SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi

115 

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Diajukan oleh : Devi Chandra Kristanti

NIM : 018114131

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2008

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(2)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4)

!

"

#

$%

&'()*+

"

,

,

,

'

#

"

,

-,

!

.

/

,

, )

,

iv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(6)

vi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7)

PRAKATA

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas

berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi

yang berjudul “Persepsi dan Motivasi Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan

Purwodiningratan Solo Terhadap Iklan Susu Formula Anak di Televisi” disusun

untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat

benyak kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan menulis.

Oleh karena itu penulis mengaharapkan kritik dan saran yang membangun.

Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak.

Penulis dengan ketulusan hati menyampaikan ucapan terima kasih

sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Rita Suhadi,MSi.,Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi dan dosen

pembimbing yang telah menyediakan waktu dan tenaga untuk berdiskusi serta

memberikan saran dalam skripsi ini. Serta dengan kesabarannya memberikan

motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Ibu Aris Widayati, Msi., Apt selaku dosen penguji yang telah banyak

memberikan masukan dalam skripsi ini

3. Ibu Yustina Sri Hartini, Msi., Apt. selaku dosen penguji yang telah banyak

memberikan masukan dalam skripsi ini

4. Bapak Drs. Sri Wahyono, MSi selaku kepala kelurahan Purwodiningratan

Solo yang telah memberikan ijin bagi penulis untuk melakukan penelitian ini.

vii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8)

5. Ibu Dra.Endang selaku kepala puskesmas kelurahan Purwodiningratan Solo

yang bertanggung jawab terhadap posyandu yang telah memberikan masukan

dalam skripsi ini.

6. Ibu- ibu Anggota posyandu kelurahan Purwodiningratan Solo yang telah

bersedia meluangkan waktu untuk mengisi dan menjawab pertanyaan dalam

kuisioner dan wawancara dalam penelitian ini.

7. Ibu-ibu di Kanjengan Klaten dan Timbulrejo Yogyakarta yang bersedia

membantu mengisi kuisioner untuk uji validitas.

8. Papah Harsono, Spd dan Ibu Tutanti Marhaeni,SE untuk segala pengorbanan,

motivasi, doa dan kasih sayangnya yang diberikan.

9. Mas Denny Mahendra, MM dan Mas Galih Wisnu Wardhana serta kedua

keponakanku yang selalu memberikan doa dan motivasi.

10.Mas Prie terkasih, terimakasih untuk dukungan doanya, kesetiaan, cinta, kasih

sayang, kesabaran dan semangat yang diberikan hingga saat ini.

11.Sahabat-sahabatku tersayang mba Nisa, mba Fitri, Diyah, Shinta, Hendi, Mz

Koko, Mz Wayan terimakasih sedalam-dalamnya untuk dukunganya dan

segala bantuannya serta motivasi yang diberikan.

12. Untuk tampungan curhatku Dika dan Tedy thanks ya friend buat saran n

motivasinya. Aq semakin dikuatkan karena kalian.

13.Teman-teman mainku Pinky, Jeng2, Polo mba Ari, mba Arum, Bebex, Rini,

Deka, mba Tildy, mba Shinta Ratu, mba Mira, Eros, bang Ignas, bang Yul,

bang Zendy, Aril, Puxon, Dani, bang Mail, Pay dan temen-temen mainku yang

viii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(9)

tidak bisa kusebutkan satu persatu terimakasih untuk keceriaan dan

kebahagiaan selama ini. Kalian kenangan terindah yang kumiliki.

14.Bora, Milda, dan Melinda terimakasih untuk persahabatanya dan motivasinya.

Semoga kalian semua sukses dan tetap ingat persahabatan kita.

15.Puji, Dika, mas Wahyu, mba Tika, mas Kris terimakasih untuk perhatiannya

dan bantuannya.

16.Semua teman-teman kelas C, terutama kelompok praktikum E terimakasih

untuk keceriaannya selama praktikum.

17.Semua pihak yang telah membantu dan tidak dapat saya sebutkan satu persatu,

sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Tuhan Yesus Kristus akan membalas semua kebaikan atas semua yang

telah diberikan kepada penulis. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi pembaca. Tuhan memberkati.

Yogyakarta, Oktober 2007

Penulis

ix

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

INTISARI ... xviii

ABSTRACT... xix

BAB I PENGANTAR... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah... 5

C. Keaslian Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian... 6

E. Tujuan Penulisan... 7

x

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(11)

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA ... 8

A. Media Massa ... 8

B. Iklan ... 9

C. Peraturan Periklanan... 10

D. Persepsi ... 12

1. Perhatian... 13

a. Faktor Internal... 13

b. Faktor Eksternal ... 14

2. Faktor-faktor Fungsional... 14

3. Faktor-faktor Struktural ... 14

E. Motivasi ... 15

F. Sikap dan Perilaku... 17

G. Susu ... 20

1. Susu Segar ... 21

2. Susu Asam... 21

3. Susu Skim... 21

4. Susu Bubuk... 22

5. Susu Kental Manis ... 22

6. Susu Kaleng Tanpa Perubahan atau Penambahan Zat Lain... 22

H. Asam Dokosaheksanoat dan Asam Arakhidonat... 25

I. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak... 27

xi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(12)

1. Pertumbuhan... 28

2. Perkembangan ... 28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 30

B. Definisi dan Operasional Penelitian ... 30

C. Subjek Penelitian ... 32

D. Instrumen Penelitian ... 33

E. Tata Cara Penelitian... 35

1. Observasi Iklan ... 35

2. Pembuatan Kuisioner ... 35

a. Data Pribadi Responden ... 36

b. Tingkat Pengenalan Responden ... 37

c. Persepsi Motivasi dan Tindakan Responden ... 38

3. Uji Validitas... 40

4. Uji Reliabilitas ... 41

5. Penyebaran Kuisioner... 42

6. Pengolahan Hasil... 42

F. Analisa Data Penelitian... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Karakteristik Iklan Susu Formula Anak di Televisi ... 44

B. Karakteristik Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo ... 47

xii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(13)

1. Usia Ibu ... 47

2. Usia Anak ... 48

3. Tingkat Pendidikan Ibu ... 50

4. Pekerjaan Ibu ... 51

5. Pendapatan dalam Keluarga ... 53

6. Susu Formula yang Digunakan Anak... 54

C. Tingkat Pengenalan dan Persepsi Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo ... 55

1. Lama Waktu Menonton Televisi Setiap Hari ... 55

2. Tingkat Keseringan Melihat Tayangan Iklan Susu Formula Anak di Televisi Setiap Hari ... 56

3. Iklan Susu Anak yang Sering Dilihat... 58

4. Sumber yang Dipercaya dalam Memberikan Saran... 59

D. Motivasi dan Tindakan Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo ... 68

E. Rangkuman Pembahasan ... 72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 76

A. Kesimpulan ... 76

B. Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 78

LAMPIRAN ... 79

BIOGRAFI ... 96

xiii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel I. Perbandingan Kandungan ASI dan Susu Sapi... 24

Tabel II Bobot Relatif Komponen dalam Skala Persepsi, Motivasi dan

Tindakan Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan

Purwodiningratan... 38

Tabel III. Aspek dan Distribusi Skala Persepsi dan Motivasi Ibu-ibu

Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo... 39

Tabel IV Karakteristik Beberapa Iklan Susu Anak di Televisi Swasta

Tahun 2007... 45

Tabel V Usia Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan

Purwodiningratan Solo... 48

Tabel VI Usia Anak Yang Mengkonsumsi Susu Formula... 49

Tabel VII Tingkat Pendidikan Ibu Anggota Posyandu Kelurahan

Purwodiningratan Solo... 50

Tabel VIII Jenis Pekerjaan Para Ibu Anggota Posyandu Kelurahan

Purwodiningratan Solo... 52

Tabel IX Pendapatan Dalam Keluarga Para Ibu Anggota Posyandu

Kelurahan Purwodiningratan Solo... 53

Tabel X. Jenis Susu Formula yang Sering Dikonsumsi Oleh Anak di

Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo... 54

Tabel XI. Lama Waktu Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan

Purwodiningratan Solo Menonton Televisi

xiv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(15)

dalam Satu Hari ... 56

Tabel XII. Frekuensi Responden Melihat Tayangan Iklan Susu

Anak Setiap Hari... 57

Tabel XIII. Iklan Susu Anak yang Sering Dilihat Responden... 58

Tabel XIV. Sumber yang Dipercaya Responden dalam

Pemilihan Susu Anak ... 60

Tabel XV. Rekapitulasi Hasil Kuisioner Tentang Persepsi

Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan

Purwodiningratan Solo... 62

Tabel XVI. Rekapitulasi Hasil Motivasi Ibu-ibu Anggota Posyandu

Kelurahan Purwodiningratan Solo... 69

Tabel XVII. Rekapitulasi Hasil Tindakan Ibu-ibu Anggota Posyandu

Kelurahan Purwodiningratan Solo... 70

xv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema Proses Terjadinya Perilaku ... 16

Gambar 2. Mekanisme Terjadinya Motivasi dan Tindakan Setelah

Melihat Tanyangan Iklan ... 17

xvi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian ... 79

Lampiran 2. Kuisioner untuk Uji Validitas dan Reabilitas... 80

Lampiran 3. Kuisioner untuk Penelitian... 84

Lampiran 4. Rekapitulasi Hasil Kuisioner Bagian Persepsi

Terhadap Iklan Susu Anak di Televisi... 88

Lampiran 5. Rekapitulasi Hasil Kuisioner Bagian Motivasi

Terhadap Iklan Susu Anak di Televisi... 91

Lampiran 6. Rekapitulasi Hasil Kuisioner Bagian Tindakan

Terhadap Iklan Susu Anak di Televisi... 92

Lampiran 7. Hasil Wawancara

xvii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(18)

INTISARI

Informasi mengenai produk susu formula bayi sangat mudah diperoleh melalui iklan di berbagai media. Televisi merupakan salah satu media elekronik yang memiliki pengaruh besar terhadap konsumen. Iklan merupakan salah satu media bagi produsen untuk mengenalkan produknya kepada konsumen. Iklan susu formula anak di televisi dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap ibu-ibu anggota posyandu kelurahan Purwodiningratan Solo dalam pemilihan susu formula untuk anak.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui persepsi konsumen tentang iklan susu anak di televisi, pengaruhnya terhadap motivasi pemilihan susu anak serta tindakan yang dilakukan dalam memilih susu untuk anak. Jenis penelitian adalah non eksperimental dengan rancangan penelitian deskriptif dan metode yang digunakan dalam pengambilan data menggunakan kuisioner, wawancara dan observasi terhadap iklan produk susu anak di televisi. Data dianalisa secara deskriptif dengan menjumlahkan setiap jawaban dan selanjutnya dipersentase.

Hasil penelitian menunjukkan karakteristik iklan susu formula yang tayang di televisi swasta sebagian besar sudah memenuhi kriteria menurut asal dan sifat, isi dan komposisi, mutu dan kegunaan seperti yang terdapat pada Permenkes RI nomor 79/MEN.KES/PER/III/1978. Karakteristik responden persentase terbesar ditunjukkan usia responden 31-35 tahun (36,0%), usia anak >1-3 tahun (46,5%), tingkat pendidikan SMU (27,2%), profesi sebagai ibu rumah tangga (37,7%), penghasilan Rp.500.000,00-Rp.1.000.000,00 (29,8%), pemakaian susu formula SGM (51,8%).

Pengenalan responden terhadap iklan susu formula di televisi menunjukkan persentase terbesar lama menonton televisi 3-5jam (48,3%), frekuensi keseringan >5 kali melihat iklan (42,1%), iklan SGM (73,7%), saran dokter (61,4%). Persepsi setuju (96,5%) responden menyukai iklan susu formula. Motivasi (66,7%) responden setuju iklan susu formula di televisi menjadi pertimbangan dalam menentukan susu formula anak. Tindakan (85,1%) responden setuju untuk tidak mencoba produk susu formula baru yang diiklankan.

Kata kunci: susu formula, iklan, persepsi, motivasi, tindakan.

xviii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(19)

ABSTRACT

The information that concerning about milk product of formula baby can be obtained through advertisement in various media. Television represent one of the media elekronic media that give major effect to the consumer. Advertisement represent one of the media to producer to define its product to consumer. Milk advertisement of formula baby in television can give big influence to housewife as Posyandu member in sub-district of Purwodiningratan Solo in election of milk of formula baby.

Intention of this research is to know the perception of the consumer about baby milk advertisement in television, its influence toward motivation election of baby milk and also action performed within choose milk for the baby of. Research type is the non eksperimental with descriptive research device is non analytic and method which is used in intake of data use questionnaire, interview, and observation to baby milk product advertisement in television. Data is analyzed descriptively by suming each, every answer and hereinafter percentage.

Result of research show milk advertisement characteristic of formula which display in private sector television mostly have fulfilled criterion such as those which there are at Permenkes RI No 79/MEN.KES/PER/III/1978. Shown by biggest percentage of responder characteristic of age 31-35 year ( 36,0%), child age > 1-3 year ( 46,5%), storey;level education of SMU ( 27,2%), profession as housewife (37,7%), the income of house wife Rp.500.000,00-Rp.1.000.000,00 (29,8%), usage of milk of formula SGM (51,8%).

Recognition of responder to milk advertisement of formula in television show biggest percentage of the long time to watch television 3-5 hours (48,3%), frequency often > 5 times watch advertisement (42,1%), advertisement of SGM (73,7%), doctor suggestion (61,4%). Perception (96,5%) responder agree to take a fancy to milk advertisement. Motivation (66,7%) responder agree milk advertisement of formula in television become consideration in determining milk of formula baby. Action (85,1%) responder agree in order not to try new formula milk product which advertised

Keyword: milk of formula, advertisement, perception, motivation, action

xix

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(20)

BAB I PENGANTAR

A Latar Belakang

Media masa merupakan salah satu cara yang digunakan untuk

menyampaikan sesuatu kepada masyarakat baik itu informasi maupun hiburan

untuk menunjang kesejahteraan masyarakat. Media masa yang dikenal adalah

media cetak yang meliputi koran, tabloid, majalah dan media elektronik yang

meliputi radio, televisi dan komputer. Media elektronik ini dilihat dari sisi

ekonomi lebih mahal dibandingkan media cetak, namun seiring dengan kemajuan

jaman media elektronik lebih mendapatkan perhatian dari masyarakat. Media

elekronik dilengkapi suara misalnya radio, atau suara dan gambar misalnya

televisi sehingga masyarakat lebih tertarik dibandingkan media cetak yang hanya

menampilkan tulisan dan gambar saja.

Pada masa sekarang ini televisi memiliki peranan yang sangat penting

bagi kehidupan sosial masyarakat. Televisi selalu menyajikan informasi terbaru

yang sedang berkembang bahkan juga menyajikan tayangan hiburan yang

menarik. Oleh karena itu televisi lebih mendapatkan perhatian dari masyarakat

dibandingkan dengan jenis media lain. Penayangan iklan di televisi merupakan

salah satu strategi produsen dalam mengenalkan produknya kepada masyarakat.

Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat mendapatkan informasi

tentang produk baru dari penayangan iklan di televisi. Bahkan tidak sedikit pula

masyarakat yang tertarik untuk mencoba produk yang ditawarkan karena tayangan

1

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(21)

iklan yang dikemas secara menarik. Iklan yang bagus dan menarik belum tentu

barang yang ditawarkan memiliki jaminan kualitas yang bagus. Khususnya untuk

produk-produk yang berhubungan dengan kesehatan, masyarakat harus selektif

dalam memilihnya karena berhubungan dengan efek samping yang mungkin

merugikan yang dapat ditimbulkan.

Susu merupakan makanan utama bagi bayi karena adanya kandungan

protein, lemak, zat kapur serta vitamin-vitamin yang diperlukan dalam

pertumbuhan bayi. Susu yang baik yang wajib dikonsumsi bayi adalah air susu

ibu (ASI) karena komposisi dari ASI sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi.

Bayi usia 0-6 bulan wajib diberikan ASI ekslusif. Sekarang sudah merupakan

konsensus internasional, termasuk para ahli WHO, bahwa pemberian ASI

dianjurkan untuk jangka panjang sampai mencapai dua tahun (Sediaoetama,

2004). Namun demikian ada juga ibu yang memberikan ASI dalam jangka

pendek. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, antara lain volume

sekresi ASI yang dihasilkan sedikit, kesibukan ibu sehingga tidak sempat

memberikan ASI, takut penampilan akan berubah, dan masih banyak faktor lain

yang menjadi alasan pemberian ASI dalam jangka pendek. Untuk itu diperlukan

alternatif pengganti ASI untuk menunjang pertumbuhan anak yaitu susu formula.

Susu formula merupakan alternatif pengganti ASI yang memiliki

komposisi yang hampir sama dengan ASI. Anak yang mengkonsumsi susu

formula diharapkan dapat tercukupi kebutuhan gizinya untuk menunjang

pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Hal ini dikarenakan dalam

susu formula mengandung zat-zat gizi seperti karbohidrat, lemak, protein dan 2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(22)

vitamin-vitamin yang diperlukan anak. Susu formula ini dapat diberikan pada

anak usia diatas 6 bulan sebagai pendamping ASI.

Penelitian ini dilakukan di kelurahan Purwodiningratan Solo. Kelurahan

Purwodiningratan ini termasuk kawasan padat penduduk dan memiliki latar

belakang yang berbeda beda, seperti suku bangsa, tingkat pendidikan, tingkat

penghasilan dan yang lainnya. Kondisi seperti ini dapat mewakili masyarakat

Indonesia yang. Oleh karena perlu adanya informasi yang benar tentang hal-hal

yang berhubungan dengan kesehatan sehingga masyarakat dapat lebih selektif

dalam memilih produk-produk yang berhubungan dengan kesehatan khususnya

susu formula untuk anak. Selain itu juga perlu dilaksanakan kegiatan-kegiatan

yang menunjang kesehatan masyarakat, salah satunya adalah kegiatan Pos

Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Posyandu ini diadakan di masing-masing RW di kelurahan ini. Jumlah

posyandu di kelurahan Purwodiningratan adalah sembilan posyandu. Puskesmas

bertanggung jawab langsung terhadap kelangsungan posyandu ini. Anggota dari

posyandu adalah anak-anak usia 0 sampai 5 tahun, para ibu, manula. Kegiatan

posyandu untuk anak-anak misalnya penimbangan badan, imunisasi, pemberian

vitamin, pemberian makanan yang memenuhi standar nilai gizi. Kegiatan untuk

para ibu yaitu penyuluhan-penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan keluarga,

konsultasi KB dan lain lain. Para Manula dalam posyandu memiliki kegiatan

misalnya penimbangan badan, pemantauan kesehatan (pemeriksaan tekanan

darah, konsultasi gejala-gejala penyakit yang mulai muncul), pemberian makanan

yang memenuhi standar nilai gizi.

3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(23)

Pada masa sekarang ini kenaikan harga susu menjadi topik yang sangat

penting untuk dibahas diberbagai media. Susu formula ini bahkan ada yang

mengalami kenaikan harga hingga 5-7%. Namun demikian masyarakat harus

berusaha untuk memenuhi kebutuhan susu untuk anak walaupun harga susu di

pasaran meningkat. Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah hal itu menjadi

beban, bahkan tidak sedikit pula anak yang mengalami gizi buruk. Untuk itu perlu

upaya dari pemerintah untuk memberikan kebijakan tentang harga susu agar dapat

dijangkau masyarakat.

Penelitian mengenai persepsi konsumen terhadap iklan susu anak di

televisi dan pengaruhnya terhadap motivasi pemilihan susu untuk anak sangat

penting dilakukan. Semakin banyaknya produk susu formula yang beredar dan

frekuensi iklan susu formula yang tayang di televisi yang semakin banyak dan

bervariasi mendasari dilakukannya penelitian ini. Iklan susu formula yang

bervariasi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan persepsi masyarakat yang

berbeda dan apabila tingkat pengetahuan masyarakat yang kurang dapat

menimbulkan kerugian bagi masyarakat sendiri. Penelitian sebelumnya oleh

Amirudin tahun 2007 tentang promosi susu formula menghambat pemberian ASI

ekslusif pada bayi 6-11 bulan di kelurahan Pa’Baeng Makasar juga menjadi latar

belakang untuk memperkuat perlu diadakan penelitian ini.

Iklan televisi memiliki pengaruh yang besar terhadap tindakan yang akan

dilakukan oleh konsumen. Iklan susu di televisi ini menyajikan informasi yang

dikemas secara menarik untuk mendapatkan perhatian dari konsumen. Oleh

karena itu masyarakat harus selektif dalam memilih produk susu anak, apakah 4

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(24)

komposisinya sesuai dengan yang dibutuhkan untuk perkembangan bayi atau

tidak. Selain itu juga dilihat dari sisi ekonomisnya, belum tentu harga susu yang

mahal memiliki kualitas yang bagus dibandingkan harga susu yang lebih murah.

Iklan juga harus dipertimbangkan karena tidak semua iklan yang menarik

memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga masyarakat

sendiri yang diharapkan mampu memilih kebutuhan susu yang sesuai untuk anak.

B. Rumusan Permasalahan

Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi untuk mengetahui persepsi

konsumen dan pengaruh iklan televisi terhadap pemilihan produk susu anak oleh

para ibu di Posyandu kalurahan Purwodiningratan. Rumusan permasalahannya

adalah :

1. Seperti apa karakteristik iklan susu formula anak di stasiun televisi swasta

pada bulan Januari 2007?

2. Seperti apa karakteristik ibu-ibu anggota Posyandu kelurahan

Purwodiningratan Solo?

3. Sejauh mana pengenalan dan persepsi ibu-ibu anggota Posyandu kelurahan

Purwodiningratan Solo terhadap iklan susu formula anak di televisi?

4. Sejauh mana motivasi dan tindakan yang dilakukan ibu-ibu anggota posyandu

kelurahan Purwodiningratan Solo setelah melihat tayangan iklan susu formula

di televisi?

5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(25)

C. Keaslian Penelitian

Sepanjang penelusuran pustaka oleh penulis, penelitian tentang persepsi

konsumen tentang iklan susu formula anak di televisi dan pengaruhnya terhadap

motivasi pemilihan susu anak oleh para ibu di kelurahan Purwodiningratan Solo

belum pernah dilakukan. Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan adalah

oleh (Amirudin, 2007) tentang promosi susu formula menghambat pemberian ASI

eksklusif pada bayi 6-11 bulan di kelurahan Pa’Baeng Makasar tahun 2006.

Penelitian mengenai persepsi konsumen tentang iklan susu anak di televisi

terhadap motivasi pemilihan susu anak berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Penelitian ini membahas seperti apa persepsi konsumen terhadap iklan susu anak

dan sejauh mana iklan televisi ini mempengaruhi terhadap motivasi pemilihan

susu anak oleh para ibu di Posyandu kelurahan Purwodiningratan Solo.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Penelitian ini secara teoritis bermanfaat untuk mendapatkan informasi

tentang persepsi konsumen tentang iklan susu bayi di televisi dan pengaruhnya

terhadap pemilihan produk susu anak.

2. Manfaat praktis

a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi konsumen

dalam memilih susu formula anak untuk menunjang kesehatan masyarakat

b. Masyarakat diharapkan mampu secara selektif memilik produk yang tepat

untuk dikonsumsi tanpa terpengaruh iklan di televisi.

6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(26)

E. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui karakteristik iklan susu formula anak di televisi swasta pada bulan

Januari 2007.

2. Mengetahui karakteristik ibu-ibu anggota posyandu kelurahan

Purwodiningratan Solo.

3. Mengetahui sejauh mana pengenalan dan persepsi ibu-ibu anggota posyandu

kelurahan Purwodiningratan Solo terhadap iklan susu formula anak di televisi.

4. Mengetahui sejauh mana iklan susu formula anak di televisi berperan dalam

motivasi dan tindakan dalam pemilihan susu formula oleh ibu-ibu anggota

posyandu kelurahan Purwodiningratan Solo.

7

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(27)

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Media Massa

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi,

radio, surat kabar majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam

pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi

sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti

yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai

sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap

hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila

cukup kuat akan memberikan dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga

terbentuklah arah sikap tertentu (Azwar, 2005).

Walaupun pengaruh media massa tidak sebesar pengaruh interaksi

individual secara langsung, namun dalam proses pembentukan dan perubahan

sikap, peranan media massa tidak kecil artinya. Salah satu bentuk informasi

sugestif dalam media massa, yaitu iklan selalu dimanfaatkan dalam dunia usaha

guna meningkatkan penjualan atau memperkenalkan suatu produk baru. Informasi

dalam iklan selalu berisi segi positif mengenai produk sehingga dapat

menimbulkan pengaruh afektif yang positif (Azwar, 2005).

Dalam penayangan iklan di televisi, informasi-informasi faktual yang

seharusnya disampaikan secara obyektif seringkali dimasuki unsur subyektivitas

baik sengaja maupun tidak. Hal ini dilakukan oleh suatu perusahaan dengan

8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(28)

membuat tayangan iklan yang menarik, karena merupakan strategi perusahaan

untuk menarik perhatian konsumen terhadap produk yang ditawarkan. Hal ini

seringkali berpengaruh terhadap sikap konsumen yang menyaksikan tayangan

iklan tersebut sehingga dengan hanya menerima berita yang sudah dimasuki unsur

subjektif itu, terbentuklah sikap tertentu, misalnya dengan pengambilan tindakan

membeli.

B. Iklan

Iklan adalah penyajian informasi nonpersonal tentang suatu produk,

merek, perusahaan atau toko yang dilakukan dengan bayaran tertentu. Pada iklan

biasanya ditampakkan organisasi yang mensponsorinya. Iklan ditujukan untuk

mempengaruhi afeksi dan kognisi konsumen, evaluasi, perasaan, pengetahuan,

makna, kepercayaan, sikap dan citra yang berkaitan dengan produk dan merek.

Dalam prakteknya iklan telah dianggap sebagai manajemen citra (image

management) yaitu menciptakan dan memelihara citra dan makna dalam benak

konsumen. Tujuan pertama iklan akan mempengaruhi afeksi dan kognisi, tujuan

yang paling akhir adalah bagaimana mempengaruhi perilaku pembelian konsumen

(Peter dan Olson, 2000).

Tujuan utama iklan adalah memberikan informasi tentang produk–produk

baru kepada konsumen, tanpa adanya iklan mungkin kita banyak tertinggal oleh

begitu banyaknya produk baru hasil dari perkembangan teknologi. Bagi mereka

yang jarang bepergian untuk berbelanja ataupun jalan-jalan atau sekedar melihat

lihat di pasaran, iklan merupakan sumber informasi bagi mereka. Dengan 9

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(29)

banyaknya jenis produk yang diiklankan atau dipasarkan tentu saja

perbendaharaan kita tentang produk menjadi semakin banyak (Kusno, 1993).

Selain memberi informasi tentang produk yang memang sangat berguna

bagi konsumen, iklan bermaksud membujuk konsumen agar mau membeli produk

yang diiklankan. Tetapi karena persaingan yang makin ketat yang disebabkan oleh

semakin banyaknya produk baru, seringkali iklan tidak hanya sekedar membujuk

konsumen, tetapi membohongi, mengelabuhi atau bahkan menjerumuskan

(Kusno,1993).

Iklan dapat disajikan melalui berbagai macam media yaitu TV, radio,

cetakan (majalah, surat kabar), papan bilboard, papan tanda dan yang lain.

Walaupun konsumen pada umumnya diekspos pada ratusan iklan setiap hari,

sebagian besar dari pesan yang disampaikan hanya menerima perhatian dan

pemahaman dari konsumen dalam jumlah yang sangat sedikit. Oleh karena itu,

adalah suatu tantangan yang besar bagi pemasar untuk mengembangkan pesan

dalam iklan dan memilih media yang dapat mengekspos konsumen, menangkap

perhatian mereka dan menciptakan pemahaman yang tepat (Peter dan Olson,

2000).

C. Peraturan Periklanan

Pemerintah mengeluarkan peraturan tentang periklanan pangan yang

beredar di Indonesia yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari segala

bentuk promosi tentang pangan. Salah satu alasannya adalah karena keprihatinan

yang sangat mendalam mengenai masalah label dan iklan pangan yang seringkali 10

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(30)

memuat keterangan yang membingungkan bahkan menyesatkan konsumen.

Peraturan yang mendukung adalah Peraturan Menteri Kesehatan Repubblik

Indonesia nomor 79/MEN.KES/ PER III/ 1978 tentang Label dan Periklanan

Makanan, pada pasal 34 tentang cara periklanan terdapat pernyataan bahwa

periklanan makanan termasuk iklan pengganti ASI tidak boleh menyesatkan,

mengacaukan dan menim,bulkan penafsiran yang salah tentang asal dan sifat, isi

dan komposisi, mutu dan kegunaan.

Peraturan yang mendukung lainnya adalah Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia nomor 240/MenKes/Per/V/1985 tentang Pengganti Air Susu

Ibu. Pada peraturan ini memuat peraturan tentang produksi dan peredaran

pengaanti air susu ibu, label pengganti air susu ibu, dan larangan-larangan.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

386/Menkes/SK/IV/1994 tentang pedoman periklanan obat bebas, obat

tradisional, alat kesehatan, kosmetika, perbekalan kesehatan, rumah tangga dan

makanan minuman juga mengatur peredaran makanan dan minuman termasuk

didalamnya adalah susu. Lampiran empat dalam pedoman periklanan makanan

dan minuman terdapat peraturan khusus tentang iklan susu yaitu:

1. Hasil Olahan Susu

1.1 Iklan susu kental manis , susu skim dan “Filled Milk”, tidak boleh diiklankan untuk bayi (sampai dengan 12 bulan).

1.2 Iklan susu kental manis, susu skim dan “Filled milk” harus mencantumkan spot peringatan yang berbunyi “PERHATIKAN TIDAK COCOK UNTUK BAYI”. Dan jika menggunakan media radio spot tersebut harus dibacakan dengan jelas.

1.3 Iklan susu krim penuh harus mencantumkan spot peringatan “PERHATIKAN TIDAK COCOK UNTUK BAYI BERUMUR DI BAWAH 6 BULAN”.

2. Pengganti Air Susu Ibu (Pasi) atau Susu Bayi atau Infant Formula

Pengganti Air Susu Ibu (Pasi) atau susu bayi atau infant formula dilarang 11

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(31)

dipromosikan dan diiklankan dalam bentuk apapun kecuali dalam jurnal kesehatan.

Peraturan yang mendukung promosi susu formula selanjutnya dengan

dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan

Iklan Pangan. Peraturan ini diaharapkan menjadi instrumen yang andal yang

mampu menjembatani antara kepentingan produsen dan konsumen untuk

menciptakan perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab. Peraturan

mengenai susu formula terdapat pada pasal 47 ayat 4. Pasal-pasal sebelumnya

dalam peraturan ini mengatur tentang Label pada pangan.

Pada pasal 47 ayat 4 yang terdapat dalam peraturan ini terdapat pernyataan:

Iklan tentang pangan yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia sampai dengan 1 (satu) tahun, dilarang dimuat dalam media massa, kecuali dalam media cetak khusus tentang kesehatan, setelah mendapatkan persetujuan Menteri Kesehatan dan dalam iklan yang bersangkutan wajib memuat keterangn bahwa pangan yang bersangkutan bukan pengganti ASI.

Pasal-pasal tentang label pangan memuat ketentuan-ketentuan yang mengatur

tentang pencantuman keterangan dalam label yang meliputi: nama produk, daftar

bahan yang digunakan, berat bersih, nama perusahaan yang memproduksi,

tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa. Keterangan lainnnya tentang produk juga

dicantumkan yang meliputi: manfaat bagi kesehatan (didukung fakta ilmiah),

pernyataan halal dan lain sebagainya seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah

nomor 69 tahun 1999.

D. Persepsi

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan.

Penginderaan adalah merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu 12

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(32)

melalui alat penerima yaitu alat indera. Stimulus diteruskan oleh syaraf ke otak

sebagai pusat susunan syaraf, dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi

(Walgito, 1978). Persepsi ini menimbulkan seorang individu dapat menyadari dan,

dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya, dan juga

tentang keadaan diri individu yang bersangkutan. Dalam diri individu, seperti

perasaan, pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan, dan aspek-aspek lain

yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi tersebut.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain :

perhatian, faktor-faktor fungsional dan faktor-faktor struktural.

1. Perhatian

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangakaian stimuli menjadi

menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah. Perhatian terjadi

bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indera kita, dan

mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indera yang lain (Rakhmat,

2000). Hal-hal yang mempengaruhi perhatian seseorang dapat dilihat dari faktor

internal dan faktor eksternal (Rukminto,1994). Faktor internal merupakan faktor

yang ada dalam diri individu sendiri yang akan mempengaruhi individu dalam

mengadakan persepsi. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi individu dalam

mengadakan persepsi adalah faktor stimulus dan faktor lingkungan dimana

persepsi ini berlangsung.

a. Faktor internal yang mempengaruhi perhatian :

1) Motif dan kebutuhan

13

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(33)

2) Preparatory set (kesiapan seseorang untuk merespon terhadap suatu input

sensori tertentu, tetapi tidak pada input yang lain).

3) Minat

b. Faktor eksternal

1) Intensitas dan ukuran (intensity and size), misalnya semakin besar iklan di

suatu surat kabar semakin menarik perhatian seseorang

2) Kontras dan hal-hal yang baru (contrast and novelty), misalnya suatu bentuk

yang dimunculkan pada suatu latar belakang (yang sangat kontras dengan latar

belakangnya) akan dapat lebih menarik perhatian seseorang.

3) Pengulangan (repetition), pengulangan dapat mempengaruhi munculnya

perhatian misalnya pada dunia iklan pesan yang sama diberikan secara

berulang-ulang agar menarik perhatian seseorang.

4) Gerakan (movement), suatu gerak juga akan menarik perhatian seseorang,

karena itu dalam dunia periklanan, iklan yang bergerak realatif lebih efekif

dibanding dengan iklan yang tidak bergerak.

2. Faktor-faktor fungsional

Faktor-faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan

hal-hal yang lainnya. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli,

tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli itu (Rakhmat,

2000).

3. Faktor-faktor struktural

Faktor-faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek

saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu (Rakhmat, 2000). Faktor-14

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(34)

faktor struktural ini mempunyai makna bahwa bila seseorang mempersepsi

sesuatu, maka orang tersebut mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan

(perasaan, pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan dan aspek-aspek

lainnya).

Persepsi individu dalam melihat suatu objek berawal dari stimulus yang

diterima oleh alat indera, stimulus yang mengenai individu ini kemudian

diorganisasikan, diinterprestasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang

diinderakan. Persepi individu terhadap objek ini meliputi sikap individu melihat

objek dihadapannya, yang akan menimbulkan penilaian mengenai objek tersebut,

selanjutnya menimbulkan pendapat terhadap suatu objek. Proses tersebut

selanjutnya akan menimbulkan individu untuk mengambil tindakan terhadap

objek tersebut.

E. Motivasi

Manusia merupakan makhluk yang mempunyai daya gerak dari dalam

dirinya sendiri, hal inilah yang disebut dengan motivasi. Sedangkan seluruh

aktifitas mental yang dirasakan atau dialami dan memberikan kondisi hingga

terjadinya perilaku dikatakan sebagai motif. Selain itu ada pula yang menganggap

bahwa motif adalah rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga bagi

munculnya suatu tingkah laku tertentu. Kedua pengertian mengenai motif di atas

adalah pengertian yang saling melengkapi mengenai keberadaan motif dalam

kaitan dengan terbentuknya perilaku tertentu (Rukminto, 1994).

Motif sosial merupakan motif yang timbul dalam diri manusia untuk 15

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(35)

memenuhi kebutuhan individu dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya.

Motif yang timbul pada diri individu ini timbul karena adanya kebutuhan.

Kebutuhan dapat dipandang sebagai kekurangan adanya sesuatu, dan ini menuntut

segera pemenuhannya, untuk segera mendapat keseimbangan. Situasi kekurangan

ini berfungsi sebagai suatu kekuatan atau dorongan alasan, sehingga seseorang

bertindak untuk memenuhi kebutuhan (Ahmadi, 1991). Proses terjadinya perilaku

seperti gambar di bawah ini:

Gambar 1. Skema proses terjadinya perilaku (Ahmadi, 1991)

Berdasarkan proses terjadinya perilaku seperti yang tersebut diatas

penelitian ini sesuai dengan proses yang terjadi yaitu adanya kebutuhan, motif,

dan perilaku. Kebutuhan yang ada pada penelitian ini adalah kebutuhan

pemenuhan susu untuk anak. Motifnya adalah pertumbuhan dan perkembangan

anak yang optimal. Sedangkan perilaku yang terjadi adalah pemenuhan untuk

membeli atau menyediakan susu tersebut. Selain hal utama yang tersebut diatas

pada penelitian ini objek yang diteliti adalah iklan susu anak di televisi.

Pada iklan susu anak di televisi ini juga terjadi proses seperti yang tersebut

diatas. Kebutuhan yang mendasari responden adalah pemilihan susu formula yang

tepat untuk anak. Motifnya adalah konsumen mendapatkan susu yang tepat. Oleh

karena itu diperlukan wawasan yang luas mengenai informasi produk susu anak

sebagai pertimbangan untuk memilih susu yang tepat. Perilaku yang terjadi adalah

pemenuhan kebutuhan dengan membeli atau menyediakan susu untuk anak

kebutuhan motif perilaku

16

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(36)

setelah mendapat informasi yang tepat. Pada gambar dibawah ini dijelaskan

tentang mekanisme terjadinya motivasi dan tindakan setelah melihat tayangan

iklan di televisi adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Mekanisme terjadinya motivasi dan tindakan setelah melihat tayangan iklan.

F. Sikap dan Perilaku

Perilaku manusia (human behavior) merupakan reaksi yang dapat bersifat

sederhana maupun bersifat komplek. Salah satu karakteristik reaksi perilaku

manusia yang menarik adalah sifat diferensialnya. Maksudnya, satu stimulus

dapat menimbulkan lebih dari satu respon yang berbeda dan beberapa stimulus

yang berbeda dapat menimbulkan satu respon yang sama (Azwar, 1995).

Karakteristik individu meliputi beberapa variabel seperti motif, nilai-nilai,

sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian

berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku.

Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan

kadang-kadang lebih besar daripada karakteristik individu (Azwar, 1995).

Pembentukan sikap tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui kontak

sosial yang terus menerus antara individu dengan individu-individu lain

disekitarnya. Dalam hubungan ini faktor-faktor yang yang mempengaruhi

(37)

terbentuknya sikap adalah:

1. Faktor intern, yaitu faktor yang terdapat dalam diri individu, misalnya

selektifitas. Penyeleksian diperlukan karena rangsang yang datang dari luar

(lingkungan) tidak dapat seluruhnya diserap individu, oleh karena itu seseorang

harus memilih rangsang mana yang akan diperdalam dan

rangsang-rangsang mana yang tidak ingin diperdalam (Rukminto, 1994).

2. Faktor ekstern yang mempengaruhi terbentuknya sikap:

a. Sifat objek yang dijadikan sasaran sikap.

b. Kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap.

c. Sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung sikap tersebut.

d. Media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan sikap.

e. Situasi pada saat sikap dibentuk.

Tayangan iklan di televisi juga dapat memberikan pengaruh perubahan

sikap bagi seseorang yang melihatnya. Faktor-faktor yang dominan yang

mempengaruhi perubahan sikap yaitu:

1. Sumber pesan

Dalam upaya mengubah sikap seseorang, pihak yang menyampaikan pesan

mempunyai peranan penting.

a. Kredibilitas

Pesan yang disampaikan oleh seseorang atau perusahaan yang mempunyai

kredibilitas tinggi di masyarakat biasanya mempengaruhi minat dan perhatian

penerima pesan serta dapat mempengaruhi pula sikap seseorang terhadap pesan

tersebut. Misalnnya : industri yang terkenal, para ahli kesehatan seperti dokter dan 18

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(38)

yang lainnya.

b. Keatraktifan

Untuk iklan-iklan komersial, keatraktifan dari pembawa pesan tersebut

menjadi hal penting untuk menarik minat masyarakat. Sehingga tidak jarang figur

publik seperti artis yang terkenal diminta perusahaan untuk membawakan iklan,

meskipun figur publik itu sendirti mungkin tidak mengenakan produk tersebut.

2. Isi pesan

Isi pesan yang disampaikan dalam iklan komersial biasanya berisikan sugesti

sehingga dapat menarik minat dan perhatian responden.

3. Penerima pesan

a. Kemudahan untuk dipengaruhi

Perusahaan berusaha membuat ikaln semenarik mungkin agar mendapat perhatian

dari mayarakat, sehingga masyarakat akan mempertimbangkan dan mungkin

akan memutuskan membeli.

b. Interprestasi dan seleksi

Kemampuan suatu pesan utnuk mempengaruhi sasaran, asangat bergantung pada

interprestasi dan seleksi terhadap pesan yang masuk, sehingga informasi yang

diberikan seharusya diberikan sesuai taraf kemampuan menginterprestasi

informasi dari kelompok sasaran.

Hal-hal tersebut diatas merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

perubahan sikap seseorang terhadap pesan yang disampaikan, dalam hal ini adalah

iklan di televisi. Oleh karena itu perusahaan yang membuat tayangan iklan perlu

memperhatikan hal-hal tersebut diatas dan masyarakat diharapkan lebih selektif. 19

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(39)

G. Susu

Susu adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar- kelenjar susu (mamae),

baik dari binatang maupun dari buah dada seorang ibu. Air susu ibu biasa dikenal

dengan ASI sedangkan susu hewan atau susu tiruan sebagai pengganti susu ibu

disebut Pengganti Air Susu Ibu atau PASI pada umumnya adalah air susu dari

berbagai ternak, misalnya sapi, kerbau, kambing dan ada pula yang

mempergunakan air susu unta atau kuda.

Susu sapi maupun ASI mengandung gula khusus yang disebut laktosa.

Jenis gula ini hanya terdapat di dalam susu. Banyak bayi dan orang dewasa yang

tidak tahan terhadap laktosa ini. Pada saluran pencernaan, laktosa dipecah

menghasilkan glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase. Pada sebagian bayi dan

orang dewasa terdapat kelainan bawaan, dimana sekresi laktase tidak mencukupi

atau tidak dihasilkan sama sekali. Maka laktosa tidak dapat dicerna dan zat ini

dalam konsentrasi besar bersifat sebagai laksans (urus-urus) sehingga terjadi

diarrhoea. Kondisi ini disebut lactoce intolerance dan dikatakan terdapat pada

sebagian besar orang- orang dari bangsa berwarna. Terapi kondisi ini adalah

dengan memberikan susu rendah laktosa (LLM-low lactose milk) atau dengan

menggantikan susu oleh susu tiruan yang dibuat dari kacang kedelai (soya bean

milk). Mereka yang menderita lactose intolerance ini tidak tahan terhadap

konsumsi laktosa seumur hidupnya (Sediaoetama, 2005).

Terdapat berbagai jenis modifikasi susu yang diperdagangkan diantaranya

adalah:

20

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(40)

1. Susu segar

Susu sapi segar adalah hasil pemerasan sapi secara langsung, tanpa

ditambah zat-zat lain ataupun mengalami pengolahan. Susu ini tidak begitu manis

dan mengandung protein kira-kira tiga kali konsentrasinya dalam ASI. Karena itu

untuk menyesuaikan dengan kondisi bayi, susu sapi dapat diencerkan dengan air

matang sebanyak tiga kali volume air susu tersebut. Kadar protein menjadi sesuai

dengan ASI, tetapi zat-zat gizi lainya termasuk kandungan enersi menjadi terlalu

rendah (Sediaoetama, 2005).

2. Susu Asam

Susu segar ada yang diolah dengan diasamkan mempergunakan bakteri

Lactobacillus spp. Ada pendapat bahwa kondisi asam ini menghambat

pertumbuhan bakteri-bakteri pembusuk di dalam rongga usus sehingga produk

pembusukan yang lebih merugikan konsumen (terutama bayi) dapat dihindarkan

atau setidak tidaknya dihambat. Untuk orang dewasa susu asam terdapat dalam

bentuk yogurt (Sediaoetama, 2005).

3. Susu Skim

Susu ini sebenarnya limbah produksi mentega, setelah lemak dalam susu

tersebut diambil untuk dijadikan mentega. Susu skim mengandung enersi lebih

rendah, karena diambil lemaknya tersebut. Jenis susu ini masih baik dikonsumsi

sebagai suplemen protein, yang masih tetap berkualitas baik dan bahkan

konsentrasinya meningkat dengan dikurangkan lemak tersebut. Kerugian dari susu

skim ini ialah kurang vitamin-vitamin yang larut lemak terutama vitamin A dan

vitamin D (Sediaoetama, 2005).

21

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(41)

4. Susu Bubuk

Susu bubuk terjadi dengan mengeringkan susu sehingga tertinggal

komponen padat dari susu tersebut. Karena komposisi padat ini merupakan sekitar

14% dari susu asalnya, maka rekonstitusi menjadi susu cair kembali dengan

menambah air matang sebanyak tujuh kali sebanyak susu bubuknya (100/14 bag).

Pada proses pengeringan ini terjadi perubahan atau kerusakan pada

beberapa zat gizi komponennya, diantaranya vitamin A dan beberapa vitamin B

kompleks. Karena itu pada susu bubuk ditambahkan berbagai zat gizi yang rusak

atau berkurang ini (Sediaoetama, 2005).

5. Susu kental manis

Susu ini biasanya dikemas dalam kaleng dan dihasilkan dengan

menguapkan sebagian airnya dari susu segar. Sebagai alat preservasi ditambahkan

gula sehingga susu ini terlalu manis dan mengandung enersi sangat tinggi. Susu

ini tidak baik diberikan kepada bayi, tetapi masih dapat dikonsumsi oleh anak

yang telah besar dan orang dewasa. Karena sangat manis biasanya susu ini dipakai

sebagai campuran dalam air kopi, air teh atau air coklat. Susu kental manis lebih

tahan bila telah dibuka kalengnya dibanding dengan jenis susu yang lain, karena

adanya gula kadar tinggi tersebut. Meskipun demikian sebaiknya susu ini jangan

terlalu lama dibiarkan setelah dibuka kalengnya, karena lama-lama akan terjadi

kerusakan atau pembusukan (Sediaoetama, 2005).

6. Susu kaleng tanpa perubahan atau penambahan zat lain

Susu ini komposisinya sama dengan susu segar, hanya mengalami

pensterilan sebelum dikalengkan, untuk memperpanjang daya tahan dengan 22

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(42)

menghindarkan pertumbuhan berbagai jenis bakteri pembusuk dan yang

menyebabkan fermentasi. Susu demikian harus segera dihabiskan, jangan

dibiarkan di udara terbuka, karena akan cepat menjadi rusak. Proses yang dialami

susu ini dibawah 1000C, beberapa kali, diselingi dengan mendinginkan pada suhu

kamar. Dengan cara demikian diharapkan bakteri aktif dibunuh dan pada waktu

didinginkan sporanya berubah menjadi bakteri aktif yang kemudian dibunuh juga

sehingga bakteri dan spora yang di dalam air susu asalnya menjadi mati semua

(Sediaoetama, 2005).

Berbagai proses yang dialami oleh susu sebelum dikalengkan dan

diperdagangkan bertujuan untuk meningkatkan kualitas susu terutama untuk

dikonsumsi anak-anak dan bayi agar sesuai dengan kandungan yang terdapat

seperti dalam ASI. Pengganti ASI ini salah satunya adalah susu formula yang

didesain semirip mungkin dengan ASI.

Susu formula anak adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang

diberikan pada bayi dan anak-anak. Susu formula ini berfungsi sebagai pengganti

ASI. Susu formula memiliki peranan penting dalam makanan bayi karena

seringkali bertindak sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi. Komposisi susu

formula yang diperdagangkan dikontrol dengan hati-hati, salah satunya adalah

FDA (Food and Drug Assosiation atau Badan Pengawas Obat dan Makanan

Amerika) yang mensyaratkan bahwa produk susu formula untuk anak harus

memenuhi standar ketat tertentu (Roewijoko, 2006).

Komposisi susu berdasarkan asalnya dibedakan menjadi dua yaitu

hewani contohnya adalah susu sapi dan susu yang diolah dari bahan nabati seperti 23

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(43)

susu kedelai. Susu formula dibentuk dari komponen pembentuk susu hewani

maupun nabati dengan penambahan nutrient. Susu formula harus mencukupi

zat-zat dasar yang diperlukan tubuh yaitu mengandung air, protein, lemak

karbohidrat, vitamin dan mineral. Bahkan susu formula yang beredar dipasaran

tidak jarang terdapat penambahan zat-zat penting semisal DHA dan AA.

Penambahan zat penting ini dimaksudkan agar kandungan komposisi susu

formula mirip dengan kandungan ASI.

Susu formula yang berasal dari hewani lebih dianjurkan daripada susu

nabati. Hal ini dikarenakan susu formula yang berasal dari hewani memiliki rasa

yang lebih enak, produknya mudah didapat, harganya terjangkau dan memiliki

kandungan yang hampir sama dengan ASI. Sebaliknya, susu nabati yang biasanya

berasal dari kacang kedelai ini kurang disukai bayi karena rasa dan aromanya

yang kurang enak(Roewijoko, 2006). Oleh karena itu sebagian besar susu formula

terbuat dari susu sapi dengan penyesuaian kandungan yang hampir mirip dengan

ASI.

Tabel I. Perbandingan Kandungan ASI dan susu sapi

Komposisi Air Susu Manusia Air Susu Sapi

Air (%) 87,6 87,2

Rantai asam lemak > pendek Asam lemak rantai panjang

(44)

Nilai gizi yang terkandung dalam air susu sapi lebih tinggi dibandingkan dengan

nilai gizi ASI. Nilai gizi ASI yang lebih rendah ini bukan jaminan bahwa air susu

sapi lebih unggul, karena dalam ASI mengandung zat antibodi yang tidak terdapat

dalam air susu sapi.

Tabel diatas membandingkan rata-rata nilai ASI dan air susu sapi dan

melukiskan perbedaan utama dalam konsentrasi protein (komposisinya) dan

seterusnya. Dalam preparasi formula bayi, air susu sapi diencerkan menjadi

sepertiga kali agar konsentrasi proteinnya mendekati ASI, demikian juga kadar

mineralnya (Ca,P,Na) tetapi menyebabkan laktose dan vitamin lebih besar

perbedaannya (Linder,1992). Setiap komponen susu seperti yang tersebut diatas

memiliki peran yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak

Susu formula sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan

perkembangan anak, oleh karena itu perlu pemilihan susu yang tepat. Karena

pemilihan susu yang tidak tepat dapat mengakibatkan gangguan beberapa fungsi

organ tubuh seperti diare, alergi, batuk dan sebagainya. Gangguan sistem tubuh

ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak serta

mempengaruhi dan memperberat perilaku anak (Judarwanto, 2006).

H. Asam Dokosaheksanoat dan Asam Arakhidonat

Susu formula yang beredar biasanya terdapat zat-zat tambahan yang

penting yaitu DHA dan AA. Asam dokosaheksanoat (DHA) merupakan asam

lemak tak jenuh rantai panjang yang juga dikenal masyarakat sebagai omega-3.

Berdasarkan penelitian komponen utama jaringan otak terdiri atas DHA dan AA 25

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(45)

(asam arakhidonat). Sejumlah besar DHA ini terdapat dalam retina mata. DHA

dan AA ini diperlukan untuk perkembangan otak dan ketajaman penglihatan.

DHA dan AA ini terbentuk lewat proses sintesis biokimia dengan bantuan enzim

yang tersedia dalam sisitem saraf pusat dan hati. DHA dan AA ini merupakan

komponen struktural yang penting pada otak dan retina, asam lemak tak jenuh

ganda terutama terdapat pada fosfolipid membran yang berperan penting dalam

sifat-sifat fisik dan juga fungsi membran. Yaitu berkembang dalam perkembangan

saraf bayi.

Berdasarkan penelitian oleh para ahli bayi yang mendapat susu formula

dengan penambahan DHA menunjukkan tampilan yang lebih baik dibandingkan

bayi dengan diet formula standar. Demikian juga dengan kadar DHA dan AA

dalam sirkulasi lemak dan fosfolipid erithrosit juga lebih tinggi pada kelompok

ASI dan kelompok bayi dengan susu formula+DHA. Dengan penelitian dapat

ditarik kesimpulan bahwa susu formula dengan tambahan DHA memberikan

keuntungan bagi perkembangan saraf bayi (Gsianturi,2001)..

Pada penelitian lain DHA juga berperan dalam fungsi saraf alur

penglihatan. Hal ini berdasarkan penelitian profil asam lemak pada erithrosit dan

hubungannya dengan maturitas alur penglihatan dari VEP (Visual Evoked

Potential). VEP adalah tes ketajaman penglihatan yang digunakan untuk

mengevaluasi keutuhan saraf pada alur retina ke cortex visual primer dan

kemampuan bayi untuk melihat dan memberi respon motorik jika dirangsang

secara visual (Gsianturi,2001).

26

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(46)

Pada dasarnya ASI secara alami memproduksi DHA, sehinga pada bayi

sumber DHA yang tidak terkalahkan adalah air susu ibu. Penambahan DHA pada

berbagai susu formula dan makanan pada anak-anak sebenarnya adalah upaya

industri untuk sedapat mungkin mendekati kualitas ASI.

DHA tidak selamanya menguntungkan, karena DHA mempunyai efek

samping pendarahan dan gangguan sistem kekebalan. Menurut (Nasar, 2001)

asupan DHA berlebihan bisa membuat darah makin encer. Akibatnya anak akan

mudah mengalami pendarahan dan sistem kekebalan menurun. Kelebihan DHA

akan mengganggu kerja enzim desaturase dan elongase. Dalam kondisi normal,

dua enzim ini mengubah lemak menjadi asam linoleat dan asam alfa linoleat. Dua

asam inilah yang memprodukasi DHA dan asam arakidonat. Kelebihan DHA akan

merangsang produksi prostaglandin yang mengencerkan darah dan memperlebar

pembuluh darah. Selain itu AA merangsang produksi trombosit yang membuat

darah mengental dan mempersempit pembuluh darah. Berhubung kelebihan DHA,

enzim mengurangi produksi DHAnya, otomatis AA pun ikut berkurang.

Akibatnya trombosit didalam berkurang maka darah akan lambat membeku

(Gsianturi,2001).

I. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan dua proses utama yang

terjadi pada anak. Anak yang tergolong sehat memiliki pertumbuhan dan

perkembangan yang optimal. Pertumbuhan dan perkembangan anak ini sangat

penting sebagai dasar untuk perkembangan selanjutnya yakni pada saat 27

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(47)

prasekolah, sekolah, akil balik dan remaja. Oleh karena itu diperlukan kesehatan

dan gizi yang optimal untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pertumbuhan dan perkembangan anak dapat didefinisikan seperti di bawah ini:

1. Pertumbuhan

Pertumbuhan dalam hal ini adalah bertambahnya ukuran fisik anak.

Pertumbuhan dinilai dengan pengukuran tinggi dan berat badan, lingkar kepala,

ketebalan lipat kulit dan lain-lain (Speirs, 1992).

a. Bayi

Setelah lahir kecepatan pertumbuhan paling pesat selama tahun pertama. Pada

kegiatan di posyandu dilakukan pencatatan tinggi dan berat badan anak pada

Kartu Menuju Sehat (KMS).

b. Anak kecil

Panjang anggota gerak bertambah sehubungan dengan panjang badan. Anak yang

normal akan terus tumbuh dengan kecepatan kira-kira 2 kg per tahun pada

kelompok usia ini (Speirs, 1992).

c. Anak sekolah

Berat badan terus bertambah dengan kecepatan kira-kira 2-3 kg per tahun dan

tinggi badan 5-6 cm per tahun (Speirs, 1992).

2. Perkembangan

Perkembangan merupakan kemajuan tingkah laku dan kematangan

emosional dan sosial. Perkembangan ditandai dengan perkembangan di daerah

aktivitas sosial, pendengaran dan bahasa, motorik kasar dan motorik halus.

Menurut Departemen Kesehatan RI (1993) ciri anak sehat adalah:

28

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(48)

a. Tumbuh dengan baik, yang dapat dilihat dari naiknya berat dan tinggi badan

secara teratur dan proporsional.

b. Tingkat perkembanganya sesuai dengan tingkat umurnya.

c. Tampak aktif, gesit dan gembira.

d. Mata bersih dan bersinar.

e. Nafsu makan baik.

f. Bibir dan lidah tampak segar.

g. Pernafasan tidak berbau.

h. Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering

i. Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (Santoso dan Ranti, 1999).

Jika ciri-ciri tersebut telah dimiliki oleh anak, maka pertumbuhan dan

perkembangan anak biasanya dapat dikatakan wajar atau normal.

29

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(49)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat non eksperimental. Jenis penelitian ini adalah

merupakan penelitian observasional yang pengamatannya dilakukan terhadap

sejumlah variabel subjek menurut keadaan apa adanya, tanpa adanya manipulasi

atau intervensi dari peneliti (Pratiknya, 1986). Rancangan penelitian yang

digunakan adalah deskriptif. Rancangan penelitian deskriptif merupakan prosedur

pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan

keadaan subjek objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta yang

tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi, 2003). Metode yang digunakan dalam

pengambilan data adalah menggunakan kuesioner yang dilengkapi dengan

wawancara dan observasi terhadap iklan produk susu anak di televisi.

B. Definisi dan Operasional Penelitian

1. Anak adalah golongan usia 0-2 tahun yang disebut bayi, usia 2-6 tahun yang disebut tahap anak-anak awal yang membutuhkan susu untuk menunjang

pertumbuhan dan perkembangan anak.

2. Iklan susu anak adalah saluran informasi melalui tayangan di televisi mengenai produk susu untuk bayi yang diiklankan oleh suatu industri.

3. Tenaga kesehatan adalah orang-orang yang memiliki profesi dalam bidang kesehatan meliputi dokter, apoteker, perawat, bidan.

30

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(50)

4. Karakteristik iklan susu formula adalah menyangkut asal dan sifat, isi dan komposisi, mutu dan kegunaan yang sesuai dengan Permenkes RI nomor

79/MEN.KES/PER/III/1978 dan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah

nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan mengenai cara

periklanan bahwa Iklan tentang pangan yang diperuntukkan bagi bayi yang

berusia sampai dengan 1 (satu) tahun, dilarang dimuat dalam media massa.

5. Asal dan sifat adalah menunjukkan bahan baku pembuatan susu dalam hal ini adalah susu berasal dari susu sapi dengan penambahan zat gizi yang lain.

6. Isi dan komposisi adalah menunjukkan kandungan gizi yang terdapat dalam susu formula seperti vitamin, mineral, zat tambahan yang penting lainnya

seperti DHA, asam folat, prebiotik.

7. Mutu dan kegunaan adalah menunjukkan manfaat dari susu formula bahwa susu berguna untuk pertumbuhan anak

8. Karakteristik responden adalah data mengenai responden yang berhubungan dengan usia ibu, usia anak, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan

dalam keluarga, susu formula yang digunakan anak.

9. Pengenalan adalah kemampuan para ibu di posyandu kelurahan Purwodiningratan Solo untuk mengetahui jenis-jenis produk susu anak yang

ditawarkan melalui iklan di televisi.

10. Persepsi merupakan proses pengorganisasian, penginterprestasian terhadap stimulus yang diterima oleh para ibu di posyandu kelurahan Purwodiningratan

Solo sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang

intergrated. Aktivitas intergrated yaitu seluruh apa yang ada dalam diri 31

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(51)

individu (pengetahuan, pandangan, keyakinan, perasaan, pengalaman,

kemampuan berfikir) ikut aktif berperan dalam persepsi.

11. Motivasi adalah dorongan yang timbul (niat) dari diri para ibu di posyandu kelurahan Purwodiningratan Solo dalam memilih susu untuk anak setelah

melihat tayangan iklan susu di televisi.

12. Pengaruh iklan susu adalah daya yang timbul setelah melihat penayangan dari iklan susu di televisi terhadap penentuan pemilihan susu yang dilakukan

oleh subyek, dalam hal ini berupa preferensi atau tindakan membeli oleh para

ibu di Posyandu kelurahan Purwodiningratan Solo.

13. Tindakan membeli adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh para di posyandu kelurahan Purwodiningratan Solo untuk memenuhi kebutuhannya

dengan membeli sesuatu, dalam hal ini membeli susu untuk anak guna

meningkatkan gizi anak dan menunjang pertumbuhan anak.

14. Kecenderungan setuju dan tidak setuju, pada persepsi, motivasi dan tindakan terhadap iklan susu anak di televisi akan dilihat kecenderungan

jawaban reponden ke arah setuju yang meliputi Sangat Setuju (SS) dan Setuju

(S) atau ke arah tidak setuju yang meliputi Tidak Setuju (TS) dan Sangat

Tidak Setuju (STS).

C. Subjek Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah ibu-ibu anggota Posyandu

kelurahan Purwodiningratan Solo yang memiliki anak balita dan yang pernah

melihat produk iklan susu di televisi serta yang anaknya mengkonsumsi susu 32

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Figur

Tabel XII.
Tabel XII . View in document p.15
Gambar 1. Skema Proses Terjadinya Perilaku .................................................
Gambar 1 Skema Proses Terjadinya Perilaku . View in document p.16
Gambar 1. Skema proses terjadinya perilaku (Ahmadi, 1991)
Gambar 1 Skema proses terjadinya perilaku Ahmadi 1991 . View in document p.35
Gambar 2. Mekanisme terjadinya motivasi dan tindakan setelah melihat
Gambar 2 Mekanisme terjadinya motivasi dan tindakan setelah melihat . View in document p.36
Tabel I. Perbandingan Kandungan ASI dan susu sapi
Tabel I Perbandingan Kandungan ASI dan susu sapi . View in document p.43
Tabel diatas membandingkan rata-rata nilai ASI dan  air susu sapi dan
Tabel diatas membandingkan rata rata nilai ASI dan air susu sapi dan . View in document p.44
Tabel II. Bobot Relatif Komponen dalam Skala Persepsi, Motivasi dan
Tabel II Bobot Relatif Komponen dalam Skala Persepsi Motivasi dan . View in document p.57
Tabel III. Aspek dan Distribusi Skala Persepsi dan Motivasi Ibu-ibu Anggota
Tabel III Aspek dan Distribusi Skala Persepsi dan Motivasi Ibu ibu Anggota . View in document p.58
Tabel di atas menunjukkan karakteristik beberapa iklan susu anak yang
Tabel di atas menunjukkan karakteristik beberapa iklan susu anak yang . View in document p.64
Tabel V. Usia Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo
Tabel V Usia Ibu ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo . View in document p.67
Tabel VI. Usia Anak yang Mengkonsumsi Susu Formula
Tabel VI Usia Anak yang Mengkonsumsi Susu Formula . View in document p.68
Tabel VII. Tingkat Pendidikan Ibu Anggota Posyandu Kelurahan
Tabel VII Tingkat Pendidikan Ibu Anggota Posyandu Kelurahan . View in document p.69
Tabel VIII. Jenis Pekerjaan Para Ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo
Tabel VIII Jenis Pekerjaan Para Ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo . View in document p.71
Tabel IX. Pendapatan Dalam Keluarga Para Ibu Anggota Posyandu
Tabel IX Pendapatan Dalam Keluarga Para Ibu Anggota Posyandu . View in document p.72
Tabel X. Jenis Susu Formula yang Sering Dikonsumsi Oleh Anak di
Tabel X Jenis Susu Formula yang Sering Dikonsumsi Oleh Anak di . View in document p.73
Tabel XI. Lama
Tabel XI Lama . View in document p.75
Tabel XII.
Tabel XII . View in document p.76
Tabel XIII.
Tabel XIII . View in document p.77
Tabel XIV. Sumber yang Dipercaya Responden Dalam Pemilihan Susu
Tabel XIV Sumber yang Dipercaya Responden Dalam Pemilihan Susu . View in document p.79
Tabel XV. Rekapitulasi Hasil Kuisioner Tentang Persepsi Ibu-ibu Anggota  Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo
Tabel XV Rekapitulasi Hasil Kuisioner Tentang Persepsi Ibu ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Solo . View in document p.81
Tabel XVI.
Tabel XVI . View in document p.88
Tabel VII. Rekapitulasi Hasil Tindakan Ibu-ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Terhadap Iklan Susu Anak di Televisi
Tabel VII Rekapitulasi Hasil Tindakan Ibu ibu Anggota Posyandu Kelurahan Purwodiningratan Terhadap Iklan Susu Anak di Televisi . View in document p.90

Referensi

Memperbarui...