• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Keber adaan bank sent r al yang independen di I ndonesia mer upakan suat u pr asyar at unt uk dapat dilakukannya pengendalian monet er yang ef ekt if dan ef isien. Keinginan t er sebut dapat dilihat dar i dikeluar kannya Keput usan Pr esiden No. 23 Tahun 1998 t ent ang Pember ian W ewenang Kebij akan Monet er Kepada Bank I ndonesia ser t a I nst r uksi Pr esiden No. 14 Tahun 1998 t ent ang Pembent ukan Kepanit iaan unt uk Menyusun Rancangan Undang-undang t ent ang Kemandir ian Bank Sent r al.

Keber adaan Undang-undang No. 13 Tahun 1968 t ent ang Bank Sent r al dir asakan t elah t idak sesuai lagi dengan per kembangan yang t er j adi. Beber apa ket ent uan yang t er cant um dalam Undang-undang t er sebut t er nyat a belum cukup unt uk menj amin t er selenggar anya Bank I ndonesia yang independen. Penempat an kedudukan Bank I ndonesia sebagai pembant u Pemer int ah ser t a ket idakj elasan t uj uan dar i Bank I ndonesia menyebabkan per an Bank I ndonesia sebagai ot or it as monet er menj adi t idak j elas, yang pada akhir nya menyebabkan t anggung j awab at as suat u kebij akan yang diambil j uga t idak j elas. Disamping it u, penempat an kedudukan t er sebut membuka peluang adanya int er vensi dar i pihak luar sehingga dapat menyebabkan kebij akan yang diambil oleh Bank I ndonesia menj adi kur ang ef ekt if .

Ber kait an dengan hal t er sebut diat as, dir asakan per lu adanya suat u Undang-undang t ent ang Bank Sent r al yang dapat member ikan landasan hukum yang kuat bagi t er selenggar anya t ugas-t ugas bank sent r al secar a ef ekt if .

(2)

STATUS

BANK I NDONESI A

1.

Lembaga Negara Yang I ndependen

Dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1999 t ent ang Bank I ndonesia (UU-BI ) dir umuskan bahwa Bank I ndonesia adalah lembaga negar a yang independen, bebas dar i campur t angan Pemer int ah dan/ at au pihak-pihak lainnya kecuali unt uk hal-hal yang secar a t egas diat ur dalam Undang-undang ini (Psl 4). Sebagai lembaga independen, Bank I ndonesia memiliki ot onomi penuh dalam pelaksanaan t ugasnya. Disamping it u, unt uk lebih menj amin independensi t er sebut maka kedudukan Bank I ndonesia ber ada di luar Pemer int ah. Pencant uman st at us independen dalam undang-undang ini diper lukan unt uk member ikan dasar hukum yang kuat , menj amin kepast ian hukum dan konsist ensi st at us kelembagaan Bank I ndonesia.

Ber kait an dengan st at us sebagai lembaga independen ini, pihak lain dilar ang melakukan segala bent uk campur t angan t er hadap pelaksanaan t ugas Bank I ndonesia, dan Bank I ndonesia waj ib menolak dan/ at au mengabaikan segala bent uk campur t angan dar i pihak manapun dalam r angka pelaksanaan t ugasnya (Psl. 9).

2.

Bank I ndonesia sebagai Badan Hukum

Pasal 4 ayat (3) mer upakan dasar hukum Bank I ndonesia sebagai Badan Hukum dimana disebut kan bahwa Bank I ndonesia adalah badan hukum ber dasar kan Undang-undang ini. Penger t ian badan hukum disini meliput i badan hukum publik dan badan hukum per dat a. Dalam kedudukannya sebagai badan hukum publik, Bank I ndonesia ber wenang menet apkan per at ur an-per at ur an yang mengikat masyar akat luas sesuai dengan t ugas dan wewenangnya. Sedangkan sebagai badan hukum per dat a, Bank I ndonesia dapat ber t indak unt uk dan at as nama sendir i di dalam dan di luar pengadilan.

(3)

3.

Kedudukan Bank I ndonesia dalam St rukt ur Ket at anegaraan RI

Sebagai lembaga negar a yang independen, Bank I ndonesia mempunyai kedudukan yang khusus dalam st r ukt ur ket at anegar aan RI . Sebagai lembaga negar a, kedudukan Bank I ndonesia t idak sej aj ar dengan DPR, DPR, MA, BPK, at au Pr esiden yang mer upakan Lembaga Tinggi Negar a. Disamping it u kedudukan Bank I ndonesia j uga t idak sama dengan depar t emen kar ena kedudukan Bank I ndonesia ber ada di luar Pemer int ah. Dalam pelaksanaan t ugasnya, Bank I ndonesia mempunyai hubungan ker j a dengan DPR, BPK, ser t a Pemer int ah.

4.

Esensi dan I mplikasi dari St at us dan Kedudukan Bank I ndonesia

(4)

TUJ UAN DAN TUGAS

1. Tuj uan Bank I ndonesia

Ber beda dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968 t ent ang Bank Sent r al yang t idak mer umuskan secar a t egas mengenai t uj uan Bank I ndonesia, dalam UU-BI secar a t egas dinyat akan dalam Pasal 7 bahwa t uj uan Bank I ndonesia adalah mencapai dan memelihar a kest abilan nilai r upiah yang mer upakan single obj ect ive Bank I ndonesia. Kest abilan nilai r upiah yang dimaksud adalah kest abilan nilai r upiah t er hadap bar ang dan j asa yang t er cer min dar i per kembangan laj u inf lasi ser t a kest abilan t er hadap mat a uang negar a lain yang t er cer min pada per kembangan nilai t ukar r upiah t er hadap mat a uang negar a lain.

Per umusan t uj uan Bank I ndonesia dalam bent uk single obj ect ive ini dimaksudkan unt uk memper j elas sasar an yang akan dicapai dan bat asan t anggung j awab yang har us dipikul oleh Bank I ndonesia. Hal ini ber beda dengan t uj uan Bank I ndonesia dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968 t ent ang Bank Sent r al yang dir umuskan secar a umum yait u “meningkat kan t ar af hidup r akyat ”. Ket idakt egasan per umusan t er sebut menimbulkan implikasi ant ar a lain per an Bank I ndonesia sebagai ot or it as t idak j elas dan t idak t er f okus bahkan t imbul conf lict ing kar ena ant ar a t ugas menj aga kest abilan nilai r upiah dengan t ugas mendor ong per t umbuhan ser ingkali t idak dapat ber j alan seir ing. Disamping it u, ket idakj elasan t uj uan j uga menj adikan t anggung j awab t er hadap kebij akan yang diambil t idak j elas.

2.

Tugas Bank I ndonesia

(5)

TUGAS MENETAPKAN DAN MELAKSANAKAN

KEBI J AKAN MONETER

Unt uk mencapai t uj uan Bank I ndonesia dalam menj aga kest abilan nilai r upiah, Pasal 10 UU-BI menegaskan bahwa Bank I ndonesia memiliki kewenangan unt uk melaksanakan kebij akan monet er melalui penet apan sasar an monet er dengan memper hat ikan sasar an laj u inf lasi ser t a melakukan pengendalian monet er melalui ber bagai car a ant ar a lain :

• oper asi pasar t er buka di pasar uang baik r upiah maupun valut a asing;

• penet apan t ingkat diskont o;

• penet apan cadangan waj ib minimum;

• pengat ur an kr edit at au pembiayaan.

Car a-car a pengendalian monet er t er sebut dapat dilaksanakan j uga ber dasar kan pr insip syar iah.

Sasar an laj u inf lasi dit et apkan oleh Bank I ndonesia at as dasar t ahun kalender dengan memper hat ikan per kembangan dan pr ospek ekonomi makr o. Penet apan sasar an laj u inf lasi t er sebut t er ut ama dilakukan dengan memper t imbangkan per kembangan har ga yang secar a langsung dipengar uhi oleh kebij akan monet er . Sasar an laj u inf lasi yang dit et apkan oleh Bank I ndonesia t er sebut dapat ber beda dengan asumsi laj u inf lasi yang dibuat oleh Pemer int ah dalam r angka penyusunan Anggar an Pendapat an dan Belanj a Negar a yang didasar kan pada t ahun f iskal.

1. Peran Bank I ndonesia sebagai Lender of t he Last Resor t

(6)

Yang dimaksud dengan agunan yang ber kualit as t inggi dan mudah dicair kan meliput i sur at ber har ga dan/ at au t agihan yang dit er bit kan oleh Pemer int ah at au badan hukum lain yang mempunyai per ingkat t inggi ber dasar kan hasil penilaian lembaga pemer ingkat yang kompet en dan sewakt u-wakt u dengan mudah dicair kan. Apabila kr edit at au pembiayaan ber dasar kan pr insip syar iah t er sebut t idak dapat dilunasi pada saat j at uh t empo, Bank I ndonesia sepenuhnya ber hak mencair kan agunan yang dikuasainya.

2. Kebij akan Nilai Tukar

Pasal 12 UU-BI menet apkan bahwa Bank I ndonesia melaksanakan kebij akan nilai t ukar ber dasar kan nilai t ukar yang dit et apkan. Penet apan nilai t ukar dilakukan oleh Pemer int ah dalam bent uk Keput usan Pr esiden ber dasar kan usul Bank I ndonesia. Kewenangan Bank I ndonesia dalam melaksanakan kebij akan nilai t ukar ini ant ar a lain dapat ber upa :

• dalam sist em nilai t ukar t et ap ber upa devaluasi at au r evaluasi t er hadap mat a uang asing;

• dalam sist em nilai t ukar mengambang ber upa int er vensi pasar ;

• dalam nilai t ukar mengambang t er kendali ber upa penet apan nilai t ukar har ian ser t a lebar pit a int er vensi.

3. Kewenangan dalam Mengelola Cadangan Devisa

Dalam Pasal 13 UU-BI dir umuskan bahwa Bank I ndonesia mengelola cadangan devisa. Dalam r angka pengelolaan cadangan devisa t er sebut , Bank I ndonesia melaksanakan ber bagai j enis t r ansaksi devisa ser t a dapat mener ima pinj aman luar neger i. Yang dimaksud dengan cadangan devisa adalah cadangan devisa negar a yang dikuasai oleh Bank I ndonesia yang t er cat at pada sisi akt iva Bank I ndonesia yang ant ar a lain ber upa emas, uang ker t as asing, dan t agihan lainnya dalam valut as asing kepada pihak luar neger i yang dapat diper gunakan sebagai alat pembayar an luar neger i.

(7)

Pinj aman luar neger i yang dilakukan oleh Bank I ndonesia adalah pinj aman luar neger i at as nama dan menj adi t anggung j awab Bank I ndonesia yang semat a-mat a digunakan dalam r angka pengelolaan cadangan devisa unt uk memper kuat posisi ner aca pembayar an. Pinj aman dimaksud dapat dipant au oleh DPR melalui hasil pemer iksaan keuangan oleh BPK.

4. Penyelenggaraan Survei

(8)

TUGAS MENGATUR DAN MENJ AGA KELANCARAN

SI STEM PEMBAYARAN

Kewenangan Bank I ndonesia dalam mengat ur dan menj aga kelancar an sist em pembayar an diat ur dalam Pasal 15 sampai dengan Pasal 23 UU-BI . Dalam r angka mengat ur dan menj aga kelancar an sist em pembayar an, Bank I ndonesia ber wenang unt uk melaksanakan dan member ikan per set uj uan dan izin at as penyelenggar aan j asa sist em pembayar an, mewaj ibkan penyelenggar a j asa sist em pembayar an unt uk menyampaikan lapor an kegiat annya ser t a menet apkan penggunaan alat pembayar an.

Per set uj uan t er hadap penyelenggar aan j asa sist em pembayar an dimaksudkan agar penyelenggar aan j asa sist em pembayar an oleh pihak lain memenuhi per syar at an, khususnya per syar at an keamanan dan ef isiensi.

Kewaj iban penyampaian lapor an ber laku bagi set iap penyelenggar a j asa sist em pembayar an. Hal ini dimaksudkan agar Bank I ndonesia dapat memant au penyelenggar aan sist em pembayar an.

Penet apan alat pembayar an dimaksudkan agar alat pembayar an yang digunakan dalam masyar akat memenuhi per syar at an keamanan bagi pengguna. Ter masuk dalam wewenang ini adalah membat asi penggunaan alat pembayar an t er t ent u dalam r angka pr insip kehat i-hat ian.

Dalam r angka pelaksanaan kewenangan t er sebut di at as, Bank I ndonesia dapat melakukan pemer iksaan t er hadap penyelenggar a j asa sist em pembayar an.

1. Pengat uran dan Penyelenggaraan Kliring sert a Penyelesaian Akhir Transaksi

Bank I ndonesia ber wenang mengat ur sist em klir ing ant ar bank dalam mat a uang r upiah dan/ at au valut a asing yang meliput i sist em klir ing domest ik dan lint as negar a (Psl. 16).

(9)

dilakukan oleh Bank I ndonesia at au pihak lain yang mendapat per set uj uan dar i Bank I ndonesia (Psl. 17 j o Psl. 18).

2. Mengeluarkan dan Mengedarkan Uang

Sesuai dengan amanat UUD 1945, Bank I ndonesia mer upakan sat u-sat unya lembaga yang ber wenang unt uk mengeluar kan dan mengat ur per edar an uang r upiah (Psl. 20). Ter masuk dalam kewenangan ini adalah mencabut , menar ik ser t a memusnahkan uang ser t a menet apkan macam, har ga, cir i uang yang akan dikeluar kan, bahan yang digunakan dan penent uan t anggal mulai ber lakunya sebagai alat pembayar an yang sah (Psl. 19). Sebagai konsekuensi dar i ket ent uan t er sebut , maka Bank I ndonesia har us menj amin ket er sediaan uang di masyar akat dalam j umlah yang cukup dan dengan kualit as yang memadai.

Uang yang dikeluar kan oleh Bank I ndonesia dibebaskan dar i bea met er ai (Psl. 21). Bank I ndonesia dapat mencabut dan menar ik uang r upiah dar i per edar an dengan member ikan penggant ian dengan nilai yang sama (Psl.23). Konsekuensi dar i ket ent uan ini maka Bank I ndonesia har us member ikan kesempat an kepada masyar akat unt uk :

• melakukan penukar an uang dalam pecahan yang sama dan pecahan lainnya;

• melakukan penukar an uang yang cacat at au dianggap t idak layak unt uk diedar kan;

(10)

TUGAS MENGATUR DAN MENGAW ASI BANK

Pengat ur an dan Pengawasan Bank mer upakan salah sat u t ugas Bank I ndonesia sebagaimana dit ent ukan dalam Pasal 8 UU-BI . Dalam r angka melaksanakan t ugas ini, Bank I ndonesia menet apkan per at ur an, member ikan dan mencabut izin at as kelembagaan dan kegiat an usaha t er t ent u bank, melaksanakan pengawasan bank, ser t a mengenakan sanksi t er hadap bank (Psl. 24). Selain it u, Bank I ndonesia ber wenang menet apkan ket ent uan-ket ent uan per bankan yang memuat pr insip kehat i-hat ian (Psl. 25).

Ber kait an dengan kewenangan di bidang per izinan, Bank I ndonesia :

• member ikan dan mencabut izin usaha bank;

• member ikan izin pembukaan, penut upan dan pemindahan kant or bank;

• member ikan per set uj uan at as kepemilikan dan kepengur usan bank;

• member ikan izin kepada bank unt uk menj alankan kegiat an-kegiat an usaha t er t ent u (Psl. 26).

Pengawasan yang dilakukan oleh Bank I ndonesia meliput i pengawasan langsung dan t idak langsung (Psl. 27). Bank I ndonesia ber wenang mewaj ibkan bank unt uk menyampaikan lapor an, ket er angan, dan penj elasan sesuai dengan t at a car a yang dit et apkan oleh Bank I ndonesia, dimana hal ini dapat dilakukan t er hadap per usahaan induk, per usahaan anak, pihak t er kait dan pihak t er af iliasi dar i bank apabila diper lukan (Psl. 28).

Pemer iksaan t er hadap bank dilakukan secar a ber kala maupun set iap wakt u apabila diper lukan dan dapat dilakukan t er hadap per usahaan induk, per usahaan anak, pihak t er kait dan pihak t er af iliasi dar i bank apabila diper lukan. Bank dan pihak lain t er sebut waj ib member ikan kepada pemer iksa :

• ket er angan dan dat a yang dimint a;

(11)

• hal-hal lain yang diper lukan seper t i salinan dokumen yang diper lukan dan lain-lain (Psl. 29).

Bank I ndonesia dapat menugasi pihak lain unt uk dan at as nama Bank I ndonesia melaksanakan pemer iksaaan t er hadap bank (Psl. 30)

Bank I ndonesia dapat memer int ahkan bank unt uk menghent ikan sement ar a sebagian at au selur uh kegiat an t r ansaksi t er t ent u apabila

menur ut penilaian Bank I ndonesia t r ansaksi t er sebut diduga mer upakan t indak pidana di bidang per bankan (Psl. 31). Dalam hal keadaan suat u bank

menur ut penilaian Bank I ndonesia membahayakan kelangsungan usaha bank yang ber sangkut an dan/ at au membahayakan sist em per bankan at au t er j adi kesulit an per bankan yang membahayakan per ekonomian nasional, Bank I ndonesia dapat melakukan t indakan sebagaimana diat ur dalam undang-undang t ent ang Per bankan yang ber laku (Psl. 33).

Pengalihan Tugas Pengawasan Bank

Dalam UU-BI dit et apkan bahwa t ugas mengawasi bank akan dialihkan kepada lembaga pengawasan sekt or j asa keuangan independen yang dibent uk ber dasar kan undang-undang selambat -lambat nya 31 Desember 2002 (Psl. 34). Tugas yang dialihkan kepada lembaga ini t idak t er masuk t ugas pengat ur an bank ser t a t ugas yang ber kait an dengan per izinan.

(12)

DEW AN GUBERNUR

Dalam melaksanakan t ugasnya Bank I ndonesia dipimpin oleh Dewan Guber nur yang t er dir i dar i seor ang Guber nur , seor ang Deput i Guber nur Senior , dan sekur ang-kur angnya 4 (empat ) or ang at au sebanyak-banyaknya 7 (t uj uh) Deput i Guber nur dengan Guber nur sebagai pemimpin Dewan Guber nur (Psl 36 j o Psl. 37). Dewan Guber nur mewakili Bank I ndonesia di dalam dan di luar Pengadilan, dimana kewenangan mewakili t er sebut dilaksanakan oleh Guber nur (Psl. 39).

Guber nur dan Deput i Guber nur Senior diusulkan dan diangkat oleh Pr esiden dengan per set uj uan DPR. Sedangkan Deput i Guber nur diusulkan oleh Guber nur dan diangkat oleh Pr esiden dengan per set uj uan DPR. Unt uk dapat diangkat menj adi anggot a Dewan Guber nur har us memenuhi syar at ant ar a lain ber kewar ganegar aan I ndonesia, memiliki akhlak dan mor al yang t inggi, ser t a memiliki keahlian dan pengalaman di bidang ekonomi, keuangan, per bankan, at au hukum (Psl. 40).

Anggot a Dewan Guber nur diangkat unt uk masa j abat an selama 5 (lima) t ahun (Psl. 41). Sebelum memangu j abat annya, anggot a Dewan Guber nur waj ib mengucapkan sumpah at au j anj i di hadapan Ket ua Mahkamah Agung (Psl. 42). Anggot a Dewan Guber nur t idak dapat diber hent ikan dalam masa j abat annya kecuali kar ena yang ber sangkut an mengundur kan dir i, t er bukt i melakukan t indak pidana kej ahat an, at au ber halangan t et ap (Psl. 48)

(13)

1. Larangan Bagi Anggot a Dewan Gubernur

Ant ar a sesama anggot a Dewan Guber nur dilar ang mempunyai hubungan keluar ga sampai dengan der aj at ket iga ser t a hubungan besan. J ika set elah pengangkat an t er bukt i mempunyai hubungan at au t er j adi hubungan keluar ga yang dilar ang, maka dalam wakt u 7 (t uj uh) har i ker j a sej ak t er bukt i mempunyai at au t er j adi hubungan keluar ga t er sebut , salah sat u diant ar a mer eka har us mengudur kan dir i. Apabila salah sat u anggot a Dewan Guber nur t er sebut t idak

ber sedia mengundur kan dir i, maka Pr esiden menet apkan kedua anggot a Dewan Guber nur t er sebut unt uk ber hent i dar i j abat annya (Psl. 46).

Anggot a Dewan Guber nur baik sendir i maupun ber sama-sama dilar ang mempunyai kepent ingan langsung at au t idak langsung pada per usahaan mana pun j uga, mer angkap j abat an pada lembaga lain kecuali kar ena kedudukannya waj ib memangku j abat an t er sebut ser t a menj adi pengur us dan/ at au anggot a par t ai polit ik. Dalam hal anggot a Dewan Guber nur melakukan salah sat u at au lebih lar angan t er sebut , maka anggot a Dewan Guber nur t er sebut waj ib mengundur kan dir i dar i j abat annya (47).

2. Perlindungan Hukum Bagi Anggot a Dewan Gubernur

Anggot a Dewan Guber nur dan/ at au pej abat Bank I ndonesia t idak dapat dihukum kar ena t elah mengambil keput usan at au kebij akan yang sej alan dengan t ugas dan wewenangnya sepanj ang dilakukan dengan it ikad baik (Psl. 45).

Pengambilan keput usan dianggap dilakukan dengan it ikad baik apabila :

• dilakukan dengan maksud t idak mencar i keunt ungan bagi dir i sendir i, keluar ga, kelompoknya sendir i, dan/ at au t indakan-t indakan lain yang ber indikasikan kor upsi, kolusi dan nepot isme;

• dilakukan ber dasar kan analisis yang mendalam dan ber dampak posit if ;

• diikut i dengan r encana t indakan pr event if apabila keput usan yang diambil t er nyat a t idak t epat ;

• dilengkapi dengan sist em pemant auan.

(14)

Rapat Dewan Guber nur , sebagai suat u f or um pengambilan keput usan t er t inggi, diselenggar akan sekur ang-kur angnya sekali dalam sebulan unt uk menet apkan kebij akan umum di bidang monet er , ser t a sekur ang-kur angnya sekali dalam seminggu unt uk melakukan evaluasi at as pelaksanaan kebij akan monet er at au menet apkan kebij akan lain yang pr insipil dan st r at egis seper t i kebij akan di bidang pengat ur an dan pemelihar aan sist em

pembayar an ser t a pengat ur an dan pengawasan bank. Rapat Dewan Guber nur dinyat akan sah apabila dihadir i sekur ang-kur angnya oleh lebih dar i separ uh anggot a Dewan Guber nur .

(15)

I NDEPENDENSI BANK I NDONESI A

1.

Yuridis

UU-BI mer upakan landasan yur idis bagi independensi Bank I ndonesia dimana dalam UU-BI dimuat ber bagai elemen dar i independensi Bank I ndonesia. Elemen-elemen independensi t er sebut meliput i ant ar a lain st at us dan kedudukan, t uj uan dan t ugas ser t a manaj emen dan per sonalia Bank I ndonesia.

2.

Personalia

I ndependensi per sonalia dalam UU-BI dit unj ukan dalam hal pengangkat an anggot a Dewan Guber nur oleh Pr esiden dengan per set uj uan DPR. Per syar at an per set uj uan DPR ini pent ing unt uk menj aga independensi Bank I ndonesia dar i int er vensi Pemer int ah melalui pengangkat an anggot a Dewan Guber nur . Pengangkat an oleh Pr esiden di sini adalah dalam kapasit asnya sebagai Kepala Negar a dan bukan Kepala Pemer int ah.

Disamping it u, anggot a Dewan Guber nur t idak dapat diber hent ikan oleh Pr esiden selama masa j abat annya kecuali mengundur kan dir i, ber halangan t et ap at au melakukan t indak pidana kej ahat an.

(16)

melaksanakan f ungsi dan t ugasnya bebas dar i campur t angan pemer int ah at au pihak-pihak lainnya. Secar a st r ukt ur al, Bank I ndonesia ber ada di luar pemer int ah sehingga dapat mengeliminir adanya int er vensi t er hadap pelaksanaan t ugas Bank I ndonesia baik yang ber asal dar i pemer int ah maupun pihak lain.

Dalam r angka pelaksanaan t ugasnya, Bank I ndonesia dapat melakukan ker j a sama dengan bank sent r al lainnya, or ganisasi int er nasional, dan lembaga int er nasional ser t a dapat menj adi anggot a pada lembaga mult ilat er al, baik at as nama Bank I ndonesia maupun mewakili Pemer int ah.

4. Tuj uan

Dalam UU-BI t uj uan Bank I ndonesia dif okuskan pada menj aga kest abilan nilai r upiah yang t er cer min pada laj u inf lasi yang r endah dan kest abilan nilai t ukar . Dalam mencapai t uj uan ini, Bank I ndonesia sepenuhnya ber wenang unt uk menet apkan sasar an monet er dengan

memper hat ikan per kembangan ekonomi baik dalam neger i maupun luar neger i ser t a inst r umen yang akan digunakan.

5. Tugas

I ndependensi dalam pelaksanaan t ugas t er cer min dar i lar angan bagi pihak lain unt uk melakukan segala bent uk campur t angan t er hadap pelaksanaan t ugas Bank I ndonesia. Bank I ndonesia j uga waj ib menolak dan/ at au mengabaikan segala bent uk campur t angan dar i pihak manapun dalam r angka pelaksanaan t ugasnya.

6.

Manaj emen

Bank I ndonesia dipimpin oleh Dewan Guber nur yang sepenuhnya ber wenang dalam menj alankan or ganisasi Bank I ndonesia dalam r angka mencapai t uj uan yang t elah dit et apkan oleh UU-BI .

7.

Anggaran

(17)

anggar an ser t a kepada Pemer int ah sebagai bahan inf or masi ber kait an dengan sur plus at au def isit anggar an Bank I ndonesia.

8.

Transparansi

Sebagai konsekuensi dar i independensi yang dimilikinya, maka dalam pelaksanaan t ugasnya Bank I ndonesia dit unt ut unt uk lebih t r anspar an dan ber t anggung j awab. Tr anspar ansi dan akunt abilit as ini diwuj udkan dalam per t anggungj awaban kepada publik dimana Bank I ndonesia waj ib menyampaikan inf or masi kepada masyar akat secar a t er buka. Bank I ndonesia j uga waj ib mengumumkan lapor an keuangan t ahunan kepada publik melalui media massa.

AKUNTABI LI TAS

Dalam UU-BI dianut per t anggungj awaban publik, dimana pada set iap awal t ahun anggar an Bank I ndonesia waj ib menyampaikan inf or masi kepada masyar akat secar a t er buka melalui media masa mengenai evaluasi pelaksanaan kebij akan monet er t ahun sebelumnya dan r encana kebij akan monet er t ahun yang akan dat ang. I nf or masi t er sebut j uga disampaikan kepada Pr esiden dan Dewan Per wakilan Rakyat .

Disamping it u, set iap 3 (t iga) bulan Bank I ndonesia waj ib menyampaikan lapor an per kembangan pelaksanaan t ugas dan wewenangnya kepada Dewan Per wakilan Rakyat . Apabila diper lukan, Dewan Per wakilan Rakyat dapat memint a Bank I ndonesia unt uk member ikan penj elasan mengenai pelaksanaan t ugas dan wewenangnya (Psl. 58).

(18)

massa (Psl. 61).

HUBUNGAN DENGAN PEMERI NTAH

Tidak ber beda dengan UU Nomor 13 Tahun 1968 t ent ang Bank Sent r al, ber dasar kan UU-BI Bank I ndonesia j uga ber t indak sebagai pemegang kas pemer int ah (Psl. 52). Disamping it u, at as per mint aan Pemer int ah, Bank I ndonesia unt uk dan at as nama Pemer int ah dapat mener ima pinj aman luar neger i, menat ausahakan, ser t a menyelesaikan t agihan dan kewaj iban keuangan Pemer int ah t er hadap pihak luar neger i (Psl. 53).

Pemer int ah waj ib memint a pendapat dan/ at au mengundang Bank I ndonesia dalam sidang kabinet yang membahas mengenai masalah ekonomi, per bankan dan keuangan yang ber kait an dengan t ugas Bank I ndonesia. Bank I ndonesia j uga dapat member ikan pendapat dan per t imbangan kepada Pemer int ah mengenai Rancangan Anggar an Pendapat an dan Belanj a Negar a ser t a kebij akan lain yang ber kait an dengan t ugas dan wewenang Bank I ndonesia (Psl. 54).

(19)

unt uk dir i sendir i sur at ut ang negar a t er sebut di pasar pr imer dan hanya dapat membeli di pasar sekunder yang semat a-mat a hanya unt uk t uj uan pelaksanaan kebij akan monet er (Psl. 55).

Salah sat u per ubahan yang pent ing dalam UU-BI adalah lar angan pember ian kr edit kepada Pemer int ah. Selama ini pember ian kr edit kepada Pemer int ah dit uj ukan unt uk memper kuat kas negar a dalam mengat asi def isit spending. Dalam UU-BI secar a t egas dinyat akan bahwa Bank I ndonesia dilar ang member ikan kr edit kepada Pemer int ah kar ena dianggap dapat mengganggu keut uhan konsep independensi Bank I ndonesia (Psl. 56).

W alaupun Bank I ndonesia mer upakan lembaga yang independen, namun koor dinasi dengan Pemer int ah yang ber sif at konsult at if t et ap diper lukan. Pemer int ah yang diwakili seor ang Ment er i at au lebih dapat menghadir i Rapat Dewan Guber nur dengan hak bicar a t anpa hak suar a (Psl. 43 ayat (1)

Hubungan dengan Pemer int ah j uga nampak dalam pembagian sur plus dar i hasil kegiat an Bank I ndonesia. Sisa sur plus Bank I ndonesia set elah dikur angi 30% unt uk cadangan t uj uan dan 10% unt uk cadangan umum diser ahkan kepada Pemer int ah dengan ket ent uan t er lebih dahulu har us

digunakan unt uk membayar kewaj iban Pemer int ah kepada Bank I ndonesia (Psl. 62).

KETENTUAN HUKUM

1. Produk Hukum

Salah sat u yang menonj ol dalam UU-BI adalah ket ent uan pelaksanaannya diat ur dalam Per at ur an Bank I ndonesia yang mengat ur dan mengikat publik ser t a Per at ur an Dewan Guber nur yang mengat ur dan mengikat ke dalam Bank I ndonesia. Penet apan Per at ur an Bank I ndonesia dan Per at ur an Dewan Guber nur mer upakan bent uk independensi dalam pembuat an per at ur an yang ber kait an dengan pelaksanaan t ugas Bank I ndonesia. Dengan demikian maka dapat dieliminir int er vensi dar i Pemer int ah at au pihak lain melalui per at ur an per undang-undangan.

2. Ket ent uan Pidana dan Sanksi Administ rat if

(20)

t angan t er hadap pelaksanaan t ugas Bank I ndonesia, pelanggar an kewaj iban unt uk menolak campur t angan, pelanggar an at as kewaj iban member ikan ket er angan dan dat a yang diper lukan, pelanggar an at as lar angan membeli sur at ber har ga di pasar pr imer , ser t a pelanggar an at as r ahasia j abat an.

Pelanggar an t er hadap ket ent uan kewaj iban penggunaan Rupiah sebagai alat pembayar an di wilayah RI diancam dengan pidana kur ungan sekur ang-kur angnya 1 bulan dan paling lama 3 bulan ser t a denda sekur ang-kur angnya Rp. 2 j ut a dan paling banyak Rp. 6 j ut a (Psl. 65). Set iap or ang at au badan yang menolak r upiah sebagai alat pembayar an di wilayah RI diancam pidana penj ar a sekur ang-kur angnya 1 t ahun dan paling lama 3 t ahun ser t a denda sekur ang-kur angnya Rp. 1 miliar dan paling banyak Rp. 3 miliar (Psl. 66).

Pelanggar an t er hadap lar angan unt uk melakukan campur t angan t er hadap pelaksanaan t ugas Bank I ndonesia diancam pidana penj ar a sekur ang-kur angnya 2 t ahun dan paling lama 5 t ahun ser t a denda sekur ang-kur angnya Rp. 2 miliar dan paling banyak Rp. 5 miliar (Psl. 67). Anggot a Dewan Guber nur dan/ at au pej abat Bank I ndonesia yang t idak menolak adanya campur t angan pihak lain diancam dengan pidana penj ar a 2

t ahun dan paling lama 5 t ahun ser t a denda sekur ang-kur angnya Rp.2 miliar dan paling banyak Rp. 5 miliar (Psl. 68).

Badan yang t idak memenuhi kewaj iban unt uk member ikan ket er angan dan/ at au dat a yang diper lukan dalam kegiat an sur vei diancam pidana denda paling banyak Rp. 50 j ut a (Psl. 69).

Pelanggar an t er hadap lar angan pembelian sur at ut ang negar a di pasar pr imer diancam dengan pidana penj ar a penj ar a 1 t ahun dan paling lama 3 t ahun ser t a denda sekur ang-kur angnya Rp. 6 miliar dan paling banyak Rp. 15 miliar (Psl. 70).

(21)

Disamping ket ent uan pidana, Dewan Guber nur dapat menet apkan sanksi administ r at if kepada pegawai Bank I ndonesia ser t a pihak lain yang t idak memenuhi kewaj iban yang dit ent ukan UU-BI . Bent uk sanksi administ r at if t er sebut dapat ber upa denda, t egur an t er t ulis, pencabut an at au pembat alan izin usaha ser t a sanksi disiplin pegawai (Psl. 72).

LAI N- LAI N

1. Pengalihan Kredit Program

Sesuai dengan konsep yang dianut dalam UU-BI dimana suat u bank sent r al yang independen har us mempunyai t ugas yang f okus yait u memelihar a kest abilan nilai r upiah, maka t ugas pengadaan kr edit pr ogr am yang selama ini dilakukan oleh Bank I ndonesia akan dialihkan kepada BUMN yang dit unj uk Pemer int ah dalam j angka wakt u 6 bulan sej ak ber lakunya UU-BI . BUMN t er sebut mengelola hasil angsur an dan/ at au pelunasan pokok dan bunga kr edit likuidit as sampai dengan ber akhir nya j angka wakt u kr edit likuidit as t er sebut . Subsidi bunga kr edit likuidit as yang selama ini menj adi beban Bank I ndonesia menj adi beban Pemer int ah (Psl. 74).

(22)

dalam pelaksanaan t ugasnya Bank I ndonesia lebih menf okuskan pada t uj uan yang har us dicapai, dalam UU-BI dit et apkan mengenai pembat asan penyer t aan modal hanya pada badan hukum at au badan lainnya yang sangat diper lukan dalam pelaksanaan t ugas Bank I ndonesia seper t i lembaga klir ing, badan pemer ingkat dan lembaga penj amin simpanan. Kegiat an penyer t aan modal pada badan hukum at au badan lainnya ini har us mendapat per set uj uan dar i Dewan Per wakilan Rakyat . Dana yang digunakan unt uk penyer t aan ini hanya dapat diambil dar i cadangan t uj uan (Psl. 64).

3. Ket ent uan Divest asi

Referensi

Dokumen terkait

t ersebut di at as mengat ur ket ent uan yang bersif at subst ant if yang menj adi dasar bagi pengat uran dal am perat uran perundang-undang di bidang Hak At as

( 2) Per at ur an penyelenggar aan pr ogr am gelar ganda diat ur t ersendiri dengan keput usan

PERUSAHAAN harus membangun dan memelihara j aringan j alan di areal kerj anya sesuai dengan ket ent uan-ket ent uan t ent ang pembuat an j alan angkut an sert a sesuai dengan

Nam un sebenar nya cikal bakal cr edit bur eau sudah ada di I ndonesia, yait u dengan diim plem ent asikannya Sist em I nfor m asi Kr edit ( SI K) pada t ahun 1975. Sist em

Kedua SKPD pelak sana APBD baik di t ingk at pr ov insi m aupun k abupat en/ k ot a m eny at ak an bahw a berdasark an pengam at an dalam dua t ahun t er akhir per sent ase

Jaw ab : Dengan diberlakukannya Surat Edaran ini, t erdapat perubahan pokok ket ent uan t ransaksi Repurchase Agreement dengan Bank Indonesia, yait u : - Surat Berharga

Bagi Lembaga Pemerint ah yang mel aksanakan ket ent uan t ent ang hari dan j am kerj a sebagaimana diat ur dal am Keput usan Presiden ini t idak berl aku ket ent uan

bahwa unt uk it u perlu adanya pedoman yang mengat ur ket ent uan t ent ang keselamat an dan kesehat an kerj a ruang t erbat as/ conf ined spaces dan pet ugas keselamat an dan