• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS

2.1. Conceptual Framework

Mengacu kepada isu bisnis yang telah dijelaskan sebelumnya, pemikiran awal thesis ini adalah adanya permasalahan bagaimana meningkatkan revenue dan growth (performance) anggota Konsorsium. Anggota Konsorsium merasa bahwa revenue mereka mulai terancam karena meningkatnya persaingan dalam bisnis penyediaan layanan internet. Mereka berusaha untuk dapat bertahan pada masa yang akan datang.

Performance

Regulation Competition

Technology

Gambar 2.1. Conceptual Framework

Selanjutnya beberapa faktor yang dianggap sangat berkaitan dengan pemikiran utama ialah mengenai persaingan, regulasi dan teknologi.

Persaingan bisnis saat ini sangat ketat dan tidak dapat dihindari. Bandung adalah satu kota di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk cukup padat sangat cocok sebagai lahan bisnis penyediaan layanan internet. Beberapa operator telekomunikasi tengah membidik pasar yang potensial ini. Mereka mengembangkan bisnisnya dari yang semula sebagai operator telekomunikasi menjadi penyedia jasa

(2)

internet dengan menggunakan infrastruktur yang telah dimilikinya. Pengembangan bisnis perlu mempertimbangkan peta persaingan tersebut.

Pengembangan bisnis ISP juga perlu untuk memperhatikan regulasi sebagai aspek legal, satu aspek yang risikonya hanya bisa diterima/tidak dapat dihindari. Bisnis harus patuh pada hukum atau undang-undang yang berlaku. Oleh karena itu terkait dengan pengembangan bisnis yang dilakukan Konsorsium PIB, thesis ini akan membahas juga mengenai regulasi.

Bisnis penyedia layanan internet sangat berkaitan dengan teknologi jaringan yang dipergunakan, baik dari sisi Last Mile, Backbone, maupun ISP. Dalam thesis ini yang akan kita bahas ialah teknologi yang dipergunakan oleh ISP. Pemilihan teknologi diasumsikan menjadi point utama untuk sustainability ISP dan hal ini akan dibuktikan pada pembahasan-pembahasan mengenai teknologi yang dipergunakan ISP.

2.2. Analisis Situasi Bisnis

2.2.1. Situasi Kompetisi

Situasi kompetisi dianalisis menggunakan model Industry five forces (Wheelen, 2006) yaitu kekuatan para pelaku bisnis, pemain baru dan hambatan untuk memasuki bisnis yang sama, kekuatan pembeli, kekuatan supplier, dan produk pengganti.

2.2.1.1. Para Pelaku Bisnis ISP

Para pelaku bisnis ISP di Bandung yang dianggap memiliki kekuatan yang besar diantaranya adalah PT. Telkom dengan brand Speedy, PT. Lintasarta, PT.

Quasar, dan PT. Bakrie Telekom dengan brand WiMode. PT. Telkom menggunakan teknologi ADSL, Lintasarta menggunakan teknologi Fiber Optic, dan PT. Quasar menggunakan teknologi Wireless.

Para pelaku bisnis ISP lainnya dianggap memiliki kekuatan yang sama dengan ISP-ISP anggota Konsorsium berjumlah sekitar 21 ISP. Mereka secara garis besar mengadopsi teknologi yang sama yaitu wireless, kecuali dalam beberapa kasus khusus, tergantung kebutuhan pelanggan, mereka menggunakan teknologi cable dan VSAT.

(3)

2.2.1.2. Pemain Baru

Pemain-pemain baru bisnis ISP yaitu: PT. PLN dengan brand Icon+ dan First Media. PT. PLN menggunakan Fiber Optic technology sedangkan First Media menggunakan teknologi satelit.

PT. PLN memiliki kekuatan dari sumber-daya yang telah dimilikinya yaitu kantor-kantor cabang yang terdapat di seluruh Indonesia, serta infrastruktur yang mendukung penambahan infrastruktur FO. Icon+ memiliki target customer yaitu Multinational Companies, Enterprise, SMB (Small Medium Business) or Dotcom Companies, dan Banks.

First Media juga sangat patut untuk dipertimbangkan karena tariff bulanan layanan internetnya lebih murah dari pada para ISP lainnya serta kualitas layanannya tinggi (Bandwith 384 kbps). First Media menggunakan teknologi satellite (-dan TV cable). Namun yang menjadi penghalang bagi masyarakat adalah biaya start-up nya masih cukup tinggi.

2.2.1.3. Kekuatan Pembeli

Semakin banyaknya para penjual layanan internet, kekuatan pembeli semakin besar untuk memilih layanan dengan kualitas dan kuantitas yang diinginkan. Sebagai contoh adalah warnet yang sudah biasa menjadi pelanggan suatu ISP tiba-tiba beralih menjadi pengguna ISP lain karena tawaran harga yang lebih murah, meski kualitasnya belum tentu lebih baik.

Pembeli/pelanggan juga ada yang bertahan untuk menjadi pelanggan ISP karena ISP tersebut menaikan level layanannya agar tidak kehilanggan pelanggan. Dengan demikian pelanggan memiliki kemampuan untuk menawar service yang lebih baik kepada ISP-nya karena diluar ISP tersebut masih banyak ISP lain dengan service berbeda.

2.2.1.4. Kekuatan Supplier

Vendor perangkat wireless networking (Wi-Fi) bertambah banyak, diantara sekian banyak supplier tersebut hanya ada satu hingga dua supplier yang memiliki produk lebih unggul dari pada yang lainnya. Meskipun demikian price yang ditawarkan masih dapat dijangkau oleh para pelaku bisnis ISP.

Selain perangkat, para ISP juga memiliki beban yaitu sewa Bandwith kepada Network Access Provider (NAP). Biasanya kapasitas minimal Bandwith yang disewa

(4)

adalah sekitar 1 MBPS dan biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan tersebut setiap tahunnya sekitar 20 – 25 juta rupiah. Dengan adanya satu reseller NAP sebagai anggota Konsorsium, kebutuhan Bandwith dapat dipenuhi dengan harga yang relative lebih murah.

Vendor perangkat BWA dalam hal ini vendor perangkat WiMAX juga banyak dan masing-masing menawarkan kualitas yang sangat bagus. Banyaknya vendor perangkat BWA menyebabkan Konsorsium dapat mencari perangkat WiMAX atau Wi- Fi yang sesuai baik dari segi feature, kualitas maupun harga.

2.2.1.5. Kekuatan Produk Pengganti

Produk-produk pengganti layanan internet ISP dari segi pencarian informasi adalah seperti Koran, TV, Radio, dan media massa lainnya. Dari segi komunikasi, dengan internet orang bisa memakai email, jika tidak dengan internet maka surat dan layanan expedisi adalah penggantinya. Namun internet menjadi lebih unggul dari pada media informasi lainnya karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa dengan internet, banyak hal dapat dikerjakan.

Layanan internet di perkantoran, bagi orang-orang yang bekerja bisa juga dikatakan sebagai service pengganti layanan internet ISP, atau warnet-warnet di kota Bandung yang jumlahnya lebih dari 100 warnet merupakan suatu alternative termudah bagi masyarakat untuk mengakses internet. Dengan Rp 3.000,- s/d Rp. 5.000,- saja kita bisa mengakses internet di warnet meski dengan Bandwith 64kbps yang dishare.

Pada umumnya pengguna internet tidak cukup hanya menggunakan selama satu jam saja untuk memperoleh informasi, dan mungkin dilakukannya selama beberapa hari, sehingga apabila diakumulasikan jumlah dana yang harus dibayarkan ke warnet selama satu bulan itu cukup untuk membayar biaya langganan ke ISP.

2.2.2. Situasi Teknologi

Pada Lampiran A dibahas mengenai teknologi internet dan internet value network sehingga pada bagian ini akan langsung membahas mengenai teknologi Last Mile yaitu masalah teknologi yang diperuntukkan sebagai penghubung antara customers/clients kepada ISP (Afuah, 2003). Untuk ISP ke client, terdapat beberapa teknologi yang mampu untuk melayani kebutuhan internet pelanggan yaitu DSL, Television Cable, FO, VSAT, PLC dan BWA (3G, Wi-Fi, dan WiMAX).

(5)

Meskipun bisnis ISP berbeda dengan teknologi Last Mile, namun teknologi Last Mile sangat berkaitan dengan teknologi ISP. Pemilihan teknologi Last Mile menjadi suatu strategi penting bagi ISP demi keberlanjutan dan daya tahan bisnisnya. Bisa dibayangkan bila ISP hanya menggunakan satu teknologi Last Mile yang cepat sekali waktu mature-nya (sudah dapat digantikan oleh teknologi Last Mile lainnya). Otomatis hal tersebut menurunkan performansi bisnis ISP tersebut.

Konsorsium sebenarnya focus kepada teknologi BWA seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun teknologi Last Mile lainnya patut diketahui dengan baik agar dapat memperoleh gambaran perkembangan teknologi untuk bisnis ISP.

Pembahasannya teknologi selain BWA dilakukan pada lampiran B dokumen proyek akhir ini. Selanjutnya akan kita bahas teknologi Last Mile yang telah disebutkan sebelumnya sehingga dapat menambah pemahaman situasi teknologi secara lengkap.

2.2.2.1. Broadband Wireless Access Technology – Wi-Fi

Wi-Fi adalah nama umum untuk technology wireless popular yang dipergunakan dalam jaringan rumah, telepon bergerak, video games, dll. Wi-Fi disupport oleh operating system hampir semua komputer dan game console.

Jangkauan Wi-Fi biasanya mencapai 100 m dengan Bandwith 54 Mbps.

Frekwensi yang dimanfaatkan untuk teknologi Wi-Fi adalah 2.4 GHz (unlisence).

Institute of Electrical and Electronics Engineering (IEEE) menetapkan standard bagi Wireless LAN (WLAN) dan dua diantaranya telah diimplementasikan secara umum pada Wi-Fi yaitu 802.11b dan 802.11g (Wikipedia, 2008). Berikut adalah table perbandingan di antara kedua standard tersebut:

Tabel. 2.1 Standard 802.11b dan g.

Standard Release Date Op. Frequency Data Rate (Type)

Data Rate (Max)

Range (Indoor) 802.11b October 1999 2.4 GHz 4.5 Mbit/s 11 Mbit/s ~35 m 802.11g June 2003 2.4 GHz 23 Mbit/s 54 Mbit/s ~35 m

(6)

Gambar. 2.2. Implementasi Wi-Fi 1

Perangkat Wi-Fi bisa bertindak sebagai router (perangkat broadcaster untuk high speed internet access) secara wireless dan sebuah komputer yang hendak mengakses internet melaluinya perlu memiliki wireless network adapter. Laptop keluaran terkini biasanya telah dilengkapi dengan fasilitas WLAN (Wi-Fi) sehingga tidak perlu menambahkan perlengkapan lain.

Wireless network Technology pada umumnya memiliki kemiripan dari arsitekturnya, hanya sedikit kelebihan-kelebihan yang dimilikinya membuatnya dibedakan dari teknologi wireless network yang lainnya. Misalnya saja system Canopy yang dikenalkan oleh Motorola memiliki keunggulan pada kekuatan sinyalnya sehingga menjangkau jarak yang cukup jauh dan kemampuan menghindari interferensi dari perangkat wireless network berfrekwensi sama. Namun sebenarnya Canopy dapat digolongkan ke dalam Wi-Fi, karena mobilitasnya rendah dan menggunakan frekwensi 2.4 GHz.

Istilah Line of Sight (LOS) dan Non line of Sight (NLOS) berlaku pada perangkat wireless network. Line of Sight berarti perangkat transceiver sinyal memerlukan arah yang tepat berhadapan dengan perangkat transceiver lain agar keduanya dapat berfungsi sebagai perangkat komunikasi. Jika terhalangi oleh sesuatu, misalnya saja pohon, maka komunikasi menjadi terganggu. NLOS berarti meskipun

1 Source: www.geeksquad.com

(7)

terdapat penghalang di antara dua transceiver, maka tidak akan mengganggu komunikasi data. Jadi Wi-Fi (Canopy) memiliki type yang LOS maupun NLOS.

Gambar. 2.3 Canopy System 2

Pada gambar di atas tampak bahwa untuk berhubungan dengan internet, seorang pelanggan perlu memiliki sebuah komputer dan Subscriber Module (SM). Subscriber Modul berkomunikasi dengan Access Point (AP). Access Point ke ISP menggunakan suatu Backhaul (Point to Point Module). Jadi tidak bisa menggunakan wireless network adapter lagi, karena jarak user dengan AP bisa sangat jauh (lebih dari 100 m).

2.2.2.2. Broadband Wireless Access Technology – WiMAX

World wide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) menggunakan standard 802.16. Varian dari standard ini adalah 802.16, 802.16d untuk desktop dan 802.16e untuk mobile (Wikipedia, 2008). Standard 802.16 memiliki kondisi channel Line of Sight (antenna tidak boleh terhalangi oleh object lain), sedangkan 802.16d dan 802.16e memiliki kondisi channel Non Line of Sight (NLOS). Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat table berikut.

2 source: www.motorola.com, (Motorola, 2008)

(8)

Tabel. 2.2 Perbandingan Perkembangan Teknologi Wireless.

802.16 802.16d 802.16e

Completed Dec 2001 Mid ‘04 Mid ‘05

Spectrum 10 – 66 GHz 2 – 11 GHz < 6 GHz

Channel Conditions Line of Sight only Non-line of Sight Non-line of Sight Bit Rate 32 – 134 Mbps in 28

MHz

Up to 75 Mbps in 20 MHz

Up to 15 Mbps in 5 MHz

Modulation QPSK, 16QAM, 64

QAM

OFDM 256

subcarriers, QPSK, 16 QAM, 64 QAM

OFDM 256

subcarriers, QPSK, 16 QAM, 64 QAM

Mobility Fixed Fixed, Portable Nomadic Portability

Channel Bandwiths 20, 25, 28 MHz 1.5 – 20 MHz Same as 802.16a with uplink subchannels Typical Cell Radius 2 – 5 KM 7 – 10 KM 2 – 5 KM

Tabel. 2.3 Perbandingan Perkembangan Teknologi Wireless.

Wi-Fi 802.11g

WiMAX 802.16

WiMAX 802.16e

CDMA2000 1x EV-DO

WCDMA/UMTS

Approximate max reach (dependent on many faktors)

100 m 8 km 5 km 12 km 12 km

Maximum Throughput 54 Mbps 75 Mbps (20 MHz band)

30 Mbps (10 MHz band)

2.4 Mbps (higher for EV-DV)

2 Mbps (10+

Mbps for HSDPA) Typical Frequency

bands

2.4 GHz 2 – 11 GHz 2 – 6 GHz 400, 800, 900, 1700, 1800, 1900, 2100 MHz

1800, 1900, 2100 MHz

Availability Now Ratified in

June 2004

2005 Now Now

Application Wireless LAN

Fixed Wireless Broadband (eq DSL alternative)

Portable Wireless Broadband

Mobile Wireless Broadband

Mobile Wireless Broadband

Tabel 2.3. di atas tidak hanya menampilkan standard 802.16, namun juga standard Wi-Fi, CDMA dan Wireless CDMA. Standard teknologi yang lain tersebut ditampilkan karena Gunawan Wibisono dalam bukunya WiMAX: Teknologi Broadband Wireless Access Kini dan Masa Depan menjelaskan bahwa yang dianggap

(9)

sebagai pesaing bagi WiMAX adalah teknologi wireless seperti General Packet Radio System (GPRS), Enhance Data Rate for Global Evolution (EDGE), Wideband Code Division Multiple Access (WCDMA), dan High Speed Downlink Packet Access (HSDPA). Masing-masing evolusi teknologi tersebut mengarah pada kemampuan menyediakan berbagai layanan baru, atau mengarah pada layanan yang mampu menyalurkan sekaligus voice, video, dan data (triple play).

WiMAX Wi-Fi

HSPA

UMTS GSM MOBILITY

SPEED

Gambar. 2.4 Persaingan Teknologi Wireless Network 3

Meskipun tabel sebelumnya telah menampilkan perbandingan antara WiMAX dengan teknologi wireless broadband lainnya, gambar 2.4 yang diperoleh dari wikipedia (2008) menambah kejelasan posisi teknologi WiMAX dalam industri BWA.

Dari gambar tersebut dapat kita amati bahwa WiMAX memiliki sifat mobility dan speed yang cukup tinggi.

Berikutnya ditampilkan contoh implementasi jaringan WiMAX yang melayani banyak pelanggan. Sangat jelas terlihat peran WiMAX sebagai teknologi Last Mile, yaitu teknologi yang menjadi penghubung antara ISP dengan pelanggan. Kapasitas Bandwith yang dimiliki WiMAX merupakan potensi besar dalam mewujudkan bisnis ISP.

3 source: wikipedia (2008)

(10)

Gambar. 2.5. Jaringan WiMAX 4

Teknologi WiMAX belum dimanfaatkan untuk bisnis penyedia layanan internet karena masalah frekwensi yang boleh dipergunakan waktu itu masih belum jelas (Magdalena, 2007). Saat ini regulasi penggunaan frekwensi atau perangkat BWA 2.3 GHz telah dikeluarkan, sehingga dalam waktu dekat kemungkinan besar WiMAX dengan frekwensi 2.3 GHz akan terimplementasikan.

2.2.2.3. 3G

3G adalah teknologi hasil perkembangan dari cellular broadband yang mampu mentransfer data dengan kecepatan tinggi lebih dari 1 Mbps dengan menggunakan teknologi EVDO, HSDPA dan UMTS.

Ketiga teknologi tersebut mampu memberikan akses internet broadband, dengan atau tanpa telepon selular karena saat ini telah ada Cardbus dan USB sebagai router pada cellular broadband yang mengizinkan beberapa computer untuk mengakses internet melalui satu telepon selular. Berikut adalah keuntungan dan kerugian dari 3 G.5

4 Diambil dari www.winncom.com, (Wincom White Papers, 2006)

5 Diambil dari http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Broadband_Internet&redirect=no

(11)

Tabel. 2.4 Advantages and Disadvantages of 3G(Wikipedia, 2008)

Advantages Disadvantages a. The only broadband connection available on

many cell phones and PDA's

b. Mobile wireless connection to the Internet c. Available in all metropolitan areas, most

large cities, and along major highways. (See a map)

d. No need to aim an antenna in most cases e. The antenna is extremely small compared to a

satellite dish

f. Low latency compared to satellite Internet g. Higher availability than Wi-Fi "Hot Spots"

h. A traveler who already has cellular broadband will not need to pay different Wi- Fi Hot Spot providers for access.

a. Unreliable: drop-outs are common during travel and during inclement weather b. Not truly nationwide service

c. Speed varies widely throughout the day, sometimes falling well below the 400 kbit/s target during peak times

d. Asymmetric service: the upload rate is always much slower than the download rate.

e. High latency compared to DSL and Cable broadband services.

f. Often more costly compared to other methods

2.2.2.4. Trend Implementasi Teknologi BWA

Gambar. 2.6. Arah Implementasi Teknologi Wireless Network BWA 6

Trend teknologi wireless network BWA menuju ke mobility network access.

Pada awalnya pengguna BWA memerlukan outdoor antenna untuk bisa melakukan komunikasi/akses internet, setelah itu tercipta indoor antenna yang bisa dihubungkan dengan mudah dengan desktop komputer. Berikutnya adalah portable antenna yang bisa diplug-in ke laptop atau tidak perlu plug-in, cukup didekatkan saja karena koneksi

6 Source : Alvarion

Outdoor

Portable Indoor

Mobile

Periode 2

Periode 1 Periode 3 Periode 4

(12)

dengan laptop/komputer bisa melalui teknologi Bluetooth (Teknologi wireless jarak pendek, menggunakan frekwensi 1.5 GHz)

2.2.2.5. Teknologi dalam Struktur Industri Service Komunikasi

Industry Structures

Service Provider Long Distance

(Network Provider)

Local Provider

(Access Network+

Services)

Mobile Fixed

National Transport/ Backbone (Network Provider) Regional/ Island Transport

(Network Provider) Wire-line

Wireless

Teresterial Satellite

International Vo-IP Internet

9Microwave Link 9Fiber Optic 9Satellite 9Sea Cable 9PLN network 9RAILWAY network 9Copper (PSTN Telkom) 9FO (ADSL)

9GSM (Tsel,Indosat,XL com) 9CDMA (Mobile8)

9CDMA (Flexi, Esia, Star One)

9ACeS

BWA FO DSL PLC

Cable TV Satellite

WiFi

WiMAX 3G

Industry Structures

Service Provider Long Distance

(Network Provider)

Local Provider

(Access Network+

Services)

Mobile Fixed

National Transport/ Backbone (Network Provider) Regional/ Island Transport

(Network Provider) Wire-line

Wireless

Teresterial Satellite

International Vo-IP Internet

9Microwave Link 9Fiber Optic 9Satellite 9Sea Cable 9PLN network 9RAILWAY network 9Copper (PSTN Telkom) 9FO (ADSL)

9GSM (Tsel,Indosat,XL com) 9CDMA (Mobile8)

9CDMA (Flexi, Esia, Star One)

9ACeS

BWA FO DSL PLC

Cable TV Satellite

WiFi

WiMAX 3G

Gambar. 2.7. Struktur Industri Service Komunikasi 7

Mudrik Alaydrus dalam presentasinya Telecommunication Business menjelaskan tentang struktur industri service komunikasi, industri tersebut terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu local provider, long distance dan service provider.

Service provider juga terbagi tiga yaitu international, Vo-IP, dan Internet. Untuk internet service provider, teknologi yang dipergunakan adalah satellite, power line communication, broadband wireless access (Wi-Fi atau WiMAX), fiber optic, digital subscriber line, dan Cable TV.

7 Dimodifikasi dari Telecommunication Business, Mudrik Alaydrus, 2007

(13)

2.2.3. Situasi Regulasi

2.2.3.1. Regulasi Frekwensi

Penggunaan frekwensi diatur dengan Undang-undang, Peraturan Pemerintah Keputusan Menteri dan Keputusan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel). Berikut adalah daftar peraturan-peraturan yang mengaturnya:

1. Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi

2. PP NO. 53 TAHUN 2000 Tentang Penggunaan Spektrum Frekwensi Radio Dan Orbit Satelit

3. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2005 Tentang Tariff Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Komunikasi Dan Informatika

4. Keputusan Menteri No. 5 TAHUN 2001 Tentang Penyempurnaan Tabel Alokasi Spektrum Frekwensi Radio Indonesia.

Selain peraturan-peraturan dan undang-undang di atas, Menteri Kominfo membuat: Rancangan Peraturan Menteri Kominfo Tentang Penggunaan Pita Frekwensi Radio Untuk Keperluan Layanan Akses Pita Lebar Berbasis Nirkabel (Broadband wireless access). Rancangan tersebut adalah sebagai tanggapan atas perkembangan teknologi BWA di Indonesia (Menkominfo, 2007).

Di dalam rancangan peraturan menteri tersebut disebutkan bahwa pemerintah menetapkan penggunaan pita frekwensi radio untuk keperluan BWA pada pita frekwensi radio 300 MHz, 1.5 GHz, 2 GHz, 2.5 GHz, 3.3 GHz, 5.8 GHz dan 10.5 GHz.

Pasal 3 ayat 1 menjelaskan rentang frekwensi BWA untuk masing-masing pita frekwensi tersebut sebagai berikut:

a. Pita frekwensi radio 300 MHz memiliki rentang frekwensi 287 - 294 MHz dan 310 - 324 MHz, moda TDD;

b. Pita frekwensi radio 1.5 GHz memiliki rentang frekwensi 1428 - 1452 MHz dan 1498 - 1522 MHz, moda TDD;

c. Pita frekwensi radio 2 GHz memiliki rentang frekwensi 2053 - 2083 MHz, moda TDD;

d. Pita frekwensi radio 2.5 GHz memiliki rentang frekwensi 2500 - 2520 MHz dan 2670 - 2690 MHz, moda TDD;

(14)

e. Pita frekwensi radio 3.3 GHz memiliki rentang frekwensi 3300 - 3400 MHz, moda TDD;

f. Pita frekwensi radio 5.8 GHz memiliki rentang frekwensi 5725 - 5825 MHz, Moda TDD;

g. Pita frekwensi radio 10.5 GHz memiliki rentang frekwensi 10150 - 10300 MHz berpasangan dengan 10500 - 10650 MHz, moda FDD.

2.2.3.2. Izin Mendirikan Bangunan

Mendirikan bangunan untuk keperluan telekomunikasi seperti tower atau antenna perlu memperoleh izin terlebih dahulu dari Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung. Tower dikategorikan sebagai bangunan dan antenna dikategorikan sebagai bangun bangunan. Dalam memperoleh izin ini suatu perusahaan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT) 2. Bukti kepemilikan tanah

3. Bukti pembayaran PBB 4. Kartu Tanda Penduduk (KTP) 5. Pemberitahuan Radius

6. Gambar Radius (Mapping) 7. Gambar Rencana

8. Kuasa Pengurusan

9. Sosialisasi masyarakat yang diketahui oleh RT/RW/Lurah/Camat 10. Rekomendasi ketinggian dari Dishub Provinsi.

Sanksi terhadap pemilik tower atau antenna yang belum memiliki IMB atau tidak memenuhi kewajibannya sebagai pemilik IMB adalah pembongkaran tower atau antenna. Apabila hal tersebut sampai terjadi, berarti bisnis yang tengah berlangsung dapat terganggu dan menghilangkan kepercayaan konsumen.

Kebutuhan akan tiang antenna atau tower adalah sangat penting bagi Konsorsium PIB, tetapi tidak perlu membangun lagi karena hal ini dapat terpenuhi oleh adanya tiang-tiang antenna milik anggota Konsorsium. Namun sebagai bahan pertimbangan untuk pengembangan bisnisnya, Konsorsium perlu mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan pembangunan tower dan tiang antenna.

Isu tentang penggunaan menara bersama saat ini telah dilengkapi dengan adanya peraturan Menkominfo.

(15)

2.2.3.3. Izin Penyelenggaraan ISP

Izin usaha yang harus dimiliki oleh para ISP adalah Izin Penyelenggaraan ISP.

Izin ini juga diperoleh dari Dirjen Postel. Untuk mendapatkan izin tersebut tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun, tetapi ada kewajiban tahunan yang diantaranya adalah universal service obligation (USO) dan izin kelas (izin penyelenggaraan ISP). USO adalah kewajiban 0.75% dari omset yang dibayarkan oleh setiap ISP dan pada saatnya nanti akan dimanfaatkan untuk membuat layanan internet di daerah terpencil. Dengan dimilikinya izin kelas/izin penyelenggaraan ISP, setiap ISP diwajibkan untuk membayar sebesar 1% dari omset yang diperolehnya setiap tahun.

Perihal nilai yang harus dibayarkan dalam USO, peraturan yang menjadi dasar hukumnya adalah PP No. 28 Tahun 2005 Tentang Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Komunikasi dan Informatika, sedangkan nilai yang harus dibayarkan untuk mempertahankan izin penyelenggaraan ISP telah diatur oleh Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.

22/Per/M.Kominfo/10/2005 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak dari Pungutan Biaya Hak Penyelenggaraan Telekomunikasi.

2.3. Akar Masalah

Adanya persaingan yang semakin ketat di bidang penyediaan jasa internet menyebabkan bisnis yang dijalankan oleh ISP-ISP di Bandung melemah. Para pesaing baru menawarkan service yang tariffnya lebih murah dari pada service yang ditawarkan oleh para ISP. Dari segi kualitas pun mereka terus menerus memperbaikinya.

Konsorsium berharap dapat keluar dari masalah persaingan tersebut dan berusaha menjadi pemain utama, sebab kalau tidak demikian Konsorsium hanya akan menjadi penonton.

Bisnis ISP juga sangat berkaitan dengan teknologi Last Mile. Bermacam-macam teknologi yang dapat dipilih dalam bisnis ISP, namun pemilihannya haruslah tepat sasaran agar mampu bertahan dalam waktu yang cukup panjang atau minimalnya adalah sampai waktu payback period.

Konsorsium juga perlu memperhatikan aspek legal, yaitu aspek ketaatan terhadap regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah baik dalam hal frekwensi, izin penyelenggaraan ISP dan izin mendirikan bangunan. Keberlangsungan dan ketahanan bisnis ISP tidak dapat dilepaskan dari aspek legal sebab risiko yang ditimbulkannya

(16)

tidak dapat dikendalikan, dialihkan, maupun dicegah. Risiko yang terjadi akibat pelanggaran regulasi hanya dapat diterima oleh pelaku bisnis.

Isu-isu bisnis yang telah dianalisis sebelumnya ada yang menjadi permasalahan bisnis dan ada juga yang menimbulkan suatu opportunity. Untuk mengatasi permasalahan dan memanfaatkan opportunity yang muncul dari isu bisnis, Konsorsium memutuskan untuk mengembangkan bisnis yang baru dengan memanfaatkan semua sumber daya yang dapat di-share oleh semua anggota Konsorsium. Bisnis yang akan dikembangkannya adalah penyediaan layanan internet menggunakan teknologi broadband wireless access, dan target pasar-nya adalah masyarakat perumahan.

Dalam rangka mengembangkan bisnis tersebut, Konsorsium membutuhkan kajian mengenai kelayakan bisnis ISP yang mengaplikasikan teknologi BWA. Jadi proyek akhir ini akan membantu mencari solusi dari akar permasalahan yang dihadapi oleh Konsorsium tersebut. Solusi yang diharapkan berupa saran keputusan mengenai layak-tidaknya bisnis tersebut sehingga Konsorsium dapat segera mengeksekusi rencana bisnisnya.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan  harga  solvent  yang  digunakan,  maka  proses  pembersihan  memerlukan  biaya  material  dari  toluene  dan  ethyl  alcohol  yang  digunakan sebesar:  .

dari kebutuhan aktual Jumlah yang di dibeli (ROQ) ke pemasok tetap memakai data yang lama (tidak ada koreksi ROQ) Kebutuhan untuk proyek diambil dari stok untuk kebutuhan

Strategi Pertumbuhan Melalui Integrasi Horisontal ini bisanya perusahaan memiliki tujuan umumnya adalah meningkatkan penjualan dan laba dengan cara mendapatkan sekala ekonomis

Banyak perusahaan telah menggeser paradigmanya dengan merubah orientasi seluruh kegiatan perusahaan yang dahulu hanya berorientasi pada profit, dimana aktifitas

Saat ini terdapat isu regulasi BI yang membatasi jumlah kartu yang  dapat  dimiliki  oleh  satu  orang  yaitu  hanya  dua  buah  kartu  sedangkan  saat  ini 

[r]

Perbedaan ini merupakan sinyal bahwa industri asuransi bisa dimaksimalkan kapasitasnya untuk memperkokoh pilar ekonomi bangsa dengan menghimpun dana jangka panjang dari

Untuk positioning strategy di ZOE, distribution strategy dan sales force strategy tidak dapat digunakan karena bisnis model ZOE adalah sebuah taman bacaan yang dilengkapi