BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Tinjauan Medis
A. Kehamilan
1. Definisi
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan
menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester,
dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester
kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga
13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Prawirohardjo, 2014).
Kehamilan merupakan waktu transisi, yakni suatu masa antara
kehidupan sebelum memiliki anak yang sekarang berada dalam
kandungan dan kehidupan nanti setelah anak tersebut lahir (Varney,
2007; h.501).
Lama kehamilan yaitu 280 hari atau 40 pekan (minggu) atau 10
bulan (lunar months). Kehamilan dibagi atas triwulan (trimester): I antara minggu 0 – 12, II antara minggu 12 – 28, dan III antara minggu
2. Proses Kehamilan
a. Ovulasi
Adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh sistem hormonal yang kompleks. Selama masa subur yang
berlangsung 20 sampai 35 tahun, hanya 420 buah ovum yang dapat mengikuti proses pematangan dan terjadi ovulasi. Proses pertumbuhan ovum (oogenesis) asalnya epitel germinal →
oogonium → folikel primer → proses pematangan pertama.
Pengaruh FSH, folikel primer mengalami perubahan menjadi
folikel de Graaf yang menuju ke permukaan ovarium disertai pembentukan cairan folikel menyebabkan penipisan, dan selama itu ovarium mengeluarkan hormon esterogen yang dapat mempengaruhi gerak dari tuba ke ovarium. Pengaruh LH yang semakin besar dan fluktuasi yang mendadak, terjadi proses pelepasan ovum yang disebut ovulasi (Manuaba, 2010; h.75). b. Spermatozoa
Pada setiap hubungan seksual dikeluarkan sekitar 3 cc
sperma yang mengandung 40 sampai 60 juta spermatozoa setiap cc. Bentuknya seperti cebong yaitu memilki kepala, leher dan
c. Konsepsi
Pertemuan inti ovum dengan inti spermatozoa disebut
konsepsi atau fertilisasi dan membentuk zigot. Konsepsi terjadi pada pars ampularis tuba, tempat paling luas yang dindingnya penuh jonjot dan tertutup sel yang mempunyai sillia (Manuaba, 2010; h.77-78).
d. Nidasi atau Implantasi
Setelah pertemua kedua inti ovum dan spermatozoa, terbentuk zigot yang dalam beberapa jam mampu membelah dirinya menjadi dua dan seterusnya. Hasil konsepsi terus berjalan menuju uterus. Pembelahan berjalan terus dan di dalam morula
terbentuk ruangan yang mengandung cairan disebut blastula. Perkembangan dan pertumbuhan berlangsung, blastula dengan
vili korealisnya yang dilapisi sel trofoblas telah siap untuk mengadakan Nidasi (Manuaba, 2010; h.80-82).
e. Pembentukan plasenta
Nidasi atau Implantasi terjadi pada bagian fundus uteri di dinding depan atau belakang. Mendorong sel blastula
mengadakan diferensiasi. Sel yang dekat dengan ruangan
eksoselom membentuk “entoderm” dan yolk sac (kantong kuning
telur) sedangkan sel lain membentuk “ektoderm” dan ruangan
amnion. Awalnya yolk sac berfungsi sebagai pembentuk darah bersama dengan hati, limpa, dan sumsum tulang belakang. Pada
korealis menghancurkan desidua sampai pembuluh darah, sehingga sejak saat itu embrio mendapat nutrisi dari darah ibu secara langsung. Bagian desidua yang dihancurkan membagi
plasenta menjadi sekitar 15 sampai 20 kotiledon maternal dan sekitar 200 kotiledonfetus (Manuaba, 2010; h.82-85).
3. Perubahan Fisiologis Kehamilan
a. Saluran reproduksi
1) Uterus
Selama beberapa minggu pertama, uterus
mempertahankan bentuknya yang mirip buah pir, tetapi seiring
dengan kemajuan kehamilan, korpus dan fundus mengambil bentuk lebih membulat, dan menjadi hampir sferis pada 12 minggu. Kemudian organ ini mengalami peningkatan pesat
dalam ukuran panjangnya daripada lebarnya dan mengambil
bentuk ovoid. Uterus yang terus membesar ini kemudian berkontak dengan dinding anterior abdomen, menggeser usus ke lateral dan superior, dan terus tumbuh sehingga akhirnya mencapai hati (William, 2014; h.113).
Tabel 2.1 Ukuran tinggi fundus uteri (TFU) menurut spiegelberg
Umur kehamilan (minggu) Ukuran (cm)
22 -28 24 – 25
28 26,7
30 29,5 – 30
32 29,5 – 30
34 31
36 32
38 33
40 37,7
Dengan mengetahui tinggi fundus uteri dapat
menentukan taksiran berat badan janin dengan menggunakan
rumus Johnson – Tausak: BB = (mD-12) x 155. Keterangan:
mD adalah tinggi fundus uteri, BB adalah berat badan janin
(Rustam Mochtar, 2012; h.41).
2) Serviks
Satu bulan setelah konsepsi, serviks sudah mulai
mengalami perlunakan dan sianosis mencolok. Terjadi karena
peningaktan vaskularitas dan edema serviks keseluruhan,
disertai oleh hipertrofi dan hiperplasia kelenjar serviks
(Straach, dkk 2005 dalam William, 2014; h.114).
3) Ovarium
Selama kehamilan, ovulasi berhenti dan pematangan
folikel – folikel baru ditunda. Biasanya hanya satu korpus luteum yang ditemukan pada wanita hamil.(William, 2014;
h.114).
4) Tuba uterina
Otot – otot tuba uterina hanya sedikit mengalami
hipertrofi selama kehamilan. Namun, epitel vulva tuba menjadi
agak mendatar (Batukan, dkk.,2007 dalam William, 2014;
h.115).
5) Vagina dan Perineum
Terjadi peningkatan vaskularitas dan hiperemia di kulit
dibawahnya, menyebabkan warna vagina menjadi keunguan
(tanda Chadwick). Ketebalan vulva, melonggarnya jaringan
ikat, dan hipertrofi sel otot polos sehingga terbentuk
gambaran berpaku - paku halus. Sekresi vagina meningkat
berupa cairan putih agak kental. pH berkisar 3,5 sampai 6.
Disebabkan oleh peningkatan produksi asam laktat dari
glikogen di epirel vagina oleh kerja lactobacillus
acidophilus.(William, 2014; h.116).
b. Kulit
Meningkatnya aliran darah ke kulit selama kehamilan
berfungsi untuk mengeluarkan kelebihan panas yang terbentuk
karena meningkatnya metabolisme. Alur – alur kemerahan yang
sedikit cekung di kulit abdomen, payudara dan paha. Disebut
striae gravidarum atau stretch marks. Osman, dkk (2007) melaporkan bahwa 48% mengalami striae gravidarum di perut, 25% di payudara dan 25% di paha. Otot dinding abdomen tidak dapat menahan tegangan yang mengenainya akibat dari itu otot
rektus terpisah di garis tengah, menciptakan suatu diastasis rekti
dengan derajat bervariasi. Hiperpigmentasi, garis tengah pada
abdomen linea alba atau linea nigra (hitam kecoklatan). Muncul bercak – bercak kecoklatan dengan berbagai ukuran di wajah dan
menghilang atau berkurang setelah persalinan (William, 2014;
h.116).
c. Payudara
Pada minggu – minggu awal kehamilan sering merasakan
nyeri payudara. Setelah bulan kedua membesar dan
memperlihatkan vena – vena halus di bawah kulit. Puting menjadi
jauh lebih besar, bewarna lebih gelap dan lebih tegak. Beberapa
bulan pertama pemijatan puting akan mengeluarkan cairan
kuning kental kolostrum. Pada aerola lebih lebar dan lebih gelap, tersebar sejumlah tonjolan kecil kelenjar montgomery. Ukuran payudara yang berubah membesar tidak berkaitan dengan
volume air susu yang dihasilkan (William, 2014; h.116).
d. Perubahan Metabolik
1) Penambahan berat badan
Disebabkan oleh uterus dan isinya, payudara dan peningkatan volume darah serta cairan ekstrasel ekstravaskular. Hytten (1991) melaporkan bahwa
penambahan berat badan selama kehamilan adalah sekitar
12,5 kg (William, 2014; h.117).
2) Metabolisme air.
3) Metabolisme protein.
4) Metabolisme karbohidrat.
5) Metabolisme lemak.
e. Perubahan Hematologis
Setelah 32 sampai 34 minggu kehamilan, hipervolemia yang telah lama diketahui besarnya adalah 40 sampai 45% di atas
volume darah tak hamil. Mulai meningkat pada trimester pertama
minggu ke 12 (William, 2014; h.119).
f. Sistem kardiovaskular
Perubahan pada fungsi jantung mulai tampak selama 8
minggu pertama kehamilan (McLaughlin dan Roberts, 1999
dalam William, 2014. h.123). berkurangnya resistensi vaskular sistemik dan me-ningkatnya kecepatan jantung. Dalam posisi terlentang, tekanan vena femoralis terus meningkat, dari sekitar 8 mmHg menjadi 24 mmHg menjelang aterm membuktikan mengalami hambatan kecuali pada posisi berbaring lateral
(William, 2014; h.123).
g. Saluran pernapasan
Diafragma terangkat sekitar 4 cm selama kehamilan.
Pergerakkannya pun lebih besar dibandingkan tak hamil. Jumlah
oksigen yang diperlukan meningkat. (William, 2014; h.127).
h. Sistem kemih
Ukuran ginjal sedikit meningkat. Clearance kreatinin pada kehamilan rerata sekitar 30% lebih tinggi daripada nilai 100
sampai 115 ml/mnt pada wanita tak hamil (Lindheimer, dkk., 2000
i. Saluran pencernaan
Lambung dan usus tergeser oleh uterus yang terus membesar. Pada wanita hamil tekanan intraesofagus berkurang dan tekanan intralambung meningkat. Peristaltik esofagus
menurun (Ulmsten dan Sundstrom, 1978).
Gusi mengalami hiperemia dan melunak selama kehamilan dan dapat berdarah setelah trauma ringan. Haemoroid terjadi disebabkan konstipasi dan peningkatan tekanan di vena – vena
dibawah uterus yang membesar (William, 2014; h.131). 4. Perubahan Psikologis Kehamilan
Semua emosi yang dirasakan oleh wanita hamil cukup labil. Ia
dapat memiliki reaksi yang ekstrem dan suasana hatinya kerap
berubah dengan cepat. Reaksi emosional dan persepsi mengenai
kehidupan juga dapat mengalami perubahan. Menjadi sangat sensitif
dan cenderung bereaksi berlebihan. Merasa sangat takut akan
kematian baik pada dirinya sendiri dan pada bayinya. Tidak dapat
mengendalikan dirinya sendiri dan cenderung menuntut.
(Varney,2007., h. 501).
Trimester pertama adalah periode penyesuaian atau
penerimaan terhadap kenyataan. 80% mengalami kekecewaan,
penolakan, kecemasan, depresi dan kesedihan. Waktu dimana terjadi
penurunan libido tapi tidak menentukan bahwa wanita hamil trimester
Trimester kedua merasa nyaman dan bebas dari segala
ketidaknyamanan. Lebih banyak bersosialisasi dengan wanita hamil
lainnya, sudah dapat menerima kehamilan, mempersiapkan peran
baru. Mengalami kemajuan untuk berhubungan seksual. Hilang rasa
menuntut kasih sayang namun mencari kasih sayang dari orang
terdekatnya. (Varney,2007., h. 502).
Trimester ketiga disebut periode penantian dengan penuh
kewaspadaan. Wanita mulai menyadari bayi sebagai makhluk
terpisah sehingga ia tidak sabar menanti kehadiran sang bayi.
Fokusnya hanya tentang kelahiran dan bayinya dengan rasa
waspada. Merasakan ketidaknyamanan fisik (Varney,2007., h. 503).
5. Tanda dan Gejala Kehamilan
Menurut Rustam Mochtar (2012 hal: 35) tanda – tanda
kehamilan adalah sebagai berikut :
a. Tanda – tanda presumtif
1) Amenorea (tidak mendapat haid)
Wanita harus mengetahui tanggal hai pertama haid
terakhir (HT) supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan
taksiran tanggal persalinan (TTP), yang dihitung dengan
menggunakan rumus dari naegele.
2) Mual dan muntah (nausea dan vomiting).
Biasanya terjadi pada bulan – bulan pertama kehamiilan.
(sakit pagi). Apabila timbul mual dan muntah berlebihan
karena kehamilan, disebut hyperemesis gravidarum. 3) Mengidam (ingin makan – makanan khusus)
Ibu hamil sering meminta makanan dan minuman
teutama pada bulan – bulan triwulan pertama. Mereka juga
tidak tahan suatu bau – bauan.
4) Pingsan
Jika berada di tempat – tempat ramai yang sesak dan
padat, seorang wanita yang sedang hamil dapat pingsan.
5) Tidak Ada Selera Makan (anoreksia)
Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamilan,
kemudian nafsu makan timbul kembali.
6) Lelah
7) Payudara Membesar, Tegang, dan Sedikit Nyeri
Disebabkan karena pengaruh estrogen dan progesterone
yang merangsang duktus dan alveoli payudara. Kelenjar
Montgomery lebih membesar
8) Sering Miksi
Dikarenakan kandung kemih tertekan oleh rahim yang
membesar. Gejala itu akan hilang pada triwulan kedua
kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala tersebut muncul
9) Konstipasi/Obstipasi
Disebabkan karena tonus otot – otot usus menurun oleh
kadar hormon steroid.
10) Pigmentasi Kulit
Hal ini terjadi karena pengaruh hormon kortikosteroid
plasenta, dijumpai di muka (chloasma gravidarum), areola payudara, leher, dan dinding perut (line nigra).
11) Pemekaran Vena – Vena (varises)
Dapat terjadi pada kaki, betis, dan vulva, hal ini
umumnya dijumpai pada trimester akhir.
b. Tanda Kemungkinan Hamil
1) Perut Membesar
2) Uterus Membesar
Karena terjadi perubahan dalam bentuk, besar, dan
konsistensi rahim.
3) Tanda Hegar
Ditemukan di serviks dan isthmus uteri yang lunak pada
pemeriksaan bimanual saat usia kehamilan 4 sampai 6
minggu.
4) Tanda Chadwick
Perubahan warna menjadi kebiruan yang terlihat di
porsio vagina dan labia. Tanda tersebut timbul akibat
5) Tanda Piskacek
Pembesaran dan pelunakkan rahim ke salah satu sisi
rahim yang berdekatan dengan tuba uterine. Biasanya tanda
ini ditemukan di usia kehamilan 7 sampai 8 minggu.
6) Braxton Hicks.
Kontraksi – kontraksi kecil uterus jika di rangsang.
7) Teraba Ballotement
Fenomena bandul atau pantulan balik. Hal ini dapat
dikenali dengan jalan menekan tubuh janin melalui dinding
abdomen atau tangan pemeriksa. Fenomena bandul jenis ini
disebut ballotment in toto. Jenis lain dari pantulan ini adalah
ballotment kepala yaitu hanya kepala janin yang terdorong dan
memantul kembali ke dinding uterus atau tangan pemeriksa
setelah memindahkan dan menerima tekanan balik cairan
ketuban di dalam kevum uteri
c. Tanda Pasti Hamil
1) Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa juga bagian -
bagian janin
2) Denyut jantung janin yang dibuktikan dengan
a) Didengar dengan stetoskop - Monoaural Laennec
b) Dicatat dan didengar dengan alat Doppler
c) Dicatat dengan feto-elektrokardiogram
d) Dilihat dari ultrasonograf
6. Antenatal Care (ANC)
Pelayanan ANC minimal 5T, meningkat menjadi 7T, dan
sekarang menjadi 12T, sedangkan untuk daerah gondok dan endemik
malaria menjadi 14T, yakni :
a. Timbang berat badan tinggi badan
Tinggi badan ibu dikategorikan adanya resiko apabila hasil
pengukuran < 145 cm. Berat badan ditimbang setiap ibu datang
atau berkunjung untuk mengetahui kenaikan BB dan penurunan
BB.Kenaikan BB ibu hamil normal rata – rataantara 6,5 kg sampai
16 kg (sarwono, 2010).
b. Tekanan Darah
Diukur setiap kali ibu datang atau berkunjung, Deteksi
tekanan darah yang cenderung naik diwaspadai adanya gejala
hipertensi dan preeklamsi. Apabila turun dibawah normal kita
pikirkan kearah anemia. Tekanan darah normal berkisar
systole/diastole : 110/80 – 120/80 mmHg.
c. Pengukuran tinggi fundus uteri
d. Pemberian tablet tambah darah (Tablet Fe)
Untuk memenuhi kebutuhan volume darah pada ibu hamil
dan nifas, karena masa kehamilan kebutuhan meningkat seiring
e. Pemberian imunisasi TT
Untuk melindungi dari tetanus neonatorium. Efek samping
TT yaitu nyeri, kemerah – kemerahan dan bengkak untuk 1 – 2
hari pada tempat penyuntikan.
f. Pemeriksaan Hb
Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan ibu hamil yang
pertama kali, lalu diperiksa lagi menjelang persalinan.
Pemeriksaan Hb adalah salah satu upaya untuk mendeteksi
anemia pada ibu hamil.
g. Pemeriksaan protein urine
Untuk mengetahui adanya protein dalam urine ibu hamil.
Protein urine ini untuk mendeteksi ibu hamil kearah preeklamsi.
h. Pengambilan darah untuk pemeriksaan VDRL
Pemeriksaan Veneral Desease Research Laboratoty (VDRL) untuk mengetahui adanya treponema pallidum/penyakit menular
seksual, antara lain syphilish.
i. Pemeriksaan urine reduksi
Dilakukan pemeriksaan urine reduksi hanya kepada ibu
dengan ibu dengan indikasi penyakit gula/DM atau riwayat
penyakit gula pada keluarga ibu dan suami.
j. Perawatan payudara
Meliputi senam payudara, perawatan payudara, pijat tekan
payudara yang ditunjukkan kepada ibu hamil. Manfaat perawatan
1) Menjaga kebersihan payudara, terutama putting susu
2) Mengencangkan serta memperbaiki bentuk puting susu(pada
putting susu terbenam)
3) Merangsang kelenjar – kelenjar susu sehingga produksi ASI
lancer
4) Mempersiapkan ibu dalam laktasi
B. Persalinan
1. Definisi
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan
pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan
kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif
pada serviks, dan diakhiri dengan Kelahiran plasenta. Penyebab
awitan persalinan spontan tidak diketahui, walaupun sejumlah teori
menarik telah di kembangkan profesional perawatan kesehatan
mengetahui cara menginduksi proses persalinan pada kondisi tertentu
(Varney, 2008:hal 672).
Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan
aman selama persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya
pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan,
hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. Sementara itu, fokus
utamanya adalah mencegah terjadinya kompliksai. Hal ini merupakan
suatu pergeseran pradigma dari sikap menunggu dan menangani
komplikasi menjadi mencegah komplikasi yang mungkin terjadi
2. Tanda-tanda persalinan
a. Tanda-tanda persalinan sudah dekat
1) Lightening
Menjelang minggu ke-36, pada primigravida terjadi
penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu
atas panggul yang disebabkan oleh kontraksi Braxton Hicks, ketegangan dinding perut, ketegangan ligamentum rotundum,
gaya berat janin di mana kepala ke arah bawah. Masuknya
kepala bayi ke pintu atas panggul dirasakan ibu hamil sebagai
terasa ringan di bagian atas, rasa sesaknya berkurang, di
bagian bawah terasa sesak, terjadi kesulitan saat berjalan,
dan sering berkemih. Gambaran lightening pada primigravida
menunjukkan hubungan normal antara ketiga P, yaitu power,
passage dan passanger. Pada multipara gambarannya tidak jelas, karena kepala janin baru masuk pintu atas panggul
menjelang persalinan.
2) His permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi Braxton Hicks terjadi karena perubahan keseimbangan estrogen, progesterone, dan memberikan
kesempatan rangsangan oksitosin. Dengan makin tua usia
kehamilan, pengeluaran estrogen dan progesterone makin
berkurang, sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi
adalah rasa nyeri ringan di bagian bawah, datangnya tidak
teratur, tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa
tanda, durasinya pendek, dan tidak bertambah bila beraktivitas
(Manuaba, 2012).
Tanda-tanda inpartu adalah sebagai berikut yaitu :
a) Rasa nyeri oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering,
dan teratur.
b) Keluar lender bercampur darah (show) yang lebih banyak
karena robekan-robekan kecil pada serviks.
c) Terkadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d) Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan telah
terjadi pembukaan (Rustam, 2012:hal 70).
3. Mekanisme Persalinan Normal
Menurut Manuaba (2012) bahwa proses persalinan normal,
ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu power adalah kekuatan his
yang adekuat dan tambahkan kekuatan mengejan. Passage adalah
jalan lahir tulang, jalan lahir otot. Passanger adalah janin, plasenta,
dan selaput ketuban. Ketiga faktor utama ini sangat menentukan
jalannya persalinan sehingga akan terjadi proses persalinan, spontan
belakang kepala, dan persalinan buatan dengan tambahan tenaga
dari luar seperti induksi persalinan dan persalinan operatif.
Proses persalinan terdiri kala satu persalinan adalah waktu
untuk pembukaan serviks sampai menjadi pembukaan lengkap 10
uterus dengan kekuatan his ditambah dengan kekuatan untuk
mengejan mendorong janin hingga keluar. Kala tiga persalinan adalah
waktu untuk pelepasan dan pengeluaran uri atau plasenta, dan kala
empat persalinan adalah mulai dari lahirnya uri sampai 2 jam
postpartum (Rustam, 2012:hal 71).
4. Tahapan Persalinan
a. Kala I
Kala I adalah pembukaan yang berlangsung antara
pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan His,
kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien
masih dapat berjalan-jalan. Lamanya kala 1 untuk primigravida
berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam.
Berdasarkan kurva friedman, diperhitungkan pembukaan
primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/ jam.
Dengan perhitungan tersebut maka waktu pembukaan lengkap
dapat diperkirakan.( manuaba, 2012; h.173).
b. Kala II
Kala II adalah kala pengusiran. Gejala utama kala 2
(pengusiran) adalah
1) His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan
durasi 50 sampai 100 detik
2) Menjelang akhir kala 1, ketuban pecah dan di tandai dengan
3) Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti
keinginan mengejan, karena tertekannya pleksus
frankenhauser.
4) Kedua kekuatan, his dan mengejan lebih mendorong kepala
bayi sehingga terjadi kepala membuka pintu, suboksiput
bertindak sebagai hipomoglion berturut-turut lahir ubun-ubun
besar, dahi, hidung, muka dan kepala seluruhnya.
5) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar yaitu
penyesuaian kepala terhadap punggung.
6) Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi
ditolong dengan jalan : kepala dipegang pada os oksiput dan
dibawah dagu, ditarik curam kebawah untuk melahirkan bahu
depan, dan curam keatas untuk melahirkan bahu kebelakang,
setelah kedua bahu lahir, ketika dikait untuk melahirkan bahu
belakang, setelah kedua bahu lahir, ketika dikait untuk
melahirkan sisa badan bayi, bayi lahir diikuti oleh sisa air
ketuban.
7) Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida
30 menit (manuaba, 2012; h.173).Pada kala pengeluaran
janin his berkoordinasi, kuat, cepat dan lebih lama, kira-kira
2-3 menit sekali, kapala janin telah turun dan masuk keruang
panggul sehungga terjadilah penekanan pada otot-otot dasar
panggul yang melalui lengkung refleks menimbulkan rasa
mau buang air besar, dengan tanda anus terbuka. Pada waktu
his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, dan
perineum meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin,
akan lahir kepala diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II pada
primi berlangsung selama 1 ½-2 jam, pada multi ½ -1 jam.
(Mochtar, 2012; h. 72-73).
c. Kala III
Kala III adalah (pelepasan uri). Setelah kala II, kontraksi urtus
berhenti sekitar 5 sampai 10 menit. Dengan lahirnya bayi, karena
sifat retraksi otot rahim. Lepasnya plasenta sudah dapat
diperkirakan dengan memerhatikan tanda-tanda : uterus menjadi
bundar, uterus terdorong keatas karena plasenta dilepas
kesegmen bawah rahim, tali pusat bertambah panjang, terjadi
perdarahan. Melahirkan plasenta di lakukan dengan dorongan
ringan secara crede pada fundus uteri.( Manuaba, 2012; h.174).
Pada kala III setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan
fundus uteri setinggi pusat, dan berisi plasenta yang menjadi dua
kali lebih tebal dari sebelumnya. Beberapa saat kemudian, timbul
his pelepasan dan pengeluaran uru. Dalam waktu 5-10 menit,
seluruh plasenta terlepas,terdorong kedalam vagina, dan akan
lahir spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simfisis atau
fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit
setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan
d. Kala IV
Kala IV adalah (observasi). Kala IV dimaksudkan untuk
melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering
terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang dilakukan meliputi
tingkat kesadaran penderita,pemeriksaan tanda-tanda vital
meliputi: tekanan darah, nadi dan pernafasan, kontraksi uterus,
terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal bila
jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc.( Manuaba, 2012;
h.173-174).
Kala IV adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah
bayi lahir dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu, terutama
terhadap bahaya perdarahan postpartum. Lamanya persalinan
pada primi dan multi dapat dilihat pada kotak atas (Mochtar, 2012;
h. 73).
5. Tanda dan Gejala Persalinan
Menurut Manuaba (2010), tanda – tanda permulaan persalinan :
a. Lightening atau settling atau dropping Yaitu kepala turun
memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada
multipara tidak begitu kentara.
b. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uterus turun.
c. Perasaan sering – sering atau susah kencing (polakisuria) karena
d. Perasaan sakit di perut dan di pegang oleh adanya kontraksi.
Kontraksi lemah di uterus, kadang–kadang disebut “traise labor
pains”.
e. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya
bertambah juga bercampur darah (bloody show)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Asuhan Persalinan Normal 58 Langkah
1) Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda kala dua Ibu
mempunyai keinginan untuk meneran
a) Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran
b) Ibu merasakan regangan yang semakin meningkat pada
rectum dan vagina.
c) Perineum tampak menonjol
d) Vulva dan sfingter ani membuka
2) Memastikan perlengkapan, peralatan bahan, dan obat-obatan
esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana
komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk asfiksia tempat datar dan
keras, 2 kain dan 1 handuk bersih dan kering lampu sorot 60 watt
dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.
a) Menggelar kain diatas perut ibu, tempat resusitasi dan ganjal
bahu bayi
b) Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai
didalam partus set.
d) Melepaskan dan simpan semua perhiasan yang dipakai cuci
tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir kemudian
keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang
bersih dan kering.
e) Mamakai sarung tangan DTT untuk melakukan pemeriksaan
dalam.
f) Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan
yang memakai sarung tangan DTT dan steril (pastikan tidak
terjadi kontaminasi pada alat suntik).
g) Membersihkan vulva dan perimeum, menyekanya dengan
hati-hati dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas
atau kasa yang sudah dibasahi air desinfeksi tingkat tinggi.
h) Jika introitus vagina, perineum, atau anus terkontaminasi tinja,
bersihkan dengan seksama dengan cara menyeka dari depan
kebelakang.
i) Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam
wadah yang tersedia
j) Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi,
lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5%
3) Melakukan periksa dalam untuk memastikan pembukan lengkap,
bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap
maka lakukan amniotomi
4) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan
klorin 0,5 % kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan
terbalik dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit. Cuci kedua
tangan setelah sarung tangan dilepaskan.
5) Memeriksa denyut jantung janin ( DJJ ) setelah kontraksi/saat
relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas
normal (120 – 160x/menit.
6) Memberitahu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan
janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman
dan sesuai dengan keinginannya.
a) Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan
pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti
pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan
semua temuan yang ada.
b) Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran
mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu
untuk meneran secara benar.
7) Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. (Bila
ada rasaingin meneran dan terjadi kontarksi yang kuat, bantu ibu
ke posisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan
pastikan ibu merasa nyaman).
8) Melaksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada
dorongan yang kuat untuk meneran :
b) Mendukung dan beri semangat pada saat meneran dan
perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai
c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai
pilihanya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu
yang lama)
d) Menganjurkan ibu ntuk beristirahat di antara konraksi
e) Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk
ibu.
f) Memberikan cukup asupan cairan per-oral (minum)
g) Menilai DJJ setiap kontaksi uterus selesai
h) Melakukan rujukan segera jika bayi belum atau tidak akan
segera lahir setelah 120 menit (2 jam) meneran (primigravida)
atau 60 menit(1 jam) meneran (multigravida).
9) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongok atau mengambil
posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk
meneran dalam 60 menit.
10) Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu
Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 -6 cm.
11) Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong
ibu.
12) Membuka tutup partus set
13) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan
14) Melindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan
diameter 5-6 cm. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk
menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan
ibu untuk meneran perlahan sambil bernapas cepat dan dangkal.
15) Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil
tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan
proses kelahiran bayi.
a) Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat
bagian atas kepala bayi
b) Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua
tempat dan potong di antara dua klem tersebut.
16) Menunggu hingga kepala bayi malakukan putar paksi luar sacara
spontan
17) Menuunggu kepala bayi melakkan putaran paksi luar secara
spontan.
18) Melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparietal. Anjurkan
ibu untuk meneran saat kontraksi.Dengan lembut gerakan kepala
ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah
arkus pubis dan kemudian gerakkan arah atas dan distal untuk
melahirkan bahu belakang.
19) Menggeser tangan yang berada di bawah ke arah perinium ibu
untuk menyangga kepala, lengan dan siku sebelah bawah
gunakan tangan yang berada di atas untuk menelusuri dan
20) Melakukan penelusuran tangan yang berada diatas punggung,
bokong tungkai dan sampai mata kaki. Pegang kedua mata kaki
(masukan telunjuk di antara kaki dan pegang masing- masing
mata kaki dengan ibu jari dan jari- jari lainnya).
21) Melakukan penilian selintas :
a) Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa
kesulitan?
b) Apakah bayi bergerak dengan aktif?
c) Jika bayi tidak menangis, tidak bernapas atau megap-megap
segera lakukan tindakan resusitasi.
22) Mengeringkan dan posisikan bayi di atas perut ibu.
a) Keringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks.
b) Ganti handuk basah dengan handuk yang kering.
23) Pastikan bayi dalam kondisi mantap di atas dada atau perut ibu.
24) Memeriksa kembali perut ibu untuk memastikan tidak ada bayi lain
dalam uterus (janin tunggal).
25) Memberitahukan pada ibu bahwa penolong akan menyuntikan
oksitosin (agar uterus berkontraksi dengan baik).
26) Dalam waktu kurang dari 1 menit setelah bayi lahir, berikan
Menyuntikan oksitosin 10 IU (intramuskuler) di sepertiga paha
atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan
27) Menggunakan klem, jepit tali pusat (dua menit setelah bayi lahir)
pada sekitar 3 cm dari pusar umbilikus) bayi. Dari sisi luar klem
penjepit, dorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan lakukan
penjepitan ke dua pada 2 cm distal dari klem pertama.
28) Memotong dan pengikatan tali pusat
a) Menggunakan satu tangan, angkat tali pusat yang telah dijepit
kemudianlakukan penggunting tali pusat (lindungi perut bayi)
di antara 2 klem tersebut.
b) Mengikat tali pusat dengan benang DTT/steril pada satu sisi
kemudian lingkarkan kembali benang ke sisi berlawanan dan
lakukan ikatan kedua menggunakan simpul kunci.
c) Melepaskan klem dan masukan dalam wadah yang telah
disediakan.
29) Menempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi
30) Meletakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu.luruskan
bahu bayi menempel dengan baik di dinding dada-perut ibu.
Usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan
posisi lebih rendah dari puting payudara ibu
31) Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan kering serta pasang
topi pada kepala bayi.
32) Memindahkankan tali pusat hingga berjarah 5- 10 cm dari vulva.
33) Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas
34) Setelah uterus berkonteraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah
yambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah dorso kranial
secara hati- hati (untuk mencegah terjadinya inversio uteri).
35) Jika plasenta tidak lahir setelah 30- 40 detik, hentikan
penegangan tali pusat dan tinggu sampai ada konteraksi
berikutnya dan ulangi prosedur diatas. Jika uterus tidak segera
berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk
melakukan stimulasi putting susu.
36) Melakukan penegangan dan dorso-kranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali puat
dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti
poros jalan lahir (tetap melakukan dorso kranial).
a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
berjarak 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
b) Jika plasenta tidak lepas selama 15 menit menegangkan tali
pusat:
(1) Memberikan dosis ulang oksitosin 10 IU IM
(2) Melakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih
penuh
(3) Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
(4) Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya
(5) Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30
menit setelah bayi lahir
37) Melihat plasenta di introitus vagina lanjutkan kelahiran plasenta
dengan menggunakan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta
hingga selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan
plasenta pada wadah yang telah disediakan. Jika selaput ketuban
robek, pakai handscoon steril untuk melakukan eksploraasi sisa
selaput kemudian gunakan jari- jari tangan atau klem untuk
mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
38) Segera setelah plsenta dan selaput ketuban lahir, lakukan
massase uterus dengan meletakan telapak tangan di fundus dan
lakukan masase dengan gerakan secara lambat hingga uterus
berkonteraksi (fundus teraba keras). Melakukan tindakan yang
diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik
melakukan rangsangan taktil/masase.
39) Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian fetal maupun maternal
dan pastikan bahwa selaput lengkap dan utuh. Masukkan
plasenta ke dalam kantung plastic atau tempat khusus.
40) Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. Bila
ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan
penjahitan.
41) Memastikan uterus berkonteraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
42) Berikan cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu-bayi (di
a) Melakukan inisiasi menyusui dini dalam waktu 30-60 menit.
Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit.
Bayi cukup menyusu dari satu payudara
b) Membiarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walau bayi
sudah berhasil menyusu.
43) Melakukan penimbangan/ pengukuran bayi, beri tetes mata
antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1mg intramuscular di paha kiri
anterolateral setelah satu jam kontak kulit ibu –bayi.
44) Memberikan suntikan imunisasi hepatitis B (setelah satu jam
pemberian Vitamin K1) di paha kanan anterolateral.
45) Meletakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa
disusukan.
46) Meletakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil
menyusu di dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi
berhasil menyusu.
47) Melakukan pemantauan kotraksi dan pencegahan perdarahan
pervaginam:
a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.
b) 15 menit pada 1 jam pertama.
c) 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan.
d) melakukan asuhan yang sesuai untuk penatalaksanaan atonia
uteri jika uterus tidak berkonteraksi dengan baik.
48) Menganjurkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan
49) Mengevaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
50) Memeriksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung kemih ibu
setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada jam
ke dua pasca persalinan.
a) Memeriksa temperatur ibu sekali setiap jam selama 2 jam
pertama pasca persalinan.
b) Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak
normal.
51) Memeriksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi
bernafas dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal
(36,5°C – 37,5°C).
52) Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
0,5% untuk dekontaminasi selama 10 menit. Cuci dan bilas
peralatan yang telah didekontaminasi.
53) Membuang bahan- bahan yang terkontaminasi ketempat sampah
yang sesuai.
54) Membersihkan badan ibu menggunkan air DTT. Bersihkan sisa
cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian
yang bersih dan kering.
55) Memastikan ibu merasa nyaman, Bantu ibu memberikan ASI.
Anjurkan keluarga untuk memberi minuman dan makanan yang
diinginkannya.
57) Mencelupkankan handscoon kotor kedalam larutan klorin 0,5%
balikan bagian dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit.Mencuci kedua tangan dengan sabun dan
air mengalir kemudian keringkan dengan handuk atau tisu kering.
58) Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa
tanda vital dan asuhan kala IV ( JNPK-KR, 2008; hal : 18-23).
7. Partograf
Asuhan kebidanan persalinan dengan partograf menurut Ari
(2010;h.76-79).
Partograf merupakan alat bantu yang digunakan untuk
memantau kemajuan kala 1 persalinan dan informasi untuk membuat
keputusan klinik.
a. Fungsi partograf
1) Mengamati dan mencatat informasi kemajuan persalinan
dengan memeriksa dilatasi serviks selama pemeriksaan
dalam.
2) Mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan adanya
penyulit persalinan sehingga sehingga bidan dapat membuat
keputusn dengan tepat.
3) Sebagai alat komunikasi yang unik namun praktis antara
bidan atau antara bidan dengan dokter mengenai perjalanan
4) Alat dokumintasi riwayat persalinan pasien beserta data
pemberian medikamentosa yang diberikan selama proses
persalinan.
b. Kriteria pasien yang dapat dipantau dipantau mengguanakan
patograf
1) Persalinan diperkirakan spontan.
2) Janin tunggal
3) Usia kehamilan 36-42 minggu
4) Presentasi kepala
5) Tidak ada penyulit persalinan.
6) Persalinan sudah masuk panggul dalam kala 1 fase aktif.
c. Kriteria pasien yang tidak perlu dipantau menggunakan partograf
1) Tinggi badan pasien kurang dari 145cm
2) Ada perdarahan antepartum
3) Mengalami pre-eklamsi atau eklamsi
4) Anemia
5) Adanya kelainan letak janin presentasi prematur
6) Adanya induksi persalinan
7) Gemeli
8) Adanya rencana persalinan SC, misalnya sudah diketahui
panggul sempit DKP.
Bagian bagian partograf merupakan grafik yang di isi
berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan selama kala 1
a) Kemajuan persalinan
(1). Pembukaan serviks
(2). Penurunan kepala janin
(3). Kontraksi uterus
b) Keadaan janin
(1). Djj
(2). Warna dan jumlah air ketuban
(3). Molase tulang kepala janin
c) Keadaan ibu
(1). Nadi tekanan darah dan suhu,
(2). Urine : volume dan protein
(3). Obat-obatan dan cairan IV.
d. Cara pengisian partograf
1) Halaman depan
a) Bagian identitas pasien dan keterangan waktu
b) Barisan untuk menuliskan waktu
c) Grafik Djj
d) Hasil pemeriksaan Djj yang dihitung selama 1 menit penuh
di tuliskan dalam grafik ini dalam bentuk nokta (titik yang
agak besar).
e) Baris hasil pemeriksaan air ketuban
f) Setiap melakukan pemeriksaan, hasil apapun harus
U: utuh
J : jernih
M : mekonium
D : darah
K : kering
g) Hasil di tuliskan sesuai di kolom sesuai jam pemeriksaan.
h) Baris hasil pemeriksaan untuk molase kepala
janin/penyusupan
Cara menuliskannya :
0 : sutura terpisah
1 : sutura (pertemuan dua tulang tengkorak) bersesuaian.
2 : sutura tumpang tindih tapi dapat diperbaiki.
3 : sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki.
i) Garis waspada dan garis bertindak.
j) Grafik hasil pemeriksaan dalam
k) Grafik hasil pemeriksaan penurunan kepala.
l) Grafik hasil observasi kontraksi.
m) Baris keterangan pemberian oksitosin.
n) Baris keterangan pemberian cairan iv dan obat.
o) Grafik hasil pemeriksaan tekanan darah dan nadi.
p) Baris hasil pemeriksaan suhu.
2) Halaman belakang
Pengisian partograf halaman belakang dilakukan setelah
seluruh proses persalinan selesai. Unsur-unsur yang dicatat
dalam bagian ini adalah :
a) Data Dasar
(1) Isikan data pada masing-masing tempat yang
disediakan atau dengan memberikan tanda centang
pada kotak di samping jawaban yang sesuai
(2) Untuk pertanyaan nomer 5 lingkari jawaban yang
sesuai.
(3) Untuk pertanyaan nomer 8 jawaban bisa lebih dari
satu.
b) Kala 1
Bagian kala 1 pada partograf halaman belakang
terdiri atas pertanyaan–pertanyaan partograf saat melewati
garis waspada., masalah lain yang mungkin timbul,
penatalaksanaan masalah dan hasilnya.
c) Kala II
Data yang harus di isi pada kala II terdiri dari tindakan
keterangan tindakan episiotomi, pendampingan persalinan,
gawat janin, distosia bahu, masalah lain, serta
d) Kala III
Data untuk kala III terdiri dari lamanya kala III,
pemberian oksitosin, peregangan tali pusat terkendali,
rangsangan pada fundus,kelengkapan plasenta saat
dilahirkan, retensi plasenta yang > 30 menit, laserasi,
atonia uterus, jumlah perdarahan, masalah lain, serta
penatalaksanaan dan hasilnya.
e) Bayi Baru Lahir
Informasi yang perlu dicatat dalam bagian ini antara
lain berat, jenis kelamin, penilaian BBL, pemberian ASI,
masalah lain, serta penatalaksanaannya dan hasilnya.
f) Kala IV
Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi,
temperatur, TFU, kontraksi uterus, kandug kemih dan
perdarahan.
8. Asuhan Persalinan
a. Asuhan pada kala I dengan asuhan sayang ibu menurut Saefudin
(2011) yaitu :
(1) Bantulah ibu dalam proses persalinan jika ia tampak gelisah,
ketakutan, dan kesakitan dengan memberikan dukungan,
informasi mengenai kemajuan persalinan dan mendengarkan
keluhannya.
(2) Lakukan dukungan jika ibu merasa kesakitan dengan merubah
suami atau keluarganya menemani ibu dan memijat atau
menggosok punggung ibu, ajarkan teknik bernafas ( dengan
tarik nafas panjang dan menghembuskan udara ke luar).
b. Kala II ( Kala pengeluaran Janin )
Asuhan pada kala II menurut Saefudin (2011) yaitu :
1) Memberikan dukungan dan mendampingi ibu untuk
mengurangi kecemasan dan ketakutan ibu
2) Menawarkan minum, mengipasi dan memijit ibu
3) Mengatur posisi dalam mengedan sesuai yang diinginkan ibu
C. Bayi Baru Lahir
1. Definisi
Sarwono (2005) dalam Sondakh (2013; h. 150 ) mengatakan
Bayi baru lahir normal adalah bayi yan lahir pada usia kehamilan 37–
42 minggu dengan berat badan lahir antara 2500 – 4000 gram.
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang cukup bulan, 37–42
minggu dengan berat badan sekitar 2500–4000 gram dan panjang
sekitar 50 – 55 cm. (Sondakh, 2013; h. 150).
2. Kriteria bayi baru lahir
Menurut Sondakh (2013; h. 150) kriteria bayi baru lahir adalah
sebagai berikut :
a. Berat badan lahir bayi antara 2500–4000 gram.
b. Panjang badan bayi 48–50 cm.
c. Lingkar dada bayi 32–34 cm.
e. Munyi jantung dalam menit pertama + 180 kali/ menit, kemudian
turun sampai 140–120 kali/ menit pada saat bayi berumur 30
menit.
f. Bernafas cepat pada menit–menit pertama kira–kira 80 kali / menit
disertai pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan
interkostal, serta rintihan hanya berlangsung 10–15 menit.
g. Kulit kemerah–merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
terbentuk dan dilapisi verniks kaseosa.
h. Rambut lanugo telah hilang, rambut kepala tumbuh baik.
i. Kuku telah agak panjang dan lemas.
j. Genetalia: testis sudah turun (pada bayi laki–laki)dan labia mayora
telah menutupi labia minora (pada bayi perempuan).
k. Reflek isap, menelan, dan moro telah terbentuk.
l. Eliminasi, urin, dan mekonium, normalnya keluar pada 24 jam
pertama. Mekonium memiliki karakteristik hitam kehijauan dan
lengket.
3. Adaptasi fisiologis BBL terhadap kehidupan diluar uterus
Menurut Sondakh (2013;h.150-157) adaptasi fisiologis pada bayi
baru lahir terhadap kehidupan diluar uterus antara lain :
a. Adaptasi pernafasan
1) Pernafasan awal dipicu oleh faktor fisik,sensorik, dan kimia.
a) Faktor – faktor fisik meliputi : usaha yang diperlukan
yang kolaps (misalnya: perubahan dalam gradien
tekanan).
b) Faktor – faktor sensorik, meliputi suhu, bunyi, cahaya,
suara, dan penurunan suhu.
c) Faktor – faktor kimia,meliputi : perubahan didalam darah
(misalnya: penurunan kadar oksigen, peningkatan kadar
dioksida, dan penurunan Ph).
2) Frekuensi pernafasan bayi baru lahir berkisar 30 – 60 kali
/menit.
3) Sekresi lendir mulut dapat menyebabkan bayi batuk dan
muntah, terutama selama 12 – 18 jam pertama.
4) Bayi baru lahir lazimnya bernafas melalui hidung.
b. Adaptasi kardiovaskular
1) Berbagai perubahan anatomi berlangsung setelah lahir.
2) Sirkulasi perifer lambat, yaitu menyebabkan akrosianosis
(pada tangan, kaki, dan sekitar mulut).
3) Denyut nadi berkisar 120 – 160 kali / menit saat bangun dan
100 kali/ menit saat tidur.
c. Adaptasi Neurologis
1) Sistem neurologis bayi secara anatomik atau fisiologis belum
berkembang sempurna.
2) Bayi baru lahir menunjukkan gerakkan–gerakkan tidak
terkoordinasi, pengaturan suhu yang stabil, kontrol otot yang
3) Perkembangan neonatus terjadi cepat. Saat bayi tumbuh,
perilaku yang lebih komplek (misalnya : kontrol kepala,
tersenyum, dan meraih dengan tujuan).
4) Reflek bayi baru lahir merupakan indikator penting
perkembangan normal.
Tabel 2.2 Reflek Bayi
Reflek Respons Normal Respon Abnormal
Rooting dan Menghisap
Bayi baru lahir menolehkan arah ke stimulus, membuka mulut, dan mulai menghisap bila pipi, bibir, atau sudut mulut bayi disentuh dengan jari atau puting.
Respon yang lemah atau tidak ada respons terjadi pada prematurisme, penurunan, atau cedera neurologis , atau depresi sistem saraf pusat (SSP).
Menelan Bayi baru lahir menelan berkoordinasi dengan menghisap bila cairan ditaruh dibelakang lidah.
Muntah, batu, atau regurgitasi cairan terjadi; kemungkinan berhubungan dengan sianosis sekunder karena prematuritas, defisit neorologis, atau cedera; terutama terlihat setelah laringoskopi.
Ekstrusi Bayi baru lahir menjulurkan lidah keluar bila ujung lidah disentuh dengan jari atau puting.
Ekstrusi lidah, secara kontinu atau menjalurkan lidah yang berulang-ulang terjadi pada kelainan SSP dan kejang.
Moro Ekstensi simetris bilateral dan abduksi seluruh ekstremitas, dengan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf „c‟, diikuti dengan aduksi ekstremitas dan kembali ke fleksi relaks jika posisi bayi diletakkan terlentang pada permukaan yang datar.
Respons asimetris terlihat pada cedera saraf perifer (pleksus brakialis) atau flaktur klavikula atau fraktur tulang panjang lengan atau kaki.
Melangkah Bayi akan melangkah dengan satu kaki dan kemudian kaki lainnya dengan gerakan berjalan bila satu kaki disentuh pada permukaan rata.
Respons asimetris terlihat pada cedera saraf SSP dan gangguan neurologis.
Merangkak Bayi akan berusaha untuk merangkak ke depan dengan kedua tangan dan kaki bila diletakan telungkup pada permukaan datar.
Respons asimetris terlihat pada cedera saraf SSP dan gangguan neurologis.
Tonik Leher atau Fencing
Ekstremitas pada satu sisi di mana saat kepala ditolehkan akan ekstensi, dan ekstremitas yang berlawanan akan fleksi bila kepala bayi ditolehkan ke satu sisi selagi beristirahat.
Respons persisten setelah bulan keempat dapat menandakan cedera neurologis. Respons menempak pada cedera SSP dan gangguan neurologis.
Terkejut Bayi melakukab abduksi dan fleksi seluruh ekstremitas dan dapat dimulai menangis bila mendapat gerakan mendadak atau suara keras.
Ekstensi silang Kaki bayi yang berlawanan akan fleksi dan kemudian ekstensi dengan cepat seolah-olah berusaha memindahkan stimulus ke kaki yang lain bila diletakan terlentang; bayi akan mengektensikan satu kaki sebagai respons terhadap stimulus pada telapak kaki.
Respons yang lemah atau tidak ada respons yang terlihat pada cedera saraf parifer atau fraktur tulang panjang.
Glabellar “Blink” Bayi akan berkedip bila dilakukan 4 atau 5 ketuk pertama pada batang hidung saat mata terbuka.
Terus berkedip dan gagal untuk berkedip menandakan kemungkinan gangguan neurologis
Palmar Grasp Jari bayi akan melekuk di sekeliling benda dan menggenggamnya seketika bila jari diletakan di tangan bayi.
Respons ini berkurang pada prematuritas. Asimetris terjadi pada kerusakan saraf perifer (pleksus brakialis) atau fraktur humerus. Tidak ada respons yang terjadi pada defisit neurologis yang berat.
Plantar Grasp Jari bayi akan melekuk di sekeliling benda seketika bila jari diletakan di telapak kaki ibu.
Respons yang berkurang terjadi pada prematuritas. Tidak ada respons yang terjadi pada defisit neurologis yang berat.
Tanda Babinski Jari-jari kaki bayi akan hiperesktensi dan terpisah seperti kipas dari dorsofleksi ibu jari dan kaki bila satu sisi kaki digosok dari tumit ke atas
kehidupan ekstrauterin pada kehamilan 36–38 minggu.
2) Perkembangan otot dan reflek yang penting untuk
menghantarkan makanan sudah terbentuk saat lahir.
3) Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai,
pencernaan dan absorpsi lemak kurang baik karena tidak
adekuatnya enzim – enzim penkreas dan lipase.
4) Kelenjar saliva imatur saat lahir, sedikit saliva diolah sampai
bayi berusia 3 bulan.
5) Pengeluaran mekonium, yaitu fases berwarna hitam
diekskresikan dalam 24 jam pada 90 % bayi baru lahir yang
normal.
6) Beberapa bayi baru lahir menyusu segera bila diletakkan
dipayudara, sebagian lainya memerlukan 48 jam untuk
menyusui secara efektif.
7) Gerakkan tangan acak kemulut dan mengisap jari telah
diamati didalam uterus, tindakan – tindakkan ini berkembang
baik pada saat lahir dan diperkuat dengan rasa lapar.
e. Adaptasi imun
1) Bayi baru lahir tidak dapat membatasi organisme penyerang
dipintu masuk.
2) Imaturisas jumlah sistem perlindungan secara singnifikan
menikatkan risiko infeksi pada bayi baru lahir.
3) Infeks merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas
selama preode neonatus.
4. Perubahan termogulasi dan metabolik
a. Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat karena
lingkungan eksternal lebih dingin dari pada lingkungan pada
uterus.
b. Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit
yang besar dibandingkan dengan berat badan menyebabkan bayi
mudah menghatarkan panas pada lingkungan.
c. Kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin
d. Trauma dingin (hipotermi) pada bayi baru lahir dalam
hubungannya dengan asidosis metabolik dapat bersifat
mematikan, bahkan pada bayi cukup bulan yang sehat (Sondakh,
2013;h.150).
5. Perlindungan termal (termoregulasi)
a. Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antar kulit
bayi dengan kulit ibu.
b. Gantilah handuk atau kain yang basah dan bungkus bayi tersebut
dengan selimut, serta jangan lupa memastikan bahwa kepala
telah terlindungi dengan baik untuk mencegah keluarnya panas
tubuh. Pastikan bayi tetap hangat (Sondakh,2013;h.157)
6. Kunjungan bayi baru lahir
Kunjungan neonatus (KN) menurut profil kesehatan Indonesia
2014;h.110) dilakukan sejak bayi usia satu hari sampai usia 28 hari
yaitu:
a. KN 1 dilakukan pada umur 6-48 jam
Tindakan yang dilakukan antara lain jaga kehangatan bayi,
memberikn ASI eksklusif, penceghan infeksi, merawat tali pusat,
berikan imunisasi Hb 0
b. KN 2 dilakukan pada umur 3-7 hari
Tindakan yang dilakukan antara lain menjaga tali pusat dalam
keadaann kering dan bersih, memberikan ASI eksklusif, menjaga
suhu tubuh bayi, pemeriksaan tanda bahaya, konseling ASI
c. KN 3 dilakukanpada umur 8-28 hari
Tindakan yang dilakukan yaitu sama dngn kunjungan pada mur
3-7 hari hanyaa ditambahkanpemberian iimuunisasi BCG.
Menurut Sondakh (2013;h.157) perawatan bayi baru lahir adalah:
a) Pertolongan pada saat bayi baru lahir :
(1) Sambil menilai pernafasan secara cepat, letakan bayi dengan
handuk di atas perut ibu.
(2) Dengan kain yang bersih daan kering atau kasa, bersihkan
darah atau lendir dari wajah bayi agar jalan udara tidak
terhalang. Periksa ulang pernafasan bayi, sebagian besar bayi
akan menangis atau bernafas secara spontan dalam waktu 30
detik setelah lahir.
b) Perawatan Mata
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan
untuk pencegahan penyakit mata akibat klamidia (penyakit
menular seksual). Obat perlu diberikan pada jam pertama setelah
persalinan. Pengobatan yang umumnya dipakai adalah larutan
perak nitra atau neosporin yang langsung diteteskan pada mata
bayi segera setelah bayi lahir.
c) Pemeriksaan Fisik Bayi
(1) Kepala; pemeriksaan terhadap ukuran, bentuk, satura
menutup/melebar, adanya caput succedenum, cepal
(2) Mata; pemeriksaan terhadap perdarahan, subkonjungtiva,
tanda-tanda infeksi (pus).
(3) Hidung dan mulut; pemeriksaan terhadap labio skisis,
labiopalatokskisis, dan reflek isap (dinilai dengan mengamati
bayi saat menyusu).
(4) Telinga; pemeriksaan terhadap preaurical tog, kelainan
daun/bentuk telinga.
(5) Leher; pemeriksaan terhadap hematom
sternocleidomastoideus, ductus thyroglossalis, hygroma colli.
(6) Dada; pemeriksaan terhadap bentuk, pembesaran buah dada,
pernafasan, retraksi intercostal, subcostal sifoid, merintih,
pernafasan cuping hidung, serta bunyi paru-paru (sonor,
vesikular, bronkial, dan lain-lain).
(7) Jantung; pemeriksaan terhadap pulsasi, frekuensi bunyi
jantung, kelainan bunyi jantung.
(8) Abdomen; pemeriksaan terhadap membuncit (pembesaran
hati, limpa, tumor aster), scaphoid (kemungkinan bayi
menderita diafragmatika/atresia asofagus tanpa fistula).
(9) Tali pusat; pemeriksan terhadap perdarahan, jumlah darah
pada tali pusat, warna dan besar tali pusat, hernia di tali pusat
atau di selangkangan.
(10) Alat kelamin; pemeriksaan terhadap tektis apakah berada
laki-laki), vagina berlubang, apakah labia mayora menutup labia
minora (pada bayi perempuan).
(11) Lain-lain; mekonium harus keluar dari 24 jam sesudah lahir,
bila tidak, harus waspada terhadap atresia ani atau obstruksi
usus. Selain itu, urin juga harus keluar dalam 24 jam.
Kadang pengeluaran urin tidak diketahui karena pada saat
bayi lahir, urin keluar bercampur dengan air ketuban. Bila
urin tidak keluar dalam 24 jam, maka harus diperhatikan
kemungkinan adanya obstruksi saluran kemih (Sondakh,
2013).
7. Komplikasi pada Bayi Baru Lahir
Menurut Manuaba (2013;h.432–435) komplikasi pada bayi baru
lahir antara lain :
a) Kelainan Kongenital
Kelainan kongenital merupakan kelainan pertumbuhan
struktur organ janin sejak saat pembuhan. Kelainan kongenital
merupakan penyebab terjadinya keguguran, lahir mati atau
kematian setelah persalinan pada minggu pertama. Kejadian
kelainan kongenital sekitar 0,2 % sampai 0,4 % dari seluruh
persalinan.
b) Infeksi Neonatorum
Penyakit infeksi ini dapat terjadi melalui : infeksi antenatal
saat berlangsungnya persalinan),infeksi postnatal (terjadi setelah
bayi berada diluar kandungan).
Gejala klinik infeksi neonatorum antara lain : malas minum,
bayi tertidur, tampak gelisah, pernafasan cepat, berat badan cepat
menurun, terjadi diare dengan segala manifestasinya, panas
badan bervariasi dapat meningkat menurun atau dalam batas
normal, pergerakkan makin menurun, dan pada pemeriksaan
mungkin dijumpai : bayi berwarna kuning, pembesaran hati dan
limpa (hepatosplenoggemali), purpura (bercak darah dibawah
kulit), dan kejang–kejang.
c) Aspirasi Pneumonia
Aspirasi pneumonia menyebabkan kematian terutama bayi
dengan berat badan lahir rendah karena reflek menelan dan batuk
yang belum sempurna. Gejala penyakit ini mungkin tidak khas
tetapi perlu dicurigai bila menghadapi bayi dengan gejala sering
tidur (latargi), berat badan cepat turun, kurang minum, dan terjadi
serangan apnea.
d) Diare
Diare merupakan penyakit yang ditakuti masyarakat karena
dengan cepat dapat menimbulkan keadaan gawat dan diikuti
kematian yang tinggi. Bayi yang baru lahir sudah disiapkan untuk
dapat berlangsung minum kolostrum yang banyak mengandung
e) Tetanus Neonaturum
Masuknya kuman tetanus klostridium tetani sebagaian besar
melalui tali pusat. Masa inkubasinya sekitar 3-10 hari. Tetanaus
neonaturum menyebabkan kerusakan pada pusat motoric,
jaringan otak, pusat pernafsan, dan jantung (Manuaba,
2014;h.434).
Gambaran klinik Tetanus Neonaturum Menurut Manuaba
(2014:h.435) antara lain :
(1) Kejang–kejang sampai pada otot pernafasan
(2) Leher kaku diikuti spasme umum
(3) Dinding abdomen keras
(4) Mulut mencucu seperti mulut ikan
(5) Angka kematian yang tinggi disebabkan oleh aspirasi
pneumonia dan sepsis.
f) Ikterus Neonaturum
Ikterus atau warna kuning sering dijumpai pada bayi baru
lahir dalam batas normal pada hari kedua sampai hari ketiga
dalam menghilang pada hari kesepuluh. Kernikterus adalah
akumulasi bilirubin dalam jaringan otak sehingga dapat
mengganggu fungsi otak dan menimbulkan gejala klinis sesuai
akumulasi tersebut (Manuaba, 2014;h.435).
Gambaran klinik kernikterus Menurut Manuaba (2014:h.435)
(1) Mata berputar.
(2) Tertidur kesadaran menurun.
(3) Sukar menghisap.
(4) Tonus otot meninggi.
(5) Leher kaku.
(6) Akhirnya kaku seluruh tubuh
(7) Pada kehidupan lebih lanjut ada kemungkinan terjadi spasme
otot dan kekakuan otot seluruhnya
(8) Kejang–kejang
(9) Tuli
(10) Kemunduran mental
D. Nifas
1. Definisi
Masa nifas (puerperinium) adalah masa setelah plasenta lahir
dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira–kira 6 minggu
(Saleha, 2009;h.2).
Masa nifas (puerperinium), berasal dari bahasa latin, yaitu puer
yang artinya bayi dan parous yang artinya melahirkan atau berarti
masa sesudah melahirkan (Saleha, 2009;h.4).
Dalam buku Varney (2008;h.958) mengatakan periode
pascapartum adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin
reproduksi wanita pada konsdisi tidak hamil. Periode pemulihan
pascapartum berlangsung sekitar enam minggu.
2. Kunjungan Masa Nifas
a. Asuhan Kebidanan Masa Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan
kesehatan pada ibu nifas sesuai standar, yang dilakukan
sekurang-kurangnya tiga kali sesuai jadwal yang dianjurkan, yaitu
1) enam jam sampai dengan tiga hari pasca persalinan,
2) pada hari ke empat sampai dengan hari ke-28 pasca
persalinan, dan
3) pada hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 pasca persalinan.
Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan terdiri
dari:
1) Pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan
suhu);
2) Pemeriksaan tinggi puncak rahim (fundus uteri);
3) Pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain;
4) Pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif;
5) Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE)
kesehatan ibu nifas dan bayi baru lahir, termasuk keluarga
berencana;
6) Pelayanan keluarga berencana pasca persalinan (Profil
3. Peran bidan pada masa nifas
a. Memberikan dukungan yang terus menerus selama masa nifas
baik dan sesuai dengan kebutuhan ibu agar mengurangi
ketegangan fisik dan psikososial selama persalinan dan nifas.
b. Sebagai promotor hubungan yang erat antara ibu dan bayi secara
fisik dan psikologis.
c. Mengondisikan ibu untuk menyusui bayinya dengan cara
meningkatkan rasa nyaman (Saleha , 2009;h.5).
4. Tahapan masa nifas
Menurut Saleha (2009;h.5) tahapan persalinan antara lain:
a. Priode immediate postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam.
Pada masa ini sering terdapat masalah, misalnya perdarahan
karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan dengan teratur harus
melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokia,
tekanan darah, dan suhu.
b. Priode early post partum ( 24 jam–1 minggu)
Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam
keadaan normal, tidak ada perdarahan, lockhea tidak berbai
busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan
cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
c. Periode late postpartum (1 minggu–5 mnggu)
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan