DITINJAU DARI PERBEDAAN JENIS KELAMIN Licha Puspita Ambar Arum
Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail: [email protected] Dr. Pradnyo Wijayanti, M.Pd.
Dosen Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail: [email protected]
Abstrak
Berpikir reflektif merupakan salah satu dari berpikir tingkat tinggi dan termasuk tujuan pembelajaran matematika di SMP, namun kurang mendapat perhatian dari guru yakni terkadang guru hanya memperhatikan hasil akhir dari penyelesaian masalah yang dikerjakan siswa tanpa memperhatikan proses siswa menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga perlu diketahui proses berpikir reflektif siswa agar dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran untuk meningkatkan berpikir reflektif siswa khususnya materi aljabar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir reflektif siswa SMP dalam memecahkan masalah aljabar dengan tinjauan perbedaan jenis kelamin.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2016/2017. Subjek dari penelitian ini adalah adalah dua siswa kelas VIII-A MTs Negeri Babat dengan rincian satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dengan kemampuan setara. Sedangkan instrumen dalam penelitian ini adalah tes kemampuan matematika, tes pemecahan masalah dan pedoman wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan siswa laki-laki dalam tahap reacting, dalam hal-hal yang ditanyakan maupun yang diketahui dia menyebutkan dengan lengkap meskipun cenderung tergesa-gesa yakni masih banyak yang dituliskan dalam hal yang diketahui namun tidak dipakai dalam penyelesaian. Hal yang diketahui dia tulis berupa simbolik. Dia mengetahui hubungan antara yang ditanya dengan yang diketahui namun belum mempertimbangkan kecukupan antara yang diketahui dan yang ditanyakan; siswa laki-laki dalam tahap comparing, dia selalu menghubungkan dengan masalah yang dihadapi sebelumnya serta dapat menjelasakan persamaan dan perbedaan dengan masalah sebelumnya, serta semua teori disebut dengan benar; siswa laki-laki dalam tahap contemplating, selalu mencoba-coba bilangan, tidak dikerjakan secara runtut. Untuk pengecekan dan kesimpulan terpenuhi dengan lengkap. Siswa perempuan dalam tahap
reacting dia menuliskan hal yang diketahui dan yang ditanyakan dengan lengkap dan benar, dia mengetahui hubungan antara yang diketahui dan yang ditanyakan serta mampu mempertimbangkan kecukupan antara yang diketahui dan yang dintayakan; siswa perempuan dalam tahap comparing, terdapat kesalahan dalam menyebutkan teori yang dipakan dengan penyelesaiannya, selalu menghubungkan dengan masalah yang dihadapi sebelumnya serta dapat menjelasakan persamaan dan perbedaan dengan masalah sebelumnya; siswa perempuan dalam tahap contemplating, menggunakan cara coba-coba untuk mencari hasilnya namun yang menggunakan cara coba-coba lebih sedikit daripada yang dikerjakan dengan runtut, untuk pengecekan dan kesimpulan terpenuhi dengan lengkap.
Kata Kunci: Berpikir reflektif, memecahkan masalah aljabar, perbedaan jenis kelamin.
Abstract
Reflective thinking is one of the highest level thinking and it is included into the learning objectives of Mathematics in Junior High School but it gets less attention from teacher, for instance, teacher is only paying attention to the final result of problem solving which is done by students without paying attention to the process of problem solving. Therefore, it is necessary to know students’ reflective thinking in order to be a consideration to plan learning process to increase students’ reflective thinking especially on Algebra subject. This study aims to describe the pattern of students’ reflective thinking in Junior High School.
This study is descriptive qualitative study which is conducted on the even semester of 2016/2017 Academic Year. The subject of this study is two of eight graders students in A class of MTs Negeri Babat which consist of one male and female student with similar ability. The isntrument of this study is mathematics ability test, problem solving test and guided-interview.
The result of this study showed that in reacting process, male student could mention completely in terms of questions and knowledge even though he tended to be hasty in which many things to write about something he knew but he did not use it in problem solving. Something he knew is written in symbolic
Also, he could explain the difference and similarity to the previous problem and mention the theories correctly; in contemplating process, he always uses guessing to find numbers and he did not do it in sequence. However, for checking and conclusion is completed properly. Moreover, in reacting process, female student wrote everything she knew and the questions completely, she knew the relation between the questions and knowledge and considered the sufficiency to both of them; in comparing process, she made error in mentioning the theories used in problem solving which the theories were not appropriate to the problem solving. In addition, she always relates to the previous problem and could explain the difference and similarity to the previous problem; in contemplating process, female student used guessing to find the result but it is fewer than the complete one; for checking and conclusion is completed properly.
PENDAHULUAN
Berpikir selalu
dilakukan oleh setiap individu, dengan demikian berpikir bersifat internal, muncul dari dalam individu. Melalui berpikir, manusia dapat belajar meningkatkan kualitas hidupnya di masyarakat. King dalam Fadhilah (2015: 19) mengatakan “Higher order thinking skills include critical, logical, reflective thinking, metacognitive, and creative thinking”.
Sehingga dapat diketahui bahwa berpikir reflektif adalah salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Berpikir reflektif
merupakan proses
kegiatan terarah dan tepat
dimana individu
menganalisis, mengevaluasi,
memotivasi, mendapatkan makna yang mendalam, menggunakan strategi pembelajaran yang tepat, dengan demikian berpikir reflektif bertujuan untuk mencapai target belajar
dan menghasilkan
pendekatan pembelajaran baru yang berdampak
menyelesaikan soal tetapi juga meminta siswa untuk
memikirkan tentang
proses berpikir mereka misal dengan menanyakan
apa yang sudah
dikerjakan, apa yang belum dan apa yang
memerlukan perbaikan sehingga melatih siswa untuk tidak gegabah dalam mengerjakan soal dan selalu penuh dengan
pertimbangan yang
matang, hal ini merupakan pendapat Given (dalam Odiba, 2013: 198).
Berpikir reflektif
(reflective thinking)
merupakan kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa yang dibutuhkan, hal ini sangat penting untuk mengatasi
kesenjangan situasi
belajar sehingga sangat penting bagi siswa dan guru, namun hal ini sangat berbeda dengan fakta di merupakan pendapat dari Sezer (dalam Chee, 2012: 168). Terkadang guru hanya memperhatikan
hasil akhir dari
penyelesaian masalah yang dikerjakan siswa, tanpa memperhatikan
bagaimana siswa
menyelesaian masalah. Jika jawaban siswa berbeda dengan kunci jawaban, biasanya guru langsung menyalahkan jawaban siswa tersebut
tanpa menelusuri
mengapa siswa menjawab demikian.
Berpikir reflektif juga
termasuk tujuan
pembelajaran matematika
di SMP. Dalam
Permendikbud (2013: 1) menjelaskan bahwa
Pembelajaran
matematika di
SMP/MTs diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai
sumber, mampu
merumuskan masalah
bukan hanya
menyelesaikan masalah sederhana
dalam kehidupan berpikir mekanistis serta mampu bekerja
sama dan
berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.
Meskipun tidak
tertulis secara langsung “berpikir reflektif” namun ditekankan pada kalimat “pembelajaran diarahkan untuk melatih peserta didik berpikir logis dan kreatif bukan sekedar berpikir mekanistis” (Permendikbud, 2013: 1), hal ini merupakan inti dari berpikir reflektif yakni bukan hanya sekedar berpikir biasa atau berpikir langsung, tetapi berpiki lebih tinggi lagi.
reflektif siswa, pengajar harus melakukan kegiatan yang bisa membuat siswa menunjukkan kemampuan berpikir reflektifnya.. Kegiatan tersebut adalah memecahkan masalah matematika karena dalam
pembelajaran dan
penyelesaian masalah atau soal, siswa akan mendapatkan pengalaman menggunakan
pengetahuan dan
keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan
dalam memecahkan
masalah sehingga siswa akan lebih analitik dalam pengambilan keputusan.
Pemecahan masalah
merupakan salah satu
tujuan pembelajaran
matematika di SMP,
sehingga perlu
dikembangkan melalui pembelajaran. “Salah satu
masalah dalam
pembelajaran matematika di SMP adalah rendahnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah khususnya soal tidak rutin” (Siswono, 2005). Untuk mengatasi masalah
dalam pembelajaran
matematika tersebut, peserta didik dilatih untuk memecahkan masalah
dengan kemampuan
berpikir tingkat tinggi yakni berpikir reflektif.
Salah satu materi yang dirasa penting dalam membantu
mengembangkan
pemecahan masalah
matematika adalah aljabar. Banyak siswa yang
baik, sehingga memecahkan masalah aljabar pada materi faktorisasi aljabar dirasa cocok untuk melihat berpikir reflektif siswa SMP.
Perbedaan jenis
kelamin diindikasikan memengaruhi perbedaan berpikir reflektif siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Demierel (2015) terdapat perbedaan yang signifikan pada berpikir reflektif siswa dalam memecahkan
masalah matematika
antara laki-laki dan
perempuan. Dalam
penelitian ini ditemukan perempuan lebih baik dalam berpikir reflektif dibandingkan laki-laki. Hal ini sejalan dengan ciri penting berpikir reflektif
yakni mengingat
sedangkan laki-laki lebih baik dalam berpikir logis, secara umum siswa laki-laki sama dengan siswa perempuan, akan tetapi
siswa laki-laki
mempunyai daya abstraksi yang lebih baik daripada
siswa perempuan
sehingga memungkinkan siswa laki-laki lebih baik daripada siswa perempuan dalam bidang matematika
berkenaan dengan
pengertian abstrak. Di sisi lain Tuncer, dkk dalam Demirel (2015) telah
menyatakan bahwa
keterampilan berpikir reflektif siswa terhadap pemecahan masalah tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan (Demirel, 2015: 2088).
Berdasarkan uraian di atas, pertanyaan penlitian ini adalah bagaimana profil berpikir reflektif siswa laki-laki dan
perempuan dalam
memecahkan masalah aljabar. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan berpikir reflektif siswa SMP dalam memecahkan masalah aljabar ditinjau dari perbedaan jenis kelamin.
Berpikir Reflektif
Salah satu harapan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika di sekolah adalah dimilikinya kemampuan
berpikir matematis.
Kemampuan berpikir matematis khususnya berpikir matematis tingkat tinggi sangat diperlukan siswa. Hal ini terkait dengan kebutuhan siswa
untuk memecahkan
masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. King dalam Fadhilah (2015: 19) “Higher order thinking skills include critical, logical, reflective thinking, metacognitive, and creative thinking”.
Sehingga dapat diketahui bahwa berpikir reflektif adalah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi..
Dalam melaksanakan
proses pendidikan
tentunya ada tujuan pendidikan yang akan
dicapai yaitu
berkontribusi dalam
perkembangan individu dan sosial seseorang melalui pengalaman dan pemecahan masalah yang
berlangsung secara
reflektif (reflective thinking) (Demirel, 2015).
Menurut Dewey
(dalam Demirel, 2015: 2088) definisi mengenai berpikir reflektif adalah: “active, persistent, and careful consideration of any belief or supposed from of knowledge in the light of the grounds that support it and the conclusion to which it tends”. Jadi, berpikir reflektif adalah berpikir secara aktif, terus menerus, gigih, dan mempertimbangkan dengan seksama tentang segala sesuatu yang dipercaya kebenarannya atau diharapkan dari mendefinisikan “reflective thinking is signed with perception of someone about something which disturbing or trouble, then
someone doing
experiment so that provide an understanding of the problem to be solved”. Hal ini menunjukkan bahwa, berpikir reflektif ditandai dengan kesulitan yang
dialami seseorang
sehingga ia melakukan terus menerus perubahan
perilaku. Perubahan
perilaku adalah proses
menyelidiki dengan
menjelajahi informasi pada masalah. Investigasi
dilakukan untuk
mengatasi situasi
ketidakpastian,
ketidakstabilan, keunikan, dan konflik sehingga memberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan.
Berpikir reflektif dapat
digambarkan sebagai
proses berpikir yang merespon masalah dengan menggunakan informasi atau data yang berasal dari dalam diri (internal), dapat menjelaskan apa yang telah dilakukan, memperbaiki kesalahan yang ditemukan dalam memecahkan masalah, serta mengomunikasikan ide dengan simbol bukan dengan gambar atau objek langsung, ini merupakan pendapat dari Skemp (dalam Suharna, 2013: 285). Dengan demikian berpikir reflektif dapat menjadikan proses belajar mengajar akan lebih bermakna, sebab dengan berpikir reflektif siswa bukan hanya mampu menyelesaikan masalah tetapi siswa juga mampu mengungkapkan
bagaimana proses yang berjalan di pikirannya dalam menyelesaikan
permasalahan-permasalahan tersebut.
Dari beberapa
pendapat para ahli di atas
mengenai pengertian
menyimpulkan dan
memanggil kembali
informasi atau
pengetahuan yang
dimilikinya dalam ingatan
dengan cara
mengidentifikasi apa yang
sudah diketahui,
menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam situasi yang lain, memodifikasi pemahaman berdasarkan informasi dan pengalaman-pengalaman baru..
Berpikir Reflektif dalam Memecahkan Masalah Aljabar
Aljabar adalah submateri dari ilmu matematika yang dapat
dicirikan sebagai
perluasan dari bidang aritmatika. Peraturan
pemerintah tentang
kurikulum tahun 2006
maupun 2013
menjelaskan bahwa
aljabar merupakan salah satu mata pelajaran matematika baik di tingkat SMP atau MTs. Aljabar merupakan salah satu cabang ilmu matematika yang memelajari struktur, hubungan dan kuantitas yang bermanfaat dalam ilmu ekonomi dan sosial lainnya.
Suatu pertanyaan atau soal aljabar akan menjadi masalah jika pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur biasa yang sudah diketahui oleh si pelaku. Masalah aljabar adalah suatu soal atau
pertanyaan yang
berhubungan dengan
simbol (biasanya berupa
huruf), variabel, dan persamaan yang cara penyelesaiannya tidak langsung mempunyai aturan atau algoritma yang segera dapat digunakan
untuk menentukan
jawabannya.
Untuk menghadapi masalah, maka dibutuhkan
pemecahan masalah.
Penggunaan pendekatan
pemecahan masalah
adalah hal yang penting
dalam pembelajaran
matematika karena dalam
pemecahan masalah
memungkinkan siswa mendapatkan pengalaman menggunakan
pengetahuan serta
keterampilan yang telah
dimiliki untuk
diaplikasikan dalam
pemecahan masalah. Memecahkan masalah aljabar adalah cara memeroleh jawaban dari soal atau pertanyaan yang
berhubungan dengan
simbol (biasanya berupa huruf), variabel dan persamaan yang cara penyelesaiannya tidak langsung mempunyai aturan atau algoritma yang segera dapat digunakan
untuk menentukan
jawabannya dengan
menggunakan konsep, pengetahuan, rumus, dan perhitungan yang dimiliki siswa
Berpikir reflektif
dalam memecahkan
masalah aljabar
merupakan aktivitas
mental yang digunakan seseorang saat menerima, mengolah, menyimpulkan dan memanggil kembali
informasi atau
pengetahuan yang
dimilikinya dalam ingatan
dengan cara
mengidentifikasi apa yang
sudah diketahui,
menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam situasi yang lain, memodifikasi pemahaman berdasarkan informasi dan pengalaman-pengalaman baru untuk memeroleh jawaban dari soal atau
pertanyaan yang
berhubungan dengan
simbol, variabel dan persamaan yang cara penyelesaiannya tidak langsung mempunyai aturan atau logaritma yang segera dapat digunakan
untuk menentukan
jawabannya dengan
menggunakan konsep, pengetahuan, rumus, dan perhitungan yang dimiliki siswa yang dijabarkan melalui indikator berikut:
Reacting, Comparing, dan
Contemplating yang dikaitkan dengan tahap
pemecahan masalah
Polya. Secara rinci indikator berpikir reflektif siswa SMP dalam memecahkan masalah aljabar adalah sebagai berikut.
Tabel 1 Indikator Berpikir Reflektif dalam Memecahkan
Perbedaan Jenis kelamin dalam Berpikir Reflektif
Manusia diciptakan dalam dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Meskipun mereka dalam spesies yang sama, tetapi mereka berevolusi dengan cara yang berbeda. Tidak lebih baik atau lebih buruk, tetapi saling melengkapi. Perbedaan laki-laki dan perempuan secara umum dapat diamati dari perbedaan biologis saja. Jika dilihat dari prestasi belajar dalam pemecahan masalah yang dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin, dapat ditemukan bahwa siswa laki-laki
lebih memiliki
ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar terhadap masalah, dan memiliki
jalan penyelesaian
masalah yang lebih variatif daripada siswa
perempuan (OECD,
2014). Hal ini
berhubungan dengan tiga sumber asli yang wajib pada berpikir reflektif yang pertama yaitu
Curiosity
(Keingintahuan), kalau
dihubungkan dengan
pendapat dari OECD maka siswa laki-laki lebih
menguasai berpikir
sedangkan laki-laki lebih baik dalam berpikir logis, ini pendapat Branata (dalam Ambarwati, 2014: 987). Hal ini sejalan dengan ciri penting
berpikir reflektif yakni mengingat pengalaman masalah sebelumnya yang dihadapi. Dari pendapat Branata ini dapat disimpulkan perempuan lebih baik dalam berpikir reflektif dibandingkan laki-laki khususnya pada tahap Comparing, hal ini diperkuat lagi dengan penelitian oleh Demirel (2015) terdapat perbedaan yang signifikan pada berpikir reflektif siswa
dalam memecahkan
masalah matematika
antara laki-laki dan
perempuan. Dalam
penelitian ini ditemukan perempuan lebih baik dalam berpikir reflektif dibandingkan laki-laki.
Di sisi lain, Tuncer dkk telah menyatakan
bahwa keterampilan
berpikir reflektif siswa
terhadap pemecahan
masalah tidak
menunjukkan perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan (Demirel, 2015:2088).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa
perbedaan jenis kelamin (sex) berhubungan dengan perbedaan secara biologis
yang dikategorikan
menjadi laki-laki dan perempuan. Kemudian terlihat adanya perbedaan
pendapat mengenai
hubungan perbedaan jenis
kelamin dengan
kemampuan berpikir
reflektif. Sebagian pakar
berpendapat bahwa
perbedaan jenis kelamin memengaruhi kemampuan
berpikir reflektif
seseorang, dan sebagian
lagi berpendapat
sebaliknya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk
mengetahui proses
berpikir reflektif siswa ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. Perbedaan jenis kelamin yang dimaksud dalam penulisan ini adalah perbedaan
merupakan penelitian deskriptif kualitatif.
Karena penelitan ini
dilakukan untuk
mendeskripsikan atau memberikan gambaran berpikir reflektif ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. Penelitian ini dilaksanakan di MTsN Babat pada tanggal 18-22 Februari 2017. Subjek penelitian ini terdiri dari satu siswa laki-laki dan perempuan kelas VIII-A
semester genap
2016/2017. Pemilihan subjek didasari oleh kesetaraan kemampuan yang dimilikinya dengan
No
Reacting a. Menganalisis hal yang ditanyakan dalam masalah aljabar.
b. Menganalisis hal diketahui dari masalah aljabar baik berbentuk simbolik maupun gambar c. Menganalisis hubungan
antara yang ditanya dengan yang diketahui. d. Mengecek apa yang
diketahui sudah cukup untuk menjawab yang ditanyakan. 2. Menyusun
rencana penyelesaian
Comparing a. Menganalisis teori yang dipakai untuk memecahkan masalah aljabar
b. Mengingat pernah menghadapi permasalahan aljabar yang mirip sebelumnya
c. Menganalisis hubungan atau kaitan (persamaan dan perbedaan) antara permasalahan yang pernah dihadapi sebelumnya dengan permasalahan tersebut
a. Menyelesaiakan permasalahan menggunakan simbol-simbol aljabar b. Mengoreksi kembali
penyelesaian yang telah dibuat
c. Membuat kesimpulan dari permasalahan (soal) tersebut dengan simbol. d. Membuat kesimpulan
indikator adalah memiliki selisih skor maksimal 5 poin untuk hasil tes kemampuan matematika.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan matematika (TKM), tes pemahaman matematis (TPM) dan pedoman wawancara. TKM terdiri dari empat soal aljabar dari soal UN tahun 2008, 2009, 2012 dan 2016 yang diubah menjadi soal uraian. Sedangkan TPM berisi tiga masalah aljabar dengan soal tingkat tinggi. Berdasarkan instrumen yang digunakan, peneliti
menggunakan teknik
pengumpulan data dengan
metode tes dan
wawancara. TKM
dikerjakan dengan waktu 40 menit, sedangkan TPM dengan waktu 60 menit.
Wawancara yang
digunakan dalam
penelitian ini bersifat semiterstruktur. Dalam penelitian ini juga digunakan triangulasi teknik. Triangulasi ini
dilakukan untuk
mengecek jawaban tes dan wawancara yang telah dilakukan. Sehingga,
selain wawancara
digunakan untuk menggali berpikir reflektif siswa.
Wawancara juga
digunakan sebagai
triangulasi.
Untuk menganalisis data digunakan dua teknik yaitu analisis tes pemahaman dan analisis wawancara. Analisis tes
pemahaman melihat
penyelesaian siswa
berdasarkan indikator
berpikir reflektof.
Sedangkan, teknik analisis data wawancara dilakukan dengan tahap (1) reduksi kelas VIII-A MTsN Babat.
Tes kemampuan
matematika diberikan kepada 29 siswa kelas VIII-A. Dari hasil tes kemampuan matematika diambil satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan dengan selisih skor TKM 3 poin. Berikut hasil penelitian siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam berpikir reflektif.
Hasil Penelitian Siswa Laki-Laki pada Soal Nomor 1
Soal nomor satu yang disajikan dalam tes
pemecahan masalah
adalah tes memfaktorkan bentuk aljabar. Jawaban SL terhadap soal nomor satu sudah benar yaitu banyaknya baris sebelum diubah adalah 20. Namun, strategi yang digunakan oleh subjek kurang sesuai dengan indikator berpikir reflektif yakni cara menjawabnya kurang runtut dan alasan kurang kuat.. Berikut rincian indikator berpikir reflektif sesuai dengan jawaban SL.
1. Reacting
SL memahami
maksud dari masalah no 1 ini, dan mulai bereaksi dengan menyebutkan hal-hal
yang ditanyakan dan
yang diketahui
dengan benar
meskipun untuk jawaban tertulis menuliskan beberapa hal yang diketahui dan tidak dipakai untuk memecahkan masalah tersebut
tetapi dalam
wawancara SL dapat memperbaiki dengan hanya menyebutkan 1 hal yang diketahui dan dipakai dalam memecahkan masalah tersebut. SL juga menjelaskan
bahwa yang
diketahui cukup untuk mencari yang
menyatakan pernah menghadapi masalah yang mirip dengan masalah no 1 ini meskipun teori yang digunakan berbeda
dengan harapan
peneliti yaitu
pemfaktoran aljabar namun teori yang dipilih SL juga bagus
yaitu teori
pemfaktoran bilangan.
Sebenarnya teteap ada aljabar dalam penyelesaian SL namun tidak tertulis
dalam jawaban
karena masalah no 1 ini tetap masalah aljabar. Meskipun demikian SL telah memenuhi tahap
comparing dengan baik karena dalam
memecahkan masalah no 1 ini menggunakan ingatan terhadap
masalah yang
dihadapi sebelum masalah pada soal ini, persamaannya adalah menggunakan pemfaktoran
bilangan perbedaannya masalah sebelumnya mencari rata-rata. 3. Contemplating
SL menyelesaikan masalah no 1 ini
dengan cara
memfaktorkan 600 kemudian memilih
pasangan yang
sesuai dengan yang
diinginkan oleh
masalah no 1 ini, dalam pemilihan bilangan ini SL mencoba-coba yang pas dengan perintah soal, ini merupakan
salah satu
kekurangan SL, dia mengerjakan instan tidak secara runtut
mendapat jawaban yang benar namun ini telah mengurangi tingkat berpikir
reflektif SL,
kemudian untuk mengoreksi jawaban
kembali telah
dilakukan, ini
jawaban ke soal awal. Kemudian untuk kesimpulan
dalam bentuk
symbol juga tidak ada, namun langsung dalam kesimpulan akhir dari masalah perbandingan dari suatu soal cerita menggunakan
persamaan aljabar.
Jawaban SL terhadap soal nomor dua sudah benar indikator berpikir reflektif yakni cara menjawabnya kurang runtut dan alasan kurang kuat. Berikut rincian indikator berpikir reflektif sesuai dengan jawaban SL.
1. Reacting
SL memahami
maksud dari masalah no 2 ini dan bereaksi dengan menyebutkan hal yang diketahui
secara lengkap
namun untuk hal yang ditanyakan hanya disebutkan ketika wawancara, tidak tertulis dalam lembar jawaban SL. SL menjelaskan dalam wawancara bahwa hal yang
diketahui telah
memenuhi untuk
mencari yang
ditanyakan dalam soal tersebut dan berhubungan yaitu
dapat mencari
perbandingan dengan
menggunakan hal yang diketahui. 2. Comparing
SL menggunakan
teori persamaan
dalam memecahka masalah ini. Dalam masalah no 2 ini SL
juga memenuhi
tahap comparing
yaitu pernah
menghadapi masalah yang mirip dengan masalah no 2 ini yaitu persamannya menggunakan materi namun langsung
dalam bentuk
persamaan. Hal ini menunjukkan SL telah memenuhi
tahap comparing
dengan baik. 3. Contemplating
SL menyelesaikan masalah no 2 ini dengan
menggunakan persamaan namun SL tetap melakukan seperti masalah no 2 yakni mencoba-coba bilangan, SL tidak mengerjakan secara runtut, ini juga mengurangi tingkat berpikir reflekif SL khususnya pada tahap contemplating. Dalam mengoreksi
jawaban juga sama, hanya terungkap dalam wawancara tidak tertuliskan
dalam lembar
jawaban SL yakni memasukkan hasil
yang diperoleh
dalam soal awal. Untuk jawabannya lagi-lagi tidak ditulis
dahulu dalam
symbol tapi langsung kesimpulan akhir sesuai soal atau strategi yang digunakan oleh subjek sudah sesuai dengan indikator berpikir reflektif yakni cara menjawabnya telah runtut dan alasan kuat. Berikut rincian indikator berpikir reflektif sesuai dengan jawaban SL.
terhadap masalah dengan menyebutkan hal yang ditanyakan dan yang diketahui
dengan benar
meskipun untuk yang ditanyakan tidak ditulis dalam lembar jawaban SL,
namun disebutkan dalam wawancara dengan benar. SL kemudian
menjelaskan bahwa yang diketahui juga telah cukup untuk
mencari yang
ditanyakan dan
berhubungan antara yang diketahui dan yang ditanyakan 2. Comparing
Dalam masalah no 2 ini SL menggunakan teoori operasi bentuk aljabar. SL juga memenuhi tahap comparing dengan
baik yakni
menyatakan pernah menghadapi masalah yang mirip dengan masalah no 3 ini yakni persamaannya menggunakan materi
operasi bentuk
aljabar dan
perbedaannya soal
yang terdahulu
bukanlah soal cerita. 3. Contemplating
Soal nomor satu yang disajikan dalam tes
pemecahan masalah
adalah tes memfaktorkan bentuk aljabar.. Jawaban SP terhadap soal nomor satu sudah benar yaitu banyaknya baris sebelum diubah adalah 20. Namun, strategi yang digunakan oleh subjek kurang sesuai dengan indikator berpikir reflektif yakni cara menjawabnya kurang runtut dan alasan kurang kuat. Berikut rincian indikator berpikir reflektif sesuai dengan jawaban SP.
1. Reacting
SP memahami
masalah no 1 ini dan bereaksi dengan menyebutkan hal-hal yang ditanyakan dan
yang diketahui
dengan baik dan sama antara jawaban tertulis dan hasil
wawancara dan
semua hal yang
diketahui juga
dipakai dalam
penyelesaian. SP menjelaskan bahwa yang diketahui telah cukup untuk mencari yang ditanyakan dan terdapat hubungan
antara yang
diketahui dan yang ditanyakan.
2. Comparing
SP menyebutkan bahwa teori yang dia
pakai dalam
memecahkan masalah no 2 adalah faktorisasi aljabar namun ini tidak
sesuai dengan
penyelesaian SP. SP tidak memfaktorkan sama sekali. Hal ini
mengurangi tingkat berpikir reflektif SP dikarenakan SP tidak mengetahui teori apa yang ia gunakan untuk memecahkan masalah tersebut 3. Contemplating
Dalam masalah no 1 ini SP menggunakan cara mencoba-coba memasukkan bilangan yang sesuai dengan persamaan yang telah dibuat SP sesuai dengan soal no 1 ini, hal ini sesuai juga dengan hasil wawancara dengan SP. Untuk mengoreksi jawaban, tidak tertulis dalam lembar jawaban SP namun terungkap dalam wawancara bahwa SP telah mengoreksi dengan cara memasukkan nilai hasil dalam soal awal. Kemudian SP juga menuliskan jawaban dengan simbol kemudian
dilanjut dengan
jawaban kesimpulan dengan benar. perbandingan dari suatu soal cerita menggunakan
persamaan aljabar.
Jawaban SP terhadap soal nomor dua sudah benar indikator berpikir reflektif yakni cara menjawabnya runtut dan alasan kuat.. Berikut rincian indikator berpikir reflektif sesuai dengan jawaban SP.
1. Reacting
SP memahami
masalah no 2 ini dan bereaksi dengan menyebutkan hal yang ditanyakan dan
yang diketahui
dengan baik dan
sesuai antara
jawaban tertulis dan jawaban wawancara. SP menjelaskan
bahwa yang
diketahui telah
cukup untuk mencari yang ditanyakan dan terdapat hubungan
antara yang
diketahui dan yang ditanyakan.
2. Comparing
SP menjelaskan bahwa teori yang ia
pakai dalam
memecahkan masalah no 2 adalah persamaan linier dan ini sesuai dengan penyelesaian tertulis SP. SP juga menyatakan pernah menghadapi masalah yang mirip dengan masalah no 2 ini, persamaannya adalah menggunakan persamaan linier, perbedannya yakni masalah yang dahulu bukanlah soal cerita. 3. Contemplating
SP menyelesaikan masalah no 2 ini dengan eliminasi
substitusi pada
persamaan linier secara runtut, ia tidak mencoba-coba bilangan yang sesuai seperti pemecahan masalah pada nomor 1. Ini menunjukkan
SP berpikir
reflektifnya baik, ia mengerjakan dengan penuh pertimbangan tidak mengerjakan secara instan. SP juga mengoreksi jawaban dengan cara memasukkan nilai akhir pada soal awal.
SP menuliskan
jawaban dengan
symbol namun
kesimpulan akhir tidak tertulis namun ketika wawancara SP menjawab
kesimpulan akhir dengan benar. strategi yang digunakan oleh subjek sudah sesuai dengan indikator berpikir reflektif yakni cara menjawabnya telah runtut dan alasan kuat. Berikut rincian indikator berpikir reflektif sesuai dengan jawaban SP.
1. Reacting
SP memahami
menyebutkan hal yang ditanyakan dan
yang diketahui
dengan benar dan
sesuai antara
jawaban tertulis dan jawaban wawancara. SP menjelaskan
bahwa yang
diketahui telah
cukup untuk mencari yang ditanyakan dan terdapat hubungan
antara yang
diketahui dan yang ditanyakan sehingga dapat digunakan untuk mencari yang ditanyakan
2. Comparing
SP menjelaskan bahwa teori yang
dipakai dalam
masalah no 2 ini
adalah operasi
bentuk aljabar dan menyatakan pernah menghadapi masalah
sebelumnya bukan soal cerita
3. Contemplating SP menyelesaikan masalah no 3 dengan baik dan runtut tidak tergesa-gesa. SP juga mengoreksi
jawabannya dengan memasukkan nilai akhir pada soal awal dan ini juga terungkap dalam wawancara tidak tertulis dalam lembar jawaban SP. Namun hanya dituliskan
jawaban akhir
dengan symbol tanpa menyimpulkan
sesuai dengan
masalah pada soal cerita no 3 ini dalam jawaban tertulis,
namun ketika
wawancara SP dapat menyimpulkan
jawaban akhir
dengan baik.
Pembahasan
1. Profil Berpikir
Reflektif Siswa SMP Laki-Laki dalam Memecahkan Masalah Aljabar
Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa siswa laki-laki dalam berpikir reflektif pada tahap
reacting yaitu dapat dilihat 2 dari 3 soal tidak menuliskan hal yang ditanyakan dalam soal dan 1 soal yang penulisan hal yang diketahui
masih berlebih
(banyak yang tidak terpakai) meskipun dalam wawancara
semua lengkap
disebutkan dengan baik, tetapi hal itu menunjukkan kurangnya
pertimbangan yang dalam dan pemikiran yang matang, karena berpikir reflektif
adalah berpikir
dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Untuk kecukupan dan hubungan antara
yang diketahui
dengan yang
ditanyakan dapat
dijawab dengan
benar oleh SL. Hal ini sejalan dengan pendapat dari OECD bahwa laki-laki lebih memiliki rasa ingin tahu yang
lebih besar
dibanding dengan
perempuan, ini
terlihat bahwa siswa
laki-laki (BGP)
tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah sehingga tidak tertulis secara runtut dan lengkap karena terburu-buru ingin menyelesaikan masalah tersebut. Namun hal ini justru menunjukkan siswa laki-laki kurang dalam tahap reacting
pada berpikir
reflektif.
Siswa laki-laki
dalam berpikir
reflektif dalam tahap
comparing terlihat dalam 3 masalah aljabar siswa laki-laki (SL) selalu menghubungkan dengan masalah
yang dihadapi
sebelumnya dan mengetahui teori apa yang digunakan dalam memecahkan
masalah yang
dihadapinya. Hal di atas menunjukkan bahwa pendapat pendapat Branata (1987) yang menghasilkan laki-laki kurang dalam tahap comparing, ini menunjukkan bahwa tahap comparing
tidak hanya
dibutuhkan ingatan
yang tajam tetapi juga pemahaman terhadap materi-materi yang telah dilalui sebelumnya. Dari hal ini menunjukkan bahwa laki-laki baik dalam tahap comparing
pada berpikir
refektif.
Siswa laki-laki
dalam brpikir
reflektif pada tahap
contemplating
ditunjukkan 2 dari 3 soal penyelesaian masalah dengan cara
coba-coba dan
penyelesaian tidak runtut. Memang SL memiliki
penyelesaian yang variatif namun tetap coba-coba
mencocokkan bilangan yang tepat
bukan yang
mendasar dalam matematika.
Keruntutan dan
pertimbangan dalam memecahkan
masalah juga
diperlukan
khususnya dalam berpikir reflektif.
Hal ini sejalan dengan OECD yang mengatakan bahwa
siswa laki-laki
memiliki jalan
penyelesaian
masalah yang lebih variatif daripada siswa perempuan, ini
memang bagus
namun variatif jika
dengan cara
reflektif karena ini menunjukkan dasar materi kurang kuat
sehingga selalu
mengandalkan cara mencocok-cocokkan
bilangan yang
sesuai. Untuk
pengecekan jawaban dan jawaban akhir
siswa laki-laki
terpenuhi dengan lengkap.
2. Profil Berpikir
Reflektif Siswa SMP Perempuan dalam Memecahkan Masalah Aljabar
Hasil penelitian di atas menunjukkan
bahwa siswa
perempuan dalam berpikir reflektif pada tahap reacting
dapat diketahaui baik jawaban tertulis
maupun dalam
wawancara semua lengkap disebutkan
dengan baik
kekurangan hanya ada pada masalah 1 yang ditanyakan tidak ditulis namun dalam wawancara dijawab dengan baik. Untuk kecukupan dan hubungan antara
yang diketahui
dengan yang
ditanyakan dapat
dijawab dengan
benar oleh SFU. Siswa
perempuan dalam berpikir reflektif
dalam tahap
comparing terlihat dalam masalah 1, SFU menyebutkan teori yang digunakan tidak sesuai dengan penyelesaian yang
ada. Namun untuk masalah 2 dan 3 dijawab dengan baik dan benar.
Hal di atas menunjukkan bahwa pendapat peneliti pada bab II dengan mengubungkan pendapat Branata
(1987) yang
menunjukkan tentang perempuan
dalam tahap
comparing, ini menunjukkan bahwa
tahap comparing
tidak hanya
dibutuhkan ingatan yang tajam tetapi juga pemahaman terhadap materi-materi yang telah dilalui sebelumnya.
Siswa
perempuan dalam berpikir reflektif
pada tahap
contemplating
ditunjukkan 1 dari 3 soal penyelesaian masalah dengan cara
coba-coba dan
penyelesaian tidak runtut. Namun pada masalah 2 dan 3 penyelesaian lebih runtut dan tidak menggunakan cara coba-coba lagi.
Hal ini sejalan dengan OECD yang mengatakan bahwa
siswa laki-laki
memiliki jalan
penyelesaian
masalah yang lebih variatif daripada siswa perempuan,
jawaban SFU
memang tidak
variatif namun runtut dan tidak
tergesa-gesa. Untuk
pengecekan jawaban dan jawaban akhir siswa perempuan sudah lengkap.
PENUTUP Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan profil berpikir reflektif siswa SMP dalam memecahkan masalah aljabar ditinjau dari perbedaan jenis kelamin sebagai berikut:
1. Profil berpikir
reflektif siswa SMP
laki-laki dalam
memecahkan masalah aljabar
Siswa laki-laki
dalam tahap
reacting, hal-hal yang ditanyakan
maupun yang
diketahui disebutkan
dengan lengkap
meskipun cenderung tergesa-gesa yakni masih banyak yang dituliskan dalam hal
yang diketahui
namun tidak dipakai dalam penyelesaian. Hal yang diketahui
ditulis berupa
simbolik. Mengetahui
hubungan antara yang ditanya dengan
yang diketahui
namun belum
mempertimbangkan kecukupan antara yang diketahui dan yang ditanyakan; siswa dalam tahap
comparing, selalu menghubungkan dengan masalah
yang dihadapi
sebelumnya serta dapat menjelasakan
persamaan dan
perbedaan dengan masalah sebelumnya, serta semua teori
disebut dengan
benar; siswa dalam tahap contemplating, selalu mencoba-coba
bilangan, tidak
dikerjakan secara
runtut. Untuk
pengecekan dan kesimpulan
terpenuhi dengan lengkap.
2. Profil berpikir
reflektif siswa SMP perempuan dalam memecahkan masalah aljabar
Siswa
perempuan dalam
tahap reacting
menuliskan hal yang diketahui dan yang ditanyakan dengan lengkap dan benar, mengetahui
hubungan antara yang diketahui dan yang ditanyakan
serta mampu
mempertimbangkan kecukupan antara yang diketahui dan yang dintayakan; siswa dalam tahap
comparing, terdapat kesalahan dalam menyebutkan teori yang dipakai dalam memecahkan masalah yakni tidak sesuai antara teori yang disebutkan dengan
penyelesaiannya, selalu
menghubungkan dengan masalah
sebelumnya serta dapat menjelasakan
persamaan dan
perbedaan dengan masalah
sebelumnya; siswa
dalam tahap
contemplating, siswa menggunakan mencoba-coba untuk mencari hasilnya
namun yang
menggunakan cara coba-coba lebih sedikit daripada yang dikerjakan dengan
runtut, untuk
pengecekan dan kesimpulan
terpenuhi dengan lengkap.
Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengemukakan
saran-saran sebagai
berikut
1. Berdasarkan hasil
penelitian yang
mengemukakan bahwa siswa perempuan lebih baik dalam berpikir 2. Berdasarkan hasil
penelitian yang
menjelaskan bahwa siswa laki-laki dan perempuan masih sering menggunakan cara coba-coba, guru
diharapkan lebih
menekankan proses daripada hasil karena siswa lebih cenderung menggunakan cara
coba-coba tidak
menggunakan konsep seharusnya.
3. Untuk peneliti lain, dalam pembuatan instrumen sebaiknya tidak mengadopsi tetapi membuat sendiri atau mengadaptasi sehingga penelitian
lebih dapat
dipertanggungjawabka n.
4. Untuk peneliti lain, dalam mengambil soal dari internet atau web, sebaiknya melihat dahulu pembuatnya atau memilih web Smp Negeri 3 Surakarta Ditinjau Dari Kecerdasan pada Fakultas Matematika Precursor For Incorporating
Reflektif oleh Dewey.
Fadhilah, Millatul. 2015.
Odiba, Isaac A & Baba, Pauline A. 2013. Using Reflective Thinking Skills for Education Quality Improvement in Nigeria. Journal of Education and Practice. ISSN 2222-1735 (Paper) ISSN 2222-288X
(Online). Vol.4, No.16 OECD. 2014. PISA 2012
Result: Creative Problem Solving: Students
Skills in
Tacking Real-Life
Problems. (Online). (http://www.o ecd.org/pisa/k eyfindings/pis a-2012-result- volume-v.htm/, diakses pada 29 Oktober 2016)
Prayitno, Anton, dkk. 2016.
Refractive Thinking with Dual Strategy in Solving Mathematics Problem. IOSR Journal of Research & Method in Education (IOSR-JRME) e-ISSN: 2320– 7388,p-ISSN: 2320–737X Volume 6, Issue 3 Ver. III (May.
-Jun. 2016), PP 49-56 Siswono, Tatag Yuli Eko.
2005. Upaya Meningkatka n
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa melalui Pengajuan Masalah. Jurnal terakreditasi “Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains”, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Tahun X, No. 1, Juni 2005. ISSN 1410-1866, hal 1-9
Suhartati. 2012.