• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL FILM ANIMASI PENDEK "FLYING CEBAN"

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL FILM ANIMASI PENDEK "FLYING CEBAN""

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL

FILM ANIMASI PENDEK

"FLYING CEBAN"

Stefani Hanna

Bina Nusantara School of Design Visual Communication Design Animation Program, Jln. K.H. Syahdan no.9, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480

[email protected]

Stefani Hanna, Tunjung Riyadi, S.Sn, M.Sn, Drs. Bambang Gunawan

ABSTRACT

In Indonesia, a lot of film or television comedy program does not have good story moral and it will not be good for the young generation of Indonesia Nation. The author wants to make a short animation film with comedy genre called, "Flying Ceban" which has good moral from the story. This thesis are using literature review, data collecting, observation, quisioner and interview. According to the author's analist, there are a lot of interest for animation film from the Indonesian especially for animation with 3D style. The result that the auther wants to achieve is an short animation film that told about a primary school boy expreience when he wantsto help other people but with hesitation within his heart. The conclusion with this film is for making all of Indonesian people to be more whole-hearted and without doubt and hesitation when helping each others to make a better world. (S.H)

Key Words: park, money, rupiah, flying, ceban, animation, 3d, jakarta, indonesia ABSTRAK

Di Indonesia film atau acara komedi kebanyakan tidak memiliki moral yang baik sehingga tidak mendidik bagi generasi muda bangsa. Tujuan penelitian penulis ialah membuat sebuah film pendek animasi komedi berjudul "Flying Ceban" yang mendidik dan memiliki moral cerita yang bisa diangkat. Metode perancangan yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah studi pustaka, pengumpulan data, observasi lapangan, kuisioner serta wawancara. Analisa penulis minat masyarakat Indonesia terhadap film animasi cukup tinggi terutama untuk animasi yang menggunakan pendekatan 3D. Hasil yang ingin dicapai oleh penulis adalah sebuah film animasi yang bercerita tentang pengalaman seorang siswa SD pada yang sedang dirundung keraguan ketika ingin membantu sesama. Kesimpulan dari film ini adalah untuk membuat masyarakat lebih ikhlas dan tidak ragu - ragu untuk membantu sesama. (S.H)

(2)

PENDAHULUAN

Sejak dahulu acara - acara komedi sudah diminati di Indonesia. Diawali dengan kemunculan wayang sebagai sarana hiburan masyarakat sampai akhirnya masuknya era pertelevisian di Indonesia. Mencermati sejarah perkembangan dunia komedi di Indonesia, seni lawak di Indonesia ini memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sejarah komedi di bangsa lain. Di Indonesia, cerita kebanyakan diambil dari nilai - nilai dan tatanan sosial yang berlaku di Indonesia yakni dengan tetap memperhatikan asas kepatutan dan kesopanan.

Humor terlalu subjektif sehingga tidak satu pun teori yang mampu merumuskannya. Keuntungannya adalah humor memiliki begitu banyak aspek sehingga seseorang dapat selalu mengeksplorasi sifat tak-terbatasnya. Para komedian sependapat bahwa jika sesuatu ditertawakan, sesuatu tersebut pasti lucu. Jika seseorang hendak melucu, seseorang tersebut harus memahami terlebih dahulu bagaimana audiens meresponi humor. Singkatnya, seseorang harus mengerti mengapa audiens tertawa.

Komedi mulai populer sejak era 1960-an. Sampai sekarang ini komedi masih amat populer dan di gemari oleh masyarakat Indonesia. Namun miris nya seiring dengan perkembangan dunia komedi yang amat pesat di televisi nasional, terkadang materi yang dibawakan tidak lagi mengindahkan asas kepatutan dan kesopanan malah terkadang cenderung kasar dan kurang ajar. Komedi yang awalnya sering kali mengangkat humor intelektual atau politik satir sekarang ini jadi sering mengangkat topik - topik yang tidak bermutu dan melanggar asas kepatutan serta kesopanan. Hal ini menjadi keprihatinan sendiri bagi penulis karena dapat menjadi pembodohan bagi bangsa.

Meski demikian, masih banyak orang yang membawakan komedi dengan cara yang sopan dan tetap terlihat sebagai seorang yang intelek. Masyarakat juga tampak mulai jenuh melihat acara televisi nasional dipenuhi dengan acara - acara komedi yang isinya penuh ketidak sopanan. Penulis melihat masih tingginya minat masyarakat dengan acara ber-genre komedi dan seiring dengan maju nya perkembangan industri animasi Indonesia, penulis ingin membuat sebuah film pendek animasi dengan genre komedi yang mengangkat mengenai kejadian sehari - hari. Selain karena banyak digemari, makna yang terkandung di dalam cerita lebih gampang di tangkap karena biasanya dikemas agar dapat dimengerti oleh semua kalangan apalagi bila diangkat berdasarkan pengalaman sehari - hari

Untuk lingkup proyek, penulis membatasi dengan menggunakan pendekatan disiplin ilmu Desain Komunikasi Visual, Audio Visual yang dibuat dengan Animasi 3D dengan bentuk animasi pendek. Cerita yang ini berisikan tentang seorang siswa SD yang sedang bermain bola di sebuah taman yang pada akhirnya diberi judul "Flying Ceban".

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dipakai oleh penulis adalah survei lapangan serta studi literatur dan referensi. Penulis pertama-tama mencari artikel tentang pengemis, gaya animasi humor, pengkarakteran dalam film pendek baik itu melalui buku atau artikel internet. Penulis juga melakukan pengamatanpengemis serta observasi taman langsung untuk memperhatikan benar - benar karakter pengemis serta suasana taman yang akan dijadikan sebagai setting tempat pada cerita. Setelah itu penulis melakukan ujicoba desain karakter untuk di uji daya tariknya kepada pemirsa secara acak melalui angket tertulis dan survey online. Setelah mendapatkan hasil yang menjurus kepada animasi kartun lucu, penulis mencari lebih banyak teori penceritaan yang mengkaji formula dari berbagai referensi video, terutama film pendek animasi setema yang populer di internet. Dari situ penulis mendapatkan formula dan referensi gaya visual untuk membuat film pendek animasi "Flying Ceban".

HASIL DAN BAHASAN

Penulis melakukan studi kasus dan observasi lapangan untuk mendapatkan ciri khas serta perilaku sosial pengemis yang ada di lapangan untuk bisa benar - benar menyajikan karakter pengemis yang sesuai dengan apa yang ada di masyarakat.

Karakter Pengemis dan Perilaku Sosial

Berbagai bentuk dan jenis perilaku sosial seseorang pada dasarnya merupakan karakter atau ciri kepribadian yang dapat teramati ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Penulis akan

(3)

1. Cenderung bergantung pada orang lain. Secara lebih rinci, dalam prakteknya ada lima jenis pengemis yang disebabkan karena keterbatasan aset dan sumber ekonomi, rendahnya mutu mental dan sifat mandiri yang kurang.

2. Dikarenakan kelangsungan hidupnya bergantung pada orang lain, pengemis cenderung menunjukan sifat patuh atau penyerah.

3.Pengemis dapat digolongkan dalam kelompok sosial kemasyarakatan yaitu kelompok yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.

4. Tidak memiliki motivasi dan cenderung malas, memang ada orang yang mengemis karena cacat namun bukan berarti orang cacat tidak bisa bekerja dan sering kali ke cacatan itu justru dipergunakan sebagai alasan utama agar orang lain menjadi iba bahkan banyak pengemis yang suka berpura - pura cacat.

Sedangkan sekarang ini pengemis bisa digolongkan menjadi 5 kelompok, yaitu:

1. Mengemis karena yang bersangkutan tidak berdaya sama sekali dalam segi materi, cacat fisik, tidak berpendidikan, gelandangan dan orang usia lanjut yang miskin dan tidak memiliki saudara.

2. Mengemis seperti menjadi kegiatan ekonomi walaupun sudah bisa membeli rumah dan sebagainya namun pengemis tipe ini sudah melupakan rasa malu dan beban moral di masyarakat.

3. Pengemis musiman misalnya menjelang saat bulan Ramadhan, Idul Fitri dan tahun baru. Biasanya mereka kembali ke tempat asal setelah mengumpulkan uang sejumlah tertentu.

4. Mengemis karena miskin mental. Pengemis tipe ini biasanya suka berpura - pura sakit, yang maksudnya agar membangun rasa belas kasihan orang lain. Tergolong sebagai individu yang malas bekerja.

5. Pengemis yang terkoordinasi dalam suatu sindikat dengan dikoordinasi oleh seseorang yang dianggap sebagai bos. Setiap pengemis wajib menyetor sebagian dari hasil mengemisnya kepada sindikat. Berikut foto - foto beberapa pengemis di Jakarta:

Pengemis di jembatan penyeberangan

(4)

Sesuai pengamatan dapat ditarik kesimpulan yaitu:

1. Pengemis biasanya berpakaian kumal, kotor, lusuh ada beberapa yang bahkan compang - camping. 2. Pengemis sebagian besar membawa wadah berupa kantong plastik, kain selendang, atau apa saja yang dapat ia gunakan untuk menaruh barang - barangnya.

3. Pengemis sering berpindah - pindah tempat tinggal maupun tempat mengemis (nomaden).

4. Pengemis memiliki kecenderungan tergantung kepada orang lain dan kemiskinan mental sehingga memutuskan untuk mengemis serta sudah melupakan rasa malu dan moral pada masyarakat.

5. Walaupun sudah dibuat undang - undangnya pengemis di Indonesia masih amat banyak karena kurangnya peran pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat baik dalam aspek pendidikan, mental serta ekonomi masyarakat kecil serta peran masyarakat yang sudah terbiasa dengan kehadiran pengemis.

Desain Karakter

(5)

Karakter pada “Flying Ceban” mengalami pekembangan sebelum mencapai tahap produksi. Hal ini dilakukan serupa untuk mendukung efisiensi proses kerja dan guna mendapatkan karakter yang memiliki nilai jual secara lebih matang. Setelah menentukan konsep awal yaitu pengemis dan anak sd, penulis lalu melakukan studi lebih lanjut pengkarakteran yang akan ditampilkan didalam cerita. Dari sana penulis mendapatkan banyak data tentang perilaku pengemis yang digunakan untuk mendukung pengembangan sifat, bentuk fisik atau kebiasaan karakter. Penulis membuat karakter dengan wujud lucu untuk mendukung

appeal karakter dan juga konsep cerita. Sascha Preuss (2010) mengatakan bahwa karakter yang lucu dan

imut adalah karakter yang "childlike", yang menunjukkan ketidakberdayaan dan kebutuhan untuk dilindungi, sehingga dapat menarik alam bawah sadar orang dewasa untuk memperhatikannya. Penulis menciptakan karakter dengan proporsi sedemikian rupa didasari dengan referensi dan teori dari berbagai sumber, dan juga melalui diskusi. Dan setelah mencapai sketsa akhir yang fix akhirnya diwujudkan kedalam wujud model 3 dimensi.

Johan

Gambar 3D Model Johan

Johan adalah seorang pelajar SD yang berumur 10 tahun. Ia berperawakan agak gemuk serta berambut pendek. Johan senang bermain bola, sifatnya enerjik, pantang menyerah dan ia sangat suka eskrim. Pembuatan karakter Johan menggunakan perbandingan 1:1,5 kepala serta proporsi kepala yang lebih besar dan tangan dan kaki pendek untuk menciptakan karakter yang lucu.

(6)

Surti

Gambar 3D Model Surti tua dan Surti muda

Surti adalah seorang pengemis yang sudah berumur 65 tahun. Namun sebenarnya ia adalah seorang wanita muda yang menyamar menjadi tua agar orang - orang merasa iba kepadanya. Sifatnya licik dan suka menipu. Sama seperti Johan Surti juga menggunakan perbandingan 1:1,5

Desain Title

Untuk desain title, penulis menggunakan font "Cute Cartoon". Font ini memberikan kesan lucu dan menarik sehingga sangat cocok untuk film "Flying Ceban" yang ber-genre komedi. Warna yang digunakan adalah warna putih agar mudah mencocokan dengan background.

(7)

Font Judul

Visualisasi Taman Kota

Visualisasi Taman Kota

Merupakan tempat pertemuan Johan dengan Surti ketika Johan sedang bermain bola. Taman dipenuhi dengan pepohonan yang rindang serta rumput dan bunga. Kondisi taman sangat terjaga dan bersih.

(8)

Poster film "Flying Ceban"

SIMPULAN DAN SARAN

Film dengan genre komedi di Indonesia sangat banyak dan sangat diminati oleh masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, mulai bermunculan film komedi dengan menggunakan animasi 3D. Namun film komedi animasi 3D yang masuk ke pasar Indonesia sebagian besar adalah buatan Hollywood, film komedi lokal masih menggunakan live shoot dan bobot ceritanya kurang mendidik karena sering kali diselipkan dengan kata-kata kasar atau tindakan - tindakan yang tidak bermoral.

Meskipun demikian sekarang ini sudah banyak studio dan individu yang berusaha untuk membuat film animasi lokal meskipun masih banyak yang gagal dan tidak laku di pasaran. Ini merupakan suatu hal yang patut dibanggakan karena bukan tidak mungkin sebentar lagi animasi Indonesia bisa memiliki kualitas yang sama dengan animasi - animasi buatan Hollywood.

Pada awalnya, penulis sempat memulai pencarian ide cerita dari novel - novel maupun internet. Akhirnya karena tidak menemukan cerita yang pas, penulis memutuskan untuk menggunakan pengalaman pribadi penulis untuk diangkat menjadi sebuah ide cerita yang lucu dan menarik. Setelah itu dimulailah penggarapan konsep karakter, environment dan aset lainnya kemudian dilanjutkan dengan pembuatan

storyboard. Setelah konsep selesai, dimulailah proses pembuatan 3D untuk semua karakter, environment

dan juga aset yang dilanjutkan dengan pembuatan tekstur, rigging, animatic storyboard dan animasi. Setelah semua proses produksi rampung, barulah dilakukan proses final rendering dan final compositing. Setelah menyelesaikan tahap compositing, film animasi pendek "Flying Ceban"pun selesai dan siap untuk di publikasikan.

Film animasi pendek "Flying Ceban" mengandung makna bahwa ketika kita ingin berbuat kebaikan haruslah dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Karena sering kali kita ingin menolong orang lain namun tidak dilandasi dengan perasaan tulus dan pada akhirnya tidak mendatangkan kebaikan untuk diri kita sendiri maupun orang lain.

Sejak pertama kali mempelajari dan berkarir di dunia animasi, penulis mengamati memang sudah banyak terjadi perkembangan di industri animasi Indonesia. Namun, sering kali terdapat hambatan - hambatan karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap industri animasi sehingga mengakibatkan masyarakat kurang menghargai animasi itu sendiri.

Masyarakat Indonesia sebagian besar lebih tertarik dengan sinetron yang proses pembuatannya kebanyakan kejar tayang dan mengakibatkan kualitasnya tidak baik, baik itu dari segi visual, cerita maupun pesan moral yang terkandung di dalamnya. Maka tidak heran bila sekarang ini gaya hidup masyarakat

(9)

matang serta banyaknya tenaga kerja untuk membuat satu film animasi. Padahal di Indonesia terdapat banyak sekali animator - animator yang handal, sayang sekali banyak dari mereka yang akhirnya beralih profesi atau pergi keluar negri karena merasa kurang dihargai apabila bekerja di Indonesia.

Membuat film animasi bukanlah hal yang mudah seperti yang masyarakat bayangkan selama ini. Apalagi bila dilakukan seorang diri. Namun apabila dilakukan dengan cara kerja seefektif mungkin dan persiapan konsep yang matang, hal tersebut bukanlah mustahil. Pipeline produksi haruslah jelas dan efektif sehingga dapat menghemat proses produksi dan juga memaksimalkan kualitas dari film animasi tersebut.

REFERENSI

Sullivan, Karen. (2008). Ideas for Animated Short. Burlington: Focal Press.

Hamm, Jack. (1988). Drawing Scenery Landscape and Seascape. Canada: Perigee Book. Matthews, E.C. (1936). How to Draw Funny Picture . Chicago: Frederick J.Drake & Co. Ghertner, Ed. (2010). Layout and Composition for Animation. Burlington: Focal Press.

West, Richard. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika. McCloud, Scott. (1993). Understanding Comics: The Invisible Art. United States: Kitchen Sink Press Book. Byrne, T.M. (1999). Animation: The Art of Layout and Storyboarding. United States: Mark Byrne.

Iglesias, Karl. (2005). Writing for Emotional Impact. California: WingSpan Press. Gilbert W. (1999). Simplified Drawing for Planning Animation, San Rafael, CA: Anamie. White, T. (2009).How to Make animated Films, Burlington, MA : Focal Press.

William, R. (2002). The Animator's Survival Kit, London : Faber and Faber

.

http://animation.filmtv.ucla.edu/NewSite/WebPages/Histories.html

http://andriyani53.wordpress.com/2013/10/21/sejarah.html http://despicableme.wikia.com

http://graphicdesign.spokanefalls.edu/tutorials/process/gestaltprinciples/gestaltprinc.html

RIWAYAT PENULIS

Stefani Hanna lahir di kota Jakarta pada 7 September 1992. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Desain Komunikasi Visual Program Animasi pada tahun 2014.

Gambar

Gambar 3D Model Johan
Gambar 3D Model Surti tua dan Surti muda

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah yang ditemukan Penulis adalah, bagaimana membuat sebuah film animasi pendek yang memiliki isi yang cukup ringan untuk remaja hingga dewasa, tetapi juga

Tujuan penelitian yakni membuat film animasi yang berbasis budaya Indonesia, mengajarkan nilai moral positif bahwa berpikiran negative itu tidak baik, mengenalkan ke

Bagaimana membuat film pendek animasi tentang dongeng dari afrika yang mempunyai keunikan dari segi karakter sehingga dapat menghibur dan menyampaikan pesan

Analisis di lakukan untuk mencapai dan mempermudah dalam proses pengerjaan animasi ini .Hasil yang dicapai Produk animasi film pendek yang menghibur dengan sedikit fantasi

Tujuan pembuatan film animasi pendek Captain Sugeng selain untuk memperkenalkan metode pembelajaran sejarah yang baru, juga untuk memberikan hiburan yang memiliki unsur

Untuk desain poster film pendek animasi "Silly Lilly" ini, penulis menampilkan sang karakter utama sedang berpose menghadap keatas serta tangan yang seperti ingin

Tujuan dari penelitian untuk merancang konsep dan membuat sebuah film pendek animasi 3 dimensi yang bercerita tentang perlombaan berlari antara seekor kelinci dan

Dari penelitian tersebut, hasil yang ingin dicapai penulis adalah membuat sebuah film pendek animasi yang berjudul "Legenda Asal Mula Danau Sentani"