KORBAN REVOLUSI SOSIAL
DI KESULTANAN ASAHAN 1946
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada
Jurusan Pendidikan Sejarah
OLEH :
NURUL AZMI SAMBAS
NIM : 3123321037
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
i
ABSTRAK
NURUL AZMI SAMBAS, NIM 3123321037. KORBAN REVOLUSI SOSIAL DI KESULTANAN ASAHAN. SKRIPSI S-1 JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH. FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2016.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jalannya peristiwa Revolusi Sosial di Kesultanan Asahan 1946, kisah yang berkaitan langsung para korban revolusi sosial di Kesultanan Asahan 1946, respon para korban Revolusi Sosial Asahan yang selamat, dan kegiatan para korban Revolusi Sosial Asahan yang selamat dalam bidang politik dan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah dengan menerapkan penelitian lapangan (field Research) dan penelitian Pustaka (Library Research) yang bertujuan untuk mendapatkan sejarah yang diinterpretasikan menjadi historiografi sejarah. Berdasarkan sumber informasi yang relevan dengan penelitian. Data yang diperoleh dikelompokkan melalui verifikasi dan kritik sumber, interpretasi dan historiografi (menyusun hasil-hasil penelitian berdasarkan fakta) Menjadi naskah laporan penelitian.
Dari hasil penelitian, dapatlah diketahui bahwa Peristiwa revolusi sosial ini terjadi pada masa pendudukan Belanda dan Jepang. Revolusi sosial pada bulan Maret 1946 di Kesultanan Asahan ini merupakan gerakan rakyat terhadap Sultan yang dianggap feodal dan menghapuskan sistem Kesultananan. Dan korban revolusi sosial yang berada di Kesultanan Asahan khususnya di wilayah Tanjungbalai merupakan suatu tindakan kriminalitas yang berupa perampokan, penyiksaan, penjarahan, dan pembunuhan terhadap Sultan-sultan dan keluarganya yang dilakukan oleh sebuah kelompok atau laskar-laskar rakyat.
Kata kunci : Korban Revolusi Sosial, Kesultanan Asahan
ii
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah peneliti ucapkan atas kehadiran Allah SWT dimana,
atas rahat dan karunianya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : “Korban Revolusi Sosial di Kesultanan Asahan 1946”. Shalawat dan salam saya
ucapkan kepada Rasullulalh Muhammad SAW, yang mana syafaatnya diharapkan
di yaumul mahsyar kelak.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh
dari sempurna, baik isi tekhnik penelitian, maupun nilai ilmiahnya, mengingat
keterbatasan pengetahuan, pengetahuan dan pengalaman. Oleh sebab itu, dengan
segala kerendahan hati, peneliti mengharapkan saran dan kritikan. Maka dalam
kesempatan ini peneliti menyampaikan rasa terima kasih serta pengharapan yang
sebesar-besarnya kepada :
Ayahanda dan Ibunda tercinta yang melahirkan, mendidik dan
memebesarkan peneliti. Karena doa dan restu mereka peneliti bisa menjadi
saat sekarang ini dan sampai pada akhir untuk menyelesaikan studi dalam
perkuliahan. Skripsi ini sengaja ananda persembahkan sebagai bukti
bahwa ananda telah menyelesaikan amanat yang ayah dan ibu berikan
kepada ananda. Kiranya Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan
iii
Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd selaku Rektor Universitas Negeri
Medan.
Ibu Dra. Nurmala Berutu, M.Pd Selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial
Bapak Drs. Yushar Tanjung, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan
Sejarah dan Dosen Pembimbing Akademik serta penguji yang telah
banyak memberi nasehat-nasehat bagi peneliti selama masa perkuliahan.
Bapak Dr. Phil Ichwan Azhari, M.S selaku Dosen Pembimbing Skripsi,
peneliti mengucapkan terima kasih atas masukan dan kemudahan yang
telah bapak berikan kepada peneliti mulai dari proses penyusunan proposal
hingga penyelesaian skripsi.
Ibu Hafnita Sari Lubis S.Pd, M.Si selaku Dosen penguji atau pembanding
Utama yang banyak memberi inspirasi bagi peneliti.
Ibu Flores Tanjung, MA selaku Dosen penguji atau Pembanding Bebas
yang banyak memberi inspirasi bagi peneliti.
Dosen-dosen peneliti lain yang ada di Jurusan Pendidikan Sejarah, Pak
Ponirin, Pak Pristi Suhendro, Pak Hidayat, Pak Syahrul Nizar, Ibu
Samsidar Tanjung, dan Ibu Apriani dan Bapak Tappil Rambe, serta
seluruh dosen lainnya yang telah memberikan ilmu dan pengalaman
kepada peneliti selama mengikuti perkuliahan di Universiteas Negeri
Medan.
Kakak dan Adik Peneliti, Maulida Sambas S.Pd, Ayu Lestari Sambas,
Masyitoh Ningsih Sambas, Ana Zakia Sambas, dan Uswatun Hasanah
iv
membuat peneliti semangat untuk menyelesaikan penelitiannya dan
semoga peneliti dapat mencontoh semua hal yang baik dari kehidupan
mereka.
Kakak dan Abang sepupu serta keponakan peneliti, Herlina Rustam,
Junaidy, M. Syafii Rustam, Irma Yanti Sambas, Zakia Imani Islam, dan
Amar Maula Hasibuan yang memberi dukungan kepada peneliti serta
semangat.
Teman-teman peneliti Fakhri Muliawan Situmorang S.Pd, Suriyanti
Siagian S.Pd, Dian Puspita Sari Sirait S.Pd, Kartika Siregar S.Pd,
Agnestasia Br S S.Pd, Uci Armayanti S.Pd, Lot Syahputra Berutu S.Pd,
Regina Siburian S.Pd, Masriani Ariyati Hutasuhut S.Pd, Janita
AnggrainiSembiring S.Pd, M.Adnin Sumantri S.Pd, Sarah Amanda
Gultom S.Pd, Fitra Jaka Restu S.Pd, Roziah Rambe, Ida Rosida, Ade
Rafika Aisyah, Ema Manisa, Rinaldi Ham Simatupang S.Pd, Muhammad
Novriansyah Lubis, Daniel Siburian, dan teman-teman ekstensi 2012 yang
tidak bisa peneliti menyebutkan satu persatu. Terima kasih untuk
pengalaman yang luar biasa semasa kuliah yang tidak bisa terlupakan.
Bapak Syahdan, Alexander, dan Surya Dharma yang telah memberikan
banyak informasi kepada peneliti
Teman-teman PPLT SMA Muhammadiyah Kisaran yang telah memberi
semangat kepada peneliti selama menjalankan penelitian
Teman-teman dan Guru Madrasah Aliyah Negeri Kota Tanjungbalai yang
v
Akhir kata peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu dan jika ada pihak yang terlewatkan mendapatkan ucapan
terimakasih, peneliti meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafan. Semoga skripsi
ini bermanfat bagi pembaca dan menjadi bahan masukan bagi yang membacanya,
khususnya di wilayah Faklutas Ilmu Sosial.
Medan, Juni 2016 Peneliti
vi
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2. Identifikasi Masalah ... 5
1.3. Pembatasan Masalah ... 6
1.4. Rumusan Masalah ... 6
1.5. Tujuan Penelitian ... 6
1.6. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8
2.1. Kerangka Konseptual ... 8
2.1.1. Konsep Revolusi ... 8
2.1.2. Konsep Revolusi sosial ... 10
2.1.3. Konsep Korban ... 12
2.2. Kerangka Berfikir... 14
2.3. Hipotesis ... 16
BAB III METODE PENELITIAN ... 17
3.1. Metode Penelitian... 17
3.2. LokasiPenelitian ... 17
3.3. Sumber Data ... 18
1. Data Primer ... 18
2. Data Sekunder ... 18
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 18
3.5. Teknik Analisis Data ... 19
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 20
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 20
vii
4.1.2. Keadaan Penduduk ... 23
4.1.3. Keadaan Sosial ... 25
4.2. Kronologi Peristiwa Revolusi Sosial di Kesultanan Asahan 1946 .. 27
4.3.Kisah Yang Berkaitan Langsung Para Korban Revolusi Sosial Di Kesultanan Asahan 1946 ... 38
4.4.Respon Para Korban Revolusi Sosial Yang Selamat ... 56
4.5.Kegiatan Para Korban Revolusi Sosial di Kesultanan Asahan Dalam Bidang Politik dan Sosial ... 62
4.5.1. Bidang Politik ... 62
4.5.2. Bidang Sosial ... 66
BAB V KESIMPULAN ... 73
5.1. Kesimpulan ... 73
5.2. Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 77
LAMPIRAN ... 1
Lampiran I Pedoman Wawancara ... 1
Lampiran II Nama Responden ... 2
Lampiran III Dokumentasi Peneliti ... 4
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. ... 22
Tabel 4.2. ... 23
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Berbicara masalah revolusi sosial merupakan pembicaraan publik yang
sampai saat ini menjadi pembahasan yang menarik. Karena banyak dari kalangan
masyarakat luar yang tidak tahu siapa yang salah dalam perilaku keji ini, sehingga
banyak memakan korban dari kalangan Sultan atau Raja. dan pada saat ini adanya
dari para generasi Melayu memperingati atau tahlilan dalam tema “Melawan Lupa
revolusi sosial yang ke 70 tahun” dengan tujuan dibuat acara tersebut untuk
mengenang kembali perjuangan tokoh revolusi yang telah mempertahankan bumi Melayu sebagai tanah bertuah. “Tidak hanya masyarakat Melayu, bahkan
masyarakat etnis Karo dan lainnya juga banyak menjadi korban. Karena itu, saya
apresiasi terbentuknya gerakan melawan lupa terhadap tragedi 1946,” kata
Tengku Erry Nuriadi selaku Plt Gubernur Sumatera Utara. dan tidak hanya
membuat acara tahlilah atau memperingati tetapi mereka juga mengadakan
seminar yang diadakan di Fakultas Hukum di Universitas Sumatera Utara dengan
tema “Melawan Lupa dan Menjemput Hikmah Peristiwa Revolusi Sosial Maret 1946 di Sumatera Timur” dengan tujuan supaya tidak boleh terjadi lagi, apapun
alasannya, semua orang harus menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).
Kemerdekaan Indonesia diraih dengan perjuangan yang tidak mudah.
Perjuangan tersebut lebih dikenal dengan sebutan revolusi Nasional Indonesia.
2
sekutunya yang kembali berupaya menjajah Indonesia setelah kekalahan Jepang
dalam perang Asia Timur Raya tahun 1945. Namun, di tengah-tengah revolusi
Nasional melawan Belanda dan sekutunya, terjadi juga revolusi sosial yang dilakukan rakyat Indonesia dengan menjadikan bangsawan pribumi “kaki tangan”
Jepang dan Belanda sebagai musuh. Dengan kata lain revolusi sosial juga disebut
sebagai perang saudara sesama bangsa Indonesia. Reid (1981:35)
Dalam historiografi Indonesia, tulisan sejarah yang berfokus pada periode
revolusi Nasional telah banyak dilakukan para sejarawan Indonesia dan
Indonesianis seperti George Mc.T.Kahin, Audrey R.Kahin, dan Ben Anderson
(Perjuangan Kemerdekaan : Sumatera Barat dalam Revolusi Nasional Indonesia,
1945-1949). Mereka tentunya sepakat apabila periode 1945-1949 menjadi
tahun-tahun ujian bagi dinamika kehidupan masyarakat Indonesia, karena selalu
diwarnai dengan gejolak dan konflik sebagai usaha untuk merebut dan
mempertahankan kemerdekaan. Rizaldin (2013:1)
Banyak hal yang menyebabkan perpecahan antar sesama anak bangsa
Indonesia, Mengingat kembali masa pendudukan Jepang, angkatan perang Jepang
menciptakan seperangkat kondisi yang secara luar biasa (penderitaan terhadap
rakyat Indonesia) yang memperkuat potensi untuk revolusi Indonesia.
Soedjatmoko (1991:5)
Ada segelintir pribumi yang memanfaatkan situasi tersebut dengan
bekerjasama pada pihak Jepang dalam menindas rakyat. Ketika kekalahan Jepang
dengan sekutu disambut oleh rakyat Indonesia dengan tindakan-tindakan
3
Belanda). Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, kekuatan
Kesultanan-Kesultanan yang memiliki kekuasaan otonom di daerah dikhawatirkan
oleh presiden Soekarno dan wakil presiden Hatta. Mereka khawatir
Kesultanan-Kesultanan tersebut akan memberontak dan akan mengharapkan serta membela
pemerintah kolonial Belanda kembali berkuasa lagi di Indonesia. Kekhawatiran
presiden dan wakil presiden diartikan oleh para pemuda sebagai penurunan secara
paksa atau bahkan pembantaian bekas pejabat yang dekat dengan pemerintah
kolonial Belanda, Sultan dan keluarganya. Para pemuda yang tidak mau
berkolaborasi dengan Jepang dan Belanda, tetapi mempertahankan dan memupuk
rasa tanggung jawab dari sebagian pergerakan kebangsaan yang antifasis,
antifeodal dan yang mendambakan demokrasi. Harahap (2013:2)
Para pemuda melakukan penurunan penguasa lokal secara paksa yang
sering disebut oleh para pemuda sebagai revolusi yang menuntut perubahan
struktural dari kefeodalan yang menindas rakyat jelata dan selalu bekerjasama
dengan pemerintah kolonial Belanda, menuju Republik yang merdeka dengan
persamaan dan kebebasan. Alasan kuat rakyat melakukan revolusi terhadap
Sultan-Sultan dan pegawai pribumi yang bekerja dengan para penjajah, karena
kerjasama Sultan-Sultan dengan penjajah yang menindas rakyat. Namun,
kehadiran organisasi pemuda juga semakin mendorong dan memobilisasi rakyat
untuk segera merevolusi struktur sosial Kesultanan yang feodal dan kolaboratoris.
Revolusi sosial dilancarkan dengan tindakan-tindakan brutal yang
dilakukan sekelompok pemuda yang tergabung dalam organisasi tertentu. Selain
4
Kebencian rakyat terhadap Sultan-Sultan telah menutupi rasa kemanusiaan rakyat
dengan melakukan tindakan-tindakan pembunuhan.
Revolusi sosial terjadi hampir di setiap daerah Indonesia, seperti di
Surakarta, Banten, Sukabumi, Aceh dan Sumatera Timur. Dan begitu juga di
Kesultanan Asahan. kekerasan yang dimulai pada 3 Maret 1946 itu paling parah
terjadi di Kabupaten Asahan, di Selatan keresidenan ini. di sana tidak terdapat
adanya suatu kekuatan moderat antara pemuda bersenjata dan segolongan pejabat
pendukung kerajaan yang keras kepala yang dipimpin oleh Teungku Musa, yang
tetap mewakili Republik “resmi”. satu-satunya kekuatan TKR/TRI diseluruh
Kabupaten ini hanyalah sepasukan kecil di Tanjungbalai yang cenderung
mendukung kerajaan. para pemimpin kelompok pemuda bersenjata - Pesindo,
Napindo dan Sabilillah semuanya adalah politisi belum berpengalaman yang
mendapat latihan-latihan pokoknya dari TALAPETA yang didirikan Inoue.
bahkan Abdullah Eteng, pemimpin kekokutai dan kemudian KNI Asahan, berada dalam tahanan rumah oleh pemuda selama “Revolusi Sosial” itu. Reid (1987:375)
Pada 3 Maret 1946 ribuan orang bersenjata berkumpul di Tanjungbalai
sebagai reaksi desas-desus bahwa belanda akan melakukan pendaratan. Mereka
dikerahkan untuk mengepung Istana. terjadi tembak-menembak yang
menimbulkan kekacauan dengan TRI dan polisi yang tampaknya berusaha
melindungi Istana. Mereka akhirnya terpaksa menyerah dan Istana itu diserbu,
tetapi Sultan Asahan yang muda dan gesit sempat meloloskan diri. Sesudah
5
kali berenang menyebrangi Sungai, akhirnya 17 hari kemudian Sultan ini berhasil
menyelamatkan diri dia bekas pos tentara Jepang.
Para pemuda mencari sasarannya yang lain, Tengku Musa adalah yang
pertama dalam daftar mereka. ia dan isterinya yang berkebangsaan Belanda serta
seisi rumah tetangganya disergap pada 3 Maret malam semuanya segera dibunuh.
keesokan harinya semua bangsawan Melayu yang pria di kota itu ditangkap dan
kemudian dibunuh juga. dalam beberapa hari sudah sekitar 140 orang kedapatan
mati terbunuh di kota itu, termasuk beberapa penghulu dan pegawai-pegawai
didikan belanda, serta seluruh kelas “Tengku”. Sebagian besar janda dan
anak-anak mereka yang mati kemudian diasingkan dan rumah mereka digeledah untuk
mencari harta. Istana dijadikan gedung rakyat, markas yang mewah untuk Pesindo
(Pemuda Sosialis Indonesia). Reid (2012:319)
Hari itu 3 Maret 1946, seluruh Sumatera Timur bergejolak. Sebuah
gerakan sosial melawan orang yang dianggap feodal telah dimulai. di
Tanjungbalai hampir semua kelas bangsawan mati terbunuh karena jumlahnya
sedikit, massa berhasil dan revolusi sosial terjadi begitu singkat dengan menelan
banyak korban yang tidak berdosa. Kesultanan ini direvolusi oleh sekelompok
rakyat dengan tujuan merubah sistem dan struktur sosial Kesultanan menuju
sistem demokrasi Republik.
Penelitian terhadap peristiwa korban revolusi sosial di Kesultanan Asahan
menjadi penting, karena peristiwa tersebut memiliki akibat yang besar bagi
masyarakat Tanjungbalai saat ini. Peristiwa revolusi sosial merupakan kenangan
6
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang di atas, maka yang menjadi
identifikasi masalah adalah:
1. Jalannya peristiwa revolusi sosial di Kesultanan Asahan 1946
2. Kisah yang berkaitan langsung para korban revolusi sosial di
Kesultanan Asahan 1946
3. Respon para korban revolusi sosial Asahan yang selamat
4. kegiatan para korban revolusi sosial Asahan yang selamat dalam
bidang Politik dan Sosial.
1.3. Pembatasan Masalah
Untuk lebih memaksimalkan hasil penelitian, maka peneliti membatasi
masalah penelitian yaitu : “Kepada korban Revolusi Sosial yang terjadi di
Kesultanan Asahan 1946”
1.4. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana jalannya peristiwa revolusi sosial di Kesultanan Asahan
1946 ?
2. Bagaimana kisah yang berkaitan langsung para korban revolusi sosial di
Kesultanan Asahan 1946 ?
3. Apa respon para korban revolusi sosial Asahan yang selamat ?
4. Apa kegiatan para korban revolusi sosial Asahan yang selamat dalam
7
1.5. Tujuan Penelitian
Menetapkan tujuan penelitian merupakan hal yang sangat penting, karena
setiap penelitian yang dilakukan harus memiliki tujuan tertentu. Dengan
berpedoman kepada tujuannya, maka akan lebih mempermudah mencapai sasaran.
tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui jalannya peristiwa revolusi sosial di Kesultanan
Asahan 1946.
2. Untuk mengetahui kisah yang berkaitan langsung para korban
revolusi sosial di Kesultanan Asahan 1946.
3. Untuk mengetahui respon para korban revolusi sosial Asahan yang
selamat.
4. Untuk mengetahui kegiatan para korban revolusi sosial Asahan
8
1.6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin diperoleh sesudah melaksanakan penelitian ini
adalah :
1. Menambah wawasan peneliti tentang korban revolusi sosial di
Kesultanan Asahan 1946.
2. Untuk menambah pengetahuan atau informasi bagi para pembaca
baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum tentang
korban revolusi sosial di Kesultanan Asahan 1946.
3. Memperkaya informasi bagi masyarakat khususnya di Tanjungbalai
untuk mengetahui siapa saja korban revolusi sosial di Kesultanan
Asahan 1946.
4. Memperkaya informasi bagi akademisi UNIMED, khususnya
Jurusan Pendidikan Sejarah untuk dapat kiranya mengetahui dan
memahami mengenai korban revolusi sosial yang ada di
Kesultanan Asahan 1946.
5. Sebagai bahan masukan dan perbandingan bagi peneliti lain yang
bermaksud mengadakan penelitian dalam masalah yang sama.
6. Menambah daftar bacaan kepustakaan ilmiah UNIMED khususnya
75
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian diatas, maka penulis menarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada saat Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada
tanggal 17 Agustus 1945 membawa Indonesia memasuki revolusi
Nasional. Dan pada tanggal 3 Maret 1946 terjadi peritiwa revolusi sosial
yang menghancurkan pemerintahan di sumatera Timur khususnya di
wilayah Kesultanan Asahan. Peristiwa ini dilakukan oleh gerakan rakyat
yang diprovokasi oleh peran PKI yang mengakibatkan pembunuhan dan
perampasan harta benda milik para sultan dan keluarga korban.
2. Revolusi sosial di Kesultanan Asahan lebih tepatnya disebutkan sebagai
tindakan kriminalitas, berupa perampokan, penyiksaan, pemerkosaan,
pembunuhan terhadap Sultan-Sultan dan keluarganya. Pada tanggal 4
Maret 1946 semua Aristokrat melayu yang pria di kota Tanjungbalai di
tangkap dan dibunuh.
3. Di daerah Kesultanan Asahan yang paling parah mengalami tragedi
tersebut. Pada saat terjadinya revolusi sosial di Tanjungbalai mengalami
pemadaman listrik. Dan banyaknya korban yang dibunuh oleh kaum
revolusioner yang membawa dampak sangat besar bagi para keturunan
76
4. Setelah di data baru ditemukan lebih kurang 71 orang dari 140 orang yang
terbunuh di pihak keluarga sultan belum termasuk dari rakyat biasa.
Belakangan ini baru diketahui bahwa para korban dibunuh di suatu tempat
bernama Sungai Lendir Kabupaten Asahan (lebih kurang 1 jam perjalanan
melalui sungai dari Tanjungbalai) dan telah dipindahkan ke Mesjid Raya
Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai oleh para sanak saudara pada tanggal 11
dan 12 Mei 2002.
5. Kisah keturunan para korban terhadap peristiwa revolusi sosial tersebut,
adanya sakit hati terhadap peristiwa tersebut karena keluarga Kesultanan
dibunuh, dirampas, dianiaya, dan diperkosaan. revolusi sosial itu bukan
merubah struktur pemerintahan yang stabil, tetapi revolusi sosial yang
sebagai bentuk kriminalitas sebagai penjarahan, perampasan, pemerkosaan
terhadap keluarga Kesultanan. Dan keturunan Sultan pun tidak tahu apa
yang salah dari keluarga mereka sehingga keluarga mereka di bunuh dan
sampai saat ini pemerintah diam dengan kejadian itu dan sehingga banyak
korban terhadap peristiwa tersebut.
6. Revolusi sosial membuat pihak keluarga Kesultanan Asahan semakin
terpojok dan terkucilkan. Rakyat membenci mereka, dan tidak pernah
menggangap keberadaan mereka. Hampir seluruh peninggalan kesultanan
dijarah dan dilenyapkan. Namun disayangkan bagi keturunan para korban
mengetahui cerita tentang kesultanan Asahan, tetapi tidak pernah bisa
melihat peninggalan-peninggalannya karena telah dimusnahkan oleh para
77
7. Respon keturunan korban revolusi sosial pada masa ini tentu tidak pernah
hilang dari ingatan dan pikiran mereka, terutama bagi para sanak-saudara
lainnya yang masih ada ikatan darah dengan para keluarga.
8. Keberadaan para Sultan yang berada di Kesultanan Asahan pada tahun
1946 yang diruntuhkan oleh dari gerakan atau laskar rakyat, dari para
keluarga Sultan sangat mengkutuk perbuatan atau perilaku dari gerakan
atau laskar tersebut. Akan tetapi peristiwa tersebut adalah masa lalu yang
sudah terjadi dan tidak ada gunanya balas dendam pada orang-orang yang
telah membunuh, menjarah, merampas harta benda milik keluarga para
Sultan Kesultanan Asahan
9. Kegiatan para keturunan Sultan setelah terjadinya revolusi sosial sebagian
mereka agak sulit memasuki dunia politik. Karena masyarakat biasa
mengganggap keturunan Sultan adalah kaum feodal atau kaki tangan
Belanda. Tetapi ada juga yang bisa memasuki dalam bidang politik pada
saat ini seperti Tengku Syahdan yang bekerja dalam pegawai Satpol PP,
Tengku Erri Nuradi yang bekerja sebagai Gubernur Sumatera Utara, dan
Tengku Abraham sebagai ketua Adat Kesultanan Asahan yang bekerja
juga sebagai Dokter di Rumah Sakit Pringadi serta banyak lagi sanak
saudara mereka yang bekerja dalam dunia politik.
10.Sedangkan kegiatan para korban dalam bidang sosial, mereka agak sulit
berinteraksi dengan masyarakat karena sebagian keturunan korban masih
78
5.2. Saran
Berdasarkan pengalaman saat melakukan penelitian dan analisa terhadap
hasil penelitian, peneliti mencoba memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi keturunan korban revolusi sosial di Kesultanan Asahan,
menyarankan agar tidak trauma dan sakit hati terhadap orang-orang yang
telah membunuh keluarga mereka.
2. Tidak ada lagi perbadaan antara kaum bangsawan dan rakyat
3. Pada tanggal 3 Maret seharusnya bisa memperingati hari tragedi Revolusi
Sosial di Sumatera timur khususnya di daerah Tanjungbalai
4. Memerbaiki nama baik keturunan sultan, dan jangan mengganggap para
keturunan sultan tersebut sebagai kaki tangan Belanda
5. Kepada pemerintah kota Tanjungbalai supaya bisa memperbaiki dan
79
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Qasim. 1993. Kekerasan Dalam Sejarah: Masyarakat dan Pemerintahan. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia: Kuala Lumpur
Azhari, Ichwan.dkk.2009. Jejak Sejarah dan Kebudayaan Melayu di Sumatera
Utara. Medan : Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi
Sumatera Utara
Bustamam, Ferry.2003. Bunga Rampai Kesultanan Asahan.Medan
Dahlan,Ahmad.2014. Sejarah Melayu. PT. Gramedia : Jakarta
Fa’al, M. 2005. Negara dan Revolusi Sosial: Pokok-Pokok Pikiran Tan Malaka:
Reisit Book.
Hamka. 1984. ”Islam Revolusi Ideologi Dan keadilan Sosial. PT.Pustaka Panji
Mas; Jakarta.
Harahap, Hanif. 2013. Revolusi Sosial di Simalungun 1946. Thesis: Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang. Sumatera Barat.
Kartodirdjo, Sartono. 1981. Elit Dalam Presfektif Sejarah. LP3ES; Jakarta.
Kuntowijoyo, 2003, Metodologi Sejarah. PT. Tiara Wacana: Yogyakarta
Noor, Amiruddin. 2009. Putri Melayu : Kisah Cinta dan Perjuangan Seorang Gadis
Melayu di Tengah Kecambuk Pembantaian. Bentang. Yogyakarta
Pasaribu, Dolly.2010. Peran Organisasi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) dalam Revolusi Sosial di Sumatera Timur Tahun 1946. Skripsi : Universitas Negeri Medan
80
Rizaldin, Iqbal. 2013. Pao An Tui di Dua Kota dalam Kancah Revolusi
Indonesia” Jurnal Histma (Vol. 3): Yogyakarta
Reid, Anthony. 1981. “ Revolusi Sosial : Revolusi Nasional”. Prisma,(8:33-40)
____________. 2011. Menuju Sejarah Sumatera : Antara Indonesia dan Dunia. Yayasan Obor Indonesia dan KITLV: Jakarta.
_____________. 2012. Sumatera: Revolusi dan Elite Tradisional. Komunitas Bambu: Jakarta.
_____________. 1987. Perjuangan Rakyat : Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.
Sinar, Lukman. 2006. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera
Timur. Medan : Yayasan Kesultanan Serdang
Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak
Soedjatmoko. 1991. ”Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi”.Majalah Masyarakat
Sejarawan Indonesia (Edisi I).
Sztompka, Piotr. 2008. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta : Prenada
Wariastuti, Dini.2012. Kehidupan Bangsawan Kesultanan Serdang Setelah
Tahun 1946 Skripsi: Universitas Negeri Medan
Ra’jat. 1946, 19 Maret. Repoloesi Sosial Soedah Mendjalar Ke Seloeroeh
Soematera Timoer. hlm.1
Merdeka. 1946. 15 Maret. Revoloesi Sosial Di Soematera Timoer: Tidak Soedi Didjajah Lagi Oentoek Kedoea Kalinja. hlm.3
81
Waspada. 2016. 3 Maret. Melawan Lupa Tragedi Maret 1946. Medan
Waspada. 2016. 8 Maret. Kuhadapi Ajal Dengan Sepenuh Jiwa. Medan
http://medan.tribunnews.com/2016/02/24/generasi-melayu-minta-pemerintah-akui-tragedi-revolusi-sosial-46?page=3 diakses tanggal 22 Juni 2016