• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

33 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan dan peningkatan hasil belajar siswa mata pelajaran Administrasi Sistem Jaringan dengan memberikan treatment menggunakan media pembelajaran video di kelas eksperimen dan media pembelajaran modul berbasis teks di kelas kontrol. Sampel pada penelitian ini yaitu siswa kelas XI TKJ SMK Negeri 2 Surakarta dengan jumlah 64 siswa dari kelas XI TKJ A dan XI TKJ B. Data yang digunakan dalam penelitian adalah hasil tes yang diberikan pada kedua kelas tersebut kemudian data dianalisis dengan menggunakan aplikasi SPSS 24.

1. Analisis Instrumen

Sebelum soal diberikan kepada siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol, instrumen soal di uji cobakan terlebih dahulu melalui tryout. Soal di ujikan kepada siswa kelas XI TKJ C yang berjumlah 30 siswa yang telah mendapatkan materi Administrasi Sistem Jaringan. Uji coba instrumen dilakukan untuk mengetahui layak atau tidaknya sebuah soal sebagai pengumpulan data penelitian. Pengujian pada instrumen soal meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji tingkat kesukaran, uji daya beda, dan uji pengecoh. Berdasarkan jumlah siswa yang mengikuti tryout yaitu 30 siswa, maka diketahui 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒 = 0,361.

Dari hasil tryout jumlah soal yang valid dalam pengujian validitas soal sebanyak 40 soal dari 60 soal yang di uji cobakan. 40 soal valid tersebut terdiri dari 20 soal pretest dan 20 soal posttest. Sedangkan pengujian reliabilitas diperoleh hasil sebesar 0,844 untuk pretest dan 0,803 untuk posttest sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai reliabilitas yang dimiliki sangat tinggi.

Selanjutnya pada uji tingkat kesukaran untuk pretest terdapat 3 soal kategori sukar, 8 soal kategori sedang, dan 19 soal kategori mudah sedangkan untuk posttest terdapat 5 soal kategori sukar, 17 soal kategori sedang, dan 8 soal kategori mudah. Uji daya beda pada soal pretest terdapat 18 soal kategori baik,

(2)

7 soal kategori cukup, dan 5 soal kategori buruk sedangkan pada soal posttest terdapat 17 soal kategori baik, 9 soal kategori cukup, dan 4 soal kategori buruk.

Selanjutnya pada uji pengecoh soal pretest dan posttest masing-masing terdapat 23 soal diterima dan 7 soal ditolak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut.

Tabel 4. 1 Hasil Pengujian Instrumen Soal

Jenis

Pengujian Hasil Pengujian Jumlah

Uji Validitas

Pretest

Valid 2, 3, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 16, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27

20

Tidak valid

1, 4, 5, 7, 13, 15, 20, 28, 29, 30

10

Posttest

Valid 2, 3, 4, 7, 8, 9, 11, 12, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 25, 27, 28

20

Tidak valid

1, 5, 6, 10, 13, 16, 23, 26, 29, 30

10 Uji

Reliabilitas Pretest Sangat tinggi

0,844 30

Posttest Sangat tinggi

0,803 30

Tingkat Kesukaran

Pretest

Sukar 3, 18, 27 3

Sedang 5, 6, 8, 10, 17, 20, 22, 24

8 Mudah 1, 2, 4, 7, 9, 11, 12,

13, 14, 15, 16, 19, 21, 23, 25, 26, 28, 29, 30

19

Posttest

Sukar 10, 18, 19, 22, 26 5 Sedang 2, 3, 4, 7, 8, 11, 12,

14, 15, 16, 17, 20, 21, 24, 25, 27, 28

17

Mudah 1, 5, 6, 9, 13, 23, 29, 30

8 Tingkat Daya

Pembeda

Pretest

Sangat baik

- -

Baik 2, 3, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 16, 18, 20, 21, 22, 24, 25, 27, 28

18

(3)

Jenis

Pengujian Hasil Pengujian Jumlah

Cukup 4, 5, 13, 15, 17, 23, 30

7 Buruk 1, 7, 19, 26, 29 5 Sangat

buruk

- -

Posttest

Sangat baik

- -

Baik 2, 3, 4, 7, 8, 9, 11, 12, 14, 15, 18, 19, 21, 22, 24, 27, 28

17

Cukup 5, 6, 13, 16, 17, 20, 23, 25, 30

9

Buruk 1, 10, 26, 29 4

Sangat buruk

- -

Uji Pengecoh

Pretest

Diterima 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 29

23

Tidak Diterima

1, 9, 11, 12, 23, 28, 30

7

Posttest

Diterima 1, 2, 3, 4, 7, 8, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28

23

Tidak diterima

5, 6, 9, 13, 23, 29, 30 7

2. Deskripsi Data

Data penelitian merupakan pengolahan data dari hasil pretest dan posttest yang diberikan kepada 64 siswa (32 kelas eksperimen, 32 kelas kontrol) dan dianalisis menggunakan SPSS 24.

a. Deskripsi data pretest peserta didik

Data pretest merupakan data kemampuan awal peserta didik sebelum diberikan treatment pembelajaran menggunakan video. Soal pretest berbentuk pilihan ganda dengan jumlah soal 20 butir. Untuk lebih jelas dan rinci bisa dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :

(4)

Tabel 4. 2 Data Hasil Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Statistik Data Hasil

Belajar Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Jumlah siswa 32 32

Nilai Tertinggi 90 90

Nilai Terendah 50 40

Rata-rata 68 65

Berdasarkan Tabel 4.2 hasil pretest pada kelas eksperimen berjumlah 32 siswa memperoleh rata-rata sebesar 68 dengan nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 90. Sedangkan untuk hasil pretest pada kelas kontrol dengan siswa yang berjumlah 32 memperoleh rata-rata sebesar 65 dengan nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 90. Distribusi frekuensi pada hasil pretest kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4. 3 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Eksperimen

No. Interval Frekuensi

Mutlak Relatif

1. 50 – 56 7 21.875%

2. 57 – 63 3 9.375%

3. 64 – 70 9 28.125%

4. 71 – 77 4 12.5%

5. 78 – 84 6 18.75%

6. 85 - 91 3 9.375%

Jumlah 32 100%

Untuk lebih jelas dan rinci dapat dilihat pada grafik hasil pretest kelas eksperimen yang disajikan pada Gambar 4.1 sebagai berikut :

(5)

Gambar 4. 1 Histogram Data Hasil Pretest Kelas Eksperimen

Pada Gambar 4.1 hasil pretest kelas eksperimen paling banyak terletak pada interval 64 – 70 yaitu dengan jumlah frekuensi 9 siswa dengan presentase sebesar 28.125% dari jumlah keseluruhan data. Sedangkan hasil pretest paling sedikit terletak pada interval 57 – 63 dan 85 – 91 yaitu dengan jumlah frekuensi 3 siswa dengan presentase sebesar 9.375%.

Untuk selanjutnya distribusi frekuensi hasil pretest kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4. 4 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Kontrol

No. Interval Frekuensi

Mutlak Relatif

1. 40 – 47 6 18.75%

2. 48 – 55 8 25%

3. 56 – 63 1 3,125%

4. 64 – 71 6 18.75%

5. 72 – 79 1 3,125%

6. 80 – 87 6 18.75%

7. 88 – 95 4 12.5%

Jumlah 32 100%

Untuk lebih jelas dan rinci dapat dilihat pada grafik hasil pretest kelas kontrol yang disajikan pada Gambar 4.2 sebagai berikut :

(6)

Gambar 4. 2 Histogram Data Hasil Pretest Kelas Kontrol

Pada Gambar 4.2 hasil pretest kelas kontrol paling banyak terletak pada interval 48 – 55 yaitu dengan jumlah frekuensi 8 siswa dengan presentase sebesar 25% dari jumlah keseluruhan data. Sedangkan hasil pretest paling sedikit terletak pada interval 56 – 63 dan 72 – 79 yaitu dengan jumlah frekuensi 1 siswa dengan presentase sebesar 3,125%.

b. Deskripsi data posttest peserta didik

Data posttest merupakan data kemampuan akhir peserta didik setelah diberikan treatment yaitu dengan menggunakan media pembelajaran video pada kelas eksperimen. Soal posttest berbentuk pilihan ganda dengan soal sebanyak 20 butir. Untuk lebih jelas dan rinci bisa dilihat pada tabel 4.5 sebagai berikut

Tabel 4. 5 Data Hasil Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Statistik Data Hasil

Belajar Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Jumlah siswa 32 32

Nilai Tertinggi 100 90

Nilai Terendah 65 50

Rata-rata 85 76

Berdasarkan Tabel 4.5 hasil posttest pada kelas eksperimen berjumlah 32 siswa memperoleh rata-rata sebesar 85 dengan nilai terendah 65 dan

(7)

nilai tertinggi 100. Sedangkan untuk hasil posttest pada kelas kontrol dengan siswa yang berjumlah 32 memperoleh rata-rata sebesar 76 dengan nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 90. Distribusi frekuensi pada hasil posttest kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut ini :

Tabel 4. 6 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Eksperimen

No. Interval Frekuensi

Mutlak Relatif

1. 65 – 70 3 9,375%

2. 71 – 76 1 3,125%

3. 77 – 82 10 31,25%

4. 83 – 88 7 21,875%

5. 89 – 94 4 12,5%

6. 95 – 100 7 21,875%

Jumlah 32 100%

Untuk lebih jelas dan rinci dapat dilihat pada grafik hasil posttest kelas eksperimen yang disajikan pada Gambar 4.3 sebagai berikut:

Gambar 4. 3 Histogram Data Hasil Posttest Kelas Eksperimen

Pada Gambar 4.3 hasil posttest kelas eksperimen paling banyak terletak pada interval 77 – 82 yaitu dengan jumlah frekuensi 8 siswa dengan presentase sebesar 25% dari jumlah keseluruhan data. Sedangkan hasil pretest paling sedikit terletak pada interval 89 – 94 dengan jumlah frekuensi 3 siswa dengan presentase sebesar 9.375%. Untuk selanjutnya

(8)

distribusi frekuensi hasil posttest kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut ini:

Tabel 4. 7 Distribusi Frekuensi Hasil Posttest Kelas Kontrol

No. Interval Frekuensi

Mutlak Relatif

1. 50 – 56 4 12,5%

2. 57 – 63 2 6,25%

3. 64 – 70 1 3,125%

4. 71 – 77 1 3,125%

5. 78 – 84 15 46,875%

6. 85 – 91 9 28,125%

Jumlah 32 100%

Untuk lebih jelas dan rinci dapat dilihat pada grafik hasil posttest kelas kontrol yang disajikan pada Gambar 4.4 sebagai berikut:

Gambar 4. 4 Histogram Data Hasil Posttest Kelas Kontrol

Pada Gambar 4.4 hasil posttest kelas kontrol paling banyak terletak pada interval 78 – 84 yaitu dengan jumlah frekuensi 15 siswa dengan presentase sebesar 46,875% dari jumlah keseluruhan data. Sedangkan hasil posttest paling sedikit terletak pada interval 71 – 77 dengan jumlah frekuensi 1 siswa dengan presentase sebesar 3,125%.

Berdasarkan data hasil posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol sebanyak 81,25% siswa lulus KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 78. Dan sisanya 18,75% tidak lulus KKM. Jadi dapat disimpulkan bahwa

(9)

data ulangan harian awal sebelum diberikan treatment pembelajaran dengan menggunakan video yaitu sebanyak 19,4% yang lulus KKM, setelah diberikan treatment hasil belajar siswa mengalami peningkatan menjadi 81,25% lulus KKM.

3. Hasil Uji Prasyarat

Uji prasyarat merupakan data yang sebelumnya telah dikumpulkan dan dilakukan pengujian prasyarat analisis untuk pengujian hipotesis. Pengujian berupa data statistik meliputi peningkatan dan perbedaan hasil belajar siswa melalui data hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Uji prasyarat meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji keseimbangan.

a. Uji Normalitas

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah data dari hasil pretest dan posttest dapat terdistribusi normal atau tidak. Dalam pengujian ini menggunakan uji normalitas Kolmogorov Smirnov dengan aplikasi SPSS 24. Data dapat dinyatakan terdistribusi normal apabila nilai (sig) menunjukkan > taraf signifikan (0.05) dan sebaliknya. Untuk melihat hasil uji normalitas kelas eksperimen dan kelas kontrol secara jelas dan rinci dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut ini.

Tabel 4. 8 Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Data Kelas Sig α = 5% Kesimpulan

Pretest

Eksperimen ,113 0,05 Distribusi Normal

Kontrol ,129 0,05 Distribusi

Normal

Posttest

Eksperimen ,074 0,05 Distribusi

Normal

Kontrol ,117 0,05 Distribusi

Normal

Berdasarkan pengujian normalitas pada Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa hasil pretest kelas eksperimen memiliki tingkat sig 0,113 > 0,05

(10)

dan pretest kelas kontrol memiliki tingkat sig 0,129 > 0,05. Sedangkan hasil posttest kelas eksperimen memiliki tingat sig 0,074 > 0,05 dan posttest kelas kontrol memiliki tingkat sig 0,117 > 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa uji normalitas hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dinyatakan terdistribusi normal dengan taraf signifikansi sebesar 5% (α = 0,05).

b. Uji Homogenitas

Pengujian homogenitas pada hasil belajar siswa dilakukan dengan uji Levenes dengan taraf sig sebesar 5% (α = 0,05). Data dapat dikatakan homogen apabila memiliki sig > 0,05. Untuk melihat hasil uji Levenes homogenitas kedua kelas dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut ini.

Tabel 4. 9 Hasil Uji Homogenitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Data Hasil Uji Homogenitas Keterangan

Pretest ,134 ,134 > 0,05 Homogen

Posttest ,334 ,334 > 0,05 Homogen

Berdasarkan hasil pengujian Levenes pada Tabel 4.9 diatas, nilai sig pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 0,134 > 0,05 dan nilai sig posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 0,334 >0,05.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kedua data pretest dan posttest dapat dinyatakan homogen atau diperoleh sampel dari penelitian ini berasal dari populasi yang sama (homogen) karena nilai keduanya jauh lebih besar dari taraf signifikansi 5%.

c. Uji Keseimbangan

Uji keseimbangan dilakukan untuk mengetahui apakah kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kemampuan awal yang sama sebelum diberikan perlakuan (treatment) pembelajaran. Kedua kelas dapat dikatakan seimbang apabila nilai sig > 0,05 dengan menggunakan uji independent sample t test pada aplikasi SPSS 24. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut ini.

(11)

Tabel 4. 10 Hasil Uji Keseimbangan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Instrumen Variabel Uji Keseimbangan Kesimpulan Hasil Belajar Siswa Pretest 0,134 > 0,05 Seimbang

Berdasarkan hasil uji keseimbangan diatas, nilai pretest sig kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh sebesar 0,134 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelas eksperimen dan kontrol dapat dikatakan kelas seimbang untuk digunakan sebegai penelitian.

4. Hasil Uji Hipotesis

Setelah dilakukan tiga pengujian antara lain uji normalitas, uji homogenitas, dan uji keseimbangan dari kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh data dari kedua sampel terdistribusi normal, memiliki variansi yang sama (homogen), dan menghasilkan kelas yang seimbang. Maka dapat disimpulkan data tersebut dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Pada penelitian ini terdapat dua uji hipotesis, yaitu :

1) Hipotesis Pertama

Pengujian hipotesis yang pertama dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen yang menggunakan media pembelajaran video dengan kelas kontrol yang menggunakan media pembelajaran modul berbasis teks. Uji hipotesis yang pertama ini menggunakan uji t (independent sample t test) dengan kriteria pengujian 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 dengan sig 0,05. Untuk hasil uji hipotesis yang pertama dapat dilihat lebih jelas dan rinci pada Tabel 4.11 berikut ini :

Tabel 4. 11 Data Hasil Uji Hipotesis Pertama

Persamaan Variasi Uji Levene’s Uji T

F Sig t Sig (2-tailed)

Diasumsikan ,947 ,334 1,025 0,039

Tidak

Diasumsikan 1,025 0,039

Berdasarkan Tabel 4.11 pengujian hipotesis yang pertama diketahui nilai Sig (2-tailed) pada uji T sebesar 0,039 yang artinya nilai tersebut kurang dari taraf signifikan (0,039 < 0,05). Jadi dapat disimpulkan bahwa

(12)

kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan yaitu ℎ0 ditolak dan ℎ𝑎 diterima. Dengan demikian terdapat perbedaan hasil belajar menggunakan media pembelajaran video dengan menggunakan media pembelajaran modul berbasis teks.

2) Hipotesis Kedua

Pengujian hipotesis yang kedua dilakukan untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran video untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pengujian ini menggunakan uji Gain dengan aplikasi SPSS 24.

Berikut hasil pengujian hipotesis kedua menggunakan uji Gain dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut ini.

Tabel 4. 12 Data Hasil Uji Hipotesis Kedua

Kelas Rata-rata Pretest

Rata-rata Posttest

Standart

Gain Keterangan

Eksperimen 68,28 85 0,528 Sedang

Kontrol 65 76,87 0,208 Rendah

Berdasarkan Tabel 4.12 dapat diketahui bahwa nilai standart Gain pada kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol (0,528 > 0,208), maka terdapat peningkatan hasil belajar sehingga ℎ0 ditolak dan ℎ𝑎 diterima.

Jadi dapat disimpulkan kelas eksperimen dengan menggunakan media pembelajaran video memiliki efektifitas peningkatan hasil belajar yang baik dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan media pembelajaran modul berbasis teks.

B. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan dan peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran video pada siswa kelas XI TKJ SMK Negeri 2 Surakarta. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI TKJ B sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas XI TKJ A sebagai kelas kontrol yang berjumlah 64 siswa.

Instrumen soal dibagikan untuk siswa kelas XI TKJ C yang berjumlah 32 siswa dan diadakan try out dengan tipe soal pilihan ganda sebanyak 60 soal (pretest dan posttest). Dari hasil try out dipilih soal yang sudah dilakukan pengujian dan

(13)

layak digunakan untuk penelitian. Selanjutnya melakukan pretest sebagai tes kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kemudian memberikan perlakuan (treatment) pada kelas eksperimen menggunakan media pembelajaran video yang di unggah ke Youtobe atau Google drive. Link Youtube maupun Google Drive bisa peserta didik dapatkan melalui E-Learning SMK Negeri 2 Surakarta. Karena adanya pandemi Covid-19 pada saat penelitian di SMK Negeri 2 Surakarta, maka penelitian dilakukan secara online dan keseluruhan penelitian dari awal uji instrumen sampai dengan penerapan media pembelajaran berbasis online. Berdasarkan pada uji hipotesis dan uraian diatas dapat disimpulkan sebagai hasil penelitian sebagai berikut :

1) Terdapat perbedaan hasil belajar peserta didik pada penggunaan media pembelajaran video.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama dengan menggunakan uji independent sample t test dengan hasil nilai pretest dan posttest diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara penggunaan media pembelajaran video dengan modul berbasis teks. Perbedaan hasil belajar tersebut didapatkan dari data penelitian pada kelas eksperimen yang menggunakan media pembelajaran video dengan kelas kontrol yang menggunakan media pembelajaran modul berbasis teks.

Pengujian pertama pada uji keseimbangan dengan nilai pretest menunjukkan hasil sebesar 0,134 yang artinya lebih besar dari nilai Sig yaitu 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang berarti kedua kelas tersebut memiliki kemampuan awal yang seimbang sebelum diberikan perlakuan (treatment) pembelajaran.

Kemudian pengujian kedua pada hipotesis pertama dengan nilai posttest terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,039 yang artinya kruang dari taraf signifikan 0,05 sehingga ℎ0 ditolak dan ℎ𝑎 diterima. Maka hasil pengujian hipotesis pertama diterima karena terdapat perbedaan hasil belajar pada penggunaan media pembelajaran video dengan modul berbasis teks pada mata pelajaran Administrasi Sistem Jaringan. Hasil

(14)

penelitian didukung (Seo et al., 2021) yang menyatakan belajar dengan menggunakan video sangat penting untuk meningkatkan hasil belajar dan keberhasilan akademis.

2) Terdapat peningkatan hasil belajar siswa dan memiliki efektifitas yang tinggi dengan menggunakan media pembelajaran video dibandingkan dengan menggunakan media pembelajaran modul berbasis teks didasarkan pada hasil nilai rata-rata pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Pengujian dengan uji Gain pada Tabel 4.12.

Berdasarkan Tabel 4.12 nilai standart Gain pada kelas eksperimen lebih tinggi yaitu 0,528 dibandingkan dengan kelas kontrol yang memiliki nilai standart Gain sebesar 0,208. Artinya kelas eksperimen dengan menggunakan media pembelajaran video memiliki efektifitas sedang karena nilai index standart Gain lebih dari 0,3. Sedangkan kelas kontrol dengan menggunakan media pembelajaran modul berbasis teks memiliki efektifitas rendah karena nilai index standart Gain kurang dari 0,3. Jadi dapat disimpulkan peningkatan hasil belajar dengan menggunakan media pembelajaran video lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan media pembelajaran modul berbasis teks.

Penelitian ini didukung dengan pernyataan penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan, minat, motivasi, dan bahkan membawa pengaruh psikologis pada siswa.

Penggunaan media pembelajaran yang tepat sangat membantu keefektivan proses pembelajaran dalam menyampaikan materi. Dengan menggunakan video sebagai media pembelajaran, siswa akan lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru. Dengan menggunakan video sebagai media pembelajaran peserta didik mampu mencapai kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, psikomotorik, serta dapat meningkatkan kemampuan interpersonal (Yudianto, 2017).

Penggunaan media pembelajaran di masa pandemi Covid-19 merupakan hal penting untuk dipertimbangkan (Ridha et al., 2021). Dengan pemilihan media pembelajaran yang tepat, maka siswa terbantu dalam memahami materi pembelajaran yang diberikan meskipun siswa belajar secara mandiri di rumah.

(15)

Pembelajaran secara mandiri yang dilakukan di rumah dengan menggunakan media pembelajaran video dianggap tepat digunakan karena mudah digunakan dan dapat diikuti oleh siswa.

Video merupakan jenis media audio visual, artinya media pembelajaran yang dapat dilihat menggunakan indera pengelihatan dan dapat didengar menggunakan indera pendengaran. Semakin banyak panca indera yang digunakan peserta didik dalam belajar, maka materi yang disampaikan dalam pembelajaran akan lebih mudah diserap dan dipahami oleh peserta didik.

Daryanto (2012) menyatakan sebagai media pembelajaran, video efektif digunakan untuk proses belajar mengajar secara individu maupun kelompok.

Dari beberapa penelitian, permasalahan yang kerap terjadi dalam pembelajaran adalah kurangnya kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran. Salah satu penelitian yang didasari oleh permasalahan tersebut membuktikan bahwa media pembelajaran video dapat dijadikan solusi untuk mengatasi kurangnya kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran (Hadi, 2017).

Menurut Muharika & Agus (2019) video memiliki potensi besar untuk digunakan dalam proses belajar mengajar, karena video dirancang khusus sebagai sarana dalam belajar mandiri dan ditambah dengan keunggulan elektronik. Selain itu, video juga dapat memberikan informasi secara terstruktur sehingga siswa mudah dalam memahami materi pembelajaran.

Berdasarkan hasil keseluruhan pada penelitian ini, penggunaan pembelajaran kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama berbasis online walaupun dengan media pembelajaran yang berbeda. Perbedaan media pembelajaran dari kedua kelas tersebut yaitu pada kelas eksperimen menggunakan media pembelajaran video untuk menyampaikan mata pelajaran Administrasi Sistem Jaringan. Video pembelajaran yang dibuat ada dua jenis, yang pertama berisi tentang penjelasan teori pada materi sistem operasi jaringan dan yang kedua terkait tutorial instalasi sistem operasi jaringan. Video yang sudah dibuat kemudian diunggah ke Youtube atau Google drive, setelah itu link video di distribusikan melalui E-Learning sekolah dan Whatsapp

(16)

Group. Siswa yang mempunyai sarana dan prasarana memadahi bisa melakukan praktikum instalasi sistem operasi jaringan secara mandiri dengan menggunakan video tutorial yang diberikan, namun bagi siswa yang terkendala dalam sarana dan prasarana minimal sudah mempunyai gambaran terkait materi yang disampaikan meskipun belum bisa melakukan praktikum secara mandiri. Dalam masa pandemi Covid-19 pembelajaran melalui video lebih efektif digunakan siswa agar dapat belajar secara mandiri di rumah. Sedangkan dengan menggunakan media pembelajaran modul berbasis teks pada kelas kontrol, materi yang disampaikan ke siswa dalam bentuk modul teks yang diunggah melalui E-Learning kemudian siswa dihimbau untuk mengunduh modul teks tersebut dan kemudian dapat digunakan untuk belajar secara mandiri tanpa diberikan sebuah penjelasan dan setelah itu pada tahap terakhir evaluasi dengan test melalui aplikasi Google Form.

Pada kelas kontrol siswa hanya mendapatkan sebuah materi dalam bentuk modul teks tanpa adanya penjelasan sehingga tidak semua siswa tertarik untuk mempelajari materi tersebut jika disajikan dalam bentuk teks saja. Pada kelas eksperimen selain diberikan video penjelasan dan video tutorial praktikum, siswa juga dapat melakukan praktikum secara mandiri jika memiliki sarana dan prasarana yang memadahi sehingga siswa akan lebih tertarik untuk menonton video pembelajaran tersebut dibandingkan dengan media pembelajaran yang hanya berbasis teks.

Hasil pada penelitian ini masih memiliki keterbatasan antara lain, peneliti hanya fokus untuk mengukur hasil belajar saja sedangkan penilaian terkait sikap dan gaya belajar yang sesuai dengan kriteria peserta didik juga dibutuhkan dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran. Pada penelitian ini hanya mengukur aspek kognitif saja, sedangkan aspek pembelajaran ada tiga antara lain aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kedua aspek yang belum tercakup dalam penelitian ini yaitu aspek afektif dan psikomotorik disebabkan karena keterbatasan sarana dan prasarana saat penelitian berlangsung secara daring.

Gambar

Tabel 4. 1 Hasil Pengujian Instrumen Soal
Tabel 4. 3 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Eksperimen
Tabel 4. 4 Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelas Kontrol
Gambar 4. 2 Histogram Data Hasil Pretest Kelas Kontrol
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan penelitian pada siklus I sebagai tindakan pelaksanaan pembelajaran atau pelaksanaan proses belajar mengajar upaya meningkatkan prestasi belajar

Dan dalam pembelajaran siklus II ini, hasil pembelajaran sudah memenuhi indikator keberhasilan peserta didik, yaitu dengan prosentase ketuntasan belajar pada siklus II

Grafik Perkembangan Hasil Belajar Siswa Antar Siklus Untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran matematika di Kelas I SD Madugowongjati 02 dengan menggunakan

Berdasarkan prosentase keberhasilan belajar prasiklus dapat dilihat dari grafik diatas. Bahwa dalam perkembangan kreativitas anak TK A SWCC Salatiga belum berkembang

Keberhasilan pada peningkatan hasil belajar Matematika dikarenakan penerapan model Quantum Teaching dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa dengan cara bermain

Persamaan regresi tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan pola pengaruh variabel disiplin belajar (X 1 ). Koefisien regresi disiplin belajar sebesar 0,779

Hal tersebut juga didukung dengan hasil tanggapan tutor terhadap beberapa pertanyaan me- ngenai kegiatan belajar mengajar di HSKS dengan hasil rata-rata 4,20 yang

Keberhasilan suatu proses pembelajaran sendiri dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku. Berhasilnya belajar tergantung kepada