• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI ANAK TERHADAP PERHATIAN ORANG TUA DENGAN

PENALARAN MORAL REMAJA

SKRIPSI ISLAM DISUSliN OLEH : Zl LVIANA ASHSYAFIAH 96 231 079 FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA 2001

(2)

Dipertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi Fakuitas Psikologi Universitas Islam Indonesia Dan Diterima Untuk Memenuhi Sebagian Dari

Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana SI Psikologi

Pada Tanggal:

0 6 i»i< ftjui

MEVGESAHKAN FAKl I TAS PSIKOLOGI tMVERSITAS ISLAM INDONESIA

DEK;

DEWAN PENGUJI Tanda Tangan

1. Fuad Nashori. H, S. Psi, M.Si

»!

2. Sri Rahayu Partosuwido, Prof., Dr.

V f i .

(3)

MOTTO

JArtinya

: "(Dan Sarang siapayatig 6uta (fiatinya) di dunia mi,

niscaya di a^fiirat (nanti) ia ai{an kbih buta (puta) dan Cebih

tcrsesat darijafan (yang 6enar) "

(Q.S. M Israd: 72^

_Artinya

:"J&pakah sama orangyang mengetafiui denganyang

tida^tahu sama sejati. Hanya orang orangyang 6erpi(^iran tajam

sajayang dapat menerima.

Q.S.M Zumar: 9)

"Sahabatyang sejati adatah orang-orangyang dapat berbata-f^ata

benar denganmu, dan buban orang-orang yang membenarban

bata-bata."

(Prof. (Dr. ttamka)

(4)

%upersem6ah^an karya sederhana ini

Vntui orang-orang yang fy cintaidan seCafu

mencintaikii

(5)

Alhamdalillahirahbil'aumiin, segala pup dan syukur saya panjatkan kehadiran

Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada saya. Saya menyadari bahwa semua keberhasilan dalam menyelesaikan skripsi ini merupakan wujud rahinat yang besar dari Allah SWT, dan tentunya berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya memberikan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada :

1. Dr. Sukarti, selaku Dekan Fakuitas Psikologi Universitas Islam Indonesia beserta seluruh staf dosen yang telah memberikan banyak ilmu kepada saya.

2. H. Fuad Nashori, M.Si, selaku dosen pembimbing pertama. Terima kasih atas kesabarannya membimbing serta atas masukan dan diskusi-diskusinya.

3. Retno Kumolohadi, Psikolog, selaku dosen pembimbing akademik. Terima kasih selama ini sudah banyak membantu membimbing dalam berbagai hal vang menyangkut proses akademik.

4. Drs. Taslim, selaku Kepala Sekolah yang telah mengijinkan saya untuk melakukan penelitian di MAN 1 Yogyakarta.

5. Drs. Akhmad Zaenuri. selaku Kepala Sekolah yang telah mengijinkan sava untuk melakukan penelitian di SMU Kolombo Sleman.

6. Drs. Nawawi, selaku guru agama MAN 1 Yogyakana yang telah membantu saya dalam penelitian ini.

7. Orang tuaku, Ayahanda dan Ibunda, Nenek, Om Udin, Om Amin, Tante Imelda tenma kasih atas perhatian dan kasih sayangnya selama ini, serta do'a dan dorongannya yang tiada henti.

(6)

8. Adik-adikku tercinta, Dewi, Indra, Andrie, terima kasih untuk do'anya.

9. Muhammad Nuryoso, ST, selaku penasehat spiritual yang telah memberikan

support and motivation tiada henti serta do'a dan perhatiannya.

10. Tidak lupa puia untuk Monica sepupuku, Dessy my lovely nei^hbourhouci Ranti

dan Manusia Purba (Bayoen) yang telahTn'elriMhlu'^aTa'm"i5erieTrtiari7"

11. My Close l-'riend

Zubaidah, S.Psi. yang telah memberikan dorongan dan

konsultasinya.

12. Devi, SE. Yuli. Sli, Devi (Balikpapan) dan Misa terima kasih atas dukungan dan

doanya.

13. Temanku Izah Zulaikah, terima kasih selama ini aku telah banyak merepotkanmu.

14. Buat Arom terima kasih, yang selama ini memberiakan dorongan dan menjadi

teman seperjuangan.

15. Een, S.Psi (pinjaman buku dan konsultasinya), Riny. S.Psi (membantu dalam

mencan tempat penelitian). Ida dan Ana tenma kasih. sudah banyak mendukung

serta memberi semangat.

16. Untuk Ria terima kasih, atas bantuan les kilatmu dalam membuat anuket.

17. Buat teman-teman angkatan 96. Elly, Rozi. Gita, Turol, Wulan dan teman yang

lain. Terima kasih atas persahabatannya semua yang telah mewamai dalam cerita

hidupku

18. Tidak lupa ucapan terima kasih kepada semua siswa bail MAN 1 Youvakarta

maupun SMU Kolombo Sleman. yang menjadi subjek dalam penelitian yang

mengesankan ini.

(7)

Daftar Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

jj

MOTTO

iii

PERSEMBAHAN

jv

UCAPAN TERIMA KASIH

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHlLI AN

A. Latar Belakang Permasalahan 1

B. Tujuan Penelitian 5

C. Manfaat Penelitian 5

D. Keaslian Penelitian 6

BAB II LANDASAN TEORI

A. Penalaran Moral 9

1. Pengertian moral dan penalaran moral 9

2. Tahap-tahap Penalaran Moral 11

3. Prinsip Moral 16

4. Penalaran moral remaja 21

vii

V

.VII

X

(8)

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi penalaran moral 22

B. Persepsi terhadap perhatian orangtua 27

1. Pengertian persepsi 27

2. Pengertian perhatian orangtua 29

3. Pengertian persepsi terhadap perhatian oranutua ... 30 4. Aspek-aspek persepsi terhadap perhatian orangtua 31

C. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Perhatian Orangtua

Dan Penalaran Moral Remaja 34

D. Perbedaan Jenis Kelamin Terhadap Penalaran Moral 36

E. Hipotesis 3g

BAB III METODE PENELITIAN

A. Identitas Vanabel Penelitian 39

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 39

C. Populasi Sampel Penelitian 40

D. Metode Penuumpulan Data 40

E. Vaiiditas dan Reabiiitas 49

F. Metode Analisis Data 50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 51

1. Orientasi Kancah 51

2. Persiapan Penelitian 52

3. Hasil Uji Coba Alat Ukur 53

B. Pelaksanaan Penelitian 54

(9)

1. Deskripsi Subjek Penelitian

55

2. Deskripsi Data Penelitian

55

3. Hasil Analisis

55

4. Hast! Uji Asumsi

...::....;.:

7.7...:/;..;;

57

5. Hasil Uji Hipotesis 57

D. Pembahasan BABY PENUTIP A. Kesimpulan ,-, B. Saran-saran DAFTAR PLSTAKA IX 58 62 64

(10)

DAFTAR TABEL

1ABLL halaman

1. Blue Prient Skala Persepsi Terhadap Perhatian Orangtua 48 2. Hasil uji Coba Skala persepsi Perhatian Orangtua 54 3. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin 55 4. Deskripsi Hasil Penelitian Persepsi Terhadap Perhatian Orangtua 55

5. Deskripsi Hasil penalaran Moral 55

(11)

LamP'ran

Halaman

A. Skala DIT dan Skala Persepsi Perhatian Orangtua

69

B. Validitas dan Reliabilitas 85

C. Hasil Uji Normalitras dan Einieritas 90

D. Hasil Uji-t dan Anava 96

E. Analisis Data jqi

F. Deskripsi Kategori data Hipotetik (Teoritik) 103

G. Distribusi Skor per item sebelum Uji Validitas

108

H. Hasil DIT n5

I. Distribusi Skor per item setelah Uji Validitas 118 .1. Surat Keteranuan Pelaksanaan Penelitian 125

(12)

BAB I PENDAHIILUAN

A. Latar Beiakang Permasaiahan

Pembentukan moralitas yang tinggi pada remaja sangat penting, karena moralitas yang tinggi pada remaja akan berdampak sangat positif baik bagi perkembangan pribadi remaja sendin maupun lingkungan keluarga, masyarakat bahkan negara. Sayangnya pembentukan moral yang tinggi ini ternyata tidak mudah atau sederhana seperti pembentukan ketrampilan motorik, atau bahkan masih terasa lebih sulit dibandingkan dengan peningkatan kecerdasan otak, yang bisa diberikan melalui pelajaran-pelajaran misainya, bahasa Inggris, IPA, IPS. Fisika ataupun mala pelajaran lainnya. Pembentukan moralitas harus dimulai sejak bayi, dan berlanjut hingga remaja bahkan hingga dewasa atau tua. Pembentukan moralitas hingga masa remaja perlu mendapat intervensi orang tua atau orang dewasa lainnya.

Pada taraf perkembangan kepribadian manusia, masa remaja mempunyai arti khusus. Remaja seakan-akan tidak mempunyai ternpat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi ia tidak juga termasuk golongan dewasa atau tua. Remaja masih belum mampu menguasai fungsi-fungsi fisik dan psikisnya (Monks dkk, 1998).

(13)

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa

yakni antara 12 sampai 21 tahun (Gunarsa, 1991). Pada masa transisi ini terjadi

pertumbuhan pesat dalam diri remaja menyangkut segala aspek seperti

perubahan fisik, emosi, kognisi, keyakinan, dan moral. Hall (dalam Gunarsa,

1991) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa penuh gejolak

emosi dan ketidak-seimbangan, yang tercakup dalam "strom and stress".

Dengan demikian remaja mudah terkena pengaruh lingkungan.

Remaja

merupakan

bagian

vvarga

masyarakat

yang

dalam

pengembangan moralnya banyak menghadapi tantangan dan kesulitan. Remaja

yang tidak terbiasa membuat keputusan-keputusan moral di dalam keluarga,

sekolah maupun lingkungan sekitarnya akan mengalami kesulitan dalam

membuat keputusan-keputusan moral bagi dirinva dalam menghadapi berbagai

masalah sosiai. Kesulitan ini ditambah dengan banyaknya alternatif moral yanu

dihadapi, sehingga mereka semakin sulit untuk memutuskan satu pilihan moral

yang terbaik. Tekanan kelompok membuat remaja ragu-ragu menggunakan

penalaran moral yang lebih matang, karena hal itu akan dapat menjauhkan

mereka dari kesatuan kelompoknya (Gunarsa, 1991).

Keadaan remaja yang berada di tengah-tengah berbagai kondisi dan

aneka ragam pengalaman moral, menyebabkan mereka bingung untuk memilih

mana yang baik untuk mereka (Daradjat. 1978). Akhirnya mereka hanya meniru

dan mengikuti apa yang dilakukan teman-teman sebayanya dengan alasan

(14)

melihat lagi dari sudut pandang moral dan agama. Remaja semakm statis dalam

perkembangan moral karena tidak lag, mengembangkan kemampuan penalaran

moralnya (Shelton, 1991). Keadaan sepert. ini akan membuat remaja

kehilangan pegangan hidup dan akan semakin bmgung memilih mana yang

baik dan mana yang buruk (Daradjat, 1978).

Jika hal ini terus menerus dibiarkan dan masalah yang dihadapi semakin

kompleks, maka akan terjadi goncangan jiwa dan hal mi tentu akan

men.mbulkan berbagai ekses. Keseimbangan hidup adalah hal yang mutlak

diperlukan oleh mereka saat mengalami kegoncangan.

Permasalahan-permasalahan moral merupakan masalah pendidikan.

Menurut Pasaribu dan Simanjuntak (1982), pendidikan merupakan tanggung

jawab nasional. Oleh karena ,tu, pendidikan menjadi tanggung jawab bersama

-nara keiuarga, masyarakat dan pemermtah. Sobur <W91) menilai bahwa pada

hakekatnya keiuarga merupakan tempat pertama dan yang utama bagi anak

untuk memperoleh pembmaan mental dan pembentukan kepribadian.

Vembriarto (1993) menekankan pentingnya interaksi dalam keiuarga.

Interaksi yang ada dalam keiuarga, besar pengaruhnya terhadap proses

sosialisasi anak-anak, bail terhadap lingkungan maupun keiuarga. Orangtua

yang kurang memberikan perhatian secara psikologis. tidak mendapat tempat

yang baik di hati anak. Seorang anak yang kurang mendapat perhatian orangtua,

(15)

akan merasa enggan memperhatikan nasehat orangtua.

Salah satu usaha orang tua untuk menciptakan kondisi yang mendukung

tercapainya internalisasi nilai-nilai moral dam perkembangan moralitas pada

anak adalah perhatian orangtua. Alasannya, dalam konteks perhatian itu sendiri

mengandung arti menolong seseorang berkembang dan mewujudkan seseorang

sebagai dirinya sendiri (Mayeroff, 1993).

Banyak hal yang dapat mempengaruhi perhatian orangtua. Kartono

(1996) menyatakan bahwa perhatian sangat dipenuaruhi oleh perasaan dan

suasana hati, dan ditentukan oleh kemauan. Perasaan dan suasana hati yang

tidak mendukung menghambat usaha orangtua dalam memberiakan perhatian

tentang nilai-nilai moral pada anak. Keadaan mi pula yang akan mempengaruhi

anak dalam mengembangkan aspek moralnva.

Persepsi anak terhadap perhatian orangtua yaitu bagaimana anak

menerima stimulus tentang segala bentuk dukungan yang diberikan orangtua

terhadap kegiatannya sehari-sehari. Sebenarnya orangtua yang menunjukkan

perhatian kepada anak tetapi kadang-kadang anak menganggapnya secara

berbeda-beda. Tanguapan anak itu misainva anak sungguh-sungguh merasakan

perhatian orangtua atau sebaliknya anak merasa ditekan dan dibatasi dengan

adanya perhatian tersebut.

(16)

Crowd (dalam Subekti, 1998) berpendapat bahwa memberi perhatian

berarti memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran anak ke arah ide-ide yang

utama atau mendorong anak untuk mengatakan sesuatu dengan benar sesuai

dengan keyakinan dan kenyataan yang ada. Jadi, orangtua memberikan

perhatian kepada anak tidak berarti orangtua selalu berada di samping anak

secara terus menerus, namun lebih memberikan arah dan bimbingan pada

pikiran-pikiran anak, termasuk di dalamnya adalah perkembangan baik dan

buruk bagi anak.

Uraian di atas

penulis mengambil kesimpulan bahwa perhatian

merupakan usaha orangtua untuk memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran

anak ke arah ide-ide yang utama dengan sikap-sikap tertentu yang

diperlihatkan, sehingga dapat mewujudkan suatu hubungan saling percava

antara orang tua dan anak. Sebaliknya kurangnya perhatian orangtua dapat

memperburuk penyesuaian diri anak. yaitu kecenderungan anak untuk

mengabaikan standar moral yang berlaku dalam masyarakat.

Oleh karena itu diajukan pertanyaan "apakah ada hubungan antara

persepsi anak terhadap perhatian orangtua dan penalaran moral remaia . "

B. Tujuan Penelitian Masalah

Untuk mengetahui hubungan antara persepsi anak terhadap perhatian

(17)

Hasil penelitian in dapat memberikan tambahan informasi secara

empirik di bidang psikologis mengenai hubungan antara persepsi anak terhadap

perhatian orangtua dan penalaran moral pada remaja.

Secara praktis, informasi ini juga bisa menambah wawasan dan

pengetahuan pada orangtua, remaja dan masyarakat umumnya mengenai

keterkaiatan antara persepsi anak terhadap perhatian orangtua dan penalaran

moral remaja.

Bila terbukti terdapat hubungan antara perhatian orangtua

dengan penalaran moral, maka salah satu informasi yang penting adalah

penalaran moral dapat ditmgkatkan dengan perhatian orangtua.

I). Keaslian Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang orismil. Berbagai penelitian

menunjukkan bahwa yang berperan mempengaruhi penalaran moral adalah

adanya rangsangan simulasi moral (Nashon. 1995). jenis pendidikan yang

ditempuh (Nurhayati,1996) dan tindak kejahatan (Rahmi, 2001). Sejauh mi

belum ditemukan topik penelitian yang menelaah keterkaitan persepsi anak terhadap perhatian orangtua dengan penalaran moral remaja. Sementara itu

berkaitan dengan subjek penelitian, sejauh ini telah dilakukan penelitian dengan

(18)

7

DIT telah digunakan dalam berbagai penelitian (Martani, 1987; Nashori, 1995;

Mmdrowo, 1995; Nurhayati,!996; Rahmi, 2001). Untuk selanjutnya milah

judul-judul penelitian yang berkaitan dengan penalaran moral dan yang

berkaitan dengan perhatian orangtua.

a. Penalaran Moral

Penelitian Nashori (1995), dengan judul "Efektifitas rangsangan

simulasi moral untuk meningkatkan penalaran moral siswa". denuan

menggunakan skala DIT dari Rest (1979) pada siswa putn SMEA Negeri

1empel Sleman, hasilnya menunjukkan bahwa siswa putri yang telah mengikuti

rangsangan simulasi moral, maka tahap penalaran moralnya lebih tinggi

danpada sebelum mengikuti rangsangan simulasi moral.

Penelitian Rahmi (2001). dengan judul "Perbedaan penalran moral pada

remaja yang telah melakukan tindak kejahatan dan remaja \anu tidak

melakukan tindak kejahatan", dengan menggunakan skala DIT dari Rest (1979)

pada penghuni Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan berpendidikan SMU dan

remaja SMU muhamadiyah Pakem. Hasilnya menunjukkan ada perbedaan

pnnsip moral remaja yang tidak melakukan tindak kejahatan dan remaja vang

telah melakukan tindak kejahatan dan pnnsip moral subjek vang tidak

melakukan tindakan kejahatan lebih tinggi daripada subjek telah melakukan

tindak kejahatan.

(19)

Penelitian Nurhayati (1996) dengan judul "Tenalaran moral pada remaja

yang menempuh pendidikan di pesantren dan remaja yang menempuh pendidikan di sekolah umum", dengan menggunakan skala DIT dari Rest (1979), hasilnya menunjukkan remaja yang menempuh pendidikan di pesantren mempunyai pnnsip moral lebih dan tahap penalaran moral yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang menempuh pendidikan di sekolah umum.

b. Perhatian Orangtua

Penelitian Deo (1998) dengan judul "Hubungan antara nem masuk

sekolah, motivasi berprestasi, dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas 1 SMU tahun pelajar 1997/ 1998 di kabupaten Dili propinsi Timor

Timuf". Hasilnya menunjukkan ada hubungan antara positif nem SLTP,

motivasi berprestasi dan perhatian orang tua secara bersama-sama terhadap

prestasi.

Penelitian Ardijati (1996) dengan judul "Studi korelasi tentang perhatian orang tua dan inteligensi terhadap kreativitas siswa II SMA

Muhamadiyah I Sragen'". menunjukkan adanya hubungan positif antara

(20)

BAB II

TINJAUAN PI STAKA

A. Penalaran Moral

1. Pengertian Moral dan Penalaran Moral

Secara etimologis istilah moral berasal dari kata latin nios (mores) yang

berarti tata cara. adat istiadat atau kebiasaan. Kata moral mempunyai arti vang sama

dengan kata Yunani ethos, yang menurunkan kata etika. Bahasa Arab kata moral

disebut dengan akhlak yang berarti budi pekerti, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata moral dikenal dengan arti kesusilaan (Adiwardhana, 1991).

Hurlock (1978) mengemukakan bahwa tingkah laku moral berarti tingkah

laku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Pengertian ini hampir sama

dengan pendapat sebagian besar ahli psikologi dalam menerangkan masalah moral. Penganut teori behaviorisme menyatakan bahwa moralitas identik dengan

konfonnitas terhadap aturan-aturan sosial. Nilai moral merupakan evaluasi dari

tindakan yang dianggap baik oleh anggota masyarakat tertentu. Dengan demikian

jelas bahwa pemahaman moral merupakan proses internalisasi dari norma budava atau norma dari orangtua (Setiono, 1993).

Orangtua atau guru dalam pendidikan moral memberikan contoh-contoh

tingkah laku yang baik dan benar. Anak didik yang meniru tingkah laku tersebut,

akan diberi ganjaran. Sebaliknya, anak didik yang bertingkah laku melanggar

(21)

aturan sosial akan dihukum. Melalui contoh, ganjaran dan hukuman tersebut terbentuklah tingkah laku yang baik pada anak (Gunarsa, 1990).

Beberapa pengertian moral dapat,dilihat bahwa,.moral... rnemegang peranan penting dalam kehidupan manusia yang berhubungan dengan baik atau buruk

terhadap tingkah laku manusia. Tingkah laku yang mendasarkan pada norma-nonna

yang berlaku dalam masyarakat. Seseorang dikatakan bermoral bilamana orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat. Jadi moral adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar. Akan tetapi perlu diingat bahwa baik dan benar menurut sesorang belum pasti baik

dan benar menurut orang lain.

Konsep moralitas yang diajukan oleh Kohlberg (1969, 1976) sebagai

penganut teori perkembangan sosio kognitif tidak terpaut dengan kondisi sosial

budaya tertentu. Menurut Kohlberg, moralitas merupakan apa yang diketahui dan

dipikirkan seseorang mengenai baik dan buruk atau benar dan salah. Moralitas

berkenaan dengan jawaban atas pernyataan mengapa dan bagaimana orang sampai

pada keputusan bahwa sesuatu dianggap baik dan buruk.

Istilah yang serinu digunakan oleh Kohlberg (1969) adalah moral judgment.

Judgment menurut Salim (1989), dapat diartikan sebagai penilaian atau

pertimbangan, dalam proses penilaian dan pertimbangan moral tertentu terdapat

(22)

11

sebagai terjemahan moral judgment. Di samping itu penalaran moral merupakan terjemahan dari kata moralreasoning atau moral thinking, yang diartikan sama dalam pembahasan mengenai penalaran moral.

Dengan demikian penalaran moral adalah penalaran yang digunakan oleh seseorang untuk memutuskan mengapa sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah.

2. Tahap-tahap Penalaran Moral

Selama dua belas tahun, Kohlberg dan rekan-rekannya mengembangkan teori tentang tingkat-tingkat perkembangan moral melalui studi longitudinal pada anak laki-laki Amerika yang berjumlah 75 orang, dengan mengikuti perkembangan mereka pada selang waktu setiap tiga tahun, yaitu sejak masa remaja hingga awal masa dewasa. Pada awal penelitan, anak-anak itu berusia 10-16 tahun. Perkembangan mereka diikuti sampai usia 22-28 tahun (Kohlberg. 1995). Ia menghadapkan anak-anak itu pada situasi dilematis yang disebut dilerna-dilema moral. Untuk setiap situasi, anak-anak diminta untuk mengemukakan alasan-alasan yang dijadikan dasar untuk mengambil tindakan tertentu dalam menghadapi dilema itu.

Diilhami oleh usaha rintisan Piaget untuk menerapkan pendekatan struktural pada perkembangan moral, tahap demi tahap selama tahun-tahun studi. Kohlberg mengembangkan suatu skema tipologi yang menguraikan struktur-struktur dan bentuk-bentuk umum pemikiran moral yang dapat didefinisikan secara tersendiri. terlepas dari isi khas keputusan dan tindakan moral tertentu (Kohlberg, 1995).

(23)

masing tingkatan ini dibedakan lagi dua tahap yang saling berkaitan. Semua tingkatan

dan tahapan ini dapat dipandang sebagai filasafat moral tersendiri, atau pandangan

yang berbeda mengenai dunia sosial-moral (Kohlberg, 1995).

Tahapan-tahapan penalaran moral tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Tingkat Prakonventional

Pada tahap ini anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan terhadap

ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Akan tetapi

hal ini ditafsirkan dari segi akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman,

keuntungan. pertukaran kebaikan). Pada tingkat ini ada dua tahap, yaitu tahap

orientasi hukuman dan kepatuhan dan tahap orientasi relativis-instrumental

Tahap 1: Tahap Orientasi Hukuman dan Kepatuhan. Akibat-akibat fisik

suatu perbuatan menentukan baik buruknya perbuatan, tanpa menghiraukan arti dan

nilai manusiawi dan akibat tersebut. Anak hanya semata-mata menghindarkan

hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkannya.

Tahap 2: Tahap Orientasi Relativis-instrumental Perbuatan vang benar

adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannva

sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia

dipandang seperti hubungan di pasar. Elemen kewajaran tindakan yang bersifat

resiprositas dan pembagian sama rata, tetapi ditafsirkan secara fisik dan pragmatis.

(24)

akan menggaruk punggungmu", dan bukan karena loyalitas, rasa terima kasih atau

keadilan.

b. Tingkat Konventional

Pada tingkat ini anak hanya menuruti harapan keiuarga, kelompok, atau bangsa, dan dipandang sebagai hal yang bernilai dalam dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan saja konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melainkan juga loyal terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata tertib itu serta mengidentifikasikan diri dengan orang atau kelompok yang terlibat. Tingkat ini mempunyai dua tahap:

Tahap 3: Tahap Orientasi Kesempatan antara Pribadi atau Orientasi

"Anak Manis". Perilaku yang baik adalah yang menyenangkan dan membantu oiang

lain serta yang disetujui oleh mereka, banyak konformitas terhadap gambaran stereotip mengenai apa itu perilaku mayoritas atau "alamiah". Perilaku senng dinilai menurut niatnya. Ungkapan "dia bermaksud baik'* untuk pertama kalinya menjadi penting. Orang mendapatkan persetujuan dengan menjadi "baik".

Tahap 4: Tahap Orientasi Hukum clan Kctertiban. Adanya orientasi terhadap otoritas, aturan yang tetap dan penjagaan tata tertib sosial. Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menghonnati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada, sebagai yang bernilai dalam dirinya sendiri.

(25)

c. Tingkat Pasca-Konvensional, Otonom atau yang Berladaskan prinsip

Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan

prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan terlepasdan otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-pnnsip itu dan terlepas pula dan identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. Ada dua tahap yaitu :

Tahap 5: Tahap Orientasi Kontrak Sosial Legalistis. Pada umumnva tahap ini bernada semangat utilitarian. Perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan

telah disepakati oleh seluruh masyarakat. Adanya kesadaran yang jelas mengenai

relativisme nilai dan pendapat pribadi bersesuaian dengannya, suatu penekanan atas aturan prosedural untuk mencapai kesepakatan. Terlepas dari apa yang telah

disepakati secara konstitusional dan demokratis, hak adalah soal "nilai" dan

"pendapat" pribadi. Hasilnya adalah penekanan pada sudut pandang legal, tetapi

dengan penekanan pada kemungkinan untuk mengubah hukum berdasarkan pertimbangan rasional mengenai manfaat sosial (dan bukan membekukan hukum itu

sesuai dengan tata tertib gaya tahap 4). Di luar bidang hukum. persetujuan bebas dan

kontrak merupakan unsur pengkat kewajiban. Inilah "moralitas resmi" dari pemerintah dan perundang-undangan Amerika Serikat.

Tahap 6: Tahap Orientasi Prinsip Etika Universal. Hak ditentukan oleh

keputusan suara batin, sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang

(26)

15

ini bersifat abstrak dan etis (kaidah emas imperatif kategoris). Pada hakikatnva inilah

prinsip-prinsip universal keadilan, resiprositas dan persamaan hak asasi manusia serta

rasa hormat terhadap manusia sebagai pribadi individual.

Tingkah laku moral yang sesungguhnya baru timbul pada masa remaja. Masa

remaja sebagai periode masa muda harus dihayati betul-betul untuk dapat mencapai

tingkah laku moral yang otonom. dan eksistensi masa muda sebagai keseluruhan

merupakan masalah

moral dan bahwa hal ini harus dilihat sebagai hal yang

bersangkutan dengan nilai-nilai. Tingkah laku tersebut menuntut suatu tingkat

perkembangan intelektual serta pembentukan penilaian yang tinggi. Pembentukan

penilaian ini terjadi atas dasar interaksi antara potensi-potensi yang ada dan oleh

faktor-faktor lingkungan. Hal ini terjadi sedemikian rupa, sehingga proses menjadi

dewasa dan proses emansipasi membawa individu ke arah penilaian yang mandin

yang mempunyai konsekwensi pentmu bagi dirinya sendiri (Further dalam Monks.

dkk. 1998).

Tingkat prekonvensional digunakan oleh mereka yang memiliki alasan-alasan

kurang matang, yang hanya mencan kepuasan pemenuhan kebutuhan pribadi. tanpa

mempertimbangkan keadilan atau orang lain. Tingkat konvensional digunakan oleh

orang-orang. pada umumnya berhubunuan dengan kelompok masyarakat di mana

mereka tinggal, sedangkan tingkat poskonvensional (pasca konvensional), jauh

kedepan melebihi kelompok- kelompok/masyarakat. Oleh karena itu, biasanva tidak

dipengaruhi oleh sistem-sistem hadiah dan hukuman-hukuman dari masvarakat,

(27)

alasan moral pada tingkat ini tidak begitu berhubungan dengan hadiah-hadiah yang menyertai peraturan-peraturan dalam masyarakat.

3. Prinsip Moral

Kohlberg (1995) mengatakan bahwa hanya tahap-tahap pemikiran moral yang telah tinggi memiliki cin-ciri fonnal pertimbangan yang khas moral. Cukup jelaslah bahwa kebanyakan pertimbangan nilai tidak secara langsung didasarkan atas

prinsip-prinsip. Menurut Here (dalam Kohlberg, 1995), mengenai ciri-ciri formal yang khas dari moralitas sebagai "keharusan" (preskriptivitas) dari "universalitas" (pada

gilirannya keduanya mengandung arti "otonomi" pilihan moral atau kewajiban moral). Pendapat Here menggemakan pandangan Kant, yang mendifinisikan presknpvitas dalam arti imperatif kategoris (sebagai lawan dari imperatif hipotetis).

Secara empiris Kohlberg (1995) telah menemukan bahwa kedua ciri ini saling berkaitan, sehingga suatu penilaian gaya tahap 6 mengenai kebaikan yang bersifat preskriptif atau bebas dari berbagai kecenderungan diri dan keyakinan orang "lain juga merupakan suatu penilaian kebaikan yang berlaku untuk semua manusia. Apabila usaha dilaksanakan untuk merumuskan penilaian presknftif dan universal, maka penilaian tersebut hampir selalu diungkapkan menurut prinsip moral. Oleh karena itu untuk memahami moralitas tahap 6, perlu mengerti sifat dasar dan cara berfungsinya prinsip-prinsip moral.

(28)

17

Suatu prinsip moral merupakan suatu cara memilih yang universal, suatu aturan memilih yang kita inginkan agar dikenakan pada semua orang dalam segala

situasi. Semua orang yang bijak memaksudkan "prinsip moral" sebagai suatu

pedoman umum untuk memilih dan bukannya sebagai suatu peraturan konkret untuk

bertindak. Pengertian yang paling tegas mengenai prinsip adalah pengertian yang

telah didefmisikan oleh ajaran utilitarian murni yang menentukan prinsip tunggal

"maxim utilitarian" yaitu bertindaklah selalu untuk memaksimalisasikan kebahagian

yang setinggi-tingginya bagi orang sebanyak-banyaknya. Gagasan tegas mengenai

prinsip ini mengandung arti suatu maksim tunggal untuk memilih yang secara logis

atau intuitif bersifat rasional dan jelas dari sendirinya.

Gagasan tersebut dapat dideduksikan setiap tindakan kongkret yang benar

secara moral dalam suatu situasi. apabila fakta-fakta situasi diangkat sebagai premis

minor dan deduksi tersebut. Gagasan tegas mengenai pnnsip semacam itu merupakan

hal yang tidak hanya dapat diuniversalisasikan bagi semua manusia dan pada segala

situasi, melainkan juga secara mutlak menentukan sertiap tindakan vang benar daiam

situasi apa pun (dalam Kohlberg, 1995).

Dengan demikian, di dalam butur-butir kategori vang rinci dalam penilai

moral itu, diangkat kategori prinsip beriku ini: kebijakan (dan realisasi diri),

kesejahteraan orang lain; penghormatan terhadap otoritas. kemasyarakatan atau

(29)

Menurut Suseno (1995) pada prinsip-prinsip itu semua norma moral yang

lebih konkret harus diukur. Prinsip-prinsip moral tersebut, yaitu:

a. Prinsip Sikap Baik

Prinsip moral dasar pertama dapat di sebut sebagai prinsip sikap baik. Prinsip

itu mendahului dan mendasar. semua prinsip moral lain. Baru atas dasar tuntutan ini

semua tuntutan moral lain masuk akal.

Pnnsip ini mempunyai arti yang amat besar bagi kehidupan manusia. Hanya

karena prinsip itu memang diresap. dan rupa-rupanya mempunyai dasar dalam

struktur ps.k.s manusia, seseorang dapat bertemu dengan orang yang belum dikenal

tanpa takut. Sikap dasar itu membuat seseorang dapat mengendal.kan bahwa orang

lam. kecuali mempunyai alasan khusus. tidak langsung mengancam atau

merugikannva. Sikap dasar itu membuat seseorang selalu mengumpamakan bahwa

yang memeriukan alasan bukan sikap vang baik. melainkan sikap yang buruk. Jad,

yang biasa pada manusia bukan sikap memusuhi dan mau membunuh. melainkan

sikap bersed.a untuk menerima baik dan membantu. Oleh karena itu, berulang kali

seseorang dapat mengalami bahwa orang yang sama sekal. tidak dikenal, secara

spontan membantunya dalam kesusahan.

Jadi. prinsip sikap baik bukan hanya sebuah pnnsip yang difaham, secara

ras.onal, melainkan juga mengungkapkan syukur alhamdulil/ah, suatu kecondongan

yang memang sudah ada dalam watak manusia. Prinsip sikap baik, menyangkut sikap

(30)

19

Prinsip ini menyatakan bahwa pada dasarnya, kecuali ada alasan yang khusus,

manusia harus mendekati siapa saja dan apa saja dengan positif, dengan menghendaki

yang baik bagi dia. Bukan semata-mata perbuatan ~baik dalam arti sempiC melainkan

sikap hati positif terhadap orang lain, kemampuan baik terhadapnya. Bersikap baik

berarti, memandang seseorang dan sesuatu tidak hanya sejauh berguna bagi saya,

melainkan menghendaki. menyetujui. membenarkan. mendukung. membela.

membiarkan dan menunjang perkembangannya, mendukung kehidupan dan

mencegah kematiannya demi dia itu sendiri.

Bagaimana sikap baik itu harus dmyatakan secara kongkret tergantung pada

apa yang baik dalam situasi kongkret itu. Pnnsip ini menuntut suatu pengetahuan

tepat tentang realita supaya dapat diketahui apa yang masing-masing baik bagi yang

bersangkutan. Kalau itu sudah diketahui. maka diketahui juga bagaimana pnnsip

sikap baik mesti diterapkan dalam situasi itu. Pnnsip sikap baik mendasan semua

norma moral karena hanya atas dasar pnnsip itu masuk akal bahwa manusia harus

bersikap adil, atau jujur, atau setia kepada orang lain,

b. Prinsip Keadilan

Pnnsip sikap keadilan mengungkapkan kewajiban untuk memberikan

perlakuan yang sama terhadap semua orang lam vang berada dalam situasi yang sama

dan untuk menghormati hak semua fihak bersangkutan. Suatu perlakuan yang tidak

sama adalah tidak adil, kecuali dapat diperlihatkan mengapa ketidaksamaan dapat

dibenarkan (misalnya karena orang itu tidak membutuhkan bantuan). Suatu perlakuan

(31)

yang tidak sama selalu dibenarkan secara khusus, sedangkan perlakuan yang sama

dengan sendirinya betul kecuali terdapat alasan-alasan khusus. Secara singkat

keadilan menuntut agar manusia jangan mau mencapai tujuan-tujuan. termasuk vang

baik, dengan melanggar hak seseoranu.

c. Prinsip Honnat Terhadap Diri Sendiri

Pnnsip ini mengatakan bahwa manusia wajib untuk selalu memperiakukan

diri sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri. Pnnsip ini berdasarkan faham

bahwa manusia adalah person, pusat pengertian dan kehendak, yang memiliki

kebebasan dan suara hati, makhluk berakal budi. Manusia tidak boleh d.anggap

sebagai sarana semata-mata demi suatu tujuan lebih lanjut. la adalah tujuan yang

bernilai pada dinnya sendiri. Nilamva bukan sekedar sebagai sarana untuk mencapai

suatu maksud atau tujuan lebih jauh. Hal ini juga berlaku bagi diri sendiri. Maka

manusia juga wajib memperiakukan dirinya sendiri dengan hormat. Seseorang wajib

menghormati martabat dirinya sendiri.

Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa kebaikan dan keadilan vang di

tunjukkan kepada orang lain, perlu dnmbangi dengan sikap yang menghormati diri

sendiri sebagai makhluk yang bernilai. Seseoranu semestmya mau berbaik kepada

orang lain dan bertekad untuk bersikap adil. tetapi tidak dengan membuang dm.

Dalam pandangan Kohlberg (dalam Nashori, 1995) pnnsip moral merupakan

gabungan nilai-nilai moral pada tingkat poskonvens.onal. baik tahap kelima maupun

(32)

21

4. Penalaran Moral Remaja

Remaja sebetulnya tidak punya tempat yang jelas. la tidak termasuk golongan

anak, tetapi tidak juga termasuk golongan dewasa atau golongan tua. Secara jelas

masa anak dapat dibedakan dari masa dewasa dan masa tua. Seorang anak masih

belum selesai perkembangannya, orang dewasa dapat dianggap sudah berkembang

penuh. la sudah menguasai sepenuhnya fungsi-fungsi fisik dan psikisnva. Pada masa

tua umumnya terjadi kemunduran terutama dalam fungsi psikisnva. Pada remaja

masih belum mampu untuk menguasai fungsi fisik maupun psikisnva (Monks, dkk.

1998).

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yaitu

antara 12 sampai 21 tahun (Gunarsa, 1991). Pada masa transis. in. terjadi

pertumbuhan pesat dalam dm remaja menyangkut segala aspek seperti perubahan

fisik, emosi. kognisi. keyakinan. dan moral.

Perkembangan berpikir remaja sesuai dengan perkembangan berpikir yang

dikemukakan oleh Piaget. yaitu telah mencapai kemampuan berpikir formal.

Kemampuan berpikir formal mi pada umumnya dimulai pada usia 12 tahun dan

menguat pada masa remaja (Blair dan Jones. 1964).

Semng dengan perkembangan berpikir remaja, perkembangan penalaran

moralnya berada pada tingkat moral conventional, yaitu tahap tiga dan empat

(Watson dan Lindgren, 1979), akan tetapi ada juga yang masih berada pada tingkat

(33)

belasan, ada beberapa remaja yang mencapai tingkat pasca conventional atau tingkat

prinsip (Watson dan Lindgren, 1979).

Remaja diharapkan dapat mengkoordinasikan konsep-konsep moral nya dalam

berbagai situasi. Remaja dalam penilai suatu tingkah laku dalam hubungannya

dengan anak-anak (Hurlock, 1990), karena pada masa m.lah mereka mengembangkan

kemampuan memperdalam refieksi untuk menemukan makna dan

hubungan-hubungannya (Piaget, dalam Shelton, 1991).

Perkembangan moral yang dicapai pada kebanyakan remaja adalah tahap

konvensional (Conger, 1975, Setiono, 1994; Cr.der, dkk. 1983). yaitu tahap ket.ka

seseorang sangat memperhatikan aturan-aturan sosial, harapan-harapan, serta

peran-peran. Tindakan-t.ndakan yang dianggap benar dilakukan karena adanya motivasi

yang ada dalam dm seseorang untuk melakukan apa vang diterima dan diharapkan

oleh masyarakat.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penalaran Moral

Menurut Kohlberg (dalam Duska dan Whelan, 1984; Setiono. 1982) ada lima

yang mempengaruhi penalaran moral, yaitu kesempatan alih peran, konfiik

sosio-kognitif. dan keagamaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penalaran moral dapat

dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor

(34)

a. Kesempatan Alih Peran

Alih peran merupakan proses kognitif dan proses sosial yang menunjukkan

bahwa individu dapat menempatkan diri pada motif-motif, perasaan, pikiran dan

tingkah laku orang lain. Hal ini berarti individu mampu untuk melepaskan diri dan

pandangannya sendiri, mampu memandang dunia luar dari sudut pandang orang Iain.

-Dapat menempatkan dm pada perasaan orang lain" mengandung arti juga dapat ikut

merasakan secara empati, yaitu ikut merasakan perasaan orang lain (Monks, dkk.

1998). Kemampuan ini merupakan keadaan kognitif yang memungkinkan seseorang

pada tingkat konvensional menyadari keterbatasan-keterbatasan dan

kekurangan-kekurangan pada egoisme dan melihat pentingnya kerjasama dalam kelompok (Duska

dan Whelan, 1984). Empati mempengaruhi daya nalar seseorang. Makin mampu

seseorang berempati makin mampu ia menalar situasi-situasi vang berkaitan dengan

perilaku moral. Makin mampu ia menalar situasi moral makin tinggilah

perkembangan moral yang telah dicapainya (Prawiratirta. 1991).

Perlunya alih peran dalam peningkatan penalaran moral seseorang berkaitan

dengan pengertian moralitas vang telah diutarakan sebelumnya, yaitu bagaimana

menyelesaikan situasi konflik antara kepentingan dm dan orang lain. Alih peran.

situasi konflik tersebut dapat diselesaikan secara adil. atas dasar pertimbangan dua

belah pihak. Ada beberapa kesempatan alih peran yang mungkin d.alami oleh

seseorang, seperti melalui hubungan antara individu dalam keiuarga, dalam kelompok

(35)

Salah satu faktor yang menentukan peningkatan penalaran moral dalam

keiuarga adalah bila orang tua mendorong terjadinya dialog yang intensif, khususnya

mengenai nilai-nilai. Dialog yang intensif maka akan terjadi transfer-sudut pandang

serta sikap-sikap yang disebut kesempatan alih peran.

Remaja yang banyak berinteraksi atau berpartisipasi dalam pergaulan dengan

teman sebaya, akan meningkat penalaran moralnya dibandingkan dengan mereka

yang sedikit berinteraksi atau berpartisipasi dalam pergaulan sosial dengan teman

sebaya. Hal ini berarti pula bahwa variasi dalam pergaulan akan memberikan

kesempatan yang lebih banyak pada remaja untuk melakukan alih peran vang

bervariasi pula. Simulasi yang dilakukan Nashori (1995) menunjukkan bahwa alih

peran berpengaruh dalam meningkatkan moral.

b. Konflik Sosio-Kognitif

Mutu lingkungan sosial mempunyai pengaruh yang signifikan kepada

cepatnya perkembangan dan tingkat perkembangan yang dicapai oleh seseoranu

(Duska dan Whelan, 1984). Hal ini terlihat pada pengaruh konflik sosio kognitif

terhadap penalaran moral seseorang. Konflik sosio kognitif ini akan terjadi ketika

individu berhadapan dengan pandangan yang berbeda. Dialog yang melibatkan

banyak individu, munculnya keragaman pandangan adalah hal vang umum terjadi. Di

antara keragaman pandangan ini dalam diri individu juga terjadi dialog internal

individu. Apabila individu mampu memahaminya dan mendudukkan

pandangan-pandangan tersebut dalam suatu struktur berpikir tertentu, maka individu mungkin

(36)

25

akan biasa segera mengadakan penyelesaain. Sebaliknya, apabila individu gagal memahaminya dalam suatu struktur berpikir yang benar. maka individu tidak akan mampu menyelesaikan konflik sosio kognitif yang terjadi dalam dirinya.

Dengan ungkapan lain, dapat dikatakan bahwa keadaan tidak seimbang

(disequlibrium) selalu duringi dengan kemginan untuk menjadi seimbang kembali.

Keadaan seimbanu ini akan tercapai apabila individu dapat menyelesaikan masalah ketidakseimbangan itu, yaitu dapat memahami suatu masalah dengan suatu pemikiran yang menggunakan struktur uyang lebih tinggi dan struktur yang dimilikinya saat itu. Individu dapat memahami atau menggunakan struktur berpikir yang lebih tinggi tersebut yang pada mulanya membinggungkannya. Pernahaman ini diperoleh individu melalui proses reorganisasi struktur pikiran yang dilakukannva.

c. Faktor Pembawaan

Menurut Hurlock (1992) faktor pembawaan ini terutama yang dibicarakan adalah inteligensi, karena inteligensi mempunyai pengaruh vang sangat penting terhadap tingkat moralitas yang mampu dicapai oleh seseoranu. Kecakapan seseoranu untuk bertindak dengan lingkungan secara efektif (Wechsier dalam Monks dkk.

1998).

d. Segi Keagamaan

Kejujuran dan nilai-nilai moralitas yang diperlihatkan seorang anak tergantung sepenuhnya pada penghayatan nilai-nilai keagamaan dalam bertingkah

(37)

laku dengan orang lain. Penelitian Flaerani (1995) menunjukan adanya hubungan

antara religiusitas dengan penalaran moral.

Sementara faktor-faktor eksternal meliputi. iklim moral lingkungan sosial,

lingkungan rumah, lingkungan sekolah, dan aktifitas rekreasi. Faktor-faktor eksternal: e. Iklim Moral Lingkungan Sosial

Iklim moral dari lingkungan sosial mempunyai potensi untuk dipersepsikan

lebih tinggi dari tahap penalaran moral anggotanya. Rangsangan lingkungan sosial ini

tidak hanya terbatas pada rangsangan penalaran terhadap masalah-masalah sosial, tetapi juga melalui peragaan tindakan bennoral dan peragaan peraturan bermoral.

f. Lingkungan Rumah

Sikap dan tingkah laku anak dipengaruhi oleh bagaimana sikap orang-orang

vang berada dalam rumah. Orangtua harus menciptakan suasana keramahan,

kejujuran dan kerja sama sehingga anak selalu cenderung untuk melakukan hal-hal vang baik (Gunarsa. 1981) serta mendorong terjadinya dialog tentang masalah

nilai-nilai moral (Setiono, 1982). g. Lingkungan Sekolah

Corak hubungan antara anak dan guru atau murid yang lain akan mempengaruhi nilai-nilai moral yang masih mengalami perubahan. Kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah, murid memperoleh kesempatan untuk berlatih dan

(38)

27

h. Aktivitas Rekreasi

Aktivitas anak dalam mengisi waktu luang akan mempengaruhi konsep

moralitas anak. melalui bacaan, film, radio, televisi, banyak mempengaruhi norma-norma moral yang dirasakan tidak sesuai dengan prinsip moral yang dimilikinya. Oleh karena itu tingkah laku yang dicemiinkannya cenderung tetap.

B. Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orangtua 1. Pengertian Persepsi

Persepsi terkandung pengertian adanya proses penginderaan yang dilakukan panca indera, kemudiaan stimulus yang diterima Ialu diolah dan diinterpretasikan, sehingga individu mengerti dan menyadari tentang apa saja yang diindera itu. Persepsi mengandung unsur evaluasi atau penilaian terhadap stimulus vang diterima. dapat dikatakan bahwa persepsi itu merupakan pengorgamsasian, peintegrasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan respons yang integrated dalam diri manusia (Walgito,199I). Persepsi dapat dilakukan baik kepada dirinya sendiri yang disebut persepsi diri (self

perception) atau persepsi terhadap din orang lain.

Persepsi merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Walgito. 1990). Ini berarti bahwa seluruh pribadi dan seluruh apa yang ada dalam diri individu

ikut aktif berperan dalam proses persepsi. Oleh karena itu hasil persepsi mungkin

(39)

(1978), setiap manusia mempunyai pengalaman, penghargaan, dan hasrat individu

sendiri ini membuat faktor-faktor kepribadian dalam pengamatan pada subyek yang

satu berbeda dari subyek yang lain. Davidoff (dalam Walgito. 1990) mengatakan

bahwa persepsi merupakan suatu aktivitas mengindera, kemudian mengorganisasi

stimulus yang diterima, menginterpretasi, menyadari, dan akhirnya mengerti tentang

apa yang diinderanya tersebut.

Persepsi mulai terjadi saat stimulus yang ditimbulkan oleh obyek mengenai

alat indera atau reseptor proses ini dinamakan proses kealaman (fisik). Stimulus yang

diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh syaraf sensorik ke otak. Proses ini

dinamakan proses fisiologis. Kemudian terjadi lah suatu proses di otak, sehingga

individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan reseptor itu. Proses yang terjadi

dalam otak atau pusat kesadaran itulah yang dinamakan proses psikologis. Taraf

terakhir dari proses persepsi adalah individu menyadari tentang apa vang diterima

melalui alat indera atau reseptor (Walgito. 1990).

Mahmud (dalam Purwati, 1992) mengemukakan bahwa persepsi adalah penalsiran stimulus yang telah ada di otak, sehingga proses persepsi merupakan hasil

dari aksi dan reaksi. Proses persepsi ini setiap faktor mental, suasana emosi,

keinginan yang kuat atau sikap mempunyai pengaruh pada berlangsungnva proses

(40)

29

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan pengertian persepsi

dalam penelitian ini adalah aktivitas yang tenntegrasi datanTTjin sese^arrg~4alam^

menerima stimulus mengenai suatu objek melalui inderanya. 2. Pengertian Perhatian Orangtua

Perhatian orangtua terdiri dari dua kata, yaitu perhatian dan orangtua.

Perhatian yang dimaksud dalam penelitian ini. yaitu segala bentuk dukungan pada kegiatan kelompok anak, dari orangtua. Orangtua menaruh hati, memperhatikan pada

anak-anaknya dalam kagiatan sehari-harinva.

Oleh karena itu dalam merawat dan mendidik anak banyak sekali faktor yang

harus dan perlu diperhatikan oleh orangtua. Sesungguhnya masalah perawatan dan

mendidik anak bukan hal yang mudah dilakukan Di sana dibutuhkan perhatian dan penanganan yang baik supaya hasil akhirma yang dicapai bisa baik pula.

Menurut Walgito (1986), perhatian merupakan pemusatan atau kosentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditunjukkan kepada suatu atau sekumpulan obvek.

Perhatian orangtua terhadap anak meliputi kebutuhan-kebutuhan anak yang terdiri atas kasih sayang. rasa aman, harga diri. kebebasan. rasa sukses dan kebutuhan akan mengenai (Daradjat, 1983).

Menurut Verbeek (1978), perhatian merupakan suatu sikap terbuka atau sikap terarah pada apa yang dihayati sebagai hal yang pentmg. Hal ini dapat berarti, perhatian yang diberikan oleh orangtua dinyatakan dalam sikap-sikap terbuka atau terarah dan itu pun dilakukan secara sadar.

(41)

Pasaribu (dalam Ardijati, 1996) menyatakan, perhatian adalah dasar dan sikap

yang merupakan reaksi individu yang ditujukan kepada kegiatan-kegiatan, kelompok

S0SlaI dan seui. lain.dari duma sekitarnva. sehingga.dalam hal ini akan membenkan

reaksi terhadap respon yang diberikan oleh dunia sekitar. Meskipun anak hanya

menampakkan sedikit reaksi terhadap respon dari orangtua mengenai suatu kegiatan,

namun itu tetap merupakan hasil reaksi yang murni yang mengarah kepada kebutuhan

untuk saling memperhatikan.

Menurut Crowd (dalam Subekti, 1998), memberikan perhatian berarti

memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran anak ke arah ide-ide yang utama atau

mendorong anak untuk mengatakan sesuatu dengan benar sesuai dengan keyakinan

dan kenyataan yang ada. Orangtua memberikan perhatian kepada anak tidak berarti

orangtua selalu berada disamping anak secara terus menerus namun lebih

memberikan arah dan bimbmgan pada pikiran anak.

Dan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa perhatiaan merupakan

usaha orangtua untuk memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran anak ke arah ide-ide

yang utama dengan sikap-sikap tertentu yang diperiihatkan. sehingga dapat

mewujudkan suatu hubungan saling percaya antara orangtua dan anak.

3. Pengertian Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orangtua

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang

(42)

31

menerima stimulus tentang segala bentuk dukungan yang diberikan orangtua terhadap kegiatan-kegiatan sehari-harinya.

Meskipun anak hanya menampakkan sedikit reaksi terhadap respon dari orang tua mengenai suatu kegiatan, namun itu tetap merupakan hasil reaksi yang murni yang mengarah kepada kebutuhan untuk saling memperhatikan.

Setelah anak melakukan aktivitas penginderaan tentang bentuk dukungan dari orangtua yang diberikan, maka yang dilakukan kemudian adalah mengorganisasikannya, dan kemudian menginterpretasikan. Hasil interpretasi ini merupakan penilaian yang subyektif individu mengenai usaha orangtua untuk

memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran anak kearah ide-ide yang utama dengan sikap-sikap tertentu yang diperhatikan, sehingga dapat mewujudkan suatu hubungan

saling percaya antara orangtua dan anak.

4. Aspek-aspek Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orangtua

Menurut Mayeroff (1991), aspek-aspek vang menjadi dasar persepsi anak terhadap perhatian orangtua, yaitu:

a. Persepsi mengenai pengenalan diri anak seutuhnya. Memberi perhatian berarti orang tua berusaha mengenai diri anak, baik kebutuhan-kebutuhannya, kelemahan maupun kelebihannva. Pengenalan atas diri anak akan memudahkan orangtua

dalam mencari jalan keluar guna mengatasi kesulitan dalam menghadapi setiap tahap perkembangan pada diri anak. Bila si anak mempersepsi bahwa orangtua

(43)

b. Persepsi tentang adanya dinamika dalam memberikan perhatian. Dalam memberi

perhatian. orangtua tidak dapat selalu mendasarkan pada kebiasaan tetapi

orangtua harus dapat belajar dari pengalaman sebelumnya. Ada saat-saat tertentu

orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk beraktivitas di samping tetap

mengontrol

kegiatannya. Apabila anak mempersepsikan bahwa orangtua

memberikan kebebasan, maka berarti persepsinya positif.

c. Persepsi tentang sikap sabar dari orangtua. Dengan bersikap sabar berarti orang

tua memberi kesempatan kepada anak untuk menemukan identitas dirinya dan

memberi ruang gerak bagi anak untuk berpikir dan peka terhadap persoalan.

Apabila anak mempersepsikan orangtua sabar. berarti persepsinya positif.

d. Persepsi sikap jujur dari orangtua. Yaitu jujur dan terbuka terhadap diri sendiri.

Orangtua melihat seorang anak sebagaimana adanya dan bukan seperti yanu

diharapkan atau dnnginkan oleh orangtua. Orangtua dapat memahami

kebutuhan-kebutuhan anak yang senantiasa berubah dalam perkembangannva. Kesadaran

dan keterbukaan orangtua sangat diperlukan untuk memperbaiki diri dan berusaha

belajar dari suatu kesalahan, kaitannya dengan usaha mendidik anak. Apabila

anak mempersepsikan orangtua bersikapjujur. berarti persepsinya positif.

e. Persepsi tentang adanya kepercayaan orangtua. Kepercavaan orangtua terhadap

kemampuan anak untuk belajar dari kesalahan sesuai dengan pengetahuannya,

akan membuat anak merasa dihargai dan menumbuhkan perasaan percaya diri

pada anak. Terlalu banyak memberi perhatian merupakan sikap yang kurang

(44)

33

mempercayai anak yang berkaitan cenderung membawa orangtua bersikap menguasai dan mengarahkan anak pada apa yang diharapkan. Oleh karena itu,

kepercayaan orangtua terhadap anak harus berdasar pada usaha aktif untuk memajukan dan menjaga kondisi-kondisi yang menjamin kepercayaan itu. Orang tua dapat bersikap fleksibel, artinya orangtua dapat melihat situasi-situasi yang dianggapnya, anak pantas untuk diberi kepercayaan. Biia anak mempersepsi bahwa orangtua memberi kepercayaan, maka berarti persepsinya positif.

f.

Persepsi tentang adanya kerendahan hati orangtua. Kerendahan orang tua akan

tercermin dari kesediaan dan kerelaannya untuk selalu belajar tentang diri anak. Yaitu belajar langsung pada ada yang dilakukan, dipikirkan dan dirasakan oleh

anak sehingga akan membantu orang mengenai diri anak secara keseluruhan. Bila

anak mempersepsi adanya kerendahan hati orangtua. berarti persepsinva positif. g. Persepsi tentang adanya harapan dan keberanian orangtua. Dalam memberikan

perhatian. orangtua didorong oleh harapan-hara|:>an tertentu yang ingin

diwujudkan demi memperkembangkan diri anak. Hal ini tersirat adanya

kesadaran dan optimisme pada diri setiap orang yang menimbulkan kesadaran untuk selalu siap menghadapi situasi-situasi sulit dalam membantu perkembangan anak. Bila anak mempersepsi bahwa adanya harapan dan keberanian orangtua,

berarti persepsinya positif.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditank kesimpulan bahwa aspek yang terkandung dalam persepsi terhadap perhatian orangtua, ternyata tidak saja

(45)

bermanfaat bagi perkembangan anak tetapi juga berguna bagi orang itu sendiri.

Orangtua dapat mengembangkan kemampuan untuk memperhatikan dengan prinsip

belajar sebagai patokan. Dengan demikian, perhatian yang diberikan oleh orangtua

dapat membentuk dan mempererat suatu hubungan timbal balik antara orangtua dan

anak.

C. Hubungan Antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orangtua Dan

Penalaran Moral Remaja

Pada dasarnya manusia mempunyai kebutuhan untuk disayangi oleh

sesamanya, terutama oleh orang-orang terdekat. Dengan demikian pula anak, kasih sayang dan perhatian orangtua sangat diharapkan (Sukardi, 1987). Hal ini

menandakan bahwa tidak hanya kebutuhan fisiologis saja yang harus dipenuhi oleh

orangtua tetapi pemenuhan kebutuhan psikologis pun sangat penting karena akan membantu pembentukan kepribadian anak

Aspek kebutuhan psikologis, khususnya perhatian, sangat penting bagi anak. Orangtua yang memberikan perhatian kepada anak akan mewujudkan suatu kondisi

psikologis dalam diri anak, yaitu anak merasa aman dan tentram (Daradjat, 1986).

Anak menempatkan orangtua sebagai tempat berlindung sehingga anak dapat

mencurahkan segala pengalaman maupun perasaan yang dialami dalam kehidupan

(46)

Gunarsa (1981) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan moral adalah faktor lingkungan rumah. Sikap dan tingkah laku tidak

hanya dipengaruhi oleh bagaimana sikap mereka dalam melakukan hubungan di luar

rumah. Orangtua harus menciptakan suasana keramahan, kejujuran dan kerjasama.

sehingga anak selalu cenderung untuk melakukan hal-hal yang baik, serta mendorong

terjadinya dialog tentang masalah nilai-nilai moral.

Sebenarnya orangtua selalu menunjukkan perhatian kepada anak tetapi kadang-kadang anak menganggapnya secara berbeda-beda. Tanggapan anak itu misalnya anak sungguh-sungguh merasakan perhatian orangtua atau sebaliknya anak merasa ditekan dan dibatasi dengan adanya perhatian tersebut. Hal ini dapat terjadi karena pada dasarnya perhatian itu, ditujukan dengan sikap-sikap tertentu dari

orangtua (Gordon. 1996).

Sikap yang diperlihatkan orangtua sangat mempengaruhi hubungan antara orangtua dan anak. Sikap terbuka misalnya, dengan cara komunikasi dialogis, menurut Shochib (1990), akan membentuk suatu kedekatan antara orangtua dan anak.

Hubungan timbal balik ini dapat menciptakan suatu hubungan yang saling

menghormati, saling mempengaruhi dan saling mempercayai.

Adanya hubungan yang saling mempercayai antara anak dengan orangtua

akan

menjadikan anak

dan

orangtua

hidup

dalam

suasana yang saling

membahagiakan. Keadaan ini akan menjadi dasar terbentuknya penghargaan anak terhadap sesama manusia atau orang lain pada umumnya. Diungkapkan oleh Baron

(47)

dan Byrne (1994) bahwa hubungan yang harmonis antara anak dengan orangtua akan mengantarkan anak menyayangi dan menghargai orangtua. Bila keadaan ini telah terbentuk, maka salah satu yang tumbuh dan berkembang pada diri anak adalah sikap dan perilaku altruistik (yaitu sikap dan perilaku untuk menolong orang lain). Keadaan ini menggambarkan adanya prinsip-prinsip moral pada anak.

Di sini sebaliknya, kurangnya perhatian orangtua dapat memperburuk penvesuaian diri anak, yaitu kecenderungan anak untuk mengabaikan standar moral yang berlaku dalam masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memandang perlu mengkaji masalah penalaran moral remaja secara lebih mendalam dan meneliti adanya hubungan antara persepsi anak terhadap perhatian orangtua, agar diketahui seberapa besar persepsi anak terhadap perhatian orangtua mempengaruhi penalaran moral remaja.

D. Perbedaan Jenis Kelamin Terhadap Penalaran Moral

Pencapaian tahap penalaran moral yang tinggi tidak semata-mata dipengaiuhi oleh adanya peningkatan umur, tetapi juga dipengaruhi oleh adanya faktor seperti intelegensi, kelas sosial, jenis kelamin, pendidikan dan sebagainya. Khususnya perbedaan jenis kelamin tanggapan anak laki-laki terhadap kaidah moral berbeda dengan anak perempuan. Banyak sudut pandang yang dapat dilihat untuk membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan, kaitannya dengan reaksi individu terhadap kaidah moral.

(48)

37

Menurut Gunarsa dan Gunarsa (dalam Mardhiyah, 1997). kepnbadian

individu perempuan merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi antara aspek emosi,

rasio dan suasana hati sedangkan kepribadian individu laki-laki menunjukkan adanya

pembatasan antara pikiran dan emosionalitasnya serta jalan pikirannya tidak dikuasai

oleh emosi. perasaan maupun suasana hati. Terdapat perbedaan karakter pria dan

wanita sehingga hubungannya dengan intelektual wanita itu menunjukkan lebih

banyak tanda-tanda emosionalnya. Emosi wanita sangat kuat serta cepat menjadi

takut dan cemas (Kartono, 1980).

Kartono (dalam Mardhiyah, 1997) menyatakan bahwa perempuan lebih

dibatasi oleh norma-nonna sehingga cenderung lebih banyak belajar melalui

kebiasaan yang berlaku, lebih menerima hal-ha! yang telah ditentukan oleh keiuarga

atau masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan

antara laki-laki dan perempuan yang dilihat dari berbagai sudut pandang yang dapat

mempengaruhi sudut pandang yang dapat mempengaruhi reaksi individu terhadap

kaidah moral. Perempuan lebih dipengaruhi perasaan dan penghayatan pada

kejadian-kejadian sekitarnva sehingga perempuan lebih dapat menerima norma-norma yanu

ada dalam keiuarga atau masyarakat daripada laki-laki. Penerimaan moral perempuan

lebih tinggi dari pada laki-laki. Oleh karena itu dapat mempengaruhi pula penalaran

(49)

E. Landasan Teori

Salah satu usaha orangtua untuk menciptakan kondisi yang mendukung tercapainya internalisasi nilai-nilai moral dan perkembangan moralitas pada anak adalah perhatian orangtua (Mayeroff, 1993). Sebenarnya orangtua selalu menunjukkan perhatian kepada anak tetapi kadang-kadang anak menganggapnya secara berbeda-beda. Tanggapan anak itu misalnya anak merasakan perhatian orangtua merasa ditekan dan dibatasi (Gordon, 1996). Sebaliknya kurangnya perhatian orangtua dapat memperburuk penyesuaian diri anak, yaitu kecenderungan anak untuk mengabaikan standar moral yang berlaku dalam masyarakat.

Menurut Gunarsa dan Gunarsa (dalam Mardhiyah. 1997), kepribadian individu perempuan merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi antara aspek emosi, rasio dan suasana hati sedangkan kepribadian individu laki-laki menunjukkan adanya pembatasan antara pikiran dan emosionalitasnya serta jalan pikirannya tidak dikuasai oleh emosi. perasaan maupun suasana hati. Terdapat perbedaan karakter pria dan wanita sehingga hubungannya dengan intelektual wanita itu menunjukkan lebih banxak tanda-tanda emosionalnya. Emosi wanita sangat kuat serta cepat menjadi

takut dan cemas (Kartono. 1980).

F. Hipotesis

Berdasarkan pada teori-teori yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis yang penulis ajukan ialah :

(50)

1. Ada hubungan positif antara persepsi anak terhadap perhatian orangtua dan

penalaran moral remaja. Semakin positif persepsi terhadap perhatian orangtua

semakin positif penalaran moral remaja.

2 Ada perbedaan penalaran moral remaja laki-laki dan perempuan. Remaja

(51)

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel Tergantung : Penalaran Moral Remaja

2. Variabel Bebas : Persepsi anak terhadap Perhatian Orangtua 3. Variabel Moderator : Jenis kelamin

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Penalaran moral adalah pertimbangan-pertimbangan seseorang mengenai suatu tindakan. mengapa tindakan tersebut benar atau salah. Penalaran moral seseorang bisa diketahui melalui prinsip moral dan tahap penalaran moral diungkap dengan angket yang dimodifikasi dari DIT (l)efnusing Issues Test), dan skor yang diperoleh dapat diketahui tinggi rendahnya penalaran moral. Semakin tinggi skor semakin tinggi penalaran moral.

2. Persepsi anak terhadap perhatian orangtua adalah persepsi anak terhadap sikap yang diperlihatkan oleh orangtua dalam pengenalan din anak seutuhnya. adanya dinamika dalam memberikan perhatian. sikap sabar dan orangtua, sikap jujur, kepercayaan, kerendahan hati serta adanya harapan dan keberanian orangtua. Persepsi anak terhadap perhatian orangtua diperoleh dari skor skala perhatian

(52)

40

pada orangtua. Semakin tinggi skor yang diperoleh semakin tinggi persepsi pada

orangtua.

3. Jenis kelamin adalah ciri-ciri yang membedakan antara subjek laki-laki dan

perempuan sesuai dengan pengisian identilas subjek pada lembar jawaban.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMU Kolombo Yogyakarta dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Siswa-siswi yang duduk di kelas I dan II. 2. Subjek berusia 14 hingga 18 tahun.

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive

sampling (Hadi, 1994). Alasan menggunakan teknik ini karena efissien, simpel.

keterbaiasan waktu, tenaga dan dana. Populasi penelitian mi berjumlah 88 siswa.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dipergunakan untuk mendapatkan data yang

dibutuhkan dalam penelitian ini adalah metode skala. Skala merupakan suatu metode penyelidikan denuan menggunakan daftar pertanyaan yang harus diisi oleh setiap individu yang menjadi subjek penelitian (Suryabrata, 1984). Dalam penelitian ini digunakan skala langsung dengan cara semua daftar pernyataan diberikan secara langsung kepada individu yang ingin dimintai pendapat atau keyakinan, dengan

(53)

harapan pcrnyataan-pernyataan tertulis yang diajukan dapat dijawab langsung oleh

orang yang dimintai pendapat, dalam hal ini adalah subjek peneliti. Bentuk skala ini

adalah tertutup karena individu yang dijadikan subjek penelitian diharuskan untuk

memilih jawaban yang telah disediakan.

Dengan pertimbangan di atas, peneliti menggunaka dua skala yaitu skala

penalaran moral remaja dengan mengunakan model skala DIT vang langsung diisi

oleh subjek peneliti dan skala persepsi terhadap perhatian orang tua dimana subjek

memberikan infonnasi tentang sikap orang tua masing-masing.

a. Defining Issues Tes (DIT)

DIT adalah tes objektif yang digunakan untuk mengukur tahap penalaran

moral dan pnnsip moral seseorang, yaitu kemampuan seseorang untuk memuluskan

masalah sosial-moral dengan menggunakan prinsip moral yang dimiliki saat itu.

Perkembangan penalaran moral merupakan suatu konstruk psikologis dan DIT

merupakan usaha untuk mengoperasionahsasikan konstruk tersebut. Penyusunan DIT

yang dilakukan Rest (1979) sepenuhnya didasarkan pada teon tentang penalaran

moral Kohlberg, dan untuk pemakaian di Indonesia DIT telah diadaptasi oleh Martam

(1987), dengan menggunakan tes ulang (test-retest), yang dikenakan pada subyek

siswa SMP. SMU dan Mahasiswa. Hasilnya menunjukkan adanya koefisien korelasi

aitem total (r) yang bergerak antara 0,44 sampai 0,92 yang berarti alat ukur ini sahih

(valid), sementara koefisien alpha (reliabilitas) sebesar 0,68, yang berarti alat ukur

ini dapat digunakan di Indonesia.

(54)

42

DIT terdiri atas enam buah cerita masalah sosial-moral yang dapat digunakan

dalam bentuk pendek, yaitu tiga buah cerita, maupun dalam bentuk panjang, yaitu

enam buah cerita. DIT terdiri dari enam buah cerita, yang merupakan dilerna-dilema

dalam masalah sosial-moral. Dari keenam dilema yang digunakan dalam DIT, tiga

buah dilema diambil dari dilema yang dipakai oleh Kohlberg dalam Moral Judgement

interview, dan tiga buah dilema lainnya bersal dari alat yang disusun oleh Lock Wood

(Rest dkk, 1979). Bentuk mana yang akan digunakan tergantung kepada peneliti,

dalam hal ini akan menggambarkan tiga buah cerita.

Pemakaian DIT dalam bentuk pendek adalah untuk menghindari kejenuhan

subyek dalam menjawab apabila disajikan lengkap dalam enam cerita. Rest (1979)

menyarankan penggunaan bentuk pendek ini untuk waktu yang terbatas agar

mendapat hasil yang optimal. Korelasi antara bentuk pendek dan bentuk asli adalah

sebesar 0,93 (Rest, 1979). Bentuk pendek ini telah digunakan dalam penelitian

Wardani (1998) dan Mmdrowo (1995). Atas pertimbangan di atas, dalam penelitian

ini digunakan DIT dalam bentuk pendek yang terdiri tiga kasus untuk mengukur

tahap penalaran moral subyek.

DIT akan diperoleh 6 buah tahap penalaran moral yaitu tahap 2, 3, 4, 5A, 5B

dan 6. Di samping itu akan diperoleh pula tahap yang scdang berkembang dan tahap

yang lebih rendah ke tahap yang lebih tinggi (tahap A dan M) dan P (prinsip moral).

Dengan demikian akan diketahui kedudukan tahap penalaran moral seseorang yang

Gambar

tabel 2 di bawah ini.
Tabel 4 sebagai benkut:

Referensi

Dokumen terkait

For instance, treatment 2 presents a respondent with the challenge of competing with three specific strategic priorities (unique products, developing new products, and

Due to the high variability of acoustic features of agonistic calls, the calls fell into three main call groups, namely pulsed calls, tonal screams and complex scream (Micheletta

PEMERINTAH KABUP ATEN BENGKULU SELATAN SEKRETARIAT DAERAH.. UNI T LAYANAN PENGADAAN

Warung Nasional dua dengan jam operasional jam 7.00 – 17.00 merupakan cabang dari Warung Nasional satu, dimana rumah makan ini menjual masakan khas Jawa seperti

DESKRIPSI PENYEBAB KESULITAN BELAJAR SISWA KELAS XI SMA PADA MATERI SISTEM HORMON. HERMAN SOPIAN

Dalam hukum acara pidana sistem hukum pembuktian dalam sebutan: “sistem negatif menurut undang-undang” seperti yang di atur dalam pasal 183 KUHAP sebagai berikut : “hakim

Peningkat an nilai perdagangan t ersebut akan dicapai dengan m em buka pasar bagi produk - produk indust ri.. Penet apan ini dilakukan m elalui Surat Keput usan Ment eri

[r]