PROFIL KINERJA PRAKTIK FARMASI KOMUNITAS/APOTEK
DI INDONESIA
Oleh:
Wiryanto, Urip Harahap, Karsono
Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan
ABSTRAK
Praktik farmasi komunitas/apotek di Indonesia dideskripsikan sebagai praktik yang tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dan kaidah-kaidah profesi. Mayoritas apoteker yang seharusnya menjadikan apotek sebagai tempat praktik, mencegah kemungkinan terjadinya drugs related problems dan medication error, lebih memilih tidak hadir setiap harinya. Obat dikelola lebih sebagai komoditas, obat keras dijual secara bebas tanpa resep dokter dan dilakukan oleh siapa saja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui profil kinerja praktik farmasi komunitas/apotek di Indonesia dengan berbagai permasalahan praktis di lapangan, sebagai baseline pembinaan dan pengawasan.
Penelitian dilakukan dengan metode survei, instrumen kuesioner diunggah secara
online di beberapa grup diskusi serta dikirim ke ± 800 alamat e-mail atau facebook calon responden, yaitu para apoteker praktisi farmasi komunitas/apotek. Data adalah identitas dan pilihan responden terhadap 2 atau 3 deskripsi kinerja skala tiga poin 0, 2, dan 4 pada setiap elemen standar. Kriteria kinerja setiap elemen standar ditentukan berdasarkan rerata poin penilaian, baik: ≥3,19; cukup: antara 2,13 hingga <3,19; kurang: antara 1,06 hingga <2,13; dan tidak layak: <1,06. Kriteria kinerja praktisi farmasi komunitas/apotek ditentukan berdasarkan poin kumulatif hasil penilaian kinerja sebagai berikut, baik: ≥150; cukup: antara 100 hingga <150; kurang: antara 50 hingga <100; dan tidak layak: <50.
Hasil survei menunjukkan bahwa profil kinerja praktik farmasi komunitas/apotek di Indonesia saat ini adalah sebagai berikut: Rerata penilaian poin kumulatif kinerja memberikan kriteria cukup, dengan kisaran poin kumulatif 40-176, terdiri kriteria tidak layak 1%, kurang 15%, cukup 54% dan baik 30%. Dua puluh empat koma lima persen apotek paling banyak menerima 5 lembar resep per hari dan 40,2% apotek paling tinggi mempunyai omset Rp.2.000.000,- per hari, lebih separoh apotek (54,9%) dimiliki PSA perorangan. Responden yang mengirim kuesioner dengan lengkap berjumlah 102 orang, 52% perempuan, 62% PNS, berasal dari 23 provinsi dan 15 perguruan tinggi farmasi, 61,8% setiap hari hadir di apotek, 60% paling tinggi mempunyai imbalan Rp.2.000.000,- per bulan, dan 21% sekaligus bertindak sebagai pemilik modal.
Kata kunci: survei, profil kinerja, kriteria mutu, standar praktik, farmasi komunitas/apotek.
PENDAHULUAN
Praktik farmasi komunitas/apotek di Indonesia dideskripsikan sebagai praktik yang
tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dan kaidah-kaidah profesi
(Ahaditomo, 2002; Anonim, 2002). Mayoritas apoteker yang seharusnya menjadikan
Seminar Nasional Farmasi, Medan, 29 September 2012
2 terjadinya masalah terkait obat (drugs related problems) dan kesalahan pengobatan
(medication error), lebih memilih tidak hadir setiap harinya. Tujuh puluh persen Apoteker
di Sumatera Utara tidak berada di apotek untuk memberikan pelayanan kefarmasian
(Anonim, 2008) dan 62,5% apoteker di kota Medan hanya hadir 1 kali dalam sebulan
(Wiryanto, 2009). Pelayanan kefarmasian yang ada lebih sebagai transaksi jual beli,
dimana apotek tak ubahnya seperti toko yang sekedar menjual komoditas bernama obat
tanpa standar mutu, tanpa standar SDM, tanpa standar sarana prasarana, dan tanpa standar
proses (Rubiyanto, 2010).
Deskripsi yang menyimpan berbagai permasalahan mendasar ini telah direspon oleh
dua institusi terkait, yaitu Kementerian Kesehatan RI dengan ditetapkannya Kepmenkes
No.1027/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (Menkes RI, 2004), dan
Organisasi Profesi IAI dengan dilaksanakannya proses Sertifikasi Kompetensi Profesi
Apoteker (SKPA) yang pada tahap awal melalui Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker
(PUKA). Penelitian tentang profil pelayanan kefarmasian di apotek setelah 5 tahun standar
pelayanan kefarmasian di apotek ditetapkan dan setelah 2 tahun dilaksanakannya PUKA di
kota Medan, menyimpulkan bahwa ternyata praktik farmasi komunitas/apotek masih
dilaksanakan sebagaiman tahun-tahun sebelumnya. Obat keras tetap dikelola sebagai
komoditas ekonomi yang seolah tanpa risiko kepada penggunanya, lebih banyak dijual
tanpa resep dokter dan dilakukan oleh siapa saja, demikian juga sikap dan perilaku
apoteker dalam menjalani kehidupan berprofesi, masih jauh dari sikap dan perilaku
profesional (Wiryanto, 2009).
Didorong oleh kebutuhan yang mendesak akan sebuah peraturan pelaksanaan,
terutama yang menyangkut syarat keahlian dan kewenangan bagi pelaksanaan pekerjaan
kefarmasian, pemerintah menetapkan PP No.51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian
(Presiden RI, 2009). Dengan ditetapkannya PP ini, diharapkan akan ada kepastian hukum
dalam merekonstruksi situasi dan kondisi, bagi terlaksananya proses revitalisasi praktik
farmasi komunitas/apotek. Dibutuhkan proses dan langkah-langkah pembinaan dan
pengawasan secara sistematis dan bertahap, oleh karena menyangkut berbagai aspek
kehidupan baik bagi komunitas profesi apoteker itu sendiri maupun bagi profesi-profesi
kesehatan lain, pemilik modal apotek serta masyarakat pengguna obat. Tujuan penelitian
ini adalah adanya profil kinerja praktik farmasi komunitas/apotek di Indonesia dengan
berbagai permasalahan praktis di lapangan, sebagai baseline dalam rangka memulai
Seminar Nasional Farmasi, Medan, 29 September 2012
3
METODE
Penelitian dilakukan dengan metode survei, menggunakan instrumen kuesioner
secara online, diunggah di beberapa grup diskusi apoteker serta dikirim langsung ke ± 800
alamat e-mail atau facebook calon responden, yaitu para apoteker penanggungjawab
apotek (APA) di Indonesia. Instrumen kuesioner disusun dari standar praktik farmasi
komunitas/apotek (Wiryanto et al, 2012) dilengkapi dengan 2 atau 3 deskripsi kinerja skala
tiga poin 0, 2, dan 4 pada setiap elemen standar. Data adalah identitas, pendapat/masukan
dan pilihan responden terhadap deskripsi kinerja pada setiap elemen standar. Kriteria
kinerja setiap elemen standar ditentukan berdasarkan rerata poin penilaian, baik: ≥3,19; cukup: antara 2,13 hingga <3,19; kurang: antara 1,06 hingga <2,13; dan tidak layak: <1,06.
Kriteria kinerja praktik farmasi komunitas/apotek ditentukan berdasarkan poin kumulatif
hasil penilaian sebagai berikut, baik: ≥150; cukup: antara 100 hingga <150; kurang: antara 50 hingga <100; dan tidak layak: <50.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Identitas Responden
Responden yang mengirimkan kembali kuesioner dengan lengkap berjumlah 102
orang dengan identitas sebagai berikut: Limapuluh dua persen adalah perempuan, secara
demografis mewakili 69,70% atau 23 dari 33 provinsi di Indonesia (Diagram 1.1) dan
mewakili 57,70% atau 15 dari 26 PTF penyelenggara PSPA (Diagram 1.2). Dari data dapat
dilihat bahwa pengambilan data melalui kuesioner sebagaimana yang dilakukan oleh
peneliti ternyata masih belum membudaya. Instrumen online yang disebar di 13 grup
diskusi yang masing-masing mempunyai anggota mulai dari puluhan hingga lebih dari
1.500 apoteker dan dikirim ke alamat langsung sebanyak ± 800 alamat e-mail atau
facebook apoteker, hanya 118 kuesioner yang kembali. Dari data juga dapat dilihat bahwa
keberhasilan pengumpulan kembali kuesioner sangat tergantung pada keberhasilan peneliti
membangun pertemanan disamping adanya hubungan emosional, dimana provinsi
mayoritas responden berdomisili adalah Jateng dan Sumut, serta alumni UGM dan USU,
sesuai dengan identitas peneliti yang merupakan alumni UGM, berasal dari Jateng, dan
saat ini bekerja sebagai dosen di Fakultas Farmasi USU, berdomisili di kota Medan,
Diagram 1.1. Distribusi domisili responden Diagram 1.2. Distribusi asal Perguruan Tinggi Farmasi responden
Data selanjutnya adalah meskipun hanya 20,59% APA yang sekaligus bertindak
sebagai pemilik modal (Diagram 1.3), dan 58,82% mempunyai pekerjaan lain selain APA
(Diagram 1.4), akan tetapi 61,80% APA setiap hari hadir di apotek (Diagram 1.5), ini
merupakan sebuah harapan besar bahwa lebih dari 60% responden mempunyai komitmen
kehadiran di apotek sebagai modal utama membangun profesi ini dengan baik, terlebih lagi
bahwa 63,81% responden adalah angkatan muda lulusan 12 tahun terakhir (Diagram 1.6),
merupakan generasi apoteker muda yang penuh harapan.
Diagram 1.3. Distribusi kepemilikan apotek
Diagram 1.5. Distribusi frekuensi kehadiran responden di apotek
Diagram 1.4. Distribusi pekerjaan lain responden selain APA
2. Kinerja Bisnis Apotek
Diagram 2.1 berikut adalah distribusi Imbalan yang diterima responden per bulan,
dapat dilihat bahwa 58,82% responden hanya menerima imbalan Rp.2.000.000,- atau
kurang dan 8,82% responden hanya menerima imbalan Rp.1.000.000,- atau kurang, suatu
imbalan yang tidak mencerminkan adanya masa depan, jauh dari kriteria layak bagi
seseorang yang dinyatakan sebagai profesional.
Diagram 2.1. Distribusi Imbalan yang diterima responden per bulan
Diagram 2.2. Distribusi Imbalan per bulan yang diharapkan responden
Data responden asal provinsi Sumut menunjukkan posisi lebih rendah dari data secara
nasional dimana responden yang menerima imbalan Rp.2.000.000,- atau kurang sebanyak
73,7% dan 10,3% responden hanya menerima imbalan Rp.1.000.000,- atau kurang,
meskipun PD IAI Sumatera Utara dan Pengurus Daerah Gabungan Perusahaan Farmasi
Sumatera Utara telah sepakat untuk memberikan imbalan minimum bulanan kepada APA
sebesar 2½ upah minimum provinsi (UMP) di luar THR, bonus tahunan, dan transport
harian. Untuk tahun 2011 UMP Provinsi Sumatera Utara adalah Rp.1.035.500,- dengan
demikian imbalan minimum bulanan adalah Rp.2.588.750,- (PD IAI Sumut, 2011).
Kondisi ini akan terasa lebih memprihatinkan ketika melihat hasil survei imbalan apoteker
di Amerika Serikat tahun 2011 (Anonim, 2012) dimana hanya sebanyak 6% dari 565
respondon yang menerima imbalan $70.000 atau kurang per tahun, selebihnya berada di
kisaran antara $71.000 hingga di atas $150.000, mayoritas (81%) berada di kisaran
$91.000 hingga $140.000. Dengan asumsi bahwa kurs $ adalah Rp.9.500,- dan minimal
imbalan per tahun $70.000, maka imbalan bulanan terendah di Amerika Serikat adalah
Rp.55.000.000,- Dari survei tentang imbalan bulanan yang diharapkan responden
(Diagram 2.2) ternyata hanya 1,96% yang merasa sudah sesuai dengan harapan, mayoritas
(59,80%) responden mengharapkan imbalan di atas Rp.2.000.000,- hingga Rp.5.000.000,-
suatu harapan yang sangat wajar dan sangat mungkin untuk dipenuhi. Untuk hal ini perlu
dicarikan sistem ataupun formula imbalan yang sesuai, bukan semata terkait dengan
kehadiran apoteker di apotek, tetapi lebih mencerminkan pada apa yang apoteker kerjakan
Seminar Nasional Farmasi, Medan, 29 September 2012
6 apoteker membangun komitmen berprofesi dengan baik, menghasilkan pelayanan
kefarmasian yang aman, bermutu, dan terjangkau. Terkait masalah ini, pendapat/masukan
dari responden dapat disarikan sebagai berikut:
1) Mayoritas apoteker dalam keadaan tidak berdaya, bukannya tidak mau bersikap
profesional, tetapi situasi dan kondisi tidak mendukung untuk itu
2) Para apoteker tidak mempunyai sikap profesional untuk hanya bersedia sebagai APA
apabila imbalan minimum sesuai standar
3) Komitmen dan konsistensi kehadiran mayoritas apoteker sangat rendah,
keberadaannya tidak pernah dicari terutama oleh masyarakat pengguna obat
4) Pemerintah seolah tidak perduli terhadap rendahnya kualitas pelayanan, sehingga
belum ada campur tangan secara sistematis dan berkesinambungan dalam pembinaan
dan pengawasan kinerja APA
5) IAI sebagai satu-satunya organisasi profesi belum mampu memperjuangkan dan
melakukan advokasi hak anggotanya sesuai AD/ART
Diagram 2.3 dan 2.4 berikut adalah data distribusi rata-rata jumlah lembar resep per
hari dan distribusi harga rata-rata per lembar resep. Dari diagram 2.3 dapat dilihat bahwa
61,77% apotek rata-rata hanya menerima 20 lembar resep atau kurang per hari, dan sekitar
25% apotek rata-rata hanya menerima 5 lembar resep atau kurang, sebuah volume
pekerjaan yang terlampau kecil untuk harus dikerjakan dalam kurun waktu lebih dari 12
jam kerja.
Diagram 2.3. Distribusi rata-rata jumlah lembar resep per hari
Diagram 2.4. Distribusi harga rata-rata per lembar resep
Selanjutnya dari diagram 2.5 dapat dilihat bahwa 40,20% apotek mempunyai omset
rata-rata Rp.2.000.000,- atau kurang per hari. Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa
pada indeks penjualan 1,15 titik impas apotek adalah Rp.2.079.601,- per hari (Wiryanto,
2010), maka apotek dengan omset Rp.2.000.000,- per hari sulit diharapkan untuk dapat
Seminar Nasional Farmasi, Medan, 29 September 2012
7 Diagram 2.5. Distribusi omset apotek per hari
Apabila dihubungkan data-data pada diagram 2.3, 2.4 dan 2.5 diketahui bahwa
71,88% apotek hanya mempunyai omset dari pelayanan resep kurang dari 50%.
Kecenderungan penggunaan obat tanpa resep atau swamedikasi menjadi semakin besar,
maka menjadi tugas berat bagi profesi apoteker untuk memastikan bahwa setiap
penggunaan obat senantiasa sesuai indikasi, efektif dan aman meskipun tanpa resep dokter.
3. Kinerja praktik farmasi komunitas/apotek
Kriteria kinerja praktik farmasi komunitas/apotek ditentukan berdasarkan poin
kumulatif hasil penilaian terhadap 47 elemen kinerja yang terbagi ke dalam 5 aspek
standar: aspek profesionalisme terdiri dari 19 elemen kinerja, aspek manajerial terdiri dari
9 elemen kinerja, aspek dispensing terdiri dari 5 elemen kinerja, aspek asuhan kefarmasian
terdiri dari 9 elemen kinerja, dan aspek pelayanan kesehatan masyarakat terdiri dari 2
elemen kinerja. Tabel 3.1 berikut adalah rerata poin penilaian dan kriteria kinerja praktik
farmasi komunitas/apotek berdasarkan aspek standar. Dapat dilihat bahwa kinerja praktik
farmasi komunitas/apotek berdasarkan aspek standar menghasilkan rerata poin penilaian
sebesar 2,90 (berada dalam kisaran 2,13 hingga <3,19) atau termasuk dalam kriteria cukup.
Ditinjau dari masing-masing aspek standar, ternyata aspek Asuhan Kefarmasian dan
Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Kesmas) mempunyai rerata poin paling rendah,
menunjukkan bahwa kedua aspek ini masih jarang atau belum dilakukan. Rendahnya rerata
poin Asuhan Kefarmasian juga mengindikasikan bahwa pelayanan kefarmasian masih
cenderung berorientasi produk, belum bergeser ke orientasi pasien sebagaimana
seharusnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Cordina at al (2008),
dimana para responden memberi skor yang relatif tinggi pada aktivitas yang berkaitan
dengan manajemen dan dispensing apotek, mengindikasikan bahwa mereka merasa relatif
nyaman dan kompeten untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan
banyak fungsi tradisional para apoteker, dan tidak sepenuhnya meyakini bahwa aktivitas
Asuhan Kefarmasian merupakan tanggungjawab para apoteker dan masih agak jauh dari
Seminar Nasional Farmasi, Medan, 29 September 2012
8 Tabel 3.1. Rerata poin penilaian dan kriteria kinerja praktik farmasi komunitas/apotek
ASPEK STANDAR RERATA POIN ASPEK
laba (spider web), dimana garis warna merah merupakan poin kinerja hasil penilaian dan
garis warna biru merupakan kinerja ideal. Melalui diagram ini dapat dilihat dengan mudah
bahwa sepanjang garis warna merah belum berimpit dengan garis warna biru, maka kinerja
praktik farmasi komunitas/apotek masih belum mencapai kriteria ideal.
Diagram 3.1. Gambaran kinerja praktik farmasi komunitas/apotek
Tabel 3.2 berikut adalah kriteria kinerja praktik farmasi komunitas/apotek berdasarkan rerata poin kumulatif penilaian hasil pengisian kuesioner. Dapat dilihat bahwa kinerja praktik farmasi komunitas/apotek hasil pengisian kuesioner menghasilkan rerata poin kumulatif penilaian sebesar 132 (berada dalam kisaran 100 hingga <150) atau termasuk dalam kriteria cukup.
Tabel 3.2. Rerata poin kumulatif dan kriteria kinerja praktik farmasi komunitas/apotek
ASPEK STANDAR RERATA POIN KUMULATIF KRITERIA
1 Profesionalisme 58
Selanjutnya diagram 3.2 berikut adalah distribusi kriteria kinerja praktik farmasi
komunitas/apotek hasil pengisian 102 kuesioner. Dapat dilihat bahwa hanya 1%
Seminar Nasional Farmasi, Medan, 29 September 2012
9 praktik farmasi komunitas/apotek dengan kedua kriteria kinerja ini, dalam proses
pembinaan dan pengawasan harus diberikan peringatan dan diberikan waktu untuk
memperbaiki kinerja. Apabila pada batas watu yang ditentukan belum juga menunjukkan
perbaikan, maka pemberi izin sarana atau dalam hal ini adalah Dinkes Kota/Kabupaten
harus mengeluarkan surat keputusan penghentian sementara kegiatan (PSK) sampai
dengan pencabutan izin, utamanya bagi yang mempunyai kriteria tidak layak. Untuk proses
pembinaan seperti ini hendaknya diumumkan secara terbuka melalui media massa agar
diketahui publik.
Diagram 3.2. Distribusi kriteria kinerja praktik farmasi komunitas/apotek
KESIMPULAN
Berdasarkan pengisian kuesioner secara online tanpa dilakukan verifikasi, profil
kinerja praktik farmasi komunitas/apotek di Indonesia terbagi ke dalam berbagai kriteria
kinerja sebagai berikut: 1% tidak layak, 15% kurang, 54% cukup, dan 30% baik. Praktik
farmasi komunitas/apotek di Indonesia masih jauh dari apa yang dikatakan sebagai
aktivitas profesional, cenderung masih didominasi oleh aktivitas yang berorientasi produk,
belum bergeser ke aktivitas yang berorientasi pasien. Situasi dan kondisi penyelenggaraan
praktik farmasi komunitas/apotek menyangkut 5 aspek standar masih harus terus dibenahi
melalui sebuah model pembinaan dan pengawasan secara sistematis, bertahap dan lebih
profesional oleh seluruh jajaran Kementerian Kesehatan dan Organisasi Profesi IAI.
DAFTAR PUSTAKA
Seminar Nasional Farmasi, Medan, 29 September 2012
10 Anonim, 2002, Disesalkan Apotek Berubah Jadi Toko Obat di Lhokseumawe, Harian
Waspada, Medan, 10 September 2002.
Anonim, 2008, Tujuhpuluh persen Apoteker Tidak Berada di Apotek, Harian Waspada, Medan, 31 Mei 2008.
Anonim, 2012, Pharmacist Salary Guide, http://pharmacistsalaryguide.com/ diakses September 2012
Cipole, RJ., Strand, LM., Morley, PC, 1998, Pharmaceutical Care Practice, The McGraw-Hill Companies, Inc., The United States of America.
Cordina, M., Safta, V., Ciobanu, A., Sautenkova, N., 2008, Anassessment of community
pharmacists’ attitudes towards professional practice in the Republic of Moldova, Pharmacy Practice 2008, Jan-Mar;6(1):1-8.
Menteri Kesehatan RI, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1027/Menkes/ SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Departemen Kesehatan RI., Jakarta.
PD IAI Sumut, 2011, Suarat Edaran No. 027/PD.IAI/SUMUT/V/2011 tentang Imbalan Minimum Bulanan.
Presiden RI, 2009, Peraturan Pemerintah RI No.51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, Lembaran Negara RI No.5044.
Rubiyanto, N., 2010, Rekonstruksi Profesi Apoteker: Sebuah Upaya membuat Peta Jalan Menuju Apoteker sebagai Tenaga Kesehatan, [diakses 6 Februari 2011]
www.ikatanapotekerindonesia.net/artikel-a-konten/intermezzo/1540-rekonstruksi-profesi-apoteker.html
Wiryanto, 2009, Kompetensi Apoteker dan Profil Pelayanan Kefarmasian di Apotek Pasca PUKA Di Kota Medan, Makalah disampaikan pada Kongres Ilmiah ISFI XVII, Jakarta, 7-8 Desember 2009.