MEDAN 2021 SKRIPSI
TIA HABIBAH RAHMAN 170904025
Advertising
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
(Bincang Bisnis UMKM)
MEDAN
(Studi Deskriptif Kuantitatif Persepsi Followers Instagram
@tribunmedandaily Terhadap Program BBM)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik
TIA HABIBAH RAHMAN 170904025
Advertising
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini dengan baik. Penulisan skripsi yang berjudul “Persepsi Followers Instagram @tribunmedandaily Terhadap Program BBM (Studi Deskriptif Kuantitatif Persepsi Followers Instagram @tribunmedandaily Terhadap Program BBM)” ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat agar dapat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan almamater Universitas Sumatera Utara.
Adapun penyelesaian skripsi ini dibantu oleh dukungan orang- orang terdekat. Maka dalam kesempatan kali ini peneliti ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya dan ingin memanjatkan rasa syukur atas dukungan orang tua peneliti Syaiful Anwar dan Rahmawati Nasution, serta Ibunda Sri Wahyuni S.Pd yang tak henti-hentinya memberikan semangat dan dukungan selama peneliti menyelesaikan skripsi ini. Aly Hasyim Anwar, SE dan Salsabila Atika Luthfi selaku abang dan adik peneliti yang selalu memberikan dukungan dan hiburan untuk peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Selain itu peneliti tidak lupa berterimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Hendra Harahap, M.Si, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
2. Ibu Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi serta Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, M.A selaku Sekretaris DProgram Studi Ilmu Komunikasi.
3. Dosen pembimbing akademik peneliti, Ibu Dra. Dayana, M.Si yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada peneliti, dan juga telah menghantarkan peneliti untuk dapat melaksanakan penelitian ini.
4. Dosen pembimbing peneliti, Pak Drs. Safrin, M.Si yang telah memberikan banyak pengetahuan, kesabaran, pembelajaran, serta motivasi dari awal hingga akhir penelitian. Ucapan terimakasih peneliti sebesar-besar nya atas bimbingan bapak selama ini.
5. Bapak/Ibu dosen, staff akademik dan pegawai Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.
6. Staff Departemen Kak Maya dan Kak Yanti yang dengan ramah dan sabar membantu memberikan informasi terkait administrasi dan membantu kelancaran skripsi peneliti.
7. Seluruh keluarga besar Nek Tion, yang selalu memberikan do’a, menghibur, memfasilitasi, serta memotivasi peneliti.
8. Sahabat-sahabat peneliti sejak bangku SMA, Theresia, Rida, dan Apat yang selalu siap mendengarkan peneliti berkeluh kesah, support system peneliti dari masa sekolah hingga perjuangan mendapatkan gelar sarjana. Wadah peneliti dalam segala suasana hati dan tempat peneliti bisa tertawa sepuasnya, dan sering kali menemani peneliti kesana-kesini perihal penulisan skripsi ini.
Terimakasih karena bisa selalu diandalkan semoga kita semua sukses di waktu yang tepat.
9. Desi Rahmadini Pulungan, kakak sekaligus sahabat peneliti yang selalu menemani peneliti selama masa perkuliahan yang telah banyak membantu meringankan beban pikiran peneliti dan selalu memberikan dukungan moral kepada peneliti.
10. Kawan maen squad, Ameng, Ekal, Daffa, Rama dan Angga yang senantiasa mendukung dan sering kali menjadi sumber transportasi peneliti.
11. Sobat kampus tersayang, Lely, Ama, dan Yayang yang telah menemani hari-hari penelitik sejak semester II perkuliahan.
Canda tawa yang kita ciptakan akan selalu peneliti rindukan.
12. IMAJINASI FISIP USU yang telah memberikan banyak pengalaman dalam berorganisasi, serta para anggota Divisi
Pengembangan Organisasi yang telah mendukung dan selalu menantikan seminar serta sidang peneliti.
13. Teman-teman seperbimbingan, Ayu, Icha dan Diba yang selalu membantu peneliti. Terimakasih karena selalu membantu peneliti mengembangkan pemikiran dan selalu membantu menjawab ketidaktahuan peneliti.
14. Seluruh teman-teman Ilmu Komunikasi 2017 yang tidak dapat disebutkan satu per satu, termasuk teman-teman yang pernah terlibat dalam kelompok di berbagai mata kuliah, satu kepanitiaan, maupun yang hanya sekedar bertegur sapa.
15. Seluruh responden yang telah meluangkan waktunya dalam mengisi kuesioner penelitian ini.
Skripsi ini masih memiliki kekurangan di dalamnya. Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan kritik, saran dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat menjadi sumber inspirasi dan informasi bagi banyak pihak. Akhir kata, peneliti mohon maaf atas segala kesalahan yang terdapat pada skripsi ini dan terimakasih.
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Persepsi Followers Instagram @tribunmedandaily terhadap Program BBM (Studi Deskriptif Kuantitatif Persepsi Followers Instagram @tribunmedandaily Terhadap Program BBM)”. Merupakan studi deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui persepsi followers Instagram dari akun @tribunmedandaily terhadap program BBM (Bincang Bisnis UMKM). Literatur yang dianggap relevan dalam penelitian ini adalah komunikasi, komunikasi massa, jurnalistik, persepsi, media massa, media baru, dan instagram. Populasi dalam penelitian ini adalah pengikut akun Instagram @tribunmedandaily sebanyak 147.000 pengikut. Sampel menggunakan rumus Slovin dengan presisi sebesar 10%. Dari rumus tersebut, diperoleh sampel sebanyak 100 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan metode non-probability sampling. Teknik pengumpulan data adalah metode kuesioner (Field Research). Sedangkan analisis data dilakukan melalui tabel tunggal dengan menggunakan program SPSS versi 16.0. Berdasarkan hasil penelitian, tampilan visual dan keterampilan pengisi acara dalam membawakan materi berlangsung menarik dan sudah tepat lebih dari 60% responden setuju.
Sebanyak lebih dari 70% mengatakan bahwa bahasa yang digunakan penyaji dalam menyampaikan pesan mudah pahami, sangat jelas, dan tidak berbelit- belit. Durasi penayangan pada program BBM selama 45 menit sudah tepat menurut 74% responden, sedangkan 49% responden lainnya memilih bahwa durasi penayangan program BBM selama 45 menit perlu ditambah, sebanyak 55% responden mengatakan durasi sesi tanya jawab yang berlangsung selama 5 menit sudah tepat. Sedangkan persepsi respondennya adalah informasi yang disampaikan pada program BBM memberikan manfaat dan mengetahui peran UMKM pada sektor ekonomi, lebih dari 50% respondennya merasakan bahwa program BBM membantu mereka dalam menjalankan UMKM.
Kata Kunci: Komunikasi Massa, Media Baru, Instagram @tribunmedandaily
ABSTRACT
This research is entitled "Perception of Instagram Followers
@tribunmedandaily on BBM Program (Quantitative Descriptive Study of Perception of Instagram Followers @tribunmedandaily on BBM Program)".
A quantitative descriptive study that aims to determine the perception of Instagram followers from the @tribunmedandaily account on the BBM (Bincang Bisnis UMKM) program. The literature that is considered relevant in this study is communication, mass communication, journalism, perception, mass media, new media, and Instagram. The population in this study are followers of the Instagram account @tribunmedandaily with 151,000 followers. The sample uses the Slovin formula with a precision of 10%. From this formula, a sampel of 100 respondents was obtained. The sampling technique used is purposive sampling with non-probability sampling method.
The data collection technique is a questionnaire method (Field Research).
Meanwhile, data analysis was carried out through a single table using the SPSS version 16.0 program. Based on the results of the study, the visual appearance and skills of the performers in presenting the material were interesting and more than 60% of respondents agreed. More than 70% said that the language used by presenters in conveying messages was easy to understand, very clear, and uncomplicated. The 45-minute duration of the BBM program is correct according to 74% of respondents, while 49% of the other respondents chose that the 45-minute duration of the BBM program should be increased, 55% of the respondents said that the duration of the 5- minute question and answer session was appropriate. While the respondent's perception is that the information submitted on the BBM program provides benefits and knows the role of MSMEs in the economic sector, more than 50%
of the respondents feel that the BBM program helps them in running MSMEs.
Keywords: Mass Communication, New Media, Instagram, @tribunmedandaily
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
KATA PENGANTAR ... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Pembatasan Masalah ... 10
1.3 Rumusan Masalah ... 10
1.4 Tujuan ... 11
1.5 Manfaat ... 11
BAB II URAIAN TEORITIS ... 12
2.1 Kerangka Teori ... 12
2.1.1 Komunikasi ... 13
2.1.2 Komunikasi Massa ... 18
2.1.3 Jurnalistik ... 20
2.1.4 Persepsi ... 26
2.1.5 Media Massa ... 33
2.1.6 Media Baru (New Media) ... 35
2.1.7 Instagram ... 38
2.2 Penelitian Terdahulu ... 41
2.3 Kerangka Konsep ... 43
2.3.1 Variabel ... 43
2.4 Variabel Penelitian ... 433
2.5 Definisi Operasional ... 444
2.4.1 Persepsi pada Program BBM ... 444
2.4.2 Karakteristik Responden ... 455
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 466
3.1 Lokasi Penelitian ... 466
3.1.1 Deskripsi @tribunmedandaily ... 466
3.2 Metode Penelitiaan ... 477
3.3 Populasi dan Sampel ... 477
3.3.1 Populasi ... 477
3.3.2 Sampel ... 488
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 49
3.5 Teknik Analisis Data ... 500
3.5.1 Analisis tabel tunggal ... 500
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 511
4.1 Tahapan Pelaksanaan Penelitian ... 511
4.1.1 Pelaksanaan Pengumpulan Data ... 511
4.1.2 Teknik Pengolahan data ... 522
4.2 Analisis Tabel Tunggal ... 533
4.2.1 Karakteristik Responden ... 53
4.2.2 Persepsi Followers Instagram @tribunmedandaily ... 940
4.3 Pembahasan ... 788
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... Error! Bookmark not defined. 5.1. Simpulan ... 89
5.2. Saran ... 900
5.2.2 Secara Akademis ... 900
5.2.3 Secara Praktis ... 900
DAFTAR REFERENSI ... 91
LAMPIRAN ... 95
DAFTAR GAMBAR
No. JUDUL HAL
Gambar 1.1 Angka Pertumbuhan Pengguna Internet 4 Gambar 1.2 Data Pengguna Instagram di Indonesia 5 Gambar 1.3 Profil Akun Instagram @tribunmedandaily 6 Gambar 2.1 Proses Terbentuknya Persepsi 27
Gambar 2.2 Logo Instagram 38
Gambar 3.1 Laman Akun Instagram @tribunmedandaily 46
Gambar 4.1 Diagram Jenis Kelamin 54
Gambar 4.2 Diagram usia 55
Gambar 4.3 Diagram Pekerjaan 56
Gambar 4.4 Diagram Frekuensi Mengakses Instagram Perhari
57
Gambar 4.5 Diagram Frekuensi Mengakses Akun Instagram @Tribunmedandaily Perhari
58
Gambar 4.6 Tampilan Latar Belakang Program Bbm Menarik
60
Gambar 4.7 Tampilan Pengisi Acara Menarik 62 Gambar 4.8 Tampilan Komposisi Warna Pada Desain
Visual Program BBM
63
Gambar 4.9 Pengisi Acara Mampu Menjelaskan Aspek UMKM Dengan Baik
64
Gambar 4.10 Pengisi Acara Yang Dipilih Berpengalaman 65 Gambar 4.11 Pengisi Acara Mampu Menjelaskan Peranan
UMKM Dalam Pembangunan Ekonomi Bangsa
66
Gambar 4.12 Materi Informasi Mengenai Pada Program BBM Sudah Tepat
67
Gambar 4.13 Materi Informasi yang Disampaikan Pada Program BBM Dapat Dipercaya
68
Gambar 4.14 Materi Informasi Pada Program BBM Disampaikan Dengan Sederhana
69
Gambar 4.15 Manfaat Informasi Pada Program BBM Memberikan Pengetahuan
70
Gambar 4.16 Manfaat Informasi Pada Program BBM Membantu Mengetahui Peran UMKM Dalam Sektor Ekonomi
71
Gambar 4.17 Durasi Penayangan Selama 45 Menit Sudah Sesuai
72
Gambar 4.18 Durasi Penayangan Selama 45 Menit Perlu Ditambah
73
Gambar 4.19 Durasi Penayangan Sesi Tangan Jawab Selama 5 Menit Sudah Tepat.
74
Gambar 4.20 Bahasa Yang Digunakan Mudah Dipahami 75 Gambar 4.21 Bahasa Yang Digunakan Sangat Jelas 76 Gambar 4.22 Bahasa Yang Digunakan Oleh Penyaji Tidak
Berbelit-Belit
77
DAFTAR TABEL
No. JUDUL HAL
Tabel 1.1 Sektor Usaha UMKM 2
Tabel 2.1 Variabel Penelitian 44
DAFTAR LAMPIRAN
No. JUDUL HAL
1. Kuesioner Penelitian 96
2. Tabel data tunggal 100
3. Foltron cobol 110
4. Biodata peneliti 111
5. Lembar catatan bimbingan skripsi 112
6. Bukti chat responden 113
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dunia sedang dirundung kesusahan, perekonomian semakin melemah karena pandemi yang berlangsung pada akhir tahun 2019 di China. Seperti hal nya negara lain, Indonesia pun merasakan dampak akibat pandemi Covid- 19 ini. Salah satunya adalah jatuhnya perekonomian nasional karena pemberlakuan lockdown dan penurunan konsumsi rumah tangga, menyebabkan ada banyak perusahaan besar di berbagai bidang seperti industri, perdagangan, dan jasa mengalami stagnasi atau bahkan menghentikan aktivitasnya (Dani Danuar: 2013).
Seperti fakta yang dilansir dari laman resmi Dirjen Keuangan Negara (djkn.kemenkeu.go.id) menunjukkan bahwa pandemi telah membawa perekonomian nasional dan global ke arah resesi ekonomi. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan global yang negatif atau kontraksi. Kontraksi tersebut terutama disebabkan oleh penurunan konsumsi rumah tangga akibat pembatasan sosial untuk mencegah Covid-19, penurunan belanja investasi termasuk untuk pembangunan dan perolehan aset tetap, dan penurunan realisasi belanja pemerintah termasuk belanja barang (kemenkeu.go). Usaha Kecil, Mikro dan Menengah merupakan salah satu sektor yang sangat terlihat dampaknya dari permasalahan pandemi ini, yang juga menyebabkan turunnya perekonomian nasional. Hal ini terjadi karena UMKM memberikan efek yang signifikan dalam perekonomian nasional.
Perkembangan UMKM pada era sekarang ini sudah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di berbagai daerah di seluruh kota yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah kota, dengan semakin meningkatnya perekonomian di Sumatera Utara juga dipengaruhi oleh pelaku UMKM. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pemilik usaha UMKM yang sangat banyak dan tersebar di kota Medan dengan berbagai jenis sektor usaha.
Tabel 1.1 Sektor Usaha UMKM Sektor
Usaha
Jumlah UMKM Persentase (%)
Produksi 466 usaha 34,93%
Kuliner 764 usaha 57,27%
Jasa 95 usaha 7,12%
Dagang 9 usaha 0,67%
Jumlah 1.334 usaha 100%
Sumber: Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan 2019
Dari data dapat kita lihat bahwa keberadaan UMKM di kota Medan sangat bervariasi. Data yang diperoleh menginformasikan bahwa sektor usaha kuliner merupakan sektor usaha yang memiliki persentase tertinggi di kota Medan yakni sekitar 57, 27% dan sektor usaha dagang merupakan sektor usaha yang memiliki persentase terkecil yakni sebesar 0.57%.
Dengan meningkatnya persaingan bisnis dalam sektor usaha UMKM maka setiap pengusaha atau pelaku UMKM harus dapat memberikan gambaran persaingan pasar yang semakin terbuka. Sangat diperlukan strategi yang baik untuk dapat bersaing dengan yang lainnya agar tetap dikenal serta mampu mencapai tujuan pemasarannya (Ilham Prisgunanto: 2006).
Maka dari itu setiap pengusaha atau pelaku UMKM harus mengerti mengenai strategi apa yang akan digunakan dalam memasarkan produknya melalui team marketing yang berpengalaman serta mengerti mengenai strategi komunikasi pemasaran yang tepat (Ilham Prisgunanto: 2006).
Salah satu strategi yang dapat dilakukan pengusaha atau pelaku UMKM untuk memasarkan produknya di zaman yang serba digital ini adalah dengan memanfaatkan media sosial dan media massa. Seperti hal nya pesan lisan dan isyarat, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi manusia. Pada hakikatnya, media adalah perpanjangan lidah dan tangan yang berjasa
(William L. Rivers, dkk: 2003).
Namun banyak orang yang tidak menyadari hubungan fundamental antara manusia dan media itu, dan keliru menilai peran media dalam kehidupan mereka. Misalnya, banyak intelektual yang melihat media tidak lebih dari produk sampingan kemajuan teknologi, yang kemudian sering disalahgunakan oleh para agitator dan penipu. Pandangan seperti ini ada benarnya, namun mengabaikan hubungan objektif antara media massa dan masyarakat yang sesungguhnya terbebas dari motif dan kepentingan para pelaku komunikasi seperti pemilik penerbitan, editor, penulis, dan lain-lain (William L. Rivers, dkk: 2003).
Dalam perkembangan komunikasi massa yang sudah sangat modern ini ada satu perkembangan tentang media massa, yakni ditemukannya internet (Nurudin: 2003:3). Meskipun dalam perkembangannya media baru tidak hanya terbatas kepada internet, namun saat ini internet merupakan alat atau media yang paling dominan dalam era media baru. Internet dinilai sangat fenomenal karena pada era telepon kabel dahulu tidak terbayangkan pada masa depan teknologi informasi dan komunikasi bisa mengirimkan gambar dan suara tanpa kabel. Internet telah mengubah banyak hal dalam kehidupan umat manusia dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia (medianeliti.com).
Saat ini, praktik media baru oleh masyarakat di Indonesia terutama pengguna internet sedang bangkit. Sejak masuknya internet ke Indonesia pada tahun 1990an, angka pertumbuhan pengguna terus meningkat (Wikipedia.com). Menurut survei yang dilakukan oleh We are Social (wearesocial.com) dapat dilihat pada gambar dibawah, total populasi penduduk di Indonesia ada sebanyak 272,1 juta dengan penetrasi pengguna yang telah terkoneksi internet sebanyak 64% atau mencapai 175,4 juta, sekitar 160 juta pengguna aktif media sosial (wearesocial).
Gambar 1.1
Angka Pertumbuhan Pengguna Internet di Indonesia
Sumber: Hootsuite (wearesocial.com)
Perkembangan media baru memberi kontribusi terhadap perkembangan-perkembangan dalam ilmu sosial. Tidak hanya dalam bidang ekonomi pembangunan dua persoalan difusi inovasi. Kehadiran new media juga membangun realitas dalam komunikasi publik melalui teknologi (Bungin, Burhan.2006: 374).
Perkembangan teknologi dalam komunikasi tidak hanya merambah ke kalangan kelas menengah atas. Ini semua kelas sosial dan tingkatan usia pun sudah bisa menikmati perkembangan teknologi dengan fasilitas yang sama.
Antara media sosial yang tengah digandrungi oleh masyarakat Indonesia, Instagram merupakan salah satu media sosial yang sangat menarik untuk diteliti. Sejak awal peluncurannya pada 6 Oktober 2010, Instagram telah mampu mengumpulkan 1 juta pengunduh per Desember 2010. Kini, Instagram telah memiliki pengguna sebanyak 69 juta pengguna dengan penetrasi 79% (wearesocial.com). Sebanyak 30% jangkauan iklan dibagikan melalui Instagram. Dengan jumlah pengguna berjenis kelamin perempuan sebanyak 50,8% dan sisanya yaitu sebanyak 49,2% adalah pengguna berjenis kelamin laki-laki.
Gambar 1.2
Data Pengguna Instagram di Indonesia
Sumber: Hootsuite (wearesocial.com)
Besarnya pengguna internet memunculkan banyak pilihan fitur situs- situs media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasi dan komunikasi.
Antaranya chat room, web blogging (blogspot), situs video, situs jejaring sosial (Instagram, Facebook, Snapchat, Twitter, dsb). Munculnya media sosial ini sangat menarik perhatian khalayak dan dapat mengajak penggunanya untuk berpartisipasi memberikan feedback dan membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tidak terbatas (trenologi.co).
Melihat besarnya peluang dalam melakukan pemasaran melalui media sosial, tidak sedikit individu dan organisasi yang memanfaatkannya sebagai media berbagi informasi, sosialisasi, promosi hingga bisnis. Instagram dinilai sebagai salah satu media yang cepat dan tepat untuk mendapatkan informasi tanpa harus menunggu berita di televisi dan di media lainnya.
Instagram dapat diakses dimana pun dan kapan pun. Fenomena yang terjadi saat ini membuat masyarakat berlomba-lomba menghadirkan akun Instagram yang menyajikan berita-berita terbaru (Adriyana dan Darumoyo:
2018).
Kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan kecepatan informasi, membuat kita turut memanfaatkan Instagram. Salah satunya adalah Tribun
Gambar 1.3
Profil Akun Instagram @tribunmedandaily
Sumber: Akun Instagram Tribun Medan
Dilihat dari laman akun Instagramnya Tribun Medan cukup aktif dalam menggunakan Instagram sebagai sarana berbagi informasi dan sosialisasi di media sosial. Tribun Medan juga memanfaatkan media sosial sebagai salah satu bentuk strategi pemasaran produk secara online. Serta memanfaatkan fitur yang ada di Instagram seperti “Live dan Instagram Television (IGTV)”
untuk membantu para pelaku UMKM mensosialisasikan usaha nya kepada khalayak sebagaimana tugasnya mengemban fungsi jurnalistik. Tribun Medan memiliki sebanyak 147 ribu pengikut dan juga telah mengunggah konten sebanyak 17,9 ribu postingan yang bersangkutan mengenai berita lokal maupun nasional. Selain itu, akun Instagram Tribun Medan tidak hanya menampilkan berita mengenai politik maupun ekonomi, namun juga menampilkan acara musik, talkshow, serta olahraga.
(https://www.instagram.com/tribunmedandaily/).
Kehadiran portal berita dan informasi yang dikoneksikan dengan aplikasi Instagram merupakan salah satu bentuk kesadaran pengembangan teknologi media di Indonesia dan sebagai salah satu media baru yang mampu mendukung perkembangan jurnalisme di Indonesia. Pada sisi lain, media dianggap mampu menciptakan tatanan sosial baru dan mampu mengadakan perubahan sosial. Terlepas dari itu, yang pasti media massa
berfungsi sebagai lembaga yang dipercaya sebagai pengantar informasi dunia luar secara perlahan dan mampu mensosialisasikan nilai-nilai dalam masyarakat (McQuail, 2011).
Menurut Ahmad Y. Samantho (2002: 64) Jurnalistik juga mempunyai empat fungsi dalam masyarakat selain fungsi nya sebagai pemberi informasi, yaitu:
a. Fungsi sosialisasi (pendidik masyarakat), peran dan fungsi jurnalistik harus lebih aktif dalam memberikan informasi dan sosialisasi sehingga dapat meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa.
b. Fungsi menghibur, informasi yang disajikan media pers tidak hanya berita- berita serius atau berita-berita berat (hard news), tetapi juga berita atau karya jurnalistik lainnya yang mampu membuat pembaca tersenyum.
Biasanya berbentuk fiksi, seperti cerpen, cerita bersambung, cerita bergambar, karikatur, gambar-gambar kartun, bahkan juga tulisan-tulisan yang bersifat human interest.
c. Fungsi penyalur dan pembentuk pendapat umum, dengan adanya berita atau informasi yang berpengaruh, maka akan membentuk pendapat para pembacanya dan berpikir sesuai dengan pola yang diinginkannya. Dalam hal ini setiap tulisan sesungguhnya akan selalu membentuk sebagian dari pendapat umum.
d. Fungsi kontrol sosial, sebagai media penyampai informasi, media pers tidak hanya sebatas menyampaikan atau memberikan informasi yang berkaitan dengan suatu peristiwa, akan tetapi berkewajiban juga menyampaikan gagasan-gagasan maupun pendapat yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas. Bila ada suatu kebijakan, baik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga tertentu, yang dipandang tidak sesuai atau berlawanan dengan kepentingan masyarakat, media pers punya kewajiban untuk mengingatkan. Cara mengingatkannya dilakukan melalui tulisan di tajuk rencana maupun karya jurnalistik lainnya.
Melalui fungsinya itu jurnalistik dapat membawa dan menyampaikan/mensosialisasikan pesan-pesan maupun gagasan-gagasan yang membangun dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Seperti halnya
sosialisasi yang dilakukan oleh Tribun Medan dalam bidang UMKM.
Program ini berusaha menjelaskan serta mensosialisasikan mengenai berbagai jenis UMKM yang dijalankan di Kota Medan seperti perannya sebagai media jurnalistik yaitu tepatnya sebagai media pendidik masyarakat (fungsi sosialisasi). Menghadirkan acara berjenis talkshow yang akan membahas seputar bisnis apa yang sedang dijalankan, produk apa saja yang ditawarkan serta mensosialisasikan dan berbagi pengalaman didunia UMKM. Dengan adanya program ini Tribun Medan sebagai salah satu media massa memahami perannya untuk menampilkan informasi terbaru ternyata sangat diperlukan (@tribunmedandaily)
Program BBM (Bincang Bisnis UMKM) yang mulai Tribun Medan produksi sekitar tahun 2019 akhir, biasanya dipublikasikan di hari Selasa pada pukul 16.00 WIB dengan jumlah tayangan mencapai kurang lebih 500 tayangan. Disiarkan secara Live dari akun Instagram Tribun Medan setelah itu dimuat dalam IGTV agar pengikut tidak ketinggalan informasi mengenai program tersebut (@tribunmedandily).
Pemberian informasi dan sosialisasi suatu usaha tersebut memberikan nilai tambah terhadap kemajuan keuangan terkhususnya pada Negara.
Sebagaimana yang dimuat dari data Kementerian Koperasi, Usaha kecil dan Menengah (djkn.kemenkeu.go.id) tahun 2018, jumlah pelaku UMKM sebanyak 64,2 juta atau 99,99% dari jumlah pelaku usaha di Indonesia. Daya serap tenaga kerja UMKM adalah sebanyak 117 juta pekerja atau 97% dari daya serap tenaga kerja dunia usaha. Sementara itu kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional (PDB) sebesar 61,1% dan sisanya yaitu 38,9% disumbangkan oleh pelaku usaha besar yang jumlahnya hanya sebesar 5.550 atau 0,01% dari jumlah pelaku usaha. UMKM tersebut didominasi oleh pelaku usaha mikro yang berjumlah 98,68% dengan daya serap tenaga kerja sekitar 89%. Sementara itu sumbangan usaha mikro terhadap PDB hanya sekitar 37,8% (djkn.kemenkeu.go.id).
Dari data di atas, Indonesia mempunyai potensi basis ekonomi nasional yang kuat karena jumlah UMKM terutama usaha mikro yang sangat banyak dan mempunyai daya serap tenaga kerja yang besar. Pelaku usaha harus
mampu menaikkan ‘kelas’ usaha mikro menjadi usaha menengah. Basis ini juga terbukti kuat menghadapi krisis ekonomi. Usaha mikro juga mempunyai perputaran transaksi yang cepat, menggunakan produksi domestik dan bersentuhan dengan kebutuhan primer masyarakat (kemenkeu.go).
Kemauan seseorang dalam menggunakan produk teknologi saat ini sangat dipengaruhi oleh persepsi. Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penggunaan panca indera dalam menerima stimulus, kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga memiliki pemahaman tentang apa yang diinderakan (Nugroho: 2012). Hal ini juga disampaikan oleh Sugihartono et al. (2007) dimana persepsi merupakan kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi manusia memberikan perbedaan sudut pandangan dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau positif maupun persepsi negatif yang nantinya akan mempengaruhi tindakan manusia.
Peneliti memilih pengikut aktif akun instagram PT. Harian Tribun Medan (@tribunmedandaily) sebagai objek penelitian. Karena jumlah pengguna Instagram yang ada di Indonesia ada sebanyak 85 juta pengguna.
Hal ini diperkuat oleh laporan yang dinyatakan oleh perusahaan asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite per Januari 2021 yang bernama We Are Social. Seperti juga dilansir dari situs detikInet bahwa instagram merupakan media sosial yang berada di peringkat ketiga setelah Youtube dan WhatsApp yang paling sering diakses oleh penduduk Indonesia. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan peneliti memilih akun
@tribunmedandaily yaitu terletak pada jumlah pengikutnya. Akun Instagram @tribunmedandaily memiliki jumlah pengikut sebanyak 147 ribu (diakses 14 Agustus 2021), dibandingkan dengan beberapa akun sejenis lainnya seperti @waspadaonline memiliki jumlah pengikut sebanyak 67 ribu (diakses pada 17 Agustus 2021), @hariananalisa sebanyak 24 ribu pengikut (diakses 17 Agustus 20201), dan @antarasumut sebanyak 2 ribu pengikut (diakses 17 Agustus 2020). Selain itu, alasan mengapa peneliti
ingin meneliti mengenai program BBM (Bincang Bisnis UMKM) salah satunya adalah karena ada berbagai jenis media massa online yang ada di kota Medan seperti yang sudah dipaparkan diatas. Tetapi pembahasan mengenai sosialisasi UMKM hanya dilakukan oleh akun media massa online @tribunmedandaily. Dengan jumlah tayangan terhitung sejak awal produksi nya adalah sebanyak 670 ribu tayangan dan jumlah likers (menyukai) terhitung sejak awal pemroduksiannya sebanyak 10,320 ribu suka. Maka dari itu melihat aktif nya followers dan akun Instagram
@tribunmedandaily dalam berpartisipasi dan menyampaikan informasi membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut (Instagram.com).
Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui bagaimana Persepsi Followers Instagram
@tribunmedandaily Terhadap Program BBM (Bincang Bisnis UMKM).
1.2 Pembatasan Masalah
Untuk menghindari ruang lingkup penelitian meluas, maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti. Pembatasan masalah ini dilakukan agar lingkup penelitian ini dapat lebih terarah sehingga tidak mengaburkan penelitian. Adapun pembatasan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:
a) Penelitian hanya terbatas pada persepsi followers Instagram
@tribunmedandaily terhadap Program BBM (Bincang Bisnis UMKM).
b) Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu hanya untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana persepsi followers Instagram @tribunmedandaily terhadap Program BBM (Bincang Bisnis UMKM).
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi
followers Instagram @tribunmedandaily terhadap Program BBM (Bincang Bisnis UMKM).
1.4 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi followers Instagram @tribunmedandaily terhadap Program BBM (Bincang Bisnis UMKM).
1.5 Manfaat
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Secara akademis, penelitian ini dapat bermanfaat bagi penelitian dan perkembangan Ilmu Komunikasi FISIP USU khususnya persepsi dan juga dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pembaca.
2) Secara teoritis, penelitian ini dapat memberi kontribusi pengetahuan dan memperluas wawasan di bidang Ilmu Komunikasi yang berkaitan dengan persepsi sebagai bagian dari Ilmu Komunikasi bagi peneliti maupun akademisi yang lain.
3) Secara praktis, penelitian ini dapat menyumbangkan khasanah ilmu komunikasi melalui media sosial di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik khususnya Program Studi Ilmu Komunikasi. Agar penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada pembaca dalam melihat dan memanfaatkan media sosial untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
BAB II
URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori
Landasan teori atau kerangka teori sangat penting dalam sebuah penelitian, karena seorang peneliti tidak dapat mengembangkan penelitian jika tidak memiliki acuan kerangka teori yang mendukungnya. Kerangka teori merupakan kemampuan seorang peneliti dalam mengaplikasikan pola pikirnya dalam menyusun teori-teori yang mendukung permasalahan penelitian secara sistematis. Teori merupakan himpunan konstruk (konsep), defenisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat, 2009:6).
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma positivis. Paradigma merupakan cara pandang seseorang ilmuan tentang strategis untuk menentukan nilai dalam sebuah disiplin pengembangan ilmu pengetahuan. Ketika mengkaji paradigma tentunya berhubungan dengan pemahaman atau aliran-aliran yang berkembang dalam dunia ilmiah. Menurut pemahaman Guba dan Lincoln mengatakan bahwa paradigma memiliki kerangka berpikir mulai dari ontologi melihat realitas sebagai konstruksi sosial, epistemologi dan metodologi untuk menentukan cara bekerja dalam melakukan sebuah penelitian (Saidi, Anas. 2015). Dalam penelitian ini paradigma yang digunakan adalah positivis. Menurut Sugiyono (2014) penelitian kuantitatif disebut sebagai penelitian positivis karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Filsafat positivisme memang sebuah realitas, gejala atau fenomena sebagai hal yang dapat diklasifikasikan, konkrit, teramati, terukur, relatif tetap, dan terdapat hubungan sebab-akibat. Penggunaan positivis sebagai paradigma dikarenakan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dimana untuk mencapai kebenaran, peneliti harus melakukan pengajuan pertanyaan melalui kuesioner kepada objek yang diteliti.
Adapun teori yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
2.1.1 Komunikasi
Istilah komunikasi secara etimologis berasal dari bahasa Latin, yaitu
“cum”, kata depan yang artinya dengan atau bersama dengan, dan kata
“units”, kata bilangan yang berarti satu. Kedua kata tersebut kemudian membentuk kata benda “communion”, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan “communion”, yang berarti kebersamaaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan atau hubungan. Karena untuk melakukan “communion”
diperlukan usaha dan kerja, kata “communion” dibuat kata kerja
“communicate” yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, percakapan, pertukaran atau hubungan (Nurjaman & Khairul, 2012: 3).
Komunikasi didefinisikan secara luas sebagai berbagi pengalaman.
Sampai batas tertentu, setiap makhluk dapat dikatakan melakukan komunikasi dalam pengertian berbagi pengalaman. Lewat komunikasi orang berusaha mendefinisikan sesuatu, termasuk istilah komunikasi itu sendiri.
Apakah komunikasi itu suatu tindakan sesaat, suatu peristiwa, atau suatu proses yang terus berkesinambungan? Tidak ada suatu definisi pun yang dapat menggambarkan fenomena ini secara utuh. Hingga kini, terdapat ratusan definisi komunikasi yang telah dikemukakan para ahli. Sering kali suatu definisi komunikasi berbeda atau bahkan bertentangan dengan definisi lainnya..
Dance menemukan ada tiga dimensi konseptual penting yang mendasari definisi-definisi komunikasi (Littlejohn: 1996). Dimensi pertama adalah tingkat observasi (level of observation), atau derajat keabstrakannya.
Misalnya, definisi sebagai ‘proses yang menghubungkan satu sama lain bagian-bagian terpisah dunia kehidupan’ adalah terlalu umum, sementara komunikasi sebagai ‘alat untuk mengirim pesan militer, perintah, dan sebagainya lewat telepon, telegraf, radio, kurir, dan sebagainya’ terlalu sempit.
Dimensi kedua adalah kesengajaan (intentionality). Sebagian definisi
sedangkan sebagian definisi lainnya tidak menuntut syarat ini. Contoh definisi yang mensyaratkan kesengajaan ini dikemukakan Gerald R. Miller, yakni komunikasi sebagai ‘situasi-situasi yang memungkinkan suatu sumber mentransmisikan suatu pesan kepada seorang penerima dengan didasari untuk mempengaruhi perilaku penerima.’ Sedangkan definisi komunikasi yang mengabaikan kesengajaan adalah definisi yang dinyatakan oleh Alex Gode, yakni ‘suatu proses yang membuat sama bagi dua orang atau lebih apa yang tadinya merupakan monopoli seseorang atau sejumlah orang’.
Dimensi ketiga adalah penilaian normatif. Sebagian definisi meskipun secara implisit, menyertakan keberhasilan atau kecermatan; sebagian lainnya tidak seperti itu. Definisi komunikasi dari John B. Hoben, misalnya mengasumsikan bahwa komunikasi itu (harus) berhasil: ‘Komunikasi adalah pertukaran verbal pikiran atau gagasan.’ Asumsi di balik definisi tersebut adalah bahwa suatu pikiran atau gagasan secara berhasil dipertukarkan.
Sebagian definisi lainnya tidak otomatis mensyaratkan keberhasilan ini, seperti definisi komunikasi dari Bernard Berelson dan Gary Steiner:
“komunikasi adalah transmisi informasi.” Jadi definisi tersebut tidak mensyaratkan bahwa informasi harus diterima atau dimengerti.
Jadi, kata komunikasi menurut bahasa merupakan usaha untuk mencapai kesamaan makna akan informasi yang ditukar atau dibicarakan.
Pengertian komunikasi menurut ahli yang paling popular yakni pengertian komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Lasswell (Effendy, 2009: 10).
Dalam karyanya “The Structure and Function of Communication in Society”, Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah menjawab pertanyaan berikut: “who says what in which channel to whom with what effect”. Paradigma tersebut menunjukkan bahwa komunikasi meliputi unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni:
komunikator (communicator, source, sender), pesan (message), media (Channel), komunikan (communicator, receiver), efek (effect). Jadi berdasarkan penjelasan dari pemikiran Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang dapat menimbulkan efek tertentu.
Terdapat tiga unsur yang paling mutlak yang harus dipenuhi dalam proses komunikasi, agar sebuah komunikasi menjadi efektif, diperlukannya unsur-unsur yang paling mendasar sebagai persyaratan terjadinya komunikasi (Nurjaman & Umam, 2012: 36-38):
a. Komunikator, orang yang menyatakan pesan kepada komunikan yang dapat berupa perseorangan atau kelompok.
b. Komunikan, orang yang menerima pesan dari komunikator.
c. Saluran/media, jalan yang dilalui oleh isi pernyataan komunikator kepada komunikan yang digunakan oleh pengirim pesan. Nurjaman dan umam berpendapat bahwa setiap unsur tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dan saling berketergantungan satu sama lainnya yang dapat menentukan keberhasilan dari sebuah komunikasi.
Selain ketiga unsur tersebut, terdapat enam unsur-unsur komunikasi lainnya selain yang telah disebutkan diatas. Dalam totalnya, terdapat Sembilan unsur yang menjadi faktor-faktor kunci, yaitu (Effendy, 2009: 18):
a) Sender, atau komunikator adalah unsur yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang.
b) Encoding, atau penyandian adalah sebuah proses pengalihan pikiran ke dalam bentuk lambang.
c) Message, atau pesan adalah seperangkat lambang yang mempunyai makna yang disampaikan oleh komunikator.
d) Media, adalah sebuah saluran komunikasi tempat berjalannya pesan dari komunikator kepada komunikan.
e) Decoding, adalah proses saat komunikator menyampaikan makna pada lambang yang ditetapkan komunikan.
f) Receiver, adalah komunikan yang menerima pesan komunikator.
g) Response, merupakan sebuah tanggapan atau reaksi dari komunikan setelah menerima pesan.
h) Feedback, merupakan sebuah umpan balik yang diterima komunikator dari komunikan.
i) Noise, adalah gangguan yang tidak direncanakan namun terjadi selama proses komunikasi dan menyebabkan komunikan menerima pesan yang berbeda dari komunikator.
Proses komunikasi dalam prosesnya memiliki dua tahap, yaitu proses komunikasi secara primer dan sekunder (Effendy, 2009: 11-18):
a. Proses Komunikasi Secara Primer, dalam hal ini proses komunikasi secara primer menyampaikan pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang sebagai media.
Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Bahwa bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah itu berbentuk ide, informasi atau opini; baik mengenai hal yang konkret maupun abstrak, bukan saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, melainkan juga pada waktu yang lalu dan masa yang akan datang. Pada tahapan pertama, seorang komunikator menyandi (encode) pesan atau informasi yang akan disampaikan kepada komunikan. Pada tahap ini komunikator mentransmisikan pikiran/ perasaan ke dalam lambang yang diperkirakan dapat dimengerti oleh komunikan. Kemudian komunikan mengawasandi (decode) pesan ataupun informasi tersebut dimana komunikan menafsirkan lambang yang mengandung pikiran atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertiannya. Setelah itu, komunikan akan bereaksi (response) terhadap pesan tersebut dan memberikan umpan balik (feedback). Jika terdapat umpan balik positif, komunikan akan memberikan reaksi yang menyenangkan sehingga komunikasi berjalan lancar. Sebaliknya, jika terdapat umpan balik negatif, komunikan memberikan reaksi yang tidak menyenangkan sehingga komunikator enggan melanjutkan komunikasinya. Dalam tahap umpan balik ini, terdapat transisi fungsi
dimana komunikan menjadi encoder dan komunikator menjadi decoder.
b. Proses Komunikasi Secara Sekunder, proses komunikasi ini adalah lanjutan dari proses komunikasi primer dimana terdapat alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama dalam penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lainnya. Biasanya penggunaan alat atau sarana ini digunakan seseorang dalam melancarkan komunikasi dimana komunikannya berada relatif jauh atau berjumlah banyak. Terdapat beberapa contoh media kedua yang dimaksud yang sering digunakan dalam komunikasi, yaitu telepon, surat, surat kabar, radio, majalah, televisi dan banyak lainnya. Peranan media sekunder ini dilihat penting dalam proses komunikasi karena dapat menciptakan efisiensi dalam mencapai komunikan. Contohnya adalah surat kabar atau televisi dimana media ini dapat mencapai komunikan dengan jumlah yang sangat banyak dengan hanya menyampaikan sebuah pesan satu kali saja. Tetapi kekurangan dari media sekunder ini adalah keefektifan dan keefisienan penyebaran pesan-pesan yang bersifat persuasif karena kerangka acuan khalayak yang menjadi sasaran komunikasinya tidak diketahui komunikator dan dalam prosesnya, umpan balik berlangsung tidak pada saat itu yang dalam hal ini disebut umpan balik tertunda (delayed feedback). Dalam proses komunikasi secara sekunder, komunikator harus memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang digunakan dalam menata lambang-lambang yang akan diformulasikan dari isi pesan komunikasi.
Menurut Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik (2009: 14) fungsi komunikasi dibagi menjadi empat, yaitu:
a) Menginformasikan (to inform), mengenai peristiwa yang terjadi ide atau pikiran yang disampaikan kepada orang lain.
b) Mendidik (to educate) dengan menyampaikan ide dan gagasan maka orang lain atau komunikan akan mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.
c) Menghibur (to entertain)
d) Mempengaruhi (to influence) dengan berusaha mengubah cara pandang, sikap dan perilaku komunikan sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk tujuan dari komunikasi menurut Zimmerman (Mulyana, 2005:
4) kita dapat membagi tujuan komunikasi tersebut menjadi dua kategori besar. Pertama, untuk menyelesaikan tugas-tugas penting bagi kebutuhan kita. Kedua, kita melakukan komunikasi untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain.
Sedangkan menurut Effendy (2008: 8) ada tujuan komunikasi yang dibagi atas empat bagian, yaitu:
a. Mengubah sikap (to change the attitude)
b. Mengubah opini/pendapat (to change the opinion) c. Mengubah perilaku (to change behavior)
d. Mengubah masyarakat (to change society) 2.1.2 Komunikasi Massa
Komunikasi massa diadopsi dari istilah bahasa Inggris, mass communication sebagai kependekan dari mass media communication (komunikasi media massa). Artinya komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass communication (Wiryanto, 2004: 69).
Komunikasi massa adalah studi ilmiah tentang media massa beserta pesan yang dihasilkan, pembaca/pendengar/penonton yang akan coba diraihnya dan efeknya terhadap mereka. Pembahasan komunikasi yang kian pesat dan kompleks beserta penelitian yang terus menerus dilakukan menjadi bukti bahwa ilmu komunikasi massa menjadi bagian penting dalam proses kajian keilmuan. Bahkan menjadi peran penting dalam sejarah perkembangan manusia, terutama komunikasi. Masyarakat kita dewasa ini tidak akan lepas dari peran ilmu komunikasi massa. Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Media massa
menunjuk pada hasil produk teknologi modern sebagai saluran dalam komunikasi massa. Massa dalam arti komunikasi massa lebih merujuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa. Tetapi dari sekian banyak definisi bisa dikatakan media massa bentuknya antara lain media elektronik (televisi, radio), media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), buku dan film. Dalam perkembangan komunikasi massa yang sudah sangat modern ini ada satu perkembangan tentang media massa yakni ditemukannya internet (Nurudin: 2003).
Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (dikutip dalam Ardianto & Komala: 2004), yakni:
“komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa.
Jadi, sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri ribuan, bahkan puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media termasuk media massa maka itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran, dan televisi (media elektronik); surat kabar dan majalah (media cetak); serta media film. Film sebagai media komunikasi massa adalah film bioskop”.
Menurut Nurudin (2003: 16) ada sebanyak tujuh ciri-ciri yang menggambarkan komunikasi massa, yaitu:
a) Komunikator dalam komunikasi massa melembaga.
b) Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen.
c) Pesannya bersifat umum.
d) Komunikasinya berlangsung satu arah.
e) Komunikasi massa menimbulkan keserempakan.
f) Komunikasi massa mengandalkan peralatan teknis.
g) Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper.
Denis McQuail (2011: 117-118) menjelaskan proses komunikasi massa yang sekaligus menjelaskan ciri atau karakteristik komunikasi massa sebagai berikut:
a. Institusi ini dirancang untuk dapat menjangkau masyarakat luas.
b. Pengirim, hal ini adalah organisasi media massa atau komunikator seperti wartawan, penyiar, artis, produsen dan sebagainya yang bekerja untuk organisasi atau media massa yang berkaitan.
c. Hubungan antara pengirim dan penerima bersifat satu pihak (one- sided) dan tidak ditujukan kepada orang-orang tertentu saja (impersonal) dan terdapat jarak sosial dan jarak fisik yang memisahkan kedudukan pengirim dan penerima pesan.
d. Hubungan antara pengirim dan penerima pesan tidak saja bersifat asimetris, namun juga kalkulatif dan manipulative.
e. Pada umumnya, pesan media massa merupakan produk kerja yang memiliki nilai tukar di pasaran media dengan nilai kegunaan bagi penerimanya, yaitu konsumen media.
f. Audien media massa terdiri atas kumpulan besar orang yang terletak tersebar dan bersifat pasif karena tidak memiliki kesempatan untuk memberikan respons atau berpartisipasi dalam proses komunikasi dengan cara yang alami.
g. Audien media massa pada umumnya menyadari bahwa mereka adalah bagian dari audien yang lebih besar, namun mereka memiliki hubungan atau pengetahuan yang terbatas dengan audien lainnya.
h. Audien yang bersifat massa itu terbentuk untuk sementara waktu karena adanya hubungan yang bersifat serentak dengan pengirim sedangkan eksistensi audien itu sendiri tidak pernah ada kecuali dalam catatan industri media.
2.1.3 Jurnalistik
Jurnalistik sendiri berasal dari kata “jour” Perancis yang berarti
“catatan harian”. Sejak zaman romawi kuno, Julius Caesar telah dikenal kata
“Acta Diurna” yang berarti segala kegiatan dari hari ke hari seperti pengumuman pemerintah, dan lain sebagainya (Djen Amar, 1984: 30).
Istilah jurnalistik pada saat ini, mungkin sudah tidak asing lagi terdengar di telinga. Di era sekarang ini berbagai media informasi dan telekomunikasi sangat mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat,
khususnya di perkotaan, bahkan media massa dapat mempengaruhi masyarakat sampai ke pelosok-pelosok pedesaan. Televisi dan radio bukan lagi barang yang dianggap mewah, sehingga banyak masyarakat desa yang memilikinya. Sehingga dari media massa itulah kerap sering termuat istilah jurnalistik. Karena media massa sebagai sarana penyaluran kegiatan hasil kerja jurnalistik. Dari segi asal katanya, istilah jurnalistik berasal dari Jurnalistiek (bahasa Belanda). Sama halnya dengan istilah dalam bahasa Inggris yaitu Journalism yang bersumber dari perkataan journal, yang merupakan terjemahan dari bahasa Latin Diurna yang berarti “harian” atau
“setiap hari”, dimana segala berita yang pada hari itu termuat dalam lembaran kertas yang tercetak (Djen Amar, 1984: 31).
Menurut Ensiklopedi Indonesia, jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan kehidupan sehari-hari (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran, dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada (Suhandang, 2004: 22).
Dasar-dasar jurnalistik adalah hal yang mendasar tentang dunia jurnalistik yang meliputi dua hal, yaitu (Wahyudin: 2016):
a. Pengetahuan (Knowledge)
Dasar-Dasar Jurnalistik dalam hal pengetahuan yang terpenting adalah pengetahuan tentang "istilah-istilah kunci" (key terms) atau
"kata kunci" (keywords) seperti sejarah dan asal-usul kata jurnalistik itu sendiri, pengertian jurnalistik, produk jurnalistik, berita, reportase, kode etik jurnalistik, bahasa jurnalistik, pers, media, wartawan, reporter, redaksi, editor, dan sebagainya.
b. Keterampilan Jurnalistik
Dasar-Dasar Jurnalistik dalam hal keterampilan yang terpenting adalah teknik reportase, termasuk wawancara, dan penulisan berita karena berita merupakan produk utama jurnalistik sekaligus karya utama wartawan (jurnalis).
Menurut Wahyudin (2016) Sebagai proses, jurnalistik adalah
“aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi
kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan.
Sebagai teknik, jurnalistik adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan”
(skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara. Sebagai ilmu, jurnalistik adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebagai ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan. Secara praktis, jurnalistik adalah proses pembuatan informasi atau berita (news processing) dan menyebarluaskannya melalui media massa (Wahyudin: 2016).
Aktivitas atau proses jurnalistik umumnya menghasilkan berita, selain jenis tulisan seperti artikel dan feature. Berita adalah laporan peristiwa yang baru terjadi atau kejadian aktual yang dilaporkan di media massa (Asep, Romli: 2001).
Tahap-tahap pembuatan/penulisan berita menurut Asep dan Romli (2009) adalah sebagai berikut:
a) Mengumpulkan fakta dan data peristiwa yang bernilai berita – aktual, faktual, penting dan menarik dengan ‘mengisi’ enam unsur berita 5W + 1H (What/Apa yang terjadi, Who/Siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Where/Dimana kejadiannya, When/Kapan terjadinya, Why/Kenapa hal itu terjadi, dan How/Bagaimana proses kejadiannya).
b) Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W + 1H dengan menggunakan bahasa jurnalistik – spesifik = kalimatnya pendek-pendek, baku, sederhana dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan mudah dipahami oleh orang awam.
c) Komposisi naskah berita terdiri atas: Head (judul), Date Line (baris tanggal) yaitu nama tempat berlangsungnya peristiwa atau tempat berita dibuat, ditambah dengan nama media, Lead (teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian paling penting atau hal yang menarik, dan Body (isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di lead.
Secara spesifik bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik radio siaran, bahasa jurnalistik televisi, dan bahasa jurnalistik media online (Haris Sumadiria: 2016).
Ada tujuh belas ciri utama bahasa jurnalistik yang berlaku untuk semua bentuk media berkala tersebut, yaitu (Haris Sumadiria: 2016):
Sederhana, selalu mengutamakan atau memilah kata dan kalimat yang paling banyak diketahui oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya.
Singkat, langsung kepada pokok masalah, tidak bertele-tele, tidak memboroskan waktu pembaca.
Padat, berarti sarat informasi. Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.
Lugas, tegas dan tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang dapat membingungkan pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.
Jelas, mudah ditangkap maksud dari penulisan berita tersebut, tidak baur dan kabur.
Jernih, tidak menyembunyikan maksud lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah.
Menarik, mampu membangkitkan minat dan perhatian pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur terjaga seketika.
Demokratis, bahasa jurnalistik tidak mengenali tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa, dan pihak yang disapa.
Bahasa jurnalistik menekankan pada aspek fungsional dan komunal sehingga
sama sekali tidak dikenal pendekatan feudal sebagaimana dijumpai pada masyarakat dalam lingkungan priyayi dan keraton.
Populis, setiap kata, istilah atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pembaca.
Logis, apapun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat atau paragraf jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat.
Gramatikal, setiap kata istilah, dan kalimat apapun yang terdapat dalam karya jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku.
Menghindari kata tutur: Kata tutur adalah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal. Contoh: bilang, dibilangin, bikin, kayaknya, mangkanya, kelar, jontor, dll.
Menghindari kata dan istilah asing: Berita atau laporan yang banyak disisipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif, juga sangat membingungkan. Menurut teori komunikasi, media massa anonim dan heterogen, tidak saling mengenali dan benar-benar majemuk.
Pilihan kata (diksi) yang tepat: Bahasa jurnalistik sangat menekankan efektivitas. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus produktif, tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektivitas. Artinya, setiap kata yang dipilih memang tepat dan akurat, sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak.
Mengutamakan kalimat aktif: Kalimat aktif lebih mudah dipahami dan lebih disukai pembaca daripada kalimat pasif. Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas pemahaman, sedangkan kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan mengaburkan pemahaman.
Menghindari kata atau istilah teknis: Karena ditujukan untuk umum, bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut.
Bagaimanapun, kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut perspektif filsafat bahasa, tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen. Selain tidak efektif, itu juga mengandung unsur pemerkosaan.
Tunduk kepada kaidah etika: Salah satu fungsi utama pers adalah mendidik. Fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi isi berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan pikiran seseorang, tetapi sekaligus juga menunjukkan etika orang itu. Sebagai pendidik, pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku.
Menurut Ahmad Y. Samantho (2002: 64) Jurnalistik juga mempunyai empat fungsi dalam masyarakat selain fungsi nya sebagai pemberi informasi, yaitu:
a. Fungsi sosialisasi (pendidik masyarakat), peran dan fungsi jurnalistik harus lebih aktif dalam memberikan informasi dan sosialisasi sehingga dapat meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa.
b. Fungsi menghibur, informasi yang disajikan media pers tidak hanya berita-berita serius atau berita-berita berat (hard news), tetapi juga berita atau karya jurnalistik lainnya yang mampu membuat pembaca tersenyum. Biasanya berbentuk fiksi, seperti cerpen, cerita bersambung, cerita bergambar, karikatur, gambar-gambar kartun, bahkan juga tulisan-tulisan yang bersifat human interest.
c. Fungsi penyalur dan pembentuk pendapat umum, dengan adanya berita atau informasi yang berpengaruh, maka akan membentuk pendapat para pembacanya dan berpikir sesuai dengan pola yang diinginkannya. Dalam hal ini setiap tulisan sesungguhnya akan selalu membentuk sebagian dari pendapat umum.
d. Fungsi kontrol sosial, sebagai media penyampai informasi, media pers tidak hanya sebatas menyampaikan atau memberikan informasi yang berkaitan dengan suatu peristiwa, akan tetapi berkewajiban juga menyampaikan gagasan-gagasan maupun pendapat yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas. Bila ada suatu kebijakan, baik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga tertentu, yang dipandang tidak sesuai atau berlawanan dengan kepentingan masyarakat, media pers punya kewajiban untuk mengingatkan. Cara mengingatkannya
dilakukan melalui tulisan di tajuk rencana maupun karya jurnalistik lainnya.
2.1.4 Persepsi
Dalam perspektif ilmu komunikasi, persepsi dapat dikatakan sebagai inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti dari persepsi yang identik dengan penyandian balik (decoding) dalam proses komunikasi (Mulyana, 2003: 167). Hal ini tampak jelas pada definisi John R. Wenburg dan William W. Wilmot yang mengatakan bahwa “persepsi dapat di definisikan sebagai cara organisme memberi makna” atau definisi menurut Rudolf F. Verderber, bahwa “persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi” (Alex Sobur, 2013: 446).
Slameto (2010: 102) menyebutkan persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasa dan pencium. Apa yang ada dalam diri individu akan ikut berpengaruh dalam proses persepsi, sehingga persepsi seseorang akan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menyebabkan seseorang memberikan interpretasi berbeda saat melihat sesuatu. Segala sesuatu yang terdapat di lingkungan, baik dilihat, didengar, dihayati, dirasa, dan dicium akan diproses sebagai informasi untuk bertindak.
Menurut Berelson dan Steiner (Severin dan Tankard: 2009) mendefinisikan persepsi sebagai berikut:
“persepsi merupakan proses yang kompleks dimana orang memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan respons terhadap suatu rangsangan ke dalam situasi masyarakat dunia yang penuh arti dan logis”.
Dalam hal ini persepsi merupakan aktivitas belajar yang aktif dan berkesinambungan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Benner, Hoffman dan Prakash (Severin dan Tankard: 2009) bahwa:
“persepsi adalah aktivitas aktif yang melibatkan pembelajaran dan pengaruh timbal balik dalam pengamatan”.
Pada umumnya teori-teori di atas menggunakan bahasa atau istilah yang berbeda dalam menjelaskan proses terjadinya persepsi, tetapi bila dipahami lebih jauh maknanya sama dan mirip, perbedaan mendasarnya terletak pada detail dari tahap-tahap terjadinya persepsi, karena itu berdasarkan teori-teori tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses terjadinya atau terbentuknya persepsi dapat dilihat skema pada gambar di bawah ini:
Gambar 2.1
Proses Terbentuknya Persepsi
Sumber: Sobur, 2009
Sobur menjelaskan gambar diatas sebagai berikut:
1) Terjadinya stimuli alat indera( sensory stimulation)
Pada tahap-tahap ini alat indera di stimuli (dirangsang), misalnya kita melihat, mencicipi, meraba sesuatu. Beberapa contoh diatas adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh alat indera kita.
2) Stimuli terhadap alat indera
Pada tahapan kedua, rangsangan terhadap alat indera diatur, menurut berbagai prinsip, salah satunya prinsip proksimitas (proximity) atau kemiripan, orang atau pesan yang secara fisik, mirip satu sama lain, dipersepsikan secara bersama-sama atau sebagai satu kesatuan (unity).
Persepsi lain adalah Kelengkapan (closure), kita memandang atau mempersepsikan suatu gambar atau pesan yang dalam kenyataannya tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap.
3) Stimuli alat indera ditafsirkan-dievaluasikan
Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman
masa lalu, stimuli alat indera diatur terjadinya stimulasi alat indera dan ditafsirkan kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keyakinan tentang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat ini, dan sebagainya yang ada pada kita.
Selain kerangka pemikiran serta pengalaman yang mempengaruhi terbentuknya suatu persepsi serta melahirkan beberapa perbedaan persepsi antara individu, juga terdapat beberapa faktor-faktor pembentuk persepsi.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya persepsi adalah sebagai berikut (Rakhmat, 2011: 54):
1) Faktor-faktor fungsional
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang disebut sebagai faktor-faktor personal. Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.
2) Faktor-faktor struktural
Faktor-faktor struktural yang menentukan persepsi berasal dari luar individu, seperti lingkungan, budaya, hukum yang berlaku, nilai-nilai dalam masyarakat sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam mempersepsikan sesuatu.
Berdasarkan faktor-faktor yang dikemukakan oleh Rakhmat tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor fungsional adalah faktor internal yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, seperti: pengalaman, motivasi, perhatian dan sebagainya. Sementara itu faktor struktural adalah faktor eksternal yang berasal dari luar diri individu tersebut, seperti: lingkungan, pengaruh individu lainnya, dan sebagainya. Sementara itu Robins (dalam Simbolon, 2008: 55), faktor pembentukan persepsi:
1) Pelaku Persepsi
Pelaku persepsi, dalam hal ini merupakan faktor pembentukan persepsi yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Bila individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang