HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI ANAK TERHADAP PERHATIAN ORANG TUA DENGAN
PENALARAN MORAL REMAJA
SKRIPSI ISLAM DISUSliN OLEH : Zl LVIANA ASHSYAFIAH 96 231 079 FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA 2001
Dipertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi Fakuitas Psikologi Universitas Islam Indonesia Dan Diterima Untuk Memenuhi Sebagian Dari
Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana SI Psikologi
Pada Tanggal:
0 6 i»i< ftjui
MEVGESAHKAN FAKl I TAS PSIKOLOGI tMVERSITAS ISLAM INDONESIA
DEK;
DEWAN PENGUJI Tanda Tangan
1. Fuad Nashori. H, S. Psi, M.Si
»!
2. Sri Rahayu Partosuwido, Prof., Dr.
V f i .
MOTTO
JArtinya
: "(Dan Sarang siapayatig 6uta (fiatinya) di dunia mi,
niscaya di a^fiirat (nanti) ia ai{an kbih buta (puta) dan Cebih
tcrsesat darijafan (yang 6enar) "
(Q.S. M Israd: 72^
_Artinya
:"J&pakah sama orangyang mengetafiui denganyang
tida^tahu sama sejati. Hanya orang orangyang 6erpi(^iran tajam
sajayang dapat menerima.
Q.S.M Zumar: 9)
"Sahabatyang sejati adatah orang-orangyang dapat berbata-f^ata
benar denganmu, dan buban orang-orang yang membenarban
bata-bata."
(Prof. (Dr. ttamka)
%upersem6ah^an karya sederhana ini
Vntui orang-orang yang fy cintaidan seCafu
mencintaikii
Alhamdalillahirahbil'aumiin, segala pup dan syukur saya panjatkan kehadiran
Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada saya. Saya menyadari bahwa semua keberhasilan dalam menyelesaikan skripsi ini merupakan wujud rahinat yang besar dari Allah SWT, dan tentunya berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya memberikan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada :
1. Dr. Sukarti, selaku Dekan Fakuitas Psikologi Universitas Islam Indonesia beserta seluruh staf dosen yang telah memberikan banyak ilmu kepada saya.
2. H. Fuad Nashori, M.Si, selaku dosen pembimbing pertama. Terima kasih atas kesabarannya membimbing serta atas masukan dan diskusi-diskusinya.
3. Retno Kumolohadi, Psikolog, selaku dosen pembimbing akademik. Terima kasih selama ini sudah banyak membantu membimbing dalam berbagai hal vang menyangkut proses akademik.
4. Drs. Taslim, selaku Kepala Sekolah yang telah mengijinkan saya untuk melakukan penelitian di MAN 1 Yogyakarta.
5. Drs. Akhmad Zaenuri. selaku Kepala Sekolah yang telah mengijinkan sava untuk melakukan penelitian di SMU Kolombo Sleman.
6. Drs. Nawawi, selaku guru agama MAN 1 Yogyakana yang telah membantu saya dalam penelitian ini.
7. Orang tuaku, Ayahanda dan Ibunda, Nenek, Om Udin, Om Amin, Tante Imelda tenma kasih atas perhatian dan kasih sayangnya selama ini, serta do'a dan dorongannya yang tiada henti.
8. Adik-adikku tercinta, Dewi, Indra, Andrie, terima kasih untuk do'anya.
9. Muhammad Nuryoso, ST, selaku penasehat spiritual yang telah memberikan
support and motivation tiada henti serta do'a dan perhatiannya.
10. Tidak lupa puia untuk Monica sepupuku, Dessy my lovely nei^hbourhouci Ranti
dan Manusia Purba (Bayoen) yang telahTn'elriMhlu'^aTa'm"i5erieTrtiari7"
11. My Close l-'riend
Zubaidah, S.Psi. yang telah memberikan dorongan dan
konsultasinya.
12. Devi, SE. Yuli. Sli, Devi (Balikpapan) dan Misa terima kasih atas dukungan dan
doanya.
13. Temanku Izah Zulaikah, terima kasih selama ini aku telah banyak merepotkanmu.
14. Buat Arom terima kasih, yang selama ini memberiakan dorongan dan menjadi
teman seperjuangan.15. Een, S.Psi (pinjaman buku dan konsultasinya), Riny. S.Psi (membantu dalam
mencan tempat penelitian). Ida dan Ana tenma kasih. sudah banyak mendukung
serta memberi semangat.
16. Untuk Ria terima kasih, atas bantuan les kilatmu dalam membuat anuket.
17. Buat teman-teman angkatan 96. Elly, Rozi. Gita, Turol, Wulan dan teman yang
lain. Terima kasih atas persahabatannya semua yang telah mewamai dalam ceritahidupku
18. Tidak lupa ucapan terima kasih kepada semua siswa bail MAN 1 Youvakarta
maupun SMU Kolombo Sleman. yang menjadi subjek dalam penelitian yang
mengesankan ini.
Daftar Halaman
HALAMAN JUDUL
i
HALAMAN PENGESAHAN
jj
MOTTO
iii
PERSEMBAHAN
jv
UCAPAN TERIMA KASIH
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHlLI AN
A. Latar Belakang Permasalahan 1
B. Tujuan Penelitian 5
C. Manfaat Penelitian 5
D. Keaslian Penelitian 6
BAB II LANDASAN TEORI
A. Penalaran Moral 9
1. Pengertian moral dan penalaran moral 9
2. Tahap-tahap Penalaran Moral 11
3. Prinsip Moral 16
4. Penalaran moral remaja 21
vii
V
.VII
X
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi penalaran moral 22
B. Persepsi terhadap perhatian orangtua 27
1. Pengertian persepsi 27
2. Pengertian perhatian orangtua 29
3. Pengertian persepsi terhadap perhatian oranutua ... 30 4. Aspek-aspek persepsi terhadap perhatian orangtua 31
C. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Perhatian Orangtua
Dan Penalaran Moral Remaja 34
D. Perbedaan Jenis Kelamin Terhadap Penalaran Moral 36
E. Hipotesis 3g
BAB III METODE PENELITIAN
A. Identitas Vanabel Penelitian 39
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 39
C. Populasi Sampel Penelitian 40
D. Metode Penuumpulan Data 40
E. Vaiiditas dan Reabiiitas 49
F. Metode Analisis Data 50
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 51
1. Orientasi Kancah 51
2. Persiapan Penelitian 52
3. Hasil Uji Coba Alat Ukur 53
B. Pelaksanaan Penelitian 54
1. Deskripsi Subjek Penelitian
55
2. Deskripsi Data Penelitian
55
3. Hasil Analisis
55
4. Hast! Uji Asumsi
...::....;.:
7.7...:/;..;;
57
5. Hasil Uji Hipotesis 57
D. Pembahasan BABY PENUTIP A. Kesimpulan ,-, B. Saran-saran DAFTAR PLSTAKA IX 58 62 64
DAFTAR TABEL
1ABLL halaman
1. Blue Prient Skala Persepsi Terhadap Perhatian Orangtua 48 2. Hasil uji Coba Skala persepsi Perhatian Orangtua 54 3. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin 55 4. Deskripsi Hasil Penelitian Persepsi Terhadap Perhatian Orangtua 55
5. Deskripsi Hasil penalaran Moral 55
LamP'ran
Halaman
A. Skala DIT dan Skala Persepsi Perhatian Orangtua
69
B. Validitas dan Reliabilitas 85
C. Hasil Uji Normalitras dan Einieritas 90
D. Hasil Uji-t dan Anava 96
E. Analisis Data jqi
F. Deskripsi Kategori data Hipotetik (Teoritik) 103
G. Distribusi Skor per item sebelum Uji Validitas
108
H. Hasil DIT n5
I. Distribusi Skor per item setelah Uji Validitas 118 .1. Surat Keteranuan Pelaksanaan Penelitian 125
BAB I PENDAHIILUAN
A. Latar Beiakang Permasaiahan
Pembentukan moralitas yang tinggi pada remaja sangat penting, karena moralitas yang tinggi pada remaja akan berdampak sangat positif baik bagi perkembangan pribadi remaja sendin maupun lingkungan keluarga, masyarakat bahkan negara. Sayangnya pembentukan moral yang tinggi ini ternyata tidak mudah atau sederhana seperti pembentukan ketrampilan motorik, atau bahkan masih terasa lebih sulit dibandingkan dengan peningkatan kecerdasan otak, yang bisa diberikan melalui pelajaran-pelajaran misainya, bahasa Inggris, IPA, IPS. Fisika ataupun mala pelajaran lainnya. Pembentukan moralitas harus dimulai sejak bayi, dan berlanjut hingga remaja bahkan hingga dewasa atau tua. Pembentukan moralitas hingga masa remaja perlu mendapat intervensi orang tua atau orang dewasa lainnya.
Pada taraf perkembangan kepribadian manusia, masa remaja mempunyai arti khusus. Remaja seakan-akan tidak mempunyai ternpat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi ia tidak juga termasuk golongan dewasa atau tua. Remaja masih belum mampu menguasai fungsi-fungsi fisik dan psikisnya (Monks dkk, 1998).
Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa
yakni antara 12 sampai 21 tahun (Gunarsa, 1991). Pada masa transisi ini terjadi
pertumbuhan pesat dalam diri remaja menyangkut segala aspek seperti
perubahan fisik, emosi, kognisi, keyakinan, dan moral. Hall (dalam Gunarsa,
1991) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa penuh gejolak
emosi dan ketidak-seimbangan, yang tercakup dalam "strom and stress".Dengan demikian remaja mudah terkena pengaruh lingkungan.
Remaja
merupakan
bagian
vvarga
masyarakat
yang
dalam
pengembangan moralnya banyak menghadapi tantangan dan kesulitan. Remaja
yang tidak terbiasa membuat keputusan-keputusan moral di dalam keluarga,
sekolah maupun lingkungan sekitarnya akan mengalami kesulitan dalam
membuat keputusan-keputusan moral bagi dirinva dalam menghadapi berbagai
masalah sosiai. Kesulitan ini ditambah dengan banyaknya alternatif moral yanudihadapi, sehingga mereka semakin sulit untuk memutuskan satu pilihan moral
yang terbaik. Tekanan kelompok membuat remaja ragu-ragu menggunakan
penalaran moral yang lebih matang, karena hal itu akan dapat menjauhkan
mereka dari kesatuan kelompoknya (Gunarsa, 1991).
Keadaan remaja yang berada di tengah-tengah berbagai kondisi dan
aneka ragam pengalaman moral, menyebabkan mereka bingung untuk memilih
mana yang baik untuk mereka (Daradjat. 1978). Akhirnya mereka hanya meniru
dan mengikuti apa yang dilakukan teman-teman sebayanya dengan alasan
melihat lagi dari sudut pandang moral dan agama. Remaja semakm statis dalam
perkembangan moral karena tidak lag, mengembangkan kemampuan penalaran
moralnya (Shelton, 1991). Keadaan sepert. ini akan membuat remaja
kehilangan pegangan hidup dan akan semakin bmgung memilih mana yang
baik dan mana yang buruk (Daradjat, 1978).
Jika hal ini terus menerus dibiarkan dan masalah yang dihadapi semakin
kompleks, maka akan terjadi goncangan jiwa dan hal mi tentu akan
men.mbulkan berbagai ekses. Keseimbangan hidup adalah hal yang mutlak
diperlukan oleh mereka saat mengalami kegoncangan.
Permasalahan-permasalahan moral merupakan masalah pendidikan.
Menurut Pasaribu dan Simanjuntak (1982), pendidikan merupakan tanggung
jawab nasional. Oleh karena ,tu, pendidikan menjadi tanggung jawab bersama
-nara keiuarga, masyarakat dan pemermtah. Sobur <W91) menilai bahwa pada
hakekatnya keiuarga merupakan tempat pertama dan yang utama bagi anak
untuk memperoleh pembmaan mental dan pembentukan kepribadian.
Vembriarto (1993) menekankan pentingnya interaksi dalam keiuarga.
Interaksi yang ada dalam keiuarga, besar pengaruhnya terhadap proses
sosialisasi anak-anak, bail terhadap lingkungan maupun keiuarga. Orangtua
yang kurang memberikan perhatian secara psikologis. tidak mendapat tempat
yang baik di hati anak. Seorang anak yang kurang mendapat perhatian orangtua,
akan merasa enggan memperhatikan nasehat orangtua.
Salah satu usaha orang tua untuk menciptakan kondisi yang mendukung
tercapainya internalisasi nilai-nilai moral dam perkembangan moralitas pada
anak adalah perhatian orangtua. Alasannya, dalam konteks perhatian itu sendiri
mengandung arti menolong seseorang berkembang dan mewujudkan seseorang
sebagai dirinya sendiri (Mayeroff, 1993).
Banyak hal yang dapat mempengaruhi perhatian orangtua. Kartono
(1996) menyatakan bahwa perhatian sangat dipenuaruhi oleh perasaan dan
suasana hati, dan ditentukan oleh kemauan. Perasaan dan suasana hati yang
tidak mendukung menghambat usaha orangtua dalam memberiakan perhatian
tentang nilai-nilai moral pada anak. Keadaan mi pula yang akan mempengaruhi
anak dalam mengembangkan aspek moralnva.
Persepsi anak terhadap perhatian orangtua yaitu bagaimana anak
menerima stimulus tentang segala bentuk dukungan yang diberikan orangtua
terhadap kegiatannya sehari-sehari. Sebenarnya orangtua yang menunjukkan
perhatian kepada anak tetapi kadang-kadang anak menganggapnya secara
berbeda-beda. Tanguapan anak itu misainva anak sungguh-sungguh merasakan
perhatian orangtua atau sebaliknya anak merasa ditekan dan dibatasi dengan
adanya perhatian tersebut.Crowd (dalam Subekti, 1998) berpendapat bahwa memberi perhatian
berarti memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran anak ke arah ide-ide yang
utama atau mendorong anak untuk mengatakan sesuatu dengan benar sesuai
dengan keyakinan dan kenyataan yang ada. Jadi, orangtua memberikan
perhatian kepada anak tidak berarti orangtua selalu berada di samping anak
secara terus menerus, namun lebih memberikan arah dan bimbingan pada
pikiran-pikiran anak, termasuk di dalamnya adalah perkembangan baik dan
buruk bagi anak.
Uraian di atas
penulis mengambil kesimpulan bahwa perhatian
merupakan usaha orangtua untuk memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran
anak ke arah ide-ide yang utama dengan sikap-sikap tertentu yang
diperlihatkan, sehingga dapat mewujudkan suatu hubungan saling percava
antara orang tua dan anak. Sebaliknya kurangnya perhatian orangtua dapat
memperburuk penyesuaian diri anak. yaitu kecenderungan anak untuk
mengabaikan standar moral yang berlaku dalam masyarakat.
Oleh karena itu diajukan pertanyaan "apakah ada hubungan antara
persepsi anak terhadap perhatian orangtua dan penalaran moral remaia . "B. Tujuan Penelitian Masalah
Untuk mengetahui hubungan antara persepsi anak terhadap perhatian
Hasil penelitian in dapat memberikan tambahan informasi secara
empirik di bidang psikologis mengenai hubungan antara persepsi anak terhadap
perhatian orangtua dan penalaran moral pada remaja.
Secara praktis, informasi ini juga bisa menambah wawasan dan
pengetahuan pada orangtua, remaja dan masyarakat umumnya mengenai
keterkaiatan antara persepsi anak terhadap perhatian orangtua dan penalaran
moral remaja.
Bila terbukti terdapat hubungan antara perhatian orangtua
dengan penalaran moral, maka salah satu informasi yang penting adalah
penalaran moral dapat ditmgkatkan dengan perhatian orangtua.
I). Keaslian Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang orismil. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa yang berperan mempengaruhi penalaran moral adalah
adanya rangsangan simulasi moral (Nashon. 1995). jenis pendidikan yang
ditempuh (Nurhayati,1996) dan tindak kejahatan (Rahmi, 2001). Sejauh mi
belum ditemukan topik penelitian yang menelaah keterkaitan persepsi anak terhadap perhatian orangtua dengan penalaran moral remaja. Sementara itu
berkaitan dengan subjek penelitian, sejauh ini telah dilakukan penelitian dengan
7
DIT telah digunakan dalam berbagai penelitian (Martani, 1987; Nashori, 1995;
Mmdrowo, 1995; Nurhayati,!996; Rahmi, 2001). Untuk selanjutnya milah
judul-judul penelitian yang berkaitan dengan penalaran moral dan yang
berkaitan dengan perhatian orangtua.
a. Penalaran Moral
Penelitian Nashori (1995), dengan judul "Efektifitas rangsangan
simulasi moral untuk meningkatkan penalaran moral siswa". denuanmenggunakan skala DIT dari Rest (1979) pada siswa putn SMEA Negeri
1empel Sleman, hasilnya menunjukkan bahwa siswa putri yang telah mengikuti
rangsangan simulasi moral, maka tahap penalaran moralnya lebih tinggi
danpada sebelum mengikuti rangsangan simulasi moral.Penelitian Rahmi (2001). dengan judul "Perbedaan penalran moral pada
remaja yang telah melakukan tindak kejahatan dan remaja \anu tidak
melakukan tindak kejahatan", dengan menggunakan skala DIT dari Rest (1979)
pada penghuni Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan berpendidikan SMU dan
remaja SMU muhamadiyah Pakem. Hasilnya menunjukkan ada perbedaan
pnnsip moral remaja yang tidak melakukan tindak kejahatan dan remaja vang
telah melakukan tindak kejahatan dan pnnsip moral subjek vang tidak
melakukan tindakan kejahatan lebih tinggi daripada subjek telah melakukan
tindak kejahatan.Penelitian Nurhayati (1996) dengan judul "Tenalaran moral pada remaja
yang menempuh pendidikan di pesantren dan remaja yang menempuh pendidikan di sekolah umum", dengan menggunakan skala DIT dari Rest (1979), hasilnya menunjukkan remaja yang menempuh pendidikan di pesantren mempunyai pnnsip moral lebih dan tahap penalaran moral yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang menempuh pendidikan di sekolah umum.
b. Perhatian Orangtua
Penelitian Deo (1998) dengan judul "Hubungan antara nem masuk
sekolah, motivasi berprestasi, dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas 1 SMU tahun pelajar 1997/ 1998 di kabupaten Dili propinsi Timor
Timuf". Hasilnya menunjukkan ada hubungan antara positif nem SLTP,
motivasi berprestasi dan perhatian orang tua secara bersama-sama terhadap
prestasi.
Penelitian Ardijati (1996) dengan judul "Studi korelasi tentang perhatian orang tua dan inteligensi terhadap kreativitas siswa II SMA
Muhamadiyah I Sragen'". menunjukkan adanya hubungan positif antara
BAB II
TINJAUAN PI STAKA
A. Penalaran Moral
1. Pengertian Moral dan Penalaran Moral
Secara etimologis istilah moral berasal dari kata latin nios (mores) yang
berarti tata cara. adat istiadat atau kebiasaan. Kata moral mempunyai arti vang sama
dengan kata Yunani ethos, yang menurunkan kata etika. Bahasa Arab kata moral
disebut dengan akhlak yang berarti budi pekerti, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata moral dikenal dengan arti kesusilaan (Adiwardhana, 1991).
Hurlock (1978) mengemukakan bahwa tingkah laku moral berarti tingkah
laku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Pengertian ini hampir sama
dengan pendapat sebagian besar ahli psikologi dalam menerangkan masalah moral. Penganut teori behaviorisme menyatakan bahwa moralitas identik dengan
konfonnitas terhadap aturan-aturan sosial. Nilai moral merupakan evaluasi dari
tindakan yang dianggap baik oleh anggota masyarakat tertentu. Dengan demikian
jelas bahwa pemahaman moral merupakan proses internalisasi dari norma budava atau norma dari orangtua (Setiono, 1993).
Orangtua atau guru dalam pendidikan moral memberikan contoh-contoh
tingkah laku yang baik dan benar. Anak didik yang meniru tingkah laku tersebut,
akan diberi ganjaran. Sebaliknya, anak didik yang bertingkah laku melanggar
aturan sosial akan dihukum. Melalui contoh, ganjaran dan hukuman tersebut terbentuklah tingkah laku yang baik pada anak (Gunarsa, 1990).
Beberapa pengertian moral dapat,dilihat bahwa,.moral... rnemegang peranan penting dalam kehidupan manusia yang berhubungan dengan baik atau buruk
terhadap tingkah laku manusia. Tingkah laku yang mendasarkan pada norma-nonna
yang berlaku dalam masyarakat. Seseorang dikatakan bermoral bilamana orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat. Jadi moral adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar. Akan tetapi perlu diingat bahwa baik dan benar menurut sesorang belum pasti baik
dan benar menurut orang lain.
Konsep moralitas yang diajukan oleh Kohlberg (1969, 1976) sebagai
penganut teori perkembangan sosio kognitif tidak terpaut dengan kondisi sosial
budaya tertentu. Menurut Kohlberg, moralitas merupakan apa yang diketahui dan
dipikirkan seseorang mengenai baik dan buruk atau benar dan salah. Moralitas
berkenaan dengan jawaban atas pernyataan mengapa dan bagaimana orang sampai
pada keputusan bahwa sesuatu dianggap baik dan buruk.
Istilah yang serinu digunakan oleh Kohlberg (1969) adalah moral judgment.
Judgment menurut Salim (1989), dapat diartikan sebagai penilaian atau
pertimbangan, dalam proses penilaian dan pertimbangan moral tertentu terdapat
11
sebagai terjemahan moral judgment. Di samping itu penalaran moral merupakan terjemahan dari kata moralreasoning atau moral thinking, yang diartikan sama dalam pembahasan mengenai penalaran moral.
Dengan demikian penalaran moral adalah penalaran yang digunakan oleh seseorang untuk memutuskan mengapa sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah.
2. Tahap-tahap Penalaran Moral
Selama dua belas tahun, Kohlberg dan rekan-rekannya mengembangkan teori tentang tingkat-tingkat perkembangan moral melalui studi longitudinal pada anak laki-laki Amerika yang berjumlah 75 orang, dengan mengikuti perkembangan mereka pada selang waktu setiap tiga tahun, yaitu sejak masa remaja hingga awal masa dewasa. Pada awal penelitan, anak-anak itu berusia 10-16 tahun. Perkembangan mereka diikuti sampai usia 22-28 tahun (Kohlberg. 1995). Ia menghadapkan anak-anak itu pada situasi dilematis yang disebut dilerna-dilema moral. Untuk setiap situasi, anak-anak diminta untuk mengemukakan alasan-alasan yang dijadikan dasar untuk mengambil tindakan tertentu dalam menghadapi dilema itu.
Diilhami oleh usaha rintisan Piaget untuk menerapkan pendekatan struktural pada perkembangan moral, tahap demi tahap selama tahun-tahun studi. Kohlberg mengembangkan suatu skema tipologi yang menguraikan struktur-struktur dan bentuk-bentuk umum pemikiran moral yang dapat didefinisikan secara tersendiri. terlepas dari isi khas keputusan dan tindakan moral tertentu (Kohlberg, 1995).
masing tingkatan ini dibedakan lagi dua tahap yang saling berkaitan. Semua tingkatan
dan tahapan ini dapat dipandang sebagai filasafat moral tersendiri, atau pandangan
yang berbeda mengenai dunia sosial-moral (Kohlberg, 1995).
Tahapan-tahapan penalaran moral tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Tingkat Prakonventional
Pada tahap ini anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan terhadap
ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Akan tetapi
hal ini ditafsirkan dari segi akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman,
keuntungan. pertukaran kebaikan). Pada tingkat ini ada dua tahap, yaitu tahap
orientasi hukuman dan kepatuhan dan tahap orientasi relativis-instrumentalTahap 1: Tahap Orientasi Hukuman dan Kepatuhan. Akibat-akibat fisik
suatu perbuatan menentukan baik buruknya perbuatan, tanpa menghiraukan arti dan
nilai manusiawi dan akibat tersebut. Anak hanya semata-mata menghindarkan
hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkannya.
Tahap 2: Tahap Orientasi Relativis-instrumental Perbuatan vang benar
adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannva
sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia
dipandang seperti hubungan di pasar. Elemen kewajaran tindakan yang bersifat
resiprositas dan pembagian sama rata, tetapi ditafsirkan secara fisik dan pragmatis.
akan menggaruk punggungmu", dan bukan karena loyalitas, rasa terima kasih atau
keadilan.
b. Tingkat Konventional
Pada tingkat ini anak hanya menuruti harapan keiuarga, kelompok, atau bangsa, dan dipandang sebagai hal yang bernilai dalam dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan saja konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melainkan juga loyal terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata tertib itu serta mengidentifikasikan diri dengan orang atau kelompok yang terlibat. Tingkat ini mempunyai dua tahap:
Tahap 3: Tahap Orientasi Kesempatan antara Pribadi atau Orientasi
"Anak Manis". Perilaku yang baik adalah yang menyenangkan dan membantu oiang
lain serta yang disetujui oleh mereka, banyak konformitas terhadap gambaran stereotip mengenai apa itu perilaku mayoritas atau "alamiah". Perilaku senng dinilai menurut niatnya. Ungkapan "dia bermaksud baik'* untuk pertama kalinya menjadi penting. Orang mendapatkan persetujuan dengan menjadi "baik".
Tahap 4: Tahap Orientasi Hukum clan Kctertiban. Adanya orientasi terhadap otoritas, aturan yang tetap dan penjagaan tata tertib sosial. Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menghonnati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada, sebagai yang bernilai dalam dirinya sendiri.
c. Tingkat Pasca-Konvensional, Otonom atau yang Berladaskan prinsip
Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan
prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan terlepasdan otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-pnnsip itu dan terlepas pula dan identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. Ada dua tahap yaitu :
Tahap 5: Tahap Orientasi Kontrak Sosial Legalistis. Pada umumnva tahap ini bernada semangat utilitarian. Perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan
telah disepakati oleh seluruh masyarakat. Adanya kesadaran yang jelas mengenai
relativisme nilai dan pendapat pribadi bersesuaian dengannya, suatu penekanan atas aturan prosedural untuk mencapai kesepakatan. Terlepas dari apa yang telah
disepakati secara konstitusional dan demokratis, hak adalah soal "nilai" dan
"pendapat" pribadi. Hasilnya adalah penekanan pada sudut pandang legal, tetapi
dengan penekanan pada kemungkinan untuk mengubah hukum berdasarkan pertimbangan rasional mengenai manfaat sosial (dan bukan membekukan hukum itu
sesuai dengan tata tertib gaya tahap 4). Di luar bidang hukum. persetujuan bebas dan
kontrak merupakan unsur pengkat kewajiban. Inilah "moralitas resmi" dari pemerintah dan perundang-undangan Amerika Serikat.
Tahap 6: Tahap Orientasi Prinsip Etika Universal. Hak ditentukan oleh
keputusan suara batin, sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang
15
ini bersifat abstrak dan etis (kaidah emas imperatif kategoris). Pada hakikatnva inilah
prinsip-prinsip universal keadilan, resiprositas dan persamaan hak asasi manusia serta
rasa hormat terhadap manusia sebagai pribadi individual.
Tingkah laku moral yang sesungguhnya baru timbul pada masa remaja. Masa
remaja sebagai periode masa muda harus dihayati betul-betul untuk dapat mencapai
tingkah laku moral yang otonom. dan eksistensi masa muda sebagai keseluruhan
merupakan masalah
moral dan bahwa hal ini harus dilihat sebagai hal yang
bersangkutan dengan nilai-nilai. Tingkah laku tersebut menuntut suatu tingkat
perkembangan intelektual serta pembentukan penilaian yang tinggi. Pembentukan
penilaian ini terjadi atas dasar interaksi antara potensi-potensi yang ada dan oleh
faktor-faktor lingkungan. Hal ini terjadi sedemikian rupa, sehingga proses menjadi
dewasa dan proses emansipasi membawa individu ke arah penilaian yang mandin
yang mempunyai konsekwensi pentmu bagi dirinya sendiri (Further dalam Monks.dkk. 1998).
Tingkat prekonvensional digunakan oleh mereka yang memiliki alasan-alasan
kurang matang, yang hanya mencan kepuasan pemenuhan kebutuhan pribadi. tanpa
mempertimbangkan keadilan atau orang lain. Tingkat konvensional digunakan oleh
orang-orang. pada umumnya berhubunuan dengan kelompok masyarakat di manamereka tinggal, sedangkan tingkat poskonvensional (pasca konvensional), jauh
kedepan melebihi kelompok- kelompok/masyarakat. Oleh karena itu, biasanva tidak
dipengaruhi oleh sistem-sistem hadiah dan hukuman-hukuman dari masvarakat,
alasan moral pada tingkat ini tidak begitu berhubungan dengan hadiah-hadiah yang menyertai peraturan-peraturan dalam masyarakat.
3. Prinsip Moral
Kohlberg (1995) mengatakan bahwa hanya tahap-tahap pemikiran moral yang telah tinggi memiliki cin-ciri fonnal pertimbangan yang khas moral. Cukup jelaslah bahwa kebanyakan pertimbangan nilai tidak secara langsung didasarkan atas
prinsip-prinsip. Menurut Here (dalam Kohlberg, 1995), mengenai ciri-ciri formal yang khas dari moralitas sebagai "keharusan" (preskriptivitas) dari "universalitas" (pada
gilirannya keduanya mengandung arti "otonomi" pilihan moral atau kewajiban moral). Pendapat Here menggemakan pandangan Kant, yang mendifinisikan presknpvitas dalam arti imperatif kategoris (sebagai lawan dari imperatif hipotetis).
Secara empiris Kohlberg (1995) telah menemukan bahwa kedua ciri ini saling berkaitan, sehingga suatu penilaian gaya tahap 6 mengenai kebaikan yang bersifat preskriptif atau bebas dari berbagai kecenderungan diri dan keyakinan orang "lain juga merupakan suatu penilaian kebaikan yang berlaku untuk semua manusia. Apabila usaha dilaksanakan untuk merumuskan penilaian presknftif dan universal, maka penilaian tersebut hampir selalu diungkapkan menurut prinsip moral. Oleh karena itu untuk memahami moralitas tahap 6, perlu mengerti sifat dasar dan cara berfungsinya prinsip-prinsip moral.
17
Suatu prinsip moral merupakan suatu cara memilih yang universal, suatu aturan memilih yang kita inginkan agar dikenakan pada semua orang dalam segala
situasi. Semua orang yang bijak memaksudkan "prinsip moral" sebagai suatu
pedoman umum untuk memilih dan bukannya sebagai suatu peraturan konkret untuk
bertindak. Pengertian yang paling tegas mengenai prinsip adalah pengertian yang
telah didefmisikan oleh ajaran utilitarian murni yang menentukan prinsip tunggal
"maxim utilitarian" yaitu bertindaklah selalu untuk memaksimalisasikan kebahagian
yang setinggi-tingginya bagi orang sebanyak-banyaknya. Gagasan tegas mengenai
prinsip ini mengandung arti suatu maksim tunggal untuk memilih yang secara logis
atau intuitif bersifat rasional dan jelas dari sendirinya.
Gagasan tersebut dapat dideduksikan setiap tindakan kongkret yang benar
secara moral dalam suatu situasi. apabila fakta-fakta situasi diangkat sebagai premis
minor dan deduksi tersebut. Gagasan tegas mengenai pnnsip semacam itu merupakan
hal yang tidak hanya dapat diuniversalisasikan bagi semua manusia dan pada segala
situasi, melainkan juga secara mutlak menentukan sertiap tindakan vang benar daiam
situasi apa pun (dalam Kohlberg, 1995).
Dengan demikian, di dalam butur-butir kategori vang rinci dalam penilai
moral itu, diangkat kategori prinsip beriku ini: kebijakan (dan realisasi diri),
kesejahteraan orang lain; penghormatan terhadap otoritas. kemasyarakatan atau
Menurut Suseno (1995) pada prinsip-prinsip itu semua norma moral yang
lebih konkret harus diukur. Prinsip-prinsip moral tersebut, yaitu:
a. Prinsip Sikap Baik
Prinsip moral dasar pertama dapat di sebut sebagai prinsip sikap baik. Prinsip
itu mendahului dan mendasar. semua prinsip moral lain. Baru atas dasar tuntutan ini
semua tuntutan moral lain masuk akal.Pnnsip ini mempunyai arti yang amat besar bagi kehidupan manusia. Hanya
karena prinsip itu memang diresap. dan rupa-rupanya mempunyai dasar dalam
struktur ps.k.s manusia, seseorang dapat bertemu dengan orang yang belum dikenal
tanpa takut. Sikap dasar itu membuat seseorang dapat mengendal.kan bahwa orang
lam. kecuali mempunyai alasan khusus. tidak langsung mengancam atau
merugikannva. Sikap dasar itu membuat seseorang selalu mengumpamakan bahwa
yang memeriukan alasan bukan sikap vang baik. melainkan sikap yang buruk. Jad,
yang biasa pada manusia bukan sikap memusuhi dan mau membunuh. melainkan
sikap bersed.a untuk menerima baik dan membantu. Oleh karena itu, berulang kali
seseorang dapat mengalami bahwa orang yang sama sekal. tidak dikenal, secara
spontan membantunya dalam kesusahan.
Jadi. prinsip sikap baik bukan hanya sebuah pnnsip yang difaham, secara
ras.onal, melainkan juga mengungkapkan syukur alhamdulil/ah, suatu kecondongan
yang memang sudah ada dalam watak manusia. Prinsip sikap baik, menyangkut sikap
19
Prinsip ini menyatakan bahwa pada dasarnya, kecuali ada alasan yang khusus,
manusia harus mendekati siapa saja dan apa saja dengan positif, dengan menghendaki
yang baik bagi dia. Bukan semata-mata perbuatan ~baik dalam arti sempiC melainkan
sikap hati positif terhadap orang lain, kemampuan baik terhadapnya. Bersikap baik
berarti, memandang seseorang dan sesuatu tidak hanya sejauh berguna bagi saya,
melainkan menghendaki. menyetujui. membenarkan. mendukung. membela.
membiarkan dan menunjang perkembangannya, mendukung kehidupan dan
mencegah kematiannya demi dia itu sendiri.
Bagaimana sikap baik itu harus dmyatakan secara kongkret tergantung pada
apa yang baik dalam situasi kongkret itu. Pnnsip ini menuntut suatu pengetahuan
tepat tentang realita supaya dapat diketahui apa yang masing-masing baik bagi yang
bersangkutan. Kalau itu sudah diketahui. maka diketahui juga bagaimana pnnsip
sikap baik mesti diterapkan dalam situasi itu. Pnnsip sikap baik mendasan semua
norma moral karena hanya atas dasar pnnsip itu masuk akal bahwa manusia harus
bersikap adil, atau jujur, atau setia kepada orang lain,
b. Prinsip KeadilanPnnsip sikap keadilan mengungkapkan kewajiban untuk memberikan
perlakuan yang sama terhadap semua orang lam vang berada dalam situasi yang sama
dan untuk menghormati hak semua fihak bersangkutan. Suatu perlakuan yang tidak
sama adalah tidak adil, kecuali dapat diperlihatkan mengapa ketidaksamaan dapat
dibenarkan (misalnya karena orang itu tidak membutuhkan bantuan). Suatu perlakuan
yang tidak sama selalu dibenarkan secara khusus, sedangkan perlakuan yang sama
dengan sendirinya betul kecuali terdapat alasan-alasan khusus. Secara singkat
keadilan menuntut agar manusia jangan mau mencapai tujuan-tujuan. termasuk vang
baik, dengan melanggar hak seseoranu.
c. Prinsip Honnat Terhadap Diri Sendiri
Pnnsip ini mengatakan bahwa manusia wajib untuk selalu memperiakukan
diri sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri. Pnnsip ini berdasarkan faham
bahwa manusia adalah person, pusat pengertian dan kehendak, yang memiliki
kebebasan dan suara hati, makhluk berakal budi. Manusia tidak boleh d.anggap
sebagai sarana semata-mata demi suatu tujuan lebih lanjut. la adalah tujuan yang
bernilai pada dinnya sendiri. Nilamva bukan sekedar sebagai sarana untuk mencapai
suatu maksud atau tujuan lebih jauh. Hal ini juga berlaku bagi diri sendiri. Maka
manusia juga wajib memperiakukan dirinya sendiri dengan hormat. Seseorang wajib
menghormati martabat dirinya sendiri.
Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa kebaikan dan keadilan vang di
tunjukkan kepada orang lain, perlu dnmbangi dengan sikap yang menghormati diri
sendiri sebagai makhluk yang bernilai. Seseoranu semestmya mau berbaik kepada
orang lain dan bertekad untuk bersikap adil. tetapi tidak dengan membuang dm.
Dalam pandangan Kohlberg (dalam Nashori, 1995) pnnsip moral merupakan
gabungan nilai-nilai moral pada tingkat poskonvens.onal. baik tahap kelima maupun
21
4. Penalaran Moral Remaja
Remaja sebetulnya tidak punya tempat yang jelas. la tidak termasuk golongan
anak, tetapi tidak juga termasuk golongan dewasa atau golongan tua. Secara jelas
masa anak dapat dibedakan dari masa dewasa dan masa tua. Seorang anak masih
belum selesai perkembangannya, orang dewasa dapat dianggap sudah berkembang
penuh. la sudah menguasai sepenuhnya fungsi-fungsi fisik dan psikisnva. Pada masa
tua umumnya terjadi kemunduran terutama dalam fungsi psikisnva. Pada remaja
masih belum mampu untuk menguasai fungsi fisik maupun psikisnva (Monks, dkk.
1998).Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yaitu
antara 12 sampai 21 tahun (Gunarsa, 1991). Pada masa transis. in. terjadi
pertumbuhan pesat dalam dm remaja menyangkut segala aspek seperti perubahan
fisik, emosi. kognisi. keyakinan. dan moral.
Perkembangan berpikir remaja sesuai dengan perkembangan berpikir yang
dikemukakan oleh Piaget. yaitu telah mencapai kemampuan berpikir formal.
Kemampuan berpikir formal mi pada umumnya dimulai pada usia 12 tahun dan
menguat pada masa remaja (Blair dan Jones. 1964).Semng dengan perkembangan berpikir remaja, perkembangan penalaran
moralnya berada pada tingkat moral conventional, yaitu tahap tiga dan empat
(Watson dan Lindgren, 1979), akan tetapi ada juga yang masih berada pada tingkat
belasan, ada beberapa remaja yang mencapai tingkat pasca conventional atau tingkat
prinsip (Watson dan Lindgren, 1979).
Remaja diharapkan dapat mengkoordinasikan konsep-konsep moral nya dalam
berbagai situasi. Remaja dalam penilai suatu tingkah laku dalam hubungannya
dengan anak-anak (Hurlock, 1990), karena pada masa m.lah mereka mengembangkan
kemampuan memperdalam refieksi untuk menemukan makna dan
hubungan-hubungannya (Piaget, dalam Shelton, 1991).
Perkembangan moral yang dicapai pada kebanyakan remaja adalah tahap
konvensional (Conger, 1975, Setiono, 1994; Cr.der, dkk. 1983). yaitu tahap ket.ka
seseorang sangat memperhatikan aturan-aturan sosial, harapan-harapan, serta
peran-peran. Tindakan-t.ndakan yang dianggap benar dilakukan karena adanya motivasi
yang ada dalam dm seseorang untuk melakukan apa vang diterima dan diharapkan
oleh masyarakat.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penalaran Moral
Menurut Kohlberg (dalam Duska dan Whelan, 1984; Setiono. 1982) ada lima
yang mempengaruhi penalaran moral, yaitu kesempatan alih peran, konfiik
sosio-kognitif. dan keagamaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penalaran moral dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor
a. Kesempatan Alih Peran
Alih peran merupakan proses kognitif dan proses sosial yang menunjukkan
bahwa individu dapat menempatkan diri pada motif-motif, perasaan, pikiran dan
tingkah laku orang lain. Hal ini berarti individu mampu untuk melepaskan diri dan
pandangannya sendiri, mampu memandang dunia luar dari sudut pandang orang Iain.
-Dapat menempatkan dm pada perasaan orang lain" mengandung arti juga dapat ikut
merasakan secara empati, yaitu ikut merasakan perasaan orang lain (Monks, dkk.
1998). Kemampuan ini merupakan keadaan kognitif yang memungkinkan seseorang
pada tingkat konvensional menyadari keterbatasan-keterbatasan dan
kekurangan-kekurangan pada egoisme dan melihat pentingnya kerjasama dalam kelompok (Duska
dan Whelan, 1984). Empati mempengaruhi daya nalar seseorang. Makin mampu
seseorang berempati makin mampu ia menalar situasi-situasi vang berkaitan dengan
perilaku moral. Makin mampu ia menalar situasi moral makin tinggilah
perkembangan moral yang telah dicapainya (Prawiratirta. 1991).
Perlunya alih peran dalam peningkatan penalaran moral seseorang berkaitan
dengan pengertian moralitas vang telah diutarakan sebelumnya, yaitu bagaimana
menyelesaikan situasi konflik antara kepentingan dm dan orang lain. Alih peran.
situasi konflik tersebut dapat diselesaikan secara adil. atas dasar pertimbangan dua
belah pihak. Ada beberapa kesempatan alih peran yang mungkin d.alami oleh
seseorang, seperti melalui hubungan antara individu dalam keiuarga, dalam kelompok
Salah satu faktor yang menentukan peningkatan penalaran moral dalam
keiuarga adalah bila orang tua mendorong terjadinya dialog yang intensif, khususnya
mengenai nilai-nilai. Dialog yang intensif maka akan terjadi transfer-sudut pandang
serta sikap-sikap yang disebut kesempatan alih peran.Remaja yang banyak berinteraksi atau berpartisipasi dalam pergaulan dengan
teman sebaya, akan meningkat penalaran moralnya dibandingkan dengan mereka
yang sedikit berinteraksi atau berpartisipasi dalam pergaulan sosial dengan teman
sebaya. Hal ini berarti pula bahwa variasi dalam pergaulan akan memberikan
kesempatan yang lebih banyak pada remaja untuk melakukan alih peran vang
bervariasi pula. Simulasi yang dilakukan Nashori (1995) menunjukkan bahwa alih
peran berpengaruh dalam meningkatkan moral.b. Konflik Sosio-Kognitif
Mutu lingkungan sosial mempunyai pengaruh yang signifikan kepada
cepatnya perkembangan dan tingkat perkembangan yang dicapai oleh seseoranu
(Duska dan Whelan, 1984). Hal ini terlihat pada pengaruh konflik sosio kognitif
terhadap penalaran moral seseorang. Konflik sosio kognitif ini akan terjadi ketika
individu berhadapan dengan pandangan yang berbeda. Dialog yang melibatkan
banyak individu, munculnya keragaman pandangan adalah hal vang umum terjadi. Di
antara keragaman pandangan ini dalam diri individu juga terjadi dialog internal
individu. Apabila individu mampu memahaminya dan mendudukkan
pandangan-pandangan tersebut dalam suatu struktur berpikir tertentu, maka individu mungkin
25
akan biasa segera mengadakan penyelesaain. Sebaliknya, apabila individu gagal memahaminya dalam suatu struktur berpikir yang benar. maka individu tidak akan mampu menyelesaikan konflik sosio kognitif yang terjadi dalam dirinya.
Dengan ungkapan lain, dapat dikatakan bahwa keadaan tidak seimbang
(disequlibrium) selalu duringi dengan kemginan untuk menjadi seimbang kembali.
Keadaan seimbanu ini akan tercapai apabila individu dapat menyelesaikan masalah ketidakseimbangan itu, yaitu dapat memahami suatu masalah dengan suatu pemikiran yang menggunakan struktur uyang lebih tinggi dan struktur yang dimilikinya saat itu. Individu dapat memahami atau menggunakan struktur berpikir yang lebih tinggi tersebut yang pada mulanya membinggungkannya. Pernahaman ini diperoleh individu melalui proses reorganisasi struktur pikiran yang dilakukannva.
c. Faktor Pembawaan
Menurut Hurlock (1992) faktor pembawaan ini terutama yang dibicarakan adalah inteligensi, karena inteligensi mempunyai pengaruh vang sangat penting terhadap tingkat moralitas yang mampu dicapai oleh seseoranu. Kecakapan seseoranu untuk bertindak dengan lingkungan secara efektif (Wechsier dalam Monks dkk.
1998).
d. Segi Keagamaan
Kejujuran dan nilai-nilai moralitas yang diperlihatkan seorang anak tergantung sepenuhnya pada penghayatan nilai-nilai keagamaan dalam bertingkah
laku dengan orang lain. Penelitian Flaerani (1995) menunjukan adanya hubungan
antara religiusitas dengan penalaran moral.
Sementara faktor-faktor eksternal meliputi. iklim moral lingkungan sosial,
lingkungan rumah, lingkungan sekolah, dan aktifitas rekreasi. Faktor-faktor eksternal: e. Iklim Moral Lingkungan Sosial
Iklim moral dari lingkungan sosial mempunyai potensi untuk dipersepsikan
lebih tinggi dari tahap penalaran moral anggotanya. Rangsangan lingkungan sosial ini
tidak hanya terbatas pada rangsangan penalaran terhadap masalah-masalah sosial, tetapi juga melalui peragaan tindakan bennoral dan peragaan peraturan bermoral.
f. Lingkungan Rumah
Sikap dan tingkah laku anak dipengaruhi oleh bagaimana sikap orang-orang
vang berada dalam rumah. Orangtua harus menciptakan suasana keramahan,
kejujuran dan kerja sama sehingga anak selalu cenderung untuk melakukan hal-hal vang baik (Gunarsa. 1981) serta mendorong terjadinya dialog tentang masalah
nilai-nilai moral (Setiono, 1982). g. Lingkungan Sekolah
Corak hubungan antara anak dan guru atau murid yang lain akan mempengaruhi nilai-nilai moral yang masih mengalami perubahan. Kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah, murid memperoleh kesempatan untuk berlatih dan
27
h. Aktivitas Rekreasi
Aktivitas anak dalam mengisi waktu luang akan mempengaruhi konsep
moralitas anak. melalui bacaan, film, radio, televisi, banyak mempengaruhi norma-norma moral yang dirasakan tidak sesuai dengan prinsip moral yang dimilikinya. Oleh karena itu tingkah laku yang dicemiinkannya cenderung tetap.
B. Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orangtua 1. Pengertian Persepsi
Persepsi terkandung pengertian adanya proses penginderaan yang dilakukan panca indera, kemudiaan stimulus yang diterima Ialu diolah dan diinterpretasikan, sehingga individu mengerti dan menyadari tentang apa saja yang diindera itu. Persepsi mengandung unsur evaluasi atau penilaian terhadap stimulus vang diterima. dapat dikatakan bahwa persepsi itu merupakan pengorgamsasian, peintegrasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan respons yang integrated dalam diri manusia (Walgito,199I). Persepsi dapat dilakukan baik kepada dirinya sendiri yang disebut persepsi diri (self
perception) atau persepsi terhadap din orang lain.
Persepsi merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Walgito. 1990). Ini berarti bahwa seluruh pribadi dan seluruh apa yang ada dalam diri individu
ikut aktif berperan dalam proses persepsi. Oleh karena itu hasil persepsi mungkin
(1978), setiap manusia mempunyai pengalaman, penghargaan, dan hasrat individu
sendiri ini membuat faktor-faktor kepribadian dalam pengamatan pada subyek yang
satu berbeda dari subyek yang lain. Davidoff (dalam Walgito. 1990) mengatakan
bahwa persepsi merupakan suatu aktivitas mengindera, kemudian mengorganisasi
stimulus yang diterima, menginterpretasi, menyadari, dan akhirnya mengerti tentang
apa yang diinderanya tersebut.
Persepsi mulai terjadi saat stimulus yang ditimbulkan oleh obyek mengenai
alat indera atau reseptor proses ini dinamakan proses kealaman (fisik). Stimulus yang
diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh syaraf sensorik ke otak. Proses inidinamakan proses fisiologis. Kemudian terjadi lah suatu proses di otak, sehingga
individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan reseptor itu. Proses yang terjadi
dalam otak atau pusat kesadaran itulah yang dinamakan proses psikologis. Taraf
terakhir dari proses persepsi adalah individu menyadari tentang apa vang diterima
melalui alat indera atau reseptor (Walgito. 1990).
Mahmud (dalam Purwati, 1992) mengemukakan bahwa persepsi adalah penalsiran stimulus yang telah ada di otak, sehingga proses persepsi merupakan hasil
dari aksi dan reaksi. Proses persepsi ini setiap faktor mental, suasana emosi,
keinginan yang kuat atau sikap mempunyai pengaruh pada berlangsungnva proses
29
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan pengertian persepsi
dalam penelitian ini adalah aktivitas yang tenntegrasi datanTTjin sese^arrg~4alam^
menerima stimulus mengenai suatu objek melalui inderanya. 2. Pengertian Perhatian Orangtua
Perhatian orangtua terdiri dari dua kata, yaitu perhatian dan orangtua.
Perhatian yang dimaksud dalam penelitian ini. yaitu segala bentuk dukungan pada kegiatan kelompok anak, dari orangtua. Orangtua menaruh hati, memperhatikan pada
anak-anaknya dalam kagiatan sehari-harinva.
Oleh karena itu dalam merawat dan mendidik anak banyak sekali faktor yang
harus dan perlu diperhatikan oleh orangtua. Sesungguhnya masalah perawatan dan
mendidik anak bukan hal yang mudah dilakukan Di sana dibutuhkan perhatian dan penanganan yang baik supaya hasil akhirma yang dicapai bisa baik pula.
Menurut Walgito (1986), perhatian merupakan pemusatan atau kosentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditunjukkan kepada suatu atau sekumpulan obvek.
Perhatian orangtua terhadap anak meliputi kebutuhan-kebutuhan anak yang terdiri atas kasih sayang. rasa aman, harga diri. kebebasan. rasa sukses dan kebutuhan akan mengenai (Daradjat, 1983).
Menurut Verbeek (1978), perhatian merupakan suatu sikap terbuka atau sikap terarah pada apa yang dihayati sebagai hal yang pentmg. Hal ini dapat berarti, perhatian yang diberikan oleh orangtua dinyatakan dalam sikap-sikap terbuka atau terarah dan itu pun dilakukan secara sadar.
Pasaribu (dalam Ardijati, 1996) menyatakan, perhatian adalah dasar dan sikap
yang merupakan reaksi individu yang ditujukan kepada kegiatan-kegiatan, kelompok
S0SlaI dan seui. lain.dari duma sekitarnva. sehingga.dalam hal ini akan membenkan
reaksi terhadap respon yang diberikan oleh dunia sekitar. Meskipun anak hanya
menampakkan sedikit reaksi terhadap respon dari orangtua mengenai suatu kegiatan,
namun itu tetap merupakan hasil reaksi yang murni yang mengarah kepada kebutuhan
untuk saling memperhatikan.
Menurut Crowd (dalam Subekti, 1998), memberikan perhatian berarti
memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran anak ke arah ide-ide yang utama atau
mendorong anak untuk mengatakan sesuatu dengan benar sesuai dengan keyakinan
dan kenyataan yang ada. Orangtua memberikan perhatian kepada anak tidak berarti
orangtua selalu berada disamping anak secara terus menerus namun lebih
memberikan arah dan bimbmgan pada pikiran anak.
Dan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa perhatiaan merupakan
usaha orangtua untuk memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran anak ke arah ide-ide
yang utama dengan sikap-sikap tertentu yang diperiihatkan. sehingga dapat
mewujudkan suatu hubungan saling percaya antara orangtua dan anak.
3. Pengertian Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orangtua
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang
31
menerima stimulus tentang segala bentuk dukungan yang diberikan orangtua terhadap kegiatan-kegiatan sehari-harinya.
Meskipun anak hanya menampakkan sedikit reaksi terhadap respon dari orang tua mengenai suatu kegiatan, namun itu tetap merupakan hasil reaksi yang murni yang mengarah kepada kebutuhan untuk saling memperhatikan.
Setelah anak melakukan aktivitas penginderaan tentang bentuk dukungan dari orangtua yang diberikan, maka yang dilakukan kemudian adalah mengorganisasikannya, dan kemudian menginterpretasikan. Hasil interpretasi ini merupakan penilaian yang subyektif individu mengenai usaha orangtua untuk
memberikan petunjuk pada pikiran-pikiran anak kearah ide-ide yang utama dengan sikap-sikap tertentu yang diperhatikan, sehingga dapat mewujudkan suatu hubungan
saling percaya antara orangtua dan anak.
4. Aspek-aspek Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orangtua
Menurut Mayeroff (1991), aspek-aspek vang menjadi dasar persepsi anak terhadap perhatian orangtua, yaitu:
a. Persepsi mengenai pengenalan diri anak seutuhnya. Memberi perhatian berarti orang tua berusaha mengenai diri anak, baik kebutuhan-kebutuhannya, kelemahan maupun kelebihannva. Pengenalan atas diri anak akan memudahkan orangtua
dalam mencari jalan keluar guna mengatasi kesulitan dalam menghadapi setiap tahap perkembangan pada diri anak. Bila si anak mempersepsi bahwa orangtua
b. Persepsi tentang adanya dinamika dalam memberikan perhatian. Dalam memberi
perhatian. orangtua tidak dapat selalu mendasarkan pada kebiasaan tetapi
orangtua harus dapat belajar dari pengalaman sebelumnya. Ada saat-saat tertentu
orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk beraktivitas di samping tetap
mengontrol
kegiatannya. Apabila anak mempersepsikan bahwa orangtua
memberikan kebebasan, maka berarti persepsinya positif.
c. Persepsi tentang sikap sabar dari orangtua. Dengan bersikap sabar berarti orang
tua memberi kesempatan kepada anak untuk menemukan identitas dirinya dan
memberi ruang gerak bagi anak untuk berpikir dan peka terhadap persoalan.
Apabila anak mempersepsikan orangtua sabar. berarti persepsinya positif.
d. Persepsi sikap jujur dari orangtua. Yaitu jujur dan terbuka terhadap diri sendiri.
Orangtua melihat seorang anak sebagaimana adanya dan bukan seperti yanu
diharapkan atau dnnginkan oleh orangtua. Orangtua dapat memahami
kebutuhan-kebutuhan anak yang senantiasa berubah dalam perkembangannva. Kesadaran
dan keterbukaan orangtua sangat diperlukan untuk memperbaiki diri dan berusaha
belajar dari suatu kesalahan, kaitannya dengan usaha mendidik anak. Apabila
anak mempersepsikan orangtua bersikapjujur. berarti persepsinya positif.
e. Persepsi tentang adanya kepercayaan orangtua. Kepercavaan orangtua terhadap
kemampuan anak untuk belajar dari kesalahan sesuai dengan pengetahuannya,
akan membuat anak merasa dihargai dan menumbuhkan perasaan percaya diri
pada anak. Terlalu banyak memberi perhatian merupakan sikap yang kurang
33
mempercayai anak yang berkaitan cenderung membawa orangtua bersikap menguasai dan mengarahkan anak pada apa yang diharapkan. Oleh karena itu,
kepercayaan orangtua terhadap anak harus berdasar pada usaha aktif untuk memajukan dan menjaga kondisi-kondisi yang menjamin kepercayaan itu. Orang tua dapat bersikap fleksibel, artinya orangtua dapat melihat situasi-situasi yang dianggapnya, anak pantas untuk diberi kepercayaan. Biia anak mempersepsi bahwa orangtua memberi kepercayaan, maka berarti persepsinya positif.
f.
Persepsi tentang adanya kerendahan hati orangtua. Kerendahan orang tua akan
tercermin dari kesediaan dan kerelaannya untuk selalu belajar tentang diri anak. Yaitu belajar langsung pada ada yang dilakukan, dipikirkan dan dirasakan oleh
anak sehingga akan membantu orang mengenai diri anak secara keseluruhan. Bila
anak mempersepsi adanya kerendahan hati orangtua. berarti persepsinva positif. g. Persepsi tentang adanya harapan dan keberanian orangtua. Dalam memberikan
perhatian. orangtua didorong oleh harapan-hara|:>an tertentu yang ingin
diwujudkan demi memperkembangkan diri anak. Hal ini tersirat adanya
kesadaran dan optimisme pada diri setiap orang yang menimbulkan kesadaran untuk selalu siap menghadapi situasi-situasi sulit dalam membantu perkembangan anak. Bila anak mempersepsi bahwa adanya harapan dan keberanian orangtua,
berarti persepsinya positif.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditank kesimpulan bahwa aspek yang terkandung dalam persepsi terhadap perhatian orangtua, ternyata tidak saja
bermanfaat bagi perkembangan anak tetapi juga berguna bagi orang itu sendiri.
Orangtua dapat mengembangkan kemampuan untuk memperhatikan dengan prinsip
belajar sebagai patokan. Dengan demikian, perhatian yang diberikan oleh orangtua
dapat membentuk dan mempererat suatu hubungan timbal balik antara orangtua dan
anak.C. Hubungan Antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orangtua Dan
Penalaran Moral Remaja
Pada dasarnya manusia mempunyai kebutuhan untuk disayangi oleh
sesamanya, terutama oleh orang-orang terdekat. Dengan demikian pula anak, kasih sayang dan perhatian orangtua sangat diharapkan (Sukardi, 1987). Hal ini
menandakan bahwa tidak hanya kebutuhan fisiologis saja yang harus dipenuhi oleh
orangtua tetapi pemenuhan kebutuhan psikologis pun sangat penting karena akan membantu pembentukan kepribadian anak
Aspek kebutuhan psikologis, khususnya perhatian, sangat penting bagi anak. Orangtua yang memberikan perhatian kepada anak akan mewujudkan suatu kondisi
psikologis dalam diri anak, yaitu anak merasa aman dan tentram (Daradjat, 1986).
Anak menempatkan orangtua sebagai tempat berlindung sehingga anak dapat
mencurahkan segala pengalaman maupun perasaan yang dialami dalam kehidupan
Gunarsa (1981) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan moral adalah faktor lingkungan rumah. Sikap dan tingkah laku tidak
hanya dipengaruhi oleh bagaimana sikap mereka dalam melakukan hubungan di luar
rumah. Orangtua harus menciptakan suasana keramahan, kejujuran dan kerjasama.
sehingga anak selalu cenderung untuk melakukan hal-hal yang baik, serta mendorong
terjadinya dialog tentang masalah nilai-nilai moral.
Sebenarnya orangtua selalu menunjukkan perhatian kepada anak tetapi kadang-kadang anak menganggapnya secara berbeda-beda. Tanggapan anak itu misalnya anak sungguh-sungguh merasakan perhatian orangtua atau sebaliknya anak merasa ditekan dan dibatasi dengan adanya perhatian tersebut. Hal ini dapat terjadi karena pada dasarnya perhatian itu, ditujukan dengan sikap-sikap tertentu dari
orangtua (Gordon. 1996).
Sikap yang diperlihatkan orangtua sangat mempengaruhi hubungan antara orangtua dan anak. Sikap terbuka misalnya, dengan cara komunikasi dialogis, menurut Shochib (1990), akan membentuk suatu kedekatan antara orangtua dan anak.
Hubungan timbal balik ini dapat menciptakan suatu hubungan yang saling
menghormati, saling mempengaruhi dan saling mempercayai.
Adanya hubungan yang saling mempercayai antara anak dengan orangtua
akan
menjadikan anak
dan
orangtua
hidup
dalam
suasana yang saling
membahagiakan. Keadaan ini akan menjadi dasar terbentuknya penghargaan anak terhadap sesama manusia atau orang lain pada umumnya. Diungkapkan oleh Baron
dan Byrne (1994) bahwa hubungan yang harmonis antara anak dengan orangtua akan mengantarkan anak menyayangi dan menghargai orangtua. Bila keadaan ini telah terbentuk, maka salah satu yang tumbuh dan berkembang pada diri anak adalah sikap dan perilaku altruistik (yaitu sikap dan perilaku untuk menolong orang lain). Keadaan ini menggambarkan adanya prinsip-prinsip moral pada anak.
Di sini sebaliknya, kurangnya perhatian orangtua dapat memperburuk penvesuaian diri anak, yaitu kecenderungan anak untuk mengabaikan standar moral yang berlaku dalam masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memandang perlu mengkaji masalah penalaran moral remaja secara lebih mendalam dan meneliti adanya hubungan antara persepsi anak terhadap perhatian orangtua, agar diketahui seberapa besar persepsi anak terhadap perhatian orangtua mempengaruhi penalaran moral remaja.
D. Perbedaan Jenis Kelamin Terhadap Penalaran Moral
Pencapaian tahap penalaran moral yang tinggi tidak semata-mata dipengaiuhi oleh adanya peningkatan umur, tetapi juga dipengaruhi oleh adanya faktor seperti intelegensi, kelas sosial, jenis kelamin, pendidikan dan sebagainya. Khususnya perbedaan jenis kelamin tanggapan anak laki-laki terhadap kaidah moral berbeda dengan anak perempuan. Banyak sudut pandang yang dapat dilihat untuk membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan, kaitannya dengan reaksi individu terhadap kaidah moral.
37
Menurut Gunarsa dan Gunarsa (dalam Mardhiyah, 1997). kepnbadian
individu perempuan merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi antara aspek emosi,
rasio dan suasana hati sedangkan kepribadian individu laki-laki menunjukkan adanya
pembatasan antara pikiran dan emosionalitasnya serta jalan pikirannya tidak dikuasai
oleh emosi. perasaan maupun suasana hati. Terdapat perbedaan karakter pria dan
wanita sehingga hubungannya dengan intelektual wanita itu menunjukkan lebih
banyak tanda-tanda emosionalnya. Emosi wanita sangat kuat serta cepat menjadi
takut dan cemas (Kartono, 1980).Kartono (dalam Mardhiyah, 1997) menyatakan bahwa perempuan lebih
dibatasi oleh norma-nonna sehingga cenderung lebih banyak belajar melalui
kebiasaan yang berlaku, lebih menerima hal-ha! yang telah ditentukan oleh keiuarga
atau masyarakat.Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
antara laki-laki dan perempuan yang dilihat dari berbagai sudut pandang yang dapat
mempengaruhi sudut pandang yang dapat mempengaruhi reaksi individu terhadap
kaidah moral. Perempuan lebih dipengaruhi perasaan dan penghayatan pada
kejadian-kejadian sekitarnva sehingga perempuan lebih dapat menerima norma-norma yanu
ada dalam keiuarga atau masyarakat daripada laki-laki. Penerimaan moral perempuan
lebih tinggi dari pada laki-laki. Oleh karena itu dapat mempengaruhi pula penalaran
E. Landasan Teori
Salah satu usaha orangtua untuk menciptakan kondisi yang mendukung tercapainya internalisasi nilai-nilai moral dan perkembangan moralitas pada anak adalah perhatian orangtua (Mayeroff, 1993). Sebenarnya orangtua selalu menunjukkan perhatian kepada anak tetapi kadang-kadang anak menganggapnya secara berbeda-beda. Tanggapan anak itu misalnya anak merasakan perhatian orangtua merasa ditekan dan dibatasi (Gordon, 1996). Sebaliknya kurangnya perhatian orangtua dapat memperburuk penyesuaian diri anak, yaitu kecenderungan anak untuk mengabaikan standar moral yang berlaku dalam masyarakat.
Menurut Gunarsa dan Gunarsa (dalam Mardhiyah. 1997), kepribadian individu perempuan merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi antara aspek emosi, rasio dan suasana hati sedangkan kepribadian individu laki-laki menunjukkan adanya pembatasan antara pikiran dan emosionalitasnya serta jalan pikirannya tidak dikuasai oleh emosi. perasaan maupun suasana hati. Terdapat perbedaan karakter pria dan wanita sehingga hubungannya dengan intelektual wanita itu menunjukkan lebih banxak tanda-tanda emosionalnya. Emosi wanita sangat kuat serta cepat menjadi
takut dan cemas (Kartono. 1980).
F. Hipotesis
Berdasarkan pada teori-teori yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis yang penulis ajukan ialah :
1. Ada hubungan positif antara persepsi anak terhadap perhatian orangtua dan
penalaran moral remaja. Semakin positif persepsi terhadap perhatian orangtua
semakin positif penalaran moral remaja.
2 Ada perbedaan penalaran moral remaja laki-laki dan perempuan. Remaja
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel Penelitian
1. Variabel Tergantung : Penalaran Moral Remaja
2. Variabel Bebas : Persepsi anak terhadap Perhatian Orangtua 3. Variabel Moderator : Jenis kelamin
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian
1. Penalaran moral adalah pertimbangan-pertimbangan seseorang mengenai suatu tindakan. mengapa tindakan tersebut benar atau salah. Penalaran moral seseorang bisa diketahui melalui prinsip moral dan tahap penalaran moral diungkap dengan angket yang dimodifikasi dari DIT (l)efnusing Issues Test), dan skor yang diperoleh dapat diketahui tinggi rendahnya penalaran moral. Semakin tinggi skor semakin tinggi penalaran moral.
2. Persepsi anak terhadap perhatian orangtua adalah persepsi anak terhadap sikap yang diperlihatkan oleh orangtua dalam pengenalan din anak seutuhnya. adanya dinamika dalam memberikan perhatian. sikap sabar dan orangtua, sikap jujur, kepercayaan, kerendahan hati serta adanya harapan dan keberanian orangtua. Persepsi anak terhadap perhatian orangtua diperoleh dari skor skala perhatian
40
pada orangtua. Semakin tinggi skor yang diperoleh semakin tinggi persepsi pada
orangtua.
3. Jenis kelamin adalah ciri-ciri yang membedakan antara subjek laki-laki dan
perempuan sesuai dengan pengisian identilas subjek pada lembar jawaban.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMU Kolombo Yogyakarta dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Siswa-siswi yang duduk di kelas I dan II. 2. Subjek berusia 14 hingga 18 tahun.
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive
sampling (Hadi, 1994). Alasan menggunakan teknik ini karena efissien, simpel.
keterbaiasan waktu, tenaga dan dana. Populasi penelitian mi berjumlah 88 siswa.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipergunakan untuk mendapatkan data yang
dibutuhkan dalam penelitian ini adalah metode skala. Skala merupakan suatu metode penyelidikan denuan menggunakan daftar pertanyaan yang harus diisi oleh setiap individu yang menjadi subjek penelitian (Suryabrata, 1984). Dalam penelitian ini digunakan skala langsung dengan cara semua daftar pernyataan diberikan secara langsung kepada individu yang ingin dimintai pendapat atau keyakinan, dengan
harapan pcrnyataan-pernyataan tertulis yang diajukan dapat dijawab langsung oleh
orang yang dimintai pendapat, dalam hal ini adalah subjek peneliti. Bentuk skala ini
adalah tertutup karena individu yang dijadikan subjek penelitian diharuskan untuk
memilih jawaban yang telah disediakan.Dengan pertimbangan di atas, peneliti menggunaka dua skala yaitu skala
penalaran moral remaja dengan mengunakan model skala DIT vang langsung diisi
oleh subjek peneliti dan skala persepsi terhadap perhatian orang tua dimana subjek
memberikan infonnasi tentang sikap orang tua masing-masing.
a. Defining Issues Tes (DIT)
DIT adalah tes objektif yang digunakan untuk mengukur tahap penalaran
moral dan pnnsip moral seseorang, yaitu kemampuan seseorang untuk memuluskan
masalah sosial-moral dengan menggunakan prinsip moral yang dimiliki saat itu.
Perkembangan penalaran moral merupakan suatu konstruk psikologis dan DIT
merupakan usaha untuk mengoperasionahsasikan konstruk tersebut. Penyusunan DIT
yang dilakukan Rest (1979) sepenuhnya didasarkan pada teon tentang penalaran
moral Kohlberg, dan untuk pemakaian di Indonesia DIT telah diadaptasi oleh Martam
(1987), dengan menggunakan tes ulang (test-retest), yang dikenakan pada subyek
siswa SMP. SMU dan Mahasiswa. Hasilnya menunjukkan adanya koefisien korelasi
aitem total (r) yang bergerak antara 0,44 sampai 0,92 yang berarti alat ukur ini sahih
(valid), sementara koefisien alpha (reliabilitas) sebesar 0,68, yang berarti alat ukur
ini dapat digunakan di Indonesia.42
DIT terdiri atas enam buah cerita masalah sosial-moral yang dapat digunakan
dalam bentuk pendek, yaitu tiga buah cerita, maupun dalam bentuk panjang, yaitu
enam buah cerita. DIT terdiri dari enam buah cerita, yang merupakan dilerna-dilema
dalam masalah sosial-moral. Dari keenam dilema yang digunakan dalam DIT, tiga
buah dilema diambil dari dilema yang dipakai oleh Kohlberg dalam Moral Judgement
interview, dan tiga buah dilema lainnya bersal dari alat yang disusun oleh Lock Wood
(Rest dkk, 1979). Bentuk mana yang akan digunakan tergantung kepada peneliti,
dalam hal ini akan menggambarkan tiga buah cerita.
Pemakaian DIT dalam bentuk pendek adalah untuk menghindari kejenuhan
subyek dalam menjawab apabila disajikan lengkap dalam enam cerita. Rest (1979)
menyarankan penggunaan bentuk pendek ini untuk waktu yang terbatas agar
mendapat hasil yang optimal. Korelasi antara bentuk pendek dan bentuk asli adalah
sebesar 0,93 (Rest, 1979). Bentuk pendek ini telah digunakan dalam penelitian
Wardani (1998) dan Mmdrowo (1995). Atas pertimbangan di atas, dalam penelitian
ini digunakan DIT dalam bentuk pendek yang terdiri tiga kasus untuk mengukur
tahap penalaran moral subyek.
DIT akan diperoleh 6 buah tahap penalaran moral yaitu tahap 2, 3, 4, 5A, 5B