Review O & P • Penguatan Pemahaman O & P 3 JPL

• Peserta memahami pentingnya Meningkatkan pelayanan dasar dalam kegiatan infrastruktur

• Peserta mengidentifikasi kegiatan infrastruktur dalam PJM Pronangkis yang terkait langsung dengan pelayanan dasar

Pelayanan Dasar Bidang Infrastruktur • Pentingnya Pelayanan Dasar Infrastruktur • Identifikasi pelayanan dasar dalam PJM Pronangkis 2 JPL

• Peserta mampu mengidentifikasi potensi dampak lingkungan dan sosial yang harus diperhatikan dalam kegiatan infrastruktur • Peserta memahami langkah

penanggulangan dampak lingkungan & Sosial Analisa Dampak Pembangunan Infrastruktur • Memahami Pentingnya analisa dampak lingkungan dan sosial • Penjelasan aturan-aturan penting dampak lingkungan 2 JPL

(4)

• Penjelasan analisa dampak sosial • Peserta mengenal kegiatan-kegiatan

infrastruktur yang inovatif (belajar dari kegiatan/program lain)

• Peserta mempunyai motivasi untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas dalam melaksanakan kegiatan infrastruktur di wilayahnya

• Peserta mampu mengidentifikasi perbedaan inovasi /kreatifitas dengan standar Teknis Infrastruktur

Membangun Kreatifitas dan Inovasi • Berbagi Pengalaman • Analisa hasil berbagi pengalaman 4 JPL Total JPL 24 Jpl

(5)

Tupoksi dan Kinerja UPL, KSM

 

Tugas dan Fungsi UP-UP LKM

Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan penanggulangan kemiskinan yang disepakati seluruh masyarakat setempat baik dengan sumber dana BLM PNPM-MP maupun sumber dana lainnya (channeling) dan mempertahankan keberlanjutan dalam proses pembelajaran bagi masyarakat, LKM perlu membentuk unit-unit pengelola sesiuai kebutuhan.

Unit pengelola kegiatan adalah unit pelaksana yang dibentuk oleh LKM sebagai unit mandiri untuk melakukan kebijakan dan keputusan yang telah ditetapkan oleh LKM.

Unit- Unit Pelaksanaan Tugas LKM

Seperti telah dijelaskan sebelumnya dimana unit-unit pengelola dibentuk oleh LKM itu terdiri dari; • Unit Pengelola Ekonomi (UPK), adalah salah satu gugus tugas sebagai unit mandiri

mengenai kebijakan yang menyangkut bidang ekonomi, melakukan pengelolaan dana pinjaman bergulir dan administrasi keuangannya, baik yang berasal dari dana stimulan BLM PNPM-MP maupun dari pihak-pihak lainnya yang bersifat hibah. Mengendalikan kegiatan yang dilaksanakan oleh KSM Ekonomi serta menjalin kemitraan (channeling) dengan pihak-pihak lain yang mendukung program UPK.

• Unit Pengelola Lingkungan (UPL), adalah salah satu gugus tugas unit mandiri untuk mengelola kegiatan dibidang pembangunan perumahan dan permukiman di wilayahnya. UPL bertanggung jawab dalam hal penanganan rencana perbaikan kampung, penataan dan pemeliharaan prasarana dasar lingkungan perumahan dan permukiman, tata kelola yang baik (good governance) dibidang permukiman, dan lain-lain.

• Unit Pengelola Sosial (UPS), adalah salah satu gugus tugas sebagai unit mandiri mengenai kebijakan yang menyangkut kegiatan-keghiatan dibidang sosial. Peran UPS adalah mengimplementasikan tugas LKM didalam meningkatkan peran sosial bagi masyarakat miskin, menggalang kepedulian, kerelawanan dan solidaritas sosial serta melembagakan nuansa pembelajaran melalui Komunitas Belajar Kelurahan/Desa (KBK/D)

Khusus Tugas dan Fungsi UPL

Secara umum tugas dan fungsi UP-UP adalah menjalankan kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh LKM, sehingga posisi unit-unit pengelola adalah sebagai pelaksana operasional yang berkaitan dengan masing-masing tugasnya sesuai apa yang tertuang dalam PJM Pronangkis.

UPL memiliki tugas sebagai pengelola kegiatan penaggulangan kemiskinan bidang lingkungan perumahan dan permukiman, antara lain;

• Memfasilitasi dalam proses pembentukan KSM kegiatan lingkungan • Melakukan pendampingan penyusunan usulan kegiatan KSM

• Mengendalikan proses kegiatan pembangunan prasarana dasar lingkungan perumahan dan permukiman yang dilaksanakan oleh KSM sejak persiapan, pelaksanaan hingga pasca pelaksanaan kegiatan

• Melakukan pengendalian administrasi kegiatan lingkungan di LKM (memiliki database kegiatan, tertib dalam penyusunan dokumen kegiatan, memiliki rencana kerja mingguan/ bulanan)

(6)

• Sebagai motor penggerak masyarakat didalam membangun kepedulian bersama dan gerakan masyarakat untuk penataan lingkungan perumahan dan permukiman yang lestari, sehat dan terpadu

• Menggali potensi lokal yang ada diwilayahnya

• Menjalin kemitraan (channeling) dengan pihak-pihak lain yang mendukung program lingkungan UPL

Peran UPL

a. Memfasilitasi pembentukan Organisasi Pengelola O&P setiap KSM (Tim Pengelola dan Rencana Kerjanya);

b. Menyelenggarakan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi (MP2K) bagi semua KSM/Panitia/Pokja Lingkungan;

c. Menyiapkan dan Memfasilitasi penandatanganan Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan (SPPD-L) antara BKM dengan KSM pelaksana kegiatan Lingkungan;

d. Bersama Faskel/Askot Infra memfasilitasi kegiatan Coaching atau On The Job Training (OJT) kepada KSM;

e. Memfasilitasi dan Memverifikasi administrasi pencairan dana kepada KSM (RPD, LPD, BA Pembayaran);

f. Merekomendasi dan Memfasilitasi pencairan dana kepada Panitia;

g. Menyusun Tim, Jadwal dan Melaksanakan Pengadaan Bahan/Alat secara Terbatas (Bernilai diatas Rp. 15 Juta) yang dibutuhkan oleh KSM, (bila ada);

h. Memfasilitasi, mengawasi dan mengkoordinir seluruh pelaksanaan kegiatan Panitia/KSM termasuk memberikan penguatan teknik konstruksi maupun administrasi kegiatan;

i. Menyelenggarakan rapat-rapat evaluasi rutin bersama KSM untuk mengevaluasi kemajuan kegiatan infrastruktur dan mendorong upaya-upaya percepatan penyelesaiaan kegiatan lapangan;

j. Bersama Faskel Teknik dan KSM melakukan Opname pekerjaan dilapangan;

k. Memastikan seluruh kegiatan KSM tidak menimbulkan dampak lingkungan dan sosial;

l. Memfasilitasi penyusunan dan memverifikasi laporan-laporan Kegiatan KSM (Harian, Mingguan, Bulanan, LPJ, termasuk photo2 dokumentasi);

m. Memfasilitasi dan merekomendasikan perubahan (amandemen) SPPD-L akibat adanya perubahan pekerjaan dilapangan (bila ada);

n. Membuat dan menyampaikan laporan perkembangan kemajuan pekerjaan Infrastruktur kepada BKM;

o. Memastikan semua infrastruktur memenuhi persyaratan teknis (Bangunan berKualitas Baik/Kuat & Tahan Lama, Bermanfaat/Berfungsi dan Ada O&P termasuk Rencana Kerjanya); p. Bersama Faskel/Askot Infrastruktur dan pihak KSM melakukan Sertifikasi Kegiatan (termasuk

membuat BAP2-nya);

q. Memfasilitasi Peningkatan Swadaya Masyarakat;

r. Menyelenggarakan rembug/musyawarah pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan KSM; s. Memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul ditingkat kelurahan,

termasuk merekomendasikan sanksi/peringatan atas pelanggaran pemanfaatan dana dan atau pelanggaran atas ketentuan-ketentuan dalam SPPD-L;

Peran KSM Lingkungan

a. Memperoleh amanat masyarakat untuk mengelola kegiatan infrastruktur yang transparan dan dapat dipertanggung jawabkan;

(7)

b. Mengikuti coaching/OJT yang dilaksanakan UPL/faskel baik terkait teknis infrastruktur, administrasi maupun pembukuan keuangan KSM;

c. Memastikan prasarana yang dibangun tidak boleh menimbulkan Dampak Lingkungan dan Social;

d. Melakukan musyawarah untuk Membentuk Organisasi Pemanfaat dan Pemelihara (O&P); e. Menyampaikan Jadwal Kerja, Rencana Pengadaan Bahan/Alat, Rencana Pemeliharaan,

Rencana Tenaga Kerja, Tim Pelaksana Kegiatan yang lebih rinci kepada UPL sebelum MP2K/PCM;

f. Melaksanakan Musyawarah Pengadaan Bahan/Alat, Musyawarah Pertanggungjawaban Pelaksanaan Kegiatan dan memastikan Tim O&P turut serta dalam MP2K;

g. Membangun Prasarana dengan kualitas baik dan bermanfaat sesuai persyaratan teknis; h. Membuat Papan Nama/Informasi Proyek sehingga dapat diketahui oleh masyarakat umum; i. Membuat administrasi, termasuk photo-photo, laporan-laporan pertanggungjawaban

kegiatan dan mengarsipkannya;

j. Melakukan penggantian atau perbaikan prasarana yang diperintahkan oleh konsultan/UPL selama proses konstruksi berlangsung;

k. Mendorong Peningkatan Swadaya Masyarakat, minimal merealisasikan seluruh swadaya yang telah disepakati sebelumnya;

l. Mendorong pelibatan masyarakat sebanyak-banyaknya dalam pelaksanaan kegiatan; m. Dana BLM tidak boleh dipakai untuk biaya ganti rugi apapun;

n. Aktif melakukan penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul akibat pelaksanaan kegiatannya;

Kinerja UPL dan KSM Lingkungan

Berdasarkan lingkup penanganan kegiatan antara UPL dan KSM Lingkungan adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan didalam melakukan persiapan, pelaksanaan maupun

pengendalian pelaksanaan seluruh kegiatan lingkungan yang dibangun diwilayahnya. Sebagai tolok ukur keberhasilan kinerja UPL dan KSM Lingkungan, antara lain;

• UPL memiliki rencana kerja pengendalian dilapangan, membuat jadwal kendali agar dapat mengatur pelaksanaan di KSM

• UPL memiliki sistem administrasi pengarsipan yang baik dan terkontrol serta mudah didalam pencarian

• KSM Lingkungan harus memiliki rencana kerja dan jadwal pelaksanaan pekerjaan lingkungan yang telah direncanakan sebelumnya

• KSM Lingkungan selalu melaporkan progres kegiatannya

• KSM Lingkungan menjamin kelungsungan Organisasi Pengelola O&P berjalan dengan baik dan memiliki jadwal

Tugas dan Tanggungjawab Tim Pelaksana Lapangan

No  Tim  Tugas  Tanggungjawab 

1  UPL‐LKM  • Bertanggungjawab kepada Koordinator LKM  • Mempersiapkan pembentukan KSM/Panitia/  Pokja  • Melakukan verifikasi proposal usulan kegiatan  • Mempunyai rencana/jadwal kerja  • Melakukan pengendalian dan monitoring  kegiatan KSM/Panitia/ Pokja  • Bersama Tim Fasilitator melakukan verifikasi  • Menjamin hasil verifikasi proposal sudah  memnuhi syarat yang ditetapkan  • Menjamin pengendalian seluruh proses  pengendalian terhadap KSM/Panitia/  Pokja berjalan baik  • Menjamin tidak terjadi dampak sosial dan  lingkungan  • Memastikan LPJ telah valid 

(8)

yang telah dilaksanakan oleh KSM/Panitia/  Pokja    • Memastikan panitia O&P kegiatan dapat  berjalan dengan baik    2  KSM/Panitia/  Pokja  • Sebagai pelaksana kegiatan (perencanaan,  pelaksanaan dan pasca pembangunan)  • Melakukan musyawarah pembentukan O&P  dan menjamin keberlangsungan O&P  • Mendorong peningkatan peran swadaya  • Menjamin tepat sasaran dan bermanfaat  • Membuat LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban)  pekerjaan    • Menjamin kriteria miskin masuk dalam PS2  • Menjamin proposal usulan kegiatan telah  sesuai PJM Nangkis/RPLP dan RTPLP  • Menjamin prosedur perencanaan telah  baik;  o Proposal terisi lengkap dan sesuai  ketentuan  o Tidak menimbulkan dampak sosial dan  lingkungan  o Lahan tidak bermasalah  o Terbentuknya panitia O&P  • Menjamin pelaksanaan berjalan baik;  o Pelaksanaan pengadaan barang dan  tenaga kerja  o Kualitas bahan baik  o Konstruksi sesuai perencanaan  o Penyelesaian pekerjaan tepat waktu  • Pasca pelaksanaan pembangunan;  o Memastikan LPJ telah dibuat dan valid  o Memastikan O&P berjalan/ berfungsi       

(9)

Sumber : Suplemen Teknis Infrastruktur

KSM LINGKUNGAN

1. Pengertian KSM/Panitia

Kelompok Swadaya Masyarakat disingkat KSM adalah kumpulan orang/masyarakat yang menyatukan diri secara sukarela dalam kelompok dikarenakan adanya ikatan pemersatu, yaitu adanya kepentingan dan kebutuhan yang sama, sehingga dalam kelompok tersebut memiliki kesamaan tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan

PANITIA adalah sebutan bagi KSM yang

mengelola kegiatan Lingkungan (pembangunan sarana dan prasarana) dalam program PNPM Mandiri Perkotaan.

Panitia merupakan suatu kelompok kemasyarakatan yang ada di kel/desa setempat,

bukan di kel/desa lain. Kelompok ini tumbuh dan berkembang serta diakui keberadaannya dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat.

KSM/PANITIA ini dapat merupakan kelompok swadaya yang sudah tumbuh sejak lama atau baru dibentuk karena adanya kesamaan kepentingan dan kebutuhan dalam kelompok tersebut. Jadi bukan organisasi yang dibentuk karena mengejar keuntungan (finansial) dari melaksanakan kegiatan proyek PNPM Mandiri Perkotaan.

KSM yang dikembangkan dalam PNPM Mandiri Perkotaan mempunyai filosofi, yaitu ”KSM adalah Yang Mengusulkan/Merencanakan, Melaksanakan dan Memanfaatkan & Memelihara Sarana dan prasarananya sendiri”. Artinya bahwa KSM sendirilah yang merencanakan kegiatannya, melaksanakan proses pembangunan apa yang sudah direncanakannya dan memanfaatkan & memelihara hasil kegiatan pembangunan (sarana & prasarana) yang telah dibangunnya.

KSM/PANITIA dibentuk oleh masyarakat dan beranggotakan masyarakat itu sendiri. Organisasi ini biasanya dibentuk berdasarkan kepentingan tertentu atau sebagai wadah bagi suatu kelompok yang ada dalam masyarakat. Organisasi kemasyarakatan ini misalnya, Lembaga Adat, Karang Taruna, PKK, Kelompok Tani, Kelompok Nelayan, Kelompok Pedagang dan sejenisnya yang sungguh – sungguh mengemban dan mengupayakan perwujudan kepentingan masyarakat desa/kelurahan. KSM bisa merupakan pengembangan dari organisasi kemasyarakatan yang sudah ada atau pembentukan organisasi baru. Tatacara pembentukan/pengembangan KSM dapat dilihat dalam buku Pedoman Teknis Pembentukan/Pengembangan KSM PNPM Mandiri Perkotaan.

2. Mengapa KSM/Panitia perlu dilibatkan dalam PNPM Mandiri Perkotaan?

• Memberikan kesempatan kepada masyarakat ikut berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan sarana & prasarana di wilayahnya.

(10)

• Meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat baik dalam hal pengelolaan pembangunan yang bersifat teknis maupun dalam hal berorganisasi.

• Menumbuhkan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap prasarana yang akan dibangun. • Memberikan peluang dan kesempatan berfungsinya gerakan keswadayaan modal

masyarakat untuk turut serta di dalam proses pembangunan, seperti menyumbangkan tanah atau tanaman yang terkena proyek, sumbangan bahan/alat yang dibutuhkan, ikut bekerja langsung, dll.

• Dalam rangka lebih mendaya gunakan dan melibatkan organisasi/lembaga kemasyarakatan yang ada terkait dengan pembangunan daerahnya (kel/desa).

3. Peran KSM/PANITIA pada tahap Persiapan & Perencanaan Pembangunan Infrasrtuktur

Peran KSM/Panitia dalam tahap kegiatan Persiapan & Perencanaan Teknis kegiatan pembangunan sarana & prasarana, antara lain adalah :

• Membangun/Mengembangkan Organisasi KSM/PANITIA;

• Melakukan Perencanaan Teknis Pembangunan sarana & prasarana; • Mensosialisasikan program PNPM;

• Mendorong masyarakat untuk berswadaya dalam pelaksanaan dan pemeliharaan sarana & prasarana yang dibangun diwilayahnya;

4. Kriteria bagi KSM sehingga terpilih menjadi pelaksana kegiatan

Kriteria kelayakan Panitia untuk menjadi pelaksana kegiatan pembangunan sarana & prasarana, dapat dilihat dari dua aspek yang harus dipenuhi dari Aspek Organisasi KSM dan Manajemen & Teknis Kegiatannya, yaitu :

A. Aspek Organisasi :

• Memiliki struktur organisasi pengurus, anggota dan aturan main organisasinya; • Anggota KSM minimal 30% adalah

perempuan;

• Mendaftarkan diri pada BKM/LKM setempat dan Dinyatakan Layak oleh BKM/LKM;

• Merupakan Pemanfaat & Pemelihara Infrastruktur yang dibangun;

B. Aspek Manajemen dan Teknis Kegiatan :

• Jumlah Total dana BLM PNPM yang diajukan dalam proposal tidak melampaui Rp. 50 Juta per KSM;

• Mempunyai Rencana Kerja Pelaksanaan, seperti RAB, Jadwal, Organisasi & Tim Pelaksa Pekerjaan dan cukup ketersediaan tenaga kerja yang akan terlibat;

• Memiliki atau mampu menyediakan tenaga yang berpengalaman, atau mampu membaca gambar kerja atau memiliki ketrampilan teknis konstruksi yang ditempatkan dalam Tim Pelaksana sebagai Koordinator/Ketua Tim atau Pelaksana Lapangan (minimum 1 orang dengan pengalaman sebagai Tukang atau Mandor);

• Prasarana yang diusulkan tercantum didalam dokumen Renta/PJM-Pronangkis. KSM tidak diperbolehkan melakukan perubahan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan dari Renta/PJM. Perubahan jenis kegiatan hanya boleh dilakukan karena suatu alasan tertentu/terpaksa melalui Kesepakatan Musyawarah BKM/LKM yang melibatkan seluruh warga (Ada Berita Acara Perubahan Kegiatan);

(11)

• Tidak bertentangan dengan Daftar Kegiatan Terlarang;

• Tidak berpotensi menimbulkan Dampak Negatif (merusak) terhadap Lingkungan dan Sosial; • Desain/perencanaan teknis harus

aman dan dapat tahan lama (sesuai standar teknis yang ditetapkan oleh instansi teknis, seperti PU);

• Dapat dilaksanakan oleh Panitia (secara langsung atau melalui kerjasama dengan pihak ketiga); • Waktu pelaksanaan kegiatan

dapat diselesaikan sesuai ketentuan program;

• Mempunyai potensi swadaya masyarakat baik untuk tahap

pelaksanaan maupun tahap pemeliharaannya;

• Prasarana yang akan dibangun tidak sedang dibangun oleh Pemerintah atau program lain;

• Khusus, Untuk sarana dan prasarana yang bersifat kompleks atau berteknologi tinggi, maka pelaksanaan kegiatannya harus mendapat persetujuan Tim KMW atau instansi teknis terkait (seperti PU) didaerah setempat;

                                         

(12)

Perencanaan Kegiatan Infrastruktur

Langkah-langkah Persiapan Perencanaan Kegiatan Infrastruktur Yang harus dilaksanakan

Tahap  Perencanaan  kegiatan  pembangunan  sarana  dan  prasarana  pada  dasarnya  merupakan  pelaksanaan  kegiatan tahapan persiapan pemanfaatan dana dalam Siklus kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan. 

Kegiatan dalam tahapan ini pada garis besarnya dibagi atas 3 tahapan yaitu;  

• Tahap perencanaan (dimana mempersiapkan sejak dari proses PS/ Pemetaan Swadaya) 

• Tahap pelaksanaan dan pengendalian perencanaan (memastikan proses pelaksanaan berjalan baik)  • Tahap verifikasi hasil perencanaan atau proposal (memastikan kelayakan hasil perencanaan) 

(13)

Skematik kegiatan yang perlu diperhatikan dalam proses perencanaan kegiatan :

Langkah-langkah Perencanaan Kegiatan Infrastruktur

 

Perencanaa

n Kegiatan

Pelaksanaan &

Pengendalian

Perencanaan

Verifikasi

Proposal

Tahap

Perencanaan

Hal yang harus diperhatikan;  • Jenis usulan sesuai PJM atau  RPLP dan RTPLP  • Menentukan tujuan/ sasaran  • Lingkup perencanaan teknis  o Survey dan investigasi  o Rembug kesepakatan  swadaya  o Rembug kesepakatan harga  o Membuat  desain/  spesifikasi teknis/ gambar  o Menyusun rencana  pengamanan dampak  lingkungan dan social  o Menyususn lingkup  pekerjaan konstruksi  o Menyususn RAB konstruksi  o Menyusun jadwal  pelaksanaan  o Menyususn rencana  penagadaan  o Membuat pernyataan  kesanggupan O&P  o Pengorganisasian  pelaksanaan pekerjaan Langkah teknis verifikasi;  • Tim konsultan memfasilitasi  LKM/ KSM/ Panitia/ Pokja/  TPP malaksanakan  pertemuan tentang cara  melakukan verifikasi  • Melakukan proses  pemeriksaan dan  merekomendasi/  kesimpulan antara lain;  o Layak  o Layak dengan  penyempurnaan  o Tidak layak    Hal yang perlu dikendalikan;  • Lingkup cakupan kegiatan  Perencanaan Teknis secara Umum  • Penyediaan lahan  • Survey teknis prasarana  • Survey dan kesepakatan swadaya  • Survey dan kesepakatan harga  satuan  • Survey calon tenaga kerja  • Desain/ spesifikasi teknis/ gambar  • Daftar kuantitas pekerjaan  kegiatan konstruksi  • Pengamanan dampak lingkungan  dan social  • RAB Pelaksanaan konstruksi, DED  • Jadwal pelaksanaan kegiatan  konstruksi  • Rencana pengadaan  • Rencana organisasi pelaksanaan  kegiatan  • Pernyataan kesanggupan O&P  • Dokumen proposal  • Waktu mulai dan lama waktu  pelaksanaan  kegiatan      

(14)

I. TAHAP PERENCANAAN

Perencanaan teknis infrastruktur secara sederhana merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menyusun rencana opersional/pelaksanaan pembangunan infrastruktur atau dalam Implementasi Program P2KP adalah proses Penyusunan Usulan Proposal Kegiatan infrastruktur yang dilakukan oleh Pelaksana Kegiatan (Masyarakat) sebelum melaksanakan tahapan pembangunan fisik/konstruksi;

1. MENENTUKAN TUJUAN/SASARAN

Tujuan Proyek Pembangunan Infrastruktur adalah terwujudnya infrastruktur yang

diinginkan sesuai dengan ketentuan, standar mutu teknis bangunan dalam kurun waktu dan biaya yang telah ditetapkan (secara efektif dan efisien).

Sasaran perencanaan teknis pelaksanaan kegiatan infrastruktur P2KP adalah tersedianya

rencana teknis pelaksanaan pembangunan infrastruktur (dokumen proposal) yang dapat menjamin terwujudnya infrastruktur yang diinginkan sesuai dengan ketentuan, kriteria/ standar teknis bangunan (mutu yang dipersyaratkan) secara efektif dan efisien serta dapat bermanfaat secara berkelanjutan.

Ukuran dan standar keluaran yang ingin dicapai adalah :

1. Jenis Kegiatan yang diusulkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dokumen perencanaan PJM Pronangkis atau RPLP dan RTPLP;

2. Luas lahan yang diperoleh/tersedia, sesuai kebutuhan bangunan yang dan tidak menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat (pemilik lahan dan warga sekitarnya); 3. Tersedianya rencana teknis bangunan (Desain/Gambar, Spesifikasi Teknis) yang

memenuhi kriteria/standar teknis bangunan (oleh instansi teknis seperti PU);

4. Tersedianya rencana teknis pengamanan dampak lingkungan dan sosial sesuai ketentuan pembangunan yang berlaku;

5. Tersedianya rencana biaya pembangunan yang efisien (termasuk tidak menimbulkan biaya tinggi atau sesuai dengan kebutuhan kegiatan dilapangan);

6. Tersedianya rencana waktu pelaksanaan pembangunan yang efektif (dapat dicapai, termasuk tidak melampaui batas yang ditentukan oleh program);

7. Tersedianya rencana pengadaan yang sesuai dengan metode pengadaan yang telah ditetapkan program.

8. Adanya Komitmen warga penerima manfaat untuk pemeliharaan bersama; 9. Progres kegiatan perencanaan teknis telah mencapai 100% (selesai);

10. Waktu pelaksanaan tidak melampaui batas waktu yang telah ditetapkan program;

2. MENENTUKAN LINGKUP KEGIATAN PERENCANAAN TEKNIS

Menentukan lingkup kegiatan/proyek yang akan dilaksanakan pada dasarnya berkaitan dengan menentukan apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan/sasaran yang diinginkan. Lingkup perencanaan teknis adalah keseluruhan kegiatan atau pekerjaan perencanaan teknis yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran kegiatan yang telah ditetapkan (menghasilkan dokumen perencanaan yang layak sesuai persyaratan).

Untuk mencapai sasaran tersebut maka lingkup kegiatan perencanaan teknis infrastruktur meliputi kegiatan:

• Penyediaan lahan;

• Survey & Investigasi (Teknis Infrastruktur, Swadaya Masyarakat, Harga Satuan Dasar (Upah, Bahan, Alat);

• Kesepakatan Swadaya Masyarakat; Kesepakatan Harga Satuan Dasar; • Penyusunan Desain/Gambar/Spesifikasi Teknik;

(15)

• Pengamanan Dampak Lingkungan & Sosial; • Perhitungan RAB;

• Penyusunan Jadwal Pelaksanaan; • Penyusunan Jadwal Pengadaan; • Pernyataan Kesanggupan O&P.  

Keseluruhan Lingkup kegiatan tersebut dilaksanakan secara partisipatif.

Sedangkan cara kontribusinya, dapat dilakukan melalui :

1. Hibah, kontribusi secara sukarela yang disertai dengan pelepasan hak milik dari pemiliknya kepada pihak lain tanpa ada batas waktu tertentu (selamanya);

2. Ijin pakai, kontribusi secara sukarela tanpa disertai pelepasan hak milik dari pemiliknya kepada pihak lain dan hanya dalam kurun waktu tertentu;

3. Ijin dilalui, pada prinsipnya sama dengan ijin pakai, hanya disini bahwa pemilik masih tetap diperbolehkan memanfaatkan tanah tersebut sepanjang tidak merusak kepentingan pihak yang diberi ijin. Contoh sederhana adalah ijin pemasangan pipa air bawah tanah yang melewati pekarangan rumah warga, dimana pemilik masih diperbolehkan memanfaatkan tanah tersebut (bagian atas/permukaannya) sebagai tempat lalulintas orang atau ternaknya, dll.

4. Kompensasi atau gantirugi tunai, penyediaan lahan yang diberikan oleh pihak pemilik dengan persyaratan ada ganti rugi tunai.

Langkah-langkah Pelaksanaan Kegiatan

Proses pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara partisipatif dengan langkah-langkah kegiatan adalah sebagaimana terlihat pada diagram proses penyediaan lahan. Diagram tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. :

1. Pemeriksaan apakah kegiatan infrastruktur yang diusulkan membutuhkan pembebasan tanah.

2. Pengumpulan informasi dasar/minimum berupa: Kebutuhan luas lahan; Alamat lokasi tanah; pemilik; Status tanah dan peruntukan lahan saat ini.

3. Melakukan pertemuan/rembug dengan pihak pemilik/yang terkena dampak dan melibatkan pihak-pihak lain seperti Lurah/Kades, Ketua RT/RW, tokoh masyarakat/adat, BKM/LKM dan lain-lain yang dianggap perlu.

4. Berdasarkan hasil kesepakatan yang dicapai, buatlah administrasi pertanggungjawaban yang diperlukan sesuai bentuk kontribusinya :

a. Hibah : Surat Pernyataan Hibah, Surat Pelepasan Hak Milik, Surat Permohonan Pemisahan Hak Milik dari Pemilik dan Surat Pemisahan Hak Milik dari Pejabat Pembuat Akta Tanah/intansi lain yang berwenang setempat.

b. Ijin Pakai/Ijin Dilalui : Surat Pernyataan Ijin Pakai atau Ijin Dilalui, yang juga mencantumkan batasan waktu dan sanksi/syarat-syaratnya.

c. Kompensasi : Surat Pernyataan Ganti Rugi, Surat Pelepasan Hak Milik, Surat Permohonan Pemisahan Hak Milik dari Pemilik, Kwitansi Pembayaran/Bukti Pelunasan Ganti rugi dan Surat Pemisahan Hak Milik dari Pejabat Pembuat Akta Tanah/intansi lain yang berwenang setempat.

(16)

5. Seluruh proses dan administrasi yang diperlukan selanjutnya diverifikasi bersama

1) Melakukan Survey & Investigasi a. Survey Teknis Prasarana

Sasaran Survey Teknis prasarana ini adalah untuk mendapatkan

data-data/informasi kondisi/situasi awal lokasi pembangunan infrastruktur, yang selanjutnya akan dipergunakan dalam menentukan desain dan gambar rencana.

Pada kegiatan survey teknis ini, juga membuat dokumentasi/photo awal (0%)  kegiatan.  

b. Survey & Investigasi Swadaya Masyarakat

Prasarana yang dibangun melalui dana Bantuan Langsung Masyarakat P2KP merupakan prioritas kebutuhkan masyarakat yang direncanakan, dilaksanakan dan diawasi serta dimanfaatkan sendiri oleh masyarakat. Oleh karena itu maka P2KP mendorong sebesar besarnya kegiatan dilaksanakan secara swadaya/gotong royong.

Ukuran dan standar keluarannya kegiatan ini adalah : untuk mengetahui siapa, apa saja bentuknya dan berapa besarnya swadaya yang akan diberikan oleh masyarakat untuk pelaksanaan kegiatan infrastruktur.

c. Survey & Investigasi Harga Satuan Upah/Bahan/Alat

Yang dimaksudkan dengan harga satuan upah/bahan/alat disini adalah harga per satu satuan pengukuran upah tenaga kerja.

Sesuai dengan prinsip-prinsip PNPM MP/P2KP, khususnya untuk meningkatkan adanya transparansi dan akuntabilitas, maka pihak Pelaksanaa harus melakukan survey Harga Satuan ini minimal pada 3 toko/pemasok setempat/terdekat, yang harus dilakukan oleh Tim Survey yang dipilih secara terbuka dari anggota Organisasi Pelaksana yang dipercaya dan minimal berjumlah 3 (tiga) orang.

d. Survey & Investigasi Calon Tenaga Kerja

Selain ketiga survey sebagaimana telah diuraikan diatas maka dalam perencanaan teknis ini juga perlu dilakukan survey ketersediaan calon tenaga kerja yang akan terlibat nantinya dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan fisik.

Ukuran dan standar keluarannya adalah Jumlah Calon tenaga kerja sesuai kualifikasi dan kebutuhan pekerjaan (swadaya maupun tenaga kerja yang akan dibayar).

2) Melakukan Rembug ”Kesepakatan Swadaya Masyarakat”

Hasil Survey & Investigasi Swadaya masyarakat yang telah dilaksanakan sebelumnya, selanjutnya harus disepakati bersama oleh warga pemanfaat melalui Forum Rembug atau Musyawarah warga. Forum ini dilakukan oleh pihak pelaksana pekerjaan bersama-sama dengan seluruh warga selaku penerima manfaat kegiatan.

3) Melakukan Rembug ”Kesepakatan Harga”

Seperti halnya swadaya masyarakat, Hasil Survey Harga Satuan Upah/Bahan/Alat yang telah dilaksanakan sebelumnya, harus disepakati bersama oleh warga pemanfaat melalui Forum Rembug atau Musyawarah warga. Forum ini dilakukan oleh pihak pelaksana pekerjaan bersama-sama dengan seluruh warga selaku penerima manfaat kegiatan.

(17)

Ukuran dan standar keluarannya adalah Kesepakatan swadaya harga upah/bahan/alat dibuat dalam Berita Acara dan Daftar Hadir Peserta.

4) Membuat Desain, Spesifikasi Teknis & Gambar-gambar Bangunan

Dalam praktek pengelolaan proyek infrastruktur, lazimnya pernyataan-pernyataan tentang mutu bangunan (syarat yang memenuhi penggunaan bangunan dan dalam proses penyusunannya diawali dari proses Desain/perancangan, Gambar-gambar & Spesifikasi Teknis, kemudian diuraikan juga secara terbatas dalam Daftar Kuantitas (jenis pekerjaan dan volumenya), RAB (jenis pekerjaan, volume yang diperhitungkan/dibiayai), DED (Detail Engineering Design) dan Surat Perjanjian Kerjasama seperti SPPD-L/SPPB.

Sasarannya adalah untuk menentukan persyaratan mutu sesuai kriteria dan persyaratan teknis bangunan.

Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan :

a) Desain, pembuatan berdasarkan hasil survey dan persyaratan/kriteria desain bangunan yang telah ditetapkan. Ada pemilihan alternatif-alternatif desain/rancangan bangunan yang sesuai. Hasil proses Survey dan Desain ini kemudian dituangkan dalam Gambar-Gambar teknik (gambar Perencanaan). b) Spesifikasi Teknis, dibuat untuk memberikan informasi lebih lengkap

mengenai semua persyaratan teknis dan ketentuan pelaksanaan pekerjaan/bangunan.

c) Gambar-gambar, yang dibuat berdasarkan desain/sketsa hasil perhitungan dan spesifikasi teknis ini, dengan mencantunmkan juga hal-hal penting yang berkenaan dengan mutu prasarana yang diinginkan.

Beberapa macam gambar rencana yang lazim dibuat pada tahap ini, yaitu : Gambar Situasi; Gambar Denah; Gambar Pandangan/Tampak; Gambar Penampang/Potongan. Khusus untuk bangunan yang mempunyai bentuk sama atau sebahagian dapat menggunakan gambar typikal.

5) Menyusun Rencana Pengamanan Dampak Lingkungan;

Selain ketentuan terkait dengan penyediaan tanah/lahan, ketentuan/peraturan lain yang menjadi persyaratan pelaksanaan pembangunan infrastruktur adalah adanya perlindungan/pelestarian terhadap dampak lingkungan.

Prinsip-prinsip dasar dalam penilaian kelayakan lingkungan adalah :

a) Usulan yang diajukan sedapat mungkin menghindari atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

b) Usulan tersebut harus mengacu pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail Tata Ruang (RTDR),

c) Usulan yang membawa dampak negatif terhadap lingkungan, dilengkapi dengan perencanaan pengelolaan dampak.

6) Menentukan Lingkup Pekerjaan Konstruksi

Lingkup pekerjaan konstruksi/proyek adalah keseluruhan pekerjaan/kegiatan konstruksi yang harus dilakukan untuk menghasilkan bangunan yang memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan.

a) Menentukan/Mengidentifikasi Jenis-jenis pekerjaan konstruksi; b) Menentukan Kuantitas/Volume Jenis-jenis pekerjaan

c) Menentukan Metode/Cara Pelaksanaan Pekerjaan d) Menentukan Urutan pekerjaan

(18)

7) Menyusun Anggaran Biaya Pelaksanaan Konstruksi

Anggaran Biaya kegiatan infrastruktur haruslah disusun secara realistis (paling mendekati pelaksanaan) dengan tetap mengacu pada prinsip efisiensi (tidak menimbulkan biaya tinggi) dan dapat dipertanggungjawabkan sekaligus harus sebanding dengan kualitas yang harus dipenuhi (biaya yang ekonomis). Perhatian utama terhadap anggaran biaya ini adalah agar tidak terjadi kekurangan atau berlebihan dilapangan sedangkan pada tahap pelaksanaan harus benar-benar dipedomani.

Adapun manfaat Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah : untuk mengetahui berapa besar rencana biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek/sub-proyek; Mengetahui jumlah/volume kebutuhan tenaga kerja, bahan dan alat yang diperlukan; dan Sebagai pedoman pada saat pelaksanaan kegiatan pembangunan prasarana, khususnya pada saat melakukan pengadaan tenaga kerja, bahan dan alat, baik menyangkut jumlah, jenis, maupun harga satuannya masing-masing. Hasil akhir dari perhitungan RAB ini adalah diperolehnya gambaran besarnya nilai rencana swadaya masyarakat dan APBD/BLM PNPM yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan prasarana, meliputi :

• Volume/kuantitas kebutuhan komponen biaya dari Swadaya Masyarakat maupun sumberdana BLM atau dari pihak lain;

• Besarnya nilai/biaya Swadaya Masyarakat, APBD/BLM yang diperlukan;

8) Menyusun Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Secara sederhana Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan adalah formulir yang menggambarkan rencana waktu pelaksanaan dari semua jenis kegiatan yang akan dilaksanakan dalam pembangunan suatu prasarana. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan pada dasarnya memberikan gambaran tentang rencana waktu dan urut-urutan pelaksanaan dari semua jenis kegiatan yang akan dilaksanakan dalam pembangunan infrastruktur.

Sedangkan manfaat dari Rencana Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ini adalah : a) Mengetahui berapa lama pekerjaan pembangunan prasarana dapat

dilaksanakan;

b) Mengetahui kapan harus memulai pelaksanaan setiap jenis kegiatan dan berapa lama kegiatan tersebut dapat diselesaikan;

c) Mengetahui berapa banyak volume setiap jenis kegiatan yang harus dibuat; d) Sebagai pedoman untuk memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan

pada saat pelaksanaan pembangunan prasarana;

9) Menyusun Rencana Pengadaan

Pengadaan yang dimaksudkan disini adalah Pengadaan Barang (Pembelian bahan bangunan atau Sewa Peralatan Konstruksi) atau penyediaan Jasa Pelaksana Pekerjaan Konstruksi untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka pelaksanaan pembangunan sarana/prasarana.

Adapun ukuran dan standar keluarannya adalah :

a) Nilai setiap pengadaan yang direncanakan sesuai dengan metode pengadaan yang ditetapkan dalam pedoman teknis PNPM-MP;

b) Adanya Rencana Pengadaan kegiatan yang sesuai formulir yang rencana pengadaan yang ditentukan program;

(19)

Penekanan utama dalam penyusunan rencana pengadaan ini lebih difokuskan kepada tercapainya prinsip transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan pengadaan sesuai dengan metode pengadaan yang diterapkan dalam PNPM-MP.

10) Membuat Pernyataan Kesanggupan O&P

Sesuai dengan sasaran dari program dimana selain penyediaan infrastruktur yang berkualitas maka juga harus disiapkan keberlanjutan dari prasarana tersebut. Untuk mewujudkan keberlanjutan parasara tersebut maka salah satu upaya awal pada tahap perencanaan ini adalah penyusunan Surat Pernyataan Kesanggupan Pemanfaatan & Pemeliharaan Sarana & Prasarana yang akan dibangun sebagai bentuk kesediaan dan janji/komitmen dari masyarakat untuk memanfaatkan dan memelihara sarana & prasarana.

Nantinya, setelah usulan pekerjaan ditetapkan untuk dilaksanakan maka pihak pelaksana pekerjaan tersebut harus segera melanjutkan upaya ini dengan membentuk Organisasi Operasi & Pemeliharaan Infrastruktur sekaligus Rencana Kerja & Kesepakatan Pembiayaannya sebelum pekerjaan fisik dilaksanakan.

Sasaran Kegiatan adalah Adanya komitmen bersama warga pengguna prasarana

untuk melaksanakan Operasi & Pemeliharaan (O&P) prasarana.

11) Pengorganisasian Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi/Pembangunan

Setelah semua rencana kegiatan disusun maka langkah pengelolaan berikutnya adalah mengorganisasikannya.

Pengorganisasian diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan cara bagaimana mengatur dan mengalokasikan kegiatan serta sumberdaya kepada para anggota kelompok (organisasi) secara tepat agar dicapai adanya ketertiban, kelancaran dan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan.

Pengorganisasian juga adalah berkaitan dengan yang akan melaksanakan seluruh rencana yang telah dibuat sebelumnya. Dalam hal ini maka diperlukan struktur organisasi yang memberikan pengaturan peran masing-masing anggota. Peran ini kemudian dijabarkan menjadi pembagian tugas dan tanggungjawab.

Adapun langkah-langkah pengorganisasian, meliputi : a) Menyusun Struktur Organisasi;

Mengelompokan kegiatan yang akan dilaksanakan pada dasarnya adalah pengelompokan/klasifikasi kegiatan-kegiatan kedalam unit atau bagian pekerjaan yang memiliki kesamaan fungsi. Kemudian mengkoordinasikan bermacam-macam kegiatan/unit kerja tersebut, agar semua orang/unit kerja bekerja secara benar, terarah dan mengindari adanya tumpang tindih pelaksanaan tugas yang dilakukan antara satu orang/unit kerja dengan yang lainnya.

b) Menentukan tugas/pekerjaan dan tanggungjawab yang akan dilakukan oleh setiap orang/unit kerja Organisasi;

Berdasarkan pengelompokan kegiatan/unit kerja dalam struktur organisasi maka disusun tugas-tugas atau pekerjaan yang akan dilakukan oleh setiap orang/unit kerja dalam organisasi tersebut. Hal penting yang harus diperhatikan disini adalah agar tidak ada tugas/kegiatan yang sama,

(20)

dilakukan oleh lebih dari satu unit kerja sehingga tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan/tugas dan pemahaman bahwa tugas atau pekerjaan yang dilakukan oleh tiap orang/unit kerja ini adalah merupakan tugas bersama/organisasi.

Struktur unit kerja dapat mencakup : Ketua; Sekretaris; Bendahara/Keuangan; Bagian Pengadaan/Logistik; Pelaksana Lapangan; Pengendalian Kualitas/Kuantitas; Ketua Regu Kerja/Mandor.

c) Menyusun Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Perencanaan Teknis;

Berdasarkan jenis kegiatan dan urut-urutan pelaksanaan kegiatan perencanaan sebagaimana diuraikan pada lingkup kegiatan perencanaan teknis diatas (juga dapat menggunakan referensi Diagram Alir Kegiatan Perencanaan Teknis) maka dapat disusun Rencana Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Perencanaan Teknis.

Penting bagi Fasilitator : Menjadi perhatian atas waktu pelaksanaan, mengingat waktu pelaksanaan program dan kemampuan masyarakat yang terbatas sehingga beberapa upaya fasilitasi percepatan/antisipasi dalam perencanaan teknis adalah : Penyediaan Gambar-gambar Prototype/Typikal dengan Penyediaan List/Daftar Kegiatan untuk tiap jenis sub-proyek (perhatian mungkin daftar ini belum termasuk galian, timbunan, bangunan pelengkapnya sesuai kondisi lapangan), Volume tiap jenis pekerjaan, Volume Kebutuhan Tiap jenis pekerjaan/keseluruhan sub proyek, formulir-formulir perencanaan yang diperlukan.

d) Pengorganisasian Pelaksanaan Perencanaan Teknis;

Setelah memahami Sasaran yang ingin dicapai, Lingkup Kegiatan, Rencana Biaya, Jadwal Pelaksanaan termasuk Kebutuhan Pengadaan Bahan/Alat yang diperlukan untuk Kegiatan pelaksanaan Perencanaan Teknis maka langkah selanjutnya adalah Pengorganisasian Masyarakat/Panitia untuk dapat melaksanakan kegiatan perencanaan teknis/penyusunan Proposal.

Adapun langkah-langkah pengorganisasian dalam perencanaan, meliputi : • Menyusun Struktur Organisasi; 

• Menentukan tugas dan tanggungjawab setiap orang/unit kerja Organisasi;  • Memilih/Menentukan  orang‐orang  yang  akan  melaksanakan  pekerjaan  atau 

tugas dan tanggungjawab tersebut (Tim Kerja); 

• Menjelaskan/Membagi tugas dan menyerahkan tanggungjawab kepada setiap orang/unit kerja agar mereka memahami dan melaksanakan dengan benar;

• Bimbingan, konsultasi dn kordinasi agar kegiatan dapat berjalan dengan baik;

II. PELAKSANAAN & PENGENDALIAN PERENCANAAN TEKNIS

Setelah semua rencana disusun, organisasi telah ditetapkan, orang-orang telah ditunjuk dan memahami tugas dan tanggungjawabnya, maka tahap selanjutnya adalah pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan sesuai urut-urutannya. Pelaksanaan hakekatnya adalah kegiatan menggerakkan, memotivasi dan mengkoordinasikan orang-orang atau unit kerja dalam organisasi agar dapat (Mampu dan Mau) melakukan tugas menurut aturan, efisiensi, produktif serta terkendali sehingga tujuan dapat dicapai sebaik-baiknya. Dalam hal ini maka peran yang dilakukan adalah

(21)

Memimpin/Mendampingi mereka dalam melaksanakan Apa Yang diInginkan (Tugas/kegiatan yang mereka lakukan).

No Aspek Hal/Kegiatan yang perlu disupervisi/ dikendalikan

1. Lingkup Kegiatan perencanaan

teknis • Cakupan Lingkup Kegiatan Perencanaan Teknis  secara umum  

2. Mutu/Kualitas Kegiatan • Penyediaan Lahan 

• Survey Teknis Prasarana  • Survey dan Kesepakatan Swadaya Masyarakat  • Survey dan Kesepakatan Harga Satuan Upah/Bahan/Alat  • Survey Calon Tenaga Kerja  • Desain/Spesifikasi Teknis/Gambar  • Daftar Kuantitas Pekerjaan/Lingkup Kegiatan Konstruksi  • Pengamanan Dampak Lingkungan  • RAB Pelaksanaan Konstruksi/ DED  • Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi  • Rencana Pengadaan  • Rencana Organisasi Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi  • Pernyataan Kesanggupan O&P  • Dokumen Proposal    3. Waktu • Waktu memulai dan lama waktu Pelaksanaan Kegiatan  

III. VERIFIKASI PROPOSAL KEGIATAN INFRASTRUKTUR

Untuk mewujudkan hasil pembangunan sarana & prasarana yang berkualitas, berfungsi baik dan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara berkesinambungan maka prosesnya tidak hanya dilakukan pada saat pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan saja, tetapi harus dimulai sejak awal persiapan dan perencanaan teknisnya.

Langkah-langkah Teknis Pelaksanaan Verifikasi

1. Tim Konsultan memfasilitasi BKM/Pokja/TPP untuk menyelenggarakan pertemuan membahas rencana Verifikasi Proposal. Verifikasi dilakukan dengan cara memeriksa/menilai kebenaran atau kelayakan dari setiap dokumen proposal yang ada. Panduan pemeriksaan ini menggunakan ceklist/formulir yang telah disediakan sebelumnya.

2. Setelah proses pemeriksaan selesai maka Tim membahas bersama Kesimpulan/Rekomendasi Hasil Verifikasi dengan ketentuan berikut :

• Layak : bila semua aspek yang dinilai mempunyai jawaban Ya/Terpenuhi.

• Layak dengan Penyempurnaan : bila hasil Penilaian terdapat satu atau lebih Jawaban aspek ”Tidak Layak” atau terdapat catatan penyempurnaan;

• Tidak Layak : bila ada jawaban ”Tidak Layak”/tidak sesuai kriteria, yaitu aspek organisasi dan aspek manajemen dan teknis kegiatan.

(22)

Pelaksanaan Kegiatan Infrastruktur

 

Langkah-langkah Pelaksanaan Pembangunan Yang harus dilaksanakan

Tahap Pelaksanaan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana pada dasarnya merupakan pelaksanaan kegiatan tahapan pemanfaatan dana dalam Siklus kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan. Kegiatan dalam tahapan ini pada garis besarnya dibagi atas 3 tahapan yaitu;

• Tahap persiapan pelaksanaan (Pembuatan Proposal)

• Tahap pelaksanaan konstruksi (Persiapan pelaksanaan, pelaksanaan pembangunan) • Tahap pasca pelaksanaan kronstruksi (Pembuatan Pelaporan LPJ, kegiatan panitia O&P)

Kelengkapan dokumen pada pelaksanaan kegiatan pembangunan infrastruktur:

Masing-masing kegiatan pada diagram tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Persiapan

 

Pelaksanaan

 

Pasca

Pembuatan Proposal;  • Usulan kegiatan  • Pernyataan Hibah/ Ijin pakai/ Ijin  dilalui/ Ganti rugi  • Daftar calon pekerja  • Berita Acara (BA) Hasil  Kesepakatan Swadaya Masyarakat  • Daftar hasil survey tenaga kerja/  bahan/ alat  • Hasil kesepakatan harga satuan  upah/ bahan/ alat  • Gambar peta situasi  • Gambar denah, tampak dan  potongan 2 arah  • Dokumentasi photo 0% (minimal 2  titik pengambilan)  • Penilaian terhadap Daftar Negatif  • Daftar uji identifikasi dampak  lingkungan  • Daftar kuantitas pekerjaan  • RAB Swadaya dan BLM‐ PNPM  • Jadwal pelaksanaan pekerjaan  • Daftar rencana pengadaan  • Struktur Organisasi lapangan  • Surat pernyataan kesanggupan  Pengoperasian dan Pemeliharaan  Persiapan Pelaksanaan;  • Penyiapan OP  • Penajaman Rencana Kerja  • Penandatangan SPPDL  • Melaksanakan MP2K  • Coaching KSM  • Sosialisasi kegiatan  • Pemasangan papan nama  kegiatan    Pelaksanaan Konstruksi;  • Pencairan dana  • Mobilisasi Tenaga kerja/ bahan/  alat  • Musyawarah pengadaan bahan/  alat  • Praktek kerja lapangan (OJT)  • Pelaksanaan konstruksi  • Supervisi pelaksanaan  • Rapat evaluasi kemajuan   • Pantauan dampak lingkungan  50% dan 100%  • Pembuatan dokumen photo 0%  dan 50%   • Perubahan pekerjaan  dilapangan  Pembuatan LPJ;  • Usulah kegiatan  • Laporan kemajuan kegiatan  dwi mingguan  • Kemajuan fisik  • Rekapitulasi realisasi  penggunaan dana  • Realisasi penggunaan dana  swadaya dan BLM PNPM  • Realisasi penggunaan tenaga  kerja  • Berita Acara Penyelesaian  Pekerjaan (BAP2)  • Surat Pernyataan  Penyelesaian Pekerjaan  (SP3)  • Sertifikasi Infrastruktur  • Gambar realisasi  • Dokumentasi photo 50% dan  100% (pada titik yang sama)   

(23)

1. TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN (KONSTRUKSI) A. Penyiapan Organisasi Pengelola Pemanfaatan & Pemeliharaan (O&P)

Penyiapan organisasi Pengelola Pemanfaatan & pemeliharaan prasarana disini mencakup kegiatan;

• Pembentukan Organisasi Pengelola (Struktur Organisasi) termasuk penentuan orang-orang yang akan bertanggungjawab pada setiap unit kerja

• Penyusunan Rencana Kerja Pemanfaatan dan pemeliharaan.

Pada prinsipnya semua prasarana yang telah dibangun harus dipelihara. Namun demikian, mengingat pemanfaat setiap prasarana tidak seluruhnya sama maka pembentukan/pengorganisasian O&P disini hanya diprioritaskan pada prasarana yang berifat umum/publik dan prasarana kelompok. Sedangkan untuk prasarana yang bersifat individu atau pengunaan oleh satu keluarga saja, tidak perlu dibentuk Organisasi Pengelolanya, seperti Jamban Keluarga, Saluran Limbah Rumah Tangga, karena sudah langsung dipelihara oleh masing-masing keluarga pengguna.

Secara lebih detail penjelasan apa dan bagaimana pelaksanaan dari kedua tahapan kegiatan tersebut diatas dapat dilihat pada Buku Tatacara Pemanfaatan & Pemeliharaan Sarana & Prasarana.

B. Penajaman Rencana Kerja

Suatu rencana kerja hendaklah dibuat serinci mungkin agar lebih mudah untuk dipahami dan dilaksanakan. Untuk mencapai hal tersebut tidak cukup mudah, apalagi ada keterbatasan kemampuan teknis personil dalam menyusun perencanaan dan keterbatasan waktu yang tersedia untuk merencanakan kegiatan. Untuk mengantisipasi adanya kelemahan-kelemahan dalam perencanaan tersebut maka perlu dilakukan evaluasi atau penajaman kembali rencana kerja sebelum pelaksanaan dimulai.

Penajaman rencana kerja yang dicakup disini antara lain adalah rencana jadwal pelaksanaan, rencana pengadaan/mobilisasi tenaga kerja/ bahan/alat, rencana tim pelaksana lapangan, rencana Calon Tenaga Kerja yang akan terlibat, termasuk rencana pelatihan administrasi dan teknis konstruksi bagi tim pelaksana lapangan.

Keseluruhan hasil penajaman rencana ini akan menjadi masukan dalam penyelenggaraan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi yang diselenggarakan oleh UPL.

C. Penandatanganan Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana-Lingkungan (SPPD-L)

SPPD-L merupakan salah satu bentuk kesepakatan perjanjian kerjasama antara BKM dengan KSM dalam rangka pemanfaatan dana BLM untuk pembangunan sarana & prasarana sesuai ketentuan-ketentuan yang dipersyaratkan. Hal-hal yang diatur dalam perjanjian ini antara lain :

• Hal – hal yang terkait dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan yaitu ; Lingkup kegiatan, dokumen perjanjian kerja, jangka waktu pelaksanaan serta nilai perjanjian kerja

• Hal-hal khusus yang masuk dalam perjanjian seperti hak dan kewajiban para pihak, tahap pencairan dana, penyelesaian pekerjaan dan pemeliharaan hasil pekerjaan

• Sedangkan hal – hal umum yang perlu diatur dalam perjanjian untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang timbul selama pelaksanaan pekerjaan seperti : sanksi, force majeure dan penyelesaian perselisihan

Dengan adanya perjanjian tersebut maka semua pihak baik BKM/UPL maupun KSM harus mentaatinya. Secara teknis bagaimana pelaksanaan isi kontrak tersebut agar dijelaskan kembali

(24)

oleh UPL/BKM kepada KSM/panitia/Pokja pada saat penyelenggaraan MP2K. Adapun contoh bentuk SPPD-L sebagaimana terlampir.

D. Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi (MP2K)

Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi disingkat MP2K adalah merupakan Rapat/Forum musyawarah warga dalam rangka Persiapan Pelaksanaan Konstruksi Fisik/Pembangunan Infrastruktur (Pre Construction Meeting/PCM). Jadi Rapat ini diselenggarakan sesegera mungkin setelah ditandatanganinya SPPD-L dan sebelum dimulainya kegiatan pembangunan prasarana/fisik. Penyelenggara kegiatan MP2K ini adalah BKM/UPL (dengan difasilitasi oleh Faskel Teknik) dan dihadiri oleh seluruh pihak KSM/Panitia/Pokja yang akan melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur diwilayahnya.

MP2K ini penting dilakukan mengingat masyarakat belum terbiasa, apa dan bagaimana pelaksanaan konstruksi itu dilakukan secara baik dan benar serta dapat dipertanggung jawabkan antar lain;

• apa yang diharapkan dari pelaksanaan MP2K

• apa saja yang perlu dipersiapkan UPL dalam pelaksanaan MP2K

• apa saja yang perlu dipersiapkan KSM/Panitia/Pokja dalam pelaksanaan MP2K • siapa saja peserta yang terlibat dalam pelaksanaan MP2K

• serta bagaimana mekanisme pelaksanaannya

E. Pelatihan (coaching) Teknis dan Administrasi Pelaksanaan Konstruksi

Yaitu bimbingan/coaching yang diberikan terutama oleh Faskel Teknik dan UPL tentang teknik-teknik pelaksanaan konstruksi prasarana dan administrasi pencatatan atau pelaporan kegiatan pembangunan prasarana yang akan dilakukan KSM/Panitia/Pokja selam pelaksanaan konstruksi. Kegiatan ini sangat penting dan diharapkan dapat dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan konstruksi guna meningkatkan pemahaman dan keterampilan KSM sehingga tidak menemui kesulitan dalam melaksanakan kegiatan konstruksi secara benar, sesuai persyarata teknis yang ditentukan.

Proses pembelajaran KSM ini diharapkan akan berlanjut pada kegitan “Praktek Kerja dilapangan/On the Job Trainning (OJT)” pada setiap awal pelaksanaan kegiatan konstruksi dilapangan (tahap pelaksanaan konstruksi).

F. Sosialisasi Kegiatan

Pada tahap ini, KSM melakukan sosialisasi kepada warga, khususnya anggota KSM bersangkutan mengenai keseluruhan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai SPPD-L;

G. Pembuatan dan Pemasangan Papan Nama Kegiatan

Sebelum kegiatan fisik dimulai, KSM/Panitia/Pokja harus membuat dan memasang papan nama kegiatan/sub-proyek pada tempat strategis dilokasi kegiatan. Papan nama ini dimaksudkan untuk memberikan informasi dan transparansi kegiatan serta wajib terpasang selama kegiatan pembangunan prasarana berlangsung, dan mencantumkan keterangan yang sudah ditentukan sebagai syarat minimal untuk diketahui masyarakat umum sebagai bentuk transparansi.

(25)

2. TAHAP PELAKSANAAN PEMBANGUNAN (KONSTRUKSI) A. Pencairan Dana (uang muka dan termin)

Pencairan dana pelaksanaan kegiatan konstruksi adalah merupakan tahap yang harus dilakukan oleh LKM kepada KSM/Panitia/Pokja yang terbagi dalam 3 termin dengan berbagai ketentuan, yaitu;

a) Bagaimana cara mengajukan uang muka/tahap pertama? b) Bagaimana cara mengajukan pembayaran tahap kedua

c) Bagaimana caranya mengajukan pembayaran tahap ketiga/terakhir

B. Mobilisasi Tenaga Kerja/ Bahan/ Alat

Kegiatan mobilisasi Tenaga Kerja adalah mendatangkan tenaga kerja yang diperlukan (masyarakat yang terdaftar untuk bekerja) guna melaksanakan kegiatan pembangunan fisik dilokasi pekerjaan. Sedangkan mobilisasi bahan dan alat adalah mendatangkan bahan (pembelian) dan alat (sewa) yang diperlukan untuk pembangunan sarana/prasarana kelokasi pekerjaan.

Sebagai pedoman pelaksanaannya adalah Daftar Rencana Pengadaan yang telah dibuat dan disepakati dalam MP2K sebelumnya (tahap persiapan pelaksanaan konstruksi).

Dalam rangka pengadaan bahan/alat ini, maka terdapat 2 (dua) ”Metode Pengadaan” yang telah ditentukan dalam PNPM (maupun untuk kegiatan seperti PAKET, Channeling dan ND) yang wajib diikuti, yaitu :

1. Metode pengadaan secara langsung 2. Metode pengadaan Terbatas.

Metode ini tercantum dalam Buku ”Suplemen Teknis Infrastruktur” atau ”Petunjuk Teknis Infrastrktur” secara mendetail.

C. Musyawarah Pengadaan Bahan dan Alat

Musyawarah Pengadaan Bahan/Alat adalah forum musyawarah pengadaan terbatas, untuk menetapkan siapa pihak ketiga yang akan menjadi mitra kerja KSM/Panitia/Pokja dalam rangka Pengadaan Bahan/Alat yang dibutuhkan. Jadi Forum ini hanya dilakukan pada setiap ada kegiatan Pengadaan Terbatas.

Penyelenggaraan Forum Musyawarah Pengadaan ini dimaksudkan untuk meningkatkan adanya transparanasi dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan, khususnya dalam pemanfaatan dana pada kegiatan pengadaan bahan/alat, bagi KSM Lingkungan/Panitia/Pokja.

Mekanisme pelaksanaan forum ini pada dasarnya merupakan mekanisme pelaksanaan secara sekaligus dari rangkaian acara : Pemasukan, Pembukaan, Evaluasi Penawaran Pemasok & Penetapan Pemenang pada proses pengadaan terbatas. Sedangkan peserta yang diundang adalah calon pemasok/toko dan anggota KSM/Panitia/Pokja terkait, wakil BKM, wakil UPL, Kepala Desa/Lurah, Tomas setempat dan Tim Konsultan

Hal terpenting yang juga harus diperhatikan dalam keseluruhan proses ini adalah kesesuaian jumlah maupun kualitas/ketrampilan dari tenaga kerja/bahan/alat yang akan dipergunakan/dimobilisasi serta ketepatan waktunya karena hal ini akan sangat mempengarhi kualitas akhir dan waktu penyelesaiaan suatu pekerjaan dilapangan.

(26)

D. Praktek Kerja dilapangan/ On the Job Training (OJT)

Yaitu magang atau latihan kerja atau pemberian contoh kerja langsung dilapangan, khususnya tentang teknik atau cara-cara pelaksanaan suatu kegiatan pembangunan prasarana yang akan dilaksanakan. Difasilitasi/dibimbing oleh fasilitator kelurahan/desa bidang teknik, UPL atau pihak ketiga yang akan melaksanakan pekerjaan konstruksi tersebut. Fokus perhatiaannya lebih kepada bagaimana cara pengerjaan yang benar dari suatu pekerjaan, misalnya bagaimana cara melaksanakan komposisi campuarn beton, bagaimana cara pengadukan (pemberian air), bagaimana cara pengangkutan atau pemasangannya, bagaimana cara pemadatan, bagaimana cara penyambungan, bagaiman cara perapihan/finishing pekerjaan, dll.

On the Job Training harus dilakukan terutama untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang kurang dipahami oleh masyarakat/tenaga kerja selama pelaksanaan kegiatan konstruksi di kegiatan PNPM maupun kegiatan lain seperti PAKET, Channeling dan ND.

E. Pelaksanaan Konstruksi/ Fisik

Pelaksanaan Konstruksi adalah serangkaian pelaksanaan kegiatan pembangunan/fisik saran & prasarana untuk mewujudkan bangunan yang direncanakan. Termasuk juga disini adalah kegiatan-kegiatan penanganan Dampak Lingkungan/mitigasi yang telah direncanakan. Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana tersebut, harus diperhatikan kesesuaian dari spesifikasi teknis (persyaratan teknis) agar bangunan yang dibuat lebih aman dan kuat sehingga benar-benar dapat dimanfaatkan lebih lama.

   

Tujuan Pelaksanaan melalui cara kerjasama oleh KSM/Panitia/Pokja dengan pihak ketiga ini adalah selain untuk memenuhi persyaratan teknis konstruksi, juga untuk meningkatkan prinsip transparansi, akuntabilitas pelaksanaan dan sekaligus dapat menjadi wahana pembelajaran bagi masyarakat dalam hal pekerjaan yang memerlukan teknologi yang rumit/sulit. Penting untuk diperhatikan bahwa pelaksanaan dengan cara kerjasama ini bukanlah ditujukan untuk mencari keuntungan finansial bagi KSM/Panitia melainkan semata-mata untuk memenuhi persyaratan teknis dan prinsip-prinsip diatas.

Beberapa hal yang berkaitan dengan cara pelaksanaan kerja tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

• Metode Kerja yang terdiri 3 kategori yang ada di PNPM-MP; o metode gotong royong

o metode Semi-gotong royong

o metode kerjasama (disub-kontrakkan)

Yang pada prinsipnya metode-metode kerja ini telah disiapkan sejak awal perencanaan teknis sebelumnya sepereti tahapo penyusunan RAB, penyusunan jadwal pelaksanaan dll. • Apa saja kegiatan yang boleh “dikerjasamakan” oleh KSM dengan pihak ketiga

Petunjuk pelaksanaan konstruksi dapat dilihat buku Jilid I-IV, Pedoman Teknis pembangunan sarana & prasarana, tentunya sesuai dengan prasarana yang ditangani.

(27)

Yang menjadi kriteria salah satu adalah;

o jika konstruksinya menggunakan teknologi tinggi/ metode kerja yang sulit dilakukan oleh masyarakat biasa

o jika pengadaan bahan dan alat yang melebihi Rp. 15 juta • Siapa saja pihak ketiga yang boleh kerjasama dengan KSM

Dimana KSM dapat bekerjasama dengan pihak ketiga denganketentuan;

o pengadaan alat/ bahan yaitu toko/pemasok alat atau toko/pemasok bahan o penyediaan operator alat berat (biasanya termasuk dengan alat beratnya)

F. Supervisi Pelaksanaan Konstruksi

Pengawasan/supervisi dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan untuk menjadikan segala kegiatan di proyek berlangsung dan berhasil sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan diperlukan untuk mengetahui segala bentuk administrasi maupun fisik pelaksanaan sesuai dengan ketentuan sehingga diharapkan dapat menjamin kualitas hasil dan perlu secara teratur/ periodik. Standar yang dipergunakan adalah mencakup standar konstruksi itu sendiri atau spesifikasi/persyaratan teknis pekerjaan, seperti kuantitas, dimensi/ukuran, kualitas, cara pengerjaan atau rencana kerja yang telah ditetapkan sebelumnya seperti biaya atau jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan, dan lain-lain. Sedangkan penyimpangan disini dapat merupakan hasil yang sesuai atau lebih baik (hal ini merupakan suatu prestasi) dan penyimpangan yang negatif atau tidak sesuai/dibawah standar yang telah ditetapkan (merupakan suatu masalah yang harus diselesaikan).

Pengawasan secara teratur merupakan cara yang diperlukan untuk menghindari hasil yang tidak dapat diterima yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti bentuk/ukuran konstruksi yang dibuat dilapangan tidak sesuai dengan desain/gambar kerja, ketrampilan kerja yang kurang, perubahan bahan (bermutu jelek), peralatan yang tidak sesuai atau tidak memadai, kuantitas yang kurang dan kondisi lain yang merugikan/menghambat kelancaran pekerjaan di lapangan.

Pengawasan pelaksanaan pembangunan prasarana pada prinsipnya dilakukan terhadap semua aspek kegiatan, namun demikian dalam proses pengawasan ini dapat difokuskan pada 5 (lima) aspek-aspek pengawasan pelaksanaan berikut :

1. Volume pekerjaan 2. Mutu/ kualitas pekerjaan 3. Waktu pelaksanaan 4. Biaya

5. Administrasi pelaksanaan

Supervisi pelaksanaan pekerjaan konstruksi mencakup kegiatan/tindakan mengawasi pelaksanaan pekerjaan sesuai standar konstruksi/rencana yang telah ditetapkan, kemudian mengadakan pengukuran/penilaian pelaksanaan sesuai standar pengukuran kegiatan tersebut dan membandingkan antara hasil pelaksanaan yang dicapai dengan standar/rencananya untuk mengetahui apakah ada penyimpangan (evaluasi).

(28)

G. Rapat Evaluasi Kemajuan Lapangan

Kegiatan evaluasi pada prinsipnya merupakan bagian dari proses pengawasan/pengendalian pelaksanaan kegiatan, hanya umumnya dilakukan untuk periode waktu tertentu, meskipun juga dapat dilakukan sewaktu-waktu (mendesak).

Rapat Evaluasi Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan adalah merupakan pertemuan yang dilaksanakan oleh KSM/Panitia/Pokja (tim pelaksana kegiatan) pada setiap setiap peride waktu tertentu (biasanya mingguan atau sesuai periode waktu yang disepakati) untuk mengevaluasi sejauhmana kemajuan pelaksanaan kegiatan telah dicapai, termasuk penyelesaiaan masalah yang muncul. Rapat ini dihadiri oleh semua pengurus/pelaksana kegiatan (termasuk dapat mengundang pihak-pihak terkait lainnya yang diperlukan).

Hasil pembahasan setiap agenda/permasalahan hendaknya dapat memberikan/menyepakati apa bentuk penyelesaian, siapa yang bertanggung jawab untuk pelaksanaannya, bagaimana cara pelaksanaannya dilapangan dan kapan akan dilakukan tindakan tersebut.

Hasil-hasil kesepakatan/pembahasan tersebut dicatat pada Notulen/Catatan Hasil Rapat Mingguan dan diarsipkan dengan baik.

H. Pemantauan dampak Lingkungan kondisi 50% dan 100%

Pengamanan dampak lingkungan adalah pelaksanaan seluruh kegiatan penanganan dampak lingkungan sebagaimana telah direncanakan sebelumnya. Sedangkan Pemantauan Dampak Lingkungan disini adalah merupakan monitoring atau pengecekan atas hasil pelaksanaan rencana tindakan penanganan dampak/mitigasi tersebut. Apakah telah dikerjakan atau belum selesai? Keseluruhan kegiatan pemantauan diatas dilakukan baik oleh KSM/Panitia/Pokja sendiri maupun oleh UPL dan Tim Konsultan dilapangan.

I. Pembuatan dokumentasi (photo-photo) kondisi 50% dan 100%

Yaitu potret kondisi atau keadaan pertengahan pelaksanaan pekerjaan (kira-kira pada progres mencapai 50%) atau keadaan akhir setelah pekerjaan selesai 100% pada lokasi dibangun Infrastruktur. Jumlah titik lokasi yang diambil/potret minimal sama dengan titik lokasi pengambilan potret kondisi nol (0%) sebelumnya. Penting untuk diperhatikan bahwa titik lokasi dan arah pengambilan gambar kondisi 50% dan 100% ini harus sama dengan titik dan arah pengambilan gambar kondisi awal (0%) sebelumnya.

J. Perubahan Pekerjaan dilapangan

Dalam pelaksanaan pekerjaan infrastruktur, seringkali tidak dapat dihindari adanya perubahan pekerjaan karena kesalahan desain atau perubahan kondisi lokasi prasarana yang mengakibatkan perubahan kontrak kerja/SPPD-L. Meskipun demikian, sedapat mungkin perubahan pekerjaan dilapangan dihindari karena bila terjadi kekurangan dana/volume pekerjaan dari rencana awal maka harus diupayakan dengan mengusahakan melalui swadaya.

Dalam keadaan tertentu, dimana usaha swadaya atau lainnya tidak cukup juga untuk menutupi volume sesuai rencana awal maka dapat dilakukan perubahan kegiatan dari rencana awal atau perubahan SPPD-L sehingga kegiatan tetap dapat selesai sesuai kontrak.

(29)

Perubahan SPPD-L adalah cukup dengan membuat Berita Acara Perubahan yang memuat adanya perubahan kegiatan yang terjadi dilapangan dari keadaan awal (SPPD-L sebelumnya). Apabila terjadi perubahan demikian maka KSM/Panitia/Pokja akan melaksanakan kegiatan dilapangan sesuai perubahan tersebut. Adapun yang boleh mengusulkan perubahan tersebut adalah dapat diajukan oleh BKM (bila menurut keputusan BKM perlu perubahan) atau boleh diajukan oleh KSM/panitia/Pokja karena menurut KSM/Panitia/Pokja harus dilakukan adanya perubahan dilapangan. Semua perubahan tersebut harus disetujui oleh Tim KMW.

K. Penyelesaian Pekerjaan KSM/ Panitia/ Pokja

Penyelesaian pekerjaan adalah pencapaian realisasi pelaksanaan pekerjaan dilapangan sesuai kuantitas/volume dan Nilai/biaya pekerjaan sebagaimana dicantumkan dalam SPPD-L beserta semua dokumen perjanjian yang merupakan bagian tak terpisahkan dari SPPD-L.

Dengan demikian maka Pekerjaan hanya dapat dikatakan selesai apabila dana BLM yang diusulkan oleh KSM/Panitia/Pokja sesuai SPPD-L (atau perubahannya), sudah habis dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan infrastruktur dan volume pekerjaan yang dilaksanakan telah sesuai rencana sebagaimana tercantum dalam SPPD-L atau perubahannya. Jadi ukuran untuk menyatakan bahwa kegiatan BLM telah selesai adalah dana BLM yang sudah habis (tidak ada sisa) dan jumlah volume pekerjaan yang dibuat dilapangan sudah dicapai sesuai dengan rencana (dinyatakan dalam dokumen SPPD-L).

L. Pemeriksaan/ Sertifikasi Kegiatan

Kegiatan pembangunan sarana & prasarana atau kegiatan Lingkungan yang dilaksanakan oleh masyarakat (KSM Lingkungan/Panitia/Pokja) merupakan salah satu komponen pendekatan pembelajaran masyarakat, dengan disalurkan dana kepada masyarakat secara langsung sebagai dana stimulan (dana BLM/PNPM MANDIRI PERKOTAAN).

Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat terjadi proses pembelajaran masyarakat untuk mewujudkan kebutuhkan akan sarana & prasarana yang berkualitas baik (berfungsi, kuat dan tahan lama) dan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara berkesinambungan .

Sejalan dengan hal tersebut, maka konsultan selaku pendamping masyarakat harus dapat mengawal dengan baik agar Investasi (melalui pembangunan fisik) yang diberikan benar-benar dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat.

Salah satu upaya yang diperlukan untuk memenuhi terwujudnya pembangunan sarana & prasarana yang berkualitas baik maka perlu dilakukan fasilitasi kepada masyarakat agar proses dan hasil penyusunan perencanaan teknik pembangunan sarana & prasarana sesuai ketentuan teknik yang dipersyaratkan. Selanjutnya, untuk memastikan bahwa hasil yang diharapkan benar-benar telah memenuhi ketentuan-ketentuan program dan teknis (kualitas baik dan bermanfaat) maka konsultan, khususnya tenaga-tenaga infrastruktur bersama UPL harus melakukan

(30)

Menyiapkan Langkah Kerja UPL

 

Oleh : Ugraneta 

Pemahaman Tugas UPL

Sebagai tanggung jawab lingkup pekerjaan UPL adalah salah satunya memiliki perencanaan kedepan terhadap seluruh pengendalian kegiatan lingkungan dan agar tujuan itu tercapai terlebih dahulu UPL harus memahami tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi).

Sebagai contoh; jika kita akan melakukan pembangunan pos jaga, maka kita akan menyiapkan segala sesuatu agar terbangun dengan baik dan bermanfaat, seperti; dimana lokasi yang tepat, bagaimana ijin lokasinya, siapa saja pekerja yang akan membangun, bagaimana dananya, bagaimana materialnya berkualitas baik atau tidak, dimana harga termurah dan baik, bahkan bagaimana bentuk desain yang akan dikerjakannya dan seterusnya.

Untuk menghasilkan kinerja yang baik dan berkualitas serta bermanfaat , tentu harus dipikirkan bersama melalui proses persiapan, perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pasca pembangunan. Dan itu berlaku juga pada kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan dimana memiliki suatu proses dimasyarakat agar mereka paham dan mengerti bagaimana cara membangun yang baik dan benar.

Untuk itu ada beberapa langkah yang kiranya dapat disiapkan oleh UPL, antara lain;

1. Memiliki Visi dan Misi

Visi adalah suatu pandangan yang akan menjadi dasar untuk suatu tujuan dan harapannya visi itu harus dicapai dan dapat direalisasikan. Dalam pelaksanaannya perlu dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan yang akurat dan dengan perhitungan yang akurat maka hal tersebut akan dicapai sesuai harapan.

Didalam PNPM Mandiri Perkotaan dimana visinya adalah merupakan suatu pandangan/ cita-cita masyarakat kelurahan, makan sebaiknya dilakukan bersama-sama masyarakat atau dirumuskan bersama-sama, apakah masyarakat kelurahan mempunyai visi kedepan untuk membangun wilayahnya serta dapat menanggulangi kemiskinan didaerahnya.

Langkah menentukan misi adalah suatu usaha yang dilakukan dalam visi dan misi yang akan dikembangkan berikutnya dan itu merupakan harapan/ visi yang akan dicapai.

Sebagai contoh Misi didalam pembangunan prasarana dan sarana PNPM Mandriri Perkotaan; • Membangun sesuai kebutuhan masyarakat

• Masyarakat dapat berswadaya

• Memiliki kualitas baik dengan kualitas material yang baik dan konstruksi yang benar • Hasil pembangunan berfungsi dan dapat bermanfaat

• Adanya kepedulian dengan aktifnya panitia O & P

• Menjadikan kawasan yang berwawasan lingkungan terpadu • Dll

2. Menyiapkan Rencana Kerja (jadwal kerja)

Sebagai salah satu pengendalian UPL pada kegiatan lingkungan adalah harus memiliki rencana kerja baik bulanan, mingguan ataupun harian. Tujuan langkah pembuatan rencana kerja ini adalah untuk

Gambar

Tabel Monitoring Kegiatan KSM Lingkungan 
Tabel Aspek Pengendalian Mutu Pelaksanaan Infrastruktur
Gambar 2. Diagram Alir Proses Sertifikasi Kegiatan
Tabel Rancangan Pokok-Pokok Peraturan Dasar O&P  Bagian  Aspek-aspek Penguraian  Keterangan  Bab I
+3

Referensi

Dokumen terkait

Bidang pekerjaan : artinya setiap kotaj dalam struktur organisasi Bidang pekerjaan : artinya setiap kotaj dalam struktur organisasi memberikan informasi mengenai tugas –tugas

Peraturan Menteri Pertanian Mengenai Organisasi dan Tata Kerja Balittri serta. Rincian Tugas Pekerjaan Unit Kerja Eselon IV

Oleh karena itu berdasarkan uraian di atas, apabila komponen- komponen struktur organisasi yang mendukung disusun dengan baik antara pembagian kerja atau spesialisasi disusun

Dapat Menjelaskan tentang Struktur Organisasi , fungsi, dan uraian tugas Pokok Unit Kerjaa. Dapat Menjelaskan tentang Proses bisnis Unit Setempat dan Program

Tipe kedua, struktur organisasi produk atau pasar merupakan struktur organisasi yang pembagian organisasinya berdasarkan divisi yang menghimpun suatu unit kerja

Aspek penting dalam pengorganisasian menyangkut struktur organisasi yang disusun berdasarkan : Departemen, pembagian kerja, koordinasi, rentang manajemen.. Organisasi

Departementalisasi adalah merupakan pengelompokan-pengelompokan kegiatan-kegiatan kerja suatu organisasi agar kegiatan-kegiatan yang sejenis dan saling berhubungan

Struktur Organisasi Di dalam suatu bisnis usaha diperlukan struktur organisasi yang jelas, sehingga dapat mengatur pekerjaan dari para tenaga kerja agar sesuai dengan bidang tugas yang