1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Bursa Efek Indonesia (BEI) atau biasa disebut IDX (Indonesia Stock Exchange) merupakan tempat untuk menyediakan sistem dan menyelenggarakan
ataupun merupakan tempat dilakukannya penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain yang memiliki tujuan untuk memperjual belikan efek diantara mereka (www.finansialku.com).
Pada Bursa Efek Indonesia terdapat perusahaan yang telah terdaftar dan terbagi menjadi sembilan sektor yaitu sektor pertanian (agriculture), sektor industri dasar dan kimia (basic industry and chemicals), sektor pertambangan (mining), sektor industri barang konsumsi (consumer goods industry), sektor aneka industri (miscellaneous industry), sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi (infrastructure, utilities, and transportation), sektor keuangan (finance), sektor perdagangan, jasa, dan investasi (trade, service, and investment), dan yang terakhir sektor property, real estate, and building condtruction (www.sahamok.net).
Pada penelitian ini mengambil objek penelitiannya adalah pada sektor industri barang konsumsi (consumer goods industry). Sektor industri barang konsumsi merupakan sektor yang bergerak pada memproduksi kebutuhan- kebutuhan masyarakat yang digunakan pada kegiatan sehari-hari. Pada sektor industri barang konsumsi terdapat beberapa subsektor yaitu subsektor makanan dan minuman, subsektor rokok, subsektor farmasi, subsektor kosmetik dan keperluan rumah tangga, subsektor peralatan rumah tangga dan subsektor industri barang konsumsi lainnya.
Jumlah perusahaan sektor industri barang konsumsi setiap tahunnya mengalami penambahan, tetapi penambahan tersebut tidak terlalu signifikan.
Berikut merupakan jumlah dari perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2015 – 2019.
2
Gambar 1.1
Jumlah Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2015-2019
Sumber: www.edusaham.com (data diolah,2021)
Berdasarkan gambar 1.1 menunjukan jumlah perusahaan sektor industri barang konsumsi selama lima tahun. Jumlah perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI sejak tahun 2015-2019 menunjukan adanya peningkatan. Peningkatan tersebut mengalami secara bertahap, dapat dilihat bahwa puncak jumlah perusahaan sektor industri barang konsumsi terjadi pada tahun 2018-2019. Pada tahun 2018-2019 jumlah perusahaan industri barang konsumsi awalnya 52 perusahaan menjadi 53 perusahaan. Penambahan tersebut berasal dari subsektor makanan dan minuman.
Industri barang konsumsi merupakan sektor yang sering dibutuhkan oleh masyarakat. Dilansir dari berita republika.co.id, menyatakan terdapat tiga sektor yang menjadi penyumbang terbesar penerimaan PDB. Tiga sektor tersebut ialah sektor industri, perdagangan, dan pertanian. PDB merupakan singkatan dari Produk Domestik Bruto. PDB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang didapat dari seluruh unit ekonomi atau jumlah nilai tambah yang didapat dari hasil seluruh unit usaha pada suatu negara tertentu (www.bps.go.id). PDB merupakan suatu indikator untuk mengetahui kondisi ekonomi di Indonesia pada periode tertentu.
0 20 40 60
2015 2016 2017 2018 2019
Jumlah Peusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar di BUrsa Efek
Indonesia (BEI) Tahun 2015-2019
3 Industri makanan dan minuman dan industri kimia, farmasi dan obat tradisional merupakan bagian subsektor dari industri barang konsumsi. Sub sektor tersebut merupakan sub sektor yang memiliki penerimaan PDB tertinggi dibandingkan dengan industri non migas lainnya. Berikut adalah laju pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan (y-on-y) tahun 2019.
Tabel 1.1
Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Industri Pengolahan (y-on-y) Tahun 2019
Lapangan Usaha (y-on-y)
Q4/19 Q4/18
Industri Pengolahan 3,66 4,25
Industri Batubara dan Pengilangan Migas 1,06 -0,01
Industri Nonmigas 3,94 4,73
- Industri Makanan dan Minuman 7,95 2,74
- Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional
12,73 6,86
- Industri Alat Angkutan -2,25 3,23
- Industri Barang Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik, dan Peralatan Listrik
-2,13 1,09
- Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 7,17 10,82
- Industri Pengolahan Tembakau 1,90 12,06
Sumber: www.bps.go.id (Data diolah, 2021)
Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat bahwa pada Q4/2019 sektor yang mengalami peningkatan yang signifikan yaitu pada sektor industri makanan dan minuman, serta sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional. Pada sektor industri makanan dan minuman mengalami kenaikan pada Q4/2019 sebesar 7,95 dibandingkan dengan tahun 2018 yang hanya mendapatkan sebesar 2,74. Sama halnya dengan sektor industri makanan dan minuman, pada sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional mengalami kenaikan pada Q4/2019 sebesar 12,73 dibandingkan dengan tahun 2018 yang hanya mendapatkan 6,86.
4
Sektor manufaktur merupakan sektor yang memiliki tingkat PDB yang tinggi, dan dimana sektor industri barang konsumsi merupakan sub sektor dari sektor manufaktur. Sektor industri barang konsumsi merupakan sektor yang memimpin di sektor manufaktur. Ketika PDB tinggi seharusnya kontribusi pajak kepada negara pun ikut tinggi, dan ketika pajaknya tinggi jika perusahaan- perusahaan melakukan tindakan tax avoidance, maka kerugian negara pun akan semakin tinggi.
1.2 Latar Belakang Penelitian
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang yang dilakukan oleh orang pribadi maupun dilakukan oleh badan yang bersifat memaksa yang berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak adanya imbalan yang bersifat langsung dan digunakan untuk keperluan negara sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
Berdasarkan falsafah Undang-Undang perpajakan, individu maupun badan yang membayar pajak tidak hanya sebagai kewajiban saja, tetapi merupakan bagian hak bagi setiap warga Negara Indonesia dalam berpartisipasi untuk pembangunan nasional maupun dalam pembiayaan negara (www.pajak.go.id).
Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara terutama untuk penerimaan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Anggran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan suatu alat ataupun instrumen yang dipakai untuk mengurus perekonomian di Indonesia. Dibentuknya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk meningkatkan dan memaksimalkan sebagai salah satu sumber penerimaan negara dan untuk mencapai beberapa tujuan yang telah dirancang. Salah satu contoh dari tujuan tersebut yaitu peningkatan investasi, pengurangan jumlah kemiskinan, dan peningkatan dalam pemerataan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga berfungsi untuk menstabilkan perekonomian di Indonesia. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mendapatkan sumber pendanaan terdiri dari beberapa aspek yaitu yang berasal dari penerimaan pajak, penerimaan hibah dari dalam dan dari luar negeri, dan penerimaan negara bukan pajak (www.kemenkeu.go.id).
Dikutip dari CNBC Indonesia, menurut Kementerian Keuangan, penerimaan pajak hingga 31 Desember 2019, hanya dapat mencapai 84,4% dari
5 taget APBN di tahun 2019. Pada tahun 2019 terdapat adanya kekurangan penerimaan pajak (shortfall) sebesar Rp 245,5 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulayani Indrawati mengatakan jika, penerimaan pajak ini tertekan karena dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global yang merembes ke dalam negeri.
Pengaruh tersebut dapat dilihat dari pengumpulan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang kurang menggembirakan ekonomi global. Meskipun penerimaan pajak tertekan, tetapi pajak masih mampu melakukan fungsinya dalam mendukung dunia usaha dan mendorong investasi. Berikut adalah realisasi dan target dari penerimaan pajak tahun 2015-2019.
Gambar 1.2 Realisasi dan Target Penerimaan Pajak Periode 2015-2019 (Dalam Triliun Rupiah)
Sumber: www.cnbcindonesia.com (Data diolah, 2021)
Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat pada hasil persentase yang paling besar yaitu pada tahun 2018 persentasenya mencapai 92%, dan itu merupakan pencapaian yang tertinggi selama lima tahun. Pencapian tersebut dipengaruhi oleh dua faktor, yang pertama yaitu pencapaian tersebut didapat melalui adanya mekanisme perubahan APBN (APBN-P). APBN-P singkatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan. Faktor yang kedua ialah capaian ini tetap dapat diraih meskipun adanya pengurangan penerimaan potensial dari pemberian fasilitas perpajakan, terutama teruntuk penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) untuk usaha mikro, kecil, dan menengah, dari yang sebelumnya 1% menjadi 0,5% dan program
81.5 83.4 89.4 92
84.4
100 100 100 100 100
0 20 40 60 80 100
2015 2016 2017 2018 2019
Dalam Persentase %
Target dan Realisasi Pajak Tahun 2015-2019
realisasi penerimaan pajak target penerimaan pajak
6
percepatan restitusi ataupun pengembalian kelebihan pembayaran pajak (www.nasional.kontan.co.id).
Tabel 1.2 Realisasi Penerimaan Pajak terhadap APBN Periode 2015-2019 (Dalam Triliun Rupiah)
Realisasi 2015 2016 2017 2018 2019
Pendapatan Negara 1.504,5 1.822,5 1.750,3 1.894,7 2.165,1 I. Pendapatan Dalam Negeri 1.494,5 1.820,5 1748,9 1893,5 2164.7
1. Penerimaan
Perpajakan 1.240,4 1.546,7 1.498,9 1.618,1 1.786,4 2. Penerimaan Negara
Bukan Pajak 253,7 273,8 250,0 275,4 378,3
II.Penerimaan Hibah 10,4 2,0 1,4 1,2 0,4
Sumber: www.kemenkeu.go.id (Data diolah, 2021)
Berdasarkan tabel 1.2 yang telah disajikan, dapat dilihat bahwa sumber pendanaan APBN yang paling mendominasi ialah pada penerimaan pajak. Setiap tahunnya mengalami adanya peningkatan. Dengan adanya peningkatan penerimaan pajak pada APBN dapat membantu pada pendanaan negara dan pembangunan negara. Pada penerimaan pajak pada selama periode 2015-2019, pada tahun 2019 mendapatkan penerimaan pajak yang terbesar, yang didapatkan sebesar 1.786,4 triliun. Kenaikan penerimaan yang terjadi pada tahun 2019 dipengaruhi karena penyumbang pajak terbesar pada semester pertama yaitu pajak penghasilan yang telah mencapai Rp 440,17 triliun yang mengalami kenaikan sebesar 4,66%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mendapat sebesar Rp 420,56 triliun (www.klikpajak.id).
Penerimaan pajak setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Menurut Dharma, Imade Surya; Ardiana, (2016), mengatakan bahwa tidak tercapainya target penerimaan pajak disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu faktornya yaitu adanya tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan melakukan tindakan tax avoidance tersebut, karena perusahaan menginginkan laba yang maksimal sehingga perusahaan berusaha untuk melakukan segala macam cara untuk meminimalkan beban pajak.
7 Menurut Ervaniti & Arista Fauzi Kartika Sari, (2020) tax avoidance merupakan suatu tindakan untuk meminimalkan beban pajak dengan cara memamnfaatkan dari peraturan perpajakan dengan batas yang normal dengan begitu dapat dikatakan legal dan tidak melanggar peraturan undang-undang. Tax avoidance merupakan cara perusahaan dalam manajemen pajak penghasilan yang
menaati peraturan perundang-undangan yang dilakukan secara aman dan legal (Windaryani & Jati, 2020). Dengan begitu tax avoidance merupakan cara untuk menghindari pembayaran pajak yang dilakukan secara legal dan sesuai dengan peraturan pajak yang memanfaatkan celah atau kelemahan dari peraturan perpajakan.
Menurut Cahyono, Deddy Dyas; Andini, Rita; Raharjo, (2016) mengatakan jika komite urusan fiskal dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengatakan jika terdapat tiga karakter tax avoidance adalah
sebagai berikut:
1. Terdapat unsur arifisial, yang artinya terdapat peraturan-peraturan yang seolah-olah benar-benar ada dan terdapat didalamnya, tetapi sebenarnya peraturan tersebut tidak ada. Hal tersebut dilakukan karena tidak adanya faktor pajak.
2. Memanfaatkan celah dari peraturan perundang-undangan perpajakan.
3. Konsultan memberikan cara dalam melakukan tax avoidance kepada wajib pajak.
Berdasarkan Angency Theory terdapat adanya keterkaitan dengan tax avoidance (Gazali et al., 2020). Agency Theory adalah hubungan antara prinsipal dan agen.
Prinsipal pada penelitian ini adalah pemegang saham, sedangkan agen adalah manajemen. Prinsipal (pemegang saham) akan memberikan suatu perintah kepada pihak agen (manajemen) dan agen akan melaksanakan perintah tersebut. Prinsipal (pemegang saham) memiliki wewenang dalam operasi perusahaannya, dengan begitu pemegang saham selalu menginginkan laba yang maksimal. Dengan adanya tekanan dari pihak prinsipal maka pihak manajemen akan melakukan segala cara agar mendapatkan laba yang maksimal. Salah satu cara untuk mendapatkan laba
8
yang maksimal, pihak manajemen akan melakukan tindakan tax avoidance dengan cara meminimalkan beban pajak yang berpengaruh pada laba bersih perusahaan.
Tax Avoidance yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan telah terjadi di
Indonesia. Tax Avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi telah terjadi yang pertama pada subsektor makanan dan minuman yaitu PT Coca-Cola Indonesia. PT Coca-Cola Indonesia dikabarkan telah melakukan tax avoidance yang menyebabkan kekurangan untuk pembayaran pajak sebesar Rp 49,24 miliar.
Kasus tax avoidance ini terjadi untuk tahun pajak 2002, 2003, 2004, dan 2006, dari hasil penelusuran Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementrian Keuangan telah menemukan adanya pembengkakan biaya yang besar pada tahun tersebut, yang menyebabkan penghasilan kena pajak beban biayanya yang besar dan mengakibatkan pada setoran pajak yang menjadi kecil. Beban biaya tersebut untuk iklan dengan total sebesar Rp 566,84 miliar. Pendapat dari DJP bahwa total penghasilan kena pajak PT Coca-Cola Indonesia yaitu sebesar Rp 603,48 miliar, berbeda dengan pendapat CIC bahwa penghasilan kena pajak hanya sebesar 492,59 miliar, dengan adanya selisih dari penghasilan kena pajaknya maka DJP melakukan perhitungan kekurangan Pajak Penghasilan (PPh) PT Coca-Cola Indonesia sebesar Rp 49,24 miliar. Menurut DJP, beban biaya ini sangat mencurigakan dan mengarah pada praktik transfer pricing demi meminimalisir pajak. Hakim akan memeriksa kasus ini sebelum menjatuhkan putusan (www.nasional.kontan.co.id).
Kedua fenomena tax avoidance terjadi pada subsektor rokok pada perusahaan PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA). Perusahaan tembakau milik British American Tobacco (BAT) diduga telah melakukan praktik tax avoidance di Indonesia melalui PT Bentoel Internasional Investama Tbk
(RMBA), diperkirakan akibat praktik tax avoidance berpengaruh pada kerugian negara sebesar US$ 13,7 juta per tahun. Dugaan kecurangan ini muncul dari hasil penelusuran Lembaga Tax Justice Network (TJN). Menurut TJN, BAT telah mengalihkan sebagian pendapatannya keluar dari Indonesia, melalui dua cara. Yang pertama yaitu pinjaman intra-perusahaan pada tahun 2013-2015. RMBA telah banyak mengambil pinjaman dari perusahaan yang terafiliasi di Belanda yaitu Rothmans Far East BV, dan pembayaran bunga atas pinjaman bisa dikurangkan
9 dari pajak penghasilan. Fasilitas pinjaman yang diberi yaitu sebesar Rp 5,3 triliun pada bulan Agustus tahun 2013 dan Rp6,7 triliun pada tahun 2015. RMBAT harus membayar bunga pinjaman sebesar Rp 2,25 triliun. Kedua yaitu mealui pembayaran kembali ke Inggris untuk ongkos, layanan, dan royalti. Bentoel melakukan pembayaran untuk royalti, ongkos, dan biaya IT sebesar US$19,7 juta per tahun.
Laporan tersebut mengatakan jika beberapa tahun terakhir, aktivitas ini secara signifikan memburuk kerugian Bentoel di Indonesia. Biaya gabungan dari pembayaran tersebut setara dengan 80% dari kerugian perusahaan sebelum pajak di tahun 2016. Jika dihitung, pendapatan yang hilang dari Indonesia mencapai US$
2,7 juta per tahun (www.ortax.org).
Adanya tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dan karakter eksekutif.
Kepemilikan institusional merupakan jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh pemilik institusional pada akhir tahun. Pemilik institusional yaitu pemiliki saham yang berasal dari luar perusahaan (Amin, Khoirul; Suyono, 2020.).
Keberadaan kepemilikan institusional akan mempengaruhi perusahaan dan akan mendorong terhadap kinerja perusahaan. Kepemilikan institusional akan mempengaruhi pada kebijakan tindakan meminimalkan beban pajak oleh perusahaan dan itu dipengaruhi oleh besar dan kecilnya dari kepemilikan institusional. Semakin besar kepemilikan institusional pada suatu perusahaan, maka perusahaan cenderung akan melakukan tindakan tax avoidance, dikarenakan pemiliki institusional mengharapkan laba yang besar dan yang maksimal.
Berdasarkan penelitian Gazali et al., (2020) menyatakan jika kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Berdasarkan penelitian Cahyono, Deddy Dyas; Andini, Rita; Raharjo, n.d.(2016) menyatakan jika kepemilikan institusional berpengaruh terhadap tax avoidance.Berdasarkan penelitian sebelumnya Arianandini & Ramantha, (2018) menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Menurut Windaryani & Jati, (2020) menyatakan dari hasil penelitiannya bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh terhadap tax avoidance.
10
Kepemilikan manajerial adalah pemilik saham perusahaan yang berasal dari manajemen yang juga ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan yang bersangkutan (Agatha et al., 2020). Kepemilikan manajerial dengan kata lain pemilik pemegang saham yang dimiliki oleh pihak manajemen dan secara aktif dalam pengambilan keputusan. Jika kepemilikan manajemen di sutau perusahaan memiliki tingkat kepemilikan manajemen yang semakin besar, maka manajemen akan mengontrol dan mengelola perusahaan dengan lebih baik demi pihak pemegang saham. Menurut Septiadi et al., (2017) mengatakan bahwa apabila seorang manajer memiliki kepemilikan atau saham pada perusahaan, maka manajer akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan karena keputusan tersebut akan berpengaruh pada manajer itu sendiri, dengan begitu manajer akan mengambil keputusan dengan tepat demi kesejahteraan perusahaan. Dengan adanya pertimbangan terhadap pemegang saham, diharapkan pihak manajemen dapat mengurangi tindakan yang sangat berisiko dan dapat menghindari untuk melakukan tindakan tax avoidance. Berdasarkan penelitian Avianita, (2020) menyatakan jika kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Menurut Sitty Fadhila et al., (2017) menyatakan jika kepemilikan manajerial memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap tax avoidance. Berdasarkan hasil penelitian Amin, Khoirul; Suyono, (2020) menyatakan jika kepemilikan manajerial tidak memiliki pengaruh terhadap tax avoidance. Menurut Astuti et al., (2020) menyatakan jika kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap tax avoidance.
Menurut Aisyah et al., (2019) mengatakan bahwa karakter eksekutif memiliki dua karakter yaitu risk averse dan risk taker. Risk averse merupakan suatu sikap pimpinan yang tidak berani dalam mengambil keputusa. Risk taker merupakan kebalikan dari risk averse, yang berarti pimpinan berani dalam mengambil keputusan. Dilihat dari pengertian tersebut dapat diketahui jika eksekutif memiliki dua karakter.
Karakter pertama yaitu risk taker, yaitu eksekutif yang memiliki sifat yang berani dalam mengambil keputusan, dengan begitu eksekutif berani mengambil risiko yang akan terjadi setelah mengambil keputusan tersebut, meskipun risiko yang akan didapat nantinya akan mendapatkan risiko yang negatif ataupun risiko
11 yang positif. Ekesekutif berani mengambil keputusan pastinya dipengaruhi beberapa faktor yang membuat eksekutif tersebut berani dalam mengambil keputusan. Beberapa faktor tersebut seperti memiliki kedudukan yang tinggi di perusahaan, pendapatan, posisi dan kesejahteraan. Dengan begitu pihak eksekutif bisa saja berani dalam melakukan keputusan untuk melakukan tindakan tax avoidance untuk kepentingan perusahaan.
Sedangkan risk averse kebalikannya dari risk taker. Risk averse yaitu eksekutif yang tidak memiliki keberanian dalam mengambil keputusan. Eksekutif yang tidak berani dalam mengambil keputusan, karena eksekutif takut atau tidak berani menghadapi risiko yang akan diterima nantinya, dan keputusan itu tidak diambil dikarenakan keputusan tersebut memiliki risiko yang sangat tinggi bagi perusahaannya. Dengan begitu eksekutif tidak akan mengambil keputusan untuk melakukan tax avoidance. Diharapkan pihak manajemen mengambil sifat risk averse, sehingga perusahaan tidak akan mengambil tindakan tax avoidance.
Berdasarkan hasil penelitian Ervaniti & Arista Fauzi Kartika Sari, (2020) menyatakan jika karakteristik eksekutif memiliki pengaruh terhadap tax avoidance.
Menurut Oktamawati, (2019) menyatakan jika karakter eksekutif berpengaruh terhadap tax avoidance. Bedasarkan penelitian Wayan Kartana dan Ni Gusti Agung Sri Wulandari, (2018) menyatakan jika karakter eksekutif tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Menurut Rd. Mohd. Raditya Ekaputra dan Asmaul Husna, (2020) menyatakan bahwa karakter eksekutif tidak berpengaruh tehadap tax avoidance.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, dan terlihat bahwa hasil dari penelitian sebelumnya masih terdapat inkosistensi, dan relevan untuk diteliti kembali. Maka penulis meneliti dengan judul “PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KEPEMILIKAN MANAJERIAL, DAN KARAKTER EKSEKUTIF TERHADAP TAX AVOIDANCE (Studi Empiris Pada Perushaan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019)”.
12
1.3 Perumusan Masalah
Dibuatnya peraturan mengenai tax avoidance bertujuan untuk meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan celah pada peraturan yang berlaku. Kegiatan tax avoidance yang diperbolehkan jika dilakukan dengan memiliki itikad yang baik, tujuan yang baik, tidak berniat akan melakukan atas tax avoidance, dan tidak melakukan transaksi palsu. Namun pada kenyataannya yang
terjadi, terdapat beberapa perusahaan yang melakukan tindakan tax avoidance, dengan begitu perusahaan memiliki itikad yang tidak bagus, dan berniat untuk menghindari atas pembayaran beban pajak. Kebanyakan dari perusahaan hanya mementingkan kepentingan dalam perusahaannya dan hanya mementingkan pada penerimaan laba yang maksimal. Perusahaan sektor industri barang konsumsi merupakan sektor yang berada dekat dengan lingkungan sekitar masyarakat.
Berdasarkan pada laju pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan (y-on-y) pada tahun 2019 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yang berarti bahwa pendapatan pada sektor industri barang konsumsi mengalami peningkatan.
Dengan adanya peningkatan tersebut bisa saja terjadinya indikasi tindakan tax avoidance. Seperti halnya yang dilakukan PT. Coca-Cola Indonesia pada tahun
2002-2006 dan PT. Bentoel Internasional Investama Tbk.
Perusahaan yang melakukan tindakan tax avoidance akan berpengaruh pada penerimaan sumber pendanaan pemerintah. Tindakan tax avoidance dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dan karakter eksekutif, dengan ini peneliti menggunakan objek pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019.
Dari rumusan masalah terdapat pertanyaan-pertanyaan penelitian yang mucul adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, karakter eksekutif terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019?
2. Bagaimana pengaruh secara simultan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, karakter eksekutif terhadap tax avoidance pada
13 perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019?
3. Bagaimana pengaruh secara kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, karakter eksekutif terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019:
a. Bagaimana pengaruh secara parsial kepemilikan institusional terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019?
b. Bagaimana pengaruh secara parsial kepemilikan manajerial terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019?
c. Bagaimana pengaruh secara parsial karakter eksekutif terhadap terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan pada penelitia ini adalah:
1. Untuk mengetahui kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, karakter eksekutif terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019.
2. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, karakter eksekutif terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2019.
3. Pengaruh Untuk mengetahui pengaruh secara parsial:
a. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial kepemilikan institusional terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015- 2019.
14
b. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial kepemilikan manajerial terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015- 2019.
c. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial karakter eksekutif terhadap terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015- 2019.
1.5 Manfaat Penelitian
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diharapkan dapat memberikan manfaat yang diambil, dan dapat memberikan suatu kegunaan dalam beberapa aspek adalah sebagai berikut:
1.5.1 Aspek Teoritis
Dari segi aspek teoritis, kegunaan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Akademis
Diharapkan bagi akademis dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai pengaruh kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, karakter eksekutif terhadap tax avoidance. Serta diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmu serta memperluas pemahaman dalam perkembangan ilmu mengenai tax avoidance.
b. Bagi penelitian selanjutnya
Diharapkan dapat memberikan pemahaman tambahan mengenai pengaruh kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, karakter eksekutif terhadap tax avoidance. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi judul penelitian selanjutnya dimasa mendatang dengan lebih baik dan sempurna, dan diharapkan dapat menjadi salah satu sumber penelitian selanjutnya.
15 1.5.2 Aspek Praktis
Dari segi aspek praktis, kegunaan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Perusahaan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, perusahaan akan lebih cermat dalam mengambil keputusan. Perusahaan dapat mempertimbangkan pada saat akan melakukan tax avoidance yang dapat dilihat dari faktor- faktor yang ada dan dapat mengetahui dampak apa saja yang aka terjadi jika melakukan tax avoidance.
b. Bagi Investor
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, investor akan lebih selektif dalam melakukan investasi pada perusahaan. Investor diharapkan dapat mengetahui perusahaan yang telah melakukan tax avoidance.
c. Bagi Pemerintah
Diharapkan dengan adanya penelitian ini membantu pemerintah dalam memperbaiki peraturan mengenai tax avoidance yang diindikasi dari faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam melakukan tax avoidance.
1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Pada sistematika penelitian tugas akhir, merupakan suatu gambaran pada penelitian ini. Untuk memberikan gambaran tersebut, maka gambaran secara garis besar akan dijelaskan adalah sebagai berikut:
a. BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum objek penelitian, yang isinya terdapat berupa profil perusahaan yang akan diteliti, terdapat suatu keistimewaan dalam penentu pengambilan judul penelitian yang akan diambil.
Gambaran-gamabaran tersebut mengenai Tax Avoidance dengan objek penelitian pada Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019, dan didukung oleh tiga variabel yaitu Pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Karakter
16
Eksekutif. Pada bab ini juga terdapat perumusan masalah yang ditunjang oleh tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan tugas akhir.
b. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini berisi penjelasan mengenai teori - teori yang bersangkutan dengan Pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Karakter Eksekutif, Tax Avoidance dan sebagai pendukung solusi permasalahan yang ada pada penelitian ini. Pada bab ini juga merupakan kerangka pemikiran, dan sebagai pedoman untuk pengujian data yang akan diambil pada penelitian ini.
c. BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini menjelaskan tahap awal dari data yang akan diolah oleh peneliti. Pada bab ini juga terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan seperti, karakteristik pada penelitian, alat pengumpulan data, tahapan pelaksanaan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data dan sumber data, teknis analisis data beserta pengujiannya, yang bersangkutan pada Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Karakteristik Manajerial, dan Tax Avoidance.
d. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini menjelaskan hasil dari penelitian yang telah diuji, dan pembahasan dari hasil penelitian yang telah diuji, mencakup analisis statistik, dan pengaruh analisis terhadap varibel. Setelah didapat hasil dari penelitian maka ada pembahasan yang akan dibahas mengenai hasil tersebut.
e. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini menjelaskan mengenai suatu kesimpulan dari hasil penelitian dan saran peneliti baik dari segi aspek teoritis maupun praktis. Pada bab ini menjelaskan bahwa apa yang didapat dari kesimpulan tersebut apakah Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Karakteristik Manajerial, dan Tax Avoidance memiliki hasil pengaruh yang positif atau hasil pengaruh yang negatif.