BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan, dimana aspek yang menjadi subjek sekaligus objek yang penting dalam hal ini adalah peserta didik. Pendidikan yang diberikan tidak hanya dalam lingkup akademik namun mendidik disini dimaksudkan untuk membentuk kepribadian yang sesuai dengan norma hukum dan agama. Setiap peserta didik bersifat khas dan unik karena setiap peserta didik berbeda-beda.
Dalam pendidikan dan pembelajaran diperlukan suatu pengetahuan akan perkembangan-perkembangan yang terjadi pada peserta didik. Dimana aspek-aspek perkembangan peserta didik cukup banyak seperti perkembangan fisik, perkembangan intelektual, perkembangan moral, perkembangan spiritual atau kesadaran beragama dal lain sebagainya. Setiap aspek-aspek tersebut dapat dikaji berdasarkan fase-fasenya untuk membantu dalam memahami cara belajar dan tentunya sikap maupun tingkah laku peserta didik. Selain itu, aspek pembelajaran yang diberikan kepada para peserta didik juga berupa pendidikan moral dan spirituall untuk membentuk pribadi-pribadi yang sesuai dengan harapan bangsa yang dituliskan pada tujuan pendidikan bangsa Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini dapat di rumuskan beberapa masalah, yaitu : 1. Bagaimana perkembamngan moral peserta didik.?
2. Bagaimana perkembangan spiritual peserta didik.?
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik
Secara etimologi istilah moral berasal dari bahasa Latin mos, moris (adat, istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku, kelakuan) mores (adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak). Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai-nilai moral ini antara lain, seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, atau larangan untuk tidak berbuat kejahatan kepada orang lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa moral merupakan tingkah laku manusia yang berdasarkan atas baik-buruk dengan landasan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Seseorang dikatakan bermoral apabila ia mempunyai pertimbangan baik dan buruk yang ditunjukkan melalui tingkah lakunya yang sesuai dengan adat dan sopan santun. Sebaliknya seseorang dikatakan memiliki perilaku tak bermoral apabila perilakunya tidak sesuai dengan harapan sosial yang disebabkan dengan ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri. Selain itu ada perilaku amoral atau nonmoral yang merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial yang lebih disebabkan karena ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok.
A.
Teori perkembangan moral menutut Kholberg
a)
Aspek perkembangan moral pada fase perkembangan anak-anak1. Fase Prasekolah (usia taman kanak-kanak)
Anak usia prasekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 2-6 tahun. Anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training), dan beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya). Sedangkan untuk perkembangan moralnya adalah sebagai berikut :
Pada masa ini anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain (orang tua, saudara dan teman sebaya) anak belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku mana yang baik ataupun buruk. Berdasarkan pemahaman itu, maka pada masa ini anak harus dilatih dibiasakan mengenai bagaimana dia harus bertingkah laku (seperti mencuci tangan sebelum makan).
Pada saat mengenalkan konsep baik-buruk atau menanamkan disiplin pada anak orang tua atau guru hendaknya memberikan penjelasan tentang alasannya (seperti mengapa sebelum makan harus cuci tangan). Penanaman disiplin disertai dengan alasan diharapkan akan mengembangkan self control atau self discipline (kemampuan mengendalikan diri atau mendisiplinkan diri berdasarkan kesadaran sendiri) pada anak. Apabila penanaman disiplin ini tidak disertai penjelasan tentang alasannya atau bersifat doktriner biasanya akan melahirkan sikap disiplin buta, apalagi jika disertai dengan perlakuan kasar.
Dalam rangka membimbing perkembangan moral anak pra sekolah ini, sebaiknya orang tua atau guru-guru TK, melakukan upaya berikut :
a. Memberikan contoh atau teladan yang baik dalam berperilaku atau
bertutur kata.
b. Menanamkan kedisiplinan kepada anak dalam berbagai aspek kehidupan
seperti memelihara kebersihan atau kesehatan, tata krama.
c. Mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral kepada anak baik
melalui pemberian informasi atau melalui cerita, seperti tentang : riwayat orang-orang yang baik (para nabi dan pahlawan).
2. Fase Anak Sekolah (Usia Sekolah Dasar)
Anak mulai mengenal konsep moral pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya mungkin anak tidak mengerti konsep moral ini, tetapi lambat laun anak akan memahaminya. Usaha menanamkan moral sejak usia dini merupakan hal yang seharusnya karena informasi yang diterima mengenai benar-salah atau baik-buruk akan menjadi pedoman tingkah lakunya kemdian hari.
Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti pertautan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk. Misalnya, dia menilai bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan suatu yang salah atau buruk. Sedangkan perbuatab jujur, adil dan sikap hormat kepada orang tua dan guru merupakan sesuatu yang benar atau baik.
b) Aspek perkembangan moral pada fase perkembangan remaja
Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Remaja merupakan fase perkembangan individu sekitar 13-20 tahun. Perkembangan moral remaj adalah sebagai berikut :
Melalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konseo moralitas.
Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain. Remaja berperilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasan fisiknya tetapi psikologisnya (rasa puas dengan peneriamaan dan penilaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).
Dikaitkan dengan perkembangan moral dari Lawrence Kolhberg, menurut Kusdwirarti Setiono (Fuad Nashori, Suara Pembaharuan,7 Maret 1997) pada umunya remaja berada dalam tingkatan konvensional atau berada dalam tahap ketiga (berperilaku sesuai dengan tuntutan dan harapan kelompok) dan keempat (loyalitas terhadap norma).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kusmara (Mahasiswa PPB FIP IKIP Bandung) terhadap siswa kelas II SMA Negeri 22 Bandung, pada tahun 1995 ditemukan bahwa tingkatan moral mereka itu bersifat menyebar yaitu pada tingkat pra-konvensional (14 %), konvensional (38 %), dan pasca-konvensional (48 %). Jumlah respondennya adalah sebanyak 120 orang.
Keragaman tingkat moral remaja disebabkan oleh factor penentunya yang beragam juga. Salah satu penentu atau yang mempengaruhi perkembangan moral remaja adalah orang tua. Menurut Adam dan Gullotta (183 : 172-173) terdapat beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orang tua mempengaruhi moral remaja, yaitu sebagai berikut :
1. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat moral remaja
dengan tingkat moral orang tua.
2. Ibu-ibu remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi
dalam tahapan nalar moralnya daripada ibu-ibu yang nakal; dan remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam tahapan nalar moralnya daripada remaja yang nakal.
3. Terdapat dua factor yang dapat meningkatkan perkembangan moral
remaja yaitu:
a. Orang tua yang mendorong anaknya untuk berdiskusi secara
demokratik dan terbuka mengenai isu.
b. Orang tua menerapkan didiplin terhadap anak dengan teknik
berfikir induktif.
Menurut teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap yaitu:
1.Tingkat Satu : Penalaran Prakonvesional
Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.
1. Tahap 1 : Orientasi hukuman dan ketaatan ialah tahap pertama dalam
teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman. Anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat.
2. Tahap 2: Individualisme dan tujuan adalah tahap kedua dari teori ini.
Pada tahap ini penalaran moral didasarkan pada imbalan dan kepentingan diri sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.
2Tingkat Dua: Penalaran Konvensional
menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.
3. Tahap 3: Norma-norma interpersonal, pada tahap ini seseorang
menghargai kebenaran, kepedulian, dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Anak anak sering mengadopsi standar-standar moral orangtuanya pada tahap ini, sambil mengharapkan dihargai oelh orangtuanya sebagai seorang perempuan yang baik atau laki-laki yang baik.
4. Tahap 4: Moralitas sistem sosial. Pada tahap ini, pertimbangan moral
didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.
3. Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional
Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.
5. Tahap 5: Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual, pada tahap ini
seseorang mengalami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Seseorang menyadari hukum penting bagi masyarakat, tetapi nilai-nilai seperti kebebasan lebih penting dari pada hukum.
6. Tahap 6: Prinsip-prinsip etis universal, pada tahap ini seseorang telah
mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. Bila menghadapi konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi.
Adapun tingkat dan tahap perkembangan moral yang dikenal diseluruh dunia yang di kemukakanoleh kohlberg (1958) sebagai berikut:
Tingkat Tahap konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak,
1. Orientasi Terhadap Kepatukan dan Hukuman
2. Konvensional masyarakat tidak dipandang sebagai tujuan akhir tetapi diperlukan sebagai subjek. Anak menaati aturan karena takut hukuman kata hati.
2. Orientasi hedonistic adalah suatu perbuatan dinilai baik jika berfungsi sebagai alat menghormati otoritas dan memelihara ketertiban social
Lawrence Kohlberg mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan kedalam enam tahap perkembangan moral yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi kedalam tiga tingkatan: prakonfensional, konvensional, dan pascakonvensional. Karakteristik untuk masing-masing tahapan perkembangan moral yang dimaksud disajikan dalam tabel berikut ini.
baik)).
Tahap 4 Sistem sosial dan hati nurani (orientasi otoritas dan
Tahap 5 Kontrak sosial Relatif menjungjung tinggi aturan dalam memihak
kepantingan dan kesejahteraan untuk semua.
Tahap 6 Prinsip etika universal Prinsip etis yang dipilih sendiri, bahkan ketika ia bertentangan dengan hukum
B. Perkembangan Spiritual Peserta Didik
1. Pengertian spiritual
Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spiritual meliputi komunikasi dengan Tuhan (fox 1983), dan upaya seseorang untuk bersatu dengan Tuhan (Magill dan Mc Greal 1988), spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).
Perkembangan spiritual didasarkan pada ayat-ayat alquran dan hadist yang menjelaskan tentang fitrah beragama. Dalam perkembangannya, firtrah beragama ini ada yang berjalan secara alamiah dan ada juga yang mendapat bimbingan dari para rasul Allah SWT, sehingga fitrahnya itu berkembang sesuai kehendak Allah SWT. Keyakinan bahwa manusia itu mempunyai fitrah atau kepercayaan kepada Tuhan didasarkan pada firman Allah:
1. Surat Al-‘araf ayat 172 yang artinya:
“dan ingatlah ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘bukankah aku ini tuhanmu?’ mereka menjawab: ‘betul (engkau tuhan kami). Kami menjadi saksi (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat tidak mengatakan, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan tuhan).”
“maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama allah, (tetaplah atas) fitrah allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Ituah agam lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
3. Surat Asy-syamsu ayat 8 yang artinya:
“maka allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya.”
Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembang. Namun, mengenai arah dan kualitas perkembangan beragama anak sangat bergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Hal ini sebagaimana yang telah dinyatakan oleh nabi Muhammad Saw: “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya karena keadaan orangtuanyalah, anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi.” Hadis ini mengisyaratkan bahwa faktor lingkungan (terutama orangtua) sangat berperan dalam mempengaruhi perkembangan fitrah keberagamaan anak. Jiwa beragama merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang direfleksikan ke dalam peribadatan kepada-Nya, baik yang bersifat habluminallah dan hablumminannas.
2. Karakteristik spiritual
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan.Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:
a. Kepercayaan
b. Pemaafan
c. Cinta dan hubungan
d. Keyakinan, kreativitas dan harapan
Karakteristik dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengrahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang maladaptif. perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia. Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan.
a. Individu yang berusia antara 0-18 bulan, Bayi yang sedang dalam proses
tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri. Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Haber (1987) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi.
b. Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa
kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual.
c. Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun)
berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya.
d. Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami
berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka.
e. Remaja (12-18 tahun). Pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti
dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
f. Dewasa muda (18-25 tahun). Pada tahap ini individu menjalani proses
perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa.
g. Dewasa pertengahan (25-38 tahun). Dewasa pertenghan merupakan tahap
perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual.
h. Dewasa akhir (38-65 tahun). Periode perkembangan spiritual pada tahap
ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat.
i. Lanjut usia (65 tahun sampai kematian). Pada tahap perkembangan ini,
menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri. Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral dan
Spiritual Peserta Didik
Berbagai aspek perkembangan pada peserta didik dipengaruhi oleh interaksi atau gabungan dari pengaruh internal dan faktor eksternal. Begitu pula dengan perkembangan moral dan spiritual dari peserta didik. Meskipun kedua aspek perkembangan tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang hampir sama tetapi kadar atau bentuk pengaruhnya berbeda.
Pada perkembangan moral peserta didik faktor internal meliputi faktor genetis atau pengaruh sifat bawaan yang ada pada diri peserta didik. Selanjutnya sifat-sifat yang mendasari adanya perkembangan moral dikembangkan atau dibentuk oleh lingkungan. Peserta didik akan mulai melihat dan memasukkan nilai-nilai yang ada di lingkungan sekitarnya baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat yang dapat meliputi para tetua yang mungkin menjadi teladan di masyarakat, para tetangga, teman maupun guru yang ada di lingkungan sekolah. Semua aspek di atas memiliki peran yang penting dalam perkembangan moral peserta didik yang kadarnya tau besarnya pengaruh bergantung pada usia atau kebiasaan dari peserta didik itu sendiri (Baharuddin, 2011).
Meskipun faktor eksternal memiliki pengaruh yang cukup besar pada perkembangan moral peserta didik, peserta didik tetap mampu menentukan hal-hal atau nilai-nilai yang akan dianut atau digunakan sebagai pembentuk jati diri. Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh pengetahuan peserta didik akan nilai-nilai moral yang tentunya pertama kali akan dilihat dari sosok atau jati diri orang tua.
membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu tersebut, banyak faktor yang mempengaruhinya diantaranya yaitu:
1. Tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.
2. Banyak model (orang dewasa yang simpatik, teman-teman,
orang-orang yang terkenal dan hal-hal lain) yang diidentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal.
3. Lingkungan meliputi segala segala unsur lingkungan sosial yang berpengaruh,
yang tampaknya sangat penting adalah unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.
4. Tingkat penalaran, dimana perkembangan moral yang sifatnya penalaran menurut
Kohlberg, dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menrut tahap-tahap perkembangan piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.
5. Interaksi sosial dalam memberik kesepakatan pada anak untuk mempelajari dan
menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain (Yusuf, 2011).
Beberapa sikap orang tua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak sebagai berikut :
1. Konsisten dalam mendidik anak
Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dalam melarang atau memperbolehkan tingkah laku tertentu kepada anak.
2. Sikap orang tua dalam keluarga
Secara tidak langsung sikap orang tua terhadap anak, sikap ayah terhadap ibu, atau sebaliknya dapat mempengaruhi perkembangan moral anak yaitu melalui proses peniruan (imitasi). Sikap orang tua yang otoriter cenderung melahirkan sikap disiplin semu pada anak. Sikap yang sebaiknya dimiliki oleh orang tua adalah sikap kasih sayang, keterbukaan, musyawarah, dan konsisten.
3. Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut
Orang tua merupakan panutan (teladan) bagi anak, termasuk disini panutan dalam mengamalkan ajaran agama. Orang tua yang menciptakan iklim yang religious dengan member bimbingan tentang nilai-nilai agama kepada anak maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik.
4. Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma
perilaku sebaliknya, maka anak akan mengalami konflik pada dirinya, bahkan mungkin dia akan berperilaku seperti orang tuanya.
Perkembangan spiritual juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal pula. Faktor internal pada perkembangan spiritual juga berupa faktor keturunan yaitu berupa pembawaan dimana faktor ini merupakan karakteristik dari orang itu sendiri, dasar pemikiran dari individu berdasarkan kepercayaan dan budaya yang dimilikinya. Faktor eksternal dapat berupa keluarga yang sangat menentukan pula dalam perkembangan spiritual anak karena orang tua memiliki peran yang sangat penting sebagai pendidik atau penentu keyakinan yang mendasari anak. Kemudian pendidikan keagamaan yang diterapkan di sekolah juga dapat menjadi faktor penentu perkembangan spiritual anak, karena dengan adanya pendidikan anak akan mulai berpikir secara logika dan menentukan apa yang baik dan tidak bagi dirinya dan kelak akan menjadi karakter dari peserta didik. Selain itu, adanya budaya yang berkembang di masyarakat akan mempengaruhi perkembangan spiritual peserta didik pula.
Baik perkembangan yang menuju arah yang baik (positif) atau menuju ke arah yang buruk (negatif), itu semua tergantung pada bagaimana cara anak berinteraksi dengan masyarakat tersebut (Baharuddin, 2009).
D. Dampak Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik pada
Pendidikan
Manusia pada umumnya berkembang sesuai dengan tahapan-tahapannya. Ketika individu memasuki usia sekolah, yakni antara tujuh sampai dengan dua belas tahun, individu tersebut disebut sebagai peserta didik yang akan berhubungan dengan proses pembelajaran dalam suatu sistem pendidikan.
Cara pembelajaran yang diharapkan harus sesuai dengan tahapan perkembangan anak, yakni memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. programnya disusun secara fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan
perbedaan individual anak;
2. tidak dilakukan secara monoton, tetapi disajikan secara variatif melalui banyak
aktivitas; dan
3. melibatkan penggunaan berbagai media dan sumber belajar sehingga
Aspek-aspek perkembangan peserta didik yang berimplikasi terhadap proses pendidikan melalui karakteristik perkembangan moral dan religi akan diuraikan seperti di bawah ini.
1. Implikasi Perkembangan Moral
Purwanto (2006) berpendapat bahwa moral bukan hanya memiliki arti bertingkah laku sopan santun, bertindak dengan lemah lembut, dan berbakti kepada orang tua saja, melainkan lebih luas lagi dari itu. Selalu berkata jujur, bertindak konsekuen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan sesama manusia, mengabdi kepada rakyat dan negara, berkemauan keras, berperasaan halus, dan sebagainya, termasuk pula ke dalam moral yang perlu dikembangkan dan ditanamkan dalam hati sanubari anak-anak. Adapun perkembangan moral menurut Santrock yaitu perkembangan yang berkaitan dengan aturan mengenai hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Desmita, 2008).
Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, salah satunya melalui pendidikan langsung. Pendidikan langsung yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar-salah atau baik-buruk oleh orang tua dan gurunya. Selanjutnya pada usia sekolah dasar anak sudah dapat mengikuti tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak dapat memahami alasan yang mendasari suatu bentuk perilaku dengan konsep baik-buruk. Misalnya, dia memandang bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan suatu hal yang buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orang tua merupakan suatu hal yang baik. (Yusuf, 2011).
Selain itu berdasarkan teori Piaget (Hurlock, 1980) memaparkan bahwa pada usia lima sampai dengan dua belas tahun konsep anak mengenai moral sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar dan salah yang dipelajari dari orang tua, menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan-keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Misalnya bagi anak usia lima tahun, berbohong selalu buruk. Sedangkan anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan. Oleh karena itu, berbohong tidak selalu buruk.
anak-anak hanya untuk menjadi orang yang berilmu pengetahuan, tetapi jiwa dan wataknya tidak dibangun dan dibina (Hartono, 2002).
2. Implikasi Perkembangan Spiritual
Anak-anak sebenarnya telah memiliki dasar-dasar kemampuan spiritual yang dibawanya sejak lahir. Untuk mengembangkan kemampuan ini, pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, untuk melahirkan manusia yang ber-SQ tinggi dibutuhkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada perkembangan aspek IQ saja, melainkan EQ dan SQ juga.
Zohar dan Marshall (Desmita, 2008) pertama kali meneliti secara ilmiah tentang kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yang menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Purwanto (2006) mengemukakan bahwa pendidikan yang dilakukan terhadap manusia berbeda dengan “pendidikan” yang dilakukan terhadap binatang. Menurutnya, pendidikan pada manusia tidak terletak pada perkembangan biologis saja, yaitu yang berhubungan dengan perkembangan jasmani. Akan tetapi, pendidikan pada manusia harus diperhitungkan pula perkembangan rohaninya. Itulah kelebihan manusia yang diberikan oleh Allah SWT sebagai tuhan semesta alam, yaitu dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal penciptanya, yang membedakan antara manusia dengan binatang. Fitrah ini berkaitan dengan aspek spiritual.
Perkembangan spiritual membawa banyak implikasi terhadap pendidikan dan diharapkan muncul manusia yang benar-benar utuh dari lembaga-lembaga pendidikan. Untuk itu, pendidikan agama nampaknya harus tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari program-program pendidikan yang diberikan di sekolah dasar. Tanpa melalui pendidikan agama, mustahil SQ dapat berkembang baik dalam diri peserta didik (AKBIN, 2010).
E. Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual Terhadap Pendidikan
Beberapa strategi yang mungkin dapat dilakukan guru disekolah dalam membantuperkembangan moral dan spiritual peserta didik, yaitu :
1. Memberikan pendidikan moral dan keagamaan melalui kerikulum
menjadi model tingkah laku yanmg mencerminkan nilai-nilai moral dan agama. Tanpa adanya model tingkah laku yang baik dari guru, maka pendidikan moral dan agama yang diberikan disekolah tidak akan efektif menjadi peserta didik yang moralis dan religious.
2. Memberikan pendidikan moral langsung, yakni pendidikan moral dengan
pendekatan pada nilai dan juga sifat selama jangka waktu tertenyu, atau menyatukan nilai-nilai dan sifat-sifat tersebut kedalam kurikulum. Dalam pendekatan ini, intruksi dalam konsep moral tertentu dapat mengambil bentuk dalam contoh dan definisi, diskusi kelas dan bermain peran, atau member penghargaan kepada siswa yang berperilaku secara tepat.
3. Memberikan pendekatan moral melalui pendekatan klarifikasi nilai, yaitu
pendekatan moral tidak langsung yang berfokus pada upaya membantu siswa memperoleh kejelasan mengenai tujuan hidup mereka dan apa yang berharga untuk dicari. Dalam klarifikasi nilai, siswa diberikan pertanyaan dan mereka diharapkan untuk member tanggapan, baik secara individual maupun secara kelompok.tujuannya adalah untuk menolong siswa menentukan nilai mereka sendiri dan menjadi peka terhadap nilai yang di dapat oleh orang lain.
4. Menjadikan pendidikan sebagai wahana yang kondusif bagi peserta didik
untuk menghayati agamanya, tidak hanya sekedar bersifat teoritis tetapi penghayatan yang benr-benar dikontruksi dari pengalaman keberagamaan. Oleh sebab itu, pendidikan agama yang dilangsungkan disekolah harus lebih menekankan pada penempatan peserta didik untuk mencari pengalaman keberagamaan. Dengan demikian maka yang ditonjolkan dalam pendidikan agama adalah ajaran dasar agama yang asarta dengan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas seperti kedamaian dan keadilan.
5. Membantu peserta didik mengembangkan rasa ketuhanan melalui
pendekatan spiritual parenting, seperti :
a. Memupuk hubungan sadar anak dengan Tuhan melalui do’a setiap hari
b. Menanyakan kepada anak bagaimana Tuhan terlibat dalam aktivitasnya
sehari-hari
c. Memberikan kesadaran kepada anak bahwa Tuhan akan membimbing kita
apabila kita meminta
d. Menyuruh anak merenungkan bahwa Tuhan itu ada dalam jiwa mereka
A. Contoh kasus perkembangan moral pada fase perkembangan anak
Perkembangan pada anak tidak sedik dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya. Di usianya yang masih muda mereka sudah mulai mencontoh tingkah laku para orang dewasa seperti cara berbicara para orang dewasa. Terkadang para orang dewasa mengatakan kata-kata yang tak pantas di katakan atau dapat dikatakan kata-kata kasar. Kata-kata kasar itu ditiru oleh para anak kecil karena mereka tidak tau mana yang baik dan tidaknya untuk diucapakan dan semua itu menggangu perkembangan moral pada fase anak-anak. Semakin sering kata-kata itu didengar oleh anak kecil maka mereka akan berfikir bahwa kata-kata itu biasa dan boleh diucapkan bahkan tidak sedikit yang terbawa sampai fase-fase selanjutnya.
Hal terjadi kerana kurangnya perhatian dari orang tua dan pengawasan pada pola perkembangan anaknya. Selain itu adanya oknum-oknum yang secara tidak sadar mengajari anak-anak untuk berkata-kata kasar. Dan banyak faktor lain yang mempengaruhi.
Para orang tua harus lebih mengawasi dan memperhatikan anaknya agara pola-pola perkembangan yang tidak baik dapat dicegah dan ditanggulangi. Selain itu pendidik formal juga dapat membantu memberikan pengarahan mana kata-kata yang pantas dan tidak untuk diucapkan.
B. Contoh kasus perkembangan moral pada fase perkembangan remaja
Seiring dengan perkembangan zaman satu persatu mulai bermunnculan sosok-sosok yang menjadi wabah dan idola para remaja salah satunya adalah demam korea. Para remaja mulai mengagumia mereka mulai dari tata rias, cara berpakain, hingga kehidupan para idola itu. Dengan mewabahnya demam korea para remaja mulai mengikuti apa yang menjadi budaya di korea itu hingga apa pun yang dilakukan idolanya itu menjadi daya tarika utuk ditiru bahkan menjadi transcenter. Demam korea ini dapat mengganggu perkembangan moral pada fase remaja karena mereka bisa saja melupakan budaya yang ada di Indonesia dan mnganut budaya-budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.
Tak sedikit remaja yang memakai pakaian yang bermodelkan korea style tanpa perduli apakah pakaian itu pantas di gunakan, dan cocok dengan budaya di Indonesia. Hal ini berawal dari banyaknya remaja yang kurang mengerti budaya di Indonesia dan juga kurangnya bimbingan dari orang tua masing-masing.
Pengaruh-pegaruh budaya luar ini dapat di kurangi dengan adanya
BAB III KESIMPULAN
Dari penjelasan makalah di atas dapat di simpulkan sebagai berikut :
1. Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan mengenai apa
yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Santroch, 1995).
2. Menurut teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan
terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap yaitu: Penalaran Prakonvesional, Penalaran Konvensional, Penalaran Pascakonvensional
3. spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau
suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).
4. Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi: Kepercayaan, Pemaafan, Cinta dan
hubungan,Keyakinan, kreativitas dan harapan, Maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan.
5. Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual Terhadap Pendidikan diantaranya sebagai
berikut : Memberikan pendidikan moral dan keagamaan melalui kerikulum, Memberikan pendidikan moral langsung, Memberikan pendekatan moral melalui pendekatan klarifikasi nilai, Menjadikan pendidikan sebagai wahana yang kondusif bagi peserta didik untuk menghayati agamanya, Membantu peserta didik mengembangkan rasa ketuhanan melalui pendekatan spiritual parenting.
Saran
Dengan mengucap syukur alhamdulillah pada Allah SWT penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tentunya masih jauh dari harapan, oleh karena itu penulis masih perlu kritik dan saran yang membangun serta bimbingan, terutama dari Dosen. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi penulis, terutamanya :
1. Bagi remaja hendaknya mengetahui dan mempelajari tugas-tugas perkembangan dengan baik. Sehingga bisa menerapkan tugas-tugas perkembangan tersebut dengan sebaik-baiknya.
2. Bagi orang tua dan , hendaknya mengontrol tugas-tugas perkembangan anak yang belum diselesaikan dan membimbing, mengarahkan serta mengantarkan ke arah yang lebih positif.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.psikologizone.com/teori-perkembangan-moral-kohlberg/06511736 http://id.wikipedia.org/wiki/Tahap_perkembangan_moral_Kohlberg
http://yuanitaresti.blogspot.com/2011/01/bab-i-pendahuluan.html
Desmitha,2010.Psikologi perkembangan peserta didik.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Baharuddin. 2009. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Baharuddin. 2009. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Desmita. 2010. PSikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Hartono, Agung. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta
Pengurus Besar Asosisi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). 2010. Jurnal Bimbingan dan Konseling ISSN 1411-5026. Bandung: AKBIN
Syamsuddin, Abin. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosda Karya Yusuf, Syamsu. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rajawali Pers
Hurlock, Elisabeth B. 1991. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Diterjemahan oleh Istiwidayanti, dkk. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Santrock, J. W. 2002. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup.Diterjemahkan oleh Juda Damanik, Achmad Chusairi. Jakarta: Erlangga