PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
PENGGUNAAN MODEL KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (KEPALA BERNOMER) TERHADAP KEMAMPUAN MEMBEDAKAN PARAGRAF INDUKTIF DAN
PARAGRAF DEDUKTIF PADA SISWA XI IPS MA MA’ARIF BANGIL
Laporan Ini Dibuat Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Menyelesaikan kegiatan Akademik (Praktik Pengalaman Lapangan)
OLEH :
AGUS BUDI LAKSONO
NPM: 09188201002
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
STKIP – STIT PGRI PASURUAN
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini telah disetujui dan disahkan guna untuk menyelesaikan tugas akhir Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di MA Ma’arif Bangil
Pasuruan Tahun Akademik 2012
Praktikan :
AGUS BUDI LAKSONO
NPM: 09188201002
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) – STIT PGRI PASURUAN
Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal …………
Mengetahui,
Kepala MA Ma’arif Bangil
Drs.SUCIPTO NIP :
Guru Pamong Bahasa Indoesia
Dra.CHUSNUL CHOTIMAH NIP :
Dosen Pembimbing
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan segala kesempurnaannya, atas segala limpahan Rahmat, hidayah serta Inayahnya sehingga penyusun laporan studi kasus ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Penelitian Tindakan Kelas dengan judul Penggunaan Model Kooperatif Tipe
Numbered HeadTogether (kepala bernomor) Terhadap Kemampuan Membedakan Paragraf
Induktif dan Paragraf Deduktif pada siswa ini merupakan sebagian komponen dalam rangka program pengenalan lapangan dan penempatan kemampuan mengajar yang dilaksanakan di MA Ma’arif Bangil.
Dalam kesempatan kali ini tidak lupa pula penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1. Drs. SUCIPTO selaku kepala sekolah MA Ma’arif Bangil yang telah memberikan waktu dan tempat pada penyusun untuk melakukan penelitian dalam menyelesaikan laporan Penelitian Tindakan Kelas ini.
2. Dra. SUCHAENAH selaku dosen pembimbing yang banyak memberikan bimbingan dan pengarahan selama berlangsungnya proses Penelitian Tindakan Kelas kepada penyusun.
3. Dra.CHUSNUL CHOTIMAH selaku guru pamong yang telah banyak memberikan pangarahan dan pertimbangan pada penyusun dalam menyelesaikan laporan penelitian tindakan kelas dan layanan bimbingan.
4. Bapak dan Ibu guru MA Ma’arif Bangil yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran kepada penyusun.
5. Rekan – rekan PPL di MA Ma’arif Bangil yang telah memberikan bimbingan dan saran kepada penyusun.
6. Pihak – pihak lain yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas ini.
Semoga laporan penelitian tindakan kelas dan layanan bimbingan ini dapat
dipergunakan untuk kebaikan peserta didik khususnya dan berkontribusi untuk mengajukan pendidikan bangsa pada umumnya. Amin. . .
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang Masalah
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan. Bahasa digunakan dalam
berbagai kegiatan, kegiatan berpikir, mengemukakan pendapat, menyampaikan maksud kepada orang lain, mengusulkan sesuatu dan semua orang akan memerlukan bahasa.
Menurut Prof.Anderson (dalam Tarigan1990 : 3) mengemukakan ada delapan prinsip dasar, yaitu :
1. Bahasa adalah suatu sistem.
2. Bahasa adalah vokal (bunyi ujaran).
3. Bahasa tersusun dari lambang-lambang arbitrer
4. Setiap bahasa bersifat unik, khas.
5. Bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan.
6. Bahasa adalah alat komunikasi.
7. Bahasa berhubungan erat dengan budaya tempatnya berada
8. Bahasa selalu berubah-ubah
Apabila seseorang mempunyai kompetensi bahasa yang baik maka dia dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan baik dan lancar, baik secara lisan maupun tertulis. Bahasa seseorang akan mencerminkan pikirannya., semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya.
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup empat aspek keterampilan berbahasa. Keempat keterampilan tersebut meliputi :
1. Keterampilan menyimak (listening skills);
2. Keterampilan berbicara (speaking skills);
3. Keterampilan membaca (reading skills);
4. Keterampilan menulis(writing skills); (Tarigan,1990)
Dari keempat keterampilan berbahasa diatas, salah satunya keterampilan membaca.
Menurut Hodgson (dalam Tarigan,1990 :7) membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata / bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak itu tidak terlaksana dengan baik.
penting dimiliki oleh peserta didik sebagai bentuk pemerolehan pesan dari lambing-lambang bahasa tulis dan sebagai kemampuan lanjutan setelah kemampuan menyimak dan berbicara. Merujuk pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Atas kelas XI Semester I, dijelaskan bahwa Standar Kompetensi: “memehami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring”. Kompetensi Dasar:”menemukan perbedaan paragraf induktif dan paragraf deduktif melalui kegiatan membaca
intensif”(Depdiknas, 2006 : 266).
Setelah mengadakan prariset pada tanggal 15 Oktober 2012 di MA Ma’arif Bangil, terdapat hal yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini, tentang kemampuan membedakan paragraf induktif dan paragraf deduktif dalam karangan deskripsi. Untuk menumbuhkan kemampuan minat membaca atau menentukan perbedaan paragraph induktif dan paragraf deduktif secara optimal, maka diperlukan suatu pendekatan dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa lebih memahami pelajaran yang diberikan.
http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/2002 pendekatan adalah suatu upaya
penyederhanaan masalah sampai batas-batas tertentu sehingga masih dapat ditoleransi untuk memudahkan penyelesaiannya. Upaya ini digunakan hampir dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dimana suatu masalah baru umumnya diselesaikan dengan pengetahuan modifikasi cara pemecahan yang telah diketahui bagi permasalahan lain. Dari beberapa pendapat di atas, maka jelaslah bahwa pendekatan merupakan cara memulai sesuatu untuk memudahkan dalam pemecahan suatu masalah.
maka semua prinsip dasar pembelajaran kooperatif melekat pada tipe ini. Ini berarti dalam NHT ada saling ketergantungan positif antar siswa, ada tanggung jawab perseorangan, serta ada komunikasi antar anggota kelompok. Pelibatan siswa secara kolaboratif dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia kelas X1 semester 1 di MA Ma’arif Bangil, bahwa rendahnya kemampuan siswa dalam membaca umumnya nilai rata-rata siswa 60 hal ini merujuk di bawah KKM, khususnya
membedakan membedakan paragraf induktif dan deduktif dengan menggunakan media LKS. Dengan demikian masih banyak siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang berlaku di sekolah tersebut minimal nilai 75. Hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain: rendahnya siswa dalam menentukan kalimat utama, rendahnya dalam menentukan kalimat penjelas, dan rendahnya siswa dalam
membedakan paragraf induktif dan deduktif. Hal ini ditujukan pada pra penelitian yang penulis lakukan sebagi berikut:
Tabel 1
Hasil Siswa Membedakan Paragraf Induktif dan Deduktif Siswa Kelas XI IPS Semester Ganjil MA Ma’arif Bangil Tahun Pelajaran 20012/2013
No Interval Kategori Jumlah siswa Presentase
1 72-100 Tuntas 7 18,35 %
Jumlah 30 100%
Melalui serangkaian pemikiran, penulis berketetapan untuk mencoba menggunakan model kooperatife tipe Numbered Head Together (Kepala Bernomor) pada
pembelajaran membedakan paragraph deduktif dan induktif. Penggunaan model kooperatife Numbered Head Together Kepala Bernomor) ini penulis gunakan untuk memenuhi tuntutan cara pengajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM). Dalam hal ini, guru hanya sebagai fasilitator dan motivator, siswa yang lebih aktif dalam proses kegiatan belajar.
1.2 Rumusan masalah
Permasalahan mendasar ini dalam penelitian adalah “Apakah dengan menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together(kepala Bernomor) dapat Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Membedakan Paragraf Induktif dan Deduktif pada Siswa Kelas XI IPS MA Ma’arif Bangil Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013”.
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Untuk menjaga penalitian ini tidak menyimpang dari permasalahan, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1. Subjek penelitian : Siswa Kelas XI IPS .
2. Tempat Penelitian : MA Ma’arif Bangil.
4. Objek Penelitian : Penggunaan model kooperatif tipe Numbered HeadTogether (kepala bernomor) terhadap kemampuan membedakan paragraf induktif dan paragraf deduktif.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang dilakukan penulis, untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas XI IPS MA Ma’arif Bangil dalam membedakan paragraf induktif dan paragraf deduktif I dengan menggunakan model Numbered Head Together (Kepala Bernomor).
2. Manfaat Penelitian
a. Sebagai bahan masukan atau informasi kepada guru Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya dalam membedakan paragraf induktif dan paragraf deduktif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Paragraf Induktif dan Deduktif
1. Pengertian Paragraf induktif dan deduktif
Paragraf adalah seperangkat kalimat tersusun logis sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan (Tarigan 2009:5). Sedangkan menurut Dalman (2009) Paragraf adalah satuan pengembangan terkecil dari suatu karangan.
Paragraf adalah bagian karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan secara utuh dan padu serta membetuk satu kesatuan pikiran (Wikipedia Bahasa Indonesia. 2002).
Paragraf adalah suatu bagian dari bab sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan garis baru. Paragraf dikenal juga dengan nama alinea.
Paragraf mengandung suatu pikiran pokok.kalimat-kalimat yang membentuk suatu paragraf umumnya dapat dibagi atas dua jenis, yaitu kalimat topik dan kalimat jabaran
Terdapat tiga persyaratan agar paragraf menjadi padu, yaitu kepaduan, kesatuan, dan kelengkapan. Unsur paragraf meliputi:
a. Kalimat topik;
b. Kalimat pengembangan atau kalimat penjelas;
c. Kalimat penegas.
Dalam sebuah karangan yang utuh, fungsi utama paragraf yaitu:
1. Untuk menandai pembukaan atau awal ide/gagasan baru,
2. Sebagai pengembang lebih lanjut tentang ide sebelumnya, atau,
3. Sebagai penegasan terhadap gagasan yang diungkapkan terlebih dahulu.
Paragraf induktif dan paragraf deduktif adalah salah satu contoh paragraf yang dilihat dari letak gagasan utamanya.
Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Paragraf yang dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat topik kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas. Jika pikiran pokok terdapat dalam kalimat pertama, maka dapat dipahami bahwa pengarang menggunakan cara berfikir deduktif, sebaliknya, jika pikiran pokok terdapat dalam kalimat terakhir, pengarang bersangkutan mempergunakan cara berfikir induktif.
Dari pendapat tersebut, penulis simpulkan bahwa paragraf induktif adalah paragraf yang menyajikan penjelasan terlebih dahulu, barulah diakhiri dengan pokok pembicaraan. Paragraf induktif mutlak diawali dari pernyataan atau fakta khusus yang menuju kesimpulan umum. Fakta atau pernyataan khusus tersebut merupakan landasan penarikan kesimpulan.
Paragraf deduktif adalah Paragraf yang dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat topik kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelasan (Dalman ,2009 : 32)
Paragraf deduktif adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat topik kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas.
Dari pendapat tersebut disimpulkan bahwa paragraf deduktif adalah paragraf yang menyajikan persoalan dari yang bersifat khusus menuju kesimpulan yang umum.
Induktif adalah paragraf yang menyajikan penjelasan terlebih dahulu, barulah diakhiri dengan pokok pembicaraan. Adapun syarat-syarat paragraf induktif menurut Sunarno (2007) sebagai berikut:
a. Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus.
b. Menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus.
c. Kesimpulan terdapat di akhir paragraph.
d. Menentukan kalimat utama, kalimat penegas, kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf.
e. Gagasan utama terdapat pada kalimat utama.
f. Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus.
g. Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan utama
Paragraf deduktif adalah paragraf yang menyajikan pokok permasalahn terlebih dahulu, lalu menyusul uraian yang terinci mengenai permasalahan atau gagasan. Adapun syarat-syarat paragraf deduktif menurut Sunarno(2007) sebagai berikut:
1. Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa umum.
2. Menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus.
4. Menentukan kalimat utama, kalimat penjelas, kalimat utama paragraf induktif terletak di awal paragraf.
5. Gagasan utama terdapat terdapat pada kalimat utama.
6. Kalimat penjelas terletak setelah setelah kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus.
7. Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan utama.
3. Contoh Paragraf Induktif dan Paragraf Deduktif
contoh paragraf induktif sebagai berikut :
Semua orang menyadari bahwa bahasa merupakan sarana pengembangan budaya. Bahasa merupakan sendi-sendi kehidupan. Tanpa bahasa, sendi-sendi kehidupan akan lemah. Komunikasi tidak lancar dan penerimaan informasi yang ada akan tersendat. Memang bahasa alat komunikasi yang penting, efektif, dan efisien.
contoh paragraf deduktif sebagai berikut :
Kemauannya sulit untuk diikuti. Para peserta rapat telah menyepakati hal itu. Akan tetapi, hari ini ia memaksa menggunakannya untuk membuka usaha baru. Banyak di antara peserta rapat yang kurang menyukai sikapnya. Dalam rapat-rapat sebelumnya telah diputuskan bahwa dana koperasi itu harus yang semaunya sendiri.
perbedaan paragraf induktif dan paragraph deduktif sebagai berikut:
a. kalimat utama
letak kalimat utama paragraph induktif terdapat di akhir paragraf, sedangkan paragraf deduktif terdapat di awal paragraf.
b. isi paragraf
Dilihat dari isi, paragraf induktif diawali dengan uraian/penjelasan bersifat khusus dan di akhiri dengan pernyataan umum. Sedangkan paragraf deduktif dimulai dengan pernyataan umum di akhiri dengan uraian atau penjelasan khusus.
5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Kemampuan Membedakan Paragraf Induktif Dan Deduktif
Yang menyebabkan rendahnya kemampuan siswa dalam membedakan paragraf induktif dan deduktif dalam pembelajaran selama ini yaitu:
a. Siswa kurang siap dalam mengikuti pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
b. Rendahnya siswa dalam menentukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf.
d. Rendahnya siswa dalam membedakan paragraph induktif dan deduktif.
e. Rendahnya siswa dalam menyimpulkan paragraph induktif dan deduktif.
2.1.2 Membaca
1. Pengertian membaca
Membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan.
Menurut Anderson (dalam Dalman 2009:2)
membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recoding and decoding process). Pembacaan sandi decoding process) tersebut merupakan suatu penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran dalam bentuk tulisan, sedangkan istilah penyandian kembali (recoding)digunakan untuk menggantikan membaca (reading) karena mula-mula lambang tertulis diubah menjadi bunyi, baru kemudian sandi itu dibaca.
Menurut Damaianti dalam Harras,dkk. (2003:3) mengemukakan bahwa
membaca merupakan hasil interaksi antara persepsi terhadap lambang-lambang yang mewujudkan bahasa melalui keterampilan berbahasa yang dimiliki
pembaca dan pengetahuannya tentang alam sekitar.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat penulis simpulkan bahwa membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan.
Membaca intensif adalah membaca dengan penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya kita kuasai.
Yang termasuk dalam membaca intensif adalah :
1. Membaca Teliti
Membaca jenis ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka sering kali seseorang perlu membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.
2. Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman (reading for understanding) adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami tentang standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standards), resensi kritis (critical review), dan pola-pola fiksi (patterns of fiction).
3. Membaca Kritis
Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara bijakasana, mendalam, evaluatif, dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan, baik makna baris-baris, makna antar baris, maupun makna balik baris.
4. Membaca Ide
5. Membaca Kreatif
Membaca kreatif adalah kegiatan membaca yang tidak hanya sekedar menagkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.
http://guruit07.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-membaca-dan.html
2. Tujuan membaca
Pada dasarnya kegiatan membaca bertujuan untuk mencari dan memperoleh pesan atau memahami makna melalui bacaan. Tujuan membaca tersebut akan berpengaruh kepada jenis bacaan yang dipilih, misalnya, fiksi atau nonfiksi.
Menurut Anderson (dalam Dalman 2009:6) ada tujuh macam kegiatan membaca, yaitu :
1. Reading for details or fact
2. Reading for mean ideas
3. Reading for sequence or organization
4. Reading for inference
5. Reading to classify
6. Reading to evaluate
7. Reading to compare or contrast
Menurut Nurhadi (dalam Dalman 2009:7) ada beberapa macam variasi tujuan membaca sebagai berikut:
b. Membaca untuk tujuan menangkap garis besar bacaan
c. Membaca untuk menikmati karya sastra
d. Membaca untuk mengisi waktu luang
e. Membaca untuk mencari keterangan tentang suatu istilah
2.1.3 Model pembelajaran Tipe Numbered Head Together (kepala bernomor)
1. Hakikat Model pembelajaran Tipe Numbered Head Together(Kepala
Bernomor)
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutemakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelejari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar terlibat secara aktif dalam proses berfikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.
mengemukakan tiga tujuan yanghendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu:
1. Hasil belajar akademik struktural
2. Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
3. Pengakuan adanya keragaman.
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
4. Pengembangan keterampilan sosial
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan idea tau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen (1993) dengan tiga langkah yaitu :
1. Pembentukan kelompok
2. Diskusi masalah
3. Tukar jawaban antar kelompok.
1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
2. Pembentukan kelompok
Dalam tahap pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang social, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal ( pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau panduan dalam pembentukan kelompok, agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berfikir bersama untuk menggambarkan atau meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
6. Memberi kesimpulan
Guru memeberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasi belajar rendah yang dikemukakan oleh Linda Lundreg dalam Ibrahim (2000:18) antara lain :
a. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
b. Memperbaiki kehadiran
c. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
d. Perilaku mennganggu menjadi lebih kecil
e. Konflik antara pribadi berkurang
f. Pemahaman yang lebih mendalam
g. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
h. Hasil belajar lebih tinggi
2. Penggunaan Model Kooperatif Tipe Numbered Head Together (Kepala
Bernomor) Untuk membedakan paragraf deduktif dan paragraf induktif
Proses Pembelajarn dengan menerapkan model kooperatif tipe Numbered Head Together memungkinkan siswa untuk memperoleh pemahaman dan informasi secara optimal karena pembelajaran ini dilaksanakan dengan diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembalajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan alamiah.
Selain itu, pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif Numbered Head Together dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa karena dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi dan saling mengoreksi antar teman sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan rasa kebersamaan dan saling memahami antar satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply)
2.2 Hipotesis Tindakan
Dari kajian tersebut maka dapat diperoleh suatu hipotesis tindakan sebagai berikut :
1. Model kooperatif tipe Numbered Head Together (kepala bernomor) dapat
meningkatkan kemempuan siswa dalam membedakan paragraf deduktif dan paragraf induktif
2. Model kooperatif tipe Numbered Head Together (Kepala Bernomor) dapat
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Setting penelitian
1. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI semester 1 (ganjil) tahun pelajaran 2012-2013 selama 3 bulan, yaitu dari bulan September sampai Desember 2012.
2. Tempat penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas tindakan. Penelitian dilaksanakan di MA Ma’arif Bangil Kabupaten Pasuruan.
3. Subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS MA Ma’arif Bangil.
3.2 Prosedur Penelitian
3.2.1 Gambaran Umum
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus yang berlangsung selama dua bulan. Tiap siklus terdiri atas satu kali pertemuan, tiap-tiap siklus terdiri satu kali pertemuan, tiap-tiap siklus terdiri atas empat tahap pelaksaan yaitu:
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Siklus I
a. Perencanaan
1. Membuat perangkat pembelajaran
2. Menyusun scenario pembelajaran
3. Mempersiapkan alat/sarana yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4. Mempersiapkan lembar peniliaian dan catatan lapangan.
b. Pelaksaan
Pendahuluan
1. Salam
2. Presensi: guru menyanakan siapa yang tidak hadir kepada ketua kelas/perangkat kelas
3. Apersepsi
4. Guru memotivasi siswa dengan menjelaskan kompetensi atau indikator pencapaian dan tujuan yang akan dicapai; manfaat kompetensi dalam kehidupan sehari-hari
5. Guru menginformasikan langkah-langkah kegiatan untuk mencapai kompetensi/tujuan
Kegiatan inti
1. Guru menyajikan materi pembelajaran membedakan paragraf deduktif dan paragraf induktif
3. Siswa siswa membaca sebuah karangan dan mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan paragraf induktif
4. Guru bertanya jawab kepada siswa dalam kelompok tentang hasil diskusinya dan mempersilahkan siswa pada kelompok lain menanggapinya
5. Mengadakan tes tertulis secara individu diakhir siklus untuk mengetahui pemahaman dan penguasaan siswa setelah proses kegiatan pembalajaran.
Penutup
1. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil pembelajaran
2. Guru melakukan refleksi; menanyakan bagaimana kegiatan pembelajaran pada hari itu, apa manfaatnya dan hambatannya.
c. Pengamatan
Pengamatan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan oleh peneliti dengan dibantu oleh guru pendamping dengan menggunakan lembar pengamatan aktivitas guru pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran.
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis dan membuat simpulan
Siklus II
a. Perencanaan
1. Membuat perangkat pembelajaran
2. Menyusun scenario pembelajaran
3. Mempersiapkan alat/sarana yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran
4. Mempersiapkan lembar peniliaian dan catatan lapangan
b. Pelaksaan
Pendahuluan
1. Salam
2. Presensi: guru menyanakan siapa yang tidak hadir kepada ketua kelas/perangkat kelas
3. Apersepsi
4. Guru memotivasi siswa dengan menjelaskan kompetensi atau indikator pencapaian dan tujuan yang akan dicapai; manfaat kompetensi dalam kehidupan sehari-hari
5. Guru menginformasikan langkah-langkah kegiatan untuk mencapai kompetensi/tujuan
Kegiatan inti
2. Siswa membentuk kelompok belajar dengan cara berhitungdan melakukan transisi secara efisien dengan bimbingan guru.
3. Siswa siswa membaca sebuah karangan dan mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan paragraf induktif
4. Guru bertanya jawab kepada siswa dalam kelompok tentang hasil diskusinya dan mempersilahkan siswa pada kelompok lain menanggapinya
5. Mengadakan tes tertulis secara individu diakhir siklus untuk mengetahui pemahaman dan penguasaan siswa setelah proses kegiatan pembalajaran.
Penutup
1. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil pembelajaran
2. Guru melakukan refleksi; menanyakan bagaimana kegiatan pembelajaran pada hari itu, apa manfaatnya dan hambatannya.
c. Pengamatan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan oleh peneliti dengan dibantu oleh guru pendamping dengan menggunakan lembar pengamatan aktivitas guru pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran.
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis dan membuat simpulan
Siklus III
a. Perencanaan
1. Membuat perangkat pembelajaran
2. Menyusun scenario pembelajaran
3. Mempersiapkan alat/sarana yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran
4. Mempersiapkan lembar peniliaian dan catatan lapangan
b. Pelaksaan
Pendahuluan
1. Salam
2. Presensi: guru menyanakan siapa yang tidak hadir kepada ketua kelas/perangkat kelas
3. Apersepsi
4. Guru memotivasi siswa dengan menjelaskan kompetensi atau indikator pencapaian dan tujuan yang akan dicapai; manfaat kompetensi dalam kehidupan sehari-hari
5. Guru menginformasikan langkah-langkah kegiatan untuk mencapai kompetensi/tujuan
Kegiatan inti
1. Guru menyajikan materi pembelajaran membedakan paragraf deduktif dan paragraf induktif
3. Siswa siswa membaca sebuah karangan dan mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan paragraf induktif
4. Guru bertanya jawab kepada siswa dalam kelompok tentang hasil diskusinya dan mempersilahkan siswa pada kelompok lain menanggapinya
5. Mengadakan tes tertulis secara individu diakhir siklus untuk mengetahui pemahaman dan penguasaan siswa setelah proses kegiatan pembalajaran.
Penutup
1. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil pembelajaran
2. Guru melakukan refleksi; menanyakan bagaimana kegiatan pembelajaran pada hari itu, apa manfaatnya dan hambatannya.
c. Pengamatan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan oleh peneliti dengan dibantu oleh guru pendamping dengan menggunakan lembar pengamatan aktivitas guru pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran.
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis dan membuat simpulan
berdasarkan hasil observasi, catatan lapangan dan hasil tes yang digunakan untuk perkembangan kemajuan dan kelemahan yang terjadi sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya.
3.2.2 Rincian Prosedur Penelitian
1. Analisis Data Awal
Data yang pertama yang sudah terkumpul dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Pada lembar hasil kemampuan siswa, guru mengoreksi dan menghitung jumlah jawaban yang diperoleh dari hasil mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan paragraf induktif.
b. Memasukkan ke dalam tabel skor untuk melihat tingkat kemampuan mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan induktif.
2. Analisis Data kedua
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data kedua adalah:
a. Pada lembar hasil kemampuan siswa, guru menganalisis hasil kemampuan siswa dalam mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan paragraf induktif. Selanjutnya memberikan skor dan bobot pada jawaban yang sesuai.
b. Memasukkan ke dalam tabel skor untuk melihat tingkat kemampuan mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan induktif yang diperoleh masing-masing siswa pada siklus ke-2.
3. Analisis Data Ke tiga
a. Pada lembar hasil kemampuan siswa, guru menganalisis hasil kemampuan siswa dalam mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan induktif, selanjutnya memberikan skor dan bobot pada jawaban yang sesuai.
b. Memasukkan kedalam tabel skor untuk melihat tingkat kemampuan mengidentifikasi perbedaan paragraf diduktif dan induktif pada sebuah karangan, yang diperoleh masing-masing siswa pada siklus ketiga.
4. Analisis data terakhir
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data terakhir adalah:
a. Pada hasil lembar kemampuan siswa, guru memasukkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan induktif sebuah karangan.
b. Selanjutnya, membandingkan peningkatan hasil yang diperoleh oleh siswa di setiap siklusnya. Data penelitian disajikan atau diklasifikasikan dalam tabel. Adapun nilai-nilai yang diperoleh dari hasil tes kemampuan siswa dalam mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan induktif adalah sebagai berikut :
TABEL 2
DATA KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI PERBEDAAN PARAGRAF DEDUKTIF DAN INDUKTIF
NO NAMA PENILAIAN
SIKLUS I SIKLUS 2 SIKLUS 3
1 AHMAD FAUZI 65 70 75
2 AHMAD MUZAHID 68 70 75
3 AISYAH DEWI WARDAH 75 82 85
4 AKHMAD UDIN 65 70 75
5 ALIATUL ADIBAH 70 75 75
7 ARIF FATHUR RIFQI 62 72 75
8 BAGUS TRIO P. 65 70 75
9 HAJAR SYAFARIYAH 68 72 78
10 IRFANI 70 75 78
11 KHILMIATI 68 75 75
12 M. HARIDUR ROHMAN 75 80 75
13 M. KHOIRON 75 80 75
14 M. UBAIDILLAH SOLICHIN 68 70 75
15 MOCHAMAD SOLICHIN 68 70 78
16 MOCHAMMAD ISSRO'USSURUR 62 70 76
17 MOH. BUDI SANTOSO 68 75 78
18 MUCHAMMAD RIZKI WAHYU S 66 70 75
19 MUFIDAH ISNAINI 70 75 80
20 MUHAMMAD SOFIYAN 70 70 78
21 MUHAMMAD SOLIKHIN 75 75 80
22 MUHAMMAD ZAINUDDIN MZ 68 70 75
23 MUKHAMMAD KHASIN 68 70 80
24 NAJMATUS SUROYA 75 80 85
25 PUPUT ROMADHON 75 80 80
26 QORINA SHOFRIANA 75 80 85
27 RANDI IRAMA PUTRA 70 70 78
28 RIZAL APRILANTO 70 75 80
29 SITI ROMLAH 70 75 78
30 SUSANTI 68 70 78
JUMLAH 2080 2206 2335
PERSENTASE 69,3% 73,5% 77,8%
KATEGORI C C B
Untuk menghitung nilai hasil tes siswa, penulis menggunakan rumus:
X
=
∑
n
Xi
X
=
2080
30
X
=
69
,
3
X
=
69
X
=
∑
n
Xi
X
=
2206
30
X
=
73
,
5
X
=
74
X
=
∑
n
Xi
X
=
2335
30
X
=
77
,
8
X
=
78
Berdaskan rumus : N = perolehan Skor /skor maksimal x bobot (Ngalim Purwanto, 2001:352)
b. Tolok Ukur Penelitian
Tolok ukur yang digunakan untuk memberikan penilaian kepada siswa dalam mengidentifikasi perbedaan paragraf deduktif dan paragraf induktif pada sebuah karangan adalah sebagai berikut:
Table 4: Tolok ukur penilaian kemampuan membedakan paragraf deduktif dan paragraf induktif pada suatu karangan.
TABEL 3
1. 85% -100% Sangat Baik
2. 75% - 84% Baik
3. 60% - 74% Cukup
4. 40% - 59% Kurang
5. 0% - 39% Gagal
(Burhan Nurgiantoro, 2005:393).
BAB IV
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibicarakan pada bab III di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas XI IPS MA Ma’arif Bangil membedakan paragraf deduktif dan induktif pada sebuah karangan torgolong baik. Hal ini dilihat melalui nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas XI IPS MA Ma’arif Bangil secara umum, yaitu berada pada kategori baik (75-84). Dilihat dari segi persentase, siswa memperoleh nilai pada kategori sangat baik tidak ada sama sekali, kategori baik 30 orang atau 12,5% dan hampir keseluruhan mencapai nilai 75 sesuai standart KKM.
Adapun rincian nilai rata-rata kemampuan siswa kelas XI IPS MA Ma’arif Bangil membedakan paragraf deduktif dan induktif pada sebuah karangan secara khusus adalah sebagai berikut.
1) Nilai rata-rata pada siklus 1 tergolong dalam kategori cukup, yaitu 69; 2) Nilai rata-rata pada siklus 2 tergolong dalam kategori cukup, yaitu 74; 3) Nilai rata-rata pada siklus 3 tergolong dalam kategori baik, yaitu 78;
Ketidakmampuan siswa kelas XI IPS MA Ma’arif Bangil dalam membedakan paragraf deduktif dan induktif yang masuk kategori cukup adalah pada siklus 1dan siklus 2 . Maka perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan kemampuan siswa dalam membedakan paragraf deduktif dan induktif pada sebuah karangan yang dilakukan di siklus 3. Pada siklus 3 tersebut siswa XI IPS MA Ma’arif Bangil dengan persentase 78% dikatakan telah mampu dalam membedakan paragraf deduktif dan induktif pada sebuah karangan yang masuk kategori, Baik.
4.2 Saran
dilakukan dengan meningkatkan pembelajaran menulis. Peningkatan pembelajaran menulis dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti :
1) meningkatkan tingkat penguasaan kosa kata dengan banyak baca;
2) menguasai keterampilan mikrobahasa, seperti penggunaan tanda baca, kaidah-kaidah penulisan, diksi, penataan kalimat dengan struktur yang benar, dan penggunaan paragraf yang baik;
3) menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa; serta
4) menggunakan media pembelajaran menulis yang efektif.
Selain itu, untuk meningkatkan keterampilan menulis, guru harus banyak memberikan latihan menulis kepada siswa. Latihan itu divariasikan dalam berbagai bentuk.
Tekniknya disajikan data verbal, gambar, tabel, teks, peta, bagan. Dari data-data tersebut, siswa diminta untuk menulis sebuah karangan. Dengan melakukan kegiatan seperti ini, siswa terlatih untuk mengembangkan logika, daya imajinasi, dan
kemampuan menggunakan bahasa yang benar. Hal ini dilakukan untuk mengaktifkan daya kreatif siswa dalam mengasah kecerdasan mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Dalman.2009.Keterampilan Menulis.Bandar LampungUML Press.
Dalman.2011.Menulis Karya Ilmiah.Bandar Lampung:UML Press.
Dalman.2009.Membaca.Bandar LampungUML Press.
Nurhadi.2005.Bagaimana Membaca(online) Tersedia :
tersedia:http://pendibook.wordpress.com.Html(23/10/2011) Suharsimi Arikunto.2008.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Bumi Aksara
Tarigan, Hendry Guntur.1987.Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa,Bandung:Angkasa.
Tarigan, Hendry Guntur. 1990. Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa.Bandung : Angkasa
Widjojo, Hs.2008.Bahasa Indonesia.(online)
Tersedia:http://books.google.co.id.html(24/10/2011) Wikipedia.2002.Pengertian Paragraf .