30
PERAN
TRUST IN BRAND
TERHADAP
BRAND LOYALTY
PADA NOTEBOOK ACER DI
HI-TECH MALL
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Per syar atan Dalam Memper oleh Gelar Sar jana Ekonomi
J ur usan Manajemen
Oleh :
AHMAD SUNHAJ I
1012010036 / EM
FAKULTAS EKONOMI
31
USULAN PENELITIAN
PENGARUH
TRUST IN BRAND
TERHADAP
BRAND
LOYALTY
PADA NOTEBOOK ACER DI
HI-TECH MALL
Oleh :
AHMAD SUNHAJ I
1012010036 / EM
Telah diseminar kan dan disetujui untuk menyusun skr ipsi
Pembimbing Utama
Her i Ar ianto Lestar i W.
Tanggal………
Mengetahui Ketua Pr ogr am Studi
Manajemen
32
SKRIPSI
PENGARUH
TRUST IN BRAND
TERHADAP
BRAND
LOYALTY
PADA NOTEBOOK ACER DI
HI-TECH MALL
Yang diajukan
AHMAD SUNHAJ I
1012010036 / EM
disetujui untuk Ujian Lisan oleh
Pembimbing Utama
Her i Ar ianto Lestar i W.
Tanggal………
Mengetahui Wakil Dekan I
33
SKRIPSI
PENGARUH
TRUST IN BRAND
TERHADAP
BRAND
LOYALTY
PADA NOTEBOOK ACER DI
HI-TECH MALL
Disusun O leh:
AHMAD SUNHAJ I
1012010036 / EM
Telah Diper tahankan Dihadapan Dan Diter ima Oleh
Tim Penguji Skr ipsi Pr ogr am Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univer sitas Pembangunan Nasional ”Veter an” J awa Timur
Pada tanggal 28 Febr uar i 2014
Pembimbing Utama : Tim Pengguji : Ketua
`
Dr s. Ec. Her r y Ar ianto L.W, MM Dr a. Ec. Nur janti T. M.Si Sekr etar is
Her r y Ar ianto LW. SE. MM Anggota
Sugeng Pur wanto, SE, MM
Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univer sitas Pembangunan Nasional ”Veter an”
J awa Timur
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul :
“Peran Trust in Brand Terhadap Brand Loyalty Pada Notebook Acer”
Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Progdi Manajemen pada Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya
dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala
ketulusan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Progdi Manajemen Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Bapak Heri Arianto Lestari W, selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan dan dorongan kepada peneliti dalam menyelesaikan
skripsi ini.
5. Para dosen dan asisten yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan selama
6. Semua pihak yang ikut membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan
satu-persatu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak
kekurangan dalam isi maupun penulisannya, oleh karena itu semua kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan untuk kesempurnaan penulisan
selanjutnya. Sebagai akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pembaca baik sebagai bahan kajian maupun sumber informasi, serta bermanfaat
bagi semua pihak.
Surabaya, Februari 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
ABSTRAKSI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 8
1.3. Tujuan Penelitian ... 8
1.4. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA ... 10
2.1. Penelitian Terdahulu ... 10
2.2. Landasan Teori ... 12
2.2.1. Konsep Pemasaran ... 12
2.2.2. Strategi Pemasaran ... 12
2.2.3. Pengertian Merek ... 13
2.2.4. Kepercayaan terhadap Merek ... 15
2.2.4.1. Brand Characteristic ... 18
2.2.5. 1. Indikator Loyalitas Merek... 24
2.2.6. Pengaruh Kepercayaan Merek terhadap Loyalitas Merek ... 24
2.3. Kerangka Konseptual ... 29
2.4. Hipotesis ... 30
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 31
3.2 Populasi Dan Sampel Penelitian ... 33
3.3 Jenis Data dan Sumber Data ... 34
3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Obyek Penelitian ... 38
4.1.1. Sejarah singkat Perusahaan ... 38
4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 40
4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 40
4.2.2. Deskripsi Hasil Penelitian ... 42
4.2.2. Uji Validitas ... 45
4.2.3. Uji Reliabilitas ... 48
4.2.4. Model Struktural ... 49
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ... 52
5.2. Saran ... 52
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin ... 40
Tabel 4.2 Identitas Responden Menurut Pendidikan ... 41
Tabel 4.3 Identitas Responden Menurut Umur ... 41
Tabel 4.4. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Brand characteristic ... 42
Tabel 4.5. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Company characteristic ... 43
Tabel 4.6. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Consumer-brand characteristic ... 44
Tabel 4.7. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Brand Loyalty ... 45
Tabel 4.8. Hasil Uji Validitas ... 46
Tabel 4.9. Average variance extracted (AVE) ... 47
Tabel 4.10. Pengujian Reliability Consistency Internal... 48
DAFTAR GAMBAR
PERAN
TRUST IN BRAND
TERHADAP
BRAND LOYALTY
PADA NOTEBOOK ACER DI HI-TECH MALL
Ahmad Sunhaji
ABSTRAK
Bagi perusahaan, merek adalah salah satu aset penting dalam pemasaran sebuah produk maupun jasa. Sehingga dalam pemasaran, perusahaan akan berusaha membangun dan mempertahankan merek agar dapat dikenal dan diakui keberadaannya oleh konsumen. Persaingan yang ketat mengakibatkan banyak merek yang mulai tidak dikenal atau diingat konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah Trust in Brand berperan terhadap Brand Loyalty Pada Notebook Acer Hi-Tech Mall.
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan konsumen Notebook Acer di Hi-Tech Mall. Dalam penelitian ini sampel diambil dari
pelanggan dengan jumlah 100 responden. Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis multivariate dengan PLS.
Berdasarkan hasil pengujian untuk menguji variabel Kepercayaan pada merk terhadap loyalitas merek, dapat disimpulkan hal-hal untuk menjawab permasalahan sebagai berikut : Kepercayaan pada merk memberikan kontribusi terhadap loyalitas merek pada Pelanggan Notebook Acer. Hasil ini menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen meningkat seiring dengan strategi pemasaran Notebook Acer yang juga mengalami perubahan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bagi perusahaan, merek adalah salah satu aset penting dalam
pemasaran sebuah produk maupun jasa. Sehingga dalam pemasaran,
perusahaan akan berusaha membangun dan mempertahankan merek agar
dapat dikenal dan diakui keberadaannya oleh konsumen. Persaingan yang
ketat mengakibatkan banyak merek yang mulai tidak dikenal atau diingat
konsumen. Hal ini disebabkan konsumen mulai berpindah ke produk lain
yang lebih baik dimata konsumen. Trust in a brand memegang peranan yang
penting dalam terciptanya loyalitas konsumen terhadap suatu merek tertentu.
Menurut Lau dan Lee dalam Wijaya (2008:2), terdapat tiga faktor yang
mempengaruhi trust in a brand. Ketiga faktor ini berhubungan dengan tiga
entitas yang tercakup dalam hubungan antara merek dan konsumen. Adapun
ketiga faktor tersebut adalah merek itu sendiri (brand characteristic),
perusahaan pembuat merek (company characteristic) dan konsumen
(consumer-brand characteristic).
Persoalan merek menjadi salah satu persoalan yang harus dipantau
secara terus-menerus oleh setiap perusahaan. Merek-merek yang kuat, teruji,
hitungan-konsumen. Merek bisa memiliki nilai tinggi karena ada brand building
activity yang bukan sekadar berdasarkan komunikasi, tetapi merupakan segala
macam usaha lain untuk memperkuat merek tersebut. (Riana, 2008:185)
Upaya penciptaan kepuasan dan brand loyality harus selalu diikuti
dengan evaluasi terhadap tingkat kepuasan dan loyalitas yang dicapai oleh
konsumen. Hal ini sangat diperlukan karena dengan mengetahui tingkat
kepuasan atau brand loyality, manajemen perusahaan akan dapat menentukan
strategi pemasaran yang akan digunakan pada masa yang akan datang dengan
baik. (Riana, 2008:185)
Brand Loyality menunjukkan adanya suatu ikatan antara pelanggan
dengan merek tertentu dan ini sering kali ditandai dengan adanya pembelian
ulang dari pelanggan. Minor dan Mowen (2002:109) mengemukakan bahwa
loyalitas dapat didasarkan pada perilaku pembelian aktual produk yang
dikaitkan dengan proporsi pembelian. Berdasarkan dari pandangan tersebut
maka Brand Loyality didefinisikan sebagai: keinginan konsumen untuk
melakukan pembelian ulang.
Perusahaan yang mempunyai basis pelanggan yang mempunyai
Brand Loyality yang tinggi dapat mengurangi biaya pemasaran perusahaan
karena biaya untuk mempertahankan pelanggan jauh lebih murah
dibandingkan dengan mendapatkan pelanggan baru. Brand Loyality yang
tinggi dapat meningkatkan perdagangan. Dan dapat menarik minat pelanggan
baru karena mereka memiliki keyakinan bahwa membeli produk bermerek
Loyality adalah perusahaan dapat lebih cepat untuk merespons gerakan
pesaing. . (Riana, 2008:185)
Kecenderungan perkembangan persaingan pemasaran di masa
mendatang akan menjadi persaingan antar merek, yaitu suatu persaingan
untuk memperoleh dominasi merek. Merek akan menjadi asset perusahaan
yang paling bernilai, karena merek lebih dari sekedar sebuah nama atau
sebuah logo seperti sebuah hubungan lebih dari sekedar interaksi (James
2003:314). Untuk itu merek perlu dikelola, dikembangkan, diperkuat dan
ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan keuntungan kompetitif
yang berkelanjutan. Lebih jauh, sebenarnya merek merupakan nilai tangible
dan intangible yang terwakili dalam sebuah trademark (merek dagang) yang
mampu menciptakan nilai dan pengaruh tersendiri di pasar bila diatur dengan
tepat. . (Riana, 2008:185)
Bagi perusahaan, salah satu faktor penentu kesuksesan dalam
menciptakan kesetiaan merek para pelanggannya adalah kepuasan terhadap
kualitas yang diberikan. Dengan demikian, kualitas produk yang baik akan
menciptakan, mempertahankan kepuasan serta menjadikan konsumen loyal.
Karakteristik konsumen yang loyal salah satunya adalah selalu melakukan
pembelian ulang secara terus – menerus. Aaker (dalam Maylina 2003:99)
menyatakan bahwa brand loyalty adalah sebagai suatu faktor yang penting
dalam menetapkan nilai dari suatu merek. Nilai penting dari merek tersebut
bahwa brand loyalty memiliki nilai strategik bagi perusahaan, antara lain
mengurangi biaya pemasaran, keuntungan dalam trade leverage, menarik
minat konsumen dan dapat memberikan keuntungan waktu untuk merespon
terhadap pesaing. . (Riana, 2008:186)
Loyal tidaknya konsumen terhadap suatu merek perusahaan sangat
tergantung pada kemampuan manajemen perusahaan dalam mengelola factor
– faktor yang mempengaruhi brand loyalty. Aaker (dalam Maylina, 2003:99)
mengemukakan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi Brand Loyality
adalah: (1) variabel satisfaction atau kepuasan yang didapatkan dari
penggunaan suatu produk yang meliputi kesesuaian dengan manfaat,
kemampuan produk, gambar, tulisan, desain warna khas, kejelasan informasi
dan kemudahan dalam memperoleh. (2) variabel habitual behavior atau
kebiasaan dalam menggunakan suatu produk meliputi proses pengambilan
keputusan dan kebiasaan. (3) variabel liking of the brand yaitu tingkat
kesukaan pada suatu produk meliputi keterikatan yakni perasaan emosional
yang terkait pada suatu merek dan pengalaman dalam penggunaan
sebelumnya baik yang dialami pribadi maupun oleh kerabatnya.
Fenomena persaingan yang ada dalam era globalisasi akan semakin
mengarahkan sistem perekonomian Indonesia ke mekanisme pasar yang
memposisikan pemasar untuk selalu mengembangkan dan merebut market
Setiap perusahaan diharapkan mampu untuk mengembangkan
produknya agar lebih berkualitas, mempunyai harga yang bersaing, saluran
distribusi yang baik dan kelebihan lainnya agar produk yang ditawarkan
benar-benar produk yang memenuhi kebutuhan yang diinginkan konsumen.
Dalam pasar notebook, ada banyak merek dan atribut yang kesemuanya
menjanjikan kepuasan konsumen. Meski demikian, persepsi dari
masing-masing konsumen memang beragam terhadap tuntutan kebutuhan notebook,
baik dalam bentuk Pc maupun notebook. Ini memang sangat bergantung
pada konsumen memanfaatkan semua fasilitas yang ada di notebook. Dari
kasus inilah maka produsen computer mengeluarkan berbagai tipe notebook
yang kesemuanya menjanjikan kepuasan konsumen, terutama dalam aspek
dukungan terhadap kecepatan kerja.
Dalam penjualan di Indonesia, notebook Acer mengalami
penurunan pada tahun 2012 yakni 6,2 persen pada kuartal tersebut.
Penjualannya turun menjadi 10,2 juta unit. Pada kuartal sebelumnya,
penjualan Acer mencapai 10,9 juta unit. Dengan demikian, pangsa pasar
Acer secara global menjadi 12,4 persen. Turun dari 13,3 persen pada kuartal
sebelumnya. Mengingat penjualan notebook secara global sendiri
sebenarnya naik pada kuartal kedua 2011, penurunan penjualan tersebut
tentu merupakan kabar yang kurang bagus bagi Acer. Demikian juga yang
dialami PC Master dalam penjualan notebook Acer juga mengalami
Tabel 1.1.
Penjualan Notebook Acer
Mer ek Batter y Oper ating System Penjualan 2010 Penjualan 2011 Penjualan 2012 Acer Aspire One (1) 3-cell 2200mAh Linux 1851 1620 1433 Acer Aspire One (2) 3-cell 2200mAh XP 933 1130 846
Acer Note (1) 6-cell Vista 654 605 587
Total 3438 3355
(-0.024%)
2866 (-0.145%) Sumber : data internal PC Master
Berdasarkan tabel penjualan diatas, dapat diketahui dari tahun
2010sampai 2012 penjualan Acer di PC Master mengalami penurunan dari
tahun 2011 sebesar -0.024% turun sebesar -0.145% pada tahun 2012, yang
diindikasikan kepuasan pelanggan yang juga mengalami penurunan. Hal ini
juga didukung dengan data Top Brand Index yang diperoleh dari Acer juga
mengalami fluktuatif, dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 1.2.
Top Brand Notebook 2010-2012
Merek TBI
(2010)
TBI (2011)
TBI (2012)
Acer 32.9% 20.9% 15.0%
Toshiba 17.6% 35.0% 42.0%
HP Compaq 10.0% 7.6% 12.7%
Apple 3.6% 4.8% 5.0%
Sumber : www.topbrandindex.com, 2013
Berdasarkan Tabel diatas menunjukkan bahwa terjadi penurunan
Top Brand Index pada Notebook Acer dari tahun 2010-2012. Hal ini
diindikasikan dari penurunan penjulan dari Notebook Acer. Penurunan
Padahal Notebook Acer telah membangun kepercayaan konsumen
dengan mengkomunikasikan mereknya dengan gencar melalui iklan, dari
komunikasi, merek bisa menjanjikan sesuatu, bahkan lebih dari janji, merek
juga mensinyalkan sesuatu (brand signaling). Merek akan mempunyai
reputasi jika ia memiliki kualitas dan karisma. Agar memiliki karisma,
merek harus mempunyai aura, harus konsisten, kualitasnya harus dijaga dari
waktu ke waktu, selain tentunya juga harus mempunyai kredibilitas.
Sehingga konsumen bisa loyal terhadap produk Notebook Acer.
Pemahaman yang lengkap tentang Brand Loyality tidak dapat
diperoleh tanpa penjelasan mengenai trust in brand (trust in a brand) dan
bagaimana hubungannya dengan Brand Loyality. Dalam pemasaran industri,
para peneliti telah menemukan bahwa kepercayaan terhadap sales dan
supplier merupakan sumber dari loyalitas.
Menurut Lau dan Lee, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi trust
in brand. Ketiga factor ini berhubungan dengan tiga entitas yang tercakup
dalam hubungan antara merek dan konsumen. Adapun ketiga faktor tersebut
adalah merek itu sendiri, perusahaan pembuat merek, dan konsumen.
Selanjutnya Lau dan Lee memproposisikan bahwa trust in brand akan
menimbulkan brand loyality.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa trust in brand
berpengaruh positif terhadap brand loyality hal ini didukung oleh jurnal
a brand yang meliputi brand characteristic (X1), company characteristic
(X2), dan consumerbrand characteristic (X3) mempengaruhi brand loyalty
Dari fenomena di atas peneliti ingin mengetahui bagaimana penilaian
konsumen Surabaya terhadap perkembangan kopi tersebut diukur dari Brand
Loyality. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk
menelusuri apakah ada Peran Trust in Brand Terhadap Brand Loyalty Pada
Notebook Acer.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan pokok pikiran pada latar belakang tersebut diatas, maka
penulis merumuskan permasalahan, yaitu :
“Apakah Trust in Brand berperan terhadap Brand Loyalty Pada Notebook
Acer di Hi-Tech Mall ?”
1.3.Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini memiliki tujuan yaitu sebagai berikut :
“Untuk membuktikan apakah Trust in Brand berperan terhadap Brand Loyalty
Pada Notebook Acer Hi-Tech Mall”.
1.4.Manfaat Penelitian
1. Dengan adanya penelitian ini dapat membarikan masukan bagi
2. Dengan adanya penelitian ini dapat memberikan kesempatan kepada
penulis untuk membahas mengenai ilmu-ilmu yang diterima selama
masa perkuliahan ke dalam praktek lapangan.
3. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain apabila akan mengadakan
10
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Untuk penelitian dengan masalah perluasan merek (brand extension)
memang sudah ada yang melakukan pada penelitian sebelumnya.
1. Tjahyadi (2006) Brand Trust Dalam Konteks Loyalitas Merek Peran
Karakteristik Merek, Karakteristik Perusahaan, Dan Karakteristik
Hubungan Pelanggan-Merek
Loyalitas merek atau loyalitas pelanggan merupakan konsep penting bagi
banyak perusahaan , dapat membawa banyak manfaat bagi perusahaan ,
seperti pembelian berulang dan rekomendasi dari merek kepada orang lain
, dan kemudian dapat mengurangi biaya pemasaran . Literatur yang ada
loyalitas merek telah difokuskan pada peran kepuasan pelanggan
membimbing tindakan mereka berikutnya . Dalam konteks ini , penekanan
beralih ke pemasaran relasional telah mengabdikan banyak upaya untuk
menganalisis bagaimana konstruksi lainnya seperti kepercayaan merek
memprediksi niat masa depan . Kepercayaan terhadap merek adalah
penting dan merupakan faktor utama dalam pengembangan loyalitas merek
. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan pada merek
meliputi sejumlah karakteristik merek, karakteristik perusahaan , dan
karakteristik konsumen - merek. Pemasar harus, karena itu , mengambil
pertimbangan faktor merek dalam pengembangan kepercayaan pada merek
11
mempengaruhi pengembangan kepercayaan dalam merek , dan untuk
mewakili bagaimana kepercayaan yang mempengaruhi loyalitas merek .
2. Gede Riana (2008) dengan judul : Pengaruh Trust In A Brand Terhadap
Brand Loyalty Pada Konsumen Air Minum Aqua Di Kota Denpasar
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari secara empirik pengaruh dari
variabel trust in a brand yang meliputi brand characteristic, company
characteristic, dan consumer – brand characteristic terhadap brand
loyalty. Merek yang diteliti adalah merek air minum Aqua, yang
respondennya diambil dari para pengguna air minum Aqua yang ada di
Kota Denpasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara
bersama-sama dan parsial variabel trust in a brand berpengaruh signifikan terhadap
brand loyalty. Sebaliknya, secara parsial pengaruh variabel trust in a
brand adalah sebagai berikut. Pertama brand characteristic berpengaruh
signifikan terhadap brand loyalty. Company characteristic mempunyai
pengaruh signifikan terhadap brand loyalty. Consumer – brand
characteristic juga berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty.
Berdasarkan penelitian terdahulu diatas terdapat perbedaan dan
persamaan penelitian yang akan dilakukan, perbedaannya terdapat pada kurun
waktu, tempat penelitian, dan ruang lingkup yang digunakan. Sedangkan
12
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Konsep Pemasaran
Pemasaran berperan dalam memusatkan semua kegiatan organisasi yang
diarah untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen dalam rangka
mencapai tujuan perusahaan.
Menurut Kotler (2000 : 19) menyebutkan konsep pemasaran (marketing
concept) merupakan kunci untuk organisasi, yaitu perusahaan menjadi lebih
efektif dari pada pesaqing dalam menciptakan, menyampaikan, dan
mengkomunikasikan nilai pelanggan (customer value) pada pasar sasaran yang
telah ditentukan oleh perusahaan.
Secara sederhana, konsep pemasaran menyatakan bahwa suatu organisasi
harus memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen agar dapat
menguntungkan. Untuk menerapkan konsep pemasaran, perusahaan harus
memahami dan tetap dekat dengan konsumen dalam menyajikan produk serta
pelayanan yang baik, yang akan dibeli dan diguankan oleh konsumen (Peter dan
Olson, 2002 : 3).
2.2.2. Str ategi Pemasaran
Strategi pemasaran menurut Kotler (2000:93) mengatakan bahwa.
“Strategi pemasaran adalah logika pemasaran dan berdasarkan itu unit bisnis
diharapkan untuk mencapai sasaran-sasaran pemasaran, strategi pemasaran terdiri
13
Menurut Winardi (2001:93) menyatakan bahwa. “Strategi pemasaran yang
digunakan oleh perusahaan merupakan hasil dipadukannya berbagai elemen
pemasaran”.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi
pemasaran merupakan rangkaian suatu kegiatan yang terarah untuk mencapai
sasaran dan dengan pola berpikir yang inovatif dan kreatif, untuk menghadapi
kecenderungan yang terjadi di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan, yang
akan berpengaruh terhadap kepentingan maupun masa depan perusahaan sendiri
2.2.3. Pengertian Merek
Menurut American Marketing Association, merek adalah nama,
istilah,tanda,simbol,rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang
dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau kelompok
penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. (Riana, 2008:186)
Tinggi dapat meningkatkan perdagangan, dan dapat menarik minat pelanggan
baru karena mereka memiliki keyakinan bahwa membeli produk bermerek
minimal dapat mengurangi risiko. Keuntungan lain yang didapat dari loyalitas
merek adalah perusahaan dapat lebih cepat untuk merespon gerakan pesaing.
(Riana:2008:187).
Menurut American Marketing Associattion (Kotler, 2000 : 460)
mendefinisikan merek sebagi berikut :
14
jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya
dari produk pesaing.
Merek sebagai satu kumpulan yang kompleks dari citra, janji, dan pengalaman
dalam pikiran konsumen yang menghadirkan janji oleh perusahaan tentang produk
tertentu. Merek sebenarnya merupakan janji penjual untuk secara konsisten
memberikan tampilan, manfaat, dan jasa tertentu pada pembeli. Nilai dari suatu
merek muncul dari presepsi dan asaosiasi positif yang dipegang oleh seseorang
dan tidak hanya terdiri dari idwe tentang fungsi perasaan dan asosiasi. Merek
dapat memiliki enam tingkatan pengertian : (Kotler, 2000 : 460)
1. Atribut (attributes)
Suatu merek membawa atribut-atribut dalam benak konsumen Merek
mengingatkan pada atribut-atribut tertentu. Mercedes memberi kesan sebagi
mobil yang mahal, dibuat dengan baik, dirancang dengan baik, tahan lama,
bergengsi tinggi.
2. Manfaat (benefits)
Artribut harus diterjemahkan ke dalam manfaat fungsional dan emosional.
Atribut “tahan lama” dapat diterjemahkan menjadi manfaat fungsional. Atribut
“mahal” mungkin diterjemahkan menjadi manfaat emosional.
3. Nilai (Value)
Merek yang menyatakan sesuatu tentang nilai yang dimiliki oleh produsen.
15
4. Budaya (culture)
Merek juga mewakili kriteria budaya tertentu. Mercedes mewakili budaya
Jerman : terorganisasi, efisien, bermutu tinggi.
5. Kepribadian (personality)
Mercedes mencerminkan pimpinan yang masuk akal (orang), singa yang
memerintah (binatang), atauistana yang agung (obyek).
6. Pemakai (user)
Merek menunjukkan konsumen mana yang membeli atau menggunakn produk
tersebut.
2.2.4. Kepercayaan terhadap Merek (Trust In a Brand)
Pemahaman yang lengkap tentang loyalitas merek tidak tidak dapat
diperoleh tanpa penjelasan mengenai kepercayaan terhadap merek (Kepercayaan
Merek) dan bagaimana hubungannya dengan loyalitas merek. Dalam pemasaran
industri para peneliti telah menemukan bahwa kepercayaan terhadap sales dan
suplier merupakan sumber dari loyalitas. (Riana 2006:187)
Menurut Lau dan Lee dalam Riana (2008:187), terdapat tiga dimensi yang
mempengaruhi kepercayaan terhadap merek. Ketiga dimensi ini berhubungan
dengan tiga entitas yang tercakup dalam hubungan antara merek dan konsumen.
Adapun ketiga dimensi tersebut adalah merek itu sendiri, perusahaan pembuat
merek, dan konsumen. Selanjutnya Lau Lee memproposisikan bahwa kepercayaan
16
Kepercayaan pelanggan pada merek (brand trust) didefinisikan sebagai
keinginan pelanggan untuk bersandar pada sebuah merek dengan risiko-risiko
yang dihadapi karena ekspektasi terhadap merek itu akan menyebabkan hasil yang
positif . Morgan dan Hunt mengkonseptualisasikan trust (kepercayaan) ketika satu
kelompok memiliki keyakinan bahwa partner pertukaran memiliki reliabilitas dan
integritas. Kepercayaan sebagai suatu keadaan yang melibatkan ekspektasi positif
mengenai motif-motif dari pihak lain yang berhubungan dengan diri seseorang
dalam situasi yang berisiko (Lau dan Lee, dalam Tjahyadi, 2006:71).
Kepercayaan cukup penting dalam relational exchange. Menurut Speakman
kepercayaan merupakan cornerstone of the strategic partnership karena
karakteristik hubungan melalui kepercayaan sangat bernilai yang mana suatu
kelompok berkeinginan untuk menjalankan komitmen terhadap dirinya atas
hubungan tersebut. Kepercayaan merupakan harapan dari pihak-pihak dalam
sebuah transaksi, dan risiko yang terkait dengan perkiraan dan perilaku terhadap
harapan tersebut (Lau dan Lee, dalam Tjahyadi, 2006:71).
Kepercayaan memiliki peran yang penting dalam pemasaran industri.
Dinamika lingkungan bisnis yang cepat memaksa pemasaran perusahaan untuk
mencari cara yang lebih kreatif dan fleksibel untuk beradaptasi. Untuk tetap
bertahan dalam situasi tersebut, perusahaan akan mencari cara yang kreatif
melalui pembentukan hubungan yang kolaboratif dengan pelanggan. Kepercayaan
dianggap sebagai cara yang paling penting dalam membangun dan memelihara
hubungan dengan pelanggan dalam jangka panjang. Kepercayaan memiliki dua
17
keyakinan akan keahlian partner untuk melakukan tugasnya secara efektif dan
dapat diandalkan. Benevolence adalah suatu keyakinan bahwa maksud dan
motivasi partner akan memberikan keuntungan bersama. Hal ini menjelaskan
bahwa penciptaan awal hubungan dengan partner didasarkan pada trust
(kepercayaan).
Dalam pasar konsumen, ada begitu banyak konsumen yang tidak
teridentifikasi, sehingga sulit bagi perusahaan untuk membangun hubungan
personal dengan setiap pelanggan. Cara lain yang ditempuh oleh pemasar untuk
membangun hubungan personal dengan pelanggan adalah melalui sebuah simbol,
yaitu merek (brand). Dalam situasi tersebut, merek berperan sebagai substitute
hubungan person-to-person antara perusahaan dengan pelanggannya, selanjutnya
kepercayaan dapat dibangun melalui merek.
Dalam hubungan kepercayaan dan merek, entitas yang dipercaya adalah
bukan orang, tapi sebuah simbol. Karena itu, loyalitas pada merek melibatkan
kepercayaan pada merek. Untuk menciptakan loyalitas dalam pasar saat ini,
pemasar harus memfokuskan pada pembentukan dan pemeliharaan kepercayaan
dalam consumer-brand relationship.
Komitmen terhadap suatu hubungan didefinisikan sebagai suatu keinginan
yang terus-menerus untuk mempertahankan suatu hubungan jangka panjang yang
bernilai. Morgan dan Hunt mendefinisikan loyalitas merek sebagai komitmen
pelanggan terhadap suatu merek tertentu yang berasal dari adanya sikap yang
18
komitmen. Oleh karena itu, kepercayaan yang telah dibangun oleh pelanggan pada
suatu merek kemungkinan akan mengarah pada loyalitas terhadap merek tersebut.
(Tjahyadi, 2006:72)
2.2.4.1. Brand Characteristic (Karakteristik Merek)
Sudah menjadi kebiasaan pengusaha pabrik untuk menjual barang-barang
yang dihasilkan oleh pabriknya dibubuhi tanda lukisan dan atau perkataan untuk
membedakannya dari barang-barang sejenis hasil pabrik lainnya. Tanda itu
disebut “merek”.
Dengan merek tersebut perusahaan mengharapkan agar konsumen
mempunyai kesan positif pada barangnya. Pemberian merek terhadap hasil
produksi ini harus disesuaikan dengan keadaan produk atau perusahaan yang
bersangkutan.(Alma,2002:106)
Karakteristik merek memainkan peran yang vital dalam menentukan
apakah pelanggan memutuskan untuk percaya pada suatu merek. Berdasarkan
pada penelitian kepercayaan interpersonal, individu-individu yang dipercaya
didasarkan pada reputation, predictability dan competence dari individu tersebut
(Lau dan Lee, 1999). Dalam konteks hubungan pelanggan-merek, kepercayaan
pelanggan dibangun berdasarkan pada reputasi merek, prediktabilitas merek, dan
kompetensi merek.
Berdasarkan definisi klasik dari Jacob dan Kyner dalam tjiptono
(2000:109), merek memiliki karakteristik:
19
2. Merupakan respon behavioral (berupa pembelian)
3. Diekspresikan sepanjang waktu
4. Diekspresikan oleh unit pengambilan keputusan
5. Unit pengambilan keputusan mengekspresikan loyalitas merek berkenan
dengan satu atau lebih alternatif merek dalam serangkaian merek
6. Merek merupakan fungsi dari proses-proses psikologis (pengambilan
keputusan,evaluatif)
Merek sangat penting dalam situasi persaingan yang tidak
terkendali. Pelanggan paling mudah untuk mengenali merek dibandingkan
atribut-atribut lain yang melekat pada suatu produk. Merek yang sukses
dipersepsi oleh pelanggan akan memberikan nilai superior.
(Tandjung,2004:57)
Indikator Brand characteristic yang digunakan dalam penelitian ini
adalah yang dikembangkan oleh Riana (2008:197):
a. Merek dengan reputasi tinggi
b. Tidak menggangu kesehatan
c. Pengetahuan publik tentang merek
d. Pengetahuan konsumen tentang merek
e. Merek yang konsisten dengan kualitasnya
20
2.2.4.2. Company characteristic
Company characteristic yang ada di balik suatu merek juga dapat
mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut.
Pengetahuan konsumen tentang perusahaan yang ada di balik merek suatu produk
merupakan dasar awal pemahaman konsumen terhadap merek suatu produk.
Karakteristik ini meliputi reputasi suatu perusahaan, motivasi perusahaan yang
diinginkan, dan integritas suatu perusahaan. Indikator dalam variabel ini sebagai
berikut (Arlan, 2006: 71) :
1) Kepercayaan terhadap perusahaan
2) Reputasi dari perusahaan tersebut di mata para konsumen
3) Keyakinan pelanggan terhadap produk perusahaan
2.2.4.3. Consumer-brand characteristic
Consumer-brand characteristic merupakan merupakan dua kelompok
yang saling mempengaruhi. Oleh sebab itu, karakteristik konsumen – merek dapat
mempengaruhi kepercayaan terhadap merek. Karakteristik ini meliputi kemiripan
antara konsep emosional konsumen dengan kepribadian merek, kesukaan terhadap
merek, dan pengalaman terhadap merek. Konsep diri merupakan totalitas
pemikiran dan perasaan individu dengan acuan dirinya sebagai objek sehingga
sering kali dalam konteks pemasaran dianalogkan merek sama dengan orang.
Suatu merek dapat memiliki kesan atau kepribadian. Kepribadian merek adalah
asosiasi yang terkait dengan merek yang diingat oleh konsumen dan konsumen
21
merek tersebut adalah manusia. Dengan demikian, kesamaan antara konsep diri
konsumen dengan kepribadian merek sangat berkaitan dengan kepercayaan
konsumen terhadap merek tersebut.
Kesukaan terhadap merek menunjukkan kesukaan yang dimiliki oleh suatu
kelompok terhadap kelompok lain karena kesamaan visi dan daya tarik. Untuk
mengawali hubungan suatu kelompok harus disukai atau mendapat simpati dari
kelompok yang lain. Bagi konsumen, untuk membuka hubungan dengan suatu
merek, maka konsumen harus menyukai dahulu merek tersebut. Indikator variabel
ini adalah (Arlan, 2006: 72) :
1) Adakesamaan merk dengan emosi pelanggan
2) Merupakan merk favorit
3) Merk yang sesuai dengan kepribadian pelanggan
2.2.5. Loyalitas Merek
Loyalitas merek merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam strategi
pemasaran. Keberadaan konsumen yang loyal pada merek sangat diperlukan agar
perusahaan dapat bertahan hidup. Loyalitas dapat diartikan sebagai suatu
komitmen yang mendalam untuk melakukan pembelian ulang produk atau jasa
yang menjadi preferensinya secara konsisten pada masa yang akan datang dengan
cara membeli ulang merek yang sama meskipun ada pengaruh situasional dan
usaha pemasaran yang dapat menimbulkan perilaku peralihan. Aaker (2000 : 8)
22
pelanggan dengan merek tertentu dan ini sering kali ditandai dengan adanya
pembelian ulang dari pelanggan. Mowen (2002 : 109) mengemukakan bahwa
loyalitas dapat didasarkan pada perilaku pembelian aktual produk yang dikaitkan
dengan proporsi pembelian. Perusahaan yang mempunyai basis pelanggan yang
mempunyai loyalitas merek yang tinggi dapat mengurangi biaya pemasaran
perusahaan karena biaya untuk mempertahankan pelanggan jauh lebih murah
dibandingkan dengan mendapatkan pelanggan baru. Loyalitas merek yang tinggi
dapat meningkatkan perdagangan. Dan dapat menarik minat pelanggan baru
karena mereka memiliki keyakinan bahwa membeli produk bermerek minimal
dapat mengurangi risiko. Keuntungan lain yang didapat dari loyalitas merek
adalah perusahaan dapat lebih cepat untuk merespons gerakan pesaing.
Dalam kaitannya dengan loyalitas merek suatu produk, didapati adanya
beberapa tingkatan loyalitas merek. Masing-masing tingkatannya menunjukan
tantangan pemasaran yang harus dihadapi sekaligus aset yang dapat dimanfaatkan.
Adapun tingkatan loyalitas merek tersebut menurut Aaker dalam Durianto dkk
(2004:19), adalah sebagai berikut :
1. Switcher (Berpindah-pindah)
Adalah tingkatan loyalitas paling dasar. Semakin sering pembelian
konsumen berpindah dari suatu merek ke merek yang lain
mengindikasikan bahwa mereka tidak loyal, semua merek
dianggapmemadai. Dalam hal ini merek memegang peranan kecil dalam
23
adalah mereka membeli suatu produk karena harganya murah dan banyak
konsumen lain yang membeli merek tersebut.
2. Habitual Buyer (Pembeli yang bersifat kebiasaan)
Adalah pembeli yang tidak mengalami ketidakpuasan dalam
mengkonsumsi suatu merek produk. Tidak ada alasan yang kuat baginya
untuk membeli merek produk lain atau berpindah merek, terutama jika
peralihan itu membutuhkan usaha, biaya, atau pengorbanan lain. Jadi,
pembeli ini dalam membeli suatu merek karena alasan kebiasaan.
3. Satisfied Buyer (Pembeli yang puas dengan biaya peralihan)
Adalah kategori pembeli yang puas dengan merek yang dikonsumsi.
Namun pembeli ini dapat saja berpindah merek dengan menanggung biaya
peralihan (switching cost), seperti waktu, biaya, atau resiko yang timbul
akibat tindakan peralihan merek tersebut. Untuk menarik minat pembeli
kategori ini, pesaing perlu mengatasi biaya peralihan yang harus
ditanggung pembeli dengan menawarkan berbagai manfaat sebagai
kompensasi.
4. Likes The Brand (Menyukai merek)
Adalah kategori pembeli yang sungguh-sungguh menyukai merek tersebut.
Rasa asosiasi yang berkaitan dengan simbol, rangkaian pengalaman
menggunakan merek itu sebelumnya, atau persepsi kualitas yang tingggi.
24
5. Committed Buyer (Pembeli yang berkomiten)
Adalah kategori pembeli yang setia. Pembeli ini mempunyai kebanggaan
dalam menggunakan suatu merek. Merek tersebut bahkan menjadi sangat
penting baik dari segi fungsi maupun sebagai ekspresi siapa sebenarnya
penggunanya. Ciri yang tampak pada kategori ini adalah tindakan pembeli
untuk merekomendasikan / mempromosikan merek yang digunakannya
kepada orang lain.
2.2.5. 1. Indikator Loyalitas Merek
Loyalitas merek, ketika pelanggan percaya akan suatu merk, dan
memperlihatkan keinginan untuk bersandar pada merk tersebut, maka
pelanggan akan membentuk maksud pembelian yang positif terhadap mere\k
tersebut. Sehingga, loyalitas pelanggan terhadap suatu merk akan tergantung
terhadap tingkat kepercayaan pelanggan pada merk tersebut. Indikator yang
mempengaruhi variabel ini adalah (Arlan, 2006: 73) :
a) Melakukan pembelian ulang merek dengan merek yang sama
b) Merekomendasikan merek kepada orang lain
c) Bersedia membayar lebih untuk merk tersebut
d) Pelanggan tidak akan mengganti merek Vitazone dengan merk lain
2.2.6. Pengaruh Kepercayaan Merek terhadap Loyalitas Merek
Jika satu kelompok mempercayai kelompok lainnya, maka
kelompok tersebut kemungkinan akan mengembangkan beberapa bentuk
25
percaya terhadap sebuah merek, dan memperlihatkan keinginannya untuk
bersandar pada merek tersebut, maka pelanggan tersebut mungkin akan
membentuk maksud pembelian yang positif pada merek itu. Sehingga,
loyalitas pelanggan terhadap suatu merek akan tergantung pada tingkat
kepercayaan pelanggan pada merek tersebut. Ketika pelanggan percaya pada
suatu merek, maka pelanggan tersebut mungkin akan lebih menunjukkan
sikap dan perilaku positif kepada suatu merek karena merek tersebut
memberikan hasil yang positif.
Kepercayaan pada merek (brand trust) menggambarkan suatu
komponen yang penting dari disposisi internal atau sikap yang diasosiasikan
dengan loyalitas. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih sempurna
mengenai loyalitas tidak dapat dicapai tanpa penjelasan mengenai brand
trust. Kepercayaan pelanggan pada merek memberikan kontribusi pada
intensi pelanggan untuk membeli kembali merek yang sama di masa akan
datang, dan intensi mereka untuk merekomendasikan merek tersebut pada
orang lain. Oleh karena itu, pemasar perlu membangun kepercayaan
pelanggan pada merek yang mereka tawarkan. (Tjahyadi, 2006:76)
Morgan dan Hunt mendefinisikan loyalitas merek sebagai
komitmen pelanggan terhadap suatu merek tertentu yang berasal dari adanya
sikap yang positif terhadap merek tersebut. Dalam konteks studi perilaku
organisasional, kepercayaan ditemukan dapat mengarah pada level tertinggi
26
dibangun oleh pelanggan pada suatu merek kemungkinan akan mengarah
29
2.3. Kerangka Konseptual
Trust in brand
(X)
Brand loyalty
(Y)
Brand characteristic
(X1)
Company characteristic
(X2)
Consumer-brand characteristic
(X3)
Merekomendasikan Mencari di
tempat-tempat yang tersedia Tidak melakukan
pembelian bila tidak tersedia
30
2.4. Hipotesis
31
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Untuk mempermudah pengertian dan menghindari kesalahan
persepsi maka penulis perlu menguraikan dimensi operasional dalam
penelitian ini, yaitu :
a) Trust in Brand (X)
Yaitu persepsi akan kehandalan dari sudut pandang konsumen didasarkan
pada pengalaman, atau lebih pada urut-urutan transaksi atau interaksi yang
dicirikan oleh terpenuhinya harapan akan kinerja produk dan kepuasan.
(Riana, 2008:187) Yang dimensinya terdiri dari :
1. Brand characteristic yaituKarakteristik merek yang berkaitan dengan
kepercayaan merek meliputi dapat diramalkan, mempunyai reputasi,
dan kompeten. Dengan indikator :
a) Merek dengan reputasi tinggi
b) Tidak mengganggu kesehatan
c) Berita positif tentang merek
2. Company characteristic yaitu pengetahuan konsumen tentang
perusahaan yang ada di balik merek suatu produk merupakan dasar
awal pemahaman konsumen terhadap merek suatu produk.
32
a) Kepercayaan terhadap perusahaan (x21)
b) Perhatian perusahaan terhadap pelanggan (x23)
c) Keyakinan pelanggan terhadap produk perusahaan(x24)
3. Consumer-brand characteristic merupakan merupakan dua kelompok
yang saling mempengaruhi. Oleh sebab itu, karakteristik konsumen –
merek dapat mempengaruhi trust in brand. Karakteristik ini meliputi
kemiripan antara konsep emosional konsumen dengan kepribadian
merek, kesukaan terhadap merek, dan pengalaman terhadap merek.
a) Merupakan merek favorit (x31)
b) Merek yang sesuai dengan kepribadian pelanggan (x32)
b) Brand Loyalty (Y)
Tingkat keterikatan konsumen dengan suatu merek dicerminkan dengan
frekuensi pembelian produk suatu merek yang lebih banyak dibandingkan
dengan produk yang sama dengan merek lain. (Riana, 2008:187) indikator
brand loyality yaitu:
a) Tidak melakukan pembelian bila tidak tersedia (y1)
b) Mencari di tempat-tempat yang tersedia (y2)
c) Merekomendasikan kepada konsumen yang lain (y3)
33
3.1.1. Pengukuran Variabel
Tipe skala yang digunakan dalam mengukur variabel tersebut,
baik itu variabel bebas maupun variabel terkait adalah menggunakan skala
likert. Sedangkan pengukuran data menggunakan skala ordinal, dengan
pola pertanyaan sebagai berikut :
1 5
Sangat tidak setuju Sangat setuju
Tanggapan atau pendapat tersebut dinyatakan dengan memberi skor
yang berada dalam rating nilai 1 sampai dengan 5 pada masing-masing
skala, dimana nilai 1 menunjukan nilai terendah dan nilai 5 nilai tertinggi.
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan konsumen
Notebook Acer di Hi-Tech Mall
3.2.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan
karakteristik yang sama dengan populasi tersebut. Karena itu sample harus
representative dari sebuah populasi (Sumarsono, 2002 : 45). Metode
pengambilan sampel dengan metode non probability sampling dengan
teknik Purposive Sampling yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria yang
34
- Merupakan konsumen yang pernah menggunakan Notebook Acer
minimal dua kali.
- Umur konsumen minimal 18 tahun. Alasannya, sudah cukup
dewasa, mengerti dan memahami akan produk.
Dalam penelitian ini sampel diambil dari konsumen dengan jumlah
12 indikator x 10 = 120 orang pelanggan Notebook Acer. Menurut Ghozali
(2008), data yang digunakan untuk menggunakan software PLS adalah
sebanyak 30 – 100 data. Oleh karena itu, data sebanyak 120 responden yang
dimiliki peneliti, dibulatkan menjadi 100 responden dengan membuang 20
responden untuk pemenuhan asumsi PLS. Penghapusan responden dilakukan
dengan mengahapus responden mulai dari bawah ke atas sesuai dengan hasil uji
validitas responden yang menunjukkan bahwa responden tersebut tidak valid.
Penghapusan dilakukan dari bawah ke atas untuk menanggulangi kekacauan
urutan data setelah di lakukan proses penghapusan dan tujuh responden yang
dihapus untuk pemenuhan asumsi PLS dilakukan secara acak tanpa kriteria
tertentu.
3.3. J enis dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua macam:
a. Data Primer
Data primer adalah yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden,
baik secara langsung maupun menggunakan kuisioner berupa daftar
pertanyaan yang telah dipersiapkan dan diberikan pada responden.
35
Data sekunder adalah data berupa dukumen yang terdapat pada instansi yaitu
dari Notebook Acer dan bagian yang terkait mendukung penelitian.
3.4. Teknik Analisis Dan Uji Hipotesis
3.4.1. Teknik Analisis
Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis multivariate dengan Structural Equation Modeling (SEM) PLS.
Penaksiran pengaruh pada masing – masing variabel bebas terhadap
variabel terikatnya menggunakan koefisien jalur, hal ini dikarenakan pada
penelitian ini memiliki beberapa indikator dari masing-masing variabel
bebas dan terikat.
Dalam penelitian ini analisis data menggunakan pendekatan Partial
Least Square (PLS). PLS adalah model persamaan Structural Equation
Modeling (SEM) yang berbasis komponen atau varian. Menurut Ghozali
(2006), PLS merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari
pendekatan SEM berbasis kovarian menjadi berbasis varian. SEM yang
berbasis kovarian umumnya menguji kausalitas/teori sedangkan PLS lebih
bersifat predictive model. PLS merupakan metode analisis yang powerfull
(Ghozali, 2006), karena tidak didasarkan pada banyak asumsi. Misalnya,
data harus terdistribusi normal, sampel tidak harus besar. Selain dapat
digunakan untuk mengkonfirmasi teori, PLS juga dapat digunakan untuk
menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten. PLS dapat
36
Menurut Ghozali (2006) tujuan PLS adalah membantu peneliti untuk
tujuan prediksi. Model formalnya mendefinisikan variabel laten adalah
linear agregat dari indikator-indikatornya. Weight estimate untuk
menciptakan komponen skor variable laten didapat berdasarkan bagaimana
inner model (model struktural yang menghubungkan antar variabel laten)
dan outer model (model pengukuran yaitu hubungan antara indikator
dengan konstruknya) dispesifikasi. Hasilnya adalah residual variance dari
variabel dependen.
1. Estimasi Par ameter SEM - Partial Least Square (PLS) :
Estimasi parameter pemodelan SEM dengan pendekatan PLS diperoleh
melalui proses iterasi tiga tahap dengan menggunakan Ordinary Last Square
(OLS) yaitu sebagai berikut:
• Tahap pertama menentukan estimasi bobot (Weight Estimate) untuk
menetapkan skor atau menghitung data variabel laten.
• Tahap kedua menentukan estimasi jalur (estimasi untuk inner dan outer
model) yang menghubungkan antar variabel laten dan estimasi loading
antara variabel laten dengan indikatornya.
• Tahap ketiga menentukan estimasi rata-rata dan lokasi parameter untuk
indikator dan variabel laten.
2. Langkah-langkah analisis model fit persamaan struktural dengan
SEM-Partial Least Square (PLS) :
Dalam penelitian ini, analisis data pada SEM-PLS akan menggunakan bantuan
37
a. Mendapatkan model berbasis konsep dan teori untuk merancang model
struktural (hubungan antar variabel laten) dan model pengukurannya,
yaitu hubungan antara indikator-indikator dengan variabel laten.
b. Membuat diagram jalur (diagram path) yang menjelaskan pola
hubungan antara variabel laten dengan indikatornya.
c. Konversi diagram jalur kedalam persamaan.
d. Melakukan evaluasi goodness of fit yaitu dengan evaluasi model
pengukuran (outer model) dengan melihat validitas dan reabilitas. Jika
model pengukuran valid dan reliabel maka dapat dilakukan tahap
selanjutnya yaitu evaluasi model struktural. Jika tidak, maka harus
kembali mengkonstruksi diagram jalur.
38
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskr ipsi Obyek Penelitian
4.1.1. Sejar ah singkat Perusahaan
Acer, adalah perusahaan Jepang yang memproduksi dan
memasarkan berbagai peralatan listrik dan produk elektronik yang
canggih, yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang. Acer dinilai sebagai
perusahaan no 7 dunia untuk produsen terintegrasi untuk peralatan
listrik, elektronik dan sebagai pembuat chip. Acer Semikonduktor
termasuk 20 besar pemimpin penjualan semikonduktor di dunia.
Merger pada tahun 1939 dari Shibaura Seisakusho dan Tokyo
Denki menciptakan sebuah perusahaan baru disebut Tokyo Shibaura
Denki dan dijuluki sebagai Acer. Tapi pada baru tahun 1984
perusahaan itu resmi berubah menjadi Acer Corporation. Grup ini
makin kuat melalui pertumbuhan internal dan melalui akuisisi
perusahaan rekayasa alat berat dan perusahaan industri primer pada
1940-an dan 1950-an. Kemudian pada 1970-an dan seterusnya, anak
perusahaan mulai didirikan, yaitu: grup Acer Lighting & Teknologi
(1989), Acer Carrier Corporation (1999), Acer Elevator & Building
System Corp (2001), Acer Solutions Corp (2003), Acer Medical
39
Acer Corporation adalah salah satu perusahaan diversifikasi
produsen dan pemasar produk digital, perangkat elektronik dan
komponen, sistem infrastruktur sosial dan Home appliances. Sebagai
pendiri dan inovator terkemuka dalam komputasi portabel dan
produk-produk jaringan, Acer mulai memasarkan notebook, PC, dan PC
server untuk rumah, kantor dan pengguna mobile. Acer Qosmio
Notebook PC memimpin jalan dalam konvergensi komputasi dan
kemampuan, menawarkan konsumen yang lengkap solusi hiburan
pribadi. Sementara itu, seri “Tipis dan Ringan” membawa tingkat
mobilitas tinggi dan daya tahan untuk notebook PC untuk penggunaan
bisnis di era ini.
Acer memproduksi semua jenis laptop, dari model Libretto
yang lucu dan ultra portabel sampai model multimedia Qosmio keren.
Laptop Acer juga populer di Amerika dan Eropa. Apakah pengguna
mencari pengganti desktop, laptop untuk mahasiswa atau laptop untuk
game, akan ada sesuatu yang cocok bagi mereka di antara rangkaian
yang tak terhitung jumlahnya seperti notebook Acer Libretto, Portege,
40
4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.2.1. Analisis Statistik Deskr iptif
Gambaran statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran
jawaban responden berdasarkan hasil penyebaran kuesioner terhadap
unsur-unsur yang ada pada setiap variabel.
a. Deskr ipsi r esponden berdasar kan jenis kelamin
Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Dalam Tabel 4.1 terlihat bahwa dari 100 responden 80 responden (80%)
adalah laki-laki, 20 responden (20%) perempuan.
Tabel 4.1
Identitas Responden Menur ut J enis Kelamin
J enis Kelamin J umlah Persentase
Laki-Laki 80 80
Perempuan 20 20
Total 100 100
Sumber : Lampiran.
b. Deskr ipsi r esponden berdasar kan kelompok pendidikan
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden terbesar adalah berpendidikan
D3 sebanyak 50 orang (50%), selanjutnya responden yang berpendidikan S1
sebanyak sejumlah 20 orang (20%), D1 sebanyak sejumlah 20 orang (20%)
41
Tabel 4.2
Identitas Responden Menur ut Pendidikan
No Jabatan Jumlah (orang) Persentase (%)
1. SMU 10 10
2. D1 20 20
3. D3 50 50
4. S1 20 20
Total 100 100
Sumber : data diolah
c. Deskr ipsi r esponden berdasar kan kelompok umur
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden yang berusia 36–45 tahun
sejumlah 40 orang (40%) selanjutnya, yang berumur sekitar 25–35 tahun
sejumlah 45 orang (45%), selanjutnya responden yang berusia lebih dari
46-55 tahun sejumlah 20 orang (20%) dan yang terakhir adalah responden yang
berusia 55 tahun sebanyak 5 orang (5%).
Tabel 4.3
Identitas Responden Menur ut Umur
No Umur Jumlah (orang) Persentase (%)
1. 25 – 35 tahun 35 35
2. 36 – 45 tahun 40 40
3. 46 – 55 tahun 20 20
4. > 55 tahun 5 5
42
4.2.2. Deskr ipsi Hasil Penelitian
Trust In Brand
a. Brand characteristic
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada
para responden yang berjumlah 100 orang diperoleh jawaban sebagai
berikut :
Tabel 4.4. Hasil J awaban Responden untuk Pertanyaan Variabel
Brand characteristic
No Pertanyaan Skor Jawaban
1 2 3 4 5
1 Merek dengan reputasi
tinggi 1 17 31 46 5
2 Tidak mengganggu
kesehatan. 1 16 30 48 5
3 Berita positif tentang merek 1 15 23 52 9
Jumlah 3 48 84 146 19
Sumber: Hasil Penyebaran Kuesioner (diolah peneliti)
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui bahwa jawaban
yang diberikan reseponden cukup bervariatif. Hal tersebut ditunjukkan
dengan banyaknya responden yang memberikan jawaban dengan skor 3
hingga 7. Akan tetapi bila dicermati akan terlihat bahwa jawaban
responden yang terbesar berada pada skor 4. Responden cenderung
memberikan pendapat bahwa Notebook Acer merupakan merek dengan
43
b. Company characteristic
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada
para responden yang berjumlah 100 orang diperoleh jawaban sebagai
berikut :
Tabel 4.5. Hasil J awaban Responden untuk Pertanyaan Variabel
Company characteristic
No Pertanyaan Skor Jawaban
1 2 3 4 5
1 Kepercayaan terhadap perusahaan - 3 27 53 17
2 Perhatian perusahaan terhadap
pelanggan - 6 46 41 7
3 Keyakinan pelanggan terhadap
produk perusahaan 1 19 44 34 2
Jumlah 1 19 44 34 2
Sumber: Hasil Penyebaran Kuesioner (diolah peneliti)
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui bahwa jawaban
yang diberikan reseponden cukup bervariatif. Hal tersebut ditunjukkan
dengan banyaknya responden yang memberikan jawaban dengan skor 3
hingga 7. Akan tetapi bila dicermati akan terlihat bahwa jawaban
responden yang terbesar berada pada skor 4. Responden cenderung
memberikan pendapat bahwa Keyakinan pelanggan terhadap produk
44
c. Consumer-brand characteristic
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada
para responden yang berjumlah 110 orang diperoleh jawaban sebagai
berikut :
Tabel 4.6. Hasil J awaban Responden untuk Pertanyaan Variabel
Consumer-brand characteristic
No Pertanyaan Skor Jawaban
1 2 3 4 5
1 Merupakan merek favorit 1 1 18 50 30
2 Merek yang sesuai dengan
kepribadian pelanggan 1 5 26 41 27
Jumlah 2 6 44 91 57
Sumber: Hasil Penyebaran Kuesioner (diolah peneliti)
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui bahwa jawaban
yang diberikan reseponden cukup bervariatif. Hal tersebut ditunjukkan
dengan banyaknya responden yang memberikan jawaban dengan skor 3
hingga 7. Akan tetapi bila dicermati akan terlihat bahwa jawaban
responden yang terbesar berada pada skor 4. Responden cenderung
memberikan pendapat bahwa Produsen Notebook Acer merupakan merek
yang sesuai dengan kepribadian pelanggan
d. Brand Loyalty
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada
para responden yang berjumlah 110 orang diperoleh jawaban sebagai
45
Tabel 4.7. Hasil J awaban Responden untuk Pertanyaan Variabel
Brand Loyalty
No Pertanyaan Skor Jawaban
1 2 3 4 5
1 Tidak melakukan pembelian bila
tidak tersedia 1 2 14 50 33
2 Mencari di tempat-tempat yang
tersedia 2 18 21 33 26
3 Merekomendasikan kepada
konsumen yang lain 4 13 27 34 22
4 Bersedia membayar lebih tinggi 1 4 8 52 35
Jumlah 5 38 123 158 21
Sumber: Hasil Penyebaran Kuesioner (diolah peneliti)
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner diketahui bahwa jawaban
yang diberikan reseponden cukup bervariatif. Hal tersebut ditunjukkan
dengan banyaknya responden yang memberikan jawaban dengan skor 3
hingga 7. Akan tetapi bila dicermati akan terlihat bahwa jawaban
responden yang terbesar berada pada skor 4. Responden cenderung
memberikan pendapat bahwa setelah membeli produk Notebook Acer,
Saudara merekomendasikan produk Notebook Acer
4.2.2. Uji Validitas
Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai oleh sebuah
indikator dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa yang
seharusnya diukur, karena indikator multidimensi, maka uji validitas dari
46
Tabel 4.8. Hasil Uji Validitas
Or i g i n a l Sa m p l e
( O)
Sa m p l e M e a n ( M)
St a n d a r d D e v i a t i o n ( STD EV)
St a n d a r d Er r o r ( STERR)
T St a t i s t i cs ( | O/ STERR| )
X 1 1 < - Br a n d Ch a r a ct e r i s t ik ( X 1 ) 0 .9 2 0 3 3 0 0.905458 0.16432 9 0.16432 9 5 .6 0 0 5 3 3
X 1 2 < - Br a n d Ch a r a ct e r i s t ik ( X 1 ) 0 .9 0 9 7 9 7 0.896000 0.15914 4 0.15914 4 5 .7 1 6 8 1 7
X 1 3 < - Br a n d Ch a r a ct e r i s t ik ( X 1 ) 0 .8 1 5 3 5 5 0.792645 0.15893 1 0.15893 1 5 .1 3 0 2 4 5
X 2 1 < - Co m p a n y Ch a r a ct e r i st i c ( X 2 )
-0 .7 9 1 5 1 2 - 0.143876 0.76213 2 0.76213 2 1 .0 3 8 5 5 0
X 2 2 < - Co m p a n y Ch a r a ct e r i st i c ( X 2 )
-0 .7 2 2 7 -0 8 - 0.055516 0.70186 1 0.70186 1 1 .0 2 9 7 0 3
X 2 3 < - Co m p a n y Ch a r a ct e r i st i c ( X 2 )
-0 .5 5 8 9 7 5 0.052767 0.54905 2 0.54905 2 1 .0 1 8 0 7 2
X 3 1 < - Co n s u m e r - Br a n d Ch a r a ct e r ( X3 ) 0 .8 8 0 9 1 0 0.868863 0.14157 6 0.14157 6 6 .2 2 2 1 8 2
X 3 2 < - Co n s u m e r - Br a n d Ch a r a ct e r ( X3 ) 0 .9 1 4 2 3 3 0.901185 0.13250 1 0.13250 1 6 .8 9 9 8 4 2
Y1 < - BRA N D L OYA LTY ( Y) 0 .8 1 6 7 0 3 0.799328 0.13472 4 0.13472 4 6 .0 6 2 0 4 9
Y2 < - BRA N D L OYA LTY ( Y) 0 .8 4 4 1 4 4 0.832183 0.14016 4 0.14016 4 6 .0 2 2 5 4 8
Y3 < - BRA N D L OYA LTY ( Y) 0 .8 2 3 6 3 3 0.811097 0.13893 2 0.13893 2 5 .9 2 8 3 0 5
Y4 < - BRA N D L OYA LTY ( Y) 0 .7 2 2 6 9 6 0.704882 0.11501 1 0.11501 1 6 .2 8 3 7 1 2
Validitas Indikator : Nilai Factor Loading lebih besar dari 0,5 dan
atau nilai T-Statistic lebih besar dari 1,645 (nilai Z pada α = 0,10). Factor
Loading merupakan korelasi antara indikator dengan variabel, jika lebih
besar dari 0,5 maka korelasi disebut valid dan jika nilai T-Statistic lebih
besar dari 1,645 maka korelasinya disebut signifikan.
Berdasarkan pada tabel outer loading di atas, pada dimensi Brand
Characteristik menunjukkan bahwa semua indikatornya adalah memiliki
factor loading (original sample estimate) lebih besar dari 0,50 dan atau
signifikan (Nilai T-Statistic lebih besar dari nilai Z α = 0,10 (10%) maka
ketiga indikator tersebut adalah menjadi pengukur/indikator Brand
Characteristik
Berdasarkan pada tabel outer loading di atas, pada dimensi
47
memiliki factor loading (original sample estimate) lebih kecil dari 0,50 dan
atau signifikan (Nilai T-Statistic lebih kecil dari nilai Z α = 0,10 (10%) maka
ketiga indikator tersebut adalah bukan menjadi pengukur/indikator
Company Characteristic
Berdasarkan pada tabel outer loading di atas, pada dimensi
Consumer-Brand Character menunjukkan bahwa semua indikatornya adalah
memiliki factor loading (original sample estimate) lebih besar dari 0,50
dan atau signifikan (Nilai T-Statistic lebih besar dari nilai Z α = 0,10 (10%)
maka kedua indikator tersebut adalah menjadi pengukur/indikator
Consumer-Brand Character
Pada variabel Brand Loyalty , menunjukkan semua indikator
memiliki factor loading (original sample estimate) lebih besar dari 0,50
dan atau signifikan (Nilai T-Statistic lebih besar dari nilai Z α = 0,10 (10%)
= 1,645 ), sehingga keempat indikator tersebut adalah menjadi
pengukur/indikator variabel Brand Loyalty . Secara keseluruahn hasil
estimasi telah memenuhi Convergen vailidity dan validitas baik.
Tabel 4.9. Aver age var iance extr acted (AVE)
AVE
BRAND LOYALTY (Y) 0.645061 TRUST IN BRAND (X)
Model Pengukuran berikutnya adalah nilai Avarage Variance
48
variabel indikator reflektif dapat dilihat dari nilain Avarage variance
extracted (AVE) untuk setiap konstruk(variabel). Dipersyaratkan model
yang baik apabila nilai AVE masing-masing konstruk lebih besar dari 0,5.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai AVE untuk konstruk (variabel)
Brand Loyalty memiliki nilai lebih besar dari 0,5, sehingga valid. Untuk
variabel dengan indikator Formatif yaitu Trust In Brand tidak memerlukan
ukuran validitas (maka tidak terdapat nilai AVE).
4.2.3. Uji Reliabilitas
Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Cronbach’s
Alpha ini digunakan untuk mengestimasi reliabiltas setiap skala (variabel
atau observasi indikator). Sementara itu item to total correlation digunakan
untuk memperbaiki ukuran – ukuran dan mengeliminasi butir – butir yang
kehadirannya akan memperkecil koefisien Cronbach’s Alpha yang
dihasilkan (Purwanto, 2002). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 4.10. Pengujian Reliability Consistency Internal
Composite
Reliability
BRAND LOYALTY (Y) 0.878713
TRUST IN BRAND (X)
49
Reliabilitas konstruk yang diukur dengan nilai composite
reliability, konstruk reliabel jika nilai composite reliability di atas 0,70 maka
indikator disebut konsisten dalam mengukur variabel latennya. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa konstruk (variabel) Brand Loyalty memiliki
nilai composite reliability lebih besar dari 0,7. Sehingga reliabel. Untuk
variabel dengan indikator Formatif yaitu Trust In Brand tidak memerlukan
ukuran reliabilitas (maka ti