• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. BIDANG : IMAN, AJARAN, IBADAH ( IMAJI ) 1. IBADAH MINGGU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I. BIDANG : IMAN, AJARAN, IBADAH ( IMAJI ) 1. IBADAH MINGGU"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

ADVENTUS

Adventus merupakan masa penyadaran diri dan pertobatan. Manusia yang jatuh ke dalam dosa mengharapkan perjanjian ALLAH tentang datangnya YESUS KRISTUS sebagai Juruselamat. Adventus juga bersifat eschatologis yang menunjuk kepada kedatangan KRISTUS kembali. Adventus dirayakan 4 minggu berturut-turut sebelum Natal.

Warna dasar : Ungu Muda

Lambang/Logo : Salib jangkar

Warna jangkar : kuning

Arti : Salib jangkar ini dipergunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di Kotakombe-kotakombe. Sebenarnya lambang ini merupakan warisan dari bangsa Mesir kuno, namun di kemudian hari ia menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan KRISTUS. Di sini lambang salib jangkar hendak berkata-kata tentang pengharapan yang dimiliki oleh umat percaya di dalam penantian akan kedatangan KRISTUS kembali.

Minggu Adventus I - IV, dirayakan selama 4 minggu sesudah masa Minggu Pentakosta. P R A K A T A

Jemaat yang dikasihi TUHAN YESUS KRISTUS, Pelayan Firman beserta Penatua dan Diaken bertugas mengucapkan selamat datang dan selamat beribadah kepada Jemaat yang baru pertamakali beribadah maupun jemaat GPIB ”Galilea” Cilacap pada Minggu ADVEN II. Tema pada ibadah minggu ini adalah: Kabarkanlah Berita

Damai. Kiranya Ibadah yang kita lakukan saat ini berkenan dihadapan TUHAN. Pelayanan Pastoral dan Informasi penatalayanan dapat menghubungi :

1. Pdt. Ny. Retno W. Siahaan – Sumaredi, S.Th – Pastori Jl. Pisang Telp. 533040 (HP 081364939244) 2. Penatua atau Diaken yang terdekat dengan domisili Bpk/Ibu/Sdr.

3. Kantor sekretariat setiap hari kerja,

 Hari Selasa s/d Sabtu = Pukul 08.00 s/d 15.00 wib.  Hari Minggu = Pukul 08.00 – 13,00 WIB.  Hari Senin = Libur

HP. 085 328 337 040 (AS) 085 747 472 976 (IM3) Telp.& Fax 0282 - 542269 I. BIDANG : IMAN, AJARAN, IBADAH ( IMAJI )

1. IBADAH MINGGU

Unsur Minggu , 11 Desember 2016 Minggu, 18 Desember 2016 Minggu, 25 Desember 2016 NAS PEMBIMBING MAZMUR 33 : 2 – 3 YEREMIA 31 : 6 MIKHA 5 : 1 BERITA ANUGERAH MIKHA 7 : 18 KOLOSE 1 : 13 – 14 1 YOHANES 2 : 2

PERINTAH HIDUP BARU ROMA 12 : 9 – 21 IMAMAT 19 : 11 – 18 ROMA 14 : 19 BACAAN ALKITAB MAZMUR 33 : 1 – 22 YEREMIA 31 : 1 – 6 MATIUS 2 : 1 – 6

Pujian Umat GB. 127 : 3 GB. 127 : 4 Menghadap Tuhan GB. 131 : 1, 2, 3, 4 KJ. 284 : 1, 5, 6 KJ. 109 Menyambut Salam KJ. 79 : 1 KJ. 80 : 1, 2 KJ. 94 Pengakuan Dosa KJ. 29 : 1, 2, 3, 4 GB. 266 : 1, 2 GB. 38 Pengampunan Dosa KJ. 40 : 1, 2, 4 GB. 262 : 1, 2, 3 KJ. 117 : 1, 6 GB. 381 GB. 385 GB. 385 GB. 398a GB. 398a KJ. 349 GB. 392b GB. 392a GB. 392a

Pernyataan Atas Firman KJ. 37a : 1, 3 KJ. 73 : 1, 3 KJ. 133 : 1, 2, 3 GB. 389b GB. 389b GB. 389b KJ. 440 : 1, 3 KJ. 81 : 1, 5 Pengucapan Syukur GB. 81 : 1, 2 KJ. 297 : 1, 3 KJ. 138 Pengutusan GB. 220 : 1, 3 KJ. 260 : 1, 2 KJ. 99 GB. 401

+1+

(2)

2. IBADAH MALAM NATAL, NATAL II DAN TAHUN BARU

Unsur Minggu , 24 Desember 2016 Minggu, 26 Desember 2016 Minggu, 01 Januari 2017 NAS PEMBIMBING YESAYA 7 : 14b YOHANES 3 : 17 Keluaran 13 : 1 – 2 BERITA ANUGERAH YOHANES 3 : 16 KISAH RASUL 4 : 12 Mazmur 103 : 8 – 12

PERINTAH HIDUP BARU KOLOSE 3 : 15 – 17 1 PETRUS 1 : 13 – 16 Keluaran 20 : 1 – 17 BACAAN ALKITAB MATIUS 1 : 18 – 25 MATIUS 2 : 13 – 15 Lukas 2 : 21 – 40

Pujian Umat

Menghadap Tuhan KJ. 96 : 1, 2, 3 KJ. 118 KJ. 97 : 1, 4, 5 Menyambut Salam KJ. 96 : 4, 5 KJ. 123 KJ. 106 : 1, 3, 4

Pengakuan Dosa KJ. 44 : 1, 6 KJ. 42 KJ. 101

Pengampunan Dosa GB. 142 : 1, 2 KJ. 105 KJ. 44 : ( Reff.) KJ. 100 GB. 381 GB. 246

KJ. 472 GB. 394 GB. 381 : 1, 2, 3, 4 GB. 392b KJ. 474 GB. 393

Pernyataan Atas Firman KJ. 122 : 1, 2 KJ. 475 GB. 392a KJ. 475 GB. 92 GB. 156 KJ. 121 GB. 389b

Pengucapan Syukur KJ. 119 : 1, 2, 3, 4 KJ. 297 : 1, 2, 3 GB. 78 : 1, 2, 4 Pengutusan KJ. 92 : 1, 2, 3 KJ. 340 GB. 78 : 3, 5

GB. 402C GB. 402b GB. 402c 3. PELAYAN FIRMAN dan TUGAS PRESBITER, IBADAH MINGGU (UMUM), Minggu, 11 Desember 2016 TEMA : TUHAN YESUS PANGKAL SUKACITA

Pel. Gereja Jl.Pisang, 06.00 WIB Gereja Jl. Rinjani, 09.00 WIB Gereja Jl.Pisang, 17.00 WIB Purwokerto, 09.00 WIB PF Pdt. Ny. Retno W. Siahaan-Sumaredi, S.Th. Pdt. Ny. Retno W. Siahaan-Sumaredi, S.Th. Pdt. Ny. Retno W. Siahaan-Sumaredi, S.Th. GABUNG KE CILACAP P. 1 P. 2 P. 3 P. 4 P. 5 P. 6 P. 7 P. 8 P.9 P.10 Pnt. Johanes A. Piay Dkn. Ledrik Sahuburua Dkn. M. Taralalu Dkn. Ny. Erma Vinky Dkn. Adrians Wattiheluw Pnt. Ir. Y.I.M. Nababan Dkn. Derald Gaspersz Pnt. Yohanes Sartono Dkn. E. Jakub Warella

Pnt. Lexy D. Korua Dkn. Antonius Slamet Dkn. Ny. Yosanthy Louis Dkn. Jesaya Pelupessy Dkn. Frans E. Fere Pnt. W. Leiwakabessy Pnt. Risna P. Bone Pnt. Irianto Sjioen Pnt. J.W. Darmono Pnt. Yusuf Jatimulya Pnt. Dr. Naek Siregar Pnt. P. Sihombing Pnt. Yance Kayadu Dkn. Stepanus Kale Dkn. P. Manalu Pnt. David Y. Nisnoni Dkn. Sappe Pakpahan

Organis Bpk. Marzel Sahuburua Ibu Sandra Lumba Sdr. Ricard Sugiharto Kantoria Sdr. Rinto Pasaribu & Sdr. Garry Sapulette PS. Swara Sangkakala Bpk. Yoyo Latupeirissa Bpk. David Siahaan &

Isi Pujian PS. Swara Sangkakala

Multimedia Sdri. Meli Nongkang Sdr. Aditya Wattiheluw Sdr. Roy Pasaribu

4 . JADWAL TUGAS PF dan PRESBITER, pada IBADAH UMUM (MINGGU), Minggu, 18 Desember 2016

TEMA : KASIH YANG KEKAL Pel. Gereja Jl.Pisang,

06.00 WIB Gereja Jl. Rinjani, 09.00 WIB Gereja Jl.Pisang, 17.00 WIB Purwokerto, 09.00 WIB PF Pdt. Ny. Retno W. Siahaan-Sumaredi, S.Th. Pdt. Ny. Retno W.

Siahaan-Sumaredi, S.Th. Pnt. P. Sihombing Dkn. Stepanus Kale Pnt. J.W. Darmono Dkn. Ledrik Sahuburua Organis Bpk. Marzel Sahuburua Sdri. Echa Yusuf Adik Noni Siregar

Kantoria Bpk. David Siahaan &

Bpk. Yoyo Latupeirissa PS. Eklesia

Ibu Novi Tetengean, Ibu Elizabeth Piay

Ibu Yanti Piay

Isi Pujian PS. Eklesia

Multimedia Sdr. Vega Baloto Sdr. Sadrakh Piay Sdr. Rinto Pasaribu

(3)

5. IBADAH KELUARGA, RABU, 14 Desember 2016

TEMA : SALEH, ADIL TAK BERCACAT ( 1 TESALONIKA 2 : 1 – 12 )

Pelayanan Ibadah Rumah Tangga, Pelkat PKB, PKP, PKLU dan GP Tahun 2016 akan berakhir tuntuk itu mengundang kehadiran seluruh Warga Jemaat dalam Ibadah Syukur Penutupan Pelayanan Tahun 2016 dan Ibadah Syukur Keluarga yang akan dilaksanakan pada :

Hari/tanggal : Rabu, 14 Desember 2016 Waktu : Pukul 18.00 WIB

Tempat : KEL. Bpk. ARI BUDIANTO

Alamat : Jl. Jeruk No. : 155A Menganti ( Bunderan Tugu Lilin ke arah Utara Jl. Urip Sumoharjo terus menuju Jl. Sukarno Hatta setelah BRI Unit Menganti sebelah kiri ada Masjid

Jami Al Ma’wa masuk Jl. Mangga lewati Rel Jl. Ke 4 sebelah kiri depan Jl. Manggis). Namun bagi Jemaat yang membutuhkan Pelayanan Ibadah Syukur Keluarga akan tetap dilayani. Dan Ibadah Rumah Tangga, Pelkat PKB, PKP, PKLU dan GP akan dilaksanakan kembali tanggal 25 Januari 2017 merupakan Ibadah Gabungan. Untuk itu kami mohon KORSEK I – IV dan pengurus Pelkat untuk segera menyusun Jadwal Ibadah Tahun 2017.

PF. : Pdt. Ny. Retno W. Siahaan-Sumaredi, S.Th. P1. : Pnt. Yusuf Jatimulya

P2. : Dkn. E. Jakub Warella 6. IBADAH PENGUCAPAN SYUKUR

KEL. Bpk. G. SAHERTIAN , alamat Jl. Belimbing No. 538 mengundang segenap Warga Jemaat sektor I sampai dengan IV untuk hadir dalam Ibadah Pengucapan syukur pada hari Senin, 12 Desember 2016 pukul 18.00 WIB. PF. Pdt. Ny. Retno W. Siahaan-Sumaredi, S.Th.

7. PENEGUHAN SIDI

Pada hari Minggu, 18 Desember 2016 pukul 09.00 WIB di Gereja Jl. Rinjani akan dilaksanakan Peneguhan Sidi bagi : Ibu PUJIYATI. Penggembalaan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Desember 2016 pukul 18.00 WIB bertempat di Ruang Konsistori Gereja Jl. Rinjani.

8. JAMUAN KASIH NATAL

Mengundang Bapak / Ibu, Oma / Opa yang berusia 60 tahun keatas untuk hadir dalam Jamuan Kasih Natal Lanjut Usia pada hari Jum’at, 16 Desember 2016 pukul 16.00 WIB bertempat di Gedung Pelkat Jl. Rinjani.

PF. Pdt. Ny. RETNO W. SIAHAAN-SUMAREDI, S.Th.

9. PENEGUHAN DAN PEMBERKATAN PERKAWINAN

 Pada hari Jum’at, 23 Desember 2016 pukul 16.00 WINB di Gereja Jl. Rinjani akan dilaksanakan Peneguhan dan Pemberkatan Perkawinan bagi :

Sdr. TIMOTIUS DWI SAMBODO GURITNO Dengan

Ibu PUJIYATI.

Penggembalaan akan dilaksanakan pada hari Kamis, 22 Desember 2016 pukul 18.00 WIB bertempat di Ruang Konsistori Gereja Jl. Rinjani.

 Pada hari Rabu, 21 Desember 2016 pukul 13.00 WIB di GPIB Maranatha Denpasar Bali akan dilaksanakan Peneguhan dan Pemberkatan Perkawinan Kudus bagi :

Sdr. SAMUEL GAMALIEL KORUA

(Putra ke 2 dark Kel. Bpk. LEXY DECKY KORUA & Ibu INEKE ELLYANNER AIPASSA – Cilacap – Jawa Tengah) Dengan

Sdri. EKA INDAH FITRIANTI

(Putri ke 1 dari Kel. Bpk. Ir. SUGIANTO & Ibu ANAK AGUNG RAI PUSPAWATI – Denpasar – Bali) 10. KELAS KETEKISASI

Kelas Katekisasi Tahun Ajaran 2016 – 2017 dilaksanakan setiap hari :

NO NAMA SEKTOR PUKUL KETERANGAN

I Mahlige Intan Puspitasari 11.00 WIB Setiap Minggu 2 Natalia Meliani Sukandar I 11.00 WIB Setiap hari Minggu 3 Michael Jackson E. Lomboan III 11.00 WIB Setiap hari Minggu 4 Retno Tri Setiyowati I 11.00 WIB Setiap Minggu

5 Devita Maharani IV 10.00 WIB Katekisasi Khusus setiap hari Kamis

6 Pujiyati II Katekisasi Khusus Okt – 03 Des 2016

11. SAKRAMEN BAPTISAN

Pada hari Senin, 26 Desember 2016 pukul 09.00 WIB di Gereja Jl. Rinjani akan dilaksanakan Sakramen Baptisan. Bagi Bapak / Ibu yang putra / putrinya belum dibaptis dan ingin membeptiskan putra / putrinya dapat mendaftar ke KORSEK / Sekretariat Gereja. Yang sudah mendaftar

 KEL. Bpk. GURUH KRISNANTO – BOY ALEXANDER KRISNANTO

(4)

10. IBADAH PELKAT PA & PT.

Hari/Tanggal Pukul PA PT

Minggu, 11.12.2016 09.00

GEDUNG PELKAT JL. RINJANI Kelas Indria : Kak Dora & Kak Iis Kls. Kecil : Kak Roosye

Besar : Ibu Mieke Marpaung

Kelas EKA & DWI

PF. : Ibu Ketty Manabung PD. :

Organis :

Minggu, 18.12.2016 09.00

GEDUNG PELKAT JL. RINJANI

Kelas Indria : Kak Roosye & Kak Ola Kls. Kecil : Dkn. Ny. Yosanthy Louis Besar : Dkn. Jesaya Pelupessy

Kelas EKA & DWI PF. : Ibu Yvone Noya PD. :

Organis : 11. JADWAL ORGANIS / PROKANTOR / KANTORIA.& PADUAN SUARA

24 Des 2016 Gereja Jl. Pisang, 18.00 WIB Gereja Jl. Rinjani, 20.00 WIB Organis Bpk. Marzel Sahuburua Sdri. Echa Yusuf

Katoria PS. Naviri Daud PS. Kecapi Sion Isi Pujian PS. Naviri Daud & VG. GP PS. Kecapi Sion & VG. AMN

25 Des 2016 Gereja Jl. Pisang, 06.00 WIB Gereja Jl. Rinjani, 09.00 WIB Gereja Jl. Pisang, 17.00 WIB Organis Bpk. Marzel Sahuburua Sdri. Echa Yusuf Sdr. Ricard Sugiharto

Katoria

Sdr. Rinto Pasaribu, Sdr. Garry Sapulette,

Sdri. Meli Nongkang

PS. Jemaat Bpk. David Siahaan, Bpk. & Ibu Jhony

Isi Pujian PS. Jemaat

26 Des 2016 Gereja Jl. Rinjani, 09.00 WIB

Organis Sdri. Echa Yusuf

Katoria PS. Pelkat PKP

Isi Pujian PS. Gabungan

12. JADWAL TUGAS MULTIMEDIA

MINGGU Gereja Jl. Pisang, 06.00 WIB Gereja Jl. Rinjani, 09.00 Gereja Jl. Pisang, 17.00 WIB 24 Des 2016 (Sabtu) (18.00) Sdri. Mitariana (20.00) Bpk. Tonny Itran

25 Des 2016 Sdri. Imelda Natalia Sdr. Roy Pasaribu Sdri. Meli Nongkang 31 Des 2016

(Sabtu)

(18.00) Sdr. Rinto Pasaribu

(20.00) Ibu Reta Budianto

01 Jan 2017 Sdr. Vega Baloto Sdr. Pascal Sdr. Sadrakh Piay 08 Jan 2017 Sdri. Meli Nongkang Sdr. Aditya Wattiheluw Bpk. Tonny Itran 15 Jan 2017 Sdr. Roy Pasaribu Sdri. Mitariana Sdr. Vega Baloto 22 Jan 2017 Sdr. Sadrakh Y. Piay Sdr. Rinto Pasaribu Sdri. Imelda Natalia 13. PERSIAPAN KANTORIA

Persiapan Organis & Kantoria yang bertugas hari Minggu dilaksanakan setiap hari Sabtu Pukul 18.00 wib di Gereja Jl. Rinjani. Atas perhatian dan kehadirannya diucapkan terimakasih.

14. LATIHAN PADUAN SUARA

 Latihan Paduan Suara Jemaat dilaksanakan setiap hari Senin, pukul 18.00 WIB bertempat di Gedung Pelkat Jl. Rinjani.

 Latihan Paduan Suara Pelkat PKP dilaksanakan setiap hari Selasa, pukul 16.30 WIB bertempat di Gedung Pelkat Jl. Rinjani.

 Latihan Paduan Suara PKLU dilaksanakan setiap hari Selasa, pukul 16.00 WIB di Gereja Jl. Rinjani. II. BIDANG : PELAYANAN dan KESAKSIAN (PELKES) – LINGKUNGAN HIDUP

1. INFORMASI PELAYANAN ORANG SAKIT / KEDUKAAN

Apabila Bapak / Ibu / Saudara memerlukan pelayanan Diakonia dapat menghubungi Pengurus Komisi PELKES / Diakonia & KORSEK nya masing – masing tersebut dibawah ini :

NO SEKTOR N A M A NO. TELP.

1 I - Dkn. ELIZA JAKUB WARELLA ( KORSEK) 081215739174

2 II - Dkn. FRANS E. FERE (KORSEK) 085225631467

3 III - Pnt. Ny. WARNI E. SITUMEANG (KORSEK) 537361 / 085227059166

4 IV - Dkn. ADRIANS L. WATTIHELUW 08157609137

(5)

2. DIAKONIA GEREJA

Bagi Bapak / Ibu / Saudara yang berhak menerima Bingkisan Diakonia Gereja dimohon kehadirannya dalam Ibadah bersama Komisi Diakonia pada hari Selasa, 13 Desember 2016 pukul 16.00 WIB bertempat di Gereja Jl. Pisang. PF. : Pdt. Ny. Retno W. Siahaan-Sumaredi, S.Th.

III. BIDANG : GEREJA MASYARAKAT dan AGAMA (GERMASA)

1. NO TELPON PENTING

NO NAMA INSTANSI NO. TELP

1 RUMAH SAKIT SANTA MARIA 0282 – 534859

2 RUMAH SAKIT UMUM DAERAH 0282 – 533010

3 RUMAH SAKIT ISLAM FATIMAH 0282 – 542396, 0282 – 541065, 0282 – 540422

4 POLRES 0282 – 541102, 0282 – 533699, 0282 – 542157

5 PALANG MERAH INDONESIA 0282 – 542201

6 PEMADAM KEBAKARAN SENTRAL 113 – (0282 – 537413)

PUSAT PENGENDALIAN OPERASI BENCANA 0282 - 537155

7 AMBULANCE 118

8 RUMAH SAKIT PERTAMINA CILACAP 0282 - 533276

9 RUMAH SAKIT APRILIA 0282 – 536307

IV. BIDANG : PEMBINAAN dan PENGEMBANGAN SDI (PPSDI)

V. BIDANG : PELAYANAN KATEGORIAL (PELKAT)

VI. BIDANG : INFORMASI ORGANISASI dan KOMUNIKASI (INFORKOM)

1. PERSIAPAN PRESBITER

Persiapan Presbiter pukul 18.00 WIB dilaksanakan setiap hari Selasa, bertempat di Konsistori Gereja Jl. Rinjani.

2. RAPAT PHMJ

Rapat PHMJ dilaksanakan setiap hari Jum’at pukul 10.00 WIB di Ruang Rapat Jl. Rinjani. 3. PERSIAPAN PELAYAN PA

Persiapan Pelayan Pelkat PA dilaksanakan setiap hari Minggu, pukul 10.30 WIB bertempat di Gedung Pelkat Jl. Rinjani. Diharapkan seluruh Pelayan PA untuk hadir dalam Persiapan.

4. PERSIAPAN PELAYAN PT

Persiapan Pelayan Pelkat PT dilaksanakan setiap hari Selasa, pukul 19.00 WIB bertempat di Gedung Pelkat Jl. Rinjani. Diharapkan seluruh Pelayan PT untuk hadir dalam Persiapan.

5. RAPAT PANITIA

Mengundang segenap Panitia Pelaksana Natal 2016 untuk hadir dalam Rapat yang akan dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Desember 2016 pukul 11.00 WIB (Setelah Ibadah Minggu pukul 09.00 WIB). 6. JANJI IMAN

Program Kerja Tahun Pelayanan 2016 – 2017, telah disahkan dalam Sidang Majelis Jemaat pada tanggal 05 April 2016 maka berdasarkan Proker tersebut Majelis Jemaat mohon peran serta Jemaat untuk mendukung Program Bidang PEG yaitu :

 Proker PEG 4014.02 tentang Kartu Janji Iman untuk Penggantian Lantai Gereja Jl. Rinjani.  Proker PEG 8114.02 tentang Dana untuk Pengadaan Mobil melalui Kotak Khusus. 7. PRESBITER YANG IJIN

Daftar nama Presbiter yang Ijin Ke Luar Kota pada Minggu ini

NO NAMA TANGGAL KETERANGAN

1 Dkn. Ny. Nelly Sunaryo Nov- Des Yogyakarta

2 Pnt. T. Sihombing Jakarta

3 Pnt. Yusuf Jatimulya Salatiga

4 Pnt. Ny. Warni Situmeang

5 Dkn. Ny. Yosanthy Louis 15 – 21 Des Ke Surabaya

8. BERITA DUKA CITA

Dalam kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus telah pulang ke Rumah Bapa di Sorga Ibu SUNARTI SAHERTIAN – Jemaat Sektor Pelayanan I dalam usia 68 Tahun pada hari Sabtu, 03 Desember 2016 PUKUL 13.30 wib di Rumah Jl. Belimbing Cilacap. Telah dimakamkan pada hari Minggu, 04 Desember 2016 pukul 13.00 WIB di Pemakaman Kristen Arimatea Cilacap. Segenap Warga Jemaat dimohon untuk turut memberikan dukunga doa bagi keluarga yang ditinggalkan.

(6)

VII. BIDANG : PENELITIAN dan PENGEMBANGAN (LITBANG) 1. TINGKAT KEHADIRAN JEMAAT PADA IBADAH

NO KEGIATAN SEK /

PELKAT HARI / TGL TEMPAT

JML. HADIR M P W A JML 1 Ibadah Umum Minggu, 04.12.2016 Gereja Jl. Pisang (06.00) 7 21 23 2 53

Gereja Jl. Rinjani (09.00) 10 102 129 8 249 Gereja Jl. Pisang (17.00) 2 10 18 1 31 Purwokerto 3 5 8 3 22 2 Ibadah Keluarga I Rabu, 07.12.2016 Kel. Bpk. Oscar Tetengean 2 6 18 4 30 II Kel. Bpk. Yusuf Jatimulya 4 9 15 4 32 III Kel. Bpk. Weslyn Situmeang 3 5 9 1 18 IV Kel. Bpk. Yohanes Sartono 7 5 16 5 33 3 Ibadah Pelkat PKP I+II Kamis, 08.12.2016 Ibu Yosanthy Louis 2 2 25 2 31

PKB Bpk. Jesaya Pelupessy 7 4 2 4 17

GP Jum’at, 02.12.2016 Gedung Pelkat Jl. Rinjani 8 5 13 PT Minggu, 04.12.2016 Ruang PT 1 9 5 15

PA Gedung Pelkat 3 42 45

4 Ibadah Presbiter &Kel Sabtu, 03.12.2016 Kel. Bpk. M. Taralalu

VIII. BIDANG : DAYA dan DANA

1. PERBENDAHARAAN MAJELIS JEMAAT 1.1 PEMBANGUNAN EKONOMI GEREJA (PEG)

1.2 Bagi Warga Jemaat maupun Jemaat Tamu, apabila berkerinduan memberikan sumbangan untuk pelayanan dapat melalui rekening BCA :

- DANA RUTIN : 0962073423 a.n. YOSANTHY DESIRA SOHILAIT/ DAVID YAN NISNONI - DANA PEMELIHARAAN : 0962073326 a.n. YOSANTHY D. SOHILAIT/ DAVID YAN NISNONI

1.5. UCAPAN TERIMA KASIH

 Majelis Jemaat telah menerima Sumbangan dari Kel. NN. Untuk keperluan Perjamuan Kudus tanggal 11 Desember 2016 berupa: Anggur, Roti Tawar, Pines, Tissue, amplop kecil.

 Terpujilah Tuhan untuk segala persembahan jemaat. Kiranya Tuhan memberkati dan melimpahkan berkat dalam kehidupan segenap warga jemaat.

IX. BIDANG : UMUM 1. DUKUNGAN DOA

1.1 JEMAAT YANG SAKIT :

 Bpk. Ir. SARTONO - Sektor III Dalam Proses Penyembuhan  Bpk. S. HARIANDJA - Sektor I di Rumah

 Pnt. M. DARTAM HARSONO - Sektor I Dalam Proses Penyembuhan  Ibu FEMMY PELUPESSY - Sektor II dalam Proses Penyembuhan  Ibu RINNI ITRAN - Sektor II di RSPC

1.2 DOA SUBUH:

MAJELIS JEM AAT MENGUNDANG SETIAP JEM AAT YANG TERPANGGIL UNTUK BERDOA BERSAM A DALAM DOA SUBUH YANG DIADAKAN SETIAP HARI :

1. SENIN, 12 DESEMBER 2016 PUKUL 05.00 WIB DI GEREJA JL. PISANG. YANG MEMIMPIN PDT.NY.RETNO W.SIAHAAN-SUMAREDI,S.TH.

2. SAB TU, 17 DESEMBER 2016 PUKUL 05.00 WIB DI GEREJA JL. RINJANI. YANG MEMIMPIN PDT.NY.RETNO W.SIAHAAN-SUMAREDI,S.TH.

TUHAN MEMBERKATI PELAYANAN KITA BERSAM A.

(7)

2. SELAMAT ULANG TAHUN

2.1 Majelis Jemaat mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kelahiran bagi :

1 Adik CATHRINE GRACIA SITUMEANG 11 Des Sektor III Anak Kel. Ruben Situmeang 2 Ibu CHRISTINE ELIZABETH PRAWONO – NISNONI 12 Des Sektor I

3 Bpk. DANIEL IRAWAN SUKMA 12 Des Sektor IV

4 Sdr. DAVIT ANUGERAH SIBUEA 12 Des Sektor II Anak Kel. R. Sibuea 5 Ibu DESY KRISTIANAWATI MASPAITELLA 12 Des Sektor I

6 Adik CHRISTOPHER TIMOTY MANABUNG 13 Des Sektor II Anak Kel. Emil D. Manabung

7 Ibu MERRY NAINGGOLAN 14 Des Sektor I

8 Adik TESALONIKA SARAH DIANA 14 Des Sektor I Anak Kel. Yudhi Umbas 9 Sdr. ERIC CHRISTOPER CHAIDIR 15 Des Sektor II Anak Kel. Simon Chaidir 10 Bpk. WELLY FERDINAND WENAS 16 Des Sektor III

11 Pnt. Bpk. LEXY DECKY KORUA 16 Des Sektor IV 12 Ibu HELENA SUHERMAN – LUMIKA 17 Des Sektor IV

2.2 Majelis Jemaat mengucapkan Selamat Ulang Tahun Perkawinan bagi : 1 KEL. Bpk. IRIANTO SJIOEN &

Ibu EMMA RITA MAGDALENA SIHOMBING 14 Des Sektor IV 31 Tahun 2 KEL. Bpk. RECKY TAMBUWUN & Ibu RUSMIYATI NATALIA 15 Des Sektor IV 26 Tahun 3 KEL. Bpk. WELLY FERDINAND WENAS & Ibu NORMA E.W. KIROJAN 15 Des Sektor III 20 Tahun 4 KEL. Bpk. JERRY N. PIAY & Ibu IDA FITRIA WAHYUNINGSIH 17 Des Sektor II 28 Tahun Demikian Warta Jemaat, atas perhatian jemaat diucapkan terimakasih. Tuhan memberkati.

Pdt. Ny. Retno W. Siahaan-Sumaredi, S.Th. Pnt. H. Yance Kayadu Ketua Sekretaris

WJ Des HYK / rnt

Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan cetak dan lain-lain. Terimakasih atas koreksi dalam penulisan Warta Jemaat ini

(8)

RESUME BUKU

(Oleh Vik. Yosua Wahyu Anggoro)

JUDUL : Menjadi Gereja Misioner dalam Konteks Indonesia PENULIS : Widi Artanto

TAHUN TERBIT : 2008 (Edisi Revisi) PENERBIT : Taman Pustaka Kristen

TEBAL : 324 + xiv (di luar Daftar Pustaka)

Buku ini berangkat dari adanya kegelisahan penulis (Widi Artanto) karena adanya krisis mengenai pemahaman misi. Krisis itu dihadapi oleh gereja-gereja seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Gereja-gereja di Indonesia, misalnya, sering menggunakan istilah “Gereja Misioner” dalam berbagai kesempatan, namun pengertian dan implementasinya seringkali tidak jelas dan bahkan tidak relevan dengan pergumulan konteks Indonesia saat ini. Krisis dalam misi itu terjadi diantaranya karena zaman dan budaya yang juga berubah, baik global maupun lokal. Krisis itu bahkan juga terjadi dari dalam diri gereja sendiri, diantaranya adalah pemahaman sempit akan Matius 28:18-20 yang dilihat sebagai misi untuk mempertobatkan jiwa; keengganan gereja untuk melakukan misi/karya yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, atau politik; juga misi yang berfokus pada pertambahan anggota gereja, baik dari orang Kristen ataupun non-Kristen.

Maka itulah buku ini berusaha menjernihkan kembali bagaimana “misi” itu harus dipahami dalam konteks Indonesia saat ini, dan bagaimana pelaksanaan misi yang bisa dilakukan yang sesuai dengan pemahaman itu. Karena ini pula penulis menyajikan adanya perubahan paradigma misi (cara pandang yang mempengaruhi pemahaman tentang misi) di sepanjang sejarah kekristenan. Adapun paradigma misi dari masa ke masa itu adalah: 1) Paradigma Misi Apokaliptik dari gereja mula-mula; 2) Paradigma Misi Helenistik dari periode bapa-bapa gereja (patristik); 3) Paradigma Misi Gereja Katholik pada Abad-abad Pertengahan; 4) Paradigma Misi Reformasi Protestan; 5) Paradigma Misi Zaman Pencerahan; dan 6) Paradigma Misi Ekumenis, yang menjadi paradigma dalam kehidupan manusia (gereja) saat ini, karena paradigma misi inilah yang paling relevan untuk saat ini.

Penulis kemudian mengajak pembaca melihat kembali akan kecenderungan misi di Asia secara umum. kecenderungan misi gereja di Asia yang hanya mewarisi pemahaman dan tradisi Gereja Barat masa lampau tidaklah lagi relevan. Misi gereja Asia harus bisa dihidupi dalam konteks kepelbagaian budaya dan agama, serta konteks kemiskinan yang parah di Asia, termasuk Indonesia.

Dari hasil gumul dan analisis akan paradigma misi ekumenis dan misi dalam konteks Asia itu, penulis menyajikan 5 tema dan corak misi yang bisa digunakan dalam konteks Indonesia. Kelimanya adalah: 1) Misi Penciptaan; 2) Misi Pembebasan (Exodus); 3) Misi Kehambaan; 4)

Misi Rekonsiliasi; dan 5) Misi Kerajaan Allah. Kelima misi ini sesungguhnya bermuara kepada

Misi Allah (Missio Dei). Maka itu Gereja Misioner dalam konteks Indonesia adalah gereja yang mewujudkan, mengimplementasikan, dan menghidupi kelima tema dan corak misi itu.

(9)

RESUME BUKU

(Oleh Vik. Yosua Wahyu Anggoro)

JUDUL : Menjadi Gereja Misioner dalam Konteks Indonesia PENULIS : Widi Artanto

TAHUN TERBIT : 2008 (Edisi Revisi) PENERBIT : Taman Pustaka Kristen

TEBAL : 324 + xiv (di luar Daftar Pustaka)

Pertama, Misi Penciptaan. Gereja (dan orang-orangnya) di Indonesia terpanggil untuk aktif terlibat

memelihara dan melestarikan keutuhan seluruh ciptaan, baik lingkungan hidup, tumbuhan dan hewan, juga manusia dalam bentuk nilai-nilai filosofis dan kebudayaan tradisional. Gereja turut memikirkan dan terlibat dalam pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia.

Kedua, Misi Pembebasan. Gereja (dan orang-orangnya), dengan terbuka terhadap

kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga kemanusiaan di luar gereja, turut hadir dan ikut berjuang bagi kemanusiaan yang tertindas oleh ketidakadilan, kemiskinan, juga pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Gereja perlu mengambil sikap untuk berpihak kepada mereka yang miskin dan tertindas, karena mereka terlalu lemah dan tak berdaya untuk membela diri sendiri.

Ketiga, Misi Kehambaan. Gereja (dan orang-orangnya) perlu menghidupi dirinya dengan

pemahaman bahwa ia adalah hamba Allah di dunia. Maka itu ia hadir untuk melayani dan memberi diri bagi Allah dan dunia di mana dia hidup. Gereja tidak boleh terjebak dengan melihat dirinya terlalu tinggi sebagai “sumber otoritas Kristus” sehingga semua yang ada di luar harus tunduk kepadanya. Gereja harus mampu hidup dalam kesederhanaan, baik dalam struktur atau gaya hidup yang jauh dari kemewahan dan hedonisme, dan juga rendah hati dan terbuka untuk mendengarkan orang-orang lain termasuk mereka yang berbeda iman.

Keempat, Misi Rekonsiliasi. Misi ini sangat terkait erat dengan adanya pendamaian dan pemulihan

relasi, baik antar manusia maupun antara manusia dengan Allah. Maka itu gereja (dan orang-orangnya) harus mengalami pertobatan dan pemulihan relasi (rekonsiliasi) dengan Allah, yang tercermin dalam kehadirannya yang tidak menebar benci dan menggunakan kekerasan, namun justru hadir untuk membawa kedamaian dan cinta kasih. Di segi internal, gereja yang menjalankan Misi Rekonsiliasi tidak boleh terpecah-pecah karena adanya kepentingan atau perebutan kekuasaan. Dalam konteks kehidupan inter-religius, gereja dipanggil untuk melaksanakan dialog dengan umat berbeda iman, baik dialog dalam hidup sehari-hari, dialog teologis, dan dialog dalam aksi.

Kelima, Misi Kerajaan Allah. Gereja (dan orang-orangnya) harus menyadari bahwa Kerajaan Allah

bukanlah dari dan untuk persekutuan Kristen saja. Ketika gereja mengimani bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, maka semua makhluk dan kelompok manusia yang ada di bumi adalah bagian sesama rekan untuk mewujudkan Kerajaan Allah. Gereja tidak boleh terjebak dalam egosentrisme dengan klaim bahwa hanya gerejalah satu-satunya umat pilihan Allah di dunia ini. Maka itu gereja harus bisa menghadirkan dan menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah, yaitu perdamaian, keadilan, dan keutuhan ciptaan. Gereja juga harus bisa membuka diri kepada sesama rekan dan kelompok di luar dirinya yang berbeda, termasuk berbeda iman. Gereja juga bisa membuka dan bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk terlibat langsung dalam isu-isu aktual masyarakat dan berusaha menghadirkan tanda-tanda Kerajaaan Allah di sana.

Menjadi penting untuk diperhatikan adalah bahwa kelima corak misi itu sangat tergantung kepada partisipasi dan peranan warga jemaat untuk mewujudkannya, baik dalam hidup pribadi ataupun melalui lembaga gereja. Hingga akhirnya upaya untuk mewujudkan Gereja Indonesia yang misioner itu bisa terwujud.

(10)

WARTA SEKTOR IV

Rabu, 07 Desember 2016

1. Mengundang segenap Warga Sidi Jemaat GPIB “Galilea” Cilacap untuk turut

ambil bagian dalam Sakramen Perjamuan pada hari Minggu, 11 Desember 2016 pukul 09.00 WIB di Gereja Jl. Rinjani dan Pukul 06.00 & 17.00 WIB di Gereja Jl. Pisang, sedangkan Sektor Pelayanan Purwokerto gabung di Cilacap. Persiapan Majelis Jemaat untuk Perjamuan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2016 pukul 18.00 WIB bertempat di Ruang Konsistori Gereja Jl. Rinjani. Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Pelayanan Perjamuan Kudus di Rumah / Rumah Sakit dapat menghubungi Koordinator Sektor masing-masing.

2. Pelayanan Ibadah Keluarga, Pelkat PKB, PKP, PKLU dan GP Tahun 2016

akan berakhir untuk itu mengundang kehadiran seluruh Warga Jemaat dalam Ibadah Syukur Penutupan Pelayanan 2016 dan Ibadah Syukur Keluarga yang akan dilaksanakan pada hari rabu, 14 Desember 2016 pukul 18.00 WIB bertempat di Rumah Kel. Bpk. Ari Budianto Jl. Jeruk No. 155a Menganti ( Bunderan Tugu Lilin ke arah utara Jl. Urip Sumoharjo sebelah kiri ada Masdjid Jami’ Al Ma’wa masuk Jl. Mangga lewati Rel Jl. Ke 4 sebelah kiri). Namun bagi jemaat yang membutuhkan Pelayanan Ibadah Syukur Keluarga akan tetap dilayani. Dan Ibadah keluarga, Pelkat PKB, PKP PKLU dan GP akan dilaksanakan kembali tanggal 25 Januari 2017 merupakan Ibadag Gabungan. Untuk itu kami mohon Korsek I – IV dan Pengurus Pelkat untuk segera menyusun Jadwal Ibadah tahun 2017.

3. Mengundang Bapak / Ibu, Oma / Opa yang berusia 60 tahun ke atas untuk

hadir dalam Jamuan Kasih Natal Lanjut Usia Pada hari Jum’at 16 Desember 2016 pukul 16.00 WIB bertempat di Gedung Pelkat Jl. Rinjani.

4. Ibadah Pelkat PKP Wil I + II Gabiungan Kamis, 08 Desember 2016 pukul 16.00 WIB di Rumah Ibu Yosanthy Louis Perum Taman Gading C - 69

5. Ibadah Pelkat PKB hari Kamis, 08 Desember 2016 pukul 19.00 WIB di Rumah Bpk. Jesaya Pelupessy Perum Patra Indah D - 6

6. Ibadah Pelkat GP hari Jum’at, 09 Desember 2016 pukul 19.00 WIB di Gereja Jl. Pisang.

7. Majelis Jemaat mengundang setiap jemaat yang terpanggil untuk berdoa bersama dalam Doa Subuh yang diadakan setiap hari Senin, pukul 05.00 WIB di Gereja Jl. Pisang dan setiap hari Sabtu, pukul 05.00 WIB di Gereja Jl. Rinjani.

8. Ibadah Keluarga Rabu,14 November 2016 pukul 18.00 WIB berdasar Jadwal:  Sektor I – IV di Rumah Kel. Bpk. Ari Budianto

(11)

RESUME BUKU

JUDUL : MENELITI JEMAAT: PEDOMAN RISET PARTISIPATORIS PENULIS : JOHN MANSFORD PRIOR

TAHUN TERBIT : 1997 PENERBIT : GRASINDO

TEBAL : 312 (dengan lampiran) + xviii

Buku ini hadir dari adanya kesadaran mengenai konteks sosial-budaya yang terus bergerak dan berubah. Di mana dalam konteks yang seperti itulah gereja lahir, hidup, dan berkembang. Oleh karena itu gereja (perlu) terus menerus menggumuli kehadiran dan keberadaan Allah dalam situasi konteks saat ini. Tugas-tugas rutin gereja seperti ibadah atau penggembalaan belum tentu cukup untuk menjawab tantangan konteks saat ini. Perlu adanya peninjauan kembali akan cara-cara tradisional itu sehingga kehadiran gereja bisa tepat sasaran dengan konteks saat ini. Dalam hal inilah, penelitian terhadap gereja atau jemaat yang sifatnya ilmiah perlu dilakukan.

Dalam melakukan penelitian, John Mansford Prior menunjukkan ada 10 pedoman yang harus diperhatikan oleh peneliti. Pertama, rumuskan dengan tepat apa yang hendak diteliti; apa permasalahan atau fenomena yang ditemukan. Peneliti tidak boleh memulai dari sebuah kesimpulan.

Kedua, peneliti harus menyadari bahwa ia tidak dapat bebas dari prasangka atau dugaan, maka itu ia

harus menyadari apa kepentingannya dan perspektif apa yang ia gunakan dalam penelitian. Ketiga, peneliti perlu memiliki tujuan yang jelas. Dalam artian penelitian ini dilakukan untuk apa dan untuk

siapa. Penelitian tidak dapat dimulai hanya dari sekedar “ingin tahu” saja.

Keempat, merupakan proses pengumpulan data. Ada 2 jenis peneliti, yaitu (1) peneliti asli yang

berasal dari kelompok sasaran penelitian dan (2) peneliti asing yang berasal dari luar. Dalam hal cara mengumpulkan data atau metode penelitian, setidaknya ada 2 sumber data yaitu sumber lisan (pengalaman/perilaku) dan sumber tulisan. Sumber tulisan itu dapat diperoleh dari berbagai macam dokumen, yaitu dokumen resmi seperti hasil sensus penduduk, surat nikah/baptis, kontrak kerja, dsb., juga dokumen pribadi seperti jurnal, otobiografi, catatan harian, dsb..

Dalam sumber lisan ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk memperoleh data: 1)

Pengamatan-Serta. Di sini seorang peneliti ikut masuk ke dalam kehidupan kelompok sasaran penelitian dan ia

harus melakukan observasi dan pengamatan atas kehidupan itu. Fokusnya adalah “mengamati”, maka itu peneliti tidak boleh menggurui, mengoreksi, ikut campur, atau memihak kelompok2 tertentu yang sedang diamati.

(12)

RESUME BUKU

JUDUL : MENELITI JEMAAT: PEDOMAN RISET PARTISIPATORIS PENULIS : JOHN MANSFORD PRIOR

TAHUN TERBIT : 1997 PENERBIT : GRASINDO

TEBAL : 312 (dengan lampiran) + xviii

2) Wawancara Terbuka. Sebenarnya ada 3 jenis wawancara: a) Wawancara Sambil Lalu, ini dilakukan tanpa rencana dan cenderung bebas dan spontan; b) Wawancara Terfokus, ini dilakukan dengan perencanaan yang baik: siapa sasarannya, apa pertanyaannya, dan bagaimana urutan pertanyaannya; c) Wawancara Terbuka, tipe ini bisa memiliki sifat yang tertutup dan terstruktur seperti Wawancara Terfokus, namun bisa juga cenderung bebas. Meskipun tetap memiliki 1 topik yang jelas untuk dijadikan bahan pertanyaan. Dalam Wawancara Terbuka diharpkan responden dapat memberikan respon dan informasi yang mendalam akan suatu hal. Jika Pengamatan-Serta hanya memberikan gambaran umum, Wawancara Terbuka memberikan gambaran yang lebih mendalam.

Di dalam konteks Indonesia, salah satu yang paling sering muncul dalam wawancara adalah responden memberikan informasi dalam bentuk cerita, bisa cerita rakyat atau pengalaman pribadi. Cerita ini juga perlu dianalisis, misalnya dengan melihat tema, bentuk, pelaku dalam cerita, dan sebagainya. Sehingga kita bisa menangkap isi dan maksud sebenarnya dari cerita itu.

Mengingat bahwa setiap metode itu memiliki keterbatasan dalam memberikan data, maka perlu juga dikembangkan Strategi Terpadu, yaitu strategi dengan menggunakan lebih dari 1 metode, sejumlah jenis data, sejumlah teori, dan sejumlah peneliti.

Pedoman kelima, peneliti harus sungguh2 masuk dan memahami sumber. Misalnya, dalam wawancara peneliti harus sungguh2 mendengarkan dengan telinga, mata, dan hati. Peneliti juga harus sabar dalam proses pencarian data yang mungkin berlangsung lama. Keenam, peneliti harus objektif dalam melihat data. Ia tidak bisa memaksakan hasil data harus sesuai dugaannya. Ia harus menyingkirkan prasangka pribadi dan terbuka jika hasil data itu berbeda dari dugaannya.

Ketujuh, ketika melakukan analisis terhadap data-data, peneliti perlu menggunakan imajinasi

dan kreatifitas. Perlu mencari berbagai cara dalam mengolah data, misalnya dengan mencari benang merah dan hubungan antar data atau meneliti penyebab data itu muncul. Jadi peneliti tidak bisa cukup hanya dengan data “mentah”. Kedelapan, peneliti perlu mengambil jarak dari data, sehingga bisa melihat kembali data itu dari perspektif yang lebih luas dan bisa menemukan hal2 yang mungkin selama ini tidak disadari. Hal ini merupakan pengembangan dari prinsip ketujuh sebelumnya.

(13)

Kesembilan, karena sejak awal penelitian ini harus memiliki tujuan dan sasaran yang jelas,

maka peneliti perlu meninjau kembali hasil penelitian yang didapat bersama dengan kelompok atau Jemaat sasaran. Keterlibatan Jemaat sasaran merupakan hal yang penting. Peneliti menyerahkan hasil penelitian dan berharap akan respon balik dari jemaat sasaran. Sehingga baik peneliti maupun jemaat sasaran bisa semakin diperkaya dan saling belajar satu sama lain.

Kesepuluh, hasil penelitian diharapkan dapat membaharui karya dan kehidupan Jemaat.

Maka itu aksi Pastoral sebagai tindakan konkret perlu dilakukan. Akan tetapi juga perlu diperhatikan kondisi Jemaat. Disadari bahwa Jemaat sendiri memiliki kekurangan dan keterbatasan kemampuan atau juga sumber daya, sehingga tidak semua usulan Aksi Pastoral dari penelitian bisa langsung diterapkan begitu saja. Untuk itu perlu membatasi diri dengan pertanyaan: untuk saat ini, hal apa yang dapat dilakukan oleh Jemaat?

Tanggapan terhadap Buku Meneliti Jemaat

Buku ini menyajikan pedoman praktis dan bahkan sangat detil mengenai penelitian, seperti apa saja yang harus dilakukan dalam penelitian, bagaimana caranya, bagaimana harus memulai, bagaimana mencatat dan menyimpan data, bagaimana menulis kesimpulan, bahkan hingga karakter-karakter apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang peneliti. Lengkap!

Selain lengkap, buku ini juga dilengkapi dengan berbagai ilustrasi atau gambar dan juga bagan atau tabel sehingga terkesan sangat menarik, tidak monoton, dan membuat kita mampu menangkap maksud dan intisari dari apa yang dijelaskan. Selain itu juga, buku ini juga dilengkapi dengan Lampiran yang berisi usulan program dan rencana penelitian, sehingga bisa dijadikan panduan praktis jika kita ingin mencoba untuk memulai sebuah penelitian.

Maka dari itu secara umum buku ini sangat bermanfaat bagi kita yang tertarik untuk

membuat dan memulai sebuah penelitian, terlebih bagi kita yang ingin melakukan

penelitian dalam rangka pengembangan Gereja atau Jemaat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa “penelitian” merupakan salah satu bagian yang tidak

dapat dilupakan begitu saja dari kehidupan gereja. Sebagaimana dikatakan Prior,

penelitian dibutuhkan agar gereja bisa selalu mewujudkan karyanya yang tepat guna,

atau dalam bahasa lain “kontektual”. Apalagi jika kita mengingat kembali akan

konsep Gereja Misioner yang dikembangkan D. R. Maitimoe, di mana ada 3 langkah

yang harus dilakukan untuk mewujudkan konsep itu, yaitu Survey, Mengenali Diri,

dan Rancangan, maka kita bisa menemukan bahwa ketiga langkah itu adalah bagian

dari sebuah penelitian jemaat! Artinya, konsep Gereja Misioner tidak akan bisa

diwujudkan jika kita tidak melakukan penelitian yang mendalam terhadap jemaat!

(14)

RESUME BUKU

JUDUL : MENELITI JEMAAT: PEDOMAN RISET PARTISIPATORIS PENULIS : JOHN MANSFORD PRIOR

TAHUN TERBIT : 1997 PENERBIT : GRASINDO

TEBAL : 312 (dengan lampiran) + xviii

Sumbangsih Buku “Meneliti Jemaat” bagi Kehidupan Gereja saat Ini

Buku ini sejak awal menyajikan sebuah paradigma berfikir bahwa gereja perlu melihat kembali karya dan rutinitas yang selama ini dilakukan. Untuk itulah perlu adanya penelitian sebagai salah satu cara utama agar gereja bisa selalu tepat guna. Di sini gereja kembali diingatkan bahwa ia tidak bisa cukup merasa “nyaman” dengan yang ada sehingga menjadi tertutup dengan perubahan2 dan kreatifitas. Gereja perlu membuka diri untuk selalu berkembang dan diperbarui, seperti slogan gereja reformasi:

ecclesia reformata semper reformanda, gereja reformasi adalah gereja yang harus terus menerus

direformasi (dibaharui). Maka itu GPIB sebagai bagian dari Gereja Reformasi juga perlu terbuka untuk itu.

Salah satu fungsi paling konkret yang bisa dilakukan melalui penelitian adalah ketika gereja (Jemaat) masuk ke dalam proses pembuatan Rancangan Program dan Anggaran. Terkadang sering menjadi masalah yaitu banyak program tiap tahun hanya sekedar copy paste (salin dan tempel) dari program tahun sebelumnya. Tak jarang juga pembuatan program dilakukan hanya atas dasar “kepingin” tanpa ada tujuan dan dasar yang jelas.

Dalam hal ini, penelitian awal akan sangat bisa memberikan kontribusi sehingga program yang disusun bisa sesuai dengan konteks dan kebutuhan. Misalnya, sebuah gereja bergumul karena kehadiran pemuda dalam Ibadah GP sangat minim sekali. Pengurus sudah mencoba ibadah dengan berbagai kreatifitas namun tetap tidak berpengaruh. Dalam hal inilah bisa dilakukan penelitian dengan bertanya: mengapa kehadiran pemuda sedikit? Gereja tidak boleh langsung memulai dari sebuah kesimpulan, seperti “oh itu karena pemudanya pemalas”. Dalam penelitian bisa ditemukan dasar penyebabnya. Dari penelitian juga bisa diketahui apa yang anggota pemuda harapkan dan butuhkan dari Pelkat GP.

Dalam contoh kasus di atas misalnya justru bisa ditemukan hasil yang mungkin tidak diduga. Sekalipun ibadah sudah disusun dengan meriah namun kehadiran tetap sedikit karena ternyata banyak anggota pemuda yang sibuk bekerja. Mereka lelah dan penat dengan hiruk pikuk kehidupan. Maka itu mereka merindukan persekutuan yang lebih teduh dan sifatnya justru tenang dan kontemplatif.

Hal-hal tak terduga seperti ini hanya bisa ditemukan melalui penelitian. Dengan demikian untuk program tahun selanjutnya, pengurus bisa mengajukan program untuk ibadah yang berkonsep teduh atau pelaksanaan retreat yang sungguh2 “menyepi” dari keramaian.

Di atas hanya salah satu contoh kemungkinan yang bisa didapat dari sebuah penelitian. Dengan demikian diharapkan penelitian selalu berujung dan membawa kebaikan di dalam kehidupan gereja.

(15)

• DOA PERSEMBAHAN

P.4 : Jemaat Tuhan, marilah kita berdiri untuk menyerahkan

persembahan syukur :

Semua : Ya Tuhan, terimalah persembahan syukur kami, yaitu umat yang telah Engkau selamatkan. Jadikanlah persembahan syukur kami ini sebagai berkat bagi sesama dan bagi pembangunan tubuh Kristus, amin.

• DOA PERSEMBAHAN

P.4 : Jemaat Tuhan, marilah kita berdiri untuk menyerahkan

persembahan syukur :

Kehadapan-Mu ya Allah, kami menaikan syukur dan mempersembahkan diri kami untuk dijadikan berkat dalam pelayanan dan kemuliaan bagi nama-Mu.

Semua : Sebagaimana adanya: ini kami Tuhan, kiranya Engkau berkenan akan persembahan syukur dan bakti diri kami kepada-Mu, Amin.

• DOA PERSEMBAHAN

P.4 : Jemaat Tuhan, marilah kita berdiri untuk menyerahkan

persembahan syukur :

Ya Allah, Bapa Pemurah, kami bersyukur karena kemurahan kasih, kuasa dan berkat-Mu melimpah dalam hidup kami.

Semua : Terimalah syukur kami melalui pemberian sukarela ini, ya Tuhan, dan berkatilah agar dipakai untuk mewartakan Injil-Mu dalam kata dan perbuatan bagi sesama demi kemuliaan nama-Mu. Dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

(16)

Resume Buku 3

(oleh Vik. Yosua Wahyu Anggoro) JUDUL : BAHTERA GUNA DHARMA GPIB

PENULIS : S. W. LONTOH DAN HALLIE JONATHANS TAHUN TERBIT : 1982 (EDISI REVISI 2014)

PENERBIT : BPK GUNUNG MULIA

TEBAL : 626 + XX Hlm (Di luar lampiran foto belakang)

Bab 6 membahas mengenai keterlibatan GPIB dalam bidang sosial budaya. Peran serta GPIB

dalam hal ini sudah tampak misalnya dalam kegiatan diakonia sosial. GPIB juga berusaha menjadi gereja yang terbuka bagi siapapun, tidak hanya suku namun juga agama lain. Untuk itu dalam hal relasi antar agama GPIB melakukan dialog dengan penganut agama-agama lain. Ini semua dilakukan karena sebagai sesama warga Negara Indonesia, GPIB juga memegang teguh Pancasila dan slogan Bhineka Tunggal Ika sebagai jati diri bangsa.

Bab 7 membahas mengenai pergumulan dan harapan GPIB. Pergumulan antara lain

mengenai struktur GPIB, yaitu terkait dengan badan organisasi, sistem kerja, dan aturan-aturan di GPIB yang masih harus disempurnakan agar koordinasi di dalamnya bisa semakin baik. Juga pergumulan dalam ibadah, misalnya terkait ibadah kategorial dan fungsional agar tidak sekedar mengulang ibadah hari Minggu. Lalu ada juga pergumulan terkait dengan berkembangnya Gerakan Kharismatik dyang fundamentalis yang menekankan praktik karisma (karunia) bahasa Roh di dalam peribadahan dan penafsiran literer atas teks Alkitab. Selain pergumulan, ada harapan yang juga muncul. Di antaranya adalah terkait dengan keberadaan Bidang Pelayanan Khusus yang berfokus pada pelayanan kategorial dan fungsional sehingga bisa menjangkau dan bahkan menggerakkan umat dari latar belakang kategori usia dan fungsi sosial yang berbeda. Harapan juga terlihat dalam potensi materiil GPIB, di mana seiring dengan bertambahnya jumlah Jemaat maka bertambah pula harta milik GPIB, tidak hanya aset gedung gereja namun juga proyek lain yang bisa menolong keberlangsungan dana GPIB.

(17)

Resume Buku 3

(oleh Vik. Yosua Wahyu Anggoro) JUDUL : BAHTERA GUNA DHARMA GPIB

PENULIS : S. W. LONTOH DAN HALLIE JONATHANS TAHUN TERBIT : 1982 (EDISI REVISI 2014)

PENERBIT : BPK GUNUNG MULIA

TEBAL : 626 + XX Hlm (Di luar lampiran foto belakang)

Catatan terhadap Bahtera Guna Dharma GPIB dan Relevansinya bagi GPIB saat Ini

Membaca buku ini dari awal sampai akhir sungguh tidak hanya sekedar menambah

wawasan, namun lebih kepada pemahaman dan pengenalan yang baik akan GPIB.

Sekalipun data-data yang disajikan di dalam buku ini terbatas sampai tahun 1981,

namun justru itu yang membuatnya menjadi menarik! Karena banyak data-data yang

disajikan tidak mudah lagi untuk ditemukan dewasa ini. Tak jarang pula data dan

informasi yang diberikan menimbulkan kesan seperti: “ooh, ternyata dulu begitu toh”,

atau “waah ternyata dari dulu hal ini sudah menjadi pergumulan”, atau juga “hebat,

ternyata dulu bisa begitu. Terus sekarang gimana?”, dan sebagainya.

Akan tetapi dari sekian banyak hal menarik yang dipaparkan dalam buku ini, ada satu

hal yang paling menarik menurut saya, yaitu terkait dengan Oikumene. Dalam buku

ini, Oikumene bahkan termasuk di dalam Dharma gereja, “sejajar” dengan

Persekutuan, Pelayanan, dan Kesaksian. Dari awal sampai akhir buku hampir selalu

aspek Oikumene disinggung. Dasar eksistensi GPIB yang multikultural dikaitkan

dengan Oikumene, yaitu bagaimana GPIB dan gereja-gereja (dari kultur dan budaya)

lain bisa bersama-sama menjawab tantangan di Indonesia. Dalam praktiknya memang

terlihat ada beberapa kegiatan pelayanan dan kesaksian yang dilakukan bersama-sama

antara GPIB dengan gereja lain.

Tidak hanya dalam hal pelayanan bersama, bahkan dalam Ibadah pun juga dibahas

terkait dengan Oikumene, mulai dari tata ibadah, buku nyanyian, hingga konfesi

bersama sebagai gereja di Indonesia. Dalam beberapa kesempatan juga ditunjukkan

bagaimana GPIB mengkritisi peran Dewan Gereja Indonesia (disingkat DGI.

Sekarang PGI, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia) yang dirasa kurang efektif

dalam menyelesaikan pergumulan atau ketegangan gereja-gereja di Indonesia. Untuk

itu ada harapan besar akan lahirnya kader-kader Oikumene dari GPIB, baik dalam

tingkat lokal, nasional, dan bahkan Internasional.

(18)

Hal inilah yang menggelitik hati, ketika melihat kenyataan Oikumene GPIB beberapa

tahun terakhir yang rasa-rasanya tidak se”wah” pemaparan dalam buku ini. Belum

ada lagi terdengar adanya karya atau proyek bersama dalam skala besar yang

dilakukan oleh GPIB secara institusi dengan gereja lain.

Kegiatan bersama masih “terbatas” di tingkat lokal (Jemaat) atau regional dalam hal

Ibadah dan seremonial, diskusi, seminar, atau juga bantuan karitatif bencana alam dan

sejenisnya. Dalam tingkat nasional masih terbatas pada kehadiran GPIB sebagai

peserta dalam Sidang Raya. Bahkan untuk kepengurusan Majelis Pekerja Harian PGI

2014-2019, tidak ada anggota atau kader GPIB di sana. Ini seharusnya merupakan

sebuah pergumulan besar bagi gereja yang sering dianggap sebagai salah satu gereja

Protestan terbesar di Indonesia. Meskipun kita masih bisa bersyukur bahwa dalam

kepengurusan PGIW (tingkat Wilayah/regio), masih ada kader-kader GPIB yang

berkarya di sana.

Pergumulan Oikumene tidak berhenti di situ, karena pergumulan yang pelik juga

terjadi dalam tubuh GPI, di mana GPIB juga merupakan bagian di dalamnya.

Hidupnya keberadaan Jemaat GMIT di wilayah GPIB di Batam, sempat

dibekukannya hubungan GPIB dari GPI beberapa tahun lalu, hingga yang terbaru

mengenai terbukanya kemungkinan bagi GMIM membuka area pelayanan di wilayah

gereja lain dan “melanggar” kesepakatan sebagai sesama saudara, menunjukkan

adanya persoalan yang cukup akut di dalam tubuh GPI.

Jika kita melihat semangat Oikumenisme yang tinggi sebagaimana tercermin dalam

buku Bahtera Guna Dharma GPIB, maka adalah lumrah jika muncul harapan yang

tinggi bahwa GPIB bisa menjadi pionir dan penggerak kebersamaan antar gereja,

sehingga upaya mewujudkan rumah bersama (oikos + nomos = oikumene) itu bisa

terwujud. Saat ini semangat berpelayanan dan kesaksian (pelkes) GPIB sangatlah

tinggi, jika tidak dapat disebut sedang tinggi-tingginya. Dalam setiap edisi majalah

Arcus hampir pasti selalu ada liputan tentang kegiatan Pelkes. Namun masih jarang

sekali terlihat liputan yang begitu luar biasa akan peran GPIB dalam gerakan

Oikumene. Tentu ada harapan agar semangat GPIB yang menggebu-gebu dalam

berpelkes ini bisa juga hidup dalam upaya beroikumene. Semua demi terwujudnya

cita-cita gereja Kristen yang Esa di Indonesia sebagai upaya perwujudan cita-cita

Tuhan Yesus dalam doaNya di Getsemani: “supaya mereka menjadi satu”, et omnes

unum sint.

(19)

Bab 3 membahas mengenai Organisasi GPIB. Di sini disinggung antara lain mengenai tata Gereja

GPIB, penjelasan mengenai Persidangan Sinode, Majelis SInode, Jemaat, para pejabat di GPIB yang saat itu terdiri dari pendeta, penatua, diaken, dan penginjil. Juga disinggung mengenai status Musyawarah Pelayanan (Mupel) sebagai wadah kebersamaan Jemaat-Jemaat, apakah perlu distrukturkan dalam artian menjadi lembaga di atas Jemaat atau tidak. Juga dibahas mengenai Garis-Garis Besar Kebijaksanaan Umum Pelayanan Gereja (GBKUPG) yang menunjukkan panduan, patokan, dan arah yang jelas dalam GPIB menjalankan panggilan dan pengutusannya.

Bab 4 membahas mengenai pembentukan dan pembinaan pejabat dan warga GPIB. Antara lain

disinggung mengenai proses vikariat sebagai syarat menjadi pendeta, juga kemungkinan studi lanjut bagi para pendeta. Selain itu juga ada pembinaan yang menyeluruh dan luas terhadap segenap warga GPIB, mulai dari pembinaan mengenai organisasi GPIB, ibadah, Alkitab, kesejahteraan keluarga, hingga wawasan kebangsaan.

Bab 5 membahas mengenai Catur Dharma GPIB, yaitu Persekutuan, Pelayanan, Kesaksian, dan

Oikumene. Dalam Persekutuan dibahas mengenai Ibadah di GPIB. Salah satu yang menarik dan penting adalah bahwa dalam rangka mewujudkan Gereja yang Misioner harus ada hubungan langsung antara liturgi ibadah dengan Pekabaran Injil. Artinya konsep dan amanat di ibadah itu harus membentuk dan menggerakkan umat menjalankan panggilan misionernya dalam konteks Indonesia. Dalam hal Pelayanan, ada dua bagian besar dalam Pelayanan GPIB yaitu dalam hal Pendidikan dan Diakonia. Dalam bidang pendidikan GPIB bergerak antara lain melalui Bakordik GPIB dengan mendirikan sekolah-sekolah Kristen dalam lingkup GPIB, pendidikan guru agama, dan sebagainya. Sedangkan pelayanan diakonia dilakukan dalam bentuk pelayanan karitatif dan pelayanan komprehensif-oikumenis yang di dalamnya juga bekerjasama dengan gereja-gereja lain, dengan sasaran yang menjangkau mulai dari individu, kelompok masyarakat seperti petani, tukang becak, dan sebagainya, hingga upaya pembaharuan struktur atau sistem sosial, seperti Undang-Undang dan sebagainya.

Dalam bidang Kesaksian tercermin melalui wilayah-wilayah Pekabaran Injil (PI) yang dikembangkan oleh GPIB, yang menjangkau hingga wilayah-wilayah pelosok dan pedalaman. GPIB juga bekerjasama dengan gereja dan lembaga PI di luar GPIB. Selain itu juga dikembangkan sistem adopsi, di mana ada Jemaat-jemaat tertentu yang menjadi sponsor moril, tenaga, maupun materiil bagi jemaat-jemaat P!. Dalam bidang Oikumene, GPIB terpanggil untuk bisa berjalan bersama-sama dengan gereja-gereja lain di Indonesia menjawab tantangan dan pergumulan yang ada di Indonesia. Ini sekaligus sebagai upaya perwujudan gereja Kristen yang Esa di Indonesia. Untuk itu GPIB aktif di wadah Dewan Gereja Indonesia (DGI), menjadi anggota di Dewan Gereja Dunia (WCC), Dewan Gereja Asia (CCA), juga Persekutuan Gereja Reform (Protestan) Dunia (WARC). (bersambung...)

Buku Bahtera Guna Dharma GPIB ini menyajikan sebuah gambaran yang komprehensif dan utuh mengenai GPIB, mulai dari awal berdirinya tahun 1948 sampai tahun 1980. Bahkan dalam bagian tertentu disajikan juga mengenai peristiwa sebelum GPIB berdiri. Tidak heran

(20)

buku ini bisa menjadi begitu tebal, karena ia tidak hanya menyajikan sejarah GPIB, namun juga dasar eksistensi GPIB, perangkat organisasi GPIB, panggilan GPIB, hingga pergumulan yang dihadapi oleh GPIB. Tulisan itu tersebar dalam 7 Bab buku ini.

Pada Bab 1 disajikan mengenai dasar eksistensi (keberadaan) GPIB, terkait dengan pandangan mengenai ekumenitas, missioner, juga sistem presbiterial sinodal. Penulis buku ini menunjukkan bahwa eksistensi GPIB adalah multikultural, karena GPIB terdiri dari orang-orang dnegan latar belakang suku, budaya, dan bahasa yang berbeda. GPIB merupakan cerminan Indonesia. Maka itu GPIB juga merupakan Gereja Nasional, dalam artian ia hadir dan bereksistensi di bumi Indonesia untuk menjawab tantangan dan pergumulan yang dialami oleh bangsa Indonesia.

Bab 2 membahas mengenai Sejarah GPIB. Di mulai dari masa pra-GPIB sejak zaman VOC

abad 17 dalam nama De Indische Kerk yang cenderung mengikuti sistem Gereja Hervormd Belanda. Di mana gereja saat itu sangat “terikat” kepada pemerintah. Kemudian mulai muncul kesadaran bahwa gereja perlu lebih mandiri dalam berbagai hal (dana, teologi, pekerja), maka mulailah di beberapa wilayah dilahirkan gereja-gereja mandiri dari Indische Kerk (GPI-Gereja Protestan di Indonesia). Tahun 1934 lahir Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM); tahun 1935 lahir Gereja Protestan Maluku (GPM); tahun 1947 lahir Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT); dan melalui Proto SInode 1948 lahirlah GPIB.

Sejak saat itu ada beberapa periode yang dilalui GPIB: (1) Periode Peletakan dasar GPIB (1948-1964), di mana GPIB fokus pada masalah antara lain penggunaan bahasa dalam ibadah dan pelayanan (Indonesia atau Belanda); (2) Periode Pembangunan Jemaat Misioner (1964-1974), antara lain terlihat dalam semakin besarnya peran Bidang Pelayanan Khusus (BPK) dalam lingkup Sinodal maupun Jemaat.; (3) Periode Pembangunan Material dan Masa Depan GPIB (1974-1978), di mana GPIB semakin memperhatikan aspek ekonomi, finansial, serta pengembangan asset gereja. Pada masa ini juga terjadi Konsultasi Pendeta Wanita tahun 1977. (bersambung...)

RESUME BUKU 2 (Oleh Vik. Yosua Wahyu Anggoro) JUDUL : MEMBINA JEMAAT MISIONER PENULIS : D. R. MAITIMOE

PENERBIT/ TAHUN : BPK GUNUNG MULIA/1984

TEBAL : 87 HALAMAN

Buku ini bisa dikatakan merupakan “kelanjutan” dari buku D. R. Maitimoe sebelumnya, yaitu Pembangunan Jemaat Misioner. Buku ini bersifat seperti “panduan praktis”, yaitu bagaimana mengimplementasikan konsep-konsep dalam buku Pembangunan Jemaat Misioner itu dalam kehidupan sehari-hari. Sekalipun lebih bersifat praktis, namun Maitimoe tetap memulainya dari pemaparan akan konsep teologis tertentu sebagai dasar dari Jemaat Misioner ini.

(21)

Dasar-dasar teologis itu dapat tercermin misalnya dari Yoh. 3:16, yang menunjukkan bahwa seharusnya Jemaat (Gereja) hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk dunia ini. Ini dikarenakan karya penyelamatan Allah berlaku untuk dunia dan segenap manusia, bukan hanya untuk gereja. Maka itu perlu ada pembinaan kepada jemaat yang meliputi berbagai aspek, seperti ibadah, pelayanan, kesaksian, atau persekutuan sehingga Jemaat bisa memiliki sifat yang terbuka, luwes, dinamis, kreatif, positif, dan tetap kritis dalam melihat perkembangan dunia dan masyarakat (Rom. 1:14; Rom. 12:1-2; 1 Kor. 9:19-23).

Setelah memulai dari dasar teologis, Maitimoe juga menyinggung mengenai strategi missioner yang dikembangkan Kristus yang bisa menjadi dasar dan teladan dalam strategi Jemaat Misioner, lalu apa-apa saja yang menghambat/memperlambat upaya perwujudan Jemaat yang Misioner ini, kepemimpinan seperti apa yang perlu dikembangkan dalam Jemaat Misioner, apa apa saja dinamika konteks yang dijumpai jemaat.

Dari penjelasan di atas, Maitimoe sampai kepada usulan langkah konkret dan praktis dalam perwujudan Jemaat Misioner itu. Ada 3 langkah dasar dalam upaya membina jemaat yang missioner ini, yaitu (1) survey, (2) mengenali dan memahami diri, dan (3) rancangan.

Pertama Survey. Survey ini penting dalam kita memahami dan mengenal konteks di mana

jemaat yang missioner itu hendak hidup, tumbuh, dan berkarya. Perumpamaan mengenai seorang Penabur (Mat 13:1-23; Mark 4:1-20; Luk 8:4-15) yang mengisahkan tentang benih yang ditaburkan di berbagai jenis tanah sesungguhnya juga menunjukkan bahwa beda jenis tanah, bisa berbeda tunas bertumbuh. Begitu juga Injil yang dikabarkan bisa tumbuh secara berbeda tergantung dengan konteks di mana Injil itu diberitakan atau ditaburkan.

Kita perlu melakukan pengamatan (observasi) yang memadai mengenai konteks, melakukan pengumpulan data, dan menganalisis data atas konteks itu. Dari sini kita bisa memahami pokok-pokok permasalahan yang secara riil terjadi di dalam konteks, dan kita bisa mencari tahu bagaimana Injil bisa berbicara dan berperan di dalam permasalahan-permasalahan itu. Dari sini juga kita bisa tahu bagaimana secara pribadi maupun secara komunal (organisasi) kita bertindak dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada itu.

Untuk itu dalam bagian ini juga diperlukan bantuan dari tenaga-tenaga ahli dan orang-orang yang berpengalaman, tidak hanya untuk mengobservasi, namun juga untuk mengumpulkan data dan melakukan analisis terhadapnya. Sehingga data yang didapat dan hasil olahan data itu bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu penting juga adanya kesediaan dari Majelis Jemaat untuk terbuka mempelajari hasil survey itu, dan tidak hanya diam dan betah saja dengan kondisi dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada. Karena perlu dipahami juga bahwa kegiatan Survey ini bukan sekedar cara manusia memahami konteks, namun juga merupakan cara Roh Kudus turut berkarya bagi gereja.

Hasil upaya dari observasi, pengumpulan, dan analisis data itu membawa Jemaat kepada momen yang kedua, yaitu pengenalan dan pemahaman diri (Sumber Daya Jemaat). Maitimoe menawarkan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Jemaat perlu melihat

(22)

dirinya, mencari tahu apa saja kekuatan (strength) dan kelemahan (Weakness) mereka. Namun mereka juga perlu tahu apa saja kesempatan (Opportunity) yang ada di sekitar mereka, dan ancaman (Threat) apa yang bisa menghambat mereka.

Pemahaman dan pengenalan diri yang baik mampu mendorong Jemaat untuk berkarya lebih luas ke luar gereja. Melalui analisis diri yang baik, disertai dengan penelaahan Alkitab, persekutuan, diskusi, studi, dan pergumulan doa, maka Jemaat akan mampu memiliki sebuah pemahaman (gambaran) yang tepat dan utuh perihal tugas perutusannya di dunia.

Ketiga, setelah Jemaat sudah melakukan Survey dan melakukan pemahaman dan pengenalan

yang dalam tentang dirinya, yang harus dilakukan adalah melakukan rancangan sebagai implementasi perwujudan Jemaat yang Misioner. Di sini setidaknya ada 2 hal yang harus diperhatikan, yaitu [a] motivasi (teologis) dan [b] tujuan (missioner). Kedua hal ini perlu dimiliki sehingga proses dan arah pembangunan jemaat ini menjadi jelas.

Dalam hal ini secara teknis perlu dibentuk panitia, yang oleh Maitimoe disebut “Panitia Perencanaan Pembinaan Jemaah Misioner”, yang terdiri dari warga jemaat, para ahli, majelis, dan/atau pendeta. Panitia inilah yang berfungsi membuat rancangan yang jelas bagaimana Jemaat Misioner itu hendak diwujudkan, baik dalam program kerja maupun rencana pembinaan dan persiapan, hingga bagaimana pelaksanaannya dilakukan oleh warga Jemaat. Agar semua proses dan rencana itu dapat terwujud, juga perlu untuk diperhatikan adalah pentingnya semua ini dilaksanakan dengan tidak sambil lalu begitu saja namun dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dengan metode kerja yang baik, dan dengan tekad iman yang kuat. Dari seluruh hal di atas terlihat bahwa proses ini membentuk 3 pola, yaitu (1) Pola Datang, yaitu bagaimana melibatkan dan memobilisasi warga jemaat untuk terlibat; (2) Pola Pergi, yaitu bagaimana gerakan dan karya missioner itu dilakukan kepada dunia (di luar gereja); dan (3) Pola Pengemban, yaitu bagaimana membina Jemaat menjadi Jemaat yang Misioner. Pada akhirnya membina Jemaat Misioner ini memiliki tujuan untuk mengembangkan bentuk, cara, dan pola berjemaat (bergereja) yang relevan dengan konteks, dan bersama-sama dengan yang lain membangun dunia yang dipenuhi dengan damai sejahtera. (bersambung...)

RESUME BUKU 2

(Oleh Vik. Yosua Wahyu Anggoro)

JUDUL : MEMBINA JEMAAT MISIONER

PENULIS : D. R. MAITIMOE

PENERBIT/ TAHUN : BPK GUNUNG MULIA/1984

TEBAL : 87 HALAMAN

Catatan-Catatan terhadap Pemikiran Maitimoe

Tulisan Maitimoe ini meskipun tipis (87 halaman), namun tetaplah sebuah tulisan yang berbobot. Karena ia tidak hanya menunjukkan hal-hal praktis, namun juga dasar konseptual yang baik. Sekalipun dasar konseptual yang lebih komprehensif ada di buku yang sebelumnya, yaitu Pembangunan Jemaat Misioner. Sekalipun demikian ada catatan yang menurut saya penting untuk diperhatikan terkait dengan konsep yang dijabarkan Maitimoe.

(23)

Dalam Bab 2 mengenai Membina Pertumbuhan Jemaah, Maitimoe menjadikan peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul sebagai contoh, di mana dalam waktu singkat ada 3000 jiwa baru yang menjadi anggota jemaat. Dan memang, sekalipun Maitimoe menekanan pentingnya kualitas karya pelayanan, namun ia juga melihat pentingnya pertambahan kuantitas anggota jemaat. Yaitu bahwa Injil yang diberitakan perlu juga untuk menambah anggota jemaat. Penginjilan perlu dilakukan baik kepada orang Kristen lama maupun generasi Kristen baru.

Menurut saya, bagian ini perlu kita lihat secara hati-hati. Kecenderungan Gereja untuk menambah jumlah anggota dalam praktiknya seringkali justru menyinggung kebersamaan dengan orang lain, baik sesama Gereja maupun orang-orang non Gereja. Tak bisa dipungkiri salah satu persoalan Ekumenis di Indonesia adalah persoalan “curi domba”. Bagaimana satu gereja menambah jumlah anggota gerejanya dengan “mengambilnya” dari gereja lain. Hal ini sering menimbulkan ketegangan antar gereja.

Belum lagi dengan kecurigaan dan cap “Kristenisasi” yang tidak jarang dicetuskan oleh orang-orang kepada Gereja yang melakukan pelayanan masyarakat. Akibatnya banyak penolakan-penolakan yang dilakukan kepada gereja, dan menimbulkan kericuhan antar umat beragama. Gereja bukan membawa damai sejahtera namun justru menjadi sumber keributan! Untuk itulah kita perlu melihat kembali secara kritis mengenai pemahaman dan motivasi mengenai kuantitas anggota gereja sebagai salah satu tolok ukur utama dalam pertumbuhan jemaat.

Maitimoe sendiri sesungguhnya menyadari bahaya akan hal ini, maka itu dalam tulisan ini ia juga mengatakan bahwa “pelipatgandaan jumlah warga gereja (baru) tidak merupakan satu-satunya ukuran berhasilnya … Jemaah missioner” (hal. 23). Akan tetapi dalam keseluruhan tulisannya, terlihat seolah ia keukeuh dengan pemahaman bahwa kuantitas dan angka merupakan hal yang penting, setidaknya sebagai umpan balik bagi strategi yang akan dikembangkan ke depan. Karena dalam strategi Kristus sendiri, menurut Maitimoe, pelipatgandaan jemaat juga merupakan salah satu yang menonjol. Pertanyaannya, benarkah demikian? Mari kita lihat kembali.

Dalam Matius 18:20 Yesus berkata: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Ayat ini mau menunjukkan bahwa dalam jumlah yang sedikit sekalipun, Tuhan berkenan hadir. Ini menunjukkan bahwa jumlah yang lebih banyak tidak berarti lebih baik daripada jumlah yang sedikit. Sedikit asalkan disertai dengan kualitas yang baik itulah yang diterima Yesus. Ini senada dengan kisah persembahan seorang janda miskin (Markus 12:41-44; Lukas 21:1-4), di mana janda ini hanya memberikan persembahan 2 peser, sedikit dari segi jumlah, tapi dari segi nilai dan kualitas persembahannya lebih besar dari siapapun.

Tidak hanya itu saja, dalam kehidupan-Nya, bukan berarti Yesus selalu senang dan menyambut dengan terbuka jika ada orang yang ingin menjadi pengikutNya. Dalam Lukas

(24)

9:57-62 menunjukkan bagaimana ada orang yang ingin mengikut Yesus, namun ingin mengubur bapaknya dahulu dan juga ada yang ingin pamitan dengan keluarganya, dan kepada keduanya Yesus justru menyampaikan kritikan yang pedas. Apa artinya? Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mengutamakan penambahan jumlah (kuantitas) pengikutNya, namun Ia lebih memperhatikan dan mengutamakan kualitas diri seseorang. Demikianlah hendaknya Jemaat yang Misioner dalam melakukan karya misi kepada dunia tidak memiliki motivasi dan tujuan pertama-tama untuk menambah jumlah anggota, tapi fokus kepada bagaimana karya misi itu bisa meningkatkan kualitas kehidupan. Bukan hanya kualitas orang lain, namun juga kualitas diri sendiri.

Sumbangsih Pemikiran Maitimoe bagi Kehidupan Gereja saat Ini

Pertama, Maitimoe menunjukkan kepada gereja mengenai pentingnya memahami dan

mengenali konteks di mana gereja itu hidup. Pertanyaan-pertanyaan seperti: apa saja permasalahan sosial yang ada di sekitar sini? Apa yang masih kurang di lingkungan ini? Siapa-siapa saja yang hidup di sini? Dan pertanyaan yang sejenis perlu diajukan. Observasi dan analisis diperlukan supaya karya misi yang hendak dilakukan menjadi tepat, kabar sukacita (Injil) yang ditaburkan pun bisa tumbuh.

Kedua, sebagaimana memahami konteks, Maitimoe juga menunjukkan betapa gereja juga

perlu memahami dan mengenal dirinya sendiri. Gereja perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa saja kekuatan dan kelebihan yang dimiliki gereja ini? Apa saja kekurangannya? Apa saja masalah yang dihadapinya? Peluang dan kesempatan apa yang dimiliki gereja? Ini penting agar Jemaat bisa bertumbuh ke arah yang tepat.

Kedua hal di atas menjadi penting dan dapat terlihat hasilnya ketika gereja membuat Rencana Program dan Kegiatan. Program dan kegiatan gereja akan memiliki tujuan yang jelas, tepat sasaran, dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan berjemaat, jika kedua hal di atas (mengenali konteks dan diri sendiri) bisa dilakukan dengan baik. Namun jika kedua hal di atas tidak dilakukan dengan baik, besar kemungkinan program dan kegiatan gereja hanya sekedar rutinitas saja, hanya mengulang program dari tahun-tahun sebelumnya, dan tidak mampu meningkatkan kualitas hidup berjemaat. Selesai...

Referensi

Dokumen terkait

Wignjosoebroto (2000), ”  ”  Perencanaan tata letak fasilitas sama Perencanaan tata letak fasilitas sama dengan perancangan tata letak pabrik yang dapat

Masraflar, bütçenin % 5'ini (eğer hafızamız yanıltmıyorsa) geçmezdi. Çünkü hareket ilericiydi, halka dayanma durumundaydı, milletin sinmesinde değil

Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran hukum masyarakat, dalam perkembangan selanjutnya timbul permasalahan tanggung jawab pidana seorang dokter, khususnya

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sistem penangkal petir (SPP) eksternal yang telah terpasang dan untuk mengetahui efektifitas sistem penangkal petir

Keempat fungsi jiwa yang pokok dan kedua sikap jiwa serta berbagai sistem yang membentuk keseluruhan kepribadian berinteraksi satu sama lain dalam 3 macam cara yaitu: (a)

Melalui praktikum ini praktikan berusaha untuk menentukan ukuran (diameter) partikel umpan (feed) yang berbentuk padatan dan produk grinding dengan menggunakan

gar pro%il permukaan bukan logam *elas dengan SEM maka permukaan material tersebut harus dilapisi dengan logam.>ilm tipis logam dibuat pada permukaan material tersebut

Sinopsis Kursus ini melibatkan pengajaran teori dan amali merangkumi kaedah dan prosedur membuat pelbagai jenis pastri seperti pastri rapuh, pastri choux, dan pastri