• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PETA KONSEP (CONSEPT MAPPING)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PETA KONSEP (CONSEPT MAPPING)"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PETA KONSEP (CONSEPT MAPPING) TERHADAP HASIL BELAJAR ILMU PENGATUHAN SOSIAL

PADA SISWA KELAS IV SD INPRES BONTORAMBA KECAMATAN SOMBA OPU KABUPATEN GOWA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

QURNIA ASTRI RAMADHANI 10540 9214 14

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2018

(2)

MOTO DAN PERSEMBAHAN

Sesunguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

(Q. S. Al Insyirah : 6-8)

Kupersembahkan karya ini buat:

Kedua orangtuaku, saudaraku, sahabatku dan bapak/ibu dosen pembimbing, yang selama ini tulus dan ikhlas meluangkan waktunya untuk menuntun dan mengarahkan saya, member bimbingan dan pelajaran yang tiada ternilai harganya agar saya menjadi lebih baik.

Pujisyukur yang tak terhingga pada orang tuaku yang telah memberikan moril maupun materi serta do’a yang tiada hentinya untuk kesuksesan saya, karena tiada seindah lantunan do’a dan tiada do’a yang paling khusuk selain do’a yang terucap dari orang tua. Ucapan terima kasih saja takkan pernah cukup untuk membalas kebaikan orang tua, karena itu terimalah persembahan bakti dan cintaku untuk kalian bapak ibuku.

(3)

ABSTRAK

Qurnia Astri Ramadhani 2018. Pengaruh Penerapanva Strategi Peta Konsep (consep mapping) Terhadap Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Hj. Syaribulan K., dan Pembimbing II H.

M. Arsyad.

Jenis penelitian ini adalah penelitian praeksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen. Prosedur pelaksanaan penelitian meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis data. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa sebanyak 39 orang.

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah ada Pengaruh Penerapan Strategi Peta Konsep (consept mapping) Terhadap Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas IV SD Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Penelitian ini bertujuan untuk menegtahui Hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa yang dapat dilihat dari empat aspek yakni hasil belajar IPS, aktivitas siswa, respon siswa, keterlaksanaan pembelajaran.

Hasil penelitian menunjukkan adanya penerapan strategi peta konsep (consept mapping) terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu kabupaten Gowa. Hal tersebut terlihat dari perbandingan antara nilai pre test dan post test. Nilai rata- rata pre test yang diperoleh sebesar 40 nilai rata-rata tersebut berada pada interval 40-54 yang termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan nilai rata-rata post test yang diperoleh yaitu sebesar 75,38 yang berada pada interval 65-84 yang berarti beradap ada kategori tinggi.

Selain itu juga digunakan perhitungaan uji t-tes. Hasil penelitian diperoleh, tHitung= 28,53dan tTabel= 2,024394. Maka tHitung≥ tTabel atau 28,53 ≥ 2,024394. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolakdan H1diterima. Ini berarti bahwa penerapan strategi peta konsep (consept mapping) terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa meningkat.

Kata Kunci: Pengaruh Strategi Peta Konsep (Consept Mapping), Hasil Belajar IPS

(4)

KATA PENGANTAR

Allah Maha Melihat dan Maha Penyayang, demikian kata untuk mewakili rasa syukur atas perjalanan panjang yang penuh warna, tak peduli panas matahari, hujan kedinginan demi cita-cita ditempuh jua dengan penuh suka cita. Segala karunia dan nikmat-Nya ini takkan henti atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, Serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.

Setiap orang memiliki cara sendiri dalam berkarya mencoba selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar semakin menghilang dari pandangan, bagai pelangi yang terlihat indah dari kejauhan, tetapi menghilang jika didekati. Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasannya. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini.

Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik, dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu. Demikian pula, penulis ucapkan kepada Dr. H. Abd.

Rahman Rahim, SE., MM.,RektorUniversitas Muhammadiyah Makassar,Dra. Hj.

Syahribulan K., M.Pd pembimbing I dan, Drs. H. M. Arsyad, M.Pd.Ipembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

(5)

Tidak lupa juga penulis mengucapkan rasaterima kasih kepada;Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.DDekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang telah memfasilitasi penulis dalam menjalani pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Sulfasyah,MA.,Ph.D., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan dorongan dan semangat untuk segera menyelesaikan penyusunan skripsi ini.Bapak dan Ibu dosen jurusan PGSD yang telah memberikan bekal ilmu yang bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, guru, staf SDInpresBontoramba. Alden, S.Pdwalikelas IVdi sekolah tersebut yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman seperjuanganku yang selalu menemaniku dalam suka dan duka, sahabat-sahabatku terkasih serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkatan 2014 khususnya kelas F, atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi pelangi dalam hidupku.

Semoga segala bantuan yang tidak ternilai harganya ini mendapat imbalan di sisi Allah swt sebagai amal ibadah,dan semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin

Makassar, Agustus2018 Penulis

(6)

DAFTAR ISI

HALAMANJUDUL ...i

LEMBAR PENGESAHAN ...ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii

SURAT PERNYATAAN ...iv

SURAT PERJANJIAN ...v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...vi

ABSTRAK ...vii

KATA PENGANTAR ...viii

DAFTAR ISI ...x

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ...xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...xiv

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...4

C. Tujuan Penelitian ...4

D. Manfaat Penelitian ...5

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN ...7

A. Kajian Pustaka ...7

B. Kerangka Pikir ...24

C. Hipotesis Penelitian ...26

(7)

BAB III METODE PENELITIAN ...27

A. Jenis dan Desain Penelitian ...27

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ...28

C. Populasi dan Sampel ...29

D. Definisi Operasional Variabel ...30

E. Instrumen Penelitian...31

F. Teknik Pengumpulan Data ...32

G. Teknik Analisis Data ...33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...38

A. Hasil Analisis Data ...38

B. Pembahasan Hasil Penelitian ...47

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ...54

A. Simpulan ...54

B. Saran ...55

DAFTAR PUSTAKA ...56 LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(8)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

3.1 Desain Penelitian ... 28

3.2 Keadaan Populasi jumlah keseluruhan siswa SD Inpres Bontoramba ... 29

3.3 Murid kelas IV SD Inpres Bontoramba ... 30

3.4 Kategori Standar Hasil Belajar... 34

3.5 Kriteria Ketuntasan Hasil Belajar ... 34

4.1 Distribusi Nilai, Frekuensi, dan Persentase hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Sebelum Menerapkan Strategi Peta Konsep (pretest) ... 39

4.2 Klasifikasi Nilai Siswa Kelas V (Pretest) ... 41

4.3 Distribusi Nilai, Frekuensi, dan Persentase hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Setelah menerapkan Strategi Peta Konsep(posttest) ... 42

4.4 Klasifikasi Nilai Siswa Kelas IV (Posttest) ... 43

(9)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 25 4.2Grafik Nilai Pretest Siswa Kelas IV ... 40 4.4Grafik Nilai Posttest Siswa Kelas IV ... 43

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 58

2. Daftar Nilai Kelas IV Mealui Strategi Peta Konsep (Pre-Test) ... 72

3. Daftar Nilai Kelas IV Melalui Strategi Peta Konsep (Post-Test) ... 75

4. Daftar Nilai Kelas IV Melalui Strategi Peta Konsep (Pre-Test& Post-Test) ... 78

5. Daftar Hadir Siswa Kelas IV... 81

6. Distribusi Nilai Pretest dan Posttest Strategi Peta Konsep ... 84

7. Menentukan Harga Md ... 87

8. Menentukan Mencari Harga ∑ ... 90

9. Menentukan Harga T Hitung ... 91

10. Tabel Distribusi T ... 92

11. Dokumentasi ... 93

(11)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Undang-Undang No.20 Tahun 2003 (Depdiknas, 2006:56) tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 menyebutkan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara.

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai- nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Selain itu di dalam UU No.20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan pula tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan tujuan pendidikan Nasional di atas maka sebagai upaya mewujudkannya adalah disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan karakteristik siswa dan kompetensi dasar yang hendak dicapai disesuaikan dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar, serta tujuan setiap mata pelajaran hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.41 tahun 2007 mengenai Standar

(12)

Proses pendidikan menyatakan bahwa “kegiatan inti pembelajaran merupakan proses pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indicator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran”.

Penjelasan mengenai pencapaian kompetensi pada proses pembelajaran, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.41 tahun 2007 mengenai standar proses pendidikan juga menjelaskan bahwa “kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”. (BSNP,2007:6-7) Kegiatan inti pembelajaran menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di SD adalah mata pelajaran IPS.

IPS merupakan mata pelajaran yang dapat memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun global sehingga mampu hidup bersama- sama dengan masyarakat lainnya. Dimasa yang akan dating peserta didik akan mengalami dan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan. Oleh karena itu, perancangan mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar hendaknya disusun untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat yang menghargai

(13)

sejarah, budaya bangsa, dalam memasuki kehidupan masyarakat yang selalu mengalami perubahan tersebut, terutama dari segi gaya hidup. Peserta didik harus merasakan adanya sesuatu kebutuhan untuk belajar dan berprestasi, ia harus berusaha mengerahkan segala upaya untuk mencapainya.

Peran guru menjadi kunci keberhasilan dalam misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah selain bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana yang kondusif yang mendorong peserta didik untuk melakukan pembelajaran di dalam kelas.

Berdasarkan hasil observasi di SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa khususnya mata pelajaran IPS pada siswa kelas IV saat ini guru belum menerapkan strategi yang bervariasi. Cara mengajar guru masih menggunakan metode ceramah. Metode ceramah lebih menitik beratkan guru sebagai pusat informasi atau guru sebagai penyalur ilmu kepada peserta didik. Sedangkan peserta didikhanya sebagai pendengar. Guru belum mengembangkan pembelajaran bermakna dan mandiri yang inovatif di kelas,belum menggunakan strategi, metode, maupun pendekatan pembelajaran yang tepat, siswa hanya ditekankan pada kebiasaan mencatat penjelasan guru dan belum diarahkan belajar mandiri untuk menemukan sendiri informasi yang berhubungan dengan materi, sehingga siswa cenderung cepat merasa bosan dalam belajar IPS. Selain itu penggunaan media pembelajaran yang menarik sebagai pendukung pembelajaran juga belum optimal ditandai dengan masih terbatasnya guru dalam menggunakan media pembelajaran yang hanya memanfaatkan

(14)

media pandang seperti gambar-gambar sehingga belum mampu menarik perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS. Guru hanya menjelaskan materi secara lisan sehingga peserta didik pasif, mengganggu temannya dan kurang memperhatikan penjelasan guru karena pembelajaran kurang menarik perhatian.

Sehingga memberikan dampak yang serius terhadap hasil belajar siswa yang menunjukkan rendahnya hasil belajar IPS yang dilihat dari hasil ulangan hariannya. Dari 3 9 siswa 31 siswa telah mencapai KKM yaitu dengan nilai rata-rata di atas 70 dan 8 siswa masih dibawah nilai KKM yaitu nilai rata-rata 60, sedangkan nilai KKM yaitu 65. Jadi nilai rata-rata nilai siswa secara keseluruhan berdasarkan nilai ulangan harian yaitu 68.

Mempertimbangkan kedudukandan peran penting IPS dalam Ilmu Pengetahuan dengan tidak mengesampingkan mata pelajaran yang lain, serta permasalahan yang ditemukan di SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penerapan Strategi Peta Konsep (consept mapping) Terhadap Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa”. Sebagai upaya untuk melakukan peningkatan pada hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu“Apakah ada pengaruh penerapan strategi peta konsep (consept mapping) terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan

(15)

Somba Opu Kabupaten Gowa?”.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan maka tujuan penelitian ini yaitu “Untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi peta konsep (consept mapping) terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa”.

D. Manfaat Penelitian 1. Teoritis

Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan landasan pengembangan pembelajaran pada mata pelajaran IPS sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan strategi belajar peta konsep (consept mapping).

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi siswa, guru, bagi peneliti dan sekolah.

a. Bagi Siswa

Melalui penerapan strategi pembelajaran peta konsep (concept mapping) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, Menumbuhkan minat belajar siswa pada pembelajaran IPS, sehingga IPS menjadi mata pelajaran yang menarik bagi siswa, Meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran.

b. Bagi Guru

Bagi guru penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi meningkatkan kreatifitas dan pengetahuan dalam memilih strategi pembelajaran sehingga peserta

(16)

didik dapat dengan mudah memahami materi yang disampaikan.

c. Bagi Peneliti lain dan Pembaca

Dapat menambah wawasan serta pengalaman dalam memilih model pembelajaran mana yang tepat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya dengan model pembelajaran peta konsep (consept mapping).

d. Bagi Sekolah

Digunakan pertimbangan dalam memotivasi guru untuk melaksanakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien dengan menerapkan strategi belajar peta konsep (concept mapping)

e. Bagi Instansi Terkait

Bagi akademis Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH Makassar), sebagai bahan informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), khususnya di bidang Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

(17)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka

1. Belajar

Lefudi (2014:4) menyatakan bahwa “belajar merupakan suatu proses dan aktivitas yang melibatkan seluruh indra yang mampu mengubah perilaku seseorang terhadap dirinya sendiri, orang lain dan juga lingkungannya”. Selanjutnya (Hamalik, 2014: 35) mengemukakan bahwa “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan”.

Fathurrohman (2017: 25) mengemukakan bahwa “belajar adalah perubahan positif dan permanen dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik”. Pendapat lain dari Murfiah (2017: 2) menyatakan bahwa ”belajar merupakan proses pendewasaan yang dilakukan oleh seorang guru dan peserta didik. Sebagai salah satu sumber ilmu, guru menyampaikan materi yang bermakna bagi peserta didik”.

Belajar dengan mencoba coba adalah jenis belajar yang didapatkan dengan mencoba-coba. Belajar dengan cara ini biasanya terjadi karena belum ada teori yang mendahului teori yang akan dipelajari. Belajar pada fakta dan pengetahuan yang biasanya di pelajari dengan cara hafalan. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk mendapatkan suatu perubahan yang baru sebagai akibat pengalamanya sendiri dengan interaksi dengan lingkungan.

(18)

2. Hasil Belajar

(Dimyati dan Mudijono, 2009:3) Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegiatan pemebelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah pada perubahan yang positif yang kemudian di sebut dengan proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar siswa. Hasil belajar di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas.Semua hasil belajar tersebut merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar di akhir dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.

Sudjana (2010;22), menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang di miliki siswa setela menerima pengalaman belajar. Selanjutnya Warsito (Depdikanas, 2006:125) mengemukakan bahwa hasil dari kegiatan belajar di tandai denagn adaya perubahan perilaku kearah positif yang relative permanen pada diri orang yang belajar.Sehubungan dengan pendapat itu, maka whidmurni, dkk.

(2010:18) menjelaskan bahwa seseorang dapat2 dikatakan telah berhasil dalam belajar jika ia mampu menunjukkan adanya perubahan dalam dirinya. Perubahan- perubahan tersebut dantarnya dari segi kemampuan berpikirnya, keterampilannya, atau sikapnya terhadap suatu objek.

Hasil belajar tertuang dalam toksonomi bloom, yakni dikelompokkan dalam tiga rana (domain) yaitu domain kognitif atau kemampuan berfikir, domain efektif atau sikap, dan domain psikomotor atau keterampilan. Sehubungan dengan itu,

(19)

Gagne (Sudjana, 2010:22) mengembangkan kemampuan hasil belajar menjadi lima macam anatara lain: (1) hasil belajar intelektual merupakan hasil belajar terpenting dari system lingsikolastik; (2) Strategi kognitif yaitu cara belajar dan berfikir seorang dalam arti seluas-luasnya termaksuk dalam kemampuan memecahkan masalazh; (3) sikap dan nilai, berhubungan dengan arah insentitas emosional dimiliki seseorang sebagaimana disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap orang dan kejadian; (4) informasi verbal, pengetahuan dalam arti

Berhasil atau tidak seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Faktor-faktor tersebut terbagi menjadi dua golongan,yaitu factor internal dan factor eksternal.

Wasliman (Susanto, 2013:10) mengemukakan bahwa:

Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal.

Secara perinci,uraian yang mengenai faktor internal dan faktor eksternal yaitu sebagai berikut: (a) Faktor internal; faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan. (b) Faktor eksternal; faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Keluarga yang morat- marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian orang tua yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berprilaku yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.

Keluarga yang morat-marit keadaan ekonominya, ketidak harmonisan rumah tangga, perhatian orang tua yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berprilaku yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari

(20)

berpengaruh dalam hasil belajar siswa. Keluarga yang morat- marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian orang tua yang kurang terhadap anaknya ,serta kebiasaan sehari-hari berprilaku yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar siswa.

Sudijana (Susanto, 2013:15) mengungkapkan bahwa hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dalam diri peserta didik dan faktor yang dating dari luar diri peserta didik atau faktor lingkungan. Sudjana (Susanto 2013:15) mengemukakan bahwa:

Faktor yang datang dari diri peserta didik terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan peserta didik besar pengaruhnya terhadap hasil belajar peserta didik. Faktor-faktor yang datang dari dalam diri peserta didik dan dari luar diri peserta didik yaitu sebagai berikut: (a) Kecerdasan anak. (b) Kesiapan atau kematangan. (c)Bakat (d) Kemauan belajar Salah. (e) Minat Secara sederhana. (f) Model materi pelajaran yang menyenangkan. (g) Pribadi dan sikap guru peserta didik. (h) Suasana pengajaran yang tenang. (i) Kompetensi guru yang professional.

Berdasarkan Pendapat diatas Hasil Belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga menggunakan penilaian terhadap sikap.

3. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial yang disingkat IPS mulai dikenal sejak tahun 1970- an sebagai hasil kesepakatan komunitas akademik dan secara formal mulai digunakan dalam system pendidikan nasional dalam kurikulum1975. Dalam

(21)

dokumen kurikulum tersebutI PS merupakan salah satu nama mata pelajaran yang diberikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mata pelajaran IPS merupakan sebuah nama mata pelajaran integrasi dari mata pelajaran Sejarah, Geografi dan Ekonomi serta mata pelajaran ilmu sosial lainnya.

Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuhdan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi dilingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS berusaha membantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya.

Somantri (Sapriya,2012) mengemukakan bahwa: Pendidikan IPS adalah penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu social dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogi /psikologis untuk tujuan pendidikan. Adapun Cahyani (2010:82) mengemukakan bahwa:

Pembelajaran IPS di sekolah dasar pada prinsipnya untuk membuat peserta didik mampu memahami, berpartisipasi dan membuat penilaian tepat terhadap lingkungan hidup dan berkehidupan disekitar mereka.

Dijenjang SD/MI, pengorganisasian materi pelajaran IPS menganut pendekatan terpadu , artinya materi pelajaran dikembangkan dan disusun tidak mengacu pada aspek kehidupan nyata peserta didik sesuai dengan karakteristik usia

(22)

,tingkat perkembangan berpikir dan kebiasaan bersikap dan perilakunya.

Mata pelajaran IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi.Dari ketentuan ini maka secara konseptual, materipelajaran IPS di SD belum mencakup dan mengakomodasi seluruh disiplin ilmu sosial. Namun, ada ketentuan bahwa melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Dasar tujuan pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan member bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan lingkungannya serta berbagai bekal bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Sehingga disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran IPS adalah diberikan pengetahuan dan kemampuan dasar bagi peserta didik yang akan menjadi bekal dalam kehidupan socialnya masa yang akan datang.

a. Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar

Mata pelajaran IPS disekolah dasar merupakan program pengarang yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang

(23)

terjadi sehari-hari baik yang menimpah dirinya sendiri maupun yang menimpah masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakah program-program pelajaran IPS diorganisasikan secara baik. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006 tercantum bahwa tujuan IPS adalah:

1) Mengenal konsep- konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkunganya. 2) Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa igin tahu, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan social. 3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. 4) Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.

Sedangkan tujuan khusus pengajaran IPS disekolah dapat dikelompokkan menjadi empat komponen yaitu:

1) Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu, sekarang dan masa akan datang. 2) Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan (skill) untuk dan mengolah informasi. 3) Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/ sikap demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat. 4) Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian serta dalam bermasyarakat.

Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa menggunakan penalaran dalam mengambil keputusan setiap persoalan yang dihadapinya.

b. Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

(Sardjiyono, 2008: 125) Ilmu Pengetahuan sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang memadukan secara interdisiplin konsep- konsep ilmu sosial dan kemanusiaan (humaniora) dengan tujuan memberikan

(24)

pendidikan kewarganegaraan. Soemantri (Sapriya 2007: 10) berpendapat bahwa:

pendidikan ilmu pengetahuan IPS yang menekankan pada tumbuhnya nilai-nilai kewarganegaraan, moral ideology negara dan agama. Ilmu pengetahuan social bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisa gejala dan masalah social di masyarakat ditinjau dari berbagai aspek kehidupan secara terpadu.

c. Fungsi dan Tujuan Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Mengenai tujuan ilmu pendidikan (pendidikan IPS), para ahli sering mengkaitkannya dengan berbagai sudut kepentingan dan penekanan dari program pendidikan tersebut. (Depdikbud, 2003) menyebutkan bahwa “tujuan pendidikan IPS adalah untuk mempersiapkan murid menjadi warga Negara yang baik dalam kehidupan di masyarakat”. Ilmu pengetahuan juga membahas hubungan anatara manusia dan lingkungan.Lingkunganya masyarakat di mana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS yang berusaha membantu murid dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial dan masyarakatnya.

Amir (2008: 2) mengemukakan bahwa: “tujuan adalah untuk menyiapkan para siswa untuk dapat menjadi warga Negara yang baik”. Namun Barr dan Shermis (Amir, 2008: 2) menunjukkan bahwa:

Sebenarnya buku hanya satu telaah melainkan tiga yakni: 1) Pewaris budaya yang menurut mereka yang bersifat indokrinatif dalam menyampaikan bahan pengajaran. 2) tradisi ilmu sosial, yang merujuk pada pengertian

(25)

bahwa IPS sebenarnya dapat di turunkan dari salah satu ilmu sosial yang sifatnya reduktif. 3) inkuiri reflektif yang didasarkan pada pemikiran refleksi dalam tradisi ini tercermin kemampuan siswa memecahkan masalah dalam suasana lingkungan sarat nilai.

Tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan member bekal kemampuan dasar kepada murid untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi murid untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi.

d. Karateristik Ilmu Pengetahuan Sosial Riska (2016: 14) mengemukakan bahwa:

Bahan pembelajaran akan lebih banyak memperhatikan minta para siswa, masalah-masalah social, keterampilan berpiir serta pemeliharaan/

pemanfaatan lingkungan alam. Karakteristik lain yang merupakan cirri mata pelajaran ilmu pengetahuan social adalah digunakannya pendekatan pengembangan bahan pembelajaran ilmu pengetahuan social dalam rangka menjawab permasalahan yang sering muncul dalam proses pembelajaran, baik di tingkat sekolah dasar maupun lanjutan.

Berdasarkan uraian diatas, karakteristik ilmu pengetahuan sosail adalah integrasi dari disiplin ilmu-ilmu social yang dikemas dalam bentuk pokok bahasan tentang masalah pada kehidupan dengan tujuan untuk membentuk murid menjadi warga Negara yang baik.

e. Faktor-Faktor yang Mempegaruhi Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Hadiyanto (2016: 22) berpendapat bahwa: “ salah satu lingkungan belajar belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran juga dipengaruhi oleh karakteristik kelas”.

(26)

Faktor eksternal lainnya adalah faktor motivasi. Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong tingkah laku yang menuntut mendorong orang untuk memenuhi suatu kebutuhan. Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah tujuan.Motivasi sangat penting bagi anak dalam menunjang keberhasilan belajarnya. Siswa yang mengalami proses belajar, agar berhasil sesuai dengan tujuan yang harus dicapainya, perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar.

4. Peta Konsep (consept mapping)

(Dahar,2006:106) menjelaskan bahwa Peta konsep merupakan suatu pendekatan yang dapat dilaksanakan dan dapat dikembangkan baik oleh pelajar ataupun guru secara sadar dan bebas. Ausubel (Munthe, 2009:17) menjelaskan bahwa :

Concept map sebagai suatu teknik yang telah digunakan secara ekstensif dalam pendidikan. Teknik concept map ini di ilhami oleh teori belajar asimilasi kognitif Ausubel yang mengatakan bahwa belajar bermakna terjadi dengan mudah apabila konsep- konsep baru dimasukan ke dalam konsep- konsep yang lebih inklusif, dengan kata lain proses belajar terjadi bila siswa mampu mengasimilasi yang ia miliki dengan pengetahuan yang baru.

Martin (Trianto, 2007:157) menyatakan bahwa:

Peta konsep merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu anak menghasilkan pembelajaran bermakna dalam kelas. Peta konsep menyedikan bantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari. Para guru yang telah menggunakan peta konsep menemukan bahwa peta konsep memberi basis logis untuk memutuskan ide-ide utama apa yang akan dimasukkan atau dihapus dari rencana-rencana pembelajaran. Pemetaan yang jelas dapat membantu menghindari miskonsepsi yang dibentuk siswa.

(27)

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa concept mapping merupakan suatu pembelajaran yang didasarkan pada pembelajaran bermakna dan menggali kemampuan kognitif siswa yang menekankan pada pengetahuan atau konsep-konsep yang dimiliki siswa.

a. Pengertian Konsep dan Peta Konsep (consept mapping)

Djamarah & Zain (Trianto 2017: 185) menyatakan bahwa: Konsep atau pengertian merupakan kondisi utama yang diperlakuan untuk menguasai kemahiran diskriminasi, dan proses kognitif fundamental sebelumnya berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objeknya. Carrol (Trianto 2017: 185) menyatakan bahwa : mendefinisikan konsep sebagai suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok objek atau kejadian.

Abstrasi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain. Konsep- konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir, dan dalam belajar. Dengan menguasai konsep, dimungkinkan untuk memperoleh pengetahuan yang tidak terbatas.

Martin,1994 (Trianto 2017: 18) menyatakan bahwa: peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana suatu konsep tunggal dihubungkan ke konsep lain pada kategori yang sama. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Erman (Trianto 2017: 185) mengemukakan bahwa:

ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:

1) Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk

(28)

memperlihatkan konsep dan proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi IPA, IPS dan Matematika. Dengan mengguakan peta konsep, siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu bermakna. 2) Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan proporsional antara konsep-konsep. 3) Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang lebih inklusif dari pada konsep yang lain. 4) Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hierarki pada peta onsep tersebut.

Berdasarkan ciri tersebut diatas maka sebaiknya peta konsep disusun secara hierarki, artinya peta konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin ke bawah konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif. Dalam IPA peta konsep membuat informasi abstrak menjadi konkret dan sangat bermanfaat meningkatkan ingatan suatu onsep pembelajaran, dan menunjukkan pada siswa bahwa pemikiran itu mempunyai bentuk.

b. Karakteristik Peta Konsep

Munthe (2009:18-19) menyebutkan ada beberapa karakteristik terkait teknik mendesain bahan ajar dengan concept tmap yaitu:

1) Biasanya berstruktur hierarkis dengan lebih inklusif. Dalam struktur tersebut, konsep konsep general berada dibagian atas, kemudian diikuti konsep- konsep khusus yang terletak dibagian bawah. 2) Kata-kata yang menghubungkan selalu ada diatas garis-garis yang menghubungkan konsep- konsep. 3) Concept map mengalir dari atas ke bawah halaman. Tanda panah digunakan untuk menunjukan arah hubungan. 4) Sebuah Concept map merupakan representasi atau gambaran pemahaman seseorang tentang sebuah masalah. 5) Kekuatan Concept map berasal dari inter-koneksi antar konsep. 6) Perasaan sesorang mungkin dapat terekspresikan kedalam sebuah concept map.

(29)

Menerapkan strategi belajar peta konsep harus memperhatikan karakteristik peta konsep agar dalam mendesain pembelajaran sesuai dengan teknik yang akan diterapkan.

c. Kegunaan (concept mapping) dalam strategi belajar bermakna

(Muthe, 2009:20) Ada beberapa kegunaan concept map sebagai strategi belajar siswa yaitu:

1) Ia dapat digunakan sebagai sarana belajar dengan membandingkan concept map siswa dan guru. Peta konsep yang telah dibuat siswa menunjukan tingkat penguasaan siswa. 2) Dapat digunakan sebagai cara lain mencatat pelajaran sewaktu belajar, ini adalah cara belajar aktif individual. 3) Ia dapat digunakan juga sebagai alat pembanding peta konsep yang dibuat pada awal dan akhir pembelajaran dikelas. 4) Concept map membantu meningkatkan daya ingat siswa dalam belajar.

Penjelasan tersebut memperjelas bahwa peta konsep mempunyai kegunaan yang tentunya akan membawa dampak positif dalam pembelajaran:

1) Berbagi pemahaman Concept map adalah suatu teknik pendidikan yang penuh kekuatan, Karena baik siswa atau pun guru dapat membuat dan berbagi concept map sehingga tercipta berbagai pemahaman tentang suatu topik. 2) Hubungan Concept map dapat membantu memfasilitasi hubungan yang lebih sepadan antara guru dan siswa

Pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa peta konsep dapat digunakan guru dan siswa untuk berbagi pemahaman, meningkatkan kreativitas si pembuat peta konsep, dan meningkatkan hubungan yang baik antara guru dan siswa karena dalam pembuatan peta konsep bimbingan guru sangat dibutuhkan agar peta konsep yang dibuat siswa tidak melewati batas materi yang diajarkan.

d. Strategi Pembelajaran Peta Konsep (concept Mapping)

Masalah merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dipecahkan,

(30)

sehingga siswa dalam proses pemecahan masalah tentu memerlukan suatu strategi yang teapat. Sulistyono (Trianto 2017: 169) menyatakan bahwa “strategi pembelajaran sebagai tindakan khusus yang dilakukan oleh seseorang untuk mempermudah, mempercepat, lebih efektif dan lebih mudah ditransfer ke dalam situasi yang baru.

Martin (Trianto 2017: 183) berpendapat bahwa: pemetaan konsep merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu anak menghasilkan pembelajaran bermakna dalam kelas. Peta konsep menyediakan bantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari

Dahar (Trianto 2017: 185) menyatakan bahwa: peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep dan proposisi suatu bidang studi, apakah itu fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep siswa dapat melihat bidang studi lebih jelas.

e. Manfaat Pembelajaran Peta Konsep (consep mapping)

(Wahidi, 2010: 108) Pembelajaran dengan menggunakan peta konsep mempunyai banyak manfaat. Ausubel (Wahidi, 2010: 108) menyatakan dengan jaringan konsep yang digambarkan dalam peta konsep, belajar menjadi bermakna karena pengetahuan atau informasi baru dengan pengetahuan terstruktur yang telah dimiliki siswa tersambung sehingga menjadi lebih mudah terserap siswa.

f. Kelebihan dan Kelemahan Strategi Peta Konsep

Kelebihan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep yang dinyatakan

(31)

Novak dan Gowin (Anggelia ningrum, 2014:31) adalah sebagai berikut :

1) Bagi Guru: a) Pemetaan konsep dapat menolong guru mengorganisir seperangkat pengalaman belajar secara keseluruhan yang akan disajikan. b) Pemetaan konsep merupakan cara terbaik menghadirkan materi pelajaran. c) Pemetaan konsep menolong guru memilih aturan pengajaran. d) Berdasarkan kerangka kerja yang herarki. e) Membantu guru meningkatkan efisiensi dan efektitifitas pengajarannya. 2) Bagi Peserta didik: a) Pemetaan konsep merupakan cara belajar yang mengembangkan proses belajar bermakna. b) Dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas berfikir peserta didik. c) Mengembangkan struktur kognitif yang terintegrasi dengan baik yang akan memudahkan dalam belajar. d) Dapat membantu peserta didik melihat makna materi pelajaran secara lebih komperehensif dalam setiap komponen- komponen konsep dan mengenali hubungan.

Kelemahan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep adalah:

a) Perlunya waktu yang cukup lama dalam menyusun peta konsep, sedangkan waktu yang tersedia di kelas sangat terbatas. b) Sulit menentukan konsep- konsep yang terdapat pada materi yang dipelajari. c) Sulit menentukan untuk menghubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lain.

g. Pembuatan Peta Konsep

Arends (Trianto, 2017: 187) mengemukakan bahwa: langkah langkah dalam membuat peta konsep sebagai berikut :

1) Mengedentifikasi ide pokok yang melingkupi sejumlah konsep. 2) Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama. 3) Menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut. 4) Mengelompokkan ide-ide sekunder disekeliling ide utama yang secara visual menunjukkan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut :

1) Memilih suatu bahan bacaan. 2) Menentukan konsep-konsep yang relevan.

3) Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke paling tidak inklusif. 4) Menyusun konsep-konsep tersebut kedalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan dibagian atas atau di

(32)

pusat bagian bagan tersebut.

h. Macam-macam Peta Konsep

Nur (Trianto, 2017: 187) menyatakan bahwa: peta konsep ada empat macam, yaitu pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map) dan peta konsep laba-laba (spider concept map)

1) Pohon Jaringan (Network tree)

Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain yang dituliskan pada garis-garis penghubung antara ide-ide itu. Garis-garis pada peta konsep menunujukkan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkontruksi suatu pohon jaringan, tulislah topic itu dan daftarlah konsep utama yang berkaitan dengan konsep itu. Periksalah daftar dan mulai menempatkan idea tau konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berkaitan hubungannya pada garis-garis itu. Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut :

a) Suatu hierarki

b) Prosedur yang bercabang

c) Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan.

2) Rantai Kejadian (Events Chain)

Nur (Trianto, 2017: 188) mengemukakan bahwa: peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memberikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Dalam membuat rantai kejadian,

(33)

pertama-tama temukan suatru kejadian yang mengawali rantai itu. Kejadian ini disebut kejadian awal. Kemudian, temukan kejadian berikutnya dalam rantai itu dan lanjutan sampai mencapai suatu hasil. Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut:

a) Memberikan tahap-tahap dalam suatu proses b) Langkah-langkah dalam suatu prosedur linear c) Suatu urutan kejadian.

3) Peta Konsep Siklus (Cycle Concept Map)

Nur (Trianto, 2017: 189) mengemukakan bahwa: Peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil final. Kejadian terakhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Karena tidak ada hasil dan kejadian terakhir itu menghubungkan kembali ke kejadian awal, siklus itu berulang dengan sendirinya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menjelaskan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinterasi untuk menhasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang.

4) Peta Konsep Laba-Laba (Spider Concept Map)

Trianto (2017: 190) Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Melakukan curah pendapat ide-ide berangkat dari suatu ide sentral sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide, dan ini berkaitan dengan ide sentral itu, namun belum jelas hubungannya satu sama lain. Peta konsep laba-laba cocok dugunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut:

(34)

a) Tidak menurut hierarki b) Kategori yang tidak parallel c) Hasil curah pendapat.

i. Langkah-langkah model pembelajaran peta konsep (consept mapping)

1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2) Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. 3) Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang. 4) Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya. 5) Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya. 6) Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang kiranya belum dipahami siswa. 7) Kesimpulan/penutup.

j. Peta Konsep sebagai alat Evaluasi

Trianto (2017: 190) mengemukakan bahwa:

“Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep dapat digunakan untuk mengetahui pengetahuan siswa sebelum guru mengajarkan suatu topic, menolong siswa bagaimana belajar, untuk mengungkapkan konsepsi ialah (miskonsepsi) yang ada pada anak, dan sebagai alat evaluasi.

Sutowijoyo (Trianto, 2017: 191) mengemukakan bahwa: peta konsep sebagai alat evaluasi didasarkan atas tiga prinsip dalam teori kognitif Ausebel. yaitu :

1) Struktur kognitif diatur secara hierarkis dengan konsep dan proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep dan proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus. 2) Konsep dalam struktur kognitif mengalami diferensiasi progresif. Prinsip ini menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinu, dimana konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan dibentuk lebih banyak kaitan-kaitan proposisional.

Jadi, konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif. 3) Prinsip penyesuaian integrative menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara segmen-segmen konsep dan proposisi.

(35)

Dalam peta konsep, penyesuaian integrative ini deiperlihatkan dengan kaitan- kaitan silang antara segmen-segmen konsep.

Peta konsep bertujuan untuk memperjelas pemahaman suatu bacaan, sehingga dapat dipakai sebagai alat evaluasi dengan cara meminta siswa untuk membaca peta konsep dan menjelaskan hubungan antara konsep satu dengan konsep yang lain dalam satu konsep.

B. Kerangka pikir

Kerangka pikir dalam penelitian ini berasal dari rendahnya hasil belajar IPS siswa di kelas IV SD dengan kata lain pembelajaran melalui strategi peta konsep (consept mapping) diduga akan mempegaruhi hasil belajar siswa. Dalam proses belajar mengajar IPS, siswa cukup sulit memahami konsep-konsep IPS karena banyak dari konsep yang bersifat abstrak, siswa cenderung hanya menghafal tanpa memahami konsep itu sendiri, siswa tidak dapat menghubungkan anatara satu konsep ke konsep lainnya dalam suatu materi IPS consep mapping, interaksi didalam kelas hanya terjadi anatara guru dan siswa saja sedangkan interaksi antara siswa jarang terjadi, baik dalam diskusi maupun diskusi kelompok.

Pembelajaran IPS melalui strategi peta konsep (consept mapping) menekankan pada hubungan antara konsep yang satu dengan konsep yang lainsehingga menjadi konsep-konsep yang tersusun. Membawa siswa pada penguasaan belajar yang lebih sederhana. Ini berarti bahwa hasil belajar IPS dengan menggunakan strategi peta konsep (consept mapping) diduga akan menjadi lebih baik dari pada yang tidak menggunakan strategi peta konsep (consept mapping). Tujuan

(36)

akhir penerapan model pembelajaran stratergi peta konsep (consept mapping) dalam proses pembelajaran IPS pada murid sekolah dasar adalah peningkatan hasil belajar.

Adapun skema dari kerangka pikir diatas adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan dari uraian kajian pustaka , maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ada pengaruh penerapan Strategi peta konsep (consept mapping) terhadap hasil belajar belajar IPS pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba kecamatan Somba Opu kabupaten Gowa

Pembelajaran IPS

Penerapan Strategi Peta Konsep

Pretest (sebelum perlakuan)

Posttest (setelah perlakuan)

Temuan Hasil

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian 1. Jenis Penelitian

Sugiyono (2017:72) menyatakan bahwa:“penelitian eksperimen merupakan penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan (treatment) terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan”.Penelitian eksperimen (eksperimental research) merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap subjek/objek penelitian untuk menguji hipotesis.

Jenis penelitian ini adalah penelitian pre ekperimen dengan one group pretest posttest design.Penelitian ini tidak menggunakan kelas pembanding namun sudah menggunakan tes awal sehingga besarnya efek atau pengaruh penggunaan Strategi Peta Konsep (consept mapping) dapat diketahui secara pasti.Penelitian ini dilakukan dengan mengimplementasikan Strategi Peta Konsep (consept mapping) terhadap hasil belajar IPS Kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian eksperimen dengan jenis One Group Pretest-Posttest.

(38)

Tabel 3.1 Desain Penelitian

Pratest Variabel Terikat Posttest

O1 X O2

Sumber: Sugiyono (2017: 74) Keterangan:

O1 : Tes awal yang diberikan sebelum diberikan perlakuan.

O2: Tes akhir yang diberikan setelah diberikan perlakuan.

X : Perlakuan

Untuk mengetahui hasil belajar siswa maka diberi tes awal (pretest) kemudian memberi tes (posttest) setelah digunakan Strategi Peta Konsep (consept mapping)

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Dasar pertimbangan memilih lokasi penelitian di SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.yaitu ingin mengetahui pengaruh Penerapan Strategi Peta Konsep (consept mapping) Terhadap hasil belajar Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) pada siswa kelas IV di sekolah tersebut. Jadwal Pelaksanaan penelitian di SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa dengan waktu yang dimulai pada tanggal 5Mei - 5 Juli 2018.

(39)

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari satu-satuan atau individu-individu yang karakteristiknya hendak diteliti, dan satuan-satuan tersebut dinamakan unitanalisis, yang dapat berupa orang-orang, institusi-institusi, fenomena alam dan sebagainya.Populasi dalam penelitian ini adalahseluruh kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

Tabel 3.2 Keadaan PopulasiJumlah Keseluruhan kelas IV Siswa SD Inpres Bontoramba

No Kelas Jenis Kelamin

Jumlah Laki-laki Perempuan

1 IV 23 16 39

Jumlah 23 16 39

Sumber data: Papan Potensi SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kab. Gowa Tahun Ajaran 2017/2018

2. Sampel Total

Sampel adalah bagiaj dari jumlah populasi yang memiliki karakteristik yang sama dengan populasi. Sedangkan menurut Sugiyono (20016:118). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Teknik Sampling Jenuh dimana teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Dalam

(40)

penelitian ini mengambil sampel Murid kelas IV SD Inpres Bontoramba yang Berjumlah 39

Adapun Sampel Penelitian ini yaitu:

Tabel 3.3 Siswa Kelas IV

No Kelas Jenis Kelamin

Jumlah Laki-laki Perempuan

1 IV 23 16 39

Jumlah 23 16 39

Sumber data: Papan PotensiSD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kab. Gowa.

D. Definisi Operasional Variabel

Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu Strategi Peta Konsep (consept mapping) sebagai variable bebas (X) dan hasil belajar IPS sebagai variabel terikat (Y).

Secara operasional variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut:

1. Strategi Peta Konsep (consept mapping)(variabel X). Peta Konsep merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerja sama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkna masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi.

(41)

2. Hasil belajar siswa (Variabel Y) adalah hasil pengukuran yang diperoleh siswa melalaui suatu tes yang dilakukan setelah pembelajaran berlangsung pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) yang menggambarkan tingkat penguasaan materi pelajaran pada siswa.

E. Instrument Penelitian

Sugiyono (2017:102), “instrument penelitian adalah alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun social yang diamati”. Adapun instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian “Pengaruh penerapanb strategi peta konsep (consep mapping) terhadap hasil belajar IPS Siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa” adalah sebagai berikut:

1. Lembar Observasi

Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2017 : 145) mengemukakan bahwa:

“Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala- gejalaalam dan responden yang diamati tidak terlalu besar”. Lembar observasi nantinya digunakan untuk mendapatkan data mengenai aktivitas murid selama peruses pembelajaran dengan menggunakan Strategi peta konsep (consept mapping).

2. Tes Hasil Belajar

(42)

Tes hasil belajar yang digunakan adalah pretest dan posttest. Pretest digunakan sebelum pembelajaran IPSditerapkan, sedangkan posttest digunakan setelah siswa mengikuti pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran peta konsep (consept mapping). Tes hasil belajar yang digunakan berupa uraian pertanyaan soal Ilmu pengetahuan sosial. Tes tersebut dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa kelas IV.

F. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Observasi dilakukan terhadap kegiatan mengajar guru dan kegiatan belajar siswa selama pembelajaran pada kelas eksperimen. Dalam penelitian ini, peneliti betindak sebagai observer. Observer melakukan pengamatan terhadap penerapan strategi Peta Konsep dengan dibantu lembar observasi yang disediakan oleh peneliti terhadap siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

2. Tes

Jenis tes yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah pretest dan posttest. Pretest digunakan sebelum strategi Peta Konsep diterapkan, sedangkan posttest digunakan setelah siswa mengikuti pembelajaran dengan menerapkan strategi Peta Konsep. Tes hasil belajar yang digunakan berupa uraian pertanyaan soal IPSA.

Tes tersebut dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa kelas IV sehingga dapat diketahui perbedaan hasil belajar siswa antara sebelum memberikan

(43)

perlakuan dengan teknik pembelajaran konvensional dan setelah memberikan perlakuan denga menggunakan strategi Peta Konsep.

3. Dokumentasi

Menurut Hamidi (2004:72), metode dokumentasi adalah informasi yang berasal dari catatan penting baik dari lembaga atau organisasi maupun dari perorangan. Dokumentasi penelitian ini merupakan pengambilan gambar oleh peneliti untuk memperkuat hasil penelitian.

G. Teknik Analisis Data

1. Analisis Data Statistik Deskriptif

Analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian akan digunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial. Data yang terkumpul berupa nilai pretest dan nilai posttest kemudian dibandingkan. Membandingkan kedua nilai tersebut dengan mengajukkan pertanyaan apakah ada perbedaan antara nilai yang didapatkan antara nilai pretest dengan nilai Posttest. Pengujian perbedaan nilai hanya dilakukan terhadap rata-rata kedua nilai saja, dan untuk keperluan itu digunakan teknik yang disebut dengan uji-t (t-test). Dengan demikian langkah-langkah analisis data eksperimen dengan model eksperimen One Group Pretest Posttest Design adalah sebagai berikut:

% 100 N x Pf

Arikunto(2006: 306)

(44)

Keterangan:

P : Persentase

f : Frekuensi yang dicaripersentase N : Jumlahsubyek (sampel)

Guna memperoleh gambaran umum tentang rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, sebelum dan sesudah diberikan penggunaan model pembelajaran Peta Konsep (consept mapping), maka untuk keperluan tersebut dilakukan perhitungan rata-rata skor peubah dengan rumus:

N Me

Xi

Keterangan:

Me : Mean (rata-rata)

Xi : Nilai X ke i sampaike n N : Banyaknya murid

Rata-rata skor yang telah didapat, maka peneliti mengklasifikasikan hasil tersebut berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Depdiknas (2006) yang dinyatakan sebagai berikut:

Tabel 3.4 Kategorisasi Standar Hasil Belajar

No Nilai Kategori

1 85˂ x ≤ 100 Sangat Tinggi

2 70 ˂ x ≤ 85 Tinggi

3 55 ˂ x ≤ 70 Sedang

4 40 ˂ x ≤ 55 Rendah

5 0≤ x ≤ 40 Sangat Rendah

Sumber: Sekolah SD Inpres Bontoramba

(45)

Hasil belajar siswa yang diarahkan pada penerapan hasil belajar secara individual. Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila memiliki nilaiminimal 65 sesuai dengan KKM yang ditetapkan oleh pihak sekolah.

Kategorisasi ketuntasan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 3.5berikut :

Tabel 3.5Kriteria Ketuntasan Hasil Belajar (Kriteria Ketuntasan Minimum)

Nilai Kriteria Ketuntasan Hasil Belajar

< 65 Tuntas

≥ 65 Tidak Tuntas

Sumber: SD Inpres Bontoramba

Kelas yang dikatakan tuntas secara klasikal apabila minimal 75% dari jumlahsiswa telah mencapai Standar Ketuntasan Minimal (KKM).

2. Teknik Analisis DataStatistik Inferensial

Analisis inferensial merupakan statistik yang menyediakan aturan atau cara yang dapat dipergunakan sebagai alat dalam rangka mencoba menarik kesimpulan yang bersifat umum, dari sekumpulan data yang telah disusun dan diolah. Sugiyono (2017:148) menyatakan bahwa: “statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberikan untuk populasi”.Teknik ini dimaksudkan untuk pengujian hipotesis penelitian.

Menggunaan statistik inferensial ini peneliti menggunakan teknik statistik t (uji-t), dengan tahapan sebagai berikut :

(46)

t =

Sugiyono (2016:56) Keterangan:

Md = Mean dari perbedaan pretest dan posttest X1 = Hasil belajar sebelum perlakuan (pretest) X2 = Hasil belajar setelah perlakuan (posttest) D = Deviasi masing-masing subjek

= Jumlah kuadrat deviasi N = Subjek pada sampel

Langkah-langkah dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :

a. Mencari harga “Md” dengan menggunakan rumus:

Md=

Keterangan:

Md = Mean dari perbedaan pretest dengan posttest = Jumlah dari gain (posttest – pretest)

N = Subjek pada sampel

b. Mencari harga “ ” dengan menggunakan rumus:

= Keterangan :

= Jumlah kuadrat deviasi

= Jumlah dari gain (posttest – pretest) N = Subjek pada sampel

c. Mentukan harga t Hitung dengan menggunakan rumus:

(47)

t =

Keterangan :

Md = Mean dari perbedaan pretest dan posttest X1 = Hasil belajar sebelum perlakuan (pretest) X2 = Hasil belajar setelah perlakuan (posttest) D = Deviasi masing-masing subjek

= Jumlah kuadrat deviasi N = Subjek pada sampel

d. Menentukan aturan pengambilan keputusan atau kriteria yang signifikan Kaidah pengujian signifikan :

1) Jika t Hitung> t Tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima, berarti penggunaan Strategi Peta Konsep (consept mapping) berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamata Somba Opu Kabupaten Gowa.

2) Jika tHitung< tTabel maka Ho diterima, berarti penggunaanStrategi Peta Konsep (consept mapping) berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamata Somba Opu Kabupaten Gowa.

Menentukan harga t Tabeldengan Mencari t Tabel menggunakan tabel distribusi t dengan taraf signifikan .

e. Membuat kesimpulan apakah penggunaan strategi peta konsep (consept mapping) siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamata Somba Opu Kabupaten Gowa .

(48)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil data penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dapat diuraikan dan dideskripsikan secara rinci hasil penelitian tentang pengaruh penerapanStrategi Peta Konsep (Concept Mapping) terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba. Untuk mengetahuipengaruh penerapanstrategi peta konsep (consept mapping) terhadap hasil belajar IPS Siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, terlebih dahulu perlu dianalisis tentang; (1) kemampuan belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, sebelum menerapkan Strategi Peta Konsep (pretest) dan (2) kemampuan belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, setelah menerapkan Strategi Peta Konsep(posttest). Hasil penelitian tersebut merupakan hasil kuantitatif yang dinyatakan dengan angka.

Penyajian yang bertujuan mengungkap kemampuan siswa tersebut, dapat diamati pada analisis berikut ini yang dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu penyajian data pretest dan data posttest.

(49)

1. Deskripsi Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada Siswa Kelas IV SD Inpres Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten GowaSebelum menerapkan Strategi Peta Konsep(Pretest)

Berdasarkan analisis data pretesthasil belajar Ilmu pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SD Inpres Bontorambajumlah siswa 39 orang, maka diperoleh gambaran yaitu tidak ada siswa yang mampu memperoleh nilai 100 sebagai nilai maksimal. Nilai tertinggi hanya 80 yang diperoleh 1 siswa dan nilai terendah adalah 40 yang diperoleh 15 siswa.

Berdasarkan hal tersebut, maka deskripsi yang lebih jelas dan tersusun rapi mulai dari nilai tertinggi menurun ke nilai terendah yang diperoleh siswa beserta frekuesinya dapat dilihat pada tabel 4.1. Selain itu, pada tabel 4.1 dipaparkan pula data secara umum tentang distribusi nilai, frekuensi, dan persentase hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SD Inpres BontorambaKecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

Tabel 4.1 Distribusi Nilai, Frekuensi, dan Persentase hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SD Inpres

BontorambaKecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa sebelum MenerapkanStrategi Peta Konsep(pretest)

No. Nilai Frekuensi(f) Persentase(%)

1 80 1 2,56

2 70 2 5,13

3 60 3 7,69

Referensi

Dokumen terkait

Ruang penimpanan rekam medis harus dapat memberi pelaanan ang !epat kepada seluru  pasien, mudah di!apai dari segala tempat dan mudah menun#ang

Skripsi yang berjudul: Pengaruh Model Pembelajaran Somatis Auditori Visual Intelektual (SAVI) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Di Kelas VIII SMPN 1 Astambul

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Vietnam, adanya hubungan yang negatif antara harga emas dengan permintaan uang (M1), tidak ada hubungan yang pasti untuk nilai

• Pernyataan PesaN Pengaruh adlh; • Jika anda melakukan X, maka anda. akan

Besarnya Nilai Jual Objek Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) ditetapkan pemerintah kabupaten / kota dengan peraturan daerah sebesar RP 10.000.000,00 untuk setiap wajib

Melihat pada price (harga) suatu produk dihasilkan, tinggi atau rendahnya store image (citra toko) dari sebuah toko, di telinga konsumen yang diharapkan akan membuat

Berdasarkan Tabel 5, jika dibandingkan dengan kondisi Agustus 2014, secara umum penduduk yang bekerja pada Agustus 2015 mengalami peningkatan pada semua jenjang pendidikan

Menimbang, bahwa berdasarkan hal tersebut Majelis berpendapat terdakwa telah lalai dan kurang berhati-hati di dalam mengemudikan sepeda motor Honda Win BB 2191 M