• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No.02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016 1 No. 02/1/32/Th XVIII, 4 Januari 2016

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI

,

H

ARGA

P

RODUSEN

G

ABAH

D

AN

H

ARGA

B

ERAS

D

I

P

ENGGILINGAN

NILAI TUKAR PETANI DESEMBER 2015 SEBESAR 107,24 (2012=100)

 Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat pada Desember 2015 (2012 =100) tercatat sebesar 107,24 atau naik 0,04 persen dibandingkan NTP November 2015 sebesar 107,20. Hal ini disebabkan oleh Indeks Harga Diterima Petani (IT) naik 0,89 persen lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga Dibayar Petani (IB) yang naik sebesar 0,85 persen.

 Desember 2015, empat dari lima subsektor pertanian mengalami kenaikan NTP yaitu NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,85 persen dari 96,82 menjadi 97,64, NTP Subsektor Peternakan naik 0,75 persen dari 110,99 menjadi 111,83, NTP Subsektor Perikanan naik 0,71 persen dari 98,27 menjadi 98,96 dan NTP Subsektor Hortikultura naik 0,15 persen dari 105,91 menjadi 106,07, sementara NTP Subsektor Tanaman Pangan turun 0,62 persen dari 110,45 menjadi 109,76.

 Di Daerah Pedesaan Jawa Barat pada Desember 2015 terjadi inflasi sebesar 1,16 persen. Tujuh kelompok pengeluaran serentak mengalami inflasi, tertinggi pada Kelompok Bahan Makanan 2,27 persen, diikuti Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga naik 0,57 persen, Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,55 persen, Kelompok Perumahan 0,29 persen, Kelompok Kesehatan 0,28 persen, Kelompok Transportasi & Komunikasi 0,16 persen serta Kelompok Sandang 0,14 persen.

 Desember 2015, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Petani Jawa Barat sebesar Rp. 5.222,64,- per kilogram atau naik sebesar 0,19 persen dibandingkan harga GKP November 2015 yang tercatat Rp. 5.212,77,-, demikian juga Gabah Kering Giling (GKG) di Tingkat Petani mengalami kenaikan harga 2,68 persen dari Rp. 5.684,38,- menjadi Rp. 5.836,67,- per kilogram serta Gabah Kualitas Rendah naik 6,10 persen dari Rp. 3.957,63,- menjadi 4.199,12,- per kilogram.

 Desember 2015, rata-rata harga beras di penggilingan sebesar Rp. 9.779,75 atau turun 1,16 persen dibandingkan November 2015 yang tercatat sebesar Rp. 9.894,17. Berdasarkan kualitas beras, harga Beras Premium turun 1,46 persen dari Rp, 10.017,92 menjadi Rp, 9.871,62, Beras Medium turun 1,11 persen dari Rp. 9.850,00 menjadi Rp, 9.740,28 demikian juga Beras kualitas Rendah turun 0,79 persen dari Rp, 9.525,00 menjadi Rp, 9.450,00.

(2)

2 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016

A.

PERKEMBANGAN

NILAI

TUKAR

PETANI

1.

Nilai Tukar Petani

Sebagai proxy indikator kesejahteraan petani, Nilai Tukar Petani (NTP) diperoleh dengan cara membandingkan dua indeks yaitu Indeks Harga Diterima Petani dengan Indeks Harga Dibayar Petani. Angka NTP menunjukkan kemampuan tukar (term of trade) komoditas hasil pertanian dengan barang & jasa konsumsi petani baik untuk keperluan rumah tangga maupun proses produksi. Semakin tinggi angka NTP berarti semakin kuat kemampuan daya beli petani di pedesaan.

Berdasarkan hasil pemantauan harga di 17 kabupaten di Provinsi Jawa Barat pada Desember 2015, NTP Jawa Barat mengalami kenaikan sebesar 0,04 persen dibandingkan NTP November 2015 yaitu naik dari 107,20 menjadi 107,24. Hal ini disebabkan oleh indeks harga hasil produksi pertanian dan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani mengalami kenaikan atau dengan kata lain Indeks Harga Diterima Petani (IT) naik sebesar 0,89 persen lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga Dibayar Petani (IB) yang naik sebesar 0,85 persen.

Desember 2015,

empat dari lima subsektor pertanian mengalami kenaikan NTP yaitu

NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,85 persen dari 96,82 menjadi 97,64, NTP

Subsektor Peternakan naik 0,75 persen dari 110,99 menjadi 111,83, NTP Subsektor Perikanan

naik 0,71 persen dari 98,27 menjadi 98,96 serta NTP Subsektor Hortikultura naik 0,15 persen

dari 105,91 menjadi 106,07, sementara NTP Subsektor Tanaman Pangan turun 0,62 persen dari

110,45 menjadi

109,76.

90 110 130 150

Des'14 Feb'15 April'15 Juni'15 Agust'15 Okt'15 Des'15

IT IB NTP

Gambar 1

Perkembangan Indeks Harga Diterima, Indeks Harga Dibayar dan Nilai Tukar Petani di Jawa Barat (2012=100)

(3)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No.02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016 3

2. Indeks Harga Diterima Petani (IT)

Perkembangan yang terjadi pada Indeks Harga Diterima Petani (IT) menunjukkan fluktuasi harga dari komoditas-komoditas yang dihasilkan petani. Desember 2015, IT Gabungan dari lima subsektor pertanian naik sebesar 0,89 persen dibandingkan dengan IT November 2015 yaitu naik dari 131,25 menjadi 132,42. Bila dirinci menurut subsektor, IT Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat mengalami kenaikan tertinggi yaitu sebesar 1,78 dari 117,41 menjadi 119,51, diikuti IT Subsektor Perikanan naik 1,62 persen dari 118,72 menjadi 120,64, IT Subsektor Peternakan naik 1,35 persen dari 129,71 menjadi 131,47, IT Subsektor Hortikultura naik 1,03 persen dari 131,63 menjadi 132,99, demikian juga IT Subsektor Tanaman Pangan naik sebesar 0,29 persen dari 137,77 menjadi 138,17.

3. Indeks Harga Dibayar Petani (IB)

Fluktuasi harga barang & jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani serta barang & jasa yang diperlukan petani dalam proses produksi terlihat mengalami kenaikan pada Desember 2015, indeks harga yang dibayar petani (IB) naik sebesar 0,85 persen dari 122,43 menjadi 123,47. Lima subsektor mengalami kenaikan IB, tertinggi terjadi pada IB Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,93 persen, diikuti IB Subsektor Tanaman Pangan naik 0,92 persen, IB Subsektor Perikanan naik 0,90 persen, IB Subsektor Hortikultura naik 0,88 persen demikian juga IB subsektor Peternakan naik 0,60 persen.

Di Daerah Pedesaan Jawa Barat pada Desember 2015 terjadi inflasi sebesar 1,16 persen

Tujuh

kelompok pengeluaran serentak mengalami inflasi, tertinggi pada Kelompok Bahan Makanan

2,27 persen, diikuti Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga naik 0,57 persen, Kelompok

Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,55 persen, Kelompok Perumahan 0,29 persen,

Kelompok Kesehatan 0,28 persen, Kelompok Transportasi & Komunikasi 0,16 persen serta

Kelompok Sandang

0,14 persen.

Indeks yang dibayar petani untuk barang dan jasa keperluan proses produksi pada Desember 2015 mengalami inflasi sebesar 0,18 persen. Berdasarkan kelompok pengeluaran, lima dari enam kelompok mengalami inflasi yaitu Kelompok Bibit mengalami inflasi sebesar 0,24 persen diikuti Kelompok Upah Buruh 0,23 persen, Kelompok Penambahan Barang Modal 0,17 persen, Kelompok Pupuk, Obat-obatan & Pakan 0,14 persen, Kelompok Biaya Sewa & Pengeluaran Lain 0,05 persen, sementara Kelompok Transportasi deflasi sebesar 0,01 persen.

4. Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Subsektor Pertanian a. NTP Tanaman Pangan

NTP Subsektor Tanaman Pangan pada Desember 2015 mengalami penurunan sebesar 0,62 persen yaitu naik dari 110,45 menjadi 109,76 hal ini disebabkan oleh indeks yang diterima petani (IT) naik sebesar 0,29 persen jauh lebih rendah dari kenaikan indeks yang dibayar petani (IB) yang naik sebesar 0,92 persen. Naiknya IT Subsektor Tanaman Pangan dikarenakan oleh IT Subkelompok Padi naik 0,06 persen demikian juga IT Subkelompok Palawija naik sebesar 1,76 persen. Di sisi pengeluaran petani, IB mengalami inflasi sebesar 0,92 persen akibat IB Sub Kelompok Konsumsi Rumah tangga (IKRT) inflasi sebesar 1,17 persen serta IB Subkelompok Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal (BPPBM) juga mengalami inflasi sebesar 0,14 persen.

(4)

4 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016

b. NTP Hortikultura

Desember 2015, Nilai Tukar Petani Subsektor Hortikultura mengalami kenaikan sebesar 0,15 persen dari 105,91 menjadi 106,07, hal ini disebabkan karena indeks yang diterima petani (IT) naik sebesar 1,03 persen lebihi tinggi dari kenaikan indeks yang dibayar petani IB yang naik sebesar 0,88 persen. Kenaikan IT dipengaruhi oleh kenaikan IT Subkelompok Sayur-sayuran 2,19 persen dan Tanaman Obat naik 1,27 persen, sementara IT Subkelompok Buah-buahan turun 0,08 persen. Di sisi pengeluaran, IB Subsektor Hortikultura mengalami kenaikan sebesar 0,88 persen akibat IB indeks Konsumsi Rumah Tangga mengalami inflasi sebesar 1,12 persen demikian juga IB Subkelompok Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal terjadi inflasi 0,11 persen.

c. NTP Tanaman Perkebunan Rakyat

NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat pada Desember 2015 mengalami kenaikan indeks sebesar 0,85 persen dibandingkan November 2015 dari 96,82 menjadi 97,64. Hal ini disebabkan oleh Indeks Diterima Petani (IT) mengalami kenaikan sebesar 1,78 persen jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Dibayar Petani (IB) yang naik sebesar 0,93 persen. Untuk kelompok pengeluaran, IB Subkelompok Konsumsi Rumah Tangga mengalami inflasi sebesar 1,15 persen demikian juga IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal mengalami inflasi 0,49 persen.

d. NTP Peternakan

Desember 2015, NTP Subsektor Peternakan berada pada posisi 111,83 dan tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,75 persen dibandingkan NTP November 2015 yang memiliki indeks sebesar 110,99. Indeks Diterima Petani (IT) naik sebesar 1,35 persen lebih tinggi dari kenaikan Indeks yang Dibayar Petani (IB) yang naik 0,60 persen. Bila dirinci per subkelompok, IT Subkelompok Ternak Kecil naik 2,07persen, IT Subkelompok Unggas naik 1,69 persen, IT Subkelompok Ternak Besar naik 1,25 persen, dan IT Subkelompok Hasil Ternak naik 0,34 persen. Di sisi pengeluaran petani, Indeks Dibayar Petani (IB) mengalami kenaikan 0,60 persen akibat IB Konsumsi Rumah Tangga mengalami inflasi sebesar 1,21 persen demikian juga IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal inflasi 0,09 persen.

e. NTP Perikanan

Nilai Tukar Petani Subsektor Perikanan mengalami kenaikan dibandingkan November 2015 dari 98,27 menjadi 98,96 pada Desember 2015 atau naik 0,71 persen. Hal ini terjadi akibat Indeks Diterima Petani (IT) naik sebesar 1,62 persen lebih tinggi dari kenaikan Indeks Dibayar Petani (IB) yang naik 0,90 persen. Dari sisi pendapatan petani, IT Subkelompok Penangkapan Ikan naik sebesar 0,27 persen demikian juga IT Subkelompok Budidaya naik 1,74 persen. Dari sisi pengeluaran, Indeks yang dibayar (IB) naik sebesar 0,90 persen akibat IB Konsumsi Rumah tangga mengalami inflasi sebesar 1,15 persen demikian juga IB Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal mengalami inflasi 0,31 persen.

(5)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No.02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016 5

Tabel 1

Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jawa Barat per Subsektor Pertanian

serta Perubahannya (2012=100), Desember 2015

Subsektor Indeks Perubahan Des 2015 Thd Nov 2015 (%) Nov 2015 Des 2015 [1] [2] [3] [4] 1. Tanaman Pangan

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 137,77 138,17 0,29 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 124,74 125,88 0,92 c. Nilai Tukar Petani (NTP-TP) 110,45 109,76 -0,62

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 116,31 116,48 0,15

2. Hortikultura

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 131,63 132,99 1,03 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 124,28 125,38 0,88

c. Nilai Tukar Petani (NTP-H) 105,91 106,07 0,15

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 112,93 113,97 0,92

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 117,41 119,51 1,78 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 121,27 122,40 0,93

c. Nilai Tukar Petani (NTP-R) 96,82 97,64 0,85

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 104,77 106,11 1,29

4. Peternakan

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 129,71 131,47 1,35 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 116,86 117,56 0,60

c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pt) 110,99 111,83 0,75

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 118,51 120,01 1,27

5. Perikanan

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 118,72 120,64 1,62 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 120,81 121,90 0,90

c. Nilai Tukar Petani (NTP-Pi) 98,27 98,96 0,71

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 107,37 108,76 1,30

6. Gabungan

a. Indeks yang Diterima Petani (IT) 131,25 132,42 0,89 b. Indeks yang Dibayar Petani (IB) 122,43 123,47 0,85

c. Nilai Tukar Petani (NTP) 107,20 107,24 0,04

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian 114,09 114,90 0,71

(6)

6 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016

Tabel 2

Indeks Harga Diterima Petani, Indeks Harga Dibayar Petani

per Subkelompok Pengeluaran serta Perubahannya [2012=100], Desember 2015

Kelompok/Sub Kelompok

Indeks Gabungan Subsektor Nov 2015 Des 2015 Perubahan Des 2015 Thd Nov 2015 [1] [3] [3] [4]

1. INDEKS HARGA YANG DITERIMA

PETANI 131,25 132,42 0,89

2. INDEKS HARGA YANG DIBAYAR

PETANI 122,43 123,47 0,85

2.1. KONSUMSI RUMAH TANGGA 126,87 128,34 1,16

2.1.1.. Bahan Makanan 133,19 136,22 2,27

2.1.2.. Makanan Jadi 125,54 126,23 0,55

2.1.3. .Perumahan 119,93 120,28 0,29

2.1.4. .Sandang 121,21 121,37 0,14

2.1.5. .Kesehatan 114,54 114,86 0,28

2.1.6. .Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 117,46 118,13 0,57 2.1.7. .Transportasi dan Komunikasi 126,55 126,75 0,16 2.2 BIAYA PRODUKSI DAN PENAMBAHAN

BARANG MODAL 115,04 115,24 0,18

2.2.1. .Bibit 115,99 116,28 0,24

2.2.2. .Pupuk dan Obat-obatan 111,70 111,86 0,14

2.2.3. .Biaya Sewa dan Pngeluaran Lain 111,42 111,48 0,05

2.2.4. .Transportasi 136,02 136,01 -0,01

2.2.5. .Penambahan Barang Modal 112,91 113,10 0,17

2.2.6. .Upah Buruh 116,32 116,59 0,23

3. NILAI TUKAR PETANI 107,20 107,24 0,04

(7)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No.02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016 7

5.

Perbandingan NTP Enam Provinsi di Pulau Jawa

Tiga dari enam provinsi di Pulau Jawa mengalami kenaikan NTP pada Desember 2015 yaitu NTP DKI Jakarta naik 0,82 persen, NTP DI Yogyakarta naik 0,32 persen serta NTP Jawa Barat naik 0,04 persen, sementara tiga provinsi lainnya mengalami penurunan yaitu NTP Jawa Timur turun 0,41 persen, Provinsi Banten turun 0,07 persen demikian juga NTP Jawa Tengah turun 0,04 persen. Secara Nasional, NTP Desember 2015 dibandingkan November 2015 mengalami penurunan sebesar 0,11 persen yaitu turun dari 102,95 menjadi 102,83.

Tabel 3

Perbandingan NTP Enam Provinsi di Pulau Jawa

dan Nasional [2012=100], Desember 2015

Provinsi NTP Perubahan Des 2015 Thd Nov 2015 (%) Nov 2015 Des 2015 [1] [2] [3] [4] DKI Jakarta 97,97 98.77 0.82 Jawa Barat 107,20 107.24 0.04 Jawa Tengah 102,07 102.03 -0.04 DI Yogyakarta 103,01 103.34 0.32 Jawa Timur 106,56 106,13 -0,41 Banten 107,53 107,45 -0,07 Nasional 102,95 102,83 -0,11

(8)

8 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016

B.

PERKEMBANGAN

HARGA

PRODUSEN

GABAH

Desember 2015, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Petani Jawa Barat sebesar Rp. 5.222,64,- per kilogram atau naik sebesar 0,19 persen dibandingkan harga GKP November 2015 yang tercatat sebesar Rp. 5.212,77,-, demikian juga Gabah Kering Giling (GKG) di Tingkat Petani mengalami kenaikan harga sebesar 2,68 persen dari Rp. 5.684,38,- menjadi Rp. 5.836,67,- per kilogram serta Gabah Kualitas Rendah juga naik 6,10 persen dari Rp. 3.957,63,-menjadi Rp. 4.199,12,- per kilogram.

Gambar 1

Perkembangan Harga Rata-rata Gabah di Tingkat Petani

Jawa Barat (Rp/Kg)

1, Harga Gabah Tertinggi dan Terendah

Desember 2015, jumlah transaksi yang terpantau melalui Survei Monitoring Gabah di Jawa Barat berjumlah 168 transaksi yang tersebar di 15 Kabupaten Jawa Barat. Diantaranya transaksi GKP sebanyak 121 observasi (72,02 persen), transaksi GKG sebanyak 30 observasi (17,86 persen) dan transaksi Gabah Kualitas Rendah sebanyak 17 observasi (10,12 persen). Dari hasil pengamatan harga, GKP di Tingkat Petani yang terendah sebesar Rp, 4.300,00 per kilogram terjadi di Kabupaten Cianjur (4 observasi) dan di Kabupaten Cirebon (3 observasi) dengan harga di tingkat penggilingan sebesar Rp, 4.500,00,- akibat adanya ongkos angkut dari lokasi transaksi GKP ke penggilingan terdekat sebesar Rp. 200,00,- per kilogram. GKP tertinggi di Tingkat Petani sebesar Rp, 6.100,00,- dijumpai di Kabupaten Indramayu (1 Observasi) dengan harga di tingkat penggilingan sebesar Rp, 6.200,00,-.

Untuk kualitas GKG di Jawa Barat pada Desember 2015 harga rata-rata di Tingkat Penggilingan sebesar Rp. 5.985,67,- per kilogram, dimana harga GKG Penggilingan yang terendah sebesar Rp, 4.800,00,- per kilogram dijumpai di Kabupaten Kuningan (2 observasi) dan Harga GKG Penggilingan tertinggi sebesar Rp, 6.400,00 per kilogram dijumpai di Kabupaten Bandung (5 observasi). Dari hasil pemantauan pada Desember 2015 di Jawa Barat, harga transaksi Gabah untuk seluruh kualitas berada diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

2000.00 3000.00 4000.00 5000.00 6000.00

FEB'15 APRIL'15 Juni'15 Agust'15 Okt'15 Des'15

GKP GKG

(9)

Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No.02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016 9

Tabel 4

Jumlah Observasi Gabah, Harga Gabah serta

Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menurut Kelompok Kualitas Gabah

di Jawa Barat, Desember 2015

Kelompok Kualitas Gabah

Jumlah Observasi (%)

Harga Gabah di Tingkat Petani (Rp/Kg) Rata-rata Harga di Tingkat Penggilingan

HPP Di Tingkat Penggilingan

Terendah Tertinggi Rata-Rata

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] GKG 30 (17,86 %) 4.750,00 6.300,00 5.836,67 5.985,67 4.600,00 GKP 121 (72,02 %) 4.300,00 6.100,00 5.222,64 5.347,36 3.750,00 Rendah 17 (10,12 %) 3.500,00 5.100,00 4.199,12 4.356,18 - Jumlah 168 (100,00 %) Keterangan :

GKG (Gabah Kering Giling) : Kadar Air ≤ 14,00 % dan Kadar Hampa/Kotoran ≤ 3,00 %

GKP (Gabah Kering Panen) : Kadar Air (14,01 % - 25,00 %) dan Kadar Hampa/Kotoran (3,01 % - 10,00 %) Rendah (di luar Kualitas) : Kadar Air > 25,00 % dan Kadar Hampa/Kotoran > 10,00 %

2. Kasus Gabah Kualitas Rendah

Transaksi Gabah Kualitas Rendah pada Desember 2015 terpantau sebanyak 17 observasi dari total transaksi 168 atau 10,12 persen, yaitu terjadi di Kabupaten Sukabumi sebanyak 8 observasi, di Kabupaten Bogor sebanyak 6 observasi dan di Kabupaten Bekasi 3 observasi. Harga terendah Gabah Kualitas Rendah di Tingkat Petani Rp, 3.500,00,- per kilogram terjadi di Kabupaten Sukabumi (2 observasi), Gabah Kualitas Rendah dengan harga tertinggi sebesar Rp, 5.100,00,- terjadi di Kabupaten Bekasi (3 observasi).

C.

PERKEMBANGAN

HARGA

BERAS

DI

TINGKAT

PENGGILINGAN

Pemantauan harga beras di tingkat penggilingan pada Desember 2015 dilakukan di 15 Kabupaten Jawa Barat yang tersebar di 35 Kecamatan dengan jumlah observasi sebanyak 79 transaksi. Diantaranya Beras Premium sebanyak 37 observasi (46,84 persen), Beras Medium 36 observasi (45,57 persen), Beras kualitas Rendah 6 observasi (7,59 persen). Pada Desember 2015, rata-rata harga beras di penggilingan sebesar Rp. 9.779,75 atau turun 1,16 persen dibandingkan harga beras November 2015 yang tercatat sebesar Rp. 9.894,17. Berdasarkan kualitas beras yang dikelompokkan menurut patahan (broken) beras, harga Beras Premium turun 1,46 persen dari Rp, 10.017,92 menjadi Rp, 9.871,62, Beras Medium turun 1,11 persen dari Rp. 9.850,00 menjadi Rp, 9.740,28 demikian juga Beras kualitas Rendah turun 0,79 persen dari Rp, 9.525,00 menjadi Rp, 9.450,00.

Perkembangan harga beras di penggilingan menunjukkan pola yang fluktuatif. Sepanjang Desember 2014 sampai Desember 2015, penurunan rata-rata harga beras terjadi di tiga bulan tahun 2015 yaitu Maret, April dan Mei, dengan harga terendah sebesar Rp, 8.808,00 per kilogram terjadi di Mei 2015

(10)

10 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Barat No. 02/1/32/Th.XVIII, 4 Januari 2016

Gambar 2

Perkembangan Harga Beras di Tingkat Penggilingan

Di Jawa Barat (Rp/Kg)

Tabel 5

Rata-rata Harga Beras di Tingkat Penggilingan

Menurut Kelompok Kualitas Beras di Jawa Barat

Kelompok Kualitas

Rata-rata Harga Beras di Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Des 2014 Jan 2015 Feb 2015 Mar 2015 Apr 2015 Mei 2015 Juni 2015 Juli 2015 Ags 2015 Sept 2015 Okt 2015 Nov 2015 Des 2015 [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] Premium 9.346 9.377 10.100 10.244 9,511 9.364 9.141 9.707 9.856 10.047 9.892 10.018 9.872 Medium 8.940 9.364 10.062 9.948 9,399 8.408 9.061 8.943 8.911 9.307 9.736 9.850 9.740 Rendah 8.732 9.121 9.600 8.608 7,920 8.008 8.513 8.350 8.538 8.925 9.214 9.525 9.450 Rata-rata 9.140 9.330 10.053 9.864 9,257 8.808 8.989 9.258 9.289 9.610 9.762 9.894 9.780 Keterangan :

Premium : Kadar Broken ≤ 10,00 % Medium : Kadar Broken (10,01 % - 20,00 %) Rendah : Kadar Broken > 20,00 %

6000,00 7000,00 8000,00 9000,00 10000,00 11000,00

DES'14 FEB'15 APR'15 JUNI'15 AGS '1 5 OKT'15 DES'15

PREMIU M MEDIU M REND AH RAT A-RAT A

Referensi

Dokumen terkait

Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,89 persen diakibatkan oleh menurunnya indeks harga pada kelompok konsumsi

Sementara itu, kenaikan yang terjadi pada Ib disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,63 persen dan indeks BPPBM sebesar 0,06 persen.. NTP-Pr pada bulan

Kenaikan indeks harga yang dibayar petani terjadi diakibatkan kenaikan indeks subkelompok konsumsi rumah tangga (IKRT) sebesar 0,72 persen, dan subkelompok biaya

Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami peningkatan sebesar 0,30 persen diakibatkan oleh meningkatnya indeks harga pada kelompok konsumsi rumahtangga

Penurunan indeks yang dibayar petani (Ib) diakibatkan oleh penurunan indeks harga pada subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,40, sedangkan subkelompok biaya

tujuh kelompok pengeluaran serentak mengalami inflasi, tertinggi terjadi pada Kelompok Sandang inflasi sebesar 1,30 persen, diikuti Kelompok Perumahan inflasi sebesar 0,74

Ketujuh kelompok pengeluaran serentak mengalami inflasi, tertinggi terjadi pada Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga inflasi sebesar 0,90 persen, diikuti Kelompok

Empat dari tujuh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, tertinggi terjadi pada Kelompok Kesehatan yang inflasi sebesar 0,63 persen, diikuti Kelompok Makanan