iii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK
Penelitian yang berjudul Studi Kasus Mengenai Values of Children Pada Ayah Di Dusun “X” Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta bertujuan untuk memberikan gambaran dinamika mengenai values of children pada ayah serta faktor-faktor yang berkaitan. Variabel penelitian adalah Values of Children (makna anak). Rancangan yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik wawancara. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel 3 orang ayah.
Alat ukur yang digunakan berupa daftar pertanyaan yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori Values of Children dari Fred Arnold, cs. (1975). Validitas alat ukur diperoleh melalui Content Validity. Reliabilitas alat ukur diperoleh melalui uji Inter-rater Reliability. Data hasil penelitian diolah secara deskriptif analisis.
Berdasarkan data penelitian, ketiga ayah di Dusun “X” Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta memiliki values of children yang sama yaitu Family Cohesiveness and Continuity, memaknai kehadiran anak sebagai pelengkap dan generasi penerus orangtua; Economic Benefits, memaknai kehadiran anak sebagai sumber komoditas orangtua. Value yang berbeda dari ketiga subjek adalah Emotional Costs, kehadiran anak dimaknai sebagai sumber ketegangan orangtua; Economic Costs, kehadiran anak dimaknai sebagai beban orangtua karena harus mengeluarkan biaya yang besar.
iv Universitas Kristen Maranatha
ABSTRACT
Research entitled is Values of Children toward Father case studies at village “X” Kulon Progo Yogyakarta which has aimed for giving dynamic illustration about values of children toward father and related factors. Research variable were values of Children. Project used was interview type. Sample voted were using purposive sampling technique with 3 fathers.
Measuring instrument used questionnaire which was prepared by researcher based on values of children from Fred Arnold (1975). Instrument validity obtained through content of validity. Instrument reliability obtained with Inter-rater reliability test. Research data processed with descriptive analysis.
Base on 3 father’s research data, they have same values of children are Family Cohesiveness and Continuity, presence interpretation of children as successor of parents: Economic Benefits, presence interpretation of children is a commodity source of parents. Three different values were Emotional Costs, presence of children interpreted as suspense of parents: Economic Costs, presence of children interpreted as parent’s assessments because spending more expense.
viii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL... xii
DAFTAR BAGAN ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 8
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian ... 8
1.3.2 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 8
1.4.2 Kegunaan Praktis ... 9
1.5 Kerangka Pemikiran... 9
1.6 Asumsi ... 18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA
ix Universitas Kristen Maranatha
2.1.1 Pengertian Values Of Children... 19
2.1.2 Kategori-kategori yang Merefleksikan Kebutuhan dan Fungsi yang Diperoleh dengan Memiliki Anak ... 20
2.1.3 Dimensi-dimensi Values Of Children... 22
2.2 Keluarga 2.2.1 Pengertian Keluarga ... 24
2.3 Tahap Perkembangan 2.3.1 Tahap Perkembangan Dewasa Awal ... 26
2.3.2 Tahap Perkembangan Dewasa Madya ... 27
2.4 Budaya Yogyakarta ... 28
2.5 Ayat-ayat Kitab Suci Agama Katolik ... 38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 41
3.2 Skema Prosedur Penelitian ... 41
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.3.1 Variabel Penelitian ... 41
3.3.2 Definisi Operasional ... 42
3.4 Kerangka Alat Ukur Values Of Children Dimensi Positif dan Negatif 3.4.1 Dimensi Positive General Values ... 44
3.4.2 Dimensi Negative General Values ... 44
3.5 Alat Ukur 3.5.1 Bentuk Alat Ukur ... 44
x Universitas Kristen Maranatha 3.6 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
3.6.1 Validitas Alat Ukur ... 45
3.6.2 Reliabilitas Alat Ukur ... 45
3.7 Data Penunjang ... 45
3.8 Populasi Sasaran, Karakteristik Populasi dan Teknik Penarikkan Sampel 3.8.1 Populasi Sasaran ... 46
3.8.2 Teknik Penarikan Sampel ... 46
3.8.3 Ukuran Sampel ... 46
3.8.4 Teknik Analisis Data ... 46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 48
4.1.1 Kasus 1 4.1.1.1 Identitas Subjek 1 ... 48
4.1.1.2 Anamnesa ... 49
4.1.1.3 Aspek-aspek Values Of Children ... 60
4.1.1.4 Faktor-faktor yang berkaitan ... 60
4.1.1.5 Pembahasan ... 62
4.1.2 Kasus 2 4.1.2.1 Identitas Subjek 2 ... 68
4.1.2.2 Anamnesa ... 68
4.1.2.3 Aspek-aspek Values Of Children ... 77
xi Universitas Kristen Maranatha
4.1.2.5 Pembahasan ... 78
4.1.3 Kasus 3 4.1.3.1 Identitas Subjek 3 ... 82
4.1.3.2 Anamnesa ... 83
4.1.3.3 Aspek-aspek Values Of Children ... 90
4.1.3.4 Faktor-faktor yang berkaitan ... 89
4.1.3.5 Pembahasan ... 91
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 97
5.2 Saran 5.2.1 Saran Teoritis ... 99
5.2.2 Saran Praktis ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 100
DAFTAR RUJUKAN... 101
xii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR TABEL
2.1 Tabel Konseptual Values Of Children
3.4.1 Alat UkurValues Of Children Dimensi Positif 3.4.2 Alat Ukur Values Of Children Dimensi Negatif 4.1.1.1 Aspek-aspek Values Of Children
xiii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR BAGAN
xiv Universitas Kristen Maranatha DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A Dusun “X”
LAMPIRAN B Kerangka Wawancara
LAMPIRAN C HASIL WAWANCARA KASUS 1
LAMPIRAN D HASIL WAWANCARA KASUS 2
1 Universitas Kristen Maranatha BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Anak merupakan anugerah terindah dan tak ternilai yang diberikan Tuhan kepada para orangtua. Tuhan menitipkan anak kepada orangtua untuk dijaga, dididik, dan dibesarkan sehingga seringkali anak memiliki arti penting dalam kehidupan keluarga. Anak tidak sekadar menjadi objek penggembira, tetapi dapat memenuhi kebutuhan biologis dan sosial orangtua (Arnold, 1975). Selain itu, seorang anak membutuhkan perhatian dan cinta dari orangtua yang menuntut perlakuan orangtua untuk mengasuh anak-anaknya dengan baik.
2
Universitas Kristen Maranatha besar maupun di lingkungan masyarakat. Setiap orangtua dapat memiliki berbagai pandangan yang berkaitan dengan alasan mengapa mereka ingin memiliki anak.
Nilai anak dapat dilihat dalam pengertian yang berbeda-beda, yaitu anak sebagai lambang kesuburan orangtua; memandang bahwa dengan memiliki anak, suami istri sudah pantas berperan sebagai orangtua. Ada juga yang memandang bahwa sudah selayaknya laki-laki dan wanita yang sudah menikah memiliki anak. Selain itu, kehadiran anak di dalam suatu keluarga dapat meningkatkan keharmonisan hubungan antara suami dan istri, atau dengan mertua. Akan tetapi anak dapat pula dipandang sebagai beban dalam pemenuhan kebutuhan keluarga karena hadirnya anak dapat meningkatkan pengeluaran keluarga.
Begitu juga yang terjadi pada orangtua di Dusun “X” Kabupaten Kulon Progo
yang memiliki berbagai alasan berkaitan dengan nilai anak (Values of Children). Dusun “X” merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Sidoharjo dan bagian
dari Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Dusun ini dikepalai oleh seorang kepala dusun dan biasa disebut Pak Dukuh. Jarak antara dusun “X”
sampai ibukota Kabupaten Kulon Progo 30 km, sedangkan ke Kota Yogyakarta 45 km. Dusun “X” terletak di dataran tinggi yang berlembah dan berbukit serta
3
Universitas Kristen Maranatha masuk ke dusun tersebut. Sebagian besar warganya bekerja sebagai petani ladang. Selain sebagai petani ladang, para warga yang memiliki hewan ternak juga mengurusi ternaknya di rumah dan sebagai sopir bagi warga yang memiliki mobil. Letak dusunnya yang terpencil dan terisolir, membuat dusun ini tidak padat penduduk. Jumlah penduduknya 136 orang dan semua beragama katolik, dengan laki-laki 66 orang dan perempuan 70 orang. Sedangkan kepala keluarganya (KK) berjumlah 43 orang. Untuk tingkat pendidikan orangtua, SD 85 orang, SMP 20 orang, SMA 25 orang, D3 ahli madya 1 orang, dan yang tidak sekolah 5 orang. Dusun “X” memiliki program PAUD tetapi tidak memiliki sekolah. Bagi orangtua
yang ingin menyekolahkan anaknya harus pergi ke desa lain yang memiliki sekolah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa warga di dusun “X”,
dahulunya anak-anak tidak dapat melanjutkan sekolah. Orangtua mereka menghendaki anaknya membantu orangtua bekerja di ladang daripada melanjutkan sekolah. Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran nilai-nilai. Saat ini, para orangtua di dusun “X” menginginkan anaknya sekolah minimal
sampai tingkat SMA dan diharapkan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, anak dapat memeroleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik dari petani ladang.
4
Universitas Kristen Maranatha harapan agar kelak anaknya dapat memperoleh pekerjaan yang jauh lebih baik daripada sekadar menjadi petani seperti orangtuanya. Anak-anak dipersiapkan untuk mandiri dengan bekerja membantu orangtuanya baik di rumah maupun di ladang sejak kecil. Hal ini dilakukan oleh orangtua agar dapat membekali anak-anaknya dengan kemampuan dasar jika suatu saat anak-anak-anaknya tidak dapat melanjutkan sekolah ke tingkat berikutnya karena tidak adanya biaya.
Berdasarkan fakta di lapangan yang diperoleh melalui wawancara kepada Pak Dukuh, ada ayah yang mampu secara ekonomi untuk menyekolahkan anaknya tetapi anaknya sendiri tidak memiliki keinginan untuk sekolah, sering membolos dan akhirnya bekerja membantu orangtuanya di rumah. Sedangkan ayah yang ingin menyekolahkan anaknya tetapi tidak memiliki uang, menitipkan anaknya di panti asuhan atau di asrama sekolah untuk disekolahkan oleh lembaga tersebut. Selama anak masih di bawah pengasuhan orangtua, ayah yang membuat keputusan mengenai anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa ayah yang memiliki power atas anaknya. Peran utama ayah di dusun “X” adalah sebagai kepala
keluarga yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, ayah juga membantu istri mengurus anak dan memberi makan hewan ternak seperti sapi.
5
Universitas Kristen Maranatha mengungkapkan bahwa ayah sebagai kepala keluarga dalam sebuah keluarga dipengaruhi oleh budayanya yang menganut sistem paternalistik, dimana ayah yang menentukan keputusan akhir. Berdasarkan pandangan peneliti, keputusan yang penting dalam sebuah keluarga ditentukan oleh ayah dan ke arah mana perkembangan anak juga ditentukan oleh ayah. Baik buruknya perkembangan anak ditentukan oleh bagaimana cara ayah dalam memandang anaknya. Seorang ayah memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai alasan mengapa mereka ingin memiliki anak.
Arnold (1975) melakukan penelitian mengenai Values Of Children yaitu manfaat atau beban yang dirasakan orangtua apabila memiliki anak. Arnold melakukan penelitian untuk mengetahui alasan mengapa seseorang menginginkan atau tidak menginginkan memiliki anak. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa nilai anak (Values Of Children) dapat dikelompokkan menjadi dua dimensi, yaitu Positive General Values dan Negative General Values. Positive General Values berarti anak dipandang sebagai keuntungan bagi orangtua.
Keuntungan bagi orangtua meliputi keuntungan secara emosional (Emotional Benefits), orangtua merasa senang dan bahagia dengan kehadiran anak. Di dusun “X” kehadiran anak membuat ayah merasa bahagia. Selain itu ayah juga merasa senang karena istri memiliki teman dan tidak merasa sepi ketika ayah pergi ke luar kota untuk bekerja.
6
Universitas Kristen Maranatha di masa tua. Di dusun “X” kehadiran anak dapat membantu ayah memberi makan hewan ternak saat ayah bekerja di ladang. Apabila anak sudah besar dan memiliki pekerjaan yang baik, anak dapat merawat ayahnya di masa tua. Selain itu, orangtua merasakan bahwa kehadiran anak dapat membuat orangtua belajar lebih dewasa dalam mengasuh anaknya (Self-Enrichment and Development). Di dusun “X” kehadiran anak membuat ayah merasa bertanggung jawab untuk mengasuh anaknya dengan baik agar anaknya dapat berkembang dengan baik pula. Dengan begitu, ayah merasa mampu mendidik dan membesarkan anaknya dengan baik.
Kehadiran anak dipandang sebagai sumber kebahagiaan orangtua dengan melihat pertumbuhan anak dan kemiripan anak dengan orangtua (Identification with Children). Di dusun “X” kehadiran anak membuat ayah merasa bangga
karena anak memiliki hobi yang sama seperti ayahnya. Keuntungan lainnya, kehadiran anak dapat menciptakan hubungan yang semakin erat dan romantis antara suami istri serta sebagai penerus nama keluarga (Family Cohessiveness and Continuity). Di dusun “X” kehadiran anak dapat membuat hubungan ayah dan
istri semakin erat dan romantis. Ayah merasa hidupnya menjadi sempurna dengan memiliki anak dan dapat meneruskan nama dan tradisi keluarga.
Negative General Values adalah kehadiran anak dipandang sebagai beban
7
Universitas Kristen Maranatha sumber terbesar dari pengeluaran orangtua (Economic Costs). Di dusun “X” kehadiran anak membuat ayah merasa terbebani karena harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk memberi makan anaknya, membelikan baju, dan menyekolahkan anaknya. Uang yang dikeluarkan ayah kadang melebihi pendapatan yang diperoleh ayah sebagai petani ladang.
Beban lainnya adalah orangtua memandang anaknya sebagai penghalang untuk memenuhi kebutuhan pribadi orangtua dan membatasi ruang gerak orangtua karena harus mengasuh dan merawat anaknya di rumah (Restrictions or Opportunity Costs). Di dusun “X” kehadiran anak membuat ayah menjadi jarang
mengikuti kegiatan dusun dan tidak dapat bekerja di tempat yang jauh karena harus membantu istri mengasuh anaknya di rumah. Selain itu, ayah tidak dapat pergi ke ladang lebih pagi karena harus mengantarkan anaknya sekolah.
Dapat pula orangtua merasa lelah dan letih mengurusi kebutuhan anak-anaknya serta anak dipandang sebagai beban secara fisik (Physical Demands). Di dusun “X” kehadiran anak membuat ayah merasa lelah karena harus membantu
8
Universitas Kristen Maranatha Nilai yang dipegang ayah mengenai anaknya akan memengaruhi bagaimana cara ayah dalam mengasuh anaknya. Misalnya apabila ayah memandang anaknya melalui aspek dari dimensi positif (Emotional Benefits), ayah akan mengasuh anaknya dengan penuh kasih sayang dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain bersama anaknya. Apabila ayah memandang anaknya melalui aspek dari dimensi negatif (Economic cost), ayah akan selalu menyalahkan dan menyesali anaknya karena harus mengeluarkan biaya yang besar untuk memenuhi kebutuhan anaknya.
Perbedaan values yang dianut oleh ayah dapat berkaitan dengan berbagai faktor, yaitu jenis kelamin, latar belakang pendidikan, usia saat menikah, tingkat perekonomian, penghayatan terhadap nilai agama, dan penghayatan terhadap nilai-nilai masyarakat (Arnold, 1975). Jenis kelamin anak berkaitan dengan pandangan ayah bahwa kehadiran anak laki-laki dipandang sebagai pengikat antara suami dan istri, pelengkap pernikahan serta dapat meneruskan nama dan tradisi keluarga (Family Cohesiveness and Continuity). Sedangkan anak perempuan dapat membantu mengurus pekerjaan rumah tangga dan mengasuh saudara lain yang lebih kecil (Economic Benefits).
9
Universitas Kristen Maranatha memiliki latar belakang pendidikan yang rendah cenderung akan memandang anak sebagai komoditas keluarga (Economic Benefits). Apabila latar belakang pendidikan ayah tinggi akan memandang anak sebagai cerminan yang memiliki kemampuan seperti dirinya (Identification with Children), sehingga anak disekolahkan sampai tingkat yang sama dengan ayah atau melebihi tingkat pendidikan ayah.
Usia ayah saat menikah juga menunjukkan keterkaitan dengan nilai anak. Ayah yang masih muda belum memiliki banyak tabungan untuk mempersiapkan kelahiran anak sehingga anak dipandang sebagai sumber pengeluaran keluarga (Economic Costs). Di samping itu anak dipandang sebagai penghalang kebebasan ayah dalam bergaul dengan tetangga karena harus membantu istri mengurus anak (Restriction or Opportunity Costs). Sedangkan ayah yang menikah di usia yang lebih tua merasakan bahwa kehadiran anak dapat menjamin masa tua ketika dirinya sudah tidak mampu bekerja (Economic Benefits), selain itu kehadiran anak dapat membuat ayah semakin dewasa karena ayah merasa bertanggungjawab untuk membesarkan anaknya (Self-enrichment and Development).
10
Universitas Kristen Maranatha ayah mengalami kelelahan karena harus membantu ibu mengurusi anak saat pulang bekerja (Physical Demands). Dengan ayah bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan anak membuat waktu ayah lebih banyak dihabiskan untuk bekerja dan mengurangi waktunya mengikuti kegiatan dusun (Restrictions or Opportunity Costs) dan mengurangi waktu ayah bersama istri (Family Costs).
Sedangkan ayah yang memiliki penghasilan tinggi akan memfasilitasi anaknya untuk mengembangkan kemampuan anak di sekolah sehingga ayah akan merasa bangga dengan prestasi anaknya di sekolah (Identification with Children).
Faktor lain yang juga berkaitan dengan nilai anak adalah penghayatan terhadap nilai-nilai agama. Melalui penghayatan agama, anak dipandang sebagai anugerah yang membuat ayah merasa senang dan bahagia (Emotional Benefits). Namun ayah dapat merasa cemas dan khawatir jika anaknya melanggar norma agama karena merusak nama baik keluarga serta membuat ayah merasa malu dan berdosa (Emotional Costs).
Selain itu, faktor lain yang berkaitan dengan nilai anak adalah bagaimana ayah menghayati nilai-nilai masyarakat. Ayah mungkin merasa cemas dan khawatir jika anaknya membuat kekacauan, keributan dan melakukan tindakan buruk yang mengganggu ketentraman masyarakat (Emotional Bnefits). Pandangan masyarakat bahwa kehadiran anak menghabiskan uang orangtua membuat ayah memandang anaknya sebagai sumber pengeluaran keluarga karena harus memenuhi kebutuhan anak (Economic Costs).
11
Universitas Kristen Maranatha membangun keluarga bersama dan menginginkan segera memiliki anak untuk meneruskan keturunan orangtua (Family cohesiveness and continuity). Selain itu, Y mengharapkan anaknya dapat merawat Y dan istrinya di masa tua (Economic Benefits). Subjek kedua (M) memiliki anak perempuan berusia 6 tahun. M
menginginkan memiliki anak untuk melengkapi pernikahannya dan sebagai generasi penerus orangtua (Family cohesiveness and continuity). Selain itu, M mengharapkan kelak anaknya dapat membantu perekonomian keluarga (Economic Benefits). Subjek ketiga (S) memiliki anak laki-laki berusia 8 tahun. S
menginginkan memiliki anak untuk menghibur S ketika dirinya merasa lelah sepulang dari bekerja (Emotional Benefits). Selain itu, S menginginkan memiliki anak untuk mengurus dan membiayai hidup S dan istrinya di masa tua (Economic Benefits).
Berdasarkan hasil wawancara kepada tiga orang ayah, dapat disimpulkan bahwa ketiga subjek memiliki kesamaan dalam memandang anak, yaitu Economic Benefits. Perbedaan Values Of Children dari ketiga subjek adalah subjek pertama
12
Universitas Kristen Maranatha 1.2 Identifikasi Masalah
Masalah yang ingin diteliti ialah bagaimana Values of Children pada ayah di dusun “X” Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1. Maksud Penelitian
Untuk memperoleh gambaran mengenai Values of Children pada ayah di dusun “X” Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.
1.3.2 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui aspek-aspek dan keterkaitan faktor-faktor dengan Values of Children pada ayah di dusun “X” Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.
1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Kegunaan Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi di bidang Psikologi Perkembangan dan Psikologi Sosial mengenai Values of Children. Dapat memberikan sumbangan informasi bagi pihak-pihak yang ingin
13
Universitas Kristen Maranatha 1.4.2 Kegunaan Praktis
Memberikan informasi kepada para ayah di Dusun “X” mengenai Values of Children, yang berguna untuk pemahaman diri yang selanjutnya diharapkan
dapat memberikan dampak positif terhadap perilaku ayah dalam mengasuh anak-anaknya.
Memberikan informasi kepada para pemerhati dan praktisi yang bergerak di bidang kehidupan masyarakat mengenai Values of Children pada ayah. Informasi ini dapat digunakan dalam memberikan penyuluhan mengenai aspek-aspek Values of Children.
1.5 Kerangka Pemikiran
Di dusun “X”, ayah memiliki peran sebagai kepala keluarga dan memegang
kendali atas segala sesuatu yang terjadi di dalam keluarga tersebut. Usia laki-laki yang telah menikah dan menjadi ayah di dusun “X” berkisar antara 22 tahun
sampai 60 tahun. Ayah bekerja sebagai petani ladang, peternak dan sopir. Ayah memiliki tanggung jawab untuk bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Sistem kekeluargaan di dusun “X” bersifat paternalistik yang merupakan suatu sistem budaya dalam masyarakat yang didasari oleh suatu pola hubungan antara ayah dengan anaknya dalam suatu keluarga, dengan menunjukkan karakteristik bahwa peranan seorang ayah sangat dominan (Martha. 2007).
Menurut Arnold (1975), istilah “value of children” merujuk pada hypothetical
14
Universitas Kristen Maranatha values) memiliki anak dibandingkan dengan beban (negative values). Sehubungan
dengan itu, nilai anak (Values of Children) dikelompokkan menjadi dua dimensi, yaitu Positive General Values dan Negative General Values.
Positive General Values adalah keuntungan yang dirasakan oleh ayah dengan
kehadiran anak di tengah keluarga. Dimensi ini terdiri dari aspek-aspek Emotional Benefits, Economic Benefits, Self-enrichment and Development, Identification
with children, Family cohesiveness and Continuity. Emotional Benefits adalah
melalui anak, orangtua merasakan kebahagiaan dan kesenangan, keberadaan anak mampu mengusir rasa kesendirian dan kebosanan orangtua. Anak menjadi sumber kebahagiaan dari orangtuanya. Economic Benefits adalah anak dipandang sebagai orang yang kelak mampu membantu orangtua dalam mengurus rumah, membantu mengurus usaha orangtua, membantu menjaga dan mengurus saudaranya, dan menjadi jaminan untuk mengurus dan menjaga orangtua baik secara ekonomi, fisik, dan psikis di masa tua. Anak dipandang sebagai komoditas bagi orangtuanya.
Self-enrichment and development adalah melalui pola pengasuhan yang
15
Universitas Kristen Maranatha menyelesaikan tugas perkembangan dengan baik. Family cohesiveness and continuity adalah orangtua memandang kehadiran anak secara positif sebagai
pengikat antara suami dan istri, kesempurnaan pernikahan, pelengkap kehidupan keluarga, serta penerus nama dan tradisi keluarga.
Negative General Values adalah suatu beban yang dirasakan oleh ayah
mengenai kehadiran anak di tengah-tengah keluarga. Dimensi ini terdiri dari aspek-aspek Emotional Costs, Economic Costs, Restrictions or Opportunity Costs, Physical Demands, Family Costs. Emotional costs adalah kehadiran anak
dipandang sebagai penyebab ketegangan secara emosional bagi orangtua. Misalnya orangtua mengkhawatirkan kesehatan anak atau mencemaskan perilaku anak di sekolah; orangtua merasa terganggu dengan keributan yang dibuat anak di rumah.
Economic costs adalah kehadiran anak di tengah keluarga dipandang sebagai
sumber pengeluaran keluarga. Orangtua merasa terbeban karena harus mengeluarkan biaya yang besar untuk pengasuhan dan pendidikan anak. Anak dipandang sebagai beban ekonomi bagi keluarganya. Restrictions or opportunity costs adalah kehadiran anak dipandang sebagai penghalang bagi kebebasan
orangtua untuk pemenuhan kebutuhan dan keinginan pribadi. Orangtua menjadi terbatas untuk bisa bersosialisasi dalam kehidupan sosialnya dan melakukan kesenangan karena harus mengasuh dan merawat anak. Orangtua juga kurang memiliki privasi dan terbatas dalam peningkatan karier.
Physical demands adalah kehadiran anak dipandang sebagai sumber
16
Universitas Kristen Maranatha tugas rumah tangga sehingga merasakan kelelahan dan terbatasnya waktu tidur karena harus mengurus dan merawat anak. Misalnya orangtua harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan kebutuhan anaknya, mengantar anaknya ke sekolah, dan baru bisa tidur malam hari bila anaknya sudah tidur.
Family costs adalah kehadiran anak dipandang sebagai alasan perselisihan
yang terjadi pada pasangan suami istri. Suami dan istri seringkali bertengkar karena ada perbedaan penerapan pola pengasuhan anak. Selain itu, kehadiran anak merebut perhatian pasangannya serta berkurangnya waktu bagi pasangan untuk bersama. Misalnya suami kecewa karena istri lebih mementingkan mengurus kebutuhan anak daripada mengurus kebutuhan suami.
17
Universitas Kristen Maranatha Dalam skema dapat dilihat kerangka pemikiran sebagai berikut,
Skema 1.1 Kerangka Pikir Values of
Children Ayah di dusun
“X” Kabupaten Kulon Progo
Yogyakarta
Positive General Values : - emotional benefits - economic benefits - self-enrichment and
development - identification with
children
- family cohesiveness and continuity
Negative General Values : - emotional costs
- economic costs - restrictions or
opportunity costs - physical demands - family costs Jenis kelamin
Usia saat menikah
Latar belakang pendidikan Tingkat perekonomian
18
Universitas Kristen Maranatha 1.6 Asumsi
Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka peneliti merumuskan asumsi sebagai berikut :
- Ayah di dusun “X” Kabupaten Kulon Progo memiliki Values of Children yang berbeda-beda.
- Values of Children yang dimiliki ayah di dusun “X” Kabupaten Kulon Progo dapat dibedakan menjadi dua dimensi yaitu positive general values dan negative general values.
103 Universitas Kristen Maranatha BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5. 1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap ketiga ayah yang memiliki Values Of
Children di Dusun “X” Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta, dapat disimpulkan hal
-hal sebagai berikut :
1. Values Of Children yang sama-sama terdapat pada ketiga subjek ialah Family Cohesiveness and Continuity dan Economic Benefits. Hal ini berkaitan dengan
penghayatan subjek terhadap nilai-nilai masyarakat dan budaya Jawa serta tingkat
perekonomian subjek yang rendah. Budaya Jawa memandang anak sebagai
penyempurna pernikahan, membuat ketiga subjek memandang anak sebagai
pelengkap dalam keluarga dan menjadi generasi penerus orangtua. Penghayatan
terhadap nilai-nilai masyarakat dan keadaan ekonomi yang rendah membuat
ketiga subjek mengharapkan anaknya dapat berbakti kepada orangtua dengan
merawat orangtua di masa tua.
2. Meskipun ketiga subjek memandang anak sebagai Family Cohesiveness and Continuity, terdapat perbedaan dalam kompleksitas dinamika pada ketiga subjek,
selain faktor-faktor yang ada di butir pertama. A juga menghayati nilai-nilai agama
dengan memandang salah satu tugasnya di dunia adalah beranak cucu dan
membangun dunia. B menghayati nilai-nilai masyarakat dengan memandang anak
sebagai pelengkap dalam keluarga dan generasi penerus orangtua. Usia C saat
104
Universitas Kristen Maranatha agar dapat meningkatkan keharmonisan dan memperkuat tali ikatan antara C dan
istrinya.
3. Perbedaan Values Of Children pada ketiga subjek ialah A memandang anaknya juga sebagai Emotional Benefits; B memandang anaknya juga sebagai Emotional
Costs dan Emotional Benefits; serta C memandang anaknya juga sebagai
Economic Costs dan Emotional Costs. Hal ini berkaitan dengan usia subjek saat
menikah, penghayatan subjek terhadap nilai-nilai agama, penghayatan subjek
terhadap nilai-nilai masyarakat dan budaya Jawa serta tingkat perekonomian
subjek yang rendah. Usia A saat menikah dan semua persiapan yang dilakukannya
sebelum menikah membuat A merasa senang dan bahagia atas kehadiran anaknya.
Usia B saat menikah membuat B merasa belum siap dan menyesal atas kehamilan
istrinya di luar nikah. Selain itu, di lingkungan masyarakat setempat B dipandang
melanggar aturan dalam budaya Jawa, serta melanggar ajaran agama yang
membuat B merasa berdosa pada Tuhan. Seiring berjalannya waktu, B menjalani
perannya sebagai suami dan calon ayah membuat B merasa senang dan bahagia
dengan kehadiran anaknya. Tingkat perekonomian C yang rendah membuat C
memandang anaknya sebagai beban ekonomi karena harus mengeluarkan biaya
yang besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak. Selain
itu, kehamilan anaknya membuat C merasa malu dengan para tetangga dan merasa
berdosa pada Tuhan karena tidak dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan
baik sebagai ayah.
4. Ayah sebagai tokoh sentral dalam keluarga masyarakat Jawa yang menganut sistem paternaslistik memiliki peran sebagai pengambil keputusan dalam keluarga
105
Universitas Kristen Maranatha 5.2 Saran
5.2.1 Saran Teoretis
1. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian mengenai gambaran Values Of Children pada ibu, penelitian mengenai gambaran Values Of Children pada
budaya yang berbeda.
2. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian mengenai gambaran Values Of Children pada anak laki-laki dan atau perempuan.
5.2.2Saran Praktis
1. Bagi para pemuka agama dan kepala dusun, gambaran mengenai Values Of Children di Dusun “X” Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta dapat digunakan
sebagai bahan diskusi tentang pemahaman diri ayah yang selanjutnya diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perilaku ayah dalam mengasuh anak-anaknya.
106 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA
Arnold, Fred, Cs,. (1975). The Value of Children, a cross–national study. Introduction
and comparative, Volume One, East-West Population. Honolulu, Hawaii : Intitute, East-West.
Bisri, Mustofa, S.Sos & Maharani, V. Eilsa, S.S. (2010). Kamus Lengkap Sosiologi. Yogyakarta: Panji Pustaka.
Friedenberg, Lisa. (1995). Psychological Testing, Design, Analysis and Use, Allyn and
Bacon.
Goldenberg, I., & Goldenberg, H. (1985). Family Therapy: An Overview. 2nd edition.Monterey: Cole Publishing Company.
Graziano, Anthony M., Raulin, Michael L. 2000. Research Methods. A Process of
Inquiry. A Pearson Education Company.
Guildford J.P. (1954). Psychometric methods. New Delhi: Tata Mc Graw-Hill Publishing company Ltd.
Haq, Z., M. (2011). Mutiara Hidup Manusia Jawa. Yogyakarta: Aditya Media.
Kitab Suci Agama Katolik. Alkitab
Purwadi, Dr & Niken, H. Enis., Dra. (2010.) Upacara Pengantin Jawa. Yogyakarta: Panji Pustaka
Purwandari, Kristi, E. 1998. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi UI.
Santrock, John W. (2004). Life Span Development. 9th edition. New York : The McGraw- Hill Companies.
107 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN
Ilhamsyah. 2009. Konsep Dasar Dan TBC. Health Reference. (Online). (http://healthreference-ilham.blogspot.com/2009/03/konsep-dasar-keluarga-dan-tbc.html, diakses 27 Maret 2011).
Subkhan, Imam. 2007. Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme Di Yogya. (Online).
(http://books.google.co.id/books?id=Kd-esSDFYvYC&pg=PA108&lpg=PA108&dq=hiruk+pikuk+wacana+plurali sme+di+Yogya+menurut+Imam+Subkhan&source=bl&ots=jCsNSBFKat
&sig=1U28oZldJPq5TWaziux6UjPCgik&hl=en&sa=X&ei=-Ts1T53NFcrmrAeO0cXDDA&ved=0CBUQ6AEwAQ#v=onepage&q=hir uk%20pikuk%20wacana%20pluralisme%20di%20Yogya%20menurut%2 0Imam%20Subkhan&f=false , diakses 29 Maret 2011).
Wikipedia. 2011. Pengertian Keluarga Menurut Salvicion dan Ara Celis. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga, diakses 27 Maret 2011)