• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY DAN ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY PADA BROWNIES CINTA DI KARANGANYAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY DAN ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY PADA BROWNIES CINTA DI KARANGANYAR"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY DAN ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY

PADA BROWNIES CINTA DI KARANGANYAR

Astri Remasari 1) Y. Djoko Suseno 2)

Sunarso 3)

1, 2, 3)

Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Slamet Riyadi Surakarta e-mail: 1) [email protected]

ABSTRACT

Brownies Cinta is one of the companies engaged in the food processing industry which is located at Jl. Muwardi, East Cangakan, Cangakan, Karanganyar.

In food industry companies, the production process is very important because it affects the survival of the company. The purpose of this study is to analyze the efficiency of raw material inventory control using the Economic Order Quantity and Economic Production Quantity methods. The results of the analysis of inventory control of Brownies Cinta raw materials obtained the following conclusions: With the EOQ method, the results of inventory costs are Rp 9,812,035. With the EPQ method the total annual costs are Rp 8,493,009. Compared to the EOQ and EPQ methods it can be seen that the EPQ method is more able to minimize costs compared to the EOQ method with a difference of Rp 1,319,026.

Keywords: Inventory Control, Economic Order Quantity, Economic Production Quantity.

PENDAHULUAN

Persediaan bahan baku merupakan unsur utama dalam sebuah produksi sehingga ketersediaan bahan baku harus diperhatikan. Keterbatasan jumlah persediaan bahan baku akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran proses produksi perusahaan dan hal tersebut dapat mengurangi kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan. Ketepatan dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku sangatlah penting dalam sebuah perusahaan industri yang berorientasi pasar.

Ada banyak metode pengendalian persediaan bahan baku yang dapat digunakan untuk menentukan persediaan bahan baku sebuah perusahaan. Pada penelitian kali ini menggunakan Metode Economic Order Quantity (EOQ) dan Economic Production Quantity (EPQ). Metode EOQ adalah salah satu teknik pengendalian persediaan yang paling tua dan terkenal secara luas, metode pengendalian persediaan ini menjawab dua pertanyaan penting yakni kapan harus memesan dan berapa banyak harus memesan” (Heizer dan Render 2011: 68). Dalam peranannya metode EOQ ini berusaha mencapai tingkat persediaan yang seoptimal mungkin agar dapat meminimumkan biaya-biaya persediaan secara keseluruhan. Perencanaan dengan metode EOQ akan dapat meminimalisasi terjadinya out of stock sehingga tidak mengganggu proses produksi perusahaan karena adanya efisiensi persediaan bahan baku dalam perusahaan tersebut.

Metode Economic Production Quantity (EPQ) merupakan suatu metode yang digunakan untuk mempertimbangkan antara jumlah produksi dengan jumlah permintaan hasil produksi.

Metode EPQ dapat dicapai apabila besarnya biaya persiapan (set up cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost) yang dikeluarkan jumlahnya minimun. Artinya, tingkat produksi optimal akan memberikan total biaya persediaan atau total inventori cost (TIC) minimum.

(2)

Metode EPQ mempertimbangkan tingkat persediaan barang jadi dan permintaan produk jadi.

Metode ini juga mempertimbangkan jumlah persiapan produksi yang berpengaruh terhadap biaya persiapan. Pada model persediaan ini, jumlah produksi harus lebih besar dari jumlah permintaan. Penggunaan metode EOQ dan EPQ akan membantu perusahaan dalam mengendalikan persediaan bahan baku. Di samping mengendalikan persediaan bahan baku dengan metode EOQ dan EPQ, perusahaan juga perlu menentukan Reorder Point (ROP) atau waktu pemesanan kembali barang dagang yang akan digunakan, agar pembelian yang sudah ditetapkan dalam EOQ dan EPQ tidak mengganggu kelancaran perusahaan serta jumlah persediaan minimum yang harus tersedia dalam perusahaan atau safety stock.

Brownies Cinta merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan makanan yang beralamat di Jl. Muwardi, Cangakan Timur, Cangakan, Karanganyar.

Dalam proses produksinya perusahaan harus selalu menyediakan bahan baku yang aman agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar dan permintaan pasar dapat terpenuhi dengan baik.

Ketidakpastian jumlah permintaan pasar setiap saat akan menimbulkan masalah bagi perusahaan. Perusahaan akan mengalami kendala berupa kelebihan stok persediaan bahan baku ataupun sebaliknya.

Selama ini perusahaan melakukan pembelian bahan baku dengan metode konvensional perusahaan yang dimiliki oleh brownies cinta. Metode konvensional tersebut berupa penjadwalan kapan dilakukannya pemesanan bahan baku dan berapa jumlah bahan baku yang akan dipesan kepada supplier atau pemasok, selain itu perusahaan juga melakukan pertimbangan pembelian bahan baku berdasarkan data produksi sebelumnya dan data pesanan customer. Hal tersebut sering kali menyebabkan timbulnya suatu masalah seperti adanya kelebihan persediaan bahan baku ataupun kurangnya persediaan bahan baku. Penyediaan bahan baku yang berlebih akan berpengaruh terhadap biaya penyimpanan bahan baku yang otomatis akan menambah biaya penyimpanan yang meliputi biaya pemeliharaan bahan baku dan biaya kerusakan bahan baku. Apabila penyediaan bahan baku terlalu sedikit juga akan berpengaruh besar terhadap proses produksi perusahaan, hal tersebut akan menyebabkan stock out atau tidak dapat terpenuhinya sebuah permintaan.

Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisis efisiensi biaya persediaan bahan baku dengan menggunakan metode Economic Order Quantity dan Eeconomic Production Quantity pada Brownies Cinta.

2. Untuk menganalisis perbandingan efisiensi biaya persediaan bahan baku dengan metode Economic Order Quantity dan Eeconomic Production Quantity pada Brownies Cinta.

TINJAUAN PUSTAKA 1. Manajemen Operasi

Manajemen operasional secara umum memegang peranan mengenai isu strategis dalam menentukan rencana produksi juga metode manajemen proyek serta implementasi struktur jaringan teknologi informasi. Herjanto (2015: 2) menyatakan bahwa “manajemen operasional adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan barang, jasa dan kombinasinya, melalui proses transformasi dari sumber daya produksi menjadi keluaran yang diinginkan.” Daft (2012: 216) mendefinisikan “manajemen operasi sebagai bidang manajemen yang mengkhususkan pada produksi barang”. Artinya kegiatan operasi hanya akan berfokus pada kegiatan dalam hal memproduksi barang dan memecahkan masalah- masalah yang berkaitan dengan sektor produksi perusahaan. Manajemen operasional adalah serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output (Heizer dan Render, 2010: 4).

(3)

2. Persediaan

Dalam sebuah perusahaan, baik itu perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa pasti selalu mengandalkan persediaan (inventory) karena persediaan memiliki peranan penting dalam proses produksi perusahaan. Dengan adanya persediaan bahan baku diharapkan perusahaan dapat melakukan proses produksi dengan baik sesuai kebutuhan dan permintaan. Sugiri (2013: 77) menyatakan “Persediaan adalah aset untuk dijual atau dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi untuk kemudian dijual atau dalam bentuk perlengkapan dalam proses produksi atau pemberi jasa.” Stice (2011: 572) mendefinisikan

“Persediaan secara umum ditujukan untuk barang-barang yang dimiliki perusahaan dagang, baik berupa usaha grosir maupun ritel ketika barang-barang tersebut telah dibeli dalam kondisi siap untuk dijual”.

3. Bahan Baku

Menurut Sujarweni (2015: 27-28), “Bahan baku sendiri mempunyai definisi bahan- bahan yang merupakan komponen utama yang membentuk keseluruhan dari produk jadi”.

Menurut Bustami dan Nurlela (2013: 134 ) “Bahan baku adalah bahan dasar yang diolah menjadi produk selesai”. Menurut Mulyadi (2012: 275), “Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi”.

4. Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Pengendalian persediaan bahan baku merupakan cara perusahaan untuk mengendalikan persediaan agar selalu optimal demi kelancaran proses produksinya. Aktivitas pengawasan persediaan tidak dibatasi dalam penentuan tingkat dan komposisi persediaannya, termasuk juga dalam pengaturan dan pengawasan atau pelaksanaan pengadaan bahan-bahan yang diperlukan perusahaan sesuai dengan jumlah dan watu yang dibutuhkan dengan biaya yang minimal. Pengendalian persediaan bahan baku merupakan sebuah aktivitas untuk menentukan tingkat dan komposisi daripada persediaan bahan baku dan barang hasil produksi sehingga perusahaan bisa melindungi kelancaran produksi dengan efektif dan efisien (Assauri, 2011: 176).

Pengendalian persediaan bahan baku wajib melengkapi dua kebutuhan yang saling berlawanan yaitu menjaga persediaan pada jumlah dan variasi yang memadai untuk beroperasi dengan efisien dan menjaga persediaan yang menguntungkan secara financial (Carter, 2010: 322).

5. Economic Order Quantity (EOQ)

Economic Order Quantity adalah rumusan untuk menentukan kuantitas pesanan yang akan meminimumkan biaya persediaan. “EOQ merupakan model yang digunakan untuk mengidentifikasi ukuran pesanan tetap yang akan meminimalkan jumlah biaya tahunan untuk menyimpan persediaan dan memesan persediaan” (Stevenson dan Chuong, 2014:

191).

Konsep EOQ digunakan untuk menjawab pertanyaan “berapa jumlah yang harus dipesan”. Untuk menentukan jumlah pemesanan atau pembelian yang optimal tiap kali pemesanan perlu ada perhitungan kuantitas pembelian optimal yang ekonomis atau Economic Order Quantity (EOQ) (Yamit, 2011: 232).

Menurut Heizer dan Render (2015: 68), Economic Order Quantity adalah salah satu metode pengendalian persediaan yang paling tua serta terkenal secara luas, metode pengendalian persediaan ini menjawab dua pertanyaan penting yaitu kapan harus memesan dan berapa banyak harus memesan.

Secara grafik model persediaan EOQ dapat dilihat pada Gambar 1.

(4)

Gambar 1. Grafik Economic Order Quantity Keterangan Gambar:

a. Q mewakili jumlah yang dipesan. Ketika jumlah persediaan mencapai Q pemesanan baru dibuat dan terima dan tingkat persediaan meningkat lagi ke Q unit (diwakili garis vertikal). Proses ini berlangsung terus sepanjang waktu.

b. Tujuan dari kebanyakan model persediaan adalah untuk meminimalisasi biaya total.

c. Dengan asumsi di atas, dengan meminimalisir biaya pemasangan dan penyimpanan maka kita meminimkan biaya total.

Untuk menentukan jumlah pemesanan yang ekonomis menurut metode Economic Order Quantity dengan rumus sebagai berikut:

Q* = √2𝐷𝑆

𝐻

Keterangan:

Q*= Jumlah pesanan yang ekonomis

D = Jumlah kebutuhan dalam satuan (unit) per tahun S = Biaya pemesanan untuk sekali pesan

H = Biaya penyimpanan per unit per tahun 6. Economic Production Quantity (EPQ)

Economic Production Quantity (EPQ) adalah suatu model persediaan dimana barang diproduksi sendiri oleh perusahaan. Dalam model ini jumlah produksi harus lebih besar dari pada jumlah permintaan. Dengan kata lain proses produksi dilakukan kembali sebelum persediaan habis. Jumlah persediaan akan bertambah secara bertahap dan juga berkurang secara bertahap untuk memenuhi permintaan dan tidak akan terjadi kekurangan persediaan karena permintaan selalu terpenuhi.

Menurut Yamit, (2011: 257) “Economic Production Quantity (EPQ) adalah sejumlah produksi tertentu yang dihasilkan dengan meminimumkan total biaya persediaan”. Metode EPQ dapat dicapai apabila besarnya biaya persiapan (setup cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost) yang dikeluarkan jumlahnya minimum. Artinya adalah ketika tingkat produksi optimal, maka akan memberikan total biaya persediaan atau total inventory cost (TIC) yang minimum.

Secara grafik model persediaan EPQ dapat dilihat pada Gambar 2.

Ting- kat Perse- diaan

Tingkat Penggunaan Tingkat

Pemesanan yang diterima

Kuantitas pesanan

= Q rata-rata persediaan (tingkat persediaan

maksimum)

Persediaan minimum 0

(𝑄 2)

Waktu

(5)

Gambar 2. Grafik Economic Production Quantity Keterangan:

Q = Economic production quantity (EPQ) U = Permintaan per hari atau per tahun P = Produksi per hari atau per tahun S = Biaya persiapan (set up cost) C = Biaya simpan tahunan per unit

Lt = Waktu yang diperlukan untuk memproduksi kembali

Perhitungan Economic Production Quantity (EPQ) adalah sebagai berikut:

EPQ = Q = √2 (U)(S)(1−U

P)C

Keterangan:

Q = Economic production quantity (EPQ) U = Permintaan per hari atau per tahun P = Produksi per hari atau per tahun S = Biaya persiapan (set up cost) C = Biaya simpan tahunan per unit Hipotesis

“Economic Order Quantity merupakan model yang digunakan untuk mengidentifikasi ukuran pesanan tetap yang akan meminimalkan jumlah biaya tahunan untuk menyimpan persediaan dan memesan persediaan” (Stevenson dan Chuong, 2014: 191). Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, antara lain penelitian oleh Trihudiyatmanto (2017), Badruzzaman, Harahap, Kurniati dan Johansyah (2017), Tipika, Paendong, dan Mongi (2017), Taufiq, dan Slamet (2014), Madilah, Sutrisno, dan Mende (2013), Sibarani, Bu’ulolo, dan Sebayang (2013). Hasil dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa pengendalian persediaan bahan baku dengan menggunakan metode EOQ dan EPQ dapat meminimalkan biaya produksi perusahaan. Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah

H1: Penggunaan metode Economic Order Quantity dan Economic Production Quantity dapat meningkatkan efisiensi biaya persediaan bahan baku pada Brownies Cinta.

Menurut Yamit, (2011: 257), “Economic Production Quantity (EPQ) adalah sejumlah produksi tertentu yang dihasilkan dengan meminimumkan total biaya persediaan”. Menurut

Persediaan Maksimum

ROP

Lt (1 – U/P)Q

Waktu

(P-U) 1/2(1-U/P)Q

Pemesanan Mulai produksi

Akhir Produksi Q/P

(6)

penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, antara lain penelitian oleh Tipika, Paendong, dan Mongi (2017) dan Sibarani, Bu’ulolo, dan Sebayang (2013). Akan tetapi dari kedua penelitian tersebut terdapat perbedaan perbandingan hasil penelitian. Penelitian oleh Tipika, Paendong, dan Mongi (2017) menyatakan jika dibandingkan, metode EPQ lebih meminimalkan biaya persediaan dibandingkan dengan metode EOQ sedangkan penelitian oleh Sibarani, Bu’ulolo, dan Sebayang (2013) menyatakan bahwa metode EOQ lebih meminimalkan biaya persediaan dibandingkan dengan metode EPQ. Dengan demikian, maka hipotesis dari penelitian ini adalah:

H2: Penggunaan metode Economic Production Quantity lebih efisien dibandingkan dengan metode Economic Order Quantity.

METODE PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan di Brownies Cinta. Brownies Cinta merupakan perusahaan yang beroperasi di bidang industri yang memproduksi kue brownies.

Jenis Data

1. Data Kuantitatif

Data Kuantitatif adalah data yang berupa angka nominal dari perusahaan yang diteliti. Data yang diperoleh yaitu:

a. Data jumlah kebutuhan bahan baku tahun 2018 b. Data biaya pemesanan tahun 2018

c. Data biaya penyimpanan bahan baku selama tahun 2018 d. Harga bahan baku per kg

e. Jumlah hari kerja dalam satu tahun 2. Data Kualitatif

Data kualitatif adalah data yang tidak dapat dihitung atau data yang tidak berwujud angka, yaitu seperti sejarah perusahaan, struktur organisasi dan proses-proses produksi. Data yang diperoleh antara lain

a. Informasi tentang sejarah berdirinya Brownies.

b. Struktur organisasi perusahaan yang dimiliki Brownies Cinta.

Sumber Data 1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber data dengan observasi langsung (Sugiyono, 2014: 145). Data primer yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kegiaan produksi, produk-produk dan kebijakan-kebijakan dari Brownies Cinta mengenai persediaan tepung terigu.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh dari sumber lain atau lewat perantara lain yang berkaitan dengan penelitian (Sugiyono, 2014: 224). Dalam hal ini data diperoleh dari dokumen-dokumen Brownies Cinta, dan referensi berupa buku, jurnal, makalah, internet serta data lain yang mendukung dalam penelitian. Data sekunder yang digunakan antara lain data jumlah permintaan bahan baku, frekuensi pemesanan, harga, biaya penyimpanan dan biaya pemesanan bahan baku.

Teknik Analisis Data

Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Menentukan besarnya kuantitas pembelian bahan baku yang optimal dengan menggunakan metode Economic Order Quantiy

(7)

Q* = √2𝐷𝑆

𝐻

2. Menentukan total biaya persediaan dengan rumus TIC = 𝐷

𝑄𝑆 + 𝑄

2𝐻 + P D

3. Menentukan kuantitas persediaan pengaman dengan menggunakan rumus Safety Stock:

SS = SD × Z

4. Menghitung Maximum Inventory EOQ Imax = SS + EOQ

5. Menentukan besarnya titik pemesanan kembali dengan rumus Re Order Point:

ROP = (d × L) + SS

6. Menentukan besarnya jumlah produksi yang optimal dalam satu putaran produksi, yaitu:

Perhitungan Economic Production Quantity (EPQ):

EPQ = Q = √2 (U)(S)(1−U

P)C

7. Menghitung Maximum inventory EPQ:

Imax = (1 −U

P) Q

8. Menghitung Total Biaya Persediaan / TAC (EPQ) TAC = 1

2(1 −U

P) QC + (U

Q) S HASIL ANALISIS DATA 1. Kebijakan Perusahaan

Brownies Cinta melakukan pembelian bahan baku dengan metode konvensional perusahaan. Metode konvensional tersebut berupa penjadwalan kapan dilakukannya pemesanan bahan baku dan berapa jumlah bahan baku yang akan dipesan kepada supplier atau pemasok, selain itu perusahaan juga melakukan pertimbangan pembelian bahan baku berdasarkan data produksi sebelumnya dan data pesanan customer.

Berikut data kebutuhan bahan baku tepung terigu tahun 2018:

Tabel 1. Data Kebutuhan Bahan Baku Tahun 2018 Bulan Jumlah Kebutuhan

Bahan Baku (kg)

Frekuensi Pemesanan Dalam Satu Bulan (Kali)

Januari 1.875 3

Februari 1.625 3

Maret 1.625 3

April 1.850 3

Mei 2.025 3

Juni 2.300 4

Juli 1.800 3

Agustus 2.325 4

September 2.075 3

Oktober 2.100 3

November 2.325 4

Desember 3.075 4

Jumlah 25.000 40

Sumber: Data PT Berkah Ridho Cinta Indonesia yang diolah, 2018

(8)

a. Jumlah pembelian rata-rata bahan baku tepung terigu pada Brownies Cinta dapat dihitung sebagai berikut:

Q = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑠𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛

= 25.000

40

= 625

Rata-rata jumlah pembelian bahan baku tepung terigu setiap pemesanan adalah 625 kg.

b. Biaya pemesanan

Biaya yang terkait dengan biaya pemesanan pada Brownies Cinta adalah:

a) Biaya telepon b) Biaya pengiriman

Tabel 2. Biaya Pemesanan Bahan Baku Tahun 2018 No. Jenis Biaya Jumlah Biaya

1. Biaya Telepon 339.000 2. Biaya Pengiriman 14.400.000

Jumlah 14.739.000

Sumber: Data PT Berkah Ridho Cinta Indonesia yang diolah, 2018 Biaya pemesanan untuk sekali pesan adalah sebagai berikut:

S = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑠𝑎𝑛𝑎𝑛

𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑠𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛

= 14.739.000

40

= 368.475

Biaya untuk sekali pesan bahan baku tepung terigu pada Brownies Cinta adalah Rp 368.475.

c. Biaya penyimpanan

Biaya penyimpanan yaitu semua pengeluaran yang timbul akibat menyimpan bahan baku.

Berikut ini adalah biaya yang ditanggung perusahaan terkait dengan biaya penyimpanan:

a) Biaya listrik gudang b) Biaya tenaga kerja

Tabel 3. Biaya Penyimpanan Bahan Baku Tahun 2018 No. Jenis Biaya Jumlah Biaya

1. Biaya Listrik Gudang 410.400 2. Biaya Tenaga Kerja 5.085.000

Jumlah 5.495.400

Sumber: Data PT Berkah Ridho Cinta Indonesia yang diolah, 2018 H = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛𝑎𝑛

𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢

= 5.495.400

25.000

= 219,8

= 220

Biaya penyimpanan per unit pada Brownies Cinta adalah Rp 220 per kg.

(9)

d. Total biaya persediaan TIC = 𝐷

𝑄𝑆 + 𝑄

2𝐻 + 𝑃𝐷 = 25.000

625 368.475 + 625

2 220 + 6.600 × 25.000 = 14.739.000 + 68.750 + 165.000.000

= 179.807.750

Total biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan adalah sebesar Rp 179.807.750.

2. Metode Economic Order Quantity a. Pembelian bahan baku yang ekonomis

Q* = √2𝐷𝑆

𝐻

= √2×25.000×368.475 220

= √83.744.318,2 = 9.151

Pembelian bahan baku tepung terigu yang ekonomis adalah sebesar 9.151 kg.

b. Frekuensi pemesanan bahan baku F = 𝐷

𝑄

= 25.000

9.151

= 2,7

= 3

Pemesanan bahan baku dapat dilakukan 3 kali pemesanan per tahun.

c. Total biaya persediaan / Total Inventory Cost (TIC) TIC = 𝐷

𝑄𝑆 + 𝑄

2 𝐻 + 𝑃𝐷

= 25.000

9.151 368.475 + 9.151

2 220 + 6.600 × 25.000

= 1.105.425 + 8.706.610 + 165.000.000

= 174.812.035

Total biaya persediaan yang telah dihitung dengan menggunakan metode Economic Order Quantity adalah Rp 174.812.035.

d. Persediaan pengaman (Safety Stock) SS = 𝑆𝐷 × 𝑍

= 381,79 × 1,64

= 626,13

Persediaan bahan baku yang harus disediakan perusahaan sebagai persediaan pengaman adalah 626,13 kg.

e. Pemesanan Kembali (Re Order Point) ROP = (𝑑 × 𝐿) + 𝑆𝑆

= (69,44 × 2) + 626,13

= 765

Perusahaan harus melakukan pemesanan kembali pada saat bahan baku pada tingkat sebesar 765 kg.

(10)

f. Maximum Inventory EOQ Imax = SS + EOQ

= 626,13 + 9.151

= 9.777,13

Persediaan maksimal yang dapat disediakan oleh perusahaan adalah sebesar 9.777,13 kg.

3. Metode Economic Production Quantity

Metode Economic Production Quantity digunakan untuk mempertimbangkan antara jumlah produksi dengan jumlah permintaan hasil produksi pada Brownies Cinta.

Berikut merupakan tabel jumlah produksi Brownies Cinta tahun 2018:

Tabel 4. Data Jumlah Produksi Brownies Cinta Tahun 2018 No. Bulan Jumlah Produksi

1. Januari 20.250

2. Februari 20.250

3. Maret 20.250

4. April 20.250

5. Mei 20.250

6. Juni 20.250

7. Juli 20.250

8. Agustus 20.250

9. September 20.250 10. Oktober 20.250 11. November 20.250 12. Desember 20.250

Jumlah 243.000

Sumber: Data PT Berkah Ridho Cinta Indonesia yang diolah, 2018 Berikut merupakan tabel jumlah produksi Brownies Cinta tahun 2018:

Tabel 5. Data Jumlah Permintaan Brownies Cinta Tahun 2018 No. Bulan Jumlah Produksi

1. Januari 17.170

2. Februari 18.165

3. Maret 18.257

4. April 18.278

5. Mei 17.474

6. Juni 18.426

7. Juli 18.531

8. Agustus 18.873

9. September 16.756 10. Oktober 17.350 11. November 17.197 12. Desember 19.523

Jumlah 216.000

Sumber: Data PT Berkah Ridho Cinta Indonesia yang diolah, 2018

(11)

a. Jumlah produksi yang optimal EPQ = Q = √2 (U)(S)(1−U

P)C

= √2 (216.000)(632.475) (1−600675)2.200

= √273.229.200.000 264

= √1.034.959.090

= 32.171

Jumlah produksi yang optimal berdasarkan metode Economic Production Quantity sebesar 31.171 pcs.

b. Frekuensi produksi selama satu tahun F = 𝑈

𝑄

= 216.000

32.171

= 6,7

= 7

Produksi optimal pada Brownies Cinta dapat dilakukan 7 kali produksi per tahun.

c. Total Biaya Persediaan Optimum / TAC (EPQ) TAC = 1

2(1 −U

P) QC + (U

Q) S

= 1

2(1 −600

675) 32.171 × 2.200 + (216.000

32.171) 632.475

= 4.246.572 + 4.246.437

= 8.493.009

Total biaya persediaan yang telah dihitung dengan menggunakan metode Economic Production Quantity adalah Rp 8.493.009.

d. Maximum Inventory EPQ Imax = (1 −U

P) Q = (1 −600

675) 32.171 = 3.860,53

= 3.861

Persediaan maksimal yang dapat disediakan oleh perusahaan adalah sebesar 3.861 pcs.

PEMBAHASAN

Setelah diperoleh hasil perhitungan biaya persediaan dengan menggunakan metode konvensional perusahaan, metode EOQ dan EPQ maka selanjutnya akan dibandingkan total biaya persediaan dan perencanaan kebutuhan bahan baku yang telah diteliti. Selanjutnya hasil perhitungan dari metode EOQ dan EPQ dibandingkan untuk memperoleh hasil yang efisien.

Berikut adalah hasil perhitungan biaya persediaan dengan metode konvensional perusahaan, dengan metode EOQ dan metode EPQ:

(12)

Tabel 6. Perbandingan Kebijakan Konvensional Perusahaan, Metode Economic Order Quantity Dan Metode Economic Production Quantity

Keterangan Kebijakan

Perusahaan Metode EOQ Metode EPQ Pembelian rata-rata

bahan baku

625 kg 9.151 kg 31.171 pcs Total biaya persediaan Rp 14.807.150 Rp 9.812.035 Rp 8.493.009 Frekuensi pemesanan 40 kali 3 kali

Frekuensi produksi 7 kali

Safety Stock 626,13 kg

Re Order Point 765 kg

Persediaan Maksimal 9.777 kg 3.861 pcs

Sumber: Data PT Berkah Ridho Cinta Indonesia yang diolah, 2018

1. Dari perhitungan data di atas dapat dilihat bahwa biaya persediaan dengan metode EOQ dan EPQ lebih efisien dibandingkan dengan metode konvensional perusahaan. Jumlah pemesanan ekonomis menggunakan metode EOQ untuk bahan baku tepung terigu adalah 9.151 kg dengan 3 kali melakukan pemesanan dalam satu tahun dan menghabiskan biaya persediaan Rp 9.812.035. Total produksi optimal dengan menggunakan metode EPQ adalah 31.171 pcs dengan 7 kali melakukan produksi menghabiskan biaya persediaan Rp 8.493.009. Jika menggunakan metode konvensional perusahaan, perusahaan melakukan 40 kali pemesanan bahan baku dalam satu tahun dengan jumlah rata-rata pemesanan 625 kg setiap satu kali pemesanan dan total biaya persediaan sebesar Rp 14.807.150. Dengan demikian maka hipotesis 1 dalam penelitian ini menyatakan bahwa “Penggunaan metode Economic Order Quantity dan Economic Production Quantity dapat meningkatkan efisiensi biaya persediaan bahan baku pada Brownies Cinta”, terbukti kebenarannya.

2. Total biaya persediaan dengan menggunakan metode EPQ lebih efisien dengan jumlah produksi optimal adalah 31.171 pcs dengan 7 kali melakukan produksi menghabiskan biaya persediaan Rp 8.493.009. Jika dibandingkan dengan metode EOQ dengan jumlah pemesanan bahan baku sebanyak 9.151 kg dengan 3 kali melakukan pemesanan dalam satu tahun dan menghabiskan biaya persediaan Rp 9.812.035. Dengan demikian maka hipotesis 2 dalam penelitian ini menyatakan bahwa “Penggunaan metode Economic Production Quantity lebih efisien dibandingkan dengan metode Economic Order Quantity”, terbukti kebenarannya.

3. Brownies Cinta dalam kebijakannya belum menerapkan adanya persediaan pengaman (safety stock) dan titik pemesanan kembali (re order point), sedangkan dalam analisis dengan menggunakan metode EOQ perusahaan harus menyediakan persediaan pengaman sebesar 626,13 kg dan melakukan pemesanan kembali pada saat persediaan bahan baku berada pada tingkat 765 kg untuk memperlancar proses produksinya.

4. Adanya persediaan maksimal (maximum inventory) dalam analisis menggunakan metode EOQ dan EPQ untuk menjaga kuantitas atau jumlah persediaan yang ada agar tidak berlebihan sehingga tidak akan terjadi pemborosan modal kerja. Menurut analisis dengan metode EOQ jumlah persediaan maksimal yang dapat disediakan oleh perusahaan adalah 9.777 kg, sedangkan dengan metode EPQ jumlah persediaan maksimal yang dapat disediakan oleh perusahaan adalah 3.861 pcs.

KESIMPULAN

Biaya persediaan dengan metode EOQ dan EPQ lebih efisien dibandingkan dengan metode konvensional perusahaan, hal ini terlihat dari hasil perhitungan bahwa Brownies Cinta

(13)

menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp 14.807.150. Sedangkan perhitungan menggunakan metode EOQ untuk bahan baku tepung terigu menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp 9.812.035, dan dengan menggunakan metode EPQ menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp 8.493.009.

Total biaya persediaan dengan menggunakan metode EPQ lebih efisien dibandingkan dengan metode EOQ, hal tersebut ditunjukkan dengan total biaya persediaan menggunakan metode EPQ sebesar Rp 8.439.009 dan menggunakan metode EOQ menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp 9.812.035.

DAFTAR PUSTAKA

Assauri, Sofjan. 2011. Manajemen Produksi dan Operasi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Badruzzaman, H Farid; Erwin Harahap, Eti Kurniati dan M. Deni Johansyah. 2017. “Analisis Jumlah Produksi Kerudung Pada RAR Azkia Bandung Dengan Metode Economic Production Quantity (EPQ)” Jurnal Matematika. Vol. 16, No. 2, Desember, hlm 1-8.

Bustami, Bastian dan Nurlela. 2013. Akuntansi Biaya. Mitra Wacana Media. Jakarta.

Carter, William K. dan Milton F. Usry. 2009. Cost Accounting. Buku 1 Edisi 14 (Alih Bahasa Krista). Salemba Empat. Jakarta.

Daft, Richard L. 2012. Era Baru Manajemen. Edisi 1 (Alih bahasa oleh Edward Tanujaya dan Shirly Tiolina). Salemba Empat. Jakarta.

Heizer, Jay dan Barry Render. 2010. Manajemen Operasi, (Penerjemah Dwi Anoegrah Wati S dan Indra Almahdy). Buku 2. Edisi Kesembilan. Salemba Empat. Jakarta.

_______. 2011. Manajemen Operasi, (Penerjemah Dwi anoegrah wati S dan Indra Almahdy).

Buku 2. Edisi Kesembilan. Salemba Empat. Jakarta.

_______. 2015. Operations Management (Manajemen Operasi). Edisi 11 (Alih Bahasa Dwianoegrahwati Setyoningsih dan Indra Almahdy). Salemba Empat. Jakarta.

Herjanto, Eddy. 2015. Manajemen Operasi. Edisi Ketiga. Grasindo. Jakarta.

Madilah, Anthon J.E; Agung Sutrisno dan Jefferson Mende. 2013. “Penentuan Persediaan Bahan Baku Kopra pada PT. Salim Ivomas Pratama Tbk dengan Pendekatan EPQ (Economic Production Quantity)”. Jurnal Online Poros Teknik Mesin. Vol. 2, No. 2, Februari, hlm 1-11.

Mulyadi. 2012. Akuntansi Biaya. Edisi Kelima Cetakan Ketujuh. Akademi Manajemen Perusahaan YKPN. Yogyakarta.

Sibarani, Elisabeth, Faigiziduhu Bu’ulolo, dan Djakaria Sebayang. 2013. “Penggunaan Metode EOQ Dan EPQ Dalam Meminimumkan Biaya Persediaan Minyak Sawit Mentah (CPO)”.

Sainta Matematika. Vol. 1, No,4, Mei 2013, Pusat Penelitian University of Sumatera Utara.

Stevenson, William J dan Sum Chee Chuong. 2014. Manajemen Operasi (Penerjemah Diana Angelica). Salemba Empat. Jakarta.

Stice, James D, Earl K.Stice, K.Fred Skousen, 2011, Akuntansi Keuangan Intermediate Accounting, Edisi 16. Diterjemahkan oleh Ali Akbar, Salemba Empat, Jakarta.

Sugiri. 2013. Akuntansi Pengantar 2 Berbasis SAK ETAP. UPP STIM YKPN: Yogyakarta.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

Alfabeta. Bandung.

Sujarweni, V. Wiratna. 2015. Akuntansi Biaya.: Pustaka Baru Press. Yogyakarta.

Taufiq, Ahmad dan Achmad Slamet. 2014. “Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan Metode Economic Order Quantity (EOQ) pada Salsa Bakery Jepara”. Management Analysis Journal. Vol. 3, No. 1, Juni, hlm 1-6.

(14)

Tipika, Yulin; Marline Paendong dan Charles Mongi. 2017. “Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Bunga Krans pada Usaha Bunga Plastik dengan Menggunakan Metode Economic Order Quantity dan Metode Economic Production Quantity”. Jurnal Ilmiah Sains. Vol. 17, No. 2, Oktober, hlm 89-99.

Trihudiyatmanto, M. 2017. “Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan Menggunakan Metode Economic Order Quantity (EOQ) (Studi Empiris pada CV. Jaya Gemilang Wonosobo)”. Jurnal PKKM III. Vol. 4, No. 3, September, hlm 220-234.

Yamit, Zulian. 2011. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi ke 5. Ekonisia Fakultas Ekonomi UII. Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode perhitungan persediaan bahan baku yang diterapkan perusahaan dengan cara pembelian bahan baku, penggunaan bahan baku, biaya

Dalam penelitian ini, didapatkan jumlah pemesanan bahan baku yang optimal dan telah dibuktikan bahwa metode tersebut telah menghasilkan hasil yang optimal yaitu

Dalam penelitian ini, didapatkan jumlah pemesanan bahan baku yang optimal dan telah dibuktikan bahwa metode tersebut telah menghasilkan hasil yang optimal yaitu

Dalam penelitian ini, didapatkan jumlah pemesanan bahan baku yang optimal dan telah dibuktikan bahwa metode tersebut telah menghasilkan hasil yang optimal yaitu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode perhitungan persediaan bahan baku yang diterapkan perusahaan dengan cara pembelian bahan baku, penggunaan bahan baku, biaya

Untuk melaksanakan pengadaan bahan baku yang diperlukan dalam proses produksi, perusahaan perlu mengadakan pembelian bahan baku.prosedur dan tata cara pembelian bahan baku yang baik

Perusahaan melakukan titik permintaan ulang bahan baku karet secara berantakan dan tidak menentu jika sedangkan menggunakan metode EOQ perusahaan harus melakukan

Dengan menggunakan metode EOQ, ini bisa didapatkan berapa jumlah pemesanan persediaan bahan baku yang optimal setiap kali dilakukan pemesanan bahan baku pengemas