• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL DEPAN... i. HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM... ii. LEMBARAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL DEPAN... i. HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM... ii. LEMBARAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

HALAMAN

HALAMAN SAMPUL DEPAN ... i

HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM ... ii

LEMBARAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... viii

DAFTAR ISI ... ix

ABSTRAK ... xii

ABSTRACT ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 6

1.4 Orisinalitas Penelitian ... 7 1.5 Tujuan Penelitian ... 8 1.5.1 Tujuan Umum ... 8 1.5.2 Tujuan Khusus ... 9 1.6 Manfaat Penelitian ... 9 1.6.1 Manfaat Teoritis ... 9 1.6.2 Manfaat Praktis ... 10

(2)

1.7 Landasan Teoritis ... 10

1.8 Metode Penelitian ... 19

1.8.1 Jenis Penelitian ... 19

1.8.2 Jenis Pendekatan ... 20

1.8.3 Sumber Bahan Hukum ... 21

1.8.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum... 23

1.8.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum ... 24

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG CALON KEPALA DAERAH .... 25

2.1. Sejarah Pemilihan Kepala Daerah... 25

2.2. Pengertian Calon Kepala Daerah ... 29

2.2.1 Calon Kepla Daerah Dari Partai Politik ... 28

2.2.2 Calon Kepla Daerah Dari Gabungan Partai Politik ... 32

2.2.3 Calon Kepla Daerah Perseorangan ... 33

2.3.Syarat Calon Kepala Daerah ... 33

2.3.1 Syarat Calon Kepala Daerah Dari Partai Politik/ Gabungan Partai Politik ... 34

2.3.2 Syarat Calon Kepala Daerah Perseorangan ... 35

BAB III PENGATURAN DAN TOLAK UKUR MENENTUKAN BILANGAN PENYEBUT CALON KEPALA DAERAH ... 36

3.1 Pengaturan Bilangan Penyebut Calon Kepala Daerah Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 ... 38

(3)

BAB IV AKIBAT HUKUM PERBEDAAN TOLAK UKUR BILANGAN PENYEBUT ANTARA CALON KEPALA DAERAH DARI PARTAI POLITIK DAN CALON

KEPALA DAERAH PERSEORANGAN... 51

4.1 Bilangan Penyebut Calon Kepala Daerah Terhadan Demokrasi Dan Keadilan ... 51

4.2 Akibat Hukum Perbedaan Tolok Ukur Bilangan Penyebut ... 54

BAB V PENUTUP ... 57 5.1 Simpulan ... 57 5.2 Saran-saran ... 58 DAFTAR PUSTAKA ... 60 DAFTAR INFORMAN LAMPIRAN

1. Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap(DPT) Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden Tahun 2014 Tingkat Provinsi Bali 2. Daftar Calon Terpilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah Provinsi Pemilihan Umum Tahun 2014

3. Rekapitulasi Jumlah Perolehan Suara Sah Partai Politik Dalam Pemilu DPRD Provinsi Tahun 2014

(4)

PENGATURAN TOLOK UKUR SYARAT CALON KEPALA DAERAH DARI PARTAI POLITIK DAN PERSEORANGAN BERDASARKAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2015

Oleh :

Ida Bagus Martha Teja Agastya

ABSTRAK

Pemilihan kepala daerah telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 beserta syarat-syarat yang diwajibkan untuk maju sebagai calon kepala daerah. Salah satu syarat tersebut adalah syarat dukungan yang diatur berbeda menurut jalur seseorang mengajukan diri sebagai calon kepala daerah. Namun perbedaan syarat dukungan(bilangan penyebut) antara calon dari parpol dengan calon perseorangan serta calon perseorangan yang satu dengan calon perseorangan dari daerah lain dipandang kurang tepat. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana pengaturan tolak ukur bilangan penyebut dan akibat hukum perbedaan bilangan penyebut calon kepala daerah dari parpol dengan perseorangan. Penelitian ini penting untuk dilakukan guna memperbaiki syarat dukungan tersebut agar lebih baik.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif. Adapun sumber data dalam penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh secara langsung dari penelitian lapangan yang berupa keterangan-keterangan atau wawancara dari pihak-pihak terkait dalam penelitian ini sedangkan data sekunder berasal dari penelitian pustaka melalui peraturan perundang-undangan, literatur, buku-buku dan dokumen-dokumen resmi, dan data tersier data yang terdiri dari kamus-kamus baik Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, merupakan bahan yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa syarat dukungan (bilangan penyebut) calon kepala daerah tidak lah adil dan memegang prinsip demokrasi, serta bertentangan dengan UUD1945.saran yang diperoleh dalam penelitian ini adalah syarat bilangan penyebut ini hendaknya di buat lebih adil dan dalam pembuatan Undang-Undang pilkada hendaknya mengikutsertakan pihak-pihak di luar partai politik seperti akademisi dan anggota DPD RI.

(5)

REGULATION OF THE ELECTION CANDIDATE OF OFFICER IN CHARGE OF A REGENCY FROM POLITICAL PARTIES AND INDEPENDENT BASE ON LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

NUMBER 8 YEAR 2015

By :

Ida Bagus Martha Teja Agastya

ABSTRACT

The election candidate of officer incharge of a regency and it’s requisite have been arranged in the Law of the Republic of Indonesia Number 8 Year 2015. One of it’srequisite is requisite of endorsement, which divided into several way which depend of what line the candidate took. However, the difference of these requisite of endorsement (percentage) between political parties with independent one in a region with other region not idea. The main problem is how to manage the basic of percentage calculation and the impact of difference in law on the basic of the percentage calculation into candidate from politicalparties and independen one. This research is way important to do to repair the requisiteof endorsement into better.

The used research methode is normative law research. The data resource of this research taken from primary data which received from the library resource through rule of Indonesia, literature, books, official documents and tertiary data received from Indonesia and englis dictionaries which could give clue or explanation to primary data andsecondary data.

The result of this research is the requisite of endorsement (percentage) for the candidate of officer in charge of a regency is not fair and holding the principle of democracy, moreover incompatible with Law of the Republic of Indonesia 1945. The suggestion which received from this resource is the basic ofpercentage calculation should be made fair enough and the Law of the Republic of Indonesia of the election candidate of officer in charge of a regency should be participate by people who outside political parties such as academician and member of the council representative area of Republik Indonesia.

Keywords : basic of percentage calculation, candidate of officer in charge of a regency, justice,democracy

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia adalah Negara hukum, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Salah satu ciri negara hukum yaitu adanya sistem demokrasi yang berkedaulatan rakyat. Penyelanggaraan sistem demokrasi negara harus bertumpu pada partisipasi dan kepentingan rakyat.

Negara hukum demokrasi adalah Negara yang melakukan pergantian pemimpin pemerintahan dengan melakukan pemilihan umum yang bebas dan berkala sebagai kreteria utama bagi sistem politik untuk dapat disebut demokrasi. Asas yang digunakan dalam pemilu adalah asas langsung, umum, rahasia, jujur, dan adil agar disebut negra demokrasi.

Menurut Mahmud MD, demokrasi sebagai suatu sistem politik sangat erat sekali hubungannya dengan hukum. Demokrasi tanpa hukum tidak akan terbangun dengan baik, bahkan hukum menimbulkan anarki, sebaliknya hukum tanpa sistem poitik yang demokratis hanya akan menimbulkan hukum yang elitis dan represif.1

Pilkada di Indonesia sudah mengalami beberapa perubahan dari tahun ketahun. Seperti tahun 2015 kemarin yang melaksanakan pilkada serentak di beberapa daerah. Menurut UUD 1945 pasal 18 telah di tetapkannya mana yang

1

(7)

disebut provinsi, kemudian dari provinsi di bagi menjadi kota dan kabupaten, setiap provinsi dan kabupaten/kota mempunyai pemerintahan daerahnya, yang telah di atur dengan UU menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.2

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pernah mengatur pencalonan kepala daerah hanya dapat di calonkan hanya melalui partai politik. Sebagaimana di atur pada pasal 59 ayat (1) yang berbunyi peserta pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang di usulkan secara berpasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik.

Setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang perubahan kedua dari Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pencalonan kepala daerah tidak hanya dapat di calonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik, namun calon perseorangan dapat mencalonkankan diri menjadi calon kepala daerah. Sesuai dengan pasal 59 ayat 1 huruf b yang berbunyi pasangan calon perseorangan yang di dukung oleh sejumlah orang.

Walaupun telah dibuka kesempatan bagi calon perseorangan untuk maju sebagai calon kepala daerah, namun pada prakteknya menjadi calon kepala daerah perseorangan tersebut bukanlah hal yang mudah. Banyak rintangan yang akan dilalui bila di lihat dari Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati,Dan Walikota Menjadi Undang-Undang, seperti:

2

Available from: URL: https://gooble.com/perkembangan pilkada, di akses pada tanggal 27 Januari 2016 pkl. 12.30 Wita

(8)

1. Pasangan calon perseorangan harus memperoleh dukungan 6,5% - 10% dari jumlah DPT di daerah pemilihannya.

2. Dukungan tersebut harus tersebar di lebih dari 50% jumlah kecamatan di kabupaten/kota dan dukungan tersebut dibuat dalam bentuk surat dukungan yang disertai dengan fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Surat Keterangan Tanda Penduduk yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3. Adanya denda yang dekenakan kepada calon kepala daerah apabila ingin memundurkan diri sebagai calon kepala daerah sapabila sudah di tetapkan sebagai pasangan calon kepala daerah oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota.

Dalam pencalonan seseorang sebagai calon kepala daerah dapat melalui partai politik atau gabungan partai politik yang harus memenuhi 20% jumlah kursi di DPRD atau 25% akumulasi perolehan suara sah pemilihan umum anggota DPRD di daerah bersangkutan. Sedangkan calon persorangan memiliki ketentuan yang sangat berbeda di banding calon yang di usung oleh partai politik atau gabungan partai politik. Calon perseorangan wajib mengumpulkan dukungan melalui pengumpulan KTP sebagai bukti pemilik KTP adalah pendukung dari calon kepala daerah tersebut dan pasangan calon setiap daerah wajib mengumpulkan dukungan dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan jumlah DPT di daerah nya di bagi dengan bilangan penyebut yang telah di atur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan

(9)

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati,Dan Walikota Menjadi Undang-Undang.

.Berdasarkan Pasal 41 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati,Dan Walikota Menjadi Undang-Undang yang mengatur calon perseorangan dapat di gambarkan sebagai berikut:

SYARAT CALON KEPALA DAERAH MENDAFTARKAN DIRI SEBAGAI CALON GUBERNUR DAN CALON WAKIL GUBERNUR SEBAGAI CALON

PERSEORANGAN

JUMLAH DPT BILANGAN PENYEBUT

SAMPAI DENGAN 2.000.000 10%

2.000.000-6.000.000 8,5%

6.000.000-12.000.000 7,5%

LEBIH DARI 12.000.000 6,5%

SYARAT CALON KEPALA DAERAH MENDAFTARKAN DIRI SEBAGAI CALON BUPATI DAN CALON WAKIL BUPATI SERTA CALON WALIKOTA DAN CALON WAKIL WALIKOTA SEBAGAI CALON

(10)

JUMLAH DPT BILANGAN PENYEBUT

SAMPAI DENGAN 250.000 10%

250.000-500.000 8,5%

500.000-1.000.000 7,5%

LEBIH DARI 1.000.000 6,5%

Dari latar belakang masalah tersebut di atas dapat di lihat adanya perbedaan bilangan penyebut antara calon kepala daerah dari partai politik dengan perseorangan serta berbedanya bilangan penyebut calon perseorangan antara daerah satu dengan daerah lainnya yang memiliki jumlah DPT yang berbeda menetapkan bilangan penyebut yang berbeda. Maka penulis berkeinginan menyusun skripsi dengan judul : “Pengaturan Tolok Ukur Syarat Calon Kepala Daerah Dari Partai Politik Dan Perseorangan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015”.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun tujuan dari penulisan yang di lakukan adalah ingin mengetahui permasalahan yang timbul antara lain:

1. Bagaimanakah Pengaturan dan Tolok Ukur Menentukan Bilangan Penyebut Antara Calon Kepala Daerah Dari Partai Politik Dan Perseorangan?

(11)

2. Apa Akibat Hukum Dalam Terjadinya Perbedaan Tolok Ukur Bilangan Penyebut Antara Calon Kepala Daerah Dari Partai Politik Dan Perseorangan?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Didalam suatu karya ilmiah perlu kiranya ditentukan secara tegas batasan materi yang akan dibahas atau di uraikan dalam tulisan tersebut. Sudah merupakan hal yang wajar apabila dalam hal membahas suatu persoalan masalah harus didasarkan pada suatu batasan yang pasti. Dalam arti bahwa tulisan itu mempunyai ruang lingkup pembahasan dan arah yang tertentu pula, hal ini dimaksudkan untuk mencegah materi atau uraian dalam tulisan tersebut tidak menyimpang dengan pokok yang ingin di bahas.3

Dalam penulisan skripsi ini ditentukan secara tegas mengenai materi yang akan di bahas. Hal ini tentunya untuk menghindari agar materi atau isi dari permasalahan tidak menyimpang dari pokok pembahasan. Maka permasalahan yang akan diteliti dibatasi sesuai dengan rumusan masalah bagaimanakah pengaturan dan tolok ukur menentukan bilangan penyebut antara calon kepala daerah dari partai politik dan perseorangan serta apa akibat hukum dalam terjadinya perbedaan tolak ukur bilangan penyebut antara calon kepala daerah dari partai politik dan perseorangan yang berjudul “Pengaturan Tolok Ukur Syarat Calon Kepala Daerah Dari Partai Politik Dan Perseorangan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015”.

1.4 Orisinalitas Penelitian

3

(12)

Setelah penulis mencari contoh skripsi di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Udayana dan berbagai sumber, penulis menemukan contoh skripsi yang berhubungan dengan Pengaturan Tolok Ukur Syarat Calon Kepala Daerah Dari Partai Politik Dan Perseorangan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 sebagai berikut:

No Judul Penelitian Penulisan Rumusan Masalah

1 Calon Perseorangan Dalam Pemilihan Kepala Daerah

Frysca Kusuma Wardani

1.Bagaimana mekanisme pencalonan Kepala Daerah Perseorangan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah?

2. Apapertimbangan hukum Hakim Mahkamah Konstitusi mengijinkan calon Kepala Daerah independen mengikuti pemilihan Kepala Daerah (PILKADA)? 2 Tinjauan Yuridis Pemilihan Kepala Daerah Menurut Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 Andi Muhammad Gian Gilland

1. Bagaimana cara melaksanakan pemilihan kepala daerah/pimpinan daerah (gubernur, bupati, walikota) dan wakilnya masing-masing secara demokratis tanpa berindikasi pemborosan dan tetap menjaga keharmonisan masyarakat?

\2. Apakah yang menjadi kendala pemilihan pimpinan daerah (gubernur, bupati, walikota) secara demokratis, baik dalam arti pemilihan langsung

maupun pemilihan melalui

perwakilan?

1.5 Tujuan Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini adapun tujuan yang ingin dicapai penulis yang dapat di bagi menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus:

(13)

1. Untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Udayana.

2. Untuk melatih diri dalam usaha menyatakan pemikiran ilmiah secara tertulis.

3. Untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya di dalam bidang penelitian.

4. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan hukum.

5. Menjadi data referennsi dalam bidang hukum.

b. Tujuan Khusus

1. Hal-hal yang menjadi ruang lingkup dalam pengaturan tolok ukur syarat calon kepala daerah dari partai politik dan perseorangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

2. Memahami tolok ukur syarat calon kepala daerah dari partai politik dan perseorangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

1.6 Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

(14)

1. Dapat memberikan pandangan umum tentang konsep tolak ukur syarat calon kepala daerah dari partai politik dan perseorangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

2. Dapat mengetahui serta memahami hubungan hukum apa yang ada di dalam tolok ukur syarat calon kepala daerah dari partai politik dan perseorangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015. 3. Dapat memberikan pandangan mengenai tolok ukur syarat calon

kepala daerah dari partai politik dan perseorangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

b. Manfaat Praktis

1. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan penulis.

2. Memberikan sumbangan pemikiran kepada mahasiswa tentang tolok ukur syarat calon kepala daerah dari partai politik dan perseorangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

1.7 Landasan Teoritis

Suatu landasan teoritis dalam pembahasan yang bersifat ilmiah memiliki kegunaan lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak

(15)

diselidiki atau diuji kebenarannya. Guna mengkaji suatu permasalahan hukum secara lebih mendalam dan komprehensif diperlukan teori yang berupa asumsi, konsep, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.4 Dalam bentuknya yang paling sederhana, suatu teori merupakan hubungan antar dua variable atau lebih yang telah diuji kebenarannya.5 Disamping itu suatu landasan teoritis dapat meberikan petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada suatu pengetahuan penelitian.6

1.7.1 Negara Hukum

Di Indonesia konsep negara hukum tercantum di dalam UUD 1945, yang menjelaskan bahwa negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat) tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machstaat). Oleh karena itu negara tidak boleh melaksanakan aktivitasnya atas dasar kekuasaan belaka, tetapi harus berdasarkan pada hukum.

Pengertian Negara Hukum sebagai negara yang berdasarkan hukum, dimana kekuasaan tunduk pada hukum dan semua orang sama

4

Burhan Ashofa, 2004, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, (Selanjutnya

disebut dengan Burhan Ashofa I)Hal. 19.

5

Soerjono Soekanto, 2001, Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. (Selanjutnya disebut dengan Soerjono Soekanto I) Hal. 30

6

Soejono Soekanto, 1984, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta. (Selanjutnya disebut dengan Soerjono Soekanto II) Hal. 12

(16)

dihadapan hukum.7 Selanjutnya dalam UUD 1945 tersebut menerangkan bahwa pemerintah berdasarkan atas sistem konstitusional (hukum dasar) tidak bersifat (absolutisme kekuasaan yang terbatas), karena kekuasaan eksekutif dan administrasi di Indonesia berada dalam satu tangan, yaitu ada pada presiden. Artinya bahwa administrasi dalam menjalankan tugasnya dibatasi oleh peraturan perundang-undangan.8

Dalam Kepustakaan Indonesia, istilah negara hukum merupakan terjemahan langsung dari rechtstaat. Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka. Secara teori, negara hukum (rechstaat) adalah negara bertujuan untuk menyelenggarakan ketertiban hukum, yakni tata tertib yang umumnya berdasarkan hukum yang terdapat pada rakyat. Negara hukum menjaga ketertiban hukum , dan agar semua berjalan menurut hukum.

Adapun ciri-ciri rechtstaat adalah:9

a. Adanya Undang-Undang Dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan tertulis tentang hubungan antara penguasa dan rakyat; b. Adanya pembagian kekuasaan negara;

c. Diakui dan dilindunginya hak-hak kebebasan rakyat.

7

Mochtar Kusumaatmaja, 1995, Pemantap Cita Hukum dan Azas-Asaz Hukum Nasional

Dimasa Kini dan Masa Yang Akan Datang, Makalah, Jakarta, Hal. 1.

8

C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, 2000. Hukum Tata Negara Republik Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta, Hal. 34

9

Available from: URL: https://.negara-hukum-rechtstaat html , di akses pada tanggal 18 april 2016 pkl. 10.45 Wita

(17)

Utrecht memberikan dua macam asas yang merupakan ciri negara hukum, yaitu asas legalitas dan asas perlindungan terhadap kebebasan setiap orang dan terhadap hak-hak asasi manusia lainnya.10 Adapun ciri-ciri negara hukum menurut Philipus M. Hadjon adalah sebagai berikut:

1. Keserasian hubungan antara pemerintah dan rakyat;

2. Hubungan fungsional yang proposional di antara kekuasaan negara;

3. Penyelesaian sengketa melalui musyawarah, peradilan sarana terakhir;

4. Keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Negara Indonesia adalah Negara Hukum, demikian ditegaskan dalam pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Hal ini menunjukkan bahwa segala tindakan yang dilakukan oleh penguasa dan masyarakat harus berdasarkan pada kekuasaan dan harus mencerminkan rasa keadilan dan kepastian hukum.11

Hukum yang hendak ditegakkan dalam negara hukum agar hak-hak asasi warganya benar-benar terlindungi hendaklah hukum yang benar dan adil, yaitu hukum yang bersumber dari aspirasi rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat melalui wakil-wakilnya yang dibuat secara konstitusional.

10

E. Utrecht, 1966, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, cetakan IX, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, Hal. 305.

11

Sudargo Gautama, 1973, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung, Hal. 22-23.

(18)

1.7.2 Demokrasai

Pemilu merupakan mekanisme yang memungkinkan terjadinya rotasi kekuasaan berbasis pilihan publik, pelembagaan perebutan kekuasaan secara damai, dan pada akhirnya memungkinkan rakyat melakukan kontrol terhadap kebijakan publik. Sistem politik yang demokratis memungkinkan hak-hak konstitusional warga dilindungi dan dijamin oleh negara, kebijakan publik berbasis kepentingan rakyat, dan kekuasaan tidak berjalan di luar kewenangannya.12

Menurut Robert A. Dahl dalam bukunya, On Democracy, memaparkan keuntungan suatu negara menjalankan prinsip demokrasi demi menjamin kehidupan masyarakat yang lebih berkualitas. Menurutnya terdapat sepuluh manfaat demokrasi yaitu:13

1. Mencegah timbulnya otokrat yang kejam dan licik; 2. Menjamin tegaknya hak asasi setiap warga negara;

3. Memberikan jaminan terhadap kebebasan pribadi yang lebih luas; 4. Membantu rakyat melindungi kebutuhan dasarnya;

5. Memberikan jaminan kebebasan terhadap setiap warga negara untuk menentukan nasibnya sendiri;

6. Memberikan kesempatan untuk menjalankan tanggung jawab moral;

7. Memberikan jaminan mengembangkan potensi diri warga negara;

12

MB. Zubakhrum Tjenreng, 2016, Pilkada Serentak Penguatan Demokrasi di indonesia, Pustaka Kemang, Jakarta, Hal. 33

13

(19)

8. Menjunjung tinggi persamaan politik setiap warga negara; 9. Mencegah perang antar negara;

10. Memberikan jaminan kemakmuran bagi masyarakat.

1.7.3 Perundang-undangan

Professor Maria Farida Indrati mengemukakan dua pendapat ahli yang selama ini berkecimpung dalam bidang perundang-undangan yaitu:14 a. I.C. Van Der Vlies membagi asas-asas dalam pembentukan Peraturan

Perundang-undangan yang patut ke dalam asas formal dan asas material.

Asas-asas formal yang dimaksud Van Der Vlies, meliputi: Asas tujuan yang jelas;

Asas organ/lembaga yang tepat; Asas perlunya pengaturan; Asas dapat dilaksanakan; Asas konsensus.

Asas-asas material yang dimaksud Van Der Vlies, meliputi: Asas terminology dan sistematika yang benar; Asas dapat dikenali;

Asas perlakuan yang sama dalam hukum; Asas kepastian hukum;

Asas pelaksanaan hukum sesuai keadaan individual.

b. A. Hamid S. Attamimi membagi asas-asas ppembentukan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia pada dua asas penting, yang hampir sama dengan konsepsi Van Der Vlies.

Asas-asas formal yang dimaksud A. Hamid S. Attamimi, meliputi: Asas tujuan yang jelas;

14

Aziz Syamsuddin, 2013, Proses dan Teknik Penyusunan Undang-Undang, Sinar Grafika, Jakarta, Hal 34-36

(20)

Asas perlunya pengaturan; Asas organ/lembaga yang tepat; Asas materi muatan yang tepat; Asas dapatnya dilaksanakan; Asasnya dapat dikenalai.

Asas-asas material yang dimaksud A. Hamid S. Attamimi, meliputi: Asas harus sesuai dengan cita hukum dan norma fundamental

negara;

Asas harus sesuai dengan hukum dasar negara;

Asas harus sesuai dengan prinsip-prinsip negara berdasar atas hukum;

Asas harus sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan berdasar sistem konstitusi.

Asas-asas yang baik dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dalam Bab II tentang Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Pasal 5 Undang-Undang nomor 12 Tahun 2011 dirumuskan bahwa dalam pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus didasarkan pada asas-asas pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi:

a. Kejelasan tujuan;

b. Kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat; c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan;

e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan;

(21)

Dalam Pasal 6 ayar (1) Undang-Undnag Nomor 12 Tahun 2011 juga dirumuskan asas-asas yang harus tercermin dalam materi muatan Peraturan Perundnag-undangan, yakni sebagai berikut:

a. Asas pengayom. b. Asas kemanusiaan. c. Asas kebangsaan. d. Asas kekeluargaan. e. Asas kenusantaraan. f. Asas bhineka tunggal ika. g. Asas keadilan.

h. Asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. i. Asas ketertiban dan kepastian hukum.

j. Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.

1.7.4 Teori Keadilan

Suatu pemilihan kepala daerah yang baik haruslah adil dalam peraturan dan pelaksanaannya, namun saat ini masih menjadi suatu perdebatan mana yang disebut adil dalam pilkada. Sesuai dengan materi yang di angkat penulis tentang syarat dukungan calon kepala daerah masih di anggap tidak adil bagi sebagian orang. Menurut Aristoteles, keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara ke dua ujung ekstern yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstern itu menyangkut 2 orang atau benda. Bila 2 orang tersebut punya kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama. Kalau tidak sama, maka akan terjadi pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak adilan.

(22)

Menurut John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran”. Di dalam bukunya yang berjudul A Theory Of Justice, John Rawl berharap dapat merumuskan sebuah teori yang dapat mengakomodasikan pribadi individu secara serius tanpa mempertaruhkan kesejahteraan atau hak-haknya demi kebaikan orang lain, sekaligusmenawarkan sebuah metode yang konkret untuk membuat keputusan paling fundamental mengenai keadilan distributif. Hasilnya adalah “keadilan sebagai kesetaraan” (justice as fairness).15

Selain mengacu pada Undang-Undang Dasar, ketentuan lain juga mengatur melalui peraturan perundang-undangan dibawah Undang-Undang Dasar. Pada ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Menurut ketentuan Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 yang berbunyi setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya. Lebih lanjut menurut ketentuan Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 yang berbunyi, setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

15

(23)

keadilan adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya Istilah keadilan berasal dari kata adil yang berasal dari bahasa Arab. Kata adil berarti tengah. Adil pada hakikatnya bahwa kita memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Keadilan berarti tidak berat sebelah, menempatkan sesuatu di tengah-tengah, tidak memihak. Keadilan juga diartikan sebagai suatu keadaan dimana setiap orang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara memperoleh apa yang menjadi haknya, sehingga dapat melaksanakan kewajibannya.16

1.8 Metode Penelitian

Dalam rangka memperoleh, mengumpulkan, serta menganalisis setiap data atau informasi yang bersifat ilmiah, tentunya dibutuhkan suatu metode dengan tujuan agar suatu karya ilmiah memiliki susunan yang sistematis, terarah, dan konsisten. Adapun metode penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Jenis Penelitian

Sebagai suatu karya ilmiah dan untuk mendapatkan hasil yang ilmiah, sehingga dapat dipertahankan secara ilmiah pula. Maka dalam penulisan skripsi ini, penelitian yang digunakan adalah penelitian hokum normatif. Menurut Abdulkadir Muhamad, penelitian hokum normatif adalah penelitian hokum yang mengkaji hokum tertulis dari berbagai aspek, yaitu aspek teori, sejarah, filosofi, perbandingan, struktur dan komposisi, lingkup dan materi, konsistensi, penjelasan umum dan pasal demi pasal, formalitas dan kekuatan mengikat suatu Undang-Undang, serta

16 Available from: URL: https://pengertian-keadilan-teori.html , di akses pada tanggal 11

(24)

bahasa hukum yang digunakan tetapi tidak mengkaji aspek terapan atau implementasi.17

Adapun ciri-ciri dari penelitian normatif yaitu :

a. Suatu penelitian yang beranjak dari adanya kesenjangan dalam norma/asas hukum.

b. Tidak menggunakan hipotesis; c. Menggunakan landasan teori; dan

d. Menggunakan bahan hukum yang terdiri atas bahan hukum primer, bahan hukum skunder dan bahan hukum tersier.18

b. Jenis Pendekatan

Penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan, dengan pendekatan tersebut penulis akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek.

1. Pendekatan Perundang-undangan (The Statute Apporoach)

Pendekatan perundang-undangan ( The statute approach) yaitu dengan meneliti dan menganlisa kebijakan-kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.19

Dilakukan dengan cara menelaah semua Undang-undang dan regulasi yang berhubungan. Bagi penelitian untuk kegiatan praktis, pendekatan Undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adalah konsistensi dan kesesuaian antara

17

Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, Hal 101

18

Sri Mamudji,, 1995, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, PT. Rajawali, Jakarta, Hal. 23.

19 Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, (Selanjutnya

(25)

satu Undang-undang dengan Undang-undang lainnya atau antara Undang-undang dengan Undang-undang Dasar atau antara regulasi dan Undang-undang. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argument untuk memecahkan masalah yang dihadapi.20

2. Pendekatan Analisis Konsep Hukum (Analitical & Conseptual

approach)

Pendkatan analisis untuk mengetahuimakna yang dikandung oleh istilah-istilah yang digunakan dalamaturan perundang-undangan secara konsepsional, sekaligus mengetahui penerapan dalam praktek dan putusanputusan hukum21.

c. Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang dipergunakan dalam penelitian ini berasal dari penelitian kepustakaan, dengan bahan utama primer. Bahan primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoratis.22

Adapun sumber bahan hukum tersebut dapat diperoleh melalui dua sumber bahan yaitu:

20

Peter Mahmud Marzuki. 2009. Penelitian Hukum. Kencana Prenada Media Group.

(Selanjutnya disebut dengan Peter Mahmud Marzuki II) Hal 93

21

Johnny Ibrahim, 2012, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, BayumediaPublising, Malang. Hal 310

22

Burhan Ashofa. 2007. Metode Penelitian hukum. PT Rineka Cipta. Jakarta.

(26)

1. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari kepustakaan, yang terdiri dari:

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999.

c. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

d. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008.

e. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. f. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014. g. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. h. Undang-Undang Nomor 8 tahun 2015.

2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yang digunakan adalah buku hukum, yang berisi prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandangan-pandangan klasik para sarjana yang mempunyai kualifikasi tinggi. Selain buku teks dan dapat berupa tulisan-tulisan tentang hukum dalam bentuk jurnal.

(27)

Data yang terdiri dari kamus-kamus baik Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, merupakan bahan yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hokum primer dan bahan hokum sekunder23

d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Pengumpulan bahan dari penulisan skripsi ini dilakukan melalui teknik studi pustaka dan juga melalui bantuan media elektronik, yaitu internet.24 Studi kepustakaan ini dilakukan dengan cara menelaah dan menliti data pustaka seperti bahan hukum primer maupun bahan hukum skunder, pencatatan terhadap bahan-bahan hukum temuan dalam studi kepustakaan ini perlu dilakukan secara teliti dan jelas dan juga dilakukan secara menyeluruh terhadap bahan-bahan yang ada relevansinya dengan penelitian.25

Memperoleh bahan hukum dari sumber ini, penulis memadukan, mengumpulkan, menafsirkan, dan membandingkan buku-buku dan arti-arti yang berhubungan dengan judul skripsi pengaturan tolak ukur syarat calon kepala daerah dari partai politik dan perseorangan berdasarkan undang-undang nomor 8 tahun 2015.

23

Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, Hal 6

24

Amirudin. 2004, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada. Hal. 37

25

Bambang Waluyo, 1991, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 50.

(28)

e. Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum

Teknik yang digunakan dalam penulisan ini adalah teknik deskripsi, teknik evaluasi yang tentunya tidak bisa lepas dari teknik argumentasi. Dimana dalam menganalisis tidak menghindari teknik dekripsi yang berarti uraian apa adanya terhadap suatu kondisi atau posisi dari proposi-proposi hukum atau non hukum. Kemudian dilakukan penilaian berupa tepat atau tidak tepat, setuju atau tidak setuju, benar atau tidak benar, sah atau tidak sah terhadap suatu pandangan, pernyataan rumusan norma, keputusan, baik yang tertera dalam bahan hokum primer/sekunder.26

26

Referensi

Dokumen terkait

Bank Perkreditan Rakyat Di Kabupaten Badung dilatarbelakangi oleh Otoritas Jasa Keuangan yang merupakan lembaga negara yang mempunyai fungsi regulasi (pengaturan) dan

Hasil penelitian menunjukan bahwa, pelaksanaan hak cuti terhadap pekerja kontrak pada Nirmala Supermarket Denpasar belum berjalan dengan semestinya karena peraturan

Adapun hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bentuk perlindungan hukum terhadap lessor dalam objek leasing apabila lessee wanprestasi adalah dilakukan

Skripsi ini mengangkat masalah tentang tanggung jawab maskapai penerbangan terhadap ganti kerugian atas hilangnya barang bagasi milik penumpang ditinjau

Serta dalam penulisan hukum ini tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang

Pertimbangan dalam penggunaan jenis penelitian ini dikarenakan obyek kajian yang diteliti menitikberatkan pada hal yang diamati dalam sektor kehidupan bermasyarakat, dalam

Sebagai perbandingan, di dalam KUH Perdata ini pada BAB XII Pasal 250 dinyatakan bahwa anak sah adalah anak yang dilahirkan atau dibesarkan selama perkawinan, memperoleh

Secara umum pajak adalah pungutan dari masyarakat oleh Negara (pemerintah) berdasarkan Undang-Undang yang bersifat dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib