PEMBAHASAN SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER II TAHUN 2014/2015
MATA KULIAH HUKUM TATA NEGARA
Disusun oleh
MUHAMMAD NUR JAMALUDDIN NPM. 151000126
KELAS D
UNIVERSITY
Muh_Nur_Jamal
D070AF70 16jamal
muh.jamal08
081223956738
muh.nurjamaluddin
Silakan follow ya
muhnurjamaluddin.blogspot.co.id mnurjamaluddin.blogspot.co.id creativityjamal.blogspot.co.id
SAAT INI
Jalan PH. Hasan Mustapa Nomor 28, Gang Senang Raharja, RT 02, RW 15, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul,
Kode POS 40124, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia ASAL
Kampung Pasir Galuma, RT 02, RW 06, Desa Neglasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut,
Provinsi Jawa Barat, Indonesia
Muhammad Nur Jamaluddin
Renungan
Ya Tuhan, saya lupa
Saya benar-benat lupa, padahal sudah belajar dan menghafalnya Ingat:
Ingatlah Aku, maka akan Ku ingatkan pula semua yang kamu lupa?
Ya Tuhan, karena saya lupa
Izinkan saya untuk melihat pekerjaan temanku
Izinkan pula saya untuk menyontek melalui Hand Phone Atau melalui buku yang sudah saya bawa ini
Atau melalui catatan kecil yang sudah saya siapkan ini Ingat:
Bukankah Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak ketahui?
Bukankah Aku lebih dapat melihat apa yang kamu sembunyikan itu?
Ya Tuhan, karena saya ingin mendapat nilai terbaik
Supaya dapat membanggakan diriku, kelurgaku dan juga yang lainnya
Izinkan saya mengahalalkan semua cara ini Ingat:
Bukankah yang memberikan nilai terbaik itu Aku?
Dosen hanyalah sebagai perantara saja dariku?
Jikalau kamu ingin mendapatkan kebahagian di dunia Dan juga kebahagiaan di akhirat
Jangan pernah menghalalkan semua yang telah Aku haramkan Ingat:
Kebahagian di dunia itu hanya bersifat sementara bagimu Aku akan siapkan 99% lagi kebahagiaan untukmu kelak di akhirat
UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG FAKULTAS HUKUM
Jalan Lengkong Besar Nomor 68 Bandung 40261 UJIAN AKHIR SEMESTER TAHUN AKADEMIK 2014/2015
MATA KULIAH : HUKUM TATA NEGARA HARI, TANGGAL : RABU, 18 MARET 2015 KELAS/SEMESTER : A-B-C-D-E-F-G-H-I/II
WAKTU : 90 MENIT
DOSEN : TIM DOSEN
SIFAT UJIAN : CLOSE BOOK
PILIH 5 SOAL DARI SOAL YANG TERSEDIA
SOAL
1. Setelah saudara mempelajari hukum Tata Negara selama setengah semester, jelaskan manfaat apa yang saudara dapatkan dari pelajaran tersebut?
Jawaban:
Manfaat mempelajari Hukum Tata Negara, yaitu:
a. Mengetahui betuk pemeritahan, bentuk negara, sistem pemerintahan, sistem pendelegasian kekuasaan negara, corak pemerintahan, wilayah negara, garis besar organisasi pelaksana, hubungan rakyat dan negara, cara rakyat dalam hak ketatanegaraan, ciri-ciri kepribadian negara serta dasar negara.
b. Mengetahui cara pengisian jabatan pemerintahan dalam suatu negara.
c. Mengetahui urutan pembentukan peraturan perundang-undangan.
d. Mengatahui proses pengunaan perundang-undangan.
e. Mengetahui teori hukum, asas hukum, dan hukum positif negara Indonesia.
2. Bahasan Mata Kuliah Hukum Tata Negara itu sangat luas. Sehubungan hal tesebut:
a. Terangkan ruang lingkup pembahasan materi kuliah Hukum Tata Negera pada Fakultas Hukum!
Jawaban:
Mengenai ruang lingkup hukum tata negara, ada beberapa hal yang meliputinya seperti betuk pemeritahan, bentuk negara, sistem pemerintahan, sistem pendelegasian kekuasaan negara, corak pemerintahan, wilayah negara, garis besar organisasi pelaksana, hubungan rakyat dan negara, cara rakyat dalam hak ketatanegaraan, ciri-ciri kepribadian negara serta dasar negara.
Kemudian untuk ruang lingkup tata negara yang ada kaitannya dengan badan ketatanegaraan yang mempunyai kedudukan sebagai organisasi di negara yakni Presiden, Majelis Permusyawaratan Rakyat, DPR, DPD, BPK, Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Agung.
Para badan pelaksana ketatanegaraan tersebut meliputi cara pembentukannya, tugas dan wewenang pada masing-masing badan, susunan badan tersebut, cara kerja badan ketatanegaraan, masa jabatan, perhubungan kekuasaan antar badan ketatanegaraan, dan sebagainya.
Selain tentang pemerintahan dan badan-badan ketatanegaraan, ada pula konsep pengaturan tentang kehidupan politik rakyat yang meliputi penggolongan, jenis, serta jumlah partai politik (parpol) dalam sebuah negara dan ketentuan-ketentuan lain yang mengatur negara tersebut, kekutaan politik dan pemilihan umum (pemilu), hubungan antara badan ketatanegaraan dan partai politik, kedudukan penting dalam sebuah golongan, arti kedudukan serta peranan golongan penekan, langkah kerjasama antar kekuatan politik, pencerminan pejabat, dan lain sebagainya.
b. Bagaimana ruang lingkup pembahasan Hukum Tata Negara jika dikatikan dengan pendapat J.A.H Logeman?
Jawaban:
Logamann mengatakan bahwa ilmu Hukum Tata Negara mempelajari sekumpulan kaidah hukum yang di dalamnya tersimpul kewajiban dan wewenang kemasyarakatan dari organisasi negara, dari pejabat-pejabatnya keluar, di samping itu kewajiban dan wewenang masing- masing pejabat negara di dalam pertumbuhannya satu sama lain atau dengan kata lain kesatuan (samenhang) dari organisasi.
Jadi menurut Logemann ruang lingkup pembahasan Hukum Tata Negara meliputi:
a. susunan dari jabatan-jabatan;
b. penunjukan mengenai pejabat-pejabat;
c. tugas dan kewajiban yang melakat pada jabatan itu;
d. kekuasaan dan wewenang yang melekat pada jabatan;
e. batas wewenang dan tugas dari jabatan terhadap daerah dan orang-orang yang dikuasainya;
f. hubungan antar jabatan;
g. penggantian jabatan;
h. hubungan antara jabatan dan pejabat.
3. Dalam mempelajari sumber HTN dapat dijumpai sumber HTN dalam arti materiil maupun sumber HTN dalam arti formal. Sehubungan hal tersebut:
a. Jelaskan kedua sumber HTN tersebut, serta sebutkan macam-macam sumber HTN dalam arti formal!
Jawaban:
Sumber hukum dalam arti formal adalah sumber hukum yang dikenal dari bentuknya.
Bentuknya itu yang menyebabkan hukum berlaku umum, diketahui dan ditaati. Disinilah suatu kaidah memperoleh kualifikasi sebagai kaidah hukum dan oleh yang berwenang hukum merupakan petunjuk hidup yang harus ditaati dan diberi perlindungan. Kemudian sumber hukum dalam arti materiil adalah sumber hukum yang menentukan isi hukum.
Adapun macam-macam sumber HTN dalam arti formal adalah sebagai berikut:
1) Ketetapan MPR adalah sumber hukum yang berdasarkan hasil ketetapan Majelis Permusywaratan Rakyat (MPR).
2) Undang-Undang (UU)/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 5 ayat (1) dan pasal 20 ayat (1) serta pasal 22.
3) Peraturan Pemerintah maksudnya adalah Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya yang tercantum dalam pasal 5 ayat (2).
4) Keputusan Presiden maksudnya adalah keputusan presiden ini dimaksudkan untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan Undang-Undang Dasar 1945, Ketetapan MPR dalam bidang eksekutif, atau Peraturan Pemerintah dan bersifat sekali (einmahlig).
5) Peraturan Pelaksana Lainnya, yang dimaksud dengan peraturan pelaksana lainnya adalah seperti Peraturan Menteri, Instruksi Menteri dan lain-lainnya yang harus dengan tegas berdasarkan dan bersumber pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
6) Convention (Konvensi Ketatanegaraan) adalah perbuatan kehidupan ketatanegaraan yang dilakukan berulang-ulang sehingga diterima dan ditaati dalam praktik ketatanegaraan.
Konvensi Ketatanegaraan mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan undang- undang, karena diterima dan dijalankan, bahkan sering menjadi kebiasaan (konvensi) ketatanegaraan menggeser peraturan-peraturan hukum yang tertulis.
7) Traktat perjanjian yaitu perjanjian yang diadakan dua negara atau lebih. Kalau kita amati praktik perjanjian internasional bebrapa negara ada yang dilakukan 3 (tiga) tahapan, yakni perundingan (negotiation), penandatanganan (signature), dan pengesahan (ratification).
Disamping itu ada pula yang dilakukan hanya dua tahapan, yakni perundingan (negotiation) dan penandatanganan (signature).
b. Mengapa Pancasila selain menjadi sumber HTN dalam arti materiil, juga merupakan sumber HTN dalam arti formal!
Jawaban:
Karena Pancasila merupakan sumber hukum nasional. Adapun maksud dari sumber hukum nasioanal bahwa Pancasila sebagaimana yang tertulis dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga dengan hal tersebut Pancasila dijadikan sebagai sumber HTN dalam arti metriil dan juga merupakan sumber HTN dalam arti formal.
c. Diantara kedua sumber HTN tersebut, mana yang lebih penting bagi HTN? Berikan alasannya!
Jawaban:
Kedua sumber HTN baik dalam arti materiil dan dalam arti formil merupakan sumber HTN yang penting karena dengan adanya sumber hukum materiil maka sumber hukum formil pun dapat terlaksana dalam sistem penyelenggaraan ketatanegaraan.
4. Lingkup pembahasan Hukum Tata Negara meliputi pengertian hukum (teori), asas-asas hukum dan hukum positif. Sehubungan pernyataan tersebut:
a. Jelaskan dan berikan contoh bahasan HTN yang meliputi ketiga lingkup tersebut?
Jawaban:
Hukum Tata Negara dalam lingkup hukum (teori) merupakan ilmu pengetahuan yang mempunyai nilai teoritis yang mengandung arti bahwa hukum tata negara dipelajari berdasarkan teori-teori yang berlaku, contohnya teori demokrasi, teori negara hukum dan teori triaspolitica. Kemudian setiap peraturan hukum yang berlaku pada hakikatnya mengandung asas-asas tertentu. Asas-asas itu berakar di dalam masyarakat selama masyarakat masih menerimanya, maka peraturan tersebut masih dipertahankan. Demikian halnya dengan Hukum Tata Negara dalam lingkup asas-asas hukum bahwa hukum tata negara dipelajari berdasarkan asas-asas yang berlaku di dalam masyarakat, contohnya asas Pancasila, asas negara hukum dan asas demokrasi. Selanjutnya Hukum Tata Negara dalam lingkup hukum positif langsung membicarakan masalah-masalah hukum tata negara yang berlaku pada saat sekarang di Indonesia, contohnya pembentukan perundang-undangan yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011.
b. Kemukakan perbedaan pengertian hukum dan asas-asas hukum, serta berikan contohnya!
Jawaban:
Menurut Prof. Kusumaatmadja, S. H., bahwa hukum merupakan keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, dan juga mencakupi lembaga-lembaga (institutions) dan proses-proses (processes) yang mewujudkan berlakunya kaidah-kaidah itu dalam kenyataan. Contohnya hukum pidana, hukum tata negara, hukum perdata, hukum Islam dan lain-lain.
Kemudian asas-asas hukum adalah sebuah aturan dasar atau merupakan prinsip hukum yang masih bersifat abstrak. Dapat pula dikatakan bahwa asas dalam hukum merupakan dasar yang melatarbelakangi suatu peraturan yang bersifat kongkret dan proses hukum itu dapat dilaksanakan. Contohnya, yaitu:
1) Asas legalitas yaitu adanya persamaan kedudukan, perlindungan, dan keadilan di hadapan hukum.
2) Asas keseimbangan yaitu proses hukum yang ada haruslah menegakkan hak asasi manusia dan melindungi ketertiban umum.
5. Salah satu sumber HTN dalam arti formal adalah hukum tertulis. Identik dengan peraturan
a. Apa maksud peraturan perundang-undangan yang dimaksud? Jelaskan dimana dasar hukumnya?
Jawaban:
Peraturan perundang-undangan yang dimaksud adalah peraturan tertulis dan berlaku saat itu di Indonesia. Adapun hierarki peraturan perundang-undangan yang dimaksud tercantum dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, yaitu:
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
3) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang 4) Peraturan Pemerintah
5) Peraturan Presiden
6) Peraturan Daerah Provinsi
7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
b. Apakah sama undang-undang dalam arti materiil dengan undang-undang dalam arti formal?
Jelaskan!
Jawaban:
Undang-Undang dalam arti materiil ialah setiap peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang dilihat dari isinya disebut undang-undang dan mengikat setiap warga negara secara umum. Contohnya seperti Undang-Undang Dasar, ketetapan MPR, undang-undang, peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, keputusan presiden, dan peraturan daerah.
Kemudian Undang-Undang dalam arti formil ialah setiap keputusan penguasa yang dilihat dari bentuknya dan cara terjadinya dapat disebut undang-undang. Jadi, undang-undang dalam arti formal merupakan ketetapan penguasa yang memperoleh sebutan undang-undang karena cara pembentukannya. Misalnya, ketentuan Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 (amendemen) yang berbunyi: “Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. Jadi, undang-undang yang dibentuk oleh presiden bersama DPR tersebut dapat diakui sebagai sumber hukum formil karena dibentuk oleh yang berwenang sehingga derajat peraturan itu sah sebagai undang-undang.
6. Negara Repbulik Indonesia di bawah UUD 1945 menenpatkan kebiasaan ketatanegaraan/konvensi ketatanegaraan sebagai sub sistem Hukum Tata Negara, sehingga diterima sebagai salah satu sumber HTN dalam arti formal.
a. Jelaskan ciri-ciri dari konvensi!
Jawaban:
Konvensi ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1) Merupakan kebiasaan yang berulang kali dan terpelihara dalam praktik penyelenggarannya.
2) Tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar dan berjalan sejajar.
3) Diterima oleh seluruh rakyat.
4) Bersifat sebagai pelengkap, sehingga memungkinkan sebagai aturan-aturan dasar yang tidak terdapat dalam Undang-Undang Dasar.
b. Mengapa konvensi selalu ditaati?
Jawaban:
Alasan konvensi selalu ditaati:
1) Konvensi ditaati dalam rangka memelihara dan mewujudkan kedaulatan raktyat, karena konvensi merupakan salah satu uupaya mewujudkan dan memelihara demokrasi.
2) Konvensi ditaati, karena hasrat atau keinginan untuk memelihara tradisi pemerintahan konstitusional (constitutional government).
3) Konvensi ditaati, karena setiap pelanggaran akan membawa atau berakibat pelanggaran terhadap kaidah hukum.
4) Konvensi ditaati, karena didorong oleh hasrat atau keinginan agar roda pemerintahan negara yang kompleks tetap dapat berjalan secara tertib.
5) Konvensi ditaati, karena takut atau khawatir menghadapi ancaman hukuman tertentu, seperti impeachment atau takut terkena sanksi politik tertentu, seperti kehilangan jabatan.
6) Konvensi ditaati, karena pengaruh pendapat umum (public opinion). Pelanggaran terhadap konvensi akan menimbulkan reaksi umum, misalnya kehilangan dukungan masyarakat.
c. Mengapa konvensi dapat mengesampingkan kaidah hukum tertulis?
Jawaban:
Karena konvensi mempunyai kekuatan mengikat secara politik sebagai suatu etika atau moral (political binding), sehingga dalam kenyataannya kekuatan mengikat secara politis mendorong ketaatan dan kekuatan mengikat secara hukum. Misalnya, pidato Presiden setiap tanggal 16 Agustus, Pengesahan Rancangan Undang-undang yang telah disetujui DPR, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Agama yang dianut Presiden dan Wakil Presiden, konvensi dalam pembuatan perjanjian internasional.