BAB II
PEMBAHASAN
PROSES KELUARNYA INGGRIS DARI UNI EROPA
2.1 Hubungan Inggris dengan Uni Eropa
Inggris pada tahun 1961, ketika sedang berada dibawah kepemimpinan Perdana Menteri dari Partai Konservatif, Harold Macmillan mengusulkan proposal pertama guna bergabung dalam European Economi Community (EEC), tetapi proposal itu ditolak oleh Perancis. Hal tersebut dikarenakan presiden Perancis saat itu, Charles De Gaulle, memiliki kekhawatiran terkiat Inggris yang akan memberikan pengaruh kepada negara-negara lain serta ketakutan akan diubahnya konsensus yang sudah disepakati anggota EEC. Hal ini disebabkan Inggris mengimpor untuk sektor pertanian, sedangkan EEC sendiri menganut prinsip proteksi hasil pertanian. Perlakuan yang istimewa diperoleh oleh petani di Eropa dari pemerintah negaranya serta adanya penerapan proteksi hasil tani mereka yang disebabkan ongkros produksi yang tinggi tetapi penghasilannya relatif rendah1.
Inggris kembali mengupayakan untuk bergabung ketika EEC berubah nama menjadi European Community (EC) di tahun 1995 ketika
1 Edison, Muklis. Integrasi Menuju Eropa. CSIS Jakarta. Hal 551.
Inggris dibawah kepemimpnan Perdana Menteri Harold Wilson2. Dalam proposal keduanya ini, tertulis bahwa Inggris akan menyesuaikan aturan terkait pertanian serta tidak akan merombak aturan-aturan yang telah disepakati oleh keanggotaan EC. Selain itu, Inggris juga menyatakan komitmennya untuk menerima tujuan serta mengikuti kewajiban dari EC.
Tetapi, proposal Inggris untuk bergabung menjadi anggota masih ditolak Charles De Gaulle sebab Inggris memiliki kesepakatan pertahanan dengan Amerika Serikat terkait penyerahan hak pertahanan Inggris kepada Amerika Serikat. Keterlibatan Inggris dalam kesepakatan tersebut bisa saja memberikan kesempatan bagi Amerika Serikat yang nantinya bisa memberikan pengaruh ke Eropa apabila EC menerima proposal keanggotaan Inggris3.
Kesempatan Inggris supaya bisa bergabung dalam keanggotaan EC muncul ketika Charles De Gaulle usai menjalani perannya sebagai presiden Perancis di tahun 1973 yang setelahnya dilanjutkan oleh George Popimdou. Perundingan kemudian diadakan EC bersama enam anggotanya guna mendiskusikan penerimaan Inggris menjadi anggota.
Setelah itu, proposal keanggotaan diajukan oleh Inggris untuk ketiga kalinya. Di tahun yang sama, 1973, Inggris secara resmi diterima keanggotaannya berbarengan dengan Norwegia, Irlandia, dan Denmark4. Namun, keanggotaan Inggris di dalam EC menimbulkan perpecahan
2 Ibid.
3 Ibid.
4 King, Anthony. Britain Say Yes: The 1975 Referendum on The Common Market. Washington D.C: American Enterprise Institute for Public Policy Research, 1977. Hal 75-76.
karena muncul penolakan dari parlemen sayap kanan yang berujung dengan pengunduran dir kedua anggota cabinet Partai Konservatif, yaitu Jasper Moore dan Teddy Taylor.
Perpecahan yang terjadi di parlemen Inggris akibat keikusertaan Inggris dalam EC kemudian ditangani oleh Harold Wilson, setelah menggantikan Edward Health di tahun 1974, yang kembali menjabat sebagai perdana menteri5. Perdana Menteri Harold Wilson langsung menginisiasi pertemua bersama EC guna memberikan syarat tambahan keanggotannya. Syarat keanggotaan tersebut mencoba untuk mengatur kembali kebijakan pertanian milik EC supaya bisa melakukan ekspor bagi negara anggota serta membikin peraturan adanya pemotongan harga produk agrikultur guna mendapatkan harga yang lebih murah untuk masyarakat Inggris, hak guna menetapkan kebijakan industri secara independent, dan mengubah kesepakatan terkait ketentuan finansial dalam perundingan keanggotaan sebelumnya, terutama terkait masalah anggaran6.
Setelah EC menyetujui proses perundingan syarat keanggotaan, Wilson setelahnya mengadakan referendum guna memutuskan keberlangsungan Inggris dengan EC serta penentuan apakah pembaharuan dari syarat keanggotaan yang telah disepakati oleh anggota EC akan lolos.
Hal tersebut menjadikan referendum ini sebagai kali pertama dalam Inggirs dengan pencapaian hasil 67,2% mengharapkan Inggris untuk tetap
5 Ibid.
6 Ibid.
menjadi anggota dari EC. Referendum ini nantinya dikenal sebagai Referendum Act 19757.
Pemerintahan masa Harold Wilson selanjutnya digantikan oleh James Callaghan. James Callaghan merupakan satu-satunya perdana menteri pada aba ke-20 yang pernah menduduki empat posisi besar dalam pemerintahan Inggris yaitu menteri dalam negeri, menteri keuangan, menteri luar negeri, serta perdana menteri. James Callaghan menjadi contoh anggota aktif yang turut memberi dukungan kepada Inggris guna mengkampanyekan remain di setiap referendum yang diagendakan oleh Harold Wilson. Contoh kebijakan yang ditetapkan oleh Callaghan dan dianggap cukup kontroversial merupakan keputusan untuk berhutang kepada IMF di tahun 19778. Hal tersebut terjadi karena sejak awal tahun 1976, Inggris mengalami inflasi sampai dengan 17% dan di masa perekonomian yang sulit itu, sekitar 1,5 juta warganya kehilangan pekerjaan akibat dampak yang muncul. Setelah melewati masa yang suram pasca peminjaman IMF, pada tahun 1978 hingga 1979, Callaghan mengupakan untuk terus mengurangi inflasi melalui kebijakan wage restriction yang malah menciptakan gelombang demonstrasi yang nantinya dikenal dengan sebutan Winter of Discontitent serta menimbulkan adanya mosi ketidakpercayaan yang menghasilkan 310 suara menolak dan 311 mendukung.
7 Ibid.
8 Ibid.
Setelah Callaghan dilengserkan dari jabatannya melalui mosi tidak percaya dari parlemen di tahun 1979, kuris kosong perdana menteri lalu dilanjutkan oleh Margaret Thatcher dari tahun 1979 sampai 1990.
Thatcher sangat terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang sangat tegas terhadap kebijakan-kebijakan yang ada di Uni Eropa. Hal tersebut dibuktikan salah satunya dengan keberhasilannya dalam perundingan United Kingdom Rebate yang bertujuan untuk mengurangi biaya yang harus dikeluarkan Inggris untuk Uni Eropa. Proses United Kingdom Rebate melalui proses negosiasi yang Panjang dari tahun 1979 hingga 1984 yang akhirnya disetujui dalam Fontainebleau Summit antara Helmut Kohn, Francois Mitterland, serta Margaret Thatcher9. Tatcher memiliki anggapan bahwa ongkos yang dibayarkan terlewat tinggi yang dapat memberikan kerugian untuk Inggris serta anggaran itu ia anggap seharusnya merupakan uang hak sepenuhnya Inggris.
Pada era kepemimpinan Perdana Menteri Margaret Thatcher juga telah berhasil dilakukan penandatanganan The Single European Act di tahun 1986. Thatcher terkenal terkait pandangan skeptisnya pada Uni Eropa yang bisa diindikasikan melalui proses bergabungnya Inggris yang memperlukan waktu yang lebih banyak dalam European Exchange Rate Mechanism (ERM)10. Tatcher beranggapan bahwasannya bergabungnya Inggris dalam ERM mengindikasikan berkurangnya kebebasan yang dimiliki Inggris dalam pengendalian kondisi moneter di Inggris. Akibat
9 Clarke , D.H, dkk. Why Britain Voted for Brexit: an Individual Level Analysis of The Referendum. Diakses melalui http://kent.ac.uk/files, diakses pada 13 Februari 2021.
10 Ibid.
statemen itulah, dua staff mengundurkan diri. Lama setelah itu, kekerasan sikap Tatcher untuk ERM bisa berakhir di tahun 1990 ketika John Mayer berhasil merayu Tatcher guna menyepakati keikutsertaan Inggris dalam ERM juga hal tersebut menjadi kebijakan terakhir yang ia tetapkan sebagai perdana menteri karena setelah itu Tacher turun dari jabatannya itu.
Jabatannya kemudian digantikan oleh John Mayor. Masa kepemimpinan John Mayor yang berasal dari Partai Konservatif ditandai dengan usainya Perang Dingin. Jerman dan Peranci mulai lepas dari bayang-bayang Amerika Serikat dan mulai menunjukan identitasnya masing-masing. Dalam masa pemerintahannya, John Mayor mengatakan bahwasannya Ia tidak akan meneruskan apa yang diperjuangkan oleh Tatcher terkait kebijakannya dengan Uni Eropa. Tetapi, setelahnya John Mayor harus menghadapi Inggris dalam masa ekonomi yang sulit kembali.
Penentapan oleh Jerman terkait tingkat suku bunga yang tinggi mengakibatkan Inggris terjebak pada resesi karena Inggris tidak bisa menurunkan suku bunganya. John Mayor memberikan dukungan kepada Economic Monetary Union (EMU) jika Uni Eropa memberlakukan amandemen terhadap Maastricht Treaty yang bisa saja menyebabkan Inggris opt-out pada EMU sesuai dengan kehendaknya.
Setelah John Mayor, Tony Blair melanjutkan tugasnya dari tahun 1997 sampai 2007. Pada sektor luar negeri, Blair dikenal terkait keloyalan yang dia miliki untuk Amerika Serika yang bisa dilihat pada keikutsertaa Inggris pada pengeboman yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Iraq
pada tahun 1998. Pada masa jabatannya, Blair mengajukan supaya Uni Eropa melakukan ekspansi besar-besaran. Berkaitan dengan hal tersebut, Blair menyatakan komitmennya dalam hubungan yang lebih erat lagi dengan Uni Eropa dalam penguatan kekuatan di Brussels. Menurut Tony Blair, ekspansi tersebut perlu untuk dilakukan supaya negara di Eropa Barat tidak selalu berkecamuk dengan instabilitas, isu imigran, serta konflik.
Jabatan perdana menteri Inggris kemudian dipegang oleh Gordon Brown pada periode 2007 hingga 2010. Perjanjian Lisbon ditandatangani oleh Inggris pada masa kepemimpinan Gordon Brown. Perjanjian Lisbon disepakati guna memberikan perubahan pada konstitusi Uni Eropa supaya sepakat terkait penguasaan Uni Eropa pada masa yang akan datang. Hal tersebut menjadi perhatian ketika Gordon Brown memberikan janji guna segera menyelenggarakan referendum yang akan membahas kesepakatan itu setelah kesepakatannya dibuat. Tetapi, Perlemen malah beranggapan sebaliknya dengan hasil 311 setuju bahwa Inggris memang perlu menandatangani hal itu tanpa adanya referendum yang akan merubah isi kesepakatannya. Sebab dari itu, merskipun masyarakat Inggris mengingikan bahwa referendumnya perlu dilakukan, hal tersebut tidak terjadi akibat Gordon Brown memutuskan untuk tidak diperlukannya referendum sampai masa jabatannya berakhir.
2.2 Proses Pengadaan Referendum Brexit
Setelahnya, pada tahun 2010 hingga 2016, peran perdana menteri dijalankan oleh David Cameron yang berasal dari Partai Konservatif.
David Cameron telah menjanjikan adanya referendum jika Ia berhasil terpilih menjadi perdana menteri Inggris, dan akan segera dilakukan upaya untuk membawa Inggris keluar dari keanggotaan di Uni Eropa. Tetapi, David Cameron memberikan beberapa syarat reformasi untuk Unir Eropa, syarat tersebut antara lain: 1.) memaksa Brussels untuk mengizinkan Inggris bebas dari prinsip Uni Eropa tentang “ever closer union”, 2.) bahwa Euro bukan mata uang resmi di Eropa11. Hal tersebut dilakukan untuk melindungi mata uang Poundsterling sebagai mata uang Inggris yang sah. Syarat-syarat tersebut diberikan guna mendapatkan kekuatan melalui parlemen nasional Inggris yang nantinya bisa memberhentikan arahan dari Uni Eropa yang dianggap tidak sesuai serta parlemen nantinya bisa membatalkan aturan Uni Eropa yang sudah ada. Aturan hukum tersebut diantaranya berhubungan dengan hukum imigrasi yang diterapkan oleh Uni Eropa yang Inggris anggap sebagai kerugiannya12.
Permintaan reformasi yang diajukan oleh David Cameron itu akhirnya direspon oleh Uni Eropa dengan memberikan status special untuk Inggris di KTT Uni Eropa di Brussels. Status special tersebut mencakup13 :
11 European Council (Art 50). Guidelines for Brexit Negotiations. Council of The European Union 29 April 2017. Diakses pada 13 Februari 2021.
12 Ibid.
13 Mashita Dewi Tidore, 2017, Dinamika Referendum Inggris Di Uni Eropa Studi Kasus:
Referendum Brexit, Skripsi, Makassar, Universitas Hassanudin, Hal. 9-12.
1.) Uni Eropa menyerahkan emergency brake yang artinya akan berlaku pembatasan baru yang ketat terkait system kesejahteraan negara-negara anggota Uni Eropa untuk para imigran, 2.) memberikan perlindungan untuk Inggris pada sektor ekonomi supaya bisa mendapatkan akses penuh untuk pasar tunggal bebas yang terletak di luar zona Eropa, 3.) pembayaran para imigras Uni Eropa yang disesuaikan dengan tarif hidup yang diperlukan di negara asalnya, 4.) Inggris diberkan kebebasan integrasi politik lebih lanjut terkait prinsip “ever closer union”.
Namun, menjelang referendum dilakukan, muncul perpecahan dua kubu dalam masyarakat Inggris yaitu kubu Leave dan Remain. Kubu Leave mengingikan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa sedangkan Remain berharap supaya Inggris tetap meneruskan keanggotaannya di Uni Eropa14. Menurut kubu leave, keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak sama denga napa yang diartikan sebagai keluarnya Inggris dari Eropa lalu berdiri sendiri. Keluarnya dari Uni Eropa memiliki arti memilih keluar dari organisasi yang mereka anggap tidak demokratis serta merebut kembali kedaulatan nasional yang selama ini terus dicampurtangani oleh Uni Eropa. Melalui peninggalan status keanggotaan dari Uni Eropa mengindikasikan bahwasannya Inggris bisa mengatur sendiri urusan nasionalnya mengenai imigrasi, ekonomi, politik, dan industri mereka sendiri. Inggris juga dapat menyimpan anggaran nasionalnya sebesar £350
14 Mashita Dewi Tidore, 2017, Dinamika Referendum Inggris Di Uni Eropa Studi Kasus:
Referendum Brexit, Skripsi, Makassar, Universitas Hassanudin, Hal. 9-12.
yang seharusnya dibayarkan kepada Uni Eropa dalam setiap minggunya15. Berdasarkan dari keinginan kubu leave, dana tersebut baiknya dipergunakan sebagai dana pelayanan public serta sebagai dana untuk membangun rumah serta sekolah. Kubu tersebut juga menyatakan bahwasannya selama ini muncul ketidaksetujuan dengan aturan terkait perbatasan yang selama ini dijalankan oleh Inggris. Ditambah, mereka berharap Inggris bisa mengolah sistem perbatasanya yang contohnya terkait keluar-masuknya orang di Inggris. Mereka, menurut kubu Leave pada konteks pekerjaan, harus dibedakan dari kemampuan yang mereka miliki ketimbang dokumen atau paspor yang mereka miliki.
Menurut kubu remain, justru kesepakatan dengan Uni Eropa akan membuka tiga juta peluang kerja16. Artinya, ketika Inggris meneruskan keanggotaannya dalam keanggotaan Uni Eropa peluang kerja yang disediakan oleh Uni Eropa akan semakin lebar. Selain itu, jika Inggris mempertahankan keanggotaannya di Uni Eropa dapat juga berpengaruh pada biaya murah yang diperlukan bagi masyarakat Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Referendum tersebut dilaksanakan tahun 2016, dengan hasil sebesar 52% masyarakat Inggris memilih untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa sementara sebesar 48% memilih untuk tetap mempertahankan agar supaya Inggris tetap bergabung dalam keanggotaannya di Uni
15 Ibid.
16 Ibid.
Eropa17. Namun, langkah yang diambil David tersebut dilatar belakangi oleh keadaan yang sudah lama terjadi yaitu sejak tahun 1973. Inggris sudah lama ingin melepaskan diri dari keanggotaan dengan Uni Eropa pada tahun 1973 yang ditandatangani tepat pada tanggal 22 Januari 1972 dalam “Accession of Britain in The European Community”18.
Hubungan antara Inggris dengan Uni Eropa yang sudah berjalan selama empat puluh tiga tahun sejak resmi menjadi anggota Uni Eropa tahun 1973 menacapai titik puncak pada tahun 201619. Hal tersebut terjadi setelah dinamika hubungan yang terjadi diantara keduanya. Ketika tanggal 23 Juni Tahun 2016, masyarakat Inggris mengambil keputusan besar mengenai status keanggotaannya dengan Uni Eropa, yaitu pengadaan referendum Brexit, yang hasilnya sebesar 52% masyarakat Inggris memilih untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa dan sisanya sebesar 48% memilih untuk tetap tinggal20. Proses keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa akan menjadi proses yang cukup panjang, yaitu sekitar dua tahun. Setelah hasil dari referendum tersebut ada, tetapi justru Perdana Menteri David Cameron memilih untuk mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan perdana Menteri.
Sesudah referendum berhasil diusulkan, David Cameron mundur dari jabatannya pada Juni 2016. Penerusnya, Theresa May, berhasil
17 Ibid.
18 Laurence Whitehead. The Hard Truths of Brexit. Journal of Democracy Vol.31, Issue 2, 81-95, April 2020.
19 Ibid.
20 Laurence Whitehead. The Hard Truths of Brexit. Journal of Democracy Vol.31, Issue 2, 81-95, April 2020.
menduduki jabatan itu setelah melakukan pengumuman dirinya sebagai calon ketua Parta Konservatif yang lalu memposisikan dirinya pada posisi pertama. Pemilihan putaran pertama pada tanggal 5 Juli ia menangi yang mana pemilihan tersebut melibatkan anggota parlemen. Theresa May kemudian juga memenangkan pemilihan pada putaran kedua melalui 199 suara21. Pada pemilihan tersebut, Andrea Leadson menjadi pesaingnya dan setelah menang, pengangkatannya sebagai perdana menteri terjadi dua hari setelahnya. Theresa May merupakan perempuan kedua yang menduduki jabatan perdana menteri Inggris sesudah Margaret Thatcher.
Kiprah Theresa May di dalam parlemen Inggris ataupun dalam pengambilan kebijakan pemerintahaanya memperlihatkan kecenderungan politik yang memiliki arah liberalisme. Theresa May sempat memberikan dukungan pernikahan sesama jenis yang sudah diresmikan sebelumnya oleh David Cameron. Theresa May juga memperlihatkan sikap kontroversial ketika memberikan dukungan hukum Syariah supaya berlaku di Inggris. Walaupun terlihat sebagai orang konsertaif liberal, Theresa May juga tak lepas dari perbuatan yang mempertanyakan sikap politiknya itu. Hal tersebut terlihat dari kebijakannya yang terlalu menutup jalur masuknya imigras ke Inggris, contohnya merupakan penetapan bahwa Imigran diharuskan memiliki pendapatan sebesar £18.600 untuk bisa menetap di Inggris bersama pasangan atau anaknya. Angka tersebut
21 Ibid.
dianggap terlampau tinggi untuk Imigran yang sehari-harinya bekerja di sektor informal22.
May juga tercatat sebagai pendukung snooper’s charter, kebijakan yang mengizinkan pemerintah untuk melakukan pengawasan kegiatan komunikasi warganya melalui pencatatan panggilan, pesan, email, serta history browser yang dimiliki oleh warganya dengan alasan untuk memberikan keamanan pada negara dari serangan terorisme23. May juga memiliki anggapan bahwa seharusnya Inggris tidak lagi ikut dalam European Convention on Human Rights (EHCR). EHCR, menurut May, memiliki potensi untuk menjadi pembatas ruang pergerakan parlemen, tidak memiliki kontribusi apapun untuk kesejahteraan masyarakat Inggris, memperlemah keamanan negara yang disebabkan adanya penghalangan deportasi warga negara asing yang berbahaya, dan tidak memiliki pengaruh bagi perilaku negara. Selain itu, May juga memberikan kebijakan Go Home Vans yaitu kebijakan terkait penyediaan mobil van guna memberikan kendaraan bagi imigran yang berkeinginan untuk kembali ke negaranya24.
May terkenal sebagai politisi perempuan dengan ciri-ciri loyalitas tinggi, prinsip tegu, serta pekerja keras. Lingkungan, pendidikan, serta lingkungannya dalam dunia politik dianggap sudah cukup lama guna menjadikannya sebagai sosok perempuan yang kritis serta skeptis pada
22 Mashita Dewi Tidore, 2017, Dinamika Referendum Inggris Di Uni Eropa Studi Kasus:
Referendum Brexit, Skripsi, Makassar, Universitas Hassanudin, Hal. 9-12.
23 Ibid.
24 Mashita Dewi Tidore, 2017, Dinamika Referendum Inggris Di Uni Eropa Studi Kasus:
Referendum Brexit, Skripsi, Makassar, Universitas Hassanudin, Hal. 9-12.
setiap pengambilan keputusan. Tetapi, sisi buruk lainnya dari Theresa May merupakan kurang responsifnya pada keadaan ketika situasi krisis serta selalu bermain untuk lebih pragmatic. Hal tersebut mengindikasikan bahwasannya Theresa May selalu mencoba menghindari dari konsekuensi terburuk yang bisa saja terjadi dari keputusan yang ia ambil. Ditambah, ia dianggap tidak cukup lapang dada sebagai perdana menteri dalam menghadapi situasi permasalahan dalam negeri.
Pada mulanya, May memberikan dukungan untuk Inggris terus melanjutkan keanggotannya di Uni eropa dalam referendum tahun 2016.
Namun, ia tidak muncul dalam kampanye itu serta sempat memberikan kritikan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan Uni Eropa. Selain itu, Theresa May bukan salah satu tokoh yang banyak bersuara ketika dalam perdebatan referendum Brexit25. Menurut beberapa wartawan, Theresa May melakukan tersebut supaya memperkuat kesempatannya untuk menjabat sebagai ketua Partai Konservatif yang potensial. Theresa May bersikap keras bahwasannya Brexit means Brexit dan sudah mengkonfirmasi bahwasannya tidak perlu adanya upaya untuk tetap menjadi anggota Uni Eropa atau melakukan percobaan guna bergabung kembali.
Setelah Theresa May menduduki jabatan perdana menteri Inggris, tantangan yang langung ia hadapi tidak saja bersifat internal tetapi lebih dari itu termasuk masalah mengenai perbatasan serta kesepakatan yang
25 Ibid.
sebelumnya sudah ada sebelum referendum. Ditambah lagi, beberapa sektor penting Uni Eropa berlokasi di Inggris. Jika Theresa May tidak cukup kuat menghadapinya dan tidak menyelesaikan dengan segera berbagai permasalahan tersebut maka Inggris akan terancam menjadi anggota yang memiliki status menggantung karena harus menunda status keluarnya. Theresa May juga telah menghadapi berbagai permasalahan internal lainnya seperti26 :
a. Keinginan lepasnya Skotlandia dari Inggris
Hubungan Inggris dengan Skotlandia sudah berjalan cukup lama karena Skotlandia merupakan negara yang menjadi bagian dari kedaulatan Britania Raya atau Britania Raya yang ditandai dengan Act of Union. Negara yang bersatu pada tahun 1707 ini berbeda dengan negara-negara lain yang tergabung dengan Inggris Raya. Hal tersebut dikarenakan pemerintah Skotlandia menerapkan sistem hukum sendiri untuk mengatur urusan pemerintahan dalam negerinya. Selain itu Skotlandia menjadi berbeda Ketika bergabung dengan Inggris dikarenakan istilah Britania Raya pertama kali dikeluarkan ketika Skotlandia bergabung dengan Inggris. Istilah Britania Raya merujuk pada Pulau Britania yang menjadi wilayah dua negara, yaitu Inggris dibagian selatan dan Skotlandia dibagian utara sehingga istilah Britania Raya merupakan arti dari Pulau Britania yang menjadi satu dalam satu kedaulatan.
26 Ibid.
Pada tahun 1997, pemerintah Skotlandia berhasil memenangkan referendum untuk memiliki parlemen sendiri. Setelah parlemen Skotlandia dibentuk pada tahun 1999, mulai sejak saat itu segala urusan dalam negeri bukan lagi menjadi wewenang pemerintahan Inggris Raya. Referendum yang diadakan oleh pemerintah Skotlandia tersebut menjadi pintu awal dari keinginan pemerintah Skotlandia untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Hal tersebut selaras dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Skotlandia sebelum referendum dilakukan yang mana menteri Skotlandia memberikan pengumuman bahwasannya pemerintah merencanakan untuk mengadakan referendum kemerdekaan berdasarkan hasil pemungutan suara sebelumnya yang menyatakan bahwa Skotlandia akan tetap tergabung dalam Uni Eropa, sedangkan Inggris dan Wales memilih untuk keluar. Pada Bulan Maret tahun 2017, Partai Nasional Skotlandia (SNP) beserta Menteri Pertama, Nicola Sturgeon meminta referendum kemerdekaan Skotlandia kedua pada tahun 2018 atau 2019 sebelum Britania Raya secara formal meninggalkan Uni Eropa. Perdana Menteri Inggris dengan segera menolak permintaan waktu referendum tersebut.
b. Perbatasan Irlandia
Sejak tahun 1807, Irlandia Utara serta Republik Irlandia merupakan satu wilayah yang sama serta berada dalam wilayaj Inggris Raya. Hal tersebut berjalan sampai tahun 1920-an ketika muncul
konflik internal di Irlandia Utara yang mana mereka mengiginkan kewenangan penuh guna mengatur Irlandia yang selama ratusan telah diatur oleh Inggris. Setelah ratusan tahun diatur oleh Inggris, Irlandia Selatan atau sekarang dikenal sebagai Republik Irlandia memilih untuk lepas dari pemerintahan Inggris. Setelah muncul konflik Irlandia tersebut, kesepakatan dengan nama Good Friday Peace Agreement ditandatangin pada tanggal 10 April 1998. Kesepatakan tersebut berhasil menyelesaikan konflik yang terjadi di perbatasan Irlandia Utara dan Republik Irlandia yang juga dikenal sebagai The Troubles.
Konflik The Troubles berangkat dari kesulitan yang dialami oleh kelompok loyalis untuk mendapatkan pekerjaan dan rumah yang menyebabkan protes kelompok loyalis serta republican yang dilakukan oleh British Army serta Irish Republivan Army (IRA). Pembagian kekuatan muncul akibat Good Friday Peace Agreement untuk kelompok loyalis dan republican dalam menjalankan pemerintahan yang kemudian perjanjian tersebut disebarkan kepada masyarakat Republik Irlandia dan Irlandia Utara guna diadakan referendum.
Dengan adanya keputusan masyarakat Republik Irlandia dan Republik Irlandia dalam melaksanakan referendum, mengakibatkan muncul konflik perbatasan antara wilayah Irlandia Utara dengan Republik Irlandia. Batas wilayah diantara kedua negara tersebut menjadi 310 mil yang mengakibatkan adanya pembatas (hard border) hingga dibangun infrastruktur yang berguna sebagai pembatas
perbatasan antara wilayah Inggris Raya dengan Uni Eropa. Adanya konflik perbatasan tersebut menyebabkan Uni Eropa dengan Inggris membuat backstop, yaitu jaring pengaman guna mempermudah arus perdangan antara Inggris dengan Uni Eropa. Inggris dan Republik Irlandia merupakan anggota dari European Union Single Market and Custom Union, yang mana hal tersebut mengindikasikan bahwasannya tidak ada pemberlakuan bea cukai untuk barang yang masuk maupun keluar dari wilayah tersebut. Tetapi, ketika Brexit terjadi, Republik Irlandai dan Irlandia Utara memiliki perbedaan regulasi terkait bea dan cukai yang menyebabkan adanya pengecekan barang di perbatasan.
Maksud dari adanya backstop yaitu guna menjaga kerja sama antara Irlandia Utara dan Republik Irlandia, saling mendukung perekonomian kedua negara, serta menjaga perjanjian Good Friday Peace Agreement.
Persoalan mengenai perbatasan dengan Republik Irlandia dan Irlandia Utara memang masih belum menemukan ketidakjelasan.
Begitupun dampak yang dirasakan oleh Irlandia dan Irlandia Utara semenjak terjadinya Brexit ini. Pada Oktober 2016, Pemerintah Britania Raya mengusulkan rencana untuk menerapkan kontrol imigrasi Britania Raya di Pelabuhan dan bandara Republik Irlandia, hal tersebut dimaksudkan untuk mengontrol warga Uni Eropa yang bepergian kesana, dan juga agar memudahkan mereka karena tidak akan lagi diperlukan adanya cek paspor di perbatasan Republik Irlandia dan Irlandia Utara. Namun, rencana tersebut ditolak oleh
pihak Republik Irlandia pada 23 Maret 2017. Menyusul hasil dari referendum Brexit, terdapat usulan untuk menyatukan kembali Republik Irlandia dan Irlandia Utara melalui referendum. Usulan tersebut datang dari pimpinan Partai Sinn Fein, Martin Mcguinness pada April 2017. Dewan Eropa setuju apabila reunifikasi ini berhasil, Irlandia Utara akan bergabung kembali dengan Uni Eropa.
c. Perbatasan Perancis
Pimpinan dewan daerah, Hauts De France, Xavier Bertrand menyatakan kepada Pemerintah Inggris, jika Britania Raya keluar dari Uni Eropa, aka nada perpindahan perbatasan dari Calais ke Dover.
Perancis juga tidak akan menjaga perbatasan lagi jika Britania Raya keluar dari Uni Eropa. Hal tersebut dilakukan atas sumebr kesepakatan Le Touquet di tahun 2003 yang mengatur juxtaposed control di anatara perbatasan kedua negara tersebut. Aturan itu membikin pengecekan imigran hanya dilakukan di negara asal, bukan di negara tujuan.
Fenomena mengenai kasus perbatasan antara Inggris dan Perancis ini berangkat dari maraknya migrasi yang berdatangan ke Inggris sehingga dinamakan dengan fenomena “Calais Jungle”. Fenomena tersebut merupakan krisis imigran yang terjadi di Kota Calais, Perancis. Mayoritas imigran yang berada di Calais berkeinginan untuk menuju Inggris karena mereka menganggap bahwa Inggris merupakan negara yang peduli dengan para imigran dan mereka berpikir bahwa di Inggris akan lebih mudah untuk mengajukan suaka. Fenomena
mengenai Calais Jungle ini bermula dari ditutupnya Kamp Sangatte yang dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Perancis, Nicholas Sarkozy pada tahun 2002. Penutupan pada kamp tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyelesaian isu imigran antara Inggris dengan Perancis. Namun, dengan adanya upaya penyelesaian mengenai isu imigran tersebut tidak membuat persoalan mengenai imigran ini selesai, setelah adanya penutupan kamp tersebut, para imigran justru berdatangan ke Kota Calais dan mendirikan tenda-tenda darurat di hutan sekitar pelabuhan yang menghubungkan Calais di Perancis dengan wilayah Dover di Inggris.
Inggris dan Perancis akhirnya membuat sebuah perjanjian kerja sama untuk menanggulangi maraknya para imigran yang terus berdatangan, perjanjian tersebut dinamakan dengan perjanjian kerja sama Le Touquet 2003. Penandatanganan perjanjian kerja sama ini bermakna pemeriksaan imigrasi masuk dan keluar diantara kedua negara tersebut dilakukan sebelum keberangkatan. Tidak hanya itu, sepanjang tahun 2002 hingga 2016, Inggris dan Perancis telah memperketat perbatasan melalui pembangunan infrastruktur demi keamanan nasional. Perjanjian tersebut dalam beberapa hal telah merugikan Perancis, karena Inggris lebih banyak memberikan kontribusi hanya dari segi peningkatan keamanan di Kawasan perbatasan. Selain itu, dengan adanya perjanjian tersebut, membuat
Inggris semakin leluasa untuk mengembalikan imigran yang terbukti illegal ke Perancis.
d. Nasib Gibraltar dan Spanyol
Berdasarkan letak geografinya, wilayah Gibraltar berada di pintu masuk Laut Mediterania. Gibraltar merupakan wilayah yang berisikan dari berbagai bangsa sebagai masyarakatnya. Mayoritas warga di negara Gibraltar yaitu warga Inggris. Hal tersebut menghasilkan pemilihannya sendiri untuk House of Assembly, tersebut menghasilkan pemilihannya sendiri untuk House of Assembly, yang mana raja Inggris akan memilih seseorang untuk menduduki jabatan Gubernur.
Meskipun berada di bawah British Overseas Territories, wilayah Gibraltar menjadi perebutan yang masih dilakukan oleh Spanyol dan Inggris.
Bagi Inggris, letak Gibraltar sangat strategis yang mana bagian maritmnya menjadi sangat penting. Gibraltar menjadi penghubung antara Samudera Atlantik dan Benua Eropa dengan Laut Mediterania serta Afrika. Gibraltar juga termasuk menjadi satu dari beberapa pangkalan penting militer Inggris. Gibraltar juga menjadi pemasok perlengkapan serta amunisi untuk kapal serta pesawat terbang yang akan menuju ke Timur Tengah ataupun Afrika. Berkat peran itulah, Gibraltar menjadi bagian yang penting bagi Inggris guna menjaga pintu masuk negara pada selat di Gribaltar.
Namun, Gibraltar menjadi wilayah yang diperebutkan semenjak tahun 1704, ketika pasukan gabungan koloni Inggris serta Belanda melakukan invasinya ke Gibraltar pada Perang Suksesi Spanyol. Kota Gibraltar, beserta dengan kastil, pelabuhan, dan pertahanannya diserahkan sepenuhnya untuk Inggris setelah Spanyol yang dipimpin oleh Traktat Utrecht kalah di tahun 1713. Di tahun 1954, saat Ratu Elizabeth II mengunjungi Gibraltar, Spanyol mulai melakukan Langkah yang cukup agresif karena kemunculan Ratu Elizabeth II mengindikasikan bahwasannya kedaulatan Inggris sudah mencakupi Gibraltar. Sebab hal itu, Spanyol melaporkan untuk pertama kalinya Inggris kepada PBB di Bulan Desember 1967. Spanyol dengan dasar integritas territorial serta fakta bahwasannya wilayah Gibraltar masih termasuk di daratan Spanyol.
Nasib Gibraltar sebagai wilayah Britania Raya yang berada di daratan Eropa dipertanyakan Ketika Britania Raya memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Penduduk Gibraltar sendiri dalam pemungutan suara menyatakan memilih untuk tetap menjadi bagian dari keanggotaan di Uni Eropa, tetapi mereka juga tidak berharap untuk keluar dari Britania Raya. Spanyol yang merupakan negara yang lebih dekat secara geografis dengan Gibraltar serta seringkali ingin mengambilalih Gibraltar sejak lama menuguslkan bahwa Gibraltar bisa menjadi wilayah yang diatur bersama dengan Britannia Raya dan
Spanyol, tetapi hal tersebut langsung mendapatkan penolakan dengan tegas dari Ketua Menteri Gibraltar.
e. Perjanjian Internasional
Adanya fenomena Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa akan menjadikan Inggris tidak lagi terlibat dalam 759 perjanjian internasional, yang mana perjanjian-perjanjian tersebut tersebar pada 168 negara diluar Uni Eropa, dan meliputi perjanjian-perjanjian dalam hal perdagangan nuklir, barang, transportasi, dan juga Kerjasama dalam bidang keuangan. Banyaknya perjanjian internasional yang akan datang yang dapat dilakukan oleh Inggris dengan negara-negara diluar Kawasan Eropa terjadi setelah Brexit. Kebebasan adanya perjanjian tersebut dapat dilakukan oleh Inggris karena Inggris sudah tidak lagi terhalang oleh kebijakan Uni Eropa.
2.3 Proses Negosiasi Brexit Masa Pemerintahan Theresa May
Pada Maret tahun 2017, Theresa May mengumumkan bahwa Britania Raya akan memberlakukan pasal 50 pada tanggal 29 Maret tahun 2017. Pemberlakuan tersebut dilakukan secara resmi dilaksanakan pada 29 Maret 2017 melalui penyerahan surat Perdana Menteri Theresa May oleh Sir Tim Barrow, perwakilan tetap Britania Raya untuk Uni Eropa, kepada Donald Tusk, Presiden Dewan Uni Eropa di Brussels27.
27 Congressional Research Service, The United Kingdom: Background, Brexit, and Relations with The United States, 3 April 2020.
Pasal 50 dari kesepakatan Uni Eropa menjadi salah satu butir peraturan Uni Eropa yang berisikan pra-syarat procedural vital bagi yang mengingikan pelepasan kenaggotannya. Dalam pasal terbut, empat Langkah proses yang ditetapkan untuk penarikan antara lain: keputusan untuk keluar, pemberitahuan terkait keputusan ke Unir Eropa, perundingan syarat penarikan, serta perjanjian atas persayaratan yang dinegosiasikan28. Berikut merupakan poin-poin yang terkadung dalam pasal 50 Traktat Lisbon konstitusi29 : a.) Setiap negara anggota bisa memutuskan untuk keluar dari organisasi sesuai dengan persyaratan konstitusinya sendiri. b.) Suatu negara anggota yang sudah memiliki keputusan untuk keluar diharuskan memberi tahu pihak Dewan Eropa terkait maksudnya.
Berdasarkan pedoman yang diterima oleh Uni Eropa dari Dewan Eropa, organisasi harus melakukan perundingan serta menyimpulkan kesepakatannya dengan negara terkait. Penetapan peraturan keluarnya dari kenaggotaan berdasarkan pertimabngan kerangan kerja yang berhubungan dengan masa depan dari serikat pekerja. Persetujuan harus dirundingkan sesuai dengan pasal 218 (3), yang berisikan fungsi-fungsi dari Uni Eropa.
Hal tersebut akan disahkan oleh Dewan Eropa yang akan bertindak dengan rujukan mayoritas yang berkualitas, sesudah mendapatkan persetujuan dari Parlemen Eropa. c.) Kesepakatan tersebut akan berhenti berlaku ketika negara yang berkaitan dari tanggal dimulainya kesepakatan penarikan diri atau, yang gagal, dua tahun sesudah adanya pemberitahuan seperti yang
28 Ibid.
29 Ibid.
dimaksud di ayat ke-2. Hal tersebut bisa saja tidak terjadi ketika Dewan Eropa, yang berisikan anggota yang berkaitan, memutuskan suara dengan bulat yang memberikan perpanjangan pada periode tersebut. d.) Untuk keperluan poin 2 dan 3, anggota Dewan Eropa atau Dewan yang menjadi representatif dari negara yang berkaitan dengan penarikan tidak bergabung dalam diskusi ataupun diskusi dari Dewan Eropa memiliki keputusan seperti itu. Mayoritas yang memenuhi syarat harus diatur sesuai dengan pasal 238 (3) (B) terkait fungsi dari Uni Eropa. e.) Jika suatu negara yang telah keluar dari Uni Eropa meminta untuk bergabung kembali, maka permintannya harus sesuai dengan prosedur yang dimaksudkan di pasal 49.
Selain itu, Pasal 50, berisikan satu aturan penting, yaitu kesepaktan akan diberhentikan ketika negara terkait sudah dimulai peraturan penarikan dirinya atau, yang gagal, dua tahun sesudah adany pemberitahuan seperti yang dimaksud pada ayat 2, kecuali Dewan Eropa, berdasarkan anggota yang menjari representatif negara tersebut, memiliki suara yang built guna memberikan perpanjangan periode. Hal ini mengindikasikan bahwa pembertiahuan (Langkah 2), dua tahun akan tersedia guna menjalankan langka 3 dan 430: perundingan dan perjanjian.
Jika perundingan tidak selesai serta semua dukungan yang dibutuhkan dalam dua tahun itu tidak ada, tetapi jika sebuah perjanjiannya dapat disetujui melalui suara yang bulat, negara yang ingin keluar dari Uni
30 Congressional Research Service, The United Kingdom: Background, Brexit, and Relations with The United States, 3 April 2020.
Eropa akan lepas secara otomatis. Serta bisa dipastikan bahwa akan muncul 5 kemungkinan dari hasil tersebut, antara lain yaitu31 :
1. Kesepakatan komperehensif, yang berisikan kedua syarat terkait Brexit serta rincian hubungan antara Inggris dan Uni Eropa di masa depan.
2. Kesepakatan terkait Brexit ditambah ketentuan terkait transisi guna mengatasi masalah sementara yang muncul sementara hubungan masa depan sedang ditentukan.
3. Kesepakatan Brexit, tanpa berisikan ketentuan transisi sementara terkait hubungan masa depan yang diesepakati.
4. Tidak ada kesempatan, dengan Brexit berlangsung setelah dua tahun melalui ketentuan otomatis Pasal 50,
5. Keputusan Inggris untuk tetap berada di dalam Uni Eropa setelah semua.
Pemerintah Inggris menginginkan pada pilihan yang pertama dalam kurun waktu 2 tahun. Sedangkan, Uni Eropa mengingikan pilihan kedua. Kedua belah pihak setuju bahwa pilihan ke-3 serta ke-4 tidak dibutuhkan. Dari hal itu, terlihat bahwa muncul kemungkinan bahwa pemerintahan Inggris tidak akan mendapatkan kesepakatan yang diinginkan dalam waktu 2 tahun. Kemungkinan besar waktu yang diperlukan untuk perundingan akan diperpanjang, atau Inggris akan masuk ke dalam kesepakatan transisi, sesuai pilihan kedua. akan memasuki pengaturan transisi, seperti pada opsi kedua.
31 Ibid.
Theresa May bersama dengan 27 pemimpin negara anggota Uni Eropa lainnya menyepakati Brexit di Brussels. Perjanjian yang berisikan 585 halaman tersebut telah ditandatangani di Brussels. Kedua belah pihak berharap bahwa perjanjiang tersebut sebuah Langkah yang tepat serta Uni Eropa akan menyetujui perjanjian tersebut. Langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh May yaitu mengadakan pemungutan suara pada 11 Desember guna memutuskan apakah Brexit ditolak atau diterima32.
Theresa May memberikan peringatan ke parlemen Inggris jika terjadi penolakan Brexit, maka hal tersebut akan mengarahkan Inggris ke ketidakpastian dalam proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Hal tersebut berhubungan dengan adanya kritik yang diberikan oleh parlemen Ingrris serta menyatakan keberatannya terhadap perjanjian tersebut. Sikap keberatan serta penolakan yang muncul dari parlemen-lah yang membuat Theresa May akhirnya menunda untuk melakukan pemungutan suara atas Brexit. Jika pemnugutan suara tersebut tetap dijalankan, muncul kekhawatiran jika nantinya menghasilkan penolakjan. Tetapi, pemimpin dari Partai Buruh, Jeremy Corbyn menyatakan bahwa penundaan yang dilakukan merupakan kebobrokan serta pemerintah sudah kehilangan kendali atas Brexit.
Penolakan parlemen guna mendukung kesepakatan yang sudah dibuat oleh Theresa May dengan Uni Eropa ditunjukkan dengan pemungutan suara terkait kesepakatan Brexit, tanggal 15 Januari 2019.
32 Ibid.
Kesepakatan yang dihasilkan Theresa May hanya didukung oleh 202 anggota perlemen, sedang sisanya sejumlah 432 menolaknya. James Corbyn, selaku Pemimpin Partai Buruh lalu menanggapinya dengan mosi tidak percaya yang diajukannya pada Theresa May, segera selepas pengumuman hasil pemungutan suara.33.
Adapun cakupan isi kesepakatan Brexit yang sudah Theresa May dan Uni Eropa capai, pertama, periode transisi, dalam pasar tunggal Inggris akan tetap terlibat, serta peraturan perundang-undangan Uni Eropa yang akan tetap dinanti sampai Desember akhir 2020 hingga hubungan perdagangan baru dicapai oleh kedua belah34. Di Inggris, segala peraturan, anggaran, pengawasan, peradilan, serta instrumen penegak hukum Uni Eropa selama periode transisi akan tetap berlaku, termasuk putusan yang sudah dibuat di pengadilan Uni Eropa. Dalam melanjutkan negosiasi, waktu tambahan diberikan dalam negosiasi kedua belah pihak, yang juga tercakup pada poin ini. Guna rentang waktu yang ditentukan, dengan persetujuan bersama sebelum 2020 bisa memperpanjang masa transisi, jika 21 bulan tambahan tak cukup.
Kedua, kesepakatan antara Irlandia Utara dengan Uni Eropa setidaknya tiga jang pendek tak ada hard border oleh perbatasan Irlandia dan Custom Union 35. Jika hingga 2020 perpanjangan periode transisi, penyelesaian backstop yang mencakup hubungan single custom terittory
33Congressional Research Service, The United Kingdom: Background, Brexit, and Relations with The United States, 3 April 2020.
34 Ibid.
35 Ibid.
antara Inggris dengan Uni Eropa diminta kepada kedua belah pihak dalam kesepakatan ini. Tarif perdangan, peraturan Origin En Quotas dihapus oleh Custom Union, tak akan meliputi seluruh barang, kecuali produk perikanan. Pelemahan harga bagi kompetitor Uni Eropa oleh Inggris dilarang pula dalam kesepakatan ini, yang secara efisien kemungkinan Inggris guna berubah menjadi negara berpajak rendah serupa Singapura sejalan dengan yang dikehendaki oleh para pendukung Brexit terhapuskan.
Walau jadi bagian Uni Eropa, kebebasan guna menjalin perdagangan internasional berlaku bagi Inggris, yang bermakna akses guna masuk ke pasar Inggris dengan berbagai ketentuan dari perjanjian perdagangan Uni Eropa didapatkan oleh negara-negara selain anggota Uni Eropa. Jika kedua belah pihak telah mencapai penyelesaian backstop, beberapa ketentuan itu akan terhapus. Perihal ini diberlakukan guna mencegah keluarnya Inggris dari Custom Union tanpa persetujuan Uni Eropa.
Ketiga, ialah berkenaan dengan pasar keuangan, seiring dengan Brexit, terancamnya status Inggris sebagai pusat keuangan dunia36. Pada kemungkinan no deal sudah disiapkan oleh lembaga-lembaga keuangan London, serta anggapan bahwa tak menguntungkannya kesepakatan Brexit. Pembahasan mengenai sektor finansial Inggris tak lebih dari 300 kata termuat dalam 580 halaman dokumen kesepakatan itu. Entitas yang Inggris dirikan akan diperlakukan sebagai entitas di luar Uni Eropa disebutkan dalam kesepakatan itu. Perihal itu bermakna pusat keuangan
36 Congressional Research Service, The United Kingdom: Background, Brexit, and Relations with The United States, 3 April 2020.
London diberi taraf akses pasar Uni Eropa, seperti akses pada Amerika Serikat dan Jepang yang Uni Eropa, yang bisa mengakibatkan daya tarik London atas perusahaan keuangan internasional.
Keempat, kebebasan bertindak (freedom of movement), perlindungan bagi warga negara Uni Eropa di Inggris serta warga Inggris di negara-negara Uni Eropa guna bekerja ataupun belajar seperti yang mereka lakukan saat ini juga tercakup dalam kesepakatan ini37. Ketentuan tak ada visa keluar, visa masuk, ataupun formalitas serupa guna pemegang dokumen sah yang dikeluarkan bagi warga negara Uni Eropa dan Inggris saat melewati perbatasan internasional kedua belah pihak tercakup pada poin ini.
Kelima, biaya keluarnya Inggris, ketentuan berikut meminta Inggris guna menghormati seluruh komitmen bersama yang ada dalam program-program Uni Eropa pada masa transisi, yang seiring bertambahnya waktu perpanjangan keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan makin bertambah38. Jika dikalkulasikan, sejumlah £10,8 miliar merupakan biaya yang harus Inggris bayarkan pada tahun 2018/2019.
Setelah itu, pemungutan suara Kembali dilangsungkan Kembali terkait dengan kesepakatan Brexit pada 12 Maret 2019. Theresa May kembali mendapat kekalahan dengan dukungan 242 anggota serta penolakan 391 lainnya dalam hasil pemungutan suara. Tanggal 29 Maret 2019 Inggris dijadwalkan guna keluar dari Uni Eropa, yang bermakna
37 Ibid.
38 Ibid.
hanya sisa 17 hari. Perihal itu sebagai wujud penolakan parlemen atas permohonan Theresa May agar kesepakatan Brexit ini segera diselesaikan.
Anggota yang mendukung kesepakatan ini meningkat, jika dibandingkan dengan hasil pada pemungutan suara pertama, Perihal itu disebabkan oleh beberapa pihak yang khawatir akan ditundanya Brexit serta berlarut-larut jika kembali ditolaknya kesepakatan ini.
Pemungutan suara kesepakatan Brexit ketiga terselenggara pada Maret 2019, tak sampai kurun waktu satu bulan. Hasilnya, rancangan kesepakatan yang Perdana Menteri Theresa May untuk ketiga kalinya ditolak oleh parlemen Inggris. Pemungutan suara yang ketiga ini ialah usaha kali terakhir Theresa May yang guna mencegah kekacauan Brexit yang makin berlarut, sebelum jadwal keluarnya Inggris dari Uni Eropa dihadapi. Rancangan itu hanya didukung oleh 286 anggota parlemen, sedangkan ditolak 344 anggota parlemen sisanya. Jika pada meaningful vote ketiga itu menyepakati rancangan usulan kesepakatan Brexit, pengunduran diri akan direncanakan oleh Theresa May39. Namun ternyata, tak membuat parlemen sepakat serta menyetujui usulan rancangan yang Theresa May Ajukan oleh pernyataan itu. Adanya penolakan oleh parlemen atas rancangan usulan yang ia ajukan bukan hal baru,seperti yang dikatakan oleh May. Namun alasan May agar kesepakatan yang diajukan itu ialah keinginannya untuk menjaga ekonomi dan nilai tukar mata uang Poundsterling pasca Brexit, dengan harapan pendapat anggota
39 Congressional Research Service, The United Kingdom: Background, Brexit, and Relations with The United States, 3 April 2020.
parlemen yang menentangnya selama ini bisa berubah pada pemungutan suara saat hari-hari kritis menjelang Brexit.
Permohonan perpanjangan waktu merupakan akibat dari kegagalan Inggris guna mendapatkan kesepakatan dalam parlemen berkenaan dengan rancangan kesepakatan Brexit, yang kemudian penundaan proses artikel 50 disetujui oleh pemimpin negara-negara Uni Eropa, sehingga 22 Mei ialah tenggat waktu yang diberikan kepada Inggris, jika kesepakatan itu disetujui oleh mayoritas anggota parlemen40. Namun, penundaan yang lebih pendek, yaitu hingga 12 April oleh Uni Eropa, dengan kemungkinan keluar tanpa kesepakatan ataupun no deal, jika yang terjadi anggota parlemen tidak menyetujuinya.
Pertemuan diadakan oleh Theresa May dan pimpinan oposisi, Jeremy Corbyn, guna membicarakan jalan keluar terbaik serta guna mengakhiri kebuntuan Brexit, menjelang perpanjangan waktu yang Uni Eropa berikan kepada Inggris. Penundaan Brexit diusahakan, serta kompromi dengan pihak oposisi guna mendapat jalan keluar atas proses Brexit yang rumit dinyatakan oleh May. Langkah yang dilakukan Theresa May dianggap akan memperlunak pernyataannya berkenaan dengan Custom Union Uni Eropa, yang mana guna menghindari dampak buruk dari sektor perdagangan, masih bergabungnya Inggris dalam keanggotaan Uni Eropa diinginkan oleh Partai Buruh. Namun, perihal itu ditolek oleh Theresa May dengan alasan dalam mencipta kebijakan perdagangan yang
40 Ibid.
mandiri, Inggris akan terbatasi oleh kebijakan Custom Union Uni Eropa.
Namun, karena tak ada kesepakatan ataupun perubahan yang pasti dalam pertemuan kedua belah pihak, tampaknya tak membuahkan hasil dari pertemuan antara Theresa May dan Jeremy Corbyn.
Tanggal 10 April 2019, surat permohonan perpanjangan waktu Brexit yang Theresa May tulis kepada Pemimpin Uni Eropa merupakan lanjutan dari kegagalannya dalam membawa Inggris keluar pada tenggat yang sudah terjadwalkan, yang lalu mendapat persetujuan oleh Uni Eropa41. Syarat persetujuan perpanjangan waktu itu ialah, ini merupakan kali terakhir Inggris mendapat perpanjangan waktu, yang mana hingga 31 Oktober 2019 ialah waktu yang diberikan kepada Inggris bersama dengan parlemen guna mendiskusikan masa depan hubungannya dengan Uni Eropa. Jika kesepakatan Brexit berhasil disetujui, Sebelum tanggal 31 Oktober 2019 Inggris bisa keluar. Pada bulan Mei dalam European Election, Inggris akan berpartisipasi, ataupun tanggal 1 Juni 2019 diberi kesempatan untuk keluar dari Uni Eropa dengan no deal. Tak ada lagi negosiasi kembali berkenaan dengan isi kesepakatan Brexit dinyatakan pula oleh Uni Eropa42.
Tentu saja keluarnya Inggris dari Uni Eropa berdampak serius bagi kehidupan Inggris beserta warganya. Demi keberlangsungan hubungan Inggris dengan negara-negara sekitar serta dengan Uni Eropa, tanggung jawab besar dipikul oleh Theresa May selaku perdana menteri. Menurut
41 Ibid.
42 Congressional Research Service, The United Kingdom: Background, Brexit, and Relations with The United States, 3 April 2020.
Theresa May, dengan adanya kekuatan identitas inggris sebagai suatu bangsa, rasa hormat yang ditunjukkan antar warga negara Inggris, serta pentingnya masyarakat agar melekat pada institusi nasional ialah salah satu alasan bahwa demokrasi Inggris telah sukses selama bertahun-tahun, yang bermakna hasil harus kita hargai, ketika telah diadakannya sebuah pemungutan suara (referendum).
Selama proses negosiasi berjalan, Theresa May juga berusaha membangun Inggris dari sebuah keterpurukan. Dua belas White Papers ataupun buku putih diperkenalkan May, yang merupakan laporan resmi yang umumnya dikeluarkan pemerintah, dimana beberapa strategi pemerintah serta kebijakan sebagai solusi dalam masalah tertentu termuat didalamnya. Perdana Menteri Theresa May mengeluarkan 12 White Papers pada tanggal 17 Januari tahun 2017 yang berisikan 12 butir strategi untuk emmbimbing pemerintah dalam memnuhi kehendak demokratis masyarakat Inggris dan menempa kemitraan baru antara Inggris dan Uni Eropa. Diantaranya yaitu43 : a.) Memberikan kepastian dan kejelasan bahwa Inggris akan berusaha memberikan kepastian dimanapun mereka bisa saat mendekati proses negosiasi. b.) Mengambil alih hukum sendiri bahwa pemerintah Inggris akan melakukan evaluasi konstitusi mereka dan mengakhiri yurisdiksi Pengadilan Uni Eropa di Inggris. c.) Memperkuat Serikat Inggris bahwa Inggris akan menjamin kesepakatan yang berlaku untuk seluruh Inggris seperti Skotlandia, Wales, Irlandia Utara dan seluruh
43 Ibid.
wilayah Inggris lainnya. Mereka tetap berkomitmen penuh terhadap Perjanjian Belfast dan penerusnya. d.) Melindungi hubungan yang kuat dan bersejarah dengan Irlandia dan memelihara Common Travel Area.
Inggris akan berupaya memberikan solusi praktis yang memungkinkan untuk pemeliharaan Common Travel Area, sekaligus melindungi integritas sistem imigrasi Inggris dan melindungi ikatan kuat dengan Irlandia. e.) Mengandalikan imigrasi bahwa Inggris akan mengendalikan jumlah warga negara Uni Eropa yang datang ke Inggris. f.) Mengamankan hak warga negara Uni Eropa di Inggris dan warga Inggris di Uni Eropa. Inggris ingin secepatnya menjamin status warga negara Uni Eropa yang telah tinggal di Inggris dan warga negara Inggris di berbagai negara anggota Uni Eropa lainnya. g.) Perlindungan hak-hak pekerja, bahwa hak-hak pekerja yang ada akan dilindungi serta ditingkatkan oleh Inggris. h.) Memastikan perdagangan bebas dengan pasar Eropa. Kemitraan strategis baru dengan Uni Eropa akan dijalin oleh Inggris, termasuk kesepakatan perdagangan bebas yang luas, berani, dan ambisius, serta kesepakatan bea cukai baru dengan Uni Eropa yang saling menguntungkan akan dicari. i.) Mengamankan perjanjian perdagangan baru dengan negara lain. Inggris akan menjalin hubungan perdagangan bebas di seluruh dunia. j.) Memastikan tetap jadi tempat terbaik bagi sains dan teknologi oleh Inggris. Pelopor sains dan inovasi akan tetap milik Inggris, serta kerja sama erat dengan kemitraan Eropa akan terus dilanjutkan. k.) Bekerja sama dalam memerangi kejahatan dan terorisme. Guna melestarikan
keamanan Eropa, pemerangan terorisme, serta guna keadilan yang ditegakkan di seluruh Eropa, kerja sama dengan Uni Eropa akan terus dilakukan oleh Inggris. l.) Menyampaikan jalan keluar yang mulus dan tertib dari Uni Eropa. Proses implementasi bertahap akan dicari Inggris, yang mana pengaturan baru dipersiapkan oleh institusi Inggris dan Uni Eropa berserta beserta berbagai negara anggota Uni Eropa lain yang tersisa.
Memastikan Brexit tak membahayakan perekonomian nasional Inggris ialah tujuan utama pemerintahan masa Theresa May. May memercayai bahwa posisi Inggris di Eropa tak akan berubah oleh hasil referendum, akan tetapi merupakan sebuah mosi percaya pada kesuksesan di dunia internasional oleh kemampuan Inggris. Theresa May yakin bahwa Inggris masih meyakini bahwa Inggris mampu menjai pionir pokok di Eropa. Meski hingga tahun 2019 proses negosiasi masih berjalan, rencana pemerintah guna kemitraan baru yang lebih kuat, yang ingin mereka bangun dengan Uni Eropa ditetapkan dalam dua belas poin white papers itu44. Inggris tetap optimis bisa membangun negara yang lebih terbuka, berwawasan luas ke depan, percaya diri, serta lebih adil, berdasar hasil negosiasi antara kedua belah pihak mengenai Brexit.
Selepas parlemen menolak berbagai usaha yang Theresa May lakukan guna mengantarkan masyarakat Inggris pada hasil referendum, pada 7 Juni 2019, Pengunduran diri dari jabatan sebagai Perdana Menteri
44 Congressional Research Service, The United Kingdom: Background, Brexit, and Relations with The United States, 3 April 2020.
Inggris resmi diumumkan Theresa May. Penyesalan yang May nyatakan karena gagal membawa Inggris ke Brexit, serta penyesalan atas tiga kali ditolaknya kesepakatan Brexit, sehingga sudah saatnya Perdana Menteri Baru memegang Brexit diungkapkan pada pidato pengunduran dirinya45. Setelah ketua Partai Konservatif yang baru terpilih, kedudukan Theresa May sebagai perdana menteri akan digantikan.
Inggris secara resmi telah menarik diri dari keanggotaannya di Uni Eropa tepat pada 31 Januari 2020. Selama terjadinya periode transisi sepanjang tahun 2020, Inggris dan Uni Eropa mulai untuk merundingkan hubungan masa depan mereka, termasuk hubungan perdagangan dan ekonomi serta kerjasama luar negeri yang berkaitan dengan keamanan dan lain sebagainya. Penyelesaian mengenai Brexit sempat ditunda karena adanya pergantian perdana menteri Inggris, setelah adanya pengunduran diri Theresa May dari kursi perdana menteri. Jabatan baru sebagai perdana menteri akhirnya digantikan oleh Boris Johnson secara resmi pada tanggal 24 Juli 2019 . Kontak antara para pejabat Uni Eropa dan Inggris mengenai Brexit dilanjutkan kemudian pada akhir Juli. Boris Johnson akan merundingkan kembali perjanjian Brexit dibawah kepemimpinannya, khususnya untuk menghilangkan ketentuan mengenai backstop dalm protokol tentang Irlandia dan Irlandia Utara.
2.4 Proses Negosiasi Pasca Brexit Masa Boris Johnson
45 Ibid.
Setelah Theresa May lengser dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, kini posisinya digantikan oleh Boris Johnson. Ia terpilih menjabat sebagai perdana menteri setelah mendapat perolehan suara sejumlah 92.153 dalam sebuah pemungutan suara yang Parta konservatif lakukan, mengalahkan Jeremy Hunt selaku Menteri Luar Negeri Ingggris46. Pada bulan Juli 2019, dalam pidatonya Boris Johnson dengan tegas menyatakan bahwa penyelesaian persoalan berkenaan dengan brexit akan ia selesaikan tepat pada akhir Oktober 2019 serta akan menyelesaikan persoalan mengenai Brexit didalam negeri yang telah memecah belah masyarakat Inggris kedalam kelompok-kelompok yang berbeda. Boris Johnson mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis yang kemudian tepat pada tahun 2001 ia memulai karirnya dalam dunia perpolitikan ketika ia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Partai Konservatif mewakili Henley47. Ia kemudian terpilih kembali pada keanggotaan parlemen Inggris pada tahun 2005 dan duduk dikursi parlemen hingga tahun 2008.
Pada tahun 2008, Johnson terpilih menjadi walikota London menggantikan Ken Livingstone yang berasal dari Partai Buruh. Ia bahkan berhasil menjabat walikota London dalam dua periode, yaitu pada periode tahun 2012 hingga 201648. Selama kepemimpinannya menjadi walikota London, Boris Johnson telah berhasil mengurangi angka kejahatan di
46 Elfan & Yuwono. Komunikasi dalam Negosiasi Politik Brexit. Jurnal Komunikasi dan Bahasa, Vol.1, Nomor 2, Desember 2020.
47 Ibid.
48 Congressional Research Service. Brexit: Status and Outlook. CRS Report Prepared for Members and Committees of Congress, 13 Februari 2020, https://crsreports.congress.gov.
London. Namun, dalam keberhasilannya mengurangi angka kejahatan itu, kebijakan lainnya yang ia buat juga tidak terlepas dari kontroversial, seperti pengadaan proyek water cannon dan garden bridge yang menghabiskan dana yang sangat besar dan ia menggunakannya dengan uang publik yang seharusnya dana publik tersebut bisa digunakan untuk kepentingan publik yang lebih penting dan mendesak49. Setelah jabatannya menjadi walikota London telah berakhir, Boris Johnson kemudian memutuskan untuk kembali ke parlemen dan ia berhasil terpilih kembali mewakili Uxbridge dan South Ruislip50. Karirnya mulai melejit ketika ia kemudian ditunjuk oleh Perdana Menteri Theresa May sebagai menteri luar negeri Inggris. Sebagai seorang politisi Inggris, Johnson mendukung keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa atau Brexit. Ia bersama dengan Michael Gove, merupakan pemimpin dari kelompok vote leave atau kelompok yang pro-Brexit. Untuk mensukseskan kampanye dari kelompok vote leave yang ia pimpin, Johnson rela untuk mengelilingi Inggris menggunakan bus merah khas Inggris dengan ditempeli oleh berbagai iklan-iklan pro-Brexit. Tidak heran jika ia dijuluki sebagai politisi pro-Brexit garis keras (hard-Brexiter)51.
Dalam rentang waktu yang belum lama setelah Johnson terpilih menduduki kuris PM Inggris, penolakan terhadap masa kepemimpinan Boris Johnson dengan cepat ditunjukkan oleh masyarakat Inggris.
49 Ibid.
50 Ibid.
51 Stefano Fella, Planning for a No-deal Brexit. House of Commons Library, Briefing Paper, 5 November 2019.
Perjalanannya menuju gedung parlemen terhambat oleh Masyarakat Inggris beramai-ramai, yang membawa spanduk bertulis “identitas, demokrasi, kedaulatan, kebebasan”. Namun, Boris Johnson tak memberi respon apapun atas aksi masyarakat Inggris yang menolak pemerintahannya. Penolakan atas kepemimpinannya tidak hanya datang dari masyarakat Inggris tetapi juga datang dari para menteri salah satunya adalah Menteri Keuangan Inggris, Philip Hammond52. Ia menyatakan bahwa sebagai wujud penolakan atas kepemimpinan Boris Johnson, sekaligus sebagai simbol bahwa dalam pemerintahan Inggris terjadi kekacauan, ia akan mundur dari jabatannya.
Pada 24 Juli 2014, Perdana Menteri Inggris resmi dijabat oleh Boris Johnson, selepas pengunduran diri perdana menteri sebelumnya, Theresa May, dari kursi jabatannya kepada Ratu Elizabeth di Istana Buckingham53. Dengan adanya kepemimpinan Boris Johnson itu, tentu ia memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan Brexit dengan waktu yang singkat dengan cara apapun tanpa kesepakatan. Mendengar adanya rencana Boris Johnson tersebut membuat partai oposisi Inggris akan melakukan berbagai cara untuk menghambat rencana Boris Johnson dalam menyelesaikan Brexit tanpa kesepakatan. Bahkan rencana suatu undang-undang baru dibuat ataupun pemungutan suara dilakukan guna
52 Ibid.
53 Congressional Research Service. Brexit: Status and Outlook. CRS Report Prepared for Members and Committees of Congress, 13 Februari 2020, https://crsreports.congress.gov
menggulingkan pemerintahan Boris Johnson ditempuh oleh para anggota partai itu.
Jeremy Corbyn selaku ketua Partai Buruh sekaligus partai oposisi, telah melakukan dialog dengan Partai Nasional Skotlandia, Partai Liberal Demokrat, dan Partai Hijau guna menyusun rencana aksi perlawanan atas rencana Boris Johnson terkait penyelesaian Brexit tanpa kesepakatan.
Rencana kuat Perdana Menteri Boris Johnson untuk membawa Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa dengan tanpa kesepakatan serta upaya penolakan dengan tegas rencana itu oleh parlemen, menjadikan kekhawatiran akan penyelesaian yang tak akan menemu titik temu seperti yang terjadi pada era Theresa May akan terjadi pula dalam pembahasan mengenai Brexit pada era Boris Johnson54. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa dalam proses penyelesaian Brexit, Theresa May berserta Parlemen Inggris tak menemu jalan keluar, yang akhirnya menjadikannya undur diri dari jabatannya selaku PM Inggris. Para oposisi yang tak setuju memiliki pendapat bahwa Brexit tanpa kesepakatan akan membawa bencana bagi Inggris.
Uni Eropa menyatakan bahwa Inggris akan bertanggungjawab pada konsekuensi yang akan Inggris hadapi dengan skenario no deal, sebagai bentuk penolakan atas rencana besar Boris Johnson guna membawa Inggris pada tanpa kesepakatan (no deal Brexit)55. Jean C.
54 Ibid.
55 Stefano Fella, Planning for a No-deal Brexit. House of Commons Library, Briefing Paper, 5 November 2019.
Junker selaku ketua komisi Uni Eropa menyampaikan pernyataan itu setelah melakukan diskusi dengan Boris Johnson lewat telepon dengan.
Jean Junker memberi penyataan bahwa skenario penyelesaian Inggris no deal Brexit (tanpa kesepakatan) sesuai keinginan Boris Johnson telah Uni Eropa siapkan. Namun, berbagai upaya guna menghindari situasi no deal Brexit akan tetap dilakukan. Perihal ini bermakna Inggris akan sepenuhnya bertanggungjawab atas keputusannya dalam melepaskan diri dari keanggotaan Uni Eropa tanpa kesepakatan, tidak pada Uni Eropa. Boris Johnson bahkan membuat sebuah komite khusus untuk mengawasi jalannya penyelesaian Brexit dibawah kepemimpinannya serta menyiapkan dana tambahan sebesar £2,1 miliar sebagai persiapan no deal Brexit56. Pendanaan tersebut dikerahkan untuk mengatasi kemacetan di pelabuhan.
Keputusan kontroversial Boris Johnson kembali muncul setelah masa libur parlemen Inggris diperpanjang sampai dua minggu menjelang deadline keputusan Brexit, yakni 14 Oktober diputuskan oleh Johnson57. Hal lumrah yang terjadi di Inggris ialah masa libur parlemen ataupun masa reses. Namun, tentu berbeda untuk situasi yang terjadi kini, deadline keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa bertepatan dengan masa reses. Dengan adanya keputusan itu, kesempatan guna menghalangi langkah Perdana Menteri Johnson dalam membawa Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa dengan no deal tak dimiliki oleh anggota
56 Ibid.
57 Ibid.