• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA RESMI STATISTIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BERITA RESMI STATISTIK"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BERITA

RESMI

STATISTIK

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi No. 27/04/Th. XXI, 2 April 2018

Perkembangan

Indeks Harga Konsumen/

Inflasi

• Pada Maret 2018 terjadi inflasi sebesar 0,20 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 132,58. Dari 82 kota IHK, 57 kota mengalami inflasi dan 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 2,10 persen dengan IHK sebesar 134,42 dan terendah terjadi di Sumenep sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 128,12. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,30 persen dengan IHK sebesar 150,50 dan terendah terjadi di Bulukumba sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 138,72.

• Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,14 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,26 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,06 persen; kelompok sandang sebesar 0,36 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,37 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,07 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,28 persen. • Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Maret) 2018 sebesar

0,99 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2018 terhadap Maret 2017) sebesar 3,40 persen.

• Komponen inti pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,19

Maret 2018

inflasi sebesar

0,20 persen.

Inflasi tertinggi

terjadi di Jayapura

sebesar 2,10

persen.

(2)

1. Indeks Harga Konsumen/Inflasi Menurut Kelompok

Perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2018 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 82 kota pada Maret 2018 terjadi inflasi sebesar 0,20 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 132,32 pada Februari 2018 menjadi 132,58 pada Maret 2018. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Maret) 2018 sebesar 0,99 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2018 terhadap Maret 2017) sebesar 3,40 persen.

Tabel 1

IHK dan Tingkat Inflasi Gabungan 82 Kota Maret 2018, Tahun Kalender 2018, dan Tahun ke Tahun Menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100)

Kelompok Pengeluaran MaretIHK 2017 IHK Desember 2017 IHK Maret 2018 Tingkat Inflasi Maret 20181) (%) Tingkat Inflasi Tahun Kalender 20182) (%) Tingkat Inflasi Tahun ke Tahun3) (%) Andil Inflasi Maret 2018 (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Umum (Headline) 128,22 131,28 132,58 0,20 0,99 3,40 0,20 Bahan Makanan 140,14 142,35 146,08 0,14 2,62 4,24 0,05 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan

Tembakau 134,82 138,74 140,30 0,26 1,12 4,06 0,04 Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan

Bakar 124,30 127,93 128,59 0,06 0,52 3,45 0,01 Sandang 114,67 117,95 119,38 0,36 1,21 4,11 0,02 Kesehatan 122,67 125,11 126,24 0,37 0,90 2,91 0,02 Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga 118,22 121,81 122,16 0,07 0,29 3,33 0,01 Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 127,37 129,68 129,70 0,28 0,02 1,83 0,05

1) Persentase perubahan IHK Maret 2018 terhadap IHK Februari 2018. 2) Persentase perubahan IHK Maret 2018 terhadap IHK Desember 2017. 3) Persentase perubahan IHK Maret 2018 terhadap IHK Maret 2017.

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,14 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,26 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,06 persen; kelompok sandang sebesar 0,36 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,37 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,07 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,28 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Maret 2018, antara lain: cabai merah, bawang merah, bawang putih, bensin, cabai rawit, daging sapi, ikan diawetkan, bayam, kangkung, sawi hijau, rokok kretek filter, upah tukang bukan mandor, dan emas perhiasan. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain: beras, ikan segar, daging ayam ras, telur ayam ras, kentang, tomat sayur, wortel, tempe, dan bahan bakar rumah tangga.

(3)

sebesar 0,01 persen; kelompok sandang sebesar 0,02 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,01 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen.

1.1. Bahan Makanan

Kelompok ini pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,14 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 145,87 pada Februari 2018 menjadi 146,08 pada Maret 2018.

Dari 11 subkelompok pada kelompok ini, 5 subkelompok mengalami inflasi dan 6 subkelompok mengalami deflasi. Subkelompok yang mengalami inflasi tertinggi, yaitu subkelompok bumbu-bumbuan sebesar 7,74 persen dan terendah subkelompok lemak dan minyak sebesar 0,10 persen. Sementara subkelompok yang mengalami deflasi tertinggi, yaitu: subkelompok padi-padian, umbi-umbian, dan hasilnya sebesar 2,04 persen dan terendah subkelompok daging dan hasilnya sebesar 0,17 persen.

Kelompok ini pada Maret 2018 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,05 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi, yaitu: cabai merah sebesar 0,07 persen; bawang merah dan bawang putih masing-masing sebesar 0,04 persen; cabai rawit sebesar 0,02 persen; daging sapi, ikan diawetkan, bayam, kangkung, dan sawi hijau masing-masing sebesar 0,01 persen. Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi, yaitu: beras sebesar 0,10 persen; ikan segar sebesar 0,03 persen; daging ayam ras, telur ayam ras, kentang, tomat sayur, wortel, dan tempe masing-masing 0,01 persen.

1.2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

Kelompok ini pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,26 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 139,94 pada Februari 2018 menjadi 140,30 pada Maret 2018.

Seluruh subkelompok pada kelompok ini mengalami inflasi, yaitu: subkelompok makanan jadi sebesar 0,18 persen; subkelompok minuman tidak yang beralkohol sebesar 0,35 persen; dan subkelompok tembakau dan minuman berakohol sebesar 0,35.

Kelompok ini pada Maret 2018 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi, yaitu: rokok kretek filter sebesar 0,01 persen.

1.3. Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

Kelompok ini pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,06 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 128,51 pada Februari 2018 menjadi 128,59 pada Maret 2018.

Dari 4 subkelompok pada kelompok ini, 3 subkelompok mengalami inflasi dan 1 subkelompok mengalami deflasi. Subkelompok yang mengalami inflasi, yaitu: subkelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,07 persen; subkelompok perlengkapan rumah tangga sebesar 0,09 persen; dan subkelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,38 persen. Sementara subkelompok yang mengalami deflasi, yaitu subkelompok bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 0,07 persen; .

Kelompok ini pada Maret 2018 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,01 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi, yaitu upah tukang bukan mandor sebesar 0,01 persen. Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi,

(4)

1.4. Sandang

Kelompok ini pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,36 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 118,95 pada Februari 2018 menjadi 119,38 pada Maret 2018.

Seluruh subkelompok pada kelompok ini mengalami inflasi, yaitu: subkelompok sandang laki-laki sebesar 0,31 persen; subkelompok sandang wanita sebesar 0,27 persen, subkelompok sandang anak-anak sebesar 0,27 persen; dan subkelompok barang pribadi dan sandang lain sebesar 0,52 persen.

Kelompok ini pada Maret 2018 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan, yaitu emas perhiasan sebesar 0,01 persen.

1.5. Kesehatan

Kelompok ini pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,37 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 125,78 pada Februari 2018 menjadi 126,24 pada Maret 2018.

Seluruh subkelompok pada kelompok ini mengalami inflasi, yaitu: subkelompok jasa kesehatan sebesar 0,29 persen; subkelompok obat-obatan sebesar 0,13 persen; subkelompok jasa perawatan jasmani sebesar 0,82 persen; dan subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0,42 persen.

Kelompok ini pada Maret 2018 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,02 persen.

1.6. Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

Kelompok ini pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,07 persen, atau terjadi kenaikan indeks dari 122,08 pada Februari 2018 menjadi 122,16 pada Maret 2018.

Dari 5 subkelompok pada kelompok ini, 4 subkelompok mengalami inflasi dan 1 subkelompok tidak mengalami perubahan. Subkelompok yang mengalami inflasi, yaitu: subkelompok kursus-kursus/pelatihan sebesar 0,07 persen; subkelompok perlengkapan/peralatan pendidikan sebesar 0,17 persen; subkelompok rekreasi sebesar 0,20 persen; dan subkelompok olahraga sebesar 0,09 persen. Sementara subkelompok yang tidak mengalami perubahan, yaitu subkelompok pendidikan.

Kelompok ini pada Maret 2018 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,01 persen.

1.7. Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

Kelompok ini pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 129,34 pada Februari 2018 menjadi 129,70 pada Maret 2018.

Dari 4 subkelompok pada kelompok ini, 2 subkelompok mengalami inflasi, 1 subkelompok mengalami deflasi, dan 1 subkelompok tidak mengalami perubahan. Subkelompok yang mengalami inflasi, yaitu subkelompok transpor sebesar 0,38 persen dan subkelompok sarana dan penunjang transpor sebesar 0,47 persen. Subkelompok yang mengalami deflasi, yaitu subkelompok komunikasi dan pengiriman sebesar 0,04 persen. Sementara subkelompok yang tidak mengalami perubahan, yaitu subkelompok jasa keuangan.

Kelompok ini pada Maret 2018 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,05 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi, yaitu: Bensin sebesar 0,04 persen.

(5)

2. Perbandingan Inflasi Tahunan

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Maret) 2018 sebesar 0,99 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2018 terhadap Maret 2017) sebesar 3,40 persen. Sementara tingkat inflasi pada periode yang sama tahun kalender 2017 dan 2016 masing-masing sebesar 1,19 persen dan 0,62 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun untuk Maret 2017 terhadap Maret 2016 dan Maret 2016 terhadap Maret 2015 masing-masing sebesar 3,61 persen dan 4,45 persen.

Tabel 2

Tingkat Inflasi Bulanan, Tahun Kalender, dan Tahun ke Tahun 2016–2018 (Persen)

Tingkat Inflasi 2016 2017 2018

(1) (2) (3) (4)

Maret 0,19 -0,02 0,20

Tahun Kalender (Januari-Maret) 0,62 1,19 0,99 Tahun ke Tahun (Maret tahun n terhadap Maret tahun n-1) 4,45 3,61 3,40

Gambar 1

Perbandingan Tingkat Inflasi Tahun ke Tahun 2016–2018 (Persen)

Jan-Jan Feb-Feb Mar-Mar 2016 thd 2015 4,14 4,42 4,45 2017 thd 2016 3,49 3,83 3,61 2018 thd 2017 3,25 3,18 3,40 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 5,00

Jan-Jan Feb-Feb Mar-Mar 2016 thd 2015 2017 thd 2016 2018 thd 2017

3. Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Antarkota

Pada Maret 2018 terjadi inflasi sebesar 0,20 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 132,58. Dari 82 kota IHK, 57 kota mengalami inflasi dan 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 2,10 persen dengan IHK sebesar 134,42 dan terendah terjadi di Sumenep sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 128,12. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,30 persen dengan IHK sebesar 150,50 dan terendah terjadi di Bulukumba sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 138,72.

(6)

3.1. Pulau Sumatera

Pada Maret 2018 dari kota-kota IHK di wilayah Pulau Sumatera yang berjumlah 23 kota, 19 kota mengalami inflasi dan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 1,38 persen dengan IHK sebesar 137,75 dan terendah terjadi di Dumai sebesar 0,05 persen dengan IHK sebesar 134,05. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 0,25 persen dengan IHK sebesar 127,94 dan terendah terjadi Tanjung Pandan sebesar 0,05 persen dengan IHK sebesar 139,70 (Tabel 3).

3.2. Pulau Jawa

Pada Maret 2018 dari kota-kota IHK di wilayah Pulau Jawa yang berjumlah 26 kota, 20 kota mengalami inflasi dan 6 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bekasi sebesar 0,66 persen dengan IHK sebesar 129,57 dan terendah terjadi di Sumenep sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 128,12. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Purwokerto sebesar 0,44 persen dengan IHK sebesar 129,19 dan terendah terjadi di Jember sebesar 0,08 persen dengan IHK sebesar 127,72 (Tabel 4).

3.3. Luar Pulau Jawa dan Pulau Sumatera

Pada Maret 2018 dari kota-kota IHK di luar Pulau Jawa dan Sumatera yang berjumlah 33 kota, 18 kota mengalami inflasi dan 15 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi Jayapura sebesar 2,10 persen dengan IHK sebesar 134,42 dan terendah terjadi di Makassar sebesar 0,02 persen dengan IHK sebesar 133,28. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,30 persen dengan IHK sebesar 150,50 dan terendah terjadi di Bulukumba sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 138,72 (Tabel 5).

(7)

K O T A Maret 2018

IHK Tingkat Inflasi (%)

(1) (2) (3) 1. Meulaboh 131,57 0,21 2. Banda Aceh 124,99 -0,08 3. Lhokseumawe 127,94 -0,25 4. Sibolga 138,74 0,79 5. Pematangsiantar 136,33 0,17 6. Medan 137,66 0,61 7. Padangsidimpuan 130,18 0,33 8. Padang 137,19 0,31 9. Bukittinggi 129,05 0,28 10. Tembilahan 137,75 1,38 11. Pekanbaru 134,34 0,56 12. Dumai 134,05 0,05 13. Bungo 130,20 0,32 14. Jambi 131,53 0,63 15. Palembang 129,72 0,39 16. Lubuklinggau 130,18 0,30 17. Bengkulu 141,32 0,37 18. Bandar Lampung 133,40 0,11 19. Metro 138,34 0,17 20. Tanjung Pandan 139,70 -0,05 21. Pangkalpinang 137,92 0,28 22. Batam 133,79 0,27 23. Tanjung Pinang 130,45 -0,18 NASIONAL 132,58 0,20 Tabel 3

Perbandingan Indeks dan Tingkat Inflasi Maret 2018 Kota-Kota di Pulau Sumatera dengan Nasional (2012=100)

(8)

Tabel 4

Perbandingan Indeks dan Tingkat Inflasi Maret 2018 Kota-Kota di Pulau Jawa dengan Nasional (2012=100)

K O T A Maret 2018

IHK Tingkat Inflasi (%)

(1) (2) (3) 1. Jakarta 132,14 0,09 2. Bogor 133,48 0,20 3. Sukabumi 131,70 0,13 4. Bandung 131,24 0,21 5. Cirebon 128,11 -0,29 6. Bekasi 129,57 0,66 7. Depok 130,68 0,14 8. Tasikmalaya 130,96 0,10 9. Cilacap 135,58 -0,11 10. Purwokerto 129,19 -0,44 11. Kudus 138,90 0,06 12. Surakarta 127,76 0,18 13. Semarang 130,71 0,05 14. Tegal 128,62 -0,27 15. Yogyakarta 129,23 0,15 16. Jember 127,72 -0,08 17. Banyuwangi 127,62 0,12 18. Sumenep 128,12 0,01 19. Kediri 127,41 0,10 20. Malang 132,38 0,12 21. Probolinggo 127,59 -0,13 22. Madiun 129,76 0,02 23. Surabaya 132,35 0,06 24. Tangerang 139,38 0,48 25. Cilegon 138,85 0,06 26. Serang 141,71 0,23 NASIONAL 132,58 0,20

(9)

Tabel 5

Perbandingan Indeks dan Tingkat Inflasi Maret 2018

Kota-Kota di Luar Pulau Jawa dan Pulau Sumatera dengan Nasional (2012=100)

K O T A Maret 2018

IHK Tingkat Inflasi (%)

(1) (2) (3) 1 Singaraja 141,75 0,38 2 Denpasar 129,40 0,15 3 Mataram 129,86 -0,15 4 Bima 134,23 -0,57 5 Maumere 125,22 0,39 6 Kupang 132,02 -0,56 7 Pontianak 141,67 0,64 8 Singkawang 134,21 0,19 9 Sampit 132,68 0,31 10 Palangka Raya 128,11 0,37 11 Tanjung 131,92 0,83 12 Banjarmasin 131,72 0,32 13 Balikpapan 135,58 0,27 14 Samarinda 134,41 -0,12 15 Tarakan 141,15 -0,03 16 Manado 130,23 0,13 17 Palu 132,97 -0,08 18 Bulukumba 138,72 -0,01 19 Watampone 128,87 -0,14 20 Makassar 133,28 0,02 21 Pare-Pare 126,87 -0,95 22 Palopo 130,86 -0,14 23 Kendari 125,98 -0,08 24 Bau-Bau 132,42 -1,11 25 Gorontalo 127,29 0,34 26 Mamuju 130,57 -0,53 27 Ambon 127,25 -0,14 28 Tual 150,50 -2,30 29 Ternate 135,01 0,61 30 Manokwari 124,54 0,06 31 Sorong 130,31 0,39 32 Merauke 136,27 0,11

(10)

4. Inflasi Komponen Inti

Komponen inti pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,19 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 123,45 pada Februari 2018 menjadi 123,68 pada Maret 2018. Komponen yang harganya diatur pemerintah dan komponen yang harganya bergejolak mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,20 persen dan 0,15 persen.

Inflasi komponen inti, komponen yang harganya diatur pemerintah, dan komponen bergejolak untuk inflasi tahun kalender (Januari–Maret) 2018 masing-masing sebesar 0,76 persen; 0,12 persen; dan 2,84 persen, serta inflasi tahun ke tahun (Maret 2018 terhadap Maret 2017) masing-masing sebesar 2,67 persen; 5,11 persen; dan 4,06 persen (lihat Tabel 6).

Pada Maret 2018 komponen inti, komponen yang harganya diatur pemerintah, dan komponen yang harganya bergejolak memberikan andil/sumbangan inflasi masing-masing sebesar 0,10 persen; 0,05 persen; dan 0,05 persen.

5. Inflasi Komponen Energi

Komponen energi pada Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,34 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 159,07 pada Februari 2018 menjadi 159,61 pada Maret 2018.

Inflasi komponen energi untuk tahun kalender (Januari–Maret) 2018 sebesar 0,88 persen dan inflasi tahun ke tahun (Maret 2018 terhadap Maret 2017) sebesar 7,08 persen. Komponen energi pada Maret 2018 memberikan andil/sumbangan terhadap inflasi nasional sebesar 0,03 persen (lihat Tabel 6).

Tabel 6

Tingkat Inflasi Maret 2018, Tahun Kalender 2018, dan Tahun ke Tahun Menurut Kelompok Komponen dan Menurut Kelompok Komponen Energi

Komponen Maret 2017IHK DesemberIHK 2017 IHK Maret 2018 Tingkat Inflasi Maret 2018 (%) Tingkat Inflasi Tahun Kalender 2018 (%) Tingkat Inflasi Tahun ke Tahun (%) Andil Inflasi Maret 2018 (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Umum 128,22 131,28 132,58 0,20 0,99 3,40 0,20 Inti 120,46 122,75 123,68 0,19 0,76 2,67 0,10 Harga Diatur Pemerintah 145,08 152,30 152,49 0,20 0,12 5,11 0,05 Bergejolak 141,48 143,16 147,22 0,15 2,84 4,06 0,05 Energi 149,06 158,22 159,61 0,34 0,88 7,08 0,03

(11)

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI

MARET 2018

Berita Resmi Statistik No. 27/04/Th. XXI, 2 April 2018

Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan

%

0,20

0,99

%

3,40

%

INFLASI

MARET 2018

INFLASI

JANUARI-MARET 2018

INFLASI

MARET 2017-MARET 2018

0,01% Sumenep 2,10% Jayapura

inFLASI

Inflasi/Deflasi

Tertinggi

dan Terendah

di 82 Kota

DEFLASI

Andil Inflasi

Menurut

Kelompok

Pengeluaran

0,05%

0,04%

0,01%

0,02%

0,02%

0,01%

0,05%

Transpor -2,30%Tual

BADAN PUSAT STATISTIK

https://www.bps.go.id

Bulukumba

-0,01%

25 kota mengalami deflasi 57 kota mengalami inflasi

Dari 82 kota IHK, 57 kota mengalami inflasi dan 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 2,10 persen dengan IHK sebesar 134,42 dan terendah terjadi di Sumenep sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 128,12. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,30 persen dengan IHK sebesar 150,50 dan terendah terjadi di Bulukumba sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 138,72.

(12)

Konten Berita Resmi Statistik dilindungi oleh Undang-Undang, hak cipta melekat pada Badan Pusat Statistik. Dilarang mengumumkan, mendistribusikan,

mengo-Badan Pusat Statistik

Jl. dr. Sutomo No. 6–8 Jakarta-Indonesia 10710

Gambar

Tabel	4 Perbandingan	Indeks	dan	Tingkat	Inflasi	Maret	2018 Kota-Kota	di	Pulau	Jawa	dengan	Nasional	(2012=100) K	O	T	A Maret	2018 IHK Tingkat	Inflasi	(%) (1) (2) (3) 									1.						Jakarta 132,14 0,09 									2.						Bogor 133,48 0,20 									3.						Su
Tabel	5 Perbandingan	Indeks	dan	Tingkat	Inflasi	Maret	2018 Kota-Kota	di	Luar	Pulau	Jawa	dan	Pulau	Sumatera	dengan	Nasional	(2012=100) K	O	T	A Maret	2018 IHK Tingkat	Inflasi	(%) (1) (2) (3) 1 Singaraja 141,75 0,38 2 Denpasar 129,40 0,15 3 Mataram 129,86 -0,

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan pembelajaran didasarkan pada RPP yang telah dibuat sehingga prosesnya sesuai arah yang diinginkan. Dengan kata lain, pelaksanaan tindakan ini meliputi siapa melakukan

Berangkat dari masalah yang ada, muncul pemikiran dan ide-ide untuk mengaplikasikan sekam padi yang dianggap sebagian besar masyarakat hanya sebagai sampah sisa untuk menjadi

Indikator Soal : Diberikan data elektrolisis 2 buah elektrolit dengan menggunakan arus dan waktu yang sama dimana salah satu lelektrolit diketahui, peserta didik diminta

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kondisi hormon tiroid yang optimal pada ibu hamil, khususnya di trimester pertama, sangat diperlukan untuk menjamin kualitas anak

Dengan dibuatnya proyek akhir dengan karya Iklan Layanan Masyarakat Animasi 2D Pencegahan Pencemaran Air Kota Semarang ini penulis memiliki tujuan untuk menyadarkan

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul Pengembangan Lab Dalam Kepingan (LDK) Berbasis Kertas Untuk Penentuan Kadar Asam Urat, Protein, dan pH

peraturan presiden nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah, pada pasal (109) urut (7) huruf (c) apabila penawaran yang masuk kurang dari 3(tiga) peserta,

Uji kulit yang tepat dilakukan memakai bahan yang bersifat Uji kulit yang tepat dilakukan memakai bahan yang bersifat imunogenik yaitu determinan antigen dari obat