• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1 Aksioma Kelengkapan ℝ - Aksioma Kelengkapan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "2.1 Aksioma Kelengkapan ℝ - Aksioma Kelengkapan"

Copied!
0
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KELENGKAPAN BILANGAN REAL

Sebagaimana telah digambarkan pada bab sebelumnya bahwa sistem bilangan rasional,

memenuhi aksioma lapangan dan aksioma urutan, sehingga system bilangan rasional

merupakan lapangan terurut. Tetapi telah ditunjukkan bahwa 3 bukan bilangan

rasional, disini akan ditunjukkan bahwa ℝ ℚdengan menunjukan bahwa 3 adalah

bilangan real. Sehingga perlu suatu aksioma tambahan untuk menggambarkan

karakteristik sistem bilangan real. Aksioma itu adalah “Aksioma Kelengkapan” (biasa

disebut sifat kelengkapan). Dengan demikian bilangan real dikatakan sebagai lapangan

terurut yang lengkap.

2.1 Aksioma Kelengkapan

Untuk memahami aksioma kelengkapan, terlebih dahulu harus memahami pengertian

batas atas dan batas bawah suatu sub himpunan dariℝ.

Definisi 2.1 Batas Atas dan Batas Bawah

Misalkan S sebuah himpunan bagian tak kosong dariℝ.

(i). Sebuah bilangana∈ℝdikatakanbatas atasS apabila xa untuk semua xS.

(ii). Sebuah bilanganb∈ℝdikatakanbatas bawahS apabila xb untuk semua xS.

Berdasarkan definisi diatas, jika S memiliki batas atas, maka S akan memiliki tak

(2)

Definisi 2.2 Himpunan Terbatas

Misalkan S sebuah himpunan bagian tak kosong dariℝ.

(i). Himpunan S dikatakanterbatas di atasapabila S memiliki batas atas.

(ii). Himpunan S dikatakanterbatas di bawahapabila S memiliki batas bawah.

(iii). Himpunan S dikatakanterbatasapabila S memiliki batas atas dan batas bawah.

Contoh 2.1

a. Himpunan A = { 1, 3, 7, 11, 19}. Bilangan 1 dan sembarang bilangan yang lebih

kecil dari 1 merupakan batas bawah A, kemudian bilangan 19 dan sembarang

bilangan yang lebih besar dari 19 merupakan batas atas A. Artiya, A merupakan

himpunan terbatas.

b. Himpunan B = {x∈ ℝ:x< 5 } adalah himpunan terbatas di atas, bilangan 5 dan

sembarang bilangan yang lebih besar dari 5 merupakan batas atas B.

c. Himpunan C = {x∈ ℝ:x > 3 } adalah himpunan terbatas di bawah, bilangan 3

dan sembarang bilangan yang lebih kecil dari 3 merupakan batas bawah C.

d. Himpunan D = {x∈ ℝ: -1 <x7 } adalah himpunan terbatas artinya terbatas di

bawah dan terbatas di atas, bilangan -1 dan sembarang bilangan yang lebih kecil

dari -1 merupakan batas bawah D. Sedangkan bilangan 7 dan sembarang bilangan

yang lebih besar dari 7 merupakan batas atas D.

e. Himpunan E = {x∈ ℝ:x < 4 ataux> 9 } bukan merupakan himpunan terbatas

karena tidak memiliki batas atas maupun batas bawah. Sembarang bilangan b

ℝ bukan batas atas, karena selalu terdapatx∈ E sehinggab < x. Demikian juga,

untuk sembarang bilangana∈ ℝ bukan batas bawah, karena selalu terbapaty

(3)

f. Himpunan F = {1/n:n ∈ℕ } merupakan himpunan terbatas. Himpunan F dapat

dinyatakan dalam bentuk lain, yaitu

F =

   

, 4 1 , 3 1 , 2 1 , 1

Karena elemen F menurun, dapat disimpulkan bahwa bilangan 1 dan sembarang

bilangan yang lebih besar dari 1 merupakan batas atas F, kemudian karena 1/n

0,n∈ℕ,bilangan 0 dan sembarang bilangan yang lebih kecil dari 0 merupakan

batas bawah F.

Perlu dicatat, bahwa himpunan B pada contoh 2.1 bukan merupakan himpunan terbatas

karena tidak memiliki batas bawah, demikian juga himpunan C bukan himpunan terbatas

(kenapa?).

Sekarang masuk pada definisi utama, yaitu definisi supremum dan infimum dari sebuah

himpunan bagian dari bilangan real.

Definisi 2.3 Supremum dan Infimum

Misalkan S sebuah himpunan bagian tak kosong dariℝ.

(i). Sebuah bilanganu∈ℝdikatakansupremum (batas atas terkecil)S apabila

a) ubatas atas S,

b) jikawbatas atas S, makawu.

(ii). Sebuah bilanganv∈ℝdikatakaninfimum (batas bawah terbesar)S apabila

a) vbatas atas S,

b) jikawbatas bawah S, makawv.

Untuk selanjutnya,

sup S dan inf S,

(4)

Lema 2.4 Ketunggalan Supremum dan Infimum

Misalkan S sebuah himpunan bagian tak kosong dariℝ.

(i). Jika S mempunyai supremum, maka sup S tunggal.

(ii). Jika S mempunyai infimum, maka inf S tunggal.

Bukti. (i) Misalkan udan vadalah supremum dari S. Karena udan vadalah batas atas dari S dan u = sup S, diperoleh uv. Sebaliknya, karena v = sup S diperoleh vu.

Akibatnya,v=u.Bukti (ii) ditinggalkan untuk pembaca. ฀

Kembali pada definisi batas atas dan batas bawah, a ∈ ℝ batas atas S apabila xa,

xS dan b ∈ ℝ batas bawah S apabila bx, xS. Sehingga definisi 2.3 dapat

dinyatakan sebagai berikut

(i) Bilanganu= sup S apabila a) xu,xS,

b) jikawbatas atas S, makawu.

(ii). Bilanganv= inf S apabila a) vx,xS,

b) jikawbatas bawah S, makawv.

Apakah setiap himpunan bagian dari R mempunyai supremum dan infimum? Jawabnya

belum tentu (kenapa?). Sebuah himpunan bagian R mempunyai supremum apabila

mempunyai batas atas dan akan mempunyai infimum apabila mempunyai batas bawah.

Sedangkan terdapat empat kemungkinan sebuah himpunan bagian dari R dihubungkan

dengan batas atas dan batas bawah, yaitu:

(i) mempunyai batas atas dan batas bawah;

(ii) mempunyai batas bawah tetapi tidak mempunyai batas atas;

(5)

(iv) tidak mempunyai batas bawah dan tidak mempunyai batas atas

Oleh kerena itu terdapat empat kemungkinan pula, apabila dihubungkan dengan

supremum dan infimum (uraikan apa saja kemungkinan itu?).

Lema berikut akan bermanfaat untuk menguji, apakah sebuah batas atas himpunan

merupakan supremum.

Lema 2.5 Supremum

Misalkan S sebuah himpunan terbatas di atas di ℝ. Bilangan u = sup S jika dan hanya

jika untuk sembarang> 0 terdapats∈S sehinggau-<s.

Bukti. Untuk membuktikan Lema Supremum diatas harus ditunjukkan dua arah, untuk

 

 Misalkan u= sup S dan > 0. Karena u u berarti u bukan batas atas S.

Akibatnya terdapat suatus∈S sehingga u -<s.

Untuk sebaliknya

 

 Misalkanubatas atas S demikian sehingga untuk sembarang> 0

terdapats∈S sehinggau-<s.. Jika vu, maka  uv > 0, karena itu adas∈S

sehingga u-<s.. Padahalu-=v, berartivbukan batas atas S. Karenavmerupakan

sebarang bilangan yang kurang dari u, sehingga dapat disimpulkan bahwauadalah batas

atas terkecil, dengan kata lainu= sup S. ฀

Contoh 2.2

Perhatikan kembali himpunan himpunan pada contoh 2.1.

a. Perhatikan himpunan A = {1, 3, 7, 11, 19}. Bilangan 1 merupakan inf A, karena 1

∈A dan merupakan batas bawah A. Bilangan 19 merupakan sup A, karena 19∈ A dan merupakan batas atas A.

b. Himpunan B = {x ∈ ℝ : x < 5 } tidak mempunyai batas bawah, sehingga tidak

memiliki infimum (kenapa?). Pada himpunan B, bilangan 5 merupakan batas atas.

(6)

wsembarang batas bawah B maka w5. Sekarang andaikan terdapatwbatas atas

B sedemikian sehingga w < 5. Karena w < 5, terdapat z = (w + 5)/2 ∈ B

sedemikian sehingga w<z< 5. Akibatnya w bukan batas atas. Karenawdiambil sembarang, jadi jikawbatas atas maka w5.

c. Himpunan C = {x ∈ ℝ : x > 3 } tidak memiliki supremum (kenapa?) dan 3

adalah infimumnya (kenapa?).

d. Himpunan D = {x ∈ ℝ : -1 < x  7 } memiliki supremum 7 dan infimum -1

(tunjukkan!).

e. Himpunan E = {x ∈ ℝ : x < 4 atau x > 9 } tidak memiliki supremum maupun

infimum (tunjukkan!).

f. Sebagaimana telah dikemukakan pada contoh 2.1 bahwa himpunan F = {1/n :n

∈ℕ } merupakan himpunan terbatas. Jadi ada batas atas dan batas bawahnya. Himpunan F dapat dinyatakan dalam bentuk lain, yaitu

F =

   

 , 4 1 , 3 1 , 2 1 , 1

Karena elemen F menurun dan 1 elemen terbesar, maka 1 merupakan supremum

F (kenapa?). Sekarang akan ditunjukkan bahwa 0 adalah infimum F. Karena

untuk setiap n ∈ℕ berlaku 1/n 0, maka 0 merupakan batas bawah. Sehingga

untuk menunjukkan 0 = inf F tinggal ditunjukkan bahwa 0 adalah batas bawah

terbesar. Andaikan terdapat w batas bawah F sedemikian sehingga w > 0. Pilih bilangan asli k (apakah pasti ada?) sedemikian sehingga kw > 1, sehingga 1/k<w.

Karena w > 0 dan k ∈ ℕ, maka 0 < 1/k < w. Padahal 1/k adalah elemen F,

(7)

Berikut ini menyatakan aksioma penting padaℝyaitu aksioma kelengkapan atau disebut

juga sifat kelengkapan ℝ . Dengan aksioma kelengkapan, ℝ menjadi suatu lapangan

terurut lengkap.

Aksioma 2.6 Kelengkapan

Setiap himpunan bilangan real tak kosong dan memiliki batas atas memiliki supremum

diℝ.

Aksioma kelengkapan ini disebut juga Sifat Kelengkapan atau Sifat Supremum.

Aksioma kelengkapan diatas dapat pula dinyatakan dalam kalimat yang sedikit berbeda,

yaitu, setiap himpunan tak kosong yang terbatas diatas mempunyai supremum.

2.2 Sifat Aksioma Kelengkapan

Disini terdapat sifat kelengkapan serupa untuk infimum, namun sifat infimum dapat

diturunkan dari sifat supremum, sebagaimana ditunjukkan pada teorema berikut:

Teorema 2.7 Sifat Infimum

Setiap himpunan bilangan real tak kosong dan memiliki batas bawah memiliki infimum

diℝ.

Bukti. Misalkan S himpunan bilangan real tak kosong dan memiliki batas bawah.

Definisikan

S-= {-s:s∈S }.

Karena himpunan S terbatas dibawah, diperoleh himpunan S- terbatas diatas dan

berdasarkan aksioma kelengkapan terdapat u ∈ ℝ sedemikian sehingga u = sup S-.

(8)

batas bawah. Sekarang misalkan r batas bawah S maka –r merupakan batas atas S-, kemudian karena-rudiperolehr-u=v.Jadivmerupakan infimum S. ฀

Dari aksioma kelengkapan ini dapat diturunkan beberapa lema yang berkaitan dengan

supremum dan infimum dari himpunan bilangan real .

Lema 2.8

Misalkan S himpunan bilangan real tak kosong yang terbatas diatas.

(i) Jikaasebuah bilangan real, maka supremum himpunan

a +S = {a + s:s∈S } adalaha +sup S.

(ii) Jikaa> 0, maka supremum himpunan

aS = {a s:s∈S } adalaha(sup S).

Bukti. (i). Misalkan u = sup S. Karena u batas atas S, sehingga diperoleh s u untuk

setiaps∈S dana + sa + uuntuk setiaps∈S. Artinyaa + umerupakan batas atasa

+ S. Kemudian, untuk menunjukkan bahwa a + u supremum a + S, misalkan w

merupakan batas atasa +S, artinyaa + swuntuk setiaps∈S. Lebih lanjut, diperoleh

sw – a untuk setiaps∈S yang berartiwamerupakan batas atas S. Karenau =sup

S diperoleh uw – a,sehingga a + uw. Karena w sembarang batas atasa +S dapat disimpulkan bahwa sup (a +S) = a + u = a +sup S.(ii).Misalkanu =sup S. Karena u

batas atas S dan a > 0, sehingga diperoleh s u untuk setiap s ∈ S dan asau untuk

setiaps∈S. Artinya aumerupakan batas atasaS. Sekarang tinggal menunjukkan bahwa

a uadalah supremumaS. Untuk itu, misalkanwmerupakan batas atasaS, artinyaa s

w untuk setiaps ∈ S. Karenaa> 0, diperoleh sw/a untuk setiap s∈ S yang berarti

(9)

Karenaw sembarang batas atasa S dapat disimpulkan bahwa sup (aS) =a u = a ( sup

S). ฀

Teorema dibawah dikenal dengan sifat Archimedean yang menyatakan bahwa untuk

sembarang bilangan real x terdapat bilangan asli n sehingga x < n. Disini disajikan pembuktian dengan memanfaatkan aksioma kelengkapan.

Teorema 2.9 Sifat Archimedean

Jikax∈ℝ, maka tedapatnx∈ℕsedemikian sehinggax < nx.

Bukti. Misalkanx∈ℝ. Andaikan tidak adan∈ℕ sedemikian sehinggax < n, dengan

kata lain nx untuk setiap n ∈ ℕ. Akibatnya, x merupakan batas atas ℕ. Karena

terbatas diatas, berdasarkan aksioma kelengkapan ℕ memiliki supremum. Tuliskan u =

sup ℕ, berartiu - 1 bukan supremum dan akibatnya terdapat k∈ ℕ sehingga u- 1 < k.

Karena u < k + 1 dan k + 1 ∈ ℕ, sehingga u bukan batas atasℕ. Hal ini bertentangan

dengan ℕterbatas diatas. Jadi haruslah adanx∈ℕsedemikian sehinggax < nx. ฀

Sifat Archimeden secara tidak langsung telah menunjukkan bahwa himpunan semua

bilangan asli tidak terbatas diatas. Lebih lanjut, sifat Archimedean mengakibatkan untuk

sembarang bilangan real positif selalu terdapat bilangan

n

1

yang lebih kecil untuk suatu

bilangan aslin.

Lema 2.10 Akibat Sifat Archimedean

Jikaxbilangan real positif, maka terdapatn∈ℕsehingga x n

 1

0 .

Bukti. Misalkan x > 0, sehingga diperoleh

x

1

> 0. Berdasarkan sifat Archimedean

terdapatn∈ℕsedemikian sehingga n x

1

0 . Akibatnya x

n

 1

(10)

Dengan lema akibat sifat Archimedean diatas pertanyaan yang berkaitan dengan

eksistensi pada contoh 2.2 (f) telah terjawab. Pada kasus lain akan diperlukan akibat sifat

Archimedean yang lainnya, sebagaimana dinyatakan pada lema dibawah.

Lema 2.11 Akibat Sifat Archimedean

Jika ydanzdua bilangan real positif, maka

(i) terdapatn∈ℕsehinggaz < ny;

(ii) terdapatn∈ℕsehingga n1zn.

Bukti.Ditinggalkan untuk pembaca. ฀

Contoh 2.3 Diberikan himpunan

A = {

n n1

:n∈ ℕ}.

Tunjukkan bahwa sup A = 2 dan inf A = 1.

Sebelum menunjukkan supremum dan infimum, himpunan A dapat dinyatakan dalam

bentuk lain yaitu {1 + 1/n: n∈ ℕ }atau dengan mendaftar elemennya yaitu

{2, 2 1 1 ,

3 1 1 ,

4 1

1 , . . . }.

Sekarang akan ditunjukkan bahwa sup A = 2. Untuk sembarangn∈ ℕ berlaku

n +1 n + nn+ 12nn n1

(11)

Akibatnya 2 merupakan batas atas A. Kemudian karena 2 ∈ A dan

n n1

2, sehingga

tidak mungkin terdapat batas atas yang kurang dari 2. Jadi haruslah 2 merupakan

supremum A. Kemudian untuk menunjukkan inf A = 1, perhatikan bahwa untuk

sembarangn∈ ℕ berlaku

n +1 nn n1

1.

Akibatnya 1 merupakan batas bawah A. Selanjutnya, andaikan terdapatwbatas bawah A

yang lebih besar dari 1. Karena w > 1, maka w – 1 > 0 dan 1 1

w > 0. Labih lanjut,

berdasarkan sifat Archimedean terdapat k∈ ℕ sedemikian sehingga

1 1

w <k ⇔ 1 <k(w– 1)

⇔ 1 <kw – k

k+ 1 <kw

k k1

<w.

Karena k ∈ ℕ, diperoleh

k k1

∈ ℕ. Akibatnya, wbukan bukan batas bawah A. Jadi

haruslah 1 = inf A.

Untuk menunjukkan supremum dan infimum A dapat juga ditunjukkan menggunakan

lema 2.8 (ii) Perhatikan himpunan F pada contoh 2.2 (f), pandang A sebagai 1 + F.

Berdasarkan lema 2.8 (ii) sup A = 1 + sup F dan inf A = 1 + inf A. Karena sup F = 1 dan

(12)

Latihan 2.1

1. Misalkan S = {x∈ ℝ:x> 9 }. Tunjukkan

a. Himpunan S mempunyai batas bawah;

b. Himpunan S tidak mempunyai batas atas;

c. Inf S = 9.

2. Misalkan S = {

n

n ) 1 (

:n∈ ℕ }. Tentukan inf S dan sup S.

3. Tentukan supremum dan infimum dari himpunan {

m n

1 1

:n, m∈ ℕ }.

4. Buktikan bahwa infimum sebuah himpunan jika mesti tunggal (lema 2.4 (ii)).

5. Buktikan lema 2.11 (akibat sifat Archimedean).

6. Misalkan S himpunan terbatas diℝ.Buktikan bahwa inf Ssup S.

7. Misalkan A dan B himpunan terbatas diℝ.

a. Buktikan bahwa AB terbatas;

b. Inf (AB) = inf {inf A, inf B}.

8. Misalkan S himpunan terbatas diℝ.Jika TS, tunjukkan bahwa

a. inf Sinf T;

b. sup Tsup S.

9. Misalkan S himpunan terbatas diℝ,a< 0 danaS = {as:s∈S }.

a. inf (aS) =asup S;

(13)

2.3 Kerapatan Bilangan Rasional Dalam

Padaℝ terdapat bilangan rasional dan bilangan irrasional,sebagaimana telah ditunjukkan

bahwa 3 merupakan bilangan irrasional. Lema 1.7 telah ditunjukkan bahwa diantara

dua bilangan rasional terdapat bilangan rasional lainnya. Pada bagian ini akan

ditunjukkan bahwa 3 merupakan bilangan real, selain itu juga akan di uraikan tentang

sifat bilangan rasional yaitu diantara dua bilangan real yang berdeda selalu terdapat

bilangan rasional diantara keduanya. Selanjutnya sifat ini dikatakan sebagai sifat

“kepadatan” himpunan bilangan rasional.

Aksioma kelengkapan menjamin eksistensi bilangan real. Dengan aksioma kelengkapan

dapat ditunjukkan bahwa 3 merupakan bilangan real. Bukti ini dapat digunakan untuk

menunjukkan eksistensi bilangan irrasional yang lainnya sebagai bilangan real.

Teorema 2.12 Eksistensi Bilangan Irrasional

Terdapat bilangan real positifxsedemikian sehinggax2= 3.

Bukti. Untuk menunjukkan aksistensi x ∈ ℝ sedemikian sehingga x2 = 3, perhatikan

himpunan S = { s ∈ ℝ :s  0, s2 < 3 }. S tidak kosong, karena 1 ∈ S dan S terbatas

diatas karena 22 = 4 sehingga s < 2,  s ∈ S. Berdasarkan Aksioma Kelengkapan S

memiliki supremum. Sekarang misalkan sup S = x∈ ℝdanx> 0, karena 1∈ S. Akan

ditunjukkan bahwa x2 = 3 melalui pengandaian x2 < 3 atau x2 > 3 (Sifat Trichotomy). Pertama, andaikan x2 < 3. Sekarang akan ditunjukkan bahwa pengandaian x2 < 3 salah, karena akan terjadi kontradiksi dengan fakta bahwa sup S = x. Dengan menggunakan

fakta bahwa 12

(14)

= 2

Berdasarkan Lema Akibat Sifat Archimedean, terdapatk∈ℕsedemikian sehingga

k

Artinya terdapat k∈ℕ sedemikian sehingga  

x 1 ∈S. Hal ini kontradiksi denganx

sebagai supremum S. Jadi pengandaian x2< 3 tidak benar. Selanjutnya, andaikanx2> 3. Seperti pada pengandaian pertama akan ditunjukkan bahwa pengandaian x2 > 3 tidak

benar. Untuk sembarangn∈ℕ,berlaku

2

Berdasarkan Lema Akibat Sifat Archimedean, terdapatm∈ℕsedemikian sehingga

m

(15)

2

Artinya terdapat m ∈ ℕ sedemikian sehingga  

x 1 merupakan batas atas, hal ini

kontradiksi dengan dengan xsebagai batas atas terkecil S. Jadi pengandaianx2 > 3 tidak benar. Karenax2< 3 danx2> 3 tidak memungkinkan, haruslahx2= 3. ฀

Bukti teorema 1.2 dapat diadopsi untuk membuktikan bilangan irrasional yang lain

sebagai bilangan real. Selanjutnya akan ditunjukkan bahwa himpunan bilangan rasional

dan irrasional padat diℝ.

Teorema 2.13 Kepadatan Himpunan Bilangan Rasional

Misalkan xdanybilangan real. Jikax< y,maka terdapat bilangan rasionalrsedemikian sehinggax < r < y.

Bukti. Untuk memudahkan pembuktian, masalah dibagi dalam beberapa kasus.

Kasus (i): x > 0.

Karena x < y, sehingga y – x > 0. Kemudian berdasarkan lema 2.10 akibat sifat

Archimedean terdapatn∈ℕsehingga

x

Selanjutnya karena x > 0, diperoleh nx > 0 dan berdasarkan lema 2.11 (ii) akibat sifat

Archimedean terdapatm∈ℕsehingga

m-1 <nx<mm<nx+ 1 dannx < m

(16)

nx<m<nx+ 1 <ny…………..dari (*)

Jadi ada bilangan rasionalr=

n m

sedemikian sehinggax<r<y.

Kasus (ii):x= 0, sehingga 0 <y.

Berdasarkan lema 2.10 akibat sifat Archimedean terdapat n ∈ ℕ sehingga y n

 1

0 .

Akibatnya ada bilangan rasional r =

n

Pilih x1= 0, kemudian tunjukkan seperti kasus (i).

Kasus (iv): y < 0.

Pembuktian serupa dengan kasus (i). Karena nx < 0 sehingga –nx > 0 akibatnya diperoleh

bilangan rasional r =

n m

 . ฀

Dari teorema tentang kepadatan bilangan rasional dapat ditunjukkan bahwa himpunan

bilangan irrasional juga padat.

Teorema 2.14 Kepadatan Himpunan Bilangan Irrasional

Misalkanxdanybilangan real. Jikax<y, maka terdapat bilangan irrasionalrsedemikian sehinggax < r < y.

. Gunakan teorema 2.13, untuk mendapatkan bilangan rasionalrsehingga

3

x

<r< 3

y

(17)

Latihan 2.2

1. Tunjukkan bahwa 2 bukan bilangan rasional, kemudian tunjukkan bahwa 2

adalah bilangan real.

2. Untuka> 0, tunjukkan bahwa a bukan bilangan rasional, kemudian tunjukkan

bahwa a adalah bilangan real.

3. Tunjukkan bahwa terdapat bilangan real positifxsehinggax3= 3.

4. Carilah bilangan rasional yang terletak antara 3 1

dan 2 1 .

5. Carilah bilangan rasionalrsedemikian sehingga 2 <r< 3 .

6. Misalkana,b∈ ℝdengan 0 <a<b. Carilah bilangan rasionalrsedemikian

sehingga a <r< b.

7. Carilah bilangan irrasional yang terletak antara 4 1

dan 3 1 .

8. Carilah bilangan irrasionaltsedemikian sehingga 2 <t< 3 .

9. Misalkana,bbilangan rasional dengan a<b. Carilah bilangan irrasionalt

Referensi

Dokumen terkait

Adalah hasil kali 2 himpunan atau relasi yang menghubungkan 2 himpunan yang himpunan bagianya tidak kosong.. Sifat-sifat relasi

Himpunan tak kosong I merupakan subset dari d-aljabar X dikatakan d- ideal atas himpunan X apabila memenuhi aksioma yang telah ditentukan. Berikut penjelasan mengenai

subset dari setiap himpunan”. Subset pada himpunan tak kosong bisa lebih dari satu. Oleh karenanya, anggapan ini juga berlaku untuk himpunan tak kosong pada aljabar

Grup fuzzy didefinisikan sebagai (G, R) dengan G adalah himpunan tak kosong dan R adalah operasi biner fuzzy pada G yang memenuhi beberapa aksioma-aksioma tertentu [6].. Suatu

Himpunan Terbatas, Supremum Infimum dan Sifat Archimedes Sebelum membahas mengenai barisan ada beberapa materi yang harus dipahami dan nantinya akan mempermudah dalam

Ruang metrik-2 didefmisikan oleh Gahler (1964) adalah sebagai berikut. Misalkan X_ suatu himpunan tak kosong. Ruang m&amp;ink-2 {X,d) dikatakan terbatas jika terdapat bilangan real

2 himpunan bagian dari V,2 (misalnya dengan suatu sifat khusus) memenuhi semua aksioma 1uang Vektor, sehingga merupakan 1uang Vektor  sifat khusus) memenuhi semua aksioma

Dengan arti bahwa dia mungkin tidak tertarik dengan perbincangan rapat tersebut atau dia tidak setuju dengan hal yang di bahas Aksioma 2: "Setiap komunikasi mempunyai aspek isi dan