• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2021"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NASABAH DALAM

PERJANJIAN SEWA MENYEWA SAFE DEPOSIT BOX (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI DENPASAR NOMOR :

226/PDT.G/2019/PN.DPS)

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

OLEH :

YOSEP RONALDO PAKPAHAN NIM : 160200363

DEPARTEMEN HUKUM PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NASABAH DALAM

PERJANJIAN SEWA MENYEWA SAFE DEPOSIT BOX (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI DENPASAR NOMOR :

226/PDT.G/2019/PN.DPS)

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

OLEH :

YOSEP RONALDO PAKPAHAN NIM : 160200383

DEPARTEMEN HUKUM PERDATA

PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW Disetujui Oleh:

Ketua Departemen Hukum Keperdataan

Prof.Dr. Rosnidar sembiring,SH.M.Hum Nip.196602021991032002

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof. Dr. Saidin, SH., M.Hum Dr. Dedi harianto, SH., M.Hum NIP. 196202131990031002 NIP. 196908201995121001

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(3)

ABSTRAK

Yosep Ronaldo Pakpahan*

Saidin**

Dedi Harianto***

Salah satu layanan dan fasilitas di Bank yang saat ini semakin banyak dibutuhkan dan digunakan masyarakat Indonesia yang semakin maju tingkat perekonomiannya adalah Safe Deposit Box. Skripsi yang berjudul, “Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Apabila Terjadi Wanprestasi Dalam Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box (Studi Putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor : 226/Pdt.G/2019/PN.DPS)” ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan dan prosedur, tanggung jawab pihak bank dan perlindungan hukum bagi nasabah dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang dilakukan dan diajukan pada berbagai peraturan perundang-undangan tertulis dan berbagai literatur yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini serta studi putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor: 226/Pdt.G/2019. Dalam penulisan ini digunakan bahan hukum normatif yang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan dan prosedur dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box sudah banyak diatur dalam Undang- Undang dan peraturan lainnya, namun dalam implementasinya masih banyak celah seperti perbuatan melawan hukum dari pihak bank dengan klausula baku dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box. Hal tersebut dapat di gugat di pengadilan karena telah bertentangan dengan Asas lex superior derogate legi inferior. Pencantuman klausula baku dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box bertentangan dengan asas perbankan sehingga merugikan pihak nasabah. Perlindungan hukum terhadap nasabah pengguna Safe Deposit Box sebagai konsumen yang dirugikan oleh pihak bank sebagai penyedia fasilitas Safe Deposit Box adalah berdasarkan Pasal 7 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang mengatur kewajiban pihak bank sebagai pelaku usaha, dan pihak bank bertanggung jawab untuk mengganti kerugian pihak nasabah secara materiil dan immaterial sesuai dengan pasal 19 ayat 1 Perlindungan Konsumen.

Kata kunci : Perlindungan hukum, Perlindungan Konsumen, Wanprestasi, Ganti rugi, Safe Deposit Box.

__________________________________________________

* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**Dosen Pembimbing I

***Dosen Pembimbing II

(4)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkatNya, skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi yang berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Dalam Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box (Studi Putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor : 226/Pdt.G/2019/PN.DPS)” ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum dalam Departemen Hukum Keperdataan (BW) pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin mempersembahkan ucapan terimakasih terkhusus kepada Kedua orangtua penulis, Ayah tercinta P.

Pakpahan dan Ibunda tercinta S. br Manullang, kakak herawati, abang Marthin, dan adek saya Armando karena atas dorongan dan semangat yang mereka berikan penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini serta atas perjuangan orang tua penulis dalam membiayai dan membesarkan penulis maka dapat berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sehingga sampai kepada tahap penyelesaian penulisan skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima masukan dan bimbingan serta motivasi dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan kali ini pula penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada : 1. Prof. Dr.Budiman Ginting, S.H.,M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara;

2. Prof. Dr. OK. Saidin, S.H.,M.Hum, selaku wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, sekaligus Dosen Pembimbing I saya.

(5)

3. Ibu Puspa Melati Hasibuan,S.H.,M.Hum, selaku wakil dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H.,M.Hum, , selaku wakil dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Ibu Prof. Dr. Rosnidar Sembiring,S.H.,M.Hum selaku ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Bapak Syamsul Rizal,S.H.,M.Hum selaku Sekretaris Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

7. Bapak Dr. Dedi Harianto S.H.,M.Hum selaku Dosen pembimbing II penulis,terimakasih atas bimbingan, saran, nasihat,arahan dan ilmu yang Bapak berikan dalam penyusunan Skripsi ini

8. Organisasi GmnI tempat dimana penulis belajar tentang kampus dan politik dan Nikaro Kost Family yang menjadi teman dan sahabat mengerjakan skripsi, dan yang selalu menemani penulis berolahraga selama penulisan skripsi.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak sempurna, masih banyak kekurangan baik dari isi maupun penyajiannya, untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangununtuk kedepanya. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.

Medan, Februari 2021 Penulis,

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar belakang ... 01

B. Rumusan Masalah ... 12

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12

D. Keaslian Penelitian ... 14

E. Tinjauan Pustaka ... 17

F. Metode Penelitian ... 27

G. Sistematika Penulisan ... 31

BAB II PENGATURAN DAN PROSEDUR PELAKSANAAN PERJANJIAN SEWA MENYEWA SAFE DEPOSIT BOX ... 33

A. Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box... 33

1. Pengertian dan Kedudukan Perjanjian Secara Umum dalam KUH Perdata ... 34

2. Pemanfaatan Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box Untuk Mengatur Hubungan Hukum Antara Nasabah dengan Bank ... 36

B. Pengaturan Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box... 38

1. Pengaturan Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box dalam Ketentuan Hukum yang Berlaku ... 38

2. Hak dan Kewajiban Nasabah dan Bank dalam Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box... 41

C. Prosedur Pelaksanaan Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box ... 44

1. Prosedur penyewaan Safe Deposit Box ... 44

2. Syarat-syarat umum sewa menyewa Safe Deposit Box... 45

BAB III TANGGUNG JAWAB HUKUM PIHAK BANK APABILA TERJADI WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN SEWA MENYEWA SAFE DEPOSIT BOX ... 49

A. Tinjauan Umum mengenai Wanprestasi ... 49

1. Pengertian Wanprestasi ... 49

(7)

2. Pengaturan Wanprestasi ... 51

B. Faktor Penyebab terjadinya Wanprestasi dari Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box ... 53

1. Bentuk-bentuk wanprestasi dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box ... 53

2. Faktor penyebab terjadinya wanprestasi dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box ... 56

C. Tanggung Jawab Pihak Bank Apabila terjadi Wanprestasi dalam Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box ... 59

1. Bentuk-bentuk Pertanggungjawaban dalam Hukum ... 59

2. Tanggung Jawab Pihak Bank dalam Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box ... 62

BAB IV ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN ATAS WANPRESTASI PIHAK BANK DALAM PERJANJIAN SEWA MENYEWA SAFE DEPOSIT BOX DALAM PUTUSAN NO. 226/PDT.G/2019/PN.DPS ... 65

A. Aspek Hukum Perlindungan Konsumen ... 65

1. Pengertian Perlindungan Konsumen ... 65

2. Pengaturan Perlindungan Konsumen ... 69

B. Kasus Posisi Perkara Perbuatan Melawan Hukum dalam Putusan No. 226/Pdt.G/2019/PN.Dps ... 70

1. Kasus Posisi Dalam Putusan No. 226/Pdt.G/2019/PN.Dps. ... 70

2. Pertimbangan Hakim di Dalam Putusan No. 226/ Pdt.G/2019/Pd.Dps ... 74

3. Putusan hakim Dalam Putusan No. 226/Pdt.G/2019/PN.Dps ... 81

C. Analisis Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen akibat Wanprestasi Pihak bank dalam Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box pada Putusan No. 226/Pdt.G/2019/PN.Dps ... 82

BAB V Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan ... 90

B. Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 93

(8)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan perekonomian modern dewasa ini, telah memberikan konstribusi yang sangat besar bagi umat manusia dalam menjalani kehidupannya.

Pesatnya perkembangan perekonomian membuat masyarakat mau tidak mau terseret ke medan pusaran perekonomian yang begitu dahsyat, hal tersebut banyak membuat masyarakat melangkah tanpa pegangan dan rambu-rambu, khususnya bagi transaksi perekonomian perbankan.

Seiring dengan perkembangan tuntutan kebutuhan masyarakat memacu proses kreatifitas dalam dunia perbankan untuk melahirkan poduk-produk jasa yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut seperti Transfer, Kliring (Clearing), Inkaso, Safe Deposit Box, Kartu kredit, Letter of Credit (L/C), dan produk jasa lainnya.

Perkembangan perbankan nasional pernah mencapai klimaksnya, ketika pemerintah meluncurkan paket-paket deregulasi perbankan, yang antara lain terkenal sebagai kebijaksanaan 27 Oktober 1988 (Pakto 27/1998) dan Kebijaksanaan 29 Januari 1990 (Pakjan 29/1990). Paket-paket deregulasi

(9)

perbankan tersebut secara riil, telah mampu meningkatkan pengerahan dana masyarakat melalui bank-bank dan pasar modal.1

Bersamaan dengan pesatnya industri perbankan tersebut, jasa-jasa pelayanan perbankan juga semakin gencar dipasarkan. Produk jasa yang lahir sebagai suatu pemenuhan dari kebutuhan masyarakat tersebut antara lain produk jasa berupa Safe Deposit Box yang menyedikan fasilitas untuk penyimpanan aman bagi uang, barang-barang berharga, dan milik bernilai lainnya, merupakan salah satu bentuk tertua Perbankan.2

Pengertian Safe Deposit Box dalam bukunya Kasmir yaitu “kotak khusus dengan ukuran tertentu dan disewakan kepada nasabah yang berkepentingan untuk menyimpan dokumen-dokumen atau benda-benda berharga milik pihak penyewa.”3 Malayu memberikan pengertian Safe Deposit Box yaitu “Sarana penyimpanan barang-barang berharga berupa boxs atau kotak-kotak kecil yang didesain sedemikian rupa dan setiap boksnya memiliki kunci yang istimewa, tahan api, serta disimpan dalam ruangan yang kuat, sehingga sulit dicuri orang”4

1 Devina Janice*, Rinitami Njatrijani, Aminah, “Aspek Perlindungan Hukum Perjanjian Sewa-Menyewa Safe Deposit Box Pada Bank Maybank Indonesia”, Diponegoro Law Journal, Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016, halaman 2.

2 Wahyu Simon Tampuboon, Tesis: “Perlindungan Konsumen Terhadap Nasabah Atas Penyimpanan Barang di Safe Deposit Box (Studi pada PT. Bank Panin cabang Pembantu Tebing Tinggi)” (Medan: USU, 2014), Halaman 56.

3 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2004, halaman 160.

4 Malayu, S. P. Hasibuan, Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2002, halaman 169.

(10)

Menurut Kamus Umum Lengkap Inggris-Indonesia, pengertian Safe adalah “menyelamatkan, mengelakkan, menyimpan, menghemat.”5 Deposit adalah menyimpan6 sedangkan Box adalah peti atau kotak.7

Keberadaan Safe Deposit Box pada Perbankan di Indonesia, berawal dari kekhawatiran masyarakat akan kondisi politik yang tidak stabil yang mengakibatkan situasi keamanan yang tidak kondusif, selain juga kesulitan/

keterbatasan tempat untuk melakukan penyimpanan terhadap benda- benda/surat- surat berharga yang terdapat di rumah, karena takut akan resiko terselip, kebakaran, dan resiko lainnya, menimbulkan inisiatif bagi bank untuk menyediakan suatu fasilitas pelayanan jasa berupa Safe Deposit Box. Oleh karena itu banyak bank besar dan menengah yang mengambil alih peranan pengerjaan administrasi nasabahnya untuk dapat memperoleh lebih banyak sumber penerimaan. Fasilitas pelayanan jasa berupa Safe Deposit Box ini diatur dalam Undang-Undang Perbankan khususnya Pasal 6 huruf h.8

Safe Deposit Box merupakan salah satu jasa pelayanan yang ditawarkan oleh bank umum, Hal ini terdapat pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Pasal 6 (butir h) yang berisi tentang “menyediakan tempat untuk menyimpan barang atau surat berharga.” Selanjutnya, berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-02/PJ.321/1994 tanggal 13 April 1994, maka jasa

5 Saodah Nasution, Kamus Umum Lengkap, Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 1989, halaman 222.

6 Ibid., halaman 68.

7 Ibid., halaman 27.

8Muhammad Syafi’I Antonio, Islamic Banking, Bank Syariah dari Teori dan Praktik, Gema Insani Press, Jakarta, 2001, Halaman 148.

(11)

persewaan Safe Deposit Box adalah termasuk Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya terutang PPN (Pajak Pertambahan Nilai).9

Pendapatan bank atas kegiatan usaha penyediaan dan penyewaan Safe Deposit Box yaitu berupa imbalan (fee) atas jasa yang disediakannya berupa biaya sewa yakni pemakaian yang harus dibayar setiap tahun, serta biaya deposit untuk jaminan kunci (apabila hilang), hanya saja biaya jaminan kunci ini akan dikembalikan ketika nasabah tidak lagi menyewa Safe Deposit Box tersebut.10

Hubungan antara nasabah pengguna jasa Safe Deposit Box dengan bank pemberi jasa tersebut didasari dengan sebuah perjanjian yakni perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box yang terdiri atas klausula baku. Klausula baku menurut Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah “setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen.”11

Perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box dibuat secara sepihak yaitu pihak bank yang didalamnya mengatur mengenai hak dan kewajiban nasabah selaku penyewa dan juga pihak bank. Pembuatan perjanjian sewa-menyewa Safe Deposit Box yang tidak dinegosiasikan melalui kedua belah pihak menjadikan

9 Wahyu Simon Tampuboon, Tesis: “Perlindungan Konsumen Terhadap Nasabah Atas Penyimpanan Barang di Safe Deposit Box (Studi pada PT. Bank Panin cabang Pembantu Tebing Tinggi)” (Medan: USU, 2014), Halaman 63.

10 Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, cetakan ketiga, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal 319.

11 Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

(12)

nasabah penyewa hanya memiliki dua pilihan terhadap perjanjian tersebut, yakni menyetujui atau menolaknya.12

Pengertian perjanjian menurut Pasal 1313 KUH Perdata yaitu, “Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”. Berdasarkan peristiwa tersebut, timbullah hubungan antara dua orang tersebut atau lebih yang dinamakan perikatan. Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang atau lebih yang membuatnya.

Dalam bentuknya perjanjian itu berupa suatu rangkaian perikatan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau tertulis. Dalam hukum perjanjian berlaku asas konsensualitas, artinya bahwa “pada dasarnya perjanjian dan perikatan yang timbul karenanya itu sudah dilahirkan sejak detik tercapainya kesepakatan.”

Dalam Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa “semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya.” Oleh karena itu, para pihak dalam melaksanakan perjanjian harus mengindahkan asas iktikad baik.

Berdasarkan ketentuan ini dapat diketahui bahwa hukum perjanjian/perikatan menganut asas kebebasan berkontrak, artinya bahwa para pihak diberikan kebebasan untuk membuat suatu perjanjian dalam bentuk apa saja dan

12 Devina Janice*, Rinitami Njatrijani, Aminah, op.Cit, halaman 3.

(13)

menentukan isi perjanjiannya sendiri asal tidak bertentangan dengan Undang- Undang, tidak melanggar ketertiban umum, dan kesusilaan.13

Dalam Pasal 6 (huruf h) Undang – Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 atas perubahan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1992 terdapat kata

“menyediakan tempat”, yang berarti bank melakukan penyewaan tempat untuk penyimpanan barang dan surat berharga tanpa perlu diketahui muatan dan isinya oleh pihak bank. Hal ini dijelaskan juga dalam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 27/SEOJK.03/2016 yaitu Safe Deposit Box jasa penyewaan kotak penyimpanan harta atau surat berharga dalam ruang khasanah bank, dalam hal ini dapat disimpulkan perjanjian Safe Deposit Box tunduk pada ketentuan Perjanjian Sewa – Menyewa (Pasal 1548 KUHPerdata) serta ketentuan umum tentang perjanjian yang diatur didalam Buku ke tiga (Bab I, II, dan IV KUHPerdata) yaitu dalam Pasal 1320 KUHPerdata tentang syarat sahnya suatu perjanjian.

Perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box yang baku atau terstandarisasi tersebut memiliki beberapa kelebihan jika dilihat dari berapa banyak waktu, tenaga dan biaya yang dihemat.14 Akan tetapi, disisi lain bentuk perjanjian baku tersebut menempatkan pihak lainnya yaitu nasabah sebagai penyewa yang tidak ikut membuat klausul-klausul didalam perjanjian itu sebagai pihak yang dirugikan karena dicantumkannya klausul eksonerasi didalam perjanjian tersebut. Klausul

13 Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perspektif Perbandingan, FH UII Press, Yogyakarta, 2014, halaman 92.

14 Devina Janice*, Rinitami Njatrijani, Aminah, “Aspek Perlindungan Hukum Perjanjian Sewa-Menyewa Safe Deposit Box Pada Bank Maybank Indonesia”, Diponegoro Law Journal, Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016, halaman 3.

(14)

eksonerasi adalah “klausul yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang semestinya dibebankan kepada pihak penyalur produk.”15 Contoh dari klausul eksonerasi dalam perjanjian sewa- menyewa Safe Deposit Box yaitu “Bank berhak untuk melakukan perubahan dan atau penambahan terhadap “Syarat-Syarat Umum Sewa menyewa Safe Deposit Box” ini berdasarkan pertimbangan Bank tanpa berkewajiban untuk memberitahukan atau meminta persetujuan kepada penyewa terlebih dahulu dan perubahan dan atau penambahan tersebut merupakan bagian satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari “Syarat-Syarat Umum Sewa Menyewa Safe Deposit Box”16

Sesungguhnya aturan hukum yang ada di Indonesia sudah melarang pencantuman pembatasan tanggung jawab dari pihak pelaku usaha. Peraturan yang melarang pencantuman klausul eksonerasi tersebut ialah Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentnag perlindungan Konsumen dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 01/POJK/07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan. Namun pengawasan dari pemegang otoritas yang khusus mengawasi mengenai perjanjian baku yang dibuat oleh bank masih sangat rendah. Ditambah lagi dengan adanya asas kebebasan berkontrak yang tersirat didalam Pasal 1338 KUH Perdata, menjadikan perjanjian antara pihak nasabah dan bank berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak.

15 Celine Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta : Sinar Grafika, tahun 2014, halaman 140-141.

16 Tia Rizky,Rismawati, “Perlindungan Konsumen Terhadap Klausul Eksoneri Dalam Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box Pada Bank Mandiri Cabang Banda Aceh” Jurnal Ilmiah Bidang Hukum Keperdataan Universitas Syah Kuala, Volume 1, Nomor 2, November 2017, Halaman 164.

(15)

Perjanjian penggunaan Safe Deposit Box merupakan sebuah perjanjian innominaat, karena merupakan jenis perjanjian yang tidak diatur/tidak disebutkan secara tegas dalam KUHPerdata. Tentang perjanjian innominaat disinggung dalam Pasal 1319 KUHPerdata, yaitu yang berbunyi :

”semua perjanjian, baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak dikenal dengan suatu nama tertentu tunduk pada peraturan umum yang termuat dalam bab ini dan bab lain”.

Perjanjian ini timbul dan berkembang dalam masyarakat sesuai kebutuhan.

Belum ada dasar hukum yang mengatur dengan jelas mengenai jenis perjanjian yang digunakan dalam layanan jasa tersebut, sedangkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan hanya sebagai dasar hukum penyelenggaraannya. Dalam pelaksanaannya semua bank yang menyediakan layanan jasa Safe Deposit Box selalu memberikan judul “Perjanjian Sewa- Menyewa Safe Deposit Box” sehingga berdasarkan ketentuan Pasal 1319 KUHPerdata maka, seluruh klausula di dalam perjanjian penggunaan Safe Deposit Box tunduk pada ketentuan Pasal 1548-1600 KUHPerdata mengenai perjanjian sewa-menyewa. Permasalahan muncul ketika tidak ada satu Pasal-pun dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan yang menggunakan istilah sewa-menyewa. Hal tersebut dapat dilihat dari ketentuan Pasal 1 angka 14, Pasal 6 huruf “i”, serta Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan yang menggunakan istilah penitipan, bukan sewa-menyewa.

(16)

Berdasarkan hal-hal tersebut timbul perkara di Pengadilan Negeri Denpasar yang memeriksa dan mengadili perkara perdata nomor register perkara 226/Pdt.G/2019/PN.Dps pada tanggal 9 September 2019 dan menjatuhkan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap (pihak tergugat melalui kuasa hukumnya menyatakan keinginan untuk banding pada tanggal 17 September 2019, tetapi sampai 14 hari kalender terhitung setelah putusan pihak tergugat tidak mengajukan memori banding ke Kepaniteraan Pengadilan negeri Denpasar, sehingga Putusan tanggal 9 September 2019 dinyatakan berkekuatan hukum tetap). Putusan ini atas permohonan perbuatan melawan hukum yang diajukan oleh Agus Wiryono Mediantono sebagai penggugat terhadap PT. Bank Mandiri (Perseroan) Tbk cabang Kuta Raya sebagai tergugat yang dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum karena melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerugian terhadap Agus Wiryono Mediantono, adapun alasan kenapa gugatan yang diajukan berbentuk perbuatan melawan hukum bukan wanprestasi adalah untuk dapat menuntut pengembalian pada keadaan semula.

Adapun tentang duduk perkaranya yaitu Pada tanggal 4 April 2007 Agus Wiryono Mediantono yang selanjutnya disebut sebagai Penggugat menjadi nasabah di Bank Mandiri KCP Kuta Raya yang selanjutnya disebut sebagai Tergugat, dengan nomor rekening 145-0005521131-1. Sekitar bulan juli 2007, Penggugat datang ke bank Mandiri KCP Kuta Raya untuk melakukan penyimpanan dan penyewaan Safe Deposit Box atas dasar kepercayaan kepada Bank Mandiri, dengan nomer Safe Deposit Box 102 yang isi didalamnya adalah satu buah sertifikat tanah dengan lokasi di Jimbaran, 5 buah akta jual beli tanah,

(17)

satu buah surat kuasa jual beli tanah No.20, satu buah surat Pengikatan jual beli tanah No.20, satu buah kuitansi jual beli senilai Rp. 14.000.000, uang tunai senilai Rp. 2.000.000, bukti setoran pada Bank Mandiri senilai Rp. 100.000 pada tanggal 5 April 2007 a/n Agus Wiryono Mediantono, Bilyet deposito Mandiri No. AB 67700 senilai Rp. 100.000.000 a/n Agus Wiryono Mediantono, Byliet Deposito BNI No. AB 43072 senilai Rp.325.000.000 a/n Agus Wiryono Mediantono.

Pada akhir September 2012 Penggugat kembali ke Bali setelah bekerja di Jepang. Kemudian hendak mengambil isi brankas di Bank Mandiri KCP Kuta Raya, namun tidak bisa dibuka dikarenakan kunci brankas sudah diganti.

Penggugat menemui manager Bank Mandiri KCP Kuta Raya pada saat itu, diarahkan untuk bertemu dengan Muhammad Ngarawi untuk menanyakan hal tersebut, dan dijawab dengan menyerahkan Surat Daftar Isi Safe Deposit Box No 102, dan Berita Acara Pembongkaran Safe Deposit Box.

Atas kejadian tersebut, Penggugat menderita kerugian materiil, karena isinya adalah aset-aset berharga selama bekerja dan tinggal di Bali, aset tersebut hendak dipergunakan sebagai modal usaha dan tabungan di hari tua Penggugat.

Dalam hal ini pihak Tergugat telah amat lalai dalam menjalankan kewajibannya, sebagai pihak yang diberikan kepercayaan untuk menjaga dan menyimpan berkas dan aset milik Penggugat.

Dalam pengambilan isi Safe Deposit Box penggugat, berdasarkan surat laporan kehilangan satu buah kunci Safe Deposit Box dengan Nomor Rek : 14500005521311 atas nama Agus Wiryono Widiyantono di Polsek Kuta, pada

(18)

hari senin tanggal 16 Juni 2008 pukul 12.45 Wita, padahal nama Penggugat Agus Wiryono Mediantono. Terlihat sekali Bank Mandiri tidak mencocokkan dengan jelas data penggugat, bahkan pembukaan Safe Deposit Box tersebut dilakukan dihari yang sama yaitu Senin 16 Juni 2008 pada 13.30 Wita, hanya berselang 45 menit saja. Sehingga jelas sekali terlihat bahwa pihak tergugat sangat tidak teliti dan terlalu gegabah dalam proses pembongkaran Safe Deposit Box milik Penggugat.

Proses pengambilan isi Safe Deposit Box penggugat, berdasarkan Surat Kematian dari Kelurahan dengan No. 03/427.903.02./2007 yang mana Penggugat masih hidup dan dalam keadaan sehat, maka sangat jelas Tergugat telah lalai karena tidak melakukan pengecekan langsung dimana keberadaan penggugat.

Penggugat datang ke Bank Mandiri KCP Kuta Raya pada tanggal 14 januari 2019, kemudian diminta untuk bersurat oleh customer service kepada bagian Legal Bank Mandiri. Penggugat telah bersurat sebanyak 2 kali namun tidak mendapat respon yang baik dari tergugat sehingga dengan tidak adanya itikad baik dari tergugat dalam permasalahan ini.

Hal inilah yang menjadi alasan ketertarikan untuk mengkaji dan menganalisa beberapa pemasalahan yang berhubungan dengan perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box dan perlindungan hukum bagi nasabah sebagai konsumen dalam penggunaan Safe Deposit Box tersebut dalam bentuk skripsi yang berjudul: “Perlindungan hukum terhadap nasabah dalam perjanjian sewa

(19)

menyewa Safe Deposit Box (Studi Putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor : 226/Pdt.G/2019/PN.Dps) “

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka rumusan masalah pada skripsi ini adalah.

1. Bagaimana pengaturan dan prosedur perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box yang berlaku?

2. Bagaimana tanggung jawab hukum pihak bank apabila terjadi wanprestasi dari perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box?

3. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap konsumen atas perbuatan melawan hukum yang terjadi dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box dalam putusan nomor : 226/Pdt.G/2019/PN.Dps?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sebagai tindak lanjut dari rumusan masalah diatas, maka tujuan dilaksanakannya penelitian adalah :

1. Untuk mengetahui pengaturan dan prosedur dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box yang diberlakukan.

2. Untuk mengetahui bagaimana tanggung jawab hukum pihak bank apabila terjadi wanprestasi dari perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box.

3. Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum bagi konsumen atas perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box dalam putusan No.

226/Pdt.G/2019/PN.Dps .

(20)

Berdasarkan tujuan yang telah diuraikan diatas, maka penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :

1. Secara teoretis

Pembahasan mengenai perlindungan konsumen atas perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi tentang ilmu hukum khususnya hukum perlindungan konsumen.

a. Bagi mahasiswa, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam menyusun skripsi mengenai perlindungan konsumen.

b. Bagi konsumen, hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kesadaran dan memperjelas bahwa konsumen mempunyai hak yang patut mendapat perlindungan.

c. Bagi pelaku usaha, penelitian ini dapat menjadi salah satu informasi mengenai regulasi dan bagaimana bentuk pertanggung jawaban pelaku usaha terhadap konsumen.

2. Secara praktis

a. Penulisan ini diharapkan dapat menjadi kerangka acuan dan landasan bagi penelitian selanjutnya serta bermanfaat bagi pembaca agar dapat lebih mengenal dan mengerti secara jelas tentang perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia.

b. Bagi konsumen, diharapkan masyarakat dapat mengetahui dan memberikan tanggapan terhadap adanya perlindungan konsumen bagi konsumen di Indonesia.

(21)

c. Bagi pelaku usaha, hasil dari penelitian ini nantinya dapat meningkatkan kepedulian pelaku usaha dan pemerintah kepada konsumen perihal tanggung jawab dan perlindungannya terhadap konsumen pemakai Safe Deposit Box.

d. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dalam menyusun/merumuskan peraturan dan sekaligus kebijakan yang menyangkut perlindungan konsumen sehingga akan melahirkan rasa aman dan kepastian hukum bagi konsumen pengguna Safe Deposit Box.

D. Keaslian Penelitian

Skripsi ini berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah sebagai konsumen dalam kegiatan perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box (Studi Putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor : 226/Pdt.G/2019/PN.Dps)”. Judul ini telah di setujui oleh ketua dan sekretaris departemen hukum keperdataan, dan telah melalui tahap pengujian uji bersih di kepustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan tidak ada ditemukan judul yang sama.

Adapun beberapa penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan skripsi ini adalah ;

1. Skripsi dari Nankye Prabowo (C100 040 060). “ Tinjauan Mengenai Aspek Hukum Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box (Studi di PT.

Bank Rakyat Indonesia Cabang Slamet Riyadi Surakarta)”, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas hukum, 2010.

(22)

Rumusan masalah :

a. Bagaimana pelaksanaan terjadinya perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box pada PT. Bank Rakyat Indonesia cabang Slamet Riyadi Surakarta?

b. Problem yang sering kali terjadi dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box ?

2. Skripsi oleh Monareh Regina Merine Yudi (120711615). “Peranan Lembaga Penjamin Simpanan Dalam Melindungi Nasabah Bank Menurut UU Nomor 7 tahun 2009”, UNSRAT, Fakultas hukum, 2016.

Rumusan masalah :

a. Bagaimana aturan hukum dalam upaya melindungi simpanan nasabah bank di Indonesia ?

b. Bagaimanakah peranan Lembaga Penjamin simpanan dalam upaya melindungi simpanan nasabah bank menurut UU No.7 tahun 2009?

3. Skripsi oleh Sylvia Kartini Tondotuan (1023208062).

“Pertanggungjawaban Bank Sebagai Pelaku Usaha Atas Pelanggaran Hak-Hak Nasabah Sebagai Konsumen”. Universitas Sam Ratulangi, Fakultas Hukum, 2015.

Rumusan masalah :

a. Bagaimana pertanggungjawaban bank sebagai pelaku usaha atas pelanggaran hak-hak nasabah ?

(23)

b. Bagaimana perlinfungan hukum terhadap nasabah yang hak- haknya dilanggar oleh bank ?

4. Skripsi oleh Indah Permata Putri (1212011151). “Perlindungan Hukum Bagi Nasabah Jasa Pengguna Kotak Penyimpanan (Safe Deposit Box) Pada Bank Internasional Indonesia (BII) Studi Putusan MA Nomor 897k/pdt/2011”, Universitas Lampung, Fakultas Hukum, 2016.

Rumusan masalah :

a. Apakah dasar pertimbangan hakim agung dalam mengeluarkan putusan MA nomor 897 K/Pdt/2011?

b. Apakah akibat hukum ditolaknya gugatan dalam putusan MA nomor 897 k/pdt/2011?

c. Bagaimana perlinfungan hukum bagi nasabah pengguna jasa Safe Deposit Box ?

5. Skripsi oleh Nankye Prabowo (C 100 040 060). “ Tinjauan Mengenai Aspek Hukum Perjanjian Sewa Menyewaa Safe Deposit Box (Studi di PT.

Bank Rakyat Indonesia Cabang Slamet Riyadi Surakarta)”. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas Hukum, 2010

Rumusan masalah :

a. Bagaimana pelaksanaan terjadinya sewa menyewa Safe Deposit Box pada PT. Bank Rakyat Indonesia cabang Slamet Riyadi Surakarta ?

b. Problem yang sering kali terjadi didalam perjanjian sewa- menyewa Safe Deposit Box?

(24)

Oleh karena itu skripsi ini sesuai dengan asas keilmuan, yang didukung dengan literatur, jurnal, website dan pendapat para ahli sehingga rasional, objektif dan terbuka serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademik.

E. Tinjauan Pustaka 1. Perjanjian

Dalam kamus besar Bahasa Indoensia, Perjanjian adalah “persetujuan tertulis atau dengan lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan menaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu”.17 Pengertian dari perjanjian dapat ditemukan didalam buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdaata tentang Perikatan Pasal 1313 menyebutkan : “suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Defenisi perjanjian menurut Pasal 1313 KUHPerdata ini tidak jelas. Tidak jelasnya definisi ini disebabkan di dalam rumusan tersebut hanya disebutkan perbuatan saja, sehingga yang bukan perbuatan hukum pun disebut dengan perjanjian,18

Menurut Subekti “ Perjanjian adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau lebih, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu dari pihak lain, dan ppihak yang lain tersebut berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu”.19

17 Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Ikthasar Indonesia, Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta, 2005, halaman 458.

18 Salim H.S, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Sinar Grafika, Jakarta, 2002, halaman 160.

19 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 1984, halaman 1.

(25)

Perjanjian adalah sumber perikatan, disamping sumber-sumber lainnya. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena dua pihak atau lebih itu setuju untuk membuat perjanjian, dapat dikatakan bahwa dua perkataan (perjanjian dan persetujuan) itu adalah sama artinya.20

Dari definisi di atas, dapat dikemukakan unsur-unsur yang tercantum dalam perjanjian sebagai berikut :

a. Adanya Kaidah Hukum.

Kaidah dalam hukum kontrak dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu tertulis dan tidak tertulis. Kaidah hukum kontrak tertulis adalah kaidah kaidah hukum yang terdapat di dalam peraturan undang-undang, traktat dan yurisprudensi. Sedangkan kaidah hukum kontrak tidah tertulis adalah kaidah kaidah hukum yang timbul, tumbuh, dan hidup dalam masyarakat. Konsep-konsep hukum ini berasal dari hukum adat.

b. Subjek Hukum.

Istilah lain dari subjek hukum adalah rechtsperson. Rechtsperson diartikan sebagai pendukung hak dan kewajiban.

c. Adanya Prestasi.

Prestasi adalah apa yang menjadi hak kreditur dan kewajiban debitur, prestasi terdiri dari Memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, Tidak berbuat sesuatu.

d. Kata Sepakat.

Kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak, kata sepakat adalah salah satu syarat sahnya perjanjian yang terkandung dalam

20 Subekti, loc.cit.

(26)

Pasal 1320 KUHPerdata. Kelima, Akibat Hukum. Setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan menimbulkan akibat hukum atau dapat dituntut apabila tidak dipenuhinya prestasi. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban. Hak adalah suatu kenikmatan dan kewajiban adalah suatu beban.21

Pasal 1338 ayat (1) KUH perdata menyebutkan bahwa “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. 22

Pasal 1694 KUHPerdata membahas tentang perjanjian penitipan. Penitipan terjadi apabila seorang menerima sesuatu barang dari seorang lain, dengan syarat bahwa ia akan menyimpannya dan mengembalikannya dalam wujud asalnya.

Penitipan adalah “suatu perjanjian “riil” yang berarti bahwa ia baru terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang nyata, yaitu diserahkannya barang yang dititipkan”.23

Menurut Pasal tersebut, penitipan adalah suatu yang “riil” yang berarti bahwa ia baru terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang nyata, yaitu diserahkannya barang yang dititipkan, jadi tidak seperti perjanjian-perjanjian lainnya pada umumnya yang lainnya adalah konsensual, yaitu sudah dilahirkan pada saat tercapainya sepakat tentang hal-hal yang pokok dari perjanjian- perjanjian itu.24

Jika tidak diperjanjikan sebaliknya, sedangkan ia hanya dapat mengenai barang barang yang bergerak sesuai dengan Pasal 1696 KUH Perdata. Si penerima

21 Muhammad Abdul Kadir, Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1986, halaman 53.

23 R. Subekti, Aneka Perjanjian,PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, halaman 107.

24 Ibid.

(27)

titipan barang tidak diperbolehkan memakai barang yang dititipkan untuk keperluan sendiri tanpa izinnya orang yang menitipkan barang, yang dinyatakan dengan tegas atau dipersangkakan, atas ancaman penggantian biaya, kerugian dan bunga jika ada alasan untuk itu sesuai dengan Pasal 1712 KUH Perdata.

Penitipan barang yang sejati dalam Undang-undang terbagi atas 2 (dua) macam yaitu Penitipan barang secara sukarela dan penitipan barang karena terpaksa yang terdapat pada Pasal 1698 KUH Perdata. Penitipan barang dengan sukarela terjadi karena ada perjanjian timbal balik antara pemberi titipan dan penerima titipan sedangkan Penitipan terpaksa merupakan penitipan yang terpaksa dilakukan oleh karena terjadinya suatu malapetaka, seperti kebakaran, runtuhnya bangunan, perampokan, karamnya kapal, banjir atau peristiwa lain yang tidak terduga datangnya. Pada Pasal 1705 KUH Perdata menjelaskan bahwa Penitipan yang dilakukan secara terpaksa itu mendapat perlindungan dari Undang-undang yang tidak kurang dari suatu penitipan yang dilakukan secara terpaksa itu mendapat perlindungan dari Undang-undang yang tidak kurang dari suatu penitipan yang terjadi secara sukarela.25

Penerima titipan harus bertanggung-jawab bila terjadi peristiwa peristiwa yang tak dapat dipungkiri. Peristiwa-peristiwa yang tak dapat dipungkiri atau disebut juga dengan “keadaan memaksa” (Bahasa Belanda: “overmacht” atau

“force majeur”) yaitu suatu kejadian yang tak disengaja dan tak dapat diduga.26 Bilamana salah satu pihak yang terkait dalam perjanjian tidak melaksanakan perjanjian sebagaimana mestinya, maka dapat dikatakan telah

25 Ibid, halaman 109.

26 Ibid, halaman 110.

(28)

terjadi ingkar janji atau wanprestasi. Menurut M.Yahya Harahap, mengenai pengertian wanprestasi yakni “wanprestasi adalah pelaksanaan kewajiban yang tidak tepat waktunya atau dilakukan tidak menurut selayaknya”.27

2. Sewa menyewa

Menurut Subekti sewa menyewa adalah “perjanjian dimana pihak yang satu menyanggupi akan menyerahkan suatu benda untuk dipakai selama suatu jangka waktu tertentu, sedangkan pihak lainnya menyanggupi akan membayar harga yang telah ditetapkan untuk pemakaian itu pada waktu-waktu yang ditentukan.” 28

Menurut jenisnya perjanjian sewa menyewa ini adalah perjanjian timbal balik karena hak dan kewajiban dibebankan kepada kedua belah pijak dan termasuk perjanjian konsensual karena telah terjadi kesepakatan diantara kedua belah pihak.29

Perjanjian sewa menyewa diatur dalam Pasal 1548 s/d Pasal 1600 KUHPerdata. Perjanjian sewa menyewa adalah “suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga yang oleh pihak tersebut belakangan ini pembayarannya”.30 Perjanjian sewa menyewa seperti halnya dengan perjanjian- perjanjian pada umumnya diantaranya jual beli dan tukar menukar yaitu perjanjian

27 M.Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian,Alumni, Bandung, 1993 halaman 60.

28 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Intermasa,Jakarta, 1996,halaman 164.

29 Paulus Tomy Prihwaskito*, Ery Agus Pryono, Dewi Hendrawati, Tinjauan Yuridis Perjanjian Sewa Menyewa Depo Container Yard PT. Kawasan Berikat Nusantara Perser, Diponegoro Law jurnal, Volume 5, Nomor 4, 2016, halaman 8..

30 A Qirom Syamsudin Meliala, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian, Liberty, Yogyakarta, 1985, halaman 60.

(29)

yang bersifat konsensuil, artinya perjanjian itu lahir pada saat tercapainya kesepakatan antara para pihak yang mengadakan perjanjian.31 Didalam perjanjian tersebut ada dua unsur pokok yaitu mengenai barang dan harga sewa. Sehingga para pihak mengikatkan diri untuk memenuhi suatu prestasi yang menyebabkan tumbulnya suatu hubungan hukum diantara para pihak yang satu berhak atas sesuatu danpihak yang lain mempunyai kewajiban memberikan atau melakukan sesuatu.32

3. Safe Deposit Box

Dasar kegiatan perbankan adalah kepercayaan dari masyarakat atau nasabah merupakan faktor utama dalam menjalankan bisnis perbankan. Dengan demikian manajemen bank akan dihadapkan pada berbagai usaha untuk menjaga kepercayaan tersebut, agar tetap memperoleh simpati dari calon nasabahnya.

Dalam Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan Pasal 6, dimana bank menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga atau disebut juga dengan nama Safe Deposit Box.

Layanan Safe Deposit Box adalah “jasa penyewaan kotak penyimpanan harta atau surat-surat berharga yang dirancang secara khusus dari bahan baja dan ditempatkan dalam ruang khasanah yang kokoh dan tahan api untuk menjaga

31 Subekti, Hukum Perjanjian, Op.Cit., Halaman 15.

32 Djoko Prakoso S.H & Bambang Riyadi Lany, Dasar Hukum Persetujuan Tertentu di Indonesia, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1987, halaman 56-57.

(30)

keamanan barang yang disimpan dan memberikan rasa aman bagi penggunanya.”33

Biasanya barang yang disimpan di dalam Safe Deposit Box adalah barang yang bernilai tinggi dimana pemiliknya merasa tidak aman untuk menyimpannya di rumah. Pada umumnya biaya asuransi barang yang disimpan di Safe Deposit Box bank relatif lebih murah.

a. Keuntungan

Aman, ruang penyimpanan yang kokoh dilengkapi dengan sistem keamanan terus menerus selama 24 jam. Untuk membukanya diperlukan kunci dari penyewa dan kunci dari bank.

Fleksibel, tersedia dalam berbagai ukuran sesuai dengan kebutuhan penyewa baik bagi penyewa perorangan maupun badan usaha. Mudah.

Persyaratan sewa cukup dengan membuka tabungan atau giro (ada bank yang tidak mensyaratkan hal tersebut, namun mengenakan tarif yang berbeda)34.

b. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan

Adanya biaya yang dibebankan kepada penyewa, antara lain uang sewa, uang agunan kunci dan denda keterlambatan pembayaran sewa. Tidak menyimpan barang-barang yang dilarang dalam Safe Deposit Box. Menjaga agar kunci yang disimpan nasabah tidak hilang atau disalahgunakan pihak lain. Memperlihatkan barang yang disimpan bila sewaktu-waktu diperlukan oleh bank.

33 “SAFE DEPOSIT BOX”( https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/77, diakses pada tanggal 08 Juni 2020, pukul 20.23)

34 Yastina Faradila, dkk, Pelaksanaan Perjanjian Sewa menyewa Safe Deposit Box (Studi Penelitian Pada Bank Mandiri Cabang Kota Banda Aceh),Syah Kuala Law Journal, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2019, halaman 241.

(31)

Jika kunci yang dipegang penyewa hilang, maka uang agunan kunci akan digunakan sebagai biaya penggantian kunci dan pembongkaran Safe Deposit Box yang wajib disaksikan sendiri oleh penyewa. Memiliki daftar isi dari Safe Deposit Box dan menyimpan foto copy (salinan) dokumen tersebut di rumah untuk referensi35.

Penyewa bertanggung jawab apabila barang yang disimpan menyebabkan kerugian secara langsung maupun tidak terhadap bank dan penyewa lainnya.

1) Bank tidak Bertanggung jawab Atas:

Perubahan kuantitas dan kualitas, hilang, atau rusaknya barang yang bukan merupakan kesalahan bank. Kerusakan barang akibat force majeur seperti gempa bumi, banjir, perang, huru hara, dan sebagainya.

2) Barang yang Tidak Boleh Disimpan dalam SDB:

Senjata api/ bahan peledak. Segala macam barang yang diduga dapat membahayakan atau merusak SDB yang bersangkutan dan tempat sekitarnya.

Barang-barang yang sangat diperlukan saat keadaan darurat seperti surat kuasa, catatan kesehatan dan petunjuk bila penyewa sakit, petunjuk bila penyewa meninggal dunia (wasiat). Barang lainnya yang dilarang oleh bank atau ketentuan yang berlaku.

4. Perlindungan Konsumen

Namun dalam pelayanan Safe Deposit Box ke konsumen atau masyarakat sering terjadi kecurangan-kecurangan yang merugikan hak-hak konsumen

35 “SAFE DEPOSIT BOX”( https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/77, diakses pada tanggal 11 Juni 2020, pukul 20.23)

(32)

dikarenakan ulah pelaku usaha yang mencari keuntungan besar36. Padahal dalam pelaksanaan perjanjian Safe Deposit Box sudah diatur di dalam Peraturan Perundang-Undangan dan juga mengenai hak-hak serta perlindungan konsumen telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 1 angka 2 bahwa;37

“Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”.

Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (Inggris- Amerika), atau consument/konsument (Belanda). Pengertian dari consumer atau consument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. Secara harfiah arti kata consumer adalah (lawan dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang.

Tujuan penggunaan barang atau jasa nanti menentukan termasuk konsumen kelompok mana pengguna tersebut. Begitu pula Kamus Besar Bahasa Inggris- Indonesia memberi arti kata consumer sebagai pemakai atau konsumen.38

Az. Nasution menegaskan beberapa batasan tentang konsumen,yakni:39

a. Konsumen adalah setiap orang yang mendapat barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu;

36 Wahyu Simon Tampubolon, et. all, Perlindungan Konsumen Terhadap Nasabah Atas Penyimpanan Barang Di Safe Deposit Box (Studi Pada PT. BANK PANIN Cabang Pembantu Tebing Tinggi), USU Law Journal, Volume 2 Nomor 3, Desember 2014, halaman 205.

37 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

38 Celina Tri Siwi Kristiyanti, Op.Cit, hlm. 22

39 Ibid, hlm. 25

(33)

b. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang dan/jasa lain untuk diperdagangkan (tujuan komersial);

c. Konsumen akhir, adalah setiap orang alami yang mendapat dan menggunakan barangdan/jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi dan atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (nonkomersial).

Perlindungan konsumen adalah “segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen”40. Hukum perlindungan konsumen dewasa ini mendapat cukup perhatian karena menyangkut aturan-aturan guna mensejahterakan masyarakat, bukan saja masyarakat selaku konsumen saja yang mendapat perlindungan, namun pelaku usaha juga mempunyai hak yang sama untuk mendapat perlindungan, masing-masing ada hak dan kewajiban. Pemerintah berperan mengatur, mengawasi dan mengontrol, sehingga tercipta sistem yang kondusif saling berkaitan satu dengan yang lain dengan demikian tujuan menyejahterakan masyarakat secara luas tercapai41.

Dalam Undang-Undang perlindungan konsumen menyebutkan adanya beberapa asas yang dianut perlindungan konsumen. Menurut Pasal 2 Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen disebutkan bahwa terdapat42:

a. Asas manfaat b. Asas keadilan c. Asas keseimbangan d. Asas keamanan e. Asas kepastian hukum

40 Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

41 Ibid, hlm. 1

42 Pasal 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

(34)

Serta tujuan yang hendak dicapai dengan adanya Undang-Undang perlindungan konsumen antara lain43:

a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.

b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang atau jasa.

c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.

d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.

e. Menimbulkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha.

f. Meningkatkan kualitas barang atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.

Undang-Undang perlindungan konsumen juga berperan untuk melindungi hak-hak konsumen nasabah Safe Deposit Box.

F. Metode Penelitian

Untuk melengkapi penulisan skripsi ini dengan tujuan agar dapat lebih terarah dan di pertanggungjawabkan secara ilmiah, maka metode penulisan yang digunakan antara lain:

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian hukum yuridis normatif. Penelitian hukum normatif juga sering disebut penelitian hukum doktriner dan juga disebut sebagai penelitian kepustakaan atau studi dokumen. Disebut penelitian hukum doktriner, karena penelitian ini dilakukan atau diajukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan-

43 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 33.

(35)

bahan hukum lain44. Dikatakan sebagai penelitian kepustakaan ataupun studi dokumen disebabkan penelitian ini lebih banyak dilakukan terhadap data yang bersifat sekunder yang ada di perpustakaan.45 Dalam penulisan ini akan digunakan bahan hukum normative berupa peraturan perundang-undangan dan pendapat para ahli serta bahan-bahan perpustakaan hukum dan serta putusan pengadilan yang berkaitan dengan materi pokok judul skripsi.

2. Sumber Data

Sumber data dapat diartikan sebagai sumber subjek dari mana data dapat diperoleh.46 Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan “data yang diperolah dari dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian, hasil penelitian dalam bentuk laporan, skripsi, tesis, disertasi dan peraturan perundang- undangan.47 Data sekunder dapat dibagi menjadi :

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer adalah “bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas”48. Seperti Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen, kebijaksanaan 27 Oktober 1988 (Pakto 27/1998)

44 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta,2014, halaman 6-7.

45 Suratman dan H. Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum, Alfabeta, Bandung, 2014, hlm. 51.

46 Ahmad Tanzeh, Pengantar Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal.58.

47 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Cet. 7, Jakarta, Sinar Grafika,2016, hlm 175.

48 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Cet.6, Jakarta, Prenada Media Grup, 2010, hlm. 141.

(36)

dan Kebijaksanaan 29 Januari 1990 (Pakjan 29/1990), Putusan Pengadilan Negeri Denpasar No. 226/Pdt.G/2019/PN.Dps.

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder berupa “semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi”49. Bahan hukum sekunder terdiri dari buku-buku literatur, jurnal, hasil penelitian, wawancara dan karya ilmiah yang berhubungan dengan penelitian ini.

c. Bahan hukum tersier

Bahan hukum tersier yaitu “bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, yang terdiri dari kamus besar bahasa indonesia, ensiklopedia, majalah dan sebagainya”50.

3. Tehnik dan Alat Pengumpulan Data.

a. Tehnik Pengumpulan Data

1) Metode Penelitian Kepustakaan (library research)

Dalam melakukan penulisan ini, penelitian yang dilakukan adalah penelitian kepustakaan (Library Research) yang merupakan pengumpulan data- data melalui literature atau dari sumber bacaan buku-buku, peraturan perundang- undangan, karya ilmiah para ahli, artikel-artikel baik dari surat kabar, majalah, media elektronik dan bahan bacaan lain yang terkait dengan penulisan skripsi ini.51

2) Metode Penelitian Lapangan (field research)

49 Ibid.

50 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Cet.1, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 32.

51 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta,2019, halaman 107.

(37)

Metode penelitian lapangan yang digunakan adalah dengan melakukan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan. Penelitian ini melakukan wawancara dengan informan yaitu dengan pihak PT. Bank Mandiri (Perseroan) Tbk secara langsung untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

b. Alat Pengumpulan Data 1) Studi Dokumen

Untuk melengkapi data dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan sejumlah dokumen dan arsip-arsip yang berkaitan dengan masalah yang diteliti seperti syarat-syarat umum perjanjian Safe Deposit Box antara Bank dan nasabah.

2) Pedoman wawancara

Pedoman wawancara berupa daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis oleh peneliti dan dipergunakan sebagai panduan pada saat melakukan wawancara dengan informan. Wawancara dilakukan dengan Branch Operation Supervisor di PT. Bank Mandiri KCP Siborong-borong Bapak Baringin Torang Purba, Customer Service PT. Bank Mandiri Cabang Rantau Parapat Ahmad Yani Bapak Herman Sitorus.

4. Metode Analisis Data

Dalam menganalisis permasalahan ini, peneliti menggunakan metode analisis data kualitatif yaitu “data yang tidak membutuhkan populasi dan sampel, jadi hanya mengacu pada norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan dan norma-norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat”52.

52 Zainuddin Ali, Op.Cit, hlm. 105.

(38)

Penarikan kesimpulan pada skripsi ini yaitu dengan metode deduktif.

Metode deduktif dalam penelitian digunakan untuk menyimpulkan pengetahuan- pengetahuan konkrit kaidah yang benar dan tepat untuk diterapkan dalam menyelesaikan suatu permasalaha tertentu53. Kesimpulan diambil melalui data yang dikumpulkan dan diteliti.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini dibagi atas 5 ( lima ) bab, dimana masing- masing bab dibagi lagi atas beberapa sub bab. Uraian singkat atas bab dan sub bab tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan. Dimana pada bagian ini menguraikan apa yang menjadi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, keaslian penelitian, tinjuan pustaka, metode penelititan dan sistematika penulisan.

BAB II Pengaturan dan Prosedur perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box.

Pada bagian ini membahas mengenai dasar hukum perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box, pengaturan perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box yang berlaku di Indonesia, prosedur perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box di Bank Mandiri Tbk.

BAB III Tanggung Jawab Hukum Pihak Bank Apabila Terjadi Wanprestasi Dalam Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box. Pada bagian ini membahas mengenai wanprestasi, faktor penyebab wanprestasi dari perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box, dan tanggung jawab pihak bank dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box.

53 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1981, hlm.21.

(39)

BAB IV Perlindungan hukum terhadap konsumen atas penyimpangan yang terjadi dalam perjanjian sewa menyewa Safe Deposit Box dalam Putusan No.

226/Pdt.G/2019/PN.Dps. Pada bagian ini akan menjelaskan tentang perbuatan melawan hukum, kasus posisi perkara dalam putusan No.

226/Pdt.G/2019/PN.Dps, analisis terhadap apa yang menjadi pertimbangan hakim dalam putusan nomor: 226/Pdt.G/2019/PN.Dps, serta bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen dalam putusan No. 226/Pdt.G/2019/PN.Dps.

BAB V Penutup. Bab ini berisikan kesimpulan dan saran, yang merupakan penutup dari skripsi ini. Dalam hal ini penulis menyimpulkan dari pembahasan- pembahasan sebelumnya dan dilengkapi dengan saran.

(40)

BAB II

PENGATURAN DAN PROSEDUR PELAKSANAAN PERJANJIAN SEWA MENYEWA SAFE DEPOSIT BOX

D. Perjanjian Sewa Menyewa Safe Deposit Box

Perjanjian pada hakikatnya sering terjadi di dalam masyarakat bahkan sudah menjadi suatu kebiasaan. Perjanjiaan itu menimbulkan suatu hubungan hukum yang biasa disebut dengan perikatan. Perjanjian merupakan “suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain menuntut pelaksanaan janji itu”.54 Sedangkan pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata yaitu “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.”

Hukum perjanjian menganut asas kebebasan berkontrak yang merupakan

“kebebasan para pihak yang terlibat dalam suatu perjanjian untuk dapat menyusun dan menyetujui klausul-klausul dari perjanjian tersebut, tanpa campur tangan pihak lain”.55 Asas kebebasan berkontrak dapat ditemukan dalam Pasal 1338 ayat 1 KUHPerdata yang menyatakan bahwa: “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”

Sewa menyewa merupakan “suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya

54 Wirjono Projodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perjanjian, Bandung ; P.T. Bale Bandung, 1981, halaman 9.

55Sutan Renny Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Jakarta : PT Macanan Jaya Cemerlang, 1993, halaman 11.

(41)

kenikmatan dari sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya”.56

1. Pengertian dan Kedudukan Perjanjian Sewa Deposit Box Secara Umum dalam KUHPerdata

Perjanjian sewa menyewa adalah “salah satu bentuk usaha yang dilakukan sehari-hari yang terjadi antara pihak yang menyewakan benda tertentu untuk sekedar memperoleh sejumlah uang dan pihak penyewa untuk memenuhi kebutuhan kenikmatan atas benda tertentu selama waktu tertentu.”57 Akan tetapi, secara khusus, perjanjian sewa menyewa dapat menjadi mata pencaharian bagi pihak yang menyewakan benda. Dalam hubungan ini, pihak yang menyewakan benda dapat berstatus sebagai pengusaha, produsen (profit oriented), sedangkan pihak penyewa dapat sebagai manusia pribadi, konsumen, badan hukum yang menikmati benda.58

Unsur-unsur yang tercantum dalam perjanjian sewa menyewa : a. Adanya pihak yang menyewakan dan pihak penyewa.

b. Adanya kesepakatan antara kedua belah pihak.

c. Adanya objek sewa menyewa yaitu barang, baik barang bergerak maupun tidak bergerak.

d. Adanya kewajiban dari pihak yang menyewakan untuk menyerahkan kenikmatan kepada pihak penyewa atas suatu benda.

e. Adanya kewajiban dari penyewa untuk menyerahkan uangpembayaran kepada pihak yang menyewakan.59

56 Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta : PT. Pradya Paramita, 2008, halaman 381.

57 Salim H.S, Hukum Kontrak Teori dan Tehnik Penyusunan Kontrak, Jakarta : Sinar Grafika, 2006, halaman 58

58 Ibid.

59 Salim, Hukum Kontrak Teori dan Tehnik Penyusunan Kontrak, Jakarta : Sinar Grafika, 2010, halaman 59.

Referensi

Dokumen terkait

212 Dominikus Rato, Loc.Cit.. Dalam hal kreditur menjadi peserta lelang, Pasal 97 PMK Lelang mensyaratkan agar bank menyertakan pernyataan secara otentik yang menyatakan

Hakim pengawas dalam PKPU adalah salah seorang hakim pengadilan 151 yang diangkat oleh pengadilan untuk mengawasi pengurusan, pemberesan harta debitor dan berwenang

Dasar Hukum mengenai Badan Hukum Pendidikan sebagaimana yang tersebut dalam Penjelasan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT dan shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW berikut keluarga,

Berdasarkan sengketa dihubungkan dengan pertimbangan hakim dan amar putusan dalam Putusan Pengadilan yang memutuskan yang telah diuraikan di atas, dapat dinyatakan bahwa

Di dalam kasus sengketa perjanjian pengikatan jual beli hak atas tanah yang termuat dalam Putusan MA No.3703.K/PDT/2016, permasalahan yang terjadi adalah bahwa

Alhamdulillahi Rabbil alamin Penulis sampaikan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa telah memberikan nikmat dan petunjuknya kepada penulis, hingga akhirnya penulis dapat

Analisis Pengendalian Intern Pemberian Kredit Tanpa Agunan (KTA) Dalam Hubungannya Dengan Penetapan Resiko Kredit Pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang