• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1Administrasi Pemerintahan dan Wilayah Pelayanan

Kabupaten Cianjur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat dengan ibukota Cianjur. Kabupaten Cianjur berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta di Utara, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut di sebelah Timur, Samudra Hindia di Selatan, dan Kabupaten Sukabumi di sebelah Barat. Kabupaten Cianjur terdiri atas 32 Kecamatan dengan 348 Desa/Kelurahan. Pusat pemerintahan terletak di Kecamatan Cianjur. Ke-32 kecamatan tersebut, yaitu : Agrabinta, Leles, Bojongpicung, Campaka, Campaka Mulya, Cianjur, Ciranjang, Cibeber, Cibinong, Cidaun, Cikadu, Cikalongkulon, Cilaku, Cugenang, Kadupandak, Cijati, Karangtengah, Mande, Naringgul, Pacet, Cipanas, Pagelaran, Sindangbarang, Sikaluyu, Sukanagara, Sukaresmi, Takokak, Tanggeung, Warungkondang, dan Gekbrong.

Secara geografis wilayah Kabupaten Cianjur terbagi dalam 3 bagian : Wilayah Cianjur Utara, Wilayah Cianjur Tengah, dan Wilayah Cianjur Selatan. Wilayah Cianjur Utara yang merupakan dataran tinggi terletak di kaki Gunung Gede dengan ketinggian sekitar 2.962 m di atas permukaan laut. Wilayah Cianjur Utara meliputi daerah Puncak dengan ketinggian sekitar 1.450 m, Kota Cipanas (Kecamatan Cipanas dan Pacet) dengan ketinggian sekitar 1.110 m, serta Kota Cianjur dengan ketinggian sekitar 450 m di atas permukaan laut. Sebagian wilayah Cianjur Utara merupakan dataran tinggi pegunungan dan sebagian lainnya merupakan perkebunan dan persawahan. Di bagian barat (dekat zona Bogor) terdapat Gunung Salak dengan ketinggian 2.21 m yang merupakan gunung api termuda yang sebagian besar permukaannya ditutupi bahan vulkanik.

(2)

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Cianjur

Wilayah Cianjur Tengah merupakan perbukitan, tetapi juga terdapat dataran rendah persawahan, perkebunan yang dikelilingi oleh bukit-bukit kecil yang tersebar dengan keadaan struktur tanahnya yang labil. Wilayah Cianjur Selatan yang terdiri dari tujuh kecamatan merupakan dataran rendah yang terdiri dari bukit-bukit kecil dan diselingi oleh pegunungan-pegunungan yang melebar ke Samudra Indonesia. Di antara bukit-bukit dan pegunungan tersebut terdapat pula persawahan dan ladang huma. Dataran terendah di selatan Cianjur mempunyai ketinggian sekitar 7 m di atas permukaan laut. Wilayah Cianjur Selatan terdiri dari tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Sindangbarang, Agrabinta, Cidaun, Cibinong, Leles, Naringgul, dan Cikadu.

(3)

4.2Kondisi Fisik Wilayah

Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak di tengah Propinsi Jawa Barat yaitu diantara 6021’ - 7025’ Lintang Selatan dan 106042’ - 107025’ Bujur Timur. Sebagian besar wilayah Kabupaten Cianjur adalah pegunungan kecuali di bagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit. Lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan, dan perkebunan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat. Keadaan ini ditunjang dengan banyaknya sungai besar dan kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai sumberdaya pengairan tanaman pertanian. Sungai terpanjang adalah Sungai Cibuni yang bermuara di Samudra Hindia. Dari luas wilayah Kabupaten Cianjur seluas 361,435 Ha, pemanfaatannya meliputi 83,034 Ha (23.71%) berupa hutan produktif dan konservasi; 58,101 Ha (16.59%) berupa tanah pertanian lahan basah; 97,227 Ha (27.76%) berupa lahan pertanian kering dan tegalan; 57,735 Ha (16,49%) berupa tanah perkebunan; 3,500 Ha (0.10%) berupa tanah dan penggembalaan/pekarangan; 1,239 Ha (0.035 %) berupa tambak/kolam; 25,261 Ha (7.20 %) berupa pemukiman/pekarangan; dan 22,483 Ha (6.42 %) berupa penggunaan lain-lain. Keanekaragaman sumberdaya alam merupakan modal dasar pembangunan dan potensi investasi yang menjanjikan.

4.3Struktur Perekonomian

Struktur perekonomian wilayah Kabupaten Cianjur masih menitikberatkan pada sektor pertanian. Hal ini ditunjukkan oleh kontribusi sektor pertanian dalam PDRB atas dasar harga konstan selama periode 2006 - 2010 berada diatas 40 persen, sementara sektor lain seperti sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyumbang peranan rata-rata diatas 25 persen. Sektor terkecil adalah sektor jasa yaitu mendorong PDRB Kabupaten Cianjur hanya sebesar 9-10 persen.

(4)

Tabel 4.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan Tahun 2006-2010

Uraian Tahun

2006 2007 2008 2009 2010 PDRB adh konstan (miliar Rp) 7.048 7.342 7.639 7.939 8.273 Kontribusi sektor Pertanian (%) 45,90 44,77 43,79 44,47 42,43 Kontribusi sektor perdagangan, hotel dan

restoran (%) 25,30 25,91 26,42 26,31 27,55

Kontribusi sektor Jasa-jasa (%) 9,78 9,92 9,98 9,84 9,97 Ket : *)angka sangat sementara estimasi triwulan IV 2010

Sumber : BPS Cianjur, 2006-2010

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa walaupun kontribusi sektor pertanian merupakan sektor yang paling besar dalam mendorong PDRB Kabupaten Cianjur, akan tetapi pertumbuhannya terus menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur perekonomian Kabupaten Cianjur telah mengalami perubahan. Dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 kontribusi sektor pertanian sudah berkembang bukan hanya bertumpuh pada sektor pertanian melainkan juga pada sektor-sektor yang lainnya yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa.

Pertumbuhan PDRB Kabupaten Cianjur pada Tahun 2011 mengalami pertumbuhan yang cukup positif. Laju pertumbuhan PDRB adalah salahsatu indikator untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pada kurun waktu 2006-2010, laju pertumbuhan ekonomi (LPE) berfluktuasi. LPE tetap tumbuh namun sedikit mengalami perlambatan kinerja. Hal tersebut sesuai dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 sebesar 3.96 persen. Adapun LPE pada tahun 2006 sebesar 3,34 persen sedangkan pada tahun 2007 menjadi 4,18 persen. Kemudian pada tahun 2008 laju pertumbuhan ekonomi menurun menjadi 4,04 persen, namun angka ini kembali sedikit meningkat menjadi 4,05 persen pada Tahun 2009 dan pada Tahun 2010 meningkat menjadi 4,21 persen.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi kabupaten Cianjur didukung dengan terkendalinya laju inflasi. Inflasi tahun 2006 adalah sebesar 6,02 persen, sedangkan inflasi pada tahun 2007 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya

(5)

yaitu menjadi 5,27 persen. Pada tahun 2008 inflasi mengalami peningkatan menjadi 6,8 persen dan Tahun 2009 turun kembali menjadi 6,4 persen dan penurunan terus berlanjut hingga tahun 2010 menjadi 6,07 persen.

Peningkatan LPE yang cukup signifikan diharapkan dapat mengurangi angka kemiskinan dan jumlah pengangguran di kabupaten Cianjur, namun proporsi peningkatan pertumbuhan ekonomi secara makro tersebut belum sepenuhnya dapat mempengaruhi proporsi penduduk miskin dan tingkat pengangguran terbuka di kabupaten Cianjur.

Struktur perekonomian kabupaten Cianjur didominasi oleh sektor pertanian, Pertumbuhan sektor pertanian didukung oleh pertumbuhan lima sub sektor yaitu pertanian tanaman bahan makanan, perkebunan, perikanan, peternakan dan perhutanan. Sektor pertanian tanaman bahan makanan adalah sub sektor yang sangat menonjol. Atas dasar harga konstan 2000, lebih dari 70 persen PDRB sektor pertanian berasal dari sub sektor tanaman bahan makanan, sedangkan untuk sub sektor peternakan menempati urutan kedua dengan memberikan kontribusi pada tahun 2010 sebesar 32,95 persen. Subsektor perikanan menempati urutan ketiga yaitu memberikan kontribusi sebesar 2,15 persen. Hal tersebut terlihat dalam Tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Distribusi Persentase Sektor Pertanian Terhadap PDRB Atas Harga Konstan

No. Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009 2010 PERTANIAN 45,90 44,77 43,79 44,47 42,43 1. Tanaman Pangan 35,65 34,72 33,91 34,86 32,95 2. Perkebunan 1,03 1,07 1,12 1,06 1,02 3. Peternakan 6,57 6,36 6,16 6,02 6,11 4. Kehutanan 0,31 0,30 0,30 0,29 0,20 5. Perikanan 2,34 2,32 2,30 2,24 2,15 Sumber : RPJMD Kab.Cianjur 2011-2016

Berdasarkan Tabel 4.2 untuk kurun waktu tahun 2006-2010 sektor pertanian pertumbuhannya negatif yaitu sebesar 0,57 persen. Sub sektor yang pertumbuhannya negatif yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 1,51 persen dan

(6)

subsektor kehutanan sebesar 27,64 persen. Sedangkan yang pertumbuhannya positif yaitu subsektor perkebunan yaitu sebesar 0,07 persen, peternakan sebesar 5,78 persen dan perikanan sebesar 0,15 persen. Subsektor peternakan merupakan subsektor yang terdapat dalam sektor pertanian yang pertumbuhannya tinggi. Hal tersebut dikarenakan adanya kebijakan Propinsi yang menjadikan Kabupaten Cianjur sebagai salah satu daerah yang akan dikembangkan untuk pengembangan kluster sapi potong.

4.4Potensi Sumberdaya Daerah 4.4.1Potensi Sumberdaya Manusia

Pada umumnya jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan potensi yang besar bagi pembangunan wilayah yang bersangkutan. Berdasarkan hasil susenas Tahun 2010 penduduk usia 15 tahun ke atas yang merupakan angkatan kerja yaitu sebesar 988.203 jiwa. Angka tersebut dibagi dua yaitu yang bekerja sebanyak 833.036 jiwa dan pengangguran sebanyak 105.167 jiwa. Angkatan kerja yang bergerak di sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan mencapai 49,79 persen; industri 7,63 persen; perdagangan, rumah makan, dan hotel 19,84 persen; jasa kemasyarakatan 8,37 persen; dan lainnya 14,36 persen. Dengan demikian sektor pertanian menyerap tenaga terbesar yang disusul oleh sektor perdagangan sebesar 19,84 persen.

Sumber : Kab.Cianjur dalam Angka 2011, diolah

Gambar 4.2 Jumlah Angkatan Kerja berdasarkan Sektor Usaha di Kabupaten Cianjur Tahun 2010

Pertanian, kehutanan, perb uruan, dan perikanan Industri

Perdagangan, rumah makan, dan hotel Jasa kemasyarakatan

(7)

Dilihat dari sex ratio menurut jenis kelamin selama lima tahun memperlihatkan perbandingan antara penduduk kelamin laki-laki dengan kelamin perempuan menunjukkan bahwa kelamin laki-laki lebih banyak bila dibandingkan kelamin perempuan. Tahun 2010, secara keseluruhan Kabupaten Cianjur memiliki sex ratio 107,15. Artinya setiap 10.000 kelamin perempuan sebanding dengan 10.715 kelamin laki-laki.

Pada Tahun 2011 konsentrasi penduduk tertinggi di Kabupaten Cianjur terdapat di wilayah Cianjur Utara, yaitu di Kecamatan Cianjur (7,3%) atau 6.757 jiwa/km2, Karangtengah (6,19%), dan Cibeber (5,34%). Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit terdapat di Cianjur bagian Selatan yaitu di kecamatan Campakamulya dengan sebaran 1,09 persen. Dari gambaran kepadatan penduduk tersebut, menunjukkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk di Kabupaten Cianjur sebagai berikut :

1. Faktor sosiologis, misalnya perkawinan

2. Faktor ekonomis, yaitu adanya kecenderungan bagi penduduk untuk mencari daerah yang paling menguntungkan untuk berusaha

3. Faktor geografis, yaitu berkaitan dengan kondisi alam (misalnya : daerah subur untuk pertanian)

Komposisi penduduk menurut pendidikan pada Tahun 2010 menunjukkan bahwa penduduk usia 10 Tahun ke atas yang berstatus pendidikan tidak/ belum tamat sekolah sebanyak 1,87 persen dari keseluruhan penduduk. Angka 1,87 persen tersebut menurun dari Tahun 2009, dimana penduduk usia 10 tahun ke atas yang berstatus tidak/belum tamat sekolah adalah sebesar 2,62 persen. Data tersebut menunjukan bahwa tingkat melek huruf penduduk Kabupaten Cianjur semakin berkembang karena adanya pergeseran status pendidikan yang ditamatkan. Berdasarkan pendidikan yang ditamatkan potensi sumberdaya manusia di Kabupaten Cianjur masih tergolong rendah. Dengan demikian diperlukan instrumen kebijaksanaan yang tepat di bidang peningkatan kualitas sumberdaya manusia, melalui peningkatan kesempatan memperoleh pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan informal. Rincian penduduk di

(8)

Kabupaten Cianjur usia 10 Tahun ke atas menurut status pendidikan pada tahun 2010 dan 2011 disajikan pada Tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas di Kabupaten Cianjur berdasarkan Status Pendidikan

No. Pendidikan Jumlah Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas

2010 2011

1 Tidak/ Belum Sekolah 2.62 1.87

2 SD/ MI 9.20 9.11

3 SLTP/ MTs 6.42 6.17

4 SLTA/Ma 2.04 2.64

5 Perguruan tinggi 0.50 0.85

6 Tidak bersekolah lagi 79.22 79.36

Jumlah 100.00 100.00

Sumber : Kabupaten Cianjur dalam Angka, 2011

Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur pada Tahun 2010 adalah 2.171.281 jiwa. Partisipasi angkatan kerja sektoral menunjukkan bahwa Tahun 2010 angkatan kerja banyak terserap di sektor pertanian dan perdagangan. Sedangkan sektor yang paling sedikit menyerap angkatan kerja adalah sektor pertambangan/galian.

4.4.2 Potensi Sumberdaya Alam

Kabupaten Cianjur memiliki potensi sumberdaya alam yang besar dan beragam. Secara umum, Kabupaten Cianjur memiliki potensi pertanian seluas 155.328 Ha, poetnsi hutan produktif dan konservasi seluas 83.034 Ha, potensi perkebunan seluas 57.735 Ha, potensi tambak / kolam seluas 1.239 Ha, potensi tanah dan penggembalaan atau pekarangan seluas 3.500 Ha.

Dalam hal sumberdaya pertambangan, Kabupaten Cianjur memiliki potensi alam bahan tambang yang beraneka ragam, baik bahan tambang logam maupun non logam. Untuk bahan non logam di antaranya adalah feldspar, batu gamping dan bahan tambang galian C lainnya. Sedangkan bahan tambang logam berupa emas dan biji besi. Sebagian besar sumberdaya mineral di Kabupaten Cianjur

(9)

termasuk kategori bahan galian C. Bahan galian tersebut tersebar di 21 kecamatan, 8 kecamatan di antaranya dapat diprioritaskan sebagai daerah potensial untuk pengembangan. Sumberdaya bahan galian golongan C terdiri dari batu gunung, batu belah, batu pecah, batu kapur, batu lempung, bentonit, pasir sungai, pasir gunung, tanah urug, dan batu apung.

Potensi pertambangan di wilayah Cianjur Selatan adalah usaha pertambangan pasir besi. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan Kabupaten Cianjur, pada Tahun 2011 Kabupaten Cianjur telah mengeluarkan izin eksplorasi terhadap tiga pengusaha pasir besi. Eksploitasi pasir besi yang terjadi di wilayah Cianjur Selatan adalah dari pertambangan rakyat, dimana pertambangan tersebut mengandalkan surut laut untuk ekploitasinya.

Tabel 4.4 Sumberdaya Mineral yang sudah Dieksploitasi di Kabupaten Cianjur Tahun 2006-2010

No Uraian (Ton) 2006 2007 2008 2009 2010

1 Tambang emas 229

2 Tambang bijih/pasir besi 13 937 16 157 9 754

3 Tambang bahan galian C 164 831 79 445 405 016 664 123 480 168 Sumber : Dinas Pengelolaan SDA dan Pertambangan Kab. Cianjur Tahun 2011

Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Kabupaten Cianjur relatif kecil, yaitu 0,12 persen. Namun dari Tahun 2005-2009 pertumbuhan dari sektor pertambangan cukup pesat yaitu mencapai rata-rata 4,62 persen.

Potensi perikanan di Kabupaten Cianjur cukup besar. Hal ini terbukti dengan adanya usaha budidaya di Kolam Air Tenang (KAT), Kolam Air Deras (KAD), Mina Padi, Karamba, dan Jaring Apung serta usaha pembenihan. Di pihak lain, potensi kelautan yang di antaranya berupa potensi ikan hasil tangkapan laut serta budidaya rumput laut masih perlu penguatan untuk pengembangannya.

Misi utama pengembangan sub sektor perikanan antara lain meningkatkan konsumsi ikan per kapita. Konsumsi ikan pada tahun 2009 adalah sebesar 14,17

(10)

kg/tahun dan tahun 2010 adalah sebesar 14,7 kg/tahun, jauh di bawah angka nasional 25,6 kg/tahun. Dibandingkan tahun 2009, konsumsi ikan per kapita mengalami penurunan hingga 15 kg/tahun. Jenis ikan yang dominan diproduksi adalah ikan mas dan nila. Disamping itu jenis ikan sidat mempunyai potensi yang cukup besar untuk dapat menyaingi udang.

Potensi sumberdaya alam yang dominan di Cianjur Selatan produksi ikan laut. Hal ini didorong oleh kondisi geografis beberapa kecamatan di Cianjur Selatan yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Jenis ikan laut yang diproduksi di Cianjur Selatan adalah kakap merah, tongkol, banjar, tenggiri, layur, dan ikn laut lainnya. Tiga kecamatan di Cianjur Selatan yang memproduksi ikan laut adalah kecamatan-kecamatan yang berbatasan langsung, yaitu Kecamatan Agarabinta, Kecamatan Cidaun, dan Kecamatan Sindangbarang.

Potensi lain yang terbesar di wilayah Cianjur Selatan adalah di sektor pertanian terutama tanaman pangan. Pada Tahun 2010, wilayah Cianjur Selatan memproduksi 31 persen tanaman padi sawah dari keseluruhan tanaman padi yang diproduksi di Cianjur Selatan.

Dari sektor pariwisata, Kabupaten Cianjur memiliki daya tarik wisata yang tersebar di berbagai wilayah. Wilayah utara merupakan wilayah dengan kawasan termaju. Hal ini didorong dengan adanya kawasan Puncak. Puncak merupakan kawasan wisata andalan Propinsi Jawa Barat. Di wilayah Cianjur bagian selatan potensi pariwisata yang dikembangkan adalah wisata pantai yaitu Pantai Apra dan Pantai Jayanti. Dengan ditunjang komponen pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Cianjur pada Tahun 2010 adalah sebesar 748.601 wisatawan. Sedangkan dilihat dari kontribusi pariwisata terhadap PDRB adalah sebesar 0,16 persen.

4.4.3 Potensi Perdagangan dan Perindustrian

Potensi perdagangan dan perindustrian dapat dilihat dari banyaknya pusat perdagangan dan tempat keramaian serta jumlah investasi yang ditanamkan di Kabupaten Cianjur. Menurut data dari BKPPMD Propinsi Jawa Barat pada Tahun 2010 tercatat ada 45 investor yang terdiri dari 4 investor berskala PMA dan 41 investor berskala PMDN. Jenis usaha yang berasal dari PMA adalah industri air

(11)

minum kemasan 1 buah dan peternakan unggas sebanyak 3 buah. Sedangkan investasi yang berasal dari PMDN terdiri dari perumahan 1 buah, mini market 18 buah, pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) 8 buah, wisata alam kolam pancing dan kolam renang 1 buah, SPBE 2 buah, peternakan ayam 2 buah, pasar desa 1 buah pertokoan 2 buah, pabrik 2 buah, percontohan pertanian 1 buah, wisma 1 buah klinik rawat inap 1 buah, dan hotel dan restoran 1 buah. Total investasi yaitu sebesar Rp 530,5 Miliar dengan rincian PMA sebesar Rp 315 Miliar dan PMDN Rp 215,5 Miliar.

Tabel 4.5 Total Investasi di Kabupaten Cianjur Tahun 2010 No Pemohon (investor) Jumlah Luas (m2) Investasi (Milyar) Penyerapan Tenaga Kerja (Orang) 1 PMA 4 540 000 315 490 2 PMDN 41 732 871 215.50 3 918 Jumlah 45 1 272 871 530.50 4 408

Sumber : Kantor Pelayanan Izin Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Cianjur

Peranan investasi terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Cianjur adalah sebsar 15.10 persen. Di bidang perdagangan, kontribusi perdagangan terhadap pembentukan PDRB total menunjukkan kenaikan setiap tahunnya. Dilihat dari output yang dihasilkan, peranan sektor perdagangan terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Cianjur relatif besar yaitu sebesar 27,55 % pada tahun 2010 dengan pertumbuhan rata-rata yang cukup besar sekitar 6,01% untuk setiap tahunnya (2005-2010). Grafik berikut ini menunjukkan perkembangan nilai dan pertumbuhan PDRB sektor perdagangan.

(12)

Sumber : RPJMD Kab. Cianjur Tahun 2011-2016

Gambar 4.3 Perkembangan Nilai PDRB Sektor Perdagangan Tahun 2005-2010 (Rupiah)

Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam upaya meningkatan peranan sektor perdagangan dalam perekonomian daerah diantaranya dengan melakukan pembinaan terhadap pelaku perdagangan baik pedagang formal maupun pedagang informal yang saat ini tercatat sebanyak 2146 pelaku pedagang. Upaya pembinaan yang telah dilakukan diantaranya melalui sosialisasi peraturan mengenai perdagangan, pelatihan kapasitas pelaku perdagangan dan lain-lain.

Pembangunan bidang perindustrian di Kabupaten Cianjur ditandai oleh berkembangnya industri kecil dan menengah yang menjadi salah satu tumpuan perekonomian di Kabupaten Cianjur. Peningkatan peranan industri terutama untuk industri kecil dan menengah dapat dilihat dari kontribusinya terhadap pembentukan PDRB kabupaten Cianjur. Dilihat dari output yang dihasilkan, peranan sektor indutri terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Cianjur masih relatif kecil hanya sebesar 3,01% pada tahun 2010 namun menunjukkan pertumbuhan rata-rata yang cukup besar sekitar 6,45% untuk setiap tahunnya (2005-2010). Perkembangan PDRB sektor industri ini berasal dari sub sektor industri non migas yang didominasi oleh industri kecil dan menengah. -500,000.00 1,000,000.00 1,500,000.00 2,000,000.00 2,500,000.00 2005 2006 2007 2008 2009 2010

(13)

Tabel 4.6 Perkembangan Nilai PDRB Sektor Industri Kabupaten Cianjur Tahun 2005-2010 Tahun PDRB Total PDRB Sektor Industri Pertumbuhan Sektor Industri Kontribusi Terhadap PDRB Total 2005 6.820.520,45 177.707,03 2,61 2006 7.048.228,89 188.701,90 6,19 2,68 2007 7.342.965,05 201.434,96 6,75 2,74 2008 7.639.658,34 215.971,73 7,22 2,83 2009 7.939.506,85 220.101,76 1,91 2,77 2010 8.273.519,28 249.148,66 13,2 3,01

(14)

4.5Kebijakan Pembangunan Daerah 4.5.1 Kebijakan Pembangunan Cianjur

Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Cianjur adalah : “Mewujudkan wilayah Kabupaten Cianjur yang produktif dan berkualitas bagi kehidupan dengan memanfaatkan sumber daya berbasis pertanian dan pariwisata secara efisien serta berkelanjutan”.

Kebijakan penataan ruang Kabupaten Cianjur terdiri atas :

1. Perwujudan pengembangan wilayah yang berorientasi meminimalisasi kesenjangan kesejahteraan masyarakat antar wilayah;

2. Pengembangan ruang terintegrasi fungsional yang dikombinasikan dengan pengembangan agribisnis dan pariwisata dan berorientasi pada pemerataan pembangunan antarwilayah dalam konstelasi wilayah Kabupaten Cianjur;

3. Pengaturan dan pengendalian pusat kegiatan dan pelayanan di WP Utara dan pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi di WP Tengah dan WP Selatan berdasarkan peran dan fungsi yang ditetapkan dengan mengoptimalkan potensi dan peluang yang dimilikinya.

4. Pemantapan prasarana wilayah di WP Utara dan pengembangan prasarana wilayah pada WP Tengah dan WP Selatan yang didorong perkembangannya untuk akselerasi pencapaian struktur ruang yang direncanakan;

5. Perwujudan kawasan lindung seluas kurang lebih 60% (enam puluh persen) dari total luas wilayah Kabupaten Cianjur dan pengembangan kawasan budidaya dengan mengoptimalkan kurang lebih 40% (empat puluh persen) dari total luas wilayah;

6. Perlindungan terhadap manusia dan kegiatannya dari bencana alam, dengan perwujudan rencana sistem prasarana wilayah berupa jalur dan ruang evakuasi bencana dan sarana atau prasarana evakuasi lainnya;

7. Peningkatan fungsi kawasan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara.

(15)

4.5.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Cianjur

Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengembangan wilayah di Kabupaten Cianjur sebagaimana dirumuskan dalam Rencana Tata Ruang Kabupaten Cianjur Tahun 2011 – 2031, sesuai dengan karakteristik wilayah dan ragam kegiatan potensial yang dapat dikembangkan maka Kabupaten Cianjur dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah pembangunan meliputi Wilayah Pembangunan (WP) Utara, WP Tengah dan WP Selatan. Berikut adalah matriks yang menggambarkan rencana WP dengan tema dan fokus pembangunan untuk setiap WP yang bersangkutan.

Sistem perkotaan Kabupaten Cianjur terdiri dari : (1) Pusat Kegiatan Lokal (PKL) meliputi :

a. PKL Perkotaan Cianjur, dengan fungsi utama sebagai pusat pemerintahan kabupaten, pusat koleksi dan distribusi, pusat pendidikan, pusat perdagangan, pusat jasa dan pelayanan masyarakat;

b. PKL Perkotaan Sindangbarang dengan fungsi utama sebagai pusat pengolahan hasil pertanian, pusat perikanan, pusat jasa pariwisata, dan pertambangan;

c. PKL Perdesaan Sukanagara, dengan fungsi utama sebagai pusat pengolahan hasil pertanian, pusat perkebunan, pusat industri kecil menengah dan pertambangan.

d.

Tabel 4.7 Rencana Wilayah Pembangunan, Tema dan Fokus Pembangunan

Wilayah Pembangunan

Pusat

Kegiatan Tema Fokus Pembangunan

Fungsi Kegiatan (Sektor Unggulan) WP Utara : Sukaresmi, Pacet, Cipanas, Cugenang, Cianjur, Karangtengah, Mande, Cikalongkulon, Haurwangi, Ciranjang, Bojongpicung, Sukaluyu, Cilaku, Warungkondang, PKWp Cianjur PKL Perkotaan Cipanas Mengendalian perkembangan kawasan puncak serta Penataan dan pengembangan kawasan perkotaan Cianjur sebagai pusat utama kegiatan • Pembatasan kegiatan perkotaan di kawasan puncak • Perlindungan kawasan konservasi • Mengurangi

terjadinya alih fungsi lahan • Penataan infrastruktur • Pemerintahan • Pertanian • Perikanan • Pariwisata • Perdagangan dan jasa • Pendidikan • IKM

(16)

Wilayah Pembangunan

Pusat

Kegiatan Tema Fokus Pembangunan

Fungsi Kegiatan (Sektor Unggulan)

Gekbrong dan Cibeber perekonomian

wilayah perkotaan di Kecamatan Cianjur dan sekitarnya • Menciptakan kegiatan perkotaan yang produktif WP Tengah : Campaka, Campakamulya, Takokak, Pasirkuda, Pagelaran, Kadupandak, Cijati, Sukanagara, dan Tanggeung PKL Perdesaan Sukanagara Mendorong wilayah tengah sebagai pusat kegiatan produksi berbasis agribisnis • Pengembangan jaringan infrastruktur strategis • Penyediaan sarana sosial dan ekonomi

• Pengembangan sektor-sektor potensial

• Mengurangi

terjadinya alih fungsi lahan • Pertanian • Perkebunan • IKM • Pertambangan WP Selatan : Cibinong, Leles, Agrabinta, Sindangbarang, Cidaun, Cikadu, dan Naringgul PKL Perkotaan Sindangbarang Meningkatkan perkembangan wilayah selatan dalam upaya mendukung pengembangan Jabar Selatan melalui sektor2 produktif • Menciptakan integrasi pengembangan kawasan • Memperkuat interaksi antara kawasan • Penyediaan sarana dan prasarana (terutama jalan) • Pertanian • Perikanan • Pariwisata • Pertambangan

Sumber : RPJMD Kab. Cianjur Tahun 2011-2016

(1) PKL promosi yaitu Perkotaan Cipanas dengan fungsi utama sebagai pengolahan hasil pertanian, peternakan, pusat jasa pariwisata, perdagangan dan jasa dan pusat industri kecil menengah.

(17)

(2) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dengan fungsi sebagai pusat produksi dan industri perkebunan dan pertanian dengan skala pelayanan beberapa kecamatan serta menunjang kota meliputi :

a. Wilayah Utara : PPK Pacet; PPK Ciranjang; dan PPK Warungkondang. b. Wilayah Tengah : PPK Pagelaran; dan

c. Wilayah Selatan : PPK Cidaun.

(3) Sedangkan untuk Sistem Perdesaan, terdiri dari Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) dengan fungsi sebagai pusat produksi pertanian dengan skala antar desa, yang meliputi :

a. Wilayah Utara : PPL Cikalongkulon; dan PPL Bojongpicung. b.Wilayah Tengah : PPL Takokak; dan PPL Campakamulya.

c. Wilayah Selatan : PPL Cibinong; PPL Naringgul; dan PPL Agrabinta. Perwujudan penataan ruang 5 tahun ke depan yang diharapkan adalah terselenggaranya persiapan dalam pengembangan sistem perkotaan baik PKL, PPK, maupun PPL sebagaimana dijelaskan di atas. Hal ini dapat diwujudkan antara lain dengan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) untuk pusat-pusat pertumbuhan dimaksud dan peraturan zonasi, penataan infrastruktur kecamatan, serta penataan fasilitas perdagangan dan jasa skala kota/desa. Penataan infrastruktur kecamatan diprioritaskan pada kecamatan-kecamatan yang mempunyai peran sebagai pusat pertumbuhan PKL, PPK, dan PPL.

(18)

Sumber : RPJMD Kab. Cianjur Tahun 2011-2016

Gambar 4.4 Skematik Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan di Kabupaten Cianjur

4.5.3 Pemekaran Wilayah Cianjur Selatan

Pembentukan daerah otonom pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan publik untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Dalam prosesnya, pertimbangan kemampuan ekonomi, potensi daerah, luas wilayah, kependudukan, dan pertimbangan dari aspek sosial politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan mutlak diperlukan.

Berdasarkan UU 32 Tahun 2004 hasil revisi UU Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan bahwa : “Daerah otonomi, selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat hokum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat

PKN Jakarta PKN Bandung PKW Sukabumi Kab Bandung Kab Garut Palabuhan Ratu PPK Pacet MandePPL PKWp Cianjur PKL Cipanas PPK Ciranjang PPL BjPicung PPL Takokak CmpMulyaPPL PPK Pagelaran PPL Cibinong PPL Naringgul PKL SdBarang PKL Sknagara Jonggol Purwakarta PPK Cidaun PPL Agrabinta Arteri Primer Kolektor Primer Lokal Primer PPK Wrkondang

(19)

dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Selanjutnya diatur dalam pasal 5 ayat 4 dikatakan bahwa “ syarat teknis pembentukan daerah berdasarkan pertimbangan kemauan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, jumlah penduduk, luas daerah, dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah”.

Menurut pemerintah Propinsi Jawa Barat (2004), penilaian kemampuan daerah sangat penting dalam menetukan langkah pembinaan guna meningkatkan kemampuan daerah kabupaten/kota. Pola pembinaan terhadap kabupaten/kota yang dapat dipilih adalah mengintervensi variabel-variabel yang paling berpengaruh terhadap kemampuan daerah. Diasmping itu, pembinaan juga ditujukan untuk merumuskan kebijakan atau tindakan terhadap dampak negatif dari intervensi yang dilakukan. Adapun prioritas intervensi diarahkan pada variabel potensi daerah, kemampuan ekonomi, dan pemanfaatan luas daerah disamping variabel lain yang memungkinkan dilaksanakannya otonomi daerah serta pembangunan sosial budaya dan sosial politik di daerah kabupaten/kota.

Pembentukan dan pemekaran wilayah kabupaten atau kota di lingkungan pemerintah Propinsi Jawa Barat telah dinyatakan secara resmi dalam Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 31 Tahun 1990 tentang Pola Induk Pengembangan Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat dalam Jangka Panjang (25-30 tahun). Kajian terhadap kemampuan Daerah Otonom dalam pelaksanaan Otonomi Daerah telah dilaksanakan oleh PKP STPDN bekerjasama dengan pemerintah Propinsi Jawa Barat pada Tahun 2003.

Secara rinci Depdagri (2010) menjelaskan bahwa alasan-alasan yang mendasari keinginan untuk pemekaran daerah atau pembentukan daerah otonom baru adalah alasan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, alasan historis, alasan cultural atau budaya, alasan ekonomi, alasan anggaran, dan alasan keadilan.

Terkait dengan usulan pembentukan daerah otonom baru Cianjur selatan, alasan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, alasan anggaran dan alasan ekonomi serta keadilan merupakan keempat alasan yang menjadi pertimbangan utama. Sementara lasan cultural atau budaya dan alasan historis dinilai tidak terlalu mempengaruhi. Hal ini bisa dilahit dari struktur budaya dan

(20)

latar belakang sejarah antar daerah usulan cianjur selatan dengan daerah induk (Cianjur Utara) tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

Alasan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dinilai menjadi pertimbangan utama dalam usulan pembentukan daerah otonom baru Cianjur Selatan, karena sejauh ini jarak atau rentang kendali antara pusat-pusat pelayanan baik fasilitas social, ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang terlampau jauh, hal itu disebabkan terkonsentrasinya pusat-pusat pelayanan di Cianjur utara, dan minimnya pusat pelayanan kebutuhan dasar masyarakat di Cianjur Selatan.

Pertimbangan ekonomi kemudian menjadi alasan selanjutnya dalam usulan pemekaran ini, hal ini dimaksudkan agar dengan adanya pemekaran pembangunan ekonomi di Cianjur Selatan bisa berjalan dengan baik dan mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Hal ini didasarkan pada fakta dan kondisi saat ini, dimina wilayah pembangunan Cianjur Selatan seluruhnya menjadi wilayah yang tertinggal bila dibandingkan dengan wilayah pembangunan Cianjur Utara dan Cianjur Tengah.

Selain itu pertimbangan anggaran dan keadilan menjadi isu yang menguat dalam usaha pemekaran ini. Dengan anggaran yang secara mandiri diterima oleh daerah pemekaran atau daerah otonom baru, baik anggaran yang bersumber dari daerah induk maupun yang bersumber dari DAU dan DAK diharapkan proses pembangunan daerah bisa lebih baik. Sedangkan argumnetasi keadilan, lebih kepada pertimbangan pemerataan hasil-hasil pembangunan dan pengisian jabatan public yang diharapkan bisa diduduki sumber daya manusia setempat yang memiliki kapasitas dan sumber daya memadai (Komite Pembentukan Kab. Cianjur Selatan, 2010).

Alasan-alasan itulah yang menjadi dasar bagi masyarakat Cianjur Selatan untuk mengusulkan pembentukan daerah otonom baru cianjur selatan. Usulan ini setidaknya pernah dilakukan dalam dua kesempatan; pertama, pada tahun 1998 dan mendapat respon yang postif dari para pengambil keputusan di lingkungan pemerintah daerah Kab. Cianjur. Hal itu terlihat dengan lahirnya hasil paripurna DPRD Cianjur yang menyetujui pemekaran Cianjur Selatan (Arsif DPRD, 2000).

Kedua, usulan pemekaran atau pembentukan daerah otonom baru Cianjur Selatan kembali menguat pada tahun 2007. Usulan yang kedua kalinya ini dinilai

(21)

lebih massif dan mendapat dukungan public secara luas. Hal itu terlihat, dengan adanya rekomendasi dan persetujuan dari seluruh kepala desa dan ketua BPD di Wilayah Cianjur selatan yang menjadi Usulan Kabupaten Cianjur Selatan. Selain itu, usulan pemekaran ini juga direspon positif oleh DPRD Cianjur dan Pemerintah Daerah.

Gambar

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Cianjur
Gambar 4.3 Perkembangan Nilai PDRB Sektor Perdagangan Tahun 2005-2010 (Rupiah)
Tabel  4.6  Perkembangan  Nilai PDRB  Sektor  Industri Kabupaten Cianjur  Tahun  2005-2010  Tahun  PDRB Total  PDRB  Sektor  Industri  Pertumbuhan  Sektor Industri  Kontribusi  Terhadap PDRB Total  2005  6.820.520,45   177.707,03   2,61  2006  7.048.228,89   188.701,90   6,19  2,68  2007  7.342.965,05   201.434,96   6,75  2,74  2008  7.639.658,34   215.971,73   7,22  2,83  2009  7.939.506,85   220.101,76   1,91  2,77  2010  8.273.519,28   249.148,66   13,2  3,01  Sumber : BPS Kabupaten Cianjur, 2010
Tabel 4.7 Rencana Wilayah Pembangunan, Tema dan Fokus Pembangunan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis yang dapat diperoleh adalah semakin dekat jarak tempat tinggal dengan terusan BKB Jakarta, maka semakin mudah untuk mengunjungi daerah tersebut dan

Sistem silvikultur TPTJ diharuskan pada areal bekas tebangan (Log Over area) dengan jarak tanam 5 meter dan jarak antar jalur tanaman 25 meter, sedangkan pada sistem

Daerah Otonom yang disebut haminte (Kota Besar) dan merupakan Ibu Kota Kepresidenan Riau berdasarkan ketetapan Gubernur Sumatra di Medan No. Kota kecil, bagian

Karakteristik individu debitur penunggak Kupedes dapat dilihat dari segi usia, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, jumlah pembinaan, dan jarak rumah penunggak dengan

BKKB dan PP Kota Bandar Lampung sebagai lembaga teknis daerah yang merupakan perangkat daerah otonom seharusnya sesuai dengan tugas dan fungsinya melaksanakan kebijakan

Pada awal dilakukannya pembendungan, populasi ikan di waduk Jatiluhur tidaklah banyak, hal ini dikarenakan jenis-jenis ikan rheophylic yang berasal dari sungai tidak dapat

Berdasarkan surat Gubernur Jawa Tengah nomor 556/21378 tanggal 26 Oktober 1982 tentang usulan Kepulauan Karimunjawa sebagai Taman Nasional Laut, maka pada tahun

Ditinjau dari jarak, lama tempuh dan jenis kendaraan umum yang dapat digunakan, diketahui bahwa jarak dari Desa Leuwibudah ke Ibukota Kecamatan Sukaraja sekitar