MAKALAH PSIKOLOGI KOMUNIKASI
“ATRAKSI INTERPERSONAL”
Disusun oleh:
Rise Rismayanti (114100029)
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON
Kata Pengantar
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat rahmat-Nya saya bisa menyelesaikan makalah dari tugas mata kuliah Psikologi Komunikasi.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi sempurnanya makalah ini.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
BAB I PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG...1
1.2 RUMUSAN MASALAH...1
1.3TUJUAN...1
BAB II PEMBAHASAN
2.1PENGERTIAN...2
2.2FAKTOR-FAKTOR TIMBULNYA ATRAKSI INTERPERSONAL...2
2.3 PENGARUH ATRAKSI INTERPERSONAL...8 BAB III TEORI
3.1 TEORI-TEORI HUBUNGAN INTERPERSONAL...10
3.2 TAHAP-TAHAP...12 BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN...18
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap manusia di dunia ini memerlukan adanya komunikasi antara satu dengan yang lain. Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk sosial yang berarti memerlukan orang lain. Dengan demikian, secara tidak langsung satu dengan yang lainnya harus melakukan suatu komunikasi, baik verbal maupun non verbal.
Komunikasi yang baik terjadi apabila antara komunikator dengan komunikan memahami isi pesan yang disampaikan atau diterima dan komunikan memberikan tanggapan (feedback) dari pesan yang telah disampaikan oleh komunikator. Jika semua itu, berjalan dengan baik maka komunikasi pun akan berjalan dengan baik pula.
Dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai atraksi interpersonal, faktor-faktor personal dan situasional yang mempengaruhi Atraksi Interpersonal. Atraksi Interpersonal dapat mempengaruhi komunikasi Interpersonal karena atraksi interpersonal dapat berpengaruh pada keefektifan komunikasi dan penafsiran pesan oleh komunikan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari atraksi interpersonal?
2. Apa pengaruh atraksi interpersonal pada komunikasi interpersonal? 3. Apa saja teori-teori hubungan interpersonal?
4.Apa saja tahap dan faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa pengertian atraksi interpersonal
2. Untuk mengetahui pengaruh atraksi interpersonal pada komunikasi interpersonal 3. Untuk mengetahui teori-teori hubungan interpersonal
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
.
Atraksi berasal dari bahasa latin “attrahere (att: menuju) dan “trahere”: menarik. Jadi, atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Makin tertarik kita dengan orang lain, maka makin besar kcenderungan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain. Daya tarik seeorang sangat penting bagi komunikasi interpersonal. Jika kita menyukai seseorang, maka kita cenderung melihat sesuatu dari diri seseorang tersebut secara positif. sebaliknya, jika kita tidak menyukai seseorang, maka kita cenderung melihat sesuatu dari diri seseorang tersebut secara negative.
Dengan bahasa sederhana, ini berarti, dengan mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, kita dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Makin tertarik kita kepada seseorang, makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan dia. Kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang kita sebut sebagai atraksi interpersonal .Karena pentingnya peranan atraksi interpersonal, kita ingin membicarakan faktor-faktor yang menyebabkan mengapa personal stimuli menarik kita. Sebagaimana sering kita bicarakan dalam bagian-bagian lain, di sini pun faktor personal dan situasional menentukan siapa tertarik pada siapa.
2.2FAKTOR-FAKTOR TIMBULNYA ATRAKSI INTERPERSONAL
A. Faktor Personal
1. Kesamaan Karakteristik Personal
Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat
sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Menurut teori Cognitive
Don Byrne (1971) menunjukkan hubungan linear antara atraksi dengan kesamaan, dengan menggunakan teori peneguhan dari Behaviorisme. Persepsi tentang adanya kesamaan mendatangkan ganjaran, dan perbedaan tidak mengenakkan. Kesamaan sikap orang lain dengan kita memperteguh kemampuan kita dalammenafsirkan realitas sosial. Kita benar. Kita
mendapat dukungan. Kita menyukai orang yang mendukung kita. “An agreeable person,”
kita Disreali, “is a person who agrees withme.” (Tubbs dan Moss, 1974:93)
Asas kesamaan ini pada kenyataan bukanlah satu-satunya determinan atraksi. Atraksi interpersonal akhirnya merupakan gabungan dari efek keseluruhan interaksi di antara individu. Walaupun begitu,bagi komunikator, lebih tepat untuk memulai komunikasi dengan mencari kesamaan di antara semua peserta komunikasi.
Contoh: Ketika kita sedang naik kendaraan umum dan berjumpa dengan seorang kenalan baru. Maka percakapan kita berlangsung dan dimulai dari masalah-masalah demografis (dimana anda tinggal, pekerjaan anda, dll) sampai masalah-masalah politik dan sebagainya.
2. Tekanan Emosional (Stress)
3. Harga Diri yang Rendah
Menurut Elaine Walster dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) membayar beberapa orang mahasiswi untuk menjadi peserta dalam penelitian tentang keperibadian. Sesuai dengan rancangan penelitian, sebelum eksperimen dimulai, subjek secara kebetulan (sebetulnya tidak) berjumpa dengan seseorang mahasiswa yang bermaksud menemui peneliti. Terjadilah percakapan sambil menunggu kedatangan peneliti. Si mahasiswa menunjukkan minat yang besar pada mahasiswi itu. Mereka mengobrol selama 15 menit dan sang perjaka berusaha untuk mengajak berkencan.Setelah itu, subjek diberi tes keperibadian. Sebagian subjek diberi penilaian yang positif (misalnya keperibadian dewasa, orisional, dan sensitif), setengahnya lagi diberi penilaian negatif. Maksud Walster,sebagian ditinggikan harga dirinya sebagian lagi direndahkan. Menurut kesimpulan Walster bila harga diri direndahkan,hasrat afiliasi (bergabung dengan orang lain) bertambah, dan ia makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain. Dengan kata lain orang yang rendah diri cendrung mudah mencintai orang lain (Tubbs dan Moss,1974)
4. Isolasi Sosial
Manusia adalah makhluk sosial,itu sudah diketahui orang banyak.Manusia mungkin tahan hidup terasing beberapa waktu,tetapi untuk waktu yang lama. Isolasi sosial adalah pengalaman yang tidak enak. Beberapa orang peneliti telah menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial amat besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain. Bagi orang yang terisolasi narapidana, petugas rimba atau penghuni pulau terpencil kehadiran manusia merupakan kebahagiaan. Karena manusia cenderung menyukai orang yang mendatangkan kebahagiaan,maka dalam konteks isolasi sosial,kecenderungannya untuk menyenangi orang lain bertambah.
B. Faktor Situasional
Dayatarik Fisik (Physical Attractiveness)
2. Ganjaran (Reward)
Kita menyenangi orang yang memberikan ganjaran kepada kita. Ganjaran itu berupa bantuan, dorongan moral, pujian atau hal – hal yang meningkatkan harga diri kita. Menurut
teori pertukaran sosial (sosial exchange theory), interaksi sosial adalah semacam transaksi dagang. Kita akan melanjutkan interaksi bila laba lebih banyak dari biaya. Dengan demikian, timbul pada interaksi yang banyak mendatangkan laba. Bila pergaulan saya dengan Anda sangat menyenangkan,sangat menguntungkan dari segi psikologis atau ekonomis,kita akan saling menyenangi (Thibault dan Kelley, 1959; Homans,1974; Lott dan Lott;1974) dalam Jalaluddin Rakhmat (2011).
3. Familiarity
Konsep ini artinya adalah hal – hal yang sering kita lihat atau sudah kita kenal dengan baik. Jika kita sering berjumpa dengan seseorang, bisanya kita akan menyukainya. Prinsip ini biasa diperluas. Pendapat dan sikap kita biasanya dipengruhi pesan yang diulang – ulang (repetisi). Prinsip ini misalnya sangat dikenal dalam periklanan. Robert B. Zajonc dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) memperlihatkan foto-foto wajah dalam subjek-subjek eksperimennya. Ia menemukan makin seriang subjek melihat wajah tertentu maka ia akan
menyukainnya. Dari penelitian tersebut kemudian melahirkan sebuah teori “more exposure”
(terpaan saja). Hipotesis itu dipakai sebagai landasan ilmiah akan pentingnya repetisi pesan dalam mempengaruhi pendapat dan sikap.
4. Kedekatan (Proximinity)
5. Kemampuan (Competence)
Ada kecenderungan bahwa kita menyukai orang – orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari kita atau berhasil dalam kehidupannya. Pemain-pemain bulu tangkis dipuja orang ketika mereka berhasil mengalahkan lawannya, dan dicaci maki ketika mereka gagal. Orang-orang yang sukses dalam bidang apa pun,profesional atau nonprofesional umumnya mendapat simpati orang banyak. Aronson dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) menemukan dalam penelitian yang dilakukannya, bahwa orang yang paling disenangi adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi, tetapi menunjukkan beberapa kelemahan. Aronson menciptakan empat kondisi eksperimental, yaitu:
1) Orang yang memiliki kemampuan tinggi dan berbuat salah
2) Berkemampuan tinggi tapi tidak berbuat salah
3) Orang yang memiliki kemampuan rata-rata dan berbuat salah
4) Orang yang berkemampuan rata-rata dan tidak berbuat salah
TEORI TENTANG LIKING
1. Physical Attractiviness Theory
Secara naluri, orang akan lebih menyukai orang lain yang menarik dari sisi penampilan fisik. Ini misalnya saja: cantik, tampan, bersih, rapi, teratur, dan seterusnya dan seterusnya. Orang yang penampilannya paling tidak rapi sekalipun terkadang tidak menyukai orang lain yang tidak rapi. Perokok sendiri sering tidak menyukai perokok lain yang merokoknya sembarangan.
2. Competency Theory
Orang cenderung lebih menyukai orang lain yang lebih kompeten, punya banyak kebisaan, lebih kreatif, lebih terampil, lebih smart, dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan untuk urusan pekerjaan, orang lebih menyukai / mempercayai orang lain karena melihat kompetensinya ketimbangan saudaranya, anaknya atau sahabat karibnya.
3. Reciprocal Theory
Orang cenderung menyukai orang lain yang menyukainya (ada timbal baliknya). Like attracts like, begitu katanya. Tapi ini masih dengan catatan bahwa kesukaan yang kita tunjukkan itu haruslah genuine, bukan dibuat-buat atau hanya untuk mencari muka. Kalau itu dibuat-buat atau hanya sekedar untuk mencari muka, biasanya malah menimbulkan ketidaksenangan.
4. Similiarity & Complementary Theory
Orang cenderung menyukai orang lain yang punya beberapa kemiripan / kesamaan dengan dirinya. Ini misalnya saja: satu daerah, satu almamater, satu partai, satu hobi, satu visi, satu pemikiran, satu perasaan, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi katanya, kesamaan dan kemiripan ini tidak mampu menghasilkan kesenangan yang langgeng apabila tidak ditopang oleh unsur lain yang menjadi penguatnya. Karena itu harus ada complementary-nya: saling mengisi, saling mendukung, saling memberi-mendapatkan, dan seterusnya. Jika complementary-nya tidak muncul, maka dengan sendirinya similiarity-nya itu hanya sekedar masa lalu.
5. Exchange Theory
Orang akan menyenangi orang lain yang memberikan untung, nilai plus, atau manfaat kepadanya. Minimalnya tidak sampai merugikan. Soal itu berupa materi atau non-materi, itu soal konteks. Prinsipnya, tidak ada manusia yang bisa menerima kerugian dari proses interaksi yang dijalankan.
6. Reinforcement Theory
7. Gain-loss Theory
Menurut teori ini, kita akan menyukai orang lain yang evaluasinya, koreksinya, atau dukungannya kepada kita cenderung selalu membaik, bukan semakin memburuk atau biasa-biasa saja. Sebaliknya juga begitu. Kita lebih cenderung akan tidak senang sama orang lain yang makin lama bukannya makin baik penilaiannya, sikapnya atau perlakuannya.
Hubungan Interpersonal
Hakikat dari hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Pandangan ini merupakan hal baru dan untuk menunjukan hubungan pesan komunikan ini disebut dengan metakomunikasi.
Komunikasi yang efektif ditandai dengan adanay hubungan interpersonal yang baik. Menurut Anita Taylor dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting. Setiap melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekadar menyampaikan isi pesan (content), tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal (relationship).
2.3 PENGARUH ATRAKSI INTERPERSONAL PADA KOMUNIKASI INTERPERSONAL
a.Penafsiran Pesan dan Penilaian
Sudah diketahui bahwa pendapat dan penilaian kita tentang orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional. Kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang,kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika kita membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negatif.
Komunikator yang dipandang menarik, karena kesamaan, kedekatan, daya tarik fisik, lebih efektif dalam mempengaruhi perubahan pendapat dan sikap. Beberapa penelitian mencoba menghubungkan apa yang dipilih dalam Pemilu dengan kesukaan pada calon anggota Congress di Amerika Serikat. Kesamaan sikap antara pemilih dengan calon, apalagi kalau ditambah daya tarik fisik calon, merupakan prediktor (peramal) yang sangat tepat untuk meramalkan pilihan orang dalam Pemilu.
b. Efektifitas Komunikasi
Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila kita berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita,kita merasa gembira, dan terbuka. Berkumpul dengan orang-orang yang kita benci akan membuat kita tegang,resah, dan tidak enak. Kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi.
BAB III
TEORI
3.1 TEORI-TEORI HUBUNGAN INTERPERSONAL
1. Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu
transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.
Ganjaran yang dimaksud adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya adalah akibat yang negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menimbulkan efekefek tidak menyenangkan.
2. Model Peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai
panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya.
3. Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.
4.Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu : • Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua). • Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional) • Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
3.2 TAHAP-TAHAP
C. Tahap Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal berlangsung melalui tiga tahap, yaitu:
1. Pembentukan hubungan
Tahap ini sering disebut dengan tahap perkenalan (acquaintance process). Beberapa orang peneliti seperti Newcomb (1961), Berger (1973), Zunin (1972), dan Duck (1976) telah menemukan hal-hal yang menarik dari proses perkenalan. Fase pertama adalah fase kontak permulaan (initial contact phase) yang ditandai oleh usaha dari kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali identitas, sikap, dan nilai pihak lain. Bila terdapat kesamaan, maka mulailah dilakukan proses pengungkapan diri. Proses saling menilik ini disebut Newcomb sebagai saling menyelidiki (reciprocal scanning). Pada tahap ini informasi yang dicari berkisar mengenai data demografi, usia, pekerjaan, tempat tinggal, dsb.
Menurut Charles R. Berger dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori yaitu:
Informasi demografis
Sikap dan pendapat (tentang orang atau objek)
Rencana yang akan datang membentuk kesan dari petunjuk proksemik, kinesik, paralinguistic, dan artifaktual. Menurut Willian Brooks dan Philip Emmert dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), kesan pertama sangat menentukan, karena itu hal-hal yang pertama kelihatan sangat menentukan kesan pertama.
1. Peneguhan hubungan
Keakraban
Keakraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan interpersonal akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang keakraban yang diperlukan.
Kontrol
Kontrol disini mencakup kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Konflik terjadi pada umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah.
Ketepatan respons
Ketepatan respons artinya respons A harus diikuti respons B yang sesuai. Respons ini bukan saja berkenaan dengan pesan verbal, tapi juga pesan nonverbal. Dalam konteks ini respons dibagi dalam dua kelompok yaitu:
1) Konfirmasi, yaitu respons yang dapat memperteguh hubungan interpersonal. Berikut ini adalah beberapa respons yang termasuk konfirmasi:
Pengakuan langsung, adalah menerima pernyataan dan memberikan respons dengan
segera.
Contoh: “Saya setuju. Anda benar .“
Perasaan positif, adalah mengungkapkan perasaan yang positif terhadap apa yang
sudah lawan bicara katakana.
Contoh: “Terima kasih atas pujianmu.”
Respons meminta keterangan, adalah meminta menerangkan isi sebuah pesan.
Contoh: “Ceritakan lebih banyak tentang itu.”
Respons setuju, adalah memperteguh apa yang telah dikatakan.
Contoh: “Saya setuju, ini memang keputusan terbaik untuk mereka saat ini.”
Respons suportif, adalah mengungkapkan pengertian, dukungan, atau kalimat yang
memperkuat.
13
2) Diskonfirmasi, yaitu respons yang justru merusak hubungan interpersonal. Berikut ini adalah beberapa respons yang termasuk diskonfirmasi:
Respons sekilas, adalah memberikan respons pada suatu pernyataan, tetapi dengan
segera mengalihkan pembicaraan.
Contoh: “Apakah konsernya bagus?” “Lumayan. Besok ke kampus jam berapa?”
Respons impersonal, adalah memberikan komentar dengan menggunakan kata ganti
orang ketiga.
Contoh: “Orang memang sering marah diperlakukan seperti itu.”
Respons kosong, adalah respons yang tidak menghiraukan sama sekali baik
memeberikan sambutan verbal maupun nonverbal.
Respons yang tidak relevan, adalah seperti respons sekilas, yang berusaha
mengalihkan pembicaraan tanpa menghubungkan dengan pembicaraan yang ada.
Contoh: “Lagu ini enak didengar,” “Aku heran mengapa jam segini Maya belum pulang juga. Menurut kamu kemana dia kira-kira?”
Respons interupsi, adalah memotong suatu pembicaraan yang sedang terjadi.
Contoh: “Maaf, bisakah kamu menjelaskan kembali maksud dari pembicaraanmu!”
Respons rancu, adalah respons yang berupa kalimat-kalimat yang kacau, rancu, atau
tidak lengkap.
Respons kontradiktif, adalah menyampaikan pesan verbal yang bertentangan dengan
pesan nonverbal.
Contoh: Mengatakan dengan bibir mencibir dan intonasi suara merendahkan, “Memang, bagus sekali pendapatmu.”
Keserasian suasana emosional
14
2. Pemutusan hubungan
Pemutusan hubungan dapat saja terjadi, dan juga dapat menimbulkan terjadinya konflik. R.D. Nye dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) menyebutkan terdapat lima sumber konflik, yaitu:
Kompetisi, yaitu adanya salah satu pihak yang bersaha memperoleh sesuatu dengan
mengorbankan orang lain.
Dominasi, yaitu adanya salah satu pihak yang berusaha mengendalikan pihak lain
sehingga orang itu merasa hak-haknya dilanggar.
Kegagalan, yaitu masing-masing pihak berusaha menyalahkan yang lain apabila
tujuan bersama tidak tercapai.
Provokasi, yaitu adanya salah satu pihak yang terus-menerus berbuat sesuatu yang ia
ketahui menyinggung perasaan pihak lain.
Perbedaan nilai, yaitu kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Faktor-Faktor Menumbuhkan Hubungan Interpersonal dalam
Komunikasi Interpersonal.
1. Percaya (trust).
Percaya didevinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dalam situasi yang penuh resiko.
a. Ada situasi yang menimbulkan resiko. Bila orang menaruh kepercayaan kepada
seseorang, ia akan menghadapi resiko. Resiko itu dapat berupa kerugiaan yang anda alami.
b. Faktor yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa
akibat-akibatnya bergantung kepada orang lain.
c. Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap percaya:
a. Karakteristik dan maksud orang lain. Orang yang menaruh kepercayaan kepada
orang yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan atau pengalaman dalam bidang tertentu.
b. Hubungan kekuasaan. Percaya apabila orang-orang mempunyai kekuasaan
terhadap orang lain.
c. Sifat dan kualitas komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, bila maksud dan
Ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya. Menerima, empati dan kejujuran.
Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tampa menilai dan berusaha mengendalikan. Menerima adalah sikap melihat orang lain sebagai manusia, sebagai individu yang patut dihargai.
Empati adalah memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosinal bagi kita, sebagai keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain siap mengalami suatu emosional.
Kejujuran adalah faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Kejujuran mengakibatkan perilaku kita dapat diduga, ini mendorong orang-orang untuk percaya pada kita.
2. Sikap suportif
Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap depentif dalam komunikasi dalam penelitian gaib di ungkapkan bahwa makin sering orang menggunakan perilaku depentif, makin besar kemungkinan komunikasi depentif, komunikasi depentif berkurang dalam perilaku suportif, ketika orang menggunakan perilaku ke sebelah kanan.
a. Evaluasi dan Deskripsi. Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain, memuji
atau mengancam. Deskripsi artinya penyampaian pesan dan persepsi antara tampa menilai.
b. Control dan Orientasi Masalah. Perilaku kontrol adalah berusaha untuk
mengubah orang lain, mengendalikan perilakunya, mengubah sikap, pendapat dan tindakannya.
c. Strategi dan spontanitas. Stategi adalah penggunaan tipuan-tipuan atau
manipulasi untuk mempengaruhi orang lain.
d. Netralitas dan Empati. Netralitas berarti sikap inpersonal memperlakukan orang
lain tidak sebagai persona, melainkan sebagi objek.
e. Superioritas dan Persamaan. Superioritas berarti sikap menunjukkan anda lebih
f. Kepastian dan Provisionalisme. Orang yang memiliki kepastian berarti memiliki
dogmatis, keinginan menang sendiri dan melihat pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat
3. Sikap terbuka.
Sikap terbuka amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif
Kriteria sikap orang terbuka:
a. Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan keajengan logika.
b. Membedahkan dengan muda melihat nuansa
c. Berorientasi pada isi
d. Mencari informasi dari berbagai sumber.
e. Lebih bersifat profesional dan bersedia mengubah kepercayannya.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Makin tertarik kita dengan orang lain maka semakin besar kecenderungan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Faktor Faktor yang mempengaruhi Atraksi interpersonal di bagi menjadi dua yaitu: 1. Faktor personal
a) Kesamaan Karakteristik Personal
b) Tekanan emosional (Stress)
c) Harga diri yang rendah
d) Isolasi Sosial
2. Faktor Situasional
a) Daya tarik fisik (Physical Attractiveness)
b) Ganjaran (Reward)
c) Familiarity
d) Kedekatan (proximity) atau closeness.
e) Kemampuan (competence)
3. Pengaruh Atraksi Interpersonal Terhadap Komunikasi Interpersonal
a) Penafsiran pesan dan penilaian
18
DAFTAR PUSTAKA
1. https://andis8.wordtpress.com/2012/0//2//arrassiiinrertpersonal-idanihbubngaaniinrertpersonal-i tpsisol-ogaiisombnisasi/
2.
http://safril-ifaqar.ul-ogastpor.co.id/2010/12/fasrorifasrorimenbmubhsanihbubngaan.hrml-3.
http://www.academia.edb/1w6281w//reorihhbubngaanhinrertpersonal-/.
http://mifashbl-fanani.ul-ogastpor.co.id/201//10/arrassiiinrertpersonal-.hrml-w.