Shifietz
Jumat, 09 Maret 2012
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA Reaksi Uji Protein
PERCOBAAN II
REAKSI UJI PROTEIN
A. TUJUAN :
Diharapkan dapat memahami metode identifikasi protein secara kualitatif
B. PRINSIF DASAR :
Protein berasal dari bahasa Yunani protos, yang berarti ―yang paling utama‖. Protein merupakan senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung komposisi rata-rata unsur kimia yaitu karbon 50%, hidrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 26%, dan kadang kala sulfur 0-3% serta fosfor 0-3%. Protein merupakan komponen utama sel hewan dan manusia. Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator. Disamping itu hemoglobin dalam butir-butir darah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein.
Terdapat ikatan kimia lain dalam protein yaitu ikatan hidrogen, ikatan hidrofob, ikatan ion/ikatan elektrostatik, dan ikatan van der Waals. Protein dapat tidak stabil terhadap beberapa faktor yaitu pH, radiasi, suhu, medium pelarut organik, dan detergen.
Protein dapat diperoleh dari makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan. Protein yang berasal dari hewan disebut protein hewani, sedangkan yang berasal dari tumbuhan disebut protein nabati. Beberapa makanan sumber protein adalah daging, telur, susu, ikan, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan. Tumbuhan membentuk protein dari CO2, H2O dan senyawa nitrogen. Hewan yang makan tumbuhan mengubah protein nabati menjadi protein hewani. Disamping digunakan untuk pembentukan sel-sel tubuh, protein juga dapat digunakan sebagai sumber energi apabila tubuh kekurangan karbohidrat dan lemak.
Uji protein dengan metode identifikasi protein secara kualitatif dapat menggunakan prinsif :
Uji Biuret : pembentukan senyawa kompleks koordinat yang berwarna yang dibentuk oleh Cu²‡ dengan gugus –CO dan –NH pada ikatan peptida dalam larutan suasana basa. Pengendapan dengan logam : pembentukan senyawa tak larut antara protein dan logam
berat.
Pengendapan dengan garam : pembentukan senyawa tak larut antara protein dan ammonium sulfat
Pengendapan dengan alcohol : pembentukan senyawa tak larut antara protein dan alcohol
Uji koagulasi : perubahan bentuk yang ireversibel dari protein akibat dari pengaruh pemanasan.
Denaturasi protein : perubahan pada suatu protein akibat dari kondisi lingkungan yang sangat ekstrim.
C. ALAT DAN BAHAN 1. UJI BURET
Alat : 1. Tabung reaksi Bahan : 1. Natrium hidroksida 2,5 N 2. pipet tetes 2. larutan protein (gelatin dan 3. gelas ukur albumin)
(CuSO4) 0,01 M
2. PENGENDAPAN DENGAN LOGAM
Alat : 1. Tabung reaksi Bahan : 1. larutan protein (gelatin dan 2. pipet tetes albumin)
3. gelas ukur 2. Merkuri (III) klorida (HgCl2) 0,02 M
3. Timbal asetat 0,2 M
3. PENGENDAPAN DENGAN GARAM
Alat : 1. Tabung reaksi Bahan : 1. Larutan protein (gelatin dan 2. pipet tetes albumin)
3. batang pengaduk 2. larutan jenuh (NH4)2 SO4 4. kertas saring 3. reagen millon
5. gelas ukur 4. reagen uji Buret
4. PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL
Alat : 1. Tabung reaksi Bahan : 1. Larutan albumin 2. pipet tetes 2. Buffer asetat 5 M 3. gelas ukur 3. Asam klorida 0,1 M 4. Natrium hidroksida 0,1 M 5. Etil alcohol 95 %
5. UJI KOAGULASI
Alat : 1. Tabung reaksi Bahan : 1. Asam asetat 1 M
2. pipet tetes 2. larutan protein (gelatin dan 3. gelas ukur albumin)
4. stopwatch 3. Reagen Millon 5. batang pengaduk 4. air
6. DENATURASI PROTEIN
Alat : 1. Tabung reaksi Bahan : 1. Larutan albumin
2. pipet tetes 2. Buffer asetat pH 4,7 (1 M) 3. gelas ukur 3. HCl 0,1 M 4. stopwatch 4. NaOH 0,1 M 5. thermometer 6. pH meter D. CARA KERJA / PROSEDUR 1. UJI BIURET 2. PENGENDAP AN DENGAN LOGAM
Diulangi percobaan dengan melakukan Pb asetat0,2 M
3. PENGENDAPAN DENGAN GARAM
4. PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL Disiapkan3 tabung reaksi
Tabung 1 2 3
Larutan albumin 5 ml 5 ml 5 ml Buffer asetat pH 4,7 (5M) 1 ml - -
5. UJI KOAGULASI 6. DENATURASI PROTEIN HCL 0,1 M - 1 ml - NaOH 0,1 M - - 1 ml Etil alcohol 95 % 6 ml 6 ml 6 ml Tabung 1 2 3 Larutan albumin 9 ml 9 ml 9 ml
E. HASIL PENGAMATAN 1. UJI BIURET
3 ml larutan protein (gelatin & albumin) pada tabung reaksi, sebelumnya gelatin berwarna kuning agak jernih sedangkan warna albumin (putih telur) putih bening kental, lalu ditambahkan dengan 1 ml natrium hidroksida 2,5 N pada larutan protein tersebut (gelatin & albumin) dengan dikocok. Dan setelah ditambahkan 1 ml natrium hidroksida 2,5 N pada larutan gelatin tidak terjadi apa-apa, sedangkan pada larutan albummin (putih telur) terdapat endapan. Kemudian pada larutan protein (gelatin & albumin) tersebut juga ditambahkan setetes larutan tembaga sulfat 0,01 M yang diaduk, ditambahkan larutan tembaga sulfat 0,01 M setetes demi tetes samapi timbul warna pada larutan protein tersebut (gelatin & albumin). Kemudian setelah ditambahkan tembaga sulfat 0,01 M pada larutan protein (gelatin & albumin), warna larutan albumin berubah menjadi ungu tetapi tetap terdapat endapan, sedangkan pada larutan gelatin menjadi tetap berwarna kuning tetapi agak lebih jernih dan tidak terdapat endapan.
2. PENGENDAPAN DENGAN LOGAM
2 tabung reaksi yang berisi larutan albumin, masing-masing sebanyak 3 ml. Pada kedua tabung yang berisi larutan albumin tersebut ditambahkan 5 tetes HgCl2 0,2 M pada
Buffer asetat pH 4,7 (5M) - - 1 ml
HCL 0,1 M 1 ml - -
tabung pertama, sedangkan pada tabung kedua ditambahkan 5 tetes Pb asetat 0,2 M, saat penambahan larutan HgCl2 dan Pb asetat pada kedua larutan albumin tersebut secara bersamaan, supaya dapat dibandingkan larutan mana yang lebih cepat bereaksi. Saat penambahan larutan HgCl2 dan Pb asteat pada kedua larutan albumin, yang lebih cepat bereaksi adalah larutan albumin yang ditambahkan HgCl2. Sedangkan warna pada larutan albumin setelah ditambahkan 5 tetes HgCl2 0,2 M menjadi putih yang mulanya albumin berwarna putih bening kental sebelum ditambahkan larutan HgCl2. Dan pada larutan albumin setelah ditambahkan Pb asetat 0,2 M menjadi berwarna putih keruh, yang mulanya albumin berwarna putih bening kental sebelum ditambahkan larutan Pb asetat 0,2 M.
2 tabung reaksi yang berisi larutan gelatin, masing-masing sebanyak 3 ml. Pada kedua tabung yang berisi larutan gelatin tersebut ditambahkan 5 tetes HgCl2 0,2 M pada tabung pertama, sedangkan pada tabung kedua ditambahkan 5 tetes Pb asetat 0,2 M, saat penambahan larutan HgCl2 dan Pb asetat pada kedua larutan gelatin tersebut secara bersamaan, supaya dapat dibandingkan larutan mana yang lebih cepat bereaksi. Saat penambahan larutan HgCl2 dan Pb asteat pada kedua larutan gelatin, yang lebih cepat bereaksi adalah larutan gelatin yang ditambahkan HgCl2. Sedangkan warna pada larutan gelatin setelah ditambahkan 5 tetes HgCl2 0,2 M menjadi bening yang mulanya gelatin berwarna kuning bening sebelum ditambahkan larutan HgCl2. Dan pada larutan gelatin setelah ditambahkan Pb asetat 0,2 M menjadi berwarna bening juga, yang mulanya gelatin berwarna kuning bening sebelum ditambahkan larutan Pb asetat 0,2 M.
3. PENGENDAPAN DENGAN GARAM
5 ml larutan protein (gelatin & albumin) dijenuhkan dengan ammonium sulfat, dengan cara : larutan protein (gelatin & albumin) ditambahkan sedikit garam kedalam larutan tersebut dan diaduk, kemudian ditambahkan juga sedikit ammonium sulfat dan diaduk lagi. Setelah ditambahkan garam dan ammonium sulfat pada larutan gelatin terdapat 2 lapis larutan pada tabung reaksi yaitu pada lapisan atas berwarna kuning dan lapisan bawah terdapat endapan putih. Sedangkan warna larutan gelatin sebelumnya berwarna kuning bening.
Dan sedangkan pada larutan albumin setelah ditambahkan garam dan ammonium sulfat terdapat 3 lapis pada larutan, yaitu pada lapisan atas berwarna bening, lapisan tengah terdapat endapan putih keruh, dan pada lapisan bawah terdapat endapan putih. Yang sebelumnya larutan albumin berwarna putih bening kental.
Pada kedua larutan protein (gelatin & albumin) yang sudah jenuh setelah ditambahkan garam dan ammonium sulfat kemudian disaring dengan kertas saring. Hasil
saring yang berupa endapan putih dari larutan gelatin yang ditambahkan dengan garam dan ammonium sulfat tersebut kemudian ditambahkan dengan reagen millon, dan hasil yang didapat yaitu larutan berwarna kuning dan didalamnya terdapat gelembung yang naik keatas, serta diatasnya juga terdapat busa. Sedangkan pada uji endapan dari larutan gelatin yang ditambahkan garam dan ammonium sulfat tersebut dengan difiltrat yang ditambahkan dengan NaOH yaitu hasil yang didapat adalah warna keruh pada larutan (belum larut) kemudian ditambahkan juga dengan CuSO4, larutan menjadi larut. Sedangkan pada uji endapan dari larutan gelatin yang ditambahkan garam dan ammonium sulfat tersebut dengana air yaitu menjadi larut.
Hasil saring yang berupa endapan putih dari larutan albumin yang ditambahkan dengan garam dan ammonium sulfat tersebut kemudian ditambahkan dengan reagen millon, dan hasil yang didapat yaitu endapan tidak larut dalam reagen millon, dan warna endapannya adalah orange muda. Sedangkan pada uji endapan dari larutan albumin yang ditambahkan garam dan ammonium sulfat tersebut dengan difiltrat yang ditambahkan dengan NaOH yaitu hasil yang didapat adalah warna larutan lebih jernih, kemudian ditambahkan juga dengan CuSO4, larutan menjadi berwarna biru jernih. Sedangkan pada uji endapan dari larutan albumin yang ditambahkan garam dan ammonium sulfat tersebut dengana air yaitu menjadi larut.
4. PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL
Disiapkan 3 tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan larutan albumin sebanyak 5 ml, pada tabung pertama yang berisi larutan albumin ditambahkan dengan Buffer aetat pH 4,7 (5 M) sebanyak 1 ml, setelah ditambahkan Buffer asetat pH 4,7 (5 M) pada larutan albumin tidak reaksi apa-apa pada lerutan, yaitu larutan tetap berwarna putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut ditambahkan juga larutan etil alkohl 95 % sebanyak 6 ml, dan reaksi yang didapat pada larutan tersebut adalah terdapat 3 lapisan pada larutan yaitu pada lapisan atas berwarna jernih, lapisan tengah berwarna putih keruh, dan lapisan bawah berwarna keruh.
Pada tabung yang kedua berisi larutan albumin ditambahkan dengan HCl 0,1 M 1 ml, reaksi yang di dapat setelah penambahan HCl pada larutan albumin yaitu warnanya tetap putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut juga ditambahkan larutan etil alcohol 95 % sebanyak 6 ml, reaksi yang didapat pada larutan tersebut adalah warna larutan putih keruh dan terdapat 2 cincin putih ditenggah-tengah larutan, cincin pertama agak lebih tipis sedangkan cincin kedua agak lebih putih keruh.
Pada tabung yang ketiga berisi larutan albumin ditambahkan dengan NaOH 0,1 M 1 ml, reaksi yang didapat setelah penambahan NaOH pada larutan albumin yaitu larutan tetap berwarna putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut ditambahkan larutan etil alcohol 95 % sebanyak 6 ml, reaksi yang didapat pada larutan tersebut adalah terdapat 2 lapisan pada larutan, lapisan atas berwarna jernih dan lapisan bawah agak keruh.
5. UJI KOAGULASI
5 ml larutan protein (albumin) didalam tabung reaksi, kemudian ditamahkan 2 tetes asam asetat 1 M dan dipanaskan selama 5 menit, terjadi reaksi pada larutan albumin yang ditambahkan asam asetat yaitu seluruh larutan setelah dipanaskan menjadi endapan putih susu. Kemudian endapan tersebut ada yang ditambahkan dengan air ada juga yang ditambahkan dengan reagen millon. Pada endapan yang ditambahkan dengan air terjadi reaksi pada larutan yaitu terjadi 2 lapisan pada larutan, lapisan atas berwarna keruh dan lapisan bawah terdapat endapan putih. Sedangkan pada endapan yang ditambahkan reagen millon terjadi reaksi pada larutan yaitu larutan berwarna bening tetapi terdapat gumpalan berwarna merah pada tengah-tengah larutan.
6. DENATURASI PROTEIN
Disiapkan 3 tabung rekasi yang berisi larutan albumin masing-masing sebanyak 9 ml, pada tabung pertama yang berisi larutan albumin ditambahkan dengan HCl 0,1 M sebanyak 1 ml, setelah ditambahkan HCl 0,1 M pada larutan albumin, yaitu larutan tetap berwarna putih keruh. Kemudian larutan tersebut dipanakan selama 15 menit, setelah dipanaskan terjadi reaksi yaitu pada larutan terdapat 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah berwarna putih susu. Setelah larutan tersebut didinginkan lalu ditambahkan dengan Buffer asetat pH 4,7 (5 M) 10 ml, dan reaksi yang terjadi yaitu terdapat 2 lapisan pada larutan, lapisan atas berwarna putih keruh dan lapisan bawah terdapat endapan putih padat.
Pada tabung yang kedua berisi larutan albumin ditambahkan dengan NaOH 0,1 M 1 ml, reaksi yang di dapat setelah penambahan NaOH pada larutan albumin yaitu warnanya tetap putih keruh. Kemudian larutan tersebut dipanaskan selama 15 menit, setelah dipanaskan terjadi reaksi yaitu pada larutan terdapat 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening kuning dan lapisan bawah berwarna putih susu padat. Setelah larutan tersebut didinginkan lalu ditambahkan dengan Buffer asetat pH 4,7 (5 M) 10 ml dan reaksi yang terjadi yaitu terdapat 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah berwarna putih susu. Pada larutan ini juga lebih larut saat diaduk. Dibandingkan larutan albumin pada tabung yang pertama.
Pada tabung yang ketiga berisi larutan albumin ditambahkan dengan Buffer asetat pH 4,5 (5 M) 1 ml, reaksi yang didapat setelah penambahan Buffer asetat yaitu pada larutan albumin tetap berwarna putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut juga di panaskan selama 15 menit dan reaksi yang terjadi pada larutan terebut adalah seluruh bagian larutan berwarna putih susu padat.
F. PEMBAHASAN 1. UJI BIURET
Larutan yang digunakan pada reaksi uji protein, terutama pada uji biuret adalah albumin dan gelatin. Albumin didapat dari larutan putih telur, telur sebagai sumber protein mempunyai banyak keunggulan antara lain, kandungan asam amino paling lengkap dibandingkan bahan makanan lain seperti ikan, daging, ayam, tahu, tempe, dll. Nilai gizi telur sangat lengkap, yeitu merupakan sumber protein yang baik, kadarnya sekitar 14%, sehingga dari tiap butir telur akan diperoleh sekitar 8 gram protein. Kandungan asam amino proteinnya sangat lengkap. Telur kaya fosfor dan besi, tetapi kandungan kalsiumnya rendah. Selain itu telur juga mengandung vitamin B kompleks, serta vitamin dan D.
Sedangkan pada protein (gelatin) biasanya diperoleh dari bahan yang kaya akan kolagen seperti tulang sapi dan dimanfaatkan sebagai cangkang kapsul, sebagai zat pengental, penggumpal, membuat produk menjadi elastis, pengemulsi, penstabil, pembentuk busa, pengikat air, pelapis tipis, dan pemerkaya gizi. Gelatin sangat penting dalam rangka diversifikasi bahan makanan, karena nilai gizinya yang tinggi yaitu terutama akan tingginya kadar protein khususnya asam amino dan rendahnya kadar lemak. Gelatin kering mengandung kira-kira 84 – 86 % protein, 8 – 12 % air dan 2 – 4 % mineral. Dari 10 asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh, gelatin mengandung 9 asam amino essensial, satu asam amino essensial yang hampir tidak terkandung dalam gelatin yaitu triptofan.
Pada percobaan biuret ini yaitu yang pertama larutan protein (gelatin & albumin) ditambahkan larutan natrium hidroksida 2,5 N yang kemudian diaduk. Setelah ditambahkan natrium hidroksida 2,5 N pada gelatin yaitu tidak terjadi reaksi apa-apa tetap berwarna kuning bening, sedangkan pada albumin terdapat endapan putih di dalam larutan, yang mulanya albumin berwarna putih kental. Penambahan larutan natrium hidroksida pada larutan protein tersebut yaitu sebagai katalis yang berfungsi untuk menghancurkan atau memecahkan protein. Kemudian ditambahkan juga dengan larutan tembaga sulfat pada masing-masing larutan protein tersebut (gelatin & albumin), tidak terjadi perubahan warna pada larutan
gelatin setelah ditambahkan larutan tembaga sulfat yaitu warna larutannya tetap berwarna kuning benih, hanya lebih agak bening dari larutan semula. Padahal untuk membuktikan reaksi positif adanya peptida (penyusun protein) akan terbentunya warna ungu saat ditambahkan larutan tembaga sulfat pada larutan, hal ini bisa disimpulkan bahwa larutan gelatin tersebut tidak mengandung peptida, atau mungkin juga ada kesalahan teknis saat percobaan, sehingga larutan tidak berwarna ungu.
Sedangkan terjadi perubahan warna pada larutan albumin setelah ditambahkan tembaga sulfat dan dikocok yaitu warna larutan menjadi berwarna ungu dan warna ungu tetap tidak hilang walaupun ditambahkan larutan tembaga sulfat setetes demi tetes dan kemudian di kocok, serta masih terdapat endapan putih, yang mulanya larutan tersebut berwarna putih terdapat endapan. Untuk membuktikan adanya peptida pada protein (albumin), yaitu dengan penambahan larutan tembaga sulfat pada larutan albumin, larutan tembaga sulfat yang bersifat basa bereaksi dengan polipeptida, sedangkan polipeptida merupakan penyususn protein. Yang menandakan positif adanya protein yaitu terdapat ikatan peptida lebih banyak, dapat dibuktikan saat penambahan larutan tembaga sulfat setetes demi tetes dan dikocok larutan tetap berwarna ungu, hal ini menandakan bahwa ikatan peptidanya kuat, karena apabila ikatan peptinya lemah, saat larutan protein ditambahkan tembaga sulfat yaitu warna ungunya akan memudar saat dikocok.
Reaksi uji biuret ini memberikan hasil yang positif akibat pembentukan senya kompleks Cu 2+ gugus CO dan NH dari suatu rantai peptida dalam suasana basa. Dipeptida dari asam-asam amino histidin, serin, dan treonin tidak memberikan reaksi untuk uji biuret. Pada percoban larutan sampel yang memberikan hasil uji positif adalah albumin.
2. PENGENDAPAN DENGAN LOGAM
Pada percobaan pengendapan dengan logam, yaitu 2 tabung yang berisi larutan gelatin, tabung pertama ditambahkan HgCl2 dan tabung kedua ditambahkan PbSO4, penambahan larutan HgCl2 dan PbSO4 pada larutan gelatin secara bersamaan, supaya dapat dibandingkan larutan mana yang lebih cepat bereaksi, dan yang lebih bereaksi adalah larutan gelatin yang ditambahkan HgCl2. warna gelatin yang ditambahkan HgCl2 yaitu bening, sedangkan pada gelatin yang ditambahkan PbSO4 juga bening. Warna semula laruta gelatin yaitu kuning bening.
Selain larutan gelatin, larutan protein (albumin) juga diperlakukan percoban yang sama seperti pada larutan gelatin, yaitu 2 tabung yang berisi larutan albumin, pada tabung pertama ditambahkan HgCl2 dan tabung kedua ditambahkan PbSO4, penambahan larutan
HgCl2 dan PbSO4 pada larutan albumin secara bersamaan, supaya dapat dibandingkan larutan mana yang lebih cepat bereaksi, dan yang lebih bereaksi adalah larutan albumin yang ditambahkan HgCl2. warna albumin yang ditambahkan HgCl2 yaitu putih, sedangkan pada albumin yang ditambahkan PbSO4 berwarna putih keruh. Warna semula laruta albumin yaitu putih kental.
Dari percobaan diatas, masing-masing larutan protein (albumin & gelatin) yang ditambahkan HgSO4 lebih cepat bereaksi dibandingkan PbSO4. Larutan protein yang ditambahkan HgSO4 lebih cepat bereaksi karena apabila protein direaksikan dengan logam akan terjadi ikatan lebih kuat dan itu yang menyebabkan terjadi reaksi lebih cepat, sehingga akan mempengaruhi logam berat terhadap larutan protein. Dan hal ini juga terjadi karena tetapan disosiasi HgCl2 lebih besar daripada PbSO4. Pada saat ditambahkan ke dalam larutan
protein, HgCl2 akan terionisasi dan lebih banyak dalam bentuk Hg2+ sehingga protein lebih
cepat bereaksi dengan Hg2+ tersebut dan menghasilkan endapan dalam jumlah yang lebih banyak ketimbang pengendapan oleh logam PbSO4 yang memiliki tetapan disosiasi lebih kecil dari Hg.
Ikatan yang amat kuat dari reaksi protein yang ditambahkan dengan HgCl2 akan memutuskan ikatan jembatan garam, sehingga akan terjadi denaturasi, secara bersama gugus –COOH dan gugus –NH2 yang terdapat pada protein dapat bereaksi dengan ion logam berat dan dapat membentuk senyawa kelat. Ion-ion yang dapat membentuk endapan logam dengan protein antara lain adalah Ag, Ca, Zn, Hg, Fe, Cu, Co, Mn, dan Pb. Selain gugus –COOH dan gugus –NH2, gugus –R pada molekul asam amino tertentu dapat pula mengadakan reaksi dengan ion atau senyawa lain. Gugus –SH pada molekul akan bereaksi dengan dengan ion Hg. Jumlah endapan yang dihasilakan dipengaruhi oleh kereaktifan logam berat yang ditambahkan. Logam Hg lebih reaktif daripada logam Pb karena merupakan logam transisi pada sistem periodik.
3. PENGENDAPAN DENGAN GARAM
Yang dilakukan pada percobaan ini adalah protein (gelatin & albumin) dijenuhkan dengan amonium sulfat. Dengan cara ditambahkan logam, diaduk sampai larut, ditambahkan amonium sulfat dan juga diaduk lagi sehingga tertinggal sedikit garam. Pada larutan gelatin setelah ditambahan amonium sulfat ini terjadi 2 palisan pada larutan, lapisan atas berwarna kuning dan lapisan bawah terdapat endapan putih. Sedangkan pada larutan gelatin setelah ditambahkan amonium sulfat terdapat 3 lapisan pada larutan, lapisan atas berwarna bening, lapisan tengah berwarna putih keruh, dan lapisan bawah terdapat endapan putih. Tujuan
dilakukan percobaan ini adalah mengetahui sifat garam pada pengaruh larutan protein amonium sulfat (garam anorganik).
Pada masing-masing larutan protein tersebut (gelatin & albumin) terdapat endapan putih dilapisan bawah, endapan putih itu adalah endapan garam yang tidak larut akibat ditambahkan dengan ammonium sulfat, peristiwa pemisahan protein ini disebut salting out. Hal ini terjadi karena ammonium sulfat memiliki tingkat kelarutan yang lebih tinggi daripada protein. Sehingga pada saat penambahan ammonium sulfat, ammounium sulfat akan melarut dalam air/pelarutnya dan mendesak protein keluar, kembali dalam bentuk solidnya sehingga terbentuklah protein yang terendapkan. Dan endapan putih tersebut juga di saring menggunakan kertas saring, kemudian masing-masing hasil saring dari protein tersebut (gelatin & albumin) dilarutkan menggunakan air, dilarutkan menggunakan reagen Millon, dan difiltrat juga dengan uji biuret. Pada endapan garam yang dilarutkan dengan air yaitu semua endapan larut, karena sifat garam yang hidrofobik, jadi saat garam dilarutkan pada air, garam akan menyerap air sehingga garam mudah larut dalam air. Bila garam netral yang ditambahkan berkonsentrasi tinggi, maka protein akan mengendap. Pengendapan terus terjadi karena kemampuan ion garam untuk mengdehidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena garam anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang.
Pada hasil endapan albumin yang ditambahkan amonium sulfat dilarutkan dengan reagen millon yaitu endapan tidak larut pada reagen millon dan endapannya berwarna orange, padahal mulanya endapan tersebut berwarna putih. Sedangkan pada endapan putih gelatin yang ditambahkan amonium sulfat dilarutkan dengan reagen millon terjadi reaksi pada larutan, yaitu larutan tersebut berwarna kuning dan didalamnya terdapat gelembung yang naik keatas, serta terdapat busa pula. Prinsif reagen millon itu sendiri bembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa protein albumin mengandung Tirosin sebagai salah asam amino penyusunnya, sedangkan gelatin tidak. Tirosin memiliki molekul fenol pada gugus R-nya.
Selain dilarutkan dalam air dan reagen millon, hasil endapan protein yang ditambahkan dengan amonium sulfat juga di filtrat dengan ditambahkan NaOH, dan kemudian juga ditambahkan dengan CuSO4. Pada endapan gelatin yang difiltrat dan ditambahkan NaOH, yaitu endapan belum larut dan setelah ditambahkan CuSO4 larutan menjadi bening. Sedangkan pada endapan albumin yang difiltrat dan ditambahkan NaOH,
yaitu menjadi larutan jernih dan setelah ditambah CuSO4 larutan berubah menjadi berwarna biru. Warna biru inilah yang menjunjukan bahwa masih ada ikatan peptida dalam larutan, ini berarti juga masih ada protein dalam larutan yang belum terendapkan sempurna dengan penambahan garam amonium sulfat tersebut.
4. PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL
3 tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan larutan albumin, pada tabung pertama yang berisi larutan albumin ditambahkan dengan Buffer aetat pH 4,7 (5 M), setelah ditambahkan Buffer asetat pH 4,7 (5 M) pada larutan albumin tidak reaksi apa-apa pada lerutan, yaitu larutan tetap berwarna putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut ditambahkan juga larutan etil alkohl 95 %, dan reaksi yang didapat pada larutan tersebut adalah terdapat 3 lapisan pada larutan yaitu pada lapisan atas berwarna jernih, lapisan tengah berwarna putih keruh, dan lapisan bawah berwarna keruh. Pada pH buffer asetat 4,7 dan pH albumin 4,5-4,8 hal inilah yang membuat ikatannya lebih cepat, sehingga akan membentuk endapan lebih banyak.
Pada tabung yang kedua berisi larutan albumin ditambahkan dengan HCl 0,1 M, reaksi yang di dapat setelah penambahan HCl pada larutan albumin yaitu warnanya tetap putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut juga ditambahkan larutan etil alcohol 95 %, reaksi yang didapat pada larutan tersebut adalah warna larutan putih keruh dan terdapat 2 cincin putih ditenggah-tengah larutan, cincin pertama agak lebih tipis sedangkan cincin kedua agak lebih putih keruh.
Pada tabung yang ketiga berisi larutan albumin ditambahkan dengan NaOH 0,1 M, reaksi yang didapat setelah penambahan NaOH pada larutan albumin yaitu larutan tetap berwarna putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut ditambahkan larutan etil alcohol 95 %, reaksi yang didapat pada larutan tersebut adalah terdapat 2 lapisan pada larutan, lapisan atas berwarna jernih dan lapisan bawah agak keruh. Bisa terdapat endapan pada larutan albumin karena terjadi denaturasi.
Tujuan reaksi pengendapan dengan alkohol pada reaksi diatas yaitu untuk mengetahui pengaruh alkohol terhadap larutan protein. Dan berfungsi juga untuk menurunkan konstanta dielektrik pada larutan sehingga gaya tarik-menarik antar molekul jadi semakin kuat. Kemudian alkohol akan mengkondisikan gugus positif pada asam amino untuk bereaksi dengan gugus negatif yang ada dalam larutan, sehingga pada suasana tertentu mampu membentuk endapan. Albumin yang ditambah larutan penyangga (buffer) pH 4,7 paling banyak menghasilkan endapan, hal ini terjadi karena pH tersebut merupakan titik isoelektrik
protein sehingga endapan yang terbentuk merupakan jumlah yang paling maksimal. Albumin yang ditambahkan HCl juga menghasilkan endapan, namun dengan kuantitas yang lebih sedikit, ini terjadi karena gugus positif pada protein berikatan dengan gugus Cl- dan gugus negatif yang ada pada larutan sehingga terbentuk endapan pada suasana asam. Sebaliknya, protein tidak terendapkan oleh alkohol pada suasana basa karena pH nya terlampau jauh dari titik isoelektrik protein. Protein juga disebut ampoter karena pada ujung rantai protein terdapat gugus asam amino dan karboksilat, sehingga mudah larut tetapi susah larut dalam lemak.
5. UJI KOAGULASI
Larutan protein (albumin) didalam tabung reaksi, kemudian ditamahkan asam asetat 1 M dan dipanaskan, terjadi reaksi pada larutan albumin yang ditambahkan asam asetat yaitu seluruh larutan setelah dipanaskan menjadi endapan putih susu. Kemudian endapan tersebut ada yang ditambahkan dengan air ada juga yang ditambahkan dengan reagen millon. Pada endapan yang ditambahkan dengan air terjadi reaksi pada larutan yaitu terjadi 2 lapisan pada larutan, lapisan atas berwarna keruh dan lapisan bawah terdapat endapan putih. Sedangkan pada endapan yang ditambahkan reagen millon terjadi reaksi pada larutan yaitu larutan berwarna bening tetapi terdapat gumpalan berwarna merah pada tengah-tengah larutan. Uji Koagulasi ini adalah denaturasi protein akibat panas dan alkohol.
Pereaksi millon pada larutan tersbut adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna. Protein yang mengandung tirosin akan memberikan hasil positif.
6. DENATURASI PROTEIN
Denaturasi protein dapat diartikan sebagai suatu perubahan terhadap struktur sekunder, tersier, dan kuarterner molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovalen. Denaturasi terjadi karena terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrifobik, ikatan garam, dan terbentuknya lipatan molekul protein. Pada pengujian denaturasi protein ini yaitu
3 tabung rekasi yang berisi larutan albumin masing-masing pada tabung pertama yang berisi larutan albumin ditambahkan dengan HCl 0,1 M, setelah ditambahkan HCl 0,1 M pada larutan albumin, yaitu larutan tetap berwarna putih keruh. Kemudian larutan tersebut dipanakan, setelah dipanaskan terjadi reaksi yaitu pada larutan terdapat 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah berwarna putih susu. Setelah larutan tersebut didinginkan lalu ditambahkan dengan Buffer asetat pH 4,7 (5 M), dan reaksi yang terjadi yaitu terdapat 2 lapisan pada larutan, lapisan atas berwarna putih keruh dan lapisan bawah terdapat endapan putih padat. Pada hal ini terjadi proses denaturasi karena terjadi endapan. Pada pH buffer 4,5 dan pH albumin 4,5 hal inilah yang membuat ikatan lebih cepat, dan membentuk endapan lebih banyak.
Pada tabung yang kedua berisi larutan albumin ditambahkan dengan NaOH 0,1 M, reaksi yang di dapat setelah penambahan NaOH pada larutan albumin yaitu warnanya tetap putih keruh. Kemudian larutan tersebut dipanaskan selama, setelah dipanaskan terjadi reaksi yaitu pada larutan terdapat 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening kuning dan lapisan bawah berwarna putih susu padat. Setelah larutan tersebut didinginkan lalu ditambahkan dengan Buffer asetat pH 4,7 (5 M) dan reaksi yang terjadi yaitu terdapat 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah berwarna putih susu. Pada larutan ini juga lebih larut saat diaduk. Dibandingkan larutan albumin pada tabung yang pertama.
Pada tabung yang ketiga berisi larutan albumin ditambahkan dengan Buffer asetat pH 4,5 (5 M), reaksi yang didapat setelah penambahan Buffer asetat yaitu pada larutan albumin tetap berwarna putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut juga di panaskan selama dan reaksi yang terjadi pada larutan terebut adalah seluruh bagian larutan berwarna putih susu padat.
Endapan yang paling banyak dihasilkan oleh HCl, dan yang paling sedikit pada NaOH. Buffer asetat menghasilkan endapan karena memiliki pH 4,7 yang sama dengan pH albumin yaitu 4,5-4,9. setiap protein mempunyai isolistrik yang berbeda-beda. Titik isolistrik protein mempunyai arti penting karena pada umumnya sifat fisika dan kimia erat hubungannya dengan pH isolistrik. Pada pH diatas titik isolistrik protein bemuatan negatif, sedangkan dibawah titik isolistrik, protein bermuatan positif. Titik isolisrtik pada albumin adalah pH 4,5-4,9. berdasarkan percobaan albumin berdenaturasi lebih banyak pada penambahan HCl, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada protein albumin, asam amino yang mendominasi adalah asam amino yang bersifat asam.
Denaturasi protein meliputi ganguan dan kerusakan yang mungkin terjadi pada struktur sekunder dan sruktur tersier protein. Pada struktur protein tersier terdapat empat jenis
interaksi yang membentuk ikatan pada rantai samping seperti ikatan hydrogen, jembatan garam, ikatan disulfide dan interaksi hidrofobik non polar, yang kemungkinan mengalami gangguan. Denaturasi yang umum ditemukan adalah proses presipitasi dan koagulasi protein seperti asam amino, protein yang larut dalam air akan membentuk ion yang mempunyai muatan positif dan negatif. Dalam suasana asam molekul protein akan membentuk muatan positif, sedangkan dalam suasana basa akan membentuk ion negatif . pada titik isolistrik protein mempunyai muatan psitif dan negatif yang sama, sehingg tidak bergerak kearah elektroda positif maupun negatif, apabila ditempatkan diantara dua elektroda tersebut.
G. KESIMPULAN
Pembentukan warna ungu diperoleh dari Cu yang bersifat basa bereaksi dengan polipeptida . pada pengujian buret, pengendapan dengan logam, pengendapan dengan garam,
pengendapan dengan alcohol, koagulasi, dan denatursi protein semuanya terdapat endapan pada uji biuter larutan protein albumin yang menunjukan reaksi positif, terlihat dari
perubahan warna menjadi ungu. Uji biuret merupakan pengujian umum terhadap kandungan protein, dengan melihat ada dan tidaknya ikatan peptida pada larutan tersebut.
Protein terendapkan oleh logam berat seperti Pb dan Hg. Dan yang lebih cepat bereaksi adalah larutan yang ditambahkan Hg, karena tetapan disosiasi HgCl2 lebih besar daripada
PbSO4.
Albumin yang mempunyai pH 4,5-4,9 yang ditambah larutan penyangga (buffer) pH 4,7 akan banyak menghasilkan endapan, karena pH tersebut merupakan titik isolistrik protein sehingga endapan yang terbentuk merupakan jumlah yang paling maksimal.
Protein akan terkoagulasi oleh pemanasan
albumin berdenaturasi lebih banyak pada penambahan HCl, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada protein albumin, asam amino yang mendominasi adalah asam amino yang bersifat asam.
H. DAFTAR PUSTAKA
Poedjiadi, anna dan Suprianti, Titin. 2009. Dasar-Dasar Biokimia. Universitas Indonesia: Jakarta
Wirahadikusummah, M., 1985. Biokimia: Protein, Enzim, dan Asam Nukleat. ITB: Bandung http://www.scribd.com/doc/29526024/Laporan-BIOKIM-4 ( 4 - 11 - 2010 ) http://andiscientist.blogspot.com/2010/08/uji-identifikasi-protein.html ( 4 – 11 – 2010 ) http://www.scribd.com/doc/29525949/Laporan-Praktikum-BIOKIM-3 ( 4 – 11 – 2010 ) http://www.scribd.com/doc/29227046/Praktikum-Kimia-UJI-PROTEIN ( 4 – 11 – 2010 ) http://meboubhbrouk.blogspot.com/2009/10/reaksi-uji-protein.html ( 4 – 11 – 2010 )
Diposkan oleh nissa khoiriah di 23:14
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Tidak ada komentar: Poskan Komentar
Posting Lebih BaruBeranda
my profile
nissa khoiriah
Lihat profil lengkapku
Arsip Blog
▼ 2012 (4)
o ▼ Maret (4)
Surat untuk presiden
Shifietz: Jika kau bukan seseorang itu, kenapa jiw...
KINETIKA REKASI ENZIM
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA Reaksi Uji Protein
Abhoe_Niyh
Saturday, April 21, 2012
laporan biokimia protein 1
LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PROTEIN 1 Kesehatan Masyarakat 2A Kelompok 2 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2008 BAB I PENDAHULUAN Protein (protos yang berarti ‖paling utama") adalah senyawa organik kompleks yang mempuyai bobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih kecil dari 6.000, biasanya digolongkan sebagai polipeptida. Protein yang mudah dicerna menunjukkan tingginya jumlah asam-asam amino yang dapat diserap oleh tubuh dan begitu juga sebaliknya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya cerna protein dalam tubuh adalah kondisi fisik dan kimia bahan. Makin keras bahan, maka akan menurunkan daya cernanya dalam tubuh karena adanya ikatan kompleks yang terdapat di dalam bahan yang sifatnya semakin kuat. Ikatan ini dapat berupa ikatan antar molekul protein, ikatan protein- fitat, dan sebaginya. Sedangkan kondisi kimia yaitu adanya senyawa anti gizi seperti tripsin inhibitor dan fitat (Muchtadi, 1989). Proetin banyak terkandung di dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia. Seperti pada tempe, tahu, ikan dan lain sebagainya. Secara umum, sumber dari protein adalah dari sumber nabati dan hewani. Protein sangat penting bagi kehidupan organisme pada umumnya, karena ia berfungsi untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan suplai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Maka, penting bagi kita untuk mengetahui tentang protein dan hal-hal yang berkaitan dengannya. BAB II LAPORAN PRAKTIKUM 2.1 UJI BIURET Tujuan : memperlihatkan bahwa protein mempunyai ikatan peptida. Teori singkat : Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin
membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning. Protein mengandung asam amino berinti benzen, jika ditambahkan asam nitrat pekat akan mengendap dengan endapan berwarna putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Senyawa nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi dan warnanya akan berubah menjadi lebih tua atau jingga. Rekasi ini didasarkan pada uji nitrasi inti benzena yang terdapat pada mulekul protein menjadi senyawa intro yang berwarna kuning Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolut, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molkeul protein. Kelarutan protein di dalam suatu cairan,
sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik
protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. Pada pH isoelektrik (pI), suatu protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu muatan listriknya nol. Berikut
gambaran proses pembantukan ikatan peptida : Jadi, ikatan peptida hanya terbentuk apabila ada dua atau lebih asam amino esensial yang bereaksi. BAHAN : 1. Larutan albumin atau putih telur 2. Air Liur 3. Larutan Pati 1% 4. NaOH 10% 5. Larutan CuSO4 0,1% Cara Kerja BAHAN Tabung 1 2 3 4 Lautab Albumin atau Putih Telur 1 mL - - - Air Liur - 1 mL - - Larutan Pati 1% - - 1 mL - Air Suling - - - 1 mL NaOH 10% 1 mL 1 mL 1 mL 1 mL Larutan CuSO4 0,1 % 1-10 tetes 1-10 tetes 1-10 tetes 1-10 tetes Hasil: V V - - Warna
lembayung/ungu KESIMPULAN Dari praktikum yang telah kami lakukan dapat kami tarik kesimpulan bahwa air liur dan albumin mengandung protein ( mempunyai ikatan peptida ) sehingga memberikan hasil positif ( berwarna ungu ), sedangkan larutan pati dan air suling tidak mempunyai ikatan peptida sehingga memberikan hasil yang negatif ( tidak berubah warna ). 2.2 Salting Out/Pengendapan Protein dengan Garam Tujuan: Protein sebagai makrromolekul yang larut air dalam bentuk koloid, dapat dipisahkan dengan menggunakan larutan garam konsentrasi tinggi. Teori singkat: Protein larut dalam air sebagai larutan koloid. Bila molekul air yang mengelilinginya ditarik, misalnya dengan larutan garam konsentrasi tinggi atau dengan alkohol, maka protein akan mengendap. Beberapa jenis protein dalam suatu larutan akan diendapkan oleh garam dalam konsentrasi berbeda. Pengendapan menggunakan garam berkonsentrasi tinggi tidak akan mengubah sifat kimia protein karena larutan ini hanya manarik air yang ada di sekeliling molekul protein. Sifat pengendapan ini adalah reversible. Redenaturasi adalah denaturasi protein yang berlangsung secara reveresibel (Poedjiadi, 1994). Contohnya: pemberian CuSO4 encer, akan terjadi endapan, akan tetapi dalam penambahan yang seterusnya endapan dapat larut lagi. Bahan: 1. serum sapi 2. larutan amonium sulfat [(NH4)2SO4] jenuh 3. larutan NaOH 10% 4. larutan CuSO4 1% Cara kerja: 1. 1 ml serum dicampurkan dengan 1 ml larutan Amonium sulfat jenuh (saturasi 50%), di aduk- aduk setelah tercampur disaring. 2. setelah disaring kita akan mendapatkan filtrat1 dan presipitat1 (dilakukan uji biuret) Filtrat1 dicampur dengan kristal Amonium sulfat ( saturasi 100%), kemudian disaring. 3. Dari hasil saringan tersebut, kita mendapatkan filtrat 2 dan presipitat 2 (dilakukan uji biuret) 1 ml serum + 1 ml lar. Amonium sulfat jenuh (saturasi 50%) Disaring FILTRAT 1 + kristal amonium sulfatPresipitat 1 (saturasi 100%) Disaring FILTRAT II PRESIPITAT II Hasil Pengamatan (UJI BIURET): Hasil Pembahasan: Kelarutan protein akan berkurang bila ke dalam larutan protein ditambahkan garam-garam anorganik, akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. Peristiwa pemisahan protein ini disebut salting out. Bila garam netral yang ditambahkan berkonsentrasi tinggi, maka protein akan mengendap. Pengendapan terus terjadi karena kemampuan ion garam untuk
menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena garam anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang (Winarno, 2002). Larutan albumin dalam air dapat diendapkan dengan penambahan amoniumsulfat ((NH4)2SO4) hingga jenuh (Poedjiadi, 1994). Setelah larutan albumin dijenuhkan dengan (NH4)2SO4, uji kelarutan endapan yang terjadi dengan air menunjukkan hasil positif (endapan larut membentuk butiran). Uji filtrat dengan pereaksi biuret juga menunjukkan hasil poisitif yang ditandai larutan berwarna ungu violet. pengujian filtrat dengan pereaksi biuret bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida pada filtrat yang dihasilkan. Kesimpulan Dari hasil prcobaan ketika diuji biuret Filtrat I berwarna ungu karena masih terkandung albumin. Sedang presistat I pun berwarna ungu karena globulin tersaring. Ketika disaring kembali presipitat II juga berwarna ungu karena albumin tersaring, an filtrat II seharusnya tidak berwarna ungu karena protein sudah terdapat di Filtrat II. Dan Terbukti protein dapat diendapkan dengan garam. 2.3 Pemisahan Protein dengan Etanol Absolut Tujuan: Memperlihatkan bahwa protein dapat dipisahkan
dengan pemberian etanol absolut. Teori singkat: Bahan: 1. serum 2. larutan albumin telur 3. etanol absolut Cara kerja: Kesimpulan 2.4 Pengendapan dengan Logam Berat dan Pereaksi Alkaloid Tujuan: Membuktikan bahwa logam berat dan pereaksi alkaloid dapat
mengendapkan protein secara denaturasi ireversibel. Teori singkat: Logam berat seperti timah hitam (Pb) dan air raksa (Hg) dapat mengganggu sifat protein, antara lain kelarutannya, sehingga tidak berfungsi lagi dan mengendap. Disatu pihak logam berat sebagai pencemar lingkungan sangat berbahaya, sedangkan dipihak lain sifat ini dapat dipakai sebagai antiseptik pembunuh kuman, seperti yang tampak pada penggunaan sublimat (HgCl2). Keracunan logam berat yang akut maupun kronis dapat dikurangi dengan mengkonsumsi protein dalam jumlah lebih banyak seperti susu dan telur. Pada keracunan akut, pemberian susu atau putih telur akan mengendapkan logam berat dalam bentuk garam protein, sehingga penyerapan logam berkurang. Pada keracunan kronis, fungsi protein sel yang telah rusak oleh ikatan dengan logam berat dapat diimbangi dengan sintosis protein baru, yang asam
aminonya berasal dari protein makanan ekstratersebut. Dasarnya : Logam berat, termasuk Pb dan Hg, dengan protein membentuk garam proteinat yang tidak dapat larut, sehingga fungsi protein tersebut hilang. Bahan: 1. serum 2. TCA 10% 3. putih telur 4. susu 5. larutan HgCl2 1% 6. larutan PbCl2 1% Cara kerja: Tabel pengendapan protein dengan logam berat Tabel pengendapan protein dengan pereaksi alkaloid Kesimpulan : • Pada pengendapan dengan HgCl2 terjadi pengendapan pada putih telur (banyak) dan pada susu (sedikit). • Pada pengendapan dengan PbCl2 terjadi pengendapan pada putih telur (sedikit) dan pada susu (banyak). • Pada pengendapan serum dengan TCA 10% terdapat endapan sehingga benar bahwa TCA dapat digunakan untuk melacak ada tidaknya protein pada serum. • Logam berat seperti Pb dan Hg dan pereaksi alkaloid dapat digunakan untuk mengendapkan protein. 2.5 Kromatografi Kolom Tujuan: Memisahkan molekul Hb dari molekul vitamin B12 dengan menggunakan butiran mikroskopis dekstran sebagai penyaring. Teori singkat: Bagian ini menunjukkan bagaimana prinsip yang sama yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis yang dapat diterapkan pada skala besar untuk pemisahan campuran dalam kromatografi kolom. Kolom kromatografi seringkali digunakan untuk memurnikan senyawa di
laboratorium. Pelaksanaan kromatografi kolom Kolom kromatografi berkerja berdasarkan skala yang lebih besar menggunakan material terpadatkan pada sebuah kolom gelas vertikal. Penggunaan kolom Anggaplah anda akan memisahkan campuran dari dua senyawa yang berwarna, yaitu kuning dan biru. Warna campuran yang tampak adalah hijau. Anda akan membuat larutan jenuh dari campuran dengan menggunakan pelarut yang lebih disukai dalam kolom. Pertama anda membuka kran penutup untuk membiarkan pelarut yang sudah berada dalam kolom mengering sehingga material terpadatkan rata pada bagian atas, dan kemudian tambahkan larutan secara hati-hati dari bagian atas kolom. Lalu buka kran kembali sehingga campuran berwarna akan diserap pada bagian atas material terpadatkan, sehingga akan tampak seperti gambar dibawah ini: Selanjutnya tambahkan pelarut baru melalui bagian atas kolom, cegah sedapat mungkin jangan sampai merusak material terpadatkan dalam kolom. Lalu buka kran, supaya pelarut dapat mengalir melalui kolom, kumpulkan dalam satu gelas kimia atau labu dibawah kolom. Karena pelarut mengalir kontinyu, anda tetap tambahkan pelarut baru dari bagian atas kolom sehingga kolom tidak pernah kering. Gambar berikut menunjukkan perubahan yang mungkin terjadi sejalan dengan perubahan waktu. Penjelasan tentang apa yang terjadi Senyawa biru lebih polar daripada senyawa kuning dan
memungkinkan mempunyai kemampuan berikatan dengan hidrogen. Anda dapat mengatakan ini karena senyawa biru tidak bergerak secara sangat cepat melalui kolom. Itu berarti bahwa senyawa biru harus dijerap secara kuat pada jel silika atau alumina dibanding dengan
senyawa kuning. Karena kurang polar, senyawa kuning menghabiskan waktu dalam pelarut, sehingga keluar dari kolom lebih cepat. Proses pencucian senyawa melalui kolom
biokimia yg kami lakukan,kami memisahkan hemoglobin dari molekul vitamin
B12.Hemoglobin turun lebih cepat dibandingkan vitamin B12. Jika dikaitkan dengan teori di atas dapat dimisalkan bahwa : • Campuran molekul hemoglobin & molekul vitamin B12 digambarkan warna hijau. (merah) • Molekul hemoglobin digambarkan warna kuning (hasil pengamatan yang sesungguhnya berwarna merah tua) • Molekul vitamin B12 digambarkan warna biru (hasil pengamatan yang sebenarnya pink muda). Alat dan Bahan: 1. larutan sampel (campuran B12 dan Hb) 2. kolom berisi gel penyaring (dekstran) dan tutup ujung kolom 3. dapar/buffer (NaCl 0,9 %) 4. pipet tetes 5. tabung kolorimeter/reaksi Cara kerja: 1. Siapkan 14 tabung untuk menampung, tandai tabung 1-12 secara berurutan dengan angka. Tabung 13 ditandai dengan SISA dan tabung 14 dengan DAPAR. 2. Buka penutup atas dan penutup ujung bawah kolom pemisah, tampung dapar kolom dalam tabung 13, sampai hampir seluruh dapar keluar. Tutup ujung bawah kolom pemisah. 3. Teteskan 2-3 tetes larutan
sampel ke dalam kolom pemisah, buka penutup ujung bawah kolom dan tempatkan pada tabung 1. 4. Segera setelah campuran sampel masuk ke dalam gel, tambahkan larutan dapar menggunakan pipet tetes. Tampung tiap 5 tetesan pada tabung kolorimeter (1-12). 5. Setelah pemisahan selesai, tutup kembali ujung kolom, dan tambahkan larutan dapar agar gel tidak kering. 6. Catat warna dan intensitas tiap tabung (1-12). 7. Ukur serapan fraksi-fraksi pada panjang gelombang 540 nm yaitu dengan cara menambah akuades 2,5 ml pada tiap fraksi. Gambarkan kurva serapan fraksi dengan nomor tabung sebagai sumbu X dan nilai serapan sebagai sumbu Y. Hasil Pengamatan: Kesimpulan: DAFTAR PUSTAKA •
http://images.arifqbio.multiply.com/attachment/0/SGgAygoKCnAAAC8kyV01/protein%20e dited.doc?nmid=103380315 • http://asalprolink.blogspot.com/2009/01/biokimia.html • http://www.google.co.id/url?sa=U&start=3&q=http://images.ledysland.multiply.com/attachm ent/0/RtzYuwoKCqkAABupTtM1/egdp-protein.doc%3Fnmid%3D56458799&ei=Jo33SbScE8yAkQXW1dzhCg&usg=AFQjCNFUw 505lgQ3quuMQHcdK_yHc9Jw5Q • http://asalprolink.blogspot.com/2009/01/biokimia.html • Redaksi chem-is-try.org Posted by Admin at 11:37 PM
Labels: biokimia, laporan, praktikum, protein No comments:
Post a Comment
Newer PostOlder PostHome
Subscribe to: Post Comments (Atom)
Blog Archive
▼ 2012 (14)
o ▼ April (14)
pemanfaatan pelayanan kesehatan
KESEHATAN REPRODUKSI
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)
Biokimia Asam Nukleat
PRAKTIKUM BIOKIMIA URIN
PRAKTIKUM BIOKIMIA DARAH KUALITATIF
PRAKTIKUM BIOKIMIA OKSIDASI BIOLOGI
BIOKIMIA DARAH KUANTITATIF
kebudayaan terhadap AKB
mistik dengan kesehatan
antro - korelasi etnik dengan kesehatan
tb paru
biolistrik ► 2011 (3)
► 2009 (5)
For students who like chemistry and for romantic students :D
Rabu, 04 Januari 2012
Laporan Praktikum Biokimia : Protein
PendahuluanAsam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang biasa dijumpai pada protein.
Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai contoh adalah reaksi asetilasi dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter, yaitu dapat bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat (Lehninger 1988).
Protein merupakan biopolimer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur. (Hawab 2004). Melalui reaksi hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam asam amino yang dibagi berdasarkan gugus R-nya, berikut dijabarkan penggolongan tersebut : asam amino non-polar dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin, Prolin, Fenilalanin, Triptofan dan Metionin. Golongan kedua yaitu asam amino polar tanpa muatan pada gugus R yang beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein, Tirosin, Asparagin dan Glutamin. Golongan ketiga yaitu asam amino yang bermuatan positif pada gugus R dan golongan keempat yaitu asam amino yang bermuatan negatif pada gugus R. Dari ke-20 asam amino yang ada, dijumpai delapan macam asam amino esensial yaitu valin, leusin, Isoleusin, metionin, Fenilalanin, Triptofan, Treonin, dan Lisin. Asam amino essensial ini tidak bisa disintesis sendiri oleh tubuh manusia sehingga harus didapatkan dari luar seperti makanan dan zat nutrisi lainnya (Rismaka 2009).
Tujuan
Percobaan ini bertujuan memahami sifat dan stuktur asam amino dan protein melalui uji-uji kualitatif serta mempelajari beberapa reaksi uji terhadap asam amino dan protein. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan ialah penangas air, tabung reaksi, pipet tetes, pipet mohr 10 mL, bulb merah dan hitam, kertas saring, corong, gelas piala 100mL dan 250 mL, pembakar Bunsen, korek api, kaki tiga, gegep kayu, kertas saring, tisu, botol semprot dan kasa asbes. Bahan yang digunakan ialah albumin 2% dan 0.02%, gelatin 2% dan 0.02%, kasein 2% dan 0.02%, pepton 2% dan 0.02%, fenol 2% dan 0.02%, pereaksi millon, pereaksi biuret, pereksi ninhidrin, NaOH 10% dan pekat, Pb-asetat 5%, HNO3 pekat, CuSO4 0.1%, aquades,
HgCl2 2%, AgNO3 5%, HCl 0.1 M, NaOH 0.1 M, buffer asetat pH 4.7, kristal ammonium
sulfat dan etanol 95%. Prosedur Kerja
Pada uji Millon, sebanyak 5 tetes pereaksi Millon ditambahkan ke dalam 3 mL larutan albumin 2%. Campuran selanjutnya dipanaskan di dalam penangas air selama 5 menit. Hal yang sama juga dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
Pada uji Ninhidrin sebanyak 0.5 mL larutan ninhidrin 0.1% ditambahkan ke dalam 3 mL larutan albumin 2%, lalu dipanaskan selama 15 menit, perubahan warna yang terjadi diamati. Uji dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, fenol 2% , dan pepton 2%.
Pada uji Belerang, sebanyak 2 mL larutan albumin 0.02% ditambah 5 mL NaOH 10%, dan dipanaskan selama 10 menit. Kemudian ditambah 2 tetes larutan Pb-asetat 5%, pemanasan dilanjutkan beberapa menit, diamati warna yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, fenol 2%, dan pepton 2%.
Pada uji Xantoproteat, sebanyak 2 mL larutan albumin 2% ditambahkan 1 mL HNO3 pekat, dicampur, kemudian dipanaskan, diamati timbulnya warna kuning tua. Tabung reaksi kemudian didinginkan, ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa. Perubahan yang terjadi diamati. Uji yang sama dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
Pada uji Biuret, sebanyak 3 mL larutan albumin 2% ditambah 1 mL NaOH 10% dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dikocok. Sebanyak 1-3 tetes larutan CuSO4 0.1% ditambahkan dalam larutan protein tersebut. Perubahan warna yang terjadi diamati. Uji yang dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
Pada pengendapan protein oleh logam, sebanyak 3 ml albumin ditambahkan dengan 5 tetes larutan HgCl2 2%, percobaan diulangi dengan larutan Pb-asetat 5%, dan AgNO3 5%.
Pengendapaan oleh garam, sebanyak 10 ml larutan protein dijenuhkan dengan kristal amonium sulfat atau (NH4)2SO4 yang ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian diaduk
hingga mencapai titik jenuh dan disaring. Lalu diuji kelarutannnya dengan ditambahkan air, untuk endapan diuji dengan pereaksi Millon dan filtrat dengan pereaksi Biuret.
Pada uji Koagulasi sebanyak 2 tetes asam asetat 1 M ditambahkan ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan albumin, kemudian tabung tersebut diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit. Endapan diambil dengan batang pengaduk dan dibagi menjadi dua, untuk
endapan pertama diuji kelarutannya dengan air , sementara endapan kedua dengan pereaksi Millon.
Pengendapan oleh alkohol, sebanyak 4 tabung reaksi disiapkan dan tabung pertama diisi campuran sebagai berikut ; 5 ml larutan albumin, 6 ml etanol 95 %l dan 1 ml HCl 0,1 M. Pada tabung kedua dimasukkan 5 ml larutan albumin, 6 ml etanol 95% dan 1 ml NaOH 0,1 M. Ke dalam tabung ketiga 5 ml larutan albumin, 1 ml buffer asetat ph 4,7 ,dan 6 ml etanol 95% dan untuk tabung terakhir diisi dengan 2,5 ml larutan albumin dan 3 ml etanol 95%.
Pada percobaan denaturasi protein siapkan 3 tabung reaksi, tabung reaksi pertama diisi 4,5 ml larutan albumin dan 0,5 ml HCl 0,1 M, tabung reaksi kedua 4,5 ml larutan albumin dan 0,5 ml NaOH 0,1 M dan kedalam tabung reaksi ketiga ditambahkan 4,5 ml albumin dan 0,5 ml buffer asetat pH 4,7,tabung 4 diisi dengan 4,5 ml albumin sebagai blanko. Data Pengamatan
Tabel 1 Hasil Uji Millon
Bahan Uji HasilPengamatan Perubahan Warna Larutan
Albumin - Kuning muda
Gelatin - Kuning muda
Kasein - Tak berwarna
Pepton - Jingga
Fenol - Tak berwarna
Keterangan : (+) = terdapat tirosin (-) = tidak terdapat tirosin
1 2 3 4 5
Gambar 1 Albumin hasil uji Millon
Keterangan : 1 = Albumin 4 = Pepton 2 = Gelatin 5 = Fenol
3 = Kasein
Tabel 2 Hasil Uji Ninhidrin
Bahan Uji HasilPengamatan Perubahan Warna Larutan
Albumin + Biiru tua
Gelatin + Ungu kebiruan
Kasein + Kuning(mengandung prolin)
Pepton + Ungu kebiruan
Fenol - Tak berwarna
Keterangan : (+) = dalam sampel terdapat protein (-) = dalam sampel tidak terdapat protein
Gambar 1 Albumin hasil uji Ninhidrin
Keterangan : 1 = Albumin 4 = Pepton 2 = Gelatin 5 = Fenol
3 = Kasein
Tabel 3 Hasil Uji Belerang
Bahan Uji HasilPengamatan Perubahan Warna Larutan
Albumin - Tidak berwarna
Gelatin - Tidak berwarna
Kasein + Kuning
Pepton - Kuning
Fenol - Tidak berwarna
Keterangan : (+) = dapat membentuk garam PbS (-) = tidak dapat membentuk garam PbS
1 2 3 4 5
Gambar 3 Albumin hasil uji belerang
Keterangan : 1 = Albumin 4 = Pepton 2 = Gelatin 5 = Fenol
3 = Kasein
Table 4 Hasil Uji Xantoproteat
Bahan Uji HasilPengamatan Perubahan Warna Larutan
Albumin + Oranye
Gelatin + Oranye ke kuningan
Kasein + Kuning muda
Pepton + Oranye
Fenol + oranye
Keterangan : (+) = mengandung inti benzena (-) = tidak mengandung inti benzena
1 2 3 4 5
Gambar 3 Albumin hasil uji Xantoproteat
Keterangan : 1 = Albumin 4 = Pepton 2 = Gelatin 5= Fenol 3 = Kasein
Tabel 4 Hasil Uji Biuret
Bahan Uji HasilPengamatan Perubahan Warna Larutan
Albumin + Sedikit berwarna ungu
Gelatin + Ungu seulas
Kasein + Ungu seulas
Pepton + Ungu seulas
Fenol - Tidak berwarna
Keterangan : (+) = Dalam sampel terdapat ikatan peptida (-) = Dalam sampel tidak terdapat ikatan peptide
1 2 3 4 5
Gambar 4 Albumin hasil uji Biuret
Keterangan : 1 = Albumin 4 = Pepton 2 = Gelatin 5 = Fenol 3 = Kasein
Table 5 Hasil Uji Pengendapan Albumin Oleh Logam Berat
HgCl2 + Larutan keruh, ↙ putih
Pb-asetat ++ Larutan keruh, ↙ putih
AgNO3 +++ Larutan keruh, ↙ putih
Keterangan : (+) = Protein sedikit terendapkan oleh logam (++) = Protein sebagian terendapkan oleh logam
(+++) = Protein banyak terendapkan oleh logam
1 2 3
Gambar 5 hasil uji pengendapan albumin oleh logam berat
Keterangan: 1 = Ag 2 = Pb 3 = Hg
Table 6 Tabel Hasil Uji Pengendapan Albumin Oleh (NH4)2SO4
Uji Hasil Pengamatan Perubahan Warna/ Kelarutan
Uji kelarutan + Larut dalam air
Uji Millon + Kuning
Uji Biuret + Biru ungu seulas
Keterangan: (+) = mengandung garam anorganik dengan persentasi tinggi (-) = tidak mengandung garam anorganik dengan persentasi tinggi
1 2 3
Gambar 6 hasil uji kelarutan pada pengendapan albumin oleh garam
Keterangan: 1 = + Air 2 = + Pereaksi Millon 3 = +Pereaksi Biuret Tabel 7 Hasil Uji Pengaruh Pemanasan Terhadap Albumin
Uji HasilPengamatan Perubahan Warna/ Kelarutan
Uji Kelarutan - Ungu, larut
Uji Biuret - Ungu, larut
Keterangan: (+) = terdapat endapan (-) = tidak terdapat endapan
Gambar 7 hasil uji kelarutan Gambar 8 hasil uji Biuret pada pada uji koagulasi albumin uji koagulasi albumin
Table 8 Hasil Uji Pengendapan Albumin oleh Alkohol
Tabung HasilPengamatan Perubahan Warna Larutan
1 HCl ++ Keruh
2 NaOH - Tidak berwarna
3 Buffer asetet pH 4,7 ++ Keruh
4 Etanol 95% +++ Keruh,↙ putih
Keterangan : (-) = Tidak ada endapan (++) = Endapan cukup banyak (+++) = Endapan banyak
(++++) = Endapan sangat banyak
1 2 3 4
Gambar 8 hasil uji pengendapan albumin aleh alkohol
Keterangan: 1 = albumin + HCl dan etanol 2 = albumin + NaOH dan etanol
3 = albumin + Buffer Asetat 4.7 dan etanol 4 = albumin + etanol
Tabel 9 Hasil Uji Denaturasi albumin Tabung Hasil Pengamatan sebelum penambahan Buffer asetat Hasil Pengamatan Setelah Penambahan Buffer Asetat Intensitas endapan
1 HCl - (tidak berwarna) +,larutan keruh,↙ putih
+++
2 NaOH -(tidak berwarna) +,larutan keruh,↙ putih
+
3 Buffer Asetat +(keruh) +,larutan keruh,↙ putih
++++
4 albumin -(tidak berwarna) +,larutan keruh,↙ putih
++
Keterangan : (-) = Tidak ada endapan (+) = Endapan sedikit
(++) = Endapan cukup banyak
(+++) = Endapan banyak
Gambar 9 albumin hasil denaturasi protein
Keterangan: 1 = albumin + HCl 2 = albumin + NaOH
3 = albumin + Buffer Asetat pH 4.7 4 = albumin
Pembahasan
Keistimewaan dari protein adalah strukturnya yang mengandung N,disamping C,H,O (seperti karbohidrat dan lemak), S dan kadang-kadang P,Fe dan Cu (sebagai senyawa kompleks dengan protein). Dengan demikian maka salah satu cara terpenting yang cukup spesifik untuk menentukan jumlah protein secara kuantitatif adalah dengan penentuan kandungan N yang ada dalam bahan makanan atau bahan lain. Molekul protein sendiri merupakan rantai panjang yang tersusun oleh matarantai asam-asam amino. Asam amino adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus karboksil (-COOH) dan satu atau lebih gugus amino (-NH2) yang salah satunya terletak pada atom C (Hamdan 2007).
Albumin merupakan protein terpenting yang disintesis oleh hati dan hati adalah satu-satunya tempat sintesis protein. Albumin merupakan unsur utama yang terdapat pada putih telur. Albumin mempunyai berat molekul tinggi (66000) dan mengandung 584 asam amino. Produksi albumin yang normal dalam rentang 120-200 mg per kg per hari (Sabiston 1987).
Gelatin ialah protein hewani yag tidak lengkap, diambil dari jaringa hewani, seperti tulang dan jaringan ligament. Dapat dijumpai dalam beberapa sari daging dan dalam beberapa kaldu. Juga didapati dalam sayuran tertentu, sebuah contoh ialah agar-agar yang digunakan dalam pembuatan jeli dan kaldu (Pearce 2009).
Kasein merupakan senyawa fosfo-gliko protein berbentuk misela (diameter 0,1 mikro), berikatan dengan kalsium fosfat dan sitrat yang meliputi 75% protein dalam susu sapi.Kasein alami terdiri atas protein 94%, kalsium (Ca) 35%, fosfor (P) 2,2%, asam sitrat (0,5%) dan magnesium (Mg 0,1%). Kasein mengandung lysine, kekurangan sistin (0,4%), tetapi kaya akan metionin (kira-kira 3%) dan dapat dihidrolisis menjadi oligopeptida yang larut dan mudah dicerna (Djarir 2002).
Fenol merupakan senyawa aromatic dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzene. Senyawa tersebut mudah mengalami oksidasi. Senyawa fenol terdiri atas fenol (C6H5OH), kresol, xylenol, klorfenol, katekol, hidroquinon,
timol, naftol, dan sebagainya. Senyawa fenol dihasilkan dari proses pemurnian minyak, industry kimia, tekstil, plastic, dan lain-lain (Effendi 2003).
Protein derivat merupakan hasil pemecahan protein alam sebelum menjadi asam alfa amino. Pemecahan protein umumnya melalui hidrolisis. Hidrolisis berat diperoleh protein derivate sekunder, salah satunya ialah pepton. Struktur kimia pepton jauh lebih sederhana daripada proteosa. Pepton ikut larut dalam air dan tak menggumpal apabila dipanaskan (Sumardjo 2006).
Uji millon berfungsi untuk mengetahui adanya gugus phenol dalam protein. Pereaksi Millon terdiri dari merkuri nitrit (HgNO2) dan merkuri nitrat (Hg(NO3)2). Protein yang
mengandung gugus hidroksil Phenil (-OH) dapat bereaksi dengan larutan mercuri nitrat dapat menghasilkan larutan atau endapan berwarna putih kemudian berubah warna menjadi merah setelah dipanaskan (Sutresna 2008).
Prinsip dari uji millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Dari hasil percobaan diketahui bahwa albumin, gelatin, kasein, dan fenol tidak mengandung tirosin, sedangkan pepton mengandung tirosin. Seharusnya fenol, albumin, dan kasein positif dalam uji millon karena tirosin memiliki molekul fenol pada gugus R-nya dan albumin serta kasein mengandung tirosin sebagai salah satu asam penyusunnya, namun pada percobaan tersebut tidak dihasilkan hasil positif. Penyimpangan tersebut terjadi karena kesalahan kerja pada praktikan, bahan yang telah terkontaminasi (Handini 2009).
Protein yang mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan gugus asam amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk persenyawaan berwarna. Uji tersebut bersifat umum untuk semua asam amino dan menjadi dasar penentuan kualitatif asam amino. Uji ninhidrin akan positif jika senyawa tersebut mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan asam amino bebas atau alfa asam amino maupun gugus hidroksil. Uji yang positif akan ditandai dengan terbentuknya warna biru ungu dan untuk prolin,hidroksiprolin berwarnakuning. Berdasarkan hasil percobaan, hasil positif ditunjukkan oleh albumin, gelatin, kasein, pepton. Pada percobaan albumin, gelatin, dan pepton membentuk warna biru ungu karena dapat bereaksi dengan Ninhidrin. Hal ini menandakan ketiga zat uji tersebut mempunyai gugus asam amino bebas. Semakin banyak ninhidrin pada zat uji yang dapat bereaksi, semakin pekat warnanya. Hal ini juga mendasari bahwa uji Ninhidrin dapat digunakan untuk menentukan asam amino secara kuantitatif dan fenol menunjukkan hasil
yang negatif serta kasein menunjukkan hasil yang positif dengan membentuk warna kuning Karena kasein mengandung gugus prolin atau hidroksiprolin.
Ninhydrin merupakan oksidator yang menyebabkan dekarboksilasi oksidatif dari asam amino yang menghasilkan CO2, NH3, dan aldehid yang rantainya lebih pendek 1 C dari
asam amino asalnya. Ninhydrin yang tereduksi akan bereaksi dengan NH3 sehingga
membentuk senyawa kompleks berwarna biru dengan absorpsi warna maksimum pada panjang gelombang 570 nm (Hamdan 2007).
Uji belerang dilakukan untuk mengetahui apakah di dalam bahan-bahan yang diujikan terdapat asam amino sistein atau metionin atau tidak. Sistein dan metionin merupakan asam amino yang mengandung S pada molekulnya. Reaksi Pb-asetat dengan asam amino tersebut akan membentuk endapan berwarna hitam atau kelabu. Penambahan NaOH dalam percobaan tersebut ialah untuk mendenaturasi protein sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat dan membentuk garam PbS. Berdasarkan hasil percobaan albumin dan kasein yang berwarna gelap atau kuning gelap, sehingga kasein dan albumin megandung metionin atau sistein. Reaksi yang terjadi ialah
SH-CH2-CH(NH3)+-COO- + NaOH Na2S
Na2S + Pb(CH3COO)2 PbS (hitam) (Handini 2009).
Uji Xantoproteat digunakan untuk mengetahui adanya inti benzene dalam dalam molekul-molekul asam aminonya. Inti benzene dapat ternitrasi oleh asam pekat menghasilkan turunan nitrobenzene. Fenilalanin, triptofan, dan tirosin yang mengandung inti benzene pada molekulnya juga mengalami reaksi denga HNO3 pekat, Albumin, kasein, gelatin, pepton dan
fenol seluruhnya menunjukkan hasil yang positif karena semua bahan mengandung inti benzene pada molekulnya (Handini 2009). Berikut contoh struktur bangun protein yang berinti benzena : —CH2CHCO2OH │ NH2 Feinilanalina
Uji Biuret semua protein yang diujikan memberikan hasil positif. Biuret bereaksi membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam protein. Fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus CO dan