• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIP KARYA SENI SITUBANDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIP KARYA SENI SITUBANDA"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

“ SITUBANDA ”

OLEH :

I KOMANG AGUS ADNYA SUANTARA NIM : 2010 02 037

PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN JURUSAN SENI KARAWITAN

FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN

INSTITUT SENI INDONESIA

DENPASAR

2014

(2)

SKRIP KARYA SENI

SITUBANDA

Diajukuan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Seni (S1)

MENYETUJUI :

PEMBIMBING I

Pande Gede Mustika,SSkar.,M.Si NIP. 19521215 198503 1 001

PEMBIMBING II

Tri Haryanto,S.Kar .,M.Si NIP. 19620709 199203 1 004

(3)

Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar, pada :

Hari, tanggal : 12 Mei 2014

Ketua : Wardizal, S.Sen., M.Si. (………..………..) NIP. 19660624 199303 1 002

Anggota : Dr. I Gede Arya Sugiartha, SSKar., M.Hum (………..………..) NIP. 19661201 199103 1003

Anggota : I Wayan Suweca, SSKar., M.Mus. (………..………..) NIP. 19571231 198503 1 014

Anggota : Pande Gede Mustika,SSkar.,M.Si (………..………..) NIP. 19521215 198503 1 001

Anggota : Tri Haryanto,S.Kar .,M.Si. (………..………..) NIP. 19620709 199203 1 004

Disahkan pada tanggal : 16 Mei 2014

Mengesahkan : Mengetahui:

Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Seni Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar Ketua,

Dekan,

I Wayan Suharta, SSKar.,M.Si Wardizal, S.Sen,M.Si

(4)

Puja dan puji syukur penata panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Asung Kerta Wara Nugraha-Nya penata dapat menyelesaikan Skrip Karya Seni ini tepat pada waktunya. Penata sungguh merasa memiliki suatu keberuntungan tersendiri karena dalam kesempatan yang baik ini penata diberikan peluang untuk mendeskripsikan suatu karya yang penata garap.

Penata menyadari, tanpa adanya bantuan serta dorongan semangat dari dosen pembimbing dan kerjasama dari semua pihak yang terkait, kegiatan ini tidak akan berjalan sebagaimana yang diinginkan. Maka dari itu, dalam tulisan ini penata tidak lupa menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Dr. I Gede Arya Sugiartha, SSKar., M.Hum., selaku Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah memberikan fasilitas yang memadai dalam proses pembelajaran.

2. I Wayan Suharta, SSKar., M.Si., Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar.

3. Wardizal, S.Sen., M.Si., Ketua Jurusan Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, yang selalu memberikan dorongan motivasi dalam menempuh tugas akhir.

4. Pande Gede Mustika, SSKar., MSi dan Tri Haryanto, S.Kar., M.Si. selaku pembimbing karya tulis dan karya seni yang telah banyak meluangkan

(5)

berlangsung.

5. Bapak Mangku Nyoman Dhiasna, yang telah memberikan informasi tentang ceritera Ramayana, terutama pada problematika pembuatan jembatan Situbanda

6. Para pendukung Jurusan Seni Karawitan semester II dan IV Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, mahasiswa SMKN V Denpasar dan mahasiswa SMPN II Sukawati, atas dukungan dan jerih payah kalian yang sudah banyak membantu dalam karya seni Tugas Akhir ini.

7. Kedua orang tua penata yakni I Nengah Suparsa dan Ni Luh Sulasmi, serta seluruh keluarga tercinta yang selalu memberikan doa serta kesabarannya memberikan dorongan selama perkuliahan serta terselenggaranya tugas akhir ini. 8. Segenap pihak pendukung dan rekan-rekan yang tidak bisa penata sebutkan

satu-persatu yang tulus iklas membantu dan mendukung kelancaran karya seni ini. Karya ini masih jauh dari kesempurnaan, penata menyadari banyak keterbatasan dan kekurangan yang penata miliki, oleh karena itu dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati penata mohon kepada para pembimbing, agar sudi kiranya memberikan saran-saran atau kritik yang bersifat membangun demi penyempurnaan penulisan selanjutnya. Semoga apa yang dipersembahkan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Denpasar, 16 Mei 2014 Penata

(6)

   

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Garapan ... 1

1.2 Ide dan Konsep Garapan ... 2

1.3 Tujuan Garapan ... 4

1.4 Manfaat Garapan ... 5

1.5 Ruang Lingkup ... 5

BAB II KAJIAN SUMBER ... 7

2.1 Sumber Pustaka ... 7

2.2 Sumber Informan ... 9

2.3 Sumber Diskografi ... 9

2.4 Sumber Webtografi ... 10

BAB III PROSES KREATIFITAS ... 11

3.1 Tahapan Penjajagan ... 11

(7)

BAB IV WUJUD GARAPAN ... 21

4.1 Analisa Garapan ... 21

4.2 Struktur Pola Garapan ... 22

4.3 Analisa Simbol ... 23 4.4 Diskripsi Sajian ... 27 4.5 Analisa Penyajian ... 38 BAB V PENUTUP ... 58 5.1 Kesimpulan ... 58 5.2 Saran-saran ... 58 DAFTAR PUSTAKA ... 60 SINOPSIS LAMPIRAN      

(8)

Tabel 3.1 Tahap penjajagan ... 12

Tabel 3.2 Tahap Percobaan ... 14

Tabel 3.3 Daftar Kegiatan Selama Mengadakan Latihan ... 15

Tabel 3.4 Proses Kreativitas Secara Keseluruhan ... 20

Tabel 4.1 Panganggening Aksara Bali dibaca dalam laras pelog lima nada ... 24

Tabel 4.2 Lambang Dan Peniruan Bunyi Instrumen ... 24

   

 

(9)

Gambar 4.1 Instrumen Ugal ... 40

Gambar 4.2 Instrumen Gangsa pemaade dan Kantil ... 41

Gambar 4.3 Instrumen Penyacah ... 41

Gambar 4.4 Instrumen Jublag ... 42

Gambar 4.5 Instrumen Jegogan ... 42

Gambar 4.6 Instrumen Reong ... 43

Gambar 4.7 Instrumen Kendang ... 44

Gambar 4.8 Instrumen Gong ... 44

Gambar 4.9 Instrumen Kempur ... 45

Gambar 4.10 Instrumen Klentong ... 45

Gambar 4.11 Instrumen Kajar ... 46

Gambar 4.12 Instrumen Ceng-ceng Ricik ... 46

Gambar 4.13 Instrumen Suling ... 47

Gambar 4.14 Kostum Penata ... 56

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua kisah tentang perjalanan hidup manusia kera dan Rama, terangkum dalam kitab suci Ramayana yang ditulis oleh pendeta Walmiki. Untuk mengenang kisah kepahlawanan Hanuman dan perjuangan cinta Sri Rama terhadap istrinya Dewi Sita, yang diculik oleh Rahwana dan dibawa ke negeri Alengka. Saat Rama dan adiknya Laksmana beserta para tentaranya bersiap-siap menuju Alengka, mereka harus berhenti karena terhalang oleh luasnya lautan yang membentang didepannya.

Sri Rama dan pemimpin wanara lainnya akhirnya harus berunding untuk memikirkan cara menyeberang ke Alengka mengingat tidak semua prajuritnya bisa terbang. Keputusannya Rama menggelar suatu upacara di tepi laut untuk memohon bantuan dari Dewa Baruna. Selama tiga hari Rama berdoa namun tidak mendapat jawaban, akhirnya kesabarannya habis, kemudian ia mengambil busur dan panahnya untuk mengeringkan lautan.Melihat lautan akan binasa, Dewa Baruna datang menemui Rama dan meminta maaf atas kesalahannya.Dewa Baruna menyarankan agar para wanara membuat jembatan besar tanpa perlu mengeringkan atau mengurangi kedalaman lautan.Nila pun ditunjuk sebagai arsitek jembatan tersebut, sedangkan Hanoman menjadi panglima pasukan dengan dibantu jutaan pasukan kera dari Raja Sugriwa.

Sri Rama menimbun lautan dengan batu karang dan membangun jembatan selama bertahun-tahun. Jembatan ini dibangun dengan menggunakan batu dan

(11)

pasir, namun para dewa mengatakan dikemudian hari batu tersebut akan menancap ke dasar laut, yang akhirnya menciptakan rangkaian batu karang. Setelah bekerja dengan giat, jembatan tersebut terselesaikan dalam waktu yangrelative singkat dan diberi nama Situbanda. Berkat jembatan inilah pasukan Rama akhirnya berhasil menyeberang dan menaklukkan kerajaan Alengka serta merebut Dewi Sita dari Rahwana.

Dari sepenggal kisah cerita di atas, timbul imajinasi penata ingin mengaktualisasikan problematika dalam proses pembuatan jembatan Situbanda ke dalam suatu wujud tabuh kreasi baru dengan media ungkap Gong Kebyar. Hal ini dilakukan mengingat Gong Kebyar merupakan sebuah barungan gamelan baru yang cukup dinamis dan fleksibel untuk dijadikan sebagai media kreativitas. Kreasi baru merupakan ungkapan kebebasan ekspresi baik yang masih mengacu pada tradisi maupun yang benar-benar ingin mendapatkan yang baru. Kisah kegundahan Sang Rama pada saat Dewi Sita diculik, dan suasana kegiatan para pasukan kera dalam membangun jembatan Situbanda, merupakan suatu wujud cerita yang selanjutnya akan digarap menjadi sebuah komposisi karawitan yang berjudul SITUBANDA, yang merupakan inspirasi pokok dalam karya komposisi ini.

1.2 Ide dan Konsep Garapan 1.2.1 Ide Garapan

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa ide garapan ini terinspirasi dari kisah kegundahan Sang Rama saat Dewi Sita diculik dan dalam proses pembangunan jembatan Situbanda. Jadi dapat dikatakan ide awalnya di sini

(12)

adalah bersumber dari cerita Ramayana yang terfokus pada proses pembuatan jembatan Situbanda. Dari kisah tersebut selanjutnya digarap menjadi karya musikal. Untuk menuangkan ide tersebut menjadi sebuah karya komposisi karawitan dan menggunakan konsep tradisi inovasi. Ini artinya dalam penggarapannya ada unsur-unsur yang dipertahankan dan ada unsur-unsur yang diinovasi. Unsur-unsur yang dipertahankan, yaitu struktur komposisi yang masih mengacu pada struktur garapan seperti : kawitan, pengawak, pengecet. Sedangkan unsur-unsur yang diinovasi adalah bentuk melodi, ritme, tempo, serta dinamika. Dalam membuat garapan ini menjadi indah, maka penggarap mencoba mengaplikasikan beberapa konsep estetis. Konsep-konsep estetika tersebut diadopsi dari konsep estetika oleh Monroe Beardsley seorang ahli estetika abad ke-20. Monroe Beardsley menyatakan bahwa ada tiga unsur yang menjadi sifat-sifat membuat baik atau indah suatu karya seni yang diciptakan oleh seniman. Ketiga unsur tersebut adalah: kesatuan, kerumitan, dan kesungguhan.

Dari ketiga unsur di atas, penata gunakan pijakan untuk membuat garapan karawitan kreasi baru agar memiliki nilai estetis. Unsur kesatuan diaplikasikan ke dalam bentuk totalitas garapan yang terikat dalam satu kesatuan sistem dan tidak dapat dipisahkan. Unsur kerumitan diaplikasikan dalam pengolahan ritme, tempo, dan dinamika, serta pengolahan tentang permainan instrumen. Unsur kesungguhan atau intensitasnya, penata garap dengan memberikan penonjolan pada bagian-bagian tertentu dari komposisi garapan, sehingga nantinya mampu membuat suatu kejutan-kejutan guna memberikan bobot pada garapan.

(13)

1.2.2 Konsep Garapan

Komposisi karawitan SITUBANDA ini mengacu kepada konsep garap tradisi, yakni masih tetap berpijak dari tradisi namun elemen-elemen tersebut dikembangkan melalui perkembangan unsur-unsur musikalnya. Media ungkap yang dipergunakan dalam mewujudkan karya ini adalah barungan Gong Kebyar. Dalam konteks garapan ini, penata menggarap problematika dari proses pembuatan jembatan Situbanda yang merupakan bagian kisah cerita Ramayana menjadi sebuah garapan seni karawitan kreasi baru dengan judul SITUBANDA.

1.3 Tujuan Garapan

Pada hakekatnya, dalam menuangkan sebuah karya atau menciptakan sesuatu sudah barang tentu mempunyai tujuan dan manfaat. Adapun tujuan penggarapan ini adalah:

1) Untuk menuangkan ide yang ada di dalam diri penata menjadi sebuah wujud garapan komposisi Tabuh Kreasi Baru dengan judul SITUBANDA. 2) Untuk mengukur serta membangun potensi kreatif penata sebagai

seorang penggarap.

3) Ingin menerapkan ilmu dan kemampuan dalam menciptakan karya seni yang telah diperoleh selama menempuh ilmu di ISI Denpasar ke dalam sebuah karya seni Karawitan.

4) Untuk mengembangkan potensi lokal yang dimiliki oleh Bali sebagai pulau seni.

(14)

1.4 Manfaat Garapan

Dengan terciptanya sebuah karya seni komposisi karawitan ini, diharapkan memberikan suatu manfaat, yaitu:

1) Meningkatkan daya kreativitas dan pengalaman baru untuk menciptakan suatu komposisi musik baru.

2) Membantu proses profesionalisme sebagai seniman yang penata miliki sehingga nantinya lebih siap ketika berhadapan langsung dengan masyarakat.

3) Sebagai acuan berkarya untuk generasi mendatang dan sebagai referensi dalam karya-karya seni karawitan selanjutnya.

4) Dapat mengembangkan salah satu jenis kesenian Bali sebagai wujud rasa perduli generasi muda terhadap tradisi budaya yang dimiliki.

1.5 Ruang Lingkup

Untuk menghindari terjadinya perbedaan persepsi mengenai wujud garapan serta jumlah instrumen yang dipakai, maka penata akan menjelaskan ruang lingkup komposisi SITUBANDA ini sebagai berikut:

1) SITUBANDA merupakan sebuah garapan komposisi karawitan kreasi baru, yaitu suatu bentuk garapan karawitan yang berakar dari pola-pola tradisi, tetapi tekniknya dikembangkan sehingga dalam perwujudan komposisinya kelihatan baru.

(15)

2) Dalam garapan karawitan ini tidak menggunakan Tri Angga (kawitan,

pengawak, dan pengecet), tetapi menggunakan istilah bagian I, II, III, dan

IV untuk lebih membebaskan penata dalam hal membuat pola garap. 3) Garapan ini menggunakan satu barungan Gong Kebyar sebagai media

ungkap, antara lain:

Sepasang kendang gupekan(lanang-wadon)

Sebuah cengceng ricik

Satu tungguh Ugal

Empat tungguh gangsa pemade

Empat tungguh kantil

Dua tungguh jublag

Dua tungguh penyacah

Dua tungguh jegog

Sebuah kajar

Sepasang Gong (lanang-wadon)

Sebuah kempur

Sebuah klentong

Sebuah reong

(16)

BAB II KAJIAN SUMBER

Kajian sumber merupakan telaah yang dilakukan terhadap sumber-sumber baik itu sumber pustaka maupun sumber diskografi, guna mendukung terwujudnya penulisan dan wujud garapan ini. Terwujudnya suatu komposisi karawitan SITUBANDA ini, tidak terlepas dari sumber-sumber dan informasi. Untuk menghasilkan karya seni yang di dalamnya mengandung nilai filsafat, etika, dan estetika, maka komposisi ini didukung dengan beberapa kajian sumber. Adapun sumber-sumber tersebut terurai sebagai berikut.

2.1 Sumber Pustaka

Prakempa sebuah lontar gambelan Bali. Diterjemahkan oleh I Made

Bandem, Denpasar. Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, 1998. Buku Prakempa ini merupakan sebuah lontar gamelan Bali yang diduga cukup tua umurnya. Dari buku ini penata memperoleh informasi mengenai gamelan Bali yang ditinjau dari aspek filsafat, etika, estetika, dan teknik (gegebug).

Pengetahuan Karawitan Bali merupakan sebuah buku karya I.W.M.

Aryasa tahun 1983 yang diterbitkan oleh departemen pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Bali. Buku ini memberikan informasi mengenai deskripsi tentang barungan Gong Kebyar yang merupakan media ungkap yang digunakan dalam garapan ini.

Pengantar Dasar Ilmu Estetika Jilid I Estetika Instrumental. A.A.M.

(17)

merupakan buku pengantar estetika yang isinya banyak mengulas aspek-aspek ilmiah, yaitu: wujud, bentuk, struktur, bobot, dan penampilan, mengingat dalam proses penggarap tidak lepas dari pengetahuan estetika.

Buku GONG/Gong Kebyar Sebagai Salah Satu Sumber Inspirasi Karya

Baru. DR. Wayan Rai S. yang di terbitkan oleh Bali Mangsi tahun 2001. Dalam

buku ini mengulas tentang perkembangang Gong Kebyar di Bali, memberikan masukan dalam tulisan skrip ini tentang istilah-istilah apa yang ada dalam gong Kebyar di Bali pada umumnya.

Buku Ubit-ubitan Sebuah Teknik Permainan Gamelan Bali. I Made Bandem. 1987. Dalam buku ini menyebutkan ada beberapa jenis teknik ubit-ubitan yang ada dalam gamelan Bali. Sumber ini memberi masukan penata, mengenai penggunaan beberapa jenis ubit-ubitan yang ditransformasikan lewat karya.

Perkembangan Seni Karawitan Bali.1976/1977 IWM. Aryasa. buku ini

berisikan tentang bentuk-bentuk barungan gamelan yang ada di Bali, khususnya mengenai perkembangan Gong Kebyar yang memiliki ciri-ciri motif tertentu. Buku ini menambah wawasan penata mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam gamelan Gong Kebyar.

Pengetahuan Karawitan Bali.I WM Aryasa. 1984. Buku ini berisikan

beberapa jenis gamelan Bali dan instrumentasi serta nama-nama gendingnya. Dengan buku ini memberikan informasi tentang fungsi dari gamelan Gong Kebyar.

(18)

Ensiklopedi Mini Karawitan Bali, Pande Made Sukerta, Masyarakat Seni

Pertunjukan Indonesia, 1996. Penata mendapatkan istilah mengenai gamelan Gong Kebyar yang dipergunakan sebagai media ungkap garapan karya seni

SITUBANDA.

Buku Ajar Estetika Karawitan. I Wayan Suweca, Fakultas Seni

Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, 2009. Dalam buku ini penata mendapatkan mengenai aspek media, yaitu sumber bunyi yang merupakan bahan pokok lahirnya sebuah komposisi menyangkut warna suara yang berbeda-beda yang dibutuhkan oleh tema yang diangkat.

2.2 Sumber Informan

Wawancara langsung dengan bapak Mangku Nyoman Dhiasna, yang merupakan seniman sastra. Wawancara dilakukan di kediaman beliau pada tanggal 7 maret 2014 tentang kisah Ramayana dan mengambil problematika dalam pembuatan jembatan Situbanda, yang menjadi judul garapan dalam Tugas Akhir di Institut Seni Indonesia Denpasar, disajikan dalam bentuk tabuh Kreasi Baru.

2.3 Sumber Discografi

Rekaman kaset audio Festifal Gong Kebyar tahun 2007 duta Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Gianyar hasil rekaman Bali Record. Dari kedua kaset tersebut, duta Kabupaten Karangasem dengan tabuh kreasi baru yang berjudul

(19)

“Bharadwaja“ karya Agus Teja Santosa, S.Sn. Sedangkan duta dari Kabupaten I Nyoman Winda, SSKar., M.A.

Rekaman kaset kreasi baru dalam rangka festival tahun 2005, tabuh kreasi “Gelarsanga” karya I Nyoman Windha, S.Skar, Produksi Bali Record. Dengan mendengarkan kaset ini penata menemukan pengembangan-pengembangan dalan Gamelan Gong Kebyar khususnya dalam permainan melodi.

Rekaman kaset kreasi baru dalam rangka festival Gong Kebyar tahun 2001 yang berjudul “Delod Berawah” karya I Wayan Widia S.SKar, Produksi Bali Record. Dengan mendengarkan kaset ini, penata menemukan pengembangan-pengembangan dalam Gamelan Gong Kebyar khususnya struktur dalam komposisi lagu.

Rekaman kaset Festival Gong Kebyar tahun 2007, tabuh kreasi “Pralaya”, karya I Wayan Widia SSKar. Dengan mendengarkan kaset ini, penata menemukan pengembangan motif dan dinamika dalam Gamelan Gong Kebyar.

2.4 Sumber Webtografi

Oediku.wordpress.com/2009/06/19/fakta-ilmiah-tentang-kisah-Ramayana.

Dari situs web ini, penata mendapatkan beberapa bukti tentang naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana dan Dinastinnya.

(20)

BAB III

PROSES KREATIVITAS

Dalam penggarapan suatu karya seni, tentu tidak akan bisa terlaksana kalau tidak melakukan proses. Karena proses penggarapan merupakan hal yang harus dilalui untuk menentukan keberhasilan sebuah karya seni. Maka dari itu diperlukan konsep yang jelas dan persiapan yang benar-benar matang serta direncanakan secara sistematis yang dilakukan bertahap. Ada tiga proses yang dilalui dalam penciptaan suatu karya seni, yaitu Tahap Eksplorasi (penjajagan), Tahap Improvisasi (percobaan), dan Tahap Forming (pembentukan). Semua proses tersebut merupakan pendapat dari Alma M. Hawkins (1964:19) yang diterjemahkan oleh Y Sumandyo Hadi, “Mencipta Lewat Tari“. Meskipun semua proses itu adalah proses dalam penciptaan Tari, namun dapat juga diadopsi dalam proses kreativitas lainnya dalam dunia seni pertunjukan, termasuk dunia musik atau karawitan.

3.1 Tahap Penjajagan (Eksploration)

Tahap ini merupakan tahap awal garapan suatu karya seni.Pada tahapan ini pertama-tama dilakukan pencarian ide. Ide ini timbul pada saat penata mendapatkan mata kuliah komposisi karawitan III pada semester 6, saat mahasiswa diarahkan untuk menggarap sebuah komposisi kreasi baru agar dapat mengikuti ujian semester pada kelas tersebut. Tahap eksplorasi ini sudah dimulai pada bulan Februari 2014 dengan menjajagi literatur yang berkaitan dengan penggarapan komposisi karawitan ini. Langkah selanjutnya penata melakukan

(21)

penjajagan terhadap media yang digunakan dalam garapan, yaitu barungan Gong Kebyar di ISI Denpasar.

Tabel 3.1

Tahap penjajagan (Exploration)

No Hari/tanggal Kegiatan dalam proses percobaan

1 Selasa 11 Pebruari 2014 Mencari dan menentukan pendukung dari anak-anak semester empat dan dua jurusan Seni Karawitan di ISI Denpasar, guna mendukung karya karawitan

SITUBANDA

2 Rabo 12 Pebruari 2014 Mensurfei tempat yang akan dipergunakan untuk latihan, dan mengurus peminjaman alat Gamelan Gong Kebyar. Dan juga menjajagi beberapa instrumen yang memang terdapat kerusakannya, agar ada perbaikan alat guna memperlancar latihan garapan karya seni karawitan

SITUBANDA di ISI Denpasar

3 Jumat 14 Pebruari 2014 Mengkonsep isi dan struktur dari garapan karawitan SITUBANDA, dan mencari

(22)

beberapa gending-gending Kreasi Baru yang dijadikan refrensi untuk lebih mendukung karya Ujian Tugas Akhir

3.2 Tahap Percobaan (Improvisation)

Improvisasi merupakan tahap kedua setelah tahap penjajagan. Dalam tahap ini penata mulai menuangkan konsep lagu melalui improvisasi. Sebelum melanjutkan proses percobaan ini penata melakukan nuasen (menentukan hari baik) untuk memperlancar jalannya percobaan ini. Sebagai umat beragama Hindu, dalam mengawali suatu kegiatan terlebih dahulu diawali dengan persembahyangan, yang bertujuan untuk memohon keselamatan serta kelancaran dalam proses penggarapan. Upacara ini dilakukan pada tanggal 4 maret 2014, pada jam 10.00 WITA hari selasa di Pura Kampus ISI Denpasar, dan di tempat gamelan milik ISI Denpasar yang ada di Candra Metu.Kemudian pada sore harinya jam 16.00 WITA penata dan para pendukung ujian kembali melaksanakan

penuasenan di Candra Metu untuk menyatukan diri dengan gamelan, dilanjutkan

pengumuman tentang pentingnya arti ujian bagi penata. Agar para pendukung bisa melibatkan diri secara fisik maupun mental terhadap garapan yang mereka dukung.

(23)

Tabel 3.2

Tahap Percobaan (Improvisation)

No Hari/Tanggal Kegiatan Dalam Tahap Percobaan

1 Slasa 4 Maret 2014 Menghaturkan yang berupa sesajen

(mapekeling melarapan ngaturan pejati) di

Pura Kampus ISI Denpasar, tempat latihan dan di rumah (ring pelinggih Hyang

Kemulan, Taksu lan Pregina). Dan langsung melakukan latihan pertama menuangkan kawitan dari gending SITUBANDA dan memberikan sedikit

pengarahan kepada para pendukung agar mereka lebih bisa terlibat dan focus terhadap garapan yang didukungnya.

2 Jumat 9 Maret 2014 Melakukan latihan dan mulai menuangkan

gending bagian gegenderan

3 Senin 10 Maret 2014 Mulai menuangkkan bagian bapang dan

pengecet, sertamengulang-ulang gending

dari awal

3.3 Tahap Pembentukan (Forming)

Pada tahap ini gending atau lagu yang didapat, dituangkan kepada pendukung secara bertahap. Perbaikan demi perbaikan selalu dilakukan, karena dalam pembentukan ini tidak mungkin jadi begitu saja. Hal itu juga harus

(24)

mengikuti saran-saran dari pembimbing karya. Jadi jelaslah bahwa pembentukan atau Forming tidak mutlak, suatu saat bahkan pada tahapan hampir akhir pun masih memungkinkan adanya perubahan.

Dari ketiga tahapan ini, tidak menutup kemungkinan untuk di ubah urutan maupun penggunaannya. Karena dalam tahap Forming atau pembentukan pada karawitan, perlu mempertimbangkan tahap dari Eksplorasi dan Improvisasi hingga terwujud satu kesatuan garapan yang utuh. Tahap ini menyangkut pengendapan hasil temuan, pertimbangan komposisi, pembobotan estetis dan hal-hal lain yang berkenan dengan tata penyajian.

Tabel 3.3

Daftar Kegiatan Selama Mengadakan Latihan

No Hari / Tanggal Kegiatan Hambatan Pemecahan

1 Selasa, 4/03/2014

Nuasen latihan yang

pertama kali di Gedung Candra Metu ISI Denpasar, dengan mencari kawitan

Tukang reong, tidak hadir dua orang karena ada upacara Latihan tetap dilaksanakan dengan pendu-kung yang hadir 2 Jumat, 7/03/2014

Masih mencari bagian kawitan, kotekan, pukulan reong,

kebyar, melodi suling

Tukang reong tidak hadir semua karna ada upacara di Desa nya Latihan tetap berjalan dengan pendukung yang hadir 3 Senin, 10/03/2014 Melanjutkan bagian berikutnya yaitu genderan Tukang suling 3 0rang dan penabuh kendang lanang ndak hadir Latihan tetap berjalan dengan pendukung yang hadir

(25)

karna ada kegiatan di Desa masing-masing 4 Selasa, 11/03/2014 Memastikan bagian kawitan yang sudah dikuasai dan

menambahkan lagi pada bagian reong dan motif-motif pada pukulan kendang

Semua hadir Latihan berjalan kompak 5 Kamis, 13/03/2014 Mengulang dari permulaan sambil mengingat dan menambahkan untuk mencari transisi masuk ke gegenderan Tukang kantil dua orang dan tukang suling izin karena ada latihan baleganjur persiapan melasti Latihan berjalan seperti biasa 6 jumat, 14/03/2014 Masih mencari transisi untuk masuk ke gegenderan

Tukang ugal dua orang tukang kantil tidak hadir dan satu orang tukang gangsa tidak hadir karena ada upacara Melasti di Desa nya masing-masing Latihan berjalan seperti biasa 7 Sabtu, 15/03/2014 Mencari dan menghaluskan dinamika pada kotekan gegenderan

Semua hadir Latihan kompak

(26)

8 Minggu, 16/03/2014

Memantapkan

gegenderan

Semua hadir Latihan kompak 9 Senin, 17/03/2014 Menambahkan melodi pada gegenderan Tukang suling izin satu orang karna sakit Latihan berjalan seperti biasa 10 Selasa, 18/03/2014 Memperjelas kembali pola gegenderan dan mencari transisi menuju ke bapang

Semua hadir Latihan kompak

11 Rabu, 19/03/2014

Memantapkan pola

bapang

Semua hadir Latihan kompak 12 Kamis,

20/03/2014

Bimbingan karya Tukang kantil izin sakit satu orang Bimbingan tetap berjalan 13 Rabu, 23/03/2014 Mencari kembali bagian bapang Banyak pendukung yang tidak hadir karena banyak yang mempersiapkan latihan baleganjur di masing-masing pura dalam rangka melasti Latihan tetap berjalan dengan pendukung yang hadir 14 Rabu, 15/04/2014

Mencari pola bapang yang terakhir dan dinamika nya

Semua hadir Latihan kompak 15 Jumat, 18/04/2014 Mencari transisi ke pengecet Tukang reong dua orang izin sakit dan tukang suling ndak hadir

Latihan tetap berjalan

(27)

karna ada upacara Pitra Yadnya 16 Minggu, 20/04/2014 Memantapkan pola pengecet Banyak pendukung yang berhalangan hadir karna menyelesaikan tugas-tugas Kuliah Latihan tetap berjalan seperti biasa 17 Senin, 21/04/2014 Mulai menghaluskan atau mencari ngumbang / ngisep dan mengecek kembali pukulan dari masing-masing instrument

Semua hadir Latihan kompak

18 Rabu, 23/04/2014

Menghaluskan atau mencari ngumbang /

ngisep dan mengecek

kembali pukulan dari masing-masing instrumen Beberapa penabuh dari Jurusan Seni Karawitan ISI Denpasar semester II banyak yang tidak hadir, karna ada latian untuk persiapan ngayah ke Pura Batur Latihan tetap berjalan seperti biasa 19 Jumat, 25/04/2014 Menghaluskan atau mencari ngumbang /

ngisep dan mengecek

kembali pukulan dari masing-masing instrument Tukang jublag satu orang tidak hadir tanpa alasan Latihan tetap berjalan seperti biasa

(28)

20 Sabtu, 26/04/2014 Mencari ngumbang / ngisep Banyak pendukung yang tidak hadir khususnya penabuh Jurusan Seni Karawitan ISI Denpasar smester IV, karena ada latihan untuk persiapan ngayah di Pura Besakih Latihan tetap berjalan dengan pendukung yang hadir 21 Minggu, 27/04/2014 Menghaluskan tiap bagian dari gending, dan mencari gerak

Semua hadir Latihan kompak 22 Senin, 28/04/2014 Menghaluskan dan memantapkan gerak dan pola

Semua hadir Latihan kompak

23 Rabu, 30/04/2014

Gladi Semua hadir

24 Rabu, 07/05/2014

Pementasan Ujian Karya Seni

(29)

Tabel 3.4

PROSES KREATIVITAS SECARA KESELURUHAN

N O

TAHAP KEGIATAN

RENTANG WAKTU YANG TELAH DITENTUKAN

Februari Maret April Mei

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Tahap Penjajagan (exploration) 2 Tahap Percobaan (improvisation) 3 Tahap Pembentukan (forming) 4 Pementasan 5 Pertanggungjawaban (Konferenship)

KETERANGAN : : Tahap Penjajagan difokuskan pada pemilihan medium, dan tempat latihan : proses penuangan awal dari bagian I hingga bagian II

: pembentukan dari bagian I hingga bagian IV.

: pementasan

(30)

BAB IV WUJUD GARAPAN

Komposisi karawitan SITUBANDA ini merupakan sebuah hasil konsep garapan karawitan kreasi dalam bentuk inovatif yang masih berpijak pada pola-pola karawitan Bali. Pola-pola-pola tradisi tersebut dikembangkan baik dari segi struktur lagu, teknik permainan, dan motif-motif permainan dengan menata unsur-unsur musikal seperti: nada, melodi, ritme, tempo, harmoni, dan dinamika.

Di samping melakukan penataan dalam penyajiannya, dan juga karawitan yang disajikan tidak hanya enak didengar tetapi juga enak dilihat, penata menggunakan sifat-sifat estetik umum seperti keutuhan, kekompakan, kekuatan, dan kerumitan agar dalam mewujudkan karya karawitan memberikan bobot, dan mempunyai kualitas.

4.1 Analisa Garapan

Komposisi karawitan SITUBANDA ini merupakan sebuah hasil konsep garapan karawitan kreasi yang masih berlandaskan dengan pola karawitan bali. Pola-pola tradisi tersebut dikembangkan baik dari segi struktur lagu, teknik permainan/motif permainan dengan penataan unsur-unsur musical seperti: nada, melodi, ritme, tempo, harmoni, dan dinamika. Di samping melakukan penataan dalam penyajiannya agar karawitan yang disajikan tidak hanya enak didengar tetapi juga enak dilihat, penata mengaplikasikan beberapa konsep estetis yang diambil dari konsep estetika oleh Monroe Beardsley seorang ahli estetika abad ke-20. Monroe Beardsley menyatakan bahwa ada tiga unsur yang menjadikan suatu

(31)

karya seni itu baik dan indah yang diciptakan oleh seniman. Ketiga unsur tersebut ialah: kesatuan (unity), kerumitan (compleksity), dan kesungguhan (intensity). Ketiga unsur tersebut juga mampu memberikan bobot terhadap garapan karawitan agar mempunyai kualitas.

4.2 Struktur Pola Garapan

Mengenai struktur pola garapan komposisi ini terbagi menjadi empat bagian yaitu:

1) Bagian I : Pada bagian ini penata mengangkat suasana kesedihan dan amarah Sang Rama saat doanya tidak didengar oleh Dewa Baruna. Pertemuannya terhadap Dewa Baruna untuk meminta maaf terhadap Sang Rama dan selanjutnya merencanakan pembangunan jembatan

SITUBANDA yang dibantu para pasukan kera, dengan menonjolkan

instrumen jublag dan suling yang dipadukan dengan suara gangsa dan katilan. Dalam bagian ini penata menunjukkan identitas kekebyaran pada gamelan, serta memberikan pengenalan terhadap pola-pola permainan instrumen kepada penonton.

2) Bagian II: pada bagian ini penata memunculkan suasana semangat dan gerak lincah dari para pasukan kera yang sedang membangun jembatan Situbanda. Pada bagaian ini penata mengembangkan pola gegenderan, dengan mengolah tempo, dinamika, ritme, dan melodi, sehingga mampu memberikan kesan enak bagi yang mendengarkannya.

(32)

3) Bagian III: pada bagian ini penata mengembangkan bentuk pola bapang yang menggambarkan suasana adanya beberapa godaan dalam pembangunan jembatan Situbanda, yang akhirnya bisa di atasi oleh Nila, yang ditunjuk sebagai arsitek pembangunan jembatan oleh Dewa Baruna. Penonjolan garap di sini adalah menaikan tempo menjadi agak cepat dan pengolahan alat instrumen.

4) Bagian IV: bagian ini merupakan bagian akhir sajian dengan suasana yang dimunculkan adalah terwujudnya jembatan Situbanda. Di sini kebanyakan instrumen dimainkan secara bersama, yang di tonjolkan adalah unsur dinamika.

4.3 Analisa Simbol

Simbol atau notasi karawitan adalah catatan cara menulis gending-gending atau lagu dengan menggunakan lambang nada yang berupa angka, huruf, maupun gambar. Tujuannya adalah untuk memberikan isyarat secara visual terhadap garapan karawitan atau gending yang dinotasikan.

Dalam karya karawitan SITUBANDA ini, simbol yang digunakan sebagai pencatatan notasi ialah Penganggen Aksara Bali yang disesuaikan dengan laras yang dimiliki oleh Gamelan Gong Kebyar. Wujud dari simbol-simbol tersebut dapat dibaca seperti tabel di bawah ini :

(33)

Tabel 4.1

Panganggening Aksara Bali dibaca dalam laras pelog lima nada

No. Simbol Aksara Bali Dibaca

1 5 Taleng Ndeng

2 7 Suku ilut Ndung

3 1 Carik Ndang

4 3 Ulu Nding

5 4 Tedong Ndong

Tabel 4.2

Lambang Dan Peniruan Bunyi Instrumen

No. Instrumen Lambang Peniruan Bunyi

1 Gong ( ) Gir / Gur

2 Kempur + Pur

3 Klentong/kemong __ Tong

4 Kendang Wadon O

<

De (memukul dengan tangan

kanan di bagian luar lingkaran sisi kanan)

Ka (memukul dengan tangan kiri

(34)

tangan kiri

Kun (memukul dengan tangan

kanan di bagian tengah lingkaran pada sisi kanan denngan posisi tangan membungkuk

5 Kendang Lanang

__

Tut (memukul dengan tangan

kanan di bagian luar lingkaran sisi kanan dengan tangan kiri menutup sisi kiri

Pak (memukul pada sisi kiri

lingkaran dengan tangan kiri

6 > Cung (memukul dengan tangan

kanan linkaran sisi kanan dengan telapak tangan membungkuk

Selain simbol-simbol di atas, ada beberapa simbol yang sudah lazim dipakai dalam penotasian lagu atau gending seperti berikut ini :

1) Tanda . . . . . . . .

Tanda diatas mempunyai arti bahwa dalam prakteknya permainan dilakukan secara bersama-sama dalam satu melodi.

2) Tanda . . . . . . . .

Tanda tersebut bermakna dalam permainan terjadi pengulangan dengan pola atau motif yang sama.

(35)

Tanda tersebut seperti dalam contoh berarti dalam prakteknya nada tersebut dimainkan dengan cara memukul sambil menutup.

4) Tanda titik di atas nada seperti contoh 3

Simbol titik di atas nada artinya, nada tersebut dimainkan satu oktaf lebih tinggi dari nada normal.

5) Tanda }

Tanda di atas yang artinya dimainkan secara bersama 6) Garis nilai seperti contoh

. . ... . . . .

Garis ini berupa gari horisontal yang ditempatkan di atas simbol nada yang menunjukan nilai nada tersebut dalam satu ketukan.

7) Singkatan nama-nama instrument

Bersama : Bsm Reong : Ry Penyacah : Pny Jublag : Jb Jegogan : Jg Suling : Sl Kendang lanang : Kdl Kendang wadon : Kdw

(36)

Kantilan : Kn Kawitan : Kw Melodi : M Gangsa polos : Gp Gangsa Sangsih : Gs Kebyar : Kb Gegambangan : Gb Transisi : Tr

Demikian simbol-simbol yang dipergunakan dalam pendokumentasian secara deskriptif komposisi karawitan SITUBANDA ini, dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada transkripsi garapan berikut.

4.4 Diskripsi Sajian

Dalam sajian garapan yang berjudul SITUBANDA terbagi dalam empat bagian dengan rincian sebagai berikut.

Bagian I

Pada bagian ini penata akan mencoba memunculkan suasana kesedihan Sang Rama, amarahnya Sang Rama pada saat doanya tidak didengar oleh Dewa Baruna, dan pertemuannya terhadap Dewa Baruna yang meminta maaf terhadap

(37)

Sang Rama dan selanjutnya merencanakan pembangunan jembatan situbanda yang dibantu para pasukan kera.

Notasi bagian I Bsm. 33.4 54 3.1 43 11 34 5 . . . 55 .7 15 7 .4 75 41 43 1 Ry.I 33 .1 57 1 33 .1 71 3 .1 71 37 13 41 43 11 13 41 45 11 13 43 53 41 37 13 71 33.5 17 55 .7 13 71 37 17 13 43 13 47 13 43 13 47 13 43 1 34 5 75 43 13 4 . 44 45 75 4 .5 17 57 Tr 1 .7 5 .4 .3 1 .7 1 7 1 . . Kb ..5 7 13 4 1 3 7 .7 1 45 45 7 51 .7 .5 .7. .4 75 45 74 5

Kd.I ^ O ^O ^ O<_ O< _

CK CC_^ O CK CC _^ ^ O .^ ^ O ^C _C _O _C_C _ CK .C _C _ CK _C _C _ <O <O _ . . OC _C <_ C CK CC_K CC _ Kb 55 .1 75 45 45 74 55 . 7.4 .5 .7 .1 1 .1 43 1 .5 5 .5 17 5 G,Jb,pr . . 45 43 41 11 34 57 77 54 44 5

(38)

G,Jb,pr 55 55 43 34 51 13 41 4 13 4 Sl .5 34 13 71 .3 .7 13 4 Kb 444 .44 44. 11 44 . 11 44 34 51 171 5 11 71 4 11 . 33 .7 13 53 13 5 . Sl .571..75 .57171 7 1 . . . . .5717 1 3 4 3 1 7 1 Jg.Jb .4 4 .1 1 .4 4 . 1 75 4 5 7 4 5 .34 .7 54 3 4 1 7 5 4 1 3 4 3 1 3 4 1 3 4 5 4 . Sl . . 1 1. 5 5 . 1 1 . 5 4 2 1 2 4 1 2 . 7 1 . 42 .7 1 5 4 2 15 71 57 17 . 21 75 71 21 4 7 5 7 4 1 4 3 1 31 3 4 .5 43 17 1 45 .7 .4 .5 .7 17 1

(39)

Jb 31 .3 .4 .5 .7 .1 . ( 1) 5X Sl .3 .7 1 .3 17 17 617.1 76 7.1767671 .7 13 .7 13 .7 13 43 24 3 . 4 3 2 7 2 4 3 5.5.5 43 43 171 Jb 3 4 3 1 3 4 34 .3 .4 5 45 .4 .5 7 Jb . 1 3 4 1 3 4 5 . 3 4 5 3 4 5 7 3.3.1713 3X Ry.II 33 33 33 33 33 33 3 .1 43 17 31 75 17 5 2X .5 17 5 .5 17 5 .5 17 51 57 15 17 51 57 17 54 57 17 54 57 17 54 57 . 57 17 1 313 4 . 57 17 1 31 3 4 .1 43 1 .3 41 3 11 71 3 11 71 3 Kbyr 1 11 .1 .1 1. 11 71 37 Jb 54 37 54 37 54 31 75 41 75 41 75 41 75 47 54 (3)7 Kd.II O ^ OO .^ ^ .C CK CC _K CC _ .C _C _^ ^ O .< _< _^ ^ O . O << _< _O <<

(40)

_< _O <<_ . . . O ^ .O ^ < _ Kb 4 34 13 4 53 4 5 7 45 .3 .4 .5 .1 43 1 45 .3 .4 .5 .4 57 1. . . . Jb 1.7.5.4.1.7.5.4.3.1.7.1.3.1.7.1.3.4.5...5...5 ...57 45 .7 .4.5 .7 .4 57 1 ... 1 ... 1 . ..1... . 7 . 5 . 4 .(1) Jalan sajian

Pada kawitanatau permulaan dimulai dengan pola kekebyaranyang dimainkan oleh gangsa pemade, kantil, jublag, jegog,dan penyacahyang disambung dengan permainan reong pola pertama.Berikutnya dilanjutkan dengan transisi kekebyaran untuk menuju ke gegulet kendangfrasa pertama yang selanjutnya di masukkan kebyaruntuk menuju ke melodi suling, dilanjutkan melodi jublag sebanyak lima kali pengulangan yang di lanjutkan oleh melodi suling. Setelah selesai permainan suling di sambung dengan melodi jublag sebanyak tiga kali pengulangan diteruskan ke pola reong bagian ke dua.sajian berikutnya kebyarsebagi tanda untuk menuju ke sajian gegulet kendang bagian ke dua kembali ke pola kebyar untuk dan merupakan transisi untuk menuju sajian bagian II.

(41)

Bagian II

Pada bagian ini penata ingin memunculkan suasana semangat dan gerak lincah, sebagai wujud aplikasi dari pasukan kera yang sedang membangun Jembatan Situbanda.Aktualisasi suasana kera digambarkan dengan pola

gegenderan yang dilakukan dalam mengolah tempo, dinamika, ritme, dan melodi.

Notasi bagian II Ryg 31 311 .3.1 7137 1.3 .1 71 371 .57 1715 757 1715 73 Gs.Pm.Kn 45 73 45 7 2x Jb. 45 3 45 .7 .4 5 7 1 .7 1 71 .7 17 17 51 7 1 4 5 7 1 4 5 3 1 3 4 5 71 51 75 (4) Gd . .1 71 .4 .5 .1 .3 4 . .1 71 .4 .5 .1 .3 4 31 7 17 .1 .7 .7 13 4 1 3 4 571 51 75 4 2X 13 .5 4 13 .5 4 13 .5 4 31 7 17 .1 .7 .7 13 4 7 17 45 (3)2X .5 43 45 .7 .4 54 35 3 17 17 54 17 54 .1 .7 5 1 3 4 5 77 17 45 3 2x 1 3 1 4 5 4 3 13 1 34 5 71 51 75 4  

(42)

Jalannya sajian

Kekebyaran peralihan dari bagian I masuk ke bagian II yang diawali

dengan permainan reong.Setelah permainan reong dilanjutkan permainan gangsa,

pemade, dan kantil secara bergantian, setelah diulang dua kali sajian dilanjutkan

ke sajian gegenderan (Gd) diulang sebanyak dua kali pengulangan. Dilanjutkan ke sajian bagian III

Bagian III

Pada bagian III, penata mengembangkan bentuk pola bapang yang menggambarkan suasana adanya beberapa godaan dalam pembangunan jembatan Situbanda, yang akhirnya bisa diatasi oleh Nila atas bantuan Dewa Baruna.Dua motif bapangdisajikan dengan tempo dan melodi yang berbeda.Penonjolan alat instrumen reong dan kantil.Dimaksudkan untuk menggambarkan suasana peperangan antara Nila dengan pengganggu.

Notasi bagian III

Kb. 3.4 3 1.3 1 4.3 4 3.4 3 5.4 5 4.54

4 54 57 1 7 17 57 1 2x

4 54 5 3x

(43)

Transisi . 1 . 1 7 1 7 (1) 2x Jb (Bp I) 7 5 4 3 1 3 4 5 3 4 5 7 4 5 7 (1) 7x Jb (Bp II) 51 . . 13 51 . 54 3 4 5 .4 5 45 .4 57 13 57 1 . 13 4x Sl 61 5 . 1 61 5 32 1 2 3 .2 3 23 .2 35 61 23 1 . (1) 4x Jalannya sajian

Pada bagian III dimulai dengan gending kekebyaran, yang dilanjutkan ke transisi yang dilakukan oleh instrumen jublag yang diualng dua kali.Masuk ke sajian dengan motif bapang I, dalam sajian ini, tempo yang dipergunakan tempo cepat yang di ulang sebanyak tujuh kali pengulangan.Setelah pengulangan yang ke tujuh, masuk ke motif bapang II dengan tempo agak pelan dengan pengulangan sebanyak empat kali pengulangan. Dalam sajian motif bapang II ini, suling menyajikan bersamaan dengan jublag, dan melodi dibuatkan sendiri seperti yang telah disampaikan dalam notasi di atas dengan kode (Sl) sama selama empat kali pengulangan. Setelah empat kali pengulangan masuk ke bagian IV.

Bagian ke IV

Bagian ini merupakan bagian pengecet, yang menggambarkan suasana gembira karena sudah berhasil dalam pembuatan jembatan Situbanda, dalam sajian ini diaktualisasikan dalam sajian yang terbagi dalam tiga frasa, yaitu frasa

(44)

pertama dengan motif gegambangan, frasa ke dua berupa pekaad, dan terakhir kekebyaran yang merupakan ending dari seluruh sajian.

Notasi bagian ke IV Jb.I 1 5 5 3 3 5 5 1 2x 7 1 7 1 . 17 57 1 Jb.II .7 .3 1 . 7 .3 1 7 5 .4 .7 5 .4 .7 5 7 1 2x Ts ke JB III 15 Jb.III 75 17 57 15 4x Ts ke Gb 14 5 Gb.I 7543 . 4 5 75 4 .45 7 5 4 .4 5 7 5 4 . 4 5 7 4 5 7 4 5 7 4 5 7 Gb.II 5 7 4 5 1 3 7 1 2X Gb.III 3 1 3 1 1 1 1 1 . . . . 1 .3 17 1 .3 45 43 13 7 .3 57 .3 1 .3 57 35 4 5 4 5 4 5 3 4 5 .1 53 5 .1 53 57 17 7 .1 34 .1 34 .5 43 13 11 144 .5.1 .3 .3 45 31 7 Gb.IV .5 71 3 .5 43 1 54 31 71 71 31 34 34 54 57 .7 13 45 71 (7) 2X

(45)

Tr. .4 .7 .1 . 5 .1 . 5 1 71 57 45 14 Gb.V .4 45 75 75 17 57 45 7 15 .7 45 34 5 1 7 3 11 37 13 45 43 14 31 43 13 7 71 37 1 3 7 3 3 1 . 3 4 5 7 3 4(5) Gb.VI .1 7 .1 5 . 7 4 5 3 4 (5) 4X Tr 7 . 1 . 3 . 1 . 4 . 5 . 3 7 1 1 Pekaad I .4 5 1 5 5 5 4 7 5 1 7 5 7 3 1 5 3 1 5 31 .5 .3 1 5 31 .5 .3 1 5 5 4 7 5 1 7 5 4 4 1 4 4 1 5 5 1 4 4 1 5 . . 55 7 .5 7 . 55 7 .5 7 .4 5 1 7 5 5 4 7 5 1 7 3 1 5 3 1 5 31 .5 .3 1 5 31 .5 .3 13 .1 (3) Pekaad II . 5 45 .3 57 .3 45 71 .1 54 31 31 .4 5 45 .1 75 4 14 .1 5 14 .1 5 Kb.I 4 4 5 45 7 .4 4 5 47 1 75 4 5 7 45 . 4 .5 .457 17 54 57 1 Knd < - < ^ O ^ < - < ^ O ^ < - . .

(46)

Kb.II 14 3 1 .1 3 4 1 .1 13 13 43 45 45 .. ..45

.1 7 5 1 7 5 7 4 . 1 7 5 1 7 5 7 4 5 3 4 1 3 7 1

3 7 1 3 .4 4 5 45 71 57 13 .5 71 3 5 7 1 (3)

Jalannya sajian

Dari bagian ketiga (motif bapang II)menuju bagian IV, dimulai dari bentuk gilak sebelum masuk dalam gegambangan.Bentuk gilak dibuat dalam tiga motif gilak, dari ketiga motif gilak (Jb I, Jb II, dan Jb III) tersebut ada transisi khusus untuk masuk ke bentuk gilak berikutnya.Sajiannya adalah Jb I disajikan dua kali pengulangan yang dilanjutkan ke transisi menuju ke Jb II.Pada gilak Jb II, diulang dua kali, pada akhir pengulangan ada transisi untuk masuk ke Jb III, yaitu pada nada terakhir Jb II (1 menjadi 15). Masuk ke gilak Jb III yang diulang empat kali pengulangan dan akhir nada (15 menjadi14 5) untuk menuju ke

Gegambangan. Dalam pola Gegambangan ini (Gb I) disajiakn dalam bentuk ngotek oleh gangsa dan kantil hanya satu kali yang dilanjutkan dengan Gb II

dalam bentuk gilak yang diulang dua kali. Setelah pengulangan masuk ke Gb III dengan teknik ngotek. Setelah Gb III disajikan langsung dilanjutkan ke Gb IV dalam dua kali pengulangan, dengan teknik permainan ngotek. Dari kedua pengulangan masuk ke transisi untuk menuju ke Gb V. pada Gb V disajikan satu kali pengulangan yang dilanjutkan ke Gb VI. Sajian Gb VI diulang empat kali dan dilanjutkan ke transisi untuk menuju ke Gb I. Sajian Gb I disajikan sam dengan rangkaian yang sama dengan uraian di atas. Dalam pengulangan ini tidak semua Gb di ulang, yaitu pada Gb IV masuk pada transisi yang dilanjutka ke bentuk

(47)

Pekaad (tidak ke Gb V). dalam pekaad ada dua motif tempo sajian, yaitu menggunakan tempo sedang dan tempo cepat. Tempo sedang disajikan untuk notasi pekaad I dan tempo cepat untuk notasi pekaad II.Selesai sajian pekaad II, dilanjutkan dengan motif kekebyaran (Kb.I) dengan tempo cepat yang dilanjutkan dengan gegulet kendang, disambung dengan kebyar II (Kb.II) yang merupakan ending dari sajian Situbanda.

4.4 Analisa Penyajian

Karya komposisi karawitan “SITUBANDA” disajikan secara konser di gedung Natya Mandala ISI Denpasar, dengan dimainkan oleh satu barung pemain Gamelan Gong Kebyar yang terdiri dari 30 pemain gamelan.Karya karawitan “SITUBANDA” berdurasi dua belas menit dengan struktur gending yang terdiri dari kawitan, pengawak, bapangan, dan pangecet yang mampu menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga dapat menghasilkan karya komposisi karawitan yang berkualitas dan berbobot. Penataan Visual seperti sound dan penataan cahaya atau lampu juga dipergunakan untuk mendukung suasana dan suara gamelan dalam penyajiannya menjadi lebih bagus. Posisi Gamelan Gong Kebyar yang akan disajikan dalam karya Karawitan “SITUBANDA” ini adalah:

(48)

14

Keterangan :

1 : Cengceng ricik

2 : Kendang lanang dan kendang wadon 3 : Gangsa 4 : Ugal 5 : Kajar 6 : Kantil 7 : Jublag 8 : Penyacah 9 : Jegog 10 : Reong 11 : Gong lanang 10   8   3   3   4   3   6   6   3   6   6   8   7   7   9   9   5   2   2   1    

(49)

12 : Gong wadon 13 : Kempur 14 : Suling

: Terap

4.4.1 Fungsi Instrumen

Fungsi dari masing-masing instrumen Gong Kebyar dalam garapan ini tidak jauh menyimpang dari fungsi sebelumnya (tradisi), hanya saja ada beberapa instrumen yang dikembangkan fungsinya.Tentunya disesuaikan dengan kebutuhan musikalitas untuk mendukung ide dari garapan ini. Adapun fungsi instrumen dalam garapan ini adalah sebagai berikut:

1) Ugal

- Membawa melodi gending

- Menghubungkan ruas-ruas gending

(50)

2) Gangsa pemade dan Kantil

- Membuat jalinan-jalinan tertentu

- Memberi hiasan terhadap nada pokok berupa ubit-ubitan

Gambar 4.2 instrumen Gangsa pemade dan Kantil

3) Penyacah

- Menentukan jatuhnya pukulan jublag - Sebagai melodi pokok

(51)

4) Jublag

- Menentukan jatuhnya pukulan jegog

- Memperjelas tekanan-tekanan dari melodi penyacah

Gambar 4.4 instrumen Jublag

5) Jegogan

- Memperjelas tekanan-tekanan gending pada setiap akhir kalimat lagu - Dalam garapan ini, fungsi jegogan juga dikembangkan sebagai

pembawa melodi

(52)

6) Reong

- Memberikan angsel-angsel (ritme) - Membuat jalinan motif-motif tertentu

Gambar 4.6 instrumen Reong

7) Kendang

- Sebagai pemurba irama

- Sebagai penghubung ruas-ruas gending - Memberi angsel-angsel

(53)

Gambar 4.7 instrumen Kendang

8) Gong

- Sebagai finalis lagu/gending

- Memberikan tekanan-tekanan sesuai dengan tujuan lagu itu sendiri

(54)

9) Kempur

- Sebagai pendorong jatuh pukulan Gong - Pematok ruas gending

Gambar 4.9 instrumen Kempur

10) Klentong

- Dimainkan secara bergantian dengan kempur dalam satu Gong

(55)

11) Kajar

- Sebagai pemegang tempo

Gambar 4.11 instrumen Kajar

12) Ceng-ceng ricik

- Membuat angsel-angsel tertentu/variasi bersama dengan kendang

(56)

13) Suling

- Memperindah bagian-bagian gending yang lirih - Membuat suasana tertentu

- Menjalankan melodi

- Dalam garapan ini, suling sangat memegang melodi

Gambar 4.13 instrumen Suling

4.4.2 Teknik Permainan

Teknik permainan merupakan aparatus utama dalam gamelan Bali dan teknik-teknik itu menjadi indikator pokok dalam mempelajari gaya(style)gamelan. Melalui teknik permainan, dapat dibedakan secara audio satu perangkat gamelan dengan perangkat lainya (Bandem, 1991:1).

Demikian juga halnya dengan teknik permainan pada gamelan Gong

Kebyar, dimana masing-masing instrumen memiliki teknik permainan yang

berbeda.Teknik tersebut menyebabkan tiap kelompok instrumen memiliki bunyi dan suara yang berbeda pula. Adapun teknik yang dipergunakan dalam garapan Tabuh kreasi SITUBANDA ini dapat dijelaskan sebagai berkut:

(57)

1. Kendang

Kendang merupakan salah satu tungguhan yang sumber bunyinya berasal

dari kulit (membrane). Cara memainkan instrumen kendang tersebut, dipukul dengan tangan maupun menggunakan alat pemukul (panggul). Bentuk dari

kendang Bali pada umumnya berbentuk tabung dengan diameter yang berbeda

anatara kedua sisinya. Instrumen kendang di Bali memiliki berbagai macam jenis dan ukuran seperti kendang cedugan, kendang gupekan, kendang pelegongan,

kendang bebarongan dan kendang angklung kekelentangan. Untuk garapan

komposisi ini, penata menggunakan sepasang kendang ceditan lanang dan wadon yang dimainkan secara berpasangan (metimpal). Adapun teknik permainan yang dipergunakan adalah:

a. Pukulan kendang ngulunadalah pukulan pada kendang lanang yang dipukul menggunakan tangan kanan pada sisi lingkaran bagian kanan, sedangkan tangan kiri menutup di tengah lingkaran sehingga menimbulkan suara atau bunyi

Tut, yang dipukul secara beruntun. Penggunaan teknik ngulun ini terdapat pada

bagian kawitan dari komposisi ini.

b. Pukulan kendang gegulet adalah pukulan kendang lanang dan

wadon, disajikan dengan memukul memakai tangan kanan dan kiri pada sisi dari

lingkaran tersebut. Teknik gegulet hampir terlihat disemua bagian dari garapan komposisi ini.

c. Pukulan kendang pengaring atau nyaluk adalah pukulan kendang yang terdapat pada kendang wadon bagian kiri, yang pukulanya nyedet atau

(58)

mendahului pukulan lanang bagian kiri. Teknik pengaring atau nyaluk ini terdapat pada semua bagian dari garapan komposisi ini.

2. Gangsa (pemade dan kantil)

Instrumen ini merupakan instrumen perkusif yang berbentuk bilah, masing-masing terdiri dari susunan nada (4 5 7 1 3 4 5 7 1 3).Dalam instrumen ini terdapat sistem nada yang disebut dengan ngumbang ngisep, artinya satu tungguh berfungsi sebagai pengumbang dan satu tungguh lagi berfungsi sebagai

pengisep.Adapun teknik permainan daripada gangsa pemade dan gangsa kantilan

dalam garapan ini adalah sebagai berikut :

a. Ngubit yaitu, membuat jalinan antara nada polosdengan sangsih. Teknik ini hampir terdapat pada semua bagian gending dari garapan komposisi ini. Dalam garapan komposisi ini teknik ngubit, yang cenderung lebih banyak mendominasi.

b. Gegejer yaitu sebuah ubit-ubitan yang prinsip permainan nada-nadanya dilakukan dengan cara menggetar-getarkan. Gegejer memiliki pola ostinato gegaboran empat ketuk. Teknik ini muncul pada bagian kawitan, serta bagian pengawak yang terdiri dari bapang dan gegenderan.

c. Ngoret yaitu memukul tiga buah nada yang mendapat dua ketukan ditarik dari nada yang rendah ke arah nada yang lebih tinggi. Teknik ini hampir terdapat pada semua bagian dari komposisiini.

d. Ngerot yaitu memukul tiga buah nada yang mendapat dua ketukan ditarik dari nada yang lebih tinggi ke arah nada yang lebih rendah. Teknik ini hampir terdapat pada semua bagian dari komposisiini.

(59)

e. Kabelet ngecog yaitu merupakan sebuah istilah untuk memberi nama kepada sebuah ubit-ubitan yang terdiri dari dua karakter, yaitu karakter tehalang dan karakter melompat. Teknik ini hampir terdapat pada semua bagian dari komposisiini.

f. Oles-olesan yaitu teknik permainan yang di dalam istilah musik Barat disebut sliding, merupakan teknik ubit-ubitan yang dilakukan dengan cara memukul tanpa bertekanan keras, berbeda dengan teknik-teknik yang lain dimana setiap pukulan nada ditandai dengan ritme terputus-putus dengan tekanan berat. Teknik ini muncul pada bagian gegenderan dari komposisi ini.

g. Ngantung yaitu teknik pukulan yang dalam satu gatra terdapat empat ketukan, dimana dalam mencari ketukan ketiga ada pukulan yang pukulanya mendahului ketukan ketiga dan akhirnya kembali ke dalam ketukan keempat lagi. Teknik ini muncul pada bagian gegenderan dari komposisi ini, dengan tempo sedang, tempo lambat dan kembali ketempo semula kembali.

h. Oncang-oncangan yaitu memukul saling bergantiandengan memukul dua buah nada yang berbeda diselingi oleh satu nada. Teknik ini muncul pada bagian gegenderan, bapang dan pengecet dari komposisi ini.

i. Norot adeng yaitu memukul dua buah nada yang berurutan atau bersebelahan secara bergantian dengan tempo yang pelan. Teknik ini muncul pada bagian pengecet dari komposisi ini.

j. Beburu yaitu teknik pukulan yang membuat satu pukulan kedengaranya menjadi saling berkejar-kejaran, baik dari nada yang lebih rendah

(60)

ke nada yang lebih tinggi begitu juga sebaliknya dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah.Teknik ini muncul pada bagian kawitan komposisi ini.

3. Reong  

Reong pada gamelan Angklung merupakan instrumen perkusif yang

berbentuk pencon atau bermoncol mempergunakan dua oktaf yang memiliki susunan nada ( 5 7 1 3 4 5 7 1 3 4 5 7). Adapun teknik permainan reong dalam garapan ini ialah :  

a. Ngubit yaitu sebuah teknik permainan yang dihasilkan dari perpaduan polos dan sangsih.Teknik ngubit ini hampir terdapat pada semua bagian dari garapan komposisi ini.

b. Memenjing yaitu pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian, dimana letak dari pukulan di bagian lambe pada saat membuat angsel-angsel.Teknik ini terdapat pada saat membuat angsel-angsel di bagian kawitan, pengawak dan pengecet dari garapan komposisi ini.

c. Beburu yaitu teknik pukulan yang membuat satu pukulan yang kedengaranya saling berkejar-kejaran, baik dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi begitu juga sebaliknya dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah.Teknik ini muncul pada bagian kawitan dari komposisi ini. Sebagai isian dalam permainan melodinya suling dan jegogan.

d. Periring dan nyilih asih yaitu merupakan teknik yang disajikan oleh instrumen terompong pada barungan Gong Kebyar namun kali ini disajikan dalam gamelan Angklung kebyar dengan menggunakan instrumen reong. Teknik

(61)

ini muncul pada bagian kawitan dari komposisi ini sebagai isian dalam permainan melodinya adalahsuling dan jegogan.

4. Jublag

Jublag merupakan instrumen yang berbentuk bilah sebagai sumber

bunyinya yang pada tungguhanya masing-masing terdiri dari lima buah bilah nada yaitu:

3 4 5 7 1 dengan teknik permainanya sebagai berikut ini :

a. Neliti yaitu memukul nada pokok saja dalam satu gending. Teknik ini hampir terdapat pada semua bagian dari komposisi ini.

b. Magending yaitu memukul bilah sebagai pembentuk kalimat lagu atau berfungsi dalam menjalankan melodi dengan pukulan yang lebih rapat dari instrumen jegogan. Teknik ini dipergunakan hampir dalam setiap bagian dari komposisi ini yang meliputi kawitan , pengawak dan pengecet.

c. Ngantung yaitu teknik pukulan yang dalam satu gatra terdapat empat ketukan, dimana dalam mencari ketukan ketiga ada pukulan yang pukulanya mendahului ketukan ketiga dan akhirnya kembali ke dalam ketukan keempat lagi. Teknik ini muncul pada bagian gegenderan dari komposisi ini.

5. Jegogan

Jegogan merupakan instrumen terbesar yang berbentuk bilah dalam

barungan gamelan Gong Kebyar sebagai sumber bunyinya yang pada

tungguhanya masing-masing juga terdiri dari lima buah bilah nada yaitu ( 3 4 5 7

(62)

a. Neliti yaitu memukul nada pokok saja dalam satu gending. Teknik ini hampir terdapat pada semua bagian dari komposisi ini.

b. Magending yaitu memukul bilah sebagai pembentuk kalimat lagu

atau berfungsi dalam menjalankan melodi dengan pukulan yang lebih jarang

(lampak) dari instrumen jublag. Teknik ini dipergunakan hampir dalam setiap

bagian dari komposisi ini yang meliputi kawitan , pengawak dan pengecet.

c. Ngantung yaitu teknik pukulan yang dalam satu gatra terdapat empat ketukan, dimana dalam mencari ketukan ketiga ada pukulan yang pukulanya mendahului ketukan ketiga dan akhirnya kembali ke dalam ketukan keempat lagi. Teknik ini muncul pada bagian gegenderan dari komposisi ini.

6. Ceng-ceng ricik / kecek

Ceng-ceng ricik mempunyai ukuran garis tengah sepuluh sampai 15 senti

meter.Pada instrumen ceng ricik tersebut terdiri dari dua bagian yaitu,

ceng-ceng yang berfungsi sebagai pemukul (bungan ceng-ceng-ceng-ceng) dan ceng-ceng-ceng-ceng yang

berfungsi sebagai obyek (tatakan).Teknik permainan instrumen ceng-ceng tersebut adalah :

a. Ngecek yaitu memainkan instrumen ceng-ceng ricik dengan dua tangan secara bergantian dengan ditutup atau suara mati (tekes). Teknik permainan ini lebih banyak muncul pada pengawak yaitu bagian bapang dari komposisi ini.

b. Malpal yaitu memainkan ceng-cengricik dengan kedua tangan dengan cara ditutup dalam waktu yang bersamaan.

(63)

c. Ocak yaitu memainkan ceng-ceng ricik dengan kedua tangan pada waktu yang sama dengan mengikuti pola gending maupun pukulan kendang dalam membuat angsel-angsel. Teknik ini dipergunakan pada semua bagian dari komposisi gending.

d. Ngajet yaitu teknik pukulan yang dipergunakan dalam membuat

anngsel-angsel terentu yang terkait dengan pukulan reong dan pukulan kendang

dari komposisi ini. 7. Kajar

Kajar adalah instrumen bermoncol yang bentuknya sama dengan

kempli.Fungsinya sebagai pemegang tempo lagu. Jenis pukulanya adalah Pentas

Lampah (Bandem, 1991:1).

8. Kemong

Kemong adalah instrumen yang berbentuk pencon atau bermoncol, yang

berfungsi sebagai pengisi dari pada ruas-ruas gending, dimainkan secara bergantian dengan kempur dalam satu gong, nama dari pukulanya adalah Tunjang

Sari

9. Kempur

Kempur juga merupakan jenis instrumen yang bermoncol atau berpencon,

yang memiliki fungsi dalam menyajikan komposisi tabuh yaitu sebagai pendorong jatuhnya pukulan gong.Adapun pukulan kempur tersebut disebut dengan Selah Tunggul.

(64)

Gong merupakan instrumen berpencon atau bermoncol yang mempunyai

bentuk paling besar diantara instrumem-instrumen lainya dalam satu barungan gamelan Gong Kebyar, yang terdiri dari dua buah gong yaitu Lanang dan

Wadon.Untuk dapat menghasilkan bunyi, gong biasanya digantung pada tempat

yang disebut dengan sangsang, canggah gong ataupun yang lebih kekinian lagi disebut dengan gayor.

11. Suling

Suling dalam gamelan Bali merupakan instrumen yang terbuat dari bambu

yang memiliki sumber bunyi dengan cara ditiup, disebut dengan istilah Ngunjal

Angkihan. Dalam penyajian sebuah tabuh atau gending suling berperan sebagai pemanis, perpanjangan nada, sehingga dapat memberi kesan lirih serta

membentuk suasana. Pada garapan ini memakai dua jenis suling, yaitu suling kecil dan suling besar.

4.4.3 Tempat Pementasan

Garapan komposisi dari tabuh kreasi SITUBANDA ini dipentaskan bertempat di panggung tertutup Natya Mandala Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Gedung Natya Mandala merupakan sebuah tempat atau panggung pertunjukan yang berbentuk proscenium, yang artinya penonton hanya bisa menyaksikan sebuah pertunjukan dari depan saja, sehingga untuk itu diperlukan penataan penyajian yang baik agar terlihat bagus dalam penyajianya.

(65)

4.4.4 Tata Kostum

Penataan kostum yang sesuai dapat memberikan kesan estetik dan mantap dalam menunjang penampilan dari garapan itu sendiri, begitu juga sebaliknya jika tema yang diangkat tidak diimbangi dengan penataan kostum yang apik, bisa mempengaruhi penampilan dari garapan tersebut. Dalam garapan SITUBANDA ini, kostum yang dipergunakan adalah kostum festival untuk penabuh seperti dalam gambar berikut.

Gambar 4.14

Kostum Penata Kostum Pendukung

(66)

4.4.7 Lighting dan Sound System

Dalam garapan karawitan kreasi SITUBANDA ini, penata tidak menggunakan teknik pencahayaan atau lighting secara khusus. Di sini penata hanya menggunakan pencahayaan general/fokus ke satu titik. Begitu juga dengan penggunaan sound sistem, penata hanya memerlukan beberapa sound yang ditempatkan pada instrumen tertentu saja yang kualitas suaranya perlu diangkat.

(67)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Dari apa yang sudah diuraikan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1) Garapan komposisi karawitan SITUBANDA ini, telah dapat diwujudkan sesuai dengan ide-ide yang muncul.

2) Garapan ini merupakan pengembangan karawitan tradisi yang berupa karawitan Kreasi Baru yang menggunakan media ungkap Gong Kebyar. 3) Struktur dari garapan komposisi tabuh kreasi SITUBANDA ini, merupakan

pengembangan dari pola garap tradisi, yang terdiri dari tiga bagian yaitu bagian I, bagian II, bagian III, dan bagian IV. Dalam garapan ini terdapat pengolahan unsur-unsur musikal seperti melodi, tempo, ritme, dinamika, dan warna suara yang semuanya dikemas ke dalam sebuah komposisi karawitan Kreasi Baru yang berjudul SITUBANDA.

5.2 Saran

Dari pengalaman yang telah dialami proses berkarya, penata ingin menyampaikan beberapa hal yang nantinya mungkin dapat bermanfaat sebagai masukan untuk mewujudkan karya yang lebih baik kedepannya. Adapun saran tersebut adalah:

Gambar

Gambar 4.3 instrumen Penyacah
Gambar 4.6 instrumen Reong
Gambar 4.7 instrumen Kendang
Gambar 4.10 instrumen Klentong
+2

Referensi

Dokumen terkait

Gending ini terinspirasi dari pengalaman masa anak-anak penata yang berkesan mendengarkan suara gamelan dan gending yang pernah di mainkan pada saat itu, dan penata

Tujuan garapan tari kontemporer Magitar adalah ingin menyampaikan cerita serta tema dari pengalaman pribadi penata yang diangkat sebagai karya seni tari,

Semua garapan itu sangat menarik dan merupakan salah satu inspirasi sekaligus tantangan bagi penata dalam usaha mewujudkan garapan tari kreasi baru palegongan

Berdasarkan pemaparan di atas penata dapat simpulkan bahwa garapan karya tari dengan judul Waraparicārikā ini di latar belakangi dari ketertarikan penata

Garapan iringan Ni Kantri I Santru merupakan kreasi yang terinspirasi dari.. fenomena kejadian nyata dalam masyarakat desa

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa garapan karya tari kontemporer yang berjudul Takdir adalah sebuah karya

Struktur garapan ini dibagi menjadi 5 bagian yang terdiri dari flashback, pepeson, pengawak (pengawak 1 dan pengawak 2), pengecet, dan pekaad. Garapan ini

Garapan pakeliran dengan judul Lango Ruwating Moha ini merupakan sebuah garapan pakeliran inovatif yang memadukan teknik permainan wayang, teater, tari, tata