• Tidak ada hasil yang ditemukan

TM LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TM LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM M"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

NAMA NIM

KELOMPOK KELAS ASISTEN

`

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017

Tanggal Praktikum Jum’at, 17 Maret 2017

(2)

PRELAB

1. Apa pentingnya metode aseptis dalam dunia mikrobiologi? Jelaskan pula prinsip dasar metode aseptis!

Metode aseptis merupakan usaha untuk menghindarkan setiap kontak antara kultur murni, medium steril, wadah steril serta permukaan meja kerja dari mikroorganisme kontaminan atau kompetitor (mikroorganisme yang tidak diinginkan). Teknik aseptik harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi oleh mikroorganisme “kompetitor” pada kultur mikroba (murni) yang digunakan dalam suatu eksperimen serta pada media dan peralatan yang sudah steril. Karena ancaman kontaminasi dari mikroorganisme “kompetitor” selalu ada atau mungkin terjadi dikarenakan mikroorganisme hidup dimanapun dan berukuran sangat kecil sehingga mudah tersebar melalui udara dan mudah ditemukan pada berbagai permukaan media pertumbuhan mikroorganisme atau permukaan peralatan praktikum. Oleh karena itu metode aseptis sangat penting untuk mendukung keberhasilan eksperimen pada Laboratorium Mikrobiologi (Curtiz, 2009).

Prinsip-prinsip dasar metode aseptis yang harus dilakukan yaitu: (Curtiz, 2009). a. Media pertumbuhan dalam wadah harus disterilisasi segera setelah dibuat.

b. Wadah yang akan digunakan untuk kultivasi mikroorganisme sebaiknya dibungkus dan kemudian disterilkan.

c. Semua instrumen dan berbagai larutan serta aquades, medium steril dan kultur mikroorganisme harus disterilkan terlebih dahulu.

d. Area kerja atau meja kerja harus disterilisasi terlebih dahulu sebelum pemakaian dan selalu dijaga kesterilannya sepanjang pemakaian.

e. Mulut tabung reaksi harus selalu dipanaskan terlebih dahulu sebelum dan sesudah transfer ataupun kultivasi mikroorganisme.

f. Membiasakan diri untuk memisahkan segala macam peralatan dan medium antara yang steril dan terkontaminasi agar pekerjaan berjalan lancar.

(3)

bunsen pada meja kerja yang sudah disterilkan dalam laminar-air flow cabinet.

2. Apa tujuan pemanasan dengan api/bunsen pada teknik aseptis ? Jelaskan!

Tujuan dari pemanasan dengan api/bunsen pada teknik aseptis adalah untuk membunuh atau mematikan mikroba pada alat dan meminimalisir terjadi resiko kantaminasi. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan. Macam macam pemanasan, ialah:

a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.

b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.

c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.

d. Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf (Winaya, 2015).

3. Jelaskan tujuan dari sterilisasi!

(4)

4. Sebutkan metode sterilisasi untuk bahan yang tidak tahan terhadap panas? Jelaskan!

a. Metode sterilisasi kimia

Sterilisasi secara kimia yaitu dengan penambahan zat-zat tertentu yang umumnya berupa zat-zat kimia. Sterilisasi dengan cara ini tidak selalu mematikan seluruh mikroba, terutama mikroba dalam bentuk spora tidak terbasmi keseluruhan, oleh karena itu cara ini lebih tepat dinamakan pencuci-hamaan. Sterilisasi dengan cara ini biasanya hanya diperuntukkan sterilisasi ruangan atau jenis peralatan tertentu saja (Syamsunir, 2007).

b. Metode filtrasi

Filtrasi atau penyaringan adalah proses memisahkan partikel yang tidak larut dari suatu cairan atau gas dengan cara melewatkan cairan atau gas tersebut melalui suatu medium yang porous sehingga medium ini akan membiarkan cairan atau gas tersebut lewat. Pada umumnya cara ini dikerjakan untuk bahan-bahan yang tidak tahan panas, misalnya serum darah, antibiotika, dan gula sederhana. Oleh karena itu cara ini sering dikenal dengan nama sterilisasi cara dingin (Syamsunir, 2007). c. Metode sterilisasi dengan sinar radiasi

ionizing radiation menggunakan sinar ultraviolet (UV) 200-280 nm. Non-ionizing radiation dapat diserap oleh beberapa material yang tidak tahan terhadap panas. Sedangkan ionizing radiation menggunakan radiasi gamma yang terdiri dari gelombang elektromagnetik yang diproduksi dari disintegrasi nuklir (69Co) dan

radiasi korpskular yang terdiri dari elektron yang diproduksi dalam generator dan mempercepat untuk menaikkan level energi (Syamsunir, 2007).

5. Bagaimanakah cara sterilisasi alat ”spreader” yang benar?

(5)

6. Jelaskan bagaimana cara metode aseptis dan sterilisasi dengan menggunakan bahan kimia. Sebutkan contoh bahan kimia yang dapat digunakan!

Untuk melakukan sterilisasi dengan menggunakan bahan kimia dapat dilakukan dengan dua cara.

Cara pertama yaitu penggunaan langsung bahan kimia. Sebelum dilakukan sterilisasi, alat yang akan disterilisasi dibersihkan terlebih dahulu, setelah itu direndam dengan menggunakan bahan kimia kurang sebih selama 24jam. Bahan kimia yang dapat digunakan yaitu alkohol 96%, fenol 5%, aceton ataupun tab formalin.

Sedangkan cara kedua yaitu melalui sterilisasi gas. Bahan kimia yang dapat digunakan adalah bahan kimia berbentuk uap, misalnya etilen oksida, formaldehid, propilen oksida, klorin oksida, metilbromida, kloropikrin dan sebagainya. Mekanisme dari sterilisasi ini yaitu gas etilen oksida (atau yang lainnya) akan mengadisi gugus – SH, -OH, -COOH, -NH2 dari protein dan membentuk ikatan alkilasi sehingga protein mengalami kerusakan dan mikroba mati (Oram, 2011).

7. Bagaimanakah cara sterilisasi alat ”cawan petri” yang benar? Jelaskan!

(6)

DIAGRAM ALIR

a. Aseptis diri dan lingkungan

Disemprotkan ke meja kerja Disemprotkan ke permukaan tangan

Dibersihkan/dilap Digosokkan merata di kedua telapak dengan tissue dan punggung tangan

Alkohol 70%

(7)

b. Persiapan glassware yang akan disterilisasi

Dicuci bersih dan dikeringkan

Ditutup dengan kapas

Dibungkus dengan kertas payung

Pipet ukur dibungkus dengan plastik PE

Glassware lain dibungkus dengan

plastik PE Cawan petri dibungkus

dengan dibalik posisinya Glassware

(8)

c. Cara Penggunaan Autoklaf

Dimasukkan ke plastic dan keranjang autoklaf

Autoklaf dibuka

Autoklaf diisi aquades hingga tanda batas

Autoklaf ditutup dan ulir dikencangkan

Klep dibuka

(9)

PEMBAHASAN

Ditekan tombol “ON”

Ditunggu hingga mendidih dan mengeluarkan bunyi

Klep udara ditutup dan ditunggu tekanan 1 atm dalam 15 menit

Autoklaf dimatikan dengan menekan tombol “OFF”

Ditunggu tekanan turun hingga 0 atm

Klep dibuka

Ulir dikencangkan dan tutup dibuka

Keranjang autoklaf dikeluarkan

1. Jika anda mendapatkan stok kultur murni dari laboratorium mikrobiologi, hal apa saja yang harus diperhatikan agar stok kultur tidak terkontaminasi ? Jelaskan

Hal yang harus dilakukan agar stok kultur tidak terkontaminas adalah dengan cara kita harus aseptis diri dan aseptis lingkungan terlebih dahulu dengan menggunakan alkohol 70%. Aseptis diri dengan menyemprotkan alkohol ke telapak tangan dan punggung tangan secara merata, sedangkan aseptis lingkungan dengan menyemprotkan

(10)

alkohol 70% ke meja yang akan digunakan praktikum. Peralatan dicuci dengan cara desintifiktan supaya higenis, menutup alat yang digunakan pertumbuhan bakteri sesuai dengan langkah-langkah prosedur, kultur mikroorganisme dapt disimpan di lemari pendingin, dan menjaga kesehatan dan kebersihan diri (Pramono, 2008).

2. Mengapa media yang akan digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu? Bagaimana cara sterilisasi media? Jelaskan

Agar medium pertumbuhan hanya bisa ditumbuhi oleh bakteri yang diinginkan dan bebas dari kontaminasi bakteri yang lain. Cara untuk sterilisasi media yaitu :

1. Sterilisasi Cara Kering (Tidak menggunakan air atau uap air) a. Pembakaran

b. Radiasi gelombang pendek (Ultraviolet, sinar alfa, dan sinar beta) c. Pemanasan dalam oven dengan suhu sekitar 100oC

d. Pendinginan pada suhu dibawah 0oC sehingga bakteri menjadi inaktif

2. Sterilisasi Cara Basah (Menggunakan air atau uap air) a. Perebusan dengan air mendidih dengan suhu 100oC

b. Penggunaan zat kimia seperti desinfektan, alkohol dan antibiotic

c. Pemanasan dengan menggunakan tekanan uap air pada autoklaf dengan suhu 121oC menggunakan tekanan 1 Atm selama 15 menit

3. Pasteurisasi

Pemanasan dengan suhu 60oC selama 30 menit atau pemanasan 70oC selama 15

(11)

3. Mengapa sterilisasi dengan suhu tinggi tidak cocok digunakan untuk sterilasi larutan vitamin dan metode sterilisasi apakah yang cocok? Jelaskan alasan anda

Karena zat pengatur tubuh seperti vitamin dan antibiotic mudah terpengaruh oleh panas. Oleh karena itu diperlukan metode sterilisasi yang tidak menggunakan panas. Metode sterilisasi yang digunakan adalah menggunakan sterilisasi filtrasi (Filter). Sterilisasi filter atau filtrasi membrane adalah melewatkan larutan (menggunakan air steril di dalam laminar air flow cabinet) melalui membrane yang telah disterilisasi. Ukuran pori membrane adalah 0,45µm atau 0,22 µm di bawah tekanan rendah ke dalam wadah steril. Metode filtrasi tidak membutuhkan suhu untuk mensterilasi suatu bahan. Karena itulah metode ini cocok untuk sterilisasi vitamin (Fairchild, 2010).

`

4. Bagaimana teknik sterilisasi jarum ose yang benar ?

Untuk sterilisasi jarum ose, hal yang pertama dilakukan ialah menyiapkan jarum ose, alcohol 70%, serta bunsen. Pertama, jarum ose dibakar diatas api bunsen hingga merah menyala. Setelah merah menyala, ditunggu selama beberapa saat, kemudian dicelupkan ke dalam larutan alcohol 70%. Setelah itu dibakar lagi hingga merah membara. Kemudian perlakuan tersebut diulang sebanyak 3 kali. Setelah 3 kali dilakukan pengulangan maka jarum ose telah steril dan siap untuk digunakan (Price, 2007).

5. Bagaimana teknik penggunaan pipet mikro yang benar ? Apakah pipet mikro tersebut perlu di sterlilisasi terlebih dahulu? Jelaskan jawaban anda.

 Sebelum digunakan Thumb Knob ditekan berkali-kali untuk memastikan lancarnya mikropipet.

 Masukkan tip bersih kedalam nozzle atau ujung mikropipet

 Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama atau first stop jangan ditekan lebih dalam lagi

 Masukkan tip ke dalam cairan sedalam 3-4mm

 Tahan pipet ke dalam posisi vertical kemudian lepaskan tekanan dari thumb knob

(12)

 Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan

 Tekan thumb knob sampai hambatan kedua atau second stop atau tekan semaksimal mungkin maka semua cairannya akan keluar dari ujung tip

 Apabila ingin melepas tip, tekan salah satu tombol yang berfungsi untuk melepaskan tip dari mikropipet

Mikro pipet yang akan digunakan tentu perlu disterilisasi terlebih dahulu sebelum digunakan agar terhindar dari kontaminan yang tidak diinginkan. Sterilisasi mikro pipet ialah dengan cara mensterilisasi mikrotip dari mikro pipet tersebut. Tip yang telah digunakan dicuci hingga bersih dengan aquades. Kemudian mikrotip yang akan disterilisasi diletakkan di dalam gelas beaker yang telah dialasi dengan kapas yang steril. Setelah itu beberapa mikrotip yang akan disterilisasi dimasukkan kedalam gelas beaker tersebut lalu ditutup dengan menggunakan kapas. Bagian atas gelas beaker ditutup dengan menggunakan kertas payung dan diikat dengan menggunakan karet gelang. Kemudian gelas beaker tersebut dimasukkan ke dalam autoklaf untuk disterilisasi. Setelah itu mikropipet telah steril dan siap untuk digunakan (Perkin, 2010).

6. Apabila tidak tersedia pipet mikro, alat apa yang akan saudara siapkan untuk mengambil sampel kultur cair, secara aseptis ?

Jika tidak ada mikropipet didalam laboratorium, maka solusi untuk menggantikannya adalah pipet ukur, karena pipet ukur memiliki ukuran volume sekitar 0.1 ml sehingga cocok. Akan tetapi sebelum mengambil kultur mikroorganisme harus disterilkan terlebih dahulu menggunakan autoclave dengan suhu 121 supaya bakteri yang ada di dalam pipet ukur mati. Setelah di sterilkan harus melakukan aseptis menggunakan alkohol 70% dahulu, hal ini bertujuan untuk kultur jaringan tidak terkontaminasi dengan bakteri lain (Rubiyanto, 2016).

7. Apa perbedaan antara Destruksi dan Sterilisasi. Jelaskan

(13)
(14)

ANALISA PROSEDUR

1. Penggunaan Autoclave

Masukkan semua alat yang telah disterilisasi dengan kertas payung ke dalam plastik PE untuk dibungkus. Pada saat dibungkus, pastikan tidak ada udara di dalam plastik PE, kemudian ikat plastik dengan karet dan masukkan di dalam keranjang autoclave.

Cara menggunakan autoclave yang pertama harus dilakukan adalah mengisi autoclave dengan aquades hingga elemen panas terendam di dalam air, tetapi cek dahulu banyaknya air yang ada di autoclave. Jika aquades kurang, dapat ditambah dengan air hingga batas yang ditentukan, dan gunakan air hasil destilasi yang bertujuan untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat. Masukkan keranjang yang sudah berisi alat-alat yang akan disterilisasi di dalam autoclave, jika akan mensterilisasi botol bertutup ulir maka tutup harus dikendorkan. Kemudian tutup autoclave hingga kencang dan kencangkan baut secara bersebrangan yang ada dibagian autoclave sudah terpasang dengan baik, hal ini bertujuan agar tidak ada yang keluar dari sela-sela autoclave. Tetapi klep tidak ditutup dulu agar udara uap air yang ada di autoclave keluar. Pasang sumber pemanasnya dan hidupkan autoclave, yang di timer menggunakan waktu selama 15 menit dengan suhu 121 . Jika uap air sudah keluar sampai terdengar bunyi desis dari katup pengaman, lalu katup ditutup, sehingga suhu dan tekanan akan naik. Tunggu hingga air mendidih sampai suhu mencapai 121 dan tekanan 15 Psi, suhu akan stabil sampai 15 menit dengan mengatur sumber panas. Matikan timer pada autoclave, maka suhu dan tekanan akan turun secara perlahan sampai 0. Setelah tekanan autoclave menjadi 0, maka katup pengaman akan dibuka. Kemudian sekrup dibuka secara bersebrangan, keluarkan keranjang yang berisi alat yang telah disterilisasi.

2. Aseptis diri dan lingkungan

(15)

mengelap tidak boleh dipakai lagi, hal ini dilakukan untuk menghindari bakteri yang sudah menempel ditisu.

3. Aseptis Cawan Petri

Untuk melakukan aseptis pada cawan petri, hal pertama yang dilakukan adalah menyalakan api bunsen. Cawan petri diaseptis dengan mendekatkan pinggir-pinggir cawan pada api bunsen. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari keluar masuknya mikroba pada tepi cawan. Saat melakukan pemanasan, cawan petri dipegang menggunakan tangan kiri dengan ibu jari dan jari telunjuk yang digunakan untuk memutar-mutar cawan. Pada bagian-bagian pinggir cawan harus dipastikan terkena api bunsen sambil terus memutar-mutar cawan menggunakan jari telunjuk. Saat akan memasukkan mikroba yang digunakan dalam percobaan posisi tangan tidak berubah, ibu jari digunakan untuk membuka tutup cawan secara perlahan sedangkan jari telunjuk menahan sisi cawan yang lain. Saat membuka tutup cawan dipastikan tidak terlalu lebar untuk menghindari kontaminasi dari mikroba lain dan segera menutupnya saat mikroba sudah dimasukkan. Hal tersebut harus dilakukan dengan tetap mendekatkan cawan pada api bunsen. Saat melakukan aseptis diharapkan hanya menggunakan tangan satu orang saja untuk menghindari kontaminasi.

4. Aseptis Tabung Reaksi

Untuk melakukan aseptis pada tabung reaksi, hal pertama yang dilakukan adalah menyalakan api bunsen. Tabung reaksi diaseptis dengan mendekatkan mulut tabung ke api bunsen. Tabung reaksi diputar-putar menggunakan tangan kiri sampai merata pada seluruh bagian mulut tabung untuk memastikan tabung terhindar dari kontaminasi mikroba lain. Saat pemanasan, tabung dipegang hanya dengan tangan kiri dikarenakan agar tangan kanan dapat digunakan untuk mengambil atau memindahkan mikroba dari dalam tabung reaksi.

5. Aseptis Jarum Ose

(16)

yang dilakukan untuk aseptis pada jarum ose yaitu dengan memasukkan jarum ose ke dalam larutan alkohol 70% terlebih dahulu, setelah itu ditiriskan sebentar untuk memastikan alkohol tidak ada yang menetes serta menghindari adanya percikan api jika langsung dipanaskan. Kemudian ose dipanaskan secara langsung di atas api bunsen sampai jarum ose membara dan berwarna kemerahan. Setelah dipanaskan dan didiamkan beberapa saat, jarum dimasukkan lagi ke dalam larutan alkohol 70%. Proses ini diulang lagi dengan total pencelupan dan pemanasan sebanyak 3 kali dan jarum ose pun siap digunakan. Posisi terakhir sebelum digunakan untuk memindahkan kultur yaitu saat pemanasan, setelah memindahkan kultur ose dipanaskan lagi, lalu diletakkan pada larutan alkohol 70%.

6. Aseptis Spreader

Metode aseptis pada spreader sama dengan jarum ose, hal pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan spreader yang akan diaseptis, api bunsen yang sudah dinyalakan, serta alkohol 70% yang diletakkan di dalam gelas beaker. Kemudian spreader dicelupkan pada larutan alkohol 70% pada bagian ujungnya. Setelah itu diangkat dan ditiriskan dahulu sampai tidak ada alkohol yang menetes. Spreader dipanaskan menggunakan api bunsen beberapa saat namun jangan sampai membara. Hal tersebut dikarenakan spreader terbuat dari bahan kaca. Setelah dipanaskan ditunggu bebeapa saat, kemudian dapat dicelupkan lagi ke dalam larutan alkohol 70%. Dipastikan spreader tidak langsung dicelupkan pada alkohol untuk menghindari percikan api. Proses ini diulang lagi dengan total pencelupan dan pemanasan sebanyak 3 kali dan spreader pun siap digunakan. Posisi terakhir sebelum digunakan untuk meratakan kultur yaitu saat pemanasan, setelah meratakan kultur, spreader dipanaskan lagi, kemudian diletakkan pada larutan alkohol 70%.

7. Mikropipet

(17)

dibuak sedikit dan ujung pipet ditancapkan secara pas dengan mikrotip. Setelah itu, ujung mikrotip dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi sampel kultur cair dengan cara menekan tombol utama mikro pipet, lalu tombol dilepas dan cairan kultur pun otomatis akan terambil sesuai skala yang ada pada mikropipet. Setelah itu, kultur diletakkan pada cawan petri yang sudah steril dengan menekan lagi tombol utama secara perlahan. Setelah dipindahkan, mikrotip dapat dilepas dari mikropipet dengan cara menekan tombol di samping tombol utama yang lebih pendek. Mikrotip biasanya hanya digunakan sekali pakai dan tidak boleh diletakkan kembali pada gelas beaker steril karena akan mengkontaminasi yang lain. Sebelum menggunakan, mikro pipet harus disterilisasi dahulu untuk mencegah kontaminasi mikroba yaitu dengan menyemprot alkohol 70% ke permukaan mikropipet, kemudian dilap dengan tisu secara searah dan mikropipet siap digunakan.

8. Pembungkasan Glassware untuk Sterilisasi

Sebelum dilakukan sterilisasi glassware pada autoklaf, glassware harus dilakukan pembungkusan terlebih dahulu. Alat dan bahan yang digunakan diantaranya glassware yang akan disterilisasi, kapas steril, kertas payung, karet dan plastik PE. Beberapa glassware yang akan disterilisasi harus disumbat kapas, serta dibungkus kertas payung dan plastik PE terlebih dahulu.

(18)

Pada erlenmeyer, pembungkusannya hampir sama dengan pembungkusan tabung rekasi. Erlenmeyer disumbat dahulu menggunakan kapas steril pada bagian mulutnya. Ujung yang disumbat tersebut kemudian dibungkus menggunakan kertas payung. Posisi kertas payung yang memiliki permukaan licin berada di luar agar dapat menahan uap air saat proses sterilisasi berlangsung. Setelah dibungkus dengan rapi, ujungnya dapat diikat dengan karet pentil agar pembungkus tidak terlepas. Setelah itu, erlenmeyer dapat dimasukkan ke dalam plastik PE dengan udara di dalam plastik dikeluarkan dahulu kemudian plastik PE diikat menggunakan karet pentil.

Untuk membungkus pipet ukur, pertama lubang pipet ukur disumbat dahulu dengan kapas steril. Setelah itu, pipet ukur dimasukkan ke dalam plastik PE berukuran panjang. Udara di dalam plastik dikaluarkan terlebih dahulu dengan memutar ppet ukur di dalam plastik secara searah sehingga plastik tersebut menempel pada permukaan pipet. Kemudian, ujung plastik diikat menggunakan karet hingga erat untuk memastikan agar plastik yang membungkus pipet tidak terlepas.

Pada pembungkusan cawan petri dilakukan dengan cara membungkusnya dengan menggunakan kertas payung dengan posisi cawan terbalik. Hal tersebut dilakuakn untuk mencegah pengembunan yang nantinya akan mengganggu penglihatan saat percobaan. Posisi kertas payung yang licin tetap diletakkan di bagian luar agar uap air tidak meresap saat proses sterilisasi berlangsung. Cawan petri diletakkan tepat di tengah kertas payung dalam posisi terbalik. Kemudian kedua pinggir dari kertas payung dilipat ke tengah sehingga saling bertemu. Pada pinggiran yang masih terbuka dilipat lagi ke kanan dan kiri lalu dilipat lagi ke bagian bawah sehingga pembungkusan tertutup pada semua bagian cawan dengan rapi. Setelah itu, cawan petri yang telah dibungkus diikat dengan menggunakan karet dengan ikatan silang agar karet tidak mudah dilepas. Setelah dibungkus dan diikat kemudian cawan petri dimasukkan ke dalam plastik PE (udara dalam plastik dikeluarkan dahulu) dan diikat dengan karet.

9. Pembungkusan Mikrotip untuk Sterilisasi

(19)
(20)

KESIMPULAN

Sterilisasi merupakan proses destruksi atau penghilangan mikroba yang hidup. Obyek yang terbebas dar kehidupan mikroba disebut steril. Syarat bekerja dengan kultur murni adalah media nutrient serta tempat untuk pertumbuhan harus steril dan peralatannya juga harus steril. Apabila sterilisasi tidak dilakukan, maka mikroba kontaminan akan tumbuh dan hasil yang diperoleh dari percobaan menggunakan kultur murni akan menyimpang. Metode aseptis terdiri dari dua jenis, yaitu aseptis diri dan lingkungan. Aseptis diri dilakukan dengan menggunakan alkohol 70% sedangkan aseptis lingkungan menggunakan alkohol 70% serta pemanasan api bunsen pada alat-alat yang digunakan dalam percobaan.

(21)

Komponen Penilaian LKP:

Jenis Penilaian Nilai Maksimal

Nilai yang diperoleh

Diagram Alir 10

Data Hasil Pengamatan 10

Pembahasanlaporan 70

Kesimpulan 10

(22)

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi

No Kompetensi Bisa Tidak

1. Mampu melakukan tahapan persiapan alat dan media sebelum sterilisasi :

 Membuat sumbatan tabung reaksi dan erlenmeyer

 Membungkus cawan petri, tabung reaksi dan erlenmeyer

 Memasukkan glass ware ke dalam plastik untuk disterilisasi

2. Mampu menggunakan autoklaf dengan baik dan benar :

 Membuka dan menutup klep pengaman

 Memeriksa ketersediaan air distilat

 Menyalakan / mematikan autoklaf

 Menentukan waktu sterilisasi / destruksi 3. Mampu melakukan setiap tahapan metode aseptis

diri dan lingkungan sebelum dan sesudah melakukan kerja di laboratorium mikrobiologi :

 Melakukan aseptis diri

 Melakukan aseptis lingkungan kerja

 Melakukan aseptis alat kerja

(23)
(24)

Referensi

Dokumen terkait

Pertama mengambil larutan NH 3 0,1 M sebanyak 35 ml dan larutan NH 4 Cl 0,1 M sebanyak 35 ml menggunakan gelas ukur, setelah itu mencampurnya di dalam gelas beker 250 ml dengan

cerevisiae divortex terlebih dahulu lalu diambil larutannya sebanyak 1 ml, caranya yaitu nyalakan bunsen dengan menggunakan korek, pegang tabung reaksi berisi kultur yang

Gelas obyek yang akan digunakan di aseptis dahulu dengan alkohol 70% agar tidak terdapat mikroorganisme yang tidak diinginkan saat perlakuan, kemudian bakteri

Gelas beaker II dimasukkan larutan NaOH sebanyak 10 mL, lalu dihomogenkan dengan cara diaduk menggunakan pengaduk, selanjutnya ukur pH larutan tersebut dengan pH meter dan kertas