P U T U S A N
Nomor 576/PDT/2017/PT.BDG.
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Pengadilan Tinggi Jawa Barat yang memeriksa dan memutus perkara perdata pada tingkat banding, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara gugatan antara :
ASIP JOHARI, (wakil Kelompok Sawangan) Beralamat di Jln. Raya Muchtar Gg. Poncol Rt.001 Rw.007 Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok ;
selanjutnya disebut;
M NASIR (Wakil Kelompok Bojongsari) Beralamat di Bojongsari Lama Rt 001 RW 010 Kelurahan Bojongsari Kecamatan Bojongsari Kota Depok selanjutnya disebut;
Pembanding semula Penggugat;
L A W A N
1. PT. P A K U A N, Beralamat di Jln. Raya Sawangan Km.34 Depok, selanjutnya disebut sebagai Terbanding I, semula Tergugat I ;
2. PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA cq. BADAN PERTANAHAN NASIONAL cq. KANTOR WILAYAH BPN PROVINSI JAWA BARAT cq. KANTOR PERTANAHAN KOTA DEPOK, Beralamat di Jln. Boulevard Sektor Anggrek Kota Kembang, Kota Depok, selanjutnya disebut sebagai –Terbanding II, semula Tergugat II ;
3. PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA cq. KEMENTRIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA, Beralamat di Jln. Medan Merdeka Utara No.7 Jakarta Pusat, selanjutnya disebut sebagai Terbanding III, semula Tergugat III ;
4. PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT cq. GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I PROVINSI JAWA BARAT cq. BADAN KOORDINASI PROMOSI DAN PENANAMAN MODAL DAERAH PROVINSI JAWA BARAT,
Beralamat di Jln. Sumatera No.50 Bandung Jawa Barat, selanjutnya disebut sebagai Terbanding IV semula Tergugat IV ;
Pengadilan Tinggi tersebut ;
Membaca Penetapan Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat tanggal 18 Desember 2017 Nomor :576/PeEN.PDT/2017/PT BDG tentang penunjukan Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini;
Setelah membaca berkas perkara tanggal 2 Desember 2015 Nomor 121/PDT.G/2014/PN Dpk dan surat-surat yang bersangkutan dengan perkara tersebut ;
TENTANG DUDUK PERKARA
Menimbang, bahwa Penggugat dengan surat gugatan Penggugat yang diterima dan didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Depok tanggal 17 JULI 2014 tercatat dibawah register perkara Nomor: 121/PDT.G/2014/PN Dpk telah mengemukakan sebagai berikut :
1. Bahwa pada tahun 1963 dan 1964, Tergugat II dalam hal ini Kantor Wilayah BPN Provinsi Jawa Barat (dahulu Kepala Inspeksi Agraria Djawa Barat) telah menerbitkan Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria (SK KINAG) Provinsi Jawa Barat, yang merupakan pembagian tanah dari Tanah Negara yang diperuntukan para penggarap yang termasuk orang-orang yang diprioritaskan memiliki tanah seluruhnya seluas + 500 (Lima Ratus) Hektar di daerah kabupaten Bogor Jawa Barat, Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria (SK KINAG) Provinsi Jawa Barat yang terdiri dari :
SK. KINAG Nomor : 44/VIII/Insp/C-54/64 tanggal 14 September 1964; dan
SK. KINAG Nomor: 205D/VIII-54/1964 tanggal 31 Desember 1964. Adapun keberadaan SK. KINAG di atas berlaku berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor : 224 Tahun 1961 Tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah Dan Pemberian Ganti Kerugian.
2. Bahwa untuk tanah yang terletak di Kelurahan Sawangan Lama dan Kelurahan Bojongsari Lama Kota Depok (dahulu Desa Sawangan dan Desa Bojongsari Kabupaten Bogor) seluas lebih kurang 93 (Sembilan Puluh Tiga) Hektar, tanah yang dimiliki Penggugat berdasarkan kekuatan hukum Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria (SK KINAG) Provinsi Jawa Barat tanggal 31 Desember 1964 Nomor: 205D/VIII-54/1964 yang terletak di Kelurahan Sawangan Lama dan Kelurahan Bojongsari Lama Kota Depok (dahulu Desa Sawangan dan Desa Bojongsari Kabupaten Bogor) Provinsi Jawa Barat. Saat ini tanah dikuasai Tergugat I seluas 917.870 m2 (Sembilan Ratus Tujuh Belas Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Meter Persegi) yang terdiri dari luas tanah di Kelurahan Sawangan Lama Kota Depok dengan luas 681.075 m2 (Enam Ratus Delapan Puluh Satu Ribu Tujuh Puluh Lima Meter Persegi) dan luas tanah di Kelurahan Bojongsari Lama Kota Depok dengan luas 236.795 m2 (Dua Ratus Tiga Puluh Enam Ribu Tujuh Ratus Sembilan Puluh Lima Meter Persegi).
3. Bahwa untuk tanah yang di Kelurahan Sawangan Lama Kota Depok dengan luas 681.075 m2 (Enam Ratus Delapan Puluh Satu Ribu Tujuh Puluh Lima Meter Persegi) serta batas-batas sebagai berikut :
3.1. Batas Sebelah Utara : Setu Sawangan;
3.2. Batas Sebelah Selatan : Jalan Raya Sawangan; 3.3. Batas Sebelah Timur : Perumahan Telaga Golf; 3.4. Batas Sebelah Barat : Jalan Raya Parung.
4. Bahwa untuk tanah yang di Kelurahan Bojongsari Lama Kota Depok dengan luas 236.795 m2 (Dua Ratus Tiga Puluh Enam Ribu Tujuh Ratus Sembilan Puluh Lima Meter Persegi) serta batas-batas sebagaiberikut :
4.1. Batas Sebelah Utara : Kampung Bojongsari; 4.2. Batas Sebelah Selatan : Jalan Raya Parung; 4.3. Batas Sebelah Timur : Jalan R. Mahmud
Nataatmaja; 4.4. Batas Sebelah Barat : Pom Bensin.
5. Bahwa pada tahun 1971 menurut Tergugat I (dahulu PT. Pakuan International Country Club) telah membebaskan tanah dengan cara Tergugat I memberikan ganti rugi kepada Penggarap tanah di Kelurahan Sawangan Lama dan Kelurahan Bojongsari Lama Kota Depok (dahulu Desa Sawangan dan Desa Bojongsari Kabupaten Bogor) Provinsi Jawa Barat.
6. Bahwa Tergugat I (dahulu PT. Pakuan International Country Club) dengandasar pembebasan berupa ganti rugi, kemudian Tergugat I pada tanggal 30 Juli 1971 mengajukan permohonan Hak Pakai kepada Tergugat III sehingga terbit Surat Keputusan tanggal 8 Oktober 1971 No. 344/Hak Pakai/Da/73 yang memberikan Hak Pakai kepada Tergugat I.
7. Bahwa Tergugat II (dahulu Kantor Agraria Kabupaten Bogor), atas dasar Surat Keputusan tanggal 8 Oktober 1971 No. 344/Hak Pakai/Da/73 maka Tergugat II (dahulu Kantor Agraria Kabupaten Bogor) menerbitkan Sertifikat Hak Pakai (SHP) No. 1/Sawangan dan Sertifikat Hak Pakai (SHP) No. 1//Bojongsari dengan atasnama Tergugat I (dahulu PT. Pakuan International Country Club). Luas Tanah yang dikuasai Tergugat I yakni sebagaiberikut :
7.1 Tanah dengan Sertifikat Hak Pakai Nomor 1 Sawangan seluas 684.425 m2 (Enam Ratus Delapan Puluh Empat Ribu Empat Ratus Dua Puluh Lima Meter Persegi) dan,
7. 2. Tanah dengan Sertifikat Hak Pakai Nomor 1 Bojongsari seluas 248.230 m2 (Dua Ratus Empat Puluh Delapan Ribu Dua Ratus Tiga Puluh Meter Persegi).
8. Pada tahun 1985 Sertifikat Hak Pakai (SHP) yakni SHP No. 1/Sawangan dan SHP No. 1/Bojongsari dimohonkan kembali oleh Tergugat I melalui Tergugat IV dengan Hak Guna Bangunan. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan dari Tergugat IV yakni Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat tanggal 9 Mei 1985 No. 593/Surat Keputusan/07-BKPMD/05 yang menjadi dasar Tergugat II pada tanggal 25 Mei 1985 menerbitkan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) No. 4/Bojongsari dan SHGB No. 27, 28, 29 dan 30/Sawangan atas nama Tergugat I, sedang sisa luasnya pada
tanggal 4 Juni 1985 Tergugat II menerbitkan Sertifikat Hak Pakai (SHP) yakni SHP No. 2, 3 dan 4/Sawangan serta SHP No. 3/Bojongsari dengan atasnama Tergugat I.
9. Bahwa saat ini luas tanah ex. Sertifikat Hak Pakai (SHP) No. 1/Sawangan dan Sertifikat Hak Pakai (SHP) No. 1//Bojongsari menjadi 9 (sembilan) Sertifikat Hak Guna Bangunan yakni seluas 917.870 m2 (Sembilan Ratus Tujuh Belas Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Meter Persegi) masih dikuasai Tergugat I dan di sertifikasi atas nama Tergugat I oleh Tergugat II dalam hal ini Kantor Pertanahan Kota Depok, yakni dengan perincian sertifikat sebagaiberikut :
1. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
2. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
3. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
4. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
5. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
6. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
7. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022,
tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
8. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
9. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
10. Bahwa pada intinya menurut keterangan Tergugat I (dahulu PT. Pakuan International Country Club) telah membebaskan dengan ganti rugi kepada penggarap.
11. Bahwa dari keterangan Tergugat I di atas tentang pemberian ganti rugi. Penggugat menolak keterangan Tergugat I dengan membantah secara tegas yakni hingga saat ini Penggugat TIDAK PERNAH memperoleh ganti rugi dari Tergugat I. Maka Penggugat meyakini Tergugat I telah memberikan keterangan yang tidak benar dan bohong.
12. Bahwa oleh karena hingga saat ini Penggugat TIDAK PERNAH memperoleh ganti rugi dari Tergugat I, maka Penggugat sangat dirugikan oleh para Tergugat. Penggugat patut mempertanyakan kepada siapa Tergugat I memberikan ganti rugi?
13. Bahwa tentang ganti rugi telah diatur dalam Undang Undang No.: 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di atasnya, yakni dalam Pasal 2 Ayat 2 Huruf c dan Pasal 5 Undang Undang No.: 20 Tahun 1961. Yang pada intinya adalah harus ada ganti rugi kepada Pengugat.
14. Bahwa mengingat Pasal 40 Huruf b. Undang Undang Pokok Agraria UU No. 5 Tahun 1960 yang berbunyi Hak Guna Bangunan hapus karena “dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir karena sesuatu syarat tidak dipenuhi”. Dan oleh karena salah satu syarat yakni ganti rugi sampai saat ini tidak pernah ada ganti rugi kepada Penggugat maka selayaknya seluruh sertifikat Hak Guna Bangunan atasnama Tergugat I dinyatakan hapus dan dapat dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir, karena sesuatu syarat tidak dipenuhi dengan putusan seluruh sertifikat Hak Guna Bangunan yang dikuasai Tergugat
I dihapuskan dan tidak berkekuatan hukum atau setidak-tidaknya batal demi hukum.
15. Bahwa mengingat Pasal 35 Ayat 1 Huruf b3 dan Huruf d Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah, yakni sebagaiberikut :
Ayat 1 Huruf b3 berbunyi : “ Hak Guna Bangunan hapus karena Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap”
Ayat 1 Huruf d berbunyi : Hak Guna Bangunan hapus karena dicabut berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 1961. 16. Bahwa atas perbuatan Tergugat I di atas yakni telah berbohong dan
memberikan keterangan yang tidak benar serta tidak pernah mengganti rugi kepada Penggugat. Maka Penggugat mohon agar perbuatan Tergugat I dinyatakan sebagai perbuatan melawan hukum. 17. Bahwa oleh karena perbuatan Tergugat I dijadikan dasar oleh
Tergugat II, Tergugat III dan Tergugat IV untuk menerbitkan surat-surat keputusan maupun sertifikat tanah berikut turunan-turunannya. Maka sudah selayaknya perbuatan Tergugat II, Tergugat III dan Tergugat IV mohon juga dinyatakan sebagai perbuatan melawan hukum.
18. Bahwa dikarenakan Para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum. Maka Penggugat mohon agar seluruh surat keputusan dan sertifikat yang diterbitkan oleh Tergugat II, Tergugat III dan Tergugat IV untuk menerbitkan surat-surat keputusan maupun sertifikat tanah berikut turunan-turunannya Penggugat mohon agar dihapuskan dan dinyatakan tidak berkekuatan hukum, sehingga otomatis surat-surat yang diterbitkan Tergugat II, Tergugat III dan Tergugat IV, mohon dihapuskan dan dinyatakan tidak berkekuatan hukum atau dinyatakan batal demi hukum.
19. Bahwa norma-norma tentang perbuatan melawan hukum diatur sebagaimana Pasal 1365 KUH Perdata yang bunyinya adalah “ Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”.
20. Bahwa menurut Dr. Munir Fuady, SH., MH., LLM. dalambukunya Perbuatan Melawan Hukum halaman 10 yakni suatu perbuatan melawan hukum haruslah mengandung unsur-unsur : Adanya suatu perbuatan, Perbuatan tersebut melanggar hukum, Adanya kesalahan oleh Pelaku, Adanya kerugian oleh korban dan adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian. Kesemua unsur-unsur itu faktanya telah dilakukan oleh Tergugat I dan Tergugat lainnya sehingga merugikan Penggugat.
21. Bahwa Tergugat I selama ini menikmati hasil dari penggunaan tanah berupa usaha Lapangan Golf dan usaha lainnya, sedangkan Penggugat telah merugi atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan Tergugat I, maka Penggugat menuntut Tergugat I harus membayar besaran gantirugi kepada Penggugat yang harus ditanggung oleh Tergugat I. Adapun besaran ganti rugi yang dituntut oleh Penggugat adalah sebesar yakni Rp. 1.000.000,-/Meter X Luas Tanah 917.870 m2 = Rp. 917.870.000.000,- (Sembilan Ratus Tujuh Belas Milyar Delapan Ratus Tujuh Puluh Juta Rupiah). Besaran tuntutan ganti rugi oleh Penggugat masih dipandang wajar mengingat harga pasaran tanah di sekitar obyek gugatan seharga lebih dari Rp. 2.500.000,-/meter, jadi tuntutan Penggugat Rp. 1.000.000,-/Meter X Luas Tanah 917.870 m2 masih wajar di bawah separuh harga pasaran.
22. Bahwa Penggugat berkeinginan dapat menguasai tanah a quo bahkan berkeinginan untuk memiliki sertifikat tanah sehingga jelas dan terjamin kelangsungan atas kepemilikan tanah. Akan tetapi karena perbuatan Tergugat I, bahkan pada saat itu dengan tindakan-tindakan represif mengusir Penggugat, maka hilanglah kesempatan Penggugat untuk menguasai fisik tanah. Bahkan yang terjadi sampai saat ini tanah masih dikuasai oleh Tergugat I.
23. Bahwa saat ini Tergugat I dalam hal ini pengurusnya yakni Paulus Tannos adalah bukan warga negara yang baik, hal ini terbukti saat ini Paulus Tannos masuk dalam DPO Kepolisian Republik Indonesia dan Paulus Tannos buron dan tinggal di luar negeri.
24. Bahwa atas pertimbangan-pertimbangan di atas Penggugat mohon kepada Bapak/Majelis Hakim agar memutuskan tanah sawangan dan bojongsari a quo menyatakan kepemilikannya tanah-tanah a quo
adalah milik Penggugat dan Penggugat berkwalitas untuk diprioritaskan memiliki atas tanah tersebut, maka Penggugat mohon seluruh dokumen sertifikat-sertifikat tanah a quo yang dikuasai Tergugat I dinyatakan dihapuskan dan tidak berkekuatan hukum atau setidak-tidaknya batal demi hukum.
25. Bahwa mengenai prioritas peruntukan tanah bagi Penggugat, Penggugat mendalilkan sebagaimana yang diatur pada Pasal 11 UU Nomor 20 Tahun 1961 Tentang Pencabutan Hak-hak Atas Tanah yang berbunyi: “… maka orang-orang yang semula berhak atasnya diberi prioritas pertama untuk mendapatkan kembali tanah dan/atau benda tersebut”.
26. Bahwa tentu yang dimaksud dengan orang-orang yang semula tersebut adalah Penggugat sebagai para penggarap yang memperoleh hak kepemilikan berdasarkan kekuatan hukum Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria Provinsi Jawa Barat (SK KINAG) tanggal 31 Desember 1964 No. 205D/VIII-54/1964 yang mempunyai dasar hukum Peraturan Pemerintah Nomor : 224 Tahun 1961 Tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah Dan Pemberian Ganti Kerugian .
27. Bahwa selayaknya Penggugat mohon kepada Bapak/Majelis Hakim perkara a quo agar memutuskan perbuatan para Tergugat dinyatakan telah melakukan perbuatan melawan hukum, maka seluruh surat keputusan berikut sertifikat-sertifikat tanah serta surat-surat ijin-ijin/rekomendasi yang muncul di atas tanah a quo patut dinyatakan dihapuskan dan tidak berkekuatan hukum atau setidak-tidaknya dinyatakan telah batal demi hukum.
28. Bahwa Penggugat mohon agar sertifikat tanah yang dikuasai Tergugat I layak dan patut dihapuskan serta dinyatakan tidak berkekuatan hukum atau setidak-tidaknya telah batal demi hukum yang diterbitkan Tergugat II yakni Sertifikat-sertifikat Hak Guna Bangunan sebagaiberikut :
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan
tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
29. Bahwa Perbuatan Melawan Hukum lainnya dari Tergugat I adalah tentang adanya CACAT HUKUM/YURIDIS sebagaimana juga diterangkan di dalam pertimbangan halaman 104-105 putusan PTUN Bandung Nomor : 61/G/2011/PTUN-BDG Tertanggal 22 Februari 2012 yakni CACAT HUKUM/YURIDIS terhadap sertifikasi dari tanah-tanah sebagaiberikut :
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
30. Bahwa penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) sebagai berikut:
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN; Bertentangan dengan peraturan yang berlaku saat penerbitannya yakni dengan Pasal 4 Huruf a Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999 Tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara yang berbunyi bahwa Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya memberi keputusan mengenai : a. Pemberian Hak Guna Bangunan atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 2.000 m2 (Dua Ribu Meter Persegi), kecuali mengenai tanah bekas Hak Guna Usaha.
31. Bahwa penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) sebagai berikut:
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
Bertentangan dengan peraturan yang berlaku saat penerbitannya yakni dengan Pasal 4 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 1972 Tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak atas Tanah, Pasal 4 menyebutkan “Gubernur Kepala Daerah memberi keputusan
mengenai permohonan pemberian, perpanjangan/pembaharuan dan menerima pelepasan hak guna bangunan atas tanah negara kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia yang bukan bermodal asing yang luasnya tidak melebihi 2.000 m2 (Dua Ribu Meter Persegi) demikian juga terhadap Hak Pakai vide Pasal 5 luas tanahnya tidak melebihi 2.000 m2.
32. Bahwa faktanya adalah luas dari tanah-tanah a quo dan sertifikasi Hak atas Tanah a quo ternyata lebih dari 2.000 m2, maka penguasaan hak tanah oleh Tergugat I dan penerbitan sertifikat oleh Tergugat II telah bertentangan dengan Pasal 4 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 1972 Tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak atas Tanahjo. Pasal 4 Huruf a Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999 Tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara yang menegaskan Pemberian Hak Guna Bangunan atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 2.000 m2 (Dua Ribu Meter Persegi).
33. Bahwa karena adanya CACAT HUKUM/YURIDIS sebagaimana juga di dalam pertimbangan halaman 104-105 putusan PTUN Bandung Nomor : 61/G/2011/PTUN-BDG Tertanggal 22 Februari 2012 dengan demikian dapat dikatakan Tergugat I dan Tergugat II telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum, karena Perbuatan Melawan Hukum dari Tergugat I dan Tergugat II berasal dari Perbuatan Melawan Hukum oleh Tergugat III dan Tergugat IV maka dapat dikatakan para Tergugat telah bersama-sama melakukan Perbuatan Melawan Hukum maupun sendiri-sendiri telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum.
34. Bahwa karena Para Tergugat telah bersama-sama melakukan Perbuatan Melawan Hukum maupun sendiri-sendiri telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum maka sertifikat tanah yang CACAT HUKUM/YURIDIS, Penggugat mohon agar Sertifikat Hak Guna Bangunan patut dinyatakan dihapuskan dan tidak berkekuatan hukum atau setidak-tidaknya telah batal demi hukum yang diterbitkan Tergugat II yakni Sertifikat Hak Guna Bangunan sebagaiberikut : - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan
tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
35. Bahwa mengingat Pasal 35 Ayat 1 Huruf b3 dan Huruf d Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah, yakni sebagaiberikut :
Ayat 1 Huruf b3 berbunyi: “ Hak Guna Bangunan hapus karena Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap”
Ayat 1 Huruf d berbunyi: Hak Guna Bangunan hapus karena dicabut berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 1961. 36. Bahwa berdasarkan peraturan di atas, maka pengadilan mempunyai
kewenangan menghapus Hak Guna Bangunan, maka dikarenakan Para Tergugat telah bersama-sama melakukan Perbuatan Melawan
Hukum maupun sendiri-sendiri telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum dan sertifikat tanah yang CACAT HUKUM/YURIDIS, Penggugat mohon agar Sertifikat Hak Guna Bangunan patut dinyatakan dihapuskan dan tidak berkekuatan hukum atau setidak-tidaknya telah batal demi hukum yang diterbitkan Tergugat II dan mohon sertifikat-sertifikat dapat dinyatakan dihapuskan adalah sertifikat-sertifikat sebagaiberikut :
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan
tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
37. Bahwa agar gugatan dari Pengugat tidak illusoir, maka sangat sah dan berharga, Pengugat mohon kepada Bapak/Majelis Hakim perkara a
quo untuk meletakkan sita jaminan (Conservatoir Beslag) sebidang tanah dan seluruh bangunan yang dikuasai Tergugat I yang terletak di atas tanah-tanah berikut sertifikat-sertifikat tanah sebagaiberikut : - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan
tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
38. Bahwa Penggugat mohon agar Bapak memerintahkan Tergugat I untuk mengosongkan/meniadakan segala bangunan/kegiatan di atas tanah dengan sertifikat-sertifikat sebagaiberikut :
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan
tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
39. Bahwa Penggugat mohon agar menyatakan Penggugat yang berhak sebagai Pemilik tanah seluas 917.870 m2 (Sembilan Ratus Tujuh Belas Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Meter Persegi) bekas penghapusan sertifikat-sertifikat sebagaiberikut :
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan
tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
40. Bahwa Penggugat mohon agar memerintahkan Tergugat II untuk mensertifikasi tanah-tanah yang diatasnamakan Penggugat terhadap tanah bekas penghapusan sertifikat-sertifikat sebagaiberikut :
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
41. Bahwa demi menjamin eksekusi tanah yang dikuasai Tergugat I, maka Penggugat mohon agar menghukum Tergugat I dengan Dwangsom (uang paksa) setiap bulan dihitung sebesar Rp. 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah) setiap keterlambatan penyerahan tanah secara sukarela kepada Penggugat dan atau jika Tergugat lalai dan mengingkari untuk melaksanakan Putusan Pengadilan dalam perkara ini yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
42. Bahwa putusan ini Penggugat mohon dapat dijalankan terlebih dahulu (Uitvoerbaar bij Vooraad) meskipun ada perlawanan (verzet), banding atau kasasi.
43. Bahwa mohon agar segala biaya-biaya yang timbul dalam perkara ini ditanggung oleh Tergugat I .
44. Bahwa surat gugatan ini diajukan dengan alasan-alasan yang benar dan sah, maka setelah berjuang lebih dari 40 (Empat Puluh) tahun maka Pengugat mohon agar Bapak/Majelis Hakim perkara a quo dapat menerima dan mengabulkan seluruh isi surat gugatan Pengugat. DALAM PROVISI
45. Bahwa demi terjaminnya obyek gugatan tanah, maka perlu Penggugat mengajukan kepada Bapak/Majelis Hakim perkara a quo berupa gugatan provisional agar obyek gugatan tanah seluas 917.870 m2 (Sembilan Ratus Tujuh Belas Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Meter
Persegi) tidak dialihkan dalam bentuk apapun/dijual oleh Tergugat I kepada pihak lain, adapun obyek gugatan tanah dengan sertifikat-sertifikat sebagaiberikut :
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan
tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN; - Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan
tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
- Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
46. Penggugat mohon kepada Bapak/Majelis Hakim perkara a quo agar melarang Tergugat I supaya tanah-tanah dengan sertifikat-sertifikat di atas tidak dialihkan dalam bentuk apapun/dijual oleh Tergugat I kepada pihak-pihak lain yang dapat merugikan Penggugat, serta Penggugat mohon agar Bapak/Majelis Hakim perkara a quo melarang Tergugat II untuk tidak memperpanjang ijin sertifikasi tanah-tanah di atas. Juga
Penggugat mohon kepada Bapak/Majelis Hakim perkara a quo agar Penggugat diijinkan/diperbolehkan memasang papan pengumuman di atas tanah-tanah a quo yang berbunyi bahwa tanah a quo sedang dalam sengketa di Pengadilan Negeri Depok.
47. Bahwa Penggugat mohon agar menjatuhkan putusan sela diperlukan agar obyek gugatan tidak dialihkan oleh Tergugat I atau pihak-pihak lain. Bahwa berdasarkan uraian dan alasan-alasan yang telah dikemukakan di atas, maka kami mohon kepada yang mulia Bapak Ketua/Majelis Hakim Pengadilan Negeri Depok, berkenan memutuskan perkara perdata dengan putusan sebagaiberikut:
DALAM PROVISI:
Mengabulkan seluruh gugatan provisi penggugat; DALAM POKOK PERKARA:
1. Mengabulkan untuk seluruhnya gugatan Penggugat.
2. Menyatakan bahwa perbuatan Tergugat I dan Tergugat II dan Tergugat III serta Tergugat IV baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum.
3. Menghukum Tergugat I untuk membayar tunai dan segera sejumlah kerugian yang dialami Penggugat berupa kerugian materil sebesar Rp. 1.000.000,-/Meter X Luas Tanah 917.870 m2 = Rp. 917.870.000.000,- (Sembilan Ratus Tujuh Belas Milyar Delapan Ratus Tujuh Puluh Juta Rupiah).
4. Menyatakan Penggugat yang berhak memiliki Tanah seluas 917.870 m2 (Sembilan Ratus Tujuh Belas Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Meter Persegi) yang terdiri dari :
4. 1. Tanah di Kelurahan Sawangan Lama Kota Depok dengan luas 681.075 m2 (Enam Ratus Delapan Puluh Satu Ribu Tujuh Puluh Lima Meter Persegi) serta batas-batas sebagai berikut :
- Batas Sebelah Utara : Setu Sawangan;
- Batas Sebelah Selatan : Jalan Raya Sawangan; - Batas Sebelah Timur : Perumahan Telaga Golf; - Batas Sebelah Barat : Jalan Raya Parung, dan
4. 2. Tanah di Kelurahan Bojongsari Lama Kota Depok dengan luas 236.795 m2 (Dua Ratus Tiga Puluh Enam Ribu Tujuh Ratus Sembilan Puluh Lima Meter Persegi) serta batas-batas sebagaiberikut :
- Batas Sebelah Utara : Kampung Bojongsari; - Batas Sebelah Selatan : Jalan Raya Parung;
- Batas Sebelah Timur : Jalan R. Mahmud Nataatmaja; - Batas Sebelah Barat : Pom Bensin.
5. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan berupa tanah-tanah dengan seluruh bangunan di atasnya beserta sertifikat-sertifikat tanah sebagaiberikut :
1. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
2. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
3. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
4. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
5. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
6. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
7. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
8. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
9. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
6. Menyatakan dihapuskan dan atau tidak berkekuatan hukum atau setidak-tidaknya telah batal demi hukum sertifikat-sertifikat tanah berikut seluruh
surat-surat perijinan di atas tanah dan Sertifikat Hak Guna Bangunan sebagaiberikut:
1. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
2. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
3. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
4. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
5. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
6. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
7. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
8. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
9. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
7. Memerintahkan Tergugat I untuk mengosongkan segala bangunan/kegiatan di atas tanah dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan sebagaiberikut :
1. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
2. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
3. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
4. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
5. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
6. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
7. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
8. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
9. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
8. Menyatakan Penggugat yang berhak sebagai Pemilik tanah seluas 917.870 m2 (Sembilan Ratus Tujuh Belas Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Meter Persegi) bekas penghapusan sertifikat-sertifikat sebagaiberikut :
1. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
2. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
3. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
4. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
5. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
6. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
7. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
8. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
9. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
9. Memerintahkan Tergugat II untuk menerbitkan sertifikat hak milik atau setidak-tidaknya sertifikat hak guna bangunan yang diatasnamakan Penggugat terhadap bekas penghapusan sertifikat-sertifikat sebagaiberikut :
1. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 864/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
2. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 865/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
3. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 863/Ds. Sawangan tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
4. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 013/Ds. Bojongsari tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
5. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 27/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
6. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 29/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
7. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 28/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
8. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 30/Ds. Sawangan tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT. PAKUAN, dan
9. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor : 4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
10. Menghukum Tergugat I untuk membayar dwangsom (uang paksa) setiap bulan dihitung sebesar Rp. 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah) setiap keterlambatan penyerahan tanah secara sukarela kepada Penggugat dan atau jika Tergugat lalai dan mengingkari untuk melaksanakan Putusan Pengadilan dalam perkara ini yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
11. Menyatakan bahwa putusan pengadilan dalam perkara ini dapat dijalankan terlebih dahulu (Uitvoerbaar bij Vooraad) meskipun ada perlawanan (verzet), banding atau kasasi.
12. Menghukum Tergugat I untuk membayar seluruh ongkos atau biaya yang timbul dalam perkara ini.
Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (Ex Aequo Et Bono)
Menimbang, bahwa terhadap gugatan Penggugat tersebut pihak Tergugat I melalui kuasanya telah mengajukan jawaban secara tertulis tertanggal 6 April 2015 pada pokoknya sebagai berikut :
Pada pokoknya PENGGUGAT mempemasalahkan objek tanah milik
TERGUGAT I, yang saat ini dikuasai, dan dipergunakan oleh TERGUGAT I, dan atas objek tanah tersebut telah bersertifikat, dengan jumlah sertifikat sebanyak 9 (sembilan) buah sertifikat yaitu:
1. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 864/Ds. Sawangan, tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 963, tanggal 12 Desember 2003, seluas 503.340 M2 atas nama PT. PAKUAN;
2. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 865/Ds. Sawangan, tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 962, tanggal 12 Desember 2003, seluas 41.055 M2 atas nama PT. PAKUAN;
3. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 863/Ds. Sawangan, tanggal 29 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 964, tanggal 12 Desember 2003, seluas 3.875 M2 atas nama PT. PAKUAN;
4. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 013/Ds. Bojongsari, tanggal 16 Desember 2003, Surat Ukur Nomor 99, tanggal 10 Nopember 2003, seluas 217.760 M2 atas nama PT. PAKUAN;
5. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 27/Ds. Sawangan, tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1023, tanggal 18 Maret 1985, seluas 5.970 M2 atas nama PT. PAKUAN;
6. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 29/Ds. Sawangan, tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1020, tanggal 18 Maret 1985, seluas 75.505 M2 atas nama PT. PAKUAN;
7. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 28/Ds. Sawangan, tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1022, tanggal 18 Maret 1985, seluas 46.370 M2 atas nama PT. PAKUAN;
8. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 30/Ds. Sawangan, tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1021, tanggal 18 Maret 1985, seluas 4.960 M2 atas nama PT, PAKUAN, dan
9. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor: 4/Ds. Bojongsari, tanggal 25 Mei 1985, Gambar Situasi Nomor 1017, tanggal 18 Maret 1985, seluas 19.035 M2 atas nama PT. PAKUAN.
Kesembilan sertifikat itu diterbitkan oleh:
a. TERGUGAT II – Pemerintah Republik Indonesia Cq. Badan Pertanahan Nasional Cq. Kantor Wilayah Bpn Provinsi Jawa Barat Cq. Kantor Pertanahan Kota Depok dan mendapat dukungan dari:
b. TERGUGAT III - Pemerintah Republik Indonesia Cq. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia dan
c. TERGUGAT IV - Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat Cq. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat Cq. Badan Koordinasi Promosi Dan Penanaman Modal Daerah Provinsi Jawa Barat
untuk dan atas nama pemegang hak yaitu TERGUGAT I / PT. PAKUAN. PENGGUGAT mendalilkan bahwa penerbitan sertifikat tersebut tidak berdasarkan hukum, sehingga diajukanlah Gugatan Perwakilan
Kelompok/GPK (class action) ke Pengadilan Negeri Depok dengan Perkara No. 121/PDT-G/2014/PN.DPK, tanggal 17 Juli 2014 dan diberi judul
Perbuatan Melawan Hukum, oleh sekelompok orang yang mengatas namakan:
a. Kelompok Sawangan yang diwakili oleh Asip Johari; b. Kelompok Bojongsari yang diwakili oleh M. Nasir. DALAM EKSEPSI
1. Gugatan Yang Diajukan Penggugat Merupakan Kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara (Eksepsi Kompetensi Absolut).
a. Bahwa PENGGUGAT dalam dalil-dalil gugatannya baik dalam posita maupun petitum mendalilkan jika para TERGUGAT, yaitu TERGUGAT I, TERGUGAT II, TERGUGAT III & TERGUGAT IV telah salah dan melakukan perbuatan melawan hukum karena menerbitkan kesembilan sertifikat atas nama TERGUGAT I, dan untuk itu PENGGUGAT mohon kepada Majelis Hakim untuk membatalkan kesembilan sertifikat itu.
b. Bahwa sertifikat hak atas tanah merupakan Surat Keputusan Tata Usaha Negara, yang mempunyai sifat yaitu konkret, individual dan final.
Pasal 1 ayat (4) dan Pasal 53 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986, tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menyebutkan bahwa :
- Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
- Seseorang atau badan hukum perdata yang merasa dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan yang berwenang* yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan/atau direhabilatasi.
“Pengadilan yang berwenang dalam hal ini adalah Pengadilan Tata Usaha Negara.
c. Bahwa dengan demikian maka gugatan yang diajukan oleh PENGGUGAT mohon untuk ditolak, karena menyangkut Kompetensi Absolut, sebab Pengadilan Negeri Depok tidak berwenang untuk mengadili perkara a quo, namun harus diadili oleh Pengadilan Tata Usaha Negara.
2. Hakim Harus Menolak Memeriksa Gugatan Yang Diajukan Penggugat (Onbevoegdheid van den Rechter)
2.1. Gugatan PENGGUGAT Bukan Merupakan Perwakilan Kelompok (not a class action suit).
a. Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat b, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002, tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok, disebutkan: Gugatan dapat diajukan dengan mempergunakan tata cara Gugatan Perwakilan Kelompok apabila terdapat kesamaan fakta atau peristiwa dan kesamaan dasar hukum yang digunakan yang bersifat substansial, serta terdapat kesamaan jenis tuntutan diantara wakil kelompok dengan anggota kelompoknya;
b. Bahwa berdasarkan Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002, tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok, disebutkan: Selain harus memenuhi persyaratan-persyaratan formal surat gugatan sebagaimana diatur dalam Hukum Acara Perdata yang berlaku, surat gugatan perwakilan kelompok harus memuat :
a) Identitas lengkap dan jelas wakil kelompok;
b) Definisi kelompok secara rinci dan spesifik, walaupun tanpa menyebutkan nama anggota kelompok satu persatu;
c) Keterangan tentang anggota kelompok yang diperlukan dalam kaitan dengan kewajiban melakukan pemberitahuan;
d) Posita dari seluruh kelompok baik wakil kelompok maupun anggota kelompok, yang teridentifikasi maupun tidak teridentifikasi yang dikemukakan secara jelas dan terinci;
e) Dalam suatu gugatan perwakilan, dapat dikelompokkan beberapa bagian kelompok atau sub kelompok, jika tuntutan tidak sama karena sifat dan kerugian yang berbeda;
f) Tuntutan atau petitum tentang ganti rugi harus dikemukakan secara jelas dan rinci memuat usulan tentang mekanisme atau tata cara pendistribusian ganti kerugian kepada keseluruhan anggota kelompok termasuk usulan tentang pembentukan tim atau panel yang membantu memperlancar pendistribusian ganti kerugian.
c. Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat b, dan Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002, tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok, maka PENGGUGAT tidak memenuhi syarat sebagai PENGGUGAT karena:
a) Tidak terdapat kesamaan fakta atau peristiwa dan kesamaan dasar hukum yang digunakan yang bersifat substansial, serta tidak terdapat kesamaan jenis tuntutan diantara wakil kelompok dengan anggota kelompoknya;
b) Para anggota kelompoknya yang mengaku penggarap atas tanah objek sengketa, tidak dapat menunjukkan bukti-bukti kepemilikannya secara rinci dan juga menunjukkan batas-batas di mana letak tanah yang digarapnya, dan faktanya tanah tersebut saat ini secara fisik dipergunakan dan dikuasai oleh TERGUGAT I.
c) Surat Gugatan Perwakilan Kelompok yang diajukan oleh PENGGUGAT tidak memuat :
i. Identitas lengkap dan jelas wakil kelompok; ii. Definisi kelompok secara rinci dan spesifik, iii. Keterangan tentang anggota kelompok yang
diperlukan dalam kaitan dengan kewajiban melakukan pemberitahuan;
iv. Posita dari seluruh kelompok baik wakil kelompok maupun anggota kelompok, yang teridentifikasi maupun tidak teridentifikasi yang dikemukakan secara jelas dan terinci;
v. Pengelompokkan beberapa bagian kelompok atau sub kelompok, padahal setiap penggarap mempunyai kepentingan yang tidak sama dan juga berbeda sifat dan besarnya kerugian; vi. Tuntutan atau petitum tentang ganti rugi yang
diuraikan secara jelas dan rinci memuat usulan tentang mekanisme atau tata cara pendistribusian ganti kerugian kepada keseluruhan anggota kelompok termasuk usulan tentang pembentukan tim atau panel yang membantu memperlancar pendistribusian ganti kerugian.
d. Bahwa dengan dalil-dalil yang telah diuraikan di atas, maka TERGUGAT I mohon kepada Yang Terhormat Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo, untuk menyatakan tidak berwenang memeriksa gugatan yang diajukan PENGGUGAT (onbevoegdheid van den rechter) berdasarkan Tata Cara Perwakilan Kelompok.
2.2. Gugatan PENGGUGAT Tidak Memenuhi Syarat Formal.
a. Bahwa atas objek tanah sengketa terdapat gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung, Register Perkara No. 61/G/2011/PTUN-BDG antara Ida Farida selaku Penggugat melawan Kantor Pertanahan Kota Depok selaku Tergugat dan PT. Pakuan selaku Tergugat II Intervensi, dan telah diputus oleh Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung No. 61/G/2011/PTUN-BDG Tanggal 22 Februari 2012 Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta No. 108/B/2012/PT.TUN.JKT
tanggal 31 Juli 2012 Jo. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 480 K/TUN/2012 tanggal 26 Maret 2013 dan Jo. Putusan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 17 PK/TUN/2014 tanggal 28 Mei 2014;
b. Bahwa dalam putusan Perkara No. 61/G/2011/PTUN-BDG pada halaman 81, Penggugat dalam perkara dimaksud (Ida Farida) menghadirkan 3 (tiga) saksi, yang 2 (dua) diantara saksi adalah Wakil Penggarap Kelompok Sawangan (Asip Johari) dan Kelompok Bojongsari (M. Nasir) atau Penggugat dalam perkara a quo;
c. Bahwa dihubungkan dengan Pasal 2, huruf c, Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Republik Indonesia No. 1 Tahun 2002 tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok, yang berbunyi "Wakil kelompok memiliki kejujuran dan kesungguhan untuk melindungi kepentingan anggota kelompok
yang diwakilinya", sehingga gugatan PENGGUGAT
bertentangan dengan bunyi pasal dimaksud;
d. Bahwa dengan adanya fakta hukum seperti yang disebutkan di atas, membuktikan bahwa atas tanah objek sengketa:
1) PENGGUGAT sudah tidak mempunyai kepemilikan atas objek tanah sengketa karena telah mendukung kepemilikan Penggugat dalam Perkara Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung, yaitu Ida Farida.
2) PENGGUGAT tidak termasuk kriteria Wakil Kelompok yang diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Republik Indonesia No. 1 Tahun 2002 tentang Tata Cara Gugatan Perwakilan Kelompok;
3) Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 11 Tahun 1997 tentang Penertiban Tanah-Tanah Objek Redistribusi Landreform, PENGGUGAT secara penguasaan fisik dan secara pengakuan yuridis sudah tidak berhak mengatasnamakan Penggarap SK KINAG (Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria);
e. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas dihubungkan dengan Pasal 5, Peraturan Mahkamah Agung Republik
Indonesia Republik Indonesia No. 1 Tahun 2002 tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok, PENGGUGAT tidak dapat membuktikan persyaratan formal sesuai dengan gugatan yang diajukannya. Oleh karenanya TERGUGAT I, mohon kepada Yang Terhormat Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo untuk menyatakan Tidak Berwenang Memeriksa Gugatan Yang Diajukan Penggugat (Onbevoegdheid van den Rechter) dan atau setidaknya menyatakan gugatan PENGGUGAT tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard).
3. Apa Yang Digugat/ Diperkarakan Sudah Pernah Diperkarakan (Nebis in Idem).
3.1. Nebis in Idem Dengan Perkara Nomor 173/Pdt.G/2003/PN.CBN a. Bahwa objek tanah sengketa telah pernah diperkarakan yaitu
dengan perkara Nomor: 173/Pdt.G/2003/PN.CBN dengan petitum sebagai berikut:
I. Dalam Putusan Sela.
Bahwa tanah sengketa selama proses persidangan dinyatakan/diletakkan sita jaminan untuk tidak dipindah tangankan/dijaminkan kepada pihak ketiga maupun dilakukan pembangunan fisik sampai perkara ini mempunyai putusan yang mempunyai Kekuatan Hukum Tetap;
- Dalam Pokok Perkara
1. Mengabulkan gugatan Penggugat I dan Penggugat II seluruhnya;
2. Menyatakan sah ahli waris dari Fan Faber adalah: 2.1. Boer Faber;
2.2. WL Samuel De Meyyer; 2.3. WL Gerald Tugo Faber; 2.4. Dirk Yakob Faber; 2.5. J. Forkus;
3. Menyatakan bahwa ahli waris WL Samoel De Meyyer yang sah adalah:
a. Hj. Siti Aminah; b. Siti Kusmirah Faber; c. Hidayat Faber;
4. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan yang diletakkan;
5. Menyatakan bahwa tanah objek sengketa milik Penggugat I dan Penggugat II;
6. Menyatakan bahwa Tergugat telah menguasai tanah milik Penggugat secara melawan hukum dan Pihak lain yang memperoleh manfaat, agar mengembalikannya kepada Penggugat I dan Penggugat II;
7. Menyatakan Turut Tergugat I, Turut Tergugat II dan Turut Tergugat III telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan memberi hak kepemilikan serta menerbitkan sertifikat Hak Pakai dan Hak Guna Bangunan atas nama Tergugat;
8. Memerintahkan kepada Turut Tergugat III dan menyatakan tidak berlaku lagi sertifikat atas nama Tergugat serta pihak lain yang memperoleh manfaat darinya baik langsung maupun tidak langsung tunduk serta mentaati isi putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, sebagaimana daftar sertifikat tersebut di bawah ini:
- Sertifikat H Pakai No.2/Sawangan tanggal 4Juli 1985 Gambar Situasi No 1025 masa berlaku: 20 tahun s/d 4 Juli 2005 luas 503.340 m2;
- Sertifikat H Pakai No.3/Sawangan tanggal 4 Jul1 1985 Gambar Situasi No. 1019 masa berlaku 20 tahun s.d 4 Juli 2005 luas 41.055 m2;
- Sertifikat H Pakai No.4/Sawangan tanggal 4 Juli 1985 Gambar Situasi No. 1024 masa berlaku 20 tahun s/d 4 Juli 2005 luas 38.875 m2;
- Sertifikat H Pakai No.3/Bojongsari tanggal 4 Juli 1985 Gambar Situasi No. 1018 masa berlaku 20 tahun s/d 4 Juli 2005 luas 217.760 m2;
- Sertifikat HGB No.4/Bojongsari tanggal 25 Mei 1985 Gambar Situasi No. 1017 masa berlaku 30 tahun s/d 25 Mei 2015 luas 19.035 m2;
- Sertifikat HGB No.27/Sawangan tanggal 25 Mei 1985 Gambar Situasi No. 1023 masa berlaku 30 tahun s/d 25 Mei 2015 luas 5.970 m2
- Sertifikat HGB No. 29/Sawangan tanggal 25 Mei 1985 Gambar Situasi No. 1021 masa berlaku 30 tahun s/d 25 Mei 2015 luas 75.525 rn2;
- Sertifikat HGB No. 28/Sawangan tanggal 25 Mei 1985 Gambar Situasi No. 1022 masa berlaku 30 tahun s/d 25 Mei 2015 luas 43.370 m2;
- Sertifikat HGB No. 30/Sawangan tanggal 25 Mei 1985 Gambar Situasi No. 1021 masa berlaku 30 tahun s/d 25 Mei 2015 luas 4.960 m2;
Serta menghapus dalam daftar buku tanah diregister Kantor Pertanahan Kota Depok dan menyatakan tanah sengketa demi hukum adalah milik Penggugat Idan Penggugat II;
9. Menyatakan Tergugat, Turut Tergugat I, Turut Tergugat II dan Turut Tergugat III yang telah merugikan Penggugat, untuk memberikan ganti rugi kepada Penggugat secara tanggung renteng sebesar Rp.90.000.000.000,- (sembilan puluh milyar rupiah); 10. Memerintahkan kepada Tergugat untuk membayar
uang paksa (dwangsom) setiap hari sebesar Rp5.000.000,- apabila tidak mengosongkan lokasi dan tidak melaksanakan Keputusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
11. Menghukum Tergugat, Turut Tergugat I, Turut Tergugat II dan Turut Tergugat III membayar biaya perkara;
Subsider:
Mohon keputusan yang seadil-adilnya; Keterangan:
i. Penggugat I adalah Hidayat Faber ii. Penggugat II adalah Ny. Ida Farida iii. Tergugat adalah PT. PAKUAN