• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Herba Selada Air (Nasturtium officinale R. Br.) Pada Organ Hati Mencit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Herba Selada Air (Nasturtium officinale R. Br.) Pada Organ Hati Mencit"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL

HERBA SELADA AIR (Nasturtium officinale R. Br.)

PADA ORGAN HATI MENCIT

SKRIPSI

OLEH:

MARTHA R. S. MENDROFA

NIM 111501110

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL

HERBA SELADA AIR (Nasturtium officinale R. Br.)

PADA ORGAN HATI MENCIT

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

OLEH:

MARTHA R. S. MENDROFA

NIM 111501110

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL

HERBA SELADA AIR (Nasturtium officinale R. Br.)

PADA ORGAN HATI MENCIT

OLEH:

MARTHA R. S. MENDROFA NIM 111501110

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Pada Tanggal : 04 September 2015

Disetujui oleh:

Pembimbing I, Panitia Penguji,

Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt. Prof. Dr. Rosidah, M.S., Apt. NIP 195112231980032002 NIP 195103261978022001

Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt.

Pembimbing II, NIP 195112231980032002

Aminah Dalimunthe, S.Si., M.Si., Apt. Marianne, S.Si., M.Si., Apt. NIP 197806032005012004 NIP 198005202005012006

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan

rahmat dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan

penyusunan skripsi yang berjudul “Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Herba

Selada Air (Nasturtium officinale R. Br.) Pada Organ Hati Mencit”. Skripsi ini

diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan

terima kasih kepada Ibu Dr. Masfria, M.S., Apt., selaku Pejabat Dekan Fakultas

Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah menyediakan fasilitas kepada

penulis selama perkuliahan di Fakultas Farmasi. Penulis juga mengucapkan terima

kasih kepada Ibu Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt., dan Ibu Aminah

Dalimunthe, S.Si., M.Si., Apt., yang telah membimbing penulis dengan penuh

kesabaran, memberikan petunjuk, saran-saran dan motivasi selama penelitian

hingga selesainya skripsi ini. Bapak Dr. Martua Pandapotan Nasution, M.P.S.,

Apt. selaku penasehat akademik yang memberikan bimbingan kepada penulis

selama ini. Bapak dan Ibu staff pengajar Fakultas Farmasi Universitas Sumatera

Utara yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan. Ibu Marianne, S.Si.,

M.Si., Apt., selaku Kepala Laboratorium Farmakologi yang telah memberikan

fasilitas, petunjuk dan membantu selama penelitian. Ucapan terima kasih juga

penulis sampaikan kepada Ibu Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt., selaku ketua

penguji, Ibu Marianne, M.Si., Apt. dan Bapak Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt.,

selaku anggota penguji yang telah memberikan kritik, saran dan arahan kepada

(5)

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan

yang tulus kepada Ayahanda Bazisochi Mendrofa, Ibunda Riniati Wa’u,

abang-abang, kakak-kakak dan adek tercinta, yang senantiasa memberikan doa,

dukungan, semangat dan kasih sayang yang tak ternilai. Penulis juga

mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yaitu Nenny, Desma, Rany,

Yohanna, Sucantyk, Lina, Ririn, Rika, teman-teman Farmasi S-1 Reguler, serta

kakak dan abang Farmasi Ekstensi atas doa dan dukungan dalam penyelesaian

skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih belum

sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang

membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini

bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi.

Medan, 04 September 2015 Penulis,

(6)

UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL HERBA SELADA AIR (Nasturtium officinale R. Br. )

PADA ORGAN HATI MENCIT

ABSTRAK

Selada air (Nasturtium officinale R. Br.) termasuk suku Brassicaceae. Selada air memiliki khasiat dalam pengobatan sebagai antialergi, antidiabetes, antioksidan, antikanker dan pengobatan tuberkulosis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui toksisitas akut ekstrak etanol herba selada air.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dilakukan secara in

vivo menggunakan mencit jantan dan betina berjumlah 60 ekor, yang dibagi dalam

6 kelompok. Kelompok kontrol (K) diberi Na-CMC 0,5%, kelompok perlakuan (P) diberi ekstrak etanol herba selada air dengan dosis 50 mg/kg bb, 500 mg/kg bb, 1000 mg/kg bb, 2000 mg/kg bb dan 4000 mg/kg bb yang diberikan dalam dosis tunggal secara oral pada hari pertama. Dilakukan pengamatan terhadap gejala toksik, berat badan, berat organ relatif dan kematian mencit selama 14 hari, kemudian dilakukan pemeriksaan makropatologi dan histopatologi organ hati mencit. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan metode Two Way

Analysis of Variance (ANOVA) dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey

menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mencit jantan dan betina pada semua kelompok tidak menunjukkan gejala toksik pada uji panggung, uji katalepsi, uji urinasi, uji defekasi, uji salivasi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ekstrak etanol herba selada air tidak berpengaruh terhadap perkembangan berat badan dan berat organ relatif mencit. Hasil pemeriksaan histopatologi organ hati mencit jantan dan betina menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol herba selada air dosis 4000 mg/kg bb dapat menyebabkan ketoksikan pada organ hati, tetapi tidak menyebabkan kematian pada mencit jantan dan betina sehingga ekstrak etanol herba selada air termasuk dalam kriteria “Praktis Tidak Toksik”. Tidak ada perbedaan efek toksik pada mencit jantan dan betina. Dalam penelitian ini, LD50 tidak dapat ditentukan.

(7)

ACUTE TOXICITY TEST OF THE ETHANOLIC EXTRACT OF WATERCRESS HERB (Nasturtium officinale R. Br.)

IN THE LIVER OF MICE

ABSTRACT

Watercress (Nasturtium officinale R. Br.) including Brassicaceae family. Watercress has efficacy in the treatment of a hypo-allergenic, anti-diabetic, antioxidant,anticancer, and treatment of tuberculosis. The purpose of this research was to determine the potential for acute toxicity of ethanolic extract of watercress.

This research used experimental method, performed in vivo using male and female mice totaled 60 tails, which are divided into 6 groups. The control group (K) was given Na-CMC 0.5%, the treatment groups (P) were given ethanolic extract of watercress herb with dose 50 mg/kg bw, 500 mg/kg bw, 1000 mg/kg bw, 2000 mg/kg bw and 4000 mg/kg bw that given orally in a single dose on the first day. Observation of toxic symptoms, body weight, relative organ weight and death of the mice for 14 days, then examined the macropathology and histopathology of mice’s liver. Data were analyzed by using Two Way Analysis of

Variance (ANOVA) method and continued by Post Hoc Tukey test with using

SPSS (Statistical Product and Service Solution).

The results showed that male and female mice in all groups showed no toxic symptoms in stage test, catalepsy test, urination test, defecation test, and salivation test. Statistical analysis showed that ethanolic extract of watercress herb has no effect on the development of body weight and relative organ weight in mice. Histopatological examination of liver male ad female mice showed that administration the ethanolic extract of watercress herb with dose 4000 mg/kg bw can cause toxicity in the liver, but no cause of death in male and female mice, so that the ethanolic extract of watercress herb included in the criteria of “Practical Not Toxic”. There was no difference in toxic effect in male and female mice. In this research, LD50 can not be determined.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Hipotesis ... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 3

1.6 Kerangka Pikir Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1Uraian Tumbuhan ... 5

2.1.1 Sistematika Tumbuhan ... 5

2.1.2 Sinonim Tumbuhan ... 5

2.1.3 Nama Lokal ... 5

(9)

2.1.5 Morfologi Tumbuhan ... 6

(10)

3.3.6 Pengamatan Berat Badan ... 29

3.3.7 Pengamatan Kematian Hewan ... 30

3.3.8 Penimbangan Organ Hati ... 30

3.3.9 Makropatologi Organ Hati ... 30

3.3.10 Histopatologi Organ Hati ... 30

3.3.11 Analisis Data ... 31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32

4.1 Hasil Pengamatan Gejala Toksik ... 32

4.2 Hasil Pengamatan Berat Badan ... 37

4.3 Hasil Pengamatan Kematian Hewan ... 39

4.4 Hasil Berat Organ Relatif Hati ... 40

4.5 Hasil Pemeriksaan Makropatologi Organ Hati ... 41

4.6 Hasil Pemeriksaan Histopatologi Organ Hati ... 43

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 52

5.1 Kesimpulan ... 52

5.1 Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 53

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1 Hasil Uji Panggung ... 33

4.2 Hasil Uji Katalepsi ... 34

4.3 Hasil Uji Urinasi ... 35

4.4 Hasil Uji Defekasi ... 36

4.5 Hasil Uji Salivasi ... 37

4.6 Hasil Rata - Rata Berat Badan ... 38

4.7 Hasil Pengamatan Kematian ... 39

4.8 Hasil Berat Organ Relatif Hati ... 40

4.9 Hasil Pemeriksaan Makropatologi Organ Hati ... 41

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1.1 Diagram Kerangka Pikir Penelitian ... 4

4.1 Pengamatan Makropatologi Organ Hati Mencit Jantan ... 42

4.2 Pengamatan Makropatologi Organ Hati Mencit Betina ... 42

4.3 Histopatologi Organ Hati Kelompok Kontrol Na-CMC 0,5% . 45

4.4 Histopatologi Organ Hati Kelompok Dosis 500 mg/kg bb ... 46

4.5 Histopatologi Organ Hati Kelompok Dosis 1000 mg/kg bb .... 47

4.6 Histopatologi Organ Hati Kelompok Dosis 2000 mg/kg bb .... 48

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Hasil Identifikasi Tumbuhan ... 57

2. Rekomendasi Persetujuan Etik Penelitian Kesehatan ... 58

3. Tumbuhan Selada Air ... ... 59

4. Alat - Alat yang Digunakan ... 60

5. Hewan Penelitian dan Pengamatan Gejala Toksik ... 63

6. Pengukuran Organ Hati Mencit Jantan dan Betina ... 65

(14)

UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL HERBA SELADA AIR (Nasturtium officinale R. Br. )

PADA ORGAN HATI MENCIT

ABSTRAK

Selada air (Nasturtium officinale R. Br.) termasuk suku Brassicaceae. Selada air memiliki khasiat dalam pengobatan sebagai antialergi, antidiabetes, antioksidan, antikanker dan pengobatan tuberkulosis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui toksisitas akut ekstrak etanol herba selada air.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dilakukan secara in

vivo menggunakan mencit jantan dan betina berjumlah 60 ekor, yang dibagi dalam

6 kelompok. Kelompok kontrol (K) diberi Na-CMC 0,5%, kelompok perlakuan (P) diberi ekstrak etanol herba selada air dengan dosis 50 mg/kg bb, 500 mg/kg bb, 1000 mg/kg bb, 2000 mg/kg bb dan 4000 mg/kg bb yang diberikan dalam dosis tunggal secara oral pada hari pertama. Dilakukan pengamatan terhadap gejala toksik, berat badan, berat organ relatif dan kematian mencit selama 14 hari, kemudian dilakukan pemeriksaan makropatologi dan histopatologi organ hati mencit. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan metode Two Way

Analysis of Variance (ANOVA) dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey

menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mencit jantan dan betina pada semua kelompok tidak menunjukkan gejala toksik pada uji panggung, uji katalepsi, uji urinasi, uji defekasi, uji salivasi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ekstrak etanol herba selada air tidak berpengaruh terhadap perkembangan berat badan dan berat organ relatif mencit. Hasil pemeriksaan histopatologi organ hati mencit jantan dan betina menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol herba selada air dosis 4000 mg/kg bb dapat menyebabkan ketoksikan pada organ hati, tetapi tidak menyebabkan kematian pada mencit jantan dan betina sehingga ekstrak etanol herba selada air termasuk dalam kriteria “Praktis Tidak Toksik”. Tidak ada perbedaan efek toksik pada mencit jantan dan betina. Dalam penelitian ini, LD50 tidak dapat ditentukan.

(15)

ACUTE TOXICITY TEST OF THE ETHANOLIC EXTRACT OF WATERCRESS HERB (Nasturtium officinale R. Br.)

IN THE LIVER OF MICE

ABSTRACT

Watercress (Nasturtium officinale R. Br.) including Brassicaceae family. Watercress has efficacy in the treatment of a hypo-allergenic, anti-diabetic, antioxidant,anticancer, and treatment of tuberculosis. The purpose of this research was to determine the potential for acute toxicity of ethanolic extract of watercress.

This research used experimental method, performed in vivo using male and female mice totaled 60 tails, which are divided into 6 groups. The control group (K) was given Na-CMC 0.5%, the treatment groups (P) were given ethanolic extract of watercress herb with dose 50 mg/kg bw, 500 mg/kg bw, 1000 mg/kg bw, 2000 mg/kg bw and 4000 mg/kg bw that given orally in a single dose on the first day. Observation of toxic symptoms, body weight, relative organ weight and death of the mice for 14 days, then examined the macropathology and histopathology of mice’s liver. Data were analyzed by using Two Way Analysis of

Variance (ANOVA) method and continued by Post Hoc Tukey test with using

SPSS (Statistical Product and Service Solution).

The results showed that male and female mice in all groups showed no toxic symptoms in stage test, catalepsy test, urination test, defecation test, and salivation test. Statistical analysis showed that ethanolic extract of watercress herb has no effect on the development of body weight and relative organ weight in mice. Histopatological examination of liver male ad female mice showed that administration the ethanolic extract of watercress herb with dose 4000 mg/kg bw can cause toxicity in the liver, but no cause of death in male and female mice, so that the ethanolic extract of watercress herb included in the criteria of “Practical Not Toxic”. There was no difference in toxic effect in male and female mice. In this research, LD50 can not be determined.

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai

keanekaragaman hayati berupa tumbuhan yang banyak digunakan sebagai obat

tradisional. Penelitian untuk mengevaluasi tingkat keamanannya belum banyak

dilakukan, sedangkan pengetahuan tentang potensi efek toksik yang ada dalam

tumbuhan obat adalah penting untuk menjamin keamanan dalam penggunaannya

(Soemardji et al., 2002).

Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat adalah selada air

(Nasturtium officinale R. Br.), termasuk suku Brassicaceae, sangat mudah tumbuh

dan sering dijumpai di aliran sungai kecil, kolam, rawa dan danau yang dangkal

(Smith, 2002). Selada air termasuk sayuran yang mudah ditemui di pasar

tradisional maupun pasar swalayan. Tanaman ini banyak digunakan sebagai

sumber pangan dan bahan tambahan pada pembuatan pakan (Permatasari, 2011).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa selada air dapat digunakan

sebagai antioksidan (Lubis et al., 2013), antidiabetes (Hoseini et al., 2009),

antialergi (Lingga, 2012), diuretik (Ginting et al., 2014), antikanker yakni kanker

kolon (Boyd et al., 2006) dan pengobatan tuberkulosis (Corona et al., 2008).

Uji toksisitas akut dengan menggunakan hewan percobaan diperlukan

untuk mendeteksi efek toksik yang muncul dalam waktu singkat setelah

pemberian suatu zat dalam dosis tunggal atau dosis berulang yang diberikan

(17)

berulang, maka interval tidak kurang dari 3 jam. Penilaian toksisitas akut

ditentukan dari kematian hewan uji sebagai parameter akhir. Hewan yang mati

selama percobaan dan yang hidup sampai akhir percobaan diotopsi untuk

dievaluasi adanya gejala-gejala toksisitas dan selanjutnya dilakukan pengamatan

secara makropatologi pada setiap organ (OECD, 2001).

Hasil uji toksisitas tidak dapat digunakan secara mutlak untuk

membuktikan keamanan suatu bahan/sediaan pada manusia, namun dapat

memberikan petunjuk adanya toksisitas relatif dan membantu identifikasi efek

toksik bila terjadi pemaparan pada manusia (OECD, 2001). Pengujian ini juga

dapat menunjukkan organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik

spesifiknya, serta memberikan petunjuk tentang dosis yang sebaiknya digunakan

dalam pengujian yang lebih lama (Lu, 1994).

Uji toksisitas akut digunakan untuk menetapkan nilai LD50 suatu zat

(OECD, 2001). Penentuan LD50 merupakan tahap awal untuk mengetahui

keamanan bahan yang akan digunakan manusia dengan menentukan besarnya

dosis yang menyebabkan kematian 50% pada hewan uji setelah pemberian dosis

tunggal. LD50 bahan obat mutlak harus ditentukan karena nilai ini digunakan

dalam penilaian rasio manfaat (khasiat) dan daya racun yang dinyatakan sebagai

indeks terapi obat (LD50/ED50). Indeks terapi yang semakin besar menunjukkan

semakin aman obat tersebut jika digunakan (Soemardji et al., 2002).

Pemeriksaan terhadap organ hati dilakukan karena hati merupakan pusat

metabolisme seluruh zat asing yang masuk ke dalam tubuh dan jika zat tersebut

bersifat toksik maka ia dapat merusak hati secara langsung ataupun sebagai

(18)

terjadinya kerusakan pada hati dapat menjadi petunjuk apakah suatu zat bersifat

toksik atau tidak (Elya et al., 2010).

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan uji toksisitas akut terhadap herba

selada air. Penggunaan tumbuhan ini untuk pengobatan pada manusia harus melalui

serangkaian uji, selain uji khasiat harus dilakukan uji toksisitas.

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat

dirumuskan permasalahan dalam penelitian adalah apakah ekstrak etanol herba

selada air berpotensi toksik terhadap mencit jantan dan betina setelah pemberian

dosis tunggal secara oral yang diamati selama 14 hari?

1.3Hipotesis

Berdasarkan perumusan diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah

ekstrak etanol herba selada air berpotensi toksik terhadap mencit jantan dan betina

setelah pemberian dosis tunggal secara oral yang diamati selama 14 hari.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan hipotesis diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui ekstrak etanol herba selada air berpotensi toksik terhadap mencit

jantan dan betina setelah pemberian dosis tunggal secara oral yang diamati selama

14 hari.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan informasi tentang

(19)

1.6 Kerangka Pikir Penelitian

Kerangka pikir penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.1

Variable Bebas Variable Terikat Parameter

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

Selada air (Nasturtium officinale R. Br.) termasuk suku Brassicaceae.

Selada air sering dikonsumsi sebagai sayur tumis dan rasanya agak mirip dengan

kangkung atau bayam. Tumbuhnya menjalar seperti tanaman kangkung dan biasa

ditanam di rawa-rawa. Daerah asalnya adalah wilayah timur Mediterania dan

wilayah yang berbatasan dengan Asia (Permatasari, 2011).

2.1.1 Sistematika Tumbuhan

Tumbuhan selada air memiliki sistematika sebagai berikut (Lubis et al.,

2013) :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Bangsa : Brassicales

Suku : Brassicaceae

Marga : Nasturtium

Jenis : Nasturtium officinale R. Br.

2.1.2 Sinonim Tumbuhan

Sinonim Rorippa nasturtium-aquaticum (Linn.) Hayek (Novia, 2009).

2.1.3 Nama Lokal

(21)

2.1.4 Nama Asing

Watercress (Inggris), sai yeung ts’oi (China) (Novia, 2009),

Alafe-Cheshmeh (Persia) (Hoseini, 2009).

2.1.5 Morfologi

Daun tumbuhan selada air merupakan daun majemuk gasal, warna hijau

sampai hijau kecoklatan; batang dan tangkai daun berwarna muda kehijauan, anak

daun sebanyak 3 lembar sampai 9 lembar, anak daun di ujung umumnya

berbentuk jorong melebar sampai bundar, pangkal berbentuk jantung, membundar

atau tumpul; panjang helaian anak daun di ujung 1,5 cm sampai 4,5 cm dan lebar

1 cm sampai 3 cm; anak daun dibawahnya berukuran lebih kecil (Ditjen POM,

1989).

2.1.6 Kandungan Kimia

Selada air mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, terpenoid/steroid,

glikosida dan tanin (Ginting et al., 2014), juga kaya akan kandungan vitamin C,

vitamin A, vitamin E, vitamin K (Costain, 2007), asam folat, iodin, besi, protein

dan kalsium (Gonçalves et al., 2009).

2.1.7 Khasiat Tumbuhan

Selada air digunakan sebagai antikanker yakni kanker kolon dengan

menggunakan jus selada air dengan konsentrasi paling efektif 50 μl/ml (Boyd et

al., 2006), antidiabetes dengan dosis paling efektif 100 mg/kg bb (Hoseini et al.,

2009), obat tuberkulosis dengan konsentrasi paling efektif 1000 μg/ml (Corona et

al., 2008) dan untuk mengobati iritasi pada saluran urin efferen (Gruenwald et al.,

(22)

aktivitas antioksidan yang kuat sehingga dapat menghambat peroksidasi lipid

pada hati, otak dan ginjal dengan dosis 500 mg/ml.

2.2 Toksikologi

Toksikologi adalah kajian tentang hakikat dan mekanisme efek toksik

berbagai bahan terhadap makhluk hidup dan sistem biologik lainnya (Lu, 1994).

Menurut Hodgson dan Levi (2000), toksikologi didefinisikan sebagai cabang ilmu

pengetahuan yang berhubungan erat dengan senyawa racun dimana racun yang

dimaksud adalah senyawa-senyawa yang menimbulkan efek merugikan tubuh bila

dikonsumsi baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Menurut Donatus (1996),

toksikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari pengaruh kuantitatif zat

kimia atas sistem-sistem biologi dengan pusat perhatiannya terletak pada aksi

berbahaya zat kimia tersebut.

2.3 Paparan Umum Toksikologi

Peristiwa timbulnya pengaruh berbahaya atau efek toksik racun terhadap

makhluk hidup terjadi melalui beberapa proses. Menurut Donatus (1996), pertama

kali makhluk hidup mengalami paparan dengan toksikan, setelah mengalami

absorpsi dari tempat paparannya maka toksikan atau metabolitnya akan

terdistribusi ke tempat aksi (sel sasaran atau reseptor) tertentu yang ada di dalam

diri makhluk hidup. Di tempat aksi ini kemudian terjadi interaksi antara toksikan

atau metabolitnya dengan komponen penyusun sel sasaran atau reseptor sehingga

timbul pengaruh berbahaya atau efek toksik dengan wujud serta sifat tertentu.

Ada dua kemungkinan toksikan masuk ke dalam tubuh, yakni secara

(23)

secara intravaskuler meliputi intravena, intrakardial dan intraarteri dimana

toksikan langsung masuk ke dalam sirkulasi darah, sedangkan masuknya toksikan

secara ekstravaskuler meliputi peroral, intramuskular, intraperitonial, subkutan

dan inhalasi dimana toksikan tidak langsung masuk ke dalam sirkulasi darah.

Toksikan yang masuk secara ekstravaskuler selanjutnya akan masuk ke dalam

sirkulasi darah setelah melalui tahap absorpsi terlebih dahulu. Toksikan yang

berada dalam sirkulasi darah akan mengalami distribusi ke tempat aksi (sel

sasaran atau reseptor).

Tubuh makhluk hidup memiliki sistem pertahanan terhadap zat-zat asing

atau xenobiotik yang masuk ke dalam tubuhnya. Tubuh makhluk hidup akan

menolak dan mengekskresikan toksikan atau metabolitnya yang masuk di dalam

tubuhnya secara alami. Kapasitas toksikan yang melebihi sistem pertahanan tubuh

menyebabkan toksikan yang berlebih tersebut selanjutnya akan bereaksi dengan

sel sasaran atau reseptor dimana reaksi antara toksikan atau metabolitnya dengan

sel sasaran atau reseptor dapat bersifat dapat balik (reversible) maupun tidak balik

(irreversible). Hal tersebut berakibat timbulnya efek toksik yang tidak diinginkan

(Donatus, 1996).

2.4 Toksisitas

Toksisitas adalah potensi bahan kimia untuk meracuni tubuh orang yang

terpapar. Toksisitas adalah kemampuan suatu zat asing dalam menimbulkan

kerusakan pada organisme baik saat digunakan atau saat berada dalam lingkungan

(Priyanto, 2009).

Uji toksisitas adalah suatu uji untuk mendeteksi efek toksik suatu senyawa

(24)

Data yang diperoleh dapat digunakan untuk memberi informasi mengenai derajat

bahaya sediaan uji tersebut bila terjadi pemaparan pada manusia sehingga dapat

ditentukan dosis penggunaan dan keamanannya (OECD, 2001).

Penelitian toksisitas konvensional pada hewan coba sering

mengungkapkan serangkaian efek akibat pajanan toksikan dalam berbagai dosis

untuk berbagai masa pajanan. Penelitian toksikologi biasanya dibagi menjadi tiga

kategori (Lu, 1994):

a. Uji toksisitas akut dilakukan dengan memberikan bahan kimia yang sedang

diuji sebanyak satu kali atau beberapa kali dalam jangka waktu 24 jam.

b. Uji toksisitas jangka pendek (dikenal dengan subkronik) dilakukan dengan

memberikan bahan kimia berulang-ulang, biasanya setiap hari, selama jangka

waktu kurang lebih tiga bulan untuk tikus dan satu atau dua tahun untuk

anjing.

c. Uji toksisitas jangka panjang dilakukan dengan memberikan bahan kimia

berulang-ulang selama masa hidup hewan coba atau sekurang-kurangnya

sebagian besar dari masa hidupnya, misalnya 18 bulan untuk mencit, 24 bulan

untuk tikus, dan 7-10 tahun untuk anjing dan monyet.

2.4.1 Uji Toksisitas Akut

Uji toksisitas akut adalah salah satu uji praklinik untuk menentukan efek

toksik suatu senyawa yang akan terjadi pada waktu yang singkat setelah

pemberiannya dalam takaran tertentu (Lu, 1994). Prinsip toksisitas akut yaitu

pemberian secara oral suatu zat dalam beberapa tingkatan dosis kepada beberapa

(25)

Uji toksisitas akut dengan menggunakan hewan percobaan diperlukan

untuk mendeteksi efek toksik yang muncul dalam waktu singkat setelah

pemberian suatu zat dalam dosis tunggal atau dosis berulang yang diberikan

dalam waktu tidak lebih dari 24 jam; apabila pemberian dilakukan secara

berulang, maka interval tidak kurang dari 3 jam. Penilaian toksisitas akut

ditentukan dari kematian hewan uji sebagai parameter akhir. Hewan yang mati

selama percobaan dan yang hidup sampai akhir percobaan diotopsi untuk

dievaluasi adanya gejala-gejala toksisitas dan selanjutnya dilakukan pengamatan

secara makropatologi pada setiap organ (OECD, 2001).

Takaran dosis yang dianjurkan pada toksisitas akut paling tidak terdapat

empat peringkat dosis. Dari dosis terendah yang tidak atau hampir tidak

mematikan seluruh hewan uji sampai dengan dosis tertinggi yang dapat

mematikan seluruh atau hampir seluruh hewan uji (Donatus, 1996).

Tujuan uji toksisitas akut adalah untuk mengidentifikasi bahan kimia yang

toksik dan memperoleh informasi tentang bahaya terhadap manusia bila terpajan.

Uji toksisitas akut digunakan untuk menetapkan nilai LD50 suatu zat (OECD,

2001). Tujuan lain dilakukannya uji toksisitas akut yaitu untuk mengetahui

hubungan antara dosis dengan timbulnya efek seperti perubahan perilaku, koma,

dan kematian serta mengetahui gejala-gejala toksisitas akut sehingga bermanfaat

untuk membantu diagnosis adanya kasus keracunan dan untuk memenuhi

persyaratan regulasi jika zat uji akan dikembangkan menjadi obat (Priyanto,

2009).

Penelitian uji toksisitas akut sebagian besar dirancang untuk menentukan

(26)

menyebabkan kematian sampai 50% dari jumlah hewan yang diuji (Retnomurti,

2008). LD50 yaitu dosis tunggal suatu bahan yang secara statistik diharapkan akan

membunuh 50% hewan coba. Pengujian ini dapat menunjukkan organ sasaran

yang mungkin dirusak serta memberikan petunjuk tentang dosis yang sebaiknya

digunakan dalam pengujian yang lebih lama (Lu, 1994).

LD50 adalah dosis perkiraan bahwa ketika racun itu diberikan langsung

kepada hewan uji, menghasilkan kematian 50% dari populasi di bawah kondisi

yang ditentukan dari tes atau LC50 merupakan konsentrasi perkiraan, dalam

lingkungan hewan yang terpapar, yang akan membunuh 50% dari populasi di

bawah kondisi yang ditentukan dari tes (Hodgson dan Levi, 2000).

Pada umumnya, semakin kecil nilai LD50, semakin toksik senyawa

tersebut. Demikian juga sebaliknya, semakin besar nilai LD50, semakin rendah

toksisitasnya (Sulastry, 2009). Nilai LD50 sangat berguna untuk

mengklasifikasikan zat kimia sesuai dengan toksisitas relatifnya yang dapat dilihat

pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Klasifikasi zat kimia sesuai dengan toksisitas relatifnya. Tingkat

4 500-5000 mg/kg Toksik ringan

5 5-15 g/kg Praktis tidak toksik

6 ≥15 g/kg Relatif tidak membahayakan

(27)

Metode Penentuan LD50

Penentuan LD50 merupakan tahap awal untuk mengetahui keamanan bahan

yang akan digunakan manusia dengan menentukan besarnya dosis yang

menyebabkan kematian 50% pada hewan uji setelah pemberian dosis tunggal

(Lu, 1994).

a. Metode Aritmatik Reed dan Muench

Metode ini menggunakan nilai-nilai kumulatif. Asumsi yang dipakai

adalah bahwa seekor hewan yang mati oleh dosis tertentu akan mati juga oleh

dosis yang lebih besar, sedangkan hewan bertahan hidup pada dosis tertentu juga

akan tetap bertahan hidup pada dosis yang lebih rendah. Kematian kumulatif

diperoleh dengan menambahkan secara suksesif kebawah dan hidup kumulatif

diperoleh dengan menambahkan secara suksesif keatas persen hidup dari

dosis-dosis yang berdekatan dengan LD50dihitung (Rasyid, 2012).

Penentuan LD50 didapatkan berdasarkan persamaan berikut:

�.� = ��− % ������������LD50

% �����������LD50− % ������������LD50,�=

dosisdiatasLD50 dosisdibawahLD50

Adapun: P.D (ProportionalDistance) = jarak proporsional

P = proporsionasi peningkatan dosis.

Perhitungan LD50 yang dianalisis dengan metode Reed dan Muench ini

dilakukan dengan cara menghitung jarak proporsi kemudian ditentukan logaritma

perbandingan dosis. LD50 ditentukan dengan menambah logaritma dosis yang

rendah dan hasil kali jarak proporsi dengan perbandingan dosis yang tinggi

(28)

b. Perhitungan Nilai LD50 Berdasarkan Cara Thomson dan Weil

Dalam mencari harga LD50 diperlukan ketepatan atau jika dilihat dari taraf

kepercayaan tertentu, harga tersebut hanya sedikit sekali bergeser dari harga

sebenarnya, atau berada pada rentang atau interval yang sempit. Untuk mencapai

tujuan, digunakan tabel yang dibuat oleh Thompson dan Weil. Pada penggunaan

tabel, percobaan harus memenuhi beberapa syarat berikut (Priyanto, 2009):

i. jumlah hewan uji tiap kelompok peringkat dosis sama

ii. interval merupakan kelipatan (d) tetap.

iii. jumlah kelompok paling tidak 4 peringkat dosis.

Rumus :

Log m = log D + d (f + 1)

Dimana :

m = nilai LD50

D = Dosis terkecil yang digunakan

d = log dari kelipatan dosis

f = suatu nilai dalam tabel Weil, karena angka kematian tertentu (r)

c. Cara Farmakope Indonesia III (FI III)

Untuk menghitung LD50 berdasarkan FI III, uji harus memenuhi

syarat-syarat seperti (Priyanto, 2009):

i. Menggunakan seri dosis atau konsentrasi yang berkelipatan tetap

ii. Jumlah hewan percobaan tiap kelompok harus sama

iii. Dosis harus diatur sedemikian rupa supaya memberikan respon dari

(29)

Rumus perhitungan LD50 adalah :

m = a – b (∑ pi – 0,5) m = log LD50

a = logaritma dosis terendah yang masih menyebabkan jumlah kematian 100%

tiap kelompok

b = beda log dosis yang berurutan

pi = jumlah hewan yang mati

d. Metode Perhitungan Cara Grafik (Graphical Calculation) Miller dan Tainter

Metode ini merupakan metoda yang paling umum dipakai dalam

penghitungan efektif dosis. Namun dibutuhkan kertas khusus berkoordinat yaitu

kertas probit logaritma, dengan absis dalam skala logaritma dan ordinat sebelah

kiri dalam skala probit atau ordinat sebelah kanan dibuat dalam skala persen yang

setara dengan skala probit (skala ini nonlinier) atau nilai persen dapat dilihat

didalam table probit. Kurva sigmoid dapat ditransformasi menjadi garis lurus

dengan memplotkan respon kuantal terhadap logaritma dosis. Dalam cara

perhitungan ini diperlukan tabel Probit.

Menurut Retnomurti (2008), faktor-faktor yang berpengaruh pada LD50

sangat bervariasi antara jenis yang satu dengan jenis yang lain dan antara individu

satu dengan individu yang lain dalam satu jenis. Beberapa faktor tersebut antara

lain:

a. Spesies, Strain dan Keragaman Individu

Setiap spesies dan strain yang berbeda memiliki sistem metabolisme dan

(30)

bioaktivasi dan toksikasi suatu zat. Semakin tinggi tingkat keragaman suatu

spesies dapat menyebabkan perbedaan nilai LD50. Variasi strain hewan percobaan

menunjukkan perbedaan yang nyata dalam pengujian LD50.

b. Perbedaan Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin mempengaruhi toksisitas akut yang disebabkan

oleh pengaruh langsung dari kelenjar endokrin. Hewan betina mempunyai sistem

hormonal yang berbeda dengan hewan jantan sehingga menyebabkan perbedaan

kepekaan terhadap suatu toksikan. Hewan jantan dan betina yang sama dari strain

dan spesies yang sama biasanya bereaksi terhadap toksikan dengan cara yang

sama, tetapi ada perbedaan kuantitatif yang menonjol dalam kerentanan terutama

pada tikus.

c. Umur

Hewan-hewan yang lebih muda memiliki kepekaan yang lebih tinggi

terhadap obat karena enzim untuk biotransformasi masih kurang dan fungsi ginjal

belum sempurna. Perbedaan aktivitas biotransformasi akibat suatu zat

menyebabkan perbedaan reaksi dalam metabolisme. Sedangkan pada hewan tua

kepekaan individu meningkat karena fungsi biotransformasi dan ekskresi sudah

menurun.

d. Berat Badan

Penentuan dosis dalam pengujian toksisitas akut dapat didasarkan pada

berat badan. Pada spesies yang sama, berat badan yang berbeda dapat memberikan

nilai LD50 yang berbeda pula. Semakin besar berat badan maka jumlah dosis yang

(31)

e. Cara Pemberian

Lethal dosis dipengaruhi pula oleh cara pemberian. Pemberian obat

melalui suatu cara yang berbeda pada spesies yang sama akan memberikan hasil

yang berbeda. Pemberian obat peroral tidak langsung didistribusikan ke seluruh

tubuh. Pemberian obat atau toksikan peroral didistribusikan ke seluruh tubuh

setelah terjadi penyerapan di saluran cerna sehingga mempengaruhi kecepatan

metabolisme suatu zat di dalam tubuh.

f. Faktor Lingkungan

Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi toksisitas akut antara lain

temperatur, kelembaban, iklim, perbedaan siang dan malam. Perbedaan

temperatur suatu tempat akan mempengaruhi keadaan fisiologis suatu hewan.

g. Kesehatan hewan

Status hewan dapat memberikan respon yang berbeda terhadap suatu

toksikan. Kesehatan hewan sangat dipengaruhi oleh kondisi hewan dan

lingkungan. Hewan yang tidak sehat dapat memberikan nilai LD50 yang berbeda

dibandingkan dengan nilai LD50 yang didapatkan dari hewan sehat.

h. Diet

Komposisi makanan hewan percobaan dapat mempengaruhi nilai LD50.

Komposisi makanan akan mempengaruhi status kesehatan hewan percobaan.

Defisiensi zat makanan tertentu dapat mempengaruhi nilai LD50.

2.4.2 Uji Toksisitas Subkronik

Uji toksisitas subkronik adalah uji ketoksikan sesuatu senyawa yang

diberikan dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu, selama kurang dari tiga

(32)

mengungkapkan efek toksik dan jenis organ yang terkena, maupun hubungan

antara dosis dan efek toksik. Selain itu, dengan uji toksisitas subkronik,

memungkinkan terlihatnya wujud dan sifat efek toksik yang munculnya lambat

dan tidak dapat terdeteksi pada uji toksisitas akut (Donatus, 1996).

Prinsip dari uji toksisitas subkronik oral adalah sediaan uji dalam beberapa

tingkat dosis diberikan setiap hari pada beberapa kelompok hewan uji dengan satu

dosis per kelompok selama 28 atau 90 hari. Selama waktu pemberian sediaan uji,

hewan harus diamati setap hari untuk menentukan adanya toksisitas. Hewan yang

mati selama periode pemberian sediaan uji segera diotopsi dan organ serta

jaringan diamati secara makropatologi dan histopatologi. Pada akhir periode

pemberian sediaan uji, semua hewan yang masih hidup diotopsi selanjutnya

dilakukan pengamatan secara makropatologi dan histopatologi pada setap organ

dan jaringan (OECD, 2001).

Tujuan uji toksisitas subkronik oral adalah untuk memperoleh informasi

adanya efek toksik zat yang tidak terdeteksi pada uji toksisitas akut, memperoleh

informasi kemungkinan adanya efek toksik setelah pemaparan sediaan uji secara

berulang dalam jangka waktu tertentu, memperoleh informasi dosis yang tidak

menimbulkan efek toksik dan mempelajari adanya efek kumulatif dan

reversibilitas atau irreversibiltas zat uji (OECD, 2001). Uji toksisitas subkronik

bertujuan untuk menentukan organ sasaran (organ yang rentan) (Priyanto, 2009).

2.4.3 Uji Toksisitas Kronik

Uji toksisitas kronik oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek

toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji secara berulang sampai seluruh

(33)

seringkali memerlukan waktu yang relatif panjang, bahkan mungkin sepanjang

masa hidup si pemakai. Uji toksisitas kronik pada prinsipnya sama dengan uji

toksisitas subkronik, tetapi sediaan uji diberikan selama tidak kurang dari 12

bulan (OECD, 2001).

Tujuan dari uji toksisitas kronik oral adalah untuk mengetahui profil efek

toksik setelah pemberian sediaan uji secara berulang selama waktu yang panjang,

memperoleh informasi efek toksik zat uji yang tidak terdeteksi pada uji toksisitas

subkronik dan untuk menetapkan tingkat dosis yang tidak menimbulkan efek

toksik (OECD, 2001).

2.5 Hati

Hati merupakan organ terbesar pada tubuh, menyumbang sekitar 2 persen

berat tubuh total, atau sekitar 1,5 kg pada rata-rata manusia dewasa. Unit

fungsional dasar hati adalah lobulus hati, yang berbentuk silindris dengan panjang

beberapa milimeter dan berdiameter 0,8 sampai 2 milimeter. Hati manusia

mengandung 50.000 sampai 100.000 lobulus (Guyton dan Hall, 2007).

Hati terletak di bawah diafragma kanan, dilindungi bagian bawah tulang

iga kanan. Lobus kiri hati berada di dalam epigastrium, tidak dilindungi oleh

tulang iga. Hati normal kenyal dengan permukaan yang licin (Chandrasoma dan

Taylor, 2005).

Hati mempunyai fungsi yang sangat banyak dan kompleks yang penting

(34)

a. Fungsi pembentukan dan ekskresi empedu

Hal ini merupakan fungsi utama hati yaitu mengekskresikan sekitar satu

liter empedu setiap hari. Garam empedu penting untuk pencernaan dan absorbsi

lemak dalam usus halus.

b. Fungsi metabolik

Hati berperan penting dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein,

vitamin dan juga memproduksi energi. Hati mengubah ammonia menjadi urea,

untuk dikeluarkan melalui ginjal dan usus.

c. Fungsi pertahanan tubuh

Hati mempunyai fungsi detoksifikasi dan perlindungan yang dilakukan

oleh enzim-enzim hati untuk melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisis, atau

konjugasi zat yang kemungkinan membahayakan dan mengubahnya menjadi zat

yang secara fisiologis tidak aktif. Fungsi perlindungan dilakukan oleh sel kupffer

yang terdapat di dinding sinusoid hati.

Pemeriksaan kerusakan hati dilakukan karena hati merupakan organ yang

sangat berperan dalam proses metabolisme sehingga organ ini sering terpapar zat

kimia yang akan mengalami detoksifikasi dan inaktivasi sehingga zat kimia

tersebut menjadi tidak berbahaya bagi tubuh. Kerusakan hati karena obat dan zat

kimia dapat terjadi akibat hilangnya kemampuan regenerasi sel hati, sehingga hati

akan mengalami kerusakan permanen yang dapat menimbulkan kematian (Elya et

al., 2010).

Organ hati terlibat dalam metabolisme zat makanan serta sebagian besar

obat dan toksikan (Lu, 1994). Kerusakan hepar karena zat toksik dipengaruhi oleh

(35)

lamanya paparan zat tersebut. Kerusakan hepar dapat terjadi segera atau setelah

beberapa minggu sampai beberapa bulan. Kerusakan dapat berbentuk nekrosis

hepatosit, kolestasis, atau timbulnya disfungsi hepar secara perlahan-lahan.

Obat-obatan yang menyebabkan kerusakan hepar pada umumnya diklasifikasikan

sebagai hepatotoksik yang dapat diduga dan yang tak dapat diduga, tergantung

dari mekanisme dengan cara mana mereka menyebabkan kerusakan hepar

(Amalina, 2009).

Perubahan struktur hati yang terjadi pada kerusakan hepar dapat berupa

(Amalina, 2009) :

1. Inflamasi (hepatitis)

Yaitu peradangan pada hati yang dapat dicetuskan oleh benda asing,

organisme atau obat-obatan (akibat langsung toksin).

2. Degenerasi dan penimbunan intraseluler.

Cedera karena toksik dapat menyebabkan pembengkakan dan edema

hepatosit. Pada degenerasi hidropik tampak sel-sel yang sitoplasmanya pucat,

bengkak dan timbul vakuola-vakuola di dalam sitoplasma, karena penimbunan

cairan. Hepatotoksik dan obat juga dapat menyebabkan penimbunan tetesan lipid

(steatosis). Hati secara mikroskopis terlihat gambaran vakuola lemak kecil dalam

sitoplasma di sekitar inti (mikrovesikular steatosis), yang dapat berlanjut

membentuk vakuola besar yang mendesak inti ke tepi sel (makrovesikular

steatosis).

Penimbunan lemak ringan dalam hati dapat tidak berpengaruh pada

(36)

kuning, pada keadaan ekstrim, hati dapat seberat tiga sampai enam kg dan

berubah menjadi hati yang kuning, lunak, dan berminyak.

3. Nekrosis

Adalah kematian sel atau jaringan pada organisme hidup. Inti menjadi

lebih padat (piknotik) yang dapat hancur bersegmen-segmen (karioreksis) dan

kemudian sel menjadi eosinofilik. Nekrosis dapat bersifat:

a. Nekrosis fokal, adalah kematian sebuah sel atau kelompok kecil sel dalam satu

lobus.

b. Nekrosis zonal, adalah kerusakan sel hepar pada satu lobus. Nekrosis zonal

dapat dibedakan menjadi nekrosis sentral, midzonal, dan perifer.

c. Nekrosis masif, yaitu nekrosis yang terjadi pada daerah yang luas.

d. Nekrosis pembentukan jembatan (bridging necrosis), yaitu dengan jejas

inflamasi yang lebih berat, nekrosis hepatosit dapat menjangkau lobus yang

berdekatan dengan cara porta ke porta, porta ke central, atau central ke central.

4. Fibrosis

Terjadi sebagai respons terhadap radang atau akibat langsung toksin.

Fibrosis yang berkepanjangan menyebabkan sirosis. Pada sirosis, morfologi hepar

tampak makronoduler, mikronoduler, atau campuran. Bila berlangsung progresif,

hepar menjadi berwarna coklat, tidak berlemak, mengecil, terkadang berat hepar

kurang dari satu kg.

2.6 Proses Biotransformasi Obat di Hati

Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang non-polar (larut

(37)

Reaksi metabolisme terdiri dari reaksi fase I dan reaksi fase II. Reaksi fase I

terdiri dari oksidasi, reduksi, dan hidrolisis, yang mengubah obat menjadi lebih

polar, dengan akibat menjadi inaktif, lebih aktif atau kurang aktif. Reaksi fase II

merupakan reaksi konyugasi dengan substrat endogen seperti asam glukoronat,

asam sulfat, asam asetat, atau asam amino dan akibatnya hampir selalu menjadi

tidak aktif. Obat dapat mengalami reaksi fase I saja, atau reaksi fase II saja, atau

reaksi fase I diikuti reaksi fase II (Amalina, 2009).

Reaksi metabolisme yang terpenting adalah oksidasi oleh enzim sitokrom

P450 (CYP) dalam retikulum endoplasmik (mikrosom) hati. Ada sekitar 50 jenis

isoenzim CYP yang aktif pada manusia, tetapi hanya beberapa yang penting untuk

metabolisme obat, diantaranya CYP3A4/5, CYP2D6, CYP2C8/9, CYP2C19,

CYP1A1/2, dan CYP2E1. CYP450 3A4/5 merupakan enzim sitokrom P450 yang

paling banyak (30%) di hepar dan memetabolisme sebagian besar (50%) obat.

Isoenzim ini juga terdapat di epitel usus halus dan di ginjal. CYP450 3A4/5

berperan sangat penting dalam metabolisme dan eliminasi lintas pertama berbagai

obat, dengan demikian induksi dan inhibisinya membawa dampak yang besar

dalam menurunkan atau meningkatkan efek dari banyak obat akibat penurunan

atau peningkatan bioavailabilitas dan kadarnya dalam darah (Amalina, 2009).

Reaksi fase II yang terpenting adalah glukuronidasi melalui enzim

UDP-glukuronil-transferase (UGT), yang terutama terjadi dalam mikrosom hati, tetapi

juga di jaringan usus halus, ginjal, paru, kulit. Reaksi konjugasi yang lain

(asetilasi, sulfasi, konyugasi dengan glutation) terjadi dalam sitosol (Amalina,

(38)

2.7 Mekanisme Kerusakan Hati Akibat Obat

Kerusakan hati karena zat toksik dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti

jenis zat kimia yang terlibat, dosis yang diberikan dan lamanya paparan zat

tersebut. Kerusakan hati dapat terjadi segera atau setelah beberapa minggu sampai

beberapa bulan. Kerusakan dapat berbentuk nekrosis hepatosit, kolestasis, atau

timbulnya disfungsi hati secara perlahan-lahan. Obat-obatan yang menyebabkan

kerusakan hati pada umumnya diklasifikasikan sebagai hepatotoksik yang dapat

diduga dan yang tak dapat diduga, tergantung dari mekanisme dengan cara mana

mereka menyebabkan kerusakan hati (Amalina, 2009).

Kerusakan hati oleh obat yang dapat diduga, menyebabkan reaksi hati

yang berulang-ulang. Kriterianya adalah setiap individu mengalami kerusakan

hati bila diberikan dalam dosis tertentu, beratnya kerusakan hati bergantung dosis,

kerusakan biasanya dapat diadakan pada hewan percobaan, lesi hepatik yang

terjadi biasanya jelas, mempunyai interval waktu yang singkat antara pencernaan

obat dan reaksi melawan. Banyak reaksi obat yang toksik terjadi karena konversi

oleh hati terhadap obat menjadi metabolit berupa kimia reaktif yang konvalen

yang mengikat protein nukleofilik pada hepatosit hingga terjadi nekrosis. Reaksi

oksidasi sitokrom P450 juga menghasilkan metabolit dengan rantai bebas yang

dapat terikat kovalen ke protein dan ke asam lemak tak jenuh membran sel,

sehingga menyebabkan peroksidasi lipid dan kerusakan membran dan akhirnya

terjadi kematian hepatosit (Amalina, 2009).

Kerusakan hati oleh obat yang tidak dapat diduga disebut juga

idiosinkrasi, meskipun jarang terjadi. Hal ini dapat timbul karena reaksi

(39)

metabolitnya berlaku sebagai hapten untuk membentuk antigen yang sensitif.

Beberapa tandanya adalah insidens yang sangat rendah (lebih kecil dari 1%) pada

individu yang menggunakan obat, kerusakan tidak tergantung dari dosis,

berminggu-minggu sampai berbulan-bulan berlalu antara pencernaan obat dan

reaksi melawan. Lesi ini tidak dapat dibuat pada binatang percobaan sehingga lesi

ini sering tidak dapat diketahui pada penelitian toksikologi dan percobaan klinik

awal (Amalina, 2009).

2.8 Hewan Percobaan

Mencit (Mus musculus) merupakan salah satu hewan percobaan yang

sering digunakan dalam penelitian. Hewan ini dinilai cukup efisien dan ekonomis

karena mudah dipelihara, tidak memerlukan tempat yang luas, lama hamil yang

singkat dan banyak memiliki anak perkelahiran. Mencit mempunyai sifat-sifat

produksi dan reproduksi yang mirip dengan mamalia besar serta memiliki siklus

estrus yang pendek. Hewan pengerat merupakan jenis hewan yang paling banyak

digunakan pada sebagian besar uji toksisitas (Retnomurti, 2008). Mencit dan tikus

putih memiliki banyak data toksikologi, sehingga mempermudah membandingkan

toksisitas zat-zat kimia (Lu, 1994).

Sistem taksonomi mencit adalah sebagai berikut (Retnomurti, 2008):

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub filum : Vertebrata

Kelas : Mamalia

Bangsa : Rodentia

(40)

Jenis : Mus musculus

Mencit memiliki beberapa data biologis, diantaranya (Retnomurti 2008) :

Lama hidup : 1-2 tahun

Lama produktif : 9 bulan

Lama hamil : 19-21 hari

Umur dewasa : 35 hari

Umur dikawinkan : 8 minggu

Berat dewasa : 20-40 gram (jantan)

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan tahapan

penelitian yaitu pengujian efek toksisitas akut secara oral terhadap mencit jantan

dan betina, pengamatan gejala toksik, berat badan, berat organ relatif hati,

kematian mencit, pemeriksaan makropatologi dan histopatologi organ hati mencit.

Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan metode Two Way Analysis

of Variance (ANOVA) dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey menggunakan

program SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 16.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas, neraca listrik,

mortir dan stamfer, pipet tetes, vial, oral sonde, seperangkat alat bedah, waterbath,

neraca hewan, spuit 1 ml, kertas saring dan miskroskop cahaya. Alat untuk

pembuatan preparat histopatologi adalah mikrotom, vakum, inkubator, cetakan,

kaca objek dan kaca penutup.

3.1.2 Bahan-bahan

Bahan tumbuhan yang digunakan pada penelitian ini adalah herba selada

air (Nasturtium officinale R. Br.). Bahan kimia yang digunakan adalah akuades,

Na-CMC (natrium carboxy methyl cellulose), formaldehid 37%, NaH2PO4,

Na2HPO4. Bahan yang digunakan untuk pembuatan preparat histopatologi adalah

larutan hematoksilin, larutan eosin, etanol 70%, etanol 80%, etanol 96%, etanol

(42)

3.2 Hewan Penelitian

Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah mencit (Mus

musculus) jantan dan betina yang sehat sebanyak 60 ekor dengan bobot 20-30

gram. Mencit diaklimatisasi terlebih dahulu selama 7-14 hari. Hewan diletakkan

di dalam kandang, mencit jantan dan betina diletakkan dalam kandang yang

berbeda, diberi makan pelet ikan dan minum air suling.

3.3 Tahap Penelitian

3.3.1 Penyiapan ekstrak etanol herba selada air (EEHSA)

Ekstrak etanol herba selada air (EEHSA) diperoleh dari penelitian

sebelumnya yang berjudul Ekstrak Etanol Selada Air (Nasturtium officinale

R.Br.) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Tablet Diuretika (Ginting et al., 2014).

3.3.2 Pembuatan Suspensi Na-CMC 0,5 % b/v

Sebanyak 0,5 g Na-CMC dimasukkan kedalam lumpang yang berisi air

panas sebanyak 1 ml, dibiarkan selama 15 menit sehingga mengembang, digerus

hingga diperoleh massa yang transparan, lalu diencerkan dengan akuades,

dimasukan kedalam wadah, cukupkan dengan akuades hingga 100 ml.

3.3.3 Pembuatan suspensi ekstrak etanol herba selada air (EEHSA)

Dalam pengujian akan digunakan 5 variasi dosis yakni dosis 50 mg/kg bb,

500 mg/kg bb, 1000 mg/kg bb, 2000 mg/kg bb, dan 4000 mg/kg bb. Ditimbang

ekstrak etanol herba selada air sebanyak 50 mg, 500 mg, 1000 mg, 2000 mg dan

4000 mg. Masing-masing ekstrak etanol herba selada air dimasukkan ke dalam

lumpang dan ditambahkan suspensi Na-CMC 0,5% b/v sedikit demi sedikit

(43)

3.3.4 Penyiapan dan Pengelompokan Hewan Uji

Hewan uji yang digunakan yaitu mencit (Mus musculus) yang sehat

sebanyak 60 ekor dengan bobot 20-30 gram. Mencit dibagi ke dalam 6 kelompok,

tiap kelompok terdiri dari 10 ekor mencit, yaitu 5 ekor mencit jantan dan 5 ekor

mencit betina. Kelompok 1 sebagai kontrol, kelompok 2-6 sebagai kelompok

perlakuan.

Pembagian kelompok sebagai berikut :

kelompok 1 (K) : Kontrol, diberi larutan suspensi Na-CMC 0,5 % b/v

kelompok 2 (P1) : Perlakuan, diberikan EEHSA dengan dosis 50 mg/kg bb

kelompok 3 (P2) : Perlakuan, diberikan EEHSA dengan dosis 500 mg/kg bb

kelompok 4 (P3) : Perlakuan, diberikan EEHSA dengan dosis 1000 mg/kg bb

kelompok 5 (P4) : Perlakuan, diberikan EEHSA dengan dosis 2000 mg/kg bb

kelompok 6 (P5) : Perlakuan, diberikan EEHSA dengan dosis 4000 mg/kg bb

3.3.5 Pemberian Sediaan Uji dan Pengamatan Gejala Toksik

Sediaan uji diberikan pada hewan uji secara peroral menggunakan oral

sonde dengan kekerapan pemberian sekali selama masa uji. Hewan uji dipuasakan

terlebih dahulu selama 3-4 jam dengan tetap diberi minum. Dari setiap kelompok

diambil secara acak, efek toksik yang terjadi diamati dibandingkan dengan

kontrol. Waktu pengamatan adalah 5 menit, 10 menit, 15 menit, 30 menit, 60

menit, 120 menit, 180 menit dan 240 menit. Jadi total waktu pengamatan adalah 4

jam dan setelah itu selama 14 hari. Pada perlakuan untuk mengamati efek toksik

yang timbul dilakukan pengujian yang meliputi uji panggung, uji katalepsi, uji

urinasi, uji defekasi dan uji salivasi. Pengujian diulangi kembali pada mencit yang

(44)

lain. Mencit diamati dan ditentukan LD50nya dengan melihat jumlah mencit yang

mati.

Adapun cara pengujiannya, yaitu :

1. Uji Panggung

Mencit yang telah diberi ekstrak etanol herba selada air diletakkan di atas

meja alas bundar dengan diameter 30-40 cm dan tinggi 40-45 cm. Pada uji ini

yang diamati adalah aktivitas mencit secara umum dan aktivitas motorik.

2. Uji katalepsi

Mencit yang telah diberi ekstrak etanol herba selada air diletakkan di atas

pensil yang digerakkan dari atas ke bawah 2-3 cm di atas permukaan meja.

Dicatat mudah tidaknya kaki depan mencit jatuh kembali ke atas meja.

3. Uji urinasi

Pengeluaran urin mencit yang telah diberi ektrak etanol herba selada air

dibandingkan dengan kontrol, menggunakan kertas saring.

4. Uji defekasi

Pengeluaran tinja mencit yang telah diberi ekstrak etanol herba selada air

dibandingkan dengan kontrol, menggunakan kertas saring.

5. Uji salivasi

Pengeluaran salivasi mencit yang telah diberi ekstrak etanol herba selada

air dibandingkan dengan kontrol, menggunakan kertas saring.

3.3.6 Pengamatan Berat Badan

Mencit ditimbang setiap hari selama 14 hari untuk melihat adanya

pengaruh ekstrak etanol herba selada air terhadap berat badan mencit. Perubahan

(45)

bertahan hidup ditimbang dan kemudian dikorbankan secara fisik dengan

dislokasi leher.

3.3.7 Pengamatan Kematian Hewan

Mencit diamati kematiannya dari hari pertama sampai hari terakhir.

Mencit yang mati setelah pemberian suspensi sediaan uji sesegera mungkin

dibedah pada bagian perut secara melintang dan diambil organ hati. Hewan uji

yang masih hidup sampai hari terakhir, dikorbankan secara fisik dengan dislokasi

leher, selanjutnya dibedah dan diambil organnya.

3.3.8 Penimbangan Organ Hati

Organ hati dicuci dengan natrium klorida, dikeringkan terlebih dahulu

dengan kertas penyerap, kemudian ditimbang, sedangkan yang dianalisis adalah

bobot relatif, yaitu bobot organ absolut dibagi bobot badan.

3.3.9 Makropatologi Organ Hati

Organ hati diamati secara visual yaitu mengamati warna, bentuk

permukaan dan konsistensi organ.

3.3.10 Histopatologi Organ Hati

Organ hati dicuci dengan natrium klorida, kemudian ditimbang dan

dimasukkan ke dalam pot berisi formalin 10%. Organ hati dikirim kebagian

histopatologi kedokteran untuk pembuatan preparat histopatologinya (Pembuatan

preparat histopatologi dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas

Kedokteran USU). Kemudian dilakukan pengamatan dengan menggunakan

(46)

Proses Pembuatan Preparat Histopatologi :

3.3.11 Analisis Data

Pengamatan berat badan dan berat organ relatif dianalisis statistik dengan

menggunakan two-way analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji

Post Hoc Tukey pada program Statistic Product and Service Solutions (SPSS)

versi 16.

Organ hati Pemotongan organ hati

(47)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengujian efek toksik ekstrak etanol herba selada air (Nasturtium

officinale R. Br.), dilakukan terhadap mencit jantan dan betina. Pada penelitian

ini, dosis ekstrak etanol herba selada air yang digunakan: 50, 500, 1000, 2000, dan

4000 mg/kg bb. Pengamatan dilakukan selama 14 hari meliputi pengamatan gejala

toksik, berat badan, kematian hewan, berat organ relatif, serta pemeriksaan

makropatologi dan histopatologi organ hati mencit.

4.1 Hasil Pengamatan Gejala Toksik

Pengamatan terhadap pengujian efek toksik dilakukan pada setiap

kelompok, efek toksik yang terjadi diamati dibandingkan dengan kontrol. Waktu

pengamatan adalah adalah 5 menit, 10 menit, 15 menit, 30 menit, 60 menit, 120

menit, 180 menit dan 240 menit. Total waktu pengamatan adalah 4 jam.

Pengamatan efek toksik yang timbul dilakukan pengujian yang meliputi uji

panggung, uji katalepsi, uji urinasi, uji defekasi dan uji salivasi. Hasil pengujian

dapat dilihat pada Tabel 4.1 hasil uji panggung, Tabel 4.2 hasil uji katalepsi,

Tabel 4.3 hasil uji urinasi, Tabel 4.4 hasil uji defekasi dan Tabel 4.5 hasil uji

(48)

Tabel 4.1 Hasil uji panggung 4000 mg/kg bb; (-) = tidak menunjukkan penurunan aktivitas motorik; (+) = menunjukkan penurunan aktivitas motorik

Berdasarkan Tabel 4.1 pada uji panggung menunjukkan bahwa mencit

jantan dan betina setelah pemberian EEHSA masih dalam keadaan normal, tidak

ditemukan gejala toksik pada semua kelompok berupa penurunan aktivitas

motorik mencit ditandai dengan abduksi yaitu kaki terbuka karena adanya depresi

SSP, ataksia (sempoyongan) dan reaksi refleks yaitu ketidakmampuan mencit

membalikan dirinya apabila diletakkan dengan punggung yang tebalik

(49)

Tabel 4.2 Hasil uji katalepsi 4000 mg/kg bb; (-) = kaki depan mencit mudah mencapai permukaan meja; (+) = kaki depan mencit tidak mudah mencapai permukaan meja

Berdasarkan Tabel 4.2 pada uji katalepsi menunjukkan mencit jantan dan

betina setelah pemberian EEHSA masih dalam keadaan normal yaitu mudahnya

kaki depan mencit mencapai permukaan meja yang ditaruh pada pensil yang

digerakan dari atas ke bawah. Kaki depan mencit yang susah digerakkan

menunjukkan adanya gangguan neurologi yaitu adanya reaksi ketegangan

(kekakuan), tremor yaitu mencit terlihat gemetar dan kejang yang disebabkan

(50)

Tabel 4.3 Hasil uji urinasi

Berdasarkan Tabel 4.3 pada uji urinasi umumnya menunjukkan bahwa

mencit jantan dan betina setelah pemberian EEHSA masih dalam keadaan normal

pada semua kelompok, yaitu mencit masih mengeluarkan urin sebagaimana

mestinya dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada semua kelompok.

Pengeluaran urin yang berlebihan menunjukkan adanya sifat muskarinik

(Pudjiastuti, 2009). Pengeluaran urin juga dapat dipengaruhi oleh sifat ekstrak

(51)

Tabel 4.4 Hasil uji defekasi

Berdasarkan Tabel 4.4 pada uji defekasi yaitu pengeluaran tinja

menunjukkan bahwa mencit setelah pemberian EEHSA masih dalam keadaan

normal, tidak ada perbedaan yang signifikan pada semua kelompok. Mencit jantan

dan betina tidak mengalami diare setelah pemberian EEHSA. Diare menunjukkan

adanya tanda-tanda muskarinik (Pudjiastuti, 2009) dan merupakan salah satu

(52)

Tabel 4.5 Hasil uji salivasi

Berdasarkan Tabel 4.5 pada uji salivasi yaitu pengeluaran saliva

menunjukkan bahwa mencit jantan dan betina setelah pemberian EEHSA masih

dalam keadaan normal, tidak ditemukan pengeluaran saliva yang merupakan

gejala toksik pada mencit jantan dan betina pada semua kelompok. Pengeluaran

saliva yang berlebihan menunjukkan adanya sifat muskarinik (Pudjiastuti, 2009).

4.2 Hasil Pengamatan Berat Badan

Rata-rata berat badan mencit jantan dan betina yang ditimbang setiap hari

(53)

Tabel 4.6 Hasil rata-rata berat badan

Minggu Jenis

Kelamin

Rata-rata berat badan (g) ± SD

K P1 p P2 p P3 p P4 p P5 P 4000 mg/kg bb; SD = standar deviasi

Berdasarkan hasil analisis secara statistik rata–rata berat badan mencit

jantan dan betina menggunakan uji two way anova pada Tabel 4.6 di atas

menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kenaikan berat badan

mencit antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan pemberian

EEHSA pada minggu I yaitu dengan tingkat signifikansi p = 0,260 (p > 0,05) dan

pada minggu II yaitu dengan tingkat signifikansi p = 0,648 (p > 0,05), selain itu

tidak ada perbedaan yang signifikan kenaikan berat badan antara mencit jantan

dan mencit betina pada minggu I, yaitu dengan tingkat signifikansi p = 0,451 (p >

0,05). Terdapat perbedaan yang signifikan kenaikan berat badan antara mencit

jantan dan mencit betina pada minggu II dengan tingkat signifikansi p = 0,004 (p

< 0,05). Menurut Retnomurti (2008), umumnya berat badan untuk mencit jantan

(54)

demikian dapat dinyatakan bahwa pemberian EEHSA dosis tunggal secara oral

tidak berpengaruh terhadap perkembangan berat badan mencit.

Parameter yang merupakan indikator sensitif adalah berat badan dan gejala

toksik. Hewan uji diamati setiap hari untuk gejala toksik dan berat badan diukur

secara berkala (Gupta et al., 2012). Penurunan berat badan yang cepat dan

bermakna biasanya merupakan pertanda kesehatan yang buruk. Penurunan berat

badan dapat disebabkan oleh kurangnya konsumsi makanan dan minuman,

penyakit ataupun tanda toksik spesifik (Wilson et al., 2001).

4.3 Hasil Pengamatan Kematian Hewan

Jumlah kematian hewan selama 14 hari dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Hasil pengamatan kematian

Kelompok Jumlah mencit Jumlah kematian

Jantan Betina

Berdasarkan Tabel 4.7 menunjukkan bahwa dengan pemberian ekstrak

etanol herba selada air dosis tunggal secara oral sampai dengan dosis 4000 mg/kg

bb tidak menimbulkan kematian pada mencit jantan dan betina dari semua

kelompok sehingga LD50 tidak dapat ditentukan. Menurut Syukur et al. (2012),

jika pada dosis maksimal tidak ada kematian pada hewan uji, maka jelas senyawa

(55)

4.4 Hasil Berat Organ Relatif Hati

Hasil berat organ relatif hati yang didata pada akhir perlakuan ditunjukkan

pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Hasil berat organ relatif hati mencit

Kelompok

Rata-rata berat organ relatif hati ± SD

Jantan Betina 4000 mg/kg bb; SD = standar deviasi.

Berdasarkan hasil berat organ relatif hati mencit pada Tabel 4.8 yang

dianalisis secara statistik menggunakan uji two way anova menunjukkan tidak ada

perbedaan yang signifikan berat organ relatif hati mencit antara kelompok kontrol

dan kelompok perlakuan setelah pemberian EEHSA dengan tingkat signifikansi p

= 0,701 (p > 0,05). Hasil statistik juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan

signifikan berat organ relatif hati antara mencit jantan dan mencit betina dengan

tingkat signifikansi p = 0,099 (p > 0,05), dengan demikian dapat dinyatakan

bahwa pemberian EEHSA dosis tunggal secara oral tidak berpengaruh terhadap

perkembangan berat organ hati, jantung, ginjal kiri dan ginjal kanan mencit jantan

(56)

Pemeriksaan kerusakan hati dilakukan karena hati merupakan organ yang

sangat berperan dalam proses metabolisme sehingga organ ini sering terpapar zat

kimia yang akan mengalami detoksifikasi dan inaktivasi sehingga zat kimia

tersebut menjadi tidak berbahaya bagi tubuh. Kerusakan hati karena obat dan zat

kimia dapat terjadi akibat hilangnya kemampuan regenerasi sel hati, sehingga hati

akan mengalami kerusakan permanen yang dapat menimbulkan kematian (Elya et

al., 2010).

4.5 Hasil Pemeriksaan Makropatologi Organ Hati

Pemeriksaan dilakukan dengan mengamati warna, bentuk permukaan dan

konsistensi organ hati mencit jantan dan betina secara visual. Data selengkapnya

dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Hasil pemeriksaan makropatologi organ hati

Kelompok Jenis Kelamin

Pengamatan

Warna Permukaan Konsistensi

K Jantan Merah kecoklatan Licin Kenyal

Betina Merah kecoklatan Licin Kenyal

P1 Jantan Merah kecoklatan Licin Kenyal

Betina Merah kecoklatan Licin Kenyal

P2 Jantan Merah kecoklatan Licin Kenyal

Betina Merah kecoklatan Licin Kenyal

P3 Jantan Merah kecoklatan Licin Kenyal

Betina Merah kecoklatan Licin Kenyal

P4 Jantan Merah kecoklatan Licin Kenyal

Betina Merah kecoklatan Licin Kenyal

P5 Jantan Merah kecoklatan Licin Kenyal

Betina Merah kecoklatan Licin Kenyal

(57)

Kontrol EEHSA 50 mg EEHSA 500 mg

EEHSA 1000 mg EEHSA 2000 mg EEHSA 4000 mg

Gambar 4.1 Pengamatan makropatologi organ hati mencit jantan

Kontrol EEHSA 50 mg EEHSA 500 mg

EEHSA 1000 mg EEHSA 2000 mg EEHSA 4000 mg

Gambar 4.2 Pengamatan makropatologi organ hati mencit betina

Berdasarkan Tabel 4.9, Gambar 4.1 dan Gambar 4.2 menunjukkan bahwa

organ hati mencit jantan dan betina dari semua kelompok masih dalam keadaan

normal yaitu berwarna merah kecoklatan, permukaannya licin dan konsistensinya

kenyal. Kriteria normal pada organ hati yaitu bila tidak ditemukan perubahan

(58)

2008). Perubahan warna menjadi salah satu parameter terjadinya efek toksik yang

bertujuan mendapatkan informasi mengenai toksisitas zat uji yang berkaitan

dengan organ sasaran dan efek terhadap organ tersebut (Lu, 1994).

4.6 Hasil Pemeriksaan Histopatologi Organ Hati

Mencit yang telah dibedah segera diambil organnya. Dalam penelitian ini

tidak ada mencit yang mati, oleh karena itu hanya kelompok dengan pemberian

ekstrak dosis tertinggi yang akan diamati organ hati secara mikroskopik untuk

dibandingkan dengan kontrol. Organ hati mencit jantan dan betina pada kelompok

Kontrol, dosis 500 mg/kg bb, 1000 mg/kg bb, 2000 mg/kg bb, dan dosis 4000

mg/kg bb dibuat preparat histopatologinya lalu dilihat dibawah mikroskop pada

perbesaran 10 x 40. Hasil kerusakan dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Hasil histopatologi berdasarkan kerusakan hepatosit

Kelompok Dosis

(mg/kg bb)

Jenis Kelamin Jenis kerusakan

Degenerasi hidropik Nekrosis

K - Jantan - -

Keterangan : (-) = normal; (+) = terjadi kerusakan

Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan bahwa organ hati mencit jantan dan

betina pada kelompok kontrol, dosis 500 mg/kg bb, 1000mg/kg bb, dan 2000

Gambar

Tabel      Halaman
Gambaran makropatologi
Tabel 2.1 Klasifikasi zat kimia sesuai dengan toksisitas relatifnya.
Tabel  4.1 Hasil uji panggung
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa, pemberian ekstrak etanol 80% daun kedondong hutan tidak memberikan pengaruh terhadap kerusakan organ hati pada mencit

Pada pengamatan histopatologi, tidak terdapat kerusakan pada organ hati dan limpa mencit akibat pemerian ekstrak etanol kulit akar Ginseng Kuning (Rennellia

Hasil makropatologi dan histopatologi organ hati pada kelompok kontrol ekstrak etanol daun kedongdong pagar dan dosis 250 mg/kg bb tidak dijumpai perubahan organ sedang dosis

Hasil pemeriksaan histopatologi organ hati mencit menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol kulit buah markisa ungu pada kelompok kontrol, dosis 500 mg/kg bb dan

Hasil pemeriksaan histopatologi organ hati mencit menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol kulit buah markisa ungu pada kelompok kontrol, dosis 500 mg/kg bb dan

Pada mencit betina yang diberi ekstrak etanol jahe merah yang diiradiasi 10 kGy kelompok uji dosis 5 mg/kg bb menunjukkan indeks organ jantung, paru dan limpa lebih

Pada mencit betina yang diberi ekstrak etanol jahe merah yang diiradiasi 10 kGy kelompok uji dosis 5 mg/kg bb menunjukkan indeks organ jantung, paru dan limpa lebih

Skripsi yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Etanol Herba Putri malu (Mimosa pudica L.) Pada Histologi Organ Mencit Betina Sebagai Penunjang Uji Toksisitas Subkronis” ini