• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 3 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 3 Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

3

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Perencanaan dan Penjadwalan Proyek

Pelaksanaan atau pekerjaan sebuah proyek konstruksi dimulai dengan penyusunan perencanaan, penyusunan jadwal (penjadwalan) dan untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan perencanaan diperlukan pengendalian. Perencanaan merupakan kegiatan untuk memikirkan serta memperhatikan skema kerja untuk memastikan proyek berjalan sesuai kebutuhan organisasi. Untuk dapat memenuhi kebutuhan organisasi tersebut, maka rencana yang dibuat haruslah realistis dan berguna serta melibatkan banyak waktu dan usaha dalam proses perencanaan (Schwalbe, 2004). Perencanaan yang baik sangat membantu pihak manajemen dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas atau kegiatan yang sedang dilaksanakan, selain itu bila tidak ada perencanaan, maka tidak ada pegangan atau pedoman yang dipakai untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Proses pengontrolan terhadap aktivitas-aktivitas yang harus dilaksanakan pun tidak dapat dilakukan tanpa adanya perencanaan, karena perencanaan / planning merupakan kegiatan yang mendahului controlling / monitoring (Hamilton, 1997).

Penjadwalan dalam pengertian proyek konstruksi merupakan perangkat untuk menentukan aktivitas yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek dalam urutan serta kerangka waktu tertentu, dalam mana setiap aktivitas harus dilaksanakan agar proyek selesai tepat waktu dengan biaya yang ekonomis (Callahan, 1992).

Penjadwalan meliputi tenaga kerja, material, peralatan, keuangan, dan waktu.

Dengan penjadwalan yang tepat maka beberapa macam kerugian dapat dihindarkan seperti keterlambatan dan pembengkakan biaya. Karena penjadwalan proyek merupakan hal yang penting sehingga dalam merencanakannya harus realistis berdasarkan data-data dan informasi tentang proyek. Proses perencanaan dan pengendalian jadwal proyek terdiri dari 3 tahap yaitu planning, monitoring / controlling, dan up dating.

2.2. Planning

Planning biasanya dibangun dengan menentukan atau mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang ada di proyek, mendata sequence / urutan dari aktivitas yang

(2)

4

Universitas Kristen Petra

akan terjadi di proyek dari start sampai finish (completion). Ini sangatlah membantu perencana dalam menentukan schedule dan durasi dari proyek. Langkah-langkah yang dilakukan dalam planning yaitu :

 WBS (Work Breakdown Structure) aktivitas proyek.

 Penyusunan urutan aktivitas.

 Estimasi durasi setiap aktivitas.

 Menentukan metode scheduling yang dipakai, dalam hal ini menggunakan CPM.

2.2.1. WBS (Work Breakdown Structure) Aktivitas Proyek

Work Breakdown Structure (WBS) disusun bedasarkan dasar pembelajaran seluruh dokumen proyek yang meliputi kontrak, gambar-gambar, dan spesifikasi.

Proyek kemudian diuraikan menjadi bagian-bagian dengan mengikuti pola struktur dan hirarki tertentu menjadi item-item pekerjaan yang cukup terperinci. WBS ini dimaksudkan untuk memudahkan perencana dalam membuat planning sehingga perlulah membagi scope pekerjaan menjadi scope yang lebih detail, dan untuk menentukan seberapa detail WBS ditentukan dari level of detail. Hal ini dimaksudkan agar proses perencanaan proyek memiliki tingkat yang lebih detail dan dapat mengetahui secara rinci kegiatan-kegiatan yang ada dalam pelaksanaan proyek sehingga meningkatkan akurasi perkiraan kurun waktu penyelesaian proyek.

Manfaat Work Breakdown Structure (WBS) antara lain:

1. Mengurangi kompleksitas

2. Fasilitas penjadwalan dan pengendalian 3. Estimasi Biaya (Cost Estimation) 4. Penyusunan anggaran (Cost Budgeting)

5. Perencanaan manajemen Risiko (Risk Management Planning) 6. Identifikasi aktivitas(Activity Definition)

WBS aktivitas dapat dilakukan berdasarkan gambar dan spesifikasi perencanaan proyek serta observasi lapangan, banyaknya aktivitas tergantung dari detail aktivitas yang diinginkan. Work Breakdown Structure merupakan gambaran tentang kegiatan pekerjaan yang harus dilakukan dalam penyelesaian suatu proyek yang disusun sebagai langkah awal. Penyusunan WBS diawali dengan mempelajari seluruh dokumen proyek (kontrak, spesifikasi, dan gambar-gambar). Proyek

(3)

5

Universitas Kristen Petra

diuraikan menjadi bagian-bagian (sub proyek) dengan mengikuti pola struktur dan hirarki tertentu menjadi item-item pekerjaan yang cukup terinci, yang disebut sebagai Work Breakdown Structure.

WBS merupakan patokan dari rencana kerja proyek. WBS memberikan penjelasan mengenai pekerjaan yang dilakukan, mengidentifikasi keahlian yang dibutuhkan, menjadi panduan dalam memilih tim proyek dan digunakan sebagai dasar dalam melakukan penjadwalan dan pengendalian jadwal proyek. Jumlah tingkatan dalam sebuah WBS sangat tergantung pada ukuran dan kompleksitas dari proyek yang akan dilakukan. WBS merupakan suatu perangkat yang efektif untuk menghubungkan aktivitas-aktivitas pekerjaan untuk memastikan keseluruhan pekerjaan telah tercakup, dan yang terpenting adalah WBS dapat menyediakan dasar dalam melakukan pengukuran kinerja proyek.

Ketika menyusun jadwal aktivitas, sangatlah penting untuk menyediakan level of detail untuk semua aktivitas. Tujuannya adalah menyediakan control management yang lebih baik. Planning yang detail, full, dan free dapat memberikan keuntungan, tetapi perlu diingat penyediaan detail yang berlebihan pada network dapat membuat schedule menjadi rumit, menciptakan pekerjaan yang tidak perlu, dan biaya tambahan untuk waktu persiapan dan waktu untuk proses pembuatan. Terlalu banyak informasi dapat membuat organisasi yang ada menjadi gagal dalam menjalankan fungsi-fungsinya. Setiap pekerja konstruksi akan menjadi kelebihan informasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan saat bekerja dan mungkin akan membuang waktu dan kesempatan yang seharusnya digunakan untuk melakukan pekerjaan yang lainnya. Seorang perencana sendiri haruslah berhati-hati dan selektif dalam membuat level of detail, buatlah agar lebih menguntungkan proyek dan memperlancar jalannya proyek, bukan membuang untuk rencana yang sebenarnya.

Contoh bagian dari WBS dan level of detail dapat dilihat pada Gambar 2.1..

(4)

6

Universitas Kristen Petra WBS Proyek

00000 Level 0

Level 1

Pek.Persiapan 01000

Pek. Str. Bawah 02000

Pek. Str. Atas 03000

Pek.

Finishing 04000

Major Work

Level 2

Lantai 1 03100

Lantai 2 03200

Lantai 3 03300

Atap

03400 Area

Level 3 Plat

03310

Balok 03320

Kolom 03330

Tangga

03340 Aktivitas

Level 4 Fabrikasi Tulangan

03331

Bekisting 03332

Cor

03333 Resource

Gambar 2.1. Bagian dari WBS dan Level of Detail

2.2.2. Penyusunan Urutan Aktivitas

Penyusunan urutan aktivitas adalah penentuan urutan aktivitas kerja yang akan dilaksanakan pada proyek di lapangan. Urutan aktivitas ini diperlukan untuk menggambarkan hubungan antara berbagai aktivitas yang akan dilaksanakan di lapangan.

Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun urutan aktivitas adalah : (Hamilton, 1997)

a. Predecessor, yaitu aktivitas sebelum atau yang mendahului aktivitas yang bersangkutan, misalnya aktivitas pembersihan lahan merupakan predecessor aktivitas surveyor.

b. Successor / followers, yaitu semua aktivitas sesudah atau yang terjadi setelah aktivitas yang bersangkutan, misalnya aktivitas surveyor merupakan successor aktivitas pembersihan lahan.

c. Concurrent, yaitu aktivitas-aktivitas yang dapat terjadi atau berlangsung bersamaan dengan aktivitas yang bersangkutan.

(5)

7

Universitas Kristen Petra

Hubungan antar aktivitas proyek dapat dinyatakan dengan finish to start, start to start, finish to finish, start to finish, dengan lag dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Start to finish lag

B A

Start to start

lag

B

A

A

B

lag

Finish to finish Finish to start

lag

B

A

Gambar 2.2. Hubungan antar aktivitas (Kerzner, 2003)

Dari Gambar 2.2., menunjukkan contoh hubungan antara 2 aktivitas, yaitu aktivitas A dan aktivitas B sebagai berikut :

a) Finish to start (FS)

Hubungan finish to start antara aktivitas A dan B adalah hubungan aktivitas dimana aktivitas B dapat dimulai setelah aktivitas A selesai dikerjakan.

b) Start to start (SS)

Hubungan start to start antara aktivitas A dan B adalah hubungan aktivitas dimana ketika aktivitas A dimulai maka aktivitas B juga dapat dimulai.

c) Finish to finish (FF)

Hubungan finish to finish antara aktivitas A dan B adalah hubungan aktivitas dimana aktivitas A dan aktivitas B selesai pada waktu yang sama.

d) Start to finish (SF)

Hubungan start to finish antara aktivitas A dan B adalah hubungan aktivitas dimana ketika aktivitas A dimulai maka aktivitas B sudah selesai.

e) Lag

Lag adalah jumlah waktu diantara mulai atau selesainya aktivitas A dengan mulai atau selesainya aktivitas B, yang dapat bernilai positif atau negatif.

(6)

8

Universitas Kristen Petra

 Contoh aktivitas dengan lag time positif :

A

FS +1

B

Aktivitas B dapat dimulai sehari setelah aktivitas A selesai dikerjakan.

 Contoh aktivitas dengan lag time negatif (lead time) :

FS -1

C D

Aktivitas D dimulai sehari sebelum aktivitas C selesai dikerjakan.

Setelah dilakukan penyusunan terhadap aktivitas-aktivitas tersebut, harus diberikan Activity ID untuk memudahkan di dalam pengamatan terhadap urutan aktivitas tersebut. Activity ID merupakan sekumpulan alphanumeric yang memberikan sebuah identitas khusus pada setiap aktivitas. Di dalam penulisan Activity ID, menggunakan nomer secara berurutan pada setiap aktivitasnya dimulai dari angka 1000, meningkat 100 kemudian 10 pada setiap aktivitas baru yang masih merupakan rangkaian dari sebuah aktivitas pekerjaan tersebut (Patrick, 2004).

Contoh Activity ID dapat dilihat pada Tabel 2.1. yaitu : Tabel 2.1. Activity ID Act.

ID Uraian Pekerjaan

01000 PEKERJAAN PERSIAPAN

01100 Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank 01200 Pembuatan Bedeng dan Gudang

01300 Galian Tanah Pondasi dan Sloof 01400 Galian Tandon, Biotank, Bak Kontrol 01500 Pemadatan Tanah

02000 PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH 02100 Pekerjaan Sloof 20x40

02110 Lantai Kerja Sloof 02120 Bekisting Batako Sloof 02130 Fabrikasi Tulangan Sloof

(7)

9

Universitas Kristen Petra

2.2.3. Estimasi Durasi Setiap Aktivitas

Durasi aktivitas adalah lamanya waktu dari permulaan sampai penyelesaian suatu aktivitas, sementara durasi proyek adalah lamanya waktu dari permulaan sampai penyelesaian suatu proyek secara keseluruhan yang terdiri dari aktivitas- aktivitas.

Estimasi durasi aktivitas dihitung berdasarkan pada perhitungan volume pekerjaan dan produktivitas tenaga kerja. Estimasi durasi dari waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tiap-tiap aktivitas, yang telah diidentifikasikan pada tahap awal, adalah fungsi dari volume pekerjaan yang harus diselesaikan dengan produktivitas kerja tiap satuan waktu (Patrick, 2004).

Estimasi merupakan langkah awal sebelum menuju pada penentuan schedule (calculation) yang sebenarnya. Namun juga perlu diperhitungkan role of calendars, tentang hari kerja / working days, hari libur / holiday, dan time restrictions (contractual imposed dan finished date tidak diperhitungkan). Terjadi banyak faktor yang tidak menentu dalam estimasi durasi, hal ini sangat penting bagi perencana memperhitungkannya untuk mendapatkan prediksi yang akurat. Tentu saja, para perencana dalam memprediksi estimasi durasi, tidak hanya berdasarkan dari judgement semata tapi juga banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu di lapangan. Tentu saja, hal ini mungkin mendatangkan hasil yang kurang bagus dalam estimasi karena kondisi setiap proyek tidaklah sama satu dengan yang lain. Hal-hal yang mempengaruhi dalam estimasi durasi setiap aktivitas :

1. Productivity rate, termasuk pekerja dan peralatan 2. Quantity of work harus dijelaskan dan spesifik 3. The quantity of resources available

Rumus untuk menentukan durasi setiap aktivitas adalah sebagai berikut :

Durasi =

lapangan di

ja pe Jumlah

oh SNI koefisien faktor

x Quantity

ker

)

( ...(2.1)

Volume pekerjaan diperoleh dari perhitungan gambar struktural dan gambar arsitektural. Volume pekerjaan berupa perhitungan dalam satuan tertentu, misalnya untuk pekerjaan beton, galian dan urugan tanah, serta urugan sirtu memiliki satuan

(8)

10

Universitas Kristen Petra

m³, untuk pasangan batu bata dan plesteran dinding memiliki satuan m², untuk pekerjaan benangan dan survey batas tanah memiliki satuan m1, untuk pekerjaan pemasangan instalasi listrik, bekisting kolom pedestal memiliki satuan unit, untuk pekerjaan pembersihan lahan di awal dan akhir proyek memiliki satuan lump sum (LS) danuntuk penulangan atau pembesian memiliki satuan kg.

Jam kerja adalah jumlah waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tugas dalam 1 (satu) periode. Perhitungan produktivitas berdasarkan Buku SNI Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan tahun 2002.

2.2.4. CPM

CPM kepanjangan dari Critical Path Method. Metode ini dikembangkan oleh ahli matematika dan tim insinyur dari perusahaan DuPont yang bekerja sama dengan Rand Corporation dalam usahanya untuk mengembangkan sistem kontrol manajemen. CPM merupakan suatu teknik perencanaan dengan analisis jaringan (network) berdasarkan logika ketergantungan antar aktivitas yang ada dalam proyek.

Pada CPM dapat terjawab hal-hal yang belum bisa digunakan pada bagan balok, seperti berapa lama perkiraan kurun waktu penyelesaian proyek, kegiatan mana yang bersifat kritis, jika terjadi keterlambatan maka bagaimana pengaruhnya terhadap kegiatan yang lain (Wahana, 2006).

Ada 2 metode diagram dari CPM yaitu Activity On Arrow (AOA) dan Activity On Node (AON). Di dalam penentuan waktu ke dua metode tersebut terdapat forward pass yang terdiri dari ES (Early Start) dan EF (Early Finish) dan backward pass yang terdiri dari LS (Latest Start) dan LF (Latest Finish).

Forward Pass adalah perhitungan waktu aktivitas dengan perhitungan maju.

Forward pass dimulai dengan aktivitas pertama yang dimulai di proyek, dengan waktu paling awal (early start time) sama dengan nol. Early start adalah waktu paling cepat dari suatu aktivitas dapat dimulai, sedangkan Early finish adalah waktu paling cepat dari suatu aktivitas dapat diselesaikan. Early start dan early finish dapat diperoleh dari perhitungan maju (Forward Pass), dimana hubungan keduanya dirumuskan sebagai berikut :

EF=ES + d...(2.2)

(9)

11

Universitas Kristen Petra

Backward Pass adalah perhitungan waktu aktivitas dengan perhitungan mundur. Perhitungan mundur dimaksudkan untuk mengetahui waktu atau tanggal paling akhir dapat memulai dan mengakhiri masing-masing kegiatan, tanpa menunda kurun waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan dari hasil perhitungan Forward Pass. Late start (LS) adalah waktu paling lambat dari suatu aktivitas dapat dimulai, sedangkan late finish adalah waktu paling lambat dari suatu aktivitas dapat diselesaikan. Late start dan late finish dapat diperoleh dari perhitungan mundur (Backward Pass), dimana hubungan keduanya dirumuskan sebagai berikut :

LF= LS + d...(2.3)

Aktivitas-aktivitas di mana ES = LS merupakan critical path proyek tersebut.

Critical path merupakan serangkaian aktivitas-aktivitas yang ada, yang tidak dapat ditunda jika proyek ingin selesai tepat pada waktunya. Critical path merupakan waktu tersingkat dari sebuah proyek dapat diselesaikan. Contoh CPM dapat dilihat pada Gambar 2.3. dan keterangan activity box (Newitt, 2005) dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Close out Finish elektrikal

Cat interior

Cat exterior Plesteran Insulate Elektrikal

Penutup atap

Install Siding Pemasangan bata sisi depan Pemasangan jendela

& pintu Pemasangan atap Bekisting dinding

Pemasangan sloof

35 34 0

35 1 34

34 0 32

34 2 32

32 0 29

32 29 3

32 8 29

24 3 21

29 0 23

29 23 6 20 4 16

20 16 0

18 16 2

23 5 21

22 5 17

20 3 23

20 0 23

17 4 21

25 8 29 27 10 32 14 3 17

17 3 20 14 2 16

14 0 16 9 5 14

9 0 14

3 1 4

8 5 9

3 6 9

3 0 9

Bekisting & cor plat Galian

3 0 0

3 3 0

Gambar 2.3. CPM pada proyek rumah sederhana Keterangan :

: Critical path

(10)

12

Universitas Kristen Petra

ES EF

LF LS

DUR Activity

TF

Gambar 2.4. Activity Box CPM

Float adalah jangka waktu yang merupakan ukuran batas toleransi keterlambatan suatu aktivitas yang non kritis. Float dapat dirumuskan sebagai berikut :

Float = LS-ES Float = LF-EF

Float = LS-(ES+durasi)

Total float adalah jumlah total waktu yang dimiliki oleh suatu aktivitas yang dapat ditunda (aktivitas non kritis) tanpa mempengaruhi durasi proyek secara keseluruhan. Total float dapat dirumuskan sebagai berikut :

LS-ES =LF-EF...(2.4)

Free float adalah jumlah waktu yang dimiliki oleh suatu aktivitas yang dapat ditunda (aktivitas non kritis) tanpa mempengaruhi early start aktivitas sesudahnya.

Free float dapat dirumuskan sebagai berikut :

Free float = ES(aktivitas B)-EF (aktivitas A)...(2.5)

Float factor adalah jumlah total float time untuk seluruh aktivitas yang sedang dikerjakan (dalam progress) ataupun belum selesai dikerjakan dibagi dengan durasi keseluruhan aktivitas proyek (Popescu dan Charoenngam, 1995).

Float factor menunjukkan indikasi fleksibilitas proyek, yang berarti proyek tersebut memungkinkan untuk dikerjakan dengan waktu yang cukup atau waktu yang sangat padat. Semakin tinggi nilai float factor, maka proyek tersebut memiliki waktu yang cukup, semakin kecil nilai float factor maka proyek tersebut memiliki waktu

(11)

13

Universitas Kristen Petra

yang padat, dimana besaran toleransi nilai float factor adalah 3. Float factor dapat dirumuskan sebagai berikut :

Float factor =

 

) (

) ( days started not

or remaining duration

Activity

days started not

or progress in

activities all

off float Total

....(2.6)

Critical Factor adalah jumlah durasi untuk seluruh aktivitas kritis yang sedang dikerjakan (in progress) ataupun belum selesai dikerjakan dibagi dengan jumlah durasi keseluruhan aktivitas. Critical factor berfungsi untuk memonitor seberapa kritis proyek tersebut berkenaan dengan jadwal proyek secara keseluruhan sebelum proyek dimulai dan selama proyek tersebut berlangsung. Critical factor dapat dirumuskan sebagai berikut :

Critical Factor = No Of Critica l Activities in Progress or Not Starting

Total No .Of Activities in Progress or Not Starting ...(2.7)

Critical Factor = Sum Of Critical Duration in Progress or Not Starting (days)

Total No .Of Activities Duration in Progress or Not Starting (days ) ...(2.8)

Hubungan antara critical factor dan project % completion pada Gambar 2.5.

75 100 25 50

0 0 1.00 0.75 0.50 0.25

Project % Completion Critical Factor

Gambar 2.5. Hubungan antara Critical Factor dan Project % Completion

(12)

14

Universitas Kristen Petra

Dari Gambar 2.5. dapat dilihat bahwa Project % Completion semakin meningkat ke arah 100 % atau selesai, maka critical factor juga meningkat mendekati nilai 1.

2.3. Controlling / Monitoring

Controling sebuah action yang berdasarkan pada monitoring yang dilakukan selama proyek berlangsung. Hal ini perlu untuk dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agar waktu tetap / sesuai dalam rencana awal. Bila ada hal yang tidak sesuai maka controlling / monitoring akan mengidentifikasi kesalahan lebih awal dan membuat perbaikan secepatnya. Controlling / monitoring juga dapat dikatakan kebutuhan dasar untuk memonitor dari secara berkelanjutan. Untuk menjaga suksesnya suatu proyek, sangat penting untuk membuat dokumentasi / catatan terhadap actual work dan durasi. Dan dari hasil dokumentasi / catatan tersebut akan dibandingkan dengan as plan schedule.

Ada 3 langkah yang perlu ditempuh dalam melakukan fungsi dari Controlling / Monitoring, yaitu :

a) Adanya prestasi standard sebagai tolak ukur.

 Pekerjaan rencana awal

 Pekerjaan / aktivitas yang baru

b) Mengukur dan mencatat hasil prestasi pekerjaan.

 Actual start date dan finish date

 Perubahan urutan aktivitas

c) Membandingkan dan mengevaluasi hasil prestasi actual dengan standard prestasi yang diharapkan.

Controlling / monitoring memperjelas tentang actual start (saat pekerjaan mulai) dan actual finish dates (saat aktivitas benar-benar telah selesai), atau jika aktivitas yang sudah dimulai tetapi belum selesai dan percent completenya dapat dihitung.

(13)

15

Universitas Kristen Petra

 Menentukan persentase complete

% complete =

total aktivitas Durasi

terjadi yang aktivitas Durasi

x 100%...(2.9)

2.4. Up Dating

Setelah schedule CPM dikerjakan dan dilakukan controlling / monitoring, perlu dijaga agar schedule yang kita buat tetap akurat, yaitu dengan cara up dating.

Up dating schedule dapat mempermudah kita untuk melakukan planning periode berikutnya. Up dating berfungsi untuk melakukan koreksi apabila ada pekerjaan yang terlambat yaitu dengan mengatur ulang start date dan finish date atau dengan mengubah predecessors bila diperlukan. Dengan CPM scheduling setiap up date, maka akan muncul forward pass, backward pass, free float dan total float yang baru dengan project completion date yang baru juga. Frekuensi up dating dapat dilakukan harian (Daily Updates), mingguan (Weekly Updates) atau bulanan (Monthly Updates). Perlu diingat, setiap kali membuat up dating schedule, perlu menyimpan schedule yang lama. Hal ini sangat penting dan berguna untuk planning di kemudian hari.

Dengan patokan bahwa waktu akhir proyek tidak dapat diubah atau tidak boleh sampai terganggu, ada dua cara yang dapat dilakukan dalam melakukan up dating yaitu :

1. Dengan percepatan

Jika proses pelaksanaan tidak diubah, maka termin-termin pekerjaan yang belum selesai harus dikejar dengan cara :

 Meningkatkan kapasitas

- Menambah mesin-mesin / peralatan - Menambah orang

 Prestasi tambahan - Lemburan

- Kerja di hari libur - Kerja 24 jam

(14)

16

Universitas Kristen Petra

2. Dengan merubah networknya

- Membuat beberapa aktivitas dapat dilakukan dengan bersamaan.

- Aktivitas yang bukan penghalang dapat dilakukan lebih awal.

- Pekerjaan yang telah menjadi rutinitas dapat dipercepat.

Saat project schedule sudah di updated, sangat penting melihat performance dari proyek di waktu tersebut. Perlu di-adjust atau diatur lagi bila pada waktu-waktu tersebut rencana asli / as plan schedule tidak lagi sesuai dengan actual performance.

2.5. Microsoft Project 2007

Microsoft Project adalah program aplikasi komputer yang digunakan untuk melakukan penjadwalan proyek. Dengan program ini, dapat diketahui berapa biaya yang dibutuhkan dan membuat perencanaan kapan proyek akan selesai. Microsoft project ini juga digunakan untuk membandingkan biaya perencanaan dengan biaya pelaksanaan dan untuk menampilkan grafik kurva S. Proses pembuatan skripsi ini menggunakan Microsoft Project 2007 atau biasa disebut Project 2007. Seperti versi- versi sebelumnya, fungsi dan kegunaannya relatif sama, hanya saja Project 2007 memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan versi sebelumnya, antara lain :

 Project 2007 dapat memindahkan data ke excel dengan grafik yang terstruktur.

(Visual Reports)

 Dapat memberi tanda pada perubahan perencanaan kegiatan, sumber daya atau rincian kegiatan. (Change Highlighting)

 Macam biaya untuk biaya tambahan lebih bervariasi, seperti biaya perjalanan.

Biaya tambahan ini tidak berpengaruh pada perencanaan kegiatan yang telah dilakukan. (Cost Resources)

 Dapat melakukan undo sampai ke kumpulan pekerjaan sejenis yang ingin diperbaiki. (Multi-level Undo)

 Dapat merekam hal-hal selain tanggal, seperti penjelasan sumberdaya atau pengecualian dalam kalender/waktu kerja proyek. (Calendar Working Time Exceptions)

Referensi

Dokumen terkait

Kadang-kadang pemenuhan permintaan tersebut digunakan untuk membantu perusahaan dalam mengambil tindakan yang harus dilakukan dalam menanggapi pesanan pelanggan.. Terdapat

Untuk memperoleh hasil yang optimal, maka dalam melakukan pengukuran waktu kerja harus mempertimbangkan banyak faktor, dengan demikian akan diperoleh suatu waktu standard

Biaya ini akan sulit diprediksi karena terdapat beberapa jenis roda yang digunakan dengan jenis pekerjaan dilapangan yang berbeda-beda, selain itu keahliaan

Carbon footprint primer adalah jumlah dari emisi karbon dioksida langsung pembakaran bahan bakar fosil, seperti konsumsi domestik energi dengan tungku dan pemanas air,

Sebagai contoh pada lembar dimensi, sub pekerjaan dari kolom baja adalah perhitungan berat dari profil WF 300.150.6,5.9 yang diperlukan maka dilakukan perkalian antar angka yang

Waktu tempuh ideal adalah waktu tempuh yang dibutuhkan oleh tower crane yang didapat dengan membagi jarak tempuh dengan kecepatan ideal tower crane yang didapat dari

Satuan kuantitas yang digunakan dalam membuat jadwal LSM untuk pekerjaan saluran dapat menggunakan satuan meter panjang (m) untuk setiap aktivitas sehingga konversi

Kontraktor akan menerima dokumen tender dari pemilik yang berisi dokumen-dokumen tender, antara lain: latar belakang proyek; keterangan mengenai pemilik, konsultan perencana,