Peranan Dan Pemberdayaan Komite Sekolah Dalam Penyelenggaraan Pendidikan SMA Negeri Di Kota Binjai

126 

Teks penuh

(1)

PERANAN DAN PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH

DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

SMA NEGERI DI KOTA BINJAI

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan

Pembangunan Wilayah dan Perdesaan pada Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

ARMANSYAH

077003032/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2009

(2)

Judul Tesis : PERANAN DAN PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SMA NEGERI DI KOTA BINJAI

Nama Mahasiswa : Armansyah Nomor Pokok : 077003032

Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. lic. rer. reg. Sirojuzilam, S.E) Ketua

(Prof. Aldwin Surya, S.E., M.Pd., Ph.D) (Kasyful Mahalli, S.E., M.Si)

Anggota Anggota

Ketua Program Studi, Direktur,

(Prof. Bachtiar Hassan Miraza) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B.M.Sc)

(3)

PERANAN DAN PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH

DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

SMA NEGERI DI KOTA BINJAI

TESIS

Oleh

ARMANSYAH

077003032/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 30 September 2009

_________________________________________________________________

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. lic. rer. reg. Sirojuzilam, S.E

Anggota : 1. Prof. Aldwin Surya, S.E., M. Pd., Ph.D 2. Kasyful Mahalli, S.E, M.Si

(5)

A B S T R A K

ARMANSYAH, Peranan dan Pemberdayaan Komite Sekolah dalam Penyelenggaraan Pendidikan SMA Negeri di Kota Binjai, Tesis, 2009

Pembentukan Komite Sekolah pada setiap satuan pendidikan merupakan pelaksanaan dari desentralisasi pendidikan yang menjadikan pelaksanaan pendidikan bukan hanya tugas pemerintah, sekolah, tetapi perlu melibatkan peranserta masyarakat lingkungan sekolvah maupun stake holder serta dunia usaha/dunia industri. Dasar pembentukan Komite Sekolah adalah Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, kemudian dipertegas lagi dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 56, masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi

program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sebenarnya

peran yang dilakukan oleh Komite Sekolah dalam membuat perencanaan pendidikan pada SMA Negeri di Kota Binjai setelah terbentuknya Komite Sekolah. Metodologi dalam penulisan tesis ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis domain, pengumpulan data menggunakan teknik observasi, kuesioner, dokumentasi dan wawancara.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan Komite Sekolah pada SMA Negeri di Kota Binjai pada prinsipnya melaksanakan perannya sebagaimana yang diharapkan, dalam hal dukungan dana Komite Sekolah belum berhasil berhasil mendapatkan dana dari masyarakat sekitar seperti dari dunia usaha/dunia industri maupun dari masyarakat yang peduli pendidikan, dan masih hanya dari bantuan orang tua siswa melalui iuran komite sekolah. Kemudian dalam pelaksanaan perannya hanya pemberi pertimbangan dan pengawasan yang lebih utama sedang peran lainnya sebagai pendukung dan mediator belum sepenuhnya terlaksana. Namun dalam hal pemberdayaan yang dilakukan terhadap Komite Sekolah belum sepenuhnya terlaksana, hal ini karena pemberdayaan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kota Binjai, Dewan Pendidikan Kota Binjai maupun yang dilaksanakan oleh pihak sekolah masih sebatas pemahaman tentang komite sekolah.

(6)

ABSTRACT

ARMANSYAH, The Role and of Empowerment Committee in the Organization of School of Education high Schools in Binjai, a Thesis, 2009

Establishment of School Committee in any education unit is the implementation of education decentralization that makes the implementation of education not only as a duty, the school but also required to involve active participation of the community around the school or stakeholders and even business/industrial worldwide. The foundation of establishing the school committee is the Ministerial Decree of National Education No. 044/U/2002 regarding the education board and school committee and the confirmed by the Laws No. 20 of 2003 regarding the National Education System in the article 56, the community plays a role in improving the education service quality involving plan, control and evaluation of the education program trough the education Board and school committee/madrasah.

The purpose of this study was to find out how exactly the role performed by the School Committee in educational planning in high schoosl in State of Binjai after the formation of the School Committee. Methodology in the writing of this thesis uses a qualitativedescriptive approach to domain analysis, data collection using observational techniques, questionnaire, documentation and interview.

The result indicate that the presence of the School Committee at haigh school in the State of Binjai principle carry out its role as expected, in terms of funding support for the School Committee has not managed to successfully obtain funding from local people such as from the business/industrial world or the community who care education, and still only from the parents help students through the school committee fee. Then his role in the implementation considerations and the only giver greater supervision are other roles as advocates and mediator has not been fully implemented. But in terms of empowerment of school committees do not yet fully implemented, this is because empowermwnt is implemented by the Department of Education the State of Binjai, Binjai City Board of Education and administered by the schools is still limited understanding of the school committee.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Kuasa yang telah memberikan rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Tesis ini merupakan

syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains dalam Program Perencanaan

Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (Konsentrasi Perencanaan Pendidikan) pada

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Tesis ini masih banyak terdapat

kekurangan dan kelemahan, hal ini disebabkan oleh kemampuan dan pengetahuan

penulis yang masih terbatas. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis

menerima kritikan dan saran dari berbagai pihak guna kesempurnaan tulisan ini.

Dalam hal ini penulis sudah banyak menerima bantuan, bimbingan dan motivasi

dari berbagai pihak dalam menyelesaikan tulisan ini. Oleh karena itu dengan hati

yang tulus penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan

setinggi-tingginya kepada :

1. Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberikan dukungan pembiayaan

melalui Program Beasiswa Unggulan hingga penyelesaian tugas akhir Tesis

berdasarkan DIPA Sekretaris Jenderal DEPDIKNAS Tahun Anggaran 2007

(8)

2. Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM & H,Sp. A(k) selaku Rektor USU yang telah

memberikan kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk

dapat mengikuti dan menyelesaikan perkuliahan pada Program Magister

Perencanaan Pembangunan dan Wilayah Perdesaan di Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, MSc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara atas kesempatan menjadi mahasiswa Program

Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan pada Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

4. Prof. Bachtiar Hassan Miraza, selaku Ketua Program Perencanaan

Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Universitas

Sumatera Utara.

5. Prof. Dr. lic. rer. reg. Sirojuzilam, S. E., selaku Ketua Pembimbing yang

penuh perhatian telah memberikan dorongan, bimbingan dan saran serta

meluangkan waktu kepada penulis untuk memberikan masukan sampai

selesainya penulisan tesis ini.

6. Prof. Aldwin Surya, S.E., M.Pd. Ph.D, selaku Anggota Pembimbing yang

telah banyak memberikan bimbingan, masukan dan saran sampai selesainya

(9)

7. Kasyful Mahalli, S.E., M.Si., selaku Anggota Pembimbing dan Sekretaris

Program Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan, yang telah

memberikan masukan dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan Tesis

ini.

8. Drs. Rujiman, M A, selaku Penguji Tesis yang telah meluangkan waktu dan

memberikan bantuan, saran dalam penyelesaian tesis ini.

9. Agus Suriadi, S.E.,M.Si., selaku Penguji Tesis yang telah meluangkan

waktunya untuk mengoreksi dan memberikan masukan/saran sehingga tesis

ini dapat diselesikan dengan baik.

10.Burhanuddin Lubis (Alm) dan Sauyah Parinduri (Alm), ayah dan Ibu yang

telah memberikan motivasi semasa hidupnya untuk melanjutkan pendidikan

ke jenjang yang lebih tinggi, doa dan nasihat almarhum telah menjadi

motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

11.Fifi Handayani, A.Md., istri tercinta yang selalu memberikan dorongan dan

semangat serta anak-anak tercinta Burhanudin Raihan, Afzal Burhan, dan

Faiz Akbar Burhan, yang selalu menghibur dan pemberi semangat bagi

penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

12.Kepada teman-teman mahasiswa Program Perencanaan Pembangunan

(10)

Pendidikan kuhususnya yang tetap setia memberikan dorongan dan saran

dalam penulisan tesis ini.

Medan, September 2009 Penulis

Armansyah

RIWAYAT HIDUP

1. Nama : Armansyah

2. Tempat/Tanggal Lahir : Tapanuli Selatan ( Sekarang Mandailing

Natal) 12 Oktober 1967

3. Jenis Kelamin : Laki-laki

4. Agama : Islam

5. Status : Kawin

6. Nama Ayah : Burhanuddin Lubis (Alm.)

7. Nama Ibu : Sauyah Parinduri (Alm.)

8. Nama Istri : Fifi Handayani, A.Md

9. Nama Anak : 1. Burhanudin Raihan Lubis

2. Afzal Burhan Lubis 3. Faiz Akbar Burhan Lubis

(11)

11.Alamat : Jl. Cendana No. 62 Binjai

12.Telp./HP : 08126300255

13.Pendidikan :

Tahun 2007 – 2009 : S-2 Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD) USU Medan

Tahun 1986 - 1991 : S-1 Administrasi Negara Fisipol UISU Medan

Tahun 1983 - 1986 : SMA Negeri Kotanopan

Tahun 1980 - 1983 : SMP Negeri 1 Kotanopan

Tahun 1974 - 1980 : SD Negeri No. 142661 Muaratagor.

14.Pengalaman Kerja :

Tahun 1992 : CPNS pada Departemen Penerangan Kabupaten Tapanuli Utara

Tahun 1994-1996 : Juru Penerang Kec.Pahae Jae Kabupaten

Tapanuli Utara

Tahun 1996-1998 : Kepala Sub Seksi Ceramah dan Diskusi pada Kantor Departemen Penerangan

Kota Binjai

Tahun 1998-1999 : Kepala sub. Seksi Pertunjukan Rakyat pada Kantor Departemen Penerangan Kota Binjai

Tahun 1999-2000 : Staf pada Kantor Peternakan Kota Binjai

(12)

Tahun 2004-2006 : Kepala Seksi Dokumentasi dan Publikasi pada Kantor Informasi dan Komunikasi Kota Binjai

Tahun 2006- sekarang : Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga pada Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Binjai

Pengalaman Organisasi :

Tahun 1992-1994 : Sekretaris Remaja Mesjid Kec. Tarutung

Kabupaten Tapanuli Utara

Tahun 1994-1996 : Sekretaris Remaja Mesjid Kec.Pahae Jae

Kabupaten Tapanuli Utara

Tahun 2005-Sekarang : Sekretaris III Dewan Kesenian Binjai

Tahun 2009-2012 : Sekretaris Umum Himpunan Keluarga Besar Mandailing (HIKMA) Kota Binjai

Tahun 2009-2012 : Sekretaris I Forum Aspiratif Masyarakat

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK . ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

(14)

BAB I PENDAHULUAN ...

1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan ... 10

1.4 Manfaat ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 2.1 Konsep Pemberdayaan ... 12

2.2 Hubungan Sekolah dengan Masyarakat ... 12

2.3 Komite Sekolah ... 18

2.4 Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ... 26

2.5.Pengembangan Wilayah ... 28

2.6 Penelitian Sebelumnya ... 29

2.7 Kerangka Pemikiran ... 31

BAB III METODELOGI PENELITIAN ... 33

3.1 Tempat dan Waktu ... 34

3.2 Populasi, Sampel dan Informan... 35

3.3 Sumber dan Jenis Data ... ... 37

3.4 Teknik Pengumpulan Data .. ... 37

(15)

3.6 Defenisi Operasional ... 44

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 45

4.1 Gambaran Umum Komite Sekolah SMA Negeri di Kota Binjai ... 45

4.1.1 SMA Negeri 2 Binjai ... 46

4.1.2 SMA Negeri 3 Binjai ... 47

4.1.3 SMA Negeri 4 Binjai ... 49

4.1.4 SMA Negeri 5 Binjai ... 50

4.1.5 SMA Negeri 6 Binjai... 51

4.1.6 SMA Negeri 7 Binjai ... 52

4.2 Pemberdayaan Komite Sekolah dalam Penyelenggaraan dan Perencanaan Pendidikan di Kota Binjai ... 53

4.2.1 Peran Komite Sekolah sebagai Pemberi Pertimbangan (Advisory Agency) ... 58

4.2.2 Peran Komite Sekolah sebagai Pendukung (Supporting Agency) ... 62

4.2.3 Peran Komite Sekolah sebagai Pengontrol (Controling Agency) ... 65

4.2.4 Peran Komite Sekolah sebagai Penghubung (Mediator Agency) ... 68

4.3 Pendidikan dalam Pengembangan Wilayah ... 75

(16)

5.1 Kesimpulan ... 82

5.2 Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 84

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

3.1 Banyaknya Sekolah, Lokal, Guru dan Murid SMA

Negeri di Kota Binjai Tahun 2007 ... 34

3.2 Rincian Jumlah Populasi dan Sampel ... 35

3.3 Analisis Kualitatif Model Spradley tentang Peranan Komite Sekolah dalam Penyelenggaraan Pendidikan

SMA Negeri Kota Binjai ... 41

4.1 Hasil Penelitian peran Pemberdayaan Komite Sekolah Dalam Penyelenggaraan Pendidikan SMA Negeri

(17)

4.2 Analisis Domain Pemberdayaan Komite Sekolah pada

SMA Negeri Kota Binjai ... 78

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual Pemberdayaan Komite Sekolah pada Jenjang Pendidikan Menengah

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Kuesioner tentang Peranan Komite Sekolah ………… 86

2. Jawaban Kuesioner tentang PerananKomite Sekolah ... 93

3. Surat Permohonan Fasilitas Penelitian ……….. 107

4. Surat Izin Penelitian ……….. 108

5. Surat Keterangan Penelitian pada SMA Negeri 2 Binjai .. 109

6. Surat Keterangan Penelitian pada SMA Negeri 3 Binjai .. 110

7. Surat Keterangan Penelitian pada SMA Negeri 4 Binjai .. 111

8. Surat Keterangan Penelitian pada SMA Negeri 5 Binjai .. 112

9. Surat Keterangan Penelitian pada SMA Negeri 6 Binjai .. 113

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan

pemerintah. Dapat dikatakan pada saat ini tanggung jawab masing-masing belum

optimal, terutama peran serta masyarakat yang masih dirasakan belum banyak

diberdayakan. Oleh karena itu, secara hakiki, pembangunan pendidikan merupakan

bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya pembangunan manusia. Upaya-upaya

pembangunan di bidang pendidikan, pada dasarnya diarahkan untuk mewujudkan

kesejahteraan manusia itu sendiri. Karena pendidikan merupakan hak setiap warga

negara, di dalamnya terkandung makna bahwa pemberian layanan pendidikan

kepada individu, masyarakat, dan warga negara adalah tanggung jawab bersama

antara pemerintah, masyarakat dan keluarga.

Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

disebutkan salah satu misinya adalah memberdayakan peranserta masyarakat dalam

penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi daerah dalam konteks

Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian masyarakat berperan dalam

peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan

dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite

sekolah/madrasah. Pembinaan pendidikan dasar dan menengah adalah mewujudkan

(20)

Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten/kota serta pemberdayaan atau pembentukan

Komite Sekolah di tingkat sekolah.

Konsep desentralisasi dalam pendidikan muncul sejalan dengan

perkembangan pola pikir masyarakat sebagai salah satu dampak pembangunan

pendidikan. Pemikiran pemberian otonomi yang lebih luas kepada daerah melahirkan

konsep gagasan untuk mengembangkan sistem desentralisasi dalam pengelolaan

pendidikan nasional.

Simon dalam Komariah dan Triatna (2004 :70) mendefenisikan desentralisasi

sebagai suatu organisasi administratif adalah sentralisasi yang luas apabila keputusan

yang dibuat pada level organisasi yang tinggi, desentralisasi yang luas apabila

keputusan didelegasikan dari top management kepada level yang rendah dari

wewenang eksekutif. Berdasarkan pengertian tersebut, desentralisasi merupakan

wujud kepercayaan pusat kepada daerah untuk melaksanakan pembangunannya

berdasarkan prakarsa sendiri. Implikasinya adalah daerah harus bertanggung jawab

secara profesional untuk menampilkan kinerja terbaiknya.

Penyelenggaraan otonomi daerah harus diartikan sebagai upaya

pemberdayaan daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

dalam segala bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Untuk meningkatkan

peran serta masyarakat dalam bidang pendidikan, diperlukan wadah yang dapat

mengakomodasi pandangan, aspirasi, dan menggali potensi masyarakat untuk

(21)

adalah Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota dan Komite Sekolah di tingkat

satuan pendidikan.

Upaya pemerintah untuk peningkatan mutu, pemerataan, efisiensi

penyelenggaraan pendidikan nasional perlu dukungan dari semua stakeholder,

mengingat masalah pendidikan sudah menjadi tanggung jawab kita bersama. Bukti

konkrit keseriusan dan kesungguhan pemerintah untuk meningkatkan kualitas

pendidikan adalah diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional, karena Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang

Sistem Pendidikan Nasional dianggap tidak memadai lagi dan perlu disempurnakan

agar sesuai dengan amanat perubahan Undang-undang Dasar 1945.

Penyempurnaan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan

mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta

relevansi dan efisiensi managemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai

dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global. Selain itu

pemerintah juga mengganti Keputuasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Nomor 0293/U/1993 tentang Pembentukan Badan Pembantu dan Penyelenggaraan

Pendidikan (BP3) dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI. Nomor

044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

Komite Sekolah merupakan penyempurnaan dan perluasan badan kemitraan

dan komunikasi antara sekolah dengan masyarakat. Sampai tahun 1994 mitra sekolah

hanya terbatas dengan orang tua peserta didik dalam wadah yang disebut dengan

(22)

tahun 2002 dengan perluasan peran menjadi Badan Pembantu Penyelenggaraan

Pendidikan (BP3) yang personilnya terdiri atas orang tua dan masyarakat di sekitar

sekolah. Pada pertengahan tahun 2002 wadah BP3 bertambah peran dan fungsinya

sekaligus perluasan personilnya yang terdiri atas orang tua dan masyarakat luas yang

peduli terhadap pendidikan yang tidak hanya di sekitar sekolah dengan nama Komite

Sekolah. Perbedaan yang prinsip antara BP3 dengan Komite Sekolah adalah dalam

peran dan fungsinya, keanggotaan serta dalam pemilihan dan pembentukan

pengurus.

Komite Sekolah dibentuk sebagai bagian dari penerapan Manajemen

Berbasis Sekolah (MBS), dan mempunyai kewenangan untuk mengelola dirinya

sendiri. Pengelolaan sekolah ini dijalankan dengan asas partisipasi, transparansi dan

akuntabilitas, artinya dalam pengelolaan sekolah dewan pendidikan khususnya

kepala sekolah bekerja sama dengan masyarakat sekolah. Oleh sebab itu, diperlukan

wadah yang bisa dipakai oleh masyarakat sekolah untuk mengemban amanat

tersebut. Wadah tersebut adalah Komite Sekolah.

Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan amanat rakyat yang telah

tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Amanat rakyat ini selaras dengan kebijakan otonomi daerah, yang telah

memposisikan kabupaten/kota sebagai pemegang kewenangan dan tanggung jawab

dalam penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan pendidikan di daerah tidak hanya

diserahkan kepada kabupaten/kota, melainkan juga dalam beberapa hal telah

(23)

sekolah. Dengan kata lain, keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan tidak

hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah

propinsi, kabupaten/kota, dan pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat atau

stakeholder pendidikan. Hal ini sesuai dengan konsep partisipasi berbasis

masyarakat (community-based participation) dan manajemen berbasis sekolah

(school-based management), yang kini tidak hanya menjadi wacana, tetapi telah

mulai dilaksanakan di Indonesia.

Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisitem Pendidikan Nasional

pada pasal 54 disebutkan bahwa :

1. Peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran perorangan,

kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi

kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu

pelayanan pendidikan.

2. Masyarakat dapat berperanserta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna

hasil pendidikan.

Secara lebih spesifik dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pada

pasal 56 menyebutkan bahwa di masyarakat ada Dewan Pendidikan dan Komite

Sekolah / Madrasah yang berperan sebagai berikut :

1. Masyarakat berperan dalam peningkatan perannya yang meliputi

perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan

(24)

2. Dewan pendidikan sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam

peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan,

arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana serta pengawasan

pendidikan di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/kota yang tidak

mempunyai hubungan hirarkis.

3. Komite Sekolah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam

peningkatan mutu pelayanan dan memberikan pertimbangan, arahan dan

dukungan tenaga, sarana dan prasarana serta pengawasan pendidikan pada

tingkat satuan pendidikan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan pendidikan,

sekolah perlu memberdayakan masyarakat dengan mengajak bekerjasama

(togetherness) stakeholder dan memanfaatkan potensi yang ada, sehingga semua

potensi itu dikembangkan secara maksimal sesuai dengan kapabilitas

masing-masing. Kebersamaan merupakan potensi yang sangat vital untuk membangun

masyarakat untuk menciptakan demokrasi pendidikan.

Di samping itu sekolah bertanggung jawab terhadap proses pengelolaan

sehingga memberikan keputusan dan memiliki kebenaran untuk dikoreksi oleh

stakeholder. Dengan kata lain, sekolah bersedia memberikan kepuasan publik dan

menerima kritik untuk perbaikan terhadap penyelenggaraan pendidikan sekolah.

Selanjutnya Jalal dan Supriadi (2001:199) berpendapat bahwa sumbangan

masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan diharapkan tidak hanya berbentuk

(25)

otonomi daerah, sekolah lebih bergerak secara mandiri dalam meningkatkan kinerja

manajemen penyelenggaraan pendidikan.

Namun dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya dalam proses belajar

mengajar komite sekolah belum berperan aktif dalam peningkatan mutu. Komite

sekolah hanya pada saat adanya bantuan-bantuan pendidikan yang diberikan, komite

sekolah lebih berperan sebagai input (dana) dibandingkan berperan dalam proses

sehingga seringkali komite sekolah sebagai formalitas suatu satuan pendidikan.

Kondisi riil komite sekolah sebagai lembaga otonom menunjukkan indikasi

kurang berfungsi sesuai dengan perannya yang telah ditentukan dan hanya berfungsi

saat adanya bantuan dari pemerintah dan input (dana), juga adanya indikasi komite

sekolah kurang berpartisipasi dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

Pelaksanaan tranformasi konsep komite sekolah memerlukan proses bertahap

dari waktu ke waktu, mulai pada tingkat menyadarkan perlunya fungsi komite

sekolah baik kepada masyarakat maupun penyelenggara pendidikan sebagai peluang

partisipasi masyarakat di bidang pendidikan. Tingkat berikutnya menyebarluaskan

konsep pelibatan publik dalam komite sekolah kepada masyarakat dan

penyelenggara pendidikan. Berikutnya adalah penyelenggara pendidikan melakukan

konsultasi ke masyarakat untuk mendapat masukan dalam proses menetapkan

kebijakannya, kerjasama segenap potensi yang ada di masyarakat secara sinergis

dalam bentuk saran dengan penyelenggaraan pendidikan memutuskan kebijakan.

(26)

sebagai wadah pemecahan masalah bersama yang dihadapi dalam penyelenggaraan

pendidikan.

Pada tingkat tertinggi ini masyarakat ikut memutuskan dan memecahkan

masalah tanpa ada peran oposisi. Pada kondisi ini perlunya kematangan internal

penyelenggara pendidikan, perubahan tatanan dalam pola berpikirnya,

mengedepankan demokrasi, keterbukaan, dan akuntabilitas, disamping prinsif

lainnya yang harus dilaksanakan secara komprehensif.

Masalah lain adalah susunan pengurus komite sekolah akan senantiasa

berubah pada tiap beberapa tahun secara priodik dan ini berdimensi jangka pendek.

Bagaimana wawasan jangka panjang suatu proses perubahan yang diperlukan dalam

penyelenggaraan pendidikan di tingkat lokal bisa ditransformasikan secara

berkesinambungan dan konsisten oleh pengurus komite sekolah yang akan berubah

dalam jangka pendek secara terus menerus.

Berdasarkan penelitian awal pada SMA Negeri di Kota Binjai diperoleh

informasi/data bahwa :

1. Komite Sekolah sudah terbentuk sejak tahun pelajaran 2002/2003,

kecuali di SMA Negeri 1 Binjai. Setelah terbentuknya komite sekolah

pada setiap satuan pendidikan, seharusnya pengurus dan anggota

Komite Sekolah harus menyusun Anggaran Dasar (AD)/Anggaran

Rumah Tangga (ART) untuk mengatur tata laksana pengelolaan Komite

Sekolah, termasuk di dalamnya mekanisme pembentukan Komite

(27)

pada setiap SMA Negeri di Kota Binjai belum ada Komite Sekolah

yang sudah menyusun AD/ART nya

2. Pemberdayaan yang dilakukan terhadap Komite Sekolah adalah

sosialisasi tentang peran Komite Sekolah dalam penyelenggaraan

pendidikan SMA Negeri di Kota Binjai.

3. Komite Sekolah pada prinsipnya masih sebatas melaksanakan rapat

maupun pertemuan kepala sekolah, komite sekolah, tokoh masyarakat

dan guru tentang perencanaan dalam rangka pembuatan Rencana

Program Sekolah (RPS) dan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja

Sekolah (RAPBS).

4. Adanya pendapat dari beberapa orang tua sisiwa/masyarakat yang

beranggapan bahwa fungsi Komite Sekolah ini tidak jauh beda dengan

apa yang dilakukan oleh BP3 yang tidak berhasil memobilisasi

partisiapasi dan tanggung jawab masyarakat.

Bertitik tolak dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang

peranan pemberdayaan komite sekolah pada satuan pendidikan SMA Negeri di Kota

Binjai.

1.2 Perumusan Masalah

Fokus masalah yang telah dirumuskan menjadi pertanyaan penelitian adalah

Bagaimana peranan dan pemberdayaan Komite Sekolah dalam

(28)

1.3 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang konkrit

tentang peranan dan pemberdayaan Komite Sekolah dalam penyelenggaraan

pendidikan pada SMA Negeri di Kota Binjai.

Secara rinci dirumuskan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pemberdayaan, penyelenggaraan perencanaan

pendidikan /pengembangan wilayah di Kota Binjai.

2. Untuk mengetahui peran Komite Sekolah dalam peningkatan pelayanan

pendidikan pada satuan pendidikan SMA Negeri di Kota Binjai, sebagai

badan pertimbangan, badan penghubung, badan pengontrol dan sebagai

mediator.

1.4 Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat secara teoretis dan praktis.

1.4.1 Manfaat teoretis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut dalam

rangka perencanaan pendidikan dan pengembangan implementasi Manajemen

Berbasis Sekolah (MBS) di samping itu akan memberikan kontribusi terhadap

perkembangan penyelenggaraan pendidikan / perencanaan pendidikan dan

berperannya pemberdayaan Komite Sekolah khususnya pada SMA Negeri di Kota

(29)

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat praktis

sebagai berikut :

1. Sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk membuat suatu perencanaan

pendidikan dalam membenahi kualitas pemberdayaan pendidikan melalui

peningkatan peran komite sekolah.

2. Sebagai bahan masukan bagi perencanaan wilayah program perencanaan

pendidikan dalam meningkatkan kualitas kinerja penyelenggaraan pendidikan

pada satuan pendidikan.

3. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lainnya yang berminat melakukan

kajian tentang perencanaan pendidikan melalui peranan dan pemberdayaan

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pemberdayaan

Pemberdayaan berasal dari kata empowerment yang bermakna pemberian

kekuasaan. Konsep pemberdayaan merupakan ide yang menempatkan manusia lebih sebagai subyek dari dunianya sendiri. Pemberdayaan mempunyai makna harfiah

membuat (seseorang) berdaya. Istilah lain untuk pemberdayaan adalah penguatan

(empowerment).

Wrihatnolo dan Dwidowijoto (2007:2) dalam Manajemen Pemberdayaan

menyatakan bahwa pemberdayaan adalah sebuah proses yang mempunyai tiga

tahapan : yaitu penyadaran, pengkapasitasan dan pendayaan. Penyadaran dimana

pada tahap ini target yang hendak diberdayakan diberi pencerahan dalam bentuk

pemberian penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai sesuatu.

Prinsip dasarnya adalah membuat target bahwa mereka perlu membangun ”demand”

diberdayakan dan proses pemberdayaan itu dimulai dari dalam diri mereka bukan

dari orang luar.

Kemudian pengkapasitasan yang sering disebut ”capacity building” atau

dalam bahasa sederhana memampukan, untuk diberikan daya atau kuasa, yang

(31)

Selanjutnya yang ketiga adalah pemberian daya atau empowerment, dimana

pada tahap ini diberikan daya, kekuasaaan, otoritas atau peluang.

Rappaport dalam Wrihatnolo dan Dwidjowijoto (2007:177) menyatakan

bahwa pemberdayaan diartikan sebagai suatu proses, suatu mekanisme; dalam hal

ini, individu, organisasi dan masyarakat menjadi ahli akan masalah yang mereka

hadapi.

Sedangkan menurut Perkins dan Zimmermen, dalam Wrihatnolo dan

Dwijowijoto (2007:179) pada tingkat masyarakat pemberdayaan berarti tindakan

kolektif untuk meningkatkan kualitas hidup suatu masyarakat dan hubungan antara

organisasi masyarakat.

Selanjutnya Kristiadi (2007:117) melihat bahwa ujung dari pemberdayaan

masyarakat harus membuat masyarakat menjadi swadiri, mampu mengurusi dirinya

sendiri, swadana, mampu membiayai keperluan sendiri, swasembada, mampu

memenuhi kebutuhannya sendiri secara berkelanjutan.

Cook dan Macaulay yang dikutip Mulyasa (2006:32) dalam Manajemen

berbasis sekolah mendefenisikan pemberdayaan sebagai alat penting untuk

memperbaiki kinerja organisasi melalui penyebaran pembuatan keputusan dan

tanggung jawab.

Jadi pemberdayaan dapat disimpulkan adalah upaya menggalang potensi

yang ada di masyarakat secara praktis dan produktif untuk mencapai tujuan dengan

pemberian daya dan kekuatan untuk mampu melaksanakan ataupun target yang ingin

(32)

Pemberdayaan pada intinya adalah pemanusiaan dalam arti mendorong orang

untuk menampilkan dan merasakan hak-hak asasinya. Dalam pemberdayaan

terkandung unsur pengakuan dan penguatan posisi seseorang melalui penegasan

terhadap hak dan kewajiban yang dimiliki dalam seluruh tatanan kehidupan. Dalam

proses pemberdayaan diusahakan agar orang berani menyuarakan dan

memperjuangkan ketidak seimbangan antara hak dan kewajiban. Pemberdayaan

mengutamakan usaha sendiri dari orang yang diberdayakan untuk meraih

keberdayaannya. Oleh karena itu pemberdayaan sangat jauh dari konotasi

ketergantungan.

Mulyasa (2006 :32) menyatakan dalam dunia pendidikan pemberdayaan

merupakan cara yang praktis dan produktif untuk mendapatkan hasil yang terbaik

dari kepala sekolah, para guru dan para pegawai. Pemberdayaan dimaksud untuk

memperbaiki kinerja sekolah agar dapat mencapai tujuan secara optimal, efektif dan

efisien. Pada sisi lain untuk memberdayakan sekolah harus pula ditempuh

upaya-upaya memberdayakan peserta didik dan masyarakat setempat.

Pada dasarnya pemberdayaan terjadi melalui beberapa tahap, antara lain :

masyarakat mengembangkan sebuah kesadaran awal bahwa mereka dapat melakukan

tindakan untuk meningkatkan kehidupannya dan memperoleh seperangkat

keterampilan agar mampu bekerja lebih baik. Kemudian mereka akan mengalami

pengurangan perasaan ketidakmampuan dan mengalami peningkatan kepercayaan

diri. Kemudian seiring dengan tumbuhnya kepercayaan diri, masyarakat bekerjasama

(33)

yang akan berdampak pada kesejahteraan mereka.

Pemahaman tentang memberdayakan masyarakat ini adalah dengan

memberikan pendidikan praktis, latihan kepemimpinan dan akses ke sumber-sumber

daya dan dilaksanakan oleh dan dengan masyarakat.

Pentingnya ikut berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat adalah

merupakan alat untuk mengubah citra masyarakat awam terhadap pengertian salah

tentang kebijakan sekolah dan para petugas sekolah, kemudian dapat memberikan

informasi tentang program dan kebijakan sekolah serta menghilangkan atau

mengurangi kritik-kritik tajam atau negatif terhadap sekolah.

2.2. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Mulyasa (2006:50) menyatakan hubungan sekolah dengan masyarakat pada

hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan

mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Hubungan sekolah

dengan masyarakat bertujuan antara lain untuk memajukan kualitas pembelajaran

dan pertumbuhan anak, memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan

penghidupan masyarakat, menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan

dengan sekolah.

Sedangkan Suparlan dalam Pengantar Pemberdayaan Komite Sekolah

menyatakan bahwa dalam paradigma lama, hubungan keluarga, sekolah, dan

masyarakat dipandang sebagai institusi yang terpisah-pisah. Pihak keluarga dan

(34)

pendidikan di sekolah, apalagi sampai masuk ke wilayah kewenangan profesional

para guru.

Dewasa ini, paradigma lama ini dalam batas-batas tertentu telah ditinggalkan,

keluarga memiliki hak untuk mengetahui tentang apa saja yang diajarkan oleh guru

di sekolah. Orangtua siswa memiliki hak untuk mengetahui dengan metode apa

anak-anaknya diajar oleh guru-guru mereka.

Dalam paradigma transisional, hubungan keluarga dan sekolah sudah mulai

terjalin, tetapi masyarakat belum melakukan kontak dengan sekolah. Sedangkan

dalam paradigma baru hubungan keluarga, sekolah, dan masyarakat harus terjalin

secara sinergis untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan, termasuk untuk

meningkatkan mutu hasil belajar siswa di sekolah. Sekolah harus membina

hubungan dengan masyarakat, dimana dalam pembinaan pendidikan terdapat tiga

macam tanggung jawab yang dilakukan oleh orang tua, sekolah dan masyarakat.

Ketiga komponen ini secara tidak langsung telah melaksanakan kerjasama yang erat

dalam pelaksanaan pendidikan.

Menurut Ihsan (2003:90) bahwa orang tua anak meletakkan dasar-dasar

pendidikan di dalam rumah tangga terutama dalam segi pembentukan kepribadian,

nilai-nilai luhur moral dan agama sejak kelahirannya. Kemudian dilanjutkan dan

dikembangkan dengan berbagai materi pendidikan berupa ilmu dan keterampilan

yang dilakukan oleh sekolah. Orang tua siswa menilai dan mengawasi hasil didikan

sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian pendidikan di lingkungan

(35)

meningkatkannya, karena masyarakat adalah lingkungan pemakai atau the user dari

produk pendidikan yang diberikan oleh rumah tangga dan sekolah.

Proses pendidikan yang dilakukan oleh ketiga lingkungan ini dapat di

katakan bahwa secara mental dan spritual dasar-dasar pendidikan diletakkan oleh

rumah tangga dan secara akademik konseptual dikembangkan oleh sekolah sehingga

perkembangan diri anak mulai terarah.

Kemudian perlunya hubungan yang harmonis antara sekolah dengan

masyarakat yang diwadahi dalam organisasi komite sekolah, sangat diharapkan

mampu mengoptimalkan peranserta orang tua dan masyarakat dalam memajukan

program pendidikan dalam bentuk seperti ; orang tua dan masyarakat membantu

menyediadakan fasilitas pendidikan, memberikan bantuan dana serta pemikiran atau

sumbang saran yang diperlukan untuk kemajuan sekolah.

Kemudian orang tua memberikan informasi kepada sekolah tentang potensi

yang dimiliki anaknya serta memupuk pengertian orang tua dan masyarakat tentang

program pendidikan yang sedang diperlukan oleh masyarakat. Masyarakat

berkewajiban untuk memberikan dukungan terhadap tujuan, program, kebutuhan sekolah

atau pendidikan. Sebaliknya, sekolah harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan,

harapan dan tuntutan masyarakat terhadap sekolah.

Dengan perkataan lain, antara sekolah dan masyarakat harus dibina suatu

hubungan yang harmonis, dengan hubungan yang harmonis ini diharapkan akan dapat

saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat dan lembaga-lembaga lain yang

(36)

masyarakat karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing.

Terbinanya kerjasama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak masyarakat dan

mereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan di sekolah.

Kepada masyarakat harus diberikan kesempatan untuk ikut berperanserta

memajukan sekolah serta mengikutkan orang tua dan tokoh masyarakat dalam

merencanakan dan mengawasi program sekolah. Jika hubungan sekolah dengan

masyarakat berjalan dengan baik, rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat

untuk memajukan sekolah akan semakin tinggi dan semakin baik.

2.3 Komite Sekolah

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

pasal 56 ayat 3 menyatakan bahwa : Komite Sekolah/madrasah sebagai lembaga

mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan

memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta

pengawasan pendidikan pada tingkat pendidikan.

Esensi dari partisipasi komite sekolah adalah peningkatan kualitas

pengambilan keputusan dan perencanaan sekolah yang dapat mengubah pola pikir,

keterampilan, dan distribusi kewenangan atas individual dan masyarakat yang dapat

memperluas kapasitas manusia meningkatkan taraf hidup dalam sistem manajemen

pemberdayaan sekolah.

Pemberdayaan Komite Sekolah adalah membuat orang-orang yang duduk

(37)

penyelenggaraan pendidikan. Misalnya memobilisasi dana masyarakat ataupun

dalam bentuk sumbangan lainnya seperti memberikan pertimbangan dan pemikiran.

Menurut Hasbullah (2006:95), pemberdayaan komite sekolah secara optimal,

termasuk dalam mengawasi penggunaan keuangan, transparansi alokasi dana

pendidikan lebih dapat dipertanggung jawabkan. Pengembangan pendidikan secara

lebih inovatif juga akan semakin memungkinkan, disebabkan lahirnya ide-ide

cemerlang, dan kreatif semua pihak terkait (stakeholder) pendidikan.

Konsep pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah yang

terkandung didalamnya memerlukan pemahaman berbagai pihak terkait, dimana

posisinya dan apa manfaatnya.

Posisi komite sekolah berada di tengah-tengah antara orang tua murid, murid,

guru, masyarakat setempat, dan kalangan swasta di satu pihak dengan pihak sekolah

sebagai institusi, kepala sekolah, dinas pendidikan, dan pemerintah daerah di pihak

lainnya. Komite Sekolah menjembatani kepentingan keduanya.

Penyelenggaraan Pendidikan adalah pelayanan pendidikan pada satuan

pendidikan sekolah dengan mengacu pada standar pelayanan minimal meliputi :

kurikulum, peserta didik, ketenagaan, sarana, organisasi, pembiayaan, manajemen

sekolah, dan peranserta masyarakat.

Pemberdayaan Manajemen Komite Sekolah adalah suatu pengaturan atau

pemanfaatan potensi yang ada pada badan mandiri yang mewadahi peranserta

masyarakat dalam rangka peningkatan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan

(38)

Sagala (2008:191) menyatakan peranserta masyarakat mendukung

manajemen sekolah adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, bahkan menjadi

keharusan, dimana agar peranserta masyarakat menjadi suatu sistem yang

terorganisasi.

Komite Sekolah juga merupakan wadah bagi orang tua atau masyarakat yang

peduli pendidikan untuk membantu memajukan pendidikan di sekolah seperti

membantu menyediakan fasilitas pembelajaran, meningkatkan kesejahteraan guru.

Intinya tugas Komite Sekolah dapat membantu mempercepat atau mengoptimalkan

upaya peningkatan mutu pendidikan, dan memberikan pemahaman kepada

masyarakat sekitar tentang program-program yang akan dilaksanakan oleh sekolah.

Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002, tujuan

pembentukan Komite Sekolah adalah :

a. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam

melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan

pendidikan.

b. Meningkatkan tanggung jawab dan peranserta masyarakat dalam

penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan

c. Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis

dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan

(39)

Sedangkan fungsi Komite Sekolah adalah :

a. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap

penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

b. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/dunia

usaha/dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan

pendidikan yang bermutu.

c. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai

kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.

d. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan

pendidikan mengenai :

1. kebijakan dan program pendidikan

2. rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah (RAPBS).

3. kriteria kinerja satuan pendidikan

4. kriteria tenaga pendidikan

5. kriteria fasilitas pendidikan

6. hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan

e. Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna

mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.

f. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan

pendidikan di satuan pendidikan

g. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program,

(40)

Sedangkan peranan Komite Sekolah secara kontekstual sesuai dengan

Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 adalah :

a. Pemberi Pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan

pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.

b. Badan Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial,

pemikiran , maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di

satuan pendidikan.

c. Badan Pengontrol (controling agency) dalam rangka transparansi dan

akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan

pendidikan.

d. Mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan.

Departemen Pendidikan Nasional dalam Partisipasi Masyarakat (2001:17),

menguraikan tujuh peran Komite Sekolah terhadap penyelenggaraan sekolah, yakni :

1. Membantu meningkatkan kelancaran penyelenggaraan kegiatan belajar

mengajar di sekolah baik sarana, prasarana maupun teknis pendidikan.

2. Melakukan pembinaan sikap dan prilaku siswa. Membantu usaha pemantapan

sekolah dalam mewujudkan pembinaan dan pengembangan ketaqwaan

terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pendidikan demokrasi sejak dini (kehidupan

berbangsa dan bernegara, pendidikan pendahuluan bela negara, kewarga

(41)

kewirausahaan, kesegaran jasmani dan berolah raga, daya kreasi dan cipta,

serta apresiasi seni dan budaya.

3. Mencari sumber pendanaan untuk membantu siswa yang tidak mampu.

4. Melakukan penilaian sekolah untuk pengembangan pelaksanaan kurikulum,

baik intrakulikuler maupun ekstrakulikuler dan pelaksanaan manajemen

sekolah, kepala/wakil kepala sekolah, guru, siswa dan karyawan.

5. Memberikan penghargaan atas keberhasilan manajemen sekolah

6. Melakukan pembahasan tentang usulan Rancangan Anggaran Pendapatan

Belanja Sekolah (RAPBS)

7. Meminta sekolah agar mengadakan pertemuan untuk kepentingan tertentu.

Dalam penjabaran kegiatan operasional dari tujuh peran di atas Komite

Sekolah selaku pemberi pertimbangan melaksanakan berbagai kegiatan seperti :

a. Mengadakan pendataan kondisi sosial ekonomi keluarga peserta didik

dan sumber daya pendidikan yang ada dalam masyarakat.

b. Memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah dalam penyusunan

Visi, Misi tujuan, kebijakan dan kegiatan sekolah.

c. Menganalisis hasil pendataan sebagai bahan pemberian masukan,

pertimbangan dan rekomendasi kepala sekolah.

d. Menyampaikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi secara tertulis

kepada sekolah dengan tembusan Kepala Dinas Pendidikan dan Dewan

(42)

e. Memberikan pertimbangan kepada sekolah dalam rangka pengembangan

kurikulum muatan lokal, dan meningkatkan proses pembelajaran dan

pengajaran yang menyenangkan..

f. Memverifikasi RAPBS yang diajukan oleh kepala sekolah, memberikan

pengesahan terhadap RAPBS setelah proses verifikasi dalam rapat pleno

komite sekolah.

Dalam peran pemberian dukungan Komite Sekolah melaksanakan beberapa

kegiatan seperti :

Memberikan dukungan kepada sekolah untuk secara preventif dalam

memberantas penyebarluasan narkoba di sekolah, serta pemeriksaan kesehatan

siswa.

a. Memberikan dukungan kepada sekolah dalam pelaksanaan kegiatan

ekstrakurikuler.

b. Mencari bantuan dana dari dunia industri untuk biaya pembebasan uang

sekolah bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu.

c. Melaksanakan konsep subsidi silang dalam penarikan iuran dari orang tua

siswa.

Sedangkan dalam peran sebagai pengontrol Komite Sekolah melakukan

beberapa hal seperti ;

(43)

b. Menyebarkan kuisioner untuk memberoleh masukan, saran, dan ide kreatif

dari masyarakat.

c. Menyampaikan laporan kepada sekolah secara tertulis tentang hasil

pengamatan Komite Sekolah terhadap sekolah.

Peran sebagai penghubung/mediator Komite Sekolah melaksanakan berbagai

kegiatan seperti;

a. Membantu sekolah dalam menciptakan hubungan dan kerja sama antara

sekolah dengan orang tua dan masyarakat.

b. Mengadakan rapat atau pertemuan secara rutin atau insidental dengan kepala

sekolah dan dewan guru.

c. Mengadakan kunjungan atau silaturahmi ke sekolah, atau dengan dewan guru

di sekolah.

d. Bekerja sama dengan sekolah dalam kegiatan penelusuran alumni.

e. Membina hubungan dan kerja sama yang harmonis dengan seluruh stake

holder pendidikan dengan dunia usaha/dunia industri.

f. Mengadakan penjajakan kerja sama atau MOU dengan lembaga lain untuk

memajukan sekolah.

g. Mengadakan kegiatan inovatif untuk meningkatkan kesadaran dan kemitraan

masyarakat, misalnya panggung hiburan untuk sekolah dan masyarakat.

h. Mengadakan rapat atau pertemuan secara berkala dan insidental dengan

(44)

Komite Sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya, melakukan akuntabilitas

sebagai berikut :

1. Komite Sekolah menyampaikan hasil kajian pelaksanaan program

sekolah kepada stake holder secara periodik, baik yang berupa

keberhasilan maupun kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran

program sekolah.

2. Menyampaikan laporan pertanggung jawaban bantuan masyarakat

baik berupa materi (dana, barang tak bergerak maupun bergerak),

maupun non materi (tenaga, pikiran) kepada masyarakat dan

pemerintah setempat.

2.4 Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Manajemen berbasis sekolah dapat dikatakan suatu pergeseran paradigma

dalam pengelolaan pendidikan, yang tujuannya ingin mengembalikan sekolah kepada

pemiliknya yaitu masyarakat, yang diharapkan akan merasa bertanggung jawab

kembali sepenuhnya terhadap pendidikan yang diselenggarakan pada satuan

pendidikan. Dari sisi moralnya adalah bahwa hanya sekolah dan masyarakatlah yang

paling mengetahui berbagai persoalan pendidikan yang dapat menghambat

peningkatan mutu pendidikan. Dengan demikian merekalah yang seharusnya

menjadi pelaku utama dalam membangun pendidikan yang bermutu dan relevan

(45)

Mulyasa (2006:24) mendefenisikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat

sekolah (pelibatan masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.

Otonomi diberikan agar sekolah lebih leluasa mengelola sumber daya dan sumber

dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih

tanggap terhadap kebutuhan setempat.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi, mutu dan pemerataan

pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber

daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi, sedangkan peningkatan

mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibilitas

pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala

sekolah. Sedangkan peningkatan pemerataan diperoleh melalui peningkatan

partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah berkonsentrasi pada

kelompok tertentu.

Dengan manajemen berbasis sekolah, pemecahan masalah internal sekolah

baik yang menyangkut proses pembelajaran maupun sumber daya pendukungnya

cukup dibicarakan di dalam sekolah dengan masyarakat, sehingga tidak perlu di

angkat ke tingkat pemerintah daerah. Tugas pemerintah adalah memberikan fasilitasi

dan bantuan pada saat sekolah dan masyarakat menemui jalan buntu dalam suatu

pemecahan masalah.

Mulyasa (2006:33) mengatakan pemberdayaan berhubungan dengan upaya

(46)

lingkungannya); dari konsepsi itu perlu perlu dilakukan upaya ysng mrmperhatikan

prinsip-prinsip, (a) melakukan pembangunan yang bersifat local, (b) mengutamakan

dan merupakan aksi sosial, (c) menggunakan pendekatan organisasi kemasyarakatan

setempat.

Sedangkan Hasbullah (2007:80) menyebutkan Manajemen pendidikan

berbasis sekolah pada dasarnya dimaksudkan untuk mengurangi peran pemerintah

dalam penyelenggaraan pendidikan, tetapi memberikan kesempatan kepada

masyarakat seluas-luasnya memberikan konstribusi berupa gagasan dan pelaksanaan

pendidikan di tempat mereka masing-masing.

Masyarakat dituntut partisipasinya agar lebih memahami kompleksitas

pendidikan, membantu serta turut mengontrol pengelolaan pendidikan, dan MBS

menuntut perubahan prilaku kepala sekolah, guru, dan tenaga admiistrasi menjadi

lebih professional dan manajerial dalam pengelolaan sekolah.

Dalam MBS, pemberdayaan dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja

sekolah agar dapat mencapai tujuan secara optimal, efektif dan efisien. Untuk

memberdayakan sekolah harus ditempuh upaya memberdayakan peserta didik dan

masyarakat setempat.

2.5 Pengembangan Wilayah

Alkadri, Muchdie, Suhandojo dalam Tiga Pilar Pengembangan Wilayah

(47)

dilakukan dengan meningkatkan tingkat pendidikan penduduk secara masal, atau

mengerahkan orientasi pendidikan kepada kebutuhan daerah masing-masing.

Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan bangsa dan merupakan

salah satu pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas .

Pendidikan sebagai salah satu pilar pengembangan wilayah disamping teknolongi

dan sumber daya alam. Pengembangan sumber daya manusia untuk menghasilkan

sumber daya manusia Indonesia yang unggul, inovatif dan profesional, pada Sekolah

(SMA) baik negeri / swasta dipantau oleh komite sekolah. Pendidikan merupakan

sarana dan cara utama yang paling strategis bagi perkembangan sumber daya

manusia. Melalui pendidikan dapat membekali seseorang berbagai pengetahuan,

keterampilan, nilai dan sikap yang diperlukan untuk dapat bekerja secara produktif.

Pentingnya perencanaan pendidikan adalah untuk menghasilkan kualitas

pendidikan yang merata pada setiap wilayah dan mendorong peningkatan

kesejahteraan masyarakat. Upaya peningkatan sistem pengelolaan pendidikan dalam

memantapkan desentralisasi pendidikan dilakukan melalui pemberdayaan komite

sekolah dalam hal perannya sebagai badan pertimbangan, badan pendukung, badan

pengontrol dan badan penghubung.

2.6 Penelitian Sebelumnya

Adapun penelitian yang berhubungan dengan peranan komite sekolah yang

(48)

1. Muhammad (2005) dengan judul tesisnya “ Strategi Manajemen Komite Sekolah

dalam Pemberdayaan Dana Pembelajaran di SMP Negeri 3 Sunggal Deli

Serdang.

Tesis ini menyimpulkan bahwa strategi manajemen sekolah dengan

memberdayakan komite sekolah belum dapat memenuhi Kepmen Diknas Nomor

044 Tahun 2002, dimana masih terjadi seperti sistem BP3, yaitu lebih banyak

campur tangan pihak sekolah (kepala Sekolah). Kemudian upaya-upaya yang

dilakukan oleh komite sekolah dalam menghimpun dana untuk kelancaran proses

pemblajaran hanya tertumpu pada kemampuan orang tua siswa. Faktor

penghambat pelaksanaan tugas komite sekolah disebabkan komite sekolah

kurang memahami tugas-tugas komite sekolah seperti yang ditetapkan Kepmen

Diknas Nomor 044 tahun 2002, mereka tidak membuka diri untuk menerima

masukan atau menambah pengetahuan terutama tentang arti pentingnya komite

sekolah

2. Pandiangan (2008) dengan judul tesisnya “ Peran Komite Sekolah dalam

Penyelenggaraan Pendidikan Sesuai Kepmen Diknas Nomor 044/U/2002 (Studi

Komparatif di SMK Negeri 9 Medan dan SMK Negeri 11 Medan).

Tesis ini menyimpulkan bahwa dalam melaksanakan perannya, komite sekolah

SMKN 9 Medan masih kurang terlibat secara keseluruhan guna memperlancar

pendidikan. Komite sekolah masih berpartisipasi di bidang anggaran dan

pendanaan, belum menggali potensi-potensi yang ada dengan kata lain partisipasi

(49)

11 Medan, kurangnya perhatian pemerintah dalam mengalokasilkan dan

pembinaan tamatan sekolah ini khususnya untuk pengembangan seni budaya

Indonesia dan juga dunia usaha/industri yang cukup terbatas jumlahnya.

2.7 Kerangka Pemikiran

Berubahnya paradigma pendidikan yang berbasiskan sekolah dan menjadi

tanggung jawab pemerintah daerah dan seluruh stakeholder mengharuskan

masyarakat untuk ikut ambil bagian atau berpartisipasi dalam pendidikan . Dengan

adanya wadah partisipasi masyarakat melalui lembaga otonom yakni komite sekolah

mengharuskan untuk dapat berfungsi semaksimal mungkin sesuai Keputusan

Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002. Komite sekolah diharapkan

mampu menjawab dan mencari solusi permasalahan pendidikan pada satuan

pendidikan sehingga dapat memacu peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Kerangka konseptual pemberdayaan komite sekolah pada jenjang pendidikan

menengah (SMA) Negeri di Kota Binjai dapat dilihat pada gambar 2.1 dibawah ini.

PERAN

(50)

MEDIATOR (Mediator Agency)

BADAN PENGONTROL

(Controling Agency)

BADAN PENDUKUNG (Supporting Agency) BADAN PEMBERI

PERTIMBANGAN (Advisory Agency)

PENINGKATAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

PENINGKATAN KUALITAS SUMBER

DAYA MANUSIA (SDM)

PENGEMBANGAN WILAYAH

Gambar 1 : Kerangka Konseptual Pemberdayaan Komite Sekolah pada Jenjang Pendidikan Menengah (SMA) Negeri di Kota Binjai

BAB III

(51)

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan analisis

kualitatif. Pemilihan metode ini didasarkan pada pertimbangan adalah data yang

memberikan gambaran dan melukiskan realita sosial yang lebih kompleks

sedemikian rupa menjadi gejala sosial yang konkrit.

Moleong (2006:6) mendefenisikan penelitian kualitatif adalah penelitian yang

bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian

misalnya, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan

dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus

yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Sedangkan Bogdan dan Taylor dalam Basrowi dan Suwandi (2008:21)

mendefinisikan metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan

prilaku yang dapat diamati.

Sementara itu Margono yang dikutip Zuriah (2007:21) mengemukakan

bahwa fungsi penelitian pendidikan khususnya dan sosial pada umumnya adalah

membantu manusia meningkatkan kemampuannya untuk menginterpretasikan

fenomena-fenomena masyarakat yang kompleks dan kait-mengait, demi kemajuan

dan eksistensi manusia itu sendiri.

Dalam penelitian ini peneliti berusaha memahami makna peranan dan

(52)

3.1 Tempat dan Waktu

Lokasi penelitian ini adalah Kota Binjai yang memiliki 7 SMA Negeri.

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Pebruari 2009 (penelitian awal atau pra

penelitian) sampai dengan bulan September 2009.

Rincian sebaran SMA Negeri Kota Binjai tersebut disajikan dalam tabel di

bawah ini.

Tabel 3.1 : Banyaknya Sekolah, Lokal, Guru, dan Murid SMA Negeri di Kota Binjai Tahun 2007

___________________________________________________________________

Kecamatan Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Sekolah Kelas/local Guru Murid ___________________________________________________________________

Binjai Selatan 3 57 219 2.661

Binjai Kota 1 20 71 659

Binjai Timur 1 14 66 594

Binjai Utara 1 12 36 641

Binjai Barat 1 7 28 303

Jumlah 7 110 430 4.858

Sumber : BPS Kota Binjai Tahun 2008 3.2. Populasi, Sampel dan Informan

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, sedangkan sampel adalah

(53)

pengurus Komite Sekolah SMA Negeri di Kota Binjai yang berjumlah 67 orang,

Kepala Sekolah berjumlah 6 orang, Pembantu Kepala Sekolah sebanyak 6 orang, dan

Dewan Pendidikan Kota Binjai 2 orang. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah

sebanyak 81 orang.

Secara rinci jumlah populasi dalam kajian ini dapat disajikan pada tabel 3.2

di bawah ini sebagai berikut :

Tabel 3.2 : Rincian Jumlah Populasi

___________________________________________________________________

Nama Sekolah Komite Kepala PKS 1 Dewan Total Sekolah Sekolah Pendidikan

___________________________________________________________________

SMA Negeri 2 19 1 1 21

SMA Negeri 3 11 1 1 13

SMA Negeri 4 6 1 1 2 8

SMA Negeri 5 15 1 1 17

SMA Negeri 6 11 1 1 13

SMA Negeri 7 5 1 1 7 ___________________________________________________________________

Jumlah 67 6 6 2 79+2 =

81

___________________________________________________________________ Sumber : Data Olahan

Bungin (2007:78) dalam Metodologi Penelitian Kualitatif menyebutkan

bahwa dari beberapa literatur atau bacaan tentang metodolongi penelitian dapat

(54)

persen dari populasi sementara ada pula yang menyatakan minimal 15 persen dari

populasi.. Namun perlu dingat dalam menentukan besarnya sampel, pertama adalah

tingkat keragaman populasi merujuk dua kondisi yaitu kondisi populasi yang sangat

beragam (hetrongen) dan kondisi populasi yang tidak beragam (homogen), semakin

tinggi tingkat hetrogenitas populasi maka semakin besar jumlah sampel yang

dibutuhkan. Sebaliknya semakin tinggi tingkat homegenitasnya, bahkan satu sampel

dapat dikatakan cukup repersentatif. Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah

10 persen dari populasi (81 orang) yaitu sebanyak delapan orang.

Menurut Bungin (2008:76) Informan penelitian adalah subjek yang

memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang

memahami objek penelitian. Informan adalah orang yang dianggap menguasai dan

memahami data, informasi ataupun fakta dari suatu objek penelitian.

Jadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Peneliti sendiri dan orang

yang dianggap memahami tentang keberadaan serta perkembangan Komite Sekolah

di SMA Negeri Kota Binjai.

(55)

Menurut Lofland dan Lofland yang dikutip Moleong (2006:107) sumber data

utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah

data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Sumber dan Jenis data dalam kajian ini adalah keterangan berupa kata-kata

maupun cerita dan tindakan orang-orang yang diamati dan diwawancarai, sumber

data utama dicatat melalui catatan tertulis atau rekaman, poto.

Kemudian hasil kuesioner yang dirancang khusus dalam kajian ini

merupakan data utama (primer), selain itu sumber data skunder atau sumber kedua

yaitu bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis seperti buku, majalah ilmiah,

media cetak dan elektronik seperti artikel, jurnal, poto, data statistik dan lain

sebagainya.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpul data dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa

teknik, antara lain :

1. Observasi.

Observasi diartikan sebagai pengalaman dan pencatatan secara

sistematis terhadap segala yang tampak pada objek penelitian, observasi

data yang diperoleh dalam penelitian ini, dilakukan guna mendapatkan

informasi tambahan dari hasil wawancara.

2. Kuesioner (Angket) dan wawancara, yaitu pertanyaan yang disusun

(56)

wawancara ataupun tanya jawab secara langsung (secara lisan) dari

responden . Responden yang akan dimintai angket adalah pengurus

komite sekolah, Kepala Sekolah dan Pembantu Kepala Sekolah (PKS)

dan Dewan Pendidikan Kota Binjai. Data yang diperoleh dari

kuesioner/angket ini dan wawancara secara langsung merupakan sumber

data utama primer dalam penelitian ini.

3. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi digunakan untuk

memperoleh data tentang lokasi yang nyata dijadikan sebagai objek

penelitian ini, yaitu SMA Negeri yang ada di Kota Binjai (kecuali SMA

Negeri 1 Binjai), baik keberadaan fisik maupun keadaan administrasi

sekolah. Kemudian objek penelitian lainnya adalah Komite Sekolah SMA

Negeri Kota Binjai dan Dewan Pendidikan Kota Binjai.

3.5 Metode / Teknik Analisis

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriftif

kualitatif artinya data yang diperoleh melalui penelitian tentang peranan Komite

Sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri Kota Binjai, dilaporkan

apa adanya kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran

(57)

Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data

ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan

dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti disarankan data.

Bungin (2008:204) menyatakan analisis hasil penelitian hanya ditargetkan

untuk memperoleh gambaran seutuhnya dari objek yang diteliti, tanpa harus

diperincikan secara detail unsur-unsur yang ada dalam keutuhan objek penelitian

tersebut.

Sehubungan dengan kemungkinan bervariasinya domain, maka Spradley

menyarankan Hubungan Semantik (Semantik Relationship) yang bersifat universal

dalam analisis domain sebagai berikut :

1. Jenis ( Strict Inclution)

2. Ruang (spatial)

3. Sebab akibat (cause effect)

4. Rasional atau alasan (rasionale)

5. Lokasi Kegiatan (Location for

Action)

6. Cara ke Tujuan (Means-End)

7. Fungsi (Function)

(58)

8. Urutan (Sequence)

9. Atribut (Atribution)

X merupakan urutan / tahap dalam Y

X merupakan atribut atau karakteristik Y

Demikian hubungan semantik yang dipakai dalam teknik analisis domain,

hubungan-hubungan semantik dalam analisis domain dari Spradley terhadap

peranan Komite Sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan pada SMA Negeri di

(59)

Tabel 3.3 : Analisis Kualitatif Model Spradley tentang Peranan Komite Sekolah dalam Penyelenggaraan Pendidikan SMA Negeri di Kota Binjai

___________________________________________________________________

Merupakan wadah bagi orang tua siswa atau Masyarakat yang peduli pendidikan untuk membantu memajukan pendidikan pada satuan pendidikan.

Ruang (Spatial) x adalah bagian dari y

x bertempat di y

Komite sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi dan menyalurkan aspirasi, prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan, dan peranserta masyarakat dalam rangka peningkatan mutu, pemerataan pendidikan pada satuan pendidikan SMA Negeri Kota Binjai.

Sebab Akibat

(Cause Effect)

x adalah akibat dari y

y adalah sebab dari x

Komite sekolah dibentuk adalah sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 56 ayat (3) tentang Sistem Pendidikan

Figur

Gambar 1 : Kerangka Konseptual Pemberdayaan Komite Sekolah pada Jenjang Pendidikan Menengah (SMA) Negeri di Kota Binjai
Gambar 1 Kerangka Konseptual Pemberdayaan Komite Sekolah pada Jenjang Pendidikan Menengah SMA Negeri di Kota Binjai . View in document p.50
Tabel  3.1 :   Banyaknya Sekolah, Lokal, Guru, dan Murid SMA Negeri                        di Kota Binjai Tahun 2007 ___________________________________________________________________
Tabel 3 1 Banyaknya Sekolah Lokal Guru dan Murid SMA Negeri di Kota Binjai Tahun 2007 . View in document p.52
Tabel 3.2 : Rincian Jumlah Populasi
Tabel 3 2 Rincian Jumlah Populasi . View in document p.53
Tabel 3.3 : Analisis Kualitatif Model Spradley tentang Peranan Komite Sekolah       dalam Penyelenggaraan Pendidikan SMA Negeri di Kota Binjai
Tabel 3 3 Analisis Kualitatif Model Spradley tentang Peranan Komite Sekolah dalam Penyelenggaraan Pendidikan SMA Negeri di Kota Binjai . View in document p.59
Tabel 4.1: Hasil Penelitian Peran Pemberdayaan Komite Sekolah dalam penyelenggara Pendidikan SMA Negeri di Kota Binjai
Tabel 4 1 Hasil Penelitian Peran Pemberdayaan Komite Sekolah dalam penyelenggara Pendidikan SMA Negeri di Kota Binjai . View in document p.90
Tabel 4.2 : Analisis Domain Model Spradley tentang Peranan Komite Sekolah              dalam Penyelenggaraan Pendidikan SMA Negeri Kota Binjai
Tabel 4 2 Analisis Domain Model Spradley tentang Peranan Komite Sekolah dalam Penyelenggaraan Pendidikan SMA Negeri Kota Binjai . View in document p.95

Referensi

Memperbarui...