• Tidak ada hasil yang ditemukan

DOCRPIJM 0d4cd53e8a BAB III03 Konsep Akhir Renc Pemb Wilayah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "DOCRPIJM 0d4cd53e8a BAB III03 Konsep Akhir Renc Pemb Wilayah"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

RENCANA PEMBANGUNAN

WILAYAH

3.1.

Dasar

Perumusan

Rencana

Pola

Ruang

Wilayah Kabupaten

Rencana pola ruang wilayah kabupaten merupakan rencana distribusi peruntukkan ruang dalam wilayah kabupaten yang meliputi rencana peruntukkan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukkan ruang untuk fungsi budidaya. Rencana pola ruang wilayah kabupaten sebagai berikut :

1. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah kabupaten;

2. Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukkan ruang;

3. Sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan untuk dua puluh tahun; dan

4. Sebagai dasar dalam pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten.

Rencana pola ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan : 1. Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten; 2. Daya dukung dan daya tampung wilayah kabupaten;

3. Kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan sosial ekonomi dan lingkungan; dan

4. Ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.

Rencana pola ruang wilayah kabupaten dirumuskan dengan kriteria : 1. Merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRWN beserta

rencana rincinya;

(2)

3. Mengakomodasi kebijakan pengembangan kawasan andalan nasional yang berada di wilayah kabupaten bersangkutan;

4. Memperhatikan rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota yang berbatasan;

5. Mengacu pada klasifikasi pola ruang wilayah kabaupaten yang terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budidaya, sebagai berikut :

a.Kawasan lindung yang terdiri atas : 1).Kawasan hutan lindung;

2).Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, meliputi : kawasan bergambut dan kawasan

resapan air;

3).Kawasan perlindungan setempat, meliputi sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, kawasan sekitar mata air, serta kawasan lindung spritual dan kearifan lokal lainnya;

4).Kawasan hutan konservasi terdiri dari kawasan suaka alam (KSA) dan kawasan pelestarian alam (KPA), KSA meliputi : cagar alam dan suaka margasatwa, KPA meliputi taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam;

5).Kawasan rawan bencana alam, meliputi : kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan gelombang pasang dan kawasan rawan banjir;

6).Kawasan lindung geologi, meliputi : kawasan cagar alam geologi, kawasan rawan bencana alam geologi dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah; dan

7).Kawasan lindung lainnya, meliputi : cagar alam biosfer, ramsar, taman buru, kawasan perlindungan plasma nuftah, kawasan pengungsian satwa, terumbu karang dan kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi.

b.Kawasan budidaya yang terdiri atas :

(3)

produksi yang dapat dikonversi; 2).Kawasan hutan rakyat;

3).Kawasan peruntukkan pertanian, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan : peruntukkan pertanian lahan basah, peruntukkan pertanian lahan kering, dan peruntukkan hortikultura;

4).Kawasan peruntukkan perkebunan, yang dirinci berdasarkan jenis komoditas perkebunan yang ada di wilayah kabupaten; 5).Kawasan peruntukkan perikanan, yang dirinci meliputi

kawasan-kawasan : peruntukkan perikanan tangkap,

peruntukkan budidaya perikanan, dan peruntukkan kawasan pengelolaaan pengolahan ikan;

6).Kawasan peruntukkan pertambangan , yang dirinci meliputi kawasan-kawasan : peruntukkan mineral dan batubara, peruntukan minyak dan gas bumi, peruntukan panas bumi dan peruntukkan air tanah di kawasan pertambangan;

7).Kawasan peruntukkan industri, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan : peruntukan industri besar, peruntukkan industri besar dan peruntukkan industri rumah tangga;

8).Kawasan peruntukkan pariwisata, yang dirinci meliputi

kawasan-kawasan : peruntukan pariwisata budaya,

peruntukan pariwisata alam, peruntukan wisata buatan, dan peruntukan wisata lainnya;

9).Kawasan peruntukan permukiman, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan : peruntukan permukiman perkotaan dan

peruntukan permukiman perdesaan. Sebagai kawasan budidaya maka permukiman diarahkan dalam kajian lokasi dan fungsi masing masing permukiman, terutama dikaitkan dengan karakter lokasi, misalnya di pegunungan, dataran tinggi, permukiman pantai, dan sebagainya; dan

c.Kawasan peruntukan lainnya.

(4)

pengemba-ngannya dan kawasan-kawasan yang diprioritaskan untuk dilindungi fungsinya;

2).Jelas, realistis dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada wilayah kabupaten bersangkutan; 3).Harus mengikuti peraturan perundang undangan terkait.

3.2.

Kebijakan Pola Ruang Wilayah Nasional Dan

Provinsi Di Kabupaten Bangka Barat

3.2.1. Kabupaten Bangka Barat dalam Penetapan Pola Ruang

Wilayah Nasional

Berdasarkan penetapan pola ruang nasional yang berkenaan dengan Kabupaten Bangka Barat adalah:

1. Kawasan Lindung Nasional, yang berkenaan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah penetapan Cagar Alam G.Lalang, G.Menumbing, G.Maras, G.Mangkol, G.Permisan, Jering Mendayung dan yang termasuk dengan Kabupaten Bangka Barat adalah Cagar Alam Gunung Menumbing, Cagar Alam Gunung Maras, dan Cagar Alam Jering Menduyung.

2. Kawasan Budidaya menurut Kawasan Andalan, ditetapkan Kawasan Andalan Bangka, dengan sektor unggulan: pertanian, perkebunan, industri, pariwisata, perikanan.

3. Kawasan Andalan Laut Bangka dan sekitarnya, dengan sektor unggulan: perikanan dan pariwisata, yang mencakup kawasan laut di Kabupaten Bangka Barat (di Laut Natuna, Selat Bangka, dan Teluk Kelabat).

3.2.2. Kabupaten Bangka Barat dalam Penetapan Pola Ruang

Wilayah Provinsi

Dalam penetapan pola ruang pada RTRWP Kepulauan Bangka Belitung, baik pada naskah rencana maupun pada gambar peta pola ruang, dapat

(5)

Tabel 3.1

Pola Ruang Dalam RTRWP Kepulauan Bangka Belitung yang Terletak di Kabupaten Bangka Barat

KAWASAN LINDUNG LOKASI KECAMATAN

1 Kawasan Hutan Lindung Muntok, Simpangteritip, Jebus, Parittiga, Kelapa, Tempilang.

2 Kawasan Bergambut Kecamatan Muntok, Sungai Teritip, Kelapa dan Jabus .

3 Kawasan Hutan Bakau Kelapa, Jebus, Tempilang, Simpangteritip. 4 Sempadan Pantai Kelapa, Parittiga, Simpangteritip.

5 Sempadan Sungai Tersebar.

6 Sempadan Kolong Muntok, Jebus, Tempilang. 7 Suaka Alam/Cagar Alam Muntok, Simpangteritip, Kelapa. 8 Cagar Budaya Muntok.

9 Taman Hutan Raya -

10 Rawan Banjir Muntok, Parittiga, Jebus,

11 Rawan Abrasi Pantai Parittiga, Tempilang, dan Simpangteritip

KAWASAN BUDIDAYA LOKASI KECAMATAN

1 Hutan Produksi Muntok, Simpangteritip, Jebus, Parittiga, Kelapa, Tempilang.

2 Perkebunan Muntok, Simpangteritip, Jebus, Parittiga, Kelapa, Tempilang.

3 Permukiman Muntok, Simpangteritip, Jebus, Parittiga, Kelapa, Tempilang.

4 Pertanian (Sawah) Simpangteritip, Jebus, Kelapa, Muntok

Sumber: Naskah RTRWP Kep. Bangka Belitung

3.2.3. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Bangka Barat

Penentuan pola ruang Kabupaten Bangka Barat dirumuskan dengan pertimbangan sebagai berikut:

o Potensi kegiatan aktual;

o Potensi Sumber Daya Alam;

o Daya dukung dan daya tampung ruang aspek lingkungan hidup; o Kesesuaian lahan;

o Existing penggunaan lahan (landuse); dan o Arahan RTRW Provinsi;

3.2.4. Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung

1. Kawasan Hutan Lindung (HL)

(6)

merupakan Hutan Lindung Pantai (HLP) yang tersebar di Kecamatan Muntok, Simpangteritip, Kelapa, Jebus, Parittiga, dan Tempilang.

 Kecamatan Muntok : HLP Jenu Muntok Tanjung Punai, HLP Jenu

Muntok Tj.Ular I, dan HLP Jenu Muntok Tj. HLP Air Nyatoh/S.Kampak, dan sebagian HLP Jenu Muntok Tj.Ular I

 Kecamatan Kelapa : Sebagian HLP Jering Menduyung, sebagian

HLP Jebu Antan, dan HL di tepi Sungai Semubur, Hutan Lindung Gunung Maras;

 Kecamatan Jebus & Prittiga : HLP Jebu Bembang, dan sebagian

HLP Jebu Antan;

 Kecamatan Tempilang : Sebagian HLP Jering Menduyung, dan HL

Kotawaringin.

2. Kawasan yang Memberi Perlindungan Terhadap Kawasan

Bawahannya

Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fsik kawasan sekitarnya. Dalam wilayah Kabupaten Bangka Barat kawasan sekitar mata air ini berpeluang terletak dalam Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya pada penetapan Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Bangka Barat, dengan penjelasan sebagai berikut ini.

 Sebagian dari kawasan sekitar mata air terletak dalam Kawasan

Lindung yaitu: Hutan Lindung dan Cagar Alam yang telah ditetapkan. Dengan demikian maka kawasan sekitar mata air

tersebut akan menjadi bagian langsung dari Kawasan Lindung yang bersangkutan.

 Sebagian dari kawasan sekitar mata air terletak dalam Kawasan

(7)

3. Kawasan Perlindungan Setempat

a).Sempadan Pantai

Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian pantai. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. (Pasal 13 dan 14 Keppres 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung).

Dalam wilayah Kabupaten Bangka Barat, sempadan pantai ini

terletak di pesisir yang berhadapan dengan Laut Natuna, Selat Bangka, dan Teluk Kelabat. Bila dikaitkan dengan penetapan Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Bangka Barat, maka terhadap sempadan pantai ini dapat dijelaskan sebagai berikut ini.

 Sebagian dari sempadan pantai terletak dalam Kawasan

Lindung yang telah ditetapkan, yaitu: Hutan Lindung (yang merupakan Hutan Lindung Pantai/ HLP) dan Cagar Alam. Dengan demikian maka sempadan pantai tersebut akan menjadi bagian langsung dari Kawasan Lindung yang bersangkutan.

 Sebagian lainnya dari sempadan pantai terletak dalam

Kawasan Budidaya yang ditetapkan; oleh karena itu sempadan pantai akan didelineasikan dalam rencana yang lebih rinci atau lebih detail yang berkenaan dengan kawasan budidaya yang terletak di tepi pantai tersebut.

b).Sempadan Sungai

(8)

 daratan sepanjang tepian sungai bertanggul dengan lebar

paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar;

 daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul di luar

kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai;

 daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar

kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai; (kriteria 1 sampai 3) sesuai dengan Pasal 56 Ayat (2) PP28/2008 tentang RTRWN);

 untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan

sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 – 15 meter (sesuai dengan Pasal 8 Permen PU No.63/PRT/1993 tentang Garis sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai).

Dalam wilayah Kabupaten Bangka Barat sempadan sungai ini terletak dalam Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya pada penetapan Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Bangka Barat, dengan penjelasan sebagai berikut ini:

 Sebagian dari sempadan sungai terletak dalam Kawasan

Lindung yang telah ditetapkan, yaitu: Hutan Lindung dan Cagar Alam. Dengan demikian maka sempadan sungai tersebut akan menjadi bagian langsung dari Kawasan Lindung yang bersangkutan.

 Sebagian dari sempadan sungai terletak dalam Kawasan

Budidaya yang telah ditetapkan; oleh karena itu sempadan sungai akan didelineasikan dalam rencana yang lebih rinci atau lebih detail pada kawasan yang bersangkutan.

c).Sempadan mata air

(9)

kualitas air dan kondisi fsik kawasan sekitarnya. Kriteria sempadan mata air adalah sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air. (Pasal 19 dan 20 Keppres 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung).

d).Sempadan kolong atau waduk

Berdasarkan proses terbentuknya dan kondisi fisik kolong, maka dalam penetapan sempadan kolong atau kawasan sekitar kolong dipakai prinsip perlindungan dan kriteria untuk waduk atau danau buatan. Perlindungan terhadap kawasan sekitar kolong atau

sempadan kolong adalah untuk melindungi kolong dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian fungsi kolong sebagai badan air. (Didasarkan pada Pasal 17 Keppres 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung). Sementara kriteria kawasan sekitar kolong atau sempadan kolong adalah:

 daratan dengan jarak 50 (lima puluh) meter sampai dengan

100 (seratus) meter dari titik pasang air kolong tertinggi; atau

 daratan sepanjang tepian kolong yang lebarnya proporsional

terhadap bentuk dan kondisi fisik kolong.

Dalam wilayah Kabupaten Bangka Barat sempadan kolong atau kawasan sekitar kolong ini terletak dalam Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya pada penetapan Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Bangka Barat, dengan penjelasan sebagai berikut ini.

 Sebagian dari sempadan kolong atau kawasan sekitar kolong

terletak dalam Kawasan Hutan Lindung yang telah ditetapkan. Dengan demikian maka sempadan kolong atau kawasan sekitar kolong tersebut akan menjadi bagian langsung dari Kawasan Hutan Lindung yang bersangkutan.

 Sebagian dari sempadan kolong atau kawasan sekitar kolong

(10)

didelineasikan dalam rencana yang lebih rinci atau lebih detail pada kawasan yang bersangkutan.

e).Ruang terbuka hijau kota

Perlindungan terhadap ruang terbuka hijau kota dilakukan untuk menciptakan keindahan atau estetika dan perbaikan iklim mikro di kawasan perkotaan. Kriteria ruang terbuka hijau kota adalah:

 lahan dengan luas paling sedikit 2.500 (dua ribu lima ratus)

meter persegi; berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur, atau kombinasi dari bentuk satu hamparan dan jalur; dan

didominasi komunitas tumbuhan.

Dalam wilayah Kabupaten Bangka Barat ruang terbuka hijau kota ini merupakan kawasan sebagaimana yang ditetapkan dalam Peraturan Bupati Nomor 27 Tahun 2010 tentang Penetapan Lokasi Ruang Terbuka Hijau Publik Kecamatan Muntok, yakni seluas kurang lebih 99.180 (sembilan puluh sembilan ribu seratus delapan puluh) meter persegi yang terletak di Kecamatan Muntok. Selain kawasan tersebut, ruang terbuka hijau akan terdapat dalam kawasan permukiman perkotaan yang telah ditetapkan dalam rencana pola ruang wilayah perkotaan. Dengan demikian maka dalam penyusunan rencana yang lebih rinci atau lebih detail berupa rencana tata ruang untuk kawasan permukiman perkotaan tersebut akan didelineasikan dan ditetapkan ruang terbuka hijau kota.

4. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya

a).Kawasan Hutan Konservasi dan Cagar Alam

Kawasan hutan konservasi dan cagar alam Kabupaten Bangka Barat yang terletak di pulau utama/ induk Pulau Bangka adalah tersebar di Kecamatan Muntok, Simpangteritip, dan Kelapa, yang meliputi:

 Kawasan hutan konservasi Gunung Menumbing seluas

(11)

 Kawasan hutan konservasi Jering Mendayung seluas 3.537,71

ha, terletak di Kecamatan Simpangteritip dan 71,08 ha di Kecamatan Tempilang;

 Kawasan hutan konservasi Gunung Maras seluas 1.215,55 ha,

terletak di Kecamatan Kelapa;

 Cagar Alam Laut Pantai Tanjung Ular di Kecamatan Muntok;

dan

 Cagar Alam Laut Pulau Pemuja di Desa Penganak Kecamatan

Jebus.

Untuk pulau-pulau kecil, selama belum ditetapkan adanya pengembangan fungsi tertentu, maka pada tahap awal ini ditetapkan sebagai Cagar Alam kecuali Pulau Nanas di Kecamatan Paritiga yang telah ditetapkan sebagai objek wisata pulau kecil.

b).Kawasan pantai berhutan bakau

Kawasan pantai berhutan bakau di Kabupaten Bangka Barat adalah tersebar pada kawasan berikut:

 Kecamatan Muntok seluas + 3.363,36 ha;

 Kecamatan Simpangteritip seluas + 6.369,60 ha;

 Kecamatan Kelapa seluas + 4.632,11 ha;

 Kecamatan Jebus seluas + 3.130,67 ha;

 Kecamatan Paritiga seluas + 1.509,03 ha: dan

 Kecamatan Tempilang seluas + 3.646,80 ha.

c).Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan

(12)

didelineasikan secara lebih tepat. Cagar Budaya yang ditetapkan

ada yang merupakan bagian dari ”Kota Muntok Lama” dan

beberapa lainnya berada di luar. Cagar Budaya yang merupakan bagian dari ”Kota Muntok Lama” adalah berupa heritage building, yakni sebanyak 46 unit, meliputi:

 Bangunan ”ex-pusat pemerintahan keresidenan” dahulu, yang

sekarang merupakan Rumah Dinas Bupati Bangka Barat;

 Bangunan ”Banka Tinwinning Bedriff” (BTW);

 Bangunan ”Rumah Mayor Chung A Thiam”;

 Bangunan “Rumah Kapten Cina”;

 Bangunan “Mesjid Jami’ Muntok”;

 Makam “Kanjeng Pangeran Pakoeningprang”;

 Bangunan ”Kelenteng Kung Fuk Miau”;

 Bangunan ”Petak Lima Belas”;

 Bangunan ”Pesanggrahan Muntok”;

 Komplek ”Benteng Kuta Seribu”, yang terdiri atas benteng dan

kuburan keramat (komplek Makam Bangsawan Melayu);

 Bangunan ”Gereja Santa Maria”;

 Komplek ”Makam Belanda (Kerkhoff)”;

 Bangunan ”Mercu Suar Tanjung Kalian” di dalam kawasan

pelabuhan o Tanjung Kalian di Kecamatan Muntok;

 Bangunan ”Surau Kampung Tanjung”, di Kelurahan Tanjung;

 Monumen ”Perang Dunia II (Monumen Vivian Bullwinkel)”, di

Tanjung Kalian;

 Bangunan ”Pesanggrahan Menumbing (Giri Sasana

Menumbing)” di dalam kawasan Cagar Alam Menumbing, di

Kecamatan Muntok;

 Situs ”Benteng Kota” di Desa Benteng Kota, Kecamatan

Tempilang, yang terletak di dalam kawasan perkotaan

Tempilang; dan Makam ”H. Khatamarrasyid”, di Desa Bakit

(13)

Selain itu, cagar budaya yang ditetapkan di Kabupaten Bangka Barat adalah berupa situssitus bersejarah, yakni terdiri dari 42 lokasi sebagai berikut:

1. Kampung Ulu (Kampung Pemohon)

2. Kampung Tanjung (Kampung Jiran Siantan) 3. Kampung Telukrubiah (Kampung Patenun) 4. Sekitar Pesanggerahan Muntok

5. Sekitar Masjid Jamik 6. Sekitar Rumah Mayor

7. Sekitar Batu Balai dan Menumbing

8. Sekitar Kantor Karesidenan Belanda 9. Petak 15

10.Pelabuhan Muntok 11.Sekitar Pasar Lama 12.Kantor Pos

13.Sekitar Tangsi

14.Sekitar Kuburan Tanggaseribu 15.Jembatan Inggeris

16.SD Negeri 1

17.Mercusuar Tanjung Kalian

18.Bangunan dan Mercusuar Tanjung Ular 19.Sekitar Kantor Wilasi (BTW)

20.Gedung Kuning 21.Gereja GPIB

22.Lembaga Pemasyarakatan

23.Bina Jaya 24.Rumah Macan

25.Gedung Syahbandar Lama 26.Lapangan Terbang Muntok

(14)

31.Sekitar Kuburan Kebunnanas 32.Gua Jepang Sekitar Jalan Menara 33.Sekitar Menjelang Lama

34.Sekitar Tanjung Punai, Belolaut 35.Sekitar Rumah Sakit Jiwa muntok 36.Bioskop Samudra

37.Bioskop Merdeka

5. Kawasan Rawan Bencana Alam

Lokasi yang teridentifikasi rawan banjir/ genangan di Kabupaten

Bangka Barat adalah sebagai berikut.

 Kelurahan Tanjung, meliputi Kampung Tanjung, Kampung Ulu,

dan Kampung Teluk Rubia seluas kurang lebih 29 hektar; dan

 Kelurahan Sungai Daeng Kampung Culong seluas kurang lebih 1

(satu) hektar: dan

 Ibukota Kecamatan Parittiga.

6. Kawasan Lindung Geologi

Kawasan lindung geologi yang ada di Kabupaten Bangka Barat merupakan kawasan rawan abrasi pantai, meliputi:

 Kelurahan Tanjung Kecamatan Muntok;

 Desa Belo Laut Kecamatan Muntok;

 Desa Teluk Limau Kecamatan Parittiga;

 Desa Bakit Kecamatan Parittiga;

 Desa Tanjung Niur Kecamatan Tempilang.

3.2.5. Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya

1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi (HP)

Kawasan Hutan Produksi (HP) di Kabupaten Bangka Barat adalah seluas + 74.447,23 ha, meliputi:

(15)

 sebagian hutan produksi Air Rambat, hutan produksi Jering

Menduyung, dan hutan produksi Air Nyatoh/S.Kampak di Kecamatan Simpangteritip;

 sebagian hutan produksi Jering Menduyung dan sebagian hutan

produksi Jebu

 Antan/Air Bulin di Kecamatan Kelapa;

 hutan produksi Jebu Bembang dan hutan produksi Jebu Antan di

Kecamatan Jebus dan Parittiga; dan

 hutan produksi Jering Menduyung dan hutan produksi

Kotawaringin di Kecamatan Tempilang.

2. Kawasan Hutan Rakyat (HR)

Kawasan Hutan Rakyat (HR) terdapat di semua kecamatan, berturut-turut dari yang terluas adalah Kecamatan Jebus, Muntok, Simpangteritip, Kelapa, Tempilang dan Parittiga. Luas peruntukan kawasan hutan rakyat tersebut adalah + 290,60 hektar.

3. Kawasan Peruntukan Pertanian

Kawasan peruntukan pertanian adalah seluas 148.212,18 Ha, tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Bangka Barat.

a).Peruntukan pertanian lahan pangan

Kawasan pertanian lahan pangan yang potensial terdapat di semua kecamatan, yang luas keseluruhannya sekitar 16.655,86 hektar. b).Peruntukan pertanian hortikultura

Kawasan pertanian hortikultura terdapat di semua kecamatan, yang

luas keseluruhannya sekitar 2.645,74 hektar. c).Kawasan peruntukan perkebunan

 Perkebunan besar

Kawasan perkebunan besar di Kabupaten Bangka Barat terdapat di semua kecamatan, yaitu seluas + 44.087,75 hektar.

 Kawasan perkebunan rakyat

(16)

d).Kawasan peruntukan peternakan

Kawasan peternakan di Kabupaten Bangka terdiri dari Kawasan Penggembalaan Umum. Kawasan tersebut direncanakan berlokasi di Kecamatan Kelapa, tepatnya berada di areal Landbouw atau areal peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat seluas 71,74 hektar dan kawasan peternakan lainnya yang berada di Kecamatan Muntok dan Paritiga. Total luas kawasan peternakan di Kabupaten Bangka Barat seluas 76,19 hektar.

4. Kawasan Peruntukan Perikanan

Kawasan perikanan di kabupaten Bangka Barat terbagi 2 jenis, yaitu kawasan perikanan tangkap dan kawasan budidaya perikanan.

a).Kawasan perikanan tangkap

Sebagai kabupaten kepulauan yang sebagian wilayahnya terdapat wilayah perairan maka zonasi potensi perikanan tangkap terletak di sepanjang pantai di Kecamatan Muntok, Jebus, Simpangteritip, dan Tempilang dengan total luas kurang lebih 31.352,91 ha

b).Kawasan budidaya perikanan

Lokasinya kawasan budidaya perikanan adalah tersebar di seluruh kecamatan, dengan menggunakan media kolong, sungai, dan air payau, terdiri dari:

 budidaya perikanan air tawar dan payau denngan luas kurang

lebih 16.164,03 ha; dan

 budidaya perikanan laut, yaitu seluas kurang lebih 46.661,57

ha.

5. Kawasan Peruntukan Pertambangan

(17)

6. Kawasan Peruntukan Industri

Kawasan peruntukan industri di Kabupaten Bangka Barat adalah terdiri dari:

 kawasan stock pile batubara dan PLTU di Tanjung Kalian

Kecamatan Muntok seluas + 113,59 hektar;

 kawasan industri pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) seluas 25

hektar;

 kawasan industri perikanan Teluk Klabat di Kecamatan Parittiga;

dan

 kawasan industri dan pelabuhan terpadu (KIPT) di Tanjung Ular

Kecamatan Muntok seluas + 1.275 hektar. Sebagian kecil dari kawasan ini (kurang lebih 425 hektar) sebelumnya merupakan bagian dari Hutan Lindung yang akan dimohonkan pengajuan perubahan status menjadi APL (Areal Penggunaan Lain).

7. Kawasan Peruntukan Pariwisata

Kawasan peruntukan pariwisata seluruhnya adalah seluas + 546 Ha, yang tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Bangka Barat. Kawasan Wisata dibagi menjadi 3 SKW (Satuan Kawasan Wisata), yaitu:

 SKW I meliputi Kecamatan Muntok dan Simpangteritip. Objek wisata

yang ada di SKW I meliputi:

a. Wisata Alam : Pantai Tanjung Kalian, Tanjung Ular, Pantai Bidadari, Pantai Muntok Asin, Pantai Batu Rakit, Pantai Air Mas Rambat, Pantai Air Nyatoh, Pantai Menggris dan Pantai Karang

Aji, Gunung menumbing, Batu Balai, Tanah Merah, Tungau, dan Mentiba.

(18)

 SKW II meliputi Kecamatan Jebus dan Prittiga. Objek wisata

yang ada di SKW II meliputi:

a. Wisata Alam : Pantai Tanjung Ru, Pulau Nenas, Pantai Blembang, Pantai Brembang, Bukit Mempari, Kebun Teh Tayu, Pulau Beri-beri, Bembang, Siangau, dan Pala jebu.

b. Wisata Budaya : Klenteng Cina, makam Haji Khotamarrasyid bin H. Usman, Sembahyang Bulan, dan Sembahyang Kubur.

 SKW III meliputi Kecamatan Tempilang dan Kelapa, meliputi

kawasan:

a. Wisata Alam : Pantai Pasir Kuning, Pantai Kedacak, Air panas

Dendang, perkebunan sawit, sarang burung wallet. b. Wisata Budaya : Benteng Kuta Tempilang.

8. Kawasan Peruntukan Permukiman

Kawasan peruntukan permukiman secara keseluruhan adalah seluas + 8.850,08 Ha yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Bangka Barat.

a).Peruntukan permukiman perkotaan

Kawasan Permukiman Perkotaan (PK) terdapat di semua kecamatan, berturut-turut dari yang terluas adalah Kecamatan Muntok, Jebus, Parittiga, Tempilang, Kelapa, dan Simpangteritip dengan total luas 7.299,04 hektar

b).Peruntukan permukiman perdesaan

Kawasan Permukiman Perdesaan (PD) terdapat di semua kecamatan, berturut-turut dari yang terluas adalah Kecamatan

(19)

Gambar 3.1

Gambar

Tabel 3.1 Pola Ruang Dalam RTRWP Kepulauan Bangka Belitung yang
Gambar 3.1 Peta Administrasi Kabupaten Bangka Barat

Referensi

Dokumen terkait

Pada rencana kawasan budidaya terbagi menjadi 2 (dua), yaitu kawasan budidaya yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang terkait dengan wilayah

yang telah ditetapkan dalam rencana pengelolaan sumber daya air wilayah

WP Bodebekpunjur sebagai pengembangan kawasan perkotaan di wilayah Jawa Barat dengan kesetaraan fungsi dan peran kawasan di KSN Jabodetabekpunjur serta antisipatif

Ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan merupakan bagian dari penataan ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan hijau pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan

Berdasarkan surat Keputusan Bupati No. 184.45/ 140/ Bappeda/ 2008 Tentang Penetapan Kawasan Strategis Pangkalan Baru Yang meliputi 5 desa dan 1 kelurahan yaitu: Desa Jeruk,

Pada rencana kawasan budidaya terbagi menjadi 2 (dua), yaitu kawasan budidaya yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang terkait dengan wilayah

Kawasan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan (RTHP) ditentukan seluas 30 % (tiga puluh perseratus) dari luas kawasan meliputi 20% (dua puluh perseratus) RTHP publik dan

p) Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.. III - 27 Gambar 3.1 Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten Enrekang.. III - 28 Strategi penataan ruang wilayah