• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Hukum Terhadap Pembatalan Akta Perdamaian Secara Sepihak (Studi Kasus Putusan Perkara Perdata No: 605 Pdt.G 2013 PN.Mdn)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Hukum Terhadap Pembatalan Akta Perdamaian Secara Sepihak (Studi Kasus Putusan Perkara Perdata No: 605 Pdt.G 2013 PN.Mdn)"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Pada dasarnya sebagai makhluk individu seorang manusia selalu ingin berhubungan satu sama lain untuk membentuk kerukunan dan kedamaian. Manusia hidup bersama-sama karena saling membutuhkan satu sama lain. Manusia sebagai

mahluk individu saling bergaul satu dengan yang lain untuk mempertahankan hidupnya. Karena hal tersebut, Aristoteles menyebut manusia sebagaizoon politicon,

yang berarti manusia ditakdirkan sebagai mahluk sosial jadi dikodratkan untuk hidup bermasyarakat.1

Pada perkembangannya, selalu dapat ditemui ketidaksesuaian kepentingan di antara manusia. Mengingat besar dan kecil, dan rumit dan sederhananya ketidaksesuaian tersebut dapat mengakibatkan terganggunya tata tertib dan perdamaian hubungan sosial antar manusia, maka hukum harus menjadi panglima dalam pemecahannya. Dalam kedudukan ini, hukum menjadi jalan keluar bagaimana konflik tersebut dapat diselesaikan, karena tujuan dari hukum adalah mengatur pergaulan hidup secara damai.2

Aturan-aturan hukum yang menjaga keseimbangan dalam kehidupan manusia secara garis besar dapat digolongkan atas aturan hukum tertulis dan hukum tidak tertulis. Hukum tertulis merupakan aturan hukum yang telah dituangkan dalam suatu

1

Suroso Wignjodipuro,Himpunan Kuliah Pengantar Ilmu Hukum, Bandung, Alumni, 1971, hal. 1

2LJ van Apeldoorn,Pengantar Ilmu Hukum, Djakarta, Pradnja Paramita, tjetakan kesebelas,

(2)

kitab undang-undang, sedangkan hukum tidak tertulis merupakan hukum yang ada, hidup dan dilaksanakan didalam masyarakat. Diantara aturan-aturan yang ada didalam masyarakat, aturan yang paling sering dan diperlukan dalam kehidupan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya adalah Perjanjian.

Perjanjian-perjanjian yang dibuat masyarakat dalam hubungan interaksi untuk memenuhi kepentingan mereka dapat dilakukan secara tertulis maupun secara lisan, kebebasan untuk melakukan perjanjian baik secara tertulis maupun secara lisan ini tidak terlepas dari sifat hukum perjanjian itu sendiri yang bersifat terbuka (openbaar system). Selain bersifat terbuka hukum perjanjian juga disebut sebagai hukum pelengkap.3 Sebagai hukum pelengkap mengandung arti ketentuan-ketentuan dalam buku ke III KUHPerdata tersebut hanyalah bersifat melengkapi, apabila sesuatu hal para pihak tidak mengaturnya secara lengkap.4

Ada yang disebut dengan perjanjian ditentukan dalam ketentuan pasal 1313 KUHPerdata yang menyatakan “Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya”. Menurut Subekti suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.5 Kedua pengertian perjanjian tersebut diatas dapat dikatakan bahwa

3 Hartono Hadisoeprapto, Pokok-pokok Hukum Perikatan Dan Hukum Jaminan, Jakarta,

Liberty, 1984, hal. 3

4

A Qirom Syamsudin Meliala, Pokok-pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, Jakarta, Liberty, 1985, hal. 1

(3)

dalam hukum perjanjian kedudukan para pihak yang membuat perjanjian adalah seimbang.

Walaupun hukum perjanjian bersifat terbuka akan tetapi terdapat pengaturan-pengaturan mengenai perjanjian yang harus di ikuti oleh kedua belah pihak yang berkepentingan dimana ketentuan-ketentuan tersebut merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi sebagaimana yang dinyatakan dalam ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata, perjanjian-perjanjian yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, baru dapat dikatakan sah apabila telah memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian, yaitu:

1. Sepakat Mereka mengikat diri

2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian 3. Mengenai suatu hal tertentu

4. Suatu sebab yang halal.

Syarat 1 dan 2 merupakan syarat-syarat subjektif, karena mengenai orang-orang atau subjek hukum yang mengadakan perjanijian, sedangkan dua syarat yang terakhir dinamakan syarat-syarat objektif karena mengenai perjanjiannya sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu.6

Apabila syarat subjektif dari perjanjian tidak terpenuhi maka suatu perjanjian yang dilakukan dapat dimintakan pembatalan (canceling) oleh pihak yang berkepentingan, sedangkan jika tidak terpenuhi syarat objektif dari perjanjian maka perjanjian yang telah dilakukan atau dibuat tersebut batal demi hukum (null and

(4)

void). Dalam hal perjanjian yang batal demi hukum maka apabila ada tuntutan dari pihak lain di depan pengadilan maka Hakim diwajibkan karena jabatannya, menyatakan tidak pernah ada suatu perjanjian atau perikatan.7

Perjanjian-perjanjian yang telah dibuat oleh para pihak yang memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian sebagaimana dinyatakan dalam ketentuan pasal 1320 KUHPerdata mengikat kedua belah pihak tersebut untuk melaksanakan perjanjian yang telah disepakatinya, dimana apabila pemenuhan perjanjian tidak dilakukan maka akan menimbulkan akibat hukum terhadap pihak yang tidak memenuhi perjanjian tersebut.

Pihak yang tidak memenuhi perjanjian disebut telah melakukan perbuatan wanprestasi sehingga melahirkan hak baru kepada pihak yang memiliki hak atas pemenuhan perjanjian tersebut, yaitu:

1. Hak untuk meminta pemenuhan perjanjian dan/atau disertai permintaan ganti rugi

2. Hak untuk membatalkan perjanjian dan/atau disertai ganti rugi

Berdasarkan Hukum Harta Kekayaan Perkawinan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), akibat perkawinan terhadap harta kekayaan suami isteri adalah terjadi pemilikan bersama secara bulat. Hal ini berbeda dengan akibat perkawinan terhadap harta kekayaan perkawinan terhadap harta bersama menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP). Menurut UUP harta pribadi suami istri tidak bercampur dengan sendirinya menurut

(5)

hukum. Hanya harta kekayaan yang diperoleh sepanjang perkawinan yang dapat menjadi satu dan disebut sebagai harta bersama. UUP tidak mengatur lebih jauh tentang tanggung jawab suami isteri terhadap harta kekayaannya selama perkawinan.

Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa hukum keluarga juga meliputi ketentuan mengenai kekayaan, sehingga dapat dikatakan bahwa UUP juga mengatur mengenai hukum kekayaan. Subekti dengan tegas mengatakan, bahwa hukum keluarga juga meliputi hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan antara suami isteri.8

Menurut KUHPerdata, sejak dilangsungkannya perkawinan antara suami isteri secara hukum terjadilah persatuan bulat antara harta kekayaan suami dan isteri, sejauh hal tersebut tidak menyimpang berdasarkan perjanjian kawin. Asas percampuran harta ini dapat ditemukan dalam Pasal 119 KUHPerdata, maksudnya bahwa apabila sebelum perkawinan antara suami isteri tidak melakukan perjanjian kawin, maka secara otomatis atau langsung setiap harta yang diperoleh pada masa perkawinan akan menjadi harta persatuan bulat karena Undang-Undang.9

Menurut UUP, terdapat kelompok-kelompok harta di dalam perkawinan. Hal tersebut dapat ditemukan pada Pasal 35 UUP yang menegaskan kelompok-kelompok harta kekayaan di dalam perkawinan adalah sebagai berikut:

1. Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

8Subekti,Pokok Pokok Hukum Perdata, Jakarta, PT .Intermasa,Cetakan Ke XV ,1980, hal. 6 9R.Soetojo Prawirohamidjojo et.AI., Hukum Orang dan Keluarga, Surabaya, Airlangga

(6)

2. Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain. Dari pasal tersebut dapat disimpulkan, bahwa menurut UUP, di dalam satu keluarga mungkin terdapat lebih dari satu kelompok harta. Bahkan pada dasarnya disini, di dalam satu keluarga terdapat lebih dari satu kelompok harta.10

Di dalam Pasal 35 Ayat (1) UUP memberi definisi harta bersama dalam perkawinan yakni harta benda yang diperoleh selama harta perkawinan menjadi harta bersama. Artinya selama harta yang diperoleh selama tenggang waktu antara saat peresmian perkawinan sampai perkawinan tersebut putus, baik terputus karena kematian salah satu pihak baik isteri maupun suami (cerai mati), maupun karena perceraian (cerai hidup). Dengan demikian, harta yang telah dipunyai pada saat dibawa masuk ke dalam perkawinan terletak di luar harta bersama.11 Harta benda tersebut yang menjadi harta kekayaan perkawinan.

Mengenai harta bersama dapat dikatakan bahwa suami atau isteri dapat bertindak mengenai harta bersama atas persetujuan kedua belah pihak, sedangkan mengenai harta bawaan masing-masing suami/isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya. Adapun hak suami dan isteri untuk mempergunakan atau memakai harta bersama dengan persetujuan kedua belah pihak secara timbal balik menurut Riduan Syahrani adalah sewajarnya,

(7)

mengingat hak dan kedudukan suami dalam rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat, dimana masing-masing berhak melakukan perbuatan hukum.12

Berdasarkan yurisprudensi juga dikatakan bahwa dalam hal seorang suami yang tunduk di bawah Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan telah memberikan jaminan kepada bank atau kreditor lainnya terhadap rumah dan tanah yang merupakan harta bersama dengan isterinya, maka isterinya harus ikut menandatangani perjanjian tersebut.

Seorang debitor yang membebankan hak tanggungan terhadap harta bersama tanpa persetujuan dari suami atau isterinya, tidak memiliki kewenangan untuk memberikan hak tanggungan. Hal ini mengakibatkan tidak terpenuhinya syarat keabsahan perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu syarat mengenai kecakapan sesorang dalam membuat perjanjian.

Dalam akta perdamaian terdapat dua istilah yaitu Acte Van Dading dan Acte Van Vergelijk. Retnowulan Sutantio menggunakan istilah Acte Van Dading untuk perdamaian.13 Sedangkan Tresna menggunakan istilah Acte Van Vergelijk untuk menyatakan perdamaian dalam Pasal 130HIR.14 Perdamaian pada hakikatnya dapat saja dibuat para pihak dihadapan atau oleh hakim yang memeriksa perkara, juga

12Riduan Syahrani ditulis kembali oleh Mulyadi,Hukum Perkawinan Indonesia, Semarang,

Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2008, hal. 43

13

Retnowulan Sutantio,Mediasi dan Dading, Proceedings Arbitrase dan Mediasi, Jakarta : Pusat Pengkajian Hukum Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, cet. 1, 2003, hal. 161

(8)

perdamaian dapat dibuat oleh para pihak diluar pengadilan dan selanjutnya di bawa ke pengadilan yang bersangkutan untuk dikukuhkan.15

Dari uraian di atas maka dapat dikemukakan bahwa perdamaian dapat dibagi sebagai berikut :

1. Akta perdamaian yang dibuat dengan persetujuan hakim, dimana akta itu dibuat oleh para pihak dihadapan hakim atau dengan mediator maupun fasilitator hakim atau yang sering disebut denganActe Van Vergelijk.

2. Akta perdamaian tanpa persetujuan hakim yang dilakukan dengan Alternatif Penyelesaian Sengketa ( APS ) atau yang biasa disebut juga Alternative Dispute Resolution ( ADR ) dapat menggunakan Acta Van Dading maupun akta di bawah tangan.

Dalam kaitannya dengan konsekuensi hukum atas perdamaian dengan pengukuhan hakim dan perdamaian tanpa pengukuhan hakim, Pasal 1858 Kitab Undang Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa :

Segala perdamaian mempunyai diantara para pihak suatu kekuatan seperti putusan hakim dalam tingkat yang penghabisan. Tidaklah dapat perdamaian itu dibantah dengan alasan kekhilafan mengenai hukum atau dengan alasan bahwa salah satu pihak dirugikan.16

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka setiap masyarakat memiliki berbagai macam cara untuk memperoleh kesepakatan dalam menyelesaikan perkara, konflik

15

Puslitbang Hukum dan Peradilan,Naskah Akademis Mengenai Court Dispute Resolution, Jakarta, Puslitbang Hukum dan Peradilan MARI, 2003, hal.164

16R. Subekti dan R. Tjitrosudjibjo,Kitab Undang Undang Hukum Perdata, Jakarta, Pradnya

(9)

dan sengketa. Secara berangsur-angsur masyarakat cenderung meninggalkan cara– cara penyelesaian sengketa berdasarkan kebiasaan dan beralih ke cara-cara yang diakui oleh pemerintah. Disinilah hukum dibangun guna menengahi masalah sengketa-sengketa dengan aturan-aturan yang harus dipatuhi kedisiplinanya. Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang harus diperhatikan, yaitu kepastian hukum (rechssicherheit), kemanfaatan (zweckmassigkeit) dan keadilan (gerechtikeit).17

Pembatalan sepihak atas suatu perjanjian dapat diartikan sebagai ketidaksediaan salah satu pihak untuk memenuhi prestasi yang telah disepakati kedua belah pihak dalam perjanjian. Pada saat mana pihak yang lainnya tetap bermaksud untuk memenuhi prestasi yang telah dijanjikannya dan menghendaki untuk tetap memperoleh kontra prestasi dari pihak yang lainnya itu. Seperti yang kita ketahui bahwa perjanjian yang sah, dalam arti memenuhi syarat sah menurut undang-undang, maka berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Seperti yang tercantum dalam Pasal 1338 (1) KUH Perdata. Sedangkan pada ayat (2) menyebutkan bahwa: “Persetujuan-persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu”.18

Dalam hal terjadi pembatalan akta secara sepihak yang tidak melalui gugatan di pengadilan melainkan melalui pembuatan akta pembatalan oleh notaris atas permintaan dari salah satu pihak saja, dengan melihat pada syarat-syarat sah

17Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-bab Tentang Penemuan Hukum, Bandung, Citra

Aditya Bakti, 1993, hal. 2

(10)

perjanjian apakah hal tersebut dapat dibenarkan sebab tidak terjadi kesepakatan bersama didalam pembuatannya. Tidak terpenuhinya persyaratan sepakat sebagai salah satu syarat subjektif sahnya perjanjian mengakibatkan akta tersebut cacat hukum dan dapat dibatalkan kemudian bagi pihak lainnya yang tidak mengetahui atau tidak menyetujui terjadinya akta pembatalan tersebut dapat meminta pembatalan akta dengan mengajukan permohonan gugatan kepada pengadilan untuk meminta pembatalan akta yang bersangkutan.

(11)

Pora) dan penjamin (Edy Perangin-angin) tersebut, dan dimenangkan oleh Rachman sampai di tingkat kasasi Mahkamah Agung.

Bahwa untuk menjamin agar terpenuhinya gugatan dari Rachman (penggugat) dalam perkara ini, penggugat memohon kepada pengadilan untuk meletakkan sita jaminan (consevatoir beslag) atas harta benda dari Dias pora (tergugat I) dan atas harta benda Edy Perangin-angin (tergugat II), baik berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak sesuai dengan tuntutan penggugat. Kemudian pengadilan Negeri menyatakan mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian dan menyatakan sah dan berharga sita jaminan (consevatoir beslag) yang telah diletakkan dalam perkara tersebut, dalam hal ini sita jaminan yang diletakkan dalam perkara tersebut adalah Tanah beserta bangunan milik si Penjamin (Edy Perangin-angin). Baik di tingkat pengadilan tinggi maupun Mahkamah Agung menguatkan putusan tersebut.

Kemudian dikarenakan ketidak tahuan istri dari Edy Perangin-angin dalam hal sita jaminan terhadap harta bendanya dikarenakan harta bendanya tersebut merupakan harta gono gini atau harta bersama yang didapat selama pernikahan, oleh karena itu istri dari Edy perangin-angin yaitu Armawaty Br. Sinulingga melakukan gugatan perlawanan (Verzet) terhadap sita jaminan yang diletakkan dalam perkara tersebut.

(12)

sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku No. 08 tanggal 21 Februari 2012 dan Akta Perjanjian Perdamaian No. 09 tanggal 21 Februari 2012 yang dibuat dihadapan Erwansyah, SH, MKn, Notaris di Kabupaten Langkat. Dikarenakan karena ketidaktahuan dari Armawaty Br. Sinulingga bahwa gugatan perlawanan (Verzet) yang dilakukannya telah menang di Mahkamah Agung dengan putusan No. 840 K/Pdt/2010 yaitu isi putusan menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi dan Jurusita Pengadilan Negeri Medan diperintahkan untuk mencabut dan mengangkat kembali sita jaminan (conservatoir beslag) yang telah diletakkan dalam Perkara perdata Reg. No. 383/Pdt/G/2007/PN.Mdn yang isi putusannya mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian dan menyatakan sah dan berharganya sita jaminan (conservatoir beslag) yang telah diletakkan dalam perkara ini. Oleh karena itu Armawaty Br. Sinulingga mau menyetujui upaya perdamaian yang dilakukan oleh Rachman, yang didasari fakta bahwa karena Armawaty Br. Sinulingga tidak pernah menerima salinan resmi putusan Mahkamah Agung tersebut.

(13)

Uraian tersebut diatas menjadi Latar Belakang dilakukannya penelitian tesis yang berjudul “Analisis Hukum Terhadap Pembatalan Akta Perdamaian Secara Sepihak (Studi Kasus Putusan Perkara Perdata No. 605/Pdt.G/2013/PN.Mdn)”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang di uraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana kedudukan hukum sebuah akta perdamaian?

2. Bagaimana akibat hukum dari pembatalan akta perdamaian secara sepihak? 3. Bagaimana kedudukan akta perdamaian yang dibatalkan secara sepihak

kaitannya dengan putusan perkara perdata No. 605/Pdt.G/2013/PN.Mdn?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis Bagaimana kedudukan hukum sebuah akta perdamaian.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis Bagaimana akibat hukum dari pembatalan akta perdamaian secara sepihak.

(14)

D. Manfaat Penelitian

Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan baik secara teoritis maupun praktis yaitu :

1. Secara Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbang saran dalam ilmu pengetahuan hukum pada umumnya dan ilmu bidang kenotariatan pada khususnya yaitu mengenai Pembatalan akta perdamaian secara sepihak. b. Sebagai bahan informasi bagi akademisi dan untuk pengembangan wawasan

dan kajian tentang pembatalan akta perdamaian secara sepihak untuk dapat menjadi bahan perbandingan bagi kepenilitian lanjutan.

2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada masyarakat, aparat pemerintah yang terkait dengan pembatalan akta Perdamaian Notaris secara sepihak, aparat penegak hukum yang berwenang secara hukum dalam menangani masalah pembatalan akta Perdamaian Notaris secara sepihak yang terjadi atau yang akan dialami masyarakat maupun pemerintah.

E. Keaslian penelitian

(15)

Perdamaian Secara Sepihak (Studi Kasus Putusan Perkara Perdata No. 605/Pdt.G/2013/PN.Mdn)” belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini adalah asli. Artinya secara akademik penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kemurniannya, karena belum ada yang melakukan penelitian yang sama dengan judul penelitian ini, dan berdasarkan penelusuran kepustakaan tersebut menunjukkan bahwa penelitian dengan beberapa Judul tesis yang berhubungan dengan Judul topik dalam tesis ini antar lain :

1. Penelitian dengan judul Kekuatan Hukum Pembagian Waris melalui akta perdamaian ditinjau dari aspek hukum perdata, oleh Febri Silvia Dewi, Nim 117011007

Rumusan Masalah:

1. Bagaimana penyelesaian pembagian harta warisan yang dilakukan atas dasar adanya akta perdamaian antara para ahli waris menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata?

2. Bagaimana kekuatan hukum dari pembagian harta warisan yang dilakukan melalui akta perdamaian?

2. Penelitian dengan judul Akta Perdamaian Sebagai Jalan Penyelesaian Sengketa Tanah Di luar Pengadilan (Studi Kasus Penyelesaian Perkara Antara Pemilik Tanah Adat Ahli waris PA Nampati Purba Dengan PT. Bank Sumatera Utara Di Kabanjahe), Oleh Syafruddin Adi Wijaya, NIM : 057011088.

(16)

1. Bagaimanakah bentuk dan isi Akta Perdamaian dalam menyelesaikan sengketa tanah antara pemilik tanah adat yaitu ahli waris dari Pa Nampati Purba dan PT. Bank Sumatera Utara di luar Pengadilan ?

2. Apakah faktor-faktor yang harus dperhatikan dalam membuat akta perdamaian ?

3. Apakah hambatan-hambatan dan apakah upaya mengatasi hambatan yang dihadapai dalam pembuatan akta perdamaian ?

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Kerangka Teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus ataupun permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.19 Dalam setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi.20

Teori adalah seperangkat gagasan yang berkembang disamping mencoba secara maksimal untuk memenuhi kriteria tertentu, meski mungkin saja hanya memberikan kontribusi parsial bagi keseluruhan teori yang lebih umum.21 Atau menjelaskan gejala spesifik atau proses sesuatu terjadi dan teori harus diuji dengan menghadapkan pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.22

19M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, Bandung, Mandar Maju, 1994, hal.80 20

Soerjono Soekanto,Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI Pres, 1986, hal. 122

21

H.R. Otje Salman dan Anton F Susanto, Teori Hukum, Bandung, Refika Aditama, 2005, hal. 21

(17)

Sedangkan fungsi teori dalam penelitian adalah untuk mensistematiskan penemuan-penemuan penelitian, membuat ramalan atau prediksi atas dasar penemuan dan menyajikan penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan. Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskan dan harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.23

Adapun teori yang dikaitkan dengan permasalahan dalam penelitian ini adalah teori Perjanjian. Pengertian Perjanjian diatur dalam ketentuan Pasal 1313 KUHPerdata, yakni perjanjian/persetujuan adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Dengan adanya peristiwa tersebut (perjanjian), timbulah suatu hubungan hukum antara dua orang atau lebih yang disebut perikatan, dimana didalamnya terdapat hak dan kewajiban masing-masing pihak. Mengenai perikatan, disebutkan dalam Pasal 1233 KUHPerdata, bahwa perikatan lahir karena suatu persetujuan atau karena undang-undang. Subekti membedakan pengertian antara perikatan dengan perjanjian, yakni bahwa hubungan antara perikatan dan perjanjian adalah perjanjian itu menerbitkan perikatan. Perjanjian adalah sumber perikatan, di samping sumber-sumber lain. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena dua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Suatu perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu, sedangkan suatu

(18)

perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.24

Abdulkadir Muhammad menyatakan bahwa perjanjian adalah persetujuan dengan mana dua pihak atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal yang bersifat kebendaan dibidang harta kekayaan. Definisi dalam arti sempit ini jelas menunjukkan telah terjadi persetujuan (persepakatan) antara pihak yang satu (kreditor) dan pihak yang lain (debitor), untuk melaksanakan satu hal yang bersifat kebendaan (zakelijk) sebagai obyek perjanjian.25

Ricardo Simanjuntak menyatakan bahwa kontrak merupakan bagian dari pengertian perjanjian. Perjanjian sebagai suatu kontrak merupakan perikatan yang mempunyai konsekuensi hukum yang mengikat para pihak yang pelaksanaannya akan berhubungan dengan hukum kekayaan dari masing-masing pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut.26

Menganalisis akibat hukum terhadap pembatalan akta Perdamaian dalam penelitian ini juga didasarkan pada pemahaman terhadap perjanjian yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Berdasarkan Pasal 1233 KUHPerdata yang menyatakan bahwa tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang-undang. Jadi perjanjian adalah sumber dari perikatan. Sebagai perikatan yang dibuat dengan sengaja atas kehendak para pihak secara sukarela, maka segala sesuatu

24R. Subekti (2),Hukum Perjanjian, Jakarta, PT. Intermasa, 2005, hal. 1 25

Abdulkadir Muhammad,Hukum Perdata Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2010 hal.290.

26Ricardo Simanjutak,Hukum Kontrak Teknik Perancangan Kontrak Bisnis, Jakarta, Kontan

(19)

yang telah disepakati/disetujui oleh para pihak harus dilaksanakan oleh para pihak sebagaimana yang telah dikehendaki oleh mereka. Dalam hal salah satu pihak dalam perjanjian tidak melaksanakannya, maka pihak lain dalam perjanjian berhak untuk memaksakan pelaksanaannya melalui mekanisme dan jalur hukum yang berlaku.27

Syarat-syarat yang diperlukan untuk sahnya suatu perjanjian diatur dalam dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu: 1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya. 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. 3. Suatu hal tertentu. 4. Suatu sebab yang halal. Kesepakatan (konsesualisme) bagi mereka yang mengikatkan dirinya, maksudnya adalah bahwa para pihak yang mengadakan perjanjian tersebut harus bersepakat atau setuju mengenai perjanjian yang akan diadakan tersebut, tanpa adanya paksaan, kekhilafan, dan penipuan. Dalam hal ini, antara para pihak harus mempunyai kemauan yang bebas (sukarela) untuk mengikatkan diri, di mana kesepakatan itu dapat dinyatakan secara tegas maupun diam-diam. Bebas di sini artinya adalah bebas dari kekhilafan, paksaan, dan penipuan, dimana berdasarkan Pasal 1321 KUHPerdata, perjanjian menjadi tidak sah apabila kesepakatan tersebut terjadi karena adanya unsur-unsur kekhilafan, paksaan, atau penipuan. Kecakapan, yaitu bahwa para pihak yang mengadakan perjanjian harus cakap menurut hukum, serta berhak dan berwenang melakukan perjanjian. Mengenai kecakapan, Pasal 1329 KUHPerdata menyatakan bahwa setiap orang cakap melakukan perbuatan hukum kecuali yang oleh undang-undang dinyatakan tidak cakap. Mengenai orang-orang

27Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja,Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Jakarta, Raja

(20)

yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian diatur dalam ketentuan Pasal 1330 KUHPerdata, yakni:

1. Orang yang belum dewasa. Mengenai kedewasaan, dalam ketentuan Pasal 330 KUHPerdata, kecakapan diukur apabila para pihak yang membuat perjanjian telah berumur 21 tahun atau kurang dari 21 tahun tetapi sudah menikah dan sehat pikirannya.

2. Mereka yang berada di bawah pengampuan.

3. Orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang-Undang (dengan berlakunya Undang-Undang Perkawinan, ketentuan ini sudah tidak berlaku lagi). 4. Semua orang yang dilarang oleh Undang-Undang untuk membuat

perjanjian-perjanjian tertentu. Suatu hal tertentu, maksudnya disini adalah bahwa perjanjian-perjanjian tersebut harus mengenai suatu obyek tertentu.

Sedangkan suatu sebab yang halal, maksudnya adalah isi dan tujuan suatu perjanjian haruslah berdasarkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban.

(21)

dikarenakan kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian28dan bukan dalam keadaan memaksa. Adapun bentuk-bentuk dari wanprestasi yaitu:29

1. Tidak memenuhi prestasi sama sekali;

Sehubungan dengan dengan debitur yang tidak memenuhi prestasinya maka dikatakan debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali.

2. Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya;

Apabila prestasi debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka debitur dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya.

3. Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru.

Debitur yang memenuhi prestasi tapi keliru, apabila prestasi yang keliru tersebut tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak memenuhi prestasi sama sekali.

Sedangkan menurut Subekti, bentuk wanprestasi ada empat macam yaitu:30 1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan;

2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi tidak sebagaimana dijanjikannya; 3. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat;

4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan

28Nindyo Pramono,Hukum Komersil, Jakarta, Pusat Pe

nerbitan UT, 2003 cet. 1, 2003, hal. 21

(22)

Untuk mengatakan bahwa seseorang melakukan wanprestasi dalam suatu perjanjian, kadang-kadang tidak mudah karena sering sekali juga tidak dijanjikan dengan tepat kapan suatu pihak diwajibkan melakukan prestasi yang diperjanjikan.

Dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya atau tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana mestinya dan tidak dipenuhinya kewajiban itiu karena ada unsur salah padanya, maka seperti telah dikatakan bahwa ada akibat-akibat hukum yang atas tuntutan dari kreditur bisa menimpa dirinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 1236 dan 1243 dalam hal debitur lalai untuk memenuhi kewajiban perikatannya kreditur berhak untuk menuntut penggantian kerugian, yang berupa ongkos-ongkos, kerugian dan bunga. Selanjutnya pasal 1237 mengatakan, bahwa sejak debitur lalai, maka resiko atas objek perikatan menjadi tanggungan debitur. Yang ketiga adalah bahwa kalau perjanjian itu berupa perjanjian timbal balik, maka berdasarkan pasal 1266 sekarang kreditur berhak untuk menuntut pembatalan perjanjian, dengan atau tanpa disertai dengan tuntutan ganti rugi.31

2. Konsepsi

Konsepsi meupakan definisi operasional dari intisari objek penelitian yang akan dilaksanakan. Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian dan penafsiran dari suatu istilah yang dipakai. Selain itu dipergunakan juga untuk memberikan pegangan pada proses penelitian ini.

31Rohmadi Jawi.Hukum Kontrak, http://rohmadijawi.wordpress.com/hukum-kontrak/,

(23)

Kerangka konsepsional dalam merumuskan atau mebentuk pengertian-pengertian hukum, kegunaannya tidak hanya terbatas pada penyusunan kerangka konsepsional saja, akan tetapi bahkan pada usaha merumuskan definisi-definisi operasional di luar peraturan perundang-undangan.32

Didalam penelitian Hukum, konsep merupakan alat yang dipakai oleh hukum di samping yang lain-lain seperti asas dan standar, kebutuhan untuk membentuk konsep merupakan salah satu dari hal-hal yang dirasakan penting dalam hukum. Konsepsi dipahami sebagai suatu konstruksi mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analitis.33

Oleh karena itu untuk menjawab permasalahn dalam penelitian ini harus dibuat beberapa defenisi konsep dasar sebagai acuan agar penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan, yaitu:

a. Hukum seperti yang dikatakan oleh Van Apeldoorn 100 tahun terakhir belumlah ditemukan definisi hukum yang memuaskan semua pihak, namun demikian, sebagai pegangan dapat dipilih satu dari sekian banyak perumusan seperti : keseluruhan kaidah (norma) nilai mengenai suatu segi kehidupan masyarakat, yang maksudnya mencapai kedamaian dalam masyarakat. Sifat utama hukum itu ialah keadilan dan kemanfaatan.34

32 Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, ,

1997, hal. 24

33

Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1995, hal. 7

(24)

b. Pembatalan menurut kamus umum bahasa Indonesia yaitu berasal dari kata “batal”, yaitu menganggap tidak sah, menganggap tidak pernah ada.

c. Akta adalah surat yang diberi tanda tangan, yang memuat peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan, yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian.35

d. Perdamaian merupakan suatu perjanjian/persetujuan (overeenkomst) dengan mana para pihak, dengan menyerahkan, menjanjikan, atau menahan suatu barang, mengakhiri suatu perkara yang belum putus (aanhangig) atau untuk mencegah timbulnya suatu perkara.

e. Putusan Pengadilan adalah putusan yang diucapkan oleh hakim karena jabatannya dalam persidangan perkara perdata yang terbuka untuk umum setelah melalui proses dan procedural hukum acara perdata pada umumnya dibuat dalam bentuk tertulis dengan tujuan menyelesaikan atau mengakhiri suatu perkara.36

f. Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap adalah putusan hukum tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap, akan tetapi sudah tidak dapat lagi dilakukan upaya hukum, baik upaya hukum biasa (banding dan kasasi) dan upaya hukum luar biasa (peninjauan kembali).37

35 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta, Edisi Keempat,

Liberty, 1993, hal.121

36

Lilijk Mulyadi, Hukum Acara Perdata : Menurut Teori & Praktek Peradilan Indonesia, Jakarta, Djambatan, 1999, hal. 204

37CST Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka,

(25)

G. Metode Penelitian

Istilah metode penelitian terdiri atas dua kata, yaitu kata metode dan kata penelitian. Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitumethodos yang berarti cara atau menuju suatu jalan.38Metode adalah cara yang berfungsi untuk mencapai tujuan. Metode merupakan suatu cara tertentu yang di dalamnya mengandung suatu teknik yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan tertentu.39

Dari pengertian diatas kita dapat mengetahui nahwa metode penelitian adalah suatu cara untuk memecahkan masalah ataupun cara mengembangkan ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah.40

Suatu metode penelitian diharapkan mampu untuk menemukan, merumuskan, menganalisis, mampu memecahkan masalah-masalah dalam suatu penelitian dan agar data-data diperoleh lengkap, relevan, akurat, dan reliable, diperlukan metode yang tepat yang dapat diandalkan (dependable). Metode merupakan penyelidikan yang berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Menempuh suatu jalan tertentu untuk mencapai tujuan, artinya peneliti tidak bekerja secara acak-acakan.41

1. Sifat dan Jenis Penelitian

Sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, artinya dalam penelitian akan menguraikan/memaparkan sekaligus menganalisa tentang pembatalan

38 Rosandy Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi, Jakarta, Rajawali

Pers, 2003, hal. 24

39Arief Furchan,Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, Surabaya, Usaha Nasional, 1997,

hal. 11

40

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D

Bandung, Alfabeta, 2009, hal. 6

41 Johnny Ibrahim, Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, Malang, Bayumedia

(26)

akta perdamaian secara sepihak. Penelitian ini merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya.

Jenis penelitian yang diterapkan adalah memakai penelitian dengan metode penulisan dengan pendekatan yuridis normatif (penelitian hukum normatif), yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, sebagai pijakan normatif, yang berawal dari premis umum kemudian berakhir pada suatu kesimpulan khusus. Hal ini dimaksudkan untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru (suatu tesis) dan kebenaran-kebenaran induk (teoritis).

Penelitian yuridis normatif menurut Ronald Dworkin disebut juga dengan penelitian doktrinal (doctrinal research), yaitu suatu “penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis di dalam buku (law as it written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law as it is decided by the judge trough judicial process)”.42

2. Sumber Data

Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber-sumber penelitian yang berupa bahan-bahan hukum primer dan bahan-bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif

42

(27)

artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, cacatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim.

Sedangkan bahan-bahan sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.

Bahan utama dari penelitian ini adalah data sekunder yang dilakukan dengan menghimpun bahan-bahan berupa :

1. Bahan Hukum Primer

Yaitu bahan hukum berupa peraturan perundang-undangan, dokumen resmi yang mempunyai otoritas yang berkaitan dengan permasalahan, yaitu Putusan Perkara Perdata No. 605/Pdt.G/2013/PN.Mdn, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

2. Bahan Hukum Sekunder

yaitu “semua bahan hukum yang merupakan publikasi dokumen tidak resmi meliputi buku-buku, karya ilmiah.”43

3. Bahan Hukum Tertier

43Peter Mahmud Marzuki,Penelitian Hukum, Jakarta, Kencana Prenada Media Grup, 2005,

(28)

yaitu bahan yang memberikan maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus umum, kamus hukum, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar dan internet yang masih relevan dengan penelitian ini.

3. Teknik Pengumpul Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah studi dokumen atau bahan pustaka studi dokumen atau bahan pustaka ini penulis lakukan dengan usaha-usaha pengumpulan data, dengan cara mengunjungi perpustakaan-perpustakaan, membaca, mengkaji dan mempelajari buku-buku, literatur, artikel majalah dan koran, karangan ilmiah, makalah dan sebagainya yang berkaitan erat dengan pokok permasalahan dalam penelitian yaitu terkait dengan Pembatalan Akta Perdamaian secara sepihak.

4. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data akan sangat menentukan hasil penelitian sehingga apa yang menjadi tujuan penelitian ini dapat tercapai. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat dipertanggung jawabkan hasilnya, maka dalam penelitian akan dipergunakan alat pengumpulan data. Alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumen.

(29)

untuk melakukan studi dokumen di maksud di mulai dari studi dokumen terhadap bahan hukum primer, baru kemudian bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier”.44

5. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.45

Mengingat sifat penelitian maupun objek penelitian, maka semua data yang diperoleh akan dianalisa secara kualitatif, dengan cara data yang telah terkumpul dipisah-pisahkan menurut katagori masing-masing dan kemudian ditafsirkan dalam usaha untuk mencari jawaban terhadap masalah penelitian. Dengan menggunakan metodededukatifditarik suatu kesimpulan dari data yang telah selesai diolah tersebut yang merupakan hasil penelitian.

44Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,Op.Cit.,hal. 13-14.

45 Snelbecker dalam Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja

Referensi

Dokumen terkait

Motor sinkron adalah motor AC, bekerja pada kecepatan tetap pada sistim frekwensi tertentu.Motor ini memerlukan arus searah (DC) untuk pembangkitan daya dan memiliki

Pada Bab ini juga akan dijelaskan tentang jumlah serta distribusi tenaga per Kabupaten/Kota, serta jumlah dan penyebaran sarana pelayanan kesehatan yang terdiri dari rumah sakit

Sebagai tindak lanjut dari kebijakan APBN diatas, tantangan fiskal pemerintah pusat selanjutnya sebagaimana disampaikan oleh ibu Menteri Keuangan adalah harus mampu

Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut: 1 Pelaksanaan Bimbingan belajar dilakukan setelah menghadapi UTS, pelaksnaanya di lakukan di luar jam pelajaran setelah pulang sekolah

Berdasarkan putusan majelis hakim di Pengadilan Militer (DILMIL) II-09 Bandung Nomor 63-K/PM.II-09/AD/III/2013 Tahun 2013 mengenai dijatuhkannya hukuman pidana mati

Kualitatif, (Surabaya: Airlangga, 2001), 129.. 26 Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data-data yang dibutuhkan melalui observasi, wawancara serta dokumentasi. Teori yang

kabupaten/kota dapat menyadari sepenuhnya konsekuensi dari stunting (pendek); memastikan bahwa mereka memiliki komitmen dan kapasitas untuk memprioritaskan program gizi dalam

Pasal 1320 KUH Perdata menyebutkan bahwa syarat sahnya suatu perjanjian yaitu kesepakatan para pihak, kecakapan untuk membuat perjanjian, suatu hal tertentu, dan