• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. kesetaraan manusia dimata hukum (Equality before the law) dalam hal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. kesetaraan manusia dimata hukum (Equality before the law) dalam hal"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-undang Dasar Republik Indonesia menegaskan bahwasanya Indonesia merupakan Negara hukum, yang termaktub dalam bab 1 bentuk dan kedaulatan pasal 1 ayat 3 UUD 1945. Sebagai Negara hukum Indonesia menjunjung tinggi Hak Asasi manusia tanpa mengecualikan status manusia tersebut dan memegang teguh akan kesetaraan manusia dimata hukum (Equality before the law) dalam hal penegakkan hukum perlu adanya penegak atau fasilitas dengan tujuan sebagai tegaknya aturan hukum tersebut tanpa adanya suatu penegak ataupun fasilitas belum dikatakan sempurna penegakkan hukum di Negara tersebut.1

Peradilan merupakan fasilitas dalam penegakan hukum dan dapat juga dikatakan sebagai suatu macam penegakan hukum, karena aktivitasnya juga tidak terlepas dari hukum yang telah dibuat dan disediakan oleh badan pembuat hukum. Dalam hukum terdapat dua istilah peradilan dan pengadilan . dimana peradilan merupakan proses pemeriksaan perkara di pengadilan , yang dimaksud adalah acara pemeriksaan perkara oleh Hakim di lingkungan Pengadilan.2 Sedangkan pengadilan merupakan salah satu

1 Afandi (2019). Hukum acara peradilan agama dalam teori dan praktik. Malang: Setar pres. h.1

(2)

2

lembaga dalam proses penegakan hukum tersebut, diantara lain lembaga- lembaga yang terlibat dalam prioses mengadili adalah kepolisian, kejaksaan dan advokat.

Pengadilan juga dituntut untuk dapat berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Tidak dapat dipungkiri jika setiap tahunnya terjadi peningkatan jumlah kasus atau perkara yang masuk ke pengadilan.

Pengadilan sudah saatnya untuk meminimalisir peningkatan tersebut agar pengadilan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Hal tersebut juga didukung dengan asas dalam hukum acara yaitu, “peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan."3 Asas tersebut adalah acuan bagi seluruh Hakim untuk melaksanakan kewajiban Hakim dengan tujuan untuk memberikan keadilan menghemat waktu bagi para pihak yang akan menyelesaikan perkara nya di Pengadilan. Perkara tersebut baik perkara perdata maupun dalam kasus pidana hakim mengupayakan supaya asas tersebut dapat terealisasikan dengan tepat. Penerapan Asas Peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan diterapkan di seluruh lingkungan pengadilan yang ada dibawah naungan Mahkamah Agung.

Tentunya dalam penegakan hukum di Indonesia, prosedur persidangan telah berkembang. Perkembangan teknologi yang pesat berdampak besar bagi kehidupan manusia, terutama kemudahan perolehan informasi. Guna menjawab segala tantangan kemajuan teknologi,

3 Pemerintah Indonesia, Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman, UndangUndang Nomor 48 Tahun 2009, op. cit, Pasal 2 ayat (4)

(3)

3

Mahkamah Agung telah melakukan terobosan baru untuk memberikan layanan peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan yaitu melalui PERMA Nomor 1 tahun 2019 tentang administrasi perkara dan persidangan secara elekronik.4

Administrasi Perkara dan Persidangan secara elektronik ini membuka lebar dan memperluas praktik peradilan di indonesia, serta penyempurnaan dari PERMA Nomor 3 Tahun 2018 Tentang administrasi perkara secara elektronik (E-COURT). Melalui perma ini masyarakat dengan mudah pencari keadilan dapat lebih mudah mengajukan gugatan/permohonan termasuk keberatan, perlawanan, intervensi, melakukan pembayaran, menerima panggilan sidang, penyampaian jawaban, replik, duplik, kesimpulan, upaya hukum, dan dokumen perkara dengan sistem elektronik yang berlaku di seluruh pengadilan.5 Peraturan Mahkamah Agung tersebut tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan secara Elektronik mengembangkan ruang lingkup tersebut yaitu persidangan secara elektronik yang terdiri dari proses memeriksa dan mengadili perkara oleh pengadilan denga bantuan teknologi informasi dan komunikasi. Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik diakses oleh pengguna terdaftar yaitu Advokat dan pengguna lainnya yaitu

4 E-litigasi, inovasi pelayanan publik pengadiln berkemajuan, E-Litigasi, Inovasi Pelayanan Publik Pengadilan Berkemajuan - Ombudsman RI

5 2019, Ini 7 Kebijakan MA Terkait Penanganan Perkara ... Halaman 2 - hukumonline.com

(4)

4

Jaksa Pengacara Negara, Biro Hukum Pemerintahan/TNI/POLRI, Kejaksaan RI, Direksi/Pengurus yang ditunjuk menjadi Badan Hukum.6

Tentunya selain pemberian pelayanan administrasi yang efektif dan efisien. Salah satu keuntungan penggunaan Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik antara lain adalah pemanggilan para pihak, pengiriman replik-duplik, biaya perkara lebih efektif dengan berdasarkan pada asas cepat, sederhana dan biaya ringan yang menjadi serangkaian administrasi perkara secara elektronik yang berlaku di masing-masing lingkungan peradilan. Dengan dihadirkannya Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik memberikan banyak dampak positif dalam proses penyelesaian perkara di pengadilan, serta sesuai dengan asas penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yakni sederhana, cepat dan biaya ringan. Dalam hal ini keberadaan asas ini didasarkan pada Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan “Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan.”, yang dalam penjelasan umum undang-undang ini menyatakan

bahwa:

Pasal 2:

……….

Ayat (4) :

Yang dimaksud dengan “sederhana” adalah pemeriksaan dan penyelesaian perkara dilakukan dengan cara efisien dan efektif.

Yang dimaksud dengan “biaya ringan” adalah biaya perkara yang dapat dijangkau oleh masyarakat.

6 Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik

(5)

5

Namun demikian, asas sederhana, cepat, dan biaya ringan dalam pemeriksaan dan penyelesaian perkara di pengadilan tidak mengesampingkan ketelitian dan kecermatan dalam mencari kebenaran dan keadilan.

Dengan dijalankannya Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik pada lembaga peradilan diharapkan dapat memajukan dan memperbaiki sistem peradilan di Indonesia serta memberikan keadilan untuk masyarakat Indonesia7. Disamping itu, dalam asas tersebut harus dilaksanakan agar proses pelaksanaan penegakan hukum di Indonesia berlandaskan pada asas Peradilan Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan untuk memberikan perlindungan serta kepastian hukum bagi para pencari keadilan yang menjalani proses peradilan di Indonesia.8 Namun pada pelaksanaanya, dalam pelayanan publik oleh aparatur Negara masih banyak dijumpai kelemahan dan belum dapat memenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat. Terkait pelayanan masyarakat di pengadilan memang tak selamanya dapat diawasi, banyaknya pengaduan yang masuk menunjukkan pengawasan internal Mahkamah Agung ke pengadilan tidak berjalan efektif.9

Pernyataan tersebut di atas, karena Mahkamah Agung sendiri memiliki kewenangan melakukan pengawasan melalui Badan Pengawasan (Bawas), meskipun Badan Pengawas tidak selalu memantau, banyak

7 Jayani D, Elfitaningsih V, Agustin D, Raditya R, Urgensi Pembentukan E-Court sebagai Wujud Peradilan yang Berkembang, Lontar Merah, 2020

8 Penjelasan Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

9 https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt57b6fbf0efdf6/ma-harus-fokus-pembenahan- pelayanan-publik-di-pengadilan

(6)

6

pengaduan dari masyarakat yang masuk melalui Ombudsman, yaitu sebuah lembaga yang menerima keluhan-keluhan dari masyarakat terhadap pemerintah. Lembaga tempatnya bernaung menerima banyak pengaduan masyarakat, terkait dengan substansi peradilan.

Pertama, jadwal sidang yang seringkali tidak sesuai. Ketepatan waktu dan efektifitas dalam pemeriksaan perkara berdampak pada pemenuhan asas peradilan cepat, sederhana dan berbiaya ringan.

Pelanggaran terhadap asas ini pun merugikan para pihak, karena tak kunjung memberikan kepastian hukum. Kedua, layanan informasi di pengadilan. Menurutnya, setiap orang memiliki akses informasi yang sama di pengadilan. Namun praktiknya, terjadi perbedaan perlakuan yang diberikan oleh petugas pengadilan terhadap pemohon informasi.

Masyarakat awam hukum cenderung mendapatkan informasi lebih terbatas dibanding pemohon informasi tertentu.

Salah satu wujudnya, upaya peningkatan kualitas pelayanan publik dibuktikan dengan diluncurkannya layanan sistem Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Di Pengadilan Secara Elektronik. Adanya layanan sistem Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik ini merupakan upaya MA untuk memenuhi asas peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Layanan sistem Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik disediakan sebagai perangkat yang membantu masyarakat dalam proses pendaftaran

(7)

7

dan pembayaran perkara di pengadilan serta pemanggilan para pihak melaui media elektronik.10

Di dalam asas tersebut bertujuan agar proses penyelesaian perkara dapat diatasi dalam waktu yang singkat, sehingga bisa mempersingkat waktu, tidak bertele-tele, artinya proses peradilan tidak banyak ditunda atau diundur sehingga mengurangi kemungkinan perkara yang belum ada kepastian dalam penenganan pada kasusnya. Peradilan sederhana merupakan proses pemeriksaan dan penyelesaian perkaran dengan cara efektif dan efesien, sehingga asas ini menjelaskan bahwa sederhana yang dimaksud adalah tidak rumit dan tidak dipersulit, dan yang selanjutnya adalah biaya ringan yang dimaksud adalah biaya dari perkara yang bisa dijangkau masyarakat.

Mencermati pelaksanaan layanan Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik sejak diluncurkan, ditemukan beberapa kelemahan yang membuat sistem layanan tersebut tidak digunakan secara optimal. Kelemahan tersebut dilihat dari keseimbangan ketiga unsur hukum yang mendasari pembentukannya. Ketiga unsur hukum yang meliputi substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum perlu diperhatikan untuk menciptakan sistem hukum yang berjalan efektif.

Proses Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik ini merupakan sautu proses yang dapat mendukung berjalannya suatu roda

10 Universitas Diponegoro, Optimalisasi Sistem Layanan Pengadilan Berbasis Elektronik Guna Menjamin Keterbukaan Informasi Menuju Peradilan Yang Modern, Semarang, 2019. Vol. 3

(8)

8

peradilan yang cepat, dimana kita ketahui proses ini merupakan salah satu langkah awal yang dilakukan oleh Lembaga Peradilan demi terwujudnya suatu peradilan yang cepat. Penerapan tersebut belum dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B yang mana tugas dari pengadilannya sendiri adalah menerima, memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama, yang dimana merupakan ranah daripada Pengadilan Negeri guna terciptanya peradilan yang terpadu di ponorogo.

Sesuai yang telah dipaparkan penulis diatas, maka dalam pelaksanaan Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik ini, Pengadilan diharapkan mampu meningkatkan pelayanan dalam fungsinya menerima pendaftaran perkara secara elektronik, sehingga masyarakat akan lebih menghemat waktu dan biaya saat melakukan pendaftaran perkara.11 Selain menghemat waktu dan biaya perkara, hasil Putusan dapat diakses dengan mudah dan panjar biaya perkara menjadi lebih efisien. Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik di Indonesia merupakah langkah terobosan pertama kali dilaksanakannya sistem peradilan berbasis elektronik. Sesuai dari penjelasan di atas, menurut penulis terdapat beberapa Pengadilan yang belum sepenuhnya menerapkan sistem dimana proses Administrasi persidangan dapat dilakukan secara elektronik.

Khususnya Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B. Hal tersebut terdapat banyak kendala dan faktor mengapa belum diterapkannya peraturan tersebut di salah satu Pengadilan Negeri.

11 Buku Panduan E-Court Panduan Pendaftaran Online untuk Pengguna Terdaftar, Op. Cit., hal. 3.

(9)

9

Berangkat dari penerapan langkah baru tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan wawancara di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B, karena dalam penerapan Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik tersebut di Pengadilan Negeri Ponorogo belum sepenuhnya menerapkannya yang dilatar belakangi oleh banyak faktor, padahal dengan penerapan tersebut lebih mempermudah dalam persidangan dan meminimalisir panjar biaya perkara untuk proses di Pengadilan. Melihat perkembangan Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik yang telah di modifikasi sebaik mungkin dalam praktik khususnya di wilayah Pengadilan Negeri Ponorogo sering di temukan beberapa kebingungan atau kendala-kendala dari masyarakat yakni seperti hal-hal teknis yang berhubunan dengan pengumuman dan pemberitahuan informasi kepada masyarakat.

Menurut penulis adanya Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik menimbulkan pro-kontra dikalangan masyarakat, di Ponorogo misalnya sebagaian berkata dengan adanya Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik proses persidangan seakan-akan yang sifatnya sakral terlihat biasa-biasa saja dan dirasa para pihak yang berperkara kurang akan kedekatan emosional kepada majlis hakim, sehingga menyebabkan kurang puasnya penyampaian ataupun curahan hatinya kepada majelis, karena suatu dokumen perlu adanya sebuah penjelasan dari pihak perkara kepada majelis hakim, sisi positifnya Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik sangat membantu

(10)

10

para pihak yang mempunyai waktu minim untuk pergi ke pengadilan, apalagi di masa pandemi seperti ini, orang merasa takut ketika berkumpul ataupun bertemu kepada khalayak umum.

Berdasarkan masalah di atas, adapun tujuan dari Tugas Akhir ini bertujuan untuk membahas lebih lanjut mengenai “Penerapan Perma Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara Dan Persidangan Di Pengadilan Secara Elektronik.”

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan penulis diatas yang telah dipaparkan, dalam penelitian ini memfokuskan penentuan masalah kedalam 3 (tiga) pembahasan rumusan masalah, rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Penerapan Pendaftaran Perkara Secara Elektronik dalam Pasal 2 PERMA Nomor 1 tahun 2019 di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B?

2. Bagaimana Penerapan Persidangan Secara Elektronik menurut PERMA Nomor 1 Tahun 2019 di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B?

3. Bagaimana Penerapan Pendaftaran dan Persidangan Secara Elektronik ditinjau dari Asas Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang sebagaimana penulis kemukakan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

(11)

11

1. Untuk mengetahui penerapan pendaftaran perkara secara elektronik di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B.

2. Untuk mengetahui penerapan persidangan secara online di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B.

3. Untuk mengetahui penerapan pendaftaran dan persidangan secara elektronik ditinjau asas sederhana, cepat, dan biaya ringan di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B.

D. Manfaat Penelitian

Selanjutnya dari dua tujuan yang penulis telah jabarkan, maka penulis mengharapkan bahwa dalam penelitian ini dapat memebri manfaat bagi pihak-pihak terkait. Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi Penulis

Dalam penelitian ini, penulis sangat mengharapkan dalam penelitian dapat memberikan manfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca dan menambah khazanah keilmuan terkait permasalahan yang diangkat oleh penulis yaitu tentang penerapan persidangan elektronik untuk penerapan asas sederhana, cepat, dan biaya ringan. Dalam penulisan ini juga diperuntukkan sebagai penyelesaian tugas akhir (skripsi) S1 Ilmu Hukum di Universitas Muhammadiyah Malang. Maka dari itu, penulis sangat berharap setelah skripsi ini selesai ditulis dan dilakukan penelitian agar dapat dijadikan sumber referensi bagi

(12)

12

penelitian yang dilakukan setelahnya dengan materi dan pembahasan yang sama.12

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk mengetahui penerapan Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik pada perkara perdata, dan sebagai sumber yang berkontribusi dalam pemikiran praktisi hukum acara khususnya yang memiliki wewenang sebagai penegak hukum di rana pengadilan, peradilan, serta bagi para pihak yang berperkara di Pengadilan.

3. Manfaat Teoritis

Digunakan sebagai referensi dan informasi di Fakultas Hukum dan diharapkan sebagai sumbangan pemikiran yang positif serta memberikan kontribusi untuk ilmu pengetahuan hukum, agar ilmu itu tetap hidup dan berkembang tentang Penerapan Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik pada pendaftaran perkara perdata.

4. Bagi Civitas Akademika dan Masyarakat Pada Umumnya :

Dalam penelitian ini, penulis sangat berharap dengan hasil penelitian ini bisa menjadi sumber referensi yang dapat mendukung pengetahuan dalam bidang praktisi hukum acara, sehingga para civitas akademik dan masyarakat lebih paham dan mengetahui terkait pelaksanaan penerapan

12 Muslan Abdulrahman, Sosiologi dan Metode Penelitin Hukum, UMM Press, Malang : 2009, hlm.

102

(13)

13

persidangan elektronik guna mempercepat jalannya persidangan agar mencapai sistem peradilan yang cepat dan efektif. Selain itu, penelitian ini bertujuan sebagai salah satu syarat tugas akhir dalam menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Malang.

E. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian hukum yang mengkaitkan keberadaan peraturan perundang-undangan, peraturan Mahkamah Agung, yang ada selama ini dipakai sebagai acuan dengan praktik di lapangan. Penelitian utamanya dilakukan dengam studi lapangan untuk memperoleh data sekunder yang berkaitan dengan pokok masalah yang dibahas dan diargumentasikan secara teoritik berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung dengan menggunakan metode analisis Yuridis Empiris.

F. Metode Penelitian

Penelitian hukum ini merupakan bentuk penelitian yang diterapkan atau diberlakukan khusus pada ilmu hukum itu sendiri.13 Salah satu proses dari penelitian ini adalah pedoman dalam mengumpulkan data, mengolahnya, untuk kemudian di analisa dan dituangkan dalam penulisan ini.14 Dalam proses dilakukannya penelitian ini, menggunakan pendekatan untuk mendapatkan

13 F. Sugeng Sanyoso, Penelitian Hukum, CV. Ganda, Yogyakarta : 2007, hlm. 29

14 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press Cet. 3, Jakarta : 1986, hlm. 164

(14)

14

informasi dengan cara melakukan sebuah wawancara ke tempat instansi yang dituju penulis.15

1. Metode Pendekatan

Metode pendekatan adalah proses pemecahan masalah melalui tahapan yang telah ditentukan sehingga mencapai tujuan penelitian.16 Berdasarkan ruang lingkup serta identifikasi masalah sebagaimana telah diuraikan, untuk mengkaji secara komprehensif dan holistic pokok permasalahan. Dalam penelitian ini penulis menggunkan metode pendekatan hukum yuridis sosiologis memberikan arti penting pada langkah-langkah observasi dan analisis yang bersifat empiris kualitatif disebut “Social Legal Research”.17 Penelitian ini dilakukan secara nyata dengan meneliti cara-cara bekerjanya suatu hukum pada lingkungan masyarakat. Dalam melakukan penelitian hukum secara empiris ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang salah satunya seperti melakukan wawancara serta observasi ke lapangan secara langsung untuk melakukan penelitian. Penelitian secara empiris ini lebih menekankan pada penelitian dilapangan secara langsung, yaitu peneliti harus mencari data-data yang dijadikan sebagai bahannya dalam melakukan penelitian dilapangan secara langsung, dan bukan hanya mendapatkan data dengan cara perpustakaan atau dokumen-dokumen, dan lainnya. Oleh karena itu, tentunya dengan cara pendekatan tersebut dapat mempermudah peneliti untuk menelaah terkait

15 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana , Jakarta : 2010, hlm. 93

16 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung: Citra Aditya, 2004), Hal. 112

17 Supranto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta: PT. Rineka, 2003), Hal. 3

(15)

15

Pelaksanaan penerapan Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik khususnya di dalam lingkungan peradilan umum di kota Ponorogo.18

2. Lokasi Penelitian

Penulis memilih lokasi penelitian di Pengadilan Negeri Ponorogo yang beralamat di Jl. Ir. Juanda No. 23, Kec. Ponorogo, Kab. Ponorogo, Jawa Timur 63418.

3. Sumber Data

Dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data, yang mana meliputi :

a. Data Primer

Data Primer adalah data yang diperoleh langsung pada sumber penelitian dan pihak-pihak yang terkait yaitu Panitera Muda, Hakim, dan Staf di Pengadilan Negeri Ponorogo. Yang dilakukan adalah mewawancarai dengan terstruktur, maksudnya adalah pertanyaan yang sudah disiapkan secara komprehensif dan menganalisis data yang sudah ada di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B.

b. Data Sekunder

Data yang diperoleh dengan adanya literatur yang sudah ada, yang diperoleh dari bahan-bahan bacaan hukum meliputi Peraturan Mahkamah Agung, Surat Edaran Mahkamah Agung, Undang-Undang,

18 Fakultas Hukum, Universitas Internasional Batam, Efefktivitas Implementasi Kebijakan E-Litigasi Di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Kota Batam, Indonesia, (Batam, Universitas

Pendidikan Ganesha, 2021), Vol. 3

(16)

16

serta peraturan perundangan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas seperti Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman.

4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data ini melalui penelitian Yuridis Empiris yaitu dengan cara :

a. Studi Dokumen, yaitu dengan mempelajari dokumen-dokumen berupa data tertulis mengenai masalah yang diteliti seperti Peraturan Mahkamah Agung dan Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman, serta ketentuan-ketentuan pelaksanaannya yang terakit dengan penelitian.

b. Wawancara (interview), yaitu salah satu cara untuk memperoleh data, dengan melakukan tanya jawab dengan responden. Dalam interview ini dilakukan wawancara dengan Narasumber terkait, yang

dilakukan di Pengadilan Negeri Ponorogo Kelas 1B yang mana pedoman wawancara telah disiapkan terlebih dahulu.

c. Studi Pustaka, yaitu pengumpulan data tidak langsung yang ditujukan kepada subjek penelitian dalam hal ini data di dapat dari literatur-literatur yang dianggap dapat membantu dalam analisa terkait Penerapan Proses Persidangan Secara Elektronik Dalam Perkara Perdata Dalam Mewujudkan Asas Peradilan Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan ditinjau dari Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009

(17)

17

tentang Kekuasaan Kehakiman yang menggantikan Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 14 Tahun 1970 yang dalam Pasal 4 ayat (2) menyatakan, bahwa Peradilan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan.19 d. Dokumentasi, yaitu pencatatan terhadap data-data atau dokumen

tertentu dari suatu obyek yang ada, sehingga diperoleh data dan infromasi yang realistic guna membahas permasalahan yang telah dirumuskan. Dalam dokumentasi ini penulis melakukan pencatatan secara sistematis dan teratur.

5. Metode Analisa Data

Dalam melakukan analisa data, penulis menggunakan teknik analisa diskriptif analisis, yaitu setelah melakukan langkah-langkah berupa mengumpulkan data-data, kemudian disusun secara sistematis, lalu dilakukan pengolahan data-data dengan cara memadukan atau menarik hubungan / korelasi dengan apa yang diperoleh dari studi kepustakaan (teori-teori, doktrin maupun ketentuan hukum), yang tujuannya adalah mendapatkan kesimpulan jawaban permasalahan yang telah dikemukakan.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini akan dibagi menjadi 4 (empat) bab guna memudahkan penulisan untuk membahas permasalahan, yaitu:

19 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009

(18)

18 Bab I: Pendahuluan

Bab 1 (satu) merupakan uraian terhadap latar belakang, yakni memuat dan memberikan landasan yang bersifat ideal das sollen dan kenyataan das sein yang melatar belakangi suatu masalah yang hendak dikaji lebih mendalam.

Rumusan masalah yang hendak diturunkan dari latar belakang memuat suatu masalah yang akan diangkat dan dibahas. Adapun tujuan penelitian, manfaat penelitian, kegunaan, metode dan sistematika penelitian untuk mempermudah penyusunan penelitian hukum ini.

Bab II: Kajian Pustaka

Dalam bab ini penulis memaparkan landasan teori, konsep, atau kajian yang berhubungan dengan penyusunan skripsi dan diambil dari berbagai referensi atau bahan pustaka terdiri dari teori serta analisis yang meliputi Pengertian Penerapan, Tinjauan Umum tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik, Asas Kekuasaan Kehakiman.

Bab III: Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dalam bab 3 (tiga) merupakan pemaparan yang menjadi pokok bahasan sebagai objek kajian dalam penulisan. Fokus pembahasan dalam bab ini yang pertama terkait penerapan dari tujuan PERMA Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik, yang kedua terkait Persidangan secara online, dan yang ketiga terkait Asas Kekuasaan Kehakiman Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan.

Bab IV: Penutup

(19)

19

Dalam bab ini akan diberikan kesimpulan dan saran dari penulis yang sekaligus dapat memberikan kemanfaatan tertentu bagi pihak-pihak terkait.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian tersebut mengambil permasalahan mengenai pelaksanaan perjanjian kerjasama antara mitra usaha dengan rental Rezta Transport serta perlindungan hukum bagi

Penelitian tugas akhir yang dilakukan penulis berjudul “Investigasi Bawah Permukaan Segmen Cibeber Zona Sesar Cimandiri, Jawa Barat dengan Metode Audio Magnetotelurik

Sebab dimata hukum semua orang kedudukannya sama (equality before the law). Dalam penekanannya dalam menerapkan keadilan dalam putusannya, hakim harus

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa semakin tinggi kecepatan aliran masuk, maka watercut pada underflow yang dihasilkan akan semakin rendah pada nilai split-.. ratio

Bahan uji pada penelitian ini adalah hasil fraksinasi umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia L ) dengan metode fraksinasi secara bertingkat yang

Salah satu dari indikator utama yang seharusnya menjadi “lampu kuning” bagi kawasan dalam memasuki AEC 2015 adalah dengan tercatatnya perekonomian tiga negara utama

a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen karena kurangnya sanitasi dan higiene. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: mendapatkan

Untuk menempuh Wana Wisata Gunung Bromo bisa di tempuh dengan kendaraan umum atau angkudes dari kota Karanganyar ke Mojogedhang.. ( Profil Pariwisata Kabupaten Karanganyar 2008