• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPONDILITIS TUBERKULOSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SPONDILITIS TUBERKULOSA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

SPONDILITIS TUBERKULOSA SPONDILITIS TUBERKULOSA

A.

A. DefiniDefinisisi

Spon

Spondilitdilitis is tubertuberkulokulosa sa atau atau tuberktuberkulosiulosis s tulantulang g belakabelakang ng adalah adalah peradperadanganangan granulomatosa  

granulomatosa   yg  yg   bersifat  bersifat   kronis kronis destruktif  destruktif   olehMycobacterium   tuberculosisMycobacterium   tuberculosisoleh .. Dikenal pula dengan nama

Dikenal pula dengan nama Pottd s disease of the spinePottd s disease of the spine atau tuberculous vertebralatau tuberculous vertebral osteomyelitis.  Spondilitis  ini  

osteomyelitis.  Spondilitis  ini   paling  sering  ditemukan  paling  sering  ditemukan   pada  vertebra T8  -  L3.pada  vertebra T8  -  L3. Spondilitis   tuberkulos

Spondilitis   tuberkulosis   biasanya  is   biasanya   mengenai   korpus   vertebra,   tetapi  mengenai   korpus   vertebra,   tetapi   jarangjarang menyerang arkus vertebrae

menyerang arkus vertebrae

B.

B. FisioFisiologilogi

pada vertebra abses berekspansi di sepanjang ligamen pada vertebra abses berekspansi di sepanjang ligamen

cceerrvviiccaal l TThhoorraakkaal l LLuummbbaall

A

Absbsees s fafariringngeeal al memembmbeentntuk uk mamasssa sa memenononjnjool l memengngikikututi i M. M. PsPsoaoass &

& ffuussiiffoorrm m kkrriisstta a iilliiaakkaa

Tr

Traaceceaa, , EsEsopopagagus us memenenekakan n memedudulllla a spspininaalilis s didibwbwh h lilig g ininguguininaall ccaavvuum m pplleeuurra a bbaaggiiaan n mmeeddiiaal l ppaahhaa

p

paarraapplleeggiia a ccoolld d aabbsseess

C.

C. EtiolEtiologiogi

Penyakit ini disebabkan oleh karena bakteri berbentuk basil (basilus). Bakteri Penyakit ini disebabkan oleh karena bakteri berbentuk basil (basilus). Bakteri yang   paling   sering   menjadi   penyebabnya   adalah

yang   paling   sering   menjadi   penyebabnya   adalahMycobacterium tuberculosisMycobacterium tuberculosis,, walaupun spesies

walaupun spesies MycobacteriumMycobacterium yang lainpun dapat juga bertanggung jawab sebagaiyang lainpun dapat juga bertanggung jawab sebagai penyebabnya, seperti

penyebabnya, seperti MycobacteMycobacterium rium africanumafricanum (penyebab paling sering tuberkulosa(penyebab paling sering tuberkulosa di Afrika Barat),

di Afrika Barat), bovine tubercle baccilusbovine tubercle baccilus, ataupun, ataupun non-tubercnon-tuberculous ulous mycobactemycobacteriaria (banyak ditemukan pada penderita HIV). Perbedaan jenis spesies ini menjadi penting (banyak ditemukan pada penderita HIV). Perbedaan jenis spesies ini menjadi penting karena sangat mempengaruhi pola resistensi obat.

(2)

Mycobacterium   tuberculosis merupakan   bakteri   berbentuk   batang   yang bersifat acid-fastnon-motile dan tidak dapat diwarnai dengan baik melalui cara yang

konvensional.  Dipergunakan  teknik   Ziehl-Nielson   untuk memvisualisasikannya. Bakteri tubuh secara lambat dalam media egg-enriched dengan periode 6-8 minggu.

Produksi niasin merupakan karakteristik Mycobacterium  tuberculosis  dan dapat membantu untuk membedakannnya dengan spesies lain.

D. Klasifikasi

Perjalanan penyakit spondilitis tuberkulosa terdiri dari lima stadium yaitu:

1) Stadium implantasi

Setelah bakteri berada dalam tulang, apabila daya tahan tubuh penderita menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama 6-8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan pada anak-anak pada daerah sentral vertebra.

2) Stadium destruksi awal

Selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra dan penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3-6 minggu.

3) Stadium destruksi lanjut

Pada stadium ini terjadi destruksi yang massif, kolaps vertebra, dan terbentuk  massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses, yang tejadi 2-3 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum dan kerusakan diskus intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di depan (wedging anterior)  akibat kerusakan korpus vertebra  sehingga menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus.

4) Stadium gangguan neurologis

Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi tetapi ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis yang kecil sehingga gangguan neurologis lebih

(3)

mudah terjadi di daerah ini. Apabila terjadi gangguan neurologis, perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia yaitu:

i. Derajat I

Kelemahan   pada   anggota   gerak   bawah   setelah   beraktivitas   atau berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensoris.

ii. Derajat II

Kelemahan pada anggota gerak bawah tetapi penderita masih dapat melakukan pekerjaannya.

iii. Derajat III

Kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak atau aktivitas penderita disertai dengan hipoestesia atau anestesia.

iv. Derajat IV

Gangguan   saraf   sensoris   dan   motoris   disertai   dengan   gangguan defekasi dan miksi. TBC paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi

secara dini atau lambat tergantung dari keadaan penyakitnya. Pada

penyakit   yang   masih   aktif,   paraplegia   terjadi   karena   tekanan ekstradural dari abses paravertebral atau kerusakan langsung sumsum

tulang  belakang  oleh  adanya   granulasi  jaringan.  Paraplegia   pada penyakit yang tidak aktif atau sembuh terjadi karena tekanan pada

jembatan tulang kanalis spinalis atau pembentukan jaringan fibrosis yang progresif dari jaringan granulasi tuberkulosa. TBC paraplegia terjadi secara perlahan dan dapat terjadi destruksi tulang disertai dengan angulasi dan gangguan vaskuler vertebra

5) Stadium deformitas residua

Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah stadium implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen karena kerusakan vertebra yang massif di depan (Savant, 2007).

(4)

Gambaran klinis spondilitis tuberkulosa yaitu:

a. Badan lemah, lesu, nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun.

b. Suhu subfebril terutama pada malam hari dan sakit (kaku) pada punggung. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari.

c. Pada awal dijumpai nyeri interkostal, nyeri yang menjalar dari tulang belakang ke garis tengah atas dada melalui ruang interkostal. Hal ini disebabkan oleh tertekannya radiks dorsalis di tingkat torakal.

d. Nyeri spinal menetap dan terbatasnya pergerakan spinal

e. Deformitas pada punggung (gibbus)

f. Pembengkakan setempat (abses)

g. Adanya proses tbc (Tachdjian, 2005).

Kelainan neurologis yang terjadi pada 50 % kasus spondilitis tuberkulosa karena proses destruksi lanjut berupa:

a. Paraplegia, paraparesis, atau nyeri radix saraf akibat penekanan medula spinalis yang menyebabkan kekakuan pada gerakan berjalan dan nyeri.

b. Gambaran paraplegia inferior kedua tungkai yang bersifat UMN dan adanya batas defisit sensorik setinggi tempat gibbus atau lokalisasi nyeri interkostal (Tachdjian, 2005).

F. Patofisiologi

Kuman yg “bangun” kembali dari paru-paru akan menyebar mengikuti aliran darah ke pembuluh tulang belakang dekat dengan ginjal. Kuman berkembang biak  umumnya di tempat aliran darah yg menyebabkan kuman berkumpul banyak (ujung pembuluh). Terutama di tulang belakang, di sekitar tulang thorakal (dada) dan lumbal (pinggang) kuman bersarang. Kemudian kuman tersebut akan menggerogoti badan tulang belakang, membentuk kantung nanah (abses) yg bisa menyebar sepanjang otot

(5)

pinggang sampai bisa mencapai daerah lipat paha. Dapat pula memacu terjadinya deformitas.

Gejala awalnya adalah perkaratan, umumnya disebut pengapuran tulang belakang, sendi-sendi bahu, lutut, panggul. Tulang rawan ini akan terkikis menipis hingga tak lagi berfungsi. Persendian terasa kaku dan nyeri, kerusakan pada tulang rawan sendi, pelapis ujung tulang yg berfungsi sebagai bantalan dan peredam kejut bila dua ruang tulang berbenturan saat sendi digerakkan. Terbentuknya abses dan badan tulang belakang yg hancur, bisa menyebabkan tulang belakang jadi kolaps dan miring ke arah depan. Kedua hal ini bisa menyebabkan penekanan syaraf-syaraf 

sekitar  tulang  belakang  yg  mengurus  tungkai bawah,  sehingga  gejalanya  bisa kesemutan, baal-baal, bahkan bisa sampai kelumpuhan. Badan tulang belakang yg

kolaps dan miring ke depan menyebabkan tulang belakang dapat diraba dan menonjol di belakang dan nyeri bila tertekan, sering sebut sebagai gibbus Bahaya yg terberat

adalah  kelumpuhan  tungkai bawah, karena penekanan  batang  syaraf  di  tulang belakang yg dapat disertai lumpuhnya syaraf yg mengurus organ yang lain, seperti

saluran kencing dan anus (saluran pembuangan).

Tuberkulosis tulang adalah suatu proses peradangan yg kronik dan destruktif  yg disebabkan basil tuberkulosis yangg menyebar secara hematogen dari fokus jauh, dan hampir selalu berasal dari paru-paru. Penyebaran basil ini dapat terjadi pada waktu infeksi pri-mer atau pasca primer. Penyakit ini sering ter-jadi pada anak-anak. Basil tuberkulosis biasanya menyangkut dalam spongiosa tulang. Pada tempat infeksi timbul osteitis, kaseasi clan likuifaksi dengan pembentukan pus yg kemudian dapat mengalami kalsifikasi. Berbeda dengan osteomielitis piogenik, maka pembentukan tulang baru pada tuberkulosis tulang sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Di samping itu, periostitis dan sekwester hampir tidak ada. Pada tuberkulosis tulang ada kecenderungan terjadi perusakan tulang rawan sendi atau diskus intervertebra.

Dari   pemeriksaan   fisik   Pada   pemeriksaan   refleks fisiologis   normal. Ditemukan   hipestesia   (raba)   setinggi   VT6.   Tidak ditemukan  adanya  refleks patologis. Pada pemeriksaan nervi cranialis tidak ditemukan adanya kelainan.

Infeksi primer 

Hematogen

(6)

Hiperemi, Eksudasi

Osteoporosis & Perlunakan Korpus

Kerusakan Kortek Epifise, Discus Intervertebralis

& Vertebra sekitarnya

Anterior Vertebra Colapse

Kifosis

Gybus

G. Pemeriksaan Fisik 

Anamnesa dan inspeksi :

1. Gambaran adanya penyakit sistemik : kehilangan berat badan, keringat malam, demam yang berlangsung secara intermitten terutama sore dan malam hari serta cachexia. Pada pasien anak-anak, dapat juga terlihat berkurangnya keinginan bermain di luar rumah. Sering tidak tampak jelas pada pasien yang cukup gizi sementara pada pasien dengan kondisi kurang gizi, maka demam (terkadang demam tinggi), hilangnya berat badan dan berkurangnya nafsu makan akan terlihat dengan jelas.

2. Adanya riwayat batuk lama (lebih dari 3 minggu) berdahak atau berdarah disertai

nyeri  dada.  Pada  beberapa   kasus  di  Afrika  terjadi   pembesaran  dari  nodus limfatikus, tuberkel di subkutan, dan pembesaran hati dan limpa.

3. Nyeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri yang menjalar. Infeksi yang mengenai tulang servikal akan tampak sebagai nyeri di daerah

telingan   atau   nyeri   yang   menjalar   ke   tangan.   Lesi   di   torakal   atas   akan menampakkan nyeri yang terasa di dada dan intercostal. Pada lesi di bagiatorakal n

bawah maka nyeri dapat berupa nyeri menjalar ke bagian perut. Rasa nyeri ini hanya menghilang dengan beristirahat. Untuk mengurangi nyeri pasien akan menahan punggungnya menjadi kaku.

(7)

4. Pola   jalan   merefleksikan   rigiditas   protektif  dari   tulang   belakang.   Langkah kakipendek, karena mencoba menghindari nyeri di punggung.

5. Bila  infeksi  melibatkan  area  servikal  maka  pasien  tidak  dapat  menolehkan kepalanya, mempertahankan kepala dalam posisi ekstensi dan duduk dalam posisi

dagu disangga oleh satu tangannya, sementara tangan lainnya di oksipital. Rigiditas pada leher dapat bersifat asimetris sehingga menyebabkan timbulnya gejala klinis torticollis. Pasien juga mungkin mengeluhkan rasa nyeri di leher atau bahunya. Jika terdapat abses, maka tampak pembengkakan di kedua sisi leher. Abses yang besar, terutama pada anak, akan mendorong trakhea ke sternal notch sehingga akan

menyebabkan   kesulitan   menelan   dan   adanya   stridor   respiratoar,   sementara kompresi medulla spinalis pada orang dewasa akan menyebabkan tetraparesis (Hsu

dan Leong 1984). Dislokasi atlantoaksial karena tuberkulosa jarang terjadi dan merupakan salah satu penyebab kompresi cervicomedullary di negara yang sedang berkembang. Hal ini perlu diperhatikan karena gambaran klinisnya serupa dengan tuberkulosa di regio servikal (Lal et al. 1992).

6. Infeksi di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku. Bila berbalik ia menggerakkan kakinya, bukan mengayunkan dari sendi panggulnya.

Saat   mengambil   sesuatu   dari   lantai   ia   menekuk   lututnya   sementara   tetap mempertahankan punggungnya tetap kaku (coin test). Jika terdapat abses, maka

abses dapat berjalan di bagian kiri atau kanan mengelilingi rongga dada dan tampak sebagai pembengkakan lunak dinding dada. Jika menekan abses ini berjalan ke bagian belakang maka dapat menekan korda spinalis dan menyebabkan paralisis.

7. Di regio lumbar : abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang terjadi di atas atau di bawah lipat paha. Jarang sekali pus dapat keluar melalui fistel dalam pelvis dan mencapai permukaan di belakang sendi panggul. Pasien tampak 

berjalan  dengan  lutut   dan  hip  dalam   posisi  fleksi  dan   menyokong  tulang belakangnya dengan meletakkan tangannya diatas paha. Adanya kontraktur otot

psoas akan menimbulkan deformitas fleksi sendi panggul.

8. Tampak   adanya   deformitas,  dapat   berupa   :   kifosis  (gibbus/angulasi   tulang belakang), skoliosis, bayonet deformity, subluksasi, spondilolistesis, dan dislokasi.

9. Adanya gejala dan tanda dari kompresi medula spinalis (defisit neurologis). Terjadi pada kurang lebih 10-47% kasus. Insidensi paraplegia pada spondilitis lebih banyak di temukan pada infeksi di area torakal dan servikal. Jika timbul paraplegia

(8)

akan tampak spastisitas dari alat gerak bawah dengan refleks tendon dalam yang hiperaktif, pola jalan yang spastik dengan kelemahan motorik yang bervariasi. Dapat pula terjadi gangguan fungsi kandung kemih dan anorektal.

10. Pembengkakan di sendi yang berjalan lambat tanpa disertai panas dan nyeri akut seperti pada infeksi septik. Onset yang lambat dari pembengkakan tulang ataupun sendi mendukung bahwa hal tersebut disebabkan karena tuberkulosa

Palpasi :

1. Bila terdapat abses maka akan teraba massa yang berfluktuasi dan kulit diatasnya terasa sedikit hangat (disebut cold abcess, yang membedakan dengan abses piogenik yang teraba panas). Dapat dipalpasi di daerah lipat paha, fossa iliaka, retropharynx, atau di sisi leher (di belakang otot sternokleidomastoideus), tergantung dari level lesi. Dapat juga teraba di sekitar dinding dada. Perlu diingat bahwa tidak ada hubungan antara ukuran lesi destruktif dan kuantitas pus dalam cold abscess.

2. Spasme  otot  protektif  disertai  keterbatasan  pergerakan  di  segmen  yang terkena.

Perkusi :

Pada perkusi secara halus atau pemberian tekanan diatas prosesus spinosus vertebrae yang terkena, sering tampak tenderness

H. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium :

1.1 Laju endap darah meningkat (tidak spesifik), dari 20 sampai lebih dari 100mm/jam.

1.2 Tuberculin skin test / Mantoux test / Tuberculine Purified Protein Derivative (PPD) positif. Hasil yang positif dapat timbul pada kondisi pemaparan dahulu maupun yang baru terjadi oleh mycobacterium. Tuberculin skin test ini dikatakan positif jika tampak area berindurasi, kemerahan dengan diameter ≥ 10mm di sekitar tempat suntikan 48-72 jam setelah suntikan. Hasil yang negatif tampak pada ± 20% kasus (Tandon and Pathak 1973; Kocen 1977)

(9)

immunitas selulernya tertekan (seperti baru saja terinfeksi, malnutrisi atau disertai penyakit lain)

1.3 Kultur urin pagi (membantu bila terlihat adanya keterlibatan ginjal), sputum dan bilas lambung (hasil positif bila terdapat keterlibatan paruparu yang aktif)

1.4 Apus darah tepi menunjukkan leukositosis dengan limfositosis yang bersifat relatif.

1.5 Tes darah untuk titer anti-staphylococcal dan anti-streptolysin haemolysins, typhoid, paratyphoid dan brucellosis (pada kasus-kasus yang sulit dan pada pusat kesehatan dengan peralatan yang cukup canggih) untuk menyingkirkan diagnosa banding.

1.6 Cairan   serebrospinal   dapat   abnormal   (pada   kasus  dengan   meningitis tuberkulosa).   Normalnya   cairan   serebrospinal   tidak   mengeksklusikan kemungkinan infeksi TBC. Pemeriksaan cairan serebrospinal secara serial

akan memberikan hasil yang lebih baik. Cairan serebrospinal akan tampak:

• Xantokrom

• Bila dibiarkan pada suhu ruangan akan menggumpal.

• Pleositosis (dengan dominasi limfosit dan mononuklear). Pada tahap akut

responnya bisa berupa neutrofilik seperti pada meningitis piogenik (Kocen and Parsons 1970; Traub et al 1984).

• Kandungan protein meningkat.

• Kandungan gula normal pada tahap awal tetapi jika gambaran klinis sangat

kuat mendukung diagnosis, ulangi pemeriksaan.

• Pada keadaan arachnoiditis tuberkulosa (radiculomyelitis), punksi lumbal

akan menunjukkan genuine dry tap. Pada pasien ini adanya peningkatan

bertahap  kandungan  protein  menggambarkan  suatu  blok   spinal  yang mengancam dan sering diikuti dengan kejadian paralisis. Pemberian steroid

(10)

serebrospinal dalam kondisi spinal terblok spinal dapat mencapai 1-4g/100ml.

• Kultur   cairan   serebrospinal.   Adanya   basil   tuberkel   merupakan   tes

konfirmasi   yang   absolut   tetapi   hal   ini   tergantung   dari   pengalaman pemeriksa dan tahap infeksi.

2. Radiologis :

Gambarannya bervariasi tergantung tipe patologi dan kronisitas infeksi.

• Foto rontgen dada dilakukan pada seluruh pasien untuk mencari bukti adanya

tuberkulosa di paru (2/3 kasus mempunyai foto rontgen yang abnormal).

• Foto polos seluruh tulang belakang juga diperlukan untuk mencari bukti

adanya tuberkulosa di tulang belakang. Tanda radiologis baru dapat terlihat setelah 3-8 minggu onset penyakit.

• Jika mungkin lakukan rontgen dari arah antero-posterior dan lateral.

• Tahap awal tampak lesi osteolitik di bagian anterior superior atau sudut

inferior corpus vertebrae, osteoporosis regional yang kemudian berlanjut sehingga tampak penyempitan diskus intervertebralis yang berdekatan, serta erosi corpus vertebrae anterior yang berbentuk scalloping karena penyebaran infeksi dari area subligamentous.

• Infeksi tuberkulosa jarang melibatkan pedikel, lamina, prosesus transversus

atau prosesus spinosus.

• Keterlibatan bagian lateral corpus vertebra akan menyebabkan timbulnya

deformita scoliosis (jarang)

• Pada pasien dengan deformitas gibbus karena infeksi sekunder tuberkulosa

yang sudah lama akan tampak tulang vertebra yang mempunyai rasio tinggi lebih besar dari lebarnya (vertebra yang normal mempunyai rasio lebar lebih besar terhadap tingginya). Bentuk ini dikenal dengan nama long vertebra atau tall vertebra, terjadi karena adanya stress biomekanik yang lama di bagian kaudal gibbus sehingga vertebra menjadi lebih tinggi. Kondisi ini banyak 

(11)

terlihat pada kasus tuberkulosa dengan pusat pertumbuhan korpus vertebra yang belum menutup saat terkena penyakit tuberkulosa yang melibatkan vertebra torakal.

• Dapat terlihat keterlibatan jaringan lunak, seperti abses paravertebral dan

psoas. Tampak  bentuk  fusiform  atau  pembengkakan  berbentuk  globular  dengan kalsifikasi. Abses psoas akan tampak sebagai bayangan jaringan lunak 

yang mengalami peningkatan densitas dengan atau tanpa kalsifikasi pada saat penyembuhan. Deteksi (evaluasi) adanya abses epidural sangatlah penting, oleh karena merupakan salah satu indikasi tindakan operasi (tergantung ukuran abses).

3. Computed Tomography – Scan (CT)

Terutama bermanfaat untuk memvisualisasi regio torakal dan keterlibatan iga yang sulit dilihat pada foto polos. Keterlibatan lengkung syaraf posterior  seperti pedikel tampak lebih baik dengan CT Scan.

4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Mempunyai manfaat  besar untuk membedakan  komplikasi yang bersifat kompresif dengan yang bersifat non kompresif pada tuberkulosa tulang belakang. Bermanfaat untuk :

• Membantu  memutuskan  pilihan  manajemen  apakah  akan  bersifat

konservatif atau operatif.

• Membantu menilai respon terapi.

Kerugiannya adalah dapat terlewatinya fragmen tulang kecil dan kalsifikasi di

abses.

5. Neddle biopsi / operasi eksplorasi (costotransversectomi) dari lesi spinal mungkin diperlukan pada kasus yang sulit tetapi membutuhkan pengalaman

dan  pembacaan  histologi   yang  baik  (untuk  menegakkan   diagnosa  yang absolut)(berhasil pada 50% kasus)

(12)

6. Diagnosis   juga   dapat   dikonfirmasi   dengan   melakukan   aspirasi   pus paravertebral   yang   diperiksa   secara   mikroskopis   untuk   mencari   basil tuberkulosa dan granuloma, lalu kemudian dapat diinokulasi di dalam guinea

babi.

I. Penatalaksanaan Umum

Pada prinsipnya pengobatan spondilitis tuberkulosa harus dilakukan segera untuk  menghentikan progresivitas penyakit dan mencegah atau mengkoreksi paraplegia atau defisit neurologis. Prinsip pengobatan Pottds paraplegia yaitu:

1. Pemberian obat antituberkulosis.

2. Dekompresi medula spinalis.

3. Menghilangkan atau menyingkirkan produk infeksi.

4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft) (Graham, 2007).

Pengobatan pada spondilitis tuberkulosa terdiri dari: 1. Terapi konservatif 

a.Tirah baring (bed rest).

b.Memberi korset yang mencegah atau membatasi gerak vertebra. c.Memperbaiki keadaan umum penderita.

d. Pengobatan antituberkulosa.

Standar pengobatan berdasarkan program P2TB paru yaitu: i. Kategori I untuk penderita baru BTA (+/-) atau rontgen (+).

a. Tahap 1 diberikan Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg, dan Pirazinamid 1.500 mg setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali).

b. Tahap 2 diberikan Rifampisin 450 mg dan INH 600 mg 3 kali seminggu selama 4 bulan (54 kali).

ii. Kategori II untuk penderita BTA (+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan, termasuk penderita yang kambuh.

1. Tahap 1 diberikan Streptomisin 750 mg, INH 300 mg, Rifampisin 450

(13)

Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali).

2. Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg, dan Etambutol 1250 mg 3 kali seminggu selama 5 bulan (66 kali).

Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita bertambah baik, LED menurun dan menetap, gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang, serta gambaran radiologis ditemukan adanya union pada vertebra.

2. Terapi operatif 

a. Apabila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat. Biasanya 3 minggu sebelum operasi, penderita diberikan obat tuberkulostatik.

b. Adanya  abses  yang  besar  sehingga  diperlukan  drainase  abses  secara terbuka, debrideman, dan bone graft.

c. Pada pemeriksaan radiologis baik foto polos, mielografi, CT, atau MRI ditemukan adanya penekanan pada medula spinalis (Ombregt, 2005).

Walaupun   pengobatan   kemoterapi   merupakan   pengobatan   utama   bagi penderita spondilitis tuberkulosa tetapi operasi masih memegang peranan

penting dalam beberapa hal seperti apabila terdapat cold absces (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia, dan kifosis.

a. Cold absces

Cold absces yang kecil tidak memerlukan operasi karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik. Pada abses yang besar  dilakukan drainase bedah.

b. Lesi tuberkulosa

1) Debrideman fokal.

2) Kosto-transveresektomi.

3) Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan. c. Kifosis

1) Pengobatan dengan kemoterapi. 2) Laminektomi.

3) Kosto-transveresektomi. 4) Operasi radikal.

(14)

5) Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang.

Operasi   kifosis   dilakukan   apabila   terjadi   deformitas   hebat.   Kifosis bertendensi untuk bertambah berat, terutama pada anak. Tindakan operatif berupa

fusi posterior atau operasi radikal (Graham, 2007)

(15)

\

\

K. Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Kep NOC NIC

1.

2.

Hambatan mobilitas fisik b/d kerusakan neuromuskuler 

Nyeri b/d proses peradangan

Dapat melakukan ambulasi : berjalan Ada pergerakan sendi dan otot

Menunjukkan

penggunaan alat bantu scr benar dg pengawasan Pasien akan menunjukkan teknik  relaksasi yg efektif  N teknik  ambulasidan perpindahan yang aman

Rujuk ke ahli terapi fisik untuk program latihan

Berikan penguatan positif selama aktivitas

Gunakan laporan dari pasien sendiri utk 

(16)

3. Resiko kerusakan integritas kulit

b/d imobilisasi fisik 

Mempertahankan tingkat nyeri pada.. atau kurang

Melaporkan

kesejahteraan fisik dan psikologis

Terbebas dari adanya lesi jaringan Keutuhan kulit Suhu, elastisitas, hidrasi dlm rentang yg diharapkan informasi pengkajian

Minta pasien utk  menilai nyeri Observasi isyarat ketidaknyamanan nonverbal Identifikasi sumber  penekanan Pencegahan luka penekanan (skala braden) Pantau adanya ruam, lecet, area kemerahan pada kulit

(17)

MOBILISASI A. Pengertian mobilisasi

Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatan dengan bebas (kosier,1989).

B. Tujuan dari mobilisasi antara lain :

1. Memenuhi kebutuhan dasar manusia 2. Mencegah terjadinya trauma

3. Mempertahankan tingkat kesehatan

4. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari – hari 5. Mencgah hilangnya kemampuan fungsi tubuh.

C. Faktor - faktor yang mempengaruhi obilisasi 1. Gaya hidup

Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemambuk.

2. Proses penyakit dan injuri

Adanya penyakit  tertentu  yang di derita  seseorang akan mempengaruhi

mobilitasnya   misalnya;   seorang   yang   patah   tulang   akan   kesulitan untukobilisasi  secara  bebas.  Demikian  pula  orang  yang  baru  menjalani operasi. Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban.

Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu misallya; CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler.

3. Kebudayaan

Kebudayaan dapat mempengarumi poa dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berebda

(18)

mobilitasnya   dengan   anak   kota   yang   biasa   pakai   mobil   dalam   segala keperluannya. Wanita kraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan

seorang wanita madura dan sebagainya. 4. Tingkat energi

Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang lagi sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari.

5. Usia dan status perkembangan

Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasny dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.

D. Tipe persendian dan pergerakan sendi

Dalam sistim muskuloskeletal dikenal 2 maca persendian yaitu sendi yang dapat digeragan (diartroses) dan sendi yang tidak dapat digerakan (siartrosis).

E. Toleransi aktifitas

Penilaian tolerasi aktifitas sangat penting terutama pada klien dengan gangguan kardiovaskuler seperti Angina pektoris, Infark, Miocard atau pada klien dengan immobiliasi yang lama akibat kelumpuhan.Hal tersebut biasanya dikaji pada waktu

sebelum   melakukan   mobilisai,   saat   mobilisasi   dan   setelah   mobilisasi. Tanda - tanda yang dapat di kaji pada intoleransi aktifitas antara lain (Gordon, 1976).

a)   Denyut   nadi   frekuensinya   mengalami   peningkatan,   irama   tidak   teratur  b) Tekanan darah biasanya terjadi penurunan tekanan sistol / hipotensi orthostatic.

c)   Pernafasan   terjadi   peningkatan   frekuensi,   pernafasan   cepat   dangkal. d)   Warna   kulit   dan   suhu   tubuh   terjadi   penurunan. e) Kecepatan dan posisi tubuh.disini akan mengalami kecepatan aktifitas dan ketidak 

stabilan   posisi   tubuh.

f) Status emosi labil. F. Masalah fisik 

Masalah fisik yang dapt terjadi akibat immobilitasi dapat dikaji / di amati pada berbagai sistim antara lain :

a. Masalah muskuloskeletal

Menurunnya kekuatan dan kemampuan otot, atropi, kontraktur, penurunan mineral, tulang dan kerusakan kulit.

(19)

b. Masalah urinari

Terjadi statis urine pada pelvis ginjal, pengapuran infeksi saluran kemih dan inkontinentia urine.

c. Masalah gastrointestinal

Terjadinya anoreksia / penurunan nafsu makan diarrhoe dan konstipasi. d. Masalah respirasi

Penurunan ekspansi paru, tertumpuknya sekret dalam saluran nafas, ketidak  seimbangan asam basa (CO2 O2).

e. Masalah kardiofaskuler 

Terjadinya hipotensi orthostatic, pembentukan trombus.

G. Upaya mencegahkan terjadinya masalah akibat kurangnya mobilisasi antara lain : 1. Perbaikan status gisi

2. Memperbaiki kemampuan monilisasi 3. Melaksanakan latihan pasif dan aktif 

4. Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan bady aligmen (Struktur  tubuh)

5. Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk menghindari terjadinya dekubitus / pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh. H. Macam - macam posisi klien di tempat tidur 

1. Posisi fowler (setengah duduk) 2. Posisi litotomi

3. Posisi dorsal recumbent 4. Posisi supinasi (terlentang) 5. Posisi pronasi (tengkurap) 6. Posisi lateral (miring) 7. Posisi sim

Referensi

Dokumen terkait

Hasan Sadikin Bandung sudah sesuai dengan SPO manajemen nyeri, namun tindak lanjut dan evaluasi ulang pada nyeri luka bakar belum sesuai dengan SPO manajemen nyeri.. Kata kunci:

Berdasarkan hal tersebut di atas diperoleh hasil bahwa pada tanah jenis lempung berdebu memiliki zat organik yang lebih rendah dari tanah berliat dan juga karena

Hasil penelitian ini adalah Strategi yang digunakan BMT Syamil dalam memasarkan produk jimpitan lebaran yaitu menggunakan konsep bauran pemasaran yaitu strategi

This study aims to know the level the diversity in species of a dragonfly looks like (Odonata) in a Cibodas Botanic Gardens, West Java, Indonesia.. A method of was used in

Faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan tingkat materialitas sangat dipengaruhi keefekti- van oleh sistem pengendalian internal klien itu

Kecuali item-menu Home yang sudah tersedia pada Menu Utama (Main Menu) Kecuali item-menu Home yang sudah tersedia pada Menu Utama (Main Menu) secara default, Pembaca masih

Kelebihannya adalah untuk menyampaikan pengantar atau informasi yang baru, gunakan anak bila anak sudah mendapatkan motivasi, tepat untuk kelas besar dan untuk menekankan

menguasai program Auto Cad maka Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin (HIMATEM) mengadakan pelatihan AutoCad guna membantu mahasiswa teknik dalam menguasai program