• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI SUSUN OLEH : Muh.Rum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DI SUSUN OLEH : Muh.Rum"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

1

Implikasi AKUNTANSI PAJAK DAN BEBERAPA KASUS didalamnya

DI SUSUN OLEH :

Muh.Rum

Kompilasi Makalah Mahasiswa Program Magister Akuntansi Universitas Muslim Indonesia Makassar

Tahun 2016 dan 2017

(2)

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan buku ini dengan judul “Implikasi Akuntansi Pajak Dan Beberapa Kasus Didalamnya”.

Buku ini diharapkan dapat menambah wawasan bidang teori akuntansi dan perpajakan.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh partisipasi Mahasiswa Program Pascasarjana Akuntansi Universitas Muslim Indonesia Makassar. Dan penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu penulis dalam penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari, buku ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk para pembaca.

Makassar, 16 Juli 2017

Penulis

(3)

3 BAB I

LATAR BELAKANG

A. LATAR BELAKANG

Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturanperaturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjukk dan yang gunanyaadalah untuk membiayai pengeluaran pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan. Perlunya peraturan perudangan undangan tentang perpajakan dibuat adalah untuk menanggulangi banyaknya penyelewengan yang berkaitan dengan pajak, karena pajak merupakan salah satu sumber penerimaan penting yang digunakan untuk membiayai pengeluaran negara, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat (Rapina, 2008: 174).

Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, instansi pemerintahan di bawah Departemen Keuangan sebagai pengelola sistem perpajakan diIndonesia, berusaha melakukan tugas pokoknya yaitu meningkatkan penerimaan pajak dengan mereformasi pelaksanaan sistem perpajakan menjadi lebih modern.

Semua pemasukan Negara yang berasal dari pajak akandigunakan untuk membiayai semua pengeluaran umum negara, dalam hal ini digunakan untuk mensejahterakan dan memakmurkan rakyat (Waluyo, 2007). Bila setiap wajib pajak (WP) sadar akan kewajibannya untuk membayar pajak, tentu diharapkan penerimaan negara atas pajak akan terus meningkat, bukan berkurang, sebab jumlah wajib pajak potensial cenderung bertambah setiap tahun (Nugroho, 2012).

Sistem pemungutan pajak merupakan salah satu elemen penting yang menunjang keberhasilan pemungutan pajak suatu negara. Secara umum

(4)

4

terdapat tiga sistem pemungutan pajak, yaitu official assessment system, self assessment system, dan withholding system Seiring dengan berjalannya waktu, sejak adanya reformasi di bidang pajak tahun 1983, Indonesia mulai menerapkan self assessment system. Dalam sistem ini, wajib pajak dituntut untuk berperan aktif, mulai dari mendaftar diri sebagai wajib pajak, mengisi SPT (Surat Pemberitahuan), menghitung besarnya pajak yang terutang, dan menyetorkan kewajibannya. Sedangkan aparatur perpajakan berperan sebagai pembina, pembimbing, dan pengawas pelaksanaan kewajiban yang dilakukan oleh wajib pajak. Oleh karena itu, sistem ini akan berjalan dengan baik apabila masyarakat memiliki tingkat kesadaran perpajakan secara sukarela (voluntary taxcompliance) yang tinggi (Suminarsasi, 2011:1).

Dengan menganut prinsip self assessment systemtersebut pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakan atas kesadaran dan rasa tanggung jawab, serta dengan menegakan keadilan hukum dan kepastian hukum juga perbaikan mutu pelayanan yang prima diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, pemahaman dan penghayatan Wajib Pajak akan kewajibannya dibidang perpajakan dan ikut serta berperan dalam mensukseskan pembangunan nasional (Setiawan, 2008:174).

Seperti yang diketahui, belum optimalnya penerimaan pajak di negara berkembang, khususnya Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh masih buruknya administrasi perpajakan. Administrasi perpajakan berkorelasi langsung dengan tingkat penghindaran pajak (tax avoidance), penggelapan pajak (tax evasion), dan korupsi pajak. Hal ini dapat dilihat dari besarnya tax gap, yaitu selisih antara kewajiban pajak yang seharusnya dengan pajak yang dibayar. Tax gap dibedakan menjadi tiga: nonfiling gap yaitu tax gap yang terjadi karena pajak yang terutang tidak dibayar dan wajib pajak tidak menyampaikan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan),

(5)

5

underreporting gap yaitu pajak yang dilaporkan dalam SPT dan berada di bawah yang seharusnya, underpayment gap yaitu potensi pajak yang hilang akibat wajib pajak menyampaikan SPT tetapi tidak membayar pajak yang seharusnya terutang. Seperti yang dikemukakan oleh Adams bahwa orang- orang telah menggelapkan pajak sejak pemerintah mulai mengumpulkan pajak. Mereka melakukan hal tersebut dikarenakan bahwa pajak dipandang sebagai suatu beban yang akan mengurangi kemampuan ekonomisnya.

Mereka harus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membayar pajak.

Padahal, apabila tidak ada kewajiban pajak tersebut, uang yang dibayarkan untuk pajak bisa dipergunakan untuk menambah pemenuhan keperluan hidupnya (Nickerson, et al, 2009:1).

Menurut Andercon, penghindaran pajak adalah cara rnengurangi pajak yang masih dalam batas ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan dapat dibenarkan, terutama melalui perencanaan Pajak.

Penyelundupan pajak adalah penyelundupan pajak yang melanggar undang- undang pajak. Penggelapan pajak (tax evasion) sebagai usaha yang dilakukan oleh Wajib Pajak untuk meringankan beban pajak dengan cara melanggar undang-undang. Dikarenakan melanggar undang-undang, penggelapan pajak (tax evasion) ini dilakukan dengan menggunakan cara yang tidak legal. Para Wajib Pajak sama sekali mengabaikan ketentuan formal perpajakan yang menjadi kewajibannya, memalsukan dokumen, atau mengisi data dengan tidak lengkap dan tidak benar (Mardiasmo, 2009).

Sedangkan penghindaran pajak termasuk dalam pengertian perencanaan pajak (tax planning). Tax planning adalah proses pengendalian tindakan agar terhindar dari konsekuensi pengenaan pajak yang tidak dikehendaki. Penghindaran pajak adalah suatu tindakan yang legal. Dalam hal ini sama sekali tidak ada suatu pelanggaran hukum yang dilakukan dan sebaliknya diperoleh penghematan (tax saving) dengan cara mengatur

(6)

6

tindakan yang menghindarkan aplikasi pengenaan pajak melalui pengendalian fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga terhindar dari pengenaan pajak yang lebih besar atau sama sekali tidak kena pajak. Walaupun pada dasarnya antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak mempunyai sasaran yang sama, yaitu mengurangi beban pajak, akan tetapi cara penyelundupan pajak jelas-jelas merupakan illegal dalam usaha mengurangi beban pajak tersebut.

Hal serupa dinyatakan oleh Kirchler, et. al. (2001), dalam penelitiannya, bahwa meskipun ada kesamaan antara penggelapan pajak (tax evasion), dan penggelapan pajak (tax avoidance) dalam mengurangi pendapatan, namun penggelapan pajak (tax evasion) dianggap negatif/ilegal dan tidak bermoral, penghindaran pajak (tax avoidance) dianggap lebih positif dan bermoral terkait dengan niat untuk menghemat pajak dengan tata cara yang benar.

(7)

7 BAB II

PENYIMPANGAN PARAKTIK PAJAK

1. Penggelapan Pajak (Tax Evasion)

Penggelapan Pajak terjadi sebelum SKP dikeluarkan. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap undang-undang dengan maksud melepaskan diri dari pajak/mengurangi dasar penetapan pajak dengan cara menyembunyikan sebagian dari penghasilannya. Wajib pajak di setiap negara terdiri dari wajib pajak besar (berasal dari multinational corporation yang terdiri dari perusahaan-perusahaan penting nasional) dan wajib pajak kecil (berasal dari profesional bebas yang terdiri dari dokter yang membuka praktek sendiri, pengacara yang bekerja sendiri, dll). Penggelapan pajak mengacu pada tindakan yang tidak benar yang dilakukan oleh wajib pajak mengenai kewajibannya dalam perpajakan.

a. Defenisi Penggelapan Pajak (tax evasion)

Mardiasmo (2009) mendefinisikan penggelapan pajak (tax evasion) Adalah usaha yang dilakukan oleh wajib pajak untuk meringankan beban pajak dengan cara melanggar undang-undang. Dikarenakan melanggar undang-undang, penggelapan pajak ini dilakukan dengan menggunakan cara yang tidak legal. Para wajib pajak sama sekali mengabaikan ketentuan formal perpajakan yang menjadi kewajibannya, memalsukan dokumen, atau mengisi data dengan tidak lengkap dan tidak benar”.

Menurut Siahaan (2010:110) mengatakan bahwa penggelapan pajak adalah usaha yang digunakan oleh wajib pajak untuk mengelak dari kewajiban pajak yang sesungguhnya dan merupakan perbuatan yang melanggar undang-undang pajak, sehingga membawa berbagai macam

(8)

8

akibat, meliputi berbagai bidang kehidupan masyarakat, antara lain bidang keuangan, ekonomi, dan psikologi”.

Sedangkan Masri(2012:5), menjelaskan pembahasan mengenai penggelapan pajak (tax evasion) adalah Usaha-usaha memperkecil jumlah pajak dengan melanggar ketentuan-ketentuan pajak yang berlaku. Pelaku tax evasion dapat dikenakan sanksi administratif maupun sanksi pidana.”

Kemudian Menurut Setiawan (2008:181) tax evasion yaitu cara menghindari pajak dengan cara-cara yang bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Bila diketemukan dalam pemeriksaan pajak, maka Wajib Pajak akan dikenakan sanksi administrasi dan pidana sesuai dengan ketentuan yang berlaku”.

Berdasarkan berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penggelapan pajak adalah usaha yang dilakukan oleh wajib pajak apakah berhasil atau tidak untuk mengatur suatu peristiwa sedemikian rupa untuk meminimkan atau menghilangkan beban pajak, mengurangi atau sama sekali menghapus dengan memperhatikan ada atau tidaknya akibat-akibat pajak yang ditimbulkan berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang- undangan perpajakan yang berlaku.

b. Indikator Penggelapan Pajak

Adapun indikator penggelapan pajak menurut Moh. Zain (2008:51), adalah sebagai berikut:

1. Tidak menyampaikan SPT

2. Menyampaikan SPT dengan tidak benar

3. Tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan NPWP atau pengukuhan PKP

4. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut 5. Berusaha menyuap fiskus

(9)

9 2. Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Penghindaran Pajak (tax avoidance) merupakan tindakan legal, dapat dibenarkan karena tidak melanggar undang-undang, dalam hal ini sama sekali tidak ada suatu pelanggaran hukum yang dilakukan. Tujuan penghindaran pajak adalah menekan atau meminimalisasi jumlah pajak yang harus dibayar.

a. Definisi Penghindaran Pajak (tax avoidance)

Penghindaran pajak menurut Ernest R. Mortenson dalam Siti Kurnia (2010:146), adalah berkenaan dengan pengaturan suatu peristiwa sedemikkian rupa untuk meminimkan atau menghilangkan beban pajak dengan memperhatikan ada atau tidaknya akibat-akibat pajak yang ditimbulkannya. Penghindaran pajak tidak merupakan pelanggaran atas perundang-undangan perpajakan secara etik tidak dianggap salah dalam rangka usaha wajib pajak dalam rangka mengurangi, menghindari, meminimkan atau meringankan beban pajak dengan cara yang dimungkinkan oleh undang-undang pajak.

Menurut Robert H. Anderson dalam Siti Kurnia (2010:146), Penghindaran pajak adalah cara mengurangi pajak yang masih dalam batas ketentuan perundang-undangan perpajakan dan dapat dibenarakan terutama melalui perencanaan perpajakan.

Sedangkan menurut Indrayagus Slamet (2007:8) Penghindaran Pajak adalah diartikan sebagai suatu skema transaksi yang ditujukkan untuk meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan kelemahan- kelemahan ketentuan perpajakan suatu negara”.Berdasarkan difinisi- definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian penghindaran pajak dapat diartikan sebagai manipulasi penghasilannya secara legal yang

(10)

10

masih sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.

b. Indikator Penghindaran Pajak

Ada pun yang menjadi indikator dari Penghindaran Pajak menurut Arnold dan McIntyre (1995) dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

1. Menahan Diri

Yang dimaksud dengan menahan diri yaitu wajib pajak tidak melakukan sesuatu yang bisa dikenai pajak.

2. Pindah Lokasi

Memindahkan lokasi usaha atau domisili dari lokasi yang tarif pajaknya tinggi ke lokasi yang tarif pajaknya rendah.

3. Penghindaran Pajak Secara Yuridis

Perbuatan dengan cara sedemikian rupa sehingga perbuatan perbuatan yang dilakukan tidak terkena pajak. Biasanya dilakukan dengan memanfaatkan kekosongan atau ketidak jelasan undang-undang. Hal inilah yang memberikan dasar potensial penghindaran pajak secara yuridis.

3. Penyebab Terjadinya Penggelapan Pajak

Selain factor psikologi wajib pajak kurang sadar terhadap kepatuhan pajak, hal lain yang membuat wajib pajak berusaha menghindari dari pajak diantaranya kondisi lingkungan, pelayanan fiskus yang mengecewakan, tingginya tafif pajak dari system administrsi yang buruk (Siti Kurnia 2010:149)

a. Kondisi lingkungan

Lingkungan sosial masyarakat menjadi hal yang tak terpisahkan dari manusia sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu saling bergantung satu sama lain. Hampir tidak ditemukan manusia di dunia ini

(11)

11

yang hidupnya hanya bergantung pada diri sendiri tanpa memperdulikan keberadaan orang lain, begitu juga dalam dunia perpajakan, manusia akan melihat lingkungan sekitar yang seharusnya mematuhi aturan perpajakan.

Mereka saling mengamati terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan.

Jika kondisi lingkungannya baik (taat aturan), masing-masing individu akan termotivasi untuk mematuhi peraturan perpajakan dengan membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya jika lingkungan sekitar kerap melanggar peraturan. Masyarakat menjadi saling meniru untuk tidak mematuhi peraturan karena dengan membayar pajak, mereka merasa rugi telah membayarnya sementara yang lain tidak.

b. Pelayanan fiskus yang mengecewakan

Pelayanan aparat pemungut pajak terhadap masyarakat cukup menentukan dalam pengambilan keputusan wajib pajak untuk membayar pajak. Hal tersebut disebabkan oleh perasaan wajib pajak yang merasa dirinya telah memberikan kontribusi pada negara dengan membayar pajak. Jika pelayanan yang diberikan telah memuaskan wajib pajak, mereka tentunya merasa telah diapresiasi oleh fiskus. Mereka menganggap bahwa kontribusinya telah dihargai meskipun hanya sekedar dengan pelayanan yang ramah saja. Tapi jika yang dilakukan tidak menunjukkan penghormatan atas usaha wajib pajak, masyarakat merasa malas untuk membayar pajak kembali.

c. Tingginya tarif pajak

Pemberlakuan tarif pajak mempengaruhi wajib pajak dalam hal pembayaran pajak. Pembebanan pajak yang rendah membuat masyarakat tidak terlalu keberatan untuk memenuhi kewajibannya. Meskipun masih ingin berkelit dari pajak, mereka tidak akan terlalu membangkang terhadap aturan perpajakan karena harta yang berkurang hanyalah sebagian kecilnya. Dengan pembebanan tarif yang tinggi, masyarakat

(12)

12

semakin serius berusaha untuk terlepas dari jeratan pajak yang menghantuinya. Wajib pajak ingin mengamankan hartanya sebanyak mungkin dengan berbagai cara karena mereka tengah berusaha untuk mencukupi berbagai kebutuhan hidupnya. Masyarakat tidak ingin apa yang telah diperoleh dengan kerja keras harus hilang begitu saja hanya karena pajak yang tinggi.

d. Sistem administrasi perpajakan yang buruk

Penerapan sistem administrasi pajak mempunyai peranan penting dalam proses pemungutan pajak suatu negara. Dengan sistem administrasi yang bagus, pengelolaan perpajakan akan berjalan lancar dan tidak akan terlalu banyak menemui hambatan yang berarti. Sistem yang baik akan menciptakan manajemen pajak yang profesional, prosedur berlangsung sistematis dan tidak semrawut. Ini membuat masyarakat menjadi terbantu karena pengelolaan pajak yang tidak membingungkan dan transparan. Seandainya sistem yang diterapkan berjalan jauh dari harapan, mayarakat menjadi berkeinginan untuk menghindari pajak. Mereka bertanya-tanya apakah pajak yang telah dibayarnya akan dikelola dengan baik atau tidak. Setelah timbul pemikiran yang menyangsikan kinerja fiskus seperti itu, kemungkinan besar banyak wajib pajak yang benar-benar `lari` dari kewajiban membayar pajak.

Seperti yang dikemukakan oleh Kennedy Prince Modugu dan Alade Sule Omoye dalam penelitian yang berjudul An Appraisal Of Personal Income Tax Evasion In Nigeria melakukan penelitian untuk mengetahui penggelapan pajak pribadi di Nigeria. Mereka menyebarkan 160 kuesioner yang diberikan kepada beberapa wajib pajak di Negara Edo terdiri dari pengusaha, kontraktor, praktisi professional seperti pengacara, dokter, akuntan, arsitek dan pedagang di took-toko serta staf

(13)

13

dari Inland Revanue Service federal di Benin City, Edo Stated, Nigeria.

Hasil penelitian dari studi ini menunjukkan bahwa penyebab terjadinnya penggelapan pajak di Nigeria adalah tarif pajak yang tinggi, hubungan yang buruk antara pembayar pajak dan otoritas pajak, lemahnya denda pajak serta disinsentif kepatuhan pajak.

Selanjutnya Tijani Oladipupo Muhrtala dan Mathias Ogundeji dalam penelitiannya yang berjudul Professionals’

Perspective of Tax Evasion: Some Evidence from Nigeria telah melakukan studi empiris melalui survei terstruktur yang diarahkan pada pajak profesional. Informasi ini dikumpulkan untuk menjelaskan faktor- faktor penentu penggelapan pajak. Hasilnya menunjukkan bahwa penggelapan pajak di Nigeria sangat dipengaruhi oleh kompleksitas dalam struktur pajak, tidak adanya manfaat ekonomi yang dirasakan sehinggal hal itu memicu penggelapan pajak, serta kurangnya kepercayaan kepada pemerintahan atas pemanfaatan sumber daya keuangan.

Untuk mengurangi terjadinya pengelapan pajak, pemerintah harus mengambil langkah-langkah aktif untuk memperbaiki situasi dan memastikan perpajakan memainkan perannya sebagai sumber utama pendapatan. Pemerintah harus menarik kepercayaan masyarakat serta meningkatkan hubungan antara pembayar pajak dan petugas pajak.

Pembayar pajak harus dididik tentang pentingnya membayar pajak.

Lembaga pajak juga dapat memberikan dukungan dengan menyiapkan prosedur untuk melatih wajib pajak tentang bagaimana mempersiapkan catatankeuangan dan rekening berdasarkan undang-undang pajak. Ini bisa jadi didukung oleh hukum yg membuat pemerintah mengeluarkan izin

hanya jika pelatihan tersebut berhasil diselesaikan.

(14)

14 4. Dampak Pengelapan Pajak

Menurut Siahaan (2010:110) penggelapan pajak membawa akibat pada pada perekonomian secara makro. Akibat dari pengelakan pajak sangat beragam dan meliputi berbagai bidang kehidupan masyarakat, antara lain sebagai berikut:

a. Akibat Pengelakan / Penggelapan Pajak Dalam Bidang Keuangan Penggelapan/pengelakan pajak (sebagaimana juga halnya dengan penghindaran diri dari pajak) berarti pos kerugian yang penting bagi 35Negara, yaitu dapat menyebabkan ketidakseimbangan anggaran dan konsekuensi-konsekuensi lain yang berhubungan dengan penaikan tarif pajak, inflasi, dan sebagainya. Untuk menjamin pemungutan pajak secara tepat, sering dikemukakan falsafah sebagai berikut, “Wajib Pajak yang mengelakan pajak mungkin mengira bahwa Negara mengambil sejumlah yang telah ada dikantungnya. Pada hakikatnya dialah yang mengambil uang dari warga-warga yang oleh Negara harus diminta pengorbanan lain (untuk mengimbangi kekurangan yang ditimbulkan oleh Wajib Pajak yang tidak menunaikan kewajibannya itu).

b. Akibat Pengelakan / Penggelapan Pajak Dibidang Ekonomi

Menurut Siahaan (2010:110), adapun akibat dari penggelapan pajak dalam bidang ekonomi adalah sebagai berikut:

1. Pengelakan/penggelapan pajak sangat mempengaruhi persaingan sehat diantara para pengusaha, sebab suatu perusahaan yang menggelapkan pajaknya dengan menekan menekan biaya secara tidak legal, merekamempunyai posisi yang lebih menguntungkan daripada saingan-saingan yang tidak berbuat demikian.

2. Pengelakan/penggelapan pajak tersebut merupakan penyebab stagnasi perputaran roda ekonomi yang apabila perusahaan bersangkutan berusaha untuk mencapai tambahan dari

(15)

15

keuntungannya dengan penggelapan pajak, dan tidak mengusahakan dengan jalan perluasan aktivitas atau peningkatan usaha. Untuk menutup-nutupinya agar jangan sampai terlihat oleh fiskus.

3. Pengelakan/penggelapan pajak termaksud juga menyebabkan langkanya modal karena para wajib pajak yang menyembunyikan keuntungannya terpaksa berusaha keras untuk menutupinya agar tidak sampai terdeteksi oleh fiskus.

Oleh karena itu pengelakan/penggelapan pajak yang dilakukan oleh para WP pada hakikatnya menimbulkan dampak yang secara tidak langsung menghambat pertumbuhan danperluasan usahanya, dengan mencoba sedemikian rupa untuk meminimalkan jumlah beban pajak yang dilaporkan di SPT. Hal ini juga mengakibatkan ruang lingkup perputaran modal suatu usaha menjadi tidak leluasa dikarenakan WP berusaha menyembunyikan laba/keuntungannya sedemikian rupa agar tidak sampai terdeteksi oleh fiskus.

c. Akibat Pengelakan / Penggelapan Pajak Dalam Bidang Psikologi Akibat dari penggelapan pajak itu juga dirasakan dalam bidang psikologi, sebab penggelapan pajak membiasakan Wajib Pajak untuk melanggar undang-undang. Apabila Wajib Pajak sampai hati melakukan penipuan dalam bidang fiskal, lambat laun Wajib Pajak tidak akan segan-segan berbuat sama dalam hal ini. Akibat dari komplikasi-komplikasi ini pasti menimbulkan dampak yang mengancam sehubungan dengan tindak penggelapan pajak, seperti: kemungkinan terungkapnya praktek penipuan tersebut dengan konsekuensi pembayaran pajak yang berlipat ganda karena meliputi utang pajak dalam waktu tertentu, ditambah dengan denda dan kenaikan pajak yang harus dibayarnya. Hal demikian kadang-kadang terjadi pada saat yang kurang tepat seperti dalam keadaan

(16)

16

kekurangan uang, sakit ataupun mengalami kebangkrutan. Akhirnya tindakan penggelapan pajak mempunyai pengaruh yang berbahaya terhadap Wajib Pajak, dengan tidak menyadari akan konsekuensinya, dan mengira bahwa perbuatan curang semacam itu akan menguntungkannya secara jangka panjang (Siahaan, 2010:111).

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengelakan/penggelapan pajak yang dilakukan oleh WP memiliki konsekuensi yang sangat beresiko secara materil dan non materil. Secara materil bahwa WP akan menganggap perbuatan penggelapan pajak itu akan menguntungkannya secara jangka panjang, akan tetapi konsekuensi yang terjadi jika terungkapnya tindak penggelapan pajak tersebut, maka WP akan membayar dengan kerugian berkali-kali lipat disertai dengan dengan denda dan kurungan pidana dalam jangka waktu tertentu, ditambah pula jika WP tidak mempunyai cukup dana untuk menutup denda yang diputuskan, sejumlah asset akan disita dan bisa berdampak pada kebangkrutan bahkan resiko kejiwaan.

5. Langkah-Langkah Yang Dapat Dilakukan Untuk Meminimalisir Terjadinya Penggelapan Pajak

a. Menahan Diri

Yang dimaksud dengan menahan diri yaitu wajib pajak tidak melakukan sesuatu yang bisa dikenai pajak. Contoh:

1. Tidak merokok agar terhindar dari cukai tembakau.

2. Tidak menggunakan ikat pinggang dari kulit ular atau buaya agar terhindar dari pajak atas pemakaian barang tersebur. Sebagai gantinya, menggunakan ikat pinggang dari plastik. Secara moral, hal ini tidak tercela karena tidak ada orang yang akan menganggap perbuatan seorang perokok yang mengurangi kebiasaan merokoknya sebagai

(17)

17

orang yang menghindari pajak. Malah, orang yang mengurangi, atau malah tidak merokok sama sekali dianggap sebagai tindakan terpuji.

b. Pindah Lokasi

Memindahkan lokasi usaha atau domisili dari lokasi yang tarif pajaknya tinggi ke lokasi yang tarif pajaknya rendah. Contoh: Di Indonesia, diberikan keringanan bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia Timur. Namun, pindah lokasi tidak semudah itu dilakukan oleh wajib pajak. Mereka harus memikirkan tentang transportasi, akomodasi, SDM, SDA, serta fasilitas-fasilitar yang menunjang usaha mereka. Hal ini harus sesuai dengan kentungan yang akan mereka dapatkan dan keringanan pajak yang mereka peroleh. Biasanya, hal ini jarang terjadi.

Yang terjadi hanya pada pengusaha yang baru membuka usaha, atau perusahaan yang akan membuka cabang baru. Mereka membuka cabang baru di tempat yang tarif pajaknya lebih rendah. Hal ini tidak tercela karena merupakan hak asasi setiap orang untuk memilih tempat atau lokasi usaha/domisilinya.

c. Penghindaran Pajak Secara Yuridis

Perbuatan dengan cara sedemikian rupa sehingga perbuatan-perbuatan yang dilakukan tidak terkena pajak. Biasanya dilakukan dengan memanfaatkan kekosongan atau ketidak jelasan undang-undang. Hal inilah yang memberikan dasar potensial penghindaran pajak secara yuridis. Contoh: Di Indonesia, untuk pegawai diberi tunjangan beras (in natura). Menurut undang-undang yang berlaku, hal ini tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Penghindarannya dengan cara: perusahaan bekerjasama dengan yayasan dalam penyaluran tunjangan ini. Perusahaan memberi uang kepada yayasan, dan yayasan menyalurkannya ke pegawai

(18)

18

dalam bentuk beras. Jadi, pegawai tetap dapat beras dan hal itu dibebankan sebagai biaya sehingga pajaknya berkurang. Dalam ketentuan perpajakan, masih terdapat berbagai celah (loophole) yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan agar jumlah pajak yang dibayar oleh perusahaan optimal dan minimum (secara keseluruhan). Optimal disini diartikan sebagai, perusahaan tidak membayar sesuatu (pajak) yang semestinya tidak harus dibayar, membayar pajak dengan jumlah yang ‘paling sedikit’ namun tetap dilakukan dengan cara yang elegan dan tidak menyalahi ketentuan yang berlaku.

Contoh Kasus 1 Penggelapan Pajak (Tax Evasion) Contoh Kasus

Penyelewengan Pajak: Peyelewengan Pajak Oleh Bakrie Group

Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan penggelapan pajak yang dilakukan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak. ICW menemukan selisih pajak lebih rendah US$ 1,060 miliar dalam laporan keuangan salah satu perusahaan Grup Bakrie tersebut.

Beberapa perusahan Grup Bakrie melakukan tindakan pengurangan dalam membayar pajak. Kasus ini berawal ketika Direktorat Jenderal Pajak menemukan kekurangan bayar pajak tiga perusahaan Grup Bakrie pada 2007 senilai Rp 2,1 triliun. Jumlah ini merupakan rekor kasus pajak di Indonesia. Kasus pajak terbesar sebelumnya berasal dari penyimpangan pajak Asian Agri Group senilai Rp 1,3 triliun.

Berikut Kronologis Perseteruan Bakrie-Pajak:

 2007

Keuntungan kotor PT Bumi Resources Tbk–induk usaha PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia–naik 42 persen menjadi US$ 754 juta (Rp 6,8 triliun) dari US$ 529 juta (Rp 4,8 triliun) pada 2006.

(19)

19

 2008

Direktorat Jenderal Pajak memeriksa kasus dugaan manipulasi pajak tiga perusahaan Grup Bakrie itu untuk tahun buku 2007.

 4 Maret 2009

Kantor Pajak menemukan dugaan kekurangan pembayaran pajak pada 2007 oleh ketiga perusahaan batu bara Grup Bakrie itu sekitar Rp 2,1 triliun.

Perinciannya: KPC kurang Rp 1,5 triliun, Bumi Resources kurang Rp 376 miliar, Arutmin kurang Rp 300 miliar.

 20 Maret 2009

KPC menggugat Ditjen Pajak ke Pengadilan Pajak untuk membatalkan surat perintah bukti permulaan penyidikan tanggal 4 Maret 2009

 29 Juni 2009

Kasus PT Bumi Resources ditingkatkan ke penyidikan.

 8 Desember 2009

Pengadilan Pajak membatalkan surat tanggal 4 Maret 2009. Namun Ditjen Pajak tetap melanjutkan penyidikan.

 29 Januari 2010

Ditjen Pajak mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung atas putusan pengadilan pajak tanggal 8 Desember 2009.

 4 Februari 2010

KPC menggugat Ditjen Pajak ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena tidak menaati putusan pengadilan pajak pada 8 Desember 2009.

 9 Februari 2010

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengalahkan KPC.

 24 Mei 2010

(20)

20

MA menolak PK Ditjen Pajak mengenai keberatan atas putusan pengadilan pajak tanggal 8 Desember 2009 yang membatalkan surat dimulainya penyidikan KPC

 3 November 2010

Gugatan Bumi Resources terhadap Ditjen Pajak dikalahkan Pengadilan Pajak.

Kasus pajak tiga perusahaan Grup Bakrie menjadi heboh, terutama karena ada pengakuan Gayus, tersangka kasus dugaan penggelapan pajak, memberikan keterangan di persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 28 September lalu.

Gayus mengaku menerima dana US$ 3 juta dari Grup Bakrie untuk mengurusi perkara pajak tiga perusahaan kelompok usaha itu.

Masing-masing untuk mengurus surat banding ketetapan pajak untuk PT Bumi Resources Tbk, surat ketetapan pajak untuk PT Kaltim Prima Coal dan sunset policy atau pemutihan pajak PT Arutmin. Gayus memerinci, untuk Kaltim Prima dia dibayar US$ 500 ribu; Bumi US$ 500 ribu; dan Arutmin US$ 2 juta.

Menurut Gayus mengaku pekerjaan itu diterima dari Alief Kuncoro melalui adiknya yang bernama Imam Cahyo Maliki. Dua nama terakhir menurut Gayus masing-masing mendapat bayaran US$ 500 ribu. Gayus juga menyebut meminta bantuan atasannya Maruli Pandopotan Manurung, dengan imbalan US$

1,5 juta.

Pengakuan Gayus menerima bayaran dari Grup Bakrie itu, adalah pengakuan yang kesekiankalinya. Pada 3 Juni 2010, Kabareskrim Komjen Ito Sumardi mengatakan, berdasarkan hasil penyidikan, Gayus mengaku menerima bayaran dari tiga perusahaan Grup Bakrie. Lalu di persidangan Haposan, 3 Agustus lalu, Gayus kembali mengakui ada pembayaran dari perusahaan- perusahaan Grup Bakrie.

(21)

21

Contoh Kasus 2 Penghindaran Pajak (Tax Avoidence)

Sesuai pasal 10 ayat (6) Undang-undang No.7 Tahun 1983 yang diubah terakhir kali dengan Undang-undang No.36 Tahun 2008 mengenai pajak penghasilan, dimana metode penilaian persediaan yang dibolehkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut :

 Penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga perolehan.

 Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok hanya boleh dilakukan dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang didapat pertama(FIFO)

Dalam analisis berikut ini akan kami sajikan perbandingan kedua metode tersebut

(22)

22

Jenis Barang : Sabun ABC

Metode Pencatatan Persediaan : Perpetual Inventory Method Metode Penilaian Persediaan : Metode FIFO

Bulan : Januari 2016

Tanggal

Pembelian Penjualan Saldo Persediaan

Unit Harga Jumlah(Rp) Unit Harga Jumlah(Rp) Unit Harga Jumlah(Rp)

01/01/2016 500 800 400.000

500 800 400.000

02/01/2016 200 1.000 200.000 200 1.000 200.000

700 600.000

100 800 80.000

07/01/2016 400 800 320.000 200 1.000 200.000

300 280.000

100 800 80.000

10/01/2016 700 1.500 1.050.000 200 1.000 200.000

700 1.500 1.050.000

1.000 1.330.000

100 800 80.000

15/01/2016 200 1.000 200.000

300 1.500 450.000 400 1.500 600.000

600 730.000 400 600.000

1.000 2.000 2.000.000 100 1.500 150.000

17/01/2016 300 1.500 450.000 1.000 2.000 2.000.000

1.100 2.150.000

(23)

23

100 1.500 150.000

31/01/2016 600 2.000 1.200.000 400 2.000 800.000

700 1.350.000

31/01/2016 400 800.000

Total 1.900 3.250.000 2.000 2.850.000

Rekapitulasi : FIFO

Unit Jumlah (Rp)

Saldo Awal

500 400.000

+/+ : pembelian

1.900 3.250.000 (+)

Jumlah barang yang tersedia untuk dijual

2.400 3.650.000

-/- : penjualan (HPP)

2.000 2.850.000 (-)

saldo Akhir

400 800.000

Jenis Barang : Sabun ABC

Metode Pencatatan Persediaan : Perpetual Inventory Method

(24)

24

Metode Penilaian Persediaan : Metode Rata-Rata

Bulan : Januari 2016

Tanggal Pembelian Penjualan Saldo Persediaan

Unit Harga Jumlah(Rp) Unit Harga Jumlah(Rp) Unit Harga Jumlah(Rp)

01/01/2016 500 800,00 400.000,00

500 800,00 400.000,00

02/01/2016 200 1.000 200.000 200 1.000,00 200.000,00

700 857,14 600.000,00

07/01/2016 400 857,14 342.857 300 857,14 257.142,86

300 857,14 257.142,86

10/01/2016 700 1.500 1.050.000 700 1.500,00 1.050.000,00

1.000 1.307,14 1.307.142,86

15/01/2016 600 1.307,14 784.286 400 1.307,14 522.857,14

1.000 2.000 2.000.000 1.400 1.802,04 2.522.857,14

17/01/2016 300 1.802,04 540.612 1.100 1.802,04 1.982.244,90

31/01/2016 700 1.802,04 1.261.429 400 1.802,04 720.816,33

31/01/2016 400 720.816,33

Total 1.900 3.250.000 2.000 2.929.184

Rekapitulasi : FIFO

Unit Jumlah (Rp)

(25)

25

Saldo Awal 500 400.000

+/+ : pembelian 1.900 3.250.000 (+)

Jumlah barang yang tersedia untuk dijual 2.400 3.650.000

-/- : penjualan (HPP) 2.000 2.929.184 (-)

saldo Akhir 400 720.816

(26)

1

Berdasarkan Analisis pada tabel diatas dapat ditarik kesimpulan :

1) Penggunaan Metode FiFO akan menghasilkan harga pokok penjualan atau pemakaian yang lebih kecil dibandingkan metode rata-rata. Karena Laba kena pajak (profit after tax) nya adalah lebih besar, maka beban PPh badan akan menjadi lebih besar.

2) Penggunaan metode rata-rata akan menghasilkan harga pokok penjualan atau pemakaian yang lebih besar dibandingkan metode FIFO, sehingga karena laba kena pajak (profit after tax) nya adalah lebih kecil, maka beban PPh badan akan menjadi lebih kecil.

 Penggelapan pajak (tax evasion) Adalah usaha yang dilakukan oleh wajib pajak untuk meringankan beban pajak dengan cara melanggar undang-undang.

Dikarenakan melanggar undang-undang, penggelapan pajak ini dilakukan dengan menggunakan cara yang tidak legal. Para wajib pajak sama sekali mengabaikan ketentuan formal perpajakan yang menjadi kewajibannya, memalsukan dokumen, atau mengisi data dengan tidak lengkap dan tidak benar.

 Penghindaran pajak (tax avoidence) adalah berkenaan dengan pengaturan suatu peristiwa sedemikkian rupa untuk meminimkan atau menghilangkan beban pajak dengan memperhatikan ada atau tidaknya akibat-akibat pajak yang ditimbulkannya. Penghindaran pajak tidak merupakan pelanggaran atas perundang-undangan perpajakan secara etik tidak dianggap salah dalam rangka usaha wajib pajak dalam rangka mengurangi, menghindari, meminimkan atau meringankan beban pajak dengan cara yang dimungkinkan oleh undang-undang pajak

 Berdasarkan dari jurnal penelitian yang dikumpulkan, dapat diketahui bahwa penyebab terjadinya tax evasion dan tax avoidence bukan hanya seperti yang di katakan oleh Adam Smith, yakni dikarenakan bahwa pajak dipandang sebagai suatu beban yang akan mengurangi kemampuan ekonomisnya, tetapi

(27)

2

disebabkan juga oleh ketidakpercayaan wajib pajak terhadap penggunaan sumber daya finansial oleh pemerintah, akuntabilitas pemerintahan, adanya ketidakadilan dalam perlakuan kepada warga negara serta rendahnya tingkat pengetahuan warga negara terhadap perpajakan.

(28)

3 BAB III

KEBIJAKAN INSENTIF PAJAK

A. Insentif Pajak

UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development) mendefinisikan insentif pajak sebagai segala bentuk insentif yang mengurangi beban pajak perusahaan dengan tujuan untuk mendorong perusahaan- perusahaan tersebut untuk berinvestasi di proyek atau sektor tertentu (Prasetyo, 2008).

Zee, Stotsky, dan Ley (2002) mendefinisikan insentif pajak dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sudut pandang hukum (statutory term) dan dari sudut pandang efektifitas (effective term). Dari sudut pandang hukum, insentif pajak didefinisikan sebagai perlakuan khusus yang diberikan terhadap proyek investasi tertentu saja. Sedangkan dari sudut pandang efektifitas, insentif pajak didefinisikan sebagai dampak efektif terhadap pengurangan beban pajak yang ditanggung oleh wajib pajak.

B. Bentuk-Bentuk Insentif Pajak

Holland dan Vann (1998) membagi insentif pajak menjadi lima jenis, yaitu:

a. Tax holidays

Pemberian insentif pajak jenis ini sering diterapkan oleh negara yang sedang berkembang. Insentif ini ditujukan untuk perusahaan baru dan bukan untuk perusahaan yang sedang beroperasi. Dengan tax holiday maka perusahaan baru akan diberikan periode waktu tertentu yang mana mereka akan dibebaskan dari beban pajak penghasilan.

b. Investments allowances and tax credit

(29)

4

Insentif pajak ini didasarkan pada besarnya jumlah pengeluaran dari investasi yang bersangkutan. Investment allowance digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak perusahaan, sedangkan tax credit digunakan untuk langsung mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar.

c. Timing differences

Insentif pajak ini muncul akibat adanya perbedaan waktu pengakuan atas akun-akun tertentu antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan pajak khususnya dalam hal pengakuan biaya dan pengakuan penghasilan.

d. Reduced tax rates

Insentif pajak ini memberikan pengurangan tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak dengan kriteria tertentu dari suatu persentase atau tingkatan tarif tertentu ke tingkatan tarif yang berada di bawahnya atau lebih rendah.

e. Administrative discretion

Insentif ini memiliki arti sebagai proses administrasi yang selektif dalam rangka pemberian fasilitas pajak, yang berarti apakah fasilitas pajak dapat dinikmati secara otomatis oleh setiap wajib pajak yang memenuhi ketentuan atau harus mengajukan permohonan penggunaan fasilitas pajak terlebih dahulu.

Easson dan Zolt (2002) menjelaskan bahwa pada umumnya bentuk- bentuk insentif pajak yang sering diterapkan adalah sebagai berikut :

a. Reduced corporate income tax rates

Insentif ini diberikan dalam bentuk pengurangan tarif pajak untuk investasi jenis tertentu atau investasi di daerah tertentu.

b. Tax holidays (i.e., reduction of or exemption from tax for a limited duration) Merupakan jenis insentif pajak yang paling umum diterapkan oleh Negara berkembang untuk meningkatkan investasi.

c. Investment credits or allowances

(30)

5

Merupakan sebuah alternatif atau tambahan dari tax holiday. Investment allowances mengurangi penghasilan kena pajak, dan investment tax credit langsung mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar.

d. Tax credit accounts

Insentif ini memberi investor akun pajak yang dapat dikreditkan dengan jumlah tertentu secara spesifik, yang dapat digunakan untuk mengurangi beban pajaknya.

e. Accelerated depreciation of capital assets

Memberikan insentif pajak berupa penyusutan yang dipercepat, sehingga untuk kepentingan pajak, nilai suatu aset dapat didepresiasikan lebih cepat dari nilai depresiasi yang sebenarnya secara ekonomi.

f. Favorable deduction rules for certain types of expenditure

Para pembuat kebijakan dapat mempengaruhi investasi melalui penyediaan aturan yang menguntungkan untuk mengurangi pengeluaran jenis tertentu.

g. Deductions or credits for reinvested profits

Beberapa negara menyediakan insentif untuk kegiatan reinvestasi yang berasal dari laba.

h. Reduced rates of withholding tax on remittances to the home country

Banyak negara memberikan pengurangan tarif atau zero rates atas witholding tax sebagai insentif untuk investasi asing, yang diupayakan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti alih teknologi.

i. Personal income tax or social security reductions for executives and employees

Pengurangan pajak ini diberikan sebagai insentif untuk meningkatkan investasi di daerah yang memiliki tingkat pengangguran yang tinggi atau untuk mempekerjakan pekerja dengan kategori tertentu.

j. Sales tax or VAT reductions

(31)

6

Insentif diberikan berupa pembebasan pajak penjualan untuk mendorong investor asing.

k. Reduced import taxes and customs duties

Adanya pembebasan bea masuk dan pajak atas impor dapat mempengaruhi keputusan investasi secara signifikan.

l. Property tax reductions

Pembebasan atau pengurangan pajak properti merupakann hal yang umum dan relatif efektif digunakan sebagai insentif pajak, dan biasanya merupakan bagian dari kebijakan untuk pembangunan yang bersifat regional.

m. Creation of special “zones”

Membentuk zona-zona tertentu untuk menarik investasi. Zona tersebut dapat berbentuk duty-free zones dan special exonomic zones.

C. Dampak Positif dan Negatif dengan Adanya Insentif Pajak

Pemberian insentif pajak merupakan suatu kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, pilihan dalam memformulasikan kebijakan tersebut harus mempertimbangkan segi positif dan negatifnya. Segi positif adanya insentif pajak adalah kemampuan insentif pajak sebagai perangsang terhadap investor untuk menanamkan modal sehingga dengan banyaknya investasi yang masuk akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat diperlukan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedangkan segi negatif adanya insentif pajak adalah : 1. Insentif pajak berpotensi dalam menciptakan korupsi. Pemberian insentif

pajak merupakan suatu kebijakan yang tidak berlaku untuk semua sektor usaha Wajib Pajak. Dalam menentukan sektor usaha yang diberikan insentif sangat tergantung kepada pejabat yang berkuasa pada periode tersebut. Pengalaman kebijakan insentif di Indonesia pada tahun 1996 membuktikan bahwa insentif pajak diberikan tidak transparan dan hanya kepada pengusaha yang mempunyai lobby kuat kepada penguasa.

(32)

7

2. Insentif pajak dinilai tidak efektif dan efisien. Pemberian insentif pajak dinilai tidak efektif karena faktor utama yang menentukan dalam membuat keputusan investasi bukanlah insentif pajak. Berdasarkan penelitian di berbagai negara, faktor kondisi ekonomi makro dan kondisi infrastruktur suatu negara lebih menentukan dibanding insentif pajak. Ketidakefisienan insentif pajak berkaitan dengan perhitungan biaya yang harus dikorbankan, yaitu hilangnya potensi pajak yang lebih besar dari pada keuntungan yang diperoleh.

3. Insentif pajak menyebabkan ketidakadilan. Pemberian insentif pajak tidak diberlakukan kepada semua Wajib Pajak, sehingga Wajib Pajak yang tidak menikmati insentif merasa diperlakukan tidak adil.

4. Insentif pajak menyebabkan distorsi. Tujuan dari kebijakan insentif pajak adalah untuk mempengaruhi keputusan investasi. Oleh karena itu, distorsi yang muncul sebagai akibat adanya kebijakan insentif pajak dapat dibenarkan dalam hal kebijakan tersebut dimaksudkan sebagai kompensasi dari ketidaksempurnaan pasar, yaitu dalam kondisi pasar tidak mampu untuk menghasilkan tingkat investasi optimal secara sosial. Contoh insentif pajak yang menimbulkan distorsi yang dibenarkan adalah insentif pajak atas kegiatan penelitian dan pengembangan atau research and development dan insentif pajak untuk pengembangan daerah tertentu. Namun, seringkali insentif pajak menyebabkan distorsi yang tidak disengaja.

D. Tujuan Insentif Pajak

Prasetyo (2008) menjelaskan bahwa UNCTAD melaporkan beberapa tujuan yang ingin dicapai dari pemberian insentif pajak oleh suatu negara.

Beberapa tujuan tersebut, yaitu : a. Investasi regional

Biasanya meliputi pemberian dukungan untuk kawasan luar kota, pembangunan kawasan industri yang agak jauh dari pusat kota dan karenanya

(33)

8

pencemaran lingkungan, urbanisasi yang terlalu tinggi, dan padatnya penduduk di perkotaan bisa dikurangi.

b. Investasi sektoral

Insentif pajak bisa diberikan untuk bidang-bidang usaha yang dipandang penting bagi pembangunan. Pemberian insentif ditujukan untuk merangsang perkembangan industri, manufaktur, pariwisata, atau eksplorasi sumber daya alam.

c. Peningkatan kualitas

Peningkatan kualitas biasanya diusahakan dengan membuat kawasan berikat untuk industri-industri yang berorientasi ekspor.

d. Alih teknologi

Pemberian insentif untuk industri-industri yang sifatnya pionir atau dengan menyediakan insentif khusus untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya penelitian dan pengembangan guna merangsang transfer teknologi.

Pandangan lain diberikan oleh Holland dan Vann (1998), yang menjelaskan tujuan diberikannya insentif pajak adalah sebagai berikut :

a. Regional development

Pembangunan regional merupakan tujuan umum diberikannya insentif pajak di negara-negara industri dan negara lainnya.

b. Employment creation

Insentif diberikan untuk meningkatkan investasi yang menyerap tenaga kerja untuk mengurangi tingkat pengangguran, atau untuk mempekerjakan orang- orang dengan spesifikasi tertentu.

c. Technology transfer

Banyak negara memberikan insentif pajak dengan tujuan untuk menarik investasi yang akan membawa peningkatan teknologi, atau aktivitas penelitian dan pengembangan.

(34)

9 d. Export promotion

Di negara-negara berkembang di Asia, insentif yang bertujuan untuk menarik investasi yang berorientasi ekspor lebih efektif dibandingkan insentif bentuk lainnya untuk meningkatkan investasi.

e. Free trade or export processing zones

Export processing zones berkaitan erat dengan meningkatkan investasi yang berorientasi ekspor. Selama 30 tahun terakhir, insentif ini banyak digunakan lebih dari 50 negara di dunia, terutama oleh negara-negara berkembang.

Melalui insentif ini, perusahaan dapat melakukan impor mesin, bahan mentah, dan komponen-komponen dengan bebas pajak, dengan tujuan untuk mengekspor barang jadinya.

(35)

10 BAB IV

PAJAK DAN PENANAMAN MODAL E. Penanaman Modal

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 1 ayat 1, dijelaskan bahwa penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia.

1. Penanaman Modal Dalam Negeri

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 1 ayat 2, mendefinisikan penanaman modal dalam negeri sebagai kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.

2. Penanaman Modal Asing

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 1 ayat 3, foreign direct investment atau penanaman modal asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri.

Menarik investor asing atau penanam modal asing biasa dilakukan berbagai negara sebagai salah satu usaha untuk mempercepat perkembangan investasi. Menggalakkan penanaman modal asing akan memberikan beberapa sumbangan penting dalam pembangunan, yaitu penanam modal asing menyediakan modalnya sendiri, akan memindahkan teknologi dan kepakaran lain ke negara yang didatanginya, meningkatkan penggunaan teknologi modern, dan kerap kali usaha mereka dapat meningkatkan ekspor (Sukirno, 2011).

(36)

11 F. Tujuan Penanaman Modal

Tujuan penyelenggaraan penanaman modal dari sudut pandang pemerintah

dapat dijabarkan sebagai berikut :

a. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional

Pada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 13, dijelaskan bahwa salah satu kebijakan pemerintah khususnya di bidang penanaman modal yang ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional adalah ditetapkan dan dikembangkannya kawasan ekonomi khusus yang dimaksudkan untuk pengembangan ekonomi di wilayah tertentu yang bersifat strategis bagi pengembangan ekonomi nasional dan untuk menjaga keseimbangan kemajuan suatu daerah. Dalam hal ini, pemerintah berwenang menetapkan kebijakan penanaman modal tersendiri.

b. Menciptakan lapangan kerja

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 10 menjelaskan bahwa tujuan ini tercermin pada salah satu ketetapan yang mengharuskan perusahaan penanaman modal dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja mengutamakan tenaga kerja warga negara Indonesia dan diwajibkan meningkatkan kompetensi tenaga kerja warga negara Indonesia melalui pelatihan kerja serta mewajibkan bagi perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja asing untuk menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 15 huruf b menjelaskan bahwa kebijakan yang terkait

(37)

12

secara langsung dengan konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan antara lain tercermin dalam ketetapan yang mewajibkan penanam modal untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility / CSR). Selain itu dalam pasal 16 huruf b, c, dan d juga menjelaskan mengenai tanggung jawab penanam modal untuk menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika penanam modal menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usahanya secara sepihak, ikut serta untuk menciptakan iklim usaha persaingan yang sehat, mencegah praktik monopoli, serta menjaga kelestarian lingkungan hidup.

d. Meningkatkan kemampuan daya saing usaha nasional

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal paragraf 10 Penjelasan Umum menjelaskan bahwa dalam upaya untuk mendorong perekonomian Indonesia menuju perekonomian global serta untuk mengantisipasi berbagai konsekuensi yang harus dihadapi terkait keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kerja sama internasional yang terkait dengan penanaman modal, baik secara bilateral, regional maupun multilateral (World Trade Organization / WTO), maka perlu diselenggarakan adanya penanaman modal.

e. Meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 10 ayat 4 menjelaskan bahwa secara kongkrit dalam rumusan kebijakan di bidang penanaman modal, khususnya mengenai kewajiban perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing untuk menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

f. Mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan

(38)

13

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 13 menjelaskan mengenai adanya kebijakan yang memberikan perlindungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi, dimana pemerintah diwajibkan menetapkan bidang usaha yang dicadangkan untuk usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi serta bidang usaha yang terbuka untuk usaha besar dengan syarat harus bekerja sama dengan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi. Di samping itu, pemerintah diwajibkan pula untuk melakukan pembinaan dan pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi melalui program kemitraan, peningkatan daya saing, pemberian dorongan inovasi dan perluasan pasar, serta penyebaran informasi yang seluas-luasnya.

g. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Tujuan ini tercermin dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pandangan lain disampaikan oleh Prasetyo (2008) yang mengutip Dunning dan Caves, menyatakan bahwa tujuan investasi dari sudut pandang investor ada beberapa macam, yaitu :

a. Mencari sumber daya alam

Investor bertujuan untuk mencari sumber kekayaan alam yang menjadi incarannya, termasuk kaitannya dengan kualitas barang dan harganya. Selain itu investor mempertimbangkan pula aspek fasilitas-fasilitas pengembangan kekayaan alam itu (misalnya sarana pengolahan dan pemasaran) dan keberadaan infrastruktur yang menunjang eksploitasi kekayaan alam itu.

(39)

14

Kemudian yang mungkin dipertimbangkan juga adalah ada tidaknya insentif dan mitra lokal.

b. Mencari pasar

Secara umum, investor jenis ini mempertimbangkan ukuran dan tingkat pertumbuhan pasar lokal dan daerah-daerah sekitarnya, kualitas dan jumlah tenaga manusia, infrastruktur, serta kebijakan makro pemerintah setempat.

c. Mencari peningkatan efisiensi

Bagi investor jenis ini, maka biaya produksi menjadi pertimbangan utama, khususnya yang berkaitan dengan tenaga terampil. Selain itu infrastruktur, kebijakan makro pemerintah, serta hubungan mereka dengan perusahaan- perusahaan lain yang padat pengetahuan juga mereka pertimbangkan.

d. Mencari aset-aset strategis

Investor melihat faktor-faktor seperti aset-aset yang padat pengetahuan, seperti teknologi dan keahlian manajerial. Kemudian mereka juga mempertimbangkan kondisi pasar dan penyebaran lokasinya. Kemudian dilihat juga kemudahan akses ke aset-aset itu, faktor harga dan aset-aset strategis lain, serta unsur budaya dan kelembagaan.

G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penanaman Modal

Prasetyo (2008) mengutip Clark yang menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi suatu keputusan investasi. Faktor-faktor tersebut adalah :

a. Makro

Faktor makro meliputi sistem politik dan kestabilan politik suatu negara, kebijakan ekonomi, sistem hukum, public governance, administrasi hukum, dan besarnya daya beli konsumen. Kriteria dari faktor makro ini masih relatif longgar.

(40)

15 b. Meso

Faktor ini meliputi kondisi infrastruktur (transportasi, energi, dan komunikasi), fasilitas sosial (sarana kesehatan, pendidikan, dan fasilitas pendukung lainnya), dan perhimpunan usaha (asosiasi pengusaha dan kamar dagang dan industri).

c. Mikro

Setelah mempertimbangkan faktor makro dan meso, terakhir investor akan mempertimbangkan faktor mikro yang meliputi tanah (harga dan kedekatan dengan pasar), tenaga kerja (upah minimum, keterampilan, dan tingkat produktivitas), modal (kemudahan untuk memperoleh kredit dan mungkin insentif pajak), unsur komersial (kemampuan dan pengalaman partner lokal), dan unsur lainnya seperti tawaran dari daerah lain.

Kuncoro (2010) juga menjelaskan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing suatu negara dibandingkan negara lain yang mempengaruhi keputusan investor untuk melakukan investasi. Faktor-faktor tersebut adalah :

a. Kinerja ekonomi

Indikator yang digunakan untuk menilai kinerja ekonomi meliputi perekonomian domestik, perdagangan dan investasi internasional, kesempatan kerja dan tingkat harga (inflasi).

b. Efisiensi pemerintah

Indikator kunci yang digunakan untuk menilai efisiensi pemerintah adalah pembiayaan publik, kebijakan fiskal, kerangka kelembagaan, legislasi bisnis dan pendidikan.

c. Efisiensi bisnis

Faktor-faktor kunci yang digunakan meliputi produktivitas, pasar tenaga kerja, pembiayaan, praktik manajemen, dan pengaruh globalisasi.

(41)

16 d. Infrastruktur

Indikator kuncinya meliputi infrastruktur dasar, infrastruktur teknologi, infrastruktur ilmiah, kesehatan dan lingkungan, dan sistem nilai.

Keberadaan infrastruktur memegang peranan yang cukup penting karena dapat mempengaruhi efisiensi operasional dan harus dikembangkan secara terus menerus serta diselaraskan dengan kemajuan ekonomi yang telah dicapai dan yang ingin diwujudkan di masa depan (Sukirno, 2011).

Henry (2011) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi investor untuk menilai lingkungan investasinya secara umum adalah PEST (political, economic, social, and technological). Faktor politik mencakup kebijakan pemerintah, hukum, kestabilan pemerintahan, dan kebijakan perpajakan.

Faktor ekonomi mencakup kondisi tingkat bunga, pengangguran, inflasi, produk domestik bruto, dan nilai tukar. Faktor sosial mencakup kebudayaan dan lingkungan. Dan faktor teknologi mencakup keberadaan teknologi lama dan kemampuan untuk menerima teknologi baru, semakin baik respon akan teknologi baru menunjukkan adanya potensi untuk melakukan investasi.

H. Metode Penghindaran Pajak Berganda

Metode penghindaran pajak berganda yang diatur dalam suatu tax treaty melengkapi sarana untuk mencegah terjadinya pengenaan pajak berganda.

Pemajakan berganda dapat terjadi apabila atas penghasilan yang sama dikenakan pajak dua kali oleh dua negara yang berbeda dalam periode yang sama. Ketentuan yang dituangkan dalam pasal yang mengatur metode penghindaran pajak berganda dari suatu tax treaty mencerminkan metode yang diterapkaan oleh suatu Negara (Surahmat, 2011).

Menurut Darussalam, Hutagaol, dan Septriadi (2010) serta Surahmat (2011), terdapat beberapa metode untuk keringanan pajak dan mencegah pemajakan berganda. Metode-metode tersebut adalah :

a. Metode pembebasan (exemption method)

(42)

17

Metode pembebasan menghindari adanya pemajakan berganda dengan cara tidak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di luar negeri.

Penghasilan atau laba yang diperoleh dari negara sumber tidak digabungkan di negara domisili sehingga dengan sendirinya pajak yang dibayar sehubungan dengan penghasilan tersebut juga tidak perlu diperhitungkan. Metode pembebasan ini terdiri atas metode pembebasan penuh (full exemption) dan metode pembebasan dengan progresi (exemption with progression).

b. Metode kredit pajak (credit method)

Metode ini menghindari adanya pemajakan berganda dengan cara mengijinkan pajak yang terutang dan dibayar di negara sumber untuk dapat dikurangkan atau dikreditkan dari pajak yang terutang di Negara domisili. Metode kredit pajak ini terdiri atas metode kredit pajak penuh (full credit method) dan metode kredit pajak dengan pembatasan (ordinary credit method). Dan apabila sumber penghasilan berasal lebih dari satu negara maka perhitungan kredit pajak dapat dilakukan dengan cara kredit pajak dihitung berdasarkan masing-masing negara (per country limitation) atau kredit pajak dihitung berdasarkan gabungan dari seluruh Negara (overall limitation).

c. Metode pengurangan (deduction method)

Metode pengurangan menghindari adanya pemajakan berganda dengan cara memperlakukan jumlah pajak yang dikenakan di negara sumber penghasilan sebagai biaya dalam rangka menghitung pajak penghasilan yang terutang di negara domisili.

Metode penghindaran pajak berganda secara unilateral yang dianut oleh Undang-undang Pajak Penghasilan adalah metode pengkreditan secara terbatas atau ordinary credit method. Artinya, besarnya kredit pajak yang dibayar di luar negeri tidak boleh melebihi perhitungan pajak yang terutang berdasarkan Undang- undang Pajak Penghasilan. Dan batas kredit pajak ditentukan untuk setiap Negara atau per country limitation. Metode penghindaran pajak berganda dalam tax treaty

(43)

18

Indonesia berisi salah satu dari dua metode yaitu tax sparing atau metode pengkreditan pajak dengan batas maksimum (Surahmat, 2011).

I. Tax Sparing

Apabila suatu negara memberikan insentif pajak berupa tax holiday, maka insentif tersebut dapat menjadi efektif apabila terdapat kepastian bahwa pajak yang dibebaskan di Indonesia dapat benar-benar dinikmati oleh investor luar negeri. Hal tersebut dapat tercipta apabila metode penghindaran pajak berganda credit method disertai dengan perjanjian tax sparing. Melalui tax sparing maka negara tempat domisili investor akan tetap memberikan kredit pajak atas pajak yang dibebaskan di Indonesia, dengan memperlakukan pajak yang dibebaskan tersebut dianggap seolah-olah dibayar sehingga dapat dikreditkan di Negara domisili (Surahmat, 2011).

(44)

19

RINGKASAN JURNAL

1. NARGIZA YAKUBOVA (2013)

Tujuan dari makalah ini adalah untuk menganalisis efek dari penggunaan insentif pajak pada kinerja investasi bisnis di negara berkembang dan transisi.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Bagi investor, fitur umum dari sistem pajak (dasar pengenaan pajak, tarif pajak, dll) lebih penting daripada insentif pajak.

Analisis survei menunjukkan bahwa transparansi, kesederhanaan, stabilitas dan kepastian dalam penerapan hukum pajak dan administrasi pajak mendapat perhatian lebih dari investor dibandingkan dengan insentif pajak khusus. Studi ini menunjukkan bahwa proyek akan terjadi bahkan jika tidak ada insentif pajak.

Insentif pajak adalah murni suatu kebetulan bagi mereka.

Para pemimpin bisnis akan selalu memberikan tekanan untuk menjaga, mempertahankan, memulihkan dan bahkan meningkatkan insentif pajak, bahkan ketika ketidakefektifan mereka telah terbukti. Hasil paling penting yang dapat diambil dari studi kebijakan insentif pajak untuk direkomendasikan kepada pembuat kebijakan di negara-negara berkembang, dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Upaya untuk menyederhanakan sistem pajak negara, menghilangkan distorsi pajak, menghapus biaya administrasi dan kepatuhan yang tidak perlu, meningkatkan transparansi dan meningkatkan kapasitas pemerintah untuk menghasilkan pendapatan. Hal ini membantu memperbaiki kondisi kerangka kerja dan karakteristik pasar negara untuk menarik investasi.

b. Perlu diketahui bahwa keringanan pajak terkait dengan investasi sebelumnya, umumnya harus dihormati agar tidak merusak kredibilitas kebijakan dan menghindari melemahnya kemampuan pemerintah untuk mempengaruhi perilaku investasi di masa depan.

(45)

20

c. Negara harus mempertimbangkan kerumitan laporan biaya pajak.

Laporan ini tidak hanya memberikan informasi mengenai efektivitas dan biaya insentif pajak, tetapi juga membantu untuk memperkuat keuangan pemerintah dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap transparansi fiskal.

2. IRINA EVGENIEVNA (2015)

Artikel ini menyajikan pengalaman internasional dalam memperkenalkan insentif pajak untuk penelitian dan pengembangan di sektor bisnis, penyelidikan kemungkinan penilaian efektivitas insentif pajak dan dampaknya terhadap pembagian biaya untuk penelitian dan pengembangan dalam GDP negara itu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi dan korelasi. Metode ini digunakan untuk mengevaluasi pengaruh pengenalan insentif pajak tidak langsung untuk peningkatan pembagian biaya penelitian dan pengembangan dalam GDP negara itu.

Studi ini menunjukkan bahwa tidak semua kasus insentif pajak tidak langsung menyebabkan peningkatan biaya penelitian dan pengembangan dalam struktur biaya perusahaan. Insentif pajak harus ditinjau secara berkala sesuai dengan menganalisis perubahan indikator utama ekonomi makro yang menunjukkan tingkat inovasi ekonomi yang dianalisa.

Insentif pajak adalah salah satu instrumen untuk mendorong perkembangan pasar RIA (Result of Intellectual Activity), yang dapat memiliki dampak positif pada penyediaan produk dan teknologi baru, serta permintaan mereka. Hal ini dapat dianggap sebagai insentif bagi sektor bisnis untuk menggunakan RIA untuk produksi (peralatan baru, bahan, teknologi, rumus dan sebagainya), untuk melaksanakan sendiri penelitian dan pengembangan untuk menciptakan produk baru dan teknologi dan untuk menarik organisasi penelitian untuk melakukan penelitian dan pengembangan bersama , yaitu kerjasama bisnis dan ilmu pengetahuan.

Referensi

Dokumen terkait

Perhatikan label graf iterasi ke

PLN Rayon Blora yang kemudian akan dilakukan beberapa perhitungan dengan rumus yang telah ditentukan untuk mengetahui ketidakseimbangan beban terhadap arus netral

Berdasarkan observasi, permaslahan yang menonjol pada tempat kerja atau bengkel permesinan SMK Semen Gresik yang belum memenuhi aspek K3 yaitu Gangguan kebisingan yang

Oksigen akan bereaksi dengan sari makanan di dalam sel-sel tubuh manusia, kemudian menghasilkan energi yang digunakan untuk.. menghasilkan energi yang digunakan untuk

Untuk mengatasi permasalahan Pembelian dan Penjualan Udang yaitu harus meningkatkan kinerja bagian pembelian dan penjualan dalam pengolahan data pembelian dan

atas karya ilmiah saya yang berjudul : Pengaruh Iklim Komunikasi dan Budaya Organisasi Terhadap Motivasi Kerja Pegawai (Studi Pada Politeknik Negeri Semarang) beserta

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat, rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pendapatan Rumah

Sekarang ini kegiatan belajar mengajar lebih berpusat pada guru, sehingga siswa kurang memperoleh pengetahuan secara mandiri. Oleh karena itu digunakan model